Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
616
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd27c6b018e0d6489170ace/rekan-kerja
Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan dibelakangnya sambil mengomel tiada henti. Yaaa, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali.....
Lapor Hansip
18-11-2019 18:11

Rekan Kerja

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Rekan kerja

Prolog

Pesan terakhir almarhum Ayah Dani kepada mantan rekan kerjanya, membuat Dani keterima kerja di sebuah perusahaan benefit dengan cuma-cuma. Namun, ada suatu kesalah pahaman yang membuat ia selalu bersitegang dengan Rian, rekan kerjanya satu bagian. Setiap hari selalu saja ada masalah di kantor. Tak hanya itu, ia juga terjebak dalam hubungan rumit bersama teman semasa kuliahnya. Sementara di lain sisi, ia tak sengaja menaruh hati dengan calon tunangan Rian. Akankah Dani mampu melewati semua godaan itu?

Rekan Kerja adalah sebuah cerita (nyata) yang menceritakan perjuangan seorang anak muda bernama Dani (nama disamarkan). Sosok pendiam, penyabar, tapi kepeduliannya sangat tinggi. Ia merasa bahwa dirinya adalah pengaruh utama yang bertanggung jawab atas keluarganya. Segala hiruk-pikuk kehidupan dan masalah yang terjadi di sekitarnya tak luput selalu menjadi beban pikiran, tapi ia selalu tegar bagaimanapun keadaannya, karena ia merasa harapan dan kebaikan selalu ada di setiap jalan.

Cerita ini sangat menarik dan kupastikan kalian akan selalu terbawa untuk mengikutinya, karena jalan ceritanya lain daripada yang lain. Yuk, cekidot!


INDEKS


Sekuel 'Rekan Kerja'


(Part 1)

Mataku masih tak beralih memandangi Bobi, ponakanku yang berumur setahun itu. Dia berjalan tertatih-tatih mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Ibunya, yang tak lain adalah kakakku, berjalan di belakangnya sambil mengomel tiada henti. Ya, baru sebulan ini Bobi bisa jalan. Caranya melangkah lucu sekali ....

Tiba-tiba, dari dalam rumah ibu berseru memanggilku dengan terburu-buru. Di tangannya tergenggam sebuah ponsel milik ayah.

"Dan, Dani ... ayo diangkat cepat! Atasan ayah telpon."

Atasan? Bukannya ayah sudah pensiun setahun yang lalu. Kira-kira ada urusan apa?

"Angkat aja lah, Bu ... mungkin mau ngucapin bela sungkawa. Kan, baru sebulan ayah meninggal," tukasku.

"Ayolaaahh, angkat! Ibu takut gak bisa ngomong."

Akhirnya, dengan gugup kucoba mengangkat telpon darinya.
"Hallo!" seruku.

Kami mengobrol sepuluh menitan.

Intinya, Pak Dika memintaku datang ke kantor besok. Aku bingung dan heran, ada apa aku disuruh ke kantor?
Karena paksaan dari ibu, akhirnya aku memutuskan menemuinya keesokan hari.

****

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor, menuju bilik ruangan paling pojok. Aku hafal betul ruangan ini, karena sudah pernah magang jaman kuliah dulu. Ayahku yang dulu memintaku magang di tempat ini. Dia berharap aku bisa meneruskan bekerja di sini sepertinya, di salah satu pabrik benefit yang ada di kota kami. Alasannya, selain dekat dengan rumah, gaji pun sudah jelas jika karyawan. Selain itu pabrik ini memang memberi fasilitas tunjangan cukup menarik.

Ketika mau memasuki ruangan Pak Dika, sontak mataku tertuju pada tembok di sebelahku. Terlihat foto almarhum ayah terpampang jelas pada bingkai ukuran 10Rs itu. Dibawah bingkai foto itu bertuliskan "SUJIWO-Supervisor Gd.PM 09"
Wajah ayahku paling terlihat khas dengan kumis tebalnya, berjajar dengan beberapa puluh foto di sampingnya.

Ada rasa heran menyeruak dalam benak. Ayah bukan lagi supervisor di pabrik ini, kenapa fotonya masih saja dipasang? Bahkan foto teman-teman yang lainnya sudah berganti dengan posisi SPV yang baru.

Belum lama aku memandangi foto almarhum ayah, Pak Dika sudah menegurku dari dalam ruangannya. "Hei kamu yang di depan pintu! Kenapa terus berdiri disitu?"

Seketika aku langsung berbalik menghadap ke pintu semi-transparan itu. Mengetuk kecil pintu ruangannya, kemudian melangkahkan kaki pelan masuk ke dalam.

"Oohh, kamu ... yang saya telpon kemarin, ya? Anak Pak Sujiwo?" Pak Dika beranjak dari kursinya menyambutku.

Kusalami tangan Pak Dika seraya memperkenalkan diri, "saya Dani, Pak."

"Ya,ya, ayo duduk!"

Mendengar itu, aku pun mengambil duduk di sebuah kursi yang ada di depannya.

"Heeeemm, kamu anak Pak Sujiwo?" tanyanya lagi dengan raut wajah seperti tak percaya.

"Ya, Pak. Benar." Kujawab tegas pertanyaan Pak Dika dengan seulas senyum. Lelaki itu kemudian manggut-manggut menatapku. "Kamu yang baru wisuda bulan kemarin itu, kan? Yang besoknya ayah kamu meninggal?"

"Ya, Pak. Benar."

"Hem, yaaa, yaaa ...." Pak Dika beranjak lagi dari tempat duduknya, mengambil sebuah buku bersampul hitam tebal dari rak di belakangnya. Dia buka halaman pertama, lalu menyodorkannya padaku.

"Itu kenangan foto-foto ayah kamu semenjak bekerja di sini, banyak. Saya merasa baru kemarin ayah kamu pamit berhenti kerja, kok tahu-tahu sudah meninggal. Kena apa?" tanya Pak Dika sembari lebih mendekatkan wajahnya padaku.

"Saya kurang tahu, Pak. Ayah saat itu sedang melayani pembeli di toko. Saya tak tahu persis kejadian ayah saya jatuh di dalam toko itu, tahu-tahu ketika saya masuk, saya sudah menemukan ayah saya jatuh sekarat."

"Lho? Memang ada riwayat penyakit apa? Jangan-jangan jantung?"

"Kemungkinan vertigonya kambuh, Pak. Kami sekeluarga telat menolong. Tapi, entahlah ... sebelumnya pernah mengeluh sama tetangga, jika dadanya nyeri. Banyak juga yang bilang jantung, karena jatuhnya menelungkup."

Pak Dika kembali manggut-manggut. Dia bersidekap sembari menyandarkan punggungnya di kursi duduknya.

"Mengagetkan sekali tentunya, ya. Ya sudah, saya sedikit mau cerita. Jadi, begini ... seminggu sebelum ayahmu wafat, dia telepon saya. Dia bilang kamu mau wisuda, lalu dia titipkan kamu pada saya." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, sambil memungut album di depannya, lalu membuka-bukanya.

".... sebenarnya saya tak bisa asal nerima karyawan seperti ini. Tapi, karena ini amanah terakhir beliau, dan saya yakin, kamu menuruni sifat tegas seperti bapak kamu. Jadi ... kamu besok kesini ya, berpakaian rapi. Seragam ayah kamu masih ada, kan? Dipakai saja!"

"Lho, Pak? Maksudnya ... saya bekerja di sini?" Mataku membelalak seolah tak percaya dengan berita yang barusan kudengar.

"Iya. Kamu besok mulai kerja. Sudah, belakangan saja lamarannya kalau kamu tak sempat, yang penting kamu masuk dulu."

Sontak kedua netra berbinar kala mendengar perkataan itu. Ini benar-benar kejutan di pagi hari.
Tanpa banyak pertimbangan, keesokannya aku pun masuk jam delapan pagi berseragam lengkap sesuai yang diminta.

Sungguh keberuntungan bagiku. Disaat semua berlomba-lomba mengikuti tes agar bisa masuk di perusahaan benefit ini, aku malah dengan mudahnya bisa langsung bergabung sebagai karyawan. Aku ingat pesan ibuku, agar selalu bisa bekerja dengan baik, berteman dengan semua karyawan dengan baik, menunjukkan kinerja yang baik, dan bisa menjaga tata tertib perusahaan dengan baik. Aku tahu, semua ini karena almarhum ayah. Kalau bukan karena ayah, tak mungkin aku bisa segampang ini masuk perusahaan.

Di saat briefing, Pak Dika mulai mengenalkanku pada beberapa karyawan yang lain. Kemudian aku ditunjuknya sebagai admin, dan di training oleh salah seorang admin lawas bernama Rian.

Rian ....
Ya, aku mengenalnya. Dia kebetulan juga tetangga desa. Umurnya selisih dua tahun di atasku. Ayahnya pun bekerja di perusahaan ini, namanya Pak Heri. Pak Heri dulu juga teman satu bagian almarhum ayah. Dia juga seorang Supervisor.

Kuikuti langkah santai Rian menuju sebuah ruangan. Dia menyuruhku masuk lebih dulu.

"Ruangan ini khusus admin. Nah, adminnya kita berdua. Itu tempatmu!" Rian menunjuk sebuah meja di paling belakang.

"Terima kasih," ucapku.

"Jangan duduk di sana dulu! ambil saja kursinya, bawa kemari! Lihat caraku bekerja di sini, kalau sudah paham, baru kerjakan di mejamu," tukasnya.

Tanpa menjawab, segera kuambil kursi duduk di meja belakang, dan meletakkannya di samping kursinya.

Rian mulai mengoperasikan komputer, seraya menunjukkan berkas-berkas di mejanya.

"Ini berkas sebelum di-input, kamu ambili dulu dari beberapa gudang yang kamu pegang. Kamu bawa motor yang disediakan, jangan lupa pake helm keselamatan warna kuning yang ada di luar itu!" Ia menunjukkan sebuah helm yang seperti helm pekerja proyekan.

"Cara nginputnya gini ...." Ia lalu mulai mencontohkan cara bekerja dengan secarik kertas yang dipegangnya, dan aku tentu mengamati setiap penuturan Rian dari awal sampai akhir.

"Sudah, kamu kerjakan berkasku dulu. Kan, belum dibagi sama Pak Dika, kamu megang gudang mana saja" ucapnya lagi sembari menyodorkan setumpuk berkas setebal kira-kira seratus halaman lebih itu ke tanganku. Lalu dia beranjak dari duduknya seraya berucap, "Aku tinggal dulu."

"Lho, Mas? Ini harus selesai hari ini?"

"Nggak harus. Kalau kamu sanggup ya lebih bagus, sih."

Seusai berkata begitu, Rian pergi berlalu dari ruangan.

Kupandang tumpukan berkas di tanganku kali ini. Sebanyak ini mana mungkin selesai dalam satu hari? Namun, kuoptimiskan diriku sendiri bahwa 'AKU BISA!' Akhirnya kupungut secarik kertas hadapan, dan mulai mengerjakan tugas.

-----

Jam istirahat ....

"Siang, Mas!"
Suara seorang lelaki tua paruh baya menegurku dari belakang. Ia mengambil duduk di sebelahku sambil meletakkan bekal makannya yang terbungkus kertas minyak itu.

"Podo mbontote, Mas. Enak masakane bojo (sama bawa bekalnya, Mas. Enak masakan istri)," Lelaki itu terkekeh padaku seraya membuka bekal yang dibawanya.

"Ya, Pak. Lebih hemat juga," balasku.

"Ngomong-ngomong, sampean anak Pak Wo, ya?"

"Pak Sujiwo."

"Lah, nggih.... Itu maksud saya. Orang di gudang semua manggilnya pak Wo,Mas. Eh, tapi wajahnya kok beda, ya?"

Aku tertawa lucu mendengar ucapan bapak itu. Memang, wajahku tirus,sama seperti ibu. Hidungku juga mancung. Kalau ayah berhidung pesek, wajahnya persegi, menurun ke kakak perempuanku.

Lelaki paruh baya itu lalu menceritakan tentang sosok ayah yang disegani para anak buahnya. Caranya bekerja, yang tak disukainya apa, dan banyak lagi yang lainnya. Sepertinya peran ayahku penting bagi yang lain, sehingga mereka semua merasa kaget dan sangat kehilangan saat mendengar ayah meninggal.

Tiba-tiba, bapak paruh baya ini menghentikan ceritanya saat seorang lelaki kebetulan melintas di depan kami.

"Itu tuh, si Bambang. Bocah ndablek! Banyak banget bikin kesalahan, tapi dibelain terus sama Pak Wo. Semua anak segudang gak ada yang suka, banyak mengeluh karenanya, tapi pak Wo selalu membelanya."

Aku terdiam sejenak memandang pria berwajah tirus dengan banyak jambang tak beraturan di wajahnya. Kali ini, akhirnya kulihat sendiri pria bernama Bambang itu. Ya, dulu aku sering mendengar namanya dari ayah. Di mata ayah, Bambang sebenarnya pekerja keras. Hanya saja hutangnya banyak di luar sana, yang kemudian membuatnya malas bekerja. Dia hampir di PHK, tapi ayah terus membelanya.

"Begitulah, Nak, kalau salah langkah sedikit. Semuanya hancur. Hutangnya banyak, rumah tangga berantakan, kerja seperti apapun tetap saja terasa malas nggak ada semangat. Karena apa? Karena dia merasa gajinya selalu kurang untuk menutup hutang. Makanya, ayah peringatkan kamu sebagai laki-laki, jangan sekali-kali mengenal judi, narkoba, ataupun bermain-main perempuan!" Aku ingat betul nasehat ayah saat itu.

Kulihat ID card yang tergantung di leher bapak sebelahku itu. Membaca namanya. Syaiful.

"Saya tadi lihat anaknya Pak Heri asyik merokok, Mas." Pak Syaiful menghentikan bicaranya, melempar kertas minyak pembungkus bekalnya tepat ke lubang kotak sampah.

"Ealah, Mas ... yang sabar satu bagian sama Mas Rian. Mentang-mentang anaknya Pak Heri, kerja sak enak'e dewe (kerja seenaknya saja)," ungkapnya lagi.

Hmmmmm ... seperti itukah? Aku tak seberapa akrab mengenalnya di rumah. Namun, kebanyakan temanku memang berkata dia anak yang sombong. Karena merasa anak orang kaya, bicaranya terlalu tinggi.
Ah, kalau cuma masalah gaya bicara, aku tak terlalu mempedulikan. Itu sudah karakter, dan aku tak selalu mengambil hati setiap perkataan orang yang terasa aneh.

Sorenya, aku pulang dengan badan yang begitu lunglai. Hari pertamaku bekerja sungguh capek luar biasa. Tak hanya duduk di depan monitor, tapi juga pergi ke sana- ke mari mengambil berkas dari satu gudang ke gudang yang lain, yang tak cukup sekali jalan. Terkadang ikut memeriksa truk besar masuk menurunkan barang mentah, memeriksa kode barcode, dan lain-lain. Sebenarnya tugasku tak serumit ini, tapi Rian berkata, Pak Dika yang memintaku seperti itu. Sekalian menghafal lokasi gudang A,B,C bagianku. Serta agar mengetahui proses keluar-masuknya barang.

Malam ini kuistirahatkan total badan, setelah ibu dan kakak menginterogasiku di hari pertama masuk kerja. Tak pakai mandi,tak pakai ganti seragam, langsung kupejamkan mataku kala itu juga ....

****

Pukul 08.30 WIB

Tak terasa sudah sebulan aku bekerja di perusahaan ini. Begitu senangnya saat aku menerima gaji pertamaku kemarin.
Kupastikan pertama kalinya aku pegang uang sebanyak itu.

Selesai menata berkas,kuhidupkan tombol On/Off komputer di hadapan. Sembari menunggu, kuambil dompet dari saku celana, mengeluarkan secarik foto. Yups, foto terakhirku bersama ayah saat aku wisuda. Di foto itu ada pula ibu, kakak perempuanku dan kedua anaknya.

Aku tersenyum memandang mereka dalam foto. Lalu, kuselipkan foto itu di meja kerjaku yang bertumpuk dengan kaca tebal. Wajah kedua orangtua terlihat tersenyum di foto itu, seolah bahagia. Kemudian, kualihkan pandangan kembali pada monitor. Sejenak, memilah-milah berkas di atas meja. Menyendirikan berkas yang sudah kuinput dan yang baru kuterima.

Tak lama Rian masuk ke ruangan. Matanya masih awas menatap gawai digenggamannya. "Gimana? Sudah kau kerjakan sampai mana?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun.

"Yang kemarin hampir selesai, Mas. Ini aku juga mau ngerjain yang baru kuambil."

Lelaki berkulit putih itu lalu berjalan ke arahku, menarik posisi monitor menghadap kepadanya.

"Ini tanggalnya rubah saja! Pakai tanggal kemarin." Ia mulai menggerakkan mouse. Mengganti angka 14 menjadi 12 di kolom yang menunjukkan tanggal.

"Emang gak apa, Mas, kalo nggak sama dengan yang di form?"

"Siapa yang mau lihat berkas segitu banyaknya? Yang pasti dilihat itu langsung di komputer," jawabnya enteng. Aku bergeming mendengar itu.

Rian pun kembali ke meja kerjanya, sambil menyalakan rokok. "Sudah, cepat kerjakan!" titahnya.

Memandang sekilas, membuat perasaanku sedikit gemas karenanya. Sedari awal aku bekerja, ia hanya menyerahkan berkas-berkasnya padaku. Yang dilakukannya hanya menatap gawai, main game online berjam-jam, dan berkas yang di mejanya hanyalah kamuflase untuk mengelabuhi Pak Dika atau Pak Heri yang muncul tiba-tiba. Jika pekerjaanku sudah selesai, baru dia tukarkan berkasnya itu dengan milikku. Aku merasa dia menjadikanku sebagai budak!

Ah, sudahlah! Aku ingat omongan kakakku, bahwa yang namanya kerja pertama kali, tentu wajib disuruh-suruh. Apalagi disuruh yang mentraining kita. Ini hanyalah sementara. Ini tak akan lama ....

"Gimana, Mas ... kerja satu bagian sama Mas Rian?" tanya Pak Syaiful padaku.

Beginilah, setiap jam istirahat Pak Syaiful selalu mendekatiku, bertanya-tanya.

Aku tersenyum dan berkata, "Biasa saja, Pak."

"Sing betah, Mas. (yang betah, Mas). Dia memang suka mentang-mentang karena ada bapaknya disitu."

"Nggih, Pak."

Kami tak lagi bercerita. Fokus melahap makanan masing-masing.

Seusai makan dan minum, aku langsung balik ke ruanganku.

Ketika kaki melangkah hendak memasuki ruangan, betapa kagetnya kedua netra saat menemui Pak Dika sudah berada di sana dengan raut wajah seperti kesal.

"Siang, Pak." Aku menyapanya sembari tersenyum.

"Sini, Mas!" Pak Dika melambaikan tangan padaku, yang akhirnya membuatku menghampirinya.

"Mas, kalau kerja itu yang jujur! Kalau di form ini bertanggal sekian, ngetiknya juga tanggal sekian. Tolong, ya ... ini sama saja melimpahkan kesalahan pada orang gudang. Saya dari kemarin marah-marah, lho, sama supervisornya. Saya pikir mereka yang lelet, ternyata samean yang gak bisa kerja dengan benar!"

"...." Aku tak bisa berkata.

"Kerja pertama-kedua, nginput molor gak masalah bagi saya, Mas. Ini kan udah sebulan, ya? Coba kontrol diri sendiri, Mas. Misal berkasnya ada seratus lembar, paling tidak selesai dua hari. Samean, kan, kerja berdua, Mas ... masa' satu orang pegang tujuh gudang saja, kerja sampai lima-enam hari?"

Aku menunduk. Bingung. Bagaimana bisa aku menjelaskan kalau selama ini yang bekerja hanyalah aku. Sementara Rian sibuk dengan HP-nya.

"Mas Rian training samean bagaimana, Mas? Apa memang tanggalnya disuruh ngerubah? Masalahnya, baru kali ini, lho, tanggal bisa salah."

Tiba-tiba, omongan Pak Dika membuatku tersentak. Baru mau membuka mulut, Rian datang membuka pintu. Matanya masih awas dengan ponsel di tangan, sehingga ia tak mengetahui ada Pak Dika di depannya.

"Mas Rian!" Tampaknya suara dari Pak Dika membuatnya kaget luar biasa. Rian segera menyaku HPnya dan menghampiri.

"Saya curiga dari awal, sudah saya duga kalau Mas Dani ini bekerja sendirian ...." Pak Dika menghentikan bicaranya sejenak, beranjak dari kursi dan menghadapkan posisi berdirinya di antara kami.

"Kalau Mas Dani tak bekerja sendiri, mana mungkin dia bisa lelet seperti ini! Telat kirim form, mana dia sampai mengganti tanggal di komputernya. Ckckck ...." Pak Dika menggeleng-gelengkan kepala menatapnya.

Keringatku mulai bercucuran dingin. Sekilas kutatap Rian memicing sinis padaku.

"Bagaimanapun, kau yang salah! Mentraining bukan berarti melimpahkan kerjaanmu padanya. Bukankah sudah saya bagi, kamu pegang gudang mana saja? Kerjaan itu dikerjakan Mas Dani sendiri, jelas saja dia tak sanggup!" Suara Pak Dika mulai meninggi.

"Ayo, kamu ke ruangan saya! Saya panggil Pak Heri juga!"
Seusai berkata begitu, Pak Dika pun berlalu.

Wajah Rian mulai memerah. Ia menatapku awas, dengan napas yang memburu kesal.

"Awas kau!" Ancamnya kemudian.

Dia lalu pergi meninggalkan ruangan.

Kini tinggal aku sendiri di dalam ruangan. Kutelan ludah pahit, seiring dengan rasa cemas yang menggebu.
Wah, rasa-rasanya bakal meledak ini ....

(bersambung)
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 13 dari 31
Rekan kerja
30-11-2019 17:51
km tau??? dlm suatu hubungan tdk bs main tebak2an atau kode2an..kcuali psgn lo paranormal yg bs mmbaca pikiran lo...org itu hrs jelas, to the point...kl tjuanmu nnyain knp adel hamil ya tnyain scr jls knp km hamil...jgn muter2 debat g ada ujungnya...km tu cowok dan..perdebatanmu dg adel yg salah justru km krn km debat muter2 gk jls...org mau nembak prtnyaan knp km hamil kok susah amat..yg muter2 tu bukan adel tp km
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
30-11-2019 18:00
Quote:Original Posted By shirazy02
😂😂 hanya dugaan


Bisa jadi
emoticon-Malu
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
30-11-2019 20:38
Quote:Original Posted By Dyzack
Gk paham sudah..gk kebayang jg kl ada di posisi Dani...
Setidaknya, akan lbh baik saat debat sma Adel itu straight to the point, jgn pake bahasa tersirat yg ambigu. Mgkn kl gtu akan lbh jelas pokok inti masalahnya.


Ya klo lsg debat pada poinnya lsg tamat dong bos critanya,jadi gak kayak sinetron emoticon-Shakehand2
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 00:01
GIF
Ini adel ya gan??
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 00:16
Jadi gregetan ama si dani
entah apa yang merasukinya😂
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
Lapor Hansip
01-12-2019 01:13
Balasan post shirazy02
Lagi debat kusir, kan sampeyan kusirnya. emoticon-Big Grin
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 04:10
Quote:Original Posted By ayahesatria
Ya klo lsg debat pada poinnya lsg tamat dong bos critanya,jadi gak kayak sinetron emoticon-Shakehand2


Nah itu makanya ane gk suka liat sinetron yg gk ada ujungnya sampe 7 turunan...emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 21:32

Rekan Kerja (part 15)

Kuambil handuk yang tergantung di jemuran samping. Menyulut sebatang rokok sembari berjalan ke ruang belakang. Dari dapur, kulihat ibu sedang anteng mengupas wortel. Sekilas terlihat, wajahnya sama seperti kemarin. Cemberut.

Cuek, itu yang kulakukan. Sudah biasa ibu berlaku seperti itu. Namun, kali ini bukan marah padaku. Melainkan Mbak Diah yang tengah mengaduk emosinya.

Kubelokkan kaki ke WC. Rutinitas pagi sebelum memulai mandi, duduk anteng sembari bercengkerama dengan nyamuk-nyamuk. Ha ha ha ....

Kukepulkan asap rokok santai. Menepis beban pikir dengan banyak berangan-angan indah. Akan tetapi,khayalan semu itu buyar manakala kudengar suara gaduh di dapur. Kali ini ibu seperti sedang mengulek bumbu.
Tak seperti biasanya, terdengar kasar sekali ....

"Bu, jare nek ngulek kudu dikek'i gombal nisore cowek? (katanya kalau ngulek harus dikasih lap di bawah cobek)" tegurku setengah menyindir. Dulu aku pernah disuruh ibu ngulek bumbu, bunyinya gaduh sama persis, dan begitu saran yang beliau lontarkan.

"Bah! Jengkel." Hanya itu jawabnya.

Aku tak berani berkata lagi, daripada nambah masalah. Sudah tahu persis bagaimana perangai ibu.

Kemarin suami Mbak Diah katanya datang. Mbak Diah lalu pamit pada ibu kalau dia dan anaknya mau diajak jalan-jalan. Nyatanya ... mungkin dibawa pulang sama suaminya. Sampai sekarang masih belum kembali.

"Wedok goblok! Wong yo dekne sak anak'e gak tau direken, teko-teko dijak moleh gelem'ae Diah iku (perempuan bodoh! Toh ya, dia dan anaknya gak pernah dipedulikan, datang-datang diajak pulang mau saja Diah itu)" gerutunya di dapur.

Aku yang sedang duduk di WC, tetap diam saja. Lebih asyik menikmati rokok daripada menyahut bicara ibu, yang pastinya tak berujung.

"Sing goblok iku cene Diah (yang bodoh itu memang Diah). Seharusnya mikir dia. Suaminya sudah ngasih uang seingatnya saja, kok mau-maunya dibawa pergi. Gak nyadar dipek enak'e tok (gak nyadar diambil enaknya saja)" lanjutnya lagi. Masih dengan nada tak enak didengar.

Kemudian terdengar bunyi 'sreeeng' ....
Sepertinya kali ini ibu ganti sedang menggoreng.

"Sing lanang ki yo ngunu. Gak ruh isin. Wis dibelani sembarang kalir, uripe digawe sak enak'e dewe. (yang lelaki juga begitu, gak tahu malu. Sudah dibelain segalanya, hidupnya dibuat seenak sendiri). Aku kalau inget ayahmu, Dan, kasihan benar ... dia yang banting tulang, menantunya yang tinggal makan matangnya saja." Ibu terus saja bicara tanpa henti.

Sedikit kesal juga kalau diingat. Laki-laki kok bisa seperti itu. Dulu almarhum ayahku menyokongnya untuk membangun usaha. Ayah belikan motor truk untuk penghasilan sampingan. Tapi apa daya, sebulan setelah mobil diserahkan, rupanya suami Mbak Diah telah menggadaikan BPKBnya tanpa sepengetahuan Mbak Diah. Mbak Diah bahkan baru tahu setahun setelahnya, ketika ada teman kerjanya menanyakan angsuran dengan atas namanya. Tentu Mbak Diah kaget, tapi akhirnya tetap ia diam saja, tak berani cerita sedikitpun. Mbak Diah memang tertutup jika dengan kami. Ia tak pernah sekalipun bercerita yang aneh-aneh. Sepengetahuan kami dulu, Mbak Diah hidupnya sudah sangat layak. Benar-benar layak.

Singkat cerita, gara-gara kelakuan suaminya itu, Mbak Diah terpaksa kami ambil. Suaminya pergi setelah Boby lahir. Alih-alih berkata merantau, tak tahunya melarikan diri saat banyak dikejar Debt Collector. Ayah yang dulu menjemputnya dari rumah sang suami. Kami tak tega melihatnya di rumah seorang diri mengurus dua anak yang masih kecil.

Fuuuuhh! Kuembuskan asap rokok dengan hati yang tiba-tiba ikut kesal. Ya, aku sangat kesal mengingat kejadian itu. Banyak almarhum ayah bertanggung jawab gara-gara ulah suami Mbak Diah. Hutangnya berjumlah begitu besar. Semua akibat dari bermain perempuan, foya-foya yang kelewatan, serta mengkonsumsi sabu.  Mengingat, tak ada lagi yang bisa menolongnya, karena ayah mertua Mbak Diah sendiri punya istri baru dan anak yang kecil-kecil, tak mungkin ia bisa bertanggung jawab. Dulu almarhum ayah berharap, dengan selesainya ia melunasi hutang-piutang gak jelas lelaki itu, ia bisa kembali fokus mencari pekerjaan lain dan ingat tanggung jawabnya dengan anak istri. Eeh, bukannya ingat, setelah lunas ia malah semakin malas-malasan dan menggantungkan hidup anak istrinya pada keluargaku. Bahkan saat ayah meninggal pun, pekerjaan lelaki itu masih menggantung. Menganggur hingga sekarang, sudah setahun setengah lamanya ....

"Gak mikir hari Senin waktunya Kinar sekolah, malah gak dikembalikan pagi-pagi. Wis gak tau ngekek'i sangune anak ... hiiiiiihhh, aku isok juwengkell ndelok mbakmu iku (sudah tak pernah memberi uang saku anak, hiiihhh, aku sangat jengkel melihat mbakmu itu)," ibu terus saja menyanyi sedari beberapa menit yang lalu.

Hadeeeeeehh, tahu lah! Kubuang puntung rokokku ke lubang saluran air. Setelah itu, beralih ke kamar mandi. Kuguyur sekujur badan mulai dari kepala, sekaligus mendinginkan otak yang sedang panas.

Selesai membersihkan badan, aku langsung menuju kamar. Entah kenapa, emosiku tiba-tiba mencuat. Segera kuambil HP dari nakas. Baru saja mau menghubungi Mbak Diah, satu chat darinya sudah muncul di layar beranda.

'Dan, Bobi sakit. Panas. Aku tak bisa pulang dulu. Sampaikan pada ibu' Pesan itu tertulis pukul 19.33 WIB. Ah, tampaknya telat masuk.

Kuketik balasan untuknya, 'Pulang tak pulang, terserah. Pikirkan kita yang berjuang mati-matian disini untukmu dan anakmu. Jangan pikirkan kesenanganmu yang tak ada balasan apa-apanya darinya'

Selesai kukirim chat, aku langsung membuka almari, mengambil seragam.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki dengan tapak yang tulangnya berbunyi. Ctek, ctek, ctek. Sejurus kemudian, bayangan seseorang tampak melintas dari depan pintu kamar. Penasaran, membuatku cepat-cepat melongokkan kepala dari daun pintu.
Eeh, rupanya ibu!

"Bu, kenapa kakinya, kok pas jalan suaranya gitu? Ibu sakit kah?" tanyaku khawatir pada ibu yang kini berada di teras.

Ibu terdiam, sambil memijat pangkal kakinya dengan tangan. "Meneng'ae, nek mulih ojok dijak ngomong (diam saja, kalau pulang jangan diajak ngomong)," tukasnya gak nyambung, sambil duduk di sebuah kursi.

"Anak bukannya disuruh sekolah biar pinter, malah diajak bolos. wong yaa gak ikut nyekolahin. Gerang goblok! (orangtua bodoh)," lanjutnya lagi, masih berapi-api.

Aku menghela nafas, mendekati ibu yang sedang kesal. "Sudah, jangan dipikirkan! Sebenarnya, kemarin sore itu mereka mau pulang, tapi mendadak Bobi gak enak badan." Kucoba tenangkan hati ibu agar tak laki marah-marah gak jelas.

Ibu mencibir, lalu berkata, "Sebelum berangkat emang udah panas. Ibu ingetin, lho! Memang mbakmu saja yang bodoh."

"Aaaah, sudahlah, Bu. Gak usah diomong! Masakannya sudah matang belum? Laper, nih."

"Didelok sek kono, ojok kesusu komentar! (dilihat dulu sana, jangan buru-buru komentar)"

Balasan ibu yang masih kesal itu membuatku terdiam. Kulihat rautnya memang sudah sangat tak terbendung lagi emosinya. Ah, lebih baik pergi saja.

Kulangkahkan kakiku ke arah meja makan, membalik piring, lalu mengambil nasi.

Ah, tahulah! Gak paham apa yang dipikirkan Mbak Diah. Kalau menasehatiku sepertinya sudah dewasa banget. Tahunya cara dia bersikap sama juga, memancing emosi ibu yang sensitif.

Sekilas kupandang arloji di tangan. Haduuuhh ... lima belas menit lagi masuk!

Akhirnya kumakan lahap nasi yang meski masih panas itu, dengan lauk bakwan jagung dan sayur lodeh kesukaan.

*****

"Eh, Mas Feri ... sudah datang dulu rupanya," sapaku pada lelaki yang sudah menduduki mejaku.

Ia tersenyum sambil mengangguk padaku. Lalu berdiri, mempersilahkanku duduk di kursi.
"Mas, coba ambil kursi yang ada di ruangan depan paling pojok. Sepertinya ada dua kursi yang nganggur. Samean ambil satu!" ujarku, sambil menunjuk arah tempat yang kumaksud.

Feri mengangguk, kemudian berlalu.

Kucoba membuka program pada monitor. Memeriksa hasil inputan, mencocokkan dengan arsip yang kuambil kemarin.
Mataku membelalak kaget saat melihat list kode gudang yang berubah. Bukannya aku sudah memberi contekan kemarin tentang kode gudang bagianku?

Tak lama, Feri datang dengan tangan membawa sebuah kursi. Bersamaan dengan itu, Rian juga tiba.

"Mas, Mas, coba kesini!" Kutarik kursi dari tangannya, mendekatkan pada kursiku, sambil kutolehkan monitor komputer padanya.

"List kode gudang yang kemarin saya kasih, mana?" tanyaku.

Ia celinguran. Seperti gugup. Hanya melihat kesana-kemari.

"Hilang?" Kucoba menerka maksud dari raut wajahnya yang bimbang.

Ia mengangguk.

"Lalu, dapat kode seperti ini dari siapa?" tanyaku lagi.

Feri bergeming. Matanya sekilas menatap Rian yang tengah duduk mengerjakan arsipnya. Dari caranya melirik, sudah kuketahui apa jawabannya.

Kutarik tangan Feri menyingkir dari ruangan. Menyudutkannya pada toilet laki-laki.

"Samean dapat darimana? dari Rian?" tanyaku lirih.

"Kemarin saat Mas Dani pergi, saya ikut menumpuk berkas yang telah mas input, sesuai yang mas perintahkan. Maaf sebelumnya, Mas ... saya pikir kode yang mas tulis terselip di situ. Saya coba bertanya sama Mas Rian, dia malah bertanya balik ... 'lah, trainermu yok opo?' (lah,trainermu gimana)"

"Trus?"

"Trus dia diam saja. Menyuruh saya melihat kerjaannya."

"Wah, dia mikirnya pasti kamu kebingungan nginput data. Bukannya bingung karena kode gudang."

"Saya sudah bicara begitu, Mas."

"Lalu kenapa kamu malah niru-niru kodenya dia, yang jelas-jelas kalian beda bagian gudang. Jangan asal, dong! Kamu cari saya, seharusnya tanya sama saya." Hampir emosi aku melihat lelaki di depan mata ini. Ceroboh sekali. Gak paham, bukannya bertanya langsung padaku, malah ngerjain asal-asalan.

Feri menunduk, lalu meminta maaf.
Kulihat wajahnya yang polos itu, membuatku teringat saat pertama kali bekerja. Sedikit iba, tapi aku juga kesal karena pasti aku yang kena nantinya gara-gara dia. Berbeda jika yang mentraining Rian. Salah-gak salah, pasti karyawan barunya yang disalahkan.

"Ayo, kembali kerja! Lain kali soal pekerjaan admin gudang, kamu tak boleh bertanya pada siapa-siapa selain aku," pesanku sembari berjalan balik ke ruangan. Dia mengikuti dari belakang.

Siap-siap kau, Dani ....
Dua hari setelah ini pasti kau ditemui accounting.

*****

'Wiihh, ngeri, Dan!'

'Ngeri bagaimana?'

'Per-tanggal hari ini kan, jabatan Pak Dika sudah beralih. Pak Heri yang menggantikan. Pak Dika sudah jarang di kantor. Kalaupun ada masalah dengan accounting, kamu pasti berhadapan dengan calon mertuaku'

Deg! Jantungku serasa copot membaca chat itu. Benar yang dibilang Sefti. Bukan sebatas ngeri, paling horror ini pasti. Bagaimanapun Pak Heri tak pernah suka denganku, dari dulu.

'Kau juga harus ingat, tak ada yang boleh tahu kalau saat itu kau pergi ke ruanganku. Ini rahasia antara kau, aku, dan Pak Dika' balasnya lagi.

Ah, entah kenapa kepalaku jadi super pusing sekarang.

'Tetap pada batasanmu, Dan! Kau tahu apa yang harus kau katakan, dan yang tidak harus kau katakan. Bagaimanapun dia calon mertuaku, aku tak mau pikirannya negatif padaku seperti Rian yang terus mencurigaiku'

Mataku masih menatap layar ponsel. Kubaca berulang-ulang balasan chat dari Sefti.
Kenapa sih, pekerjaan ini membuatku begitu pusing? Apa di luar sana banyak orang yang juga mengalami masalah rumit, sama denganku?
Lama-lama kok jadi tertekan begini ....

Kutekan tombol 'Home'. Mengembalikan layar WhatsApp ke beranda. Tampak di atasnya begitu banyak notifikasi terpampang. Kucoba tilik. Satu pesan belum terbaca dari Sefti, di bawahnya ada tigapuluh dua chat belum terbaca dari Adel. Ada juga satu pesan dari Mbak Diah.

Melihat itu, kubuka kembali aplikasi WhatsApp, membuka chat dari Sefti yang memang selalu kuhiraukan. Namun, tidak untuk Adel.

Eh, ternyata hanya beberapa emoticon tersenyum. Sementara Mbak Diah, hanya mengetik, 'Aku bingung harus gimana, Dik.'

Ah, tahulah! Bodoh amat, bingung dibuat-buat sendiri. Dia sendiri yang bilang jangan sampai buat beban pikiran ibu, sekarang malah dia sendiri yang melanggar.

Kembali kufokuskan pandanganku pada bekal nasi dari ibu yang sejak tadi kuanggurkan. Sepintas menilik arloji. Ah, masih lama ... biar saja kunikmati makanan ini dengan santai. Masalah besok, pikir saja besok.

****

Mesin motor kumatikan. Lalu, kugelindingkan roda motor masuk ke halaman.

Rumah itu tertutup rapat, dengan lampu-lampu yang mungkin sengaja dimatikan, karena kulihat para tetangga rumahnya masih nyala terang.

Dari sini, aku bisa menangkap kesimpulan, pasti Mbak Diah masih belum pulang!

Perlahan kuketuk pintu sambil memanggil lirih ibu. Tak berselang lama, pintu terbuka. Kulihat wajah ibu nampak gelisah, dengan mata sembab tengah menangis.

"Yok opo seee, duwe anak wedok kok gak ngerti blas dibelani wong gerang (bagaimana siiih, punya anak perempuan kok gak ngerti sama sekali dibelain orang tua)" ucapnya sesenggukan.

Huuuft! Kuhela napas panjang, sambil menghempaskan tubuh ke kursi. Menyelaraskan kedua kaki sambil bersandar.

"Sudahlah, Bu. Jangan dibuat mikir! Mbak Diah kesana, kan ikut suaminya," ucapku lirih.

Mulai sebal rasanya diri dengan situasi. Kepala pusing-pusing, malah pulang disuguhi pemandangan seperti ini.

"Suami?? dilihat dulu seperti apa suaminya. Suami gak pernah menafkahi. Kasih uang seingatnya. Dikasih seratus ribu, empat bulan baru dikasih lagi. Gak mikir, olehe nglarani kene koyok opo? (gak mikir, ulahnya menyakiti kita seperti apa)"

"Sudahlah, Bu. Mungkin setelah ini dia bakal sadar tanggung jawabnya."

"Sadar guomball!!!"

Setelah berkata begitu, kami dikejutkan dengan sinar lampu yang kemudian menyorot masuk ke halaman. Sebuah mobil tampak dari kejauhan.

Aku beranjak. Menekan saklar lampu teras, lalu menengok kembali ke luar rumah.

Dari sana terdengar suara gaduh Kinara memanggil-manggil namaku.

"Mobil siapa ia pinjam? Masih bisa bergaya dia rupanya, pinjam-pinjam mobil segala," ujar ibu dari dalam ruang tamu.

"Bu, cepat ibu masuk! Biar aku yang temui," pesanku kemudian.

"Nggak. Ibu gak kuat rasanya, Dan. Ibu pingin marah-marah."

"Cepat ibu masuk!" Sedikit kubentak sosok wanita yang telah melahirkanku itu. Terpaksa, daripada panjang belakangnya. Bakal rame jadinya kalau ibu ikut-ikutan ngomong.

Akhirnya ibu masuk kedalam, menurutiku.

Kembang-kempis rasanya pikiran kali ini. Mendadak gusar tak karuan.

Kulihat mereka turun dari dalam mobil. Tersenyum-senyum memandang. Hebat, seperti tak punya salah sama sekali.

Sementara aku masih mematung di tempat, tengah kesal melihatnya berjalan menghampiri.

Lagi, kusulut api pada sebatang rokok dari saku. Kutunggu mereka sampai masuk ke dalam rumah ....

(Bersambung)

monggo, netizen yang budiman dan baperman, dikomentari sepuas hati. Senang melihat kalian mampir di kokom emoticon-Big Kiss jan lupa cendolnye, yeee! Tebak aja Dani mau bilang apa? Kira-kira lanjutan ceritanya gimana, yakk? emoticon-Hammer2 thanks yang udah follow N subscribe!
Diubah oleh shirazy02
profile-picture
profile-picture
profile-picture
siloh dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Lihat 1 balasan
Rekan kerja
01-12-2019 21:44
Arep gelut karo kakak ipar tah mas Dan???


emoticon-Big Grin
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 21:49
Quote:Original Posted By jembloengjava
Arep gelut karo kakak ipar tah mas Dan???


emoticon-Big Grin


Arep diongkek gulune bekne emoticon-Ngakakemoticon-Blue Guy Cendol (L)
0 0
0
Rekan kerja
01-12-2019 21:55
ojo galak2 mas sama ibunya..kuwalat nanti..ibu saya kurang lebih juga spt ibu mas dani,dan saya selalu berusaha memaklumi walaupun posisi beliau salah..mau gimana lagi lha wong dinasehati malah makin jadi..emoticon-Cendol Gan
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 22:11
Wah bakalan terjadi perang dunia nih...emoticon-Ngakak (S)

Kasian Adel, Dan..akan lbh baik clear kan masalah kalian berdua, agar masalahnya beres satu per satu..kl gtu kn gantung terus...
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 22:12
Seru iki, ket awal ngejak gelut terus, wong omah, wong kantor, wedok & keluarga sugih gak jelas. Sikat kabeh Dann..!!!!
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 22:25
Quote:Original Posted By ayahesatria
ojo galak2 mas sama ibunya..kuwalat nanti..ibu saya kurang lebih juga spt ibu mas dani,dan saya selalu berusaha memaklumi walaupun posisi beliau salah..mau gimana lagi lha wong dinasehati malah makin jadi..emoticon-Cendol Gan


Tull. Namanya juga orang tua. Yekaaaan? emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By Dyzack
Wah bakalan terjadi perang dunia nih...emoticon-Ngakak (S)

Kasian Adel, Dan..akan lbh baik clear kan masalah kalian berdua, agar masalahnya beres satu per satu..kl gtu kn gantung terus...


Biarin! emoticon-Ngakak

Quote:Original Posted By shafanya
Seru iki, ket awal ngejak gelut terus, wong omah, wong kantor, wedok & keluarga sugih gak jelas. Sikat kabeh Dann..!!!!


Wkwkwkwk emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Tidor, aaaah ... nulis doank ikut puyeng akunya emoticon-Hammer2
profile-picture
shafanya memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
01-12-2019 23:19
"Senyum2 sendiri baca part yg ini, jadi keingetan ibu ane yg sama klao lg marah2'..,..lanjut gan Ts jangan membuat penasaran.....
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
02-12-2019 01:49
Quote:Original Posted By shirazy02
Arep diongkek gulune bekne emoticon-Ngakakemoticon-Blue Guy Cendol (L)


Biar aku saja yang menghadapi,
Kamu tak akan kuat. . .

emoticon-Cool




Eeaaaaaa.....

emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
shirazy02 dan uray24 memberi reputasi
2 0
2
Rekan kerja
02-12-2019 08:00
Tebakan saya
Dani dengan gagah berani
Menemui suami mbak Dyah
Trus cium tangan
Hehehehe
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
02-12-2019 08:14
emang mbok mbok di dumia perdasteran seperti itu ya . . . mbokku juga parah minta ampun . . . setiap ada masalah pasti negatif think mulu . . nyampek q larang pergi haji karna pikirannya ab normal
0 0
0
Rekan kerja
Lapor Hansip
02-12-2019 10:44
Balasan post shirazy02
Dani.. Dani... Sama ibunya bisa galak tapi sama cewek ciut..
Ini Dani bakalan tambah sengsara wong bapaknya Rian yg jadi atasan.
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Rekan kerja
02-12-2019 11:25
gw pikir dani baperan cuman di 10 part pertama, tau-taunya capedehhhhhhh
gak konsisten banget jadi laki dan baperan parah, tegas dong dan hei! emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
shirazy02 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 13 dari 31
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia