Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
413
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dcd79ac018e0d13163f741c/cinta-horror-roman---the-second
Pukul 01.34 dini hari. Aku sendirian di kamar. Duduk tegak lurus dengan pandangan penuh ke layar laptop. Jemari kubiarkan menari di keyboard, mengetik setiap detik kisah hidup yang aku alami. Tentu saja nama-namanya aku pilih yang lebih keren, kota tempat kejadian aku geser beberapa ratus kilometer dari aslinya dan penggambaran para tokoh aku percantik dan perganteng sekian persen.
Lapor Hansip
14-11-2019 22:58

The Second - Cinta.Horror.Roman

Past Hot Thread
icon-verified-thread
[cinta. horror. roman] - The Second
 “Kamu tidak perlu memilih dia atau aku. 

Pilih dia saja.

Tak perlu kamu khawatirkan aku.

Aku cuma minta satu hal. 


Maukah kamu sebut namaku dalam doa-doamu?” 


***

Chapter 1 – Awal Kisah
 
Pukul 01.34 dini hari. Aku sendirian di kamar. Duduk tegak lurus dengan pandangan penuh ke layar laptop. Jemari kubiarkan menari di keyboard, mengetik setiap detik kisah hidup yang aku alami. Tentu saja nama-namanya aku pilih yang lebih keren, kota tempat kejadian aku geser beberapa ratus kilometer dari aslinya dan penggambaran para tokoh aku percantik dan perganteng sekian persen.  Seolah menjadi kisah fiksi. Padahal tidak. Hanya saja aku tak ingin mereka tahu bahwa itu kisah asli.
 
 Jemariku terus mengetik hingga  mendadak aku merasa dingin. Tercium wangi yang khas.
Aha. Dia sudah datang.

“Hai apa kabar..” tanyaku sambil terus menatap layar. Tak perlu menengok agar aku tak tebuai dalam keindahan yang memabukkan. Tapi dari bayang-bayang yang memantul di layar, bisa terlihat siluetnya yang menarik. Suara lembut menjawab terdengar seolah tepat disampingku, padahal dia masih dibelakang, “kangen kamu..”
 
Tanpa sadar aku tersenyum. Entah dari siapa mahluk itu belajar merayu orang. Teringat beberapa bulan lalu saat dia pertama kali menyapa aku.

***
 
“Hai..” suara lembut seorang wanita dari belakang. Aku kaget dan segera menoleh. Terlihat seorang gadis menatap mataku dengan ceria. Senyumnya mengembang sempurna memamerkan deretan giginya yang rapi. Kulitnya putih, tubuhnya wangi. Rambutnya lurus sepundak khas remaja yang energik, yang tak ingin gerak geriknya terganggu oleh rambut panjang. Poninya yang aduhai, yang bikin aku terpesona sekian detik menatapnya. Aku memang sangat mudah jatuh cinta pada poni yang menghias kening seorang gadis. Membuat ia terlihat lebih feminin. Bajunya pun casual, kaos pink sedikit ketat  dengan celana jeans yang pas di kaki jenjangnya. Sepatu kets warna pink menghiasi ujungnya.

 
 Indah.
 Harusnya moment tersebut menjadi moment yang sangat indah. Sayang, keindahan tersebut agak ternoda dengan waktu dan lokasi pertemuan yang tidak tepat. Aku melihat angka digital pada pergelangan tangan.
Pukul 01.20 di pinggir kompleks.
Komplek perumahan? Sayangnya bukan. Aku sedang berjalan melewati komplek pemakaman. Dengan tergesa-gesa karena tak ingin mengganggu keheningan kompleks tersebut. Ini terjadi karena aku harus lembur, pulang malam, sialnya mobilku mogok kehabisan bensin 1 kilometer dari rumah. Panggil ojek online gak bisa gegara handphone yang mati. Terpaksa jalan toh hanya 1 kilometer. Hanya saja aku memang harus melewati pemakaman untuk mencapai rumah. Ya sudah daripada tidur di mobil aku pun memutuskan untuk jalan. Bertekad setengah berlari saat melewati kuburan.
 
Tapi kini aku dapati bukannya berjalan terburu-buru seperti rencana awal, aku malah sedang mematung memandang seorang gadis. Gadis yang indah tapi di waktu dan background lokasi yang salah.
 
“Kami jin ya?” aku bertanya sambil tertawa. Berharap ia tertawa dan menggeleng.
Tapi ia hanya tertawa. Renyah. Tawa yang bikin lega, karena jauh dari kesan menakutkan. Masa sih kuntilanak ketawanya bikin gemes gitu.
“Kamu tinggal dimana sih, kok jam segini masih disini..” tanyaku. Pertanyaan bodoh  yang seharusnya tak pernah aku lontarkan.
“Aku tinggal disini” jawabnya sambil tersenyum.
Anjay! Aku terdiam, seketika aku bisa merasakan rona hangat dari wajahku seperti terhisap habis dan menyisakan pucat pasi yang luar biasa, “ka.. kamu becanda?”
 
Ayo mengangguklah! Angguklah!
Sayang seribu sayang, bukannya mengangguk ia malah mengegeleng. Sambil terus tersenyum ia berkata “aku gak becanda, aku memang tinggal disini...”
Seolah belum puas melihat kengerianku, ia perjelas dimana ia tinggal, “itu di pohon kamboja sebelah sana”
 
Sungguh ingin rasanya kutempeleng bocah kurang ajar itu, seenaknya bikin air pipisku mendadak ingin keluar. Walaupun cantik tapi kalau bikin aku kencing dicelana harus diberi pelajaran. Tapi jangankan menampar, menggerakkan tangan saja aku gagal, “ini prank ya?”
 
“kalau prank aku pasti pakai kostum pocong atau suster ngesot atau apalah yang serem-serem..” ia terdiam sebentar, seolah sedang berpikir, “atau kamu mau lihat aku berubah pakai kostum itu?”
 
Aku terdiam bagai lumpuh. Lututku lemas, lidahku kelu.
 
“Gak lah, aku gak mau kamu takut. Aku begini karena aku tahu selera kamu. Aku tahu kamu suka cewek berponi, aku tahu kamu suka cewek casual, aku tahu kamu suka cewek yang ceria. Karena itu aku menjadi seperti ini...karena aku...”
 
Terdiam sejenak, “karena aku suka kamu..” jawabnya dengan mata yang luar biasa indah.
 
Aku ternganga. Aku pasti mimpi. Berdiri mematung di pinggir kuburan dengan sesosok mahluk entah apa yang sedang menyatakan cinta padaku. Ini pasti mimpi.
Mimpi romantis yang sayangnya bergenre horror.
Akhirnya aku merasakan kehangatan dipangkal celanaku. Anjay!
 
[bersambung]

INDEX
Chapter 2 - Pingsan
Chapter 3 - Rumah Sakit
Chapter 4 - Namaku Danang
Chapter 5 - Namanya Rhea
Chapter 6 - Maudy dan 'Maudy'
Chapter 7 - The Second
Chapter 8 - Konser
Chapter 9 - Bertemu Wulan
Chapter 10 - Rumah Sakit (Lagi)
Chapter 11 - Aku dan Rhea dan Satunya Lagi
Chapter 12 - Menggapai Dirinya
Chapter 13 - Dinner with Rhea
Chapter 14 - Wulan versus Rhea Featuring Vania
Chapter 15 - ..........................
Chapter 16 - Rindu
Chapter 17 - Semakin Rindu
Chapter 18 - Melepas Rindu
Chapter 19 - Maafkan Aku lah Bang!
Chapter 20 - Menusuk Tepat di Hati
Chapter 21 - Seribu Alasan Satu Jawaban
Chapter 22 - Belajar Mencintai
Chapter 23 - Would You?
Chapter 24 - The Show Must Go On
Chapter 25 - Tragedi
Chapter 26 - Mimpi
Chapter 27 - Arti Cinta
Chapter 28 - Sad Session

Enjoy the stories gaesss..
Jangan lupa cendol, subcribe dan shareee yaaaaa...

Ruli Amirullah
Diubah oleh abangruli
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mobil mobilan dan 30 lainnya memberi reputasi
29
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 7 dari 21
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
03-12-2019 10:05
Balasan post heniazza21
gak apa2 situ yang penasaran, daripada arwah yang penasaran... hiiiiiiii.......
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
03-12-2019 11:16
Chapter 10 – Rumah Sakit (Lagi)

Gelap. Perlahan aku membuka mata. Terasa silau dan blur. Untuk sesaat mataku seperti lensa ponsel yang sedang mencari titik fokus. Aha.. mulai jelas sekarang. Aku sedikit memicingkan mata agar semakin jelas. Dimana aku berada? Seperti Deja vu, seperti pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Aku terdiam beberapa detik dan kemudian teringat deja vu yang aku pikirkan.

Anjriiit! Aku melonjak hingga terduduk
ini rumah sakit lagi! Apa ini tipuan lagi?! Apa aku sebenarnya ada di kuburan lagi?! Aku panik. Aku langsung menoleh kiri dan kanan hingga akhirnya menemukan sosok Bapak, Ibu, Lanang kakakku, dan Maudy adekku sedang duduk di sofa panjang. Tampak pula Vania disamping ibuku. Mereka sama terperanjatnya dengan diriku.

“Mas Danaaang.. istigfar mas! Nyebut mas... eling mas...” jerit Maudy. Nyebut? Widih, emangnya udah mau mati apa? Ia bergegas menghampiriku.

“Kalian siapa? Kalian Rhea ya?!!” tuduhku sengit. Mataku menjalar dari atas dan bawah, mencari tanda-tanda ghaib di diri mereka. Tapi kaki mereka semua menapak ke tanah.

“Waduh ibuu... mas Danang hilang ingatan Bu... Dia lupa kita siapa bu.. Dia gila buuu...” tangis Maudy semakin keras. Aku melotot ke arah Maudy. Ebuseed... ini lagi kaget gini malah dibilang gila. Adek macam apa Maudy itu.

“Wah Pak... itu mata Danang mulai melotot lagi pak, mau kesurupan lagi kayaknya pak..” tambah Lanang semakin heboh. Aku bengong. Ini keluargaku ajaib sekali tampaknya. Bapakku dengan sigap membuka buku tahlil kecil berwarna hijau yang sedari tadi ia pegang sembari mendekat ke arah kepalaku. Tangan kirinya kemudian memegang ubun-ubunku dan mulutnya mulai komat-kamit baca halaman awal dari buku tahlil. Ayat Kursi. Bapakku membacakan ayat kursi pada anaknya yang malang. Aku merasa ingin menangis. Huhhuhuhu.....

“Aku baik-baik saja.... “ jawabku menyerah kalah. Melihat ajaibnya mereka, aku yakin mereka memang keluarga asliku. Bukan jelmaan kuntilanak. Aku terdiam memandang mereka satu persatu. Hanya adikku yang paling kecil yang gak terlihat. Kini giliran mereka yang seolah hendak menelenjangi aku. Untung itu hanya kiasan semata.

“Kamu baik-baik aja sayang?” tanya Vania lembut. Tangannya mengenggam tanganku. Eiih.. mesranya. Aku merasa deg-degan kini. Beruntung gak ada alat rekam jantung, gawat kalau ada, bisa-bisa terdengar kalo alunan jantungku berubah menjadi lagu rock.

“Aku kenapa?” tanyaku entah pada siapa. Terserah siapa yang jawab.

“Kamu kesurupan mas. Suaramu jadi suara cewek.. hiiiii sereeeem!” jawab Maudy. Entah mungkin aku yang sedang sensitif, tapi aku mendengar nada keceriaan disana. Seolah dia mendapat hiburan atas kasusku ini. Menyebalkan.

“ini malah gue dapat videonya..” ujar Lanang sambil mengeluarkan ponselnya.

“Lha dapet darimana?” tanyaku kaget. Masa dia sempat bikin rekam kejadian itu?

“Dapet dari mbak-mbak yang jual tiket. Dia dapet dari petugas jaga pintu. Pokoknya video elu udah tersebar di staff sana. Paling bentar lagi ada yang upload masuk yutub.. hahaha.. eh bro, gara-gara minta video elu kesurupan, gue malah jadi tahu nomer mbak itu.. sekarang aja elu jadi bahan chat gue ama dia.. tengkyu ya bro!”

Dasar kakak edan! Masih sempat-sempatnya mendulang nomer ponsel cewek ditengah kekacauan yang ada. Lagian lucu, Ini kakakku namanya Lanang. Artinya laki. Harusnya laki banget. Tapi kalo dah ngomong bisa nyablak kayak emak-emak. Dia menyorongkan ponselnya dan memperlihatkan padaku video yang ia maksud.

Terlihat diriku sedang mengejang dengan mata melotot. Raut mukaku aneh sekali, walau dasarnya itu wajahku tapi terlihat raut muka seorang cewek disana. Seram. Tapi bukan Rhea. Eh iya, namanya Wulansari. Hiiii.... “cewek sebelahku mana?”

“Cewek? Gak ada cewek. Menurut hasil investigasi gue berdasarkan penuturan mbak yang jaga pintu masuk, elu masuk sendirian, tapi lucunya, elu ketawa-ketawa sendiri gitu,, kayak lagi ngobrol sama orang lain.. trus elu nyodorin dua tiket masuk, padahal elu masuk sendiri... eh tapi sebenernya elu masuk sama siapa sih?”

“Sama Vania...”

“Hah serius?! Sama aku? Padahal aku nyariin kamu lho..” potong Vania kaget.

Aku hanya bisa terdiam, lelah dan bingung sehingga mendiamkan saja keluargaku ribut saling bicara bagai sekawanan lebah yang mendengung. Aku menoleh ke kiri perlahan ke arah jendela, kemudian kesudut-sudut kamar juga ke barisan keluargaku, mencari sosok Rhea disana dan ingin mempertanyakan segalanya. Tapi nihil. Tak ada Rhea. Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat ingin bertemu dengan Rhea. Aku memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. Sementara keluargaku masih terdengar sibuk berbicara.

Tiba-tiba telingaku mendengar suara yang begitu aku kenal, “Selamat mmm dinihari yaa.... apa mas Danang sudah siuman?

Rhea! Itu Rhea!

Aku langsung membuka mata dan mendapati seorang suster sedang berdiri di pintu masuk kamarku. Wajah Rhea dengan seragam suster! Wiiih ajib sekali!
“Oh halo suster.. iya nih adikku sudah sadar..” jawab Lanang sigap. Urusan cewek cantik dia memang sangat sigap.

“Oh syukurlah... bisa saya mohon waktu sebentar? Saya mau periksa dulu keadaan mas Danang..” ujar Rhea dengan senyum manisnya. Eh kakiknya! Aku cepat mengamati kakinya. Terlihat menapak tanah. Baguslah. Sudah ingat dia untuk selalu menapak.

“Silahkan Sus. Kami juga mau keluar sebentar. Soalnya mau cari makan ke kantin..” jawab bapakku lega. Sepertinya ia lapar level dewa. Beruntung kantin disini 24 jam buka.Sementara Vania tampak bingung sesaat. Nampaknya ia tak mau meninggalkan aku seorang diri bersama suster itu. Tapi ibuku segera mengandeng tangan Vania sambil membicarakan sesuatu. Kakakku Lanang pun sebenernya ingin tetap dikamar, tapi aku melihat Rhea sedikit menjentikkan jemarinya ke arah Lanang hingga tiba-tiba saja perut Lanang berbunyi. Ah, pasti Rhea membuat Lanang merasa lapar luar biasa. Begitulah hingga akhirnya mereka semua keluar.

Hanya ada aku dan Rhea.

Rhea tersenyum manis luar biasa, “gimana kabar mas Danang?”

“Rhea! Aku mau tanya macem-macem!”

“Silahkan mas... Rhea akan jawab semuanya...”

[ Bersambuuuuung....]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 2 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
03-12-2019 15:30
aihh.. tanggung amat gan.. bikin penasaran aja
0 0
0
Lihat 1 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
03-12-2019 20:18
wah wah.... menanti lagi... asli seru gan....
0 0
0
Lihat 1 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
03-12-2019 20:44
kayak udah mau klimaks terus ada yg ngetuk pintu gitu. wkwkkw
0 0
0
Lihat 1 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
05-12-2019 13:27
Balasan post ojackbull
sebentar lagi ane apdet yaa... jadi penasaran agan akan trjawab dengan penasaran yang lain lagi.. lhooo?!
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
05-12-2019 13:29
Balasan post krissjuna
sing sabar ya le.... wong sabar biasane subur....
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
05-12-2019 13:30
Balasan post mcvandee
anjrit... perumpamaannya gitu banget.. wkwkwkw.... ilfil bgt yak!
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
05-12-2019 15:19
lagi seru" nya trus TBC kan gak asik,,, seneng banget si babang bikin penasaran☕☕
0 0
0
Lihat 1 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
05-12-2019 16:04
Chapter 11 – Aku dan Rhea dan Satunya Lagi

Kini dikamar ini hanya ada aku dan Rhea. Enaknya ngapain ya?! Lho salah.. maksudku, aku harus tuntaskan semuanya malam ini. Segala kekacauan ini sudah semakin membuat kepalaku pening.

Rhea tersenyum manis luar biasa, “gimana kabar mas Danang?”

“Rhea! Aku mau tanya macem-macem!” jawabku sok galak biar dia takut. Tapi tampaknya dia gak takut sama sekali.

“Silahkan mas... Rhea akan jawab semuanya...” kataya sambil melangkah mendekat. Tangannya pura-pura memegang keningku seperti layaknya perawat. Tapi hampa. Aku tak merasakan apapun. jemarinnya tembus melewati kepalaku, “maaf... lupa kalau aku jin...” sepertinya ia terlalu menghayati peran.

“Siapa itu Wulansari?” tanyaku sebal sambil sedikit ngeri. Melihat tanganya tembus tadi sedikit mengerikan untuk nalarku.

“My enemy. Biggest enemy..” jawab Rhea dalam bahasa Inggris. Sepertinya dia pernah jadi jin penunggu ruangan bimbel bahasa Inggris. Aksen britishnya keren kayak native speaker, “dia jahat mas..”

“Lantas apa hubungan permusuhan kalian dengan aku?! Kenapa aku yang jadi korban?!”

“Masih inget sosok anak kecil penuh darah di kuburan?” menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Ini aku gak suka, tapi pertanyaan dia menggugah rasa penasaranku.

“Inget banget! Dia yang bikin aku jebol depan belakang”

“Dia adalah Wulansari juga. Saat itu dia juga merasuki mas, tapi karena gak ada siapa-siapa jadi gak ada yang tahu mas kerasukan. Aku berantem mati-matian dengan dia agar dia mau keluar dari tubuh mas...”

Anjrit! Aku udah dua kali dimasukin tuh mahluk?! “Trus kenapa aku?! Emang gak manusia laen apa?!”

“Ada sesuatu di diri mas yang bikin kami, kaum jin, sangat tertarik pada mas..”

“Apa itu?!”

“Nanti aja mas.. jangan sekarang, yang jelas mas sangat menarik bagi kami..”

Aku sedikit bangga mendengar itu. Eh gila juga aku, masa bangga dibilang jadi idola para jin, “Kalo dia suka aku, kenapa dia malah nyiksa aku? Malah bikin aku takut? Mestinya kan kayak kamu.. baik-baikin aku, bukan malah nyeremin aku..”

“Dia mau mengambil jiwa mas. Pindahin mas ke alam gaib menjadi kekasihnya disana”

Ebused! Serem kali mau culik aku ke alam gak jelas gitu. “Lha berarti kamu juga dong?! Kamu suka sama aku berarti kamu mau ambil jiwa aku juga?!”

“Aku kebalikannya...” jawab Rhea malu-malu. Jin satu ini emang cocok jadi pemain sinetron, “aku malah pengen jadi manusia. Culik aku mas, ambil jiwaku mas,...”

Ini jin gila kayaknya, “kamu gila ya?!”

Rhea tertawa. Riang seperti biasa, renyah yang menyenangkan.

“Lantas kenapa dia bisa nyentuh aku? Kata kamu, kalian gak bisa menyentuh manusia”

“Dia sama sekali gak nyentuh mas. Itu semua sama seperti yang aku lakukan saat menghadirkan konser di kamar mas. Itu ilusi. Sihir. Mas merasa disentuh padahal gak... dia berhasil masuk ke pikiran mas” ujar Rhea panjang lebar. Jujur aku sedikit terpukau dengan matanya yang luar biasa indah.

“Ngomong-ngomong, itu rupa Wulan yang asli ya?”

“Gak lah mas.. bukan itu rupanya. Itu cuma penampakan aja, kostum, chasing... Wulan sama seperti aku. Punya kemampuan sihir dan mengubah bentuk yang luar biasa. Hanya saja dia jahat aku baik. Semakin mas ketakutan, semakin mudah untuk menguasai jiwa mas.. makanya dia muncul dalam rupa yang paling mengerikan” katanya sambil melihat jam, “sebentar lagi keluarga mas kembali..”

“Berarti wajah kamu juga bukan seperti Rhea yang aku tahu?”

Rhea terdiam, ada perubahan sekilas di matanya, “Iya mas.. wajah ini hasil survey aku ke mas, hasil riset beberapa bulan sebelum akhirnya aku menampakkan diri kehadapan mas..”

“Wajah asli kamu kayak apa?”

“Kami beda mas, kami seperti energi... kami.. duh, susah mas ngejelasinnya. Jujur Rhea gak tahu secara tepatnya gimana jelasin ke mas..”

“Ya sudahlah...” jawabku pelan, lagian aku tak ingin juga melihat rupa aslinya mereka. Kata orang-orang sih nyeremin juga, jadi biarlah.

“Aku pergi ya mas..” kata Rhea sambil membalikkan badannya menuju pintu, “eh maaf, gak harus lewat pintu ya.. hihihi..” tubuhnya perlahan memudar.

“Oh iya Rhea.. satu lagi...”

“Kenapa mas?” bayangan tubuhnya terhenti, gak jadi hilang sempurna

“Kenapa kamu mau jadi manusia?”

“Aku.....”

(bersambung?!!? Gak lah! Hahaha.. becanda! Masih lanjut kok..)

“Aku sungguh mencintai mas.. dengan jadi manusia, paling gak, aku ingin merasakan tangankku digenggam oleh mas...”

Anjrit.... romantis sekali!, “bisa gak kamu jadi manusia?”

Bahkan dalam bentuk hologrampun aku bisa melihat matanya yang medadak sangat sedih.. “Gak tahu mas.. sepertinya tidak mungkin.. tapi entahlah.. doain aja ya. Mas, aku sayang mas..”

Melihatnya ingin menangis membuat hatiku iba sekaligus buta hati, tanpa aku sadari aku melontarkan kata yang tak pernah aku perkirakan akan keluar dari mulutku, “Aku juga sayang kamu Rhea..”

Rhea terdiam, seperti kaget mendengarnya. Terlihat air matanya menetes tapi dengan senyum yang mengembang lebar. Terharu. “Mas... makasih banget ya.. aku seneng banget..” Tak lama Rhea menghilang. Meninggalkan aku dalam kesendirian. Sunyi sepi. Hingga mendadak terdengar suara dari balik pintu.

“Udah pergi dia?” kata suara itu sambil membuka pintu. Adegan selanjutnya bagai adegan slow motion. Perlahan demi perlahan wajah yang sangat tidak aku harapkan hadir dalam moment itu, justru semakin jelas dan jelas.

Vania. Oh...

“Jadi selama ini mas sayang dia?” tanya Vania lebih lanjut. Dingin dan beku. Sungguh, baru kali ini wajah Vania lebih mengerikan dari kuntilanak, genderuwo atau apapun itu. Dan sungguh, baru kali ini juga aku rasanya begitu mendambakan pingsan lagi.

Tapi sayangnya gagal. Huaaaaaaa..

“Jawab mas..” desis Vania menusuk hatiku.

Duh Gustiiiii... Harus jawab apa iniiii....

(Naaah,,, kalo ini baru bersambung beneran yaaaa... hihihi..)
Diubah oleh abangruli
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
[cinta. horror. roman] - The Second
05-12-2019 16:23
Vania bisa lihat Rhea...? Indigo kah
0 0
0
Lihat 1 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
05-12-2019 16:26
Balasan post mmuji1575
akan terjawab di edisi berikutnya broo.. hehe
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
05-12-2019 16:34
Ojo suwe update'e mas...😀
0 0
0
Lihat 1 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
05-12-2019 16:47
Balasan post mmuji1575
siyaaaap
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
05-12-2019 18:42
Balasan post heniazza21
tuh udah ada lanjutannya lagi......
tapi kayaknya tetep TBC deh.. hehehe
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
05-12-2019 19:49
Quote:Original Posted By abangruli
tuh udah ada lanjutannya lagi......
tapi kayaknya tetep TBC deh.. hehehe


Hidup TBC 😂😂😂
Numpang gelar tiker ya bang ⛱️
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
05-12-2019 23:04
ah elah tanggung amat updatenya hahahaha....
0 0
0
Lihat 1 balasan
[cinta. horror. roman] - The Second
Lapor Hansip
05-12-2019 23:36
Balasan post gemulz
kalo gak tanggung gak seru .. hahaha.. enak yg nanggung2..
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
07-12-2019 18:43
Quote:Original Posted By abangruli
kalo gak tanggung gak seru .. hahaha.. enak yg nanggung2..


jangan kelamaan ya gan kentangnyaemoticon-Cendol Gan
0 0
0
[cinta. horror. roman] - The Second
09-12-2019 21:08
Chapter 12 – Menggapai Dirinya

“Ka.. kamu bisa lihat dia?!” tanyaku entah karena penasaran entah karena ingin mengulur waktu dan berharap siapa tahu akhirnya aku bisa pingsan

“Kamu sayang dia?!” tanya Vania tetap pada pendiriannya. Tak terpengaruh pada pertanyaan bego yang baru saja aku lontarkan. Andai aku pingsanpun, sepertinya dia akan membawa alat strum aki dan menyetrum tubuhku agar aku kembali sadar.

“Eh.. bukan sayang seperti aku sayang kamu..” jawabku pasrah. Terdengar kampungan sebenarnya, kayak playboy palsu yang ketangkap basah. tapi aku tak tahu lagi harus menjawab apa. Lagipula mana sih orang tuaku, kok gak dateng-dateng udah jam segini. Duh duh...

“Owh, jadi sayang seperti adek kakak? Gitu?! Basi tau gak!”

Iya basi. Aku sendiri tau itu jawaban basi, “Vania, asal kamu tahu dia sudah ada sebelum aku jadian sama kamu..”

“Owh, jadi sekarang, aku yang merebut kamu gitu? Aku yang jadi pelakor, gitu? Aku yang jadi orang kedua, gitu?”

Lho kok jadi begini?! Duh biyuuung.... Eh, tapi... “kok kamu bisa tahu tentang dia?”

“Aku bisa ngerasain! Sejak kamu mau deketin aku, aku bisa ngerasain ada mahluk lain di deket kamu. Aku emang gak bisa lihat, tapi aku punya kemampuan untuk ngerasain kehadiran dia. Aku pikir kamu gak buka komunikasi dengan dia. Ternyata malah pacaran!”

“Eh.. aku gak pacaran kok!”

“Cuma sayang-sayangan aja ya?! Fine! Kita putus!”

Damn! Gak tau situasi banget! Lagi terkapar gini malah diputusin, mbok ya tunggu seger dulu, “lho kok gitu?!”

“Kamu selama ini gak jujur ama aku! Itu udah cukup buat putus!” cecar Vania bagai pukulan kombo. Bertubi-tubi tanpa kenal ampun. “Kita putus!” katanya sekali lagi, menegaskan apa yang sudah dia katakan. Wajahnya murka sejadi-jadinya. Vania membalikkan tubuhnya tanpa mau mendengar apapun lagi. Membuka pintu dan terkejut melihat wajah-wajah heran dari balik pintu. Wih, jadi keluargaku selama ini sudah datang toh. Tapi dengan cepat Vania kembali mendominasi situasi. “Bu.. Pak aku pamit, maaf bila selama ini Vania ada salah.. ayo semua, Vania duluan ya,..” ujar Vania sambil mencium tangan ibu dan bapakku yang bengong. Mereka bengong, Vania melangkah dan aku lemas.

“Lho Vania kenapa Nang?” tanya ibuku dengan wajahnya yang sangat bingung.

“Aku capek bu.. ngantuk..” ujarku sambil menutup kepalaku dengan bantal. Aku gak bohong, aku beneran ingin tidur saat ini.

***

Pantai ini indah sekali. Pasir putih dengan laut yang berwarna biru. Angin semilir menerpa wajahku. Aku sedang duduk di kursi pantai menghadap ke samudera yang luas. Sinar matahari cukup terang tapi tak terasa panas sama sekali. Andai ada segelas orange juice pasti semakin enak. Aku menoleh ke meja kecil disebelah kananku dan mendapati segelas jus jeruk ada hadir disini. Wih nice! Wish come true.. kayak mimpi aja.

“Hey!” tiba-tiba suara yang begitu aku kenal terdengar dari belakang.

Aku menoleh cepat. Itu suara Rhea. Dalam sekali toleh aku mendapati sosok Rhea sedang tersenyum riang. Wajahnya sangat cerah. Tangannya menjulur kepadaku, seolah mengajak salaman, “Apa kabar mas?! Ayo dong salaman!”

“Emang bisa?!” tanyaku heran

“Coba aja!” jawabnya mendekat kearahku.

Aku menjulurkan tanganku perlahan dan mencoba menyentuh tangan Rhea. Terasa lembut! Lho?!, “ini ilusi kamu lagi ya?!”

“Bukan.. ini bukan ilusi ku. Ini hasil karya kamu... ini mimpi kamu!”

Aku terkejut, “mimpiku?”

“Eh jangan kaget, nanti jantung mas berdetak kencang. Usahakan tetap tenang. Keep calm. Nanti kalau detak jantung terlalu kencang, mimpi mas bisa runtuh. Mas bisa kebangun...”

“Aku bingung..”

“Ini mimpinya mas Danang. Aku yang masuk ke dalam mimpi mas.. semua ini mas yang atur. Pantai ini adalah hasil pikiran mas Danang yang selama ini tersimpan dalam memory mas Danang. Segala detail yang ada, itu adalah hasil karya mas Danang..” ujar Vania sambil melihat sekeliling, seperti sedang mengagumi alam sekitar, “ini di mana sih mas?”

Aku juga memperhatikan sekeliling dan baru sadar, ini adalah pantai Kuta di Bali yang beberapa tahun lalu aku kunjungi, “Ini pantai Kuta, tapi kok sepi ya?”

“Itu karena detail tentang orang-orang tidak dihadirkan oleh mas.. coba mas pikirkan mau orang-orang bagaimana yang ingin hadir disini..”

Baru saja terlintas di pikiran, aku mendapati pantai perlahan mulai ramai dengan turis-turis. Tidak muncul dengan mendadak, tapi semua hadir seolah normal dan natural. Ajib!

“Welcome in world of dream. Inti dari dunia mimpi adalah, Sadari bahwa mas sedang bermimpi, maka mas bisa mengatur mimpi mas.. just think about something, hal itu akan terwujud..”

“Terbang?”

“Bisa”

“Loncat ke Amerika?”

“Just think!”

Aku tertawa hingga tanpa sadar mataku terpejam. Sinting juga jin ini. Aku membuka mata dan hendak mengatakan kepada Rhea betapa gilanya dia. Tapi pemandangan yang aku lihat membuat aku terkejut. Aku sedang terbang menembus awan! Rhea mana Rhea?! Ini gila, aku sedang terbang seperti Harry Potter, hanya saja aku lebih canggih lagi karena tidak menggunakan sapu terbang.

“Aku disini mas.. disamping mas..” ujarnya sambil tanganya mencoba menggapai diriku. Ia tampak sedang berusaha menyesuaikan kecepatan terbangnya agar bisa sejajar dengat diriku, “jangan cepat-cepat mas..”

“Kita kemana nih?!”

“Sepertinya ke Amerika mas, seperti yang mas Danang pikirkan tadi. Inget mas, mas jangan terlalu girang, jaga detak jantung mas tetap stabil biar mas gak kebangun sekarang....”

Great! Aku menggapai lengannya dan menggenggamnya erat. Terasa nyaman sekali. Untuk sesaat aku sepertinya ingin melupakan segala masalahku.

“Mas tentang Vania gimana? Maafin aku ya..” tanya Rhea di tengah deru angin

“Oh nanti saja kita bahas, aku mau ajak kamu melintas langit dengan cepat!” ujarku sambil memperat genggamanku. This is my dream, i can do everything in my dream, pikirku. Aku pun berpikir sejenak, dan kemudian dalam beberapa detik, tubuhku sambil menggandeng tubuh Rhea melesat dengan cepat menembus langit. Meninggalkan jejak panjang bagai meteor di langit.

[ bersambung gak pake nanggung ]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Halaman 7 dari 21
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
tigapart-2
Stories from the Heart
before-morning-comes
Stories from the Heart
keterpurukan-ku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia