Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
613
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd27c6b018e0d6489170ace/rekan-kerja
Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan dibelakangnya sambil mengomel tiada henti. Yaaa, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali.....
Lapor Hansip
18-11-2019 18:11

Rekan Kerja

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Rekan kerja

Prolog

Pesan terakhir almarhum Ayah Dani kepada mantan rekan kerjanya, membuat Dani keterima kerja di sebuah perusahaan benefit dengan cuma-cuma. Namun, ada suatu kesalah pahaman yang membuat ia selalu bersitegang dengan Rian, rekan kerjanya satu bagian. Setiap hari selalu saja ada masalah di kantor. Tak hanya itu, ia juga terjebak dalam hubungan rumit bersama teman semasa kuliahnya. Sementara di lain sisi, ia tak sengaja menaruh hati dengan calon tunangan Rian. Akankah Dani mampu melewati semua godaan itu?

Rekan Kerja adalah sebuah cerita (nyata) yang menceritakan perjuangan seorang anak muda bernama Dani (nama disamarkan). Sosok pendiam, penyabar, tapi kepeduliannya sangat tinggi. Ia merasa bahwa dirinya adalah pengaruh utama yang bertanggung jawab atas keluarganya. Segala hiruk-pikuk kehidupan dan masalah yang terjadi di sekitarnya tak luput selalu menjadi beban pikiran, tapi ia selalu tegar bagaimanapun keadaannya, karena ia merasa harapan dan kebaikan selalu ada di setiap jalan.

Cerita ini sangat menarik dan kupastikan kalian akan selalu terbawa untuk mengikutinya, karena jalan ceritanya lain daripada yang lain. Yuk, cekidot!


INDEKS


Sekuel 'Rekan Kerja'


(Part 1)

Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan di belakangnya sambil mengomel tiada henti. Ya, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali ....

Tiba-tiba, dari dalam rumah ibu berseru memanggilku dengan terburu-buru. Di tangannya tergenggam sebuah ponsel milik ayah.

"Dan, Dani ... ayo diangkat cepat! Atasan ayah telpon."

Atasan? Bukannya ayah sudah pensiun setahun yang lalu. Kira-kira ada urusan apa?

"Angkat aja lah, Bu ... mungkin mau ngucapin bela sungkawa. Kan, baru sebulan ayah meninggal," tukasku.

"Ayolaaahh, angkat! Ibu takut gak bisa ngomong."

Akhirnya, dengan gugup kucoba mengangkat telpon darinya.
"Hallo!" seruku.

Kami mengobrol sepuluh menitan.

Intinya, Pak Dika memintaku datang ke kantor besok. Aku bingung dan heran, ada apa aku disuruh ke kantor?
Karena paksaan dari ibu, akhirnya aku memutuskan menemuinya keesokan hari.

****

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor, menuju bilik ruangan paling pojok. Aku hafal betul ruangan ini, karena sudah pernah magang jaman kuliah dulu. Ayahku yang dulu memintaku magang di tempat ini. Dia berharap aku bisa meneruskan bekerja di sini sepertinya, di salah satu pabrik benefit yang ada di kota kami. Alasannya, selain dekat dengan rumah, gaji pun sudah jelas jika karyawan. Selain itu pabrik ini memang memberi fasilitas tunjangan cukup menarik.

Ketika mau memasuki ruangan Pak Dika, sontak mataku tertuju pada tembok di sebelahku. Terlihat foto almarhum ayah terpampang jelas pada bingkai ukuran 10Rs itu. Dibawah bingkai foto itu bertuliskan "SUJIWO-Supervisor Gd.PM 09"
Wajah ayahku paling terlihat khas dengan kumis tebalnya, berjajar dengan beberapa puluh foto di sampingnya.

Ada rasa heran menyeruak dalam benak. Ayah bukan lagi supervisor di pabrik ini, kenapa fotonya masih saja dipasang? Bahkan foto teman-teman yang lainnya sudah berganti dengan posisi SPV yang baru.

Belum lama aku memandangi foto almarhum ayah, Pak Dika sudah menegurku dari dalam ruangannya. "Hei kamu yang di depan pintu! Kenapa terus berdiri disitu?"

Seketika aku langsung berbalik menghadap ke pintu semi-transparan itu. Mengetuk kecil pintu ruangannya, kemudian melangkahkan kaki pelan masuk ke dalam.

"Oohh, kamu ... yang saya telpon kemarin, ya? Anak Pak Sujiwo?" Pak Dika beranjak dari kursinya menyambutku.

Kusalami tangan Pak Dika seraya memperkenalkan diri, "saya Dani, Pak."

"Ya,ya, ayo duduk!"

Mendengar itu, aku pun mengambil duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.

"Heeeemm, kamu anak Pak Sujiwo?" tanyanya lagi dengan raut wajah seperti tak percaya.

"Ya, Pak. Benar." Kujawab tegas pertanyaan Pak Dika dengan seulas senyum. Lelaki itu kemudian manggut-manggut menatapku. "Kamu yang baru wisuda bulan kemarin itu, kan? Yang besoknya ayah kamu meninggal?"

"Ya, Pak. Benar."

"Hem, yaaa, yaaa ...." Pak Dika beranjak lagi dari tempat duduknya, mengambil sebuah buku bersampul hitam tebal dari rak di belakangnya. Dia buka halaman pertama, lalu menyodorkannya padaku.

"Itu kenangan foto-foto ayah kamu semenjak bekerja di sini, banyak. Saya merasa baru kemarin ayah kamu pamit berhenti kerja, kok tahu-tahu sudah meninggal. Kena apa?" tanya Pak Dika sembari lebih mendekatkan wajahnya padaku.

"Saya kurang tahu, Pak. Ayah saat itu sedang melayani pembeli di toko. Saya tak tahu persis kejadian ayah saya jatuh di dalam toko itu, tahu-tahu ketika saya masuk, saya sudah menemukan ayah saya jatuh sekarat."

"Lho? Memang ada riwayat penyakit apa? Jangan-jangan jantung?"

"Kemungkinan vertigonya kambuh, Pak. Kami sekeluarga telat menolong. Tapi, entahlah ... sebelumnya pernah mengeluh sama tetangga, jika dadanya nyeri. Banyak juga yang bilang jantung, karena jatuhnya menelungkup."

Pak Dika kembali manggut-manggut. Dia bersidekap sembari menyandarkan punggungnya di kursi duduknya.

"Mengagetkan sekali tentunya, ya. Ya sudah, saya sedikit mau cerita. Jadi, begini ... seminggu sebelum ayahmu wafat, dia telepon saya. Dia bilang kamu mau wisuda, lalu dia titipkan kamu pada saya." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, sambil memungut album di depannya, lalu membuka-bukanya.

".... sebenarnya saya tak bisa asal nerima karyawan seperti ini. Tapi, karena ini amanah terakhir beliau, dan saya yakin, kamu menuruni sifat tegas seperti bapak kamu. Jadi ... kamu besok kesini ya, berpakaian rapi. Seragam ayah kamu masih ada, kan? Dipakai saja!"

"Lho, Pak? Maksudnya ... saya bekerja di sini?" Mataku membelalak seolah tak percaya dengan berita yang barusan kudengar.

"Iya. Kamu besok mulai kerja. Sudah, belakangan saja lamarannya kalau kamu tak sempat, yang penting kamu masuk dulu."

Sontak kedua netra berbinar kala mendengar perkataan itu. Ini benar-benar kejutan di pagi hari.
Tanpa banyak pertimbangan, keesokannya aku pun masuk jam delapan pagi berseragam lengkap sesuai yang diminta.

Sungguh keberuntungan bagiku. Disaat semua berlomba-lomba mengikuti tes agar bisa masuk di perusahaan benefit ini, aku malah dengan mudahnya bisa langsung bergabung sebagai karyawan. Aku ingat pesan ibuku, agar selalu bisa bekerja dengan baik, berteman dengan semua karyawan dengan baik, menunjukkan kinerja yang baik, dan bisa menjaga tata tertib perusahaan dengan baik. Aku tahu, semua ini karena almarhum ayah. Kalau bukan karena ayah, tak mungkin aku bisa segampang ini masuk perusahaan.

Di saat briefing, Pak Dika mulai mengenalkanku pada beberapa karyawan yang lain. Kemudian aku ditunjuknya sebagai admin, dan di training oleh salah seorang admin lawas bernama Rian.

Rian ....
Ya, aku mengenalnya. Dia kebetulan juga tetangga desa. Umurnya selisih dua tahun di atasku. Ayahnya pun bekerja di perusahaan ini, namanya Pak Heri. Pak Heri dulu juga teman satu bagian almarhum ayah. Dia juga seorang Supervisor.

Kuikuti langkah santai Rian menuju sebuah ruangan. Dia menyuruhku masuk lebih dulu.

"Ruangan ini khusus admin. Nah, adminnya kita berdua. Itu tempatmu!" Rian menunjuk sebuah meja di paling belakang.

"Terima kasih," ucapku.

"Jangan duduk di sana dulu! ambil saja kursinya, bawa kemari! Lihat caraku bekerja di sini, kalau sudah paham, baru kerjakan di mejamu," tukasnya.

Tanpa menjawab, segera kuambil kursi duduk di meja belakang, dan meletakkannya di samping kursinya.

Rian mulai mengoperasikan komputer, seraya menunjukkan berkas-berkas di mejanya.

"Ini berkas sebelum di-input, kamu ambili dulu dari beberapa gudang yang kamu pegang. Kamu bawa motor yang disediakan, jangan lupa pake helm keselamatan warna kuning yang ada di luar itu!" Ia menunjukkan sebuah helm yang seperti helm pekerja proyekan.

"Cara nginputnya gini ...." Ia lalu mulai mencontohkan cara bekerja dengan secarik kertas yang dipegangnya, dan aku tentu mengamati setiap penuturan Rian dari awal sampai akhir.

"Sudah, kamu kerjakan berkasku dulu. Kan, belum dibagi sama Pak Dika, kamu megang gudang mana saja" ucapnya lagi sembari menyodorkan setumpuk berkas setebal kira-kira seratus halaman lebih itu ke tanganku. Lalu dia beranjak dari duduknya seraya berucap, "Aku tinggal dulu."

"Lho, Mas? Ini harus selesai hari ini?"

"Nggak harus. Kalau kamu sanggup ya lebih bagus, sih."

Seusai berkata begitu, Rian pergi berlalu dari ruangan.

Kupandang tumpukan berkas di tanganku kali ini. Sebanyak ini mana mungkin selesai dalam satu hari? Namun, kuoptimiskan diriku sendiri bahwa 'AKU BISA!' Akhirnya kupungut secarik kertas hadapan, dan mulai mengerjakan tugas.

-----

Jam istirahat ....

"Siang, Mas!"
Suara seorang lelaki tua paruh baya menegurku dari belakang. Ia mengambil duduk di sebelahku sambil meletakkan bekal makannya yang terbungkus kertas minyak itu.

"Podo mbontote, Mas. Enak masakane bojo (sama bawa bekalnya, Mas. Enak masakan istri)," Lelaki itu terkekeh padaku seraya membuka bekal yang dibawanya.

"Ya, Pak. Lebih hemat juga," balasku.

"Ngomong-ngomong, sampean anak Pak Wo, ya?"

"Pak Sujiwo."

"Lah, nggih.... Itu maksud saya. Orang di gudang semua manggilnya pak Wo,Mas. Eh, tapi wajahnya kok beda, ya?"

Aku tertawa lucu mendengar ucapan bapak itu. Memang, wajahku tirus,sama seperti ibu. Hidungku juga mancung. Kalau ayah berhidung pesek, wajahnya persegi, menurun ke kakak perempuanku.

Lelaki paruh baya itu lalu menceritakan tentang sosok ayah yang disegani para anak buahnya. Caranya bekerja, yang tak disukainya apa, dan banyak lagi yang lainnya. Sepertinya peran ayahku penting bagi yang lain, sehingga mereka semua merasa kaget dan sangat kehilangan saat mendengar ayah meninggal.

Tiba-tiba, bapak paruh baya ini menghentikan ceritanya saat seorang lelaki kebetulan melintas di depan kami.

"Itu tuh, si Bambang. Bocah ndablek! Banyak banget bikin kesalahan, tapi dibelain terus sama Pak Wo. Semua anak segudang gak ada yang suka, banyak mengeluh karenanya, tapi pak Wo selalu membelanya."

Aku terdiam sejenak memandang pria berwajah tirus dengan banyak jambang tak beraturan di wajahnya. Kali ini, akhirnya kulihat sendiri pria bernama Bambang itu. Ya, dulu aku sering mendengar namanya dari ayah. Di mata ayah, Bambang sebenarnya pekerja keras. Hanya saja hutangnya banyak di luar sana, yang kemudian membuatnya malas bekerja. Dia hampir di PHK, tapi ayah terus membelanya.

"Begitulah, Nak, kalau salah langkah sedikit. Semuanya hancur. Hutangnya banyak, rumah tangga berantakan, kerja seperti apapun tetap saja terasa malas nggak ada semangat. Karena apa? Karena dia merasa gajinya selalu kurang untuk menutup hutang. Makanya, ayah peringatkan kamu sebagai laki-laki, jangan sekali-kali mengenal judi, narkoba, ataupun bermain-main perempuan!" Aku ingat betul nasehat ayah saat itu.

Kulihat ID card yang tergantung di leher bapak sebelahku itu. Membaca namanya. Syaiful.

"Saya tadi lihat anaknya Pak Heri asyik merokok, Mas." Pak Syaiful menghentikan bicaranya, melempar kertas minyak pembungkus bekalnya tepat ke lubang kotak sampah.

"Ealah, Mas ... yang sabar satu bagian sama Mas Rian. Mentang-mentang anaknya Pak Heri, kerja sak enak'e dewe (kerja seenaknya saja)," ungkapnya lagi.

Hmmmmm ... seperti itukah? Aku tak seberapa akrab mengenalnya di rumah. Namun, kebanyakan temanku memang berkata dia anak yang sombong. Karena merasa anak orang kaya, bicaranya terlalu tinggi.
Ah, kalau cuma masalah gaya bicara, aku tak terlalu mempedulikan. Itu sudah karakter, dan aku tak selalu mengambil hati setiap perkataan orang yang terasa aneh.

Sorenya, aku pulang dengan badan yang begitu lunglai. Hari pertamaku bekerja sungguh capek luar biasa. Tak hanya duduk di depan monitor, tapi juga pergi ke sana- ke mari mengambil berkas dari satu gudang ke gudang yang lain, yang tak cukup sekali jalan. Terkadang ikut memeriksa truk besar masuk menurunkan barang mentah, memeriksa kode barcode, dan lain-lain. Sebenarnya tugasku tak serumit ini, tapi Rian berkata, Pak Dika yang memintaku seperti itu. Sekalian menghafal lokasi gudang A,B,C bagianku. Serta agar mengetahui proses keluar-masuknya barang.

Malam ini kuistirahatkan total badan, setelah ibu dan kakak menginterogasiku di hari pertama masuk kerja. Tak pakai mandi,tak pakai ganti seragam, langsung kupejamkan mataku kala itu juga ....

****

Pukul 08.30 WIB

Tak terasa sudah sebulan aku bekerja di perusahaan ini. Begitu senangnya saat aku menerima gaji pertamaku kemarin.
Kupastikan pertama kalinya aku pegang uang sebanyak itu.

Selesai menata berkas,kuhidupkan tombol On/Off komputer di hadapan. Sembari menunggu, kuambil dompet dari saku celana, mengeluarkan secarik foto. Yups, foto terakhirku bersama ayah saat aku wisuda. Di foto itu ada pula ibu, kakak perempuanku dan kedua anaknya.

Aku tersenyum memandang mereka dalam foto. Lalu, kuselipkan foto itu di meja kerjaku yang bertumpuk dengan kaca tebal. Wajah kedua orangtua terlihat tersenyum di foto itu, seolah bahagia. Kemudian, kualihkan pandangan kembali pada monitor. Sejenak, memilah-milah berkas di atas meja. Menyendirikan berkas yang sudah kuinput dan yang baru kuterima.

Tak lama Rian masuk ke ruangan. Matanya masih awas menatap gawai digenggamannya. "Gimana? Sudah kau kerjakan sampai mana?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun.

"Yang kemarin hampir selesai, Mas. Ini aku juga mau ngerjain yang baru kuambil."

Lelaki berkulit putih itu lalu berjalan ke arahku, menarik posisi monitor menghadap kepadanya.

"Ini tanggalnya rubah saja! Pakai tanggal kemarin." Ia mulai menggerakkan mouse. Mengganti angka 14 menjadi 12 di kolom yang menunjukkan tanggal.

"Emang gak apa, Mas, kalo nggak sama dengan yang di form?"

"Siapa yang mau lihat berkas segitu banyaknya? Yang pasti dilihat itu langsung di komputer," jawabnya enteng. Aku bergeming mendengar itu.

Rian pun kembali ke meja kerjanya, sambil menyalakan rokok. "Sudah, cepat kerjakan!" titahnya.

Memandang sekilas, membuat perasaanku sedikit gemas karenanya. Sedari awal aku bekerja, ia hanya menyerahkan berkas-berkasnya padaku. Yang dilakukannya hanya menatap gawai, main game online berjam-jam, dan berkas yang di mejanya hanyalah kamuflase untuk mengelabuhi Pak Dika atau Pak Heri yang muncul tiba-tiba. Jika pekerjaanku sudah selesai, baru dia tukarkan berkasnya itu dengan milikku. Aku merasa dia menjadikanku sebagai budak!

Ah, sudahlah! Aku ingat omongan kakakku, bahwa yang namanya kerja pertama kali, tentu wajib disuruh-suruh. Apalagi disuruh yang mentraining kita. Ini hanyalah sementara. Ini tak akan lama ....

"Gimana, Mas ... kerja satu bagian sama Mas Rian?" tanya Pak Syaiful padaku.

Beginilah, setiap jam istirahat Pak Syaiful selalu mendekatiku, bertanya-tanya.

Aku tersenyum dan berkata, "Biasa saja, Pak."

"Sing betah, Mas. (yang betah, Mas). Dia memang suka mentang-mentang karena ada bapaknya disitu."

"Nggih, Pak."

Kami tak lagi bercerita. Fokus melahap makanan masing-masing.

Seusai makan dan minum, aku langsung balik ke ruanganku.

Ketika kaki melangkah hendak memasuki ruangan, betapa kagetnya kedua netra saat menemui Pak Dika sudah berada di sana dengan raut wajah seperti kesal.

"Siang, Pak." Aku menyapanya sembari tersenyum.

"Sini, Mas!" Pak Dika melambaikan tangan padaku, yang akhirnya membuatku menghampirinya.

"Mas, kalau kerja itu yang jujur! Kalau di form ini bertanggal sekian, ngetiknya juga tanggal sekian. Tolong, ya ... ini sama saja melimpahkan kesalahan pada orang gudang. Saya dari kemarin marah-marah, lho, sama supervisornya. Saya pikir mereka yang lelet, ternyata samean yang gak bisa kerja dengan benar!"

"...." Aku tak bisa berkata.

"Kerja pertama-kedua, nginput molor gak masalah bagi saya, Mas. Ini kan udah sebulan, ya? Coba kontrol diri sendiri, Mas. Misal berkasnya ada seratus lembar, paling tidak selesai dua hari. Samean, kan, kerja berdua, Mas ... masa' satu orang pegang tujuh gudang saja, kerja sampai lima-enam hari?"

Aku menunduk. Bingung. Bagaimana bisa aku menjelaskan kalau selama ini yang bekerja hanyalah aku. Sementara Rian sibuk dengan HP-nya.

"Mas Rian training samean bagaimana, Mas? Apa memang tanggalnya disuruh ngerubah? Masalahnya, baru kali ini, lho, tanggal bisa salah."

Tiba-tiba, omongan Pak Dika membuatku tersentak. Baru mau membuka mulut, Rian datang membuka pintu. Matanya masih awas dengan ponsel di tangan, sehingga ia tak mengetahui ada Pak Dika di depannya.

"Mas Rian!" Tampaknya suara dari Pak Dika membuatnya kaget luar biasa. Rian segera menyaku HPnya dan menghampiri.

"Saya curiga dari awal, sudah saya duga kalau Mas Dani ini bekerja sendirian ...." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, beranjak dari kursi dan menghadapkan posisi berdirinya di antara kami.

"Kalau Mas Dani tak bekerja sendiri, mana mungkin dia bisa lelet seperti ini! Telat kirim form, mana dia sampai mengganti tanggal di komputernya. Ckckck ...." Pak Dika menggeleng-gelengkan kepala menatapnya.

Keringatku mulai bercucuran dingin. Sekilas kutatap Rian memicing sinis padaku.

"Bagaimanapun, kau yang salah! Mentraining bukan berarti melimpahkan kerjaanmu padanya. Bukankah sudah saya bagi, kamu pegang gudang mana saja? Kerjaan itu dikerjakan Mas Dani sendiri, jelas saja dia tak sanggup!" Suara Pak Dika mulai meninggi.

"Ayo, kamu ke ruangan saya! Saya panggil Pak Heri juga!"
Seusai berkata begitu, Pak Dika pun berlalu.

Wajah Rian mulai memerah. Ia menatapku awas, dengan napas yang memburu kesal.

"Awas kau!" Ancamnya kemudian.

Dia lalu pergi meninggalkan ruangan.

Kini tinggal aku sendiri di dalam ruangan. Kutelan ludah pahit, seiring dengan rasa cemas yang menggebu.
Wah, rasa-rasanya bakal meledak ini ....

(bersambung)
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 15 dari 31
Rekan kerja
Lapor Hansip
03-12-2019 14:43
Balasan post shirazy02
kok dipukul aja sih? kenapa gak dibunuh aja tuh dua orang itu
0 0
0
Rekan kerja
03-12-2019 15:33
ya awoh, opo'o ibu'mu dan emoticon-Sorry
Diubah oleh Reydblacvk
0 0
0
Rekan kerja
03-12-2019 17:50
Lanjutkan..gk jenuh kok..emoticon-Big Grin

Chat aja si Adel, Dan..kasian jg kl dianggurin gtu..jgn smpe Alex dtg saat Adel butuh kepastian...
0 0
0
Rekan kerja
03-12-2019 19:02
kesabaran adalah seglanya
0 0
0
Rekan kerja
03-12-2019 22:30
Quote:Original Posted By shafanya
Sudah jatuh tertimpa tangga, ketumpahan kaleng cat pula si Dani


Sedih 😢

Quote:Original Posted By jembloengjava
Haadduuhhh...
Iki sakit mergo mikir'i anak"e...

Enggal sehat bu,

emoticon-Kiss

emoticon-Jempol


Quote:Original Posted By jiyanq
Kesabaran Dani bener2 diuji kali ini...
Kamu harus kuat,Dani. Karena setelah masalah2 itu datang menimpamu,kelak akan ada masanya kamu mengenyam buah kesabaranmu.


Mantull emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Rekan kerja
03-12-2019 22:31
Quote:Original Posted By adityawild
kok dipukul aja sih? kenapa gak dibunuh aja tuh dua orang itu


Wew, sadis 😢

Quote:Original Posted By Reydblacvk
ya awoh, opo'o ibu'mu dan emoticon-Sorry


Kiro-kiro kenek opo? 😁

Quote:Original Posted By Dyzack
Lanjutkan..gk jenuh kok..emoticon-Big Grin

Chat aja si Adel, Dan..kasian jg kl dianggurin gtu..jgn smpe Alex dtg saat Adel butuh kepastian...


Harus begitu, ya emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By ichaenk007
kesabaran adalah seglanya


Siipp! emoticon-2 Jempol
profile-picture
edsixteen memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
03-12-2019 22:36
Quote:Siipp! emoticon-2 Jempol


Adel kabarnya gimana ya?? emoticon-Betty
Diubah oleh ichaenk007
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
03-12-2019 22:51
3 part terakhir bener2 bikin emosi waktu bacanya...

Keren bgt sis..
emoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
03-12-2019 23:26
Quote:Original Posted By ichaenk007
Adel kabarnya gimana ya?? emoticon-Betty


Kangen ya? 😂

Quote:Original Posted By corongalam
3 part terakhir bener2 bikin emosi waktu bacanya...

Keren bgt sis..
emoticon-Maluemoticon-Malu


Makasih, Bang emoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
edsixteen dan corongalam memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
03-12-2019 23:32
Quote:Original Posted By shirazy02
Kangen ya? 😂



Makasih, Bang emoticon-Big Kiss


Sama2 mbak diahemoticon-Maluemoticon-Malu
Diubah oleh corongalam
0 0
0
Rekan kerja
03-12-2019 23:56
Quote:Original Posted By shirazy02
Kangen ya? 😂


Iya gan,, ane kangen adel emoticon-Ngacir
Diubah oleh ichaenk007
0 0
0
Rekan kerja
04-12-2019 00:04

Rekan Kerja (part 18)

"Ayahmu sudah meninggal, kalian berdua juga sudah dewasa, sudah mengerti kan ... ibumu itu bagaimana? Masa' kalian satu rumah sekian tahun gak hafal-hafal saja bagaimana dia?"

Omongan Pakde Kus semalam masih terngiang rasanya di telinga, membekas pada ingatan tentang betapa sensitifnya perasaan ibu. Aku tak bisa berbicara macam-macam padanya, serba takut salah nantinya.

Terlebih saat ibu siuman kemarin, malah menangis menjadi-jadi, meraung seperti orang kesurupan. Akibatnya para tetangga melapor ke Pak RT karena takut dan penasaran.Memalukan!

Entah, aku tak tahu sakit apa sebenarnya ibu. Setiap Minggu ataupun Senin, beliau rutin pergi kontrol. Sekali dalam seminggu selalu kuantar ke rumah sakit, bergantian dengan Mbak Diah jika aku sedang ada kesibukan.

Sepintas aku teringat. Bukankah memarin lusa ibu pernah memintaku menebus obat di rumah sakit.? Ya, minggu kemarin Mbak Diah yang mengantarnya kontrol, katanya Bobi rewel, jadi setelah kontrol langsung balik pulang tanpa menaruh resep obat.
Bisa jadi, mungkin ada pengaruhnya dengan kondisi ibu kemarin, mengingat beliau tak pernah sehari pun telat minum.

Kutatap monitor dengan pikiran kosong. Entah sedari kapan seperti ini, bahkan mouse yang tersentuh tangan, tak bergerak sedikitpun sedari tadi.

Ah, begini-begitu tak ada semangat ....

Aku masih terdiam di ruangan kecil ini. Sendiri ... mengerjakan pekerjaan terakhirku yang memang telah tuntas semenjak jam 11 tadi.
Kurasa, kini juga sudah lewat jam istirahat. Namun,aku masih saja malas menggerakkan diri. Padahal semestinya aku berleha-leha kali ini, karena tak ada lagi yang kukerjakan. Nyatanya ... hati masih saja berat untuk bersantai.

Aku masih ingin menunggu accounting memanggil untuk menghakimi. Gara-gara kesalahan tempo hari, tentang pegawai baru yang sembrono nginput. Mungkin setelah itu aku bisa tenang ... lagipula besok juga hari terakhir.

Hoaaaaeehhmm ....

Aku menguap lebar, mengingat begadang semalaman gara-gara kepikiran.
Kepala mendadak pening. Lalu kulirik arloji ... lho, sudah jam empat sore saja? Gak kerasa.

Ah, kenapa aku tak ke warung dekat parkiran saja untuk ngopi sebentar sebelum pulang?

Akhirnya, kututup program, mematikan komputer. Cepat-cepat kubereskan barang-barangku, menaruh arsip ke laci, mengunci, terakhir membersihkan meja kerja. Beres!
Tak menunggu lama, kutinggalkan ruangan tak bernyawa ini, pergi berlalu.

"Hei, Mas!"

Baru melangkah keluar kantor, kulihat sosok perempuan rambut berkuncir, memanggilku dari kejauhan.

Wanita berumur tiga puluhan itu, Intan namanya. Ia terlihat melangkahkan kakinya ke arahku. Di tangannya tertenteng map plastik warna biru.

Kutarik nafas panjang, serta menghembuskan pelan. Jantungku kini seperti genderang yang terus berdetak dengan kencang.

Kembali aku menarik nafas ....

"Mau pulang?" tanyanya datar.

"Enggak, Bu. Mau ngopi di warung parkiran."

"Sebelah mana itu?"

"Di belakang, Bu."

Ia diam sejenak, kemudian berkata, "Jangan panggil ibu lah, kamu menyinggung saya sekali. Panggil 'mbak' kan lebih enak didengar."

Eh?

"Maaf, Bu. Eh, anu ... Mbak," aku gelagapan berkata, teringat ucapan salah satu karyawan yang menjuluki perempuan itu 'Mak Lampir', memang mudah sekali marah sepenuturannya. Mungkin karena di umurnya yang sudah matang, ia masih saja belum bertemu jodoh. Bisa jadi!  Perkara panggilan saja sudah tersinggung, belum yang lain.

"Bikin kopi di pantry aja, diminum di ruangan saya, sekalian saya mau ngomong."

Deg!
Hilang sudah keinginanku untuk ngopi.

Wanita bernama Intan itu berlalu dari hadapan, masuk ke kantor. Tanpa basa-basi, aku langsung mengekor di belakangnya. Mungkin ia langsung menuju ke ruangannya. Sepertinya.

Kuikuti saja kemana langkah itu menjangkah, dan benar! Ia membuka pintu ruangannya. Sepintas kaget saat melihatku sudah berdiri dibelakang.

"Kamu tak jadi ngopi?"

Aku menggeleng pelan sembari tersenyum.

"Masuk!"

Ia melangkah menduduki sebuah kursi di pojokan. Mungkin meja kerjanya. Aku mengikutinya, mengambil duduk yang memang sudah tersedia di depan mejanya itu.

Intan lalu membuka map biru di tangannya, kemudian menyodorkannya padaku. Benar lagi dugaanku, yang ditunjukkan adalah scan dari inputanku di program.

"Sudah tahu kesalahannya?" tanyanya.

Aku mengangguk.

"Kerja berapa tahun, kok tiba-tiba pikun? Salahnya gak satu kode, semua kode ini."

"Kerja sebelas bulan, Bu. Maaf, Bu ... itu yang bekerja calon karyawan baru. Bukan saya. Tapi, bagaimanapun, saya yang bertanggung jawab penuh atasnya. Maaf, jika saya lalai mengawasi."

Mata Intan langsung bulat sempurna menatapku, membuatku semakin tak enak. Eh, salah memanggilnya barusan!

"Ehm, begitu intinya ... Mbak."

Kugaruk leher belakangku dengan jari telunjuk. Merasa tak enak sendiri.

Wajah Intan masih kecut, kembali ia meraih kertas itu dari hadapanku.

"Bodohnya kamu. Memang kamu seusai training, langsung kamu tinggal begitu saja? Tidak kamu dampingi?"

"Ehm, saya tinggal ke ruangan Pak Dika, Mbak. Saya sudah memberi list kode gudang padanya dari pertama kerja. Katanya hilang."

Wanita itu tampaknya tak mempercayaiku. Ia diam sejenak, menyenggol mouse di depannya, lalu melihat smartphonenya.

"Tanggal 6, ya? Hmmmmm ... serius kamu bertemu dengan Pak Dika? Sepertinya tanggal 6 beliau ada di Jakarta."

Glek! Kutelan ludah pahit saking bingungnya.

Sial. Alasan apa lagi ini? Tak mungkin kalau aku bicara padanya sedang ditraining Sefti pada saat itu.

"Kok diem?" Suara wanita itu meninggi saat aku mengacuhkan bicaranya.

Bingung, tak tahu harus kujawab apa.

"Kerja kamu belum setahun, tapi waktu sekian bulan juga termasuk lama, lho! Kok, kamu tak bisa bekerja dengan hati, ya? Kenapa tak bisa jujur? Memang kamu kemana kemarin itu?"

Aku diam lagi. Teringat omongan Sefti, kalau ini semua harus tertutup rapat. Tak ada yang boleh tahu kalau aku sedang ditraining olehnya. Di lain sisi ada nama Pak Dika juga, yang memang sedari awal menarikku agar masuk ke bagian yang diinginkan. Tak mungkin aku bicara terus terang, karena ada nama orang berpengaruh di dalamnya.

"Ke mana?!!" Ia semakin meninggikan nada suaranya, membuat dua orang karyawan lain di ruangan yang sama, menoleh spontan padaku.

"Saya ... sarapan, Mbak. Lalu saya tinggal tidur, kepala saya tiba-tiba pusing." Aku menjawab asal, sekeluarnya ucap dari bibir.

"Wah, hebat! Tidur disaat jam kerja. Ckckck! Saya harus lapor ini, biar kamu kena SP. Kemarin kamu juga sudah membuat masalah, bukan? Jadi, ada SP 2 buat kamu setelah saya bikin laporan, dan kalau kamu dapat SP 3 lagi, hengkang sudah kamu dari perusahaan!" ucapnya lantang.

Aku bergeming di tempat. Apa dia tak tahu kalau aku sudah disuruh hengkang duluan? Namun aku masih diam, tak ingin menjawab bicaranya.

Banyak akhirnya yang dibahas. Tak cukup mengenai kesalahan kerjaku, merambah lebar, ngelantur membicarakan masalah cinta dan patah hati. Dipikirnya aku jatuh cinta dengan calon si Rian. Dipikir aku ini bodoh karena tak bisa memilih wanita lain.
Memang, banyak yang melihat kedekatan kami, tapi tak seburuk prasangka Rian padaku. Karena memang Rian selalu percaya dengan Sefti. Lah ini ... yang repot bukan keduanya, malah orang lain.

Cara beradaptasi yang buruk, memberi pengarahan yang buruk, membuat masalah dan berperilaku buruk, semua yang buruk-buruk dengan gampangnya ia nilaikan padaku.

Sempat mikir, dia ini siapa? Sok tahu tentangku, seperti peramal saja. Penuturannya sok hebat, mengalahi bos. Padahal semua anggapannya salah kaprah. Ia tak mengenaliku dengan dirinya sendiri. Bahkan cerewetnya kenapa malah melebihi ibuku?

"Mengerti kamu??" Ia tegaskan kembali bicaranya. Tak jelas apa yang kutangkap dari pembicaraannya barusan, karena aku lengah mendengar penilaian buruknya tentangku.
Sampai-sampai kedua temannya sudah pulang beberapa menit yang lalu ....

Tiba-tiba, Feri datang. Lelaki berwajah oriental itu tampaknya kaget saat melihatku, begitupun dengan Intan.

Wajah Intan yang tadinya menampakkan ekspresi marah, berubah 180 derajat menjadi sosok yang kalem dan penebar senyum.

"Sore, Pak Feri ...." Ia menyapa lelaki itu sambil melebarkan senyumnya. Sok manis.

"Sudah, balik sana!" Sedikit ia berbisik padaku dengan seringai pedasnya, menyuruhku segera pergi.

Tanpa ba bi bu, aku lalu beranjak, pergi berlalu dari hadapan mereka berdua.

Iiiiihhh, tahu-tahu bergidik saja lihat perempuan ganjen seperti itu. Tak bisa melihat orang ganteng, muka serigala rontok jadi marmut. Padahal, wajah Feri biasa saja. Sepertinya, lebih menarik aku.

Tiba-tiba, tertawa sendiri ....

Aku melenggang menuju luar sambil melirik arloji. Eh, jam 18.26 WIB. Aku ingat harus segera ke rumah sakit, mampir menebus obat ibu!

*****

"Maaf, permisi!" Kuterobos kerumunan para manusia yang sedang antri menunggu panggilan receptionist. Ruang utama rumah sakit lumayan sempit jika dibandingkan dengan banyaknya para manusia sakit yang sedang mengantri untuk dilayani. Letak tempat menebus resep bersebelahan dengan ruang tunggu, jadi aku langsung menyerobot masuk dari balik kerumunan.

"Nomornya, Pak?" Salah seorang apoteker perempuan menanyakan kertas resep yang biasanya diberikan.

"Ehm, lupa, Mbak. Ini tanggal berobatnya kemarin lusa. Mau ngambil kemarin, lupa, Mbak."

"Atas nama?"

"Ibu Darmini."

"Poly apa?"

Lho? Aku mulai kebingungan.

"Wah, ndak tahu, Mbak. Saya selalu nunggu di sini kalau ibu saya kontrol. Tempatnya di situ lho, Mbak!" Aku menunjuk lurus ruangan yang ada di samping tempat tebusan resep.

"Ada dua, Pak. Yang ruang 1 atau ruang 2?"

Mendengar itu, kugaruk kepalaku. Bingung.

"Sebelah kiri atau kanan?"

Ck! Ya mana kutahu? Aku tak pernah diizinkan ibu untuk ikut masuk.

"Dokter Anwar, atau Dokter Edo?"

Hadeeeeh, makin diberondong pertanyaan! Aku diam sejenak, lantas bertanya balik, "Memang tak ada sesuatu yang bisa dilihat gitu, Mbak? Dari receptionist mungkin. Saya juga tak tahu, tak pernah mengantar sampai dalam. Tak pernah diberitahu apa-apa juga sama pasien ...."

"Lho, kok bisa nggak tahu? Sakit apa, sih, Pak? Ke poly syaraf, atau psikiater?"

Yaelah, tanya lagi!  Sudah dibilang tak tahu.

Eh, diomong tak tahu apa-apa juga keterlaluan sekali. Masa ibu sendiri tak tahu apa sakitnya? Akhirnya kujawab saja asal, "Poly syaraf, Mbak," karena aku pernah dengar ibu berkata 'kena syarafnya', tapi tak tahu sakit apa. Lagipula, gak mungkin juga kalau psikiater.

Akhirnya petugas itu masuk ke dalam, menyuruhku menunggu sebentar. Aku lantas berdiri di pojokan, samping receptionist pas, menatap kerumunan orang berkunjung yang kebanyakan berusia lanjut.

Tak berselang lama, terdengar suara melalui speaker, "Ibu Darmini, dari Dokter Edo."

Ah, ini pasti aku!

Cepat aku berjalan menuju tempat semula, bertemu dengan mbak yang tadi.

"Ibu Darmini, rumahnya benar di PCP?"

"Nah, betul!" Aku tersenyum senang. Akhirnya, ia mengerti juga.

"Ini diminum tiga kali sehari ya, Pak, yang satunya kalau mau tidur saja, dua kali sehari. Bisa siang, bisa malam. Yang dua kali sehari diminum seperempat aja, jadi tabletnya dipotong dulu. Pokoknya diminum kalau mau tidur," pesannya sembari menunjukkan obat itu padaku.

"Silahkan tanda tangan disini, Pak!" ucapnya lagi seraya menyerahkan sebuah bolpoin.

Cepat aku menanda tangani kertas itu. Lalu menyerahkannya kembali.

"Lain kali diingat ya, Pak ... jika nomornya tak dibawa. Ke psikiater ini, bukan poly syaraf."

Heeh? Aku tersentak mendengar perkataan gadis itu.

Psikiater? Kenapa berobat ke psikiater? Bukannya itu menangani tentang gangguan kejiwaan atau mental?
Jadi selama ini, ibu berobat ke psikiater? Ibu sakit apa sebenarnya?

Beberapa pertanyaan banyak berkelebat dibenakku. Penasaran, campur khawatir.

Sebenarnya apa sakit ibu?

(Bersambung)
Thanks untuk yang ninggalin banyak cendol. Sampe hapal betul siapa-siapa aja yang suka ninggalin jejak 😂 ohya, Dani yang asli udah menikah, ya! Usia pernikahannya mau jalan satu tahun. Coba tebak, Dani nikah sama siapa? Adel apa Sefty? 😂😂
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rnladiyatma dan 33 lainnya memberi reputasi
34 0
34
Lihat 4 balasan
Rekan kerja
04-12-2019 00:26
Masih 50-50 sih, gak ada clue yang menjelaskan sama siapa dani nikahnya..

Semuanya berpeluang.emoticon-Beloemoticon-Belo

Tapi kalo aku pilih sefti aja lah, si adel gak jelas gituemoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 01:21
Nikah karo Adel,

emoticon-Cool
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 05:42
nikah sama mak lampir
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
04-12-2019 06:18
Balasan post shirazy02
Ane tebak Dani nikahnya sama Sefty,kalo Adel chemistry nya kok kurang ya?
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 07:24
ooo mesti nikah sama sefti lah emoticon-I Love Indonesia
Btw itu dr eko maksudnya psikiater kan sis, klo psikolog ndak boleh kasih resep obat emoticon-Embarrassment
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 07:28
Quote:Original Posted By boredmother
ooo mesti nikah sama sefti lah emoticon-I Love Indonesia
Btw itu dr eko maksudnya psikiater kan sis, klo psikolog ndak boleh kasih resep obat emoticon-Embarrassment


Eits, betul, Mom 😀 salah ketik, cuss edit emoticon-Big Kiss
profile-picture
edsixteen memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
04-12-2019 08:07
Mau nikah sama siapa gak penting!
Yg penting pembalasan dulu sama orang2 jahat !! 🖕🏻
0 0
0
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
04-12-2019 08:47
Quote:Original Posted By shirazy02
Eits, betul, Mom 😀 salah ketik, cuss edit emoticon-Big Kiss


emoticon-Big Kiss
Walaupun tiap baca update an bikin pegel ati, tapi tetap dinanti ceritanya.
*Mamak2sukadrama emoticon-Ngakak
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 15 dari 31
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Personal
indahnya-kebersamaan
Stories from the Heart
story-gift-from-you
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia