Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
36
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5df0a69c88b3cb08c80f4da6/selirih-senandung-ibu-sekilas-cahayamu-tersembunyi-di-balik-gemuruh-waktu
Hujan yang tak kunjung datang, membuat malam terasa panas. Diam-diam tubuhku mulai basah oleh keringat. Meski demikian hati ini terasa dingin dan ngilu, teringat seseorang yang telah lama pergi. Namanya hanya dikenal oleh keluarga dan teman-teman dekat. Dalam sejarah kehidupan yang panjang dan berisi catatan dari ratusan juta, bahkan milyaran insan, kisah hidupnya pun terkubur di antara sekian ba
Lapor Hansip
11-12-2019 15:19

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu Tenggelam Dalam Gemuruh Waktu. [TRUE STORY]

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
gbr diambil dr : karyapemuda.com

Hujan yang tak kunjung datang, membuat malam terasa panas. Diam-diam tubuhku mulai basah oleh keringat. Meski demikian hati ini terasa dingin dan ngilu, teringat seseorang yang telah lama pergi.

Namanya hanya dikenal oleh keluarga dan teman-teman dekat. Dalam sejarah kehidupan yang panjang dan berisi catatan dari ratusan juta, bahkan milyaran insan, kisah hidupnya pun terkubur di antara sekian banyak kisah hidup insan lain-nya. Perlahan terlupakan seiring dengan waktu dan beralihnya generasi.

Saat kematian-nya aku pun tak sempat menghantar-nya pergi, dimakamkan di sebuah desa kecil yang sampai sekarang-pun tak pernah aku kunjungi lagi.

Mungkin rasa bersalah yang membuatku menuliskan kisah ini.

Mungkin rasa tak rela ketika dia pergi tanpa meninggalkan sedikit pun catatan tentang dirinya sendiri, yang membuatku menuliskan kisah ini.

Kapan tepatnya dia dilahirkan, aku sendiri tidak tahu, tapi dia besar di masa Indonesia masih dikuasai oleh Belanda. Lahir dari seorang Cina perantauan, tumbuh dewasa di masa penjajahan Belanda yang disusul penjajahan Jepang, dia lebih banyak bersahabat dengan teman-teman sepermainan-nya yang berkulit lebih gelap dan kelopak mata yang lebih lebar. Jiwanya bebas merdeka, tak pernah bisa diam di rumah, membuat dia berkenalan dengan berbagai macam orang.

Di masa perjuangan melawan Belanda, dia pun ikut membantu teman-temannya yang saat itu bergerilya. Di saat ada sekelompok orang Cina yang dipersenjatai oleh Belanda untuk menjaga keamanan, dia justru terlibat dalam sebuah serbuan untuk merebut senjata-senjata tersebut.

Tak ada korban jiwa dalam serbuan itu, toh desa tempat mereka tinggal hanyalah sebuah desa kecil yang tidak penting dalam gambaran besar sebuah Indonesia.

Antara pejuang yang bergerilya, dan Cina-Cina yang dipersenjatai Belanda pun, sebenarnya saling mengenal sejak mereka kanak-kanak. Dengan kepandaian-nya membujuk, senjata-senjata itu pun kemudian diserahkan kepada pejuang-pejuang Indonesia tanpa perlawanan.

Seandainya tidak ada yang namanya pengkhianat, mungkin ceritanya akan terlalu kering untuk diceritakan.

Tidak perlu menyebut nama-nama mereka, termasuk nama si pengkhianat ini, karena kisah mereka juga sudah lama berlalu, yang pasti dia inipun ditangkap dan dipenjarakan tentara-tentara Belanda. Di bawah tekanan dan siksaan yang berat, dia tetap melindungi mereka yang bergerilya. Satu kali teman-temannya itu menyerang kantor polisi tempat dia ditahan, berusaha menyelamatkan mereka yang berada dalam penjara, namun usaha itu gagal.

Hari itu selembar kertas kecil beredar di antara penghuni penjara, dan di saat yang sudah ditentukan pejuang-pejuang Indonesia menyerang penjara kecil itu. Di antara desingan peluru, penghuni penjara itu pun merangkak berhamburan keluar. Hanya tersisa beberapa jauhnya dari kebebasan, namun suratan takdir tak menghendaki dia lepas hari itu. Bala bantuan datang dan pejuang-pejuang kita pun terpaksa mundur kembali ke hutan. Beberapa orang penghuni penjara berhasil lolos, sementara dia dan yang lainnya harus rela menjadi bola, bagi kaki-kaki tentara Belanda yang melampiaskan kekesalannya.

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
gbr ilustrasi diambil dari : www.kitlv.nl


Namun kesabaran untuk menanti dalam gelapnya penjara, bukan penantian yang tanpa akhir, karena Agresi Militer Belanda yang kedua itu akhirnya berakhir dengan kemenangan Indonesia.

Bebas dari penjara dengan fisik lemah, namun dengan kehormatan yang tak ternoda. Meski kondisi fisiknya membuat dia gagal mengikuti jejak sahabat-sahabatnya yang lain, yang ditarik masuk ke dalam TNI, pemerintah tidak lupa akan jasanya.

Selembar surat pengakuan, yang sekaligus sebagai bukti untuk menarik bantuan dari pemerintah setiap bulannya, dia dapatkan.

Hanya saja bukan itu yang dia mau, diam-diam surat itu dia bakar dan ketika adik kandung-nya bertanya, dia menjawab, "Malu aku dikata pejuang, padahal aku tidak pernah ikut berperang melawan Belanda."

Adiknya tahu, kakanya menolak untuk ikut bergerilya karena mengkhawatirkan ayah mereka yang sudah tua. Jika dia saat itu ikut lari ke dalam hutan dan bergerilya, yang dia khawatirkan adalah Belanda mungkin justru datang dan membawa pergi ayahnya.

Kemerdekaan Indonesia tidak menjadi akhir dari ceritanya.

Jiwa sosialnya tidak berhenti ingin mengabdi, setelah selesai dengan Belanda, dia beralih menjadi sukarelawan untuk mengajar baca dan tulis, bagi anak-anak petani yang tidak mampu.

Melihat kesenjangan antara buruh petani dan pemilik tanah, jiwanya pun berontak. Keusilan-nya di masa kecil, rupanya belum juga sembuh. Tak jarang dia akan bersembunyi di dalam cikar (pedati yang ditarik lembu) pembawa beras yang ditimbang oleh cukong pemilik tanah. Lalu cepat-cepat lari, setelah berat pedati itu dicatat.

Sebuah kehidupan sederhana yang diwarnai petualangan-petualangan kecil, tentu tak lepas dari romansa dan akan menjadi dongeng penghantar tidur, jika tidak terjadi gejolak di tahun 1965.

Ketika kelam menyelimuti langit negara ini dan anyir baru darah membasahi tanah ibu pertiwi. Ketika setan-setan berwajah manusia mengail di air keruh. Ketika yang baik dan yang jahat, sulit untuk dibedakan. Ketika gelap menutup mata dan hati.

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
gbr ilustrasi diambil dr : www.businessinsider.com

Kedekatannya dengan buruh petani membawa petaka, namanya ikut tertulis dalam sebuah daftar. Satu di antara ratusan, bahkan mungkin ribuan nama lain, yang darahnya mewarnai aliran sungai dan kuburnya beramai-ramai tanpa tanda.

Tapi dalam hidup, roda karma selalu berputar, sebab dan akibat bagai rantai yang tak terputus. Kebaikan yang membawa dia tertulis dalam daftar, kebaikannya pula yang menggerakkan hati beberapa orang untuk memberi bisikan dan dia pun selamat. Meski harus lari jauh merantau dari desa tempat dia dilahirkan. Desa tempat dia mengenal persahabatan dan cinta, pengkhianatan dan kebaikan.

Demikianlah dia menghabiskan sebagian besar usianya dan menua dalam perantauan.

Namanya tidak tertulis dalam sejarah. Kisahnya pun hanya sedikit orang yang tahu, dan semakin lama semakin sedikit yang tahu. Meski dia pun tak pernah merasa nama dan kisah hidupnya perlu diingat.

Lagipula, mungkin ada jutaan orang seperti dirinya. Berkarya dalam sepi, digerakkan hati, tanpa menghitung untung dan rugi. Tak cukup cakap, untuk bermain dalam panggung yang besar, mereka puas dengan menyumbangkan sedikit apa yang mereka punya untuk negara dan bangsa, untuk sesama saudara, tanpa memandang apakah dirinya itu seorang Cina atau pribumi.

Sampai akhirnya waktu pun berkata, "Sudah."

Dan akhirnya dia dikuburkan di desa yang dulu harus dia tinggalkan. Apakah mereka yang sudah berpulang masih merasakan rindu? Ketika tanah itu ditaburkan menutupi jasadnya, adakah dia tersenyum?

Akhirnya dia kembali ke pelukan ibu pertiwi, pada tanah yang dia cintai dan rindukan.

Dia hanya satu dari ribuan, jutaan, atau bahkan mungkin puluhan juta,  orang yang berkarya bagi negeri tanpa namanya pernah kita kenal. Tak ada sanjungan, tak ada kenangan, seperti angin sejuk yang berhembus lewat, seperti senandung ibu yang menghantar kita tidur nyenyak.

Sesaat yang lalu dia, mereka, ada. Sesaat kemudian mereka pun menghilang, berpulang.

Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
ilustrasi diambil dr : tripsavvy.com


Sumber referensi : Pertemuan pribadi dengan "dia" yang diceritakan dalam tulisan ini dan keluarga-nya.

Kisah ini kisah nyata, meski tak bisa dikatakan sebagai sebuah tulisan sejarah, hanya sebuah cerita dari mereka yang pernah merasakan masa-masa ketika negara kita ini penuh gejolak.

Harapan saya, semoga kiranya di masa, di mana semua perbuatan dan perkataan, sepertinya harus di-viral-kan agar mereka jadi bermakna, masih akan ada insan-insan, seperti "dia" dalam cerita ini.

Yang dalam diam, terus berkarya bagi sesama.
Yang berbakti bagi negeri, tanpa banyak ber-promosi.
Yang hatinya penuh kehangatan, yang bahagia-nya tatkala meringankan beban sesama.

Tak perlu ijazah, tak perlu prestasi, sebuah senyuman, sedikit bantuan, asalkan lahir dari hati yang rela.

Hati yang mencinta.

Bukan hidup yang dipenuhi doa permohonan, tapi hidup yang menjadi jawaban bagi doa sesama.
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tuffinks dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 13:15
wow luar biasa dari paragraf satu sampai akhir gak bosen dibaca...ngalir bgt tanpa paksaan .keren om....bgt kerennnnnnn lima jempolllllll

dan banyak bgt nasihatnya ..pol kerennnnnnnnn
profile-picture
profile-picture
superman7878 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 13:18
Quote:Original Posted By delia.adel
wow luar biasa dari paragraf satu sampai akhir gak bosen dibaca...ngalir bgt tanpa paksaan .keren om....bgt kerennnnnnn lima jempolllllll

dan banyak bgt nasihatnya ..pol kerennnnnnnnn


Tq del, dah lama ga dpt HT nih. Dpt HT pun susah lewat 1000

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
0 0
0
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 13:23
Mantap, Gan. Mereka adalah bukti pahlawan sejati.
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 14:05
Quote:Original Posted By tityann
Mantap, Gan. Mereka adalah bukti pahlawan sejati.


Tq gan, banyak orang2 kayak mereka. Cm ga pernah ter-expose ama media.

Dan mmg bisa dibilang peran mereka dlm sejarah jg ga besar, tp dr segi pengorbanan mereka sebenarnya ga kalah dgn pahlawan2 yg perannya besar. Apalagi kalau dibandingkan, antara pengorbanan dan apa yang mereka dapatkan dr negara.

Jd ga salah kalau tiap 17an, ada penghormatan khusus buat para veteran.
profile-picture
profile-picture
tikusil dan tityann memberi reputasi
2 0
2
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 14:09
Quote:Original Posted By lonelylontong
Tq gan, banyak orang2 kayak mereka. Cm ga pernah ter-expose ama media.

Dan mmg bisa dibilang peran mereka dlm sejarah jg ga besar, tp dr segi pengorbanan mereka sebenarnya ga kalah dgn pahlawan2 yg perannya besar. Apalagi kalau dibandingkan, antara pengorbanan dan apa yang mereka dapatkan dr negara.

Jd ga salah kalau tiap 17an, ada penghormatan khusus buat para veteran.


Bener, Gan. Ane setuju. Pahlawan yang berjuang tentu bukan hanya mereka yang kita kenal, tapi ada banyak.
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 14:17
Quote:Original Posted By tityann
Bener, Gan. Ane setuju. Pahlawan yang berjuang tentu bukan hanya mereka yang kita kenal, tapi ada banyak.


Dan buat yg non-pri, moga2 jg jadi penyemangat.

Kdg krn baca berita, lihat situasi, dst. Nasionalisme jd menurun, pdhl justru di situ ujian-nya.

Ketika bisa teguh memegang prinsip, tanpa terpengaruh situasi di sekitar.
profile-picture
tityann memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 14:27
Quote:Original Posted By lonelylontong
Dan buat yg non-pri, moga2 jg jadi penyemangat.

Kdg krn baca berita, lihat situasi, dst. Nasionalisme jd menurun, pdhl justru di situ ujian-nya.

Ketika bisa teguh memegang prinsip, tanpa terpengaruh situasi di sekitar.


Aamiin. Sekarang bagaimana kita mengedukasi para penerus bangsa untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Dan harus dimulai sejak dini.
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 14:43
Quote:Original Posted By tityann
Aamiin. Sekarang bagaimana kita mengedukasi para penerus bangsa untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Dan harus dimulai sejak dini.


Dr segi pendidikan, selama ini nasionalisme baru dibangun dgn menceritakan sejarah yg gemilang.

Tp siswa kurang diajak ber-imajinasi, ttg masa depan yg gemilang. Diajak membayangkan dirinya sbg penyumbang prestasi.

(Mungkin ya, cmiiw)

Di lain pihak, susah utk membangun nasionalisme, jika prestasi bangsa scr internasional mmg krg memadai.

Atlet2 yg bisa mengangkat nama bangsa, justru sering terlupakan pembinaan-nya.

Seringnya justru isu tak sedap ttg suap-menyuap dan atlet titipan. Pembinaan dan pencarian bakat jg kurang ter-ekspos.

Pdhl prestasi olahraga di tingkat internasional adlh salah satu cara utk meningkatkan nasionalisme.

emoticon-Bingung
profile-picture
tityann memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
13-12-2019 14:49
Quote:Original Posted By lonelylontong
Dr segi pendidikan, selama ini nasionalisme baru dibangun dgn menceritakan sejarah yg gemilang.

Tp siswa kurang diajak ber-imajinasi, ttg masa depan yg gemilang. Diajak membayangkan dirinya sbg penyumbang prestasi.

(Mungkin ya, cmiiw)

Di lain pihak, susah utk membangun nasionalisme, jika prestasi bangsa scr internasional mmg krg memadai.

Atlet2 yg bisa mengangkat nama bangsa, justru sering terlupakan pembinaan-nya.

Seringnya justru isu tak sedap ttg suap-menyuap dan atlet titipan. Pembinaan dan pencarian bakat jg kurang ter-ekspos.

Pdhl prestasi olahraga di tingkat internasional adlh salah satu cara utk meningkatkan nasionalisme.

emoticon-Bingung



Sekarang, pada ogah-ogahan belajar sejarah. Seperti yang agan katakan, mereka hanya diberikan cerita itu pun disuruh baca. Nggak ada detail seperti apa kejadian sejarah yang sebenarnya yang akan membangun semangat anak bangsa.

Nah, untuk yang berprestasi di bidang olahraga, seni dan sebagainya, juga jarang terekspose. Padahal, mereka bisa jadi contoh bagaimana bentuk pengabdian untuk negara di era modern.
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
14-12-2019 13:23
Wah terharu ane bacanya emoticon-Toast
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
14-12-2019 13:44
Quote:Original Posted By tikusil
Wah terharu ane bacanya emoticon-Toast


Waduh, terima kasih bgt gan buat pujiannya.
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Soale sedih jg ane, sempet jd HT, tp nginjek 1000 view aja nggak. Wkwkwkwk.

Tp nggak deh, kl view dikit, artinya masih hrs banyak latihan nulis lg.
:goyang
profile-picture
6elek memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
14-12-2019 18:19
luar biasa pasti sosok dalam cerita ini. Pahlawan sejati
0 0
0
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
14-12-2019 19:12
Quote:Original Posted By TaraAnggara
luar biasa pasti sosok dalam cerita ini. Pahlawan sejati


Orangnya sendiri ga ngerasa begitu gan. Kalau ketemu dan ngobrol2, orangnya biasa banget.

Dan mmg jg bkn orang sekolahan, atau yg kesannya terpelajar.

Ga banyak nasehatin jg, jd biasa banget gt. Aplg krn ane makan bangku kuliahan, kayaknya buat dia ane lbh hebat dr dia.

Pdhl kalau dr pengabdian, keberanian dan jiwa sosial ane kalah jauh.
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
TaraAnggara memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
14-12-2019 19:22
Quote:Original Posted By lonelylontong
Orangnya sendiri ga ngerasa begitu gan. Kalau ketemu dan ngobrol2, orangnya biasa banget.

Dan mmg jg bkn orang sekolahan, atau yg kesannya terpelajar.

Ga banyak nasehatin jg, jd biasa banget gt. Aplg krn ane makan bangku kuliahan, kayaknya buat dia ane lbh hebat dr dia.

Pdhl kalau dr pengabdian, keberanian dan jiwa sosial ane kalah jauh.


Sangat rendah berarti ya gan
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
14-12-2019 20:48
Quote:Original Posted By TaraAnggara
Sangat rendah berarti ya gan


Yup, tp gmn ya, kan rendah hati tuh mcm2.

Ada orang sombong, pura2 rendah hati.

Ada orang tau dirinya hebat, tp rendah hati, tau menghargai orang lain.

Nah, kl dia ini kesannya mmg ga pernah merasa yg dia lakukan itu hebat.
profile-picture
TaraAnggara memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
15-12-2019 00:57
Menginspirasi..

Tp kenapa mesti ada perang in the first place ya?
0 0
0
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
15-12-2019 01:06
sejarah itu misteri gan.
ane suka threadnya mantepemoticon-2 Jempol
profile-picture
mamaproduktif memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Selirih Senandung Ibu, Sekilas Cahayamu, Tersembunyi di Balik Gemuruh Waktu.
15-12-2019 01:10
Waaah... Keren gan...
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pamer-calon-bojo
Stories from the Heart
partitur-partitur-sri
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
relakan-aku
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia