Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
613
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd27c6b018e0d6489170ace/rekan-kerja
Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan dibelakangnya sambil mengomel tiada henti. Yaaa, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali.....
Lapor Hansip
18-11-2019 18:11

Rekan Kerja

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Rekan kerja

Prolog

Pesan terakhir almarhum Ayah Dani kepada mantan rekan kerjanya, membuat Dani keterima kerja di sebuah perusahaan benefit dengan cuma-cuma. Namun, ada suatu kesalah pahaman yang membuat ia selalu bersitegang dengan Rian, rekan kerjanya satu bagian. Setiap hari selalu saja ada masalah di kantor. Tak hanya itu, ia juga terjebak dalam hubungan rumit bersama teman semasa kuliahnya. Sementara di lain sisi, ia tak sengaja menaruh hati dengan calon tunangan Rian. Akankah Dani mampu melewati semua godaan itu?

Rekan Kerja adalah sebuah cerita (nyata) yang menceritakan perjuangan seorang anak muda bernama Dani (nama disamarkan). Sosok pendiam, penyabar, tapi kepeduliannya sangat tinggi. Ia merasa bahwa dirinya adalah pengaruh utama yang bertanggung jawab atas keluarganya. Segala hiruk-pikuk kehidupan dan masalah yang terjadi di sekitarnya tak luput selalu menjadi beban pikiran, tapi ia selalu tegar bagaimanapun keadaannya, karena ia merasa harapan dan kebaikan selalu ada di setiap jalan.

Cerita ini sangat menarik dan kupastikan kalian akan selalu terbawa untuk mengikutinya, karena jalan ceritanya lain daripada yang lain. Yuk, cekidot!


INDEKS


Sekuel 'Rekan Kerja'


(Part 1)

Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan di belakangnya sambil mengomel tiada henti. Ya, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali ....

Tiba-tiba, dari dalam rumah ibu berseru memanggilku dengan terburu-buru. Di tangannya tergenggam sebuah ponsel milik ayah.

"Dan, Dani ... ayo diangkat cepat! Atasan ayah telpon."

Atasan? Bukannya ayah sudah pensiun setahun yang lalu. Kira-kira ada urusan apa?

"Angkat aja lah, Bu ... mungkin mau ngucapin bela sungkawa. Kan, baru sebulan ayah meninggal," tukasku.

"Ayolaaahh, angkat! Ibu takut gak bisa ngomong."

Akhirnya, dengan gugup kucoba mengangkat telpon darinya.
"Hallo!" seruku.

Kami mengobrol sepuluh menitan.

Intinya, Pak Dika memintaku datang ke kantor besok. Aku bingung dan heran, ada apa aku disuruh ke kantor?
Karena paksaan dari ibu, akhirnya aku memutuskan menemuinya keesokan hari.

****

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor, menuju bilik ruangan paling pojok. Aku hafal betul ruangan ini, karena sudah pernah magang jaman kuliah dulu. Ayahku yang dulu memintaku magang di tempat ini. Dia berharap aku bisa meneruskan bekerja di sini sepertinya, di salah satu pabrik benefit yang ada di kota kami. Alasannya, selain dekat dengan rumah, gaji pun sudah jelas jika karyawan. Selain itu pabrik ini memang memberi fasilitas tunjangan cukup menarik.

Ketika mau memasuki ruangan Pak Dika, sontak mataku tertuju pada tembok di sebelahku. Terlihat foto almarhum ayah terpampang jelas pada bingkai ukuran 10Rs itu. Dibawah bingkai foto itu bertuliskan "SUJIWO-Supervisor Gd.PM 09"
Wajah ayahku paling terlihat khas dengan kumis tebalnya, berjajar dengan beberapa puluh foto di sampingnya.

Ada rasa heran menyeruak dalam benak. Ayah bukan lagi supervisor di pabrik ini, kenapa fotonya masih saja dipasang? Bahkan foto teman-teman yang lainnya sudah berganti dengan posisi SPV yang baru.

Belum lama aku memandangi foto almarhum ayah, Pak Dika sudah menegurku dari dalam ruangannya. "Hei kamu yang di depan pintu! Kenapa terus berdiri disitu?"

Seketika aku langsung berbalik menghadap ke pintu semi-transparan itu. Mengetuk kecil pintu ruangannya, kemudian melangkahkan kaki pelan masuk ke dalam.

"Oohh, kamu ... yang saya telpon kemarin, ya? Anak Pak Sujiwo?" Pak Dika beranjak dari kursinya menyambutku.

Kusalami tangan Pak Dika seraya memperkenalkan diri, "saya Dani, Pak."

"Ya,ya, ayo duduk!"

Mendengar itu, aku pun mengambil duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.

"Heeeemm, kamu anak Pak Sujiwo?" tanyanya lagi dengan raut wajah seperti tak percaya.

"Ya, Pak. Benar." Kujawab tegas pertanyaan Pak Dika dengan seulas senyum. Lelaki itu kemudian manggut-manggut menatapku. "Kamu yang baru wisuda bulan kemarin itu, kan? Yang besoknya ayah kamu meninggal?"

"Ya, Pak. Benar."

"Hem, yaaa, yaaa ...." Pak Dika beranjak lagi dari tempat duduknya, mengambil sebuah buku bersampul hitam tebal dari rak di belakangnya. Dia buka halaman pertama, lalu menyodorkannya padaku.

"Itu kenangan foto-foto ayah kamu semenjak bekerja di sini, banyak. Saya merasa baru kemarin ayah kamu pamit berhenti kerja, kok tahu-tahu sudah meninggal. Kena apa?" tanya Pak Dika sembari lebih mendekatkan wajahnya padaku.

"Saya kurang tahu, Pak. Ayah saat itu sedang melayani pembeli di toko. Saya tak tahu persis kejadian ayah saya jatuh di dalam toko itu, tahu-tahu ketika saya masuk, saya sudah menemukan ayah saya jatuh sekarat."

"Lho? Memang ada riwayat penyakit apa? Jangan-jangan jantung?"

"Kemungkinan vertigonya kambuh, Pak. Kami sekeluarga telat menolong. Tapi, entahlah ... sebelumnya pernah mengeluh sama tetangga, jika dadanya nyeri. Banyak juga yang bilang jantung, karena jatuhnya menelungkup."

Pak Dika kembali manggut-manggut. Dia bersidekap sembari menyandarkan punggungnya di kursi duduknya.

"Mengagetkan sekali tentunya, ya. Ya sudah, saya sedikit mau cerita. Jadi, begini ... seminggu sebelum ayahmu wafat, dia telepon saya. Dia bilang kamu mau wisuda, lalu dia titipkan kamu pada saya." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, sambil memungut album di depannya, lalu membuka-bukanya.

".... sebenarnya saya tak bisa asal nerima karyawan seperti ini. Tapi, karena ini amanah terakhir beliau, dan saya yakin, kamu menuruni sifat tegas seperti bapak kamu. Jadi ... kamu besok kesini ya, berpakaian rapi. Seragam ayah kamu masih ada, kan? Dipakai saja!"

"Lho, Pak? Maksudnya ... saya bekerja di sini?" Mataku membelalak seolah tak percaya dengan berita yang barusan kudengar.

"Iya. Kamu besok mulai kerja. Sudah, belakangan saja lamarannya kalau kamu tak sempat, yang penting kamu masuk dulu."

Sontak kedua netra berbinar kala mendengar perkataan itu. Ini benar-benar kejutan di pagi hari.
Tanpa banyak pertimbangan, keesokannya aku pun masuk jam delapan pagi berseragam lengkap sesuai yang diminta.

Sungguh keberuntungan bagiku. Disaat semua berlomba-lomba mengikuti tes agar bisa masuk di perusahaan benefit ini, aku malah dengan mudahnya bisa langsung bergabung sebagai karyawan. Aku ingat pesan ibuku, agar selalu bisa bekerja dengan baik, berteman dengan semua karyawan dengan baik, menunjukkan kinerja yang baik, dan bisa menjaga tata tertib perusahaan dengan baik. Aku tahu, semua ini karena almarhum ayah. Kalau bukan karena ayah, tak mungkin aku bisa segampang ini masuk perusahaan.

Di saat briefing, Pak Dika mulai mengenalkanku pada beberapa karyawan yang lain. Kemudian aku ditunjuknya sebagai admin, dan di training oleh salah seorang admin lawas bernama Rian.

Rian ....
Ya, aku mengenalnya. Dia kebetulan juga tetangga desa. Umurnya selisih dua tahun di atasku. Ayahnya pun bekerja di perusahaan ini, namanya Pak Heri. Pak Heri dulu juga teman satu bagian almarhum ayah. Dia juga seorang Supervisor.

Kuikuti langkah santai Rian menuju sebuah ruangan. Dia menyuruhku masuk lebih dulu.

"Ruangan ini khusus admin. Nah, adminnya kita berdua. Itu tempatmu!" Rian menunjuk sebuah meja di paling belakang.

"Terima kasih," ucapku.

"Jangan duduk di sana dulu! ambil saja kursinya, bawa kemari! Lihat caraku bekerja di sini, kalau sudah paham, baru kerjakan di mejamu," tukasnya.

Tanpa menjawab, segera kuambil kursi duduk di meja belakang, dan meletakkannya di samping kursinya.

Rian mulai mengoperasikan komputer, seraya menunjukkan berkas-berkas di mejanya.

"Ini berkas sebelum di-input, kamu ambili dulu dari beberapa gudang yang kamu pegang. Kamu bawa motor yang disediakan, jangan lupa pake helm keselamatan warna kuning yang ada di luar itu!" Ia menunjukkan sebuah helm yang seperti helm pekerja proyekan.

"Cara nginputnya gini ...." Ia lalu mulai mencontohkan cara bekerja dengan secarik kertas yang dipegangnya, dan aku tentu mengamati setiap penuturan Rian dari awal sampai akhir.

"Sudah, kamu kerjakan berkasku dulu. Kan, belum dibagi sama Pak Dika, kamu megang gudang mana saja" ucapnya lagi sembari menyodorkan setumpuk berkas setebal kira-kira seratus halaman lebih itu ke tanganku. Lalu dia beranjak dari duduknya seraya berucap, "Aku tinggal dulu."

"Lho, Mas? Ini harus selesai hari ini?"

"Nggak harus. Kalau kamu sanggup ya lebih bagus, sih."

Seusai berkata begitu, Rian pergi berlalu dari ruangan.

Kupandang tumpukan berkas di tanganku kali ini. Sebanyak ini mana mungkin selesai dalam satu hari? Namun, kuoptimiskan diriku sendiri bahwa 'AKU BISA!' Akhirnya kupungut secarik kertas hadapan, dan mulai mengerjakan tugas.

-----

Jam istirahat ....

"Siang, Mas!"
Suara seorang lelaki tua paruh baya menegurku dari belakang. Ia mengambil duduk di sebelahku sambil meletakkan bekal makannya yang terbungkus kertas minyak itu.

"Podo mbontote, Mas. Enak masakane bojo (sama bawa bekalnya, Mas. Enak masakan istri)," Lelaki itu terkekeh padaku seraya membuka bekal yang dibawanya.

"Ya, Pak. Lebih hemat juga," balasku.

"Ngomong-ngomong, sampean anak Pak Wo, ya?"

"Pak Sujiwo."

"Lah, nggih.... Itu maksud saya. Orang di gudang semua manggilnya pak Wo,Mas. Eh, tapi wajahnya kok beda, ya?"

Aku tertawa lucu mendengar ucapan bapak itu. Memang, wajahku tirus,sama seperti ibu. Hidungku juga mancung. Kalau ayah berhidung pesek, wajahnya persegi, menurun ke kakak perempuanku.

Lelaki paruh baya itu lalu menceritakan tentang sosok ayah yang disegani para anak buahnya. Caranya bekerja, yang tak disukainya apa, dan banyak lagi yang lainnya. Sepertinya peran ayahku penting bagi yang lain, sehingga mereka semua merasa kaget dan sangat kehilangan saat mendengar ayah meninggal.

Tiba-tiba, bapak paruh baya ini menghentikan ceritanya saat seorang lelaki kebetulan melintas di depan kami.

"Itu tuh, si Bambang. Bocah ndablek! Banyak banget bikin kesalahan, tapi dibelain terus sama Pak Wo. Semua anak segudang gak ada yang suka, banyak mengeluh karenanya, tapi pak Wo selalu membelanya."

Aku terdiam sejenak memandang pria berwajah tirus dengan banyak jambang tak beraturan di wajahnya. Kali ini, akhirnya kulihat sendiri pria bernama Bambang itu. Ya, dulu aku sering mendengar namanya dari ayah. Di mata ayah, Bambang sebenarnya pekerja keras. Hanya saja hutangnya banyak di luar sana, yang kemudian membuatnya malas bekerja. Dia hampir di PHK, tapi ayah terus membelanya.

"Begitulah, Nak, kalau salah langkah sedikit. Semuanya hancur. Hutangnya banyak, rumah tangga berantakan, kerja seperti apapun tetap saja terasa malas nggak ada semangat. Karena apa? Karena dia merasa gajinya selalu kurang untuk menutup hutang. Makanya, ayah peringatkan kamu sebagai laki-laki, jangan sekali-kali mengenal judi, narkoba, ataupun bermain-main perempuan!" Aku ingat betul nasehat ayah saat itu.

Kulihat ID card yang tergantung di leher bapak sebelahku itu. Membaca namanya. Syaiful.

"Saya tadi lihat anaknya Pak Heri asyik merokok, Mas." Pak Syaiful menghentikan bicaranya, melempar kertas minyak pembungkus bekalnya tepat ke lubang kotak sampah.

"Ealah, Mas ... yang sabar satu bagian sama Mas Rian. Mentang-mentang anaknya Pak Heri, kerja sak enak'e dewe (kerja seenaknya saja)," ungkapnya lagi.

Hmmmmm ... seperti itukah? Aku tak seberapa akrab mengenalnya di rumah. Namun, kebanyakan temanku memang berkata dia anak yang sombong. Karena merasa anak orang kaya, bicaranya terlalu tinggi.
Ah, kalau cuma masalah gaya bicara, aku tak terlalu mempedulikan. Itu sudah karakter, dan aku tak selalu mengambil hati setiap perkataan orang yang terasa aneh.

Sorenya, aku pulang dengan badan yang begitu lunglai. Hari pertamaku bekerja sungguh capek luar biasa. Tak hanya duduk di depan monitor, tapi juga pergi ke sana- ke mari mengambil berkas dari satu gudang ke gudang yang lain, yang tak cukup sekali jalan. Terkadang ikut memeriksa truk besar masuk menurunkan barang mentah, memeriksa kode barcode, dan lain-lain. Sebenarnya tugasku tak serumit ini, tapi Rian berkata, Pak Dika yang memintaku seperti itu. Sekalian menghafal lokasi gudang A,B,C bagianku. Serta agar mengetahui proses keluar-masuknya barang.

Malam ini kuistirahatkan total badan, setelah ibu dan kakak menginterogasiku di hari pertama masuk kerja. Tak pakai mandi,tak pakai ganti seragam, langsung kupejamkan mataku kala itu juga ....

****

Pukul 08.30 WIB

Tak terasa sudah sebulan aku bekerja di perusahaan ini. Begitu senangnya saat aku menerima gaji pertamaku kemarin.
Kupastikan pertama kalinya aku pegang uang sebanyak itu.

Selesai menata berkas,kuhidupkan tombol On/Off komputer di hadapan. Sembari menunggu, kuambil dompet dari saku celana, mengeluarkan secarik foto. Yups, foto terakhirku bersama ayah saat aku wisuda. Di foto itu ada pula ibu, kakak perempuanku dan kedua anaknya.

Aku tersenyum memandang mereka dalam foto. Lalu, kuselipkan foto itu di meja kerjaku yang bertumpuk dengan kaca tebal. Wajah kedua orangtua terlihat tersenyum di foto itu, seolah bahagia. Kemudian, kualihkan pandangan kembali pada monitor. Sejenak, memilah-milah berkas di atas meja. Menyendirikan berkas yang sudah kuinput dan yang baru kuterima.

Tak lama Rian masuk ke ruangan. Matanya masih awas menatap gawai digenggamannya. "Gimana? Sudah kau kerjakan sampai mana?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun.

"Yang kemarin hampir selesai, Mas. Ini aku juga mau ngerjain yang baru kuambil."

Lelaki berkulit putih itu lalu berjalan ke arahku, menarik posisi monitor menghadap kepadanya.

"Ini tanggalnya rubah saja! Pakai tanggal kemarin." Ia mulai menggerakkan mouse. Mengganti angka 14 menjadi 12 di kolom yang menunjukkan tanggal.

"Emang gak apa, Mas, kalo nggak sama dengan yang di form?"

"Siapa yang mau lihat berkas segitu banyaknya? Yang pasti dilihat itu langsung di komputer," jawabnya enteng. Aku bergeming mendengar itu.

Rian pun kembali ke meja kerjanya, sambil menyalakan rokok. "Sudah, cepat kerjakan!" titahnya.

Memandang sekilas, membuat perasaanku sedikit gemas karenanya. Sedari awal aku bekerja, ia hanya menyerahkan berkas-berkasnya padaku. Yang dilakukannya hanya menatap gawai, main game online berjam-jam, dan berkas yang di mejanya hanyalah kamuflase untuk mengelabuhi Pak Dika atau Pak Heri yang muncul tiba-tiba. Jika pekerjaanku sudah selesai, baru dia tukarkan berkasnya itu dengan milikku. Aku merasa dia menjadikanku sebagai budak!

Ah, sudahlah! Aku ingat omongan kakakku, bahwa yang namanya kerja pertama kali, tentu wajib disuruh-suruh. Apalagi disuruh yang mentraining kita. Ini hanyalah sementara. Ini tak akan lama ....

"Gimana, Mas ... kerja satu bagian sama Mas Rian?" tanya Pak Syaiful padaku.

Beginilah, setiap jam istirahat Pak Syaiful selalu mendekatiku, bertanya-tanya.

Aku tersenyum dan berkata, "Biasa saja, Pak."

"Sing betah, Mas. (yang betah, Mas). Dia memang suka mentang-mentang karena ada bapaknya disitu."

"Nggih, Pak."

Kami tak lagi bercerita. Fokus melahap makanan masing-masing.

Seusai makan dan minum, aku langsung balik ke ruanganku.

Ketika kaki melangkah hendak memasuki ruangan, betapa kagetnya kedua netra saat menemui Pak Dika sudah berada di sana dengan raut wajah seperti kesal.

"Siang, Pak." Aku menyapanya sembari tersenyum.

"Sini, Mas!" Pak Dika melambaikan tangan padaku, yang akhirnya membuatku menghampirinya.

"Mas, kalau kerja itu yang jujur! Kalau di form ini bertanggal sekian, ngetiknya juga tanggal sekian. Tolong, ya ... ini sama saja melimpahkan kesalahan pada orang gudang. Saya dari kemarin marah-marah, lho, sama supervisornya. Saya pikir mereka yang lelet, ternyata samean yang gak bisa kerja dengan benar!"

"...." Aku tak bisa berkata.

"Kerja pertama-kedua, nginput molor gak masalah bagi saya, Mas. Ini kan udah sebulan, ya? Coba kontrol diri sendiri, Mas. Misal berkasnya ada seratus lembar, paling tidak selesai dua hari. Samean, kan, kerja berdua, Mas ... masa' satu orang pegang tujuh gudang saja, kerja sampai lima-enam hari?"

Aku menunduk. Bingung. Bagaimana bisa aku menjelaskan kalau selama ini yang bekerja hanyalah aku. Sementara Rian sibuk dengan HP-nya.

"Mas Rian training samean bagaimana, Mas? Apa memang tanggalnya disuruh ngerubah? Masalahnya, baru kali ini, lho, tanggal bisa salah."

Tiba-tiba, omongan Pak Dika membuatku tersentak. Baru mau membuka mulut, Rian datang membuka pintu. Matanya masih awas dengan ponsel di tangan, sehingga ia tak mengetahui ada Pak Dika di depannya.

"Mas Rian!" Tampaknya suara dari Pak Dika membuatnya kaget luar biasa. Rian segera menyaku HPnya dan menghampiri.

"Saya curiga dari awal, sudah saya duga kalau Mas Dani ini bekerja sendirian ...." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, beranjak dari kursi dan menghadapkan posisi berdirinya di antara kami.

"Kalau Mas Dani tak bekerja sendiri, mana mungkin dia bisa lelet seperti ini! Telat kirim form, mana dia sampai mengganti tanggal di komputernya. Ckckck ...." Pak Dika menggeleng-gelengkan kepala menatapnya.

Keringatku mulai bercucuran dingin. Sekilas kutatap Rian memicing sinis padaku.

"Bagaimanapun, kau yang salah! Mentraining bukan berarti melimpahkan kerjaanmu padanya. Bukankah sudah saya bagi, kamu pegang gudang mana saja? Kerjaan itu dikerjakan Mas Dani sendiri, jelas saja dia tak sanggup!" Suara Pak Dika mulai meninggi.

"Ayo, kamu ke ruangan saya! Saya panggil Pak Heri juga!"
Seusai berkata begitu, Pak Dika pun berlalu.

Wajah Rian mulai memerah. Ia menatapku awas, dengan napas yang memburu kesal.

"Awas kau!" Ancamnya kemudian.

Dia lalu pergi meninggalkan ruangan.

Kini tinggal aku sendiri di dalam ruangan. Kutelan ludah pahit, seiring dengan rasa cemas yang menggebu.
Wah, rasa-rasanya bakal meledak ini ....

(bersambung)
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 16 dari 31
Rekan kerja
04-12-2019 08:57
nikah sama yg tulus & ga mainin perasaan aja mas...
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 09:00
Gk mau nebak2..liat aja nanti akhirnya sama siapa...


Selalu nunggu kelanjutannya..jgn putus ditengah jalan ya...emoticon-Big Grin
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 09:35
Sama Sefti lahhh....
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
04-12-2019 09:39
Balasan post shafanya
Wah provokator nih emoticon-Wkwkwk
Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan shafanya memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
04-12-2019 10:11
Quote:Original Posted By curahtangis
Wah provokator nih emoticon-Wkwkwk


Ga mau kisahnya langsung end setelah nikah
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
04-12-2019 10:15
si mak lampir kayaknya nyari kambing hitam, yang ngelakuin kesalahan input kan si feri, apa maklampir suka si feri jadinya si dani yang dikambing hitamkan ya
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 10:30
mau nikah ama sefti kek mau ama adel ke yg penting lanjut hehe
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
04-12-2019 10:42
Balasan post shirazy02
Kenapa gak langsung nanya yang kasih obatnya sih sakitnya Ibunya
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 10:43
kalau di lihat karakter dani ini, orang nya gak suka komunikasi dan malas berdebat, jadi gregetan sendiri
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
04-12-2019 10:50
Balasan post shirazy02
Adel mungkin ,bukannya si sefty sama si rian
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 11:38
hmmm.. dany nikah sama ts emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan awanpeteng memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
Lapor Hansip
04-12-2019 13:12
Balasan post noth84
Quote:Original Posted By noth84
hmmm.. dany nikah sama ts emoticon-Cool


bisa jadi sih, mungkin dany sudah mati rasa sama cewek karena dikecewain adel sama sefti, jadinya berubah haluan malah nikah sama TS emoticon-Wakaka emoticon-Peace
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan noth84 memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
04-12-2019 13:57
Quote:Thanks untuk yang ninggalin banyak cendol. Sampe hapal betul siapa-siapa aja yang suka ninggalin jejak 😂 ohya, Dani yang asli udah menikah, ya! Usia pernikahannya mau jalan satu tahun. Coba tebak, Dani nikah sama siapa? Adel apa Sefty? 😂😂


Pasti sama adel emoticon-Bingung
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
04-12-2019 15:11
Balasan post shafanya
Jawaban tebakan :
Dua duanya dinikahi Dani emoticon-Wkwkwk

Ini cerita kalau di share ke RCTI. Bisa bisa jadi sinetron prime time emoticon-Recommended Seller
Ceritanya nggemesin emak emak

Quote:Original Posted By shafanya


Ga mau kisahnya langsung end setelah nikah


Ha-ha-ha kalau bisa sampek 2 tahun ya emoticon-Shakehand2
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 17:59
Quote:Original Posted By shirazy02
Yuk, cekidot!

Sekedar saran gan,
Untuk indeks nya dibikin gini aja gan biar enak dibaca dan dilihat gan,



INDEKS
Diubah oleh g.gowang
0 0
0
Rekan kerja
04-12-2019 18:01
Quote:Original Posted By awanpeteng
bisa jadi sih, mungkin dany sudah mati rasa sama cewek karena dikecewain adel sama sefti, jadinya berubah haluan malah nikah sama TS emoticon-Wakaka emoticon-Peace


Lah bukannya TS nya cewek ya emoticon-Ngakak
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
04-12-2019 18:31
ngakak baca komentar kalian, Gaeess
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan corongalam memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
04-12-2019 18:32
Quote:Original Posted By curahtangis
Jawaban tebakan :
Dua duanya dinikahi Dani emoticon-Wkwkwk

Ini cerita kalau di share ke RCTI. Bisa bisa jadi sinetron prime time emoticon-Recommended Seller
Ceritanya nggemesin emak emak



Ha-ha-ha kalau bisa sampek 2 tahun ya emoticon-Shakehand2


Hhhh, kek tukang ojek pengkolan kesukaan emak-emak emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
edsixteen memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 19:49

Rekan Kerja (part 19)

"Nggak kerja?"

"Berangkat jam sepuluh."

"Lho, kok tumben?"

Kugelengkan kepalaku pelan, seraya menjawab, "Nggak tahu, Bu."

Ibu tak lagi merespon. Ia mendekatiku yang tengah duduk di teras rumah, ikut mengambil duduk di sebelah, sambil menikmati krupuk udang yang ada di genggamannya.

Lima menitan kami terdiam, sampai akhirnya kuberanikan bertanya dengan pelan, "Bu ... sebenarnya ibu sakit apa, sih?"

Wajah tua itu menghentikan cemilannya, menatapku sambil memegang kepalanya, "Ini lho, Dan. Gak bisa mikir," jawabnya.

"Haa? Maksudnya nggak bisa mikir, bagaimana?"

"Kok nanya lagi. Kan, sudah pernah ibu beritahu kalau tiba-tiba ibu itu sering nge-blank. Makanya, kadang ibu di dapur lama sekali itu bukan karena lambat memasak, ibu banyak mondar-mandirnya. Tadinya mau blender bumbu, lupa. Mau begini, lupa. Mau begitu, lupa. Jadinya banyak ngluyur kesana-kemari."

Lho? Memang ada yaa ... sakit yang aneh seperti itu?
Masa iya, ibu ini kebanyakan konsumsi obat, jadinya blank kayak gitu. Sudah sedari aku SMP sih, obat-obat terus.

"Kok aneh begitu, ya, Bu?" tanyaku penasaran.

"Ya, Dan. Ibu juga nggak tahu. Makanya, kadang kalau ibu nangis, ibu teriak, marah ... tolong biarkan saja! Mbuh, Dan ... ibu gak ngerti loro opo, tapi nek ibu ngamuk-ngamuk, rasane beban iku ilang. Dodo sesek dadi plong, nang sirah yo enak." (entah, Dan. Ibu tak mengerti sakit apa, tapi jika ibu mengamuk, rasa beban itu hilang. Dada sesak jadi plong, di kepala juga enak)

Heee?? Aku mengernyitkan dahi saking merasa anehnya. Gimana, sih? Masa dokternya nggak bilang sakit apa-apa. Kan, lucu.... Denger ceritanya ibu saja sudah aneh. Kok, jadi tambah penasaran aku.

"He, Dan ... Ibu kemarin ketemu Sefti, ternyata dia sudah nggak kerja, ya?"

Suara ibu barusan membuatku lebih kaget lagi.

"Lho, masa? Ketemu di mana?"

Akhirnya, ibu cerita, ketemu di pasar. Rupanya sudah tiga hari yang lalu dia keluar dari pabrik. Dia bilang pada ibu jika ingin mencari pekerjaan lain. Eh, tapi ... aneh juga bagiku. Bukankah pekerjaannya sangat lebih baik, perihal gaji dan suasana tempat kerjanya, misal. Ia bahkan sangat mencintai pekerjaannya, terlihat dari caranya mengabdi, bahkan tak pernah mengeluhkan soal pekerjaan.

Aneh, kenapa sebelumnya dia nggak pernah bercerita kalau ingin resign? Seolah terkesan mendadak. Kuterawangkan pandangan, sekilas menduga-duga.

Tiga hari yang lalu resign? Bukannya tepat insiden itu, dan semenjak itu dia juga sudah stop menghubungiku.

Nah, kan? Kenapa aku jadi merasa ingin tahu. Ada hubungannya nggak, sih, denganku?

Di tengah rasa penasaran yang menyeruak, lagi-lagi aku di kagetkan dengan sebuah mobil hitam yang memasuki halaman.

Aku hafal plat mobil siapa itu. Cepat-cepat aku beranjak, lalu berpesan pada ibu, "Tolong temui dulu, Bu! Sepertinya itu keluarga Adel." Tanpa menunggu jawaban dari ibu, langsung saja aku mengambil langkah pergi.

Perasaanku kini jauh lebih berdebar dari sebelumnya.

****

Selesai berganti baju dan memastikan berpenampilan rapi, dengan hati deg-deg'an akhirnya aku keluar dari kamar, menuju ruang tamu. Namun, langkahku terhenti, saat mendengar namaku disebut pada sebuah perbincangan di ruang tamu. Seperti ada pengaduan yang dilontarkan ....

"Adik saya terlihat stres di rumah, karena Dani tak pernah menghiraukan komunikasi darinya. Makanya, saya kesini untuk menanyakan, sebenarnya dia itu niat nggak mempersunting adik saya?"

Glek! Kutelan ludah pahit, seiring rasa kesal yang tiba-tiba muncul.
Apa-apaan si Adam ini! Kenapa hal seperti itu diadukan ke ibu.

Kucoba intip dari balik gorden, rupanya hanya ada Mas Adam seorang di sana.

Apa maksudnya bicara seperti itu pada ibu. Bodoh sekali! Nggak ada sangkut-pautnya, seharusnya bertanya langsung padaku.

Dengan hati gusar, lalu aku keluar dari balik tirai. Menghampirinya, menyalaminya.
Wajah Adam terlihat menampakkan kekesalannya. Bahkan ia tak tahu betapa kesalnya aku sekarang.

Ibu yang sadar situasi, segera pergi dengan berdalih membuatkan minuman.

"Nggak usah berkata aneh-aneh pada ibu saya, Mas. Terus terang, saya keberatan. Dia sakit-sakitan. Suka mikir mblakrak (mikir kemana-mana). Samean nggak tahu itu." Langsung saja kusemprot lelaki itu, memperingatkannya agar lebih berhati-hati menjaga omongan.

Adam tampaknya lebih gusar dariku. Ia memandangku dengan alis terangkat dan wajah marahnya.

"Aku tak suka, ya ... melihat seseorang yang mempermainkan adikku. Sepertinya, kau hanya main-main padanya. Kau lihat bagaimana keadaannya sekarang, ia tampak stres berat gara-gara ulahmu. Heeeeii, apa salah kami? Aku beserta orangtuaku, sama-sama di-diamkannya. Kau pengaruhi apa adikku, haa??"

"Apa? Gara-gara aku? Samean pikir, aku mempengaruhi adik samean?" Kuhentikan bicaraku, ikut menatapnya dengan tatapan kesal menyeringai.

"Dengar, aku tak tahu apa masalahnya, kenapa dia begitu. Selama ini saya cukup diam karena masih ingin menjaga dia dari berbagai kepalsuan yang ia tutupi. Bodohnya saya yang malah di cap negatif sama samean sekeluarga. Dia stres akibat perbuatannya sendiri," lanjutku.

"Kurang ajar kau. Kalau tak ingat aku sekarang ada dimana, sudah kuhabisi kau!"

Aku tersenyum kecil, santai mendengar ucapannya, lantas kembali berkata, "Samean ngomong koyok ngunu, jane pean takon nang adekne samean sek. (Kamu ngomong seperti itu, seharusnya tanya ke adikmu dulu) Lho, tapi ... dia kirim chat kemarin, bukankah katanya dia sudah menjelaskan semuanya pada keluarganya. Kok samean masih nyalahin saya? Justru saya diam, itu menunggu klarifikasi dari keluarga samean yang katanya minggu depan mau kesini. Saya mau balas chat dari dia setelah semua clear."

"Maksudmu apa, jangan membingungkan!"

"Lho, ya ... bener, kan? Samean rupanya masih bingung. Berarti adik samean membohongi saya. Wah, saya merasa rugi banyak ini. Sudah nama jadi jelek, kenek awu anget pisan."

"Sakjane ono opo seh, Dan! (Sebenarnya ada apa sih, Dan)" Suara ibu tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Ibu datang dengan nampan berisi teh panas, lengkap dengan mimik muka yang tampak emosi. Ibu lalu menghampiri, meletakkan minuman itu di meja, kemudian ikut duduk bersama kami.

"Saya dari awal kok sudah nggak enak,sih. Ada apa sih, Dan? Awakmu dibujuki opo karo Adel? (kamu dibohongi apa sama Adel)" Ibu mengoyak lenganku kencang. Rasa penasarannya membuatku tak bisa membuka mulut. Tak mungkin aku cerita macam-macam. Aku takut pikirannya melebar kemana-mana.

Bukannya meredam suasana, Adam malah membuat keruh dengan menyatakanku yang tak serius mempersunting adiknya. Bahkan banyak lagi perkataan tak enak yang diutarakan. Dia tak sadar bahwa hal itu akan menjadi boomerang sendiri untuknya.

Ibu yang tak terima anaknya dibilang mempermainkan, lantas memprotes, "Adik samean itu, ya ... kesini hanya sekali, sambil nangis-nangis pula. Padahal Dani baru memperkenalkannya pada saya. Anak saya itu pendiam. Ia tak pernah membawa perempuan pulang sebelumnya, kecuali adik samean. Tahu-tahu, Dani minta saya untuk melamarnya. Itu saya sudah curiga, lho! Kok gak jelas gitu. Wong yaa, Dani tak pernah bertemu dengannya sedari lulus kuliah. Berarti sudah lama gak tahu kabar, bukan?ckckck!" Ibu menggeleng-gelengkan kepala, mungkin karena kesalnya.

"Sudah dari awal saya menolak kemauan Dani, saya sudah firasat tak enak. Kalau tak karena anak saya yang perempuan meyakinkan saya betul-betul kalau si Adel anak baik, mana mau saya kesana untuk menanyakan dia. Samean jangan asal kalau ngomong, ya!"

Bak tersulut api, mungkin sepanas itu rasanya isi kepala ibu.

Omongan mentah ibu barusan agaknya membuat si Adam kaget bukan main. Ia tercengang dan tak bisa berkata apa-apa.

"Wes, Dan. Timbangane awakmu kenek getahe, wes lerenono'ae mumpung durung. Ojok micek gara-gara wedokan. Koyok gak onok wedok liyoae (sudah, Dan. Daripada kamu kena getahnya, sudah akhiri saja mumpung belum terlanjur. Jangan buta hanya gara-gara perempuan. Seperti tak ada perempuan lain saja)" Ibu menarik lenganku, mencoba membawaku masuk ke ruang tengah. Tampaknya kemarahan ibu sudah berapi-api.

"Bu, sabar, Bu!" Aku yang bingung, mencoba menenangkan.
Kenapa akhirnya jadi tak enak begini sama si Adam?

"Bu, tidak bisa begitu. Jangan memutuskan hubungan sepihak! Maafkan jika bicara saya menyinggung. Tolong pedulikan perasaan adik saya, Bu. Adik saya sudah terlanjur mencintai Dani." Mas Adam mulai mengiba.


Ibu terus saja menarik paksa lenganku, agar aku ikut dengannya masuk ke dalam. Hal ini membuat Adam beranjak, mencari celah untuk menjabat tangan ibu dan meminta maaf.

"Ngapunten, Ibu ... jika omongan saya tadi menyinggung. Sabar, Bu! Mungkin kita semua memang salah paham. Kita bisa bicara baik-baik ...."

"Ngomong apik-apik opo? Wis gak iso! Anakku nang kene bebane wis akeh, kok malah jange dadi korban bebane wong liyo. Masio koyo'ne keluargamu sak nggunung, aku gak sudi! (bicara baik-baik apa? Sudah gak bisa. Anakku di sini bebannya sudah banyak, kok mau jadi korban beban orang lain. Meskipun kekayaan keluargamu segunung, aku gak sudi!)" Mata ibu membelalak tajam menatap Adam. Suaranya bergetar, seakan ingin menangis.

"Dan, tolong!" Berganti, ia meratap menatapku. Kuhela napas panjang saking bingungnya.

Akhirnya, Adam mengalah, ia pergi. Tinggal aku dan ibu kini di ruang tamu.

Ibu langsung memelukku, menangis sejadi-jadinya, sambil mengelus dadaku berulang.

"Kok cik gobloke seh koen, Nakkkk! Masi seneng arek iku, yo gak sakmunune, Naaakk...." (Kok bodoh betul kamu, Nak. Meski suka sama anak itu, tapi ya gak segitunya, Nak)

Perasaanku berbaur dengan apa yang ibu rasakan. Entah kenapa, jadi tak kuasa melihat sosok ibuku seperti itu.
Mbak Diah yang baru masuk rumah, merasa bingung dengan keadaan.

"Kenapa?" Ia bertanya padaku tanpa mengeluarkan suaranya.

Aku menjawab dengan gelengan kepala dan sedikit picingan mata. Tanganku masih merengkuh badan ibu yang hangat.

"Bu, sudah! Jangan dipikirkan. Aku juga sebenarnya tak tahu ada apa, mungkin saja memang kita semua salah paham seperti yang dibilang mas Adam," seruku sambil mendudukkan ibu ke kursi. Kemudian kudongakkan kepala, menatap jam dinding di ruang tamu.

"Sudah jam sembilan, Bu. Aku bersiap kerja dulu. Jangan pikirkan yang aneh-aneh! Tolong," pesanku lirih.

Kuhapus air mata ibu yang masih mengalir. Melirik mbak Diah sepintas, yang akhirnya menghampiri. Mbak Diah menggantikan posisiku menenangkan ibu.

Huuufft!

Kuhembuskan nafas, berjalan menuju kamar mandi.

Akhirnya semua dibukakan sendiri, tanpa harus aku yang berbicara pada ibu. Lega rasanya. Namun, aku juga sedikit tak enak hati. Iya kalau benar semua dugaanku terhadap Adel. Nah, kalau tidak? Berarti memang benar, aku yang mempermainkannya, karena sedari awal tak ada niatan untuk melamar. Hanya keraguan yang selalu ada.

Oh, Tuhan. Beri petunjukmu!

****

"Rapat, rapat!"

Suara menggelegar khas halilintar Pak Bekti berkumandang.

Seluruh karyawan yang lain saling bertanya karena bingung. "Rapat? Sejak kapan ada komando rapat sebelumnya?" tanya Bu Nike keheranan, ketika aku melintas di depannya. Karyawati yang lain masih ramai berdesas-desus, dan aku hanya mendengarkan dari kejauhan. Mungkin karena tak biasa ada rapat mendadak, jadinya semua saling menebak.

Aku masih diam, ikut berdiri pada barisan mereka. Masih kudengar bisik-bisik para perempuan yang tengah penasaran dengan topik yang akan dibicarakan.

Seperti yang dibahas Pak Dika, hari ini adalah hari terakhirku bekerja. Sengaja aku disuruh berangkat siang, mengingat kerjaanku memang telah tuntas sedari kemarin. Agar cukup singkat waktuku berpamitan di pagi yang mendebarkan ini.

Huuuffft!

Kuhembuskan nafas penat, mencoba rilex dari keadaan. Tiba-tiba, aku dikagetkan dengan seseorang yang merangkul pundakku dari belakang. Rian!

"Seneng'aa, Bro? Suweneeeeeng atiku (Seneng gak, Bro? Suenaaaang hatiku)," bisiknya lirik, membuatku memalingkan muka karena muak.

"Aku merangkulmu sebagai pecundang, tak usah GR!" katanya lagi, sembari melepaskan pelukannya dariku. Aku minggir sedikit, menjaga jarak darinya, dan ia tertawa seperti orang gila.

"Biasa'ae, Coy! Kan sudah kubilang, jangan macam-macam denganku. Aku bisa memecatmu kapan saja. Ngelamak seeh, koen!!" ujarnya dengan nada tak enak.

Kali ini sudah tak tahan aku mendengar ucapannya, kupandang ia lekat, lalu berkata, "He, Cadel. Ngomong kalo gak bisa bener, gausah banyak omong! Malu sama mukamu yang blitutan."

Mendengar itu, ia terdiam dengan raut wajah yang sangat tak mengenakkan. Aku menahan tawa melihatnya. Sebelum kuputuskan mencari tempat lain dan menjauh, kubisikkan satu kalimat lagi untuknya, "Aku yo suweeneeeng saiki, ndelok oplasmu sing guanteng temenan (aku juga sueneeng sekarang, melihat oplasmu yang guanteng beneran)."

Kulangkahkan kaki gontai dengan hati kian bersenandung. Senang sekali rasa hati bisa mengatainya seperti itu. Ya, ia masuk kerja dengan wajah bonyok dimana-mana. Bahkan, pelipisnya robek lebih lebar dari yang pernah ia lakukan padaku. Diri yang awalnya penuh rasa bersalah, akhirnya sirna juga saat melihat gaya sok-nya. Maksud hati ingin meminta maaf, ah kurasa tak patut aku melakukannya.

Mataku berkeliling mencari tempat. Akhirnya kutemukan tempat di pojokan, berbaur dengan ibu-ibu. Ah, sudahlah! Yang penting aku ikut rapat.

Tak berselang lama, Pak Dika muncul bersama Pak Heri di sampingnya. Aku semakin berdebar menunggu rapat dimulai.

Akhirnya, kalimat demi kalimat terlontar dari mulut Pak Dika, membicarakan tentang pengalihan jabatan yang baru, dan juga sistem peraturan kerja yang ditambah. Akhirnya, sampai juga membahas tentangku.

"Sebelum saya akhiri rapat hari ini, ada seorang karyawan, rekan kerja kita, yang mengundurkan diri dan ingin berpamitan," Pak Dika menghentikan sejenak bicaranya. Tak pelak, banyak karyawan saling berpandangan. Tak sedikit dari mereka menoleh padaku, menebak-nebak.

"Baru kali ini mengundurkan diri saja dibahas. Emang siapa, sih. Orang penting kah?" Suara karyawati di sebelahku berbisik pada rekan kerja sebelahnya. Aku sedikit menelan ludah, gugup.

"Ayo, Mas Dani!" Pak Dika melambaikan tangan padaku.

Kuanggukkan kepala pelan, perlahan berjalan menujunya. Aku yakin semua mata kini tertuju padaku, dan beberapa prasangka tercetus dari bibir mereka.

"Selamat pagi!" Aku berusaha tersenyum mengawali pembicaraan.

"Hidup adalah sebuah pilihan ... dan pilihan yang tepat tidak akan berakhir pada sebuah penyesalan. Begitu juga pada jalan yang saya ambil sekarang ini. Terima kasih sebelumnya kepada Pak Dika, karena telah diizinkan bergabung dengan perusahaan ini, sungguh kehormatan sekali bagi saya. Selebihnya saya meminta maaf, jika selama bekerja dan mengabdi, saya banyak melakukan kesalahan. Kepada seluruh rekan kerja di sini, terima kasih bimbingan dan solidaritasnya. Selama saya bekerja, saya mohon maaf bila sering membuat repot, maaf atas segala kekhilafan. Semoga ini bukan terakhir kali kita menjalin silaturahmi. Karena silaturahmi terjalin bukan hanya di lingkungan kerja, tapi kapanpun dan dimanapun kita akan bertemu ...." Aku menghentikan bicaraku sejenak, entah kenapa tiba-tiba batuk refleks.

"Ehm ...., satu pesan saya untuk semuanya. Bahwa hanya orang yang bekerja keras dengan hati, yang akan memperoleh kesuksesan. Saya yakin, kalian semua adalah orang yang seperti demikian.Tetap solid, tetap semangat, selalu menjadi yang membanggakan untuk perusahaan!"

Pak Dika lalu menepuk pundakku, disusul dengan para karyawan yang lainnya. Mereka menghampiri, menjabat tangan, ada juga yang menangis, Bu Nella. Gampang baper memang orangnya. Karena dia, semua karyawati di kantor ikut menangis. "Baik-baik, Mas Dan!" seru beberapa orang di antaranya.

Kini di hadapanku ada Rian.
Ia tersenyum sinis sebelum akhirnya menjabat tanganku. "Enak, ya? Awakku kon larani, awakmu tak lereni (Aku kau bikin sakit, kamu kubikin berhenti)," bisiknya sambil tertawa pelan ditelinga. Aku spontan tergelak dan menjawab,"Berhenti di pekerjaan ini bukan akhir dari segalanya, Bro. Mati rejeki sudah ada yang atur. Tapi mati perasaan karena penyakit hati, baru itu susah diatur."

Wajah itu terlihat semakin sinis. Ia menatapku tajam sampai akhirnya berlalu. Terus kujabat semua rekan kerja yang tak lelah menyemangati, hingga sampai pada si Feri ....

Ia tak menjabat tanganku. Tak juga memelukku seperti yang lain. Namun, digandengnya tanganku, sambil tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Aku begitu heran. Apa maksudnya? "A-ada apa, Mas? Kita mau ke mana?"

Ia tak menjawab, menarik tanganku bersamanya. Menjauh dari kerumunan para karyawan yang ingin memberiku salam terakhir. Mencari tempat yang lapang. Kemudian berkata lantang ....

"Perhatian untuk yang lainnya!"

Ia menghentikan bicaranya sejenak, setelah berhasil mencuri perhatian seluruh karyawan.
Aku semakin bingung dengan lelaki ini. Apa yang mau diperbuat?

"Terima kasih sudah menyempatkan waktu sejenak. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu ...."

Feri menatapku sejenak, tersenyum, kemudian berkata lagi, "Saya tahu, Dani tidak mengundurkan diri. Tapi, dia dipaksa mengundurkan diri. Saya pikir, ini tak adil. Meski saya tahu ia kapan hari membuat kesalahan yang fatal, tapi jika dibandingkan dengan jatuhnya harga diri, saya pikir apa yang diperbuatnya itu seimbang."

Aku menelan ludahku. Ngeri melihatnya. Apa-apaan anak baru ini. Kenapa berani sekali berkata di depan khalayak. Seluruh karyawan saling pandang dalam diam.

Rian dari kejauhan tampak gusar, apalagi wajah Pak Heri.

"Fer, sudah. Jangan bicara yang tidak-tidak. Percuma!" Kuperingatkan dia dengan nada lirih. Aku pikir, tak ada yang mendengar.

Feri malah memanggil nama Rian dengan lantangnya. "Rian, tolong yang namanya Rian, ke sini!"

Lagi. Semua karyawan saling menoleh, mencari asal di mana Rian. Akhirnya, ia muncul dari balik kerumunan. Masih dengan wajah begitu songong!

"Karepmu opo, Blok? Jok polah karo aku, wani-wanine koen (maumu apa? Jangan bertingah denganku. Berani-beraninya kau)" Rian yang tak terima, mengancam lirih padanya.

Feri bergeming. Sepertinya tak berpengaruh. Sementara semua karyawan saling bingung menatap satu sama lain.

Pak Dika kemudian berjalan menghampiri kami. Senyumnya mengembang. Ia menghadap pada seluruh karyawan yang ada.

"Perkenalkan, Feri Wijaya Tan. Dia pindahan dari kantor pusat, sekarang menjabat menjadi Section Head di cabang Sidoarjo."

Penuturan itu membuatku kaget bukan main. Terlebih Rian!
Ia melongo dan sepertinya salah tingkah.

Jadi, karyawan baru yang kapan hari kutraining itu ....

"Dia keturunan Mr. Tony Tan?" Tertangkap jelas di telingaku bisikan Pak Heri pada Pak Dika. Hal yang mencengangkan kala kutatap wajah Pak Dika langsung mengangguk.

Entah kenapa, jantungku semakin berdebar. Sekilas kutengok Rian. Nampaknya ia jauh lebih berdebar daripada aku.

(bersambung)
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
siloh dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 3 balasan
Rekan kerja
04-12-2019 19:50
habis part dani pukul rian kok tokoh sefty belum muncul
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 16 dari 31
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
secangkir-kopi
B-Log Personal
indahnya-kebersamaan
Stories from the Heart
story-gift-from-you
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia