Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
243
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2ea0c9c820847b2f227823/kumpulan-cerpen-by-handayanitika
1. NATHAN Aku duduk menekur memandang cangkir teh yang sudah kehilangan uap panasnya. Suara ketukan ranting pohon di jendela dapur terdengar berderak menyeramkan, ditingkahi oleh suara angin yang mendesau. Kualihkan pandangan ke arah jendela, lalu mendesah lirih. Biasanya dia selalu menemaniku. Kami berbincang hingga larut malam di meja dapur sambil menyesap secangkir teh hangat. Saat mata sudah s
Lapor Hansip
27-01-2020 15:35

[SFTH] Kumpulan Cerpen

icon-verified-thread
Kumpulan Cerpen by handayani.tika


1. NATHAN

Aku duduk menekur memandang cangkir teh yang sudah kehilangan uap panasnya. Suara ketukan ranting pohon di jendela dapur terdengar berderak menyeramkan, ditingkahi oleh suara angin yang mendesau. Kualihkan pandangan ke arah jendela, lalu mendesah lirih.

Biasanya dia selalu menemaniku. Kami berbincang hingga larut malam di meja dapur sambil menyesap secangkir teh hangat. Saat mata sudah semakin lelah, kami bergandengan tangan menuju peraduan, kemudian terlelap sambil berpelukan.

Masih teringat jelas olehku satu bulan yang lalu. Dia berpamitan sore itu untuk membeli persediaan susu yang habis. Aku berusaha melarang karena gerimis yang mulai menderas. Namun, dia tetap bersikeras untuk pergi mengayuh sepedanya menuju minimarket terdekat. Kupandangi punggungnya yang menjauh dengan perasaan entah.

Satu jam kemudian, petugas berseragam datang mengetuk pintu depan. Membawa kabar bahwa Mas Arya--suamiku tercinta--menurut saksi mata, melompat dari jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang berarus deras saat musim hujan seperti sekarang ini. Sepeda dan kantong belanjaan yang berisi susu tergeletak di pinggir trotoar.

Keesokan harinya, jenazah suamiku ditemukan tersangkut di antara bebatuan. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan saksi dan autopsi, disimpulkan kematiannya murni bunuh diri.

Bunuh diri? Namun, kenapa? Bukankah kehidupan keluarga kami selama ini sangat berbahagia? Suamiku sangat menyayangi aku dan putra semata wayang kami--Nathan. Kariernya bagus dan kami juga tidak punya masalah finansial yang berarti. Lalu kenapa dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu?

Nathan sangat terpukul. Bocah sebelas tahun itu begitu lengket dengan Ayahnya. Baru-baru ini Mas Arya bahkan menjanjikan untuk pergi liburan menghabiskan penghujung tahun ke Pulau Dewata. Janji yang tidak akan pernah ditepatinya.

Aku kembali menghembuskan napas berat, kemudian bangkit dari kursi dan bersiap untuk mencuci gelas kotor. Tiba-tiba terdengar jeritan dari kamar Nathan. Sontak cangkir teh terlepas dari peganganku, menghantam wastafel menimbulkan bunyi berkelontangan.

Aku segera berlari ke kamarnya dan menerobos masuk. Menemukan Nathan duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah basah oleh air mata. Aku memeluk tubuhnya yang kuyup akan keringat. Mimpi buruk kerap mendatanginya semenjak kejadian itu.

"Ibu ... Ayah sendirian dan kesepian." ungkapnya gemetar dalam pelukanku.

"Sshhh ... itu hanya mimpi, Sayang. Sekarang Ayah sudah tidur tenang. Kita harus tetap melanjutkan hidup, Nak." Aku merangkum wajahnya lalu mengecup lembut kening putraku itu.

"Ta-tapi, Bu. Kata Ayah ...." Nathan tidak kuasa melanjutkan kata-katanya.

"Sudahlah, Nathan. Ayo kita tidur. Ibu temani, ya," tukasku sambil mengatur selimut untuk kami berdua.

****

Paginya, aku membuatkan pancake kesukaan Nathan untuk sarapan. Tanganku sigap membagikan piring di atas meja, kemudian dengan mata yang tiba-tiba terasa panas, menarik lagi satu piring yang terlanjur tergeletak di tempat suamiku biasanya duduk menikmati sarapannya.

"Bu, apakah Ibu pernah memimpikan Ayah?" Nathan bertanya tanpa menatapku, dengan tangan sibuk memotong pancake di piringnya.

"Tidak pernah, ibu rasa," jawabku jujur. Memang, Mas Arya tidak pernah hadir dalam mimpiku, meski aku begitu merindukannya.

"Ayah selalu datang dimimpiku, Bu. Setiap malam." Matanya terlihat menerawang.

"Mungkin karena engkau terlalu merindukan Ayahmu," jawabku sambil lalu. Tanganku kembali sibuk membolak-balik pancake di wajan.

"Jadi, Ibu tidak rindu Ayah? Itu sebabnya Ayah tidak pernah datang dimimpi Ibu?" cecar Nathan.

Aku tersentak, kemudian membalikkan tubuh kembali menghadap Nathan. Putraku itu menatap lekat. Aku tersenyum kemudian membelai lembut rambutnya.

"Ayo cepat habiskan sarapanmu. Sebentar lagi bus jemputan datang."

***

Keesokan sorenya, Nathan mengajakku berkeliling dengan mengendarai sepeda. Jantungku berdetak kencang ketika Nathan tiba-tiba mengarahkan sepedanya ke arah jembatan tempat ayahnya meregang nyawa.

Nathan meletakkan sepedanya begitu saja di pinggir trotoar, lalu bersandar di besi jembatan yang berkarat. Pandangannya terpaku ke arah sungai yang menderum. Aku hanya mengikuti dan berdiri goyah di sampingnya.

"Ibu tahu? Dalam mimpiku Ayah selalu mengeluh kesepian dan minta ditemani." Nathan berkata dengan suara lirih sambil terus menatap sungai yang airnya bergelora.

"Sudah berapa kali ibu bilang Nathan, itu hanya mimpi!" Aku berkata keras. Bahu Nathan sedikit tersentak mendengarnya.

Kurengkuh tubuh bocah tampan yang tingginya hampir menyamaiku itu ke dalam pelukan. Sesaat kami hanya terdiam. Gerimis mulai hadir berupa tetesan kecil. Aku meminta Nathan untuk mengambil payung kecil di keranjang sepedaku. Nathan mengambilnya sambil berlari kecil.

Nathan menyerahkan payung itu, lalu berjongkok di depanku sambil membetulkan tali sepatunya, kemudian mendongakkan wajahnya menatapku lurus.

"Kata Ayah, selama ini dia tidak bahagia, Bu. Ayah juga bilang, Ibu terlalu mengatur hidupnya sehingga dia merasa muak."

Aku terhenyak mendengar ucapan Nathan. Itu semua tidak benar!

"Ayah memintaku untuk menemaninya, tapi aku tidak bisa. Maukah Ibu yang menemani Ayah di sana?" Nathan menatapku tajam. Mata bocah itu terlihat aneh dengan lingkaran hitam di bawahnya. Kontras dengan kulitnya yang pucat.

"Ma-maksudmu apa, Nak?" Aku berusaha mencerna setiap perkataannya.

Nathan perlahan bangkit. Mendekatiku dan berbisik di telingaku.

"Ayah tidak akan berhenti mendatangiku dalam mimpi jika dia masih terus kesepian, Bu. Kumohon pergilah, temani dia."

Nathan lalu dengan sekuat tenaga mendorongku hingga separuh tubuhku terangkat dengan kaki menggapai udara kosong. Payung yang kupegang serta merta terlepas.

Aku mencengkeram erat kedua tangannya, mencoba berpegangan. Napasku terengah ketakutan.

"Nathan ... ibu mohon, jangan lakukan ini, Sayang." Aku mengiba kepada putraku itu.

"Pergilah, Bu. Tolong temani Ayah!"

Setetes air mata bergulir di pipi Nathan. Lagi, dengan satu dorongan keras darinya, akhirnya tubuhku terjungkal jatuh ke bawah jembatan. Air sungai yang dingin dan bergemuruh menyambutku dengan suka cita.

Pandanganku timbul tenggelam ketika sungai itu menyeret tubuhku menjauh. Sekelebat tampak sosok Nathan melambaikan tangannya dari atas sana. Baiklah, Nak, jika itu kemauanmu. Ibu ikhlas menemani ayahmu di sana.


Nantikan cerpen lainnya ya, GanSis!
Diubah oleh handayani.tika
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makola dan 40 lainnya memberi reputasi
39
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 4 dari 12
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
01-02-2020 14:36
Aku selalu terhuraaaaa kalau baca ini Mak. Nathan nya tega ya bunuh emaknya 🤧
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan handayani.tika memberi reputasi
2 0
2
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
01-02-2020 14:42
Quote:Original Posted By novaarlisanty
Aku selalu terhuraaaaa kalau baca ini Mak. Nathan nya tega ya bunuh emaknya 🤧


Gitulah, Mak 😢

Kasihan tuh bocah, mungkin dia ada gangguan psikologis 😭
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
01-02-2020 14:44

Maaf Untuk Ibu

Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen by handayani.tika
Sumber : Google


Mata wanita tua itu terlihat menerawang. Pikirannya seolah tak mampu ditembus oleh apa pun. Suasana berisik di panti jompo ini sedikit pun tidak membuyarkan lamunannya.

"Ibu, mau Wina sisir rambutnya?" Aku yang duduk di hadapan wanita itu menyentuh tangannya dengan lembut.

Perlahan matanya beralih kepadaku. Senyum menghiasi bibir keriput itu.

"Kamu siapa?" Sekian kali tanya itu selalu terlontar darinya setiap kami bertemu.

"Aku Wina, Bu," jawabku sambil tersenyum.

"Kamu kenal Pak Kusno?" tanyanya juga untuk kesekian kalinya.

Aku mengangguk sambil menggenggam tangannya. Setiap kali dia hanya menanyakan tentang lelaki itu. Setelah itu pikirannya kembali menerawang sambil sesekali bergumam.

Alzheimer telah merenggut ingatannya selama dua tahun terakhir ini. Anak, cucu, dan semua yang bertalian darah dengannya telah pupus dalam lingkar memorinya.

Dia tidak ingat betapa luar biasanya dia dulu sebagai seorang Ibu. Membanting tulang demi membesarkan buah hatinya. Bertahan dari perihnya perselingkuhan oleh suami yang sangat dicintainya.

Ironisnya, justru nama lelaki itulah yang tak lekang dari ingatannya. Lelaki yang telah menyebarkan luka dan meluruhkan air matanya. Lelaki yang meninggalkannya dengan dua orang anak yang masih balita. Lelaki yang bahkan tak peduli ketika dia memohon bantuan ketika salah satu anaknya terserang penyakit yang berbahaya.

"Kamu siapa?" Lagi dia bertanya. Matanya lekat menatapku.

Aku hanya tersenyum. Mengambil sisir dalam tasku kemudian bergeser ke samping dan mulai menyisir rambutnya.

Aku Wina, Bu. Anak perempuanmu satu-satunya. Dulu tangan ibulah yang selalu menyisir rambutku kemudian mengepangnya menjadi dua. Ibulah yang dulu menjagaku di kala aku sakit dan tidak berdaya. Hanya Ibu yang selalu membesarkan hatiku untuk menerima segala keterbatasan yang aku punya.

Air mataku menetes tanpa bisa kutahan. Kenangan masa kecil yang dipenuhi sosok Ibu membuat napasku sesak karena rasa bersalah. Maafkan anakmu ini, Bu karena tidak bisa merawatmu sebagaimana engkau dulu menjagaku.

Tiba-tiba Ibu menoleh. Tangannya yang gemetar mengusap air mataku.

"Kenapa menangis?" Dia menatapku lekat.

Aku tak bisa menahan diri lagi. Segera menumpahkan tangis di pangkuan wanita yang sangat aku cintai itu. Terasa tangannya membelai rambutku. Aku meraih tangan itu dan menciuminya dengan perasaan rindu yang mendalam.

"Kamu siapa?" tanyanya lirih.

"Aku Wina, anak Ibu. Terima kasih untuk semua kasih sayangmu, Bu. Maafkan Wina tidak bisa melakukan yang terbaik untuk Ibu."

Terlihat Ibu memandangku dengan tatapan bingung. Keningnya berkerut seakan berpikir keras. Sesudahnya dia mengangguk sambil tersenyum, lalu matanya kembali menerawang ke dunia yang tak bisa aku masuki.

Aku meneruskan menyisir rambutnya, sambil bercerita tentang banyak hal yang tentu saja tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari Ibu. Namun, tak mengapa. Hal itu setidaknya mengobati rasa rinduku yang dulu selalu menumpahkan isi hati kepadanya.

Panggilan dari petugas panti yang memberitahu bahwa jam besuk sudah habis, mengakhiri pertemuan kami. Aku pamit sambil mencium kedua pipinya dan berjanji akan berkunjung lagi secepatnya.

Aku menggerakkan kursi rodaku keluar gedung panti. Di sana sudah menunggu Vanya—sahabatku—yang selalu berbaik hati mau mengantarku untuk menjenguk Ibu.

Penyakit polio yang kuderita di masa kecil, telah merenggut langkah bebasku. Dengan keterbatasan ini, aku tidak mampu merawat Ibu sebagaimana mestinya. Mas Imam—saudara lelakiku— mengambil keputusan untuk memasukkan Ibu ke panti jompo.

Keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan nuraniku. Aku pernah mengusulkan supaya mencari orang untuk merawat Ibu di rumah. Namun, Mas Imam menolak dengan alasan yang tak jelas. Aku tidak berdaya untuk melawan karena sampai detik ini hidupku masih bergantung padanya.

Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan mengampuni kami yang seakan berlepas tangan dalam merawat wanita yang telah mempertaruhkan segalanya untuk membesarkan kami berdua.

Maafkan kami, Bu. Maafkan anak-anakmu ini. Suatu saat nanti akan kubawa kembali Ibu pulang ke rumah. Semoga saja belum terlambat.

END
Diubah oleh handayani.tika
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
01-02-2020 14:47
Ditunggu hadirnya, gansis 😉

Sudah sebelas cerpen ane post, semoga berkenan.

Jangan lupa dirate, kasih cendol dan share yaaa

emoticon-Malu

Ane juga terima krisan dengan tangan terbuka 😉
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan embunsuci memberi reputasi
2 0
2
Post ini telah dihapus oleh KS06
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
01-02-2020 22:37
Tumben tidak nulis kisah dark horor teror.
Apakah karena ini kisah nyata yang dialami TS sendiri?
Maaf sedikit kepo
emoticon-Shakehand2

Kalau kritik dan sarannya,
ceritanya bagus, tentang alzheimer..
Karena ceritanya sangat pendek, Jadi tidak sepenuhnya membawa pembaca lebih mendalami tentang penderitaan pengidap Alzheimer.
Bagaimana tanda tanda kemunculannya, ketakutan saat mulai lupa satu persatu keluarga terdekat. Usia berapa penyakit itu muncul. Menurun apa tidak. Dan sebagainya yang bisa mengedukasi pembaca untuk lebih mendalam mengenal apa itu alzheimer.

segitu aja tanggapannya
emoticon-Shakehand2
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
02-02-2020 00:17
Anak yang sholeh
Hiks
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan handayani.tika memberi reputasi
2 0
2
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
02-02-2020 14:15
Quote:Original Posted By handayani.tika
Kumpulan Cerpen by handayani.tika


1. NATHAN

Aku duduk menekur memandang cangkir teh yang sudah kehilangan uap panasnya. Suara ketukan ranting pohon di jendela dapur terdengar berderak menyeramkan, ditingkahi oleh suara angin yang mendesau. Kualihkan pandangan ke arah jendela, lalu mendesah lirih.

Biasanya dia selalu menemaniku. Kami berbincang hingga larut malam di meja dapur sambil menyesap secangkir teh hangat. Saat mata sudah semakin lelah, kami bergandengan tangan menuju peraduan, kemudian terlelap sambil berpelukan.

Masih teringat jelas olehku satu bulan yang lalu. Dia berpamitan sore itu untuk membeli persediaan susu yang habis. Aku berusaha melarang karena gerimis yang mulai menderas. Namun, dia tetap bersikeras untuk pergi mengayuh sepedanya menuju minimarket terdekat. Kupandangi punggungnya yang menjauh dengan perasaan entah.

Satu jam kemudian, petugas berseragam datang mengetuk pintu depan. Membawa kabar bahwa Mas Arya--suamiku tercinta--menurut saksi mata, melompat dari jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang berarus deras saat musim hujan seperti sekarang ini. Sepeda dan kantong belanjaan yang berisi susu tergeletak di pinggir trotoar.

Keesokan harinya, jenazah suamiku ditemukan tersangkut di antara bebatuan. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan saksi dan autopsi, disimpulkan kematiannya murni bunuh diri.

Bunuh diri? Namun, kenapa? Bukankah kehidupan keluarga kami selama ini sangat berbahagia? Suamiku sangat menyayangi aku dan putra semata wayang kami--Nathan. Kariernya bagus dan kami juga tidak punya masalah finansial yang berarti. Lalu kenapa dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu?

Nathan sangat terpukul. Bocah sebelas tahun itu begitu lengket dengan Ayahnya. Baru-baru ini Mas Arya bahkan menjanjikan untuk pergi liburan menghabiskan penghujung tahun ke Pulau Dewata. Janji yang tidak akan pernah ditepatinya.

Aku kembali menghembuskan napas berat, kemudian bangkit dari kursi dan bersiap untuk mencuci gelas kotor. Tiba-tiba terdengar jeritan dari kamar Nathan. Sontak cangkir teh terlepas dari peganganku, menghantam wastafel menimbulkan bunyi berkelontangan.

Aku segera berlari ke kamarnya dan menerobos masuk. Menemukan Nathan duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah basah oleh air mata. Aku memeluk tubuhnya yang kuyup akan keringat. Mimpi buruk kerap mendatanginya semenjak kejadian itu.

"Ibu ... Ayah sendirian dan kesepian." ungkapnya gemetar dalam pelukanku.

"Sshhh ... itu hanya mimpi, Sayang. Sekarang Ayah sudah tidur tenang. Kita harus tetap melanjutkan hidup, Nak." Aku merangkum wajahnya lalu mengecup lembut kening putraku itu.

"Ta-tapi, Bu. Kata Ayah ...." Nathan tidak kuasa melanjutkan kata-katanya.

"Sudahlah, Nathan. Ayo kita tidur. Ibu temani, ya," tukasku sambil mengatur selimut untuk kami berdua.

****

Paginya, aku membuatkan pancake kesukaan Nathan untuk sarapan. Tanganku sigap membagikan piring di atas meja, kemudian dengan mata yang tiba-tiba terasa panas, menarik lagi satu piring yang terlanjur tergeletak di tempat suamiku biasanya duduk menikmati sarapannya.

"Bu, apakah Ibu pernah memimpikan Ayah?" Nathan bertanya tanpa menatapku, dengan tangan sibuk memotong pancake di piringnya.

"Tidak pernah, ibu rasa," jawabku jujur. Memang, Mas Arya tidak pernah hadir dalam mimpiku, meski aku begitu merindukannya.

"Ayah selalu datang dimimpiku, Bu. Setiap malam." Matanya terlihat menerawang.

"Mungkin karena engkau terlalu merindukan Ayahmu," jawabku sambil lalu. Tanganku kembali sibuk membolak-balik pancake di wajan.

"Jadi, Ibu tidak rindu Ayah? Itu sebabnya Ayah tidak pernah datang dimimpi Ibu?" cecar Nathan.

Aku tersentak, kemudian membalikkan tubuh kembali menghadap Nathan. Putraku itu menatap lekat. Aku tersenyum kemudian membelai lembut rambutnya.

"Ayo cepat habiskan sarapanmu. Sebentar lagi bus jemputan datang."

***

Keesokan sorenya, Nathan mengajakku berkeliling dengan mengendarai sepeda. Jantungku berdetak kencang ketika Nathan tiba-tiba mengarahkan sepedanya ke arah jembatan tempat ayahnya meregang nyawa.

Nathan meletakkan sepedanya begitu saja di pinggir trotoar, lalu bersandar di besi jembatan yang berkarat. Pandangannya terpaku ke arah sungai yang menderum. Aku hanya mengikuti dan berdiri goyah di sampingnya.

"Ibu tahu? Dalam mimpiku Ayah selalu mengeluh kesepian dan minta ditemani." Nathan berkata dengan suara lirih sambil terus menatap sungai yang airnya bergelora.

"Sudah berapa kali ibu bilang Nathan, itu hanya mimpi!" Aku berkata keras. Bahu Nathan sedikit tersentak mendengarnya.

Kurengkuh tubuh bocah tampan yang tingginya hampir menyamaiku itu ke dalam pelukan. Sesaat kami hanya terdiam. Gerimis mulai hadir berupa tetesan kecil. Aku meminta Nathan untuk mengambil payung kecil di keranjang sepedaku. Nathan mengambilnya sambil berlari kecil.

Nathan menyerahkan payung itu, lalu berjongkok di depanku sambil membetulkan tali sepatunya, kemudian mendongakkan wajahnya menatapku lurus.

"Kata Ayah, selama ini dia tidak bahagia, Bu. Ayah juga bilang, Ibu terlalu mengatur hidupnya sehingga dia merasa muak."

Aku terhenyak mendengar ucapan Nathan. Itu semua tidak benar!

"Ayah memintaku untuk menemaninya, tapi aku tidak bisa. Maukah Ibu yang menemani Ayah di sana?" Nathan menatapku tajam. Mata bocah itu terlihat aneh dengan lingkaran hitam di bawahnya. Kontras dengan kulitnya yang pucat.

"Ma-maksudmu apa, Nak?" Aku berusaha mencerna setiap perkataannya.

Nathan perlahan bangkit. Mendekatiku dan berbisik di telingaku.

"Ayah tidak akan berhenti mendatangiku dalam mimpi jika dia masih terus kesepian, Bu. Kumohon pergilah, temani dia."

Nathan lalu dengan sekuat tenaga mendorongku hingga separuh tubuhku terangkat dengan kaki menggapai udara kosong. Payung yang kupegang serta merta terlepas.

Aku mencengkeram erat kedua tangannya, mencoba berpegangan. Napasku terengah ketakutan.

"Nathan ... ibu mohon, jangan lakukan ini, Sayang." Aku mengiba kepada putraku itu.

"Pergilah, Bu. Tolong temani Ayah!"

Setetes air mata bergulir di pipi Nathan. Lagi, dengan satu dorongan keras darinya, akhirnya tubuhku terjungkal jatuh ke bawah jembatan. Air sungai yang dingin dan bergemuruh menyambutku dengan suka cita.

Pandanganku timbul tenggelam ketika sungai itu menyeret tubuhku menjauh. Sekelebat tampak sosok Nathan melambaikan tangannya dari atas sana. Baiklah, Nak, jika itu kemauanmu. Ibu ikhlas menemani ayahmu di sana.


Nantikan cerpen lainnya ya, GanSis!


Tega kamuh, Naaath emoticon-sad
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 00:15
Quote:Original Posted By curahtangis
Tumben tidak nulis kisah dark horor teror.
Apakah karena ini kisah nyata yang dialami TS sendiri?
Maaf sedikit kepo
emoticon-Shakehand2

Kalau kritik dan sarannya,
ceritanya bagus, tentang alzheimer..
Karena ceritanya sangat pendek, Jadi tidak sepenuhnya membawa pembaca lebih mendalami tentang penderitaan pengidap Alzheimer.
Bagaimana tanda tanda kemunculannya, ketakutan saat mulai lupa satu persatu keluarga terdekat. Usia berapa penyakit itu muncul. Menurun apa tidak. Dan sebagainya yang bisa mengedukasi pembaca untuk lebih mendalam mengenal apa itu alzheimer.

segitu aja tanggapannya
emoticon-Shakehand2



Iya, gan. Setelah ane pikir-pikir trit ini buat berbagai genre aja deh. Nggak usah dikhususkan ke horor

emoticon-Malu

Makasih sarannya, Gan. Kelemahan ane kadang emang suka bikin cerita terlalu pendek gitu. Insyaallah next ane bisa bikin cerita yang lebih mendalam lagi, Gan.

Makasih mau mampir lagi ya, Gan

emoticon-Shakehand2
Diubah oleh handayani.tika
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 00:16
Quote:Original Posted By qoni77
Anak yang sholeh
Hiks


Hiks, mudah-mudahan, Sis.

Makasih mampirnya, sista emoticon-Kiss
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 00:18
Quote:Original Posted By Melanichi
Tega kamuh, Naaath emoticon-sad


Noh, temani si Nathan, Sista. Doi butuh tatih tayang

emoticon-Turut Berduka
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 05:20
Quote:Original Posted By handayani.tika
Makasih mampirnya, Sis cantik

emoticon-Betty


emoticon-Big Kiss
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 14:55

Forgiven Not Forgotten

Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen by handayani.tika
Sumber : Google


Aku melangkah tersaruk sambil mendekap jajanan yang baru kubeli di kantin sekolah. Di belakangku terdengar riuh ejekan diiringi gelak tawa. Aku hanya menggigit bibir dan terus melangkah menuju kelas.

"Woy, Gendut! Makan terus kerja, lu. Udah mirip gentong badan lu, Babi!" maki cowok berambut cepak yang tak pernah alpa menerorku.

"Awas! Lindungi diri kalian! Godzilla dataaang!" sambungnya yang langsung disambut sorak sorai dari gerombolannya.

Vito--cowok bengal--itu tidak bosan-bosannya menggangguku. Sosokku yang kelebihan berat badan selalu menjadi bahan olok-olok dan objek hiburan olehnya beserta kumpulannya. Selama ini aku hanya diam. Namun, hatiku menumpuk dendam.

"Hei! Elu pemakan segala, ya?" tanyanya santai mensejajari langkahku sambil menarik kepang rambutku.

Aku hanya membisu dan segera masuk ke dalam kelas. Menjejalkan bokongku yang besar ke kursi kayu yang entah sampai kapan akan kuat menopang berat badanku.

Kraaak!

Benar saja! Kursi itu akhirnya menyerah. Benda itu membelah diri menjadi dua bagian dan menyisakan aku terhenyak di lantai dengan jajanan yang terbang berhamburan. Suasana kelas gegap gempita. Mereka, terutama Vito tertawa seperti kesetanan. Dengan susah payah aku bangkit, kemudian pergi keluar kelas meminta kursi baru ke ruang tata usaha.

Peristiwa seperti itu menjadi makanan sehari-hari bagiku sejak berada di SMU ini. Tak ada perlawanan karena aku tahu yang mereka ucapkan itu benar. Aku memang gendut seperti babi, dengan berat hampir seratus kilogram. Mungkin aku hanya tinggal menguik dan sempurnalah sudah kemiripan itu.

Tak pernah sekali pun aku berani mengadukan perundungan itu kepada pihak sekolah. Percuma! Suara orang-orang sepertiku tak akan didengar. Mungkin aku harus menempuh cara lain supaya mereka berhenti menggangguku. Tak peduli seperti apa pun caranya. Aku hanya ingin bebas dari semua ini!

____________

Aku melihatnya celingukan di lantai tiga sekolah yang sepi. Sebuah surat kaleng telah berhasil memancing Vito untuk datang. Surat yang mengatasnamakan seorang gadis kelas sebelah yang aku tahu telah lama ditaksirnya.

Aku tertawa dalam hati melihat Vito sedikit berdandan. Baju seragamnya rapi masuk ke dalam celana. Rambutnya juga terlihat mengkilap dan disisir ke belakang. Susah payah aku menahan tawa. Lebih baik langsung kumulai saja daripada rencana ini gagal.

"Hai," sapaku santai sambil keluar dari tempat persembunyianku.

"Njirr! Ngapain lu di sini, Gembrot?" Vito tampak terkejut melihat kehadiranku.

Aku hanya tersenyum simpul. Kedua tangan kusembunyikan di belakang tubuh. Bersiap untuk kejutan yang tidak akan pernah dia sangka.

"Pergi lu sana! Lu mata-matain gue, ya! Naksir lu? Mimpi kali lu, Gentong!" Mulut lelaki berperawakan kurus itu begitu lihai menghinaku.

Aku tetap tersenyum sambil terus menatapnya lekat. Kulihat wajah Vito tidak segarang biasanya. Matanya mulai melirik ke sekeliling. Mungkin mencari bala bantuan. Walau bagaimanapun ukuran tubuhku jauh melampauinya. Sekali cekik, bisa kupatahkan batang leher cowok tengil ini.

Aku melangkah perlahan mendekatinya. Vito secara otomatis bergerak mundur. Aku tergelak dalam hati. "Mana nyalimu, baik! Biasanya kau begitu jumawa merundungku jika bersama kawananmu. Sekarang coba lihat wajahmu. Seperti anjing terjepit. Iya! Itu kalimat yang pantas untukmu saat ini."

Perlahan aku menunjukkan benda yang kubawa. Masih terbungkus kantong plastik hitam. Hanya tinggal aku keluarkan dan selesailah sudah. Mata Vito melotot, terlihat dadanya naik turun. Sepertinya dia tidak bisa menerka tindakanku selanjutnya.

Aku merogoh ke dalam plastik hitam besar. Dengan senyum mengembang perlahan menarik sesuatu di dalamnya. Saat benda itu utuh kukeluarkan. Terdengar jeritan histeris dari Vito. Aku spontan tergelak. "Sungguh Bro! Teriakanmu seperti perempuan!"

Secepat kilat aku melempar benda itu ke arahnya. Tidak hanya satu, lebih dari lima kali benda itu bertubi-tubi mendarat di tubuhnya. Teriakan cowok berbadan kerempeng itu terdengar merdu di telingaku. Pakaian Vito berubah warna menjadi merah darah. Sesudahnya, dia roboh tak berkutik.

"Yes! Sukses, Ran." Terdengar suara seorang gadis di belakangku. Tiara sahabatku, muncul dari balik dinding sambil mengacungkan gawainya.

"Lu lihat, deh! Lucu banget," ujarnya terpingkal-pingkal sambil memperlihatkan hasil rekaman. Rambut ekor kuda Tiara bergerak lincah seiring gelak tawanya

Aku turut tertawa terbahak-bahak. Tubuhku yang tambun berguncang hebat. Dalam rekaman terlihat jelas mimik ketakutan Vito ketika kulempari dengan bangkai tikus yang sebelumnya sengaja kulumuri cairan pewarna merah untuk menambahkan efek dramatis. Ekspresi yang memalukan untuk seorang yang belagak jagoan.

Vito phobia tikus dan darah. Hal itu kuketahui dari Tiara yang juga merupakan sepupunya. Tiara merasa gerah melihat perlakuan Vito terhadapku selama ini. Cewek berkacamata itu pun merancang balas dendam ini untuk memberi pelajaran terhadap Vito yang telah berlaku semena-mena terhadapku. Aku hanya mengikuti rencana gadis manis itu dan membantu mempersiapkan semuanya.

"Makasih ya, Tia. Mudah-mudahan dengan ini sepupu lu itu nggak bakal gangguin gue lagi. Sumpah! Gue pernah kepikiran mau mati aja kadang." Aku menyeka air mata.

"Tenang aja lu, Ran! Gue bakalan bikin dia minta maaf sama lu. Kalo dia nggak mau minta maaf, rekaman ini gue sebar. Biar tau rasa!" Bibir Tiara menyungging senyum nakal.

"Trus, gimana nih nasib sepupu lu? Kita biarin aja?" tanyaku sambil melirik Vito yang masih terkapar tak berdaya dengan bangkai tikus yang masih bertengger di tubuhnya.

Sungguh pemandangan yang menggelikan. Namun sungguh pantas untuk seorang pembully sepertinya.

"Udah biarin aja! Nanti gue panggil seseorang buat beresin nih, bocah!" Gadis berkulit putih itu berkata tanpa beban.

Tiara segera menarik tanganku untuk pergi. Sepanjang perjalanan kami masih tertawa-tawa sambil berulangkali memutar hasil rekaman.

____________

Keesokan harinya Vito tidak masuk sekolah. Di hari ketiga setelah kejadian itu barulah dia menampakkan batang hidungnya. Kudapati dia melirik dengan takut-takut ke arahku.

Saat waktu istirahat tiba, aku segera menuju ke kantin. Biasanya di saat inilah ritual gangguan dari Vito dan teman-temannya dimulai. Aku melewati kelompok mereka dengan perasaan berdebar. Namun, sungguh ajaib! Tidak terjadi apapun. Hanya suasana hening yang terasa saat aku lewat.

"Rani!" Terdengar suara Vito memanggil. Aku menoleh dan melihatnya berlari kecil menghampiriku.

"Ran, gu-gue sama teman-teman minta maaf selama ini sering ganggu elu," ucap Vito sambil terus menunduk tanpa berani menatap mataku.

"Gue minta lu sama Tiara buat hapus rekaman itu ya, Ran. Jangan sampai tersebar," pintanya memelas.

"Apa? Ah, becanda lu, Bro!" Aku tergelak sambil menepuk bahunya keras hingga membuatnya terhuyung ke samping karena kekuatan superku.

"Tidak semudah itu Ferguso!" gumamku sambil berlalu dari hadapannya. Kau tidak tahu efek perbuatanmu itu akan terus membekas seumur hidupku. Sekarang anggap saja aku memegang kartu As-mu. Setimpal bukan?

Forgiven, not forgotten!

END
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 14:56
Sundulin dong Agan Sista 😍

Jangan lupa rate, cendol and share yaaa.

Krisan juga ane terima dengan senang hati.

emoticon-Big Kiss
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 17:28
mampir duLu nanti malam baru baca sepuasnya
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan embunsuci memberi reputasi
2 0
2
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
03-02-2020 20:54
Quote:Original Posted By NiningMeu
mampir duLu nanti malam baru baca sepuasnya


Ahayyy 😍😍

Ditunggu ya sistahhhh😁😁
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
05-02-2020 07:06
Quote:Original Posted By handayani.tika
Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen by handayani.tika
Sumber : Google

Part 1

Gadis itu berlari lincah sambil menggiring bola. Sosoknya yang tinggi menjulang seolah bersinar di lapangan. Bola basket itu bagai magnet yang menempel di tangannya. Dengan patuh mengikuti setiap gerakannya yang begitu gesit.

Penonton bersorak. Satu jump shoot dari Kiki berhasil menambah point timnya. Aku ikut bersorak dalam hati. Mengamati permainan di sudut lapangan yang jauh dari kerumunan. Tak lama permainan berakhir dengan skor kemenangan telak untuk Kiki dan timnya.

Mataku masih mengikuti sosok cantik itu ketika meninggalkan lapangan sambil tertawa lepas bersama teman-temannya. Kiki adalah sosok gadis impian. Dia cantik, populer dan berasal dari keluarga berada. Semua kesempurnaan seolah melekat padanya.

Semua yang dia miliki seolah berbanding terbalik denganku. Aku seorang gadis berwajah biasa berpenampilan culun, yang tidak akan membuat orang menoleh dua kali ketika melihatku. Walau berotak encer, tapi itu tidak cukup untuk membuat orang mau berteman denganku.

Teman-teman di sekolah memang tidak pernah terang-terangan mengejekku. Aku hanya diabaikan dan dipandang sebelah mata. Hal itu juga sama menyakitkan layaknya serangan verbal.

Sejak bersekolah di SMU ini, aku telah lama mengagumi Kiki dalam diam. Mataku seolah tak lelah untuk mengintai gerak-geriknya. Di mataku dia seolah tanpa cela. Dia mempunyai segalanya yang aku impikan. Tak jarang aku berkhayal bahwa kami begitu dekat. Namun, begitu realita tersibak, aku dihempas kembali oleh kenyataan pahit, bahwa semua itu hanya angan-angan. Aku adalah sosok yang tak akan pernah tampak olehnya.

Aku meninggalkan lapangan dan menuju ke kelas. Kakiku terantuk sesuatu yang keras. Sebuah botol minum berwarna pink menggelinding. Aku memungutnya dan menemukan sebuah stiker bertuliskan 'Kiki' menempel di botol cantik dan terlihat mahal. Mungkin dia tidak sengaja menjatuhkannya ketika lewat di sini.

Aku berjalan menuju ke kelasnya bermaksud untuk mengembalikan botol minuman itu. Dari jendela aku melihat Kiki masih asyik bersenda gurau bersama temannya. Sesaat aku merasa bimbang, selama ini kami belum pernah bertegur sapa. Perasaan rendah diri, selalu membuatku mengurungkan niat untuk sekedar bercakap-cakap.

Saat aku masih bergulat dengan rasa ragu, tiba-tiba Kiki menoleh ke arahku. Aku sontak melambaikan botol minuman itu. Kiki pun berlari kecil menuju pintu. Aku bisa melihatnya dari dekat sekarang. Wajah putih bersih yang masih menyisakan sedikit keringat di dahinya. Mata indah itu bersinar ketika melihat botol minum yang ada di tanganku.

"Wah! Kamu nemu di mana? Pantas aku cari dari tadi nggak ketemu. Bisa habis aku dimarahi Mama kalo sempat hilang nih botol. Limited edition soalnya," gelaknya sambil menerima botol itu dari tanganku.

"Mmm ... sepertinya jatuh pas kamu habis tanding basket tadi. Aku tadi nemunya di dekat lapangan," jelasku sedikit gugup.

"Oh iya! Pasti jatuh di situ." Dia menepuk keningnya sambil tertawa lepas.

"Mmm ... kalo gitu aku balik ke kelasku dulu, ya," pamitku setelah tidak tahu lagi harus berkata apa. Berdiri sedekat itu dengannya membuatku salah tingkah.

"Eh tunggu! Kamu anak kelas sebelah 'kan? Namamu siapa?" Kiki mengulurkan tangannya yang putih bersih itu kepadaku.

"Dea," jawabku pendek sambil menyambut uluran tangannya. Begitu kontras perbedaan di antara kami. Kulitnya yang putih halus bersanding dengan kulitku yang gelap dan kering. Aku segera menarik tangan dengan cepat.

"Thanks ya, Dea. Kamu penyelamatku." Dia mengedipkan matanya kemudian masuk kembali ke dalam kelas. Rambut ekor kudanya menari-nari seiring dengan langkahnya.

Hatiku mengembang mendengar ucapannya. Aku berjalan menuju kelas dengan hati berbunga-bunga. Senang rasanya Kiki bersikap manis kepadaku yang bukan siapa-siapa ini. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa berkenalan dengannya. Ini adalah hari yang bersejarah untuk seorang Dea.

****

Sesampainya di rumah, aku segera memasuki kamar dan menguncinya dari dalam. Tak kuhiraukan panggilan Ibu yang menyuruh untuk makan siang. Aku membuka laci yang ada di meja belajar. Di situ terdapat setumpuk kertas linen berwarna cream. Aku mengambil sehelai dan segera mengayunkan tangan menggores wajah Kiki di permukaan kertas. Sosoknya masih hangat terasa dalam ingatanku.

Tak lama sketsa wajah itu pun selesai. Rencananya akan dibingkai dan kuhadiahkan untuknya, sebagai tanda terima kasih karena sudah bersikap sangat manis terhadapku hari ini. Dengan senyum mengembang aku membayangkan Kiki akan sangat senang dengan pemberian ini.

Dari dulu aku sangat suka menggambar. Kecintaan akan hobiku itu semakin bertambah semenjak tahun lalu aku pernah dirawat di rumah sakit karena mencoba mengakhiri hidup. Menggambar dengan media kertas dan pensil merupakan terapi bagi jiwaku yang rapuh dan mudah depresi. Dengan menggoreskan pensil dan membentuk sebuah objek, aku bisa menemukan ketenangan dan sejenak bisa melupakan semua permasalahan.

Psikisku mulai hancur semenjak Ayah memutuskan untuk meninggalkan rumah sewaktu aku masih duduk di bangku SMP. Dulu aku adalah gadis kesayangannya, setidaknya begitulah yang pernah Ayah bilang. Ternyata Ayah berbohong, dia mempunyai gadis kesayangan lain di luar sana. Sejak saat itu Ayah tidak pernah lagi menemuiku. Ketika aku masuk rumah sakit karena mengiris nadiku, Ayah tidak datang berkunjung. Aku telah dilupakan dan itu sangat menyakitkan.

Aku menggelengkan kepala berusaha mengusir kenangan yang menyakitkan itu. Setelah berganti pakaian, aku segera keluar kamar dan berpamitan pada Ibu sambil menyambar kunci motor. Aku tidak menghiraukan suara Ibu yang terdengar mengatakan sesuatu entah apa itu. Hari ini aku begitu bersemangat mewujudkan rencanaku.

Aku mengarahkan motorku ke sebuah toko buku yang cukup besar. Niatku ingin membeli sebuah pigura yang paling bagus untuk membingkai sketsa wajah Kiki. Setelah lama memilih, sebuah pigura yang didominasi warna emas memikat hatiku. Kelihatannya begitu cantik dan mewah.

Aku keluar sambil bersenandung. Ketika hendak mengambil motor di parkiran, terlihat sosok yang sudah tidak asing lagi bagiku. Itu Kiki bersama seorang cowok tampan. Kelihatannya mereka juga akan ke toko buku. Aku melambaikan tangan sambil berseru memanggilnya. Kiki menoleh kemudian kembali acuh. Dia kemudian membisikkan sesuatu kepada cowok di sebelahnya. Si cowok melihat sekilas kearahku lalu menggeleng sambil mengangkat bahu. Kedua sejoli itu pun melanjutkan langkah memasuki toko.

Aku merasa terluka. Kiki tidak mengenaliku, padahal baru tadi dia mengucapkan kalimat manis ketika aku menemukan botol minumannya. Dia tadi juga menanyakan namaku. Lalu kenapa dia seperti tidak pernah melihatku? Apakah aku memang tidak layak untuk diingat?

Aku memandang bungkusan berisi pigura yang masih kutenteng. Rasa kecewa yang tiba-tiba meluap, membuatku membanting pigura itu sekuat tenaga. Suara kaca pecah tidak bisa meredam emosiku. Aku menginjak benda itu dengan air mata bercucuran. Beranjak pergi setelah menyadari banyak mata yang memandang aneh ke arahku.

Aku memacu motor dengan kecepatan tinggi. Air mata yang mengalir di pipiku terasa dingin diterpa angin. Perasaan marah, sedih, kecewa, malu bercampur menjadi satu. Napasku terasa sesak menahan semuanya. Aku sudah berusaha keras untuk membiasakan diri jika diabaikan, tapi kenapa masih saja terasa begitu menyakitkan?

Pintu kamar segera kubanting begitu aku sampai di rumah. Kubuka laci dan mengeluarkan kertas yang berisi sketsa wajah Kiki. Dengan amarah yang memuncak, aku merobek kertas itu menjadi potongan kecil. Napasku terengah menahan semua emosi yang membuatku terseret dalam jurang keputusasaan.

Terdengar suara Ibu yang berseru memanggilku dari luar kamar. Aku mengusap air mata dan dengan tergesa membereskan semua kekacauan yang ada di dalam kamar. Ibu tidak boleh tahu semua ini. Cukup sudah semua kekhawatirannya terhadapku. Aku juga sudah muak dijejali dengan semua obat-obatan dari dokter yang konon katanya bisa mengontrol emosi dan menjauhkanku dari depresi. Peduli setan! Hanya aku yang punya kendali atas diriku. Bukan mereka.

Aku membuka pintu dan menemukan Ibu dengan tangannya yang berlumuran tepung. Matanya penuh selidik menyimak raut wajahku.

"Dari mana sih, De? Bukannya makan siang dulu malah keluyuran. Itu matanya merah kenapa? Dea habis nangis? Ada kejadian apa tadi?" Ibu memberondongku dengan pertanyaan.

"Nggak kok, Bu. Dea lagi nggak enak badan kayaknya. Dea mau istirahat aja ya, Bu." Aku terpaksa berbohong kepada ibuku.

Demi memenuhi kebutuhan hidup kami. Ibu membuka usaha katering dan pesanan aneka kue. Wanita gigih itu berhasil survive dari pahitnya perceraian dan perihnya perselingkuhan. Ah Ibu, andai aku bisa seperti dirimu.

"Ya, sudah. Yakin kamu nggak mau makan dulu? Ibu bikin ayam kecap kesukaan kamu." Ibu masih menatapku lekat. Aku yakin Ibu tidak percaya begitu saja dengan ucapanku. Sejak percobaan bunuh diriku tahun lalu, nalurinya seakan terlatih untuk mengendus ketidakberesan dalam diriku.

Aku menggelengkan kepala. Ibu mengalah dan menyuruhku beristirahat di kamar. Sebelum pintu kamarku tertutup, Ibu memegang tanganku dan kembali mengucapkan sesuatu sambil menatap tajam.

"Kamu harus cerita sama ibu kalau kamu punya masalah ya, Nak. Jangan biarkan ibu kecolongan seperti yang ...." Ibu tidak sanggup meneruskan ucapannya. Matanya terlihat memerah. Aku hanya mengangguk dan bergegas menutup pintu. Berbaring di kasur lalu membenamkan wajahku ke bantal dan menangis dengan suara tertahan.


To be Continued


Ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa. Walau telah letih aku. emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan handayani.tika memberi reputasi
2 0
2
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
05-02-2020 12:45
twist ending😍 terkaget-kaget saya baca endingnyaemoticon-Big Kissemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
05-02-2020 15:42
Nathan sendirian emoticon-Keep Posting Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kumpulan Cerpen by handayani.tika
05-02-2020 17:30
Quote:Original Posted By embunsuci
Ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa. Walau telah letih aku. emoticon-Ngakak


Wkwkwk kepanjangan ya Akak ceritanya, bikin letih

emoticon-Wakaka
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Halaman 4 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rumah-di-gang-buntu-part-1
Stories from the Heart
indigo
Stories from the Heart
loves-bait
Stories from the Heart
your-love-as-pandoras-box
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Personal
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia