Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
497
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb932354601cf590024a84c/misteri-rumah-peninggalan-bapak
Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.   Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah
Lapor Hansip
19-04-2019 09:28

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Prolog

  Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.

  Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah peninggalan bapak selalu mengeluarkan aura mistis.

  Namun mau tidak mau aku harus kembali, setelah mendapatkan sebuah pekerjaan yang ternyata lokasinya di Kota Solo, aku memiliki dua pilihan yang berat antara harus berhutang untuk menyewa rumah atau menempati rumah peninggalan dari bapak.

  Pilihan yang sama beratnya, namun Kirana memintaku untuk menempati kembali rumah yang sudah kosong selama dua tahun tersebut, selain menghemat biaya hidup juga membuat aku mungkin bisa mengetahui jawaban siapa pembunuh dari keluargaku.

  Semua tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya, segala aura mistis mulai mengintaiku selama kembali menempati rumah masa kecil tersebut. Mulai dari nyanyian, penampakan, atau beberapa tangisan yang sering menemani hari-hariku selama disana.

Sebelum Hari Pertama

  Keraguan masih menghinggapi hatiku mau maju tapi takut dengan segala cerita masyarakat sekitar namun kalau tidak maju, aku berart melupakan segala kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari.

  “Gimana Han, jadi menempati rumah keluargamu besok ?” tanya Kirana yang memang menjadi kekasih hatiku sudah dua tahun belakangan.

  “Aku masih bimbang Ran, meskipun kangen dengan rumah itu tapi semua kejadian yang menimpa keluargaku dan segala cerita masyarakat sekitar masih terus menghambat” jawabku dengan rasa yang masih bimbang.

  Kirana tidak langsung menjawab diskusi kami, dia memilih untuk memesan makanan favorit kami yakni bakso di salah satu warung langganan.

  “Kamu harus buang rasa bimbangmu itu Han, bukannya kamu sendiri yang memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranmu ?”.

  “Iya aku paham, Cuma kalau untuk kembali kerumah tersebut aku masih ragu dan ada sedikit rasa takut”.

  “Kamu itu lucu, itu rumah kamu kan ? tidak mungkin keluargamu akan membunuh kamu disana, mungkin saja malah kamu bakal mengungkap siapa pelaku pembunuhan berantai keluargamu”.

  “Masa iya sih Ran ? mereka akan bersahabat denganku begitu maksudmu ?”.

  “Bersahabat ? aneh-aneh saja kamu, mereka dan kamu sudah tidak satu alam, tapi kemungkinan mereka akan mencoba menyampaikan pesan kepadamu disana. Kamu adalah anggota keluarga yang masih tersisa”.

  “Kalau begitu, baiklah aku bakal mencoba menghidupkan kembali rumah yang sudah dua tahun tidak berpenghuni itu”.

  Setelah menghantarkan Kirana pulang kerumahnya, aku mencoba kembali mengingat kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari. Semua seakan masih tidak bisa aku percaya, mereka pergi secara tragis dan secara bersamaan.

  Kejadian dua tahun lalu, mungkin kalau aku tidak melanjutkan study di Jakarta aku bisa mengetahui siapa pembunuhnya atau setidaknya aku bisa berkumpul bersama mereka dialam yang berbeda.

  Dering telpon sebelum ditemukannya jasad keluargaku, aku masih sempat menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar mereka disana. Ada sebuah firasat yang mungkin baru aku bisa tangkap setelah kepergian mereka.

  “Dek, ibu kangen banget sama adek. Kalau bisa, besok datang ya” sebuah kata yang mengisyaratkan akan terjadi sebuah kejadian yang tidak pernah terbayangkan olehku.

  Semua masih seperti mimpi bagiku, semua seperti hanya cerita dongeng saja. Aku masih menilai mereka bertiga masih hidup, terutama ibu, aku rindu sekali padamu bu, nyanyian langgam jawamu selalu menemani tidurku.


Prolog
Sebelum Hari Pertama
Hari Pertama
Hari Kedua
Hari Ketiga
Hari Keempat – Part 1
Hari Keempat – Part 2
Hari Kelima – Part 1
Hari Kelima – Part 2
Hari Keenam
Hari Ketujuh – Part 1
Hari Ketujuh – Part 2
Hari Kedelapan
Hari Kesembilan
Hari Kesepuluh - Part 1
Hari Kesepuluh – PART II
HARI KESEBELAS PART I
HARI KESEBELAS PART II
Hari Kedua Belas-Part I
Hari Kedua Belas - Part II
Hari Kedua Belas - Part III
HARI KETIGA BELAS - PART I
Hari Ketiga Belas Part II
Hari Ketiga Belas Part III
Hari Keempat Belas
Hari Keempat Belas - Part II
Hari Kelima Belas
Hari Keenam Belas
Hari Keenambelas Part II
Hari Keenambelas Part III
Hari Keenam Belas - Part IV
Hari Keenam Belas - Part V
Hari Ketujuh Belas - Part I
Hari Ketujuh Belas - Part II
Hari Ketujuh Belas Part III
Hari Kedelapan Belas
Hari Kesembilan Belas-Part I
Hari Kesembilan Belas-Part II
Hari Kesembilan Belas-Part III
Hari Kedua Puluh
Diubah oleh bej0corner
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaykay22 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 17 dari 24
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
13-02-2020 05:28
Hari Keenam – Part I


Pukul 02.00 dinihari, mataku yang terpejam tiba-tiba terbuka lebar setelah merasakan angin yang begitu kencang menusuk tubuhku yang sudah terbungkus dengan selimut tebal. Sekilas aku melihat pohon di halaman rumah dari sela-sela korden yang terbuka karena efek sapuan angin yang lumayan kencang.

Sosok laki-laki tua menatap kearahku dari atas pohon, mataku secara reflek menutup dan mencoba mencari perlindungan dengan bersembunyi dibawah selimut. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa saja, berharap agar mata ini bisa kembali terpejam dan dapat melupakan dengan segera apa yang aku lihat tadi.

Meskipun cukup sulit untuk memejamkan mata, namun akhirnya rasa ngantuk yang luar biasa mengalahkan rasa takut dalam diriku. Meskipun pada akhirnya aku hanya merasakan tidur selama tiga jam saja dalam semalam tetapi itu sudah cukup ketimbang tidak sama sekali.

Pagi ini seperti biasa disambut oleh suara alarm dari ponsel yang memang sengaja aku buat maksimum suaranya dan juga pesan singkat dari Kirana. Sesaat, aku hanya membaca pesan Kirana dan bermaksud untuk membalasnya setelah selesai mandi.

From : Kirana
Pagi Han, Gimana kabarnya disana ? tidak ada masalahkan ?



Dua mata ini masih begitu jelas membayangkan lagi apa yang tadi malam terjadi, Pohon Mangga berukuran besar menjadi rumah dari para makhluk tak kasat mata.

Selesai mandi aku segera membalas pesan dari Kirana sebelum dia ngomel-ngomel dan berpikir yang tidak-tidak.


Maaf ya baru bisa balas, keadaanku baik. Tapi tadi malam tidak bisa tidur karena ada yang mengawasiku...

Disela-sela menanti balasan dari Kirana, aku juga menyiapkan diri untuk bekerja. Mengingat ada masa depan yang penting, tidak hanya untuk mencari tahu siapa dalang dari pembunuhan satu keluargaku namun juga masa depan dari hubunganku dengan Kirana juga menjadi alasan aku kembali ke Solo.

From : Kirana
Loh kamu punya musuh Han ? kok sampai diawasi segitunya ?


Maksudku yang mengawasi bukan manusia, tapi makhluk tak kasat mata. Nanti aku ceritain deh lewat telpon, sekarang mau siap-siap kerja dulu ya, kamu juga siap-siap gih buat wawancara.



Selama di kantor, aku mencoba melupakan apa yang tadi malam terjadi. Meskipun tidak mudah, namun banyaknya pekerjaan cukup membuat kejadian itu menguap dengan sendirinya.

Tidak terasa sudah waktunya untuk pulang kantor, seluruh karyawan sibuk membersihkan dan merapikan tempat kerja mereka lagi sebelum meninggalkan kantor. Aku sengaja tidak memesan ojek online, rasanya ingin sekali menyusuri jalan-jalan Kota Solo lagi terutama didekat kantor.

Hari Keenam-Part II

Tidak jauh dari kantor, ada tempat dimana dulu sering menjadi lokasi untuk aku, bapak, ibu dan Mbak Lestari menghabiskan waktu Malam Minggu bersama-sama. Warung Susu Segar Pak Abdi kini telah banyak berubah, dari yang sebelumnya hanya sebuah warung sederhana di jalanan trotoar kini sudah menempati dua ruko.

Aku teringat dengan kata bapak dulu, kalau warung Pak Abdi ini akan menjadi besar nantinya. Dan benar saja, sekarang untuk mendapatkan tempat duduk saja susahnya minta ampun. Harus mengantri pelanggan lain selesai menyantap hidangan mereka.

“Emmmm...aku susu coklat panas sama roti bakar ya pak” serutupan segelas susu menggiringku mengenang kembali momen-momen yang tercipta didalam warung ini. rasa susunya memang tidak berubah, namun suasana lah yang berbeda.

Tidak terasa sudah satu jam aku menghabiskan waktu di warung ini, tidak ada yang berubah dari rasa makanannya. Itulah alasan aku betah berlama-lama disini, meskipun akhirnya waktulah yang memaksaku untuk menyudahi petualangan malam ini.

Sebelum membayar ke kasir, aku buka dulu aplikasi ojek online untuk memesan driver motor. Maklum, di Solo aku belum memiliki cukup uang untuk membeli sepeda motor.

Setelah membayar di kasir, aku bergegas keluar dan benar saja sudah ada sosok bapak-bapak yang menunggu diluar warung dengan atribut ojek onlinenya.

“Mas Burhan ?” tanyanya kepadaku sesaat setelah tubuh ini keluar warung beberapa langkah.

“Iya, jenengan Pak Abdul ?”.

“Iya mas”.

“Maaf ya pak, sudah nunggu lama”.

“Mboten kok mas, baru sebentar santai saja”.

Menyusuri jalanan Kota Solo memang sedikit menjadi pelipur lelahku setelah seharian bekerja dengan berbagai macam tugas pekerjaan yang terkadang bikin kepala pusing tujuh keliling.

Tidak terasa, laju kendaraan sudah memasuki gank menuju rumah. Meskipun jauh dari kota, rumah peninggalan bapak memang tidak begitu jauh dari jalan raya bahkan jalan kaki saja sampai tidak kurang dari lima menit.

Aura berbeda pun mulai terasa setelah aku sendirian didepan pintu pagar rumah, sesaat aku menengok ke arah Rumah Pak Joni. Ada sosok perempuan bergaun putih sedang menatap ke arah luar jendela.

Sosok perempuan tersebut tampak dari jalan karena memang letaknya yang menghadap rumah peninggalan bapak dan juga dilantai dua. Satu pertanyaan yang mengganjal dalam hatiku saat itu, karena menurut cerita Pak Joni dirinya hanya tinggal sendirian di rumah besar itu, lalu siapa sosok perempuan itu ?.

Jantungku yang sebelumnya terpompa biasa kini berubah menjadi cepat, tidak pakai pikir panjang lagi dengan langkah seribu aku segera masuk ke dalam rumah.

Malam ini, sosok pengganggu tidak hanya datang dari rumah peninggalan bapak ini. Namun juga dari rumah Pak Joni, yang entah kenapa ada kejanggalan disana.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
13-02-2020 06:22
ijin nenda tiker d mari
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
13-02-2020 13:44
mantap updatenya mas bejo, di page one ada indeks ngga?
cape scroll scroll terus
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
13-02-2020 20:10
lanjuttttkeuuunnn bossss
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
17-02-2020 20:54
ijin nenda dulu gan...nice story...
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
18-02-2020 06:46
Hari Ketujuh- Part I

Lelah menjadi hadiah jalan-jalan kemarin yang masih tersisa, rasanya pun begitu mager dan ogah untuk melangkahkan kaki kemana-mana. Meskipun isi dapur juga sudah mulai menjerit, tidak ada makanan sama sekali selain telur dan mie instan.

Hari yang tenang berubah menjadi hari yang mulai mencekam, lantunan nada yang bersumber dari Piano di ruang tengah terdengar. Sebuah nada yang begitu aku kenal karena sering sekali dimainkan oleh Mbak Lestari.

Dengan langkah kaki yang bergetar hebat, aku memberanikan diri untuk mendekat ke arah sumber suara.

Aku merasa semakin diri ini mendekat, suara piano semakin mengecil dan perlahan berhenti. Langkahku tetap berjalan, kepala tanggung kalau berhenti sampai disini. Sosok perempuan didepan piano bergaun putih membuat mental yang sudah terbangun tiba-tiba hancur seketika.

“Mbak, itu kamu ya ?” tanyaku mencoba memecah suasana yang hening, sambil kaki bergetar hebat dan keringat yang entah sudah seberapa banyak menetes di ubin.

“Dong-Dong-Dong” suara piano yang benar-benar membuat dorongan untuk tubuhku, sebuah dorongan yang cukup kencang menghempaskan tubuhku ke ubin. Saat mencoba berdiri kembali, sosok perempuan itu menghilang.

Mata ini terpaku pada sebuah buku di atas piano, sebuah buku kumpulan nada-nada pilihan yang sangat digemari oleh Mbak Lestari. Aku kembali memberanikan diri untuk mendekat, melihat buku yang tiba-tiba membuka tersebut.

“Lho kok tidak ada nada-nada sama sekali” kataku setelah melihat isi buku yang sudah berubah dari versi aslinya, dimana hanya ada satu kalimat lumayan panjang yang sepertinya adalah sebuah pesan dari salah satu anggota keluargaku.

“Andai aku masih bisa melihat dunia ini lebih lama, mungkin mereka tidak akan bersedih, namun Takdir Tuhan berkata lain. Aku hanya bisa terbaring, dan dia membuatku merintih. Meskipun disisi lain, dia membuatku bahagia”.

Ada apa dengan kondisi keluargaku selama ini ? dari pesan ini, aku menangkap kalau salah satu keluargaku ada yang sakit keras. Tapi kenapa tidak ada yang memberitahuku ?.

Semua tanya tidak bisa terjawab, hanya tangis saja yang menemani segala pertanyaan yang aku buat sendiri.

Mungkin dengan bercerita kepada Kirana bisa sedikit meringankan beban ini, segera ku cari ponsel yang ada di kamar. Sambil menahan tangis, aku mencari-cari nama Kirana di buku kontak telpon.

“Maaf nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan” .

Apa Kirana marah sampai-sampai nomernya dimatikan oleh dia ? tetapi sepertinya aku tidak berbuat apa-apa selama di Solo, mungkin dia lagi sibuk.

Sempat terbesit di hati ingin bercerita kepada Pak Joni, namun sosok perempuan yang sepertinya adalah anak Pak Joni tersebut membuatku ragu dan mengurungkan niat untuk pergi ke Rumah Pak Joni.

Hari Ketujuh – Part II



Dering ponsel menyadarkanku dari lamunan macam-macam, Kirana nama yang muncul di layar ponsel.

“Hallo Ran”.
“Kamu tuh kenapa sih ? dihubungin enggak bisa, ngasih kabar juga enggak. Kamu macam-macam ya disana”.
“Kebiasaan deh ngegass dulu sebelum aku sempat memberitahu kamu, aku tuh dari tadi juga nelpon kamu tapi enggak tersambung, dan anehnya ketika internetku bisa, satu-satunya aplikasi yang enggak bisa aku pakai Cuma WA”.
“Kamu bicara serius kan Han ?”.
“Enggak bercanda...ya serius lah”.

“Piaaaarrrr”...suara pecahan kaca terdengar dari arah dapur, tanpa komando aku segera pamit kepada Kirana. Meskipun sempat ragu untuk pergi ke dapur, namun misteri ini harus segera terselesaikan dengan segera.

Langkah demi langkah membuatku semakin dekat dengan dapur, sampai akhirnya aku melihat sosok seorang pria sedang menuliskan kata-kata di kaca jendela. Kaki ku pun secara kompak berhenti dan tidak melanjutkan jalan.

Keringat sudah mulai membasahi tubuh, mengingat ini adalah Malam Jumat Kliwon. Anehnya, orang tersebut tidak menulis menggunakan pulpen atau alat tulis lainnya. Melainkan darah yang keluar dari salah satu jarinya.

Dan...dalam sekedip mata saja, pria itu mengarah kepada ku dengan langsung menjatuhkan tubuh ini dengan kuat yang membuat kepalaku terbentur ke lantai lumayan keras. Pandangan mata pun tiba-tiba kabur dan gelap.

Entah berapa lama tubuhku terbaring disini, yang pasti jarum jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas malam. Kepala rasanya begitu pusang ditambah nyeri yang membuat keseimbangan tubuh tidak stabil.

Dengan berpegang pada tembok rumah, aku melihat sebuah tulisan di jendela dengan menggunakan tinta merah yang sepertinya adalah darah. Meskipun traumatik belum benar-benar sembuh, tulisan di jendela menimbulkan rasa penasaran yang bisa mengalahkan rasa takut.

“MAAF” sebuah kata yang tertulis di kaca jendela, entah siapa dan apa maksud dari tulisan tersebut. Mungkinkah ada hubungannya dengan sosok misterius yang baru saja menyerangku ? tampaknya tubuhku tidak bisa diajak untuk berpikir lebih keras, dan seketika pandangan mata pun kembali gelap dan tubuhku tidak bisa merasakan apapun setelah itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
18-02-2020 08:38
duh makin misterius aja penampakan dan petunjuk2nya. mau dirangkai juga bingung runutannya.emoticon-Ngakak
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
18-02-2020 10:32
ah kebanyakan teka dan rumput teki emoticon-Mewek
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
18-02-2020 11:31
Gw pikir update tapi kenapa TS nya posting ulang di page belakang ya emoticon-Bingung (S)
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
18-02-2020 11:56
Quote:Original Posted By kemintil98
ah kebanyakan teka dan rumput teki emoticon-Mewek


Biar jadi conan
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan kemintil98 memberi reputasi
2 0
2
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
18-02-2020 11:58
Semangat ts...
emoticon-Belgia
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
19-02-2020 09:54
Quote:Original Posted By bej0corner
Biar jadi conan


emoticon-Mewek
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
23-02-2020 05:26
Hari Kedelapan

Suara Adzan Subuh menyadarkanku dari pingsan yang cukup lama, rasanya benar-benar masih nyeri dan pusing. Meskipun tidak sesakit kemarin malam, dan rasanya setelah di minumi obat sakit kepala. Pusing akan segera hilang, mengingat masih banyak pekerjaan di kantor.

Sesampainya di kantor, tumpukan tugas sudah menyambut meja kerja. Dengan segera aku menyelesaikan semuanya satu per satu, tidak terasa jam pulang kantor sudah tiba. Aku segera bergegas membersihkan meja kerja dari segala barang pribadi maupun barang-barang kantor yang berserakan selama bekerja tadi.

Sembari mencuci wajah yang sudah sangat kusam, aku kembali memikirkan kejadian tujuh hari di rumah itu. Rasanya malam ini, aku tidak ingin pulang lebih awal dan membiarkan tubuh lelah ini menghabiskan malam di jalan.

“Hai Mas Burhan” sapa Mbak Ambar yang merupakan teman sekantor sekaligus teman meja sebelah.

“Hai mbak, ada apa ya ? kok tumben ke wastafel sore-sore, mau cuci muka juga ?”.

“Enggak kok, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu mas”.

“Soal apa ya mbak ?”.

“Gini, aku kan dapat undangan nonton kembang api gratis nanti malam. Dan aku dapat dua tiket, rencananya aku ingin mengajak kamu sih mas kalau enggak sibuk”.

Jujur saja, dalam hati aku ingin menolak tawaran dari Mbak Ambar. Ada hati Kirana yang harus aku jaga, namun kalau aku menolaknya mungkin juga akan membuat keinginan untuk menghindar dari rumah peninggalan bapak malam ini gagal total. Toh, aku dan Mbak Ambar juga tidak memiliki perasaan apapun kecuali teman sekantor.

“Boleh mbak, tapi aku tidak punya kendaraan”.

“Santai aja mas, nanti pakai motorku saja. Kamu punya SIM kan ?”.

“Alhamdullilah punya mbak”.

“Yaudah nanti pulang kerja langsungan ya mas”.

Terima kasih Tuhan, Kau telah membuatku sibuk setidaknya untuk malam ini. semoga saja semua berjalan sesuai rencana, tidak ada yang terlukai.

Aku dan Mbak Ambar tampaknya datang terlalu cepat ke acara, sembari menunggu waktu Pesta Kembang Api yang baru akan dimulai satu jam lagi. Mbak Ambar mengajak untuk keliling Stadion Manahan terlebih dahulu, sembari mencari beberapa cemilan agar tidak kelaparan saat nanti acara dimulai. Maklum, kami berdua sama-sama belum makan malam tadi.

“Solo sekarang banyak berubah ya mbak, sudah ramai”.
“Iya gitu deh mas, sekarang Solo sudah menjadi salah satu kota rujukan warga Jawa Tengah untuk mencari pekerjaan”.

Tidak terasa, acara pesta kembang api akan segera dimulai. Kami memutuskan untuk segera menuju gerbang satu Stadion Manahan. Ternyata sudah ada tumpukan antrean di semua gerbang, emm..rasanya bakal membosankan menunggu satu per satu orang masuk.

Agar tidak merasa bosan didalam, Mbak Ambar membeli beberapa makanan ringan sebelumnya. Tidak enak rasanya, laki-laki ditraktir perempuan begitu banyak. Namun apa boleh buat, Mbak Ambar memaksa.

Baru sepuluh menit acara dimulai, dering ponsel dalam saku mengalihkan fokusku sejenak untuk menerima telpon. Tanpa melihat siapa yang menelpon, aku segera menekan tombol hijau.

“Iyaa hallo”. Suaraku mengawali sambungan telpon, yang dibalas dengan sebuah pertanyaan dari lawan telpon.
“Lagi dimana Han, kok rame banget sih ?” suara yang tak asing ditelinga, membuat perasaanku yang sebelumnya biasa saja berubah menjadi panik.

“Ada mas, kok gugup gitu ?” tanya Mbak Ambar yang ternyata sedari tadi mengamati gerakanku dengan curiga. Langkah cepat pun aku ambil, mematikan sambungan telpon dari Kirana.

“Enggak ada apa-apa kok mbak” jawabku dengan membuang wajah panik yang tadi sempat aku pamerkan kepada Mbak Ambar.

Dua jam tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, tidak membuang waktu. Aku dan Mbak Ambar segera bergegas pulang, seperti janji sebelumnya. Mbak Ambar menghantarkanku ke rumah terlebih dahulu.

Rasanya memang tak enak hati, apalagi Mbak Ambar adalah seorang perempuan muda yang jika ditilik dari facenya mungkin seumuran denganku.

Jalanan macet khas kota sibuk mengiringi putaran roda motor yang begitu lamban, untung saja Mbak Ambar bukanlah tipe perempuan pendiam. Sepanjang perjalanan kami berdua bercerita banyak hal. Termasuk sebuah fakta baru, kalau Mbak Ambar baru saja ditinggal tunangannya untuk selamanya karena kecelakaan lalu lintas.

“Oh tadi pacarmu to mas ? kenapa tidak bilang saja” ujar Mbak Ambar membalas ceritaku mengenai Kirana yang tiba-tiba menelpon.
“Dia tipikal perempuan pencemburu mbak, takutnya malah berpikir yang tidak-tidak”.

Mbak Ambar tanpa membalas kata apapun, dia malah tertawa lepas. “Kok malah diketawain sih”. Ujarku kesal melihat polah Mbak Ambar.

“Maaf mas, lucu sih soalnya kalau denger perempuan tukang cemburu”.

Obrolan ringan antara aku dan Mbak Ambar membuat perjalanan kami berjalan begitu cepat dan tidak terasa. Tibalah kami didepan rumah yang terlihat begitu menakutkan ditambah lampu rumah yang belum aku nyalakan juga.

“Mas Burhan tinggal sendiri kan katanya ?”. tanya Mbak Ambar yang tiba-tiba dilemparkan kepadaku.
“Iya mbak, aku tinggal sendiri” ujarku sembari melepaskan helm kesayangan.
“itu kok ada perempuan yang duduk didepan teras Mas Burhan ?”.
“Perempuan ? mana mbak ?” tanyaku sembari melihat ke arah teras seperti arahan dari Mbak Ambar sebelumnya/
“Mas Burhan jangan bercanda deh” tanya Mbak Ambar yang tampak panik.
“Demi Tuhan, aku tidak melihat apapun mbak”. Tegasku dengan masih mencari sosok yang dilihat Mbak Ambar.

“Yaudah mas, aku pulang dulu” tiba-tiba Mbak Ambar sudah memutar kendaraannya dan bersiap untuk gerak cepat.

Belum sempat mengucapkan terima kasih, yasudahlah mau gimana lagi. Ngomong-ngomong perempuan mana yang dimaksud oleh Mbak Ambar. Sedaritadi aku mencarinya, dan tidak ada sosok perempuan. Atau jangan-jangan...

Hari Kesembilan

Pagi ini rasa-rasanya suasana rumah begitu sepi, tidak ada lagi pesan singkat maupun telpon masuk ke ponselku. Kirana mungkin masih marah soal kemarin, sebaiknya nanti setelah pulang kerja aku menceritakan yang sebenarnya terjadi.

Sepanjang perlajanan menuju kantor, hati ini masih merasa bersalah kepada Kirana. Mengingat kejadian kemarin mungkin memang menyakitkan, apalagi jarak antara kami terpaut begitu jauh.

Memasuki kantor, Mbak Ambar yang berpapasan denganku di loby hanya diam tanpa kata bahkan senyuman pun tidak ada diwajahnya.

Meskipun kepikiran, tapi biarkanlah saja. Toh masalahku dengan Kirana saja belum selesai, dan masih belum ada kejelasan apapun.

Layar laptop didepanku yang penuh dengan angka ku biarkan tanpa merubah apapun. Pikiranku masih tidak fokus, ingin rasanya pulang lebih awal dan segera menanyakan kepada Kirana.

“Saya perhatikan, dari pagi kamu seperti tidak fokus bekerja. Ada apa ?” celetuk Pak Anjab yang merupakan Bos Besar di kantor.

“Maaf pak, tidak ada apa-apa. Nanti saya akan lebih fokus lagi” jawabku yang mencoba menyembunyikan masalah kepada siapapun.

Rasanya, hari ini begitu lama waktu berjalan. Mungkin karena Kirana yang masih belum mau untuk menghubungiku.

****

Obrolan panjang lebar menemaniku disepanjang perjalanan pulang saat ini. Beruntung mendapatkan driver yang humble dan enak untuk diajak bicara, apalagi perjalanan kali ini dihiasi dengan jalanan Kota Solo yang macet parah.

“Bapak percaya dengan hantu ?” tanyaku ditengah-tengah obrolan yang semakin kehabisan bahan..

“Mau dibilang percaya, saya belum pernah melihatnya. Tapi kalau dibilang tidak percaya, saya sebenarnya percaya sih mas”. Jawaban bapak driver ojek online dengan dibarengi senyum lebar diwajahnya yang aku lihar dari kaca spion.

“Stop di rumah yang ada Pohon Mangga besar itu ya pak” ujarku sambil memberikan sinyal berupa jari telunjuk kepada si bapak driver ojek online. Si bapak tidak menjawab, hanya menganggukan kepala tanda paham.

Adzan Maghrib mengiringi langkahku masuk kedalam rumah. Rasa-rasanya ada yang mengikuti dibelakang tubuh, emm..mungkin hanya haluku saja sih, namun rasa itu kini berubah menjadi sebuah bulu kuduk yang mulai berdiri.

Dengan langkah pasti, aku mencoba tetap menatap depan dan tidak memperdulikan apapun yang ada di belakang tubuh ini. langkah semakin ku percepat.

Suara jarum jam klasik dari bapak terdengar didepan pintu rumah, dulu suara ini begitu biasa dan tidak ada yang menakutkan. Namun suasana rumah ini sekarang, membuat suara jam tersebut lebih mengerikan.

“Duaaarrrrr” suara kilatan petir menyambar salah satu ranting di Pohon Mangga yang tepat di halaman rumah. Secara reflek tubuhku segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah sesegera mungkin.

Rasa campur aduk kini aku rasakan, satu sisi rasa takut kalau ternyata makhluk tak kasat mata. Namun di satu sisi aku penasaran dengan sambaran petir barusan, sela-sela korden memperlihatkan sedikit pemandangan luar yang tepat menghadap Pohon Mangga.

Dengan memberanikan diri, korden ku geser perlahan dan mulai terlihat jelas ranting Pohon Mangga bekas sambaran petir. Ada satu pemandangan yang berbeda di Pohon Mangga tersebut.


“Sajen ? sepertinya kemarin-kemarin tidak ada” gumamku dalam hati mencoba kembali memutar memori otak selama tinggal dirumah ini.

Pikiranku kembali buyar setelah listrik rumah dan seluruh kampung padam seketika, mungkin karena efek sambaran petir tadi. Wajahku teralihkan pandangan dari yang sebelumnya menatap Pohon Mangga, sekarang mencari ponsel untuk menyalakan lampu senter.

Beberapa lilin sudah ku pasang di beberapa sudut rumah, namun ada yang menarik perhatian pada jendela dapur. Cahaya terang masuk disela-sela korden, dari arah Rumah Pak Joni.

“Sreeek” ku singkap sedikit korden, ada yang aneh dengan Rumah Pak Joni. Saat rumah lainnya padam, di Rumah Pak Joni masih tetap menyala.

*****

Tidak berselang lama, suara berisik terdengar dari luar rumah. Segelas kopi yang barusan ku buat pun kembali ke tempat semula di Meja Ruang Tengah. Segera kaki ini melangkah keluar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Para warga ternyata sudah berkerumun di depan Rumah Pak Joni, pikiran buruk pun mulai masuk. Ada yang aneh memang dengan rumah tetangga sebelahku ini. Entah kenapa, aku selalu merasa ada yang janggal dengan Pak Joni.

“Ini ada apak ? kok pada berkerumun disini” tanyaku kepada salah satu warga yang berdiri didepan pagar rumah.

“Iki lho mas, kok aneh. Rumah lainnya pada mati listriknya, rumah Pak Joni kok murup dewe”. Jawab si bapak yang memang terbata-bata menggunakan Bahasa Indonesia.

“Langsung tanyakan ke Pak Joni aja to pak ?” ujarku mulai menarik perhatian si bapak.

“Lho mas iki ngelawak, Pak Joni itu udah meninggal mas. Bareng sama keluarganya”. Kata si Bapak yang langsung membuatku shok.

“Pak, saya itu kemarin baru saja bertemu dengan Pak Joni lho ? dan kemarin juga baru saja dijamu dengan minuman”. Ujarku yang membuat pandangan si bapak yang sebelumnya masih menghadap rumah Pak Joni, kini beralih menatapku.

“Jenengan serius mas ? jenasah Pak Joni dan keluarganya ditemukan tewas beberapa tahun lalu, dan diduga melakukan bunuh diri bersama-sama”.

“Kalau tidak percaya, besok bisa ikut saya di TPU kampung ini. Mereka semua di kubur disana” ujar si bapak yang langsung ku jawab dengan anggukan kepala tanda setuju.

Aku masih berpikir, kemarin aku meminum apa ? jangan-jangan darah ? seperti yang di film-film horor selama ini. Pikiranku semakin kacau, rasanya ingin mengulangi hari itu lagi dan membaca Ayar Kursi di depan Hantu Pak Joni.

“Baik pak, saya akan ikut jenengan besok. Kalau boleh tahu bapak ini namanya siapa ya ?” ujarku meyakinkan niat, bahwa ini mungkin bisa menjadi salah satu poin penting mengungkap peristiwa dua tahun lalu.

“Nama saya Agus mas, rumah saya di pojokan jalan itu. Kalau jenengan sendiri asmane sinten ?”.

“Kula Burhan pak”.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
23-02-2020 07:29
ninggalin jejak dl
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
23-02-2020 18:03
Lanjut gan!!!
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
24-02-2020 15:02
Pacarnya Burhan, mungkin juga menjadi sosok yang misterius.... siapakah dia sebenarnya? jangan jangan...? emoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
24-02-2020 17:39
oooohhh masih update ya? ijin mendirikan otong disini 😎
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
01-03-2020 16:30
Masih ngikutin ceritanya seru juga ayo gan semangat apdet y
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
05-03-2020 15:28
prolog
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
06-03-2020 11:34
Hoalah di php in trus sama ts hahah
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 17 dari 24
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
girl-im-your-future
Stories from the Heart
two-sides-of-the-same-coin
Heart to Heart
kenanganku-jogja
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia