Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
388
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e4fcf409a972e05b10e0324/tulah-jasadnya-mati-dendamnya-beranak-pinak--based-on-true-story
Namanya Mas Adil (nama disamarkan), kawan dekat dari kakak salah satu admin The Dark Tales yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa. Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi y
Lapor Hansip
21-02-2020 19:38

TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Past Hot Thread
Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...

Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.

Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.

Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.

Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.

Selamat menikmati... 





Quote:Sebelum thread ini dimulai, ijinin kita buat sedikit cerita tentang gimana awal mula kita bisa bersentuhan dengan cerita ini.

Namanya Mas Adil (nama disamarkan), kawan dekat dari kakak salah satu admin The Dark Tales yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa. Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi yang bersangkutan. Ngerasa tertarik, kita mutusin buat nelusurin lebih dalem lagi cerita dari Mas Adil yang emang beliau akuin sendiri enggaklah lengkap jika hanya mendengar dari sudut pandangnya saja.

Lalu, dengan dibantu Mas Adil, kita dipertemukan sama narsum-narsum lain yang bersinggungan langsung dengan kejadian yang terjadi pada waktu itu. Nyaris sebulan kita cuma denger-denger cerita doang, beberapa kali kita sempet coba buat ngelobi Mas Adil dan narasumber lain yang kita kenal supaya diajakin dateng langsung ke lokasi. Tapi selalu ditolak. Ada aja alesannya.

Hingga dua minggu berikutnya, Mas Adil menelepon salah satu admin dan iyain buat nganter kita ke lokasi kejadian. Yang lebih di luar dugaan lagi, kita dikasih kesempatan untuk dengerin cerita langsung dari sudut pandang warga sana dan dikasih tur singkat keliling lokasi.

Dan setelah kita denger semuanya, kesimpulan kita cuma satu; kisah ini beneran GILA! Yang ada di pikiran kita cuman kita harus tulis cerita ini dan cerita ini pulalah yang jadi penanda terbentuknya The Dark Tales.

Tapi, tentu aja, cerita ini enggak akan bisa kita share tanpa ijin dari semua pihak yang bersangkutan. Syukurnya mereka semua udah ngasih lampu ijo dengan syarat agar privasi tetap di jaga demi kebaikan bersama.

Quote:
Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber, observasi yang sempat The Dark Tales lakukan di lokasi dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.




TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story


INDEX

[size="4”]DENAH LOKASI CERITA[/size]



Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iwun21 dan 77 lainnya memberi reputasi
72
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 19
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 19:52

BAGIAN 1

Quote:Akhir Juli, 2011.

Adil masih mengingatnya dengan baik, bagaimana sore itu dia duduk terpaku di depan komputer di salah satu sudut rumah kontrakan berukuran 9 kali 16 meter yang dua tahun terakhir ini disebutnya sebagai kantor. Di luar hujan baru saja reda, tapi niat untuk segera pulang ke rumah sebelum hujan turun lagi itu belum juga datang. Tak peduli walau satu persatu rekannya mulai berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

Karena bagi Adil, tempat ini sudah seperti rumah kedua baginya. Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding dengan berkutat dengan arsip-arsip kegiatan *** (Nama organisasi kemanusiaan, The Dark Tales tidak mendapat ijin untuk menyebutkannya) yang berderet di layar monitor seperti ini. Mensortir apa saja yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Minggu ini masih ada dua kegiatan yang harus diselesaikan, belum lagi minggu berikutnya. Lalu tentang laporan kegiatan minggu lalu yang harus segera dikirimkan ke Pusat.

Adil menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mendesah berat. Dia lelah, tapi tak pernah menyesali pilihannya untuk menjadi relawan di tempat ini. Berkontribusi untuk kemanusiaan dan sosial. Terjun ke pemukiman kumuh di Kota sampai ke pelosok-pelosok desa yang membutuhkan bantuan, merupakan kepuasan batin tersendiri bagi Adil. Apalagi dia masih muda dan lajang. Uang masih belum menjadi prioritas utama.

Sampai akhirnya ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja dan nyaris Adil lupakan keberadaannya, berdering dengan begitu kencang. Membuatnya nyaris terlonjak kaget dan membuyarkan fokusnya pada layar monitor. Dengan cepat dia raih ponsel itu, takut itu datang dari kantor pusat atau panggilan darurat lain.

Tapi hanya ada deret nomor yang tertampil di sana. Entah milik siapa, tapi yang jelas nomor itu tak tersimpan di buku teleponnya.

Adil sempat ragu untuk mengangkat. Apalagi dia teringat dua bulan lalu, ketika dia dan tim memberikan bantuan tandon air di salah satu desa di daerah Pantai Utara yang berakhir kisruh karena bersinggungan dengan atmosfir pemilihan kepala desa yang sedang panas-panasnya. Masalah memang sudah selesai, tapi bukan tak mungkin preman-preman bayaran itu masih berusaha mengincarnya.

Ah, itu cuma paranoid tak beralasan! Adil nekat mengangkat telepon dan mendekatkannya ke telinga.

"Halo, leres niki kalihan Mas Adil... (Halo, benar ini dengan Mas Adil?)" Suara di seberang begitu lembut. Seorang perempuan muda, tapi terdengar asing bagi Adil. "Ngapunten (Maaf) Mas, saya Dea. Saya dapet nomor Mas Adil dari Mas Febri. Kebetulan dia kating saya di Kampus."

Ah! Sekarang jelas sudah bagi Adil. Si penelepon yang mengaku bernama Dea ini adalah adik tingkat Febri, adik laki-lakinya, di kampus. Tapi dia masih penasaran, untuk apa anak ini sampai repot-repot meminta nomor Adil dan meneleponnya.

"Kata Mas Febri, Mas Adil aktif di *** (Organisasi Kemanusiaan terkait) ya Mas? Saya bisa minta tolong?"

Entah karena apa, tapi saat itu juga Adil langsung merasa tertarik. Mungkin karena Dea menyebut nama organisasinya, membuat Adil berpikir bahwa ini mungkin tentang kegiatan amal atau sejenisnya. "Oh, nggih. Ada apa, ya?"

"Jadi begini, Mas..." Ada jeda sejenak. Tapi terdengar cukup jelas di telepon bahwa Dea sepertinya sedang berbincang dengan orang lain di sana. Tapi entah apa yang mereka bicarakan. Seperti sedang berunding. "Sekarang ini saya lagi menjalani program KKN di daerah G**********. Sudah berjalan dua minggu dari satu bulan. Awalnya semua berjalan lancar. Tapi kok sekarang ada masalah di salah satu desa tempat kami menjalankan proker. Terus saya berunding dengan teman satu tim KKN, dan saya pikir Mas Adil bisa bantu kami..."

KKN? Apa hubungannya dengan organisasiku? Adil kebingungan. Apalagi lokasi KKN anak ini ada di daerah G**********. Jaraknya bisa memakan tiga jam perjalanan jauhnya dari sini. Tapi Adil kepalang dibuat penasaran.

"Masalahe opo? (Masalahnya apa?)"

"Sebenernya aku ndak yakin, Mas..." Dea terdengar ragu. "Tapi menurut Mas Adil, apa normal di jaman sekarang masih ada orang gila yang dipasung dan ditaruh di kandang kambing? Apalagi seorang perempuan."

Adil merasa dirinya tersengat seketika. Adrenalinnya naik ke ubun-ubun dengan begitu kilat. Rasa keadilan dan kemanusiaannya seakan dilukai, dan itu membuat darahnya bergejolak.
"Ora normal! Sama sekali ora normal kui. Wis bener kamu menelepon kesini! Sekarang kamu kasih tahu nama desanya apa, nanti aku minta back up relawan-relawan yang ada di G********** untuk bantu evakuasi." Spontan Adil berujar.

"Nggih, Mas. Nuwun. Nama Desanya Srigati (bukan nama sebenarnya), Kecamatan *****, Kabupaten G**********."


Quote:Dea menutup telepon dan menaruhnya kembali ke dalam kantong celana jeans. Dia sedikit menggerutu kesal sebelum memutar tubuh ke belakang. Ke arah sesosok pria berkacamata dengan rambut hitam lurus yang disisir ke samping dengan rapi, yang sedari tadi berdiri seperti orang bodoh di belakangnya itu.

"Kakaknya Mas Febri nyanggupin. Terus piye?" Dea bertanya, cenderung sedikit menuntut kepada kawan yang memakai almamater yang sama dengan yang dipakainya saat ini. Matanya mendelik tajam.

"Piye apane, De? (Gimana apanya, De?)" Pria itu tampak terbata-bata menjawab. Seakan dia sedang dihakimi oleh Dea.

"Piye apane ndasmu, Gil! (Gimana apanya kepalamu, Gil!) Ini semua gara-gara kamu!!" Dea tampak tak mampu lagi menahan emosinya. Bahkan dia mengacungkan jari telunjuknya ke arah dada Gilang, nama pria itu. Ketua tim KKN sekaligus mahasiswa yang paling dekat dengan Dea karena kebetulan mereka berasal dari Jurusan yang sama.

Bahkan Gilang sampai harus mundur beberapa langkah sambil melindungi dadanya dengan kedua telapak tangan. Seakan takut kalau Dea akan menghajarnya saat itu juga. "Sabar De, sabar. Kita lagi di pinggir jalan besar ini!"

Walaupun terbakar amarah, omongan Gilang barusan sedikit menyadarkan Dea. Mereka berdua kini sedang berada di pinggir taman alun-alun Kabupaten. Dia menyernyitkan mata, mengamati sekeliling. Benar saja, omongan nada tingginya barusan ternyata menarik perhatian beberapa orang yang berada di sekitar mereka.

Dea menarik nafas panjang-panjang. Berusaha menenangkankan hatinya yang sedang kacau balau. "Kok bisa kamu bilang kamu ndak mau disalahin? Sekarang siapa yang pertama usul buat masukin Srigati ke dalam proker? Siapa yang pertama punya inisiatif nekat datang kesana sembunyi-sembunyi walau sudah jelas dilarang sama Pak Kades??"

"Aku bakal tanggung jawab De, oke? Yang penting sekarang kamu tenang dulu, terus kita balik."

Dea melirik ke motor matic milik Gilang yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Membuatnya teringat teman-temannya yang lain yang kini sedang menunggu mereka kembali. Teman-teman yang berfikir bahwa Dea dan Gilang sedang pergi ke Kabupaten untuk membeli beberapa kebutuhan proker yang masih kurang. Padahal nyatanya, mereka berdua pergi jauh-jauh kesini hanya untuk meminta bantuan kepada siapapun yang bisa memberi mereka bantuan. Dea jadi merasa bersalah dan itu membuatnya marahnya kian menjadi-jadi kepada Gilang.

"Sopo wae sing ngerti soal Srigati selain kamu dan aku?" Dea bertanya dengan dingin. Bahkan dia tak memandang Gilang.

"Cuma aku dan kamu. ..aku yakin cuma aku dan kamu!”

Dea menghela nafas dalam-dalam. Berusaha menahan kesabaran. "Oke, yang sudah terlanjur mau diapain lagi. Tapi sekali ini aja, jawab aku dengan jujur, Gil..."

Dea mendekatkan tubuhnya ke Gilang. Berusaha mengintimidasi. "Apa niatmu sebenernya dengan memasukkan Srigati ke dalam proker?"

"Aku ndak punya niat apa-apa, De..."

Tapi jawaban itu malah membuat benteng kesabaran Dea runtuh seluruhnya. "Asu!! Ojo ngapusi aku!! (Anjing , jangan nipu aku!!) Kamu udah tahu Srigati bahkan sebelum kita berangkat KKN kan?!"

Gilang sepertinya tak mampu lagi menyembunyikannya dari siapapun, khususnya kepada Dea. Posisinya sekarang jelas terdesak. Dan suka atau tidak, dalam hati Gilang mengakui bahwa ini semua sudah terlampau jauh. Tak ada pilihan lain selain mengaku. "Aku nemu jurnal lawas di perpustakaan kampus, De. Jurnal tahun 1976 yang ngebahas soal Srigati. Tentang pertanian dan tanah yang ada di sana.”

Dea menyernyitkan dahi. Tak paham lagi apa yang ada di pikiran Gilang. “Bahkan kita bukan mahasiswa pertanian, Gil! Apa yang kamu cari di sana, heh?? Tentang apa jurnal itu?!”

“Tentang...” Gilang seperti menahan diri untuk tidak menangis. “Tentang paradoks tanah di sana. Bagaimana pada masa-masa paceklik mereka masih bisa panen jagung, ubi dan singkong, sedangkan desa-desa di sekitarnya mengalami kelaparan dan kesulitan air. Bahkan yang aku dengar, ada sawah yang...”

"Wis, ra usah kakean cangkem! (Udah, jangan kebanyakan mulut!) Sekarang ayo balik dan tunjukin ke aku jurnal itu!!"

Gilang menurut saja ketika Dea menggiringnya menuju motor.

"Kowe pancen asu, Gil..." Tutupnya sebelum motor melaju meninggalkan alun-alun Kabupaten.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendicf dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 20:12
Cerita bagus ne..
Semangat gan💪🏻
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 20:20


Quote:Original Posted By jhonbill_meneh
Cerita bagus ne..
Semangat gan💪🏻



Silakan dinikmati gan
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 20:33
jejak bang
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 20:57
wah.....apik ki....
okeh asu ne....
nunut nggih ndoro.....
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan gethuk.jogja memberi reputasi
2 0
2
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 20:58
Nandain dulu gan
Lanjut update emoticon-Toast
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 21:24
tandsi
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 21:26
gue takut


















takut thread ini kentang permanen tanpa klimaks yang ujungnya tidak jadi crot di dalam......bayangkan rasanya gimana kalau tidak tuntas....
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 21:39


Quote:Original Posted By doyanoncom
gue takut


















takut thread ini kentang permanen tanpa klimaks yang ujungnya tidak jadi crot di dalam......bayangkan rasanya gimana kalau tidak tuntas....


Kita udah dapet dan udah nyusun datanya dari awal sampe akhir gan...jadi jangan khawatir tentang kentang

profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 21:40


Quote:Original Posted By Reagle
Nandain dulu gan
Lanjut update emoticon-Toast


Quote:Original Posted By chisaa
jejak bang


Siap gan...tunggu bagian keduanya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 21:40


Quote:Original Posted By kikokurnia
wah.....apik ki....
okeh asu ne....
nunut nggih ndoro.....


Monggo ndoro...tidak cuma bahasanya saja, ceritanya juga bakal ASU
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 22:04
Quote:Original Posted By the.darktales
Monggo ndoro...tidak cuma bahasanya saja, ceritanya juga bakal ASU


emoticon-Ngakak
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 22:13
ehemm apakah berkaitan dg trit sebelah yg sudah close??? krna nama desanya sama? emoticon-Bingung
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 22:26


Quote:Original Posted By tulip.putih
ehemm apakah berkaitan dg trit sebelah yg sudah close??? krna nama desanya sama? emoticon-Bingung


Tidak ada gan, tapi kita lagi proses buat kerjasama dengan agan @lembahselatan
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 22:50
Quote:Original Posted By the.darktales
Tidak ada gan, tapi kita lagi proses buat kerjasama dengan agan @lembahselatan


Ohh oke deh... Lanjut gan, pinisirin ane emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 23:35
lanjuetkeun boss...ojo ono kentang loh yo..tak pisui tenan mengko..😁😁😁😅😅🤣🤣🙏🙏🙏
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 23:41
Gayeng iki...
emoticon-Big Grin

Nitip angkringan kang...
emoticon-Ngacir
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
22-02-2020 00:14
Asseeekkk trett baruuu emoticon-Blue Guy Cendol (S)emoticon-Jempol pejiwan emoticon-Blue Guy Peace
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
22-02-2020 00:18
kanjut gan ehhh lanjut mas bro emoticon-Toast
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
22-02-2020 00:21
titip taruh sendal kanan
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 19
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rumah-di-gang-buntu-part-1
Stories from the Heart
indigo
Stories from the Heart
loves-bait
Stories from the Heart
your-love-as-pandoras-box
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Personal
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia