Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
642
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd27c6b018e0d6489170ace/rekan-kerja
Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan dibelakangnya sambil mengomel tiada henti. Yaaa, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali.....
Lapor Hansip
18-11-2019 18:11

Rekan Kerja

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Rekan kerja

Prolog

Pesan terakhir almarhum Ayah Dani kepada mantan rekan kerjanya, membuat Dani keterima kerja di sebuah perusahaan benefit dengan cuma-cuma. Namun, ada suatu kesalah pahaman yang membuat ia selalu bersitegang dengan Rian, rekan kerjanya satu bagian. Setiap hari selalu saja ada masalah di kantor. Tak hanya itu, ia juga terjebak dalam hubungan rumit bersama teman semasa kuliahnya. Sementara di lain sisi, ia tak sengaja menaruh hati dengan calon tunangan Rian. Akankah Dani mampu melewati semua godaan itu?

Rekan Kerja adalah sebuah cerita (nyata) yang menceritakan perjuangan seorang anak muda bernama Dani (nama disamarkan). Sosok pendiam, penyabar, tapi kepeduliannya sangat tinggi. Ia merasa bahwa dirinya adalah pengaruh utama yang bertanggung jawab atas keluarganya. Segala hiruk-pikuk kehidupan dan masalah yang terjadi di sekitarnya tak luput selalu menjadi beban pikiran, tapi ia selalu tegar bagaimanapun keadaannya, karena ia merasa harapan dan kebaikan selalu ada di setiap jalan.

Cerita ini sangat menarik dan kupastikan kalian akan selalu terbawa untuk mengikutinya, karena jalan ceritanya lain daripada yang lain. Yuk, cekidot!


INDEKS


Sekuel 'Rekan Kerja'


(Part 1)

Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan di belakangnya sambil mengomel tiada henti. Ya, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali ....

Tiba-tiba, dari dalam rumah ibu berseru memanggilku dengan terburu-buru. Di tangannya tergenggam sebuah ponsel milik ayah.

"Dan, Dani ... ayo diangkat cepat! Atasan ayah telpon."

Atasan? Bukannya ayah sudah pensiun setahun yang lalu. Kira-kira ada urusan apa?

"Angkat aja lah, Bu ... mungkin mau ngucapin bela sungkawa. Kan, baru sebulan ayah meninggal," tukasku.

"Ayolaaahh, angkat! Ibu takut gak bisa ngomong."

Akhirnya, dengan gugup kucoba mengangkat telpon darinya.
"Hallo!" seruku.

Kami mengobrol sepuluh menitan.

Intinya, Pak Dika memintaku datang ke kantor besok. Aku bingung dan heran, ada apa aku disuruh ke kantor?
Karena paksaan dari ibu, akhirnya aku memutuskan menemuinya keesokan hari.

****

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor, menuju bilik ruangan paling pojok. Aku hafal betul ruangan ini, karena sudah pernah magang jaman kuliah dulu. Ayahku yang dulu memintaku magang di tempat ini. Dia berharap aku bisa meneruskan bekerja di sini sepertinya, di salah satu pabrik benefit yang ada di kota kami. Alasannya, selain dekat dengan rumah, gaji pun sudah jelas jika karyawan. Selain itu pabrik ini memang memberi fasilitas tunjangan cukup menarik.

Ketika mau memasuki ruangan Pak Dika, sontak mataku tertuju pada tembok di sebelahku. Terlihat foto almarhum ayah terpampang jelas pada bingkai ukuran 10Rs itu. Dibawah bingkai foto itu bertuliskan "SUJIWO-Supervisor Gd.PM 09"
Wajah ayahku paling terlihat khas dengan kumis tebalnya, berjajar dengan beberapa puluh foto di sampingnya.

Ada rasa heran menyeruak dalam benak. Ayah bukan lagi supervisor di pabrik ini, kenapa fotonya masih saja dipasang? Bahkan foto teman-teman yang lainnya sudah berganti dengan posisi SPV yang baru.

Belum lama aku memandangi foto almarhum ayah, Pak Dika sudah menegurku dari dalam ruangannya. "Hei kamu yang di depan pintu! Kenapa terus berdiri disitu?"

Seketika aku langsung berbalik menghadap ke pintu semi-transparan itu. Mengetuk kecil pintu ruangannya, kemudian melangkahkan kaki pelan masuk ke dalam.

"Oohh, kamu ... yang saya telpon kemarin, ya? Anak Pak Sujiwo?" Pak Dika beranjak dari kursinya menyambutku.

Kusalami tangan Pak Dika seraya memperkenalkan diri, "saya Dani, Pak."

"Ya,ya, ayo duduk!"

Mendengar itu, aku pun mengambil duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.

"Heeeemm, kamu anak Pak Sujiwo?" tanyanya lagi dengan raut wajah seperti tak percaya.

"Ya, Pak. Benar." Kujawab tegas pertanyaan Pak Dika dengan seulas senyum. Lelaki itu kemudian manggut-manggut menatapku. "Kamu yang baru wisuda bulan kemarin itu, kan? Yang besoknya ayah kamu meninggal?"

"Ya, Pak. Benar."

"Hem, yaaa, yaaa ...." Pak Dika beranjak lagi dari tempat duduknya, mengambil sebuah buku bersampul hitam tebal dari rak di belakangnya. Dia buka halaman pertama, lalu menyodorkannya padaku.

"Itu kenangan foto-foto ayah kamu semenjak bekerja di sini, banyak. Saya merasa baru kemarin ayah kamu pamit berhenti kerja, kok tahu-tahu sudah meninggal. Kena apa?" tanya Pak Dika sembari lebih mendekatkan wajahnya padaku.

"Saya kurang tahu, Pak. Ayah saat itu sedang melayani pembeli di toko. Saya tak tahu persis kejadian ayah saya jatuh di dalam toko itu, tahu-tahu ketika saya masuk, saya sudah menemukan ayah saya jatuh sekarat."

"Lho? Memang ada riwayat penyakit apa? Jangan-jangan jantung?"

"Kemungkinan vertigonya kambuh, Pak. Kami sekeluarga telat menolong. Tapi, entahlah ... sebelumnya pernah mengeluh sama tetangga, jika dadanya nyeri. Banyak juga yang bilang jantung, karena jatuhnya menelungkup."

Pak Dika kembali manggut-manggut. Dia bersidekap sembari menyandarkan punggungnya di kursi duduknya.

"Mengagetkan sekali tentunya, ya. Ya sudah, saya sedikit mau cerita. Jadi, begini ... seminggu sebelum ayahmu wafat, dia telepon saya. Dia bilang kamu mau wisuda, lalu dia titipkan kamu pada saya." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, sambil memungut album di depannya, lalu membuka-bukanya.

".... sebenarnya saya tak bisa asal nerima karyawan seperti ini. Tapi, karena ini amanah terakhir beliau, dan saya yakin, kamu menuruni sifat tegas seperti bapak kamu. Jadi ... kamu besok kesini ya, berpakaian rapi. Seragam ayah kamu masih ada, kan? Dipakai saja!"

"Lho, Pak? Maksudnya ... saya bekerja di sini?" Mataku membelalak seolah tak percaya dengan berita yang barusan kudengar.

"Iya. Kamu besok mulai kerja. Sudah, belakangan saja lamarannya kalau kamu tak sempat, yang penting kamu masuk dulu."

Sontak kedua netra berbinar kala mendengar perkataan itu. Ini benar-benar kejutan di pagi hari.
Tanpa banyak pertimbangan, keesokannya aku pun masuk jam delapan pagi berseragam lengkap sesuai yang diminta.

Sungguh keberuntungan bagiku. Disaat semua berlomba-lomba mengikuti tes agar bisa masuk di perusahaan benefit ini, aku malah dengan mudahnya bisa langsung bergabung sebagai karyawan. Aku ingat pesan ibuku, agar selalu bisa bekerja dengan baik, berteman dengan semua karyawan dengan baik, menunjukkan kinerja yang baik, dan bisa menjaga tata tertib perusahaan dengan baik. Aku tahu, semua ini karena almarhum ayah. Kalau bukan karena ayah, tak mungkin aku bisa segampang ini masuk perusahaan.

Di saat briefing, Pak Dika mulai mengenalkanku pada beberapa karyawan yang lain. Kemudian aku ditunjuknya sebagai admin, dan di training oleh salah seorang admin lawas bernama Rian.

Rian ....
Ya, aku mengenalnya. Dia kebetulan juga tetangga desa. Umurnya selisih dua tahun di atasku. Ayahnya pun bekerja di perusahaan ini, namanya Pak Heri. Pak Heri dulu juga teman satu bagian almarhum ayah. Dia juga seorang Supervisor.

Kuikuti langkah santai Rian menuju sebuah ruangan. Dia menyuruhku masuk lebih dulu.

"Ruangan ini khusus admin. Nah, adminnya kita berdua. Itu tempatmu!" Rian menunjuk sebuah meja di paling belakang.

"Terima kasih," ucapku.

"Jangan duduk di sana dulu! ambil saja kursinya, bawa kemari! Lihat caraku bekerja di sini, kalau sudah paham, baru kerjakan di mejamu," tukasnya.

Tanpa menjawab, segera kuambil kursi duduk di meja belakang, dan meletakkannya di samping kursinya.

Rian mulai mengoperasikan komputer, seraya menunjukkan berkas-berkas di mejanya.

"Ini berkas sebelum di-input, kamu ambili dulu dari beberapa gudang yang kamu pegang. Kamu bawa motor yang disediakan, jangan lupa pake helm keselamatan warna kuning yang ada di luar itu!" Ia menunjukkan sebuah helm yang seperti helm pekerja proyekan.

"Cara nginputnya gini ...." Ia lalu mulai mencontohkan cara bekerja dengan secarik kertas yang dipegangnya, dan aku tentu mengamati setiap penuturan Rian dari awal sampai akhir.

"Sudah, kamu kerjakan berkasku dulu. Kan, belum dibagi sama Pak Dika, kamu megang gudang mana saja" ucapnya lagi sembari menyodorkan setumpuk berkas setebal kira-kira seratus halaman lebih itu ke tanganku. Lalu dia beranjak dari duduknya seraya berucap, "Aku tinggal dulu."

"Lho, Mas? Ini harus selesai hari ini?"

"Nggak harus. Kalau kamu sanggup ya lebih bagus, sih."

Seusai berkata begitu, Rian pergi berlalu dari ruangan.

Kupandang tumpukan berkas di tanganku kali ini. Sebanyak ini mana mungkin selesai dalam satu hari? Namun, kuoptimiskan diriku sendiri bahwa 'AKU BISA!' Akhirnya kupungut secarik kertas hadapan, dan mulai mengerjakan tugas.

-----

Jam istirahat ....

"Siang, Mas!"
Suara seorang lelaki tua paruh baya menegurku dari belakang. Ia mengambil duduk di sebelahku sambil meletakkan bekal makannya yang terbungkus kertas minyak itu.

"Podo mbontote, Mas. Enak masakane bojo (sama bawa bekalnya, Mas. Enak masakan istri)," Lelaki itu terkekeh padaku seraya membuka bekal yang dibawanya.

"Ya, Pak. Lebih hemat juga," balasku.

"Ngomong-ngomong, sampean anak Pak Wo, ya?"

"Pak Sujiwo."

"Lah, nggih.... Itu maksud saya. Orang di gudang semua manggilnya pak Wo,Mas. Eh, tapi wajahnya kok beda, ya?"

Aku tertawa lucu mendengar ucapan bapak itu. Memang, wajahku tirus,sama seperti ibu. Hidungku juga mancung. Kalau ayah berhidung pesek, wajahnya persegi, menurun ke kakak perempuanku.

Lelaki paruh baya itu lalu menceritakan tentang sosok ayah yang disegani para anak buahnya. Caranya bekerja, yang tak disukainya apa, dan banyak lagi yang lainnya. Sepertinya peran ayahku penting bagi yang lain, sehingga mereka semua merasa kaget dan sangat kehilangan saat mendengar ayah meninggal.

Tiba-tiba, bapak paruh baya ini menghentikan ceritanya saat seorang lelaki kebetulan melintas di depan kami.

"Itu tuh, si Bambang. Bocah ndablek! Banyak banget bikin kesalahan, tapi dibelain terus sama Pak Wo. Semua anak segudang gak ada yang suka, banyak mengeluh karenanya, tapi pak Wo selalu membelanya."

Aku terdiam sejenak memandang pria berwajah tirus dengan banyak jambang tak beraturan di wajahnya. Kali ini, akhirnya kulihat sendiri pria bernama Bambang itu. Ya, dulu aku sering mendengar namanya dari ayah. Di mata ayah, Bambang sebenarnya pekerja keras. Hanya saja hutangnya banyak di luar sana, yang kemudian membuatnya malas bekerja. Dia hampir di PHK, tapi ayah terus membelanya.

"Begitulah, Nak, kalau salah langkah sedikit. Semuanya hancur. Hutangnya banyak, rumah tangga berantakan, kerja seperti apapun tetap saja terasa malas nggak ada semangat. Karena apa? Karena dia merasa gajinya selalu kurang untuk menutup hutang. Makanya, ayah peringatkan kamu sebagai laki-laki, jangan sekali-kali mengenal judi, narkoba, ataupun bermain-main perempuan!" Aku ingat betul nasehat ayah saat itu.

Kulihat ID card yang tergantung di leher bapak sebelahku itu. Membaca namanya. Syaiful.

"Saya tadi lihat anaknya Pak Heri asyik merokok, Mas." Pak Syaiful menghentikan bicaranya, melempar kertas minyak pembungkus bekalnya tepat ke lubang kotak sampah.

"Ealah, Mas ... yang sabar satu bagian sama Mas Rian. Mentang-mentang anaknya Pak Heri, kerja sak enak'e dewe (kerja seenaknya saja)," ungkapnya lagi.

Hmmmmm ... seperti itukah? Aku tak seberapa akrab mengenalnya di rumah. Namun, kebanyakan temanku memang berkata dia anak yang sombong. Karena merasa anak orang kaya, bicaranya terlalu tinggi.
Ah, kalau cuma masalah gaya bicara, aku tak terlalu mempedulikan. Itu sudah karakter, dan aku tak selalu mengambil hati setiap perkataan orang yang terasa aneh.

Sorenya, aku pulang dengan badan yang begitu lunglai. Hari pertamaku bekerja sungguh capek luar biasa. Tak hanya duduk di depan monitor, tapi juga pergi ke sana- ke mari mengambil berkas dari satu gudang ke gudang yang lain, yang tak cukup sekali jalan. Terkadang ikut memeriksa truk besar masuk menurunkan barang mentah, memeriksa kode barcode, dan lain-lain. Sebenarnya tugasku tak serumit ini, tapi Rian berkata, Pak Dika yang memintaku seperti itu. Sekalian menghafal lokasi gudang A,B,C bagianku. Serta agar mengetahui proses keluar-masuknya barang.

Malam ini kuistirahatkan total badan, setelah ibu dan kakak menginterogasiku di hari pertama masuk kerja. Tak pakai mandi,tak pakai ganti seragam, langsung kupejamkan mataku kala itu juga ....

****

Pukul 08.30 WIB

Tak terasa sudah sebulan aku bekerja di perusahaan ini. Begitu senangnya saat aku menerima gaji pertamaku kemarin.
Kupastikan pertama kalinya aku pegang uang sebanyak itu.

Selesai menata berkas,kuhidupkan tombol On/Off komputer di hadapan. Sembari menunggu, kuambil dompet dari saku celana, mengeluarkan secarik foto. Yups, foto terakhirku bersama ayah saat aku wisuda. Di foto itu ada pula ibu, kakak perempuanku dan kedua anaknya.

Aku tersenyum memandang mereka dalam foto. Lalu, kuselipkan foto itu di meja kerjaku yang bertumpuk dengan kaca tebal. Wajah kedua orangtua terlihat tersenyum di foto itu, seolah bahagia. Kemudian, kualihkan pandangan kembali pada monitor. Sejenak, memilah-milah berkas di atas meja. Menyendirikan berkas yang sudah kuinput dan yang baru kuterima.

Tak lama Rian masuk ke ruangan. Matanya masih awas menatap gawai digenggamannya. "Gimana? Sudah kau kerjakan sampai mana?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun.

"Yang kemarin hampir selesai, Mas. Ini aku juga mau ngerjain yang baru kuambil."

Lelaki berkulit putih itu lalu berjalan ke arahku, menarik posisi monitor menghadap kepadanya.

"Ini tanggalnya rubah saja! Pakai tanggal kemarin." Ia mulai menggerakkan mouse. Mengganti angka 14 menjadi 12 di kolom yang menunjukkan tanggal.

"Emang gak apa, Mas, kalo nggak sama dengan yang di form?"

"Siapa yang mau lihat berkas segitu banyaknya? Yang pasti dilihat itu langsung di komputer," jawabnya enteng. Aku bergeming mendengar itu.

Rian pun kembali ke meja kerjanya, sambil menyalakan rokok. "Sudah, cepat kerjakan!" titahnya.

Memandang sekilas, membuat perasaanku sedikit gemas karenanya. Sedari awal aku bekerja, ia hanya menyerahkan berkas-berkasnya padaku. Yang dilakukannya hanya menatap gawai, main game online berjam-jam, dan berkas yang di mejanya hanyalah kamuflase untuk mengelabuhi Pak Dika atau Pak Heri yang muncul tiba-tiba. Jika pekerjaanku sudah selesai, baru dia tukarkan berkasnya itu dengan milikku. Aku merasa dia menjadikanku sebagai budak!

Ah, sudahlah! Aku ingat omongan kakakku, bahwa yang namanya kerja pertama kali, tentu wajib disuruh-suruh. Apalagi disuruh yang mentraining kita. Ini hanyalah sementara. Ini tak akan lama ....

"Gimana, Mas ... kerja satu bagian sama Mas Rian?" tanya Pak Syaiful padaku.

Beginilah, setiap jam istirahat Pak Syaiful selalu mendekatiku, bertanya-tanya.

Aku tersenyum dan berkata, "Biasa saja, Pak."

"Sing betah, Mas. (yang betah, Mas). Dia memang suka mentang-mentang karena ada bapaknya disitu."

"Nggih, Pak."

Kami tak lagi bercerita. Fokus melahap makanan masing-masing.

Seusai makan dan minum, aku langsung balik ke ruanganku.

Ketika kaki melangkah hendak memasuki ruangan, betapa kagetnya kedua netra saat menemui Pak Dika sudah berada di sana dengan raut wajah seperti kesal.

"Siang, Pak." Aku menyapanya sembari tersenyum.

"Sini, Mas!" Pak Dika melambaikan tangan padaku, yang akhirnya membuatku menghampirinya.

"Mas, kalau kerja itu yang jujur! Kalau di form ini bertanggal sekian, ngetiknya juga tanggal sekian. Tolong, ya ... ini sama saja melimpahkan kesalahan pada orang gudang. Saya dari kemarin marah-marah, lho, sama supervisornya. Saya pikir mereka yang lelet, ternyata samean yang gak bisa kerja dengan benar!"

"...." Aku tak bisa berkata.

"Kerja pertama-kedua, nginput molor gak masalah bagi saya, Mas. Ini kan udah sebulan, ya? Coba kontrol diri sendiri, Mas. Misal berkasnya ada seratus lembar, paling tidak selesai dua hari. Samean, kan, kerja berdua, Mas ... masa' satu orang pegang tujuh gudang saja, kerja sampai lima-enam hari?"

Aku menunduk. Bingung. Bagaimana bisa aku menjelaskan kalau selama ini yang bekerja hanyalah aku. Sementara Rian sibuk dengan HP-nya.

"Mas Rian training samean bagaimana, Mas? Apa memang tanggalnya disuruh ngerubah? Masalahnya, baru kali ini, lho, tanggal bisa salah."

Tiba-tiba, omongan Pak Dika membuatku tersentak. Baru mau membuka mulut, Rian datang membuka pintu. Matanya masih awas dengan ponsel di tangan, sehingga ia tak mengetahui ada Pak Dika di depannya.

"Mas Rian!" Tampaknya suara dari Pak Dika membuatnya kaget luar biasa. Rian segera menyaku HPnya dan menghampiri.

"Saya curiga dari awal, sudah saya duga kalau Mas Dani ini bekerja sendirian ...." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, beranjak dari kursi dan menghadapkan posisi berdirinya di antara kami.

"Kalau Mas Dani tak bekerja sendiri, mana mungkin dia bisa lelet seperti ini! Telat kirim form, mana dia sampai mengganti tanggal di komputernya. Ckckck ...." Pak Dika menggeleng-gelengkan kepala menatapnya.

Keringatku mulai bercucuran dingin. Sekilas kutatap Rian memicing sinis padaku.

"Bagaimanapun, kau yang salah! Mentraining bukan berarti melimpahkan kerjaanmu padanya. Bukankah sudah saya bagi, kamu pegang gudang mana saja? Kerjaan itu dikerjakan Mas Dani sendiri, jelas saja dia tak sanggup!" Suara Pak Dika mulai meninggi.

"Ayo, kamu ke ruangan saya! Saya panggil Pak Heri juga!"
Seusai berkata begitu, Pak Dika pun berlalu.

Wajah Rian mulai memerah. Ia menatapku awas, dengan napas yang memburu kesal.

"Awas kau!" Ancamnya kemudian.

Dia lalu pergi meninggalkan ruangan.

Kini tinggal aku sendiri di dalam ruangan. Kutelan ludah pahit, seiring dengan rasa cemas yang menggebu.
Wah, rasa-rasanya bakal meledak ini ....

(bersambung)
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 21 dari 33
Rekan kerja
06-12-2019 12:02
cek ombak akh emoticon-Angkat Beer
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
06-12-2019 13:24
Balasan post shirazy02
Quote:Original Posted By shirazy02


Dah dua kali kirim dua hari ini, lanjutannya tiga hari lagi ya! :tepar


Lagi program ya? emoticon-Wkwkwk
emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
06-12-2019 14:30
Quote:Original Posted By curahtangis
Lagi program ya? emoticon-Wkwkwk
emoticon-Ngacir


Ambigu nih, program apa emoticon-Malu
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
06-12-2019 17:27
permisi ... ada yang nungguin saya?? 😂😂
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lawanl95 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Rekan kerja
06-12-2019 17:28
Quote:Original Posted By shirazy02
permisi ... ada yang nungguin saya?? 😂😂


Lanjutkan gan
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
06-12-2019 17:46
Quote:Original Posted By shirazy02
permisi ... ada yang nungguin saya?? 😂😂


Iyaa,tukang panci dari tadi udah ketok ketok nggak dibuka...

emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
06-12-2019 18:21
Quote:Original Posted By shirazy02
permisi ... ada yang nungguin saya?? 😂😂


*Pijet²in kaki TS, biar cepet update lagi
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
06-12-2019 22:24

Rekan Kerja (part 22)

"Hari ini aku pamit mau pulang!"

Suara Mbak Diah tiba-tiba mengagetkan aku dan ibu yang ada di ruang tengah. Aku di meja makan, dan ibu di depan televisi.

Kutolehkan wajahku ke Mbak Diah. Ia sudah siap, berpakaian rapi, sambil menenteng sebuah ransel.

"Jange nangdi? (mau kemana)" Suara ibu lirih bertanya.

Mbak Diah melepaskan Boby dari gendongan. Ia menangis seketika, jatuh di pangkuan ibu yang tengah duduk melipat baju.

"Maaf, Bu. Aku sering menyusahkan ibu. Aku mau pamit pulang ke suami."

Wajah tenang ibu sepintas tampak begitu murka. Ibu melempar baju di tangan, meninggalkan pekerjaannya dan berpaling muka.

Mbak Diah menyeka air matanya dan berkata lagi. "Lebih baik makan hasil keringat suami sendiri, lauk seadanya, daripada terus menyusahkan ibu. Dia sudah bekerja, Bu, meski serabutan."

"Goblok! Lihat anak-anakmu! Makan seadanya itu makan apa? Trus jika suamimu kerja cuma sehari, besoknya mau makan apa? Belum sekolahnya anakmu. Apa Boby ada gizinya nanti pulang kesana? Tak jadi punya gizi cukup, malah ngurusin badan anaknya disana." Ibu ikut menangis, berceloteh tiada henti.

Sudah kuduga bakal begini nantinya.

Kulahap sarapan terakhirku, segera mengambil minum. Setelah itu beranjak dari duduk, menghampiri Mbak Diah dan ibu di depan tv.

"Bu, biarkan Mbak Diah pulang! Kinara tetap sekolah disini." ucapku.

"Iki yo ngunu, podo gobloke! (ini juga begitu, sama bodohnya)"

"Sssttttt!" Aku mendesis pelan, memperingatkan ibu untuk diam.

"Hilangkan rasa khawatir! Mbak Diah sudah dewasa. Jangan terlalu berat atas kepergiannya! Jangan mengajarinya untuk terus hidup bergantung. Nanti repot belakangnya! Lihatlah anaknya yang masih kecil-kecil, Bu. Kasihan! Mereka juga butuh figur seorang bapak. Siapa tahu, jika Surya ditemani anaknya setiap hari, ia lebih bersemangat mencari kerja. Ini juga untuk menyadarkan tanggung jawabnya!"

"Alah, aku jek gak percoyo blas karo dapurane Surya! (aku masih tak percaya sama sekali dengan Surya)"

"Nah, itu! Hilangkan sifat seperti itu, Bu. Itulah nantinya yang jadi penyakit. Kalau ibu mau sembuh, selalulah berpikiran positif. Mikir yang baik-baik aja, laaahh. Jangan terlalu dipikir buruknya! Omongan adalah doa, Bu. Lebih baik bicara yang positif saja."

Ibu diam tak membalas bicaraku.

"Surya sudah di depan?" tanyaku.

Mbak Diah mengangguk.

"Lalu, sudah pamit Kinara?" tanyaku lagi.

Ia mengangguk lagi, masih terisak. Aku jadi bingung sendiri. Kalau aku kerja, Kinar dijemput siapa?

Kutatap ibu yang masih menyingkur kesal, sementara kugiring Mbak Diah menuju depan.

"Sudah, pulanglah! Suamimu sudah jemput, kan? Soal ibu, tak usah khawatir, ibu urusanku," seruku sambil mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan.

"Ini simpan! Jangan sampai suamimu tahu, biar dia sadar kebutuhanmu. Ini buat jaga-jaga semisal Surya tak bisa ngasih uang padamu. Nanti dua-tiga hari kutelpon. Kalau butuh apa-apa, WA saja. Tapi, cepat hapus! Jangan sampai suamimu tahu!" pesanku.

Kuselipkan uang itu di kantong depan baju Boby, lalu kucium bocah lucu itu yang tengah tertidur.

'Selamat tinggal, Sayang!' aku berkata kecil dalam hati.

Akhirnya, mereka pergi.

Kembali aku melangkah ke ruang tengah, ternyata ibu sudah masuk ke kamarnya. Ia kunci pintu kamar dari dalam.

"Bu ...." Kuketuk pelan pintu kamar ibu. Tak ada jawaban.

"Doakan yang baik untuk anakmu. Anakmu bahagia, ibu juga merasakannya, bukan?" lanjutku lagi.

"Buaaahh, gak nguruuusss!!"

Hanya itu yang kudengar dari balik pintu.

Ah, sudahlah! Semua hanya masalah waktu. Nanti ibu akan menyadari sendiri. Kunyalakan rokok dari saku, menyesap pelan, mengepulkan asap dengan santai.

"Aku budal, Bu! (aku berangkat, Bu)" pamitku setengah keras.

*****

'Kinar biasae mulih jam piro? (Kinar biasanya pulang jam berapa)'

Kukirim chat ke kontak Mbak Diah. Berharap cepat dibalas, lupa kalau di daerahnya tinggal, minim sinyal. Hmmmmm, sampai lebaran monyet mana bisa kebaca, kalo nggak pas ia keluar dari kampung!

Seketika aku ingat Sefti. Coba, ah, dimintain tolong.
Baru mau nekan panggilan, lupa kalau lima langkah di depanku ada calonnya sedang sibuk bekerja. Oke, chat WA saja.

'Hy, Sef!' Iseng kucoba mengawali untuk menghubunginya.

Sudah terbaca. Tapi, tak dihiraukan!

'Maaf, ganggu. Kalau lagi tak sibuk, boleh minta tolong jemput Kinara pulang sekolah, gak? Mungkin jam sepuluhan pulangnya. Di SD depan lapangan itu. Kalau tak bisa, tak apa juga. Tapi bilang,ya? Biar aku nggak nunggu.'

Kukirim chat lagi padanya.

Sudah centang warna biru, tapi kutunggu-tunggu, tak jua ia membalas pesan. Sepertinya memang tak ada niatan untuk membalas. Ah, aku jadi tak enak sendiri menghubunginya duluan. Sepintas muncul rasa sesal dalam benak. Bodohnya aku ... sudah mengerti ia sedang menjauhi, kenapa masih juga mengharap.

Tring!

Nada barusan membuatku sigap menyambar gawai. Senyum seketika mengembang saat chatku dibalas juga olehnya.

'Boleh, aku nganggur, kok. Maaf, telat balas. Ini balasnya sambil jemur pakaian, ya.' Ia mengirim emoticon tersenyum di belakang kalimat.

Kukirim balik emoticon tersenyum. Lalu meletakkan kembali HP di meja. Puas rasanya.

****

Kukemasi beberapa form di meja, meletakkannya menjadi satu pada sebuah map. Tiba-tiba, telepon kantor berdering. Kutunggu saja Rian yang mengangkat, tapi ia tak juga beranjak dari duduknya. Akhirnya, aku yang datang menerima panggilan.

"Hallo!"

"Tolong berikan telepon untuk Pak Dani."

"Ya, Pak. Saya sendiri."

"Pak Dani ... anda ke ruangan Pak Heri sekarang, ya?"

Deg!

"Oh, iya, Pak."

"Segera, ya? Nanti jam rehatnya ganti jam satu. Nggak apa."

"Siap, Pak!"

Telepon kututup segera, dan kini jantungku berdebar begitu kencang rasanya. Seperti suara dari Pak Dika, tapi, kenapa bertemu di ruangan Pak Heri?

Sampai di depan ruangan Pak Heri, kuketuk pelan tiga kali pintu ruangan itu, lalu membuka perlahan.

Tampak ada Pak Heri, Pak Dika, dan Pak Feri di sana. Pak Feri duduk di kursi, sementara Pak Heri dan Pak Dika berdiri di antaranya. Kuanggukkan pelan kepalaku, setelah Pak Feri menyuruhku duduk di kursi yang disediakan.

"Halo, Pak Dani! Bagaimana kabarnya?" Pak Feri yang duduk di depanku, bertanya sembari terus menatap kertas di tangannya, kemudian menekan kepala bulpen, lantas memberi taken pada beberapa berkas tersebut.

"Baik, Pak," jawabku. Masih dengan perasaan deg-deg'an karena bingung dengan apa yang akan dibahas.

"Pak Heri, bisa minta tunjukkan kertas lamaran Dani yang kemarin mendaftar tes?"

Wajah Pak Heri langsung pucat mendengar pertanyaan itu. Ia lalu memeriksa lemari di sampingnya. Sementara aku masih terdiam di tempat.

"Dimana ya, Pak? Bingung juga ... kok bisa ya, surat lamaran Dani tak ada, padahal yang lainnya ada?" suara gugup Pak Heri terdengar jelas di telingaku. Sepintas, ia menatapku begitu lama, seakan ingin memperingatkanku agar tak macam-macam. Namun, langsung kubuang pandangan. Pura-pura tak tahu.

Hmmmm ... belaga amnesia si bapak, padahal surat lamarannya di kembalikan padaku kapan hari.

"Coba cari di tempat lainnya, Pak Heri! Siapa tahu terselip," Pak Dika mengusulkan.

"Sepertinya tak ada, Pak Dika. Yang saya pakai hanya rak ini, laci, dan loker itu," jawab Pak Heri sembari menunjuk loker di belakang Pak Dika pas.

"Pak, sudah, Pak! Tak usah dicari," ucap Pak Feri kemudian.

Pak Heri menghentikan pencariannya, kembali berdiri di samping rak dengan sorot mata kembali membidik tajam ke arahku. Kembali kualihkan pandangan, menatap Pak Feri, atasan yang ternyata hanya selisih setahun di atasku.

Pak Feri memandangku sambil tersenyum.
"Apa yang membuat kamu ingin mengikuti tes Mechanical CO-Gen?" tanyanya kemudian.

Kuanggukkan kepalaku sambil menjawab, "Saya menginginkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya, Pak."

"Apa pekerjaanmu yang sekarang kurang baik untukmu?"

Aku diam sesaat. Lalu menjawab, "kalau ada yang sekiranya lebih baik, dan saya cukup punya skill, tak ada salahnya untuk mencoba tes, Pak. Karena saya menginginkan hal yang baru, mencoba ilmu baru, dan saya berkemauan untuk terus belajar sampai bisa."

Pak Feri manggut-manggut. Ia lalu menumpuk jadi satu beberapa arsip yang sedari tadi dipegangnya. Kemudian ia bertanya ke Pak Dika, "Pak Dik, jumlah peserta yang ikut tes berapa?"

"Sembilan, Pak."

Pak Feri lalu berdiri, menyerahkan arsip di tangannya pada Pak Dika.

"Tolong delapan yang lainnya, diberitahu semua, kalau mulai tesnya besok. Saya mau ke Converting hari ini." Ia beranjak dari duduk, setelah mendengar kata 'siap' terucap dari mulut Pak Dika. Kemudian ia menepuk kecil pundakku. "Besok tes, ya? Persiapkan!" katanya lagi, sambil melangkah meninggalkan ruangan.

"Ya, Pak." Aku menjawab tegas. Entah didengar, entah tidak, yang pasti ia sudah berlalu beberapa detik yang lalu.

"Belajar lagi, Dan. Sukses, ya?" tukas Pak Dika menyemangatiku.

Lagi-lagi aku mengangguk. Pak Heri yang melihat semua ini, sepertinya dengki hati. Ia menduduki kursinya yang sedari tadi diduduki oleh Pak Feri.

"Bagaimana bisa dia diizinkan ikut tes? Lamarannya saja tak tahu di mana. Ia juga sudah lebih pantas dan nyaman menjadi admin."

"Tak ada salahnya kan, Pak, mencoba ikut tes untuk bagian lain?"

"Tak ada salahnya sih, benar, memang tak ada salahnya. Tapi, kenapa bukan para pelamar yang baru saja, yang diberi kesempatan untuk mengikuti tes? Lah, kalau Dani ikut tes itu, kerjaan admin terbengkalai, dong!"

"Tak akan ada yang terbengkalai, Pak. Ia bisa mengatur betul, bagaimana sekiranya pekerjaan bisa selesai tepat waktu."

"Wah, kok kayaknya Pak Dika memihak dia terus, ya?"

"Bukannya memihak, Pak. Saya tahu betul bagaimana dia. Saya selalu memantau kinerja dia beberapa bulan belakangan."

"Nah, kalau tak berpihak pada Dani, kenapa tak Rian saja yang awalnya Pak Dika ajukan? Bukankah ia lebih dulu bekerja di sini, sebelum Dani? Apa pekerjaan Rian di mata Pak Dika kurang telaten, sehingga ia tak bisa meninggalkan tugasnya hanya untuk mengikuti tes?"

Pertanyaan jebakan itu spontan membungkam mulut Pak Dika. Lelaki itu langsung memandangku, begitu juga diriku.
"Berapa jam, sih, ikut tes? Paling cuma tiga jam. Beri kursi Rian untuk mengikuti tes besok. Dia juga berhak ikut tes selayaknya Dani."

Pak Dika tampak berwajah lesu. Ia menghembuskan napas dari mulutnya sambil berkacak pinggang. Mungkin sama sepertiku, stres. Karena Pak Dika memang punya rasa sungkan yang tinggi pada lelaki paruh baya yang masih menjadi bawahannya itu.

Aku yang tak enak melihat situasi, segera berpamitan pergi.

Oalaaaaaahh, ada-ada saja.
Hidup kok selalu diwarnai iri dengki. Bagaimana mereka bisa merasa puas jika hidup terus seperti itu?

Sampai di ruanganku dan hendak menduduki kursi, kurasakan HP bergetar dari saku celana. Kutilik siapa gerangan, ternyata Sefti. Kupandang lelaki di depanku dengan perasaan tak enak hati. Lantas kembali keluar ruangan, mencari tempat yang pas untuk mengangkat telepon.

"Ya, Sef?"

Kaget bukan main aku mendengar penuturannya di telepon. Sampai-sampai hilang sudah rasa laparku siang ini.

*****

Kubelokkan motor dengan kencang, langsung kumasukkan ke garasi. Mobil orang tua Adel masih terparkir di depan halaman, di sebelahnya ada motor Sefti.

Saking paniknya, tanpa melepas helm aku langsung masuk ke rumah. Di situ sudah kulihat ibu tergeletak di pangkuan Sefti, menangis sesenggukan. Spontan hal ini membuatku gusar bukan kepalang.
Kulepas helmku. Berbalik menatap Adel dan keluarganya dengan pandangan kesal. Kemudian, membopong ibu masuk ke ruang tengah. Menyingkir dari mereka.

"Kinar, ambilkan minyak angin!" perintahku, kala kulihat ibu langsung memejamkan mata seolah tak sadar.

Kinar segera pergi ke belakang.

"Ibu bangun!" bisikku lirih di telinganya.

Belum berhenti rasa panikku, kembali aku dikejutkan dengan Adam yang sudah berdiri di sebelah. Sengaja aku tak menegur.

"Ayo kita bawa ke rumah sakit!" ajaknya sambil menyentuh pundakku.

Lagi, aku tak merespon.

"Jangan marah dulu! Tanyakan Mbaknya, ibu kamu marah-marah tak jelas tadi. Kami diam saja, lho. Benar kan, Mbak?" Ia menegaskan sambil menanyai Sefti yang duduk di sebelahku.
Sefti mengangguk dan berkata, "Benar, Dan."

Adel yang terisak, berjalan menghampiriku. Berkata lirih, "Semua salahku. Andai aku tak bersandiwara, tak kan sampai ibumu menilaiku seburuk ini."

Aku masih tak peduli dengan mereka. Fokus menyadarkan ibu. "Bu, Dani mulih. (Dani pulang)" bisikku lirih. Kuharap ibu mendengar dan segera sadar, agar cepat hilang pula rasa khawatirku sekarang.

"Lihat, Bah! Kita kemari tak ada sambutan apapun, di sapa saja enggak. Malah marah-marah. Kok, begini amat?"

Kutangkap jelas omongan Umi Adel di belakang. Ia berbisik pada suaminya, meski lirih, tapi kupastikan semua yang di sini pun mendengar ucapannya. Aku sama sekali tak peduli omongannya. Karena sedari awal aku sudah malas. Di saat kegelisahanku tak jua reda untuk membuat ibu siuman, tiba-tiba Umi Adel nyeletuk, "Ibumu ada riwayat gila ya, Dan?"

Bagai disambar petir, hatiku gusar bukan main mendengarnya.

"Umi?!!" pekik Adel saat mendengar ucapan orangtua perempuannya. Mungkin ia begitu kaget. Pun dengan Adam.

"Dan, sabar!" Sefti mencoba menenangkan.

Dengan napas yang tersengal, aku berdiri mendekati mereka. Kutatap lamat kedua netra Adel yang tengah sembab, lalu berkata, "Mulai hari ini, kuputuskan hubunganku bersamamu."

Gadis itu membelalakkan matanya lebar-lebar sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Tunggu apalagi? Pergi kalian!!" Kuusir lantang mereka sambil menunjuk ke arah pintu.

Namun, ke-empat orang didepanku tak jua pergi. Mereka tercengang seolah tak percaya dengan apa yang barusan didengar.

Hai, Gaeess! Telat kirim thread. Hhhh, ini tadi nulis ada lebih dari 3000 kata, gak tahu ternyata kirimnya dibatesin. Kebayang gak sih, mangkas 1000 kata lebih demi lanjutannya. Puyeng, uy! Padahal 3000 kata tadi seru abis sebenernya. Kuy, ramein kokom dan cendolnye jan lupa! :goyang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lawanl95 dan 31 lainnya memberi reputasi
32 0
32
Lihat 2 balasan
Rekan kerja
Lapor Hansip
06-12-2019 23:01
Balasan post shirazy02
Di bikin 3 part aja, gitu aja repot.... emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan jembloengjava memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
06-12-2019 23:05
Lagi seru serune di Cut...

emoticon-Frown
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
06-12-2019 23:08
Quote:Original Posted By cos44rm
Di bikin 3 part aja, gitu aja repot.... emoticon-Cool

Ah, elu ... tinggal baca doank protes. Hihihi :goyang

Quote:Original Posted By jembloengjava
Lagi seru serune di Cut...

emoticon-Frown


Ya biar kangen ma aku terus, emoticon-Bettyemoticon-Betty
Hhhhhhh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
Lapor Hansip
06-12-2019 23:14
Balasan post shirazy02
Ah..si oneng dibilangin malah kumat gilanya. emoticon-Ngakak
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
06-12-2019 23:17
yeeeee, akhirnya status sama adel sudah jelas emoticon-I Love Indonesia
Yang masih misteri, apakah beneran adel telah bunting, dan siapakah gerangan yang melakukannya?
Jeng jeng jeng....emoticon-Recommended Seller

Semoga ibu nya dani sudah jauh lebih stabil kondisi mentalnya, salim dulu sama anak2nya yang bisa mengerti dan sabar sama ibunya emoticon-Big Kiss
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
06-12-2019 23:29
Quote:Original Posted By shirazy02


Ya biar kangen ma aku terus, emoticon-Bettyemoticon-Betty
Hhhhhhh


Prreettt....
Giliran lagi kangen malah ra nongol nongol. . .

emoticon-Cool
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
06-12-2019 23:30
Quote:Original Posted By cos44rm
Ah..si oneng dibilangin malah kumat gilanya. emoticon-Ngakak

Iya nih, oneng bener gara2 pangkas story ini tadi emoticon-Hammer2

Quote:Original Posted By boredmother
yeeeee, akhirnya status sama adel sudah jelas emoticon-I Love Indonesia
Yang masih misteri, apakah beneran adel telah bunting, dan siapakah gerangan yang melakukannya?
Jeng jeng jeng....emoticon-Recommended Seller


Hihihi, buat plot twist aja, ah, biar greget :nulisah
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
06-12-2019 23:41
Quote:Original Posted By jembloengjava
Prreettt....
Giliran lagi kangen malah ra nongol nongol. . .

emoticon-Cool


Yek, nesu :cih
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan jembloengjava memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
06-12-2019 23:43
Quote:Original Posted By shirazy02
Yek, nesu :cih


Byasa wae...

Aku wis keebbaaaallll,


emoticon-Cool


Update maneh tah,
Tak tunggu,
Yaaa...yaaa.....yaaa.....

emoticon-Wowcantik
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
07-12-2019 01:24
yak peserta mengerucut tinggal Sefti mempimpin di puncak klasemen dan Mala yang entah masih umbelen apa nggak... jadi inget meme ingus mbeler anak 5th dan 20th kemudian...
Diubah oleh shafanya
0 0
0
Rekan kerja
07-12-2019 02:35
ini sudah dipastikan adel gak bakalan nongol lagi di part selanjutnya,, kalau ane kangen adel gimana??
0 0
0
Rekan kerja
07-12-2019 05:20
Dani jahaad emoticon-Mad
Kasiann adel emoticon-Mewek

Sini del sama aku aja emoticon-Malu emoticon-Leh Uga
0 0
0
Halaman 21 dari 33
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
penghuni-villa-putih
Stories from the Heart
am-i-indigo
Stories from the Heart
ambyar-lamaranku-ditolak
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
impian-ruina
Heart to Heart
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia