Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
25
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd91136f0bdb24d201db06e/sfth-pengkhianatan
---PENGKHIANATAN--- (Berdasarkan Kisah Nyata Seseorang) Bergelung di kamar hotel sendirian, ternyata tidak nyaman juga. Tidak ada yang bisa dilakukan, selain menonton televisi, berselancar di dunia maya, lalu tidur memeluk guling. Sungguh membosankan. Sebenarnya bukan tanpa tujuan, aku sekarang terdampar di kamar hotel saat ini. Ada sebuah praduga yang ingin kubuktikan dengan mata kepala sendiri.
Lapor Hansip
23-11-2019 18:00

[SFTH] Pengkhianatan

icon-verified-thread
---PENGKHIANATAN---

(Berdasarkan Kisah Nyata Seseorang)



[SFTH] Pengkhianatan




Bergelung di kamar hotel sendirian, ternyata tidak nyaman juga. Tidak ada yang bisa dilakukan, selain menonton televisi, berselancar di dunia maya, lalu tidur memeluk guling. Sungguh membosankan.

Sebenarnya bukan tanpa tujuan, aku sekarang terdampar di kamar hotel saat ini. Ada sebuah praduga yang ingin kubuktikan dengan mata kepala sendiri. Ini menyangkut Rasty, istri yang telah kunikahi tiga tahun lamanya. Bersamanya telah kudapatkan seorang buah hati yang cantik jelita, Anggun namanya.

Selama pernikahan, tidak pernah ada masalah berarti yang pernah terjadi di antara kami. Meski bukan istri yang sempurna, Rasty tetap menjadi nomer satu di hati. Ia pun menerima bagaimana diriku, tidak banyak menuntut hal yang tidak bisa kupenuhi. Hanya sesekali, ia pernah mengeluhkan sikapku yang tidak hangat. Begitu pun dengan kesibukan bekerja yang menguras waktu. Memang pekerjaan di bagian marketing, terkadang mengharuskanku untuk ke luar kota, hingga menginap hampir seminggu lamanya. Ia mengaku terkadang kesepian. Namun sedikit penjelasan, tentu membuatnya mengerti. Bekerja hingga larut malam, adalah bukti cinta untuk membahagiakan ia dan Anggun.

Sudah hampir tiga bulan ini Rasty tidak lagi mengeluhkan sikapku. Sikapnya juga senantiasa hangat dan ceria. Tidak ada lagi wajah murung menyambutku pulang, setelah menginap tiga hari di luar kota. Sungguh aku lega.

Namun di balik sikap tenang Rasty, ada sebuah berita yang mulai membuatku curiga. Hendra, tetangga sebelah rumah kami, pernah memergoki Rasty membawa masuk seorang laki-laki ke dalam rumah kami. Siang hari saat suami tidak ada di rumah saja, janggal rasanya membawa masuk seorang laki-laki. Apalagi itu terjadi di malam hari.

Awalnya aku mengindahan berita itu. Hendra pun tidak memaksaku untuk percaya. Namun setiap kepulangan dari luar kota, berita itu sampai di telinga, membuat hati panas juga. Apalagi Rasty seakan telah berubah sosok. Dia yang cenderung selalu bergairah, berubah menjadi dingin. Sikap aktifnya di ranjang seakan menghilang, lenyap tanpa jejak. Bahkan terkadang terlihat ada keengganan, walau hanya untuk melayaniku suami seminggu sekali.

Perubahan sikapnya ditambah dengan berita dari Hendra, membuat kecurigaan membubung tinggi dalam dada. Aku harus membuktikan, kalau semua ini hanyalah kesalahpahaman. Tidak mungkin ada orang lain di hati Rasty. Dia masih sangat mencintaiku, seperti dulu, saat kupinang ia dengan segenap rasa yang kupunya.

***

Di hotel inilah aku sekarang. Menanti gelap sempurna membungkus malam. Pura-pura ke luar kota tiga hari, sebagai alasan untuk membongkar kecurigaan ini. Menurut Hendra, biasanya, selama aku pergi, tiap malam laki-laki yang sama selalu mengunjungi Rasty. Ia hanya berjalan kaki dari ujung gang, mengetuk pelan pintu depan, lalu tangan Rastu segera menariknya ke dalam. Entah sampai kapan ia di dalam. Yang jelas, hingga kantuk mengusik pengintaian Hendra lewat jendela, laki-laki itu belum juga keluar.

Sebenarnya bisa saja, Hendra mengajak para warga yang lain untuk menggerebek mereka. Namun mengingat hubungan kami yang baik, ia mengurungkan niatnya. Hendra ingin aku menyelesaikan masalah ini sendiri, tanpa membuat Rasty malu.

***

Arloji butut di tangan menunjuk ke jam sembilan tepat, ketika aku sampai di depan gang menuju rumah sederhana kami. Untuk memuluskan pengintaian, sengaja kutitipkan sepeda motor, lalu berjalan kaki ke arah rumah. Jantung berdegup tak tenang. Segenap harapan kutimbulkan dalam dada, semoga penglihatan Hendra selama ini salah. Rasty masih tetap setia menjaga kesucian ranjang pernikahan kami. Tidak ada yang namanya pengkhianatan.

Masih ada sekitar 20 langkah, sebelum aku sampai di depan pintu rumah. Pak RT Didin, Hendra, dan dua orang warga lagi menghadangku.

"Ada apa ni, Pak?" Aku pura-pura bertanya, meski sebenarnya sudah tahu apa maksud mereka melakukan penghadangan ini.

"Maaf, Mas Dion. Kami ingin ikut dalam misi ini. Sebagai ketua RT, saya rasa, saya wajib ikut serta. Ini menyangkut nama baik kampung kita." Pak RT Didin bersuara.

Aku menatap ke Hendra, meminta penjelasan. Ia yang memintaku untuk melakukannya sendiri. Namun ia malah membocorkan rahasia ini pada banyak warga.

"Maafkan saya, Mas Dion. Tanpa sepengetahuan saya, sudah banyak warga yang melihat kelakuan Rasty di belakang Mas Dion. Mereka langsung melapor pada Pak RT."

Aku hanya diam, tak mampu menjawab.

"Sudahlah Mas, saya mengerti perasaan Mas. Tentang rencana malam ini, tidak ada yang tahu, selain kami bertiga. Kalaupun yang kita buktikan ini benar adanya, kita akan menyelesaikannya dengan cara baik-baik. Tidak akan mengundang kehebohan." Pak RT Didin menepuk bahuku.

Aku mengangguk. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengiyakan. Benar atau tidaknya berita ini, semua memang harus dibuktikan. Dengan adanya saksi, itu lebih baik.

***

Lampu teras yang biasanya nyala sampai pagi, seperti sengaja dimatikan. Kondisi ini membuatku semakin curiga. Darah mulai naik ke ubun-ubun, tapi sengaja kutahankan dengan istighfar berkali-kali. Aku tidak ingin sikap gegabah, malah membuat pengintaian ini tidak mendapatkan hasil. Jika sekali ini gagal, pembuktian selanjutnya akan mengikut gagal. Tentu si pemain akan lebih hati-hati memainkan peran.

Tangan gemetar meraih gagang pintu. Kunci cadangan yang sengaja kubawa sebelum pergi tadi, satu-satunya yang akan membawaku pada kenyataan. Melegakan, atau malah menyakitkan.

Klik.
Pintu depan terbuka. Kuusap keringat yang membanjiri dahi. Derit pintu didorong membuatku mengumpat dalam hati. Dengan langkah dijinjit, kami berempat melangkah ke kamar, ke tempat semua ini akan terjawab. Jantung semakin berdegup tak karuan.

Sebelum mendorong pintu kamar itu, kudekatkan telinga ke lubang kunci, dengan darah berdesir, mencuri dengar apa yang tengah terjadi di dalam. Terasa tangan Hendra meremas bahuku pelan, mungkin ia ingin menguatkan.

Ini akan lebih mudah, karena pintu kamar nyaris tidak pernah dikunci. Semenjak ada kerusakan yang pernah membuat kami terkurung dua jam di dalam, pintu itu belum diperbaiki lagi.

Gemetar, kuraih gagang pintu, menekannya pelan, dan dorong ....

Dua orang yang sedang bergumul di ranjang itu seketika terlompat. Eratnya pagutan keduanya terlepas. Dua tubuh yang tidak berbalut sehelai benang pun itu, menganga tidak percaya. Salah satunya adalah Rasty. Istri yang sangat kucintai. Istri yang karenanya aku kuat mengarungi beratnya kehidupan. Istri yang dari rahimnya, telah kumiliki seorang bidadari cilik.

Rasty gelagapan mencari apa saja yang bisa menutupi tubuh, yang seharusnya hanya ia persembahkan untukku. Sementara laki-laki bejat itu berniat lari dengan tubuh polosnya. Namun tangan dari tubuh yang penuh emosi ini, segera menghadangnya. Satu tinju melekat di rahangnya, sebagai pelampiasan sakitnya seorang laki-laki direbut haknya. Satu tinju lagi mendarat di ulu hatinya, sebagai pembalasan harga diri seorang laki-laki yang telah dilangkahi. Satu tendangan terakhir di 'junior'nya, sebagai respon sakit hati atas pengkhianatan seorang istri pada suami.

Laki-laki itu tersungkur, menekan selangkangannya dengan wajah berkeringat menahan sakit.

"Tolong bawa laki-laki bajingan itu ke kantor Polisi, Pak RT. Sebelum harga diri seorang suami, membuatnya tak bernyawa ke luar dari rumah ini."

Tanpa menjawab, keempat orang itu, termasuk Hendra, menggiring laki-laki itu dengan paksa. Tinggallah aku di sini, berdua dengan Rasty yang terisak di ranjang pernikahan yang telah ia kotori, bergelung dalam selimut.

Sejenak, setelah itu, Rasty melompat, memeluk kedua lututku dengan air mata yang berderai. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, selain dari tangisan yang sama sekali tak lagi meluluhkanku. Dulu, mungkin air mata itu, sanggup menggugah rasa di relung terdalam. Namun tidak untuk saat ini. Ratapannya tidak ubah layaknya deru kendaraan, tak berfungsi, nyaris membuat muak.

"Telan semua tangismu, Rasty. Aku tidak ingin mendengar satu isak pun saat ini," ucapku datar.

"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku. Aku khilaf. Aku tidak bermaksud menodai pernikahan kita. Aku ... kalau saja Mas mengerti semua inginku, tentu ini tidak akan terjadi. Aku khilaf, Mas. Maafkan aku."

Cisss. Aku mencebik. Sungguh sempurna wanita yang tidak punya perasaan ini. Dengan mudahnya ia memohon maaf, setelah ia goreskan luka sedalam-dalamnya luka, di lipatan terdalam hatiku. Ia pikir semua kepedihan ini, akan lenyap dengan sebuah kata maaf. Ia berikan sebuah alasan, sebagai pembenaran atas pengkhianatannya pada seorang suami, yang selalu menjadikannya utama, bahkan lebih dibandingkan diri suami itu sendiri. Sungguh hebat, Kau Wanita!

"Pakai bajumu, Rasty! Sumpah, aku sudah jijik melihat tubuh yang telah kau jajakan murah kepada orang lain itu. Rasanya aku ingin muntah, melihat bekas-bekas merah orang lain di sepenuh tubuhmu." Tanpa menatapnya, aku mendengus.

Tampaknya Rasty menurut. Lewat cermin meja rias, aku melihatnya memakai pakaiannya dengan gemetar, air mata pun masih deras bercucuran. Entah benar rasa penyesalan yang tengah menghinggapinya, atau hanya sebuah rasa takut akan keputusan yang akan ia terima.

"Dan malam ini juga, angkat kakimu dari rumahku. Tidak ada satu pun yang boleh kau bawa dari rumah ini. Semua yang ada di sini, adalah milik istriku. Istri yang kucintai, dan juga mencintaiku. Sementara kau telah menggugurkan hak-hakmu sendiri sebagai istri." Aku berkata tanpa menatapnya. Kurasakan mataku basah mengungkapkan itu. Ada rasa sakit, ada sebagiaan hati yang terkoyak. Namun tidak mungkin aku mempertahankan istri yang sama sekali tidak bisa menjaga kesucian diri, juga kesucian rumah tangga. Bagaimana bisa aku akan melupakan bekas-bekas orang lain yang pernah singgah di tubuhnya? Bagaimana bisa aku memaafkannya?

Rasty melompat lagi, kembali memeluk kedua lututku, nyaris bersujud.

"Ampun, Mas. Berilah ampun untuk istri yang tidak setia ini." Tangisnya semakin menjadi.

"Aku menalakmu, Rasty. Perceraian akan segera kuurus. Tidak akan kuberikan kau kesempatan, untuk mengasuh Anggun. Ibu yang bejat sama sekali tidak baik untuk masa depannya."

Tepat saat kalimatku berakhir, Dua orang polisi masuk ke kamar yang masih terbuka itu.

"Saudara Rasty, harap ikut bersama kami untuk memberi penjelasan." ungkap salah satunya.

Rasty histeris. "Tolong aku, Mas. Jangan biarkan polisi ini membawaku. Tolong, Mas. Anggun membutuhkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan ini, Mas. Kumohon, tolong aku."

"Bawa saja dia, Pak." Pintaku seraya beranjak ke kamar Anggun.

Di kamar kecil inilah, tangisku pecah. Meski sudah fitrah laki-laki berjiwa kuat dan tegar, tapi tetap ada masanya ia terpuruk. Pengkhianatan Rasty menorehkan luka yang dalam di hati. Efeknya tidak hanya bagi diri ini, tapi juga Anggun.

Rasanya sungguh sakit, saat istri yang kupuja dengan seluruh jiwa tega mengotori ranjang pernikahan kami.

***

Pagi ini, sengaja kubangun lebih awal. Sebelum rengekan Anggun memanggil nama ibunya membuat panik, sengaja kusiapkan semuanya. Segelas susu dan beberapa camilan yang biasa disiapkan Rasty, sudah tertata rapi di atas meja.

Mengingat Rasty, kembali dada ini bergelora. Yang tersisa dari puing-puing kehancuran ini tidak hanya amarah, tapi juga terselip penyesalan pada diri. Ternyata kebahagiaan yang terlihat dari luar, tidak menjamin hal itu juga dirasakan hati. Seperti halnya Rasty.

Kupikir ia bahagia, dengan apa yang kami miliki hingga hari ini. Rumah sederhana yang hangat, bidadari yang sehat dan lucu, keinginan yang nyaris selalu terpenuhi. Namun ternyata semua itu tidak berarti apa-apa baginya. Ternyata urusan ranjang yang menjadi tolak ukur kebahagiaannya. Ketidakpuasan, dan kurangnya kehangatan dari suami, menjadikan ia lupa diri, hingga mencari pelampiasan pada sosok lain.

Ah, Rasty. Sungguh ku tak mengerti apa yang ada di dalam hatinya, saat dengan mudah, ia berikan apa yang menjadi hakku pada orang lain. Tidakkah ia ingat, masa awal kami berjumpa, hingga cinta tumbuh dengan mekarnya? Apakah ia lupa tentang kasih sayang sepenuhnya yang senantiasa kuberikan hanya untuknya?

Aku mengumpat dalam hati. Mengenang apa yang telah berlalu, hanya akan menyakiti hati. Yang harus kulakukan saat ini, adalah menentukan langkah apa yang akan kuambil untuk selanjutnya.

Selepas Anggun terbangun nanti, tujuan pertama adalah ke kantor mengajukan cuti panjang. Sejenak meninggalkan rumah ini, untuk menenangkan hati dan jiwa yang telah porak poranda tidak beraturan. Tetap di sini sekarang, hanya akan semakin melukai. Bayangan gumulan Rasty dengan laki-laki lain di ranjang kami, tidak kunjung beranjak dari ruang mata. Membawa serta Anggun kembali ke rumah Emak, untuk waktu yang tidak ditentukan, rencanaku selanjutnya. Meski harus terancam dirumahkan oleh pihak kantor, aku tidak peduli lagi.

Tamat

emoticon-Turut Berduka emoticon-Turut Berduka emoticon-Turut Berduka
Diubah oleh sylviafizzhiadh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 18:03
Selamat datang
0 0
0
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 18:03
Semoga bermanfaat
0 0
0
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 18:14
Apalagi ane yg profesi pelaut, semoga aja di jauhkan sama calon istri macam Lucknut kayak begitu..
profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 22:01
Quote:Original Posted By pelauttangguh
Apalagi ane yg profesi pelaut, semoga aja di jauhkan sama calon istri macam Lucknut kayak begitu..


Aamiin,
Semoga....emoticon-Jempolemoticon-Jempol
0 0
0
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 22:38
Izin nenda gan..
emoticon-terimakasih
profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 22:39
Kasian emoticon-Turut Berduka
profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 22:44
Quote:Original Posted By indahmami
Izin nenda gan..
:terimakasih


Bolehh...emoticon-Jempol
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
23-11-2019 22:45
Quote:Original Posted By kucingkampung97
Kasian emoticon-Turut Berduka


Memang kasian...
emoticon-Turut Berduka
0 0
0
[SFTH] Pengkhianatan
24-11-2019 08:23
emoticon-Sundul Up
profile-picture
hkm777 memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
24-11-2019 11:33
Quote:Inilah jalan perempuan yang berzinah: ia makan, lalu menyeka mulutnya, dan berkata: Aku tidak berbuat jahat. (Amsal 30:20)



Quote:Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam; ia tidak akan mau menerima tebusan suatupun, dan ia akan tetap bersikeras, betapa banyakpun pemberianmu. (Amsal 6:34,35)
Diubah oleh auditor.kaskus
profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
24-11-2019 19:58
paling menyakitkan saat dikhianati sahabat

contohnya mulan jamela dan syarini
profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
24-11-2019 21:04
Quote:Original Posted By MrJeffBezos
paling menyakitkan saat dikhianati sahabat

contohnya mulan jamela dan syarini


Iya sih
emoticon-Turut Berduka
profile-picture
MrJeffBezos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
24-11-2019 22:40
semoga dijauhkan dari hal-hal yang seperti ini
profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
25-11-2019 05:44
Quote:Original Posted By waferastor
semoga dijauhkan dari hal-hal yang seperti ini


Semoga, aamiin...
emoticon-Jempol
0 0
0
[SFTH] Pengkhianatan
25-11-2019 14:15
semangat om,, buat intropeksi diri kedepnnya juga semoga tidak terjadi lagi.. mungkin agan jga perlu berintropeksi diri bahwasannya wanita tidak hanya btuh harta ada sesuatu kebutuhan yg hanya bisa terpenuhi dari suaminya..

semoga menemukan lagi pengganti yg lebh baik gan,,
tidak ada salahnya memberi maaf buat mantan istri demi kebaikan si anggun..

ada quote dari sesepuh ketika dulu menjalani SDR ma keluarga
"jagalah Dirimu maka Tuhan akan menjaga keluargamu"

profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
25-11-2019 20:10
Quote:Original Posted By pelauttangguh
Apalagi ane yg profesi pelaut, semoga aja di jauhkan sama calon istri macam Lucknut kayak begitu..


sesama pelaut bang semoga kita dihindarkan dari istri macem gitu emoticon-Takut
0 0
0
Lihat 1 balasan
[SFTH] Pengkhianatan
Lapor Hansip
25-11-2019 20:45
Balasan post devilivil
Quote:Original Posted By devilivil


sesama pelaut bang semoga kita dihindarkan dari istri macem gitu emoticon-Takut


Iye gan, aamiin
0 0
0
[SFTH] Pengkhianatan
27-11-2019 19:39
semangat om updatenya.. sedih deh ane gan bacanya emoticon-Sorry emoticon-Sorry , ane salut ente kuat om.. emoticon-Marah
profile-picture
sylviafizzhiadh memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Pengkhianatan
27-11-2019 20:59
Quote:Original Posted By yusrillllll
semangat om updatenya.. sedih deh ane gan bacanya emoticon-Sorry emoticon-Sorry , ane salut ente kuat om.. emoticon-Marah


Bukan TS yg ngalamin Gan...
emoticon-Wakakaemoticon-Wakaka
0 0
0
[SFTH] Pengkhianatan
28-11-2019 06:33
emoticon-Sundul Up
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Personal
indahnya-kebersamaan
Stories from the Heart
story-gift-from-you
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia