Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
89
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5daa7ecf4601cf1b14439bca/love-choice-and-decision
Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.
Lapor Hansip
19-10-2019 10:11

Tolong Katakan I Love You

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Love, Choice, and Decision
Canva


BAB 1

SI PEMBUAT ONAR


Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.

Aku tak tahu, harus bagaimana lagi, rasanya tak mungkin semua nomor telepon mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya ratusan itu, ku-save semua. Hanya mereka yang punya label khusus saja yang terpaksa kusimpan. Walaupun telah kupilih-pilih, ternyata human error masih terjadi juga.

Tanpa kusadari ternyata ada dua nama yang sama dalam list nomor-nomor HP yang kusimpan. Niko, itu dia, namanya. Satu berstatus sebagai teman, sedangkan yang satunya mahasiswa 'gaje' yang sedang mencari jati diri.


Awal kejadiannya, bermula dari sini.

Pulang dari kampus, aku langsung menuju ke kamar. Tidak seperti biasanya. Ya, biasanya aku selalu berhenti dulu di meja makan. Melahap apa saja yang ada di situ sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama Mama. Tak demikian dengan hari ini. Rasa capek stadium akhir, membuatku ingin segera berbaring di atas kasur. Selain tugas mengajar yang marathon, aku juga harus menyelesaikan pekerjaan di luar di kampus. Ketika sampai rumah, aku ibarat HP yang baterainya tinggal 19%. Warning agar segera di-charge.

Begitu melihat ranjang, bantal, dan guling, mereka seolah melambaikan tangan memanggilku. Setelah menyalahkan AC, aku segera menghempaskan tubuh ke kasur. Dalam kondisi setengah sadar, aku masih sempat melihat Mama membuka pintu kamar yang tak terkunci. Menengok sebentar, kemudian pergi, lagi.

*

Entah berapa lama mataku terpejam. Saat terbuka kembali, jam dinding di kamar sudah menujukkan pukul 17.30 WITA. Artinya sebentar lagi akan magrib. Sebelum Mama, masuk ke dalam kamar, membangunkan aku sambil ceramah a sampai z, meski malas, aku memaksa membuka mata yang sebenarnya masih ingin terpejam.

Nduk, maghrib-maghrib ndak boleh tidur. Kata Mbah kakung, nanti kalau kamu sakit ndak ada obatnya. Ayo bangun! Ora elok. Pamali. Jadi perempuan itu, mbok ya, jangan malas. Nanti kamu ndak laku.

Itulah kira-kira yang akan dikatakan Mama, jika aku masih nekat merem. Mama akan terus berbicara sampai aku bilang 'iyaa atau ashiyaaap, Ma'. Namun, tak apalah, dari pada Mama diam, malah serasa ada sesuatu yang hilang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Masih dengan rasa malas, kuambil benda berukuran 6 inci ber-chasing merah maroon itu dari dalam tas kerja.

Langsung kubuka WA. Itu yang biasa aku lakukan. Setelah itu, baru facebook, IG, dan kemudian aplikasi yang lain. Di tiga tempat, WA, facebook, dan IG itulah baik rekan dosen maupun mahasiswa biasa berekspresi. Life is never flat, begitu kata mereka.

Setelah kubaca, tetapi belum kubalas beberapa pesan WA yang masuk, aku membuka status teman-teman. Salah satu dari mereka ada yang menulis:

HBD for me

Idih. Rasanya ada yang menggelitik. Dan, duh, tiba-tiba terasa ngilu. Aku merasa 'Niko' si pembuat status ini, seperti hidup seorang diri di dunia. Ada rasa geli, tetapi juga kasihan. Entah mengapa aku lebih merasa kasihan. Lebih anehnya lagi, langsung terbayang dalam ingatanku, seorang laki-laki yang sedang sendirian di tepi sungai Kayan. Benar-benar, kasihan. Laki-laki yang pernah kulihat ketika aku dan Mama sedang kondangan ke pulau seberang. Perasaan apa ini? Tanyaku, merasa heran pada diri sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kusambut status itu dengan respon:

Happy Birthday Sir, wish you all the best! Ucapan selamatku untuk Pak Niko, lewat WA. Tak lupa kusematkan emoticon kue ulang tahun di belakang ucapanku.

Tak kuduga. Fast response. Dia langsung membalas:

Thank you very much! Honey. Dia akhiri balasannya itu dengan emoticon love, tiga kali.

Mataku langsung terbelalak, melihat kata 'honey' dan tiga emot love balasan dari Pak Niko. OMG! Tekanan darahku, serasa naik. Ya Allah ada apa dengan bapak satu anak, ini? Apa maksudnya? Apakah aku GR? Kurang gaul? Atau tempat bermainku kurang jauh? Pertanyaan demi pertanyaan langsung memberondong kepalaku. Daripada salah kaprah, aku memilih tak membalas.

Belum habis rasa heran-ku dengan pesan WA aneh itu, Mama datang. Menyuruhku buru-buru mandi, salat maghrib lalu memintaku menemaninya kondangan. Meskipun ada Ayah, Mama lebih suka mengajakku kondangan. Dan, sebenarnya aku paling malas menghadiri acara seperti ini.

Sepanjang perjalanan aku masih berpikir. Rasanya kalimat ucapan selamat ultah-ku untuk Pak Niko itu, biasa saja. Normal, tidak berbau PHP, gaje, pornografi apalagi SARA. Salahnya di mana? Rasanya ingin menggaruk kepalaku yang tak gatal. Yang membuat masalah ini semakin aneh, karena Pak Niko terus menerus mengirimiku pesan.

"Nduk, kita ini mau kondangan ke tempat buliknya Ardhi. Pasti ada Mama sama Abahnya Ardhi di sana. Jangan lupa kasih salam. Juga bersikap sopan."

Perkataan Mama, membuyarkan lamunanku.

"Ah, iyaa, Ma," jawabku sekenanya.

Sampai di tempat hajatan, aku masih memikirkan pesan Pak Niko. Rasanya kesal sekali. Bagaimana mungkin teman sekantor berbuat seperti itu. Bagaimana caraku menghadapinya besok pagi.

Usai menemani Mama mengobrol dengan orang-orang yang diharapkan bulan depan akan menjadi keluarga, selama dua jam--di acara sunatan sepupunya Bang Ardhi--akhirnya kami berdua sampai rumah juga. Tubuhku tadi, di tempat hajatan, tetapi pikiranku ke mana-mana. Begitu sampai kamar, karena masih penasaran, kubuka dan baca lagi pesan-pesan WA dari Pak Niko. Rasanya semakin gemas, aku dibuatnya. Setelah kuperhatikan benar-benar, ternyata oh ternyata, itu bukan pesan Pak Niko, dosen. Astaga, rupanya pesan dari Niko--mahasiswa. Si Trouble Maker. Serta merta aku menjambak rambutku sendiri.

OMG!

Mahasiswa si pembuat onar itu terus menerus mengirimiku pesan dengan emoticon 'love'. Mulai dari pesan tak penting, gaje, sampai akhirnya bertanya masalah kuliah yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Kesal nggak sih?

Kalau ada mahasiswa yang datang ke kampus tetapi tidak bisa mengikuti kuliah karena pintu sudah ditutup saat telat lebih dari 15 menit, dia-lah orangnya. Mahasiswa yang tak bisa berkerja sama dalam kelompok karena suka-suka gue, itu dia juga. Belum lagi yang hobbi stalking dan nge-hack akun sosmed teman-teman wanita untuk mem-bully, itu juga pasti Niko. Dan, yang datang ke kampus dengan celana jeans robek-robek bagian lutut lalu diusir oleh security, itu juga, tak ada yang lain, selain dia. Celakanya, aku pembimbing akademik dia.

***


"Niko! Tahu kenapa saya panggil?" tanyaku, keesokan harinya. Suaraku sedikit meninggi karena menahan kesal.

"Tahu Ma'am. Maaf Ma'am saya salah...."

Lelaki berperawakan tinggi dan sedikit kurus itu, wajahnya terlihat flat. Sepertinya dia sengaja membuat kesan seperti itu, seolah tanpa dosa. Duh, padahal banyak, ya ampun. Dalam hati aku ingin tertawa. Karena sumpah, dia terlihat sangat aneh. Yang bikin aku kesal, di sela-sela itu, mata elangnya terus berupaya menatapku nakal.

Haks!

Perutku mendadak menjadi kenyang. Benci sekali melihat tatapan sedikit liarnya itu. Uff! Meski demikian aku paling tak berdaya setelah mendengar perkataan 'maaf.' Luntur seketika rasa kesalku.

"Apa yang kamu lakukan meski tak ada hubungannya dengan saya, tapi kita terikat norma. Di mana saya berkewajiban mengingatkan kamu! Bisa dimengerti, 'kan?" sergahku.

"Yes, Ma'am!"

Malas berbicara panjang lebar, aku segera menyuruh Niko pergi dari ruanganku.

***


Setelah Niko menterorku, dengan berbagai pesan di semua sosmed, kini hampir setiap hari selalu ada snack dan makan siang di meja kerjaku. Si tinggi kurus, bergaya casual dan berwajah oriental-lah yang mengirimnya.

Ya Allah, dia bukan tipeku. Ampun! Hari demi hari, rasanya aku semakin benci, padanya. Saking bencinya, sampai terlintas dalam pikiran, jangan-jangan makanan yang dia kirim itu mengandung guna-guna. Meski telah berumur 28 tahun dan lulus pasca sarjana, kadang-kadang aku masih suka berpikir naif. Saking paranoid-nya, semua makanan dari Niko, selalu kubagi-bagi pada siapa saja. Untuk Nesya, Mira dan Andra yang satu ruangan. Kadang-kadang sampai juga ke pos security.

Saat berpapasan dengan Niko di koridor atau tempat parkir kampus, aku selalu menghindar. Pesannya tak pernah kubalas. Ketika harus mengajar di kelas mahasiswa nyleneh itu, sebelumnya kutarik napas dalam-dalam seraya meluruskan niat. Aku sengaja tak mengacuhkan dia.

Ya Allah, tolong! Dosa apakah aku? Ironisnya hanya di kelasku anak bandel itu tak pernah absen. Untuk mata kuliah lain, sebagaimana gaya bad boy itu; dia datang dan pergi sesuka hati.

***


Alhamdulilah. Beberapa hari ini, suasana kampus dan hatiku terasa tenang. Niko seolah ditelan bumi. Apakah aksi boikotku berhasil? Ataukah mungkin dia merasa lelah? Rasanya seperti baru saja terlepas dari jerat tali panjang yang mengikat, melingkar-lingkar di tubuhku dari dada hingga ke perut. Legaa. Jahatkah aku? Dia seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun, sedangkan aku dosennya yang tujuh tahun lebih tua dari dia. Apakah aku telah bersikap kejam pada seorang anak kecil? Jika 'iya' apa yang bisa kulakukan untuknya? Jika bulan depan Mama dan Ayah telah mempersiapkan pernikahanku dengan seorang lelaki yang saat ini sedang merantau nun jauh, di negara timur tengah, sana.

Dua jam kemudian aku masuk ke dalam kelas. Dan, setelah satu jam setengah berdiskusi dengan mahasiswa.

"Okay, thank you very much for your attention. See you next week and have a nice day!"

Aku menutup kelasku. Mata kuliah English 4. Segera kukemasi laptop, projector, dan speaker active yang biasa dan baru saja kupakai.

Tak seperti biasanya, hari itu secepat kilat ruangan kelas menjadi sepi. Hanya tertinggal Niko, Andrew dan Hilmi. Aku merasa, ini seperti telah di-setting sedemikian.

Niko, apa yang tak bisa dia lakukan.

"Hil, tolong bantu bawakan speaker active ini ke ruangan saya, yah. Makasih," pintaku pada Hilmi. Mahasiswa berkulit putih dan berbadan sedikit tambun itu pun, segera melakukan apa yang kukatakan.

Sementara itu, Niko dan Andrew berjalan mendekatiku. Gerak-geriknya terlihat aneh. Mereka seperti saling memberi 'kode'. Perasaanku, tiba-tiba menjadi tak enak. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu padaku. Ya Allah, aku takut.


To be continued

Thank you for reading emoticon-Peluk
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbethix dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 4 dari 5
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 19:18
Quote:Original Posted By darmawati040
ish, Nikho nyebelin. jangan sampe endingnya sama nikho ya, Mbak. bisa illfel deh!


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 21:21
nitip jejak dulu boleh sis?
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 22:24
Quote:Original Posted By betiatina
nitip jejak dulu boleh sis?


Silakan
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Love, Choice, and Decision
26-10-2019 06:21
Quote:Original Posted By icecone17
mantap gan, threadnya sangat bermanfaat. ditunggu untuk thread thread selanjutnya


emoticon-2 Jempolemoticon-Peluk
0 0
0
Love, Choice, and Decision
27-10-2019 16:50

LOVE, CHOICE, AND DECISION

Love, Choice, and Decision

BAB 3

THE POOR BOY


Ruangan yang hampir seluruhnya berdinding kaca itu tampak sepi. Yang terlihat hanya satu meja terisi dua orang pelanggan, kasir dan tiga waiters yang sedang duduk menunggu. Alhamdulillah. Aku menoleh ke kiri dan kanan, masih ingin memastikan bahwa kondisi benar-benar sepi. Jika teman-teman Niko melihat aku dan Niko duduk berdua satu meja, apa yang akan mereka pikirkan? Dan, mengapa anak gemblung itu memilih Nes-Milo yang lokasinya tepat di seberang kampus. Bukan dia tahu, hampir pasti akan selalu mahasiswa dan mahasiswi yang nongki di sana.

Harus duduk semeja dengan Hantu Kampus? Uh, bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Apakah ini the real ketakutan pada hantu? Bukan sekadar istilah? Aku bingung harus tertawa atau merasa bloon. Bocah itu paling bisa membuatku tak bisa memilih. Jika tak diikuti bakal ada tsunami. Saat diikuti aku harus siap mati berdiri.

Aku segera mengedarkan pandangan mencari Niko. Sepertinya dia belum datang. Sudah mengajaknya memaksa, sekarang dia mempermainkan orang yang lebih tua. Dasar!

"Dilara! Sini!"

Oh, itu suara orang yang sedang kucari. Tak merasa lega sebagaimana rasa seseorang yang telah bertemu apa yang dicarinya, aku tetap merasa ada yang mengganjal. Niko melambaikan tangan memberi isyarat agar aku segera menuju ke tempatnya berada. Kursi di bawah tangga menuju lantai dua yang sedikit terlindung dari pandangan umum. Baguslah. Mungkin dia sengaja memilih tempat itu. Aku pun bergegas menuju ke sana. Begitu aku sampai, anak laki-laki berambut hitam mengkilap itu langsung berdiri lalu menarik kursi di depannya. Mempersilakan aku duduk.

"Apa yang akan kamu katakan?" tanyaku ketus, seraya duduk.

"Mau yang mana dulu? Yang baik atau yang buruk?" jawab Niko dengan senyum-senyum simpul. Binar-binar terus memancar dari matanya.

"Mana saya tahu? Terserah kamu!"

"Dilar--"

"Stop! Sudah saya bilang, jangan panggil saya begitu!" selaku, dengan intonasi sedikit meninggi, mungkin wajahku juga memerah.

"Okeh, sweetie.... " ucap Niko sambil mengecup ujung jempol dan jari telunjuknya yang dia satukan.

"Uhuk!" Aku langsung tersedak selanjutnya terbatuk-batuk. Rasa geli dan marah bercampur menjadi satu.

Niko berlari mengambil air mineral yang tersedia di meja dekat kasir. Buru-buru membuka segel dan tutupnya sambil berjalan ke arahku. Begitu sampai di meja kami, dia langsung memberikan air mineral itu padaku.

"Santai saja, kenapa?" ucapnya. Aku merasa perkataannya itu sok dewasa.

"Kalau sehariii sajaa, nggak bikin masalah sama saya, kenapa?" ujarku, setelah menenggak air mineral yang ada di tangan.

"Hmmm...." Niko urung menanggapi apa yang baru saja kukatakan karena seorang waiter datang menghampiri meja kami. Lelaki berpakaian nuansa monochrom membawa dua gelas jus tomat dan dua mie goreng.

"Kita selesaikan nanti, saja. Sekarang waktunya makan. Sudah kupesankan makanan favoritmu. Nggak salah, 'kan? Mi goreng spesial," ucap Niko dengan senyum lebar.

Dia beruntung. Pesanan makanan datang di saat yang tepat. Hantu Kampus mendapat kesempatan untuk menghindar dari seranganku. Serangan? Saat berurusan dengannya, aku selalu merasa menjadi ABG. Oh, God.

Aroma mi goreng bertabur daging, sayuran dan tomat menguar tajam menusuk hidung. Begitu menggoda. Rasa lapar pun memanggil, untuk melahap. Sayangnya, rasa senang dan eneg sedang tidak akur di dalam perut dan otakku.

Rasa macam apa ini?

Nafsu makanku, mendadak turun 50%. Meskipun demikian tetap kupaksakan menikmati hidangan yang sudah disediakan di depan mata.

Sepuluh menit kemudian.

"Cepat katakan apa maumu!" bentakku, pelan. Rasanya sudah terlalu lama aku duduk berdua bersama Niko. Selain tak nyaman, juga membuat jantungku terus berdetak tak beraturan.

"Satu, bersikaplah biasa. Aku hanya seorang cowok, seorang lelaki yang mencintaimu. Bukan penculik seperti di film-film!" ucap Niko dengan penuh percaya diri. Seolah tanpa sedikit pun keraguan. Kedua bola matanya tajam menatapku.

"Hemm, terus?" Aku sangat geli sekaligus prihatin saat mendengar Niko mengucapkan kata 'seorang lelaki yang mencintaimu'. Berani sekali dia.

"Okay! Dua! Aku tidak akan menyakitimu." Intonasi suara Niko menurun, terdengar sedikit lembut. Selain itu bola matanya yang sedikit sipit itu, seolah memancarkan kesungguhan.

"Ada lagi?" lanjutku.

"Jangan bohongi dirimu sendiri!"

Jleb! Kalimat terakhirnya membuatku tertunduk. Seluruh dunia seolah sedang mentertawaiku. Aku harus segera mencari cara untuk mengakhiri pertemuan konyol ini.

"Okeh, lanjutkan via HP! Saya sedang ditunggu kakak perempuan dan keluarga besar. Tahu, kan, apa yang akan mereka bahas?"

Niko menatapku lekat, seolah sedang menebak apa yang akan kubahas dengan mereka. Dan, sepertinya dia bisa menebak. Perihal pernikahanku. Ada kilatan cemburu yang sama sekali tak dia sembunyikan.

The poor boy ...

Ada sedikit rasa pedih yang tiba-tiba muncul dari dalam sana. Bukan sepenuhnya karena Niko, tetapi lebih jika aku berada di posisi dia.

***


Niko, bagi sebagian orang sosok ini kerap memacu adrenalin. Sebagian lagi, anak yang nyaris tak pernah diam ini, hanya membuat tegang urat syaraf, mereka. Namun, bagi golongan yang terakhir, lelaki jangkung ini, tipe yang menyenangkan. Sedikit humoris dan memiliki banyak bakat terpendam. Salah satunya, meski bukan jurusan Informatika Komputer, skill alami yang dia miliki dalam dunia per-HP-an dan laptop membuat dosen maupun teman-teman datang padanya saat mendapat masalah dengan benda-benda itu. Free of charge. Namun hanya aku dan sebagian orang saja yang tahu, jika setelah itu, Niko bisa mengetahui password sosmed dari gadget yang dia perbaiki. Walaupun tak melakukannya secara membabi buta pada semua gadget yang pernah dia perbaiki, tetapi aku tak heran jika ada seseorang menangis karena Niko mempublikasikan chat rahasianya pada orang-orang tertentu. Biasanya dia melakukan itu pada mahasiswi yang dia anggap caper dan berlebihan. Bukan asal tabok. Masih mending. Lah, mengapa aku membelanya?

Lelaki yang identik dengan jaket kulit hitam itu, anak tunggal dari salah satu pengusaha cold storage di kota ini. Dia lebih sering bermotor besar, meski mobil sport hitam limited edition tersimpan di garasi rumahnya.

Menurut cerita dari yang bersangkutan, saat SMA, dia pernah menjuarai turnamen bulu tangkis se-kecamatan. Pernah pula tinggal di Bogor beberapa bulan untuk memperdalam bakatnya. Dari sorot matanya saat bercerita, sepertinya Niko begitu menikmati dunia itu, tetapi sayang, ibunya tidak bisa jauh dari anaknya. Sedangkan sang ayah berpikir bakat seperti itu tak berguna. Tak menghasilkan uang. Untuk apa. Setelah itu dengan sangat keras menentang, keinginan sang anak.

Mendengar kisah hidupnya yang ini, jujur membuatku mengelus dada. Layu sebelum berkembanglah, cita-cita seorang lelaki muda yang baru saja mematri angan-angan pada lembar masa depan di dalam benaknya. Beruntung dia tak lari pada dunia narkoba, pun penjahat cinta. Bisa jadi rengkuhan tangan hangat seorang wanita bernama ibu yang mencegahnya ke sana.

Yup, benar, dunia ini memang tak monoton. Sepertinya semua orang punya kisahnya sendiri-sendiri. Aku tersenyum, entah.

***


Sweetie, aku mau ke rumahmu! Pesan dari Hantu Kampus gaje via whatsapp.

What?!

Mataku terbelalak, seketika.

Jangan cari masalah! Kalau kamu nekat, saya akan keluar dari rumah. Balasku, mengancam.

Emang dia saja yang bisa menekan. Dalam hati aku bersorak, setelah itu tersenyum sendiri. Sepertinya biasanya, aku selalu menjadi serupa bocah, jika harus berhadapan dengannya.

Keluarlah, aku tambah senang. Bisa menemuimu kapan saja. Balasnya, lagi. Uff! Aku tercekat.

Aku segera berpikir mencari cara mengalahkan dia.

Datanglah, setelah itu kamu tidak akan pernah melihat saya lagi di kampus. Menjadi pengguran yang bahagia, sepertinya menyenangkan. Lakukan semaumu! Balasku.

Tiba-tiba aku berpikir, tidakkah kalimat 'pengangguran yang bahagia' terasa aneh? Mau kuhapus, tetapi sudah terlanjur dia baca.

Ah, biar saja. Paling juga dia tak terlalu menghiraukan. Hiburku dalam hati.

Lima menit telah berlalu. Belum ada balasan. Apa dia takut atau? Mengapa aku terlalu antusias menunggu balasannya. Sepuluh menit pun berlalu. Aku masih menunggu. Lima belas menit puj berlalu. Kupikir dia tak akan membalas.

Ya, sudahlah.

Aku memutuskan tak akan menghiraukan dia lagi. Aku pun berjalan menuju teras samping. Di sanalah Mama biasa berada. Bercengkrama dengan bunga-bunga anggrek dan mawar kesukaannya. Daripada keningku terus berkerut memikirkan Niko, lebih baik menghibur diri di dekat Mama.

HP-ku yang kusimpan dalam kantong celanaku bergetar. Tak terlalu antusias aku membukanya. Namun begitu tertera pesan dari Hantu Kampus Kumat, mataku langsung membesar.

Baik Ma'am, saya salah. Saya minta maaf. Saya tidak akan datang.

Bukannya senang karena dia tak jadi mengganggu, aku justru merasa ada sesuatu yang hilang. Ada yang tiba-tiba terasa hampa di dalam dada. Sebenarnya apa, sih, yang aku rasakan? Ah, tidak. Dia bukan ... seperti biasanya aku selalu mencoba berdamai dengan perasaan sendiri. Tanpa sadar aku mengelus-elus dadaku sendiri.

Selanjutnya, aku sengaja membuang pandanganku ke arah bunga-bunga milik Mama. Dengan cara inilah mata dan otakku yang sedang bermasalah biasanya bisa kembali menjadi sedikit lebih baik.

"Kamu kenapa, Nduk? Kok sajak bingung." Pertanyaan Mama, sedikit membuatku terkesiap.

"Ah, ndak papa, Mah. Banyak kerjaan yang blom Dila selesain."

"Yo wes sana, ndang dikerjakan. Jangan malah ngalamun, di situ."

"Iya, Mah."

Aku segera angkat kaki dari teras. Kembali menuju kamar.

Aku merasa perasaanku pada Niko, benar-benar mulai salah. Ya Allah, bagaimana ini? Di satu sisi aku berpikir ini masalah kecil, tetapi di saat yang sama aku merasa gelisah karenanya. Aku harus menemukan cara. Cara berlari atau menenggelamkan masalah ini, hingga tak tersisa.

Bagaimana cara membuat Niko mengerti tanpa menyakiti. Cukup menyanyanginya tanpa tendensi, dan ... menghilangkan dia dari hari-hariku tanpa merasa kehilangan. Apakah ketiganya, mungkin kulakukan?

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan anwarabdulrojak memberi reputasi
2 0
2
Love, Choice, and Decision
27-10-2019 16:51
Thanks for reading
0 0
0
Love, Choice, and Decision
28-10-2019 23:38
udh baca. enak. ngalirrrr....
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
29-10-2019 06:11
Quote:Original Posted By riwidy
udh baca. enak. ngalirrrr....


Hanya itu sist? Menerima pendapat dan masukan. Makasih
Diubah oleh Puspita1973
0 0
0
Love, Choice, and Decision
06-11-2019 04:29
Love, Choice, and Decision

BAB 4

AKU KALAH


Walaupun ragu dengan kemampuan dan kualitas strategi yang telah kubuat, aku tetap melaksanakannya. Rencana pertama: aku izin tak masuk kerja selama dua hari. Setelah itu, mematikan HP. Karena tak ingin direpotkan bongkar dan pasang ponsel, untuk berkomunikasi dengan keluarga, Bang Ardhi, dan kampus aku terpaksa membeli SIM card dan hand phone baru. Rasanya tak sabar ingin segera tahu reaksi bocah gemblung itu.

Untuk mengetahui perkembangan apa saja yang akan dilakukan Niko, aku telah bekerja sama dengan Nesya. Dari informasi yang kudapat; setengah hari pertama, aku tak tampak di kampus dan seolah menghilang dari peredaran, Niko sudah seperti anak ayam yang kelabakan mencari induknya. Dia bertanya tentang keberadaanku ke hampir seluruh karyawan dan dosen yang dijumpainya. Puncaknya dia datang ke bagian kepegawaian. Bukan Niko namanya jika mudah menyerah. Pada Nesya dia bertanya alasan dan kemungkinan mengapa aku tak masuk kerja. Staf manis berkulit sawo matang bagian kepegawaian itu hanya menjawab 'kurang tahu'.

Hari ke dua. Masih menurut cerita si mungil Nesya. Niko datang bersama Andrew ke ruangannya. Di kesempatan ini, Andrew--cowok kurus dengan rambut sedikit acak-acakanlah--yang menggali informasi. Niko hanya duduk diam di sebelahnya. Menurut Nesya, wajah Niko terlihat BT tingkat mahadewa. Uff, sampai di sini aku merasa bahasa Nesya terlalu lebay. Setelah kupikir-pikir, kok, aku berasa seperti menjadi seorang DPO. Di sini Nesya tetap memberikan jawaban 'kurang tahu', untuk Niko dan Andrew.

*

HP-ku bergetar.

Ms. Dee, besok beneran masuk, kan? Pesan dari Nesya.

Insya Allah. Memangnya kenapa?

Nggak tega lihat anaknya Ms. galau. Aku takut dia ngrubuhin kampus ini, ntar. Nesya menambahkan emoticon LOL di belakang pesannya.

Tolong liatin gerak-geriknya hari ini, yah. Mudahan dia nggak bikin onar.

Ciee, Emak takut yah, anaknya yang u-la la itu bikin masalah.

Asem.

Sepertinya, strategiku yang pertama ini, akan nihil.

***


Aku sengaja memarkir mobilku di pinggir jalan, demi tak bertemu Hantu Kampus di parkiran basement. Padahal mobil akan seperti sauna saat akan dipakai keluar jam makan siang saking panasnya. Apa boleh buat.

Dengan langkah kaki berdurasi lebih dari biasanya, aku berjalan menuju front office. Astaga. Jantungku mendadak seperti akan copot saat melihat Niko, Andrew dan Hilmi berada di situ. Apa daya. Sudah terlanjur tertangkap basah, aku tetap berusaha tenang. Tarik napas. Tarik napas.

"Good morniiing Maaam! You are fine, today?" ucap Niko dengan senyum dan mata berbinar.

"Thank you. No, Iam so so!" jawabku, mencoba membuat korelasi mengapa dua hari yang lalu absen. Sesungguhnya aku merasa geli. Meskipun demikian tetap kupasang wajah tenang yang kubuat-buat.

"Oh ya, I am sorry to hear that, kalau begituh!" jawab Niko dengan tatapan mata yang seolah menuduhku berbohong.

Aku segera masuk ke dalam ruangan kerja.

HP-ku bergetar. Hmmm, pesan dari Hantu Kampus.

Lain kali, jangan bolos kerja, kalau hanya untuk menghindariku!

Siapa yang membolos? Jangan sok tahu! Kemarin saya fitting baju pengantin.

Duh, aku terpaksa berbohong. Aku tersenyum, karena merasa menang. Seperti biasanya setelah itu ada rasa aneh yang seolah terenggut dari dadaku.

Tak ada balasan. Padahal aku sangat menunggu reaksinya. Untuk mengatakan haram hukumnya menginginkan wanita yang sudah di-lamar oleh seorang lelaki pada seorang Niko, rasanya tak mungkin. Walaupun belum mencoba melakukannya, aku sudah tak yakin, orang seperti dia akan mengerti. Feelingku mengatakan dia lebih berpedoman pada sebelum janur melengkung seseorang itu masih bebas.

***


Belum merasa putus asa, aku pun menyusun rencana kedua: mengingatkan Niko melalui materi kuliah. Demi menjalankan misi ini, dengan mata yang sudah lima watt, aku masih menggerakkan mouse, untuk membuat materi ajar. Jam di laptop sudah menunjukkan angka 22.30, dan aku masih terus berselancar di dunia maya mencari bahan ajar yang kuinginkan. Ternyata tak mudah juga. Setelah lebih dari tiga puluh menit, aku menemukannya. Sebuah video. Langsung ku-download dan beberapa menit kemudian, done! Urat syarafku yang sedikit tegang, serasa menjadi longgar. Segera kumatikan laptop dan saatnya berselancar ke dalam dunia mimpi. Rasanya sudah tak tahan ingin memeluk guling.

*

Besok paginya di dalam kelas.

"Okay everyone. Let's see the movie! After that, you need to tell the story in your own words. One by one. To the other students, please ask him or her a question. You got it?"

Aku memberi penjelasan tentang apa yang harus dilakukan mahasiswa di kelasku. Mata kuliah English 4, Speaking Section.

Rencananya, aku akan memutar video yang kudapatkan semalam. Setelah itu mahasiswa harus menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri. Seperti biasanya, mereka selalu lebih tertarik pada materi pembelajaran yang berbentuk audio visual dibandingkan yang lain. Melihat wajah-wajah mereka yang terlihat fresh, menambah semangatku.

"Okay, are you ready?" tanyaku, sebelum menekan tombol 'klik'.

Aku pun memutar sebuah film pendek berbahasa Inggris, berdurasi tujuh menit. Video yang berisi tentang kisah dua sosok berbeda karakter. Saat mereka harus menghadapi tembok tebal yang menghalangi keinginan mereka, satu sosok bersikap pantang menyerah tetapi terjatuh. Sedangkan yang satunya memilih jalan lain, dan sukses walaupun dengan hasil yang berbeda.

Aku berharap Niko dapat mengambil pelajaran dari video ini. Pantang menyerah untuk sesuatu yang konyol, sama saja menyakiti diri sendiri. Tentu saja, karena kemungkinan besar, dia akan terjatuh. Sebaliknya, walaupun seseorang tak mendapatkan apa yang dia inginkan, dunia tak harus kiamat. Banyak pilihan dan jalan yang bisa diraih. Aku berharap Niko bisa berpikir sepertiku. Akankah itu terjadi?

Usai video diputar, mahasiswa dan mahasiswi mulai mencorat-coret di atas kertas, menyusun apa yang akan mereka ceritakan tentang video yang baru saja mereka lihat.

"Okay. Hilmi, what do you learn from the story?" tanyaku pada Hilmi.

"Mmm, anu Ma'am. Yes, I mean--"
Bola mata Hilmi bergerak ke arah atas, seperti sedang berpikir keras agar bisa mengatakan sesuatu.

"Yes, what do you mean?" ujarku, mencoba membantunya.

"Mmm, I mean ... I mean, someone needs to be smart, Ma'am." Setelah mengatakan itu, Hilmi tersenyum. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja dia katakan.

"Thanks, Hilmi. Good point!"

Begitulah mahasiswa, walaupun jawaban mereka tak salah sekalipun, sebagian besar dari selalu merasa tak percaya diri. Selanjutnya aku sengaja berdiri di tengah-tengah di depan mereka; mahasiswa dan mahasiswi yang selalu duduk dengan formasi membentuk huruf U, khusus untuk kelasku. Itu karena aku selalu ingin berinteraksi langsung dengan mereka.

Aku mengedarkan pandangan. Seolah menghampiri mereka satu per satu. Sampai akhirnya, padangan mataku berhenti pada Niko. Aku sengaja melakukannya.

"Yes, now your turn, Niko. What is the moral of the story?" Aku berharap Niko gagap menjawab.

"Nothing special Ma'am. It talks about failure and successful. An expert says if someone wants to succeed, he or she needs to understand how his or her failure rate can lead to success. Yes, everyone knows that someone wants to live a successful life; nobody wants to live as a failure. Including me." Niko menjawab dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat santai.

OMG! Di luar dugaanku. Aku pikir Niko akan kelabakan menjawab, karena merasa tersindir atau tahu sedang disindir. Aku berharap dia mati gaya. Sebaliknya, dia justru sangat percaya diri. Dan yang lebih menggemaskan lagi, karena dia berpendapat jika seseorang ingin sukses maka dia harus tahu tingkat kegagalannya untuk meraih sukses itu. Tak ada orang yang ingin gagal. Itu artinya dia tak akan menyerah. Tiba-tiba aku merasa lemas. Meskipun tak sesemangat saat awal masuk kelas ini, aktivitas perkuliahanku tetap berlanjut, seperti yang kurencanakan.

Aku merasa kalah. Fisik, otak dan hatiku serasa lelah, harus terus-menerus mengahadapi anak muda yang unpredictable itu.

***


Minggu pagi yang cerah. Matahari masih terlihat malu-malu mengitip dari sana, ufuk timur. Namun secangkir teh dan kudapan telah Mama siapkan di atas meja. Mama memang juara. Setelah empat hari berkutat dengan masalah Niko, teman-teman kantor, dan meng-input nilai-nilai mahasiswa dan mahasiswi ke dalam komputer, hari ini aku merasa benar-benar free. Alhamdulillah.

HP-ku bergetar. Ah, pesan dari Bang Ardhi.

Honey, Inshaa Allah, Sabtu depan, Abang pulang. Abang sudah sangat rindu suara hujan. Jika nggak sibuk tolong jemput sama Mama dan Abah, yah! Seperti biasanya Bang Ardhi mengakhiri pesannya dengan emoticon love.

Alhamdulillah. Iyah, sampai di sini ntar kita hujan-hujanan, Bang. Kuselipkan emoticon gembira, di ahkir pesanku.

Insya Allah aku kondisikan tidak sibuk, Bang. Kuakhiri pesanku dengan emoticon love tiga kali dan bersiul love sekali.

Namun, entah mengapa hatiku terasa hambar. Meskipun aku menghujani Bang Ardhi dengan emoticon love yang bahkan bertubi-tubi, mengapa hatiku seolah tak sejalan dengan jari tanganku yang telah mengetik semua itu. Apa yang harus kulakukan? Aku memejamkan mata. Berusaha membayangkan betapa cool dan gantengnya Bang Ardhi. Konyol. Aku tertawa sendiri. Namun, dua kriteria itu serasa tak cukup, tetap terasa monoton. Jadi apa yang aku inginkan? Tidak, tidak, tidak! Bagi sebagian orang, bukankah sosok seperti si abang ini, sangat ideal? Jangan-jangan aku merasa nyaman dengan karakter hantu kampus yang tak mudah ditebak dan menantang diajak berdebat?

OMG!

Perasaan gila ini, harus diakhiri. Aku segera mengambi HP yang sempat kuletakkan begitu saja di atas ranjang. Kubuka aplikasi WA, cari nama Bang Ardhi dan video call.

Alhamdulillah, begitu muncul wajah manisnya Abang di layar HP, pandangan mataku mendadak menjadi lebih cerah. Aku berusaha menikmati setiap kalimat yang diucapkan Bang Ardhi. Tidak terlalu buruk. Setidaknya teknologi android telah mengubah Qatar-Indonesia bagaikan Tanah Abang-Cibubur. Setelah satu jam setengah, ngoceh, tersenyum, dan pura-pura ngambek di depan layar HP, kami sepakat mengakhiri pembicaraan.

Plong! Seperti itulah yang aku rasakan. Sepertinya aku mulai merindukan pria berkulit putih, yang saat ini masih berada di Qatar. Aku berharap waktu berjalan lebih cepat, hingga rencana kedatangannya minggu depan, tinggal di depan mata.

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan tidhy010709 memberi reputasi
2 0
2
Love, Choice, and Decision
06-11-2019 04:35
Happy reading 😍
0 0
0
Love, Choice, and Decision
06-11-2019 08:52
makasi yaa udh update, makin bikin kepo aja bwt tau lanjutannya emoticon-2 Jempol
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
06-11-2019 08:55
Quote:Original Posted By tidhy010709
makasi yaa udh update, makin bikin kepo aja bwt tau lanjutannya emoticon-2 Jempol


Makasih udah hadir dan baca. Insha Allah akan dilanjutkan emoticon-Pelukemoticon-2 Jempol
0 0
0
Love, Choice, and Decision
12-11-2019 14:33
Love, Choice, and Decision
BAB 5

APAKAH INI RINDU?


Hari ini aku masuk kantor, setelah sebelumnya 2 hari izin. Hari yang melelahkan lahir dan bathin ... Niko terus-menerus membututiku dengan masalah-masalahnya. Alhamdulillah, besok hari libur nasional. Setidaknya bisa mengurangi kuantitas pertemuanku dengan Hantu Kampus. Saatnya meluruskan punggung hingga puas.

Dalam hati aku berjanji tak akan keluar rumah apa pun yang terjadi. Nikmat Tuhan yang mana yang akan kudustakan?

***


Usai salat subuh, bau masakan Mama sudah mengusik hidung. Namun, aku tak tergoda. Bermesraan kembali dengan bantal dan guling sambil googling dengan benda berukuran 6 inci-ku yang sangat pintar, terasa lebih menarik. Ah, tulang dan sendiku terasa sedikit pegal dan kaku. Mereka seolah sedang meminta haknya untuk diistirahatkan. Baiklah aku beristirahat.

Kurebahkan tubuh di atas ranjang dengan posisi kedua tangan terlentang. Menikmati udara tanpa polusi yang sedang betebaran, bebas keluar masuk melalui jendela yang baru saja kubuka. Mataku menerawang ke langit-langit kamar. Plafon berwarna broken white di atas sana, entah mengapa serasa indah dipandang. Di luar dugaan, sosok Bang Ardhi tiba-tiba saja muncul dalam benakku. Dan, entah mengapa ingatanku langsung melayang pada kejadian tujuh tahun yang lalu. Saat aku dan dia pertama kali bertemu.

Ya, saat itu aku sedang memasuki pelataran parkir Fakultas Teknik dan FKIP yang letaknya bersebelahan. Ketika aku datang hanya ada beberapa sepeda motor dan satu mobil saja. Karena sepi, dengan leluasa, aku bisa memilih tempat parkir yang kuinginkan. Nyaman dan adem. Itu kriteriaku. Aku pun membawa si Silver--nama mobilku, karena berwarna silver--berhenti di bawah pohon ketapang nan rindang. Letaknya di sudut pelataran parkir. Tanpa kuduga ketika aku keluar dari ruangan usai ujian, betapa terkejutnya! Si Silver sudah terkepung puluhan sepeda motor yang terparkir tak rapi. Aku lupa, jika hari itu kami sedang Ujian Tengah Semester. Biasanya, mahasiswa yang sering absen, mendadak menjadi rajin. Akibatnya, tempat parkir yang biasanya biasa lengang, berubah menjadi sesak.

Aku mengerutkan dahi. Berpikir bagaimana caranya keluar dari tempat itu. Tak ada jalan, selain harus merapikan sepeda motor yang berserakan itu, hingga terbuka jalan untukku keluar dari "himpitan" mereka atau menunggu para pemilik sepeda motor itu keluar dari ruangan satu per satu. Dua pilihan yang kedua-duanya sangat tak mengenakkan. Untuk sejenak aku memilih diam dan terus berpikir. Harus merapikan sepeda motor sebanyak itu?

"Oh, no!" gumamku.

Harus menunggu? Harus berapa lama? Masalah ini menjadi besar dan serius karena aku belum mahir mengemudi. Ya, aku baru lulus kursus mengendarai mobil dengan catatan: dua kali menyenggol mobil lain, satu kali separuh badan mobilku masuk ke dalam parit, dan yang terakhir, hampir tak bisa keluar dari tempat parkir Ramayana Dept Store yang sedang ramai. Tubuhku serasa menggigil mengingat semua kejadian itu. Walaupun jelas tak sedang kedinginan. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Mencoba mencari-cari pertolongan. Akhirnya ... gigilku pun mendadak sirna, ketika kudapati sebongkah harapan. Seperti kata orang: pucuk dicinta, ulam tiba. Begitulah kira-kira. Aku melihat seseorang yang aku pikir bisa dimintai pertolongan. Aku bergegas mendekatinya.

"Bang, bisa minta tolong bantu keluarkan mobil saya dari sini? Maaf sudah merepotkan," pintaku kepada seorang pria di bawah pohon. Matanya sedang menatap ke layar ponsel.

"Oh, nggak masalah. Santai saja!" jawab pria tinggi, berhidung mancung dan berambut pendek itu dengan seyum ramah. Dia langsung menggeser dan merapikan posisi beberapa sepeda motor.

Hanya butuh beberapa menit saja, jalan ke luar untukku pun terbuka.

"Ya, silakan jalan," ujar lelaki itu, kemudian.

"Terima kasih banyak." Aku tersenyum sambil mengangguk kepala.

Selanjutnya, aku masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesinnya kemudian bersiap-siap mengatur posisi drive. Entah mengapa, tiba-tiba rasa ragu seolah menyergapku. Posisi perseneling yang sudah berada di D kunetralkan kembali. Aku diam, dan berusaha berpikir. Entah berapa lama.

Mungkin karena melihat mobilku yang tak juga bergerak, lelaki yang tadi kumintai tolong, melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar aku segera menjalankan mobil.

Aku ingin mengikuti instruksi itu, tetapi tanganku mendadak seperti gemetar dan berubah dingin. Rasanya aku belum mampu, membawa si Silver bergerak dari tempatnya. Namun, karena tak ingin terlihat bodoh, aku mencoba melakukan apa yang diinstruksikan lelaki itu.

Hasilnya ... aku tak bisa ke luar dari tempat si Silver diparkir. Aku mencobanya lagi. Masih belum berhasil. Aku mencoba lagi dan lagi, entah sudah yang ke berapa kali, tetapi si Silver tetap tak begerak dari tempatnya. Aku hanya berhasil menggerakkannya maju dan mundur. Namun ...aku belum menyerah dan tetap berusaha mencari celah ... tetapi tetap, do nothing. Beruntung si Silver mobil matic, kaki dan tanganku pun tak perlu terlalu pegal karena harus menginjak kopling dan menggeser persneling maju dan mundur. Pun demikian aku tetap merasa berkeringat.

Setelah mencoba sekali lagi, akhirnya aku menyerah. Dan ... kuputuskan keluar dari mobil.

"Bang, bisa minta tolong, Abang yang keluarkan mobil ini?" pintaku dengan senyum yang kubuat-buat. Rasanya ingin menutup separuh wajahku, saking malunya.

"Nggak masalah," jawabnya.

Lelaki yang dari tadi senyum-senyum melihat apa yang sedang kulakukan itu, segera menggantikan posisiku. Dengan cekatan dia lakukan apa yang kuminta. Sementara aku duduk diam mengamati, di sebelahnya. Tak butuh lebih dari lima menit, si Silver sudah berada di tempat yang strategis dan siap dikemudikan.

"Maaf Bang, bukannya Abang yang wajahnya tertampang di banner-banner sama baliho di tiap fakultas waktu pemilihan presiden BEM?" tanyaku sambil mengamati wajah lelaki di sebelahku.

"Iya, sebenarnya malu. Tapi apa boleh buat?" jawab lelaki itu, seraya mengedikkan bahunya.

Wah, ketemu aktor, nih. Rasanya aku ingin bersorak.

"Oh gitu? Bukannya seru, Bang, serasa Pilkada, gitu?" ucapku dengan membuat senyuman yang kubuat sepolos mungkin.

"Iya. Hitung-hitung belajar 'berpolitik' di kampus," kata si Abang lalu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk simbol 'victory'.

"Nah itu sudah dapat alasan kerennya, Bang," ujarku dengan senyum yang kubuat sepolos mungkin, versiku. Aku sengaja melakukannya. Untuk menutupi rasa malu yang sebenarnya masih meletup-letup dalam dada.

Begitulah ... pertemuan dengan Bang Ardhi yang sungguh sesuatu itu. Geli, lega, dan malu, ketiganya berbaur menjadi satu.

"Dilara ... Nduk, anaknya mama sayang. Sarapan dulu!" Terdengar suara Mama setengah berteriak. Seketika membuyarkan lamunanku.

Meski aku sudah setua ini, Mama, masih saja memanggilku serupa anak-anak. Begitulah. Mungkin emak-emak di seluruh dunia juga seperti Mama.

"Iya, Ma. Ntar," jawabku sekenanya.

Selanjutnya, aku bangkit dari tempat tidur. Menyalakan laptop dan membuka-buka file dan folder yang ada di dalamnya. Ketemu folder 'outbond photo'. Langsung kutekan tombol 'klik'!

"Hmmm."

Ada yang meletup dalam dada. Foto Niko hampir mendominasi. Semua dalam posisi candid. Bagaimana tidak, dia memang hantunya untuk acara-acara seperti itu. Selera makanku yang tadinya "on fire" mendadak terjun bebas. Pikiranku langsung berlari ke belakang.

"Ma'am, saya mau tanya. Apa semua wanita itu cengeng dan laki-laki keras kepala?" Pertanyaan Niko, suatu hari di dalam ruanganku, dua tahun yang lalu.

"Tergantung--" Aku sengaja menggantung kalimat.

"Tergantung apanya?" kejar Niko dengan tatapan mata penasaran tetapi tetap terlihat santai.

"Kata orang ... dari sepuluh lelaki, sembilan menggunakan logika dan satu rasa. Saat mereka berpikir ada yang tak sesuai menurut logika, biasanya akan menentang! Jika selaras akan mempertahankan habis-habisan. Itu yang mereka sebut dengan prinsip dan harga diri. Makanya terkesan keras!" jawabku.

Dalam hati aku bertanya, untuk apa Niko bertanya seperti itu. Aku pun diam sejenak lalu menghela napas pendek.

"Kalau wanita?" sahut Niko, kemudian.

"Kalau wanita, ya, kebalikannya. BAPER. Maka sering dianggap cengeng. Biasanya, logika mereka akan muncul setelah belajar dari satu kejadian. Jika ada anak terjebak dalam sumur, maka, seorang ibu akan langsung terjun menolong. Tanpa berpikir. Tahu, kan apa akibatnya. Sedangkan seorang bapak akan mencari tangga lebih dulu, baru bertindak. Bisa jadi analogi ini tidak berlaku mutlak untuk segala hal. Selalu ada pengecualian di dunia ini. Itu yang saya tahu dan pernah baca. Tidak sepenuhnya pas. Karena saya bukan ahlinya. Ambil yang benar menurut kamu."

Niko tersenyum.

"Memangnya kenapa?" tanyaku kemudian.

Lagi-lagi Niko tersenyum. Lelaki muda berambut panjang di depan yang menutup sebagian kening dan matanya itu lalu bercerita tentang keinginan kedua orang tua dia yang tak sejalan dengannya. Dia jengkel? Sepertinya begitu, terutama pada sang ayah. Bingung? Sepertinya iya. Namun, sepertinya juga dia berusaha mengalihkan semua itu ke hal-hal membahagiakan, menurut dia.

Ah, bersyukur sekali, memiliki Mama dan Ayah yang selalu mendukung apa pun yang kulakukan. Tiba-tiba terdengar," Aunty Dilaraaa, Syifa datang!" Mbak Fina menyelonong masuk ke dalam kamarku yang tak kukunci, sambil menggendong Syifa. Ponakanku yang baru berusia setahun.

Lamunanku seketika buyar saat mendengar teriakan Mbak Fina. Namun, mataku seketika berbinar melihat bayi montok, bermata bulat, dan berkulit putih itu. Segera kuraih, timang, peluk dan cium. Belum puas aku memeluk dan mencium Syifa ....

"Woii, ayok kita keluar, sekarang!" seru Mbak Fina terlihat tak sabar.

"Malas! Emangnya ke mana? Ngapain?" Biar diseret rasanya aku tak akan keluar dari rumah.

"Udah, cepat mandi. Nggak usah sarapan. Sinih Syifa biar sama Uti dan Kakek!" ujar Mbak Fina sambil meraih Syifa dari pelukanku, tanpa permisi. Lalu keluar kamar. Rasanya belum satu menit dia meninggalkan kamarku, ternyata balik lagi. Aku masih bermalas-malasan di atas ranjang.

"Woii, tunggu apa lagi!?" teriak Mbak Fina lagi.

"Malas," jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. Sesekali kutiup rambutku yang menghalangi pandangan mata. Mungkin karena kesal, Mbak Fina mengambilkan handuk di tempat jemuran lalu menyodorkannya padaku.

"Cepat mandi, nggak pakai lama!" teriaknya lagi. Aku masih diam. Tak mau kalah, mamanya Syifa ini mendorongku keluar dari ranjang. Sepertinya aku harus mengalah. Meski hari malas indahku rusak seketika. Dasar! Heran? Dulu Mama ngidam apa, waktu hamil kakak ini. Benar-benar. Kebayang nggak, sih, Mbak Fina bisa akrab dan bermain dengan anak kecil yang baru saja dia temui sekali pun. Kapan dan di mana saja. Kadang aku merasa malu, karena dia terlalu ceriwis dan sok kenal sok dekat. Daripada mendengar ocehannya yang niscaya membuat kepala pusing, aku memilih mengikuti kemauannya.

***


Setelah dua puluh lima menit perjalanan dari rumah, sampailah di mall tempat biasa kami nongki.

"Jadi mau ngapain kita?" tanyaku seraya menarik kursi di salah satu restoran cepat saji yang kami singgahi.

"Aku yakin, Ardhi bawa sesuatu untukmu dari Qatar. Kamu juga harus ngasih sesuatu, tahu!"

Aku baru tersadar. Apa yang dikatakan Mbak Fina, sama sekali tak terpikirkan olehku.

"Okeh, habis ini kita ke counter batik." Aku langsung menyetujui idenya.

Setelah kenyang dengan berbagai macam junk food, ibu satu anak itu segera menggandeng lenganku menuju gerai batik. Dalam perjalanan ke sana tiba-tiba mataku melihat t-shirt quicksilver, jeans belel dan topi snapback.

"Stop! Ada yang mau kulihat." Aku menghentikan langkah kakak ceriwis lalu mengambil barang yang kuinginkan.

"Sejak kapan Ardhi suka yang beginian?" sergahnya, sambil memukul punggungku.

"Siapa bilang untuk Bang Ardhi?" Uff! Sepertinya aku keceplosan.

"Jadi untuk siapa?" tanya Mbak Fina, dengan mata membesar.

"Lupakan!" jawabku, berusaha mengelak.

"Wiih, jangan macam-macam, yah! Kamu bukan bocah kemarin sore yang enggak ngerti, baik-buruk! Benar-salah! Lurus-bengkok!" ucap Mbak Fina, sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku. Fiuuh, aku merasa menjadi tersangka.

"Awas, yah! Pokonya awas! Awas! Awas! Jan, macam-macam, napa?" lanjutnya, kali ini wajah si kakak terlihat serius. Semua yang dikatakan Mbak Fina serasa menyerbu telinga dan otakku.

"Tapi aku mau belii!" ujarku, ngotot.

"Iyaa, tapi untuk siapaa!?"

"Ada, deh!" Dalam hati aku merasa berdosa, sebenarnya.

"Nggak usah." Mbak Fina mengambil t-shirt dan celana yang sudah berada di tanganku. Mengembalikannya ke tempat barang-barang itu berasal. Aku mengambilnya lagi. Mbak Fina berusaha merebutnya dari tanganku, lalu mengembalikannya. Namun, aku tak mau kalah. Mencoba mempertahankan keinginanku. Dan, terjadilah saling tarik. Tanpa kami sadari, beberapa pramuniaga dan pasang mata pengunjung melihat dan memperhatikan kami. Mungkin mereka menganggap kami norak atau lebih parah lagi, tak tahu malu.

Waah, kalau diteruskan bisa konyol. Lagi-lagi aku memilih mengalah. Langsung kulambaikan telapak tangan kananku seraya tersenyum lalu menganggukkan kepalaku pada pramuniaga yang tampak heran melihat kami.

"Maaf, Mbak...," ucapku. Setelah itu aku buru-buru menarik tangan Mbak Fina menjauh dari lokasi memalukan itu.

Setelah lebih dari tiga jam, berkeliling dari lantai satu hingga empat akhirnya semua barang-barang yang diinginkan kakak cerewet itu lengkap terpenuhi. Lebih dari 10 tas belanjaan.

Aku hanya membeli setelan batik sarimbit dua pasang, sandal, hijab dan tas yang sewarna. Sebenarnya aku ingin membeli kaos, jeans, dan topi untuk Hantu Kampus. Sekadar untuk menghiburnya. Karena meskipun dia selalu tampak ceria bersama genk dan selalu menjadi center of attention, tetapi seperti ada ruang kosong di dalam matanya. Tak bisa kuungkapkan, tetapi aku merasakan itu. Namun, setelah kupikir-pikir kembali, kali ini Mbak Fina benar. Aku merasa lebih baik tak melakukannya.

Kadang tanganku harus berhenti melakukan sesuatu meski hati ingin, bahkan sangat, ya, saat the rules of life sedang tak berpihak.

*

Menyusuri jalanan kota yang padat merayap membuat mood-ku sedikit memburuk. Setelah satu jam lebih berjibaku dengan kendaraan lain, akhirnya kami sampai di rumah juga.

Kuletakkan tas dan belanjaan di atas meja rias. Buru-buru kulepaskan t-shirt dan rok, berganti dengan daster favorit, agar segera merasa nyaman. Selanjutnya aku duduk di tepi ranjang. Mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Menepuk pipi, lalu meletakkan dua tangan yang menopang dagu pada bibir jendela. Menerawang jauh ke luar sana.

Aku berharap waktu berjalan lebih cepat. Hingga kedatangan Bang Ardhi serasa tinggal menghitung detik. Apakah ini yang dinamakan rindu? Atau apa?

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
mmuji1575 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
12-11-2019 14:35
Alhamdulilah update Bab 5 😍
0 0
0
Love, Choice, and Decision
12-11-2019 14:53
wah calon ini mah, udh mulai tumbuh bibit2 cinta kayanya
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
12-11-2019 15:12
Quote:Original Posted By tidhy010709
wah calon ini mah, udh mulai tumbuh bibit2 cinta kayanya


Maksudnya bibit cinta pada yang mana, Sist? Perasaan Dilara cinta dua2nya kok emoticon-Malu
Diubah oleh Puspita1973
0 0
0
Love, Choice, and Decision
Lapor Hansip
12-11-2019 16:33
Balasan post Puspita1973
Quote:Original Posted By Puspita1973


Maksudnya bibit cinta pada yang mana, maksudnya? Gan? Perasaan Dilara cinta dua2nya kok emoticon-Malu


ama yg hantu kampus sis, kayanya udh mulai pudar ma yg calonnya, namanya ama yg lbh muda lbh greget walaupun cma beda bbrapa tahun aja. tpi kan ane cuma reader yg hanya mencoba menebak. ttp kembali lg ke TS nya.

semangat yaa sis, malah klo ceritanya ga ketebak itu brrti sis itu sukses
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
12-11-2019 17:00
Quote:Original Posted By tidhy010709
ama yg hantu kampus sis, kayanya udh mulai pudar ma yg calonnya, namanya ama yg lbh muda lbh greget walaupun cma beda bbrapa tahun aja. tpi kan ane cuma reader yg hanya mencoba menebak. ttp kembali lg ke TS nya.

semangat yaa sis, malah klo ceritanya ga ketebak itu brrti sis itu sukses



Makasih Sist udah menebak, semoga tebakannya salah, eh benar ding. Biar nggak penasaran ikutin aja yah. Thanks so much for reading my story emoticon-Peluk emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Diubah oleh Puspita1973
0 0
0
Love, Choice, and Decision
15-11-2019 15:07
Love, Choice, and Decision

BAB 6

SEMOGA HARI CEPAT BERLALU

Setelah merasa cukup puas menikmati holiday galau, hari ini aku mencoba bersemangat. Belum setengah jam, kusandarkan punggung pada kursi hitam di belakang meja kerja, terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Sebenarnya aku masih malas diganggu. Namun, apa boleh buat.

"Yah, ada yang bisa saya bantu, Mega?" tanyaku kepada mahasiswi yang baru saja masuk ke dalam ruanganku.

"Maaf, Ma'am mengganggu. Apa kami bisa numpang nge-print undangan di sini?" tanya Mega. Wajahnya terlihat tak yakin dengan apa yang baru saja dia ucapkan, atau mungkin mahasiswi berbadan besar ini merasa sungkan.

"Printer BEM, kenapa?" sahutku.

"Ngadat, Ma'am."

"Kan, ada Niko, yang bisa memperbaiki?"

"Sudah, Ma'am. Tapi blom bisa."

"Okay, jika begitu."

Aku mempersilakan mahasiswi berhijab dengan postur tubuh di atas rata-rata itu, mengambil alih kursi yang sedang kududuki. Sedangkan aku, untuk sementara pindah ke kursi lain, melanjutkan pekerjaanku. Mengoreksi dan merekap nilai UTauditorium, tumpuk-tumpuk.

Mega baru saja memegang keyboard komputer, ketika Hantu Kampus tiba-tiba saja, datang. Walaupun sebelumnya telah mengetuk pintu, tetapi kedatangannya seolah tiba-tiba. Aku pun sedikit terkesiap dibuatnya. Niko pun segera memberi pengarahan ini dan itu pada Mega, layaknya seorang pemimpin. Hmm, sudah kuduga, dia bakal datang ke ruangan ini. Bisa jadi printer mereka juga, tak benar-benar rusak. Ah, mengapa aku berburuk sangka?

"Acaranya kapan?" tanyaku, sambil tetap menulis.

"Hari Jumat ini, Ma'am," jawab Mega, matanya juga tetap tertuju pada layar monitor.

"Ini sudah Selasa. Minimal besok, undangan sudah harus kalian distribusikan. Bukan seperti event yang sudah-sudah. Mbagi undangannya terlalu mepet hari H. Nggak banyak yang hadir, kan?" kataku. Bermaksud sekadar memberi masukan.

"Iya, Ma'am!" jawab mahasiswi berkulit coklat itu penuh semangat.

Mega, gadis penggemar warna biru tua, selalu terlihat seiring sejalan dengan Niko. Meskipun berbusana muslimah, caranya berjalannya yang tegap seakan tak ada bedanya dengan Hantu Kampus. Ditambah wajahnya yang tak pernah mengenal sentuhan make up, seolah mereka satu jenis kelamin. Kadang aku tertawa sendiri saat melihat mereka "bertengkar" mulut. Saling menghina, saling memukul, setelah itu keduanya terbahak-bahak. Kadang Andrew dan Hilmi sengaja menjadi "kompor" agar perkelahian mereka semakin seru. Dasar anak-anak.

Jumat ini, Niko bersama Mega dan genk-nya akan mengadakan event festival film indie. Buatku event ini termasuk langka. Pesertanya berasal dari perwakilan seluruh SMA dan SMK se-kotamadya yang berminat di bidang itu. Juri yang bersedia mereka mintai bantuan, beberapa personal dari TV swasta lokal dan kontributor TV Nasional di daerah. Walaupun tak terjun langsung, biasanya aku selalu mendukung hampir semua kegiatan mahasiswa. Termasuk event-nya Hantu Kampus, tentu saja. Meskipun aku sebenarnya malas.

Setelah entah berapa menit tak menyadari, akhirnya aku merasa ada yang aneh. Tak seperti biasanya, sedari tadi Niko terlihat diam. Rasanya ada yang kurang dan sangat aneh. Mungkin dia sedang dikejar deadline, karena itu terlihat serius atau pura-pura. Saat Niko banyak bersuara, duniaku terasa riuh, bahkan terlalu gaduh. Namun, ketika dia diam, seperti ada yang kurang, seperti ada yang terlepas dari genggaman. Sungguh merepotkan.

***

Sekitar jam 11 WITA, kurang lebih tiga jam semenjak kedatangannya ke dalam ruanganku, Mega berpamitan kembali ke auditorium untuk berkoordinasi dengan panitia yang lain. Begitu Mega meninggalkan ruanganku, tiba-tiba aku merasa canggung. Ya, karena harus berdua saja dengan Niko. Entah hanya sugesti atau karena apa, gerakan tubuhku tiba-tiba serasa terbatas.

"Sweet ... eh Ma'am, bisa pindah ke sebelahku, bentar?" suara Niko membuyarkan apa yang sedang kupikirkan.

"Ngapain? Tolong jangan bikin masalah!" jawabku.

"Kagak!"

"Jadi?"

"Kalau mau tahu ya, sini!" Karena penasaran, aku pun mendekat.

"Let's see this akun!"

Sudah kuduga, pasti dia sedang iseng. Menjadi hacker akun facebook seseorang.

"Bisa nggak, tidak mengganggu orang lain!?" sergahku setelah itu menarik panjang dan napas berat.

"Hmmm, siapa yang ganggu? Come here, please. I need your advice my love--" Niko tak meneruskan perkataannya lalu tersenyum. Sebenarnya seperti ingin tertawa tetapi dia tahan.

Terpaksa kugeser tempat dudukku mendekatinya.

"Oh my God!"

Jantungku serasa akan meloncat. Di inbox akun Diana, terpampang foto-foto kurang pantasnya. Lebih parah lagi ada chat 'ehem' dengan beberapa orang pria.

Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim. Kupegang dadaku sambil memejamkan mata sejenak. Mahasiswi berhidung mancung, berbulu mata lentik dengan maskara yang tebal dan berambut lurus panjang berwarna cokelat dengan berbagai gaya busana itu memang selalu menarik perhatian. Entah karena cantik atau terlihat 'wow'. Cara berbicaranya yang hangat tanpa sekat pada siapa saja. Mungkin ini melelehkan jantung banyak mahasiswa dan para pria. Ramah dan suka berbagi tanpa pandang bulu. Terutama para pria. Bagi mahasiswa kebanyakan, mungkin yang seperti ini menyenangkan. Apalagi yang berlabel sebagai anak kost. Namun sepertinya tak demikian buat Niko.

"Niko. Please jangan bikin heboh kali ini. Lagian, apa salah Diana sama kamu?"

"Nggak ada, nggak suka aja!" jawab Niko tak acuh.

"Ini menyangkut nama baik kampus, kamu tahu itu, 'kan?" ucapku dengan suara berat.

"Enggak juga. Biasa aja."

"Enggak. Ini nggak biasa."

"Tergantung!" jawab Niko santai.

"Tergantung apa?"

"Tunggu Jumat nanti. Kalau mau nggak ada mahasiswi kejang-kejang, ikuti saja apa kataku. You don't mind, kan? My beautiful lecturer?" ucap Niko dengan wajah sumringah seolah merasa menang.

Dan memang, aku kalah lagi. Aku tak bisa menjawab. Dia memang selalu berhasil memperdayaiku. Meski umur dan pengalaman hidupku, jauh di atas dia.

Kadang aku bertanya, seberapa besar otaknya Niko? Selalu saja ada ide "liciknya". Sampai kapan aku selalu kalah. Satu-satunya jalan untuk men-take down dia, aku harus resign dari kampus. Padahal ini sangat mustahil. Mengingat tanggung jawab yang harus kutunaikan di kampus ini masih menggunung. Sepanjang hari, aku bertanya-tanya pada diri. Apakah ini takdir? Mungkin ....

***


Jumat yang dinanti pun tiba. Selesai salat jumat, hampir seluruh civitas akademika berbondong-bondong menuju auditorium, termasuk aku. Panitia event terlihat telah siap menunggu kedatangan para undangan dan peserta. Aku sedikit terkejut saat menginjakkan kakiku di bibir pintu masuk auditorium. Tak seperti hajatan-hajatan kampus saya yang sudah-sudah. Kali ini serasa lebih maksimal. Backdrop panggung yang cantik dengan perpaduan biru tua sebagai latar dan kuning yang menawan. Perpaduan warna yang kontras tetapi lembut, terkesan menyala dan hidup. Apalagi didukung lighting yang pas. Juga taman-taman mini di sekitar panggung dengan berbagai tanaman dekoratifnya tampak sangat indah.

Barisan kursi VIP dipersiapkan untuk tamu undangan khusus, direktur, dosen, dan sebagian staf. Aku segera mengambil salah satu tempat duduk di sana. Bersebelahan dengan Nesya. Tak jauh dari kami, meja juri di sebelah kanan panggung telah diisi beberapa orang. Agak jauh di seberang tempat dudukku, sederet tropi dan hadiah telah siap menanti untuk dibagi. Sepertinya event ini benar-benar serius.

Sambil menunggu para peserta dan tamu-tamu lain yang masih terus berdatangan, aku mengobrol bersama Nesya. Staf keuangan ini sibuk menceritakan sekolah-sekolah mana saja yang menurutnya berpotensi menjadi juara. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan apa yang dia katakan. Dalam hal ini, aku sama sekali tak tahu menahu tentang yang demikian.

Entah berapa lama kami tenggelam dalam obrolan yang berasa hangat dan seru, tahu-tahu acara pun dimulai. Nesya pun berhenti berbicara. Pandangan matanya dan juga mataku langsung lurus ke arah panggung. Sebagai pembukaan, mereka menampilkan tari Enggang, ditarikan oleh beberapa mahasiswi. Meskipun tari ini, tarian suku Dayak Kenyah, tetapi mahasiswi dari suku-suku lain yang ada di kampus biasa menarikannya. Termasuk aku. Bagiku menarikkan tarian ini sungguh challenge. Seseorang harus membuat gerakan tubuhnya sedemikian lentur dan luwes. Walaupun terlihat cantik, tetapi setiap melihat hiasan di atas kepala bermotif Enggang dan bulu-bulu yang dibawa para penari, aku selalu berpikir burung Enggang itu seperti apa aslinya? Sebesar apa? Terancam punah atau tidak? Ah, tak mau terganggu pikiranku yang melantur ke mana-mana. Aku meluruskan niat. Mataku menatap seksama ke arah para penari tetapi pikiranku tetap berkelana. Sampai Nesya menepuk pahaku dan berkata, "Ma'am, lihatlah. Dara keliatan cantik sekali, yah." Suara Nesya menetralisir apa yang sedang kupikirkan.

"Ah, iya, kamu benar sekali Nes," jawabku sekenanya.

Bagiku Dara, Mega, Silvia, dan Vika yang saat ini sedang menari, Mega lah yang terlihat istimewa bagiku. Dara sehari-hari memang sudah cantik, walaupun pendapat Nesya benar. Berbeda dengan Mega, si tomboy yang bisa terlihat wanita setelah di-makeover. Aku tertawa tetapi berusaha kutahan.

Para penari terus berlenggak-lenggok mengikuti dan menyesuaikan dengan irama musik. Musik yang dihasilkan dari alat musik tradisional, khas Dayak. Sampe, gendang, dan gong. Mendengar alunan suara yang bagiku sangat Kalimantan yang berpadu dengan gerakan tubuh para penari yang begitu moleknya membuatku merinding. Betapa sangat kental nuansa tradisionalnya. Rasa haru dan bangga serasa memenuhi ruang-ruang di dadaku. Mereka yang muda tetap peduli pada salah satu budaya bangsa.

Acara berlanjut ke pembacaan doa, setelah itu beberapa sambutan, lalu ke inti. Pemutaran film indie produksi anak-anak SLTA satu per satu. Masing-masing film berdurasi sepuluh menit. Walaupun acting dalam film-film yang ditampilkan masih terlihat kaku, bagi pemula, menurutku sudah sangat bagus. Sampai di sini aku merasa sok tahu.
Aku tertawa sendiri.

Setelah empat film diputar acara diselingi pementasan theater. Ini bagian yang sangat menarik, selain tarian. Lagi-lagi mataku langsung tertuju dengan seksama pada mereka. Para pemain. Mereka yang menampilkan ekspresi, lekuk tubuh dan dialogue yang sanggup membuat bulu-bulu di tubuhku berdiri. Merinding. Perlahan-lahan air mataku pun merembes lalu mengalir membasahi pipi. Rasa haru dan kagum sepertinya telah sedemikian rupa "mempermainkan" rasaku. Emosiku.

Kereeen. Tak henti-hentinya aku mengucapkan kata itu dalam hati. Sampai akhirnya aku menyadari, kisah yang mereka mainkan, ternyata menceritakan tentang aku dan Niko.

Ada saja idenya anak ini. Jadi ini maksud dia memaksaku datang ke acara ini? Rasanya sungguh 'uhh', kesal dan malu. Sebenarnya aku ingin meninggalkan tempat acara, begitu menyadari jalan cerita yang sedang mereka pentaskan di panggung, tetapi kuurungkan. Selain karena Niko memberiku 'kode' agar aku segera kembali ke tempat duduk. Nesya juga bertanya mengapa aku tiba-tiba berdiri. Jika bukan demi menghindari besok pagi akan terjadi "gempa bumi" karena kasus Diana, pasti aku sudah mengambil langkah seribu. Terpaksa aku menurut.

"Nasib...," gumamku.

Acara terus berlanjut dan berjalan sebagaimana run down yang telah mereka susun.

Sampailah di pengujung. Aku sedikit bernapas lega. Penderitaanku akan segera berakhir, pikirku. Namun ternyata, sebagai sajian penutupan, Hantu Kampus akan tampil dengan solo gitarnya. Firasatku mengatakan ada hal buruk akan terjadi. Duh, tiba-tiba ada yang terasa gatal di tubuhku, tetapi tak tahu di sebelah mana. Ingin menggaruk, tetapi bingung di bagian yang mana. Aku terpaksa memasang muka, pura-pura bloon. Untung Nesya tak terlalu menyadari apa yang sedang kurasakan. Sungguh rasanya tak sanggup melihat penampilan "gaje" di atas panggung sana, tetapi sekali lagi ... aku takut. Feelingku tentang hal buruk akan segera terjadi semakin menguat.

Setelah intro yang mengalun pelan dan merdu dari gitar akustik beberapa saat, terdengarlah suara seseorang ....

Wise men say,
Orang bijak mengatakan,

Only fools rush in.
Hanya orang bodoh yang terburu-buru.

But I can't help falling in love with you.
Tapi aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Suara bariton-nya Hantu Kampus pun mengalun pelan. Seolah memenuhi seluruh auditorium yang ukurannya lumayan luas. Cukup berkarakter dengan ciri khas sedikit seraknya.

Busyeeet! Matanya terus tertuju padaku. Sementara bibirnya, tak henti-henti melebar, mengumbar senyuman. Senyum bahagia dan kemenangan. Aku tak tahu harus tertawa, terharu atau malu. Yang pasti aku merasa perbuatan ini sangat norak. Dia yang milenial mengapa bisa menyanyikan lagu zaman dulu? Ah, peduli apa.

Shall I stay?
Haruskah aku diam saja?

Would it be a sin?
Akankah ini menjadi sebuah dosa?

If I can't help falling in love with you.
Jika aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Petikan gitar dan nyanyian Niko terus mengalun. Setiap mengucapkan kalimat 'If I can't help falling in love with you'
mata Niko menatapku, tajam. Seolah lirik lagu itu dia tujukan padaku dari dasar hatinya yang dalam.

Sesungguhnya aku merasa kasihan. Perasaan hampa, tiba-tiba saja serasa menyelinap ke dalam dadaku. Namun, aku tak bisa berbagai apa-apa. Lagi-lagi pertanyaan untuk diriku sendiri, 'aku bisa apa?' Hanya pertanyaan itu yang bisa dan sering kutanyakan pada diri sendiri.

Like a river flows,
Seperti sebuah aliran sungai,

Surely to the sea.
Yang pastinya (tetap akan) menuju laut.

Darling, so it goes,
Sayang, begitulah ini,

Some things are meant to be.
Beberapa hal memang sudah ditakdirkan terjadi.

Take my hand,
Genggam tanganku,

Take my whole life too.
Genggam juga seluruh hidupku.

For I can't help falling in love with you.
Karena aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Begitulah, terlihat dengan penuh perasaan Niko menyelesaikan lagunya dengan penuh percaya diri.

Aku menarik napas panjang. Akhirnya selesai juga. Tangan dan kakiku yang sedari tadi dingin, perlahan-lahan mulai menghangat. Namun, dadaku masih terasa sesak seolah menahan sesuatu.

Pun demikian, aku tetap berpikir yang dilakukan Niko itu sangat norak dan memalukan. Dari sisi sebelah mana pun, aku berusaha memikirkannya. Aku benar-benar ingin segera keluar dari ruangan berkapasitas 200 orang itu, sebelum acara itu benar-benar selesai. Namun ... aku hanyalah seorang tawanan. Suka tidak suka aku memutuskan tetap bertahan. Untuk sementara kuputuskan urat malu-ku. Beruntung tamu-tamu penting telah meninggalkan tempat.

Ternyata kejutan masih berlanjut. Jika yang sebelumnya mungkin hanya orang tertentu yang mengetahui, yang ini sebaliknya. Jantungku serasa benar-benar akan berhenti berdetak, saat MC memanggil namaku untuk menerima bucket bunga mawar merah dari Niko. Meski sempat speechless aku berusaha tetap tenang.

Ini di tempat umum, Dilara. Kalimat itu seolah terus terngiang di kepalaku. Jika bisa melihat wajahku di cermin, mungkin aku terlihat pucat.

Suara riuh tepuk tangan pun begitu bergemuruh, rasanya seperti menusuki jantungku. Serasa sempurna perbuatan norak Niko. Perbuatan mana yang lebih lebay dari ini? Ya Allah, mau ditaruh mana wajahku?

***


Aku berharap agar hari cepat dan segera berlalu. Segera berganti dengan Sabtu, hari di mana aku akan segera menjemput seorang pangeran cinta versi Ayah, yang akan dari Qatar, besok.

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan InaSendry memberi reputasi
2 0
2
Halaman 4 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jatuh-di-lobang-yang-sama
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
desaku
Poetry
kosmos
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia