Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
245
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d24f9399a972e40fc50091e/aku-harus-jahat
Prolog Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah Perkenalkan, Namaku itu Niko. Biasa aku dipanggil, Niko. Salahmu? Kamu terlalu baik dengan semua orang yang ada didekatmu, dan juga, kamu berparas cantik. Makanya. Banyak orang yang menyukaimu, lalu, kamu juga terlalu dekat dengan banyak orang. Salahku? Aku terlalu naif dengan perasaanku yang tidak ingin kuungkapkan. Aku terlalu lemah dan bodoh memendam pera
Lapor Hansip
10-07-2019 03:29

Aku Harus Jahat

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Quote:Aku Harus Jahat


Prolog

Kutoarjo,
Purworejo, Jawa Tengah


Perkenalkan,
Namaku itu Niko. Biasa aku dipanggil,

Niko.



Quote:Salahmu? Kamu terlalu baik dengan semua orang yang ada didekatmu, dan juga, kamu berparas cantik. Makanya. Banyak orang yang menyukaimu, lalu, kamu juga terlalu dekat dengan banyak orang.

Salahku? Aku terlalu naif dengan perasaanku yang tidak ingin kuungkapkan. Aku terlalu lemah dan bodoh memendam perasaanku, karena aku sadar, mungkin aku tidak pantas untukmu, padahal aku mengerti itu hanyalah alasan orang yang penakut.

Harusnya kita bijaksana,

Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku suka melihatmu tersenyum, bahkan sekadar menatapmu aku tidak berani, aku takut terlalu dalam menyukaimu sepenuh hatiku nantinya. Tidak mudah menyembunyikan perasaanku dari lubuk hati yang paling dalam, berjuta kali aku membohongi diriku sendiri untuk mengakui, kalau, aku menaruh perasaan kepadamu.

Banyak kata yang tidak dapat dituliskan, banyak perasaan yang tidak dapat diungkapkan, dan biarkan, aku menanggung hukuman atas diriku sendiri, aku harus jahat menyakitimu untuk menjauhkanmu dariku, bahkan, orang jahat sekalipun masih tetap mempunyai alasan dalam berbuat kebaikan.

Aku membenci semua tentangmu yang membuatku peduli denganmu, tapi kamu tidak bisa aku miliki. Mungkin aku hanya takut mengungkapkan kepadamu, lalu, kamu menjauh dariku, itu jauh lebih sakit dibandingkan aku menyimpan perasaanku. Aku pikir melihatmu pergi adalah hal yang terburuk, tetapi melihatmu tidak bahagia ternyata jauh lebih buruk dari yang aku bayangkan.


Keretaku masih juga belum berjalan. Aku hanya bisa melihat kacaku yang dipenuhi air mengalir, padahal aku sangat ingin melihat pemandangan yang ada diluar nantinya, sampai pada akhirnya aku menatap kosong dan aku bertanya kepada diriku sendiri, kenapa suatu kepergian itu selalu memperlihatkan betapa menyedihkannya orang yang ditinggalkan? Padahal kita seharusnya juga melihat alasan kenapa orang itu meninggalkan. Aku tersenyum simpul. Hujan semakin deras beriringan dengan suara deru mesin kereta api, dan kaca disampingku itu mulai berembun, kemudian aku menopang daguku sembari memutar kembali ingatan disaat semuanya itu belum terjadi seperti waktu sekarang.

Quote:Semakin dekat hubungan kita, maka, semakin dalam kita menyakiti

Tidak ada suatu hal yang sepenuhnya itu benar atau salah dalam kehidupan, dan semenjak perpisahan itu aku mulai tidak peduli dengan semua yang kulakukan, lagipula, semuanya itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Aku harus jahat. Aku ingin terus merobek hatiku sampai terbuka dengan lebarnya, karena aku tidak ingin melihatnya sedih dengan kepergiannya dalam artian yang sebenarnya itu, dan sepertinya, aku memang ditakdirkan untuk selalu mengecewakannya dimanapun itu keberadaannya, kemudian satu hal yang kubenci dari seluruh dunia itu hanyalah diriku sendiri. Vanila. Semenjak dari kepergiannya, dunia yang aku jalani menjadi terasa begitu membosankan, bahkan aku tidak bisa dengan mudahnya tersenyum ataupun tertawa, dan juga, aku seringkali terbersit senyuman manisnya itu dengan matanya yang teduh, sampai aku ingin sekali bertemu dengannya dalam relung hatiku.

Quote:Biarkan potret dirimu menjadi galeri dalam hidupku

Perlahan mataku terpejam. Aku melihat seorang perempuan cantik berdiri dihadapanku, kemudian rambutnya yang panjang serta bergelombang diujungnya itu tersapu oleh angin, tidak berapa lama air matanya itu mengalir pelan dipipinya, dan tanganku bergerak dengan sendirinya mengusap air matanya, bagiku, Vanila seperti cahaya yang menerangi gelap pekatnya kepercayaanku kepada dunia, tapi, sekarang aku hanya mempunyai setitik cahaya diantara semua kegelapan setelah kepergiannya. Terkadang. Aku tidak peduli dengan masa lalu, karena tidak ada satupun hal yang akan berubah, dan ketika melihat cerminan masa depan itu membuatku ragu dimasa sekarang, sebenarnya apa yang harus kita lakukan dalam menjalani kehidupan yang membosankan. Hidup terus berjalan.

Termenung aku merindukan semua tingkah lakunya yang membuatku tersenyum, padahal aku itu orang yang sulit tersenyum ataupun tertawa, tapi, sekarang aku harus berusaha keras untuk melakukannya, karena aku hanya tidak ingin dia yang sudah diatas sana bersedih melihatku terpuruk. Aku membuka mataku secara perlahan, dan terlihat pemandangan yang sangat indah, hamparan sawah yang luas dengan langit yang berwarna jingga, kemudian aku ingin sekali rasanya mengusap permukaan kaca yang ada diluar yang mengembun. Aku menatap jauh. Tidak peduli betapa indahnya langit senja yang kita lihat sekarang, pastinya malam tetap akan terus berlanjut, semua yang kita lihat itu sebenarnya hanyalah sekedar keindahan palsu, tapi, kita justru malah terpikat serta terbawa kepalsuan itu.

Hidup terus berjalan.



Quote:Setan jahat sepertiku dan malaikat baik sepertimu
Tidaklah bisa menyatu
Diubah oleh After.Story
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dddbbb dan 21 lainnya memberi reputasi
18
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 5 dari 7
Aku Harus Jahat
17-10-2019 18:53
Udah gan. Pacaran saja sama tanaya.. Atau malah agan tertarik dengan safira.. Peace emoticon-Ngacir
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
21-10-2019 19:42
Begitu sunyi tritnya
0 0
0
Lihat 4 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
22-10-2019 06:09
izin nenda gan,mbaca bbrp part cerita serasa baca cerita sendiri,ada yang mirip wkwk
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
26-10-2019 21:22
Kapan update lagi?
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Aku Harus Jahat
29-10-2019 12:38
update dongg
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Aku Harus Jahat
02-11-2019 18:49


Malam dihari sabtu,

Aku berdiri melihat pemandangan dijendela kamarku, dan sudah beberapa minggu aku menempati kosanku yang baru, tidak seperti kosanku yang selalu campur dengan perempuan serta laki - laki, sekarang kosanku itu dikhususkan untuk laki - laki yang menempatinya. Malam yang dingin. Angin yang kuat seringkali membuat gorden dijendelaku melayang, semua itu terjadi karena aku memang sengaja membiarkan angin masuk kekamarku dan terlebih kamarku yang terletak dilantai atas menciptakan suasana yang hening, semua penghuni kosku itu jarang kutemui, terkadang hanya aku seorang malahan yang berada dikos.

Dan,

Sekarang aku sendirian.

Menyedihkan.

Tidaklah perlu bertanya mengenai keadaan dijalanan, maupun, tempat lainnya dikota, karena pastinya dipenuhi oleh banyak orang yang ingin menghabiskan waktunya bersama seseorang diakhir pekan, terlebih orang itu memanglah yang spesial dalam hidupnya. Mungkin itu bahagia. Aku berjalan keluar dari kamarku serta membawa gelas yang terisi serbuk cokelat, dan mengisinya dengan air panas yang ada didispenser, lalu mengaduknya secara perlahan, kemudian ada seseorang yang mengetuk sekitar tiga kali pintu kosanku, aku meletakkan gelasku dimeja lalu berjalan menuruni tangga untuk membukakan pintu yang tidak kuketahui siapa yang mengetuknya. Aku mengeluarkan kunci yang ada disakuku.

Kubuka itu pintunya,

"Kamu" ucapku sedikit terkejut

Tubuhnya langsung menimpaku dan akupun menahan tubuhnya, kemudian membawanya kesofa ruang tamu lalu membaringkannya, aku mengambil minyak kayu putih kehidungnya agar perempuan itu terbangun dari pingsannya, lalu, aku kembali lagi kekamarku untuk mengambil selimutku. Aku merapikan rambutnya dan menyelipkannya dibelakang telinganya. Safira perlahan terbangun dari pingsannya, lalu, aku langsung menjauhkan tanganku dari wajah cantiknya itu, dan malahan perempuan itu tersenyum simpul, kemudian mengingat kondisinya yang begitu lemah serta maksud kedatangannya itu membuatku terdiam membisu. Aku meminum cokelatku tepat didepannya.

"Minta. Aku yang sakit" ucap Safira

Aku tersenyum simpul dan mendekatkan gelasku kebibirnya, lalu menyerahkan ketangannya, "Aku lupa kamu emang suka cokelat"

"Semuanya itu buatku?" ucap Safira, tersenyum manis

Aku hanya diam,

"Kamu emang baik" gumamnya

"Baik"

Awalnya terasa canggung sampai akhirnya dia menceritakan semuanya, dan sudah tiga hari dia memang belum sembuh, tapi, karena dia berada didekat kosanku lalu memutuskan untuk sekedar mengunjungiku, ditengah perjalanan dia merasa pusing yang ditahannya sembari mengetuk pintu kosanku. Safira menatap kosong. Aku tidak mengerti dengannya yang mengetahui dimana kosanku, sedangkan hanya satu orang temanku yang mengetahuinya, karena dia yang membantuku pindah, dan kutahu temanku itu tidak sekalipun mengenalnya, itulah yang membuatku dibingungkan oleh kedatangan perempuan cantik yang ada disampingku.

Lengannya terdapat goresan,

Berdarah.

Aku meneteskan obat luka kekapas lalu menempelkannya kelengannya, dan aku semakin bingung dengan semua yang terjadi, ada banyak hal yang tidak sesuai dengan ceritanya kepadaku, lagipula, dari awal aku memang sudah merasa dia membohongiku dengan cerita palsu. Safira menangis pelan, tapi, dengan cepat mengusapnya. Setidaknya aku bersyukur karena pernah menjadi petugas kesehatan tambahan, makanya, aku tidak panik ketika dihadapkan oleh seseoeang yang terluka atau pingsan secara kenyataan, bahkan aku bisa melakukan hal yang kubisa untuk sekedar memberinya pertolongan yang sederhana.

"Tanaya gimana kabarnya?" ucap Safira

Aku mengantarkan Safira dengan motor teman kosanku, dan beruntung teman kosanku itu pulang disaat aku kebingungan bagaimana mengantarkannya, Safira menempelkan kepalanya dipundakku selama perjalanan, lalu, sesampainya didepan kosannya dia malah terdiam. Aku menoleh kearahnya. Aku membantunya berjalan menuju kekamarnya dengan merangkul tangannya, setelahnya aku dimintanya untuk menemaninya dipinggir kasurnya, lalu, matanya itupun menutup dan aku memutuskan pulang, sembari melepaskan perlahan genggaman jemarinya ditanganku satu persatu, lalu, aku menutup pintu kaamarnya dengan pelan agar dia terjaga dalam mimpinya. Bulan yang indah.

Terangnya.

*********

Aku mengambil gitar temanku yang dititipkan kepadaku dipinggir kasurku, lalu, menyetemnya dua senar yang tidak sesuai nadanya, dan setelahnya kumainkan melodi petikan lagu, karena aku yang sudah terlalu lama tidak memainkan gitar dan kepekaanku terhadap nada berkurang drastis. Berhenti aku memetik. Selama perjalanan dari mengantarnya aku terpikir oleh kedatangannya, dan keadaannya yang seperti itu mengurungkan niatku untuk bertanya kepadanya, maksudku, siapa orang yang tidak dibingungkan oleh seseorang yang pingsan setelah dibukakan pintu, terlebih lengannya terluka dengan sebabnya yang tidak diketahui, aku benar dibingungkan oleh banyak hal yang menjadi banyak pertanyaan dikepalaku.

Rasanya. Aku ingin mengganti kepalaku yang terlalu banyak pertanyaan, aku meletakkan gitar temanku itu dipinggir kasur, dan entahlah, dua tahun ini aku masih tidak mengerti tentang bagaimana keindahan musik, karena aku seakan kehilangan suatu ketertarikan untuk menikmati suatu keindahan. Pikiranku kembali melayang. Pertemuan dengannya itu sungguh mengejutkan, dan benar malam dihari sabtu yang meresahkan, aku melihat pemandangan melalui jendelaku lalu merebahkan tubuhku dikasur sembari menjadikan tanganku sebagai bantal, kemudian menatap langit kamar yang sedikit terang dekat lampu, aku tidak pernah terpikir bahwa perempuan itu yang berdiri didepan kosanku, lagipula memang hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaan dari kosanku yang pindah.

Handphoneku mulai berdering,

Kuterima.

"Makasih. Maafin aku ngerepotin" ucap Safira

Panggilan diputus olehnya.

Mendengar suaranya yang lembut itu sudah menenangkan hatiku, padahal masih banyak hal yang menggantung dari semuanya itu, tapi, aku seakan dipaksa olehnya untuk menuruti permintannya, dan juga, panggilannya itu langsung diputus olehnya yang berarti dia mengabaikan apapun tanggapanku kepadanya, serta aku yang harus menuruti permintaannya itu dengan sepihak. Hidup penuh tanya. Disetiap harinya kita selalu dihadirkan sesuatu yang mengejutkan, kemudian diposisi itu kita akan dibingungkan harus bagaimana untuk mengambil keputusan yang bijaksana, dan terkadang, kita merasa tidak mempunyai pilihan apapun dalam kehidupan, tapi, entahlah nantinya akan selalu ada jalan keluar dari semua permasalahan yang dipikir buntu. Hidup penuh misteri.

Hujan turun deras,

Angin berhembus dingin. Suatu waktu aku pernah melihat berbagai macam obat ditasnya Safira, dan akupun juga tidak pernah menanyakannya, walaupun aku sangat penasaran terhadap semua yang kulihat itu, padahal aku ingin sekali menanyakan kepadanya alasan membawa obat itu dimanapun serta kapanpun. Safira mengingatkanku Vanila. Aku teringat kembali saat pertemuan dengan Vanila pertama kalinya, dan siang itu hujan turun derasnya, aku yang sedang duduk malas untuk kembali pulang kerumah, padahal aku membawa payung kecil disamping kursiku, disaat itu aku melihat seorang perempuan yang seperti menangis ditengah guyuran air hujan, aku membuka payungku lalu berjalan mendekatinya, setelahnya aku memayungi sampai hampir seluruh tubuhku basah karena apa yang kulakukan itu.

Quote:"Ngapain?" ucapku

Vanilla menoleh kearahku, lalu menatap kosong, "Apakah kebohongan itu kejujuran yang tertunda?"

"Jujurlah" ucap Vanila, tersenyum simpul

Aku mengulangi kembali memayunginya, kemudian menunjuk kursi diteras studio, "Hujan. Mending kita disana"

"Neduh" ucapku

Sampai waktu sekarang. Aku tidak pernah mengerti alasannya saat mematung ditengah guyuran air hujan, padahal aku sempat menanyakannya, tapi, aku hanyalah mendapatkan senyumannya yang penuh artian, tidak sekalipun aku mendengar kata darinya untuk menjawab satu pertanyaanku tersebut. Terkadang. Aku menyukai kebohongan yang manis daripada kejujuran yang pahit, aku tidak ingin dia memperlihatkan kerapuhannya itu didepanku, makanya, aku lebih menyukai disaat kebohongannya tersenyum untuk menutupi semuanya itu, walaupun aku tahu itu hanyalah kebohongan semata. Teruslah aku dibohongi.

Pintaku.

Terkadang. Disaat aku melihat Vanila yang selalu bertingkah menyembunyikan penyakitnya itu, aku ingin sekali mengatakan kepadanya untuk sesekali beristirahatlah dalam kebohongannya dan janganlah merasa tegar didepanku, tapi, aku tidak kuasa saat menyinggungnya kearah sana. Akan selalu banyak sudut pandang. Apapun yang ada dalam kehidupan itu mengaburkan batas kebenaran, dan beberapa tahun berlalu semenjak kepergiannya, aku terkadang mengartikan hujan sebagai bentuk penyiksaan, misalnya seperti kata dihujani oleh kesedihan yang mendalam, arti kata sebenarnya dari hujan itu sendiri mulai berubah, kemudian seiring berjalannya waktu aku berusaha keras dalam memaknai semuanya dikehidupanku melalui berbagai sudut pandangan, bahkan disetiap katapun itu bisa mempunyai beragam makna yang terkandung.

Intinya,

Tersesatku dalam kehidupan.

Quote:Hujan yang sunyi. Hatilah yang berjatuhan

Benarlah.
Diubah oleh After.Story
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Aku Harus Jahat
03-11-2019 19:13
Quote:Original Posted By Kesepian.Kita
Kapan update lagi?


Quote:Original Posted By kwhaleyf
update dongg


Udah. Diatas
0 0
0
Aku Harus Jahat
05-11-2019 14:56
Apa kabar semua?
Bandung hujan terus ya sekarang
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
06-11-2019 17:20
Bagus ceritanya,..Gan atau sis nih?
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
08-11-2019 21:06
Ketinggalan banyak ceritanya
Udah ada update lagi
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Aku Harus Jahat
09-11-2019 20:19
Malem minggu gak ada update nih
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Aku Harus Jahat
10-11-2019 15:34
"Nik"

"Ikut aku kekos" ucap Tanaya

Tanaya menarik tanganku, "Temenin aku dikosan, soalnya cuman aku yang ada dikosan. Kesepian"

"Pemaksaan" ucapku

Tanaya berjalan tanpa menoleh kearahku sekalipun, "Biarin. Aku harus jahat. Kamu gak percaya aku sebenarnya itu jahat banget?"

"Percaya" ucapku

"Makasih" ucap Tanaya

Aku berjalan disampingnya, "Emang semuanya itu pergi kemana? Sampai kamu jadinya sendirian dikosan"

"Teuing" ucap Tanaya

"Kasian" ucapku

Dikamarnya. Tanaya mengeluarkan bungkus rokok yang ada disaku bajunya, lalu, menempatkan sebatang rokok itu dimulutnya, kemudian aku mengambil korek didekatku lalu mendekatkan nyala api keujung batang rokok yang ada dimulutnya itu, dan perempuan itu memejamkan kedua matanya saat menghembuskan asap rokoknya, sedangkan aku sesekali memainkan cajon dikamarnya itu. Tanaya berjalan mendekatiku. Tanaya mendorong pelan tubuhku dengan tersenyum penuh artian, kemudian dia memegang cajon yang artinya ingin memainkannya juga sepertiku, lalu, aku memilih untuk mengalah dari perempuan cantik itu.

Beruntung cantik wajahnya,

Kumaafkan.

Iya.

Dia menduduki cajon yang ingin kumainkan, lalu, aku diberikannya gitar yang ada disampingnya, kemudian aku duduk kedinginan dilantai sedangkan dia tertawa kecil melihatku, dan ternyata dia cukup mahir dalam memainkan cajon, terlebih disela jarinya itu terdapat sebatang rokok yang asapnya mengepul keatas. Membahagiakan. Aku menyukai semua orang yang berani atau memilih tampil berbeda, dan entahlah, kebanyakan dari orang yang dekat terhadapku itu justru mempunyai suatu keunikan tersendiri, Vanila menyukai reggae dan ska, Ferdi menyukai punk, Safira menyukai blues dan jazz, Adrian menyukai hardrock, lalu, perempuan disampingku itu menyukai rock slow dan gothic metal, sedangkan aku menyukai semua musik yang berdentum, bagiku, orang penyuka musik yang dipandang sebagai aliran gelap, misalnya rock itu tidaklah harus berpenampilan serba berwarna hitam, urakan, tatoan, serta yang lain sebagainya, justru apa yang tertanam didalam kitalah yang nantinya akan menjabarkan dari karakter tersebut kepada semua orang.

Kalian melihatku berbeda. Aku melihat kalian itu serupa.

Hening.

Tanaya menekan keras rokoknya itu keasbaknya, dan membuangnya ketempat sampah didepan kamarnya, padahal batang rokoknya itu masih banyak yang belum terbakar, kemudian dia menundukkan kepalanya dipinggir kasurnya yang membuatku sempat bertanya - tanya. Aku berhenti memetik, lalu, menempatkan lenganku digitar. Tanaya menatapku dengan penuh artian, bahkan aku sampai merasa tidak nyaman dilihat olehnya terus menerus, dan cobalah kalian merasakan hal yang sama denganku, beberapa detik saja menatap lekat matanya pastilah akan jatuh cinta kepadanya, matanya itu begitu menghinoptis dengan mudah bagi siapapun yang menatapnya. Sudah banyak korban.

"Kenapa?" ucapku

Tanaya langsung melempar bungkus rokoknya, "Ngerasanya. Aku kayak cewek yang rusak banget didepanmu, padahal kamu juga cuman diem, dan malahan kamu itu kayak gak peduli"

"Aku. Cewek gak bener" ucap Tanaya

Aku menatap kosong,
"Cewek yang bener itu emang kayak gimana? Semua orang itu punya jalan keburukannya masing - masing" ucapku, tersenyum kecut

"Tanaya aku nanya" ucapku

Tanaya hanya terdiam,

"Aku gak tahu" ucap Tanaya, menggelengkan kepalanya

Aku mengalihkan pandanganku, dan tersenyum kecut, "Nilailah aku sesukamu. Orang itu cuman bisa menilai, tapi, bukan artinya dia lebih baik dari yang dinilainya. Tapi. Kebanyakan dari kita malah justru lebih buruk dari yang dinilainya, dan anehnya, kita gak merasa, padahal kita gak lebih baik dari yang udah dinilai"

"Kamu selalu benar" ucap Tanaya

"Enggak. Aku cuman gak mau salah" ucapku, tertawa pelan

"Jadilah diri sendiri. Orang lain jadi apa nantinya, kalau, semua orang bukan dirinya sendiri? Jangan kamu nyusahin orang lain" ucapku

"Bener" ucap Tanaya

Pastinya. Kita semua pernah melakukan suatu hal yang tidak ingin orang lain mengetahuinya, kemudian itu akan menjadi suatu rahasia yang terus kita simpan entah sampai kapan, dan pada dasarnya, kita memang terlahir untuk membuat banyak kesalahan, agar kita bisa mendapatkan pembelajaran dari kesalahan tersebut. Kenyataannya. Ada banyak hal yang tidak kita tahu ataupun mengerti terhadap orang lain, tidak peduli seberapa lama serta dekatnya kita terhadap orang lain, sebenarnya kita tidak akan pernah memahami sepenuhnya, itu semua terjadi karena diri kita sendiri yang tidak bisa membaca pikiran dan perasaan orang lain disetiap waktunya.

Aku memijat telapaknya yang berwarna kemerahan dan sedikit bengkak, karena dia yang terlalu bersemangat dalam memainkan cajon, kemudian tanganku malah digenggam olehnya dengan erat, lalu, aku langsung menarik pelan tanganku dengan spontan. Tanaya menatapku terkejut. Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi, kemudian tertawa melihat ekspresi wajahnya itu, tapi, aku tetap memijat lengannya kembali setelahnya pindah kekakinya, dan rasanya aku seperti pelayan yang sedang memanjakan ratuku, seorang perempuan yang cantik itu mudah untuk meluluhkan semua orang, walaupun apa yang dilakukannya itu salah, tapi, kita seringkali akan tetap melakukan pembenaran terhadapnya.

"Jarinya" ucap Tanaya

*********

"Dengerin" ucap Tanaya

"Aku pengen cerita sama kamu. Faisal sering ngajakin aku terus, dan aku gak tahu, dia itu beneran suka aku apa cuman pengen mainin perasaanku. Menurut kamu dia itu gimana?" ucap Tanaya

"Faisal baik orangnya" ucapku

Tanaya menatapku lekat, "Kamu juga baik, dan bukan karena dia baik padamu, artinya dia suka denganmu. Nyatanya. Kamu itu baik, tapi, gak suka aku" ucapnya, tersenyum penuh artian

Terdiam dan membisu aku dibuatnya,

Hening.

"Semuanya itu tergantung dari cowoknya, dan cewek itu bisanya cuman ngasih jawaban, padahal kenyataannya itu sebenarnya cowok sukanya cewek yang inisiatif" ucap Tanaya, menopang dagu

"Aku bener gak?" ucap Tanaya

Kembali aku terdiam,

Disengaja. Tanaya menyemprotkan beberapa kali parfumnya kepakaianku dan entahlah apa maksudnya, kebanyakan temanku yang mencium aroma parfumnya langsung mencibirku, karena parfumnya itu aku dijauhi oleh teman perempuanku yang kutemui, sampai pada akhirnya kupilih tempat untukku menyendiri sembari berharap parfumnya itu cepat memudar ataupun menghilang. Parfum hanyalah sebagian. Wajahku pernah dirias lalu dipakaikan kerudung olehnya, dan pernah juga aku yang dimasker, kukuku yang dicat, krim pagi atau malam serta masih banyak lainnya yang dilakukan olehnya kepadaku, terkadang malahan aku melakukannya sendiri tanpa adanya dirinya, terlebih aku tertawa saat melakukannya itu seperti orang yang tidak waras. Menggelikan.

Tanaya mempunyai parfum kesukaan dan semua orang dilingkungannya sudah menghafalnya, makanya, aku lebih menghindar ataupun menjauh daripada mereka yang akan mencibirku, seharian itu aku menjadi seorang pendiam seperti tidak mempunyai teman seorangpun hanya karena aroma parfumnya. Tanaya berjalan mendekatiku. Tidak ada sedikitpun penyesalan diwajah cantiknya itu dan seperti biasanya dia tersenyum dengan alasan yang tidak kuketahui, bahkan aku masih terdiam serta tidak bergeming saat perempuan itu mencubit pipiku, terlebih dia yang menjadikan pahaku sebagai bantalnya, karena aku yang sedang duduk bersila dengan santainya, tapi, aku langsung menyingkirkan kepalanya itu yang membuatnya tertawa kecil melihat reaksiku menolaknya.

"Ngantuk" ucap Tanaya

Akhirnya,

Aku membiarkan pahaku dijadikan alas untuknya tidur pulas, aku merapikan rambutnnya serta memainkan hidungnya itu, dan lucunya, dia yang terbangun lalu berjalan pergi meninggalkanku dengan setengah kesadarannya itu, bahkan dia sampai berhenti hanya untuk memegangi ditembok. Sekedar aku mengingatkan. Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya, kalian janganlah heran bahwa saat berada dikota besar melihat dua orang yaitu laki - laki dan perempuan terlihat berpegangan tangan, bermesraan serta lain sebagainya, mereka hanyalah berteman yang tidak mempunyai suatu hubungan yang lebih tinggi, satu hal yang membedakan antara pertemanan dengan percintaan itu terletak pada kejujurannya akan perasaannya. Tanaya menghilang dibelokan. Pada awalnya berada dikota besar membuatku seakan terlihat begitu polosnya, aku terlalu menilai sesuatu yang kulihat sebagai pertimbangan terbesar, padahal apa yang kulihat itu tidak menjelaskan semua yang terjadi, karena aku yang tinggal serta besar dikota kecil itu menganggapnya sebagai pemandangan yang memang tidak biasa dilingkunganku.

"Tidur" ucap Tanaya

*********

"Cantik" ucapku

Sekelompok adik tingkat berjalan melewatiku dan Tanaya, "Apa? Cantik, Nik. Yang mana coba? Pakai baju merah?" ucap Tanaya

Aku hanya terdiam,

Tanaya mengamati kembali, sembari tersenyum simpul, "Apa? Cantik, Nik. Yang mana coba? Pakai baju coklat?"

"Kamu bikin malu" ucapku

"Biarin" ucap Tanaya

Tanaya memang iseng. Pernah suatu ketika, diujung koridor aku melihat sepasang kekasih bergandengan tangan, kemudian Tanaya berjalan lurus dengan santainya dan tanpa dosanya, sampai pasangan itu akhirnya harus terpaksa melepaskan tangannya yang bergandengan sejenak, laki - laki itu hanya bisa tersenyum dengan tingkah lakunya, tapi, perempuan itu terlihat sedikit kesal diraut wajahnya. Tentunya aku berakting. Sepanjang koridor aku bertingkah seakan tidak pernah mengenal Tanaya, dan kalau bukan karena wajahnya yang cantik, pastilah sudah banyak orang yang marah dengan apa yang dilakukannya, tapi, pada kenyataannya hampir semua orang memaafkannya, perempuan yang mempunyai paras wajah menawan itu memang selalu dimaafkan terhadap apapun yang dilakukannya.

Aku membungkam mulutnya,

Terdiam.

Aku tidak ingin mendengar kata darinya lagi, dan juga, aku menutup hidungnya yang membuatnya kesusahan bernafas, kemudian tanganku itu dipukul olehnya dengan keras, lalu dia mengatur nafasnya setelah aku melepaskan tanganku darinya. Rasakanlah. Aku tidak menceritakan kepada Tanaya sedikitpun, kalau malam kemarin aku bertemu dengan Safira, dan lagipula, aku juga tidak ingin dia tahu apa yang terjadi dimalam yang diiringi rintik hujan itu, aku sangat menyadari bahwa pastinya tidak ada satupun orang dikehidupan yang ingin dibohongi, tapi, dihitungnya akupun tidak berbohong kepadanya, itu semua karena aku yang memang tidak mengatakan apapun kepadanya.

Quote:Jangan pernah melakukan kepada orang lain, apa yang tidak ingin kamu lakukan terhadap dirimu sendiri

Semuanya yang kulakukan,

Penuh.

Dengan suatu keraguan.

Iya.
Diubah oleh After.Story
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Aku Harus Jahat
16-11-2019 21:22
Selamat malem minggu
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Aku Harus Jahat
18-11-2019 11:04


"Nik. Tahan aku nanti, kalau udah kacau" ucap Adrian

"Maksudnya?" ucapku

Adrian tersenyum sinis, "Kayaknya"

Adrian dan seseorang yang pernah berkelahi dengannya itu saling menatap tajam, aku tidak mengerti apa yang membuat permasalahan diantara mereka terus memanas, seseorang itu berjalan melewati kami berdua, tapi, orang disampingku itu tetap menatapnya dengan penuh amarah. Entahlah. Ucapannya terngiang dikepalaku, kemudian aku mengerti arti yang diucapkannya itu dan beruntung tidak ada suatu hal yang buruk terjadi, suasana yang tadinya memanas lalu secara perlahan mendingin, lalu, aku kembali tenang dengan menghilangnya bebanku untuk menahannya seperti yang diucapkannya itu, temanku itu menatap kosong seakan ingin menceritakan sesuatu kepadaku.
Benarlah

"Nik" ucap Adrian

"Selama ini aku itu suka ceweknya jauh sebelum mereka pacaran, dan kamu tahu kenapa aku gak suka pacarnya, harusnya cewek kayak dia bisa dapetin cowok yang lebih baik darinya. Pacarnya itu bajingan" ucap Adrian

"Punya banyak cewek. Sering main tangan. Mabukan" ucap Adrian

"Banyaklah" ucap Adrian

Aku menoleh kearahnya, "Maaf. Apa cewek yang kamu suka itu pantes buat diperjuangin? Apa kamu gak pernah mikirin?"

"Enggak aku pikirin" ucap Adrian

Terdiam aku dibuatnya, dan tersenyum simpul,

"Bodoh" ucap Adrian

"Aku gak tahu kenapa dia bisa mertahanin cowok yang terus nyakitinnya, padahal masih ada banyak cowok yang baik diluar sana, walaupun gak sama aku sekalipun. Nantinya" ucap Adrian

"Sekian dari ceritaku" ucap Adrian

"Bersambung" ucapku

Melihat orang yang kita sayangi pergi itu menyedihkan, tapi, ada hal yang lebih menyedihkan yaitu melihat orang yang kita sayangi itu tidak bahagia dalam hidupnya, dan terlebih kita sudah tidak mempunyai hubungan dengan orang tersebut, begitulah perasaan yang dirasakan oleh temanku. Lalu. Katanya temanku dan perempuan yang disukainya itu awalnya berteman sangat dekat, tapi, semenjak perempuan itu mengetahui kebenaran perasaan dari temanku itu, perlahan mulai ada jarak diantara mereka berdua, kemudian sampai pada akhirnya perempuan itu menjauhi temanku yang perasaannya masih tertinggal direlung hatinya. Kisah yang sedih.

Quote:Seperti layaknya kamera,
Fokusku itu dirinya. Lainnya itu memblur

Terkadang,

Lucunya. Kita melakukan apapun kepada orang yang disayangi sampai melupakan diri sendiri, serta orang lain disekitar, padahal kita seharusnya itu mengkhawatirkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya kepada orang lain, dan seperti itulah temanku, bahkan dia tidak memikirkan dirinya sendiri yang dikuasai oleh perasaan cintanya. Begitulah. Terlalu banyak akan perasaan cinta justru membuat kita menjadi seseorang yang berbeda, dan anehnya kita tidak menyadarinya sekalipun, aku menatap temanku dengan penuh kebingungan harus bagaimana saat mendengarkan ceritanya, kemudian menepuk pundaknya sembari beranjak dari tempatku untuk meninggalkannya duduk sendirian, aku menuruni tangga padahal masih ada banyak pertanyaan kepadanya. Alasan dia melakukan.
Semuanya yang dilakukan.

**********

"Hai"

"Kalian ngapain disini?" ucap Davina

Davina berjalan mendekatiku, lalu melihat perempuan yang ada disampingku sembari tersenyum penuh artian, "Berduaan. Dilantai atas yang gak ada orangnya, beneran mesra banget"

"Dibawah banyak orangnya" ucap Tanaya

"Sekarang aku ngerti, kalau, mau nyari kalian itu disini pasti ketemu" ucap Davina, tersenyum simpul

"Enggak. Seringnya aku dilobby" ucapku, mengelak

Tanaya menyikutku pelan, lalu, tersenyum simpul "Angkatanmu emang sukanya ngumpul dilobby"

"Bener" ucap Davina

"Markasnya" ucap Tanaya

"Iya" ucap Davina

Davina itu dua tingkat dibawahku, aku mengenalnya karena dia menjadi peserta, sedangkan aku sebagai panitia diorientasi jurusan, dan semenjak itu dikampus aku seringkali melihat atau bertemu dia yang kebanyakan bersama dengan teman sekelasnya. Davina orang yang ramah sekali. Wajah cantiknya itu menyembunyikan keberaniannya dalam berpendapat, bahkan semua orang mungkin tidak akan pernah menyangkanya saat pertama kali bertemu dengannya, pemikirannya itu terlalu liar dan berbahaya jika kalian menerimanya secara langsung, perempuan seperti dirinya itu bisa dengan mudah untuk mempengaruhi seseorang melalui ucapannya, sayangnya, dia selalu berpendapat yang secara umum bermaksud tidak ingin mempengaruhi siapapun yang mendengarkannya.

"Jangan berduaan terus" ucap Davina

*********

"Kenapa?" ucap Davina

Davina memalingkan wajahnya, "Emang kalian belum pernah ngelihat cewek ngerokok? Lihatnya gak biasa"

"Aku kaget aja. Ternyata kamu ngerokok" ucap Adrian

Aku hanya terdiam,

Davina menghembuskan rokoknya,
"Setinggi apapun itu derajat cewek. Akhirnya mereka hanyalah pelacur suaminya" ucap Davina, tersenyum simpul

"Kita semua emang menjual diri. Kita menawarkan sesuatu kepada orang lain bukannya itu menjual diri? Tidak ada yang mutlak dikehidupan, semuanya bermakna ganda dan tergantung dari bagaimana kita memahaminya. Berpikir dengan terbukalah" ucap Davina

"Kesel. Orang ngomongin terus" ucap Davina

"Kalian mau duduk?" ucap Davina

"Iya" ucap Adrian

Davina seringkali menghabiskan waktu istirahatnya ditaman, aku dan temanku tidak sengaja bertemu dengannya yang sedang duduk sendirian, kemudian seiring dengan berjalannya waktu kami menjadi begitu akrab, lalu, semakin aku mengagumi bagaimana jalan pemikirannya yang sangat menakjubkan dibandingkan seperti perempuan kebanyakan. Mengejutkan. Aku melihat Safira berjalan dengan beberapa temannya, kemudian dia melambaikan tangannya kepada perempuan disampingku yang artinya aku diabaikan olehnya, lalu, dia berjalan menghampiri kami bertiga yang arahnya sedikit berlawanan dengan temannya.

"Temenmu?" ucap Safira, menunjukku

"Iya" ucap Davina

Safira menatapku lekat, sembari tersenyum manis, "Perasaan. Temen kamu itu kayaknya semua cantik"

"Emang" ucap Adrian

"Kalian lagi ngapain?" ucap Safira

"Diskusi gak penting" ucapku

"Maaf. Aku pergi dulu mau jalan lagi. Kasian temenku nunggu" ucap Safira, tersenyum simpul

"Iya" ucap Adrian
Diubah oleh After.Story
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Aku Harus Jahat
22-11-2019 21:19
Kapan update lagi?
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
26-11-2019 08:19


"Kalian itu mirip" ucap Adrian

Aku mencuci tanganku diwastafel, "Siapa?"

"Davina" ucap Adrian

Adrian bersandar ditembok, "Kalian mirip banget dari caranya mikir"

"Masa?" ucapku

"Terserah" ucap Adrian

Pendiam,

Sebenarnya. Aku tidak begitu pendiam dan justru orang yang memang dekat kepadaku malahan itu menganggapku terlalu berisik, aku hanya diam saat tidak ada lagi yang bisa menarik perhatianku, bahkan aku langsung begitu pendiam tanpa sepatah katapun terucap dariku. Terlebih. Aku hanya tidak ingin mengganggu orang lain yang sedang bercengkrama, dan bagiku, aku lebih menghindari untuk masuk kedalam suasana tersebut, karena aku hanya membawa suasana canggung saat berada ditengah mereka, aku mempersilahkan siapapun untuk berteman denganku, kemudian, aku juga mempersilahkan siapapun untuk pergi meninggalkan, kalau memang itu yang mereka inginkan.

Intinya,

Aku tidak begitu mempermasalahkan apapun yang terjadi dalam kehidupanku, terkadang, ada banyak orang yang menganggapku itu bukan seorang manusia, karena aku lebih banyak dalam bersikap dingin kepada orang lain, daripada bersikap hangat yang hanya disaat tertentu. Padahal. Aku malahan begitu memperhatikan suatu hal yang kecil dalam lingkungan, bahkan suatu hal yang mungkin tidak disangka orang lainnya, dan istilah lebih tepatnya itu akulah yang seorang pengamat, aku suka memperhatikan seseorang dalam hidupku, karena setiap orang itu pastinya mempunyai ceritanya tersendiri, walaupun orang itu mungkin sudah tidak mengenalku ataupun melupakanku.

"Pintar yang pemalas" ucap Tanaya

Tanaya menatapku lekat, "Kamu itu susah buat serius kebanyakan malah bercanda, tapi, semuanya bisa selesai"

"Heran" ucap Tanaya

"Aku itu bodoh. Makanya aku disekolahin biar pinter, kalau aku udah pinter ngapain juga sekolah" ucapku, tertawa kecil

"Ngapain serius banget? Konyollah. Dunia suka bercanda. Setiap orang itu pintar dijalannya tersendiri, pintar dan bodohnya orang itu hanya cepat atau lambatnya dalam memahami. Lagian. Emang semua orang pinter itu hidup bahagia? Enggaklah, aku berharap semua orang itu bisa menjalani kehidupannya dengan sepenuh hatinya. Bahagia. Hiduplah dari apa yang kamu cintai, maka, kamu akan mencintai kehidupan" ucapku, menatap kosong

"Tercerahkan" ucap Tanaya

"Kamu itu selalu punya cara yang unik disetiap keadaan, makanya, apapun yang kamu lakuin itu buat aku terkesan. Beneran. Kamu itu bisa menciptakan hal yang sederhana jadi bermakna" ucap Tanaya

"Banyak yang kupelajari" tambahnya

Tanaya menatapku lekat, "Jadikan setiap tempat itu sekolah, setiap orang itu guru, dan setiap waktu itu belajar"

"Bagus" ucapku

Quote:Merendahlah dan mengalahlah kamu, sampai tidak ada satupun orang yang bisa merendahkanmu dan mengalahkanmu

Menarik. Begitu indahkah semua kata yang kurangkai? Seindah itulah dimana aku dikecewakan oleh kehidupan, aku hanya menuliskan semua keresahan yang ada didalam hatiku, dan bagiku, semua yang kutulis itu hanyalah kenyataan yang terjadi, waktu dimana aku yang tidak bisa melakukan apapun untuk mewujudkannya dengan sempurna. Tanaya melihat jendela. Berbagai kendaraan tetap menerjang hujan yang turun derasnya, kulihat, jarinya itu menyentuh kaca sembari mengikuti air yang mengalir turun, kemudian dia menatap kosong seakan memikirkan sesuatu dan juga, akupun hampir saja melakukan hal yang sama dengannya, aku mencoba dengan keras untuk mengabaikan apa yang kulihat serta kudengar dipemandangan itu. Tidaklah inginku terbuai dalam kehidupan.

"Kenapa?" ucapku

"Pengen banget pulang" ucap Tanaya
Aku tersenyum kecil, sembari melihat jendela, "Nantilah. Hujan masih deras. Bersabarlah"

"Bosen dikampus terus. Kamu gak bosen?" ucap Tanaya

"Enggak" ucapku

Tanaya langsung melihatku, "Masa? Kamu gak bosen? Padahal kamu itu seringnya dilobby sama dikelas, berarti kamu itu kayaknya bisa menciptakan sesuatu yang beda dikeadaan yang membosankan, atau, malahan udah nyaman"

"Jawab" ucap Tanaya

Aku sempat terdiam dan merenung,
"Setengahnya itu salah dan setengahnya itu bener. Aku gak selalu bisa menciptakan sesuatu yang beda dikeadaan yang berulang, dan juga, aku bukannya nyaman, tapi, lebih kayak pasrah. Kadang aku males buat apapun. Seringnya aku malesan" ucapku, tersenyum simpul

Aku terdiam dan merenung,

"Sama" ucap Tanaya

"Yaudah. Aku nyari lagi alesan biar gak sama. Bentar" ucapku

"Jangan. Biar kita sama" ucap Tanaya

Diluar,

Hujan turun deras.

Iya.

Disaat hujan sudah mulai reda kelihatannya, aku memberikan payungku kepada Tanaya, payungku itu ukurannya kecil dan lagipula akulah yang seharusnya menggunakannya, tapi, karena ada seorang perempuan yang berjalan disampingku maka terpaksa aku memprioritaskan dirinya. Begitulah. Aku dan Tanaya saat berada dikampus itu seakan tidak saling mengenal, bahkan disaat kita berdua berpapasan tidak ada yang menyapa sedikitpun, tapi, disaat kita berdua duduk bersama maka akan meruntuhkan semuanya itu, aku tidak mengerti dari tujuan dalam menyapa, karena, bagiku yang terpenting itu adalah bagaimana kita yang bisa saling memperhatikan ataupun memahami dalam artian yang sebenarnya.

Tanaya memutar payungku. Aku mengusap wajahku, lalu, aku menggoyangkan pohon yang ada didekatnya sebagai balas dendamku, tapi, dia memutar payungku kembali dan aku lupa payung itu masih dipegangnya, sampai aku harus mengusap wajahku lagi yang terkena air karena putaran dari payung. Dikosannya. Aku duduk tepat didepan kamarnya, dan menunggunya berganti pakaian itu cukuplah lama, bahkan aku sempat tertidur karena pintu kamarnya itu tidak kunjung terbuka, setelah menunggu beratus tahun lamanya dia keluar dari kamarnya serta pakaiannya tidak berganti, sebenarnya apa yang dia lakukan didalam kamarnya sampai aku harus menunggunya lama? Tanganku ditarik olehnya, kemudian pintu kamarnya itu ditutup rapat dan aku melihatnya tersenyum saat tangannya itu seakan ingin melepas pakaiannya keatas, lalu, dia tersenyum penuh artian kemudian mencubit kedua pipiku dengan gemasnya. Terkejut aku dibuatnya.

"Dasar semua cowok" ucap Tanaya

Tanaya menatapku lekat, "Kamu itu beda. Apa kamu gak suka cewek? Curiga aku jadinya. Masa cuman diem"

"Ditahan?" ucap Tanaya

*********

"Ini" ucap Tanaya

Aku menerima dan langsung membuka cokelatnya,

"Cokelat dari Faisal" ucap Tanaya

Aku berhenti memakannya, "Buat aku semua? Aku jadi kayak..."

"Habisin" ucap Tanaya

Tanaya menopang dagunya, kemudian menatap kosong, "Aku diajak nonton, terus aku dikenalin sama temen nongkrongnya, tapi, aku gak ada perasaan apapun sama dianya. Aku jahat gak? Menurutmu aku gimana?"

"Harusnya gak kuterima itu ajakannya" ucap Tanaya, bergumam

"Berarti kamu mulai ada perasaan" ucapku

"Enggaklah" ucap Tanaya

Aku melihat kearahnya, "Kamu nerima ajakannya itu pertanda"

"Bener" ucap Tanaya

Tanya menatapku lekat, "Kamu sebagai cowok ngelihat cewek itu kayak gimana? Aku pengen tahu"

"Penasaran" tambahnya

Aku menatap kedepan, sembari tersenyum simpul, "Mungkin. Cewek yang cantik wajahnya itu emang buat cowok menatap, tapi, cewek yang cantik hatinya itu justru buat cowok menetap"

"Jawabannya" ucap Tanaya, menepuk lenganku

Aku tidak bisa menahan tawaku,

"Bisaan" ucap Tanaya

Aku sulit memberikan jawaban yang pasti kepada orang lain, karena aku sendiripun juga dipenuhi oleh keraguan, dan kuperhatikan perempuan itu merenungi sekali apa yang kuucapkan, padahal aku hanya sekedar bercanda dengan pertanyaanku itu, tapi, matanya itu seakan melihat kedirinya yang terdalam. Hanya sementara waktu. Tanganku bergerak dengan sendirinya untuk merapikan rambut diwajahnya, kemudian aku menyelipkannya dibalik telinganya, dan Tanaya hanya menatapku, sembari tersenyum manis dengan apa yang kulakukan, setelahnya aku memalingkan wajahku darinya karena malu, terlebih suasana menjadi canggung sampai tidak ada diantara kita berdua yang mencairkannya, lalu, waktu seakan berjalan dengan lambatnya atau malah berhenti saat itu juga.

Setelahnya,

Tanaya mulai bercerita, sembari memetik gitarnya. Katanya dia merasa bersalah karena terus menolak ajakan, sampai pada akhirnya dia menerima ajakan dari Faisal untuk pertama kalinya, dan begitulah, aku harus mendengar cerita sehariannya bersama dengan laki - laki yang mengajaknya itu. Baguslah. Aku hanya ingin perempuan disampingku itu membangun lagi kepercayaannya terhadap seorang laki - laki, karena semenjak kejadian itu hatinya seakan tertutup dan sekarang mulai terbuka, walaupun aku sedikit terpikir bagaimana kalau dia tersakiti kembali nantinya, tapi, aku juga tidak ingin melihatnya yang menutup hatinya terus menerus, bahkan sampai orang lain tidak bisa mendekatinya sedikitpun.

Perlahan, tapi, pastilah,

Terbuka

Lagi.

"Nik" ucap Tanaya

Tanaya memberikan spidol yang permanen, "Tulis apapun digitarku biar jadi kenangan nantinya"

"Apapun yang bener" tambahnya

Selesai aku menulisnya,

Tanaya menoleh kearahku, sembari mengernyitkan dahinya,

"Aksara jawa, tapi, bahasa indonesia" ucapku

"Apa?" ucap Tanaya

"Cahaya" ucapku
Diubah oleh After.Story
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
07-12-2019 19:20
Bandung yang gerimis
0 0
0
Aku Harus Jahat
08-12-2019 17:02
Update
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
13-12-2019 11:34

Dikamarnya,

Kita. Aku dan Tanaya menonton film dilaptopnya, sebenarnya aku lebih banyak melihat wajahnya dibandingkan film yang diputarnya, kemudian dia menyadarinya dan menatapku dengan lekatnya, pipiku ditepuk pelan olehnya sembari tersenyum simpul saat melakukannya. Tanaya mengambil biskuit, lalu, menonton kembali filmnya. Aku keluar dari kamarnya, lalu, pulang tanpa pamit, karena aku teringat dengan tugas mata kuliah yang belum kukerjakan dan sesampainya aku dikosan, panggilan tidak kuterima dihandphoneku itu banyak sekali darinya, tapi, aku memilih untuk mengabaikannya, lagipula aku tidak kunjung mengerjakan tugasku nantinya, kalau, menerima panggilan darinya. Biarlah.

Quote:Terlalu banyak waktu. Diabaikan
Terlalu sedikit waktu. Disesali
Manusia

Kubuka pintu kamarku. Aku langsung mengerjakan tugas dan kulihat dihandphoneku yang menyala, Tanaya mengirimkan fotonya yang menunjukkan rasa kekesalannya, tapi, wajahnya itu seakan berusaha keras untuk menahan tertawa, kemudian dia mengirimkan kembali fotonya. Cantik dan manis. Aku meletakkan handphoneku dan kembali mengerjakan tugasku, disetiap aku menulis terbayang oleh wajahnya yang membuatku tersenyum simpul, kemudian aku memilih untuk berhenti sejenak dalam mengerjakan tugasku. Mengganggu. Setelah aku selesai dalam mengerjakan tugasku, aku melihat fotonya itu dalam waktu yang cukup lama dan pantaslah banyak orang yang menyukainya, itu semuanya karena tingkahnya yang menggemaskan yang ditambah oleh kecantikan paras wajahnya.

Mimpi yang indah,

Tanaya.

*********

Suasana begitu heningnya,

Aku memainkan tangannya sembari menunggu dia lengah, kemudian aku mengarahkan jari telunjuknya kearah lubang hidungku, setelahnya dia menahan rasa kesalnya, lalu, membersihkan jari telunjuknya, dan aku tertawa melihatnya, tapi, itu tidak berlangsung lama setelah aku dicubit olehnya dengan keras. Sakit luar biasa. Aku mempunyai keresahan saat dimana orang disekelilingku sedang terdiam, apalagi terlebih itu tidak melakukan apapun saat itu juga dan aku harus melakukan sesuatu, agar terjadinya suasana yang berbeda, aku tidak bisa melakukan suatu hal dengan seriusnya, padahal aku sudah berusaha keras. Begitulah.

"Nakal" ucap Tanaya

Tanaya memukul tanganku, sembari tersenyum simpul, "Sebenernya. Aku udah curiga dari awal, tapi, aku biarin aja tanganmu. Dasar"

"Ngeselin" ucap Tanaya

Suasana yang hening. Tidak melakukan apapun, serta, tidak ada sesuatu yang berbeda itu membuatku tersiksa dan saat itu juga, kulihat langit yang berwarna kehitaman terus bergerak, kemudian aku pikir melakukan taruhan kecil dengannya itu bisa menghidupkan suasana. Mungkin. Aku menunggu waktu yang tepat untuk melakukan taruhan dengannya, bukankah sedikit pengorbanan untuk hasil yang membanggakan adalah suatu tindakan yang hebat? Aku menepuk lengannya saat perempuan itu menatap kosong langit melalui jendelanya, kemudian aku melakukan hal yang sama dengannya.

"Tanaya" ucapku

Aku melihat langit dari jendelanya, sembari tersenyum penuh artian, "Kayaknya. Bentar lagi hujan. Deras"

"Tampar aku nanti. Kalau aku salah" ucapku

Dan,

Ternyata aku salah, lalu, dia langsung menamparku.

"Aku mau nanya. Kamu punya dendam? Nampar keras banget. Antusias banget namparnya" ucapku, tersenyum simpul

"Enggak punya dendam" ucap Tanaya

Aku memegangi pipiku yang ditamparnya, kemudian menatapnya dengan lekat, "Aku salah apa? Beneran aku curiga"

"Pengen aja nampar. Lagian kamu nawarin" ucap Tanaya

"Bercanda" ucapku

"Masa?" ucap Tanaya, menahan senyuman

"Iya" ucapku

"Maaf" ucap Tanaya

Rasanya. Tanaya melakukan kebohongan, aku merasakan tamparannya itu melampiaskan sesuatu darinya, tapi, aku tidak mengerti dan bertingkah seakan aku tidaklah menyadarinya, tamparannya itu bukanlah yang pertama kalinya aku terima dari seorang perempuan dalam hidupku, semua tamparan itu sangat menyakitkan walaupun dengan bercanda sekalipun. Perasaan itu merumitkan. Perempuan selalu bisa menyembunyikan perasaannya, bahkan mereka bisa sampai ditahap menghapus perasaannya sendiri, karena terlalu lama dalam menyembunyikan perasaannya itu didalam hatinya, kemudian perempuan yang menghilangkan perasaannya itu bisa melakukan tindakan diluar nalar.

Vanila.

Ada banyak hal yang ingin aku lakukan, tapi, pada akhirnya itu berakhir tanpa bisa melakukan bersamanya, dan tujuan yang tidak adanya perencanaan itu hanyalah sebuah harapan, kemudian tidak peduli berapapun foto yang kita ambil, perasaan itu tidak akan pernah bisa disimpan. Kenangan itu membekas. Terlalu banyak harapan bisa secara perlahan menyiksaku, dan terlalu sedikit harapan bisa secara perlahan membunuhku, sedangkan aku sebenarnya itu cenderung lebih berada kearah sedikit harapan, karena aku sudah tidak ingin menaruh suatu harapan yang tinggi kepada apapun itu dalam kehidupanku. Mengecewakan.

Itulah.

Aku menaikkan sweaterku ditangan kananku sampai kelengan, agar aku nyaman saat memainkan gitar dan Tanaya duduk memperhatikanku, kemudian aku memindahkan gitar kepadanya, matanya itu sudah menjelaskan semuanya disaat aku memainkannya. Perempuan yang menawan. Aku tidak mengerti dengan apa yang kulihat, perempuan yang memainkan alat musik itu menarik perhatian, terlebih alat musik yang dimainkannya itu seperti gitar, piano, biola serta lain yang sebagainya, percayalah, lalu, mereka yang bisa mengungkapkan kejujuran dan menjadi dirinya sendiri, apalagi mereka juga mempunyai karakter istimewa yang tidak dimiliki oleh banyak perempuan diumumnya.

"Ini bener gak?" ucap Tanaya

Aku mengarahkan jarinya kefret yang benar,

Tanaya menahan senyuman, "Bentar. Jariku kaku banget. Latihan terus harusnya"

"Dibiasain" ucapku

*********

"Nik" ucap Tanaya, pelan

Tanaya menatap kebawah, sembari meneteskan air matanya, "Keluargaku itu bermasalah. Makanya. Aku pengen banget punya keluarga sama kayak orang lainnya, tapi, kayaknya cuman harapan sampai kapanpun"

"Sampai pada akhirnya. Kita. Maksudku aku sama dia ketemu, terus, disinilah aku sekarang" ucap Tanaya, mencoba tersenyum

"Kadang" ucap Tanaya, bergumam

"Aku mikirin itu. Kenapa aku harus ketemu sama orang kayak temenmu? Semua orang itu beda waktu didepan sama dibelakang, tapi, kamu tetep sama malahan gak terpengaruh, terus kamu ngobrol kayak biasanya. Kamu itu beda. Aku tahu mereka itu bohong, terus aku cuman bisa ngikutin kayak yang mereka lakuin. Bohong" ucap Tanaya, mengusap air matanya

"Persetan. Semuanya itu kebohongan"

Didalam hati kecilku. Akupun menyimpan kebohongan.

Kalian pernah menyadari? Melakukan satu kebohongan itu berarti akan membuat kita akan terus menutupinya, dan apa yang kita lakukan untuk menutupinya itu dengan kebohongan yang lainnya, terciptalah alur berputar yang membuat kita susah keluar darinya. Bohong hanyalah perangkat. Semuanya itu terserah akan kita pergunakan untuk kejahatan ataupun kebaikan dengan perangkat tersebut, sedangkan aku tidak mengerti perangkat tersebut aku pergunakan kearah mana, dan semoga aku melakukannya untuk kebaikan, tapi, entah itu kebaikan untukku sendiri atau dirinya? Pertanyaan yang aku tidak bisa menjawabnya, begitulah, memang lebih mudah untuk menenggelamkan pertanyaan daripada menjawabnya.

"Nik" ucap Tanaya

"Kamu gak capek bohongin aku terus? Lakuin apa yang emang kamu itu pengenin, dan bukan karena emang kamu ngerasa bersalah. Kamu gak salah udah kenal sama aku, lagian itu kesalahanku sendiri" ucap Tanaya, memaksa tersenyum

Anehnya. Sedikitpun aku tidak berani menatapnya,

Entahlah,

"Kamu..." ucap Tanaya

Tanaya menatapku dengan lekatnya, "Janganlah ngerasa bersalah. Pikirin dirimu sendiri. Berapa waktu yang banyak kamu buang cuman buat nemenin aku yang bodoh? Sebenarnya kita gak terlalu deket awalnya, tapi, kamu bisa mikir sejauh itu. Sebegitu ngerasa bersalah?"

"Aku. Kamu. Dia. Semuanya itu berhubungan" ucapku

"Lucunya. Aku suka dibohongi sama kamu, padahal aku tahu itu bohong. Terusin itu bohongmu" ucap Tanaya, memegang lenganku

"Terusin" tekannya

"Kirain gak sadar aku bohongin" ucapku

"Sadarlah" ucap Tanaya
Diubah oleh After.Story
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Aku Harus Jahat
13-12-2019 22:37
Diungkapkan juga ternyata sama tanaya,kirain gak bakal
profile-picture
After.Story memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Halaman 5 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
the-perfect-darkness
Stories from the Heart
corona-akan-berlalu
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
dalgona-coffee-dan-gadis-bar
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia