Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
91
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cc2a24caf7e93131f23b722/menikmati-senja-bersamamu-kumpulan-cerpen
Menikmati Senja Bersamamu Pict by Khadafi05 Kekasihku Ternyata Milik Orang Lain Sabtu sore, semburat senja tampak menguning keemasan. Matahari bergeser tempat ke ufuk barat, tenggelam bersama keramaian alam. Alam menjadi sunyi dan sepi, tapi tidak dengan bangunan megah di depanku. Janur kuning terhias sepanjang pintu masuk dan di sebelah kanan terdapat foto preweding sepasang mempelai. Begitu rama
Lapor Hansip
26-04-2019 13:16

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]

icon-verified-thread
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]


Pict by @Khadafi05





Kekasihku Ternyata Milik Orang Lain




Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Sabtu sore, semburat senja tampak menguning keemasan. Matahari bergeser tempat ke ufuk barat, tenggelam bersama keramaian alam. Alam menjadi sunyi dan sepi, tapi tidak dengan bangunan megah di depanku. Janur kuning terhias sepanjang pintu masuk dan di sebelah kanan terdapat foto preweding sepasang mempelai. Begitu ramai orang hilir mudik mengenakan riasan dan busana yang sangat mewah. Sedangkan aku dan kedua orang tuaku hanya sederhana. Kami datang disambut senyum manis gadis pagar ayu dan buku tamu. Yah, aku sebagai tamu bukan mempelai di atas pelaminan.


Tidak lupa nama Zhe kusematkan di atas kertas, pertanda bahwa diriku benar-benar seorang tamu.



"Terima kasih, Mba." Senyum sang pagar ayu dan kubalas dengan senyum termanisku.



Sesak, rasanya hatiku terasa perih kembali. Aku mencoba tegar dan menghela nafas beberapa kali sampai merasa tenang. Bunda tersenyum melihatku dan memeluk erat tubuh mungilku.



"Kuat, Sayang. Bunda yakin kamu sanggup," ucap Bunda memegang erat tangan dan menuntunku masuk ke dalam.



Akhirnya aku masuk dan terlihat sepasang mempelai raja dan ratu sehari. Senyum mereka sangat menawan meski harus berdiri untuk bersalaman dengan ribuan tamu. Sekali lagi, Bunda menggenggam erat tanganku dan Ayah hanya tersenyum.


Alunan musik menemani setiap kaki melangkah, memasuki ruangan yang penuh hiasan indah. Suara merdu biduan wanita terdengar syahdu dengan irama khas mendayu-dayu, tapi tetap khidmat. Mengiringi sepasang pengantin yang duduk di atas singasana. Cantik nan gagah bersanding bersama dan tidak lupa mereka tersenyum bahagia. Tidak ada sedikit pun raut kecewa apalagi kesedihan.



Ribuan bunga menghiasi di sana-sini. Perpaduan warna biru dan hijau tosca tersebar sampai sudut gedung. Ornamen ukiran pelaminan tidak kalah megah dan mewah. Deretan kursi para tamu pun mulai sesak dan penuh. Aku datang bersama kedua orang tuaku dari sekian ribu tamu undangan.




"Sayang, kamu yakin mau ngantri bareng kami? Sudah siap ketemu sama pengantinnya?" tanya Bunda untuk meyakinkanku lagi, entah kali keberapa bunda bertanya seperti itu.



"Iya, Bunda" jawab singkatku penuh keyakinan.



"Ya sudah, sini samping Bunda. Biar ayahmu di belakang kita."




Barisan para tamu menganti panjang dan sangat melelahkan. Kemudian tiba saatnya pertemuan dengannya. Sekali lagi, rasa sakit kembali menyerang hatiku, tapi kutekan sedalam mungkin. Berusaha tidak menunjukan betapa lemahnya diriku.



"Selamat menempuh hidup baru, Raka. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah." Kuulurkan tangan, lalu gayung bersambut uluran tangannya.



"Terima kasih atas do'amu, Zhe." Mencoba membalas sapanya dengan senyum, walaupun sulit tetap harus aku lakukan. Perih memang, tapi sudahlah. Mungkin nasib cintaku harus berakhir tragis seperti sekarang.




Entah, kekuatan apa yang mampu mendorongku untuk bertemu dengannya. Sungguh kekuatan besar yang mampu membuatku berdiri dan menyapa, menghadapi seseorang yang sekian lama mengisi hatiku. Namun harus menikah dengan orang lain. Kami pun turun dan pergi dari pelaminan untuk menikmati sajian yang ada.



Aku memilih duduk terpisah dari kedua orang tuaku, menikmati sajian yang sejujurnya tidak membuatku nafsu. Aku ingin langsung pulang, tapi Bunda melarang. Mataku memandang ke pelaminan, tidak terasa kilas balik kejadian itu melintas dipandangan.




Jika mengingat senja hari itu, mungkin tidak akan setegar hari ini. Senja yang menciptakan badai begitu dahsyat dan memorak-porandakan dinding hatiku atas nama cinta.






***********





Semilir angin menerpa di senjaku. Duduk di taman indah bertaburan bunga. Anganku melayang di sore itu. Dimana bertemu dengan seseorang yang lama telah kutunggu. Menemani detik demi detik melewati setiap waktu yang berlalu.



Rasanya aku tidak ingin pergi dari tempatku. Tempat yang selalu ku rindukan saat bersamanya, berbagi senyum dan tawa. Tempat yang terlukis kisahku bersamanya.



"Hay, Sayang. Sudah lama nunggu di sini?" Aku menoleh kemudian dia duduk di sampingku.


"Iya, lumayan nunggu daritadi. Lihat jam berapa sekarang?" Wajahku cemberut sambil melihat jam pukul 5 sore di pergelangan tangan.



"Maaf, Sayang. Hari ini pulang kerja kesorean. Dikejar deadline akhir bulan." Wajahnya penuh penyesalan dan lelah, sepertinya benar-benar sibuk.



"Iya, nggak apa-apa." Aku pun tersenyum semanis mungkin. "Kamu ngapain ngajak ketemu di sini? Nggak seperti biasa sore-sore ngajak ketemu." Masih dengan senyuman yang sama.




Dia terdiam, manik-manik mata indahnya menerawang jauh ke depan. Dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, lalu menghembuskan nafas kasar beberapa kali sebelum melanjutkan kalimat.



"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Sayang." Ia tampak gusar dan sedih, beberapa kali mengepalkan tangan.



"Ada apa sih? Kayaknya serius banget. Wajah kamu kelihatan berat gitu." Aku berusaha menenangkan kekasihku dengan mengelus punggung dan menggenggam jemari miliknya.



"Maafkan aku, sungguh maafkan aku, Sayang." Ia berkali-kali mengucapkan kalimat maaf dan memegang erat tanganku, seperti tidak ingin melepaskan.



"Sebenernya ada apa? Kenapa?" Aku sungguh bingung dibuatnya.
Sebenarnya ada apa dengannya? Tidak biasanya seperti ini, apakah ada masalah serius yang kekasihku hadapi?



"Ini tentang hubungan kita, Sayang. Tentang masa depan dan mimpi-mimpi indah kita berdua, Sayang." Ia kembali menerawang ke depan dengan tatapan kosong dan membuatku semakin bingung. Hatiku mulai gusar, sepertinya ada sesuatu yang berat akan terjadi pada kami.



"Bukankah kita sudah punya banyak rencana tentang masa depan? Toh tinggal datang ke orang tuaku untuk melamar dan menikahiku. Apa yang membuatmu risau?" Aku masih tetap berusaha tenang, jangan sampai kekasihku melihatku yang mulai gelisah.



Setelah mendengar ucapanku, dia terlihat semakin gelisah, raut wajahnya seperti bingung ingin menjelaskan sesuatu. Aku sendiri semakin tidak nyaman dan penasaran. Namun tetap diam dan menunggu penjelasan darinya.




"Bukan, bukan itu masalahnya. Ada hal yang sangat berat untuk menjelaskannya padamu, Sayang." Muka sendunya terlihat lagi olehku, matanya mulai berkaca-kaca.



Kami saling diam beberapa menit untuk menenangkan pikiran masing-masing.
Aku dengan sejuta pertanyaan dalam pikiranku dan dia dengan kegundahan hatinya. Bagaimana ia harus menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi.



"Aku ... aku telah dijodohkan, Sayang. Orang tuaku memaksaku untuk menerima perjodohan ini." Wajah tampannya berubah sedih dan tak bisa lagi ku artikan.



Deg'



Jantungku berhenti sepersekian detik.






"Aku sudah menolak karena telah memilikimu, Sayang. Bahkan orang tuaku pun tahu bahwa kita saling mencintai. Namun, tetap saja mereka memaksaku dengan alasan demi bisnis keluarga. Gadis yang orang tuaku jodohkan, anak dari rekan bisnis Papa," imbuhnya.



Speechless, tubuhku melemas dan tidak memiliki tenaga untuk sekedar duduk dengan tenang. Seperti ada ribuan anak panah yang menghujam ulu jantungku, dengan serangan secara tiba-tiba, tapi mematikan. Sakit, sungguh sangat menyakitkan sekali.



Apakah ini nyata, Tuhan? Semoga mimpi, semoga mimpi.



Tidak terasa ada butiran hangat mulai menetes di ujung kelopak mataku. Bendungan yang sedari tadi ku coba cegah, akhir'y roboh tidak tersisa. Air mataku deras mengalir seperti hujan di tengah badai. Hancur, hatiku begitu hancur mendengar penjelasan yang ia katakan.



Apakah kisah cintaku yang bertahun-tahun kami jalani, harus kandas dan terputus begitu saja? Ini tidak adil, Tuhan. Sangat tidak adil!! Jeritku dalam diam.



"Haruskah berakhir kisah kita, Raka? Lalu, apa arti semua kebersamaan kita? Jika akhirnya aku harus mengalah, pergi dan terluka. Dari awal kita memang berbeda, tapi perjuanganmu yang membuatku luluh. Nyatanya, sekarang kamu menyerah begitu saja? Apa arti kebersamaan kita selama 5 tahun ini?" Aku mulai menangis disaksikan oleh senja dan ribuan bunga di taman ini. Ia mendekap dan memelukku dengan erat. Mungkin ini pelukannya yang terakhir, sebelum kami benar-benar berpisah.






**********







Ingatanku menerawang jauh ke atas langit. Tidak terasa hari pernikahanya telah datang dan di tanganku ada secarik kertas undangan. Nama yang dulu pernah terukir indah di hatiku, kini milik orang lain.




Raka Prasetyo Atmajaya
Siska Dwiningsih Suryaningrat






Melihat nama yang selalu menemani 5 tahunku kemarin. Sebelum ia benar-benar menjadi milik orang lain. Notif nada ponselku lama berdering, ada panggilan telfon dari ujung sana.



"Assalamualaikum, Bunda," jawabku.



"Waalaikumsalam, Nak. Dimana kamu sekarang? Besok kita akan pergi menghadiri undangan Raka." Sejenak Bunda terdiam, lalu ia melanjutkan lagi. "Kamu di rumah saja, yah?" pinta Bunda.



"Tidak, Bunda. Zhe akan ikut Bunda pergi ke sana. Sebentar lagi Zhe akan pulang." Mencoba berbicara sebaik mungkin, agar Bunda tidak khawatir. Bunda tahu kisah kami. Namun sekali lagi, takdir hanya Tuhan yang tahu dan menentukan.


"Baiklah, Nak. Bunda akan menunggumu pulang. Jika kamu belum siap, Bunda tidak akan memaksa. Bunda mengerti." Bunda seolah mengerti apa yang aku rasakan. Jujur saja aku tidak ingin datang dan memilih pergi untuk selamanya. Namun, di satu sisi hatiku merindukan dirinya.



"Iya, Bunda," jawabku dan mematikan ponsel.


Obrolan kami berakhir dan ponsel kembali kumasukan ke dalam tas. Bunda tahu bahwa putrinya tidak sedang baik-baik saja. Namun, Bunda percaya bahwa putrinya mampu melewati semua badai dengan baik.



Mengbuskan nafas kasar, berdiri dan pergi meninggalkan bangku kosong taman ini. Entah, sejak kapan mulai senang dengan kesendirian. Tepat sebulan setelah perbincangan di senja itu, undangan telah sampai di tanganku dan esok adalah hari pernikahan kekasihku yang ternyata milik orang lain.



Siapa yang tahu takdir dan jodoh seseorang. Manusia hanya mampu berencana dan Tuhan yang menentukan. Nyatanya sekuat apapun cinta kita, tetap saja harus terpisah.






Quote:
Aku dan kamu menjadi bagian masa lalu yang tak pernah ada di kehidupan esok. Biarkan lukaku mengering dengan sendirinya dan waktu yang mengobati. Walaupun berat melihatmu hidup bersama orang lain. Namun, aku cukup bahagia karena pernah menjadi bagian dari hidupmu meskipun hanya masa lalu.




Untukmu yang pernah menjadi bagian hidupku, terima kasih telah menemani dan mengukir kisah kita berdua. Semoga engkau bahagia bersama cinta yang lain.










---TAMAT---







Harusnya aku
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 5 dari 5
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
05-10-2019 12:14
Quote:Original Posted By indahmami
Halah!!
Oppa mah gitu deh, syebel nih.
Syebel aku'y.
:cih:cih:cih:cih


Opa lagi sibuk banget ini, ini aja kebetulan mampir emoticon-Ngacir2
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
05-10-2019 12:19
Quote:Original Posted By opabani
Opa lagi sibuk banget ini, ini aja kebetulan mampir emoticon-Ngacir2


Oppa jahap!!
emoticon-cihemoticon-cihemoticon-cih


Tapi makasih udah mampir ke sini.
emoticon-Kiss
0 0
0
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
17-12-2019 23:26
Kehilangan atau ditinggalkan memang sakit, tapi jika kita gigih mencoba berdamai dengan hati, dengan kehidupan maka ketenangan akan mendekat.
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
18-12-2019 07:13
akhirnya nyerpen jua semangat kk
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
18-12-2019 07:27
Quote:Original Posted By syafira87
Kehilangan atau ditinggalkan memang sakit, tapi jika kita gigih mencoba berdamai dengan hati, dengan kehidupan maka ketenangan akan mendekat.


Hu'um..
Nyeri dan sakit'y luar biasa.
Butuh waktu yg lama untuk berdamai.
emoticon-Mewek

Quote:Original Posted By sriwijayapuisis
akhirnya nyerpen jua semangat kk


Hu'um..
Udah lama itu, sebelum berani cerbung.
Pertama join BBB ditantang bikin cerita.
emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
sriwijayapuisis dan syafira87 memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
18-12-2019 07:56
Si Jemari Mungil
emoticon-Sorry
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
18-12-2019 11:26
duh, nyesek pake banget pasti nih
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
18-12-2019 11:37
Quote:Original Posted By tinwin.f7
Si Jemari Mungil
emoticon-Sorry


Kenapa?
emoticon-Mewek



Quote:Original Posted By TaraAnggara
duh, nyesek pake banget pasti nih


Hu'um..
emoticon-Mewek
0 0
0
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
21-01-2020 19:30

Marah dan Cemburu

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]








Kaki melangkah sepanjang pantai, pasir yang hangat lagi lembut bertahtakan langit berwarna jingga, senja pun kian mendekat. Sepasang mata menatap hamparan ombak menggulung datang dan pergi. Desiran gemuruh suara air saling sahut menyahut. Langkah kaki berhenti untuk sejenak duduk menikmati, berdua bertemankan ribuan waktu yang datang dan pergi.


"Zhe, kamu nggak marah dan cemburu ma aku?" tanya Irul.

"Kenapa?" tanyaku balik. Dahiku sedikit membentuk lipatan dan menatap heran.

"Malah balik tanya," jawabnya kesal.

"Aneh," jawabku mengangkat bahu.

"Kamu itu lho, kenapa nggak cemburu dan marah ma aku? Aku kan dideketin banyak cewek, banyak yang ngejar-ngejar, ada yang nyatain cinta, bahkan minta dilamar," jelasnya kesal dengan bersungut dan melipat tangan di dada.


"Kamu aneh, beneran." Bukannya jawaban yang Irul terima, malah kelakar tawaku yang menggema.

"Serius, Zhe! Kenapa sih kamu enggak pernah cemburu dan marah ma aku? Udah aku pancing-pancing pula macam ikan lohan. Tapi tetap aja stay kalem gitu," keluhnya dengan menatapku intens, seolah menunggu jawaban dariku.

"Hmm...."


"Malah diem!"


"Perlu jawaban nih?" tanyaku menggoda.


"Iyalah, udah ditungguin juga dari tadi."


"Ngapain cemburu? Bikin keruh hubungan kita aja. Kita udah dewasa, masa main cemburuan kaya abegeh baru jatuh cinta," jelasku dengan wajah tersenyum manis.


"Jangan-jangan karena ada hubungan dengan status kita? Dibilang kekasih, nyatanya nggak ada kata jadian. Dibilang teman, nyatanya hati kita saling mencintai dan memiliki," jelasnya sekali lagi.


"Kamu lucu kalau lagi merajuk, Rul," kataku sembari tertawa.

"Malah ketawa! Jawab dong! Dari tadi cuma diplengosin aja," gerutunya kesal.


"Kita sudah dewasa, Rul. Bukan anak abegeh baru netes terus ketemu cinta monyet. Harus nembak dulu terus jadian biar dianggap kekasih. Bukan, kita bukan fase itu lagi. Asal kita saling menerima dan memberi, mengerti dan mengikat satu sama lain. Bukankah itu udah lebih dari cukup sebagai tanda kita kekasih? Ayolah, jangan merajuk terus," jelasku padanya, lalu menggenggam erat jemarinya.


"Okelah, aku mengerti. Lalu, kenapa kamu enggak cemburu dan marah ma aku? Padahal aku pingin lihat kamu kaya gitu."

"Hmm ... aku percaya sama kamu," jawabku singkat penuh penekanan.

"Percaya? Semudah itu? Kamu bodoh?" tanyanya sambil geleng-geleng kepala.


"Aku memang bodoh, Rul. Bahkan sangat bodoh dengan mempercayaimu. Cintaku padamu memang bikin aku bodoh, buta, dan nggak waras," jelasku menatap mata elangnya.

"Namun apalah arti kecemburuan dan amarah jika membuat hubungan kita keruh seperti lumpur. Kepercayaanku cukup untuk mengusir semua prasangka buruk tentangmu. Aku mempercayaimu melebihi pada diri sendiri. Bohong jika aku tidak cemburu, apalagi marah. Tapi tetap saja, kita sudah dewasa bukan abegeh yang labil gampang baper."


"Maafkan aku, karena sempat meragukan perasaanmu. Bahkan terus mempertanyakan kesungguhan hatimu. Aku malu, justru aku belum sanggup seperti itu. Aku terlalu menuntut hal yang seharusnya sederhana, tapi justru membuatnya runyam. Seperti status," jelasnya dengan penuh penyesalan.


"No problem dan percayalah padaku, aku mencoba mencintai tanpa ingin mengekang. Aku membebaskan dirimu dan perasaanmu. Kepercayaanku lebih besar dari yang kamu tahu, jika memang tak sanggup bersamaku. Aku tak mengapa, kamu layak mendapatkan wanita yang lebih dariku dan kepastian status atas cintamu," jelasku menerawang lautan lepas.


Irul terdiam menatap ribuan mil pasir putih berserakan.

"Minggu depan kita mendaki gunung, semoga kegiatan kita lancar. Aaamiiinnnn...." Memecah keheningan sedari tadi menyelimuti kita.

"Aaamiiinnn...."


"Zhe, maafkan aku jika esok tak lagi bersamamu. Jangan salah sangka dulu, bukan itu maksudku," sanggahnya.


"Lalu?"

"Entah, aku merasa gelisah akhir-akhir ini. Aku hanya tak ingin pergi jauh dan perpisah darimu," jelasnya lagi.

"Insya Allah enggak, kita berdo'a aja," meyakinkanya.

"Iyah,"


Sedetik kemudian aku dan Irul tenggelam dalam ketenangan senja ditepi pantai. Menikmati alam bebas yang penuh keindahan.


"Tuhan, biarkan aku dan dengannya tetap seperti ini."






End







Diubah oleh indahmami
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
21-01-2020 19:33

Skuel Intermezzo

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Malam berkabut tertutupi awan hitam, cahaya rembulan meremang menemani kesunyian. Aku duduk bersimpuh memandang luas bentangan alam, mata menerawang sejauh samudra.


"Kamu di sini, Zhe?" tanya seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatku duduk.


"Iya, kenapa?"


"Ngapain malam-malam di pinggir danau?"


"Sedang ingin sendiri," jawabku singkat tanpa berpaling dari damainya keindahan danau.


Cowok tampan dengan alis tebal serta senyum yang menawan tiba-tiba memberiku jaket.


"Buat kamu, kamu menggigil kedinginan," jelasnya melihat wajahku yang kaget ingin bertanya.


"Makasih."


Berdua menikmati malam di tepi danau, sesekali bunyi air bergejolak. Udara malam semakin dingin, tulang-tulang menjadi linu.


Tiba-tiba dia semakin mendekat ke arahku. Udara dingin berubah atmosfer menjadi hangat.



"Kamu nggak berubah, selalu saja diam jika punya masalah. Cerita saja, aku selalu siap menjadi tempat sampahmu," ucapnya tenang.


Sudut mataku melirik cowok yang ada di sampingku, wajahnya tak pernah berubah meski bertahun-tahun. Aroma tubuh maskulinnya bahkan tak pernah berubah.


"Cepat cerita, Zhe! Aku tahu kamu selalu diam dan lari dari masalah," pintanya padaku, sekejap tanganya memeluk pinggang rampingku dari belakang. Aku terkejut!


"Nggak ada, sungguh!"


Aku tak suka bercerita panjang lebar mengenai isi hati, biarkan saja alam yang tahu kepedihan dan kebahagiaan hati.


"Mulai lagi, yah," katanya sambil mencubit hidungku yang tak mancung.

"Sakit tau, mulai deh jahilnya," protesku dengan bibir mengerucut.


"Aku suka jahilin kamu, gemes," katanya sambil tersenyum. Senyumnya tak pernah berubah, walau keadaan kami berbeda.


"Mas Agung, Ko. Sore tadi cerita dihubungi mantanya. Kan aku sebal, dia nggak jujur dari awal denganku. Padahal aku orang terdekat hatinya, tapi justru paling akhir tau semua drama."


"Jangan sedih gitu, kamu tahu kan resiko pacaran sama yang banyak fansnya," jelasnya mencoba menenangkanku.



"Entahlah, kenapa cinta serumit ini?"


"Cinta nggak rumit, Zhe. Hanya kita yang bikin rumit," jelasnya sambil mengelus pucuk kepalaku.


"Kamu, memang benar, Ko."


Kami kembali menerawang jauh ke danau, airnya masih sama tenangnya.


"Kenapa kamu nggak minta aku jadi kekasihmu sih?"



Hening


Aku pun tak melanjutkan obrolan.



"Nggak, aku nggak mau. Aku maunya langsung lamar kamu," ucapnya sambil mengeratkan pelukan di pinggangku.


"Kamu jahat! Selalu saja begitu."


"Sudahlah, cintaku tak pernah berubah padamu, Zhe. Meski kamu pacaran dengan seribu cowok sekalipun."


"Gila apa?! Emang aku playgirl!!" gerutuku kesal.


"Hanya gambaran aja, Sayang. Tunggu aku lamar kamu, yah!" katanya tersenyum.
Entah rasa apa yang menyerang hatiku, di sisi lain cowok yang aku cintai selalu menyakiti, sedangkan di sisi lain ada cowok berhati malaikat yang siap menyembuhkan.


"Mas Nukho, dicariin dari tadi juga. Malah pacaran ma Mba Zhe," ucap anak kecil dengan terengah-engah.


"Sory, ada apa, Dek?"


"Bunda nyariin, Mas. Suruh pulang. Pacaran terus!"


Nukho hanya tersenyum.


"Zhe, kita pulang dulu yah! Bunda udah nyariin. Ntar di coret dari KK kan bahaya," celotehnya melucu.


"Ya udah, titip salam untuk Bunda," kataku dengan senyum termanis.


Sebelum melangkah, tiba-tiba ia berbalik dan mencium pipi ranumku. Wajahku terasa lebih hangat, padahal udara sangat dingin. Aneh!


"Jangan sedih lagi, Sayang. Aku selalu mencintaimu. Aku cium bibirmu boleh?" tanyanya menggodaku.


Seketika mataku melotot hampir saja jatuh dan keluar. Lalu, ku lempar sandal dan melayang agar mengenai tubuhnya. Namun, sayangnya meleset. Sial!


Dia malah tertawa.


"Daaahhhhh..... Muahh, Sayang." kiss jauhnya.


Mereka berdua berjalan semakin jauh dan hilang ditelan malam.




End





Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan danymarta memberi reputasi
2 0
2
Halaman 5 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
lembayung-senja-1-part-4---5
Stories from the Heart
wanita-kejam
Stories from the Heart
pelet-orang-banten
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Girls & Boys's Corner
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia