Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
164
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2463c588b3cb72821887f6/balung-kukang
Gerimis masih setia membasahi kota yang di sebut oleh kebanyakan orang sebagai metropolitan. Samar-samar terdengar suara lirih, namun sangat jelas di balik pintu kamar rumah keluarga Sastrowardoyo. Gadis berusia 20 tahun sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang, hanya mata dan gerakan bibir lemahnya yang berucap. "Nenek ... sakit .. sakit .. sakit .. Nek." Air matanya telah lama tumpah seir
Lapor Hansip
19-01-2020 21:12

BALUNG KUKANG (the origin)

Past Hot Thread
"BALUNG KUKANG (the origin)"

By Diva & Deva

BALUNG KUKANG

Selamat membaca ...
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
angghia dan 28 lainnya memberi reputasi
27
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 8
BALUNG KUKANG
19-01-2020 21:13
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adjesent dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
BALUNG KUKANG
19-01-2020 21:14

BALUNG KUKANG - Chapter 1

BALUNG KUKANG

Gerimis masih setia membasahi kota yang di sebut oleh kebanyakan orang sebagai metropolitan.

Samar-samar terdengar suara lirih, namun sangat jelas di balik pintu kamar rumah keluarga Sastrowardoyo.

Gadis berusia 20 tahun sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang, hanya mata dan gerakan bibir lemahnya yang berucap.

"Nenek ... sakit .. sakit .. sakit .. Nek." Air matanya telah lama tumpah seiring dengan sakit yang dia rasakan.

"Seng sabar yo, Nduk. Iki seng terakhir, mariki awak dewe budal, (yang sabar nak sebentar lagi kita berangkat)" suara wanita yang sedang duduk di samping gadis itu.

Dengan tiada henti terus membelai kepala gadis yang terbaring di sampingnya, berharap dengan itu bisa membuat rasa sakit yang di derita cucu gadisnya sedikit reda.

"Angel .." suara wanita itu terdengar pelan namun sangat jelas, berwibawa dan anggun.

"Nggeh, Mbah, (iya mbah)" sahut gadis yang sedari tadi berdiri di ujung kamar dengan kepala menunduk.

"Tolong celokno Pak Priatno kongkon cepet merene, Nduk. (tolong panggil pak Priatno suruh kemari dengan cepat)"

Angel mengangguk membuka pintu kamar seraya menutupnya pelan.

"Fanny.. " gumam Angel sambil terus berjalan menuruni anak tangga, dia harus segera menemui Pak Priatno, Abdi Ndalem di rumah keluarga Sastrowardoyo. Mata Angel menatap sosok yang berdiri tegap sedang berbincang-bincang memberi arahan kepada dua pria di depannya.

"Pak Pri, di timbali Mbah, (Pak Pri di panggil Mbah)" suara Angel membuat pria tua di depannya menoleh lalu membungkuk.

"Injih, Mbak Angel," sahut Pak Priatno dengan mengangguk pelan.

"Mbah onok nek kamare Fanny,(Mbah ada di kamar fanny)" lanjut Angel.

Dengan tergopoh Pak Priatno mamasuki rumah besa lalu menaiki tangga, menuju pintu sebelah kiri tangga, tepat dimana suara lirih Fanny berasal.

Pak Priatno segera mengetuk pintu pelan.

"Tok.. tok.. tok.."

"Ngapunten, Ibu, niki Kulo Priatno, (mohon maaf ini Saya Priatno)" suara pak priatno sopan.

"Ndang Mlebu, Pri," sahut Mbah Sasmita dari dalam.

"Fanny tambah parah iki, Pri, kudu cepet-cepet di gowo sak durunge kasep, (kondisi Fanny semakin parah harus cepat di bawa sebelum terlambat)" ucap Mbah Sasmita ketika melihat Pak Priatno yang baru saja memasuki kamar Fanny.

Pak Priatno memandang iba Fanny yang tubuhnya terbujur kaku di atas ranjang.

Erangan berat suara Fanny membuat pak Priatno merasa seakan-akan sakit yang teramat sangat sedang menjalar di seluruh tubuh gadis belia itu.

Gadis tak bersalah yang seharusnya menikmati masa-masa indah remajanya, harus menanggung sakit karena ulah manusia yang sirik dan gelap mata hatinya.

"Awakmu wes oleh info soko keluargane pak Tolip nek Jowo? Opo ponakan'e sido merene dino iki ? (kamu sudah dapat info dari keluarga pak Tolip di Jawa. apa keponakannya jadi datang hari ini?)" suara Mbah Sasmita membuyarkan lamunan Pak Priatno.

"Sampun, Buk, tirose kalihan mbeto pedesan ten pasar besar langsung mampir ten nggeriyo mriki. jawab Pak Priatno dengan penuh hormat.

"Kesuwen ! ndang kongkonen Suli nyosol nang pasar (terlalu lama. cepat suruh Suli cepat
menjemput di pasar besar) awak dewe wes kepepet waktu, fanny kudu ndang di gowo nang Sendang Kamulyan."

"Injih, Buk," sahut Pak Priatno
"Mbah, nopo Fanny mboten saget ketulung? (Nek, apa Fanny tidak bisa di selamatkan?)" tanya Angel yang baru saja memasuki kamar Fanny.

Matanya telah sembab, jiwanya ikut terguncang mengingat satu persatu keluarganya mati secara beruntun.

Di awali dengan kematian Ayahnya, lalu di susul mamanya, sehari setelah kematian ayahnya. Benar-benar di luar logika Angel.

Lalu tiga hari kemudian di susul orang tua Fanny yang meninggal secara bersamaan dengan bunuh diri, ayah Fanny adalah adik kandung pak Efendi, ayah kandung Angel.

"Seng sabar, Nduk. Mesti onok dalan Bengi iki awak dewe budal nang Sendang Kamulyan. (yang sabar, Nak. Malam ini kita berangkat ke Sendang Kamulyan)" mbah Sasmita menenangkan Fanny.

Mata Angel mengamati sekujur tubuh Fanny yang membiru, darah kental berbau amis terus menerus keluar dari lubang telinga, hidung dan mulutnya.

Dokter sudah angkat tangan. Puluhan kali berpindah-pindah rumah sakit, bahkan penyakitnya pun tak dapat di Diagnosa.

Secanggih apa pun peralatan Dokter, sehebat itu pula penyakit di dalam tubuh Fanny tak dapat di sembuhkan.

"Fanny...!!" pekik Angel, air matanya tak dapat di bendung lagi demi melihat adik sepupunya yang terus menerus mengerang itu. Kesakitan yang di derita selama tiga bulan ini.

Mbah Sasmita Berdiri. lalu melangkah keluar kamar memangil mbak Wiwit, pembantu setianya.

"Wit.. cepakno seng kate di gowo bengi iki budal nang Jowo, (Siapkan yang mesti dibawa malam ini ke Jawa)" Suara Mbah Sasmita yang pelan, tegas, namun begitu berkharisma membuat Mbak Wiwit tak berani menatap matanya.

Bahkan Angel dan Fanny cucu kandungnya pun tiap berbicara tak
pernah menatap Nenek mereka.

"Injih, Buk," jawab mbak Wiwit yang langsung turun menyusuri tangga.

Dia harus cepat menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa untuk bahan Ritual... termasuk Sesajen.

===

22:27 WIB

Sebuah truck bermuatan cabai melaju cepat dan zigzag di tengah-tengah kepadatan kendaraan lain, lampu sein kanan truck terus berkedip dengan cepat.

"Chiiiiiitt... chiiiiiitt.. cheeeesspp cheesssspp..." bunyi rem yang berdecit nyaring di selingi suara skep truck yang khas meramaikan jalanan Kota Metropolitan.

"Lek sampek telat awak'e ora sido oleh bonusan iki, Cuk,(Kalau sampai terlambat, bisa gagal dapat bonus nih, sial)" suara lantang pemuda di samping kiri kemudi truck membuyarkan kebisuan di antara mereka, jalanan yang hanya berisikan suara knalpot yang saling bersahutan di malam hari.

"Nyocot, Jancok ! (Ngoceh aja, sialan) suara makian kekesalan supir, yang sedari tadi matanya hanya fokus pada padatnya jalanan.

"Dik, koen sido keri nek kene ta, ora melok balek Nang Malang? (Dik, kamu jadi tinggal di sini, gak ikut kembali ke Malang?) " tanya Rizki yang duduk di sebelah supir.

"Iyo. Aku onok janji karo mantan juragane pakdheku, Riz, (Iya. Aku ada janji dengan mantan Bos Pamanku, Riz)" jawab Dika santai sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

Truck pun melaju cepat menyisakan bau asap knalpot dan suara deru turbo yang semakin Menjauh.

===

Truck sudah memasuki pasar dan siap bongkar muatan, omelan Juragan yang memaki-maki Dika dan Rizki seakan menjadi seni dari sebuah kehidupan yang keras ini.

"Yo opo koen iki, rek. Wayahe jam 3 wes bongkar, yah mene kaet teko. Bosok kabeh lomboke iki! (Gimana kalian ini,harusnya jam tiga sudah bongkar, jam segini baru datang, jadi busuk semua cabenya ini!)" sungut Juragan Nadim.

"Ngeban peng limo, Pak, (ban bocor sampe lima kali, Pak) " sahut Rizki dongkol.

"Dik.. Dikaa." Suara Rizki memanggil kawan nya, yang hanya di sahut "hmmm" oleh Dika.

"Njaluk'o duwek mangan kono loh nang Juragane, (minta uang makan sana sama Bos)" kata Rizki.

"Bos.. Duit makannya belum di kasih," Dika mulai berbicara dengan Juragan Nadim.

"Untalen lombok bosok kono, wes teko telat sek njaluk duwek mangan, aku wes rugi akeh, Dik, (Makan cabe busuk sana, sudah datang telat masih minta uang makan, saya sudah rugi banyak, Dik)" sungut Juragan Nadim.

"Maaf, Juragan. tadi bannya bocor sampe lima kali," Dika memberi alasan.

Tiba-tiba pundak Dika di tepuk dari belakang oleh seseorang.

"Mas Dika dari Malang, kan?" tanya pria yang umurnya sudah kepala tiga yang bernama Suli.

"Iya, Mas" jawab Dika sambil terheran.

"Mari, Mas. Ibu sudah nungguin Mas di rumah," lanjut Suli.

Dika teringat janji akan menemui mantan Juragan pamannya di kota ini.

Setelah berpamitan pada Rizki dan Juragan Nadim, mereka berdua berlalu dari keramaian pasar, meninggalkan Rizki yang memegangi perut karena kelaparan.

===

"DEG" jantung Dika seperti berhenti berdetak saat turun dari mobil sedan milik keluarga Sastrowardoyo, ia kagum akan kecantikan gadis yang duduk di kursi depan rumah.

"Mbak Angel, ini keponakan Pak Tolip dari Malang," kata Suli kepada Angel.

Angel memandang Dika yang terbengong di samping mobil, memandangnya seakan tak berkedip.

"Mas. Mas..," suara Angel membuyarkan Lamunan Dika.

Meski Angel tampak risih oleh mata Dika yang menatapnya, Angel tetap berperilaku sopan kepada tamu Neneknya.

"I.. Iya M..bak," suara Dika terbata.
'Tak dapat di ungkap dengan kata-kata kecantikan gadis di depanku ini,' Dika membatin.

Dari semua gadis yang pernah di kenal Dika sebelumnya, Angel jauh lebih cantik. 'Alis hitamnya, bulu matanya yang lentik, matanya yang bulat dan lingkaran hitamnya, hidung mancungnya, bibirnya yang tipis, Ya Allah.. indah sekali ciptaan-Mu ini,' pikir Dika.

"Mari Mas, Mbah sudah nunggu dari tadi," sekali lagi suara Angel membuyarkan lamunan Dika untuk kedua kalinya.

Pintu rumah keluarga Sastrowardoyo sudah terbuka, Dika mengikuti Angel yang berjalan di depannya.

"Deg" sekali lagi jantung Dika serasa berhenti, Dika baru sadar hawa di rumah besar ini sangat berbeda dari rumah lain, meski cahaya lampu sangat terang, tapi seakan-akan ada kabut hitam yang menutupi cahaya rumah besar nan megah ini.

===

Cahaya lampu rumah besar keluarga Sastrowardoyo begitu terang tapi terlihat redup bila di lihat dari dekat begitulah yang di rasakan Dika.

Dia memaksa hatinya untuk tetap tenang, meski gelisah dan selalu waswas saat berjalan mengikuti gadis di depannya.

Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran, membuat kepalanya semakin terasa berat, di tambah bau dupa yang sejak tadi di ciumnya.

Kebanyakan rumah orang berbau parfum Stella atau yang lainnya, tapi di rumah ini sangat aneh, rumah besar tapi hanya bau dupa yang bisa tercium, ‘Pantas saja terkesan singup (angker),’ pikir Dika.

"Silahkan masuk, Mas. Mbah sudah menunggu dari tadi," ucap Angel seraya membuka pintu kamar.

Dika masuk di susul Angel di belakangnya.

"Le ,Merinio. Nyedek nang Mbah, (Nak, Kemarilah. Dekat dengan Nenek)" Suara khas Mbah Sasmita pelan namun tetap memberi kesan tegas saat melihat Dika dan Angel, cucunya, memasuki kamar.

Dika mendekat perlahan, bahkan kakinya sedikit di jinjit agar tak menimbulkan suara, sebab dari awal memasuki kamar luas berwallpaper Hello Kitty ini, mata Dika sudah tertuju pada gadis yang terbaring tak bergerak di samping mbah Sasmita.

"Opo Awakmu wes eroh, ngopo saiki awakmu ndek kene? (Apa kamu sudah tahu, kenapa kamu di sini sekarang?)” mbah Sasmita memulai pembicaraan bernada serius. Raut wajahnya mulai tegang, memandang Dika yang berdiri hanya berjarak dua langkah di depannya.

Dika hanya menggeleng pelan tanda tidak mengerti.

Mbah Sasmita membuka selimut bergambar Hello Kitty yang menutupi badan Fanny.

Mata Dika terbelalak tak percaya ketika melihat tubuh kurus, berwarna biru lebam, penuh nanah di bagian tertentu, apa lagi melihat darah kental yang terus mengalir dari hidung Fanny, seakan dari dalam hidung gadis itu ada sumber darah yang mengalir tak ada habisnya.

Mbah Sasmita segera menutup tubuh Fanny dengan selimut kembali.

"Tugasmu cukup nurut lan marekno sak cepet’e, (tugasmu cukup menurut dan selesaikan secepatnya)” ucap mbah Sasmita sambil membelai kening Fanny.

Dika berdiri mematung memandang tubuh Fanny yang terlelap.

"Apa ada pertanyaan?" tanya Angel yang sejak tadi berdiri di belakangnya.

Dika masih berdiri mematung, mulutnya seakan terkunci rapat,
bahkan bau anyir darah bercampur nanah yang berasal dari tubuh Fanny seakan tak mengganggu indra penciumannya.

===

Dika menyandarkan punggungnya di tiang Gazebo dengan kepulan asap rokok yang menemaninya.

Masih terbayang di pikirannya kata-kata Angel yang masih tak bisa di mengerti olehnya.

"Sebenarnya apa yang harus saya lakukan?" tanya Dika.

"Cukup menyelesaikan tugas pamanmu yang belum selesai," jawab Angel.

"Tugas apa sebenarnya?" tanya Dika.

"Alm Pak Tolip mempunyai hutang di keluarga ini," kata Angel.

"jadi berapa hutang yang harus saya bayar agar cepat selesai?" Dika mulai penasaran.

"Bukan dengan nominal uang kamu membayarnya," sahut Angel cepat.

"Lalu?" kata Dika semakin penasaran.

"Dengan nyawamu atau semua keluarga pamanmu saat ini. Karena pak Tolip, Pamanmu, berhutang nyawa dan menggadaikan nyawanya demi harta secara tidak langsung. Karena anak Pak Tolip semua wanita, maka yang menanggungnya adalah Kamu, keponakan lelaki satu-satunya," jawab Angel.

"Tapi..."

"STOP!" Angel memotong kata-kata Dika sebelum Dika menyelesaikan kalimatnya.

"EDAN!" umpat Dika kesal.
‘Bagaimana mungkin Pamannya tega menjual nyawanya atau nyawa seluruh keluarganya hanya demi harta,’ batin Dika.

"Kopinya, Dik, kalau dingin ndak enak nanti, bisa kembung," suara Mas Suli yang tahu-tahu berada di samping Dika.

"Nggak nafsu, Mas," jawab Dika bersungut-sungut.

"Kepikiran masalah apa toh, Dik, kok sampai gelisah gitu?" tanya Mas Suli.

"Bingung, Mas. Sebenarnya Aku ini harus ngelakuin apa?" kata Dika balik bertanya.

Mas Suli memandang Dika, lalu matanya menerawang jauh ke atas rumah, tepat di mana saat ini Fanny berada.

"Nanti juga kamu tahu sendiri, Dik," jawab mas Suli lalu berdiri dan beranjak pergi menuju garasi rumah Sastrowardoyo.

‘GOBLOK! Percuma saja, orang-orang di sini sama seperti teka-teki silang. Tidak ada satu pun yang waras,’ pikir Dika.

“Tek... tek.. tek.. .”

Tiba tiba terdengar suara pelan seperti stick Drum yang saling di adu, tapi bunyi ini terasa aneh, seperti seseorang memukulkan tulang di kesunyian.

Suara pelan yang terkesan pilu dan menyayat hati itu terus berulang, membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri, suara itu berasal dari arah pojok pagar rumah yang melingkari kediaman Sastrowardoyo.

Mata Dika mengarah ke asal suara itu datang, namun suara itu terus berpindah-pindah ketika mata Dika mencarinya. Kadang di samping kiri, kadang di kanan.

Dan sekarang tepat di belakang Dika.

“Bukk!!”

Suara benda jatuh persis di belakang Dika ketika ia berfokus mencari suara “tektek” itu.

Kali ini Dika menahan untuk tidak segera menoleh ke belakang, di mana suara benda yang baru saja jatuh.

Hawa panas yang sedari tadi di rasakannya tiba-tiba menjadi dingin, tengkuknya terasa seperti di tiup oleh seseorang.

Dika mengelus pelan belakang lehernya. dengan rasa penasaran dia berbalik.

"ASTAGHFIRULLAAH!!" teriak Dika. Seketika dengan refleknya berjalan mundur tiga langkah.

Di hadapannya kini hadir sosok Pocong yang membuatnya tercekat kaku.

Bagaimana tidak? Pocong itu berbeda dari kebanyakan pocong yang ada di film-film atau yang pernah Dika dengar dari teman-temannya.

Pocong yang saat ini berada di hadapannya terbalik, Kaki di atas sedangkan kepalanya di bawah, dengan posisi miring ke kiri, seakan-akan lehernya patah tak mampu menopang tubuhnya.

Berkali-kali Dika membaca surat An-Nas, bahkan sampai puluhan kali. Bukan berarti tak hafal surat lain, tapi lebih tepatnya yang dia hafal saat ini hanyalah surat An-Nas.

Kedua tangan Dika gemetar tak karuan, kakinya serasa di cengkram dari bawah, hanya mulutnya yang terus berdoa.

Pocong pun akhirnya menghilang.

"Monggo Mas Dika, mobile sampun siap, (Mari Mas Dika, mobilnya sudah siap) " suara Pak Priatno yang tiba-tiba berada di samping Dika.

Pak Priatno merogoh saku samping baju bermotif batiknya, lalu mengulurkan kunci mobil pada Dika.

"Kulo bade Sholat rumiyin, Pak, (saya mau Sholat dulu, Pak)" jawab Dika pelan, keringat dingin membasahi wajah dan kaos hitamnya.

Pak Priatno hanya mengangguk sambil tersenyum penuh makna, lalu menunjukan tempat di mana Dika bisa Sholat, dari jauh Pak Priatno mengawasi Dika yang sedang mengambil air wudhu’.

Dalam benaknya Pak Priatno berkata, ‘Apakah pemuda ini yang di maksud Tolib bisa mengusir Balak Balung Kukang (Kutukan Tulang Kukang) di rumah ini?'

"Gaya.. Preman isih iling Sholat," gumam Pak Priatno sambil berlalu, matanya mengawasi tepat di mana Dika melihat mahluk putih tadi.

===

Tiga Pembantu wanita membopong Fanny menuju sedan hitam di Garasi, semua perlengkapan ritual dan lainnya sudah di masukan ke dalam bagasi mobil tanpa ada yang terlupa.

Dua mobil akan berangkat menuju Jawa Timur malam ini, tinggal menunggu Dika yang sedang melaksanakan kewajiban pada Tuhannya.

===
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aimannurrozikyn dan 20 lainnya memberi reputasi
20 1
19
BALUNG KUKANG
19-01-2020 21:29
nitip lapak gan 😁
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-01-2020 21:35

Balung kukang - Chapter 2

BALUNG KUKANG

Dua mobil melaju pelan beriringan keluar dari pintu gerbang rumah keluarga Sastrowardoyo, semakin menjauh lalu menghilang di pertigaan menuju jalan besar.

Gerimis masih enggan berlalu, menampakkan langit malam yang semakin pekat berselimut mendung.

Memasuki Gerbang Tol, sedan yang di kemudikan Dika melaju pesat meninggalkan Pajero Hitam di belakangnya.

Bagai melaju di sirkuit Nascar, pedal gas semakin dalam di injak membuatnya semakin jauh jarak di antara kedua mobil, lalu menghilang dengan zig-zag di antara Bus-bus besar. 

Mata Angel terbelalak kaget saat mengetahui angka digital yang muncul di speedometer sedan yang mereka kendarai 175/km, hatinya mulai waswas, jemari tangannya mencengkeram erat tali pengaman yang melingkar di bahu kirinya.

Kemana pun matanya memandang, yang terlihat hanya lampu di samping kiri kanan, Jalan Tol weser, yang naik turun dengan serbuan air hujan, semakin membuat takut, tanpa Angel sadari airmata sudah meleleh keluar membasahi pipi.

Sementara suara musik dangdut terus berputar di gawai Dika lewat headshet yang menutupi kedua lubang telinga. 

"Boleh saya merokok?" tanya Dika lalu melepaskan headshet di kedua telinganya.

Angel menoleh ke pemuda gila di sampingnya, sekali-kali melihat ke belakang tempat Fanny tertidur saat ini.

"TERSERAH!" jawab Angel ketus.

Dika tersenyum, tangan kirinya segera mematikan AC mobil lalu menurunkan sedikit kaca kiri kanan bagian samping mobil.

"Apa kamu terbiasa bermain-main dengan nyawamu?" tanya Angel kemudian, karena sejak tadi mereka berdua hanya saling diam membisu.

Dika tak lantas menjawab pertanyaan Angel, meski dia paham maksud gadis di sampingnya, dia kembali menghisap rokok di sela-sela jari tangan kanannya.

"Aku hanya menikmati hidup," jawab Dika datar.

Angel melengos memandang ke samping kirinya, baru saja mereka menyalib Bus besar bertuliskan Pariwisata milik usaha keluarganya.

Yang ada di pikiran Dika saat ini hanyalah cepat menyelesaikan tugasnya, mengantar keluarga Sastrowardoyo ke mana mereka akan melakukan ritual penyembuhan cucunya.

Entah sudah berapa kali sedan yang di kemudikannya keluar masuk Gerbang Tol.

Angel membaca pesan di gawainya, tak mempedulikan lagi rasa takut dengan kegilaan Dika yang mengemudi, meski terkadang sedikit tegang, karena tiba-tiba Dika membanting kemudi ke kanan atau kekiri mencari celah untuk menyalib kendaraan di depan.

Bibir tipis Angel tersenyum kecil membaca pesan dari Neneknya.

"Mbah bilang mobil ini terlihat cocok denganmu. Setelah urusan ini selesai kamu bisa pulang dan bawa mobil ini, tentu masih ada uang dari keluarga kami untukmu," Angel menyampaikan isi pesan dari Neneknya kepada Dika.

Merasa malas untuk menjawab, Dika seakan tak peduli dengan kata-kata Angel. Baginya menjalani hidup normal lebih baik dari pada terseret takdir yang saat ini harus dia jalani.

"Boleh minta satu batang?" tanya Angel mengambil sebatang rokok bertuliskan LA di dasbor tanpa menunggu Dika memberi izin, Angel sudah memasukkan rokok di mulutnya.

Mengetahui itu Dika menyodorkan korek kepada Angel.

"Aku tau pasti banyak pertanyaan yang ingin Mas sampaikan …," kata Angel setelah menyulut rokoknya.

Dika hanya menggeleng tak berminat.

Sesekali mata Dika melihat kaca spion tengah, mengamati Fanny yang tertidur dengan kaki di tekuk, lutut di atas. 

Sejauh perjalanan yang mereka lalui Fanny tak bergerak, tubuhnya seakan mati atau jiwanya sedang keluar dari raga, ‘Seperti membawa mayat,’ fikir Dika.

"Keluarga kami terkena Balak Balung Kukang …" kata Angel yang melihat Dika sedang memperhatikan Fanny di belakang. 

"Satu-persatu keluarga Kami mati secara aneh. Ayahku meninggal dengan penyakit yang sama di derita Fanny saat ini. di susul Ibuku sehari setelahnya." Angel mulai bercerita, sebelum melanjutkan cerita dia kembali menghisap rokoknya.

"Lalu tiga minggu setelahnya orang tua Fanny di temukan gantung diri di kamar mereka. Sejak saat itu Fanny tinggal bersama kami di rumah Nenek. Tapi di rumah Nenek saat ini pun bencana besar kembali datang."

Mata Angel kembali basah saat melihat Fanny, sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Bencana?" tanya Dika sambil menoleh kaget.

"Iya, bencana. Apa Mas fikir semua keluarga Kami meninggal karena takdir?" tanya Angel sambil menyeka air matanya.

"Dalam dunia bisnis apa pun akan di lakukan untuk menghentikan rivalnya, termasuk melenyapkan nyawa rival mereka," Angel mulai melanjutkan ceritanya. 

Sementara Dika hanya fokus pada garis putih yang putus nyambung di depan, tapi suasana hatinya ikut larut dalam emosi cerita Angel, hatinya ikut perih antara prihatin atau kasihan.

"Tulang Kukang yang di sebar di rumah kami, menjadikan tanah di rumah kami menjadi kutukan, 
dengan sedikit perjanjian dan rapalan yang di lakukan orang berilmu Kejawen, atau dukun, maka yang mendiami rumah itu tidak akan pernah damai.

Gangguan dari hal-hal di luar nalar manusia begitu banyak.

Pertengkaran di dalam keluarga, dan lain-lain, mungkin Mas tak akan pernah paham dengan apa yang saat ini kami hadapi. Seakan-akan kematian selalu membayangi, di mana kami berada."

Angel mulai memiringkan kepalanya ke samping kiri, jemari tangannya mencari tuas agar sandaran jok nya sedikit doyong ke belakang.

"Mas tahu siapa yang menanam tulang kukang di rumah kami?" tanya Angel ketika posisi punggungnya sudah nyaman.

Dika hanya mengeleng tak mengerti.

"Pamanmu. Pak Tolip yang menanam tulang terkutuk itu di rumah kami," lanjut Angel tanpa semangat.

"APA!!" teriak Dika kaget, lalu menginjak pedal rem dengan kuat. 
Seketika bunyi rem berdecit menimbulkan gesekan ban dan aspal, yang mengakibatkan garis hitam memanjang sepanjang 3 meter.

Beruntung posisi sedan yang di kemudikannya berada di sisi kiri jalur.

“Buuukk.. “ suara tubuh Fanny jatuh ke sela-sela jok tengah akibat rem mendadak. 

Angel menoleh kebelakang lalu berteriak, "Fanny …!!"

Angel langsung keluar lalu membuka pintu belakang sedan, dengan segera masuk memeluk tubuh kurus Fanny, bau anyir darah yang keluar dari borok Fanny tak ia pedulikan.

Dika merasa bersalah, kemudian keluar lalu membantu mengangkat tubuh Fanny kembali ke jok lagi.

Angel geram, tapi mulutnya tak sampai hati untuk mengutuk Dika dengan kata cacian, karena permintaan Angel sendiri agar Fanny di tidurkan di jok belakang.

Permintaan maaf berkali-kali Dika lontarkan, hanya di balas anggukan Angel. Mereka memulai kebisuan lagi.

"Sebenarnya bukan salah Pak Tolip sepenuhnya," suara serak pelan Fanny mengagetkan Angel dan Dika bersamaan.

"Pak Tolip di paksa oleh Keluarga Haryo dan Satrio, Mbakyu," suara Fanny terdengar di paksakan.

"Dari mana kamu tahu semua itu, Fan?" tanya Angel lirih.

"Pak Tolip yang bercerita, Mbak. Pak Tolip juga meminta maaf dan menunjukkan di mana letak Tulang Kukang itu di tanam," lalu matanya terpejam kembali, menyisakan hembusan nafas pelan Fanny.

Sedan hitam mereka masih melaju kencang di jalan bebas hambatan, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, mendung telah berlalu.

Jarum jam di tangan Dika berada di angka 3:50 Sore.

Dika memperlambat laju sedan lalu berhenti di salah satu warteg, memberi kode kepada Angel untuk turun istrahat.

Dika memesan nasi campur favoritnya, berbeda dengan Angel yang bingung harus memesan apa, ujung-ujungnya Angel hanya memesan segelas es teh manis.

"Makan Mbak, jangan terlalu di fikirkan, satu jam lagi kita sampai di Sendang Kamulyan," kata Dika sambil mulai mengunyah makanan.

"Nggak lapar," sahut Angel. Berkali-kali mata Angel menoleh ke keluar, di mana sedan hitam mereka terparkir, rasa khawatirnya mulai menjalar ketika melihat sedan itu sedikit bergerak.

"Mesin mobil mati, kan?" tanya Angel yang langsung menoleh ke arah Dika.

"Lha ini kuncinya," jawab Dika menunjukkan kunci mobil, sambil terus mengunyah nasi campur di piringnya.

Sepasang mata mengawasi mereka dari dalam warung.

"Mas sama Mbaknya mau kemana?" tanya Penjaga warung yang mulai penasaran ketika melihat sorot mata Angel ketakutan.

"Sepertinya kalian bukan berasal dari daerah sini ya?" lanjut Penjaga warung.

"Aku Arek Panjen, Pak" jawab Dika cepat.

"Kalau Mbak ini dari Jakarta, mau nyari obat di Sendang Kamulyan," lanjut Dika sembari menunjuk Angel.

"Oalah … wes cedak (ooh sudah dekat). Di pertigaan nanti kalian belok kanan, dari situ 12 km lagi sampai," kata Penjaga warung dengan muka sumringah.

Memang Sendang Kamulyan yang terletak di Pantai Ngliyep, Malang, Jawa Timur, terkenal dengan sumber mata airnya, di hari-hari tertentu akan banyak peziarah yang datang, entah sekedar mencari syarat dengan mandi di sana atau ritual untuk hal-hal lainnya.

BALUNG KUKANG

Apalagi rumor bahwa Sendang Kamulyan dulunya adalah tempat mandi dan bertapanya Dewi Nawang Wulan, keturunan ke 11 dari kerajaan Mataram Kuno.

"Piro, Pak? (berapa, Pak)" Dika bertanya harga satu piring nasi campur dan dua es teh yang di pesannya sambil mengelus-elus perutnya.

"Lima Puluh lima ribu, Mas," jawab Penjaga warung ragu.

“GENDENG! Ora umum! kok larang eram, (Gila! Tak umum, kenapa mahal sekali)” kata Dika kesal, karena dia hanya memesan satu piring nasi campur dan dua gelas es teh biasanya hanya dua puluh ribu paling mahal.

Angel menyodorkan uang seratus ribuan pada penjual, lalu memandang sinis Dika.

Perjalanan di lanjutkan, sedan mereka sudah berbelok ke kanan di pertigaan, dari sini tinggal lurus maka mereka akan sampai di tempat tujuan.

Di sisi kiri jalan terlihat Portal karcis yang sudah tidak di jaga, menandakan tujuan mereka sudah tidak jauh, keadaan sedikit gelap menjelang sore hari.

Jalan menurun dan berkelok-kelok memaksa Dika menginjak pedal rem.

Mata Dika melirik kaca spion kanan, seakan tak percaya akan apa yang di lihatnya saat ini, roda bagian belakang mobil meninggalkan garis merah yang memanjang seukuran roda.

Merasa ada yang aneh Dika menghentikan mobil lalu turun dengan tergesa.

Saat Dika memerika roda bagian belakang mobil, garis merah darah itu sudah hilang, seakan tak pernah terjadi, dia mengucek matanya berkali-kali, dalam ingatannya jelas sekali dia melihat darah yang keluar dari roda belakangnya.

Merasa aneh dengan apa yang di lihat barusan cepat-cepat Dika memasuki mobil dan melanjutkan perjalanannya.

Di turunan dan tikungan yang tajam ke kanan mereka sudah melihat Gapura bertuliskan SELAMAT DATANG DI SENDANG KAMULYAN.

BALUNG KUKANG

Mobil semakin pelan karena jalan terjal menurun dan hanya bisa di lewati satu mobil saja.

Dika memarkirkan sedannya di depan Pendapa Sendang, nafasnya sudah tak beraturan, matanya memandang ke segala penjuru, yang bisa di lihatnya hanya pepohonan besar di pekatnya malam, sepi, tak ada satu pun penghuni di sini bahkan sejak tadi tak tampak Juru Kunci di tempat ini.

Pukul 2 dini hari Pajero Hitam milik keluarga Sastrowardoyo sudah memasuki area Sendang Kamulyan, sorot lampunya membangunkan Dika yang terlelap di jok depan.

BALUNG KUKANG

Tanpa berlam-lama Mbah Sasmita keluar, menyuruh Mbak Wiwit dan Pak Priatno membopong Fanny menuju Pendopo di bagian Sumber Air.

Ritual penyembuhan mulai di lakukan, Kembang tujuh rupa dan lainnya, bahkan seekor ayam cemani sudah di persiapkan.

BALUNG KUKANG

Tubuh Fanny mulai di mandikan dengan Air Sumber.

Mbah Sasmita terlihat begitu telaten, gayung demi gayung di alirkan ke tubuh Fanny dengan mulutnya terus berkomat-kamit.

Sementara Pak Priatno duduk bersila di tempat persembahan, di depannya sebilah belati sudah di persiapkan untuk memotong ayam cemani yang mereka bawa.

Semerbak harum dupa dan kemenyan dengan asap yang terus membumbung ke atas.

Pak Priatno mulai menyembelih ayam hitam itu di bantu Mas Suli, darah yang keluar dari leher ayam mengucur deras ke bawah. Mas Suli sudah menyiapkan mangkuk untuk menampung darah ayam hitam ini.

Sementara Dika terlihat gusar, dari tadi dia merubah posisi duduknya.

Mas Suli membangunkan Dika yang mulai tertidur.

"Dik, hee Dik.. Bangun. Sudah selesai."

"Sudah to, Mas?" sahut Dika menguap lalu mengucek dua bola matanya. 

Mbak Wiwit mulai sibuk membersihkan sisa-sisa ritual mereka.

"Dik..? Loh ini anak, kok malah tidur lagi. Kamu di panggil Ibuk di Pendopo sebelah!" kata Mas Suli sambil menarik Dika yang tampak mengantuk berat.

Dika berjalan menyusuri anak tangga lalu melewati sumber, di sana ada Pendopo berdiameter 4x4, heran seakan takjub tak percaya saat Dika berpapasan dengan Angel yang menuntun Fanny di sebelahnya.

Entah ritual apa yang meraka lakukan, yang jelas waktu Fanny baru sampai di sini tadi dia hanya bisa di bopong.

Tapi sekarang gadis kurus itu sudah bisa berjalan meski pandangannya kosong.

Dika duduk persis di depan Mbah Sasmita. Mbah Sasmita mulai menceritakan semua kejadian yang di alami keluarganya, termasuk alasan saat ini Dika berada di sini.

===

“Fanny harus di asingkan terlebih dahulu,” itu yang di ucapkan Mbah Sasmita waktu mereka berbicara empat mata di Pendopo Sendang Kamulyan.

Saat ini Dika harus menemani Fanny dan Mbak Wiwit, secara tidak langsung artinya Dika tidak di perbolehkan meninggalkan Pantai Ngliyep selama 3 minggu.

Mata Dika memandang sebuah Gunung di tengah laut yang terletak di sisi barat Pantai Ngliyep.

Entah siapa yang pertama kali menamainya menjadi Gunung Kombang.

Sepersekian detik Dika memandang rombongan keluarga Sastrowardoyo yang mengantarkan Fanny melewati Jembatan Kayu yang panjang. Tujuan mereka adalah Rumah di atas Gunung itu, Fanny akan menempatinya selama kurang lebih tiga minggu.

BALUNG KUKANG

Dika bergidik ngeri, tentang rumah yang mereka tuju saat ini bukanlah rumah sembarangan, meski Dika tak pernah sekali pun melihat secara langsung rumah itu, tapi rumor kebanyakan orang bilang kalau itu rumah persinggahan - 
Ratu Laut Selatan.

===

Matahari pagi sudah menyingsing, empat orang sedang berjalan beriringan melewati jembatan kayu yang menghubungkan Gunung Kombang dan bibir Pantai Ngliyep.

Dika tengah tidur pulas di kursi depan warung milik penduduk setempat. Tangan halus Mbah Sasmita membelai pelan kepala Dika, Mbah Sasmita melarang Mas Suli ketika Mas Suli berniat membangunkan Dika.

Seketika Dika terbangun, matanya masih berat menandakan bahwa dia masih mengantuk, di pandanginya satu persatu dari empat orang di depannya.

=== 
Angel menyerahkan tas ransel yang berisi semua baju Fanny.

"Eleng yo, le, pesenne Mbah," Mbah Sasmita mulai berbicara dengan nada khasnya.

Dika hanya mengangguk pelan, kusut masam mukanya akibat kelelahan, membuatnya ingin melanjutkan tidur.

Pajero yang di kemudikan Mas Suli sudah berlalu, sementara Dika berjalan memasuki Sedan ingin segera tidur.

Baru sebentar matanya terpejam ia bermimpi, dalam mimpinya dia melihat mobil yang di tumpangi rombongan Mbah Sasmita mengalami kecelakaan tunggal, mengakibatkan semua penumpangnya tewas mengenaskan. 

Dika tersentak kaget dari mimpinya.

Pandangannya tertuju pada jalan yang di lewati Mbah Sasmita dengan mobilnya.

Terlambat … 

Dika bersusah payah mengejar mobil yang di tumpangi Mbah Sasmita dengan maksud ingin memperingatkan.

... bahwa di depan mereka sedang ada bahaya mengancam nyawa.

===

BALUNG KUKANG
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aimannurrozikyn dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
BALUNG KUKANG
19-01-2020 21:42
Quote:Original Posted By gigabyte775
nitip lapak gan 😁


Ok silahkan, Gan ... 😁
0 0
0
BALUNG KUKANG
19-01-2020 22:02
numpang jejak bang
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-01-2020 22:34
mantabbbbb...lanjutno bosss
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
20-01-2020 02:17
dah baca di fb.....
lanjut
profile-picture
profile-picture
shiro827 dan mahadev4 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
BALUNG KUKANG
20-01-2020 06:57
Quote:Original Posted By ekonurwonogiri
dah baca di fb.....
lanjut


Fb yang versi asli Diva atau Deva?
0 0
0
BALUNG KUKANG
20-01-2020 06:58
Quote:Original Posted By cos44rm
No.9 diamankan. emoticon-Cool


Maksudnya apa nih?
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
BALUNG KUKANG
20-01-2020 12:24
pertanyaan nya, sedan apa yg mau dihadiahkan ke dika? civic sport yg terbaru kah ? emoticon-Leh Uga
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
BALUNG KUKANG
21-01-2020 01:57
Quote:Original Posted By mahadev4


Fb yang versi asli Diva atau Deva?


Diva ▶ CREEPERIUS MAGENTA (Kumpulan Cerita
Horor dan Misteri)
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-01-2020 02:35
boleh dah nih cerita... jejak dl bre smbl ngasih cendol ma rate 5 emoticon-Toast
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-01-2020 10:16
Mantengin ada cerita baru…

ditunggu updatenya emoticon-Smilie
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-01-2020 12:10
ditunggu updatenya gan
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-01-2020 12:56
ada yang baru nih emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-01-2020 15:39
ijin nenda..
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-01-2020 16:39
Mantap nih. nubi suscribe dulu yak
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-01-2020 16:41
Quote:Original Posted By ekonurwonogiri
dah baca di fb.....
lanjut


Quote:Original Posted By cos44rm
No.9 diamankan. emoticon-Cool


Quote:Original Posted By aan1984
boleh dah nih cerita... jejak dl bre smbl ngasih cendol ma rate 5 emoticon-Toast



Quote:Original Posted By kemintil98
ada yang baru nih emoticon-I Love Indonesia

Pencinta horor udah duluan kesini ternyataemoticon-Hai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahadev4 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BALUNG KUKANG
21-01-2020 17:32
apakah mobil ini yg dikemudikan dan akan di hadiahkan kepada dika.?BALUNG KUKANG
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
everytime
Stories from the Heart
you-made-me-love-more
Stories from the Heart
the-perfect-darkness
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia