alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
36
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc138be9a972e255c7f6aa7/ketika-don-juan-jatuh-cinta
Bagi cowok setampan diriku, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pacar. Semenjak kuliah, terhitung ada sembilan gadis yang pernah menjadi kekasih. Dalam artian, yang kupacari lebih dari sebulan. Namun saat ini, aku sedang jomblo. Predikat yang paling memalukan untuk di sandang.
Lapor Hansip
05-11-2019 15:54

Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Past Hot Thread
Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Prolog

Kita tak pernah tahu bagaimana rasanya sakit diabaikan bahkan ditinggalkan, sampai mengalami sendiri luka yang sama.
Cinta datang sebagai anugerah, namun kadang dia menggoreskan luka hingga berdarah.
Jika waktu bisa diputar ke belakang, masihkah kita mau melewati jalan yang sama?

Petualanganku dalam cinta telah membuat banyak hati terluka. Tapi aku harus membayar semua ketika sebuah cinta sederhana tak bisa kuraih. Sakit, pedih dan merasa terasing ....
_____________

Part 1

Bagi cowok setampan diriku, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pacar. Semenjak kuliah, terhitung ada sembilan gadis yang pernah menjadi kekasih. Dalam artian, yang kupacari lebih dari sebulan.

Namun saat ini, aku sedang jomblo. Predikat yang paling memalukan untuk di sandang. Karena mau tidak mau, aku harus fokus pada skripsi yang semestinya tahun lalu selesai. Mama mengultimatum, jika tahun ini tidak lulus kuliah, beliau tak mau mengirim biaya lagi. 

Pagi ini, saat paling menyebalkan untuk memulai aktivitas. Air PDAM mati, tetangga kamar kost bertengkar, dan lebih parah lagi, aku terjatuh dari tangga. Sebenarnya kejadian jatuh dari tangga itu tidak terlalu menyakitkan, tapi malunya teramat sangat. Karena saat kejadian, ada tiga orang cewek penghuni kamar kost di lantai satu, melihat dengan tawa berderai.

Aku merutuki tangga sialan yang membuat level kegantengan turun satu strip. Kubersihkan celana yang kotor oleh debu, kemudian melaju dengan motor sport keluaran terbaru. Hadiah mama saat ulang tahun bulan lalu.

Sebuah desa di Tawangmangu menjadi tujuan. Tempat yang telah kuputuskan untuk obyek penelitian skripsi, pengaruh media sosial di kalangan remaja desa.

Dengan dosen pembimbing seperti Pak Ali Nurdin yang teramat perhatian pada mahasiswa, harusnya sudah kuselesaikan skripsi tahun lalu, bersama puluhan teman seangkatan. Namun, naluri berpetualang dalam cinta telah menunda mimpi mama untuk melihatku diwisuda.

Dua jam berkendara, membawaku pada sebuah rumah berarsitektur joglo, milik kepala desa. Segera kuketuk pintu dan mengucap salam. Seorang wanita empat puluh tahunan muncul dan mempersilakan masuk.

“Nak Faisal?” tanyanya. Aku mengangguk. “Bapak tadi sudah memberi tahu kalau Nak Faisal akan datang.”

“Terima kasih, Bu, sudah memperbolehkan saya menumpang di sini,” ucapku.

Bu Kades mengantarkanku ke sebuah kamar dan membiarkan beristirahat setelah menempuh perjalanan cukup lama. Baru saja kurebahkan tubuh di ranjang, Gita mengirim pesan.

[Lu di mana? Gue samperin di kost kok nggak ada?]

[Mulai sekarang, lu nggak usah cari gue.] Kukirim pesan balasan.

[Apa salahku, Fai, lu tega mutusin gue.] Gita menyematkan emotikon menangis berderet-deret.

[Lu nggak salah, Git, gue yang salah. Gue udah mainin hati lu.] Kukirim balasan dengan perasaan entah apa.

[Gue cinta mati sama lu.] Gita mengirimkan balasan.

[Tapi, gue gak cinta sama lu. Gue Cuma nafsu!]



Aku mendengkus. Jengah mengadapi sikap Gita yang keras kepala. Sama seperti mantan pacarku yang lain, masih mengejar-ngejar walau sudah putus.Segera kumatikan data seluler.

“Iya, sebentar,” kataku. Ketika membuka pintu kamar, tampak seorang bak bidadari berdiri di depan pintu.

Gadis itu sangat cantik, kulit kuning langsat, hidung mancung, bibir indah, dan matanya .... Tuhan telah menempatkan semua dengan teramat sempurna. Gadis itu meletakkan segelas besar teh dan sepiring camilan di atas meja kecil sebelah ranjang. Kemudian mempersilakan dengan jempolnya. Dia tersenyum padaku sebelum pergi. Kupandangi punggung gadis itu hingga menghilang di balik dinding kamar. Siapakah makhluk cantik itu?

Tampak Bu Kades sedang duduk di ruang tengah, menonton sinetron.

“Pak Kades pulang jam berapa, Bu?” tanyaku berbasa-basi seraya duduk di dekatnya.

Bu Kades melihat jam dinding. “Mungkin sebentar lagi.”

Gadis yang tadi mengantarkan teh memberikan isyarat dengan jempolnya, menunjuk sesuatu di dalam kepada Bu Kades. Wanita paruh baya itu membalasnya dengan anggukan. Apakah gadis itu bisu?

“Ayo kita makan dulu, Nak,” ajak Bu Kades. Aku mengikuti wanita itu menuju meja makan. Nasi, tempe, ayam goreng, dan telur dadar sudah tersedia di sana.

“Yang tadi siapa, Bu?” tanyaku tak sanggup  menunggu terlalu lama untuk mengetahui jati diri si gadis.

“Itu anak angkat kami,” jawab Bu Kades. “Ibu tak bisa punya anak, Nak. Dulu ibu pernah hamil, tapi keguguran. Karena ada masalah pada rahim ibu sehingga harus diangkat,” ucap Bu Kades dengan sendu. Wajahnya mendadak murung.

“Maafkan saya, Bu, telah membuat Ibu sedih,” kataku.

“Tidak apa. Ibu sudah ikhlas menjalani. Termasuk jika Bapak ingin menikah lagi,” kata Bu Kades dengan muram. Aku sedikit terkesima dengan apa yang dikatakan  Bu Kades. Seorang wanita yang rela dimadu?

Gadis cantik itu melintas di dekat meja makan, sepertinya hendak menuju kamar. Bu Kades memanggil, “Sini, Rin.” Dia mendekat. “Kenalkan, ini Nak Faisal, akan tinggal di sini sebulan.” Gadis itu tersenyum. “Nak Faisal, ini anak ibu, namanya Arini.”

Aku bersalaman dengan Arini. Gadis kuning langsat itu kemudian pergi meninggalkan kami.

“Kasihan dia, Nak Fai. Dia menjadi bisu karena peristiwa yang traumatik,” kata Bu Kades. “Dulu dia gadis yang normal, tapi hidup dalam keluarga yang serba kekurangan.” Mata Bu Kades menerawang. Sejenak hening di antara kami.

“Dia mengalami pelecehan seksual oleh ayah tirinya. Pelecehan yang terjadi dalam kurun waktu cukup lama, berkali-kali, namun terlambat diketahui.” Mata Bu Kades berkaca-kaca. Dadaku pun mendadak oleh keprihatinan. “Gadis itu diancam agar tidak menceritakan kepada siapa pun, sehingga lambat laun jiwanya terguncang. Dia menjadi stress dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dokter mengatakan itu karena trauma.” Pandangan Bu Kades menerawang jauh. Kulihat kesedihan dalam sorot matanya.

“Apakah Arini pernah dibawa ke psikiater?”

“Pada awal-awal kasusnya terungkap, dia dalam penanganan psikiater. Kini Arini sudah bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Hanya, suaranya tak pernah kembali. Dia tetap bisu.”

Aku terdiam. Turut merasakan kepedihan yang pernah dialami Arini. Tak kusangka, dibalik wajah bak bidadari itu tersimpan luka yang teramat dalam.

Hari ini kumulai penelitian. Ditemani Arini, menemui dan mewawancarai beberapa pemuda di kampung itu. Arini berkomunikasi dengan tulisan. Gadis itu terbiasa membawa sebuah buku kecil dan bolpoin untuk mengatakan sesuatu. Untunglah Arini bisa baca tulis. Jika tidak, tentu sulit bagiku berbicara dengannya. 

Selesai menemui responden, kami berjalan-jalan di sawah milik Pak Kades. Petak-petak sawah itu dipenuhi padi yang mulai menyembulkan bulir-bulirnya. Arini terlihat gembira, wajahnya selalu dihiasi senyum. Gadis itu menunjuk sebuah dangau, kemudian kami beristirahat di sana.

Beberapa petani yang lewat menyapa kami dengan ramah. Aku merasa seperti berada di belahan bumi lain. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan di kota yang penuh dengan ketidakperdulian.

Aku bercerita banyak hal pada Arini. Termasuk tentang diriku. Sesekali gadis itu bertanya, kemudian kujawab dengan candaan yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Angin sawah memainkan rambut Arini yang panjang melewati bahu. Beberapa helainya menutupi separuh wajahku. Kunikmati sensasi lain bersama gadis ini. Dia terlihat begitu polos. Namun siapa  sangka, seseorang telah merenggut miliknya yang paling berharga.

“Arini ....” Gadis itu memandangku. “Kamu cantik.”

Wajah di depanku bersemu merah dadu. Tersungging senyum manis di bibir indahnya. Kupandang dia dengan debaran aneh yang mulai meraja di dada.

Setelah cukup lama di dangau, Arini mengajakku pulang. Kami kembali meniti pematang sawah yang sedikit berlumpur, bekas hujan semalam. Aku terpeleset dan hampir jatuh, tapi tangan Arini cepat meraih lenganku. Seperti adegan klasik di sinetron, namun ini terbalik, bukan si wanita yang hampir terjatuh. Arini tertawa berderai. Wajahnya terlihat jauh lebih cantik saat tertawa. Jiwa petualangku menjadi terusik. Tapi, mungkinkah aku berpacaran dengan gadis desa, bisu, tak berpendidikan dan mengalami trauma seksual?

Arini menyenggol dengan sikunya, membuatku tersentak dari imajinasi yang liar

Hari-hari di desa itu menjadi sangat menyenangkan karena ada sosok Arini yang selalu menemani. Tak terasa, aku sudah hampir sampai di penghujung waktu.

Malam ini, aku sedang mengetik hasil penelitian di ruang tengah. Pak Kades dan istrinya sudah beristirahat di kamar. Arini menyuguhkan secangkir kopi panas. Namun belum sampai meletakkan kopi di meja, kaki Arini tersandung kaki meja hingga membuatnya  terjatuh. Kopi yang dipegang tumpah di kaki. Aku tersentak kaget oleh rasa panas . Terlebih Arini juga jatuh menimpaku.

“Maaf!” seru gadis itu. Aku tersentak untuk kedua kalinya.

“Arini ... kau ...?” Arini berada di atas tubuhku. Wajahnya berada sangat dekat.

Cepat-cepat gadis itu bangkit, tetapi aku menggenggam pergelangan tangannya, membuat dia duduk di sebelahku. “Kau bisa bicara, Rin ....” Aku menatap bola mata indahnya dengan penuh keharuan. “Ucapkan sesuatu lagi padaku!”

“Ma-maafkan a-aku,” kata gadis itu terbata.

Seumur hidupku, baru kali ini merasa keharuan yang begitu membuncah. Arini meneteskan air mata. Kuusap titik bening yang menetes di pipinya dengan ujung jari.

“Bahkan ketika menangis, kamu masih tetap cantik,” bisikku seraya memeluk tubuh gadis itu, dia tak menolak. Ada gejolak dalam dada yang membuatku begitu bahagia. Kebahagiaan yang belum pernah kurasakan ketika dekat dengan gadis manapun.

Kami tersentak ketika mendengar nada dering HP. Gita menelepon. Kulepaskan pelukan. Arini terlihat salah tingkah. Aku memandangnya dengan tatapan penuh arti.
 
Bersambung
Diubah oleh fikrionly
profile-picture
profile-picture
profile-picture
missmars dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
07-11-2019 08:53

Part 3 : Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Sejak saat itu semua berubah. Sapaan gadis-gadis di sepanjang kampus tak lagi membuatku bergairah seperti dulu. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?

“Fai!” Suara itu dan sentuhan di pundak membuatku terkejut. Kudongakkan wajah. Gita berdiri dengan wajah penuh tanya. Tapi dia diam kemudian duduk di sebelahku. Beberapa saat kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Gimana penelitiannya? Sukses?” Suara Gita memecahkan kebisuan di antara kami.

“Iya,” jawabku pelan.

“Lantas kenapa wajahmu seperti mendung di musim hujan?” Tak seperti biasanya, Gita terlihat kalem. Gadis yang mengejar-ngejarku akhir-akhir ini sepertinya lelah. Kulirik wajahnya sekilas. Dia terlihat polos hari ini, tanpa make up bahkan sapuan bedak.

“Gimana skripsimu?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Gita.

“Hampir selesai,” jawabnya. Gita melihat arlojinya. “Aku ada janji sama dosen pembimbing. See you!” katanya seraya berlalu. Beberapa langkah setelahnya dia menoleh, menatapku sebentar kemudian tersenyum dan melambaikan tangan. Kubalas lambaian tangannya dengan memaksakan senyum di bibir. Gita terlihat aneh hari ini. Ataukah hanya pengaruh dari perasaanku yang tak menentu saja?

Pukul satu siang aku pulang ke kos. Bergegas aku membuka laptop dan kembali menulis skripsiku. Tinggal kesimpulan dan aku akan bisa mendapatkan tanda tangan dosen pembimbing.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Wajah mama menyembul di sana.

“Sedang apa Fai?” Mama berjalan ke arahku sembari memerhatikan layar laptop.

“Tumben nggak kasih kabat mau datang, Ma.”

“Sengaja, sidak!”

Aku tertawa.

“Tumben rajin,” sindir Mama.

“Mama suka, kan?”

“Coba dari kemarin-kemarin gini. Pasti saat ini kamu sudah kerja atau bahkan menikah.”

“Apaan, sih, Ma!”

Kedatangan Mama ternyata karena undangan sebuah pernikahan anak teman sekolahnya dulu. Jadi, Mama sekalian mampir untuk menengokku. Aku menemani Mama ke acara itu.

Tak kusangka aku bertemu lagi dengan Gita. Ternyata dia keponakan teman Mama. Gita tampil di acara itu dengan kebaya. Rambutnya digelung dan riasan wajahnya natural. Dia memang cantik. Namun sayang, hatiku tak pernah tergetar oleh kecantikannya. Gita—sebagai among tamu—menyambutku dan Mama, kemudian membawa kami ke sebuah meja. Aku memperkenalkan Gita sebagai teman kuliah, dan gadis itu tak protes sedikitpun. Dia duduk bersama kami dan mengobrol dengan Mama. Obrolan mereka terlihat asyik. Gita pandai membawa diri dan Mama terlihat suka padanya.

“Sudah punya pacar belum?” tanya Mama pada Gita yang membuat gadis itu salah tingkah. Dia sekilas melirik padaku.

“Belum, Tante,” jawab Gita yang entah kenapa membuat hatiku lega.

“Mau nggak jadi menantu Tante?” Pertanyaan Mama membuat Gita tersipu. Sejenak aku menahan napas.

“Faisalnya yang nggak mau Tante,” jawaban Gita terdengar santai, tapi terasa menohokku.

Aku hanya bisa tertawa dan memilih untuk tidak menanggapi candaan itu. Tak lama, Gita memohon diri untuk kembali bertugas sebagai among tamu. Mama mengikuti gadis itu pergi dengan pandangannya.

“Mama suka gadis itu,” gumam Mama.

Namun, aku tidak mencintainya, Mama, jawabku, tapi hanya dalam hati. Rasa sakit karena Arini masih terasa berdenyut. Entah apa yang dimiliki gadis desa itu hingga mampu menjungkitbalikkan hatiku. Aku yang dikenal sebagai cowok play boy di kampus tellah bertekuk lutut di hadapan gadis lugu itu. Apakah kepedihan hidupnya yang telah merebut cintaku? Ataukah aku benar-benar jatuh cinta padanya.
***
Aku terdiam sejenak di depan pintu ruangan pembimbing skipsi. Kuambil napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu itu. Terdengar jawaban “masuk!” dari dalam sana yang membuatku segera menekan handelnya.

Tampak dosen pembimbingku sedang duduk dan memerhatikan aku berjalan. Seulas senyum terukir si bibirnya. “Bagaimana, Fai? Siap untuk ujian?”

Aku terkesiap. Mungkinkah ini ....?

“Ini skripsimu!” Dosen pembimbingku menyodorkan sebuah file tebal.

Tak sabar aku segera membukanya, dan ... ya Tuhan, apa ini nyata? Kulihat tanda tangannya yang berarti skripsiku di-acc.

“Terima kasih, Pak,” kataku dengan sedikit gugup.

“Harusnya kamu bisa lebih dari ini. Bapak tahu kamu itu cerdas, hanya saja terlalu sibuk dengan hal lain.”

Aku nyengir mendengarnya. Hal lain? Hmm, aku tahu apa yang beliau maksud.

“Bersiap-siaplah untuk maju ujian, Bapak ingin kamu dapat nilai A.”

“Akan saya usahakan, Pak,” jawabku seraya berpamitan. Lelaki penyabar itu menjabat tangaku erat. Kelegaan terlihat di wajahnya. Aku sungguh bersyukur mendapatkan dosen pembimbing sepertinya. Sosok seperti inilah yang patut disemati predikat “guru”. Seorang yang ngemong kepada muridnya serta memberikan contoh dalam sikap dan perkataan.

Keluar dari ruangan itu, aku tersenyum. Yess! Segera kutelpon nomor Mama untuk memberitahukan kabar gembira itu. Aku bisa membayangkan ekspresi Mama saat mendapat kejutan dariku.

Satu tahapan telah kulalui dan, hei, hari ini aku bisa tersenyum, sejak peristiwa itu ....

Ketika melangkah di jalan depan perpustakaan aku bertemu Gita. Wajahnya terlihat semringah.

“Happy banget,” kataku.

“Coba tebak kenapa?”

“Dapat gaun incaranmu?”

“Salah!”

“Dapat lotre?”

“Ngaco!”

“Dapat pacar baru?”

Gita melotot. Tapi wajahnya tetap ceria. “Gue di-acc Bro!” katanya seraya meninju pundakku.

“Widiw, kereeen!” kataku seraya memamerkan jempol. “Sama dong kita.”

“Kamu juga di-acc?”

“Iya!”

“Yess!!!” Gita mengepalkan kedua tangannya. “Jangan lupa datang di ujianku, ya?”

“Insya Allah.”

“Ke mall, Yuk? Aku traktir makan siang, apapun yang kamu mau.”

“Siapa takut?”

Kami segera melangkah ke parkiran. Gita bersikap biasa saja. Tak ada tanda-tanda dia masih mengejar cintaku. Apakah dia benar-benar telah lelah? Namun, entah kenapa ada rasa aneh yang menyeruak dalam dadaku. Apakah ini karena aku telah terbiasa mendapatkan perhatiannya yang berlebihan? Entahlah. Tapi aku suka Gita yang seperti ini. Fia sebenarnya gadis yang cerdas. Namun sikap manja dàn posesifnya suka kelewatan. Dan aku tidak suka itu. Aku cowok yang tidak suka dikekang, apalagi dikuntit baik secara nyata maupun melalui pesan-pesan WA yang selalu dia kirim.

Langit terlihat mendung. Siang di kota ini menjadi sejuk. Aku mengarahkan motor menuju sebuah mall tengah kota yang biasa kami datangi.

Setelah memarkir motorku, kami segera melangkah ke dalam. Seorang pamuniaga yang mendorong puluhan troli hampir saja menabrak Gita. Dengan sigap aku menarik tangan gadis itu. Dia memandangku dan tersenyum.

Cepat kulepas tangannya. Sesaat kami terdiam dan segera melanjutkan langkah. Kupilih sebuah restoran dimsum. Gita mengikuti masuk restoran. Kami duduk di pojok, tempat yang nyaman untuk melihat sekitar.

Pelayan datang dan mencatat pesanan kami kemudian pergi. Gita memandangku lurus-lurus. “Kamu sekarang berubah,” katanya.

“Masa? Apanya yang berubah?”

“Entahlah. Aku merasa kamu sekarang lain. Sejak pulang dari desa itu. Apakah telah terjadi sesuatu di sana?” Pandangan Gita penuh selidik. Aku jengah, merasa seperti terdakwa di bawah sorotan mata sang hakim.

“Tidak ada sesuatu yang terjadi di sana. Hanya hal-hal biasa.”

Pelayan datang menyuguhkan minuman. Gita menyeruput minumannya. Pandangannya tak lepas dari wajahku. “Aku sudah lama mengenalmu. Dulu kamu tidak seperti ini,” katanya santai.

“Hmm ... mungkin saja dengan bertambah usia seseorang akan menemukan jati dirinya.”

“Dengan kata lain kamu sudah menemukan jati dirimu?”

“Mungkin.” Kuseruput lemon tea di depanku dengan pelan. “Kamu juga berubah sekarang.”

Gita tertawa. “Aku berubah karenamu!”

Aku melotot. “Maaf. Lupakan aku. Aku bukan cowok yang baik.”

“Maaf juga. Aku nggak bisa janji.”

Sekali lagi pelayan datang menyelamatkan suasana tidak nyaman di antara kami. Dia menyajikan makanan yang kami pesan.

Tak banyak bicara kami makan dengan cepat. Setelah itu aku mengantarkan Gita pulang ke kostnya.
***
Jadwal ujian skripsi telah keluar. Gita akan menjalani ujiannya hari ini.

“Jam sepuluh, ya, jangan lupa!” katanya. Aku mengangguk dan membiarkannya masuk ke perpustakaan. Aku tak mau mengikutinya. Pasti gadis itu sedang mempersiapkan ujiannya. Aku tak mau mengganggunya.

Jam sepuluh tepat aku muncul di ruangan itu. Gita berjalan ke depan kemudian mengucapkan salam. Sekilas dia melihat kedatanganku.

Gadis itu terlihat begitu menguasai materi dan menjawab semua pertanyaan penguji dengan baik. Dia terlihat begitu cerdas dan anggun. Hei, ke mana saja diriku selama ini hingga baru menyadari hal itu?

Menit-menit telah berlalu. Gita telah menyelesaikan ujiannya. Kujabat tangannya dan mengucapkan selamat. “Kamu pasti dapat A,” kataku.

“Aamiin.” Gita tersenyum bahagia.

“Mau kutraktir?”

“Serius?”

“Tapi aku yang tentukan tempatnya.”

“Okey.”

Siang itu, kubawa Gita ke arah luar kota. Sejujurnya aku tak tahu akan membawanya ke mana. Aku hanya ingin jalan bersamanya.

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medina12 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
07-11-2019 08:56
Quote:Original Posted By freeman063
Lanjutannya kapan nih


Sudah ada part 3 nya Gan. Silakan dibaca
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
07-11-2019 08:59
Quote:Original Posted By tidhy010709
mantap gan, ane tungu lanjutannya yaa, smoga ajaarini ga jd nikah ma pak kades, pngnnya ma faisal aja emoticon-2 Jempol


Hehe, enaknya Arini nikah sama siapa ya? emoticon-Betty

Quote:Original Posted By fadw.crtv
Kayanya si Arini nyusul ke kota nih, terus nyari ente gan, tapi ketemunya sama cowok lain. emoticon-Ngakak


Boleh juga nih ide ceritanya. Silakan dibaca part 3 nya ya Gan, sudah ane upload

Quote:Original Posted By yoshinagaku
waduh... eta bagaimana?


Gimana lagi deh Gan. Namanya juga sudah suratan takdir. Manusia bisa berusaha tapi takdir yang menentukan emoticon-Betty

Quote:Original Posted By esaka.kedua
Jangan kayak trit kentang lainnya gan


Udah ane lanjutin Gan. Silakan baca part 3-nya. Happy reading.
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
07-11-2019 09:02
Quote:Original Posted By zablenx
wah bakalan mantab kayanya nih cerita... akankah ada perjuangan atau hanya menyerah sebelum kalah...


Silakan dibaca lanjutannya Gan. Sudah ane upload part tiganya.

Quote:Original Posted By falashaf
sengaja part 2 nya ditaruh sini ya gan? g di taruh di trit baru aja?


Aturannya memang gitu. Kalau cerbung harus disambung di kolom komentar.

Quote:Original Posted By penitibaju
Kentangnya dipercepat gan, jgn lama2


Siaaap. Part ke tiga sudah tayang ya. Happy reading Gan.

Quote:Original Posted By g3nk_24
Hayo di lanjut, jgn kelmaan keburu tenggelam.

Sudah ane upload Gan par letiga. Silakan dibaca.
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
07-11-2019 09:28
sedikit rumit. faisal yg masih galau karna arini udh mulai diserang gita yg mengeluarkan potensi tersembunyinya. apalagi gita sedikit diatas angin dengan dukungan mama faisal...
.
.
.
hmmm, ngga sabar pengen baca part lanjutanya emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
07-11-2019 11:31
Nunggu updetan smbi gelar tiker
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
07-11-2019 22:17
asyeek...ada cerita bagus...gue tunggulah lanjutan ceritanya
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
08-11-2019 01:20
Sundul
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
08-11-2019 07:39
lanjut part 4 gan nenda dulu ahh 😉
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
08-11-2019 14:19
Bagus ceritanya gan, mengalir, natural, enak sekali dibaca,

Tulisan gak kebanyakan basa basi muter2 bla,, bla.. bla..mantep deh.

*Nunggu update nya gan


Salam kenal buat agan ts.
emoticon-Shakehand2
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
08-11-2019 14:25
Tandai dulu lahhh....😁
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
08-11-2019 14:53
ijin nenda dulu gan
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
08-11-2019 21:05
Seru nih..ijin gabung gan..
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
10-11-2019 11:24
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
10-11-2019 14:11
cerita bagus, semoga terus lanjut...
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
11-11-2019 07:04
lanjut gan...
0 0
0
Halaman 2 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kealpaan-hati
Stories from the Heart
cinta-pada-pelukan-pertama
Stories from the Heart
warna-luka
Stories from the Heart
rasa-yang-tak-pernah-ada
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.