Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1379
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e0800c3018e0d7fcd3439fd/rumah-hantu-di-perkebunan-karet-rhdp
#briistory Kali ini gue membawakan kisah dari Om nya bang Brii, yang menurut gue kisah nya :takut Gue di sini sudah minta ijin ya sama empunya cerita, dan bang Brii pun mengijinkan. Dan bukunya segera rilis, jadi jangan bilang gue pelagiat. Yang mau beli bukunya PM saja . . . Oke langsung saja ya tanpa basa basi lagi Yang sudah baca part 1 abaikan saja. Rumah Hantu di Perkebunan Karet Part 1 _____
Lapor Hansip
29-12-2019 08:26

RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)

RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)

#briistory





Kali ini gue membawakan kisah dari Om nya bang Brii, yang menurut gue kisah nya emoticon-Takut

Gue di sini sudah minta ijin ya sama empunya cerita, dan bang Brii pun mengijinkan. Dan bukunya segera rilis, jadi jangan bilang gue pelagiat. Yang mau beli bukunya PM saja . . . Oke langsung saja ya tanpa basa basi lagi


Yang sudah baca part 1 abaikan saja.








Rumah Hantu
di Perkebunan Karet Part 1
________________



Sekali lagi gw ingatkan, jangan pernah membaca cerita di sini sendirian, pokoknya jangan ya..

Ingat om Heri kan?

Om gw yang pernah jadi supir mobil pengantar jenazah di Semarang. Om yang juga banyak memiliki pengalaman aneh dan seram.
(Kalian belum baca kan . .Gw sudah ahahaha)

Malam ini, beliau akan cerita tentang pengalamannya saat bekerja di salah satu perusahaan perkebunan. Pekerjaan yang dia jalani setelah selesai bekerja pada rumah sakit, sebagai supir mobil pengantar jenazah, di Semarang.

Peristiwa ini terjadi sekitar awal tahun 90an
Setelah ini, om Heri yang akan menceritakan langsung tentang kejadiannya ya.. Jadi yg cerita sekarang ini adalah om Heri, bukan brii.. Yuk simak..


Waktu itu om bekerja di pedalaman Sumatera, tempat yang sangat terpencil, jauh dari mana-mana, benar-benar di tengah hutan, hutan karet tepatnya.

Iya, alhamdulillah, setelah bekerja sebagai supir mobil jenazah waktu itu, om diterima bekerja di perusahaan perkebunan, yang letaknya di daerah sekitar Martapura, Sumatra Selatan.

Om bekerja sebagai pengawas perkebunan karet yang total luasnya mencapai hingga ribuan hektar. Tapi tentu saja om gak mengawasi keseluruhannya, hanya beberapa puluh hektar saja yang jadi tanggung jawab om.

Perusahaan ini mempekerjakan banyak pekerja, dan yang jumlahnya paling banyak adalah buruh lepas yang bertugas menyadap karet dari pohonnya, setiap hari.
Nah, salah satu pekerjaan om adalah mengawasi para buruh itu bekerja.

~Salah satu om? Emang apa lagi selain itu?

Mengawasi para buruh bekerja, menurut om bukan pekerjaan yang terlalu berat, om sangat senang melakukannya.
Karena waktu itu perusahaan tempat om bekerja ini masih kekurangan orang, maka om ditugaskan juga untuk mengawasi dan menjaga wilayah perkebunan, agar gak ada pencurian.

Tugas inilah yang agak berat, karena harus berpatroli pada malam hari, berdua dengan teman menggunakan motor, keliling perkebunan yang cukup luas itu.
Selain itu juga, yang om gak kuat adalah harus menghadapi kejadian dan pemandangan seram yang banyak terjadi dalam prosesnya.

Perusahaan ini memberikan beberapa fasilitas, dan juga gaji yang lumayan besar pada waktu itu.
Salah satu fasilitas yang diberikan adalah tempat tinggal.

Ada mess berbentuk rumah, yang disediakan perusahaan lengkap dengan isi dan segala penunjangnya, om diharuskan tinggal di situ.

Rumah besar yang terdiri dari empat kamar, ruang tamu, ruang tengah, dapur dan satu kamar mandi.
Letak rumah ini cukup "menantang", terletak di tengah-tengah perkebunan karet, gak ada rumah lain di sekelilingnya, benar-benar sendirian.

Jarak menuju desa terdekat sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor.
Kebayang ya? Betapa terpencilnya rumah itu..

Oh iya, satu lagi, rumah ini juga gak berpagar, langsung berhadapan dengan hutan karet.
Dan yang paling seru adalah, rumah ini belum ada aliran listrik, penerangan hanya mengandalkan petromak dan lampu templok minyak tanah.

Ketika pertama kali datang, pada pagi hari waktu itu, om disambut oleh Wahyu, yang nantinya ditugaskan untuk menjadi asisten om selama bekerja di situ
Wahyu berumur sekitar 22 tahun.

pemuda asal Palembang yang kebetulan baru tiga bulan bekerja.
Wahyu menyambut dengan ramahnya,
Kemudian kami berbincang, dia menceritakan keadaan dan suasana di tempat itu.

"Jadi, selama tiga bulan pertama kerja, kamu tinggal di sini sendirian?" Tanya om penasaran.
"Nggak pak, saya cuma sempat tinggal di sini selama satu minggu pertama, gak betah saya sendirian pak"

"Trus selebihnya kamu tinggal dimana?"
"Saya kost di desa terdekat pak, pulang pergi ke perkebunan setiap harinya, naik motor." Jawab Wahyu menjelaskan.

"Tapi setelah pak Heri datang, saya berani tinggal di sini lagi, kan sudah ada temannya." Lanjut Wahyu.
Berani? Berarti sebelumnya Wahyu gak berani tinggal di rumah itu, hmmmmm...

Nantinya, kami memang hanya tinggal berdua di rumah itu..

Hari pertama bekerja, Wahyu mengajak berkeliling wilayah perkebunan yang nantinya menjadi wilayah tanggung jawab om, sekaligus memperkenalkan om dengan semua buruh karet yang bekerja di situ.

Wilayah perkebunan yang sangat luas, sepanjang jalan berkeliling menggunakan motor kami hanya menemui barisan pohon karet yang berjajar rapih,

Di pinggiran perkebunan terlihat hutan yang cukup rindang.
Cukup melelahkan hari itu, selama seharian kami hanya berkeliling melihat keadaan perkebunan.
Sekitar jam lima sore, kami pulang..

Malam menjelang..
Wahyu dengan cekatan menyalakan lampu petromak dan semua lampu templok di seluruh ruangan.
Suasana rumah menjadi cukup terang.

Sekeliling rumah mulai gelap, menutup semua pemandangan kebun karet.
Sangat sepi..

Selepas isya, kami berbincang di teras depan rumah, ada dua kursi dan satu meja yang menjadi tempat kami ngobrol.

Pemandangan depan rumah sangat gelap, hanya ada siluet pohon karet dan rumput liar di sela-selanya.
Suara-suara binatang malam juga terdengar mengiringi suasana.

"Pak Heri nanti tidur di kamar tengah aja pak, saya di kamar depan. Kamar tengah lebih besar dari kamar lainnya." Ucap Wahyu di tengah perbincangan.
Om mengiyakan saja..
Hingga sekitar jam sembilan malam kami masuk ke kamar masing-masing. Cukup melelahkan hari itu, om mencoba untuk tidur lebih awal.

Persis di depan kamar om adalah ruang tengah, kamar Wahyu ada di sebelah kanan, dua kamar lainnya ada di belakang bersama dapur dan kamar mandi.

Wahyu mematikan petromak yang ada di ruang tengah, hanya lampu templok di dalam kamar yang dibiarkan dalam keadaan menyala.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, ketika om belum juga bisa memejamkan mata.
Gak ada yang bisa dilakukan di kamar itu, om hanya bisa melamun sambil menunggu kantuk datang.
Hembusan angin malam menembus jendela kamar yang berbatasan langsung dengan perkebunan karet di luar, anginnya dingin menusuk tulang.

Terdengar juga suara binatang-binatang malam bersahutan.
Gak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara lolongan anjing hutan, melolong panjang,
Lolongan yang banyak arti.

Om mulai merasakan hal yang gak lazim, ketika lolongan anjing itu intensitasnya menjadi semakin sering.
Tiba-tiba lolongan anjing berhenti..
Om terdiam, suasana menjadi sangat sepi..

Keheningan itu berlangsung cukup lama..
Jam sudah hampir di pukul satu, ketika om kembali mendengar suara..
Suara yang cukup menarik perhatian..


"Sreeekk...srekkk...sreeek.." kira-kira seperti itu bunyinya.
Dengan tubuh masih terbaring di atas tempat tidur, om menajamkan pendengaran..
Suara itu semakin jelas terdengar..

"Sreeeek sreeek...sreeekk.."

Om langsung terkesiap, ketika menyadari kalau itu terdengar seperti suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah..
Terdengar seperti ada orang yang sedang menyapu di luar menggunakan sapu lidi, dekat jendela kamar..

Siapa yang menyapu tengah malam seperti ini?, Wahyukah? Sepertinya gak mungkin..
Perlahan om bangkit dari tempat tidur, dan berjalan medekati jendela, mencoba kembali memastikan keberadaan suara itu.
Setelah sudah berdiri di samping jendela, suara itu semakin jelas terdengar..

"Sreeek...sreekk..srekk.."
Penasaran, om coba mengintip dari sela-sela lubang jendela..
Om gak melihat apapun, hanya gelap gulita. Tapi suara sapu lidi itu masih saja terdengar..
Masih penasaran, pelan-pelan om mencoba membuka jendela..

Perlahan jendela mulai terbuka, membuka celahnya sedikit demi sedikit..
Saat itulah, ketika om mulai bisa melihat ke luar dengan lebih jelas, om melihat sosok yang menurut om adalah sosok yang menghasilkan suara..

Ada sosok perempuan dengan rambut panjang yang berwarna putih semua.

Badannya agak membungkuk membelakangi om, dengan posisi seperti sedang menyapu..
Perempuan itu meggunakan kebaya dan kain panjang hingga menutupi kakinya.

Om merinding melihatnya, dan sangat ketakutan..
Perlahan om mulai mencoba menutup jendela,
Saat itulah ketika om melihat perempuan itu mulai membalikkan badannya, perlahan..

tangan kanan om tiba-tiba berhenti bergerak ketika sedang mencoba menutup jendela, kerna wajah perempuan itu perlahan mulai terlihat..

Wajahnya mulai terlihat jelas, walaupun dalam keadaan gelap, karna jarak kami cukup dekat, hanya sekitar empat meter..
Wajahnya pucat, berkeriput, wajah nenek-nenek..

Sambil berdiri menyamping, nenek itu menatap ke arah om yang berdiri di balik jendela, kemudian tersenyum...
Bukan..
Ternyata nenek itu bukan tersenyum, tapi menyeringai, dan mengeluarkan suara ringkih tertawa..
Mengerikan..

Reflek, om langsung menutup jendela dan menguncinya..
Om kembali bergegas ke atas tempat tidur..
Menutup seluruh tubuh dengan selimut sampai kepala..

Suara sapu lidi nenek itu masih terdengar, ditambah sesekali suara tawa ringkihnya juga terdengar pelan..
Om ketakutan, gak berani berbuat apapun..
Suara lolongan anjing kembali terdengar dari kejauhan, bersahut-sahutan..

Om membaca doa semampu dan sebisanya, mengharap perlindunganNya, berdoa semoga teror itu cepat berakhir...
Menjelang jam tiga pagi, teror itu akhirnya berhenti..
Kemudian om baru bisa terlelap..

Peristiwa malam itu gak om ceritakan kepada Wahyu, om coba untuk simpan sendiri, om gak mau membuat Wahyu ketakutan.
Disamping itu juga, om sudah mulai sibuk dengan pekerjaan yang mulai cukup melelahkan.

Malam-malam berikutnya, suara nenek menyapu di luar itu tetap sesekali terdengar lagi, tapi om mencoba gak terpengaruh,
Dalam ketakutan om memaksa diri untuk gak menghiraukannya, dan membiarkan hingga suara itu menghilang dengan sendirimya.
Sekitar satu bulan tinggal di rumah itu, ketika om dan Wahyu sudah semakin akrab, kami sudah dapat berbincang mengenai hal apapun, sudah gak terlalu formil lagi.

"Pak, memang pak Heri bisa tidur nyenyak di kamar itu sendirian?". Tanya Wahyu pada suatu ketika.
"Nyenyak-nyenyak aja Yu..., memang kenapa?" Tanya om,
"Gak Apa-apa pak..." Wahyu menggantung pembicaraan.
"Memang kamu gak bisa tidur nyenyak Yu?"

"Bisa pak..., bisa.." jawab Wahyu sedikit gelagapan.
Om gak terlalu ambil pusing dengan percakapan itu, hingga pada akhirnya ada peristiwa yang terjadi pada satu malam jumat, om akhirnya tau alasan dibalik sikap Wahyu

Seperti biasa, malam jumat itu, selepas isya kami berbincang di teras depan rumah.
Wahyu dengan sisa energi yang terlihat banyak, tampak masih bersemangat berbincang..

Segala hal kami perbincangkan, tentang pekerjaan, keluarga, dan lain sebagainya.
Tapi ada satu topik yang selalu kami hindari, sebenarnya Wahyu yang terlihat sangat menghindari, yaitu masalah mistis, hantu, dan hal-hal aneh yang terjadi di rumah itu.

Ketika perbincangan sudah menjurus ke arah itu, Wahyu langsung membelokkan topik pembicaraan, dia langsung memperlihatkan gelagat yang aneh, seperti ketakutan.
Gak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

Kami sudah semakin lelah dan mengantuk, bahan obrolan pun sudah semakin sedikit.
Malam itu cukup dingin seperti biasanya, walaupun gak ada angin yang bertiup.

Suara jangkrik bersahut-sahutan.
Gelap gulita mulai menjadi teman akrab ketika malam tiba, kami mulai terbiasa dengan pemandangannya
Dalam keheningan kami yang masih terdiam, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.

"Creeeeek...creeeek...creeeekk.." kira-kira seperti itu suaranya.
Kami berdua saling berpandangan, menerka-nerka suara apa gerangan itu.
Suara yang awalnya terdengar sangat jauh, lama kelamaan semakin dekat, mendekat ke arah tempat kami duduk.

"Creeek...creeek...creek"
Semakin jelas dan kuat suara itu terdengar..
"Pak, kita masuk aja yuk pak.." ajakan Wahyu memecah keheningan.
Om mengangguk setuju, kami pun langsung bergegas masuk.

Wahyu mengunci pintu dan jendela, wajahnya terlihat ketakutan.
"Ada apa yu? Kok kamu seperti ketakutan?"


"Gak ada apa-apa kok pak, mungkin karna kecapekan saja.." jawabnya.
Setelah mematikan petromak ruang tengah, Wahyu langsung pamit masuk ke kamarnya.

Om juga langsung masuk ke kamar.
Entahlah, tapi malam itu memang sudah mulai mencekam sejak kami mendengar suara aneh itu di luar rumah.
Masih dalam keadaan penasaran, memikiran suara apakah gerangan tadi, om mencoba memejamkan mata..

Sudah jam 11 malam, om masih belum bisa tidur juga.
Resah dan gelisah di atas ranjang besi dan kasur kapuk.
Nyamuk-nyamuk yang semakin ganas, memaksa om untuk memasang kelambu mengelilingi tempat tidur.

Hanya bisa melamun, guling ke kanan guling ke kiri, kantuk gak datang juga.
Hingga ketika jam 12 malam, ada sesuatu terjadi..

Om mendengar suara..
Suara yang bersumber dari luar kamar..

"Creeek...creeek...creek"
Suara yang sama persis dengan yang om dan Wahyu dengar sewaktu di luar rumah tadi.
Kali ini suaranya sangat dekat..
Suaranya bersumber dari dalam rumah..!

"Creeek...creeek...creek"
Om mulai ketakutan..
Dan semakin ketakutan, ketika om yakin kalau suara itu bersumber dari ruang tengah..!
"Creeek...creeek...creek" suara itu semakin terdengar dengan intensitas yang tinggi, semakin sering.

Om semakin ketakutan, tapi gak berani berbuat apa-apa..
Selang beberapa menit kemudian, suara itu hilang..
Suasana kembali hening..
Sangat hening..

Jam sudah hampir di pukul satu malam, ketika tiba-tiba ada suara dari ruang tengah..
"Pak..., pak.., Pak Heri..."

Ada suara yang memanggil nama om, terdengar seperti suara Wahyu.
Perlahan om beranjak bangun dari tempat tidur, melangkahkan kaki mendekati pintu..

Pelan-pelan om memutar gagang pintu dan membukanya,
Setelah pintu terbuka sebagian, om melihat ke luar, yang ternyata gak ada siapa-siapa..

Di depan pintu gak ada siapa-siapa..
Gak ada Wahyu di depan pintu..
Kosong..
Tiba-tiba...
"Creeek...creeek...creek"

Suara itu kembali terdengar, kali ini terdengar sangat jelas dan keras, menandakan kalau sumber suaranya sangat dekat..

Reflek, om melirik ke arah sumber suara, ke pojok ruang tengah yang gelap.
Samar- samar, mata om menangkap sesuatu, sesuatu yang berdiri tegak di pojok ruang tengah. Jaraknya hanya sekitar tiga meter dari tempat om terpaku berdiri.

Badan om lemas, bulu kuduk berdiri semua, jantung berdegup sangat kencang, ketika om menyadari kalau yang om lihat saat itu adalah pocong..Pocong yang berdiri tegak di sudut ruangan..

Berwarna putih kusam, bagian wajahnya terlihat terbuka, namun om gak bisa melihat wajahnya dengan jelas..

Om langsung menunduk, dan perlahan menutup pintu.
Setelah pintu tertutup, buru-buru om naik ke atas tempat tidur, bersembunyi di balik kelambu..
Om ketakutan..

Berharap semoga pocong itu tetap berada di luar kamar..
Tapi harapan tinggal harapan, ketika tiba-tiba pintu kamar perlahan mulai terbuka..

Om hanya bisa memandang ke arah pintu tanpa bisa berbuat apapun..
Ketika pintu sudah terbuka penuh, om melihat ada pocong yang tadi..
Mengintip..
Pocong itu melayang masuk ke dalam...
Dan berhenti tepat di tengah kamar..
Dia berdiri diam menghadap ke tempat tidur..
Om sangat ketakutan..

Badan lemas, tulang seperti lepas dari engselnya..
Posisi kami hanya dipisahkan oleh kelambu yang tipis transparan..
Wajah pocong itu hitam dan gak karuan bentuknya...
Om di ambang pingsan..

Situasi itu sangat mengerikan..
"Creeek...creeek...creek" tiba-tiba pocong itu mengeluarkan suara..
Kaget..
Setelah itu gak ingat apa-apa lagi..
Om pingsan..

Ketukan pintu membangunkan om dari tidur/pingsan(?), suara Wahyu memanggil-manggil dari luar kamar.
"Pak..., pak Heri, bangun pak, sudah subuh.."

Om langsung bangun dari tempat tidur dan keluar kamar. Lalu kami sholat subuh bersama seperti hari-hari sebelumnya.
Setelah sholat, om melihat wajah Wahyu terlihat kuyu, seperti kurang tidur.

"Kamu kurang tidur ya?"
"Iya pak, nanti saja di luar rumah saya ceritanya ya pak." Jawab Wahyu setengah berbisik.

Om mengangguk pelan, sepertinya om agak paham dengan apa yang akan Wahyu ceritakan.

Siangnya, ketika sedang mengawasi para pekerja, Wahyu mulai bercerita..
"Tadi malam saya gak bisa tidur pak. Saya ketakutan.."
"Dari awal kita mendengar suara creeek creeek di luar rumah, saya sudah mulai ketakutan."
"Karena saya tau itu suara apa.., itu suara pocong.."

Cerita awal Wahyu megagetkan..
"Makanya saya langsung ajak pak Heri masuk ke dalam rumah.."
"Yang saya takutkan, kalau pocong itu masuk ke dalam rumah. Dan benar pak, saya mendengar suaranya dari ruang tengah. Untungnya pocong itu gak masuk ke kamar saya.."

"Karena itulah saya gak bisa tidur semalaman pak.."
"Pak Heri mendengar suaranya juga gak semalam?" Tanya Wahyu di ujung cerita.

Om langsung menghela nafas panjang, dan menceritakan kejadian yang om alami pada malam itu, semuanya..

Wahyu hanya diam, dia kaget mendengar cerita om.
Itulah alasannya, kenapa Wahyu hanya tahan satu minggu sewaktu tinggal di rumah itu sendirian pertama kali, dia gak kuat menahan gangguan-gangguan yang menyeramkan.

Setelah hari itu, om dan Wahyu memutuskan untuk tidur bersama dalam satu kamar setiap malam, untuk mengurangi rasa takut.
Teror berakhir? Belum, teror tetap berjalan, dan semakin seram..
Diubah oleh sharma156
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cococrash dan 85 lainnya memberi reputasi
84
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 47 dari 70
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 13:07
Quote:Original Posted By noz.bargan
emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S) jadi dua kali dong ketemu kunti nya ? gua pernah liat poci sama genderewo sekali kali nya kapok dah amit amit liat begituan lagi emoticon-Takut emoticon-Takut malah bikin nyali lemes anjirr


emm berapa kali ya, sepertinya lebih gan cuman dua itu yang masih ane inget persis muka nya..
pernah juga liat poci, ceritanya waktu itu malem sekitar jam 2 an masih asik main game mumpung besoknya libur kerja jadi bisa puas maen game hhh... lagi asik asik nya tiba-tiba kebelet pipis gan, ampun nyusahin bener dah, nah berhubung rumah ane belum ada kamar mandi, adanya di rumah depan ribet musti buka pintu segala macem akhirnya melipir aja ke samping rumah dibawah pohon pisang nah rencananya disitu, baru aja aksi ritual pipis mau di mulai ane liat ke depan samping wc tetangga kok ada putih-putih bediri, ane kira apa yah, tak perhatiin kok bentuknya kayak orang en bagian atas kepala di tali, di bagian perut atas kayak ada tangan di dalem itu kain, mirip pocong bediri gitu gan, eh buset belum juga sempet pipis udah kabur masuk rumah lagi ane gan, mana dia nya lagi liatin ane pula, dih merinding semua badan ane,, untung mukanya ga keliatan cuman item doang yang jelas itu badanya gegara kena sinar lampu teras tetangga...mana waktu itu dirumah sendirian lagi ah,, padahal udah berpikir positif bilang sendiri pasti salah liat tapi tetep aja takut,, berhubung masih kebelet setengah jam kemuadian keluar lagi tapi ke rumah depan aja males liat ke arah situ lagi jalan cepet liat kebawah,, ternyata kadang kebelet pipis itu bisa ngalahin rasa takut juga ternyata gan hhh emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 13:09
Quote:Original Posted By sharma156
Lucu yak . .itu @alamseries pas bayi, saking gemesnya pengen gw racun tikus emoticon-Ngakak


jahat bener 😭
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan dodolgarut134 memberi reputasi
2 0
2
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 13:45
Quote:Original Posted By alamseries
paling serem pernah liat opo?


Lihat deb colektor ke depan rumah...karena cicilan mobil telat....😔
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 14:47
Vangke, niat mau marathon td malem baca br sampe part 5 udah merinding disco gara2 "permen sugus" nongol mulu emoticon-Ngakak lanjutin baca skrg siang bolong kok masih merinding juga ya... tp keren nih ceritanya, detil bgt.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 15:25
Pantesan unik emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By onenkyess
Yoha bang...


profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 15:40
Quote:Original Posted By bryan10herera
Pantesan unik emoticon-Ngakak


Alamakkkk....
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan dodolgarut134 memberi reputasi
2 0
2
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 17:10
Quote:Original Posted By dodolgarut134
pernah liat kunti buluk lg nangkring di pohon, pernah jg dicipok kunti cuantik pake baju merah..alhasil gw meriang seminggu emoticon-Leh Uga


Gk takut bang?? emoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan dodolgarut134 memberi reputasi
2 0
2
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
15-01-2020 17:56
Balasan post sharma156
baru beberapa langkah tiba tiba....,
terlihat kentang tergeletak dimana mana emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
15-01-2020 17:58
Balasan post nyambeksawah
sama gw baca pertengahan tengah malem sukses bikin gw ketakutaannn gileee horrrornyeehh kenapa ga minta bantuan bang jaka tory desta aja suruh nginep aitu biar setannya
pd kicep emoticon-Ultahemoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sanicz memberi reputasi
1 1
0
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 18:54
Profil kamu aja dah unik emoticon-Ngacir2

Quote:Original Posted By onenkyess
Alamakkkk....


profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 19:00
blm update di page 47
0 0
0
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 19:06
ngintip .....
lom update ternyata
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 19:09
Gan part 15 kan dia masih di samping motor yg mogok kan.. kon ke 16 dah di rumah sama si wahyu.. liat ada kucing?
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan dodolgarut134 memberi reputasi
2 0
2
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 19:12
Rumah Hantu 
Di Perkebunan Karet Part 17
___________________



POV Om Wahyu

Jam 10 malam, seharusnya Pak Heri sudah pulang, tapi belum ada pergerakan di kejauhan, hanya gelap bersuara hening dan sunyi.

Beliau berkunjung ke rumah Pak Lurah memenuhi undangan selamatan atas kelahiran cucunya. Aku gak diperbolehkan ikut, karena baru saja sembuh dari sakit.

Aku duduk di teras berteman segelas kopi dan sebungkus rokok, gelas kopi sudah ku isi dua kali, sedangkan bungkus rokok tinggal menyisakan satu batang saja di dalamnya.

Sementara Pak Heri belum datang juga, semoga sebentar lagi.

Rumah yang sudah dua tahun lebih kami tinggali ini, beserta perkebunan karetnya, seharusnya sudah menjadi tempat yang nyaman, seharusnya sudah menjadi rumah yang membuat kerasan, seharusnya.

Tapi ternyata gak demikian, aku dan Pak Heri masih seperti "tamu" di sini, hanya sebagai pengunjung di perkebunan ini. Ada "tuan rumah" yang sebenarnya, yang sepertinya masih menganggap wilayah ini adalah miliknya, gak boleh ada yang tinggal di sini dan menguasai, selain mereka.

Kami sudah mengerti akan kondisi ini, hanya saja belum menemukan cara untuk menyikapi, hanya bisa pasrah dan coba berusaha menjalani semuanya dengan normal.

Udara yang tadinya cukup dingin berangsur menghangat, awan tipis perlahan datang memenuhi ruang langit yang birunya mulai pudar menjadi abu-abu. Bulan seperti sedih karna sinarnya meredup tertutup awan, pecah menjadi serpihan tipis menerangi langit seadanya.

Tampaknya sebentar lagi turun hujan..

Menyalakan rokok lagi, batang terakhir, setelah ini aku harus masuk ke dalam rumah karena gak tau harus melakukan apa lagi.

Rintik hujan mulai turun, gerimis tipis, bulir-bulir bulir air yang bertabrakan dengan bermacam permukaan di bawahnya jadi menimbulkan suara, mengisi keheningan yang sejak tadi menemaniku di sini.

Semburan asap rokok yang keluar dari mulutku membentuk kabut tipis walau hanya beberapa detik, sejenak menghalangi pandangan untuk dapat melihat menembus gelapnya perkebunan karet.

Gelap, tapi gak pekat, aku masih dapat melihat perkebunan walau beberapa objek hanya berbentuk siluet, pantulan cahaya langit sedikit membantu membuatnya seperti itu.

Situasi seperti ini sudah beberapa kali aku alami, Pak Heri juga. Situasi dimana ketika kami terjebak sendirian pada malam hari di perkebunan ini, di rumah ini.

Iya, sendirian..

Semakin larut malam, maka kondisinya semakin jadi serba salah. Kalau mau masuk ke dalam rumah, aku pasti akan merasakan cemas dan takut, karena kemungkinan besar akan terjadi hal aneh dan menyeramkan.

Kalau memilih tetap di luar, situasinya akan sama, menyeramkan, gak mungkin juga sampai pagi berdiam diri di teras.

Pergi meninggalkan rumah? Bukan sebuah opsi, aku gak tega kalau nanti Pak Heri pulang tiba-tiba menemukan rumah dalam keadaan kosong. Gak, aku gak tega..

Jadi begitulah, serba salah.

***


Rokok terakhir sudah habis, jam sepuluh lewat, Pak Heri belum muncul juga. Dengan berat hati aku membereskan gelas kopi dan asbak di teras, lalu masuk ke dalam rumah.

Sementara hujan turun semakin deras, sesekali disertai kilat dan suara petir sesudahnya.

Setelah mengunci pintu, aku duduk di ruang tengah, membiarkan petromak dan lampu lainnya tetap menyala.

Masih penasaran, sesekali aku menghampiri jendela, mengintip dari celah tirainya, masih berharap Pak Heri menunjukkan batang hidungnya. Tapi gak ada, beliau belum muncul juga

Oh iya, motor aku biarkan berada di luar, kuncinya aku taruh di saku celana, dengan maksud supaya dapat langsung melarikan diri apa bila ada hal yang mengharuskanku untuk segera pergi.

Beberapa kali terdengar suara bambu yang bersinggungan satu sama lain di halaman belakang, karena tertiup angin. Sungguh semakin menambah sempurna keadaan.

Gak berani masuk kamar, aku tetap duduk di ruang tengah. Seluruh pintu kamar aku biarkan terbuka, supaya bisa melihat langsung ke dalamnya.

Dalam kondisi yang sangat sepi seperti ini, suara sekecil apa pun, bunyi apa pun itu, dapat membuat penasaran, meski suara hujan cukup keras terdengar.

Nyaris tengah malam, jam dinding sebentar lagi akan menunjuk angka dua belas.

Pak Heri masih belum datang juga. Aku beranggapan kalau beliau gak akan pulang malam ini, berharap besok pagi datangnya, semoga.

Hujan masih belum reda, semakin malam angin yang menyertainya semakin kencang berhembus. Udara dingin mulai masuk, melalui lubang ventilasi yang ada di atas pintu dan jendela.

Sementara aku, mulai berjuang menahan serangan kantuk yang sudah datang sejak beberapa saat yang lalu.

Udara yang semakin dingin ditambah badan baru sembuh dari sakit dan sudah teramat lelah karena bekerja seharian, membuatku perlahan mulai hilang kesadaran.

Dalam posisi duduk, sesekali aku tertidur tapi lalu terjaga, perjuangan menahan diri untuk tetap sadar sangatlah berat.

Seingatku, terakhir kali melihat jam dinding, jarum pendeknya sudah hampir menyentuh angka satu, setelah itu sudah gak ingat apa-apa lagi.

Di ruang tengah, aku akhirnya kalah, gak bisa lagi menahan kantuk yang menyerang hebat.

Terlelaplah sudah..

"Bang, bangun bang.."

Antara sadar dan gak sadar aku mendengar suara itu, berkali-kali. Membuatku perlahan jadi terjaga.

Suara yang sepertinya aku kenal..

Memaksa membuka mata, aku coba untuk mencari sumber suara.

Setelah sudah benar sadar dan dapat melihat dengan mata terbuka, aku mendapati kalau di ruang tengah ini ternyata aku gak sendirian.

Jelas terlihat, ada sosok yang sedang duduk di hadapan.

Bukan Pak Heri tapi aku mengenalnya..

Untuk memastikan penglihatan, aku mengucek-ngucek mata, memperjelas pandangan.

Benar, aku sangat kenal dengan sosok yang sedang duduk bersandar ini.

"Bapak..?"

Hanya itu yang bisa aku ucapkan, ketika melihat dengan jelas kalau yang sedang duduk itu adalah Bapakku..

Masih diam gak bergerak, aku terus memperhatikan sosoknya yang perlahan mulai tersenyum.

Lama kami berpandangan, diam tanpa kata.

Rasa kangen yang sangat besar terhadap sosok Bapak, menimbulkan niat untuk berdiri mendatangi lalu memeluknya dengan erat.

Tapi gak bisa, karena aku sadar kalau Bapak tercinta sudah meninggal belasan tahun yang lalu..

Nyaris menangis, tapi akhirnya dengan suara bergetar aku dapat mengucap kalimat pendek.

"Bapak ngapain di sini?. Jangan khawatir, aku baik-baik aja kok. Bapak yang tenang di sana, gak usah khawatir."

Gak tahan, air mata mulai jatuh dari pelupuk mata, rasa kangen yang amat sangat dengan sosok Bapak membuatku terharu gak karuan.

Entah berapa menit kemudian, beliau mulai berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu depan. Aku hanya memperhatikan sambil terus menangis..

Tepat di depan pintu langkahnya terhenti, lalu menatapku sambil tersenyum.

"Bapak pulang dulu ya, kamu baik-baik di sini."

Itu ucapan terakhir yang keluar dari mulutnya, aku semakin keras menangis, air mata jatuh bercucuran.

"Iya Pak." Jawabku pelan..

Kemudian beliau membuka pintu, lalu pergi meninggalkan rumah, meninggalkan aku sendirian.

Kaget, aku nyaris terjatuh dari kursi.

Ah, kehadiran sosok Bapak ternyata hanya di dalam mimpi. Walau sebentar, tapi aku senang, rasa kangen sedikit terobati.

Kali ini aku benar-benar terjaga dari tidur. Ternyata masih duduk di kursi ruang tengah, memperhatikan sekeliling, dibantu oleh cahaya petromak yang berkedap-kedip karena kehabisan bahan bakar.

Pak Heri belum datang juga, sudah hampir jam dua pagi.

Tapi perasaan senang akan "kehadiran" Bapak hanya singgah sebentar saja, setelah itu aku kembali tersadar kalau situasinya masih tetap sama, sendirian di rumah.

***


Detik berganti menit berjalan sangat lambat, membuatku harus bersabar menunggu pagi tiba. Hanya itu yang aku bisa.

Perasaan cemas semakin lama semakin tinggi, rasa takut semakin menebal. Semoga perasaanku salah, karena sepertinya cekam malam belum selesai.

Memandang ke kamar depan dan kamar tengah yang pintunya terbuka, mengobati kecemasan khawatir ada sesuatu di dalamnya.

Ternyata, bukan dua kamar itu yang harusnya aku cemaskan, tapi ruangan belakang.

Pada detik itu, teror dimulai..

Tiba-tiba lampu petromak mati total, ruang tengah menjadi gelap, penerangan seadanya hanya bergantung dari cahaya lampu templok dari dalam kamar.

Tuhan, aku semakin ketakutan..

Aku hanya diam duduk gak berani beranjak berdiri. Suasananya sangat mencekam, hujan deras yang sudah jadi gerimis semakin menambah syahdu.

"Creek, creek, creek.."

Suara itu tiba-tiba muncul, suara yang sudah sangat aku kenal, suara yang biasanya menandakan kehadiran sosok yang sangat aku takutkan..

"Creek, creek, creek.."

Sekali lagi terdengar, bersumber dari ruang belakang, antara dapur atau kamar mandi.

Aku gak berani untuk melihat langsung ke ruang belakang yang gelap itu, gak berani. Lebih memilih untuk menundukkan kepala, dan membaca doa sebisanya.

"Creek, creek, creek.."

Entah sudah bunyi yang keberapa kalinya, akhirnya secara reflek aku menoleh ke sumber suara..

Benar dugaan, dalam keremangan cahaya aku melihat ada pocong yang sedang berdiri tegak, di lorong antara dapur dan kamar mandi..

Dia diam berdiri dengan balutan kain kafan kusamnya.

Terpaku, aku gak bisa memalingkan pandangan dari sosok pocong itu.

Menangis kecil, tubuhku semakin gemetar ketika pocong mulai bergerak perlahan, berjalan mendekat ke tempat di mana aku sedang duduk mematung ketakutan.

Sangat lambat, sepertinya waktu akan berhenti berputar, sampai akhirnya sosok pocong sudah benar-benar berdiri di hadapan, kami hanya berjarak desahan nafas.

Wajahnya hitam legam, dengan mata yang membentuk garis putih, sungguh sangat menyeramkan..

"Ya Allah, tolong aku.." Menangis dalam diam aku meminta pertolonganNya.

Dalam situasi yang amat sangat mengerikan itu, tiba-tiba pintu depan terbuka.dengan sendirinya, pintu yang letaknya persis di sebelahku yang sedang duduk.

Entah dapat kekuatan dari mana, akhirnya aku mampu berdiri untuk lari ke luar.

Setelah berada di luar, aku langsung menyalakan motor, lalu mengendarainya, pergi dari rumah.

Malam itu, aku membelah perkebunan karet, menuju rumah Amri di kota.

***


Pagi-pagi sekali, aku pulang dari rumah Amri menuju perkebunan, dengan niat untuk bekerja seperti biasanya.

Sungguh malam tadi sangat menyeramkan..

Singkat cerita, sesampainya di rumah, aku menemukan Pak Lurah sedang duduk di teras.

"Kamu dari mana Wahyu? Pak Heri ke mana?"

Jadi begini, karena khawatir dengan nasib Pak Heri, pagi-pagi sekali pak Lurah mampir ke tampat kami. Tapi dia menemukan rumah dalam keadaan kosong.

Dia bilang, kalau Pak Heri sudah pulang dari rumahnya sejak malam tadi, setelah acara selesai.

"Aduh, Pak Heri ke mana ya Pak, dia belum sampai juga di rumah. Saya tadi malam menginap di rumah teman, di kota."

Mendengar itu, Pak Lurah mengajakku dan beberapa pekerja untuk mencari Pak Heri, menyisir perkebunan dan hutan di belakangnya.

Singkat cerita, akhirnya kami menemukan motor Pak Heri terparkir di depan bangunan kosong di tengah hutan, Pak Heri berada di dalam bangunan itu.

Alhamdulillah, beliau baik-baik aja, tapi memiliki cerita seram sendiri, kenapa sampai terdampar di tengah hutan seperti itu.



NB
Diubah oleh sharma156
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 23 lainnya memberi reputasi
24 0
24
Lihat 5 balasan
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
15-01-2020 19:40
Balasan post sharma156
emoticon-2 Jempol
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 19:46
Quote:Original Posted By onenkyess
Gk takut bang?? emoticon-Bingung


Waktu itu nyali lg gede jd gak ada perasaan takut 😎
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
15-01-2020 19:47
Balasan post sharma156
Lanjut non
Yg mana aja gpp
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sharma156 memberi reputasi
2 0
2
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
15-01-2020 19:49
Balasan post cos44rm
@cos44rm aduh om kok gw dijadiin umpan
Kenapa ga tanya langsung sama non nya om emoticon-Ngakak emoticon-Ngacir
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
15-01-2020 19:49
Quote:Original Posted By Reagle
Lanjut non
Yg mana aja gpp


Gk bisa harus pilih . .biar gw gk bingung, kalo bingung jadi males emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan Reagle memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
RUMAH HANTU DI PERKEBUNAN KARET (Rhdp)
Lapor Hansip
15-01-2020 19:52
Balasan post sharma156
Yaudah gw pilih non aja emoticon-Ngakak
Ntar gw pilih itu non bilang terserah
Pilih ini terserah jg
Jd ngikut aja non
Yg penting diceritain semua emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan dodolgarut134 memberi reputasi
2 0
2
Halaman 47 dari 70
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jerat-iblis-cerbung-part-2
Stories from the Heart
sekeping-hati-anita
Stories from the Heart
unwanted-pregnancy
Stories from the Heart
cerpen-pesan-di-atas-nisan
Stories from the Heart
salam-dari-surga
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
senja-di-penghujung-kisah
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia