Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
52
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e15ae8a68cc952de7104470/khurafat-kontrak-dengan-setan
Helloo agan dan aganwati! selamat datang di trit ane. Kali ini, ane akan membagikan tulisan pertama ane yang bergenre HOROR INDEX PROLOG CHAPTER 1 - Yang Tak Tampak CHAPTER 2 - Sosok Misterius CHAPTER 3 - Kenan CHAPTER 4 - tanda Pengenalan dari Dunia Lain CHAPTER 5 - kematian Misterius CHAPTER 6 - Makhluk Tak Diundang CHAPTER 7 - Firasat Buruk PROLOG Suara derap langkah kaki terdengar dari kejauha
Lapor Hansip
08-01-2020 17:27

KHURAFAT (Kontrak dengan Setan)

KHURAFAT (kontrak dengan Setan)





Helloo agan dan aganwati! selamat datang di trit ane. Kali ini, ane akan membagikan tulisan pertama ane yang bergenre HOROR









INDEX

Quote:PROLOG
CHAPTER 1 - Yang Tak Tampak
CHAPTER 2 - Sosok Misterius
CHAPTER 3 - Kenan
CHAPTER 4 - tanda Pengenalan dari Dunia Lain
CHAPTER 5 - kematian Misterius
CHAPTER 6 - Makhluk Tak Diundang
CHAPTER 7 - Firasat Buruk






PROLOG


Suara derap langkah kaki terdengar dari kejauhan. Di rumah, malam itu begitu gelap. Kirei masih meraba-raba mencari lilin, biasan cahaya rembulan yang menembus celah-celah jendela cukup membantu Kirei untuk menemukan kotak penyimpanan barang-barang apabila diperlukan dalam keadaan darurat.

Kirei hanya menemukan satu buah lilin yang kemudian diletakkannya di atas meja untuk menerangi gelapnya malam. Rangga belum pulang kalau jam segini, biasanya kalau perusahaan sibuk-sibuk Rangga tidak sempat untuk pulang. Dia biasanya menginap di hotel, karena jarak rumah dan tempatnya bekerja lumayan membutuhkan waktu yang lama. Mbok Kinasih-lah yang selalu menemani Kirei, sang majikan jika suaminya tidak ada di rumah.

Suara derap langkah kaki itu sekarang semangkin jelas terdengar oleh Kirei, tanpa ada suara yang mengetuk pintu. Tiba-tiba gagang pintu itu pun berputar, Kirei benar-benar merasa ketakutan. Degup jantungnya semangkin tak karuan. Kirei tidak bisa melihat bayangan wajah itu dengan jelas. Akhirnya ia memutar balik badannya untuk mengambil lilin yang berada di dekat Kirei, untuk melihat siapa orang yang berdiri di sana. Saat cahaya lilin di arahkan ke depan pintu, tidak ada orang. 'Siapa tadi?' pikir Kirei. Sambil perpikir Kirei kembali menuju tempat tidurnya.

Baru selangkah Kirei berjalan, "Non, makanan di bawah sudah siap!" ucap Mbok Kinasih.

Suara mbok Kinasih yang tiba-tiba muncul seketika membuat Kirei melonjak kaget, "Astagfirullah mbok, bikin kaget aja. Lain kali ketuk pintu dulu kenapa?"

"Maaf Non, tadi saya lihat pintu Non Kirei sudah terbuka jadi saya langsung masuk saja Non"

"Ya sudah Mbok. Sebentar lagi saya turun"

"Baik non. Mbok turun dulu"

Mbok Kinasih kemudian menutup kembali pintu kamar Kirei yang sebelumnya terbuka. Sebelum menikmati santap malam buatan mbok Kinasih, Kirei terlebih dulu mengganti baju dengan baju piyama.

Kreekk..

Kirei mulai memutar gagang pintu untuk turun ke lantai bawah. Namun, saat itu juga tiba-tiba ada sosok laki-laki berdiri tepat di depannya. Ia sungguh menakutkan, sinar wajahnya sama sekali tidak tampak. Rambutnya juga panjang, disisi pipinya dipenuhi janggut yang panjang.

"Siapa kamu?" tanya Kirei panik.

"Mau apa kamu?" tanya Kirei kembali.

Sosok itu semangkin mendekat ke arah Kirei. "Stop! Jangan mendekat!" teriak Kirei.

Wajah Kirei terlihat semangkin panik, ketakutan, tubuhnyapun seperti sulit digerakkan, kaku. Ia mengamati sosok di depannya tanpa berkedip.

"Mana suamimu? Sesungguhnya dia telah melanggar perjanjian denganku. Sampai saat ini dia belum memenuhi apa yang menjadi hakku. Kalau sampai dia belum juga datang kepadaku, maka lihatlah aku sendiri yang akan bertindak. Sampaikan pesan ini padanya"

"Tidak! Suamiku tidak melakukan apa-apa! Kau pasti salah orang!" teriak Kirei. "Sekarang cepat pergi dari hadapanku sekarang!" pinta Kirai dengan keras, disisa-sisa kekuatan dan keberaniannya.

Tiba-tiba sosok di depan Kirei menarik tangannya keras-keras.

"Lepas! Lepaskan aku!" ucap Kirei.

"Tolong!...tolong!" teriak Kirei. Itu adalah suara terakhir Kirei yang menggema di ruangan itu. Tubuhnya sekarang ambruk.

"Non...Non...bangun" suara itu begitu jelas ditelinga Kirei.

Kirei akhirnya terbangun dengan peluh di seluruh tubuhnya. "Syukurlah, ini cuman mimpi, terima kasih mbok sudah membangunkan saya"

"Iya Non. Non mengigau ya?"

"Tadi saya mimpi buruk sekali Mbok."

Pandangan Kirei langsung tertuju pada jam beker yang berada di nakas samping kanan Kirei. "Sudah jam 3 pagi" ucap Kirei lirih.

"Mbok, apa Rangga sudah pulang?"

"Oh Den Rangga belum pulang dari semalam Non"

"Oh begitu ya Mbok"

"Non, sebaiknya cuci muka kemudian sholat tahajud, supaya terhindar dari pengaruh yang buruk-buruk Non"

"Iya mbok, terima kasih. Kalau begitu Mbok silahkan turun saya mau ke kamar mandi dulu"

Sebelum bangkit dari tempat tidurnya, Kirei meraup sebuah gelas berisi air putih. Ia sangat kehausan, tenaganya seperti terkuras. Tangan Kirei sedikit terlihat gemetar saat memegang gelas kaca di tangan kanannya. Kirei berdiam diri sejak. Ia teringat kembali mimpinya, 'apa maksud mimpi itu? Kenapa dia mencari Rangga?' ucap Kirei dalam hati.

Kirei tak mau larut dalam mimpinya semalam, karena mungkin itu hanya ilusi yang bekerja di otaknya. Ia kemudian bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi.




~Bersambung...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 3
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 09:02
Quote:Original Posted By suka2gwbangshad
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)


Oke, sudah update gan. Yuk baca chapter 2. Makasih ganemoticon-Smilie
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 09:03
Quote:Original Posted By ariefdias
buruan updateee bossss


Udah update gan, boleh dibaca Chapter 2 😁
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 09:05
Quote:Original Posted By ariefdias
buruan updateee bossss


Udah update gan, boleh dibaca Chapter 2 😁
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 09:06
Quote:Original Posted By ariefdias
buruan updateee bossss


Udah update gan, boleh dibaca Chapter 2 😁
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 15:20
gelar tenda d mari
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 16:37
bikin index bang... sip ceritanya... lanjut yea emoticon-2 Jempol
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 17:43
lanjutttttt
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
12-01-2020 20:10
akhirnyo update emoticon-Takutemoticon-Takut
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
13-01-2020 16:22
pesugihan ya
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
14-01-2020 03:05
Terima kasih Udah update
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
16-01-2020 09:33
update kapan bosssss
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
16-01-2020 14:16
lanjutkeunnnn bre!!!!....emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
17-01-2020 14:28

KHURAFAT (Kontrak dengan Setan)

CHAPTER 3 - Kenan



Matahari menyingsing, sinarnya menerobos masuk melalui sela-sela jendela hingga menimbulkan siluet. Kirei membuka jendela kaca yang berada di depannya, angin berhembus sedikit kencang, menerpa wajahnya yang putih dengan mata terlihat berkantung. Mungkin akibat tidak tidur semalaman. Di luar, Kirei melihat jalanan masih basah, dan lembab. Beberapa sisi jalan lain terlihat becek dihiasi genangan air yang tertampung.

Kirei menengadahkan wajahnya menghadap langit. Hari ini langit lumayan cerah setelah semalaman hujan mengguyur beberapa wilayah. Tapi, hawa udaranya masih terasa agak dingin.

Jam yang melekat di dinding rumah sakit sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Kirei memegang perutnya yang keroncongan. Ia melirik ke belakang melihat Ranga masih berbaring di atas ranjang rumah sakit. Rangga belum siuman usai dilarikan ke rumah sakit tadi malam akibat kejadian di luar nalar serta sosok misterius yang menyerangnya.

Kirei berjalan mendekat menuju ranjang tempat suaminya terbaring lemas. Ia melihat di beberapa bagian tubuh Rangga memar, salah satunya di bagian pelipis.

Sementara di lengan kiri ada sejumlah luka cakar, tidak begitu dalam namun tetap saja meninggalkan bekas, yang paling parah tepat di pergelangan tangan Rangga sebelah kanan. Kata dokter lukanya cukup dalam hingga memerlukan tujuh jahitan. Mungkin karena obat bius pasca-operasi masih bekerja hingga membuat Rangga belum sadar juga.

Tangan Kirei menyentuh lembut lengan Rangga, kemudian tangan itu berpindah ke wajah suaminya yang sedikit pucat. Kirei mengelusnya dengan halus. Dengan sedikit membungkuk Kirei, mengecup kening suaminya.

"Rangga sebenarnya ada apa?" tanya Kirei, pelan.

Tidak ada sahutan yang keluar dari mulut Rangga, matanya juga masih terpejam. Kirei sedikit membenarkan selimut, yang menutup sebagian badan Rangga.

Ia pergi, keluar meninggalkan ruang rawat inap. Berjalan menuju parkiran mobil. Baru Kirei hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.

"Astagfirullah" ucapnya kaget.

Kirei milirik ke belakang melihat siapa di belakangnya. Kirei menyipitkan mata memastikan kebenaran sosok yang berdiri di depannya kali ini.

"Lho Ibu." Ternyata itu Eyang Nisratih, ibu Kirei.

"Ibu kapan sampainya?" tanyanya bingung.

"Tadi subuh pagi Ibu sampai di bandara, terus langsung ibu ke rumah kamu"

"Lho Ibu kok nggak kasih tau sih! Biar Kirei bisa jemput"

"Lah gimana Ibu mau menghubungi kamu minta jemput wong nomormu aja nggak aktif lho" ucap Eyang Nisratih dengan logat bercampur Jawa.

"Astaga iya Bu, Kirei lupa kalau handphone Kirei kecurian kemarin"

"Terus Ibu bisa tau Kirei ada di sini?"

"Yah pembantu kamu toh yang ngasih tahu Ibu. Gimana sih kamu ini"

"He-he iya Bu"

"Kamu mau ke mana?" tanya Eyang Nisratih.

"Kirei, mau makan dulu Bu. Ayo Bu ikut Kirei" ajaknya.

Kirei mengajak Nisratih untuk ikut dengannya karena Kirei tahu, Ibunya pasti tidak akan mau masuk ataupun menunggu Rangga di dalam. Ibu Kirei memang kurang setuju dengan keputusan Kirei menikah dengan Rangga waktu itu.

Kirei berjalan ke sebelah kiri mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Eyang Nisratih.

Hanya sekitar 15 menit saja, mobil Kirei sudah tiba di tempat makan. Kirei memilih tempat makan terdekat dari rumah sakit agar ketika kembali ke rumah sakit mobil Kirei tidak perlu anteri dengan mobil-mobil lain yang terjebak macet.

Kirei memesan meja di bagian luar cafe. Di tempat makan itu masih hening, belum banyak pengunjung yang singgah hanya untuk sekedar mengisi perut lapar mereka seperti Kirei.

Di bawah pohon rindang desain unik dari cafe, semilir angin berhembus lembut. Terik mentari juga tidak terlalu menyengat, awan bergumpal menyembunyikan sang surya beberapa saat.

Ada banyak hal yang Kirei renungkan. Melihat ekpresi Kirei Eyang Nisratih menghela napas.

"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan toh, Rei?"

Kirei mendehem, "Bu, aku bingung kejadian yang menimpa Rangga dan juga beberapa kejadian ganjal yang Kirei rasain"

"Apasih maksudmu?"

"Iya Bu. Aku pernah mimpi aneh tentang sosok yang meminta suamiku"

Eyang Nisratih mengeryitkan dahi, "Sebenarnya Ibu sudah mewanti-wanti kalau kamu menikah dengan Rangga itu. Ibu merasa ada sesuatu yang janggal. Dulu tanpa sepengetahuan kamu, ibu menyuruh Pak Jalal untuk menyelidiki calon suamimu. Pak Jalal menyampaikan informasi kalau Rangga itu kerap melakukan ritual persembahan sesajen, ibu rasa dia bersekutu dengan setan" ucap Eyang Nisratih, Eyang Nisratih menjeda sebentar ucapannya sembari menyeruput minuman hangat yang tersaji.

"Dan di rumah Rangga yang besar itu, tempat kalian tinggal Pak Jalal pernah mendapati Rangga seperti melakukan suatu ritual rutin. Yang paling membuat ibu kaget usai penyelidikan itu, keesokan hari Pak Jalal ditemukan tewas di halaman belakang rumah Rangga. Ibu yo sempat mikir kalau dia itu ...."

"Sudah lah ibu, jangan mikir yang aneh-anehlah" ucap Kirei seketika menghetikan ucapan Ibunya.

Kirei sepertinya tidak terlalu menghiraukan ucapan Ibunya, ia kembali memotong daging bebek yang terhidang di atas meja. Lalu memasukkan beberapa suap nasi ke dalam mulut. Saat makanan itu telah melewati kerongkongannya. Kirei kembali membalas perkataan Eyang Nisratih.

"Ibu pasti ngarang cerita, karena Kirei tau kalau Ibu nggak pernah suka sama Rangga"

"Lha kamukan tau sendiri, Ibu setuju kalau kamu menikah dengan Kenan bukan dengan laki-laki yang nggak jelas dan misterius itu"

"Ibu berapa kali Kirei bilang, Kirei dan Kenan itu hanya sebatas teman bisnis dan kami memang berteman baik tapi bukan berarti kami harus merubahnya menjadi sebuah perasaan saling suka. Lagian, Kenan juga menganggap semuanya biasa, aku pun begitu. Sampai sekarang setelah aku menikah kami masih berhubungan baik" jelasnya.

Eyang Nisratih tertegun sejenak, ia tak habis pikir anaknya terus membela Rangga. Kali ini, percuma bagi mejelaskan apa yang sebenarnya ia tahu tentang Rangga, nanti pasti hanya akan mendatangkan perdebatan.

Eyang Nisratih menyudahi makannya. "Ibu mau pulang"

"Ibu nggak mau nengokin Rangga dulu?" tanya Kirei.

"Ibu mau istirahat, tubuh ibu masih terasa lelah setelah melalui perjalanan panjang"

Kirei sebenarnya maklum, tidak mungkin Ibunya mau menjengguk Rangga karena dari dulu memang mereka selalu tidak akur.

"Oh gitu. Biar Kirei suruh Mang Tahar jemput ibu"

"Ah nggak usah Rei. Ibu minta jemput Kenan aja"

"Hah! Kenan!" sontak Kirei kaget.

"Ibu kenapa nyuruh Kenan, bisa jadi dia sibukkan Bu"

"Enggak lah. Emangnya kamu yang sibuk terus nggak ada waktu buat Ibu sendiri"

Kirei pasrah, namun tetap berusaha membela diri, "Bukan begitu Bu"

"Sekarang mendingan kamu balik lagi ke rumah sakit, jagain suamimu itu"

"Nggak mungkin aku ninggalin Ibu sendirian di sini. Aku temanin Ibu deh sampe Kenan jemput"

Mentari kian meninggi, dan panas sudah kian menyeringai. Sudah 25 menit dan 5 menit lagi, tepat setengah jam mereka menunggu Kenan datang. Kirei yang sedikit mengantuk sesekali bertopang dagu untuk menahan kepalanya agar tidak jatuh.

Tepat saja sekitar hampir 30 menit, Kirei mendengar suara menyapa Eyang Nisratih dari belakang.

"Assalamu'alaikum Eyang" sapa Kenan sambil mencium tangan wanita paru baya berusia 63 tahunan itu. Tidak ada sikap yang berubah dari Kenan. Dia tetap Kenan yang sopan dan selalu menjaga adab saat bertemu orang yang lebih tua.

"Wa'alaikumsalam"

"Maaf Eyang kalau lama menunggu" ucap Kenan, yang merasa kalau Eyang Nisratih telah menunggunya lama.

"Ah, nggak kok Nak"

Menyadari ada Kirei di sebelahnya, Kenan langsung menyapa Kirei seperti biasanya. "Hey Rei. Apa kabar?"

"Ouh aku baik kok. Kamu kok ke sini? Bukannya kamu biasanya sibukkan?"

"Oh itu, hari ini gak terlalu padat jadwalnya, jadi masih sempetlah kalau buat jemput Eyang"

Eyang Nisratih sudah bangkit dari duduknya, "Kenan ayo, eyang udah lelah rasanya, mau istirahat dulu"

"Mari eyang" ajak Kenan. "Rei, kamu nggak ikut?"

"Nggak Key-panggilan akrab Kirei pada Kenan- aku masih mau balik ke rumah sakit hari ini"

"Siapa yang sakit Rei?"

"Rangga, semalam..." Kirei tak jadi melanjutkan ucapannya.

"Semalam kenapa?" tanya Kenan penasaran.

"Nggak. Kalau gitu aku duluan, titip Ibu aku ya"

"Iya. Semoga suami kamu cepat sembuh"

"Iya makasih Key"

Kirei berjalan lebih dulu meninggalkan Kenan dan Eyang Nisratih. Kirei terlihat buru-buru karena sudah cukup lama ia di luar. Mengingat di rumah sakit Rangga sendirian tidak ada yang menemaninya.

Kirei meyusuri jalanan kota yang lumayan padat, untung saja tidak macet. Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai Kirei masuk ke pekarangan RS Meidika. Ia langsung turun dan berjalan menusuri koridor rumah sakit.

Tepat sekali. Bersamaan dengan Kirei masuk ke ruangan tempat Rangga di rawat. Ia melihat Rangga bereaksi tubuhnya terlihat mulai menggeliat.

Pelan-pelan mata Rangga terbuka. Pandangannya mengabur sesaat. Bibir pucat pecah-pecah belum ada suara yang keluar. Pandangan Rangga menyapu seluruh sisi ruangan lalu fokus kembali menatap Kirei, istrinya yang berdiri di samping.

"Rei, aku di mana?"

"Kamu lagi nggak di rumah, kamu di rumah sakit"

Rangga merasa tubuhnya berat. Beberapa bagian badannya terasa sakit.

"auuu... " Rangga meringis kesakitan dengan rasa ngilu di tangan kanannya.

"Kamu jangan banyak gerak dulu, itu tangan kamu baru selesai operasi"

"Operasi?" tanyanya heran. Rangga seperti memutar kembali ingatannya akan kejadian mengerikan semalam. Di mana tubuhnya terseret-seret dan terhempas, akibat ulah sosok setan menyeramkan.

Seorang suster berpakaian lengkap berwarna putih-putih masuk dan mengecek kembali kondisi pasiennya yang sudah sadar.

"Bu, si pasien sudah bisa pulang. Namun, sebelumnya Ibu selesaikan dulu administrasi rumah sakit yang belum ya Bu"

"Baik sus, terima kasih"

"Kamu gimana udah ngerasa mendingan? Kalau masih belum juga mendingan nginap aja semalam lagi di sini. Daripada kenapa-napa"

"Nggaklah. Udah ngerasa baik kok ini cuma nyeri doang nanti minum obat juga reda"

"Ya sudah Rangga, aku selesaiin administrasi dulu"



~bersambung
Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
chisaa dan kemintil98 memberi reputasi
2 0
2
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
17-01-2020 14:47
sorry gan baru bisa update chapter nih emoticon-Blue Guy Peace
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
17-01-2020 14:48
Quote:Original Posted By JuMon4ja
lanjutkeunnnn bre!!!!....emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up


Sip gan
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
17-01-2020 14:49
ngontraknya fullfurnish gak tuh gan ?
emoticon-Belgia
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
17-01-2020 14:50
Quote:Original Posted By ariefdias
update kapan bosssss


Updatenya ga nentu ganemoticon-Blue Guy Peace
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
17-01-2020 14:51
Quote:Original Posted By sffmagma
ngontraknya fullfurnish gak tuh gan ?
emoticon-Belgia


Hahah nyicil gan
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
18-01-2020 06:40
semungut gan, update truuuusss
0 0
0
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
20-01-2020 12:48
Update lagi Gann
Makin menarik ceritanya nichhh
emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Halaman 2 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
just-a-little-kitten-tamat
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia