Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
85
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5daa7ecf4601cf1b14439bca/love-choice-and-decision
Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.
Lapor Hansip
19-10-2019 10:11

Tolong Katakan I Love You

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Love, Choice, and Decision
Canva


BAB 1

SI PEMBUAT ONAR


Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.

Aku tak tahu, harus bagaimana lagi, rasanya tak mungkin semua nomor telepon mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya ratusan itu, ku-save semua. Hanya mereka yang punya label khusus saja yang terpaksa kusimpan. Walaupun telah kupilih-pilih, ternyata human error masih terjadi juga.

Tanpa kusadari ternyata ada dua nama yang sama dalam list nomor-nomor HP yang kusimpan. Niko, itu dia, namanya. Satu berstatus sebagai teman, sedangkan yang satunya mahasiswa 'gaje' yang sedang mencari jati diri.


Awal kejadiannya, bermula dari sini.

Pulang dari kampus, aku langsung menuju ke kamar. Tidak seperti biasanya. Ya, biasanya aku selalu berhenti dulu di meja makan. Melahap apa saja yang ada di situ sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama Mama. Tak demikian dengan hari ini. Rasa capek stadium akhir, membuatku ingin segera berbaring di atas kasur. Selain tugas mengajar yang marathon, aku juga harus menyelesaikan pekerjaan di luar di kampus. Ketika sampai rumah, aku ibarat HP yang baterainya tinggal 19%. Warning agar segera di-charge.

Begitu melihat ranjang, bantal, dan guling, mereka seolah melambaikan tangan memanggilku. Setelah menyalahkan AC, aku segera menghempaskan tubuh ke kasur. Dalam kondisi setengah sadar, aku masih sempat melihat Mama membuka pintu kamar yang tak terkunci. Menengok sebentar, kemudian pergi, lagi.

*

Entah berapa lama mataku terpejam. Saat terbuka kembali, jam dinding di kamar sudah menujukkan pukul 17.30 WITA. Artinya sebentar lagi akan magrib. Sebelum Mama, masuk ke dalam kamar, membangunkan aku sambil ceramah a sampai z, meski malas, aku memaksa membuka mata yang sebenarnya masih ingin terpejam.

Nduk, maghrib-maghrib ndak boleh tidur. Kata Mbah kakung, nanti kalau kamu sakit ndak ada obatnya. Ayo bangun! Ora elok. Pamali. Jadi perempuan itu, mbok ya, jangan malas. Nanti kamu ndak laku.

Itulah kira-kira yang akan dikatakan Mama, jika aku masih nekat merem. Mama akan terus berbicara sampai aku bilang 'iyaa atau ashiyaaap, Ma'. Namun, tak apalah, dari pada Mama diam, malah serasa ada sesuatu yang hilang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Masih dengan rasa malas, kuambil benda berukuran 6 inci ber-chasing merah maroon itu dari dalam tas kerja.

Langsung kubuka WA. Itu yang biasa aku lakukan. Setelah itu, baru facebook, IG, dan kemudian aplikasi yang lain. Di tiga tempat, WA, facebook, dan IG itulah baik rekan dosen maupun mahasiswa biasa berekspresi. Life is never flat, begitu kata mereka.

Setelah kubaca, tetapi belum kubalas beberapa pesan WA yang masuk, aku membuka status teman-teman. Salah satu dari mereka ada yang menulis:

HBD for me

Idih. Rasanya ada yang menggelitik. Dan, duh, tiba-tiba terasa ngilu. Aku merasa 'Niko' si pembuat status ini, seperti hidup seorang diri di dunia. Ada rasa geli, tetapi juga kasihan. Entah mengapa aku lebih merasa kasihan. Lebih anehnya lagi, langsung terbayang dalam ingatanku, seorang laki-laki yang sedang sendirian di tepi sungai Kayan. Benar-benar, kasihan. Laki-laki yang pernah kulihat ketika aku dan Mama sedang kondangan ke pulau seberang. Perasaan apa ini? Tanyaku, merasa heran pada diri sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kusambut status itu dengan respon:

Happy Birthday Sir, wish you all the best! Ucapan selamatku untuk Pak Niko, lewat WA. Tak lupa kusematkan emoticon kue ulang tahun di belakang ucapanku.

Tak kuduga. Fast response. Dia langsung membalas:

Thank you very much! Honey. Dia akhiri balasannya itu dengan emoticon love, tiga kali.

Mataku langsung terbelalak, melihat kata 'honey' dan tiga emot love balasan dari Pak Niko. OMG! Tekanan darahku, serasa naik. Ya Allah ada apa dengan bapak satu anak, ini? Apa maksudnya? Apakah aku GR? Kurang gaul? Atau tempat bermainku kurang jauh? Pertanyaan demi pertanyaan langsung memberondong kepalaku. Daripada salah kaprah, aku memilih tak membalas.

Belum habis rasa heran-ku dengan pesan WA aneh itu, Mama datang. Menyuruhku buru-buru mandi, salat maghrib lalu memintaku menemaninya kondangan. Meskipun ada Ayah, Mama lebih suka mengajakku kondangan. Dan, sebenarnya aku paling malas menghadiri acara seperti ini.

Sepanjang perjalanan aku masih berpikir. Rasanya kalimat ucapan selamat ultah-ku untuk Pak Niko itu, biasa saja. Normal, tidak berbau PHP, gaje, pornografi apalagi SARA. Salahnya di mana? Rasanya ingin menggaruk kepalaku yang tak gatal. Yang membuat masalah ini semakin aneh, karena Pak Niko terus menerus mengirimiku pesan.

"Nduk, kita ini mau kondangan ke tempat buliknya Ardhi. Pasti ada Mama sama Abahnya Ardhi di sana. Jangan lupa kasih salam. Juga bersikap sopan."

Perkataan Mama, membuyarkan lamunanku.

"Ah, iyaa, Ma," jawabku sekenanya.

Sampai di tempat hajatan, aku masih memikirkan pesan Pak Niko. Rasanya kesal sekali. Bagaimana mungkin teman sekantor berbuat seperti itu. Bagaimana caraku menghadapinya besok pagi.

Usai menemani Mama mengobrol dengan orang-orang yang diharapkan bulan depan akan menjadi keluarga, selama dua jam--di acara sunatan sepupunya Bang Ardhi--akhirnya kami berdua sampai rumah juga. Tubuhku tadi, di tempat hajatan, tetapi pikiranku ke mana-mana. Begitu sampai kamar, karena masih penasaran, kubuka dan baca lagi pesan-pesan WA dari Pak Niko. Rasanya semakin gemas, aku dibuatnya. Setelah kuperhatikan benar-benar, ternyata oh ternyata, itu bukan pesan Pak Niko, dosen. Astaga, rupanya pesan dari Niko--mahasiswa. Si Trouble Maker. Serta merta aku menjambak rambutku sendiri.

OMG!

Mahasiswa si pembuat onar itu terus menerus mengirimiku pesan dengan emoticon 'love'. Mulai dari pesan tak penting, gaje, sampai akhirnya bertanya masalah kuliah yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Kesal nggak sih?

Kalau ada mahasiswa yang datang ke kampus tetapi tidak bisa mengikuti kuliah karena pintu sudah ditutup saat telat lebih dari 15 menit, dia-lah orangnya. Mahasiswa yang tak bisa berkerja sama dalam kelompok karena suka-suka gue, itu dia juga. Belum lagi yang hobbi stalking dan nge-hack akun sosmed teman-teman wanita untuk mem-bully, itu juga pasti Niko. Dan, yang datang ke kampus dengan celana jeans robek-robek bagian lutut lalu diusir oleh security, itu juga, tak ada yang lain, selain dia. Celakanya, aku pembimbing akademik dia.

***


"Niko! Tahu kenapa saya panggil?" tanyaku, keesokan harinya. Suaraku sedikit meninggi karena menahan kesal.

"Tahu Ma'am. Maaf Ma'am saya salah...."

Lelaki berperawakan tinggi dan sedikit kurus itu, wajahnya terlihat flat. Sepertinya dia sengaja membuat kesan seperti itu, seolah tanpa dosa. Duh, padahal banyak, ya ampun. Dalam hati aku ingin tertawa. Karena sumpah, dia terlihat sangat aneh. Yang bikin aku kesal, di sela-sela itu, mata elangnya terus berupaya menatapku nakal.

Haks!

Perutku mendadak menjadi kenyang. Benci sekali melihat tatapan sedikit liarnya itu. Uff! Meski demikian aku paling tak berdaya setelah mendengar perkataan 'maaf.' Luntur seketika rasa kesalku.

"Apa yang kamu lakukan meski tak ada hubungannya dengan saya, tapi kita terikat norma. Di mana saya berkewajiban mengingatkan kamu! Bisa dimengerti, 'kan?" sergahku.

"Yes, Ma'am!"

Malas berbicara panjang lebar, aku segera menyuruh Niko pergi dari ruanganku.

***


Setelah Niko menterorku, dengan berbagai pesan di semua sosmed, kini hampir setiap hari selalu ada snack dan makan siang di meja kerjaku. Si tinggi kurus, bergaya casual dan berwajah oriental-lah yang mengirimnya.

Ya Allah, dia bukan tipeku. Ampun! Hari demi hari, rasanya aku semakin benci, padanya. Saking bencinya, sampai terlintas dalam pikiran, jangan-jangan makanan yang dia kirim itu mengandung guna-guna. Meski telah berumur 28 tahun dan lulus pasca sarjana, kadang-kadang aku masih suka berpikir naif. Saking paranoid-nya, semua makanan dari Niko, selalu kubagi-bagi pada siapa saja. Untuk Nesya, Mira dan Andra yang satu ruangan. Kadang-kadang sampai juga ke pos security.

Saat berpapasan dengan Niko di koridor atau tempat parkir kampus, aku selalu menghindar. Pesannya tak pernah kubalas. Ketika harus mengajar di kelas mahasiswa nyleneh itu, sebelumnya kutarik napas dalam-dalam seraya meluruskan niat. Aku sengaja tak mengacuhkan dia.

Ya Allah, tolong! Dosa apakah aku? Ironisnya hanya di kelasku anak bandel itu tak pernah absen. Untuk mata kuliah lain, sebagaimana gaya bad boy itu; dia datang dan pergi sesuka hati.

***


Alhamdulilah. Beberapa hari ini, suasana kampus dan hatiku terasa tenang. Niko seolah ditelan bumi. Apakah aksi boikotku berhasil? Ataukah mungkin dia merasa lelah? Rasanya seperti baru saja terlepas dari jerat tali panjang yang mengikat, melingkar-lingkar di tubuhku dari dada hingga ke perut. Legaa. Jahatkah aku? Dia seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun, sedangkan aku dosennya yang tujuh tahun lebih tua dari dia. Apakah aku telah bersikap kejam pada seorang anak kecil? Jika 'iya' apa yang bisa kulakukan untuknya? Jika bulan depan Mama dan Ayah telah mempersiapkan pernikahanku dengan seorang lelaki yang saat ini sedang merantau nun jauh, di negara timur tengah, sana.

Dua jam kemudian aku masuk ke dalam kelas. Dan, setelah satu jam setengah berdiskusi dengan mahasiswa.

"Okay, thank you very much for your attention. See you next week and have a nice day!"

Aku menutup kelasku. Mata kuliah English 4. Segera kukemasi laptop, projector, dan speaker active yang biasa dan baru saja kupakai.

Tak seperti biasanya, hari itu secepat kilat ruangan kelas menjadi sepi. Hanya tertinggal Niko, Andrew dan Hilmi. Aku merasa, ini seperti telah di-setting sedemikian.

Niko, apa yang tak bisa dia lakukan.

"Hil, tolong bantu bawakan speaker active ini ke ruangan saya, yah. Makasih," pintaku pada Hilmi. Mahasiswa berkulit putih dan berbadan sedikit tambun itu pun, segera melakukan apa yang kukatakan.

Sementara itu, Niko dan Andrew berjalan mendekatiku. Gerak-geriknya terlihat aneh. Mereka seperti saling memberi 'kode'. Perasaanku, tiba-tiba menjadi tak enak. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu padaku. Ya Allah, aku takut.


To be continued

Thank you for reading emoticon-Peluk
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 3 dari 5
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:50
Quote:Original Posted By boncel1998
menarik ceritanya gan


emoticon-Peluk
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:51
Quote:Original Posted By eriksa
I love You..
"whisper": I love you too
eh terima kasih emoticon-Leh Uga


emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Leh Uga
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:52
Quote:Original Posted By boncel1998
nice thread !!!


emoticon-Peluk
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:52
Quote:Original Posted By boncel1998
ditunggu terusan ceritanya !!!


Siapp
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:53
Quote:Original Posted By AllKreatif
APAAAA.. kamu suruh aku bilang I LOVE YOU???

Tidak!!! sekalipun tidak wahai wanita, aku tidak akan bilang I LOVE YOU!!

Bahkan untuk menulis I LOVE YOU pun aku tak mau,

Jangan paksa aku dengan judul cerita ini, yang memaksa aku berkata I LOVE YOU,

emoticon-Peluk


emoticon-Ngakakemoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
AllKreatif memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:54
Quote:Original Posted By blezzernet
I LOVE YOU!
Love, Choice, and Decision


emoticon-Baby Girlemoticon-Pelukemoticon-2 Jempol
profile-picture
blezzernet memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:54
Quote:Original Posted By kichotbalap
Nitip sendal sis emoticon-Hai


emoticon-Blue Guy Cendol (L)
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:55
Quote:Original Posted By shutdownfalse
Todz-lah
emoticon-Traveller


emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Peluk
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 12:56


Quote:Original Posted By Puspita1973
emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Peluk


emoticon-Betty
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 15:13

LOVE, CHOICE, AND DECISION

Love, Choice, and Decision

BAB 2

TOLONG KATAKAN I LOVE YOU


Love, Choice, and Decision



"Ma'am, ada yang mau aku katakan!" ucap Niko, dengan ekspresi wajah aneh. Biasanya dia tak pernah menggunakan kata 'aku' untuk menyebut dirinya. Selalu 'saya'. Kali ini ucapannya terasa kasar dan kurang sopan.

Deg!

Bagaimanapun aku ini dosennya. Seharusnya dia mengatakan, 'Ma'am, ada waktu? Ada yang ingin saya bicarakan.' Begitulah biasanya mereka berkata.

Tiba-tiba ada sedikit rasa takut. Setelah lama tidak melihatnya, kini dia datang dengan tatapan mata, ahh. Aku tak bisa mendeskripsikan, tetapi sorotnya sangat melukai.

Di luar dugaanku. Entah setan mana yang merasuki, tiba-tiba Niko menarikku paksa dari lantai 5 menuju rooftop kampus di lantai 7, melalui tangga darurat. Andrew mengikuti kami dari belakang. Sampai di atas napasku serasa mau putus.

"Sengaja kubawa Andrew sebagai saksi! So jangan khawatir."

"Niko! Niko, Niko, kamu mau ngapain?" tanyaku masih dengan napas terengah-engah.

Tubuhku gemetar, telapak tangan dan kakiku pun seketika menjadi dingin.

"Aku tahu kau menganggapku anak kecil! Trouble maker dan kumal!"

Tatapan mata Niko berkilat-kilat. Sesekali dia melempar pandangannya jauh ke depan.

"Niko! Apa mau kamu?" tanyaku dengan tubuh yang semakin gemetaran.

Tiba-tiba Niko menarikku ke salah satu sudut gedung. Terlihat pemandangan di bawah sana. Oh My God! Beruntung masih ada pagar pengaman. Jantungku berdetak semakin lebih kencang. Tanpa sadar air mataku pun bercucuran. Berbaur segala macam rasa yang tak bisa kukatakan.

"Woiii jangan terlalu ke tepii, brooo! Bisa-bisa kalian jatuh beneran!" teriak Andrew dengan wajah memerah.

"Sekarang, tolong katakan I love you! Atau kita sama-sama terjun dari sini!" pinta Niko dengan tatapan mata nanar.

Dalam hati, aku sangat tak ingin mengatakan itu. Bagaimana mungkin aku mengatakan hal konyol. Namun, aku tak punya pilihan.

"Kenapa diam?" desak Niko sambil mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku. Semakin memangkas jarak di antara kami yang sebenarnya sudah sangat dekat. Niko menatapku beberapa saat.

"Kau keberatan, 'kan?" lanjut Niko, lalu melepaskan cengkraman tangannya dari kedua tanganku. Setelah itu menarik wajahnya menjauh dari wajahku.

"Tidak," jawabku pelan.

"So?" Niko seperti terkejut mendengar jawabanku.

"Baik, I--I love you!" ucapku, seperti ada yang tertahan di tenggorokan.

Ada binar tak terkatakan dari kedua mata pemuda di hadapanku itu.

"Please, say one more time!"

Intonasi suaranya terdengar sedikit menurun.

"I love you ...."

Perkataanku seolah meluncur dari dalam hati. Seketika air mataku pecah ... entah mengapa ada rasa pahit dan getir dari dalam sana.

"Thank you! Ini sudah cukup. Meski setelah ini kau menikah dengan calon suamimu itu! Tak masalah. Tetap aku pemenangnya. Thanks sudah mengatakan kalimat yang paling ingin kudengar. Ms. Dilara. Dosen cantikku. Maaf sudah membuatmu takut!"

Setelah menarik tangan lalu membawa tubuhku ke tengah rooftop yang teduh dan aman dari bahaya jatuh, Niko berlalu. Mungkin dengan rasa marah. Benci. Kecewa, atau ketiganya. Ketika punggungnya telah menghilang di balik tembok, tiba-tiba ada rasa aneh yang seolah menggedor-gedor jantungku. Apakah aku juga mencintainya?

Benarkah kadang cinta menemukan jalannya dengan cara yang aneh? Entahlah!

Di luar dugaan. Andrew datang menghampiriku, memberikan sebotol air mineral.

"Maafkan, kami Ma'am," ucapnya dengan wajah menunduk.

***


Aku berjalan setengah berlari dari tempat parkir basement menuju lift. Jam di HP sudah menujukkan pukul 07.58. Artinya maksimal 2 menit lagi, ujung jempolku harus sudah menempel pada finger print di front office, jika tak ingin terlambat atau dianggap alpa.

"Dilara!"

Terdengar suara seseorang memanggilku, dari arah belakang.

"Aish!" gerutuku, pelan.

Aku sempat menoleh, begitu melihat siapa yang memanggil, aku segera mempercepat langkah.

Sampai di depan lift.

Setelah kutekan tombol panah merah menyala, pintu pun terbuka.

"Tungguu!"

Terdengar lagi suara seseorang, kali ini setengah berteriak. Terpaksa kutekan tombol panah terbalik di dalam lift, agar pintu tetap terbuka.

"Dilara!"

"Jangan memanggil saya seperti itu! Sejak kapan mahasiswa boleh memanggil dosennya begitu?" ujarku sedikit sewot.

"Sejak Ma'am bilang I love you!" jawab lelaki di sebelahku dengan mata berbinar disertai senyum kecil penuh kemenangan.

"Hmmm, enak aja!" balasku, ketus. Dalam hati aku ingin tertawa.

"Dilara! Dilara! Dilaraaa!"

Sepertinya dia sengaja membuatku kesal.

"Sorry, saya buru-buru. Jaga sikap! Ini institusi pendidikan!"

Sampai lantai dua.

Setelah absen, aku segera masuk ruang dosen. Sementara mahasiswa limited edition yang tidak bosan membuntutiku itu, berhenti di depan pintu kaca front office. Dia terus menatapku. Seperti sudah setahun tak melihatku, padahal hampir setiap hari, ada saja "masalah" yang bisa mempertemukan aku dan dia. Dasar, bocah!

Sejak ku-blokir no HP dan akun facebooknya, Niko semakin bergerak mendekatiku. Dan, bukan Niko namanya kalau hanya diblokir setelah itu menjadi pesakitan yang tak tahu harus melakukan apa. Dia, semakin lama semakin mendekat, bagaikan hantu yang selalu menghantuiku. Dengan perasaan kesal kuubah nama dia di ponsel dari Niko menjadi Hantu Kampus. Repotnya dia memiliki beberapa nomor HP, setelah aksi pemblokiran yang kulakukan. Aku sengaja menyimpannnya semua. Agar bisa mempersiapkan hati dan pikiran, saat dia mengirim pesan atau meneleponku. Akhirnya ada lebih dari satu nama hantu kampus di dalam HP-ku: Hantu Kampus 2, Hantu Kampus Gaje, dan Hantu Kampus Kumat.

***


Hari ini aku mengajar 4 kelas, dengan 4 mata kuliah berbeda. Masing-masing 2 SKS. Lumayan menguras energi. Uh, rasanya mulutku seperti keriting. Kini saatnya meluruskan punggung pada sandaran kursi empuk di belakang meja kerjaku. Belum lima menit punggungku tersandar, HP-ku bergetar. Muncul nama Mbak Fina. Ah, anak perempuannya Mama yang paling ceriwis sedunia. Dengan malas kuangkat panggilannya.

Assalamualikum. Woiii, dosen cantik, Tak tunggu di lobby Royal Crown jam setengah lima! Ndak pakai lama.

Ibu satu anak itu seperti sedang berteriak dari seberang sana.

"Walaikumsalam. Asiaap. Tunggu, ja!" jawabku singkat, setelah itu buru-buru kupencet tombol merah bergambar telepon di HP. Jika tak demikian maka dia akan nyerocos tanpa henti. Membicarakan hal-hal yang tak ada hubungan dengan urusan yang sedang dibahas.

Entah mengapa, rasanya aku enggan bergerak dari tempatku. Kakak perempuan bawel yang satu itu, bermaksud mengajakku menemui wedding organizer pilihannya. Kakiku serasa berat untuk diajak melangkah. Padahal ini untuk masa depanku. Apakah karena aku telah terpapar radiasi Hantu Kampus? Ah, pemikiran macam apa ini? Apa menariknya anak kecil itu?

Hoaah! Aku menguap meskipun tak mengantuk. Jam di dinding sudah menunjuk ke angka 4 dan 12. Artinya aku bisa pulang. Segera kumatikan komputer, mengunci ruangan dan memasukkan jempol cantikku ke finger print. Legaa!

Akhirnya gue bebas tugas.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dari kampus, sampai juga aku di tempat yang dikatakan Mbak Fina. Sebuah bangunan besar berlantai sebelas dengan gaya arsitektur modern. Royal Crown, Hotel and Convention, itu nama yang tertera di badan bagian depan bangunan itu. Aku segera berjalan menuju lobby. Ah, Mbak Fina sudah menungguku dengan sorot mata berbinar-binar. Seolah dia saja yang akan menikah. Busyet!

"Silakan dilihat brosur dan katalognya, Kak. Mau konsep pernikahan seperti apa? Internasional, tradisional, modern atau--? Ini Kak, yang lagi ngetren, nuansa pink berlatar belakang Hello Kitty!" ucap seorang lelaki berseragam rapi dengan senyum ramah.

"Yang tradisional, Mas," jawabku, asal.

"Jiahh, anak muda kok nggak update! Payah! Yang modern dikit napa?" protes Mbak Fina dengan suara cemprengnya.

Aku sengaja tak menanggapi. Kalau kusanggah pendapatnya, maka dia akan berbicara a, b, c, dan d. Namun jika aku iyakan, sama saja aku menyakiti diri sendiri. Mungkin pepatah 'diam itu emas' cocok diterapkan untuk menghadapi situasi seperti ini.

HP-ku bergetar. Ada pesan masuk, dari Bang Ardhi.

Abang percaya selera kamu, Sayang. Pilihlah sesuai kata hati. Tradisional atau modern masing-masing punya filosofi. I love you. Bang Ardhi mengakhiri pesannya dengan emoticon 'love'.

Hmm, dia, Ahmad Gutama Ardhida Narayuda—make it short as Ardhi—lelaki yang tak seperti makhluk berjakun di fakultas teknik pada umumnya. Di mana rata-rata berambut gondrong dan casual, tetapi dia malah sebaliknya. Anak keempat dari lima bersaudara, yang semasa kuliah dulu, kakak tingkatku, walaupun berbeda fakultas. Dia anak tehnik, sedangkan aku fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Letak gedung fakultas kami yang bersebelahan membuat aku dan dia sering bertemu, terutama di tempat parkir. Selain itu, Bang Ardhi juga seorang selebriti kampus. Mmm, maksudku, dia seorang presiden BEM, dulu. Siapa yang tak mengenalnya? Terutama mereka yang berjenis kelamin perempuan. Fiuhh.

Setelah lulus S1, pria berpostur tegap dan berkulit putih itu mengikuti open recruitment karyawan sebuah perusahaan minyak dan gas di Balikpapan. Alhamdulillah, Bang Ardhi mampu melewati serangkaian test, psikotes, dan interview yang cukup menegangkan, menurut cerita si Abang. Waktu itu, kami beramai-ramai memberikan ucapan selamat. Status sebagai seorang karyawan pun dia sandang. Takdir mengharuskannya berdomisili sementara di Qatar. Semenjak keberangkatan Bang Ardhi ke salah satu negara Timur Tengah itu, aku anggap, perteman kita harus dijeda takdir perpisahan. Karena saat itu internet belum semarak dan semudah sekarang, kami pun lost contact.

Atas saran Ayah, aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang paska sarjana. Meski Mama awalnya keberatan, akhirnya setuju juga. Jogjakarta menjadi kota pilihanku. Selama hampir dua tahun tinggal di sana, aku selalu mengingat pesan Ayah. 'Jangan pacaran, selama jauh dari orang tua. Nanti Ayah kenalin calon suami yang sholeh dan ganteng.'

Ah, ternyata kriteria suami sholeh dan gantengnya Ayah, Bang Ardhi. Tak salah memang, tetapi juga tak sepenuhnya, benar. Bagiku lelaki tipe Bang Ardhi itu terlalu lempeng. Apakah itu artinya aku ini bengkok? Haks! Mungkin saja. Aku mentertawakan diriku sendiri.

Sebenarnya tak pernah terlintas sama sekali dalam pikiranku, memiliki calon suami yang dikenal banyak orang seperti Bang Ardhi. Bukan masalah apa, karena aku bukanlah siapa-siapa. Sampai saat ini, aku masih belum bisa mengerti dengan perasaanku sendiri. Suami seperti apa yang kuinginkan. Aku belum pernah menemukan yang seperti dalam angan-anganku dalam satu sosok. Dan mungkin memang tak ada sosok yang seperti itu di dunia nyata. Fiuhhh, aku mengusap-usap keningku, meski tak berkeringat.

Bang Ardhi hadir dalam hidupku atas prakarsa Ayah. Terima kasih Ayah. Aku mengenal calon menantu Ayah, bahkan sebelum Ayah berinisiatif menjadikan dia sebagai calon suamiku. Namun sayang, aku hanya mengenalnya sebagai kakak tingkat. Tak lebih dari itu. Dan hingga saat ini, aku masih berpikir sama. Meskipun demikian Ayah tak perlu khawatir, apa yang menurut Ayah baik, maka aku pun akan berpikir demikian juga. Doakan aku, Ayah. Semoga anakmu ini, bisa.

Selain itu, mana mungkin, aku berani menyakiti Bang Ardhi dan keluarganya. Apalagi setelah dia bersedia resign dari perusahaan yang memberinya gaji ratusan juta. Bersedia pulang ke tanah air sebelum dan setelah menikah, nanti. Semua itu demi memenuhi keinginan Mama, yang tak ingin anak perempuannya dibawa pergi jauh.

Segenap rencana pun telah Bang Ardhi susun. Bermodalkan penghasilan yang selama ini dia investasikan dalam bentuk rumah kontrakan dan kos-kosan, selanjutnya lelaki bertampang cool ini akan membuka toko sales, service and maintenance komputer. Terdengar penuh perencanaan, dewasa dan, masuk akal. Begitulah dia. Aku tersenyum sendiri.

"Woiii! Pilih yang mana Oning? Ngelamun aja, dari tadi. Kayaknya ada yang nggak beres, nih!?"

Suara Mbak Fina, mengagetkanku. Seketika segala sesuatu yang sedang berkecamuk dalam pikiranku, lenyap begitu saja.

"Oh, iyaa, eh, anu Mas, eemm emm, nuansa tradisional Jawa! Ya, Jawa Tengah sama Jawa Barat," jawabku sedikit kelabakan.

"Baik Kak, terima kasih banyak," ucap laki-laki berjas hitam dan berdasi warna merah menyala, masih dengan senyuman ramah.

Aku sengaja memilih itu, karena Mama berasal dari Sukoharjo. Aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku benar-benar anaknya Mama. Sedangkan pilihan Jawa Barat, itu karena Ayah berasal dari Bekasi.

Usai membuat kesepakatan dengan wedding organizer, perjalanan pun berlanjut ke restoran fast food favoritnya Mbak Fina. Aku pribadi tak terlalu menyukai makanan seperti itu. Perasaan tak ada rasa kenyangnya. Sampai di rumah biasanya aku langsung makan lagi masakan Mama. Seolah ke mana pun aku melangkahkan kaki, sosok Mama yang meskipun suka mengomel, selalu mengikutiku. Tak tergantikan.

Apakah setelah menikah nanti, aku masih bisa datang ke rumah Mama, kapan pun aku mau? Jika tidak, meski aku sadar itu risiko, apakah aku siap?

Kadang, meskipun seseorang tahu akan terantuk batu, saat benar-benar terantuk maka dia akan bersedu sedan, seolah menjadi pesakitan yang paling menderita di dunia. Fiuhh.

***


Tok! Tok!

Pintu ruangan kerjaku ada yang mengetuk. Karena tak pernah terkunci, tamu yang diundang maupun tidak, bisa leluasa keluar dan masuk.

Deg!

Jantung langsung berdegub lebih kencang. Hantu Kampus muncul dengan penampilan yang jauh berbeda. Potongan rambut yang rapi, memakai office wear, meski sepatunya tetap casual.

"Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku ramah, berusaha menutupi letupan-letupan di dalam sana.

"Tidak bisakah kita ngomong informal?"

"Tidak! Ini kampus!"

"Siapa bilang cafe?" sahut Niko sewot.

"Lah, itu sudah tahu!" jawabku tak kalah sewot. Setelah itu aku memasang wajah jaim.

"Ok, aku tunggu di Nes-Milo, usai jam kantor. I need to talk to you!"

Setelah mengatakan itu, secepat kilat Niko berlalu. Sementara aku masih termangu memikirkan penampilan dan perkataannya, barusan.

Dia bilang 'I need to talk to you?' Apa yang ingin dikatakan anak itu? Apa aku perlu datang? Tiba-tiba saja kejadian di rooftop beberapa hari yang lalu seolah bangkit dalam ingatanku. Padahal aku telah berusaha menganggapnya tak pernah terjadi.

"Datang, tidak? Datang, tidak? Datang tidak?" gumamku.

Ya Allah, sepertinya aku harus datang. Beruntung hanya Andrew yang mengetahui kejadian itu. Setelah melakukan hal gila di tempat terbatas, bagaimana jika setelah ini Niko melakukan sesuatu yang lebih gila lagi di tempat umum. Aku harus melakukan sesuatu, tetapi itu apa dan bagaimana? Aku mengerutkan kening. Kupejamkan mata untuk berpikir. Bukan mendapatkan ide untuk "melawan" Niko, malah terbayang penampilannya yang sungguh berbeda hari ini.

Ya Allah, mengapa dia menjadi keren?! Ah tidak, dia bukan tipeku.

Bukan, bukan, bukan!

Daripada menjadi "gila" kuputuskan segera melangkahkan kaki ke Nes-Milo, menyusul Niko.

To be continued
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 15:14
Diskripsi Tokoh

Love, Choice, and Decision

Quote:Dilara: Bungsu dari dua bersaudara. Seorang dosen pengampu mata kuliah bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta. Pintar, ramah, ceria dan terbuka. Meski pada dasarnya dewasa terkadang suka naif dan sedikit manja.
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 15:22
Love, Choice, and Decision

Quote:Niko: Banyak orang menjuluki dia trouble maker, bad boy atau si pembuat onar. Khusus Dilara menjuluki dia 'Hantu Kampus'. Seoarang mahasiswa yang unik. Tidak pernah diam, pintar, banyak akal dan suka jahil. Jatuh cinta setengah mati pada dosennya yang jauh lebih tua. Apa pun dia lakukan untuk mencapai keinginanya.
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 15:23
Love, Choice, and Decision

Quote:Ardhi: Calon suami Dilara. Dulu mantan presiden BEM saat kuliah. Nasib membawanya ke Qatar bekerja pada sebuah perusahaan minyak. Meski salary besar, dia bersedia resign dan pulang ke Indonesia, demi menikahi kekasihnya. Namun tak semudah itu perjalanan kisah kasihnya, karena seorang pemuda nekat menjadi penghalang.
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 15:30
Happy reading 😍
0 0
0
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 16:45
Quote:Original Posted By Puspita1973
emoticon-Jempol


GIF
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 16:54
Quote:Original Posted By durexz
GIF


emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
durexz memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 18:59
i love you 🙈
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 19:01
i love you 🙈
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 19:08
Quote:Original Posted By fitrijunita
i love you 🙈


emoticon-Cape d...emoticon-I Love Kaskus
profile-picture
fitrijunita memberi reputasi
1 0
1
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 19:15
ish, Nikho nyebelin. jangan sampe endingnya sama nikho ya, Mbak. bisa illfel deh!
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 3 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
nyawa-untuk-sebuah-cinta
Stories from the Heart
sisi-hati-yang-terbagi
Stories from the Heart
ular-berkepala-tikus
Stories from the Heart
tigapart-2
Stories from the Heart
before-morning-comes
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
bacot-santuy-1
Stories from the Heart
tentang-perjalanan
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia