alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
9
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da823ebc0cad71b9d4e10d2/hanya-saya-yang-naik-level
WELCOME TO MY THREAD HANYA SAYA YANG NAIK LEVEL Genre: Action, Adventure, Fantasy, Shounen Tags: Accelerated Growth, Adapted to Manhwa, Adventurers, Appearance Changes, Betrayal, Character Growth, Determined Protagonist, Dungeons, Game Elements, Gate to Another World, Grinding, Hard-Working Protagonist, Hiding True Abilities, Kuudere, Level System, Male Protagonist, Modern Day, Near-Death Experien
Lapor Hansip
17-10-2019 15:18

Hanya Saya Yang Naik Level

WELCOME TO MY THREAD



HANYA SAYA YANG NAIK LEVEL





Hanya Saya Yang Naik Level



Genre: Action, Adventure, Fantasy, Shounen


Tags: Accelerated Growth, Adapted to Manhwa, Adventurers, Appearance Changes, Betrayal, Character Growth, Determined Protagonist, Dungeons, Game Elements, Gate to Another World, Grinding, Hard-Working Protagonist, Hiding True Abilities, Kuudere, Level System, Male Protagonist, Modern Day, Near-Death Experience, Necromancer, Personality Changes, Weak to Strong


Hello



Hanya Saya Yang Naik Level



Warning Before Reading



Hanya Saya Yang Naik Level



Hanya Saya Yang Naik Level



Hanya Saya Yang Naik Level



Copyright Notice


10 tahun yang lalu, "Gerbang" yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia mahluk ganas tiba – tiba saja muncul.


Mereka menyebut fenomena ini dengan istilah “Gerbang”.


Fenomena munculnya gerbang tersebut menyebabkan beberapa orang yang sehari – harinya hidup sebagai manusia biasa pada dunia nyata menerima kemampuan untuk memburu mahluk - mahluk ganas yang ada didalam gerbang dengan julukan "Pemburu".


Namun begitu, tidak semua pemburu diberikan kemampuan yang cukup kuat dalam menjalankan perburuan.


Nama saya Sung Jin-Woo, pemburu kelas E.


Aku adalah seorang pemburu yang terkenal dengan julukan “Yang Terlemah”


Aku adalah pemburu yang selalu mempertaruhkan nyawaku pada setiap perburuan gerbang dengan tingkat kesulitan terendah sekalipun atau bisa dikatakan sebagai yang terlemah di dunia.

Aku sama sekali tidak memiliki keterampilan apa pun untuk dibanggakan, bahkan nyaris tidak mendapatkan bayaran atas uang yang aku butuhkan ketika aku bertarung dalam setiap perburuan yang aku lakukan.

Setidaknya sampai aku bergabung dalam sebuah perburuan gerbang tersembunyi kelas D.

Aku seharusnya mati disana namun anehnya bukan kematian yang berhasil menjemputku melainkan kekuatan.


Aku justru tidak mati melainkan menerima kekuatan aneh yang hanya bisa dilihat oleh ku saja.

Sebuah kekuatan yang sangat misterius untuk naik level dengan mudah!


Kekuatan misterius ini hanya aku yang tahu!


Jika aku berlatih sesuai dengan permintaan kekuatan misterius yang ada dalam diriku maka aku akan diberikan kemampuan merubah levelku dari “pemburu terlemah kelas E” menjadi “pemburu terkuat kelas S”.


Diubah oleh 8caseofdeath
0
Hanya Saya Yang Naik Level
17-10-2019 15:20

Prologue

10 tahun yang lalu, "Gerbang" yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia mahluk ganas tiba – tiba saja muncul.

Mereka menyebut fenomena ini dengan istilah “Gerbang”.

Fenomena munculnya gerbang tersebut menyebabkan beberapa orang yang sehari – harinya hidup sebagai manusia biasa pada dunia nyata menerima kemampuan untuk memburu mahluk - mahluk ganas yang ada didalam gerbang dengan julukan "Pemburu".

Namun begitu, tidak semua pemburu diberikan kemampuan yang cukup kuat dalam menjalankan perburuan.

Nama saya Sung Jin-Woo, pemburu kelas E.

Aku adalah seorang pemburu yang terkenal dengan julukan “Yang Terlemah”

Aku adalah pemburu yang selalu mempertaruhkan nyawaku pada setiap perburuan gerbang dengan tingkat kesulitan terendah sekalipun atau bisa dikatakan sebagai yang terlemah di dunia.

Aku sama sekali tidak memiliki keterampilan apa pun untuk dibanggakan, bahkan nyaris tidak mendapatkan bayaran atas uang yang aku butuhkan ketika aku bertarung dalam setiap perburuan yang aku lakukan.

Setidaknya sampai aku bergabung dalam sebuah perburuan gerbang tersembunyi kelas D.

Aku seharusnya mati disana namun anehnya bukan kematian yang berhasil menjemputku melainkan kekuatan.

Aku justru tidak mati melainkan menerima kekuatan aneh yang hanya bisa dilihat oleh ku saja.

Sebuah kekuatan yang sangat misterius untuk naik level dengan mudah!

Kekuatan misterius ini hanya aku yang tahu!

Jika aku berlatih sesuai dengan permintaan kekuatan misterius yang ada dalam diriku maka aku akan diberikan kemampuan merubah levelku dari “pemburu terlemah kelas E” menjadi “pemburu terkuat kelas S”.

[Quest Harian sekarang tersedia.]

Suara wanita muda yang misterius tiba – tiba saja muncul didalam benakku.

Aku sendiri sempat bertanya – tanya dari mana datangnya suara tersebut.

Suara misterius yang keluar didalam benaku bukan berasal dari sebuah permainan, ataupun juga sebuah mimpi.

Apakah ini ilusi?

Jika Ilusi lalu mengapa suara misterius itu tampak begitu jelas terdengar di dalam kepalaku.

“Pop”

Tiba – tiba saja sebuah layar transparan muncul dihadapanku.

Layar ini mirip sekali dengan layar pemberitahuan yang ada di dalam sebuah “game” konsol yang sebelumnya pernah aku lihat.

Sial, aku bahkan bisa melihat jendela pencarian tampak melayang di udara.

'Mungkinkah ...?’

Aku kemudian membuka jendela informasi layar yang ada dihadapanku dengan sangat hati – hati sambil berdoa.

[Quest Harian: Persiapan untuk menjadi kuat]
• Press-up, 100 kali: Incomplete (0 / 100);
• Sit-up, 100 kali: Incomplete (0/100);
• Squat, 100 kali: Incomplete (0/100);
• Running, 10 km: Incomplete (0/10)

※ Peringatan: Apabila pemain tidak menyelesaikan quest tersebut maka pemain akan diberikan hukuman.

Ketika aku berhasil melihat isi dari “Quest” harian tersebut detik itu pula aku mulai memaki – maki secara reflex.

"Awww ... Sudah berapa hari ini ?!"

Nama ku Seong Jin-Woo, pemburu yang berada di peringkat E.

Ke mana pun aku pergi, gelar yang ada pada diriku ini akan selalu mengikuti.


Kekuatan Jin-Woo secara keseluruhan hampir sama dengan manusia biasa.

Namun begitu ada pengecualian dimana aku sedikit lebih kuat dibandingkan manusia biasa lainnya karena kemampuanku untuk sembuh dari luka – luka yang terjadi sedikit lebih cepat.

Namun begitu, selebihnya, Jin-Woo hampir sama dengan orang biasa di setiap aspek lainnya.

Jadi, menjadi suatu yang sangat wajar jika dalam setiap perburuan ia akan selalu berakhir terluka.

Tidak hanya itu, Aku bahkan hampir mati beberapa kali juga.

Tentu saja, bukan karena Seong Jin-Woo suka menjadi seorang pemburu.

Bagaimana mungkin aku suka menjadi seorang pemburu?

Berprofesi sebagai pemburu selain berbahaya bagiku, orang lain justru mengolok-olok pekerjaanku.

Bahkan untuk mengacaukan masalah lebih jauh, bayarannya juga cukup menyedihkan.

Jika bukan karena kebutuhan ku untu bantuan medis yang dibayarkan oleh Asosiasi Pemburu kepada para Pemburu dalam "daftar gaji" mereka, aku sudah pasti akan menyerahkan lisensi pemburu sejak dahulu kala kemudian berhenti sekarang juga karena aku ingin menjalani hidup layaknya orang normal.

Sayangnya, seseorang yang saat ini berada pada usia pertengahan dua puluhan dengan minim keterampilan kerja seperti Seong Jin-Woo, tidak memiliki cara lain selain tetap bekerja sebagai Pemburu jika ia ingin membayar biaya rumah sakit ibunya yang bisa menghabiskan jutaan won setiap bulan.

Haruskah orang mengatakan bahwa dia tidak punya pilihan dalam masalah ini?

Itu lah sebabnya, meskipun dia tidak mau menjadi seorang pemburu, namun begitu ia tidak memiliki pilihan lain selain harus ikut berpartisipasi dalam serangan yang diawasi oleh Asosiasi.
0 0
0
Hanya Saya Yang Naik Level
17-10-2019 15:21

Bab 1 Keputusan

Pemburu yang beroperasi di wilayah yang sama cenderung akan saling kenal dengan baik.

Jika ada Gerbang yang tiba – tiba muncul dan terbuka, semua Pemburu di distrik tersebut akan diminta untuk datang.

Itu lah sebabnya, Para Pemburu yang datang lebih awal mampu menghirup secangkir kopi yang dibagikan oleh seorang karyawan yang bekerja pada Asosiasi Pemburu dan berbagi ramah tamah antara satu dengan yang lainnya.

"Oh, hei. Tuan Kim, sebelah sini. Di sini." Teriak Pria berumur dengan nama Park.

"Oh? Tuan Park, apa yang kamu lakukan di sini?” Balas Tuan Kim.

“Kupikir kamu sudah menyerah untuk menjadi seorang pemburu?" Lanjut Tuan Kim.

"Yah, itu ... Istri saya sedang mengandung anak kedua kami." Ucap Tuan Park.

"Hahahaha, begitu ya? Jadi kamu butuh duit?”

Tuan Park mengangguk.

“Ya, bagi pemburu musiman yang tujuannya mendapatkan penghasilan besar sekali gebrak memang mau tidak mau harus berpartisipasi dalam serangan seperti ini menjadi pilihan yang terbaik, bukan begitu?" Tuan Kim tertawa gembira.

Tuan Park ikut tertawa kecil, sebelum bertanya pada Kim. "Ngomong-ngomong, mengapa aku merasa kalau Asosiasi semakin jarang memanggil para pemburu untuk melakukan serangan akhir – akhir ini? Apakah jumlah gerbang yang muncul semakin berkurang atau ada sesuatu?"

"Eii, tentu saja tidak. Itu karena para (“Guild”) sedang bekerja keras untuk membersihkan gerbang yang muncul dimana – mana. Jadi tidak ada hubungannya dengan Asosiasi. Aku juga sempat mendengar bahwa berbagai macam “Guild” sedang melompat dengan kedua kaki mereka karena ada keuntungan besar yang terlibat dalam hal ini” Balas Tuan Kim.

"Yah, kalau begitu, karena serangan ini diawasi oleh Asosiasi, bukankah berarti kita pasti akan aman, bukan begitu?" Tuan Park memandang sekelilingnya, lalu mulai gugup.

Jika “Guild” tidak terlibat dalam aktivitas perburuan hari ini, itu berarti perburuan yang akan kita lakukan hari ini tidak cukup menguntungkan bagi mereka.

Jika tidak cukup menguntungkan yang maka tingkat kesulitan pada gerbang yang akan diserang akan rendah.

Tentu saja itu hanyalah logika sederhana karena pada akhirnya tidak ada satupun di dunia ini yang 100% absolut.

Bukan hanya Tuan Park yang tampak gugup menghadapi perburuan kali ini melainkan juga Pemburu lain yang ikut - ikutan gugup kemudian melirik kekanan dan kekiri.

"Hmm. Aku penasaran ...." Tuan Kim menyelesaikan sisa kopi yang ada ditangannya, sambil berusaha untuk menghindari jawaban temannya, sebelum akhirnya tersenyum bahagia ketika melihat seorang pemuda datang kedalam kelompok mereka.

"Uh! Dia di sini. Hei, Tuan Seong !! Tuan Seong!" Tuan Kim berteriak memanggil.

Melihat pemuda bernama Seong Jin-Woo datang seketika itu pula para pemburu lainnya ikut - ikutan gembira saat menemukan Seong Jin-Woo ternyata ikut dalam perburuan ini

"Ah, halo."

Pemuda yang baru saja datang itu tidak lain adalah Seong Jin-Woo.

Jin-Woo melakukan anggukan sederhana dan cukup bersahabat kepada Tuan Kim yang entah mengapa begitu gembira saat Tuan Kim berjalan melewati Jin-Woo.

Setelah memastikan diri bahwa pemuda yang datang adalah Jin-Woo, Tuan Kim mulai tertawa sambil berbicara dengan tegas. "Karena Jin-Woo ada disini otomatis kita tak perlu khawatir lagi karena hari ini kita pasti akan baik-baik saja."

Mata Tuan Park melebar terkejut, lalu buru-buru bertanya kepada tuan Kim.

“Mengapa kau yakin kalau perburuan kali ini pasti akan aman? Mengapa demikian? Apakah Pemburu Seong Jin-Woo itu benar-benar kuat?"

"Ahh. Masa kau tidak tahu? Yang benar saja? kamu tidak tahu siapa dia? Dia adalah seorang Pemburu yang mulai bekerja tidak lama setelah kamu pergi, dan setiap Pemburu di sini tahu siapa anak itu sebenarnya."

"Dia benar-benar sekuat itu?” Balas Tuan Park penasaran.

“Tunggu kalau dia kuat mengapa dia bekerja untuk Asosiasi, lalu? Mengapa tidak bergabung saja dengan “Guild” besar atau sebagai pekerja lepas?" Tuan Kim terkikik lagi ketika mendengar ucapan Tuan Park sebelum akhirnya menyipitkan matanya. "Kamu tahu apa nama panggilan pemuda itu?"

"Bagaimana aku tahu itu? Ayo, bung. Katakan saja padaku." Balas Tuan Park Penasaran.

"Pemburu terlemah umat manusia." Balas Tuan Kim sambil tersenyum.

".... Terlemah?” Tuan Park kaget.

“Ah kamu salah kali? Apa aku tidak salah dengar dengan julukan yang baru saja kau sebutkan? Bukan yang terlemah tapi yang terkuat?"

"Sobat, itu nama panggilan untuk Choi Jongin pemburu dengan kelas S”

“Berbeda dengan Bocah itu yang dijuluki sebagai pemburu terlemah”

“Bahkan Aku cukup yakin dia adalah satu – satunya pemburu terlemah di Republik Korea."

"Benarkah?" Tuan Park mulai kebingungan.

Mengapa Pemburu lainnya menyapa Seong Jin-Woo dihadapannya jika dia benar-benar lemah?

Lagi pula, bukankah mereka membutuhkan seseorang untuk memercayai hidup dan mati mereka jika segalanya berjalan tidak sesuai rencana?

Tuan Park tidak bisa benar-benar memahami reaksi Pemburu lain.

Ketika Tuan Park menyatakan ini dan itu, Tuan Kim terkekeh. "Eii! Penggerebekan yang diikuti oleh Seong Jin-Woo hanya akan memiliki kesulitan yang rendah karena dia sangat lemah.”

“Asosiasi tidak akan pernah mempercayakan perburuan yang tidak aman kepadanya bukan begitu?”

“Mereka tidak ingin melihatnya terbunuh, Oke?"

Baru kemudian ekspresi Tuan Park menjadi jelas. "Oh begitu, benar juga ya"

Istri Tuan Park sangat khawatir dengan keselamatan Tuan Park karena perburuan kali ini akan menjadi pengerebekan pertamanya masuk kedalam gerbang.

Jujur saja, bahkan Tuan Park sendiri merasa khawatir dengan pengerebekan yang akan terjadi sebentar lagi.

Namun, Tuan Park bisa lebih tenang setelah mendengarkan perkataan Tuan Kim.

Tuan Park merasa beban berat yang selama ini ia pikul terangkat menjadi ringan dalam benaknya.

Tuan Kim kemudian melanjutkan. "Ada desas-desus yang belum lama berselang”

“Desas desus itu mengatakan bahwa Jin-Woo sempat terluka karena ikut dalam serangan gerbang kelas E”

“Pemuda tersebut kemudian menghabiskan waktu perawatan hingga seminggu di rumah sakit."

"Pemburu bisa terluka pada penggerebekan gerbang kelas E?” Tuan Park terkejut.

"Itu benar. Tidak ada yang pernah menyangka kalau Pemburu bisa terluka saat melakukan penyerangan gerbang kelas E”

“Mereka bahkan tidak membawa seorang Penyembuh dalam kelompok mereka rupanya!"

"Itu lah sebabnya mengapa dia menghabiskan waktu perawatan hingga seminggu di rumah sakit ?! Pu-hahaha!"

Ketika Tuan Park mulai berbicara terlalu keras, Tuan Kim buru-buru menyuruhnya diam.

"Hentikan, Bung. Tuan Seong mungkin mendengarmu."

"Ah iya aku lupa. Aku tidak memikirkan itu." Tuan Park dengan hati-hati memeriksa reaksi Jin-Woo sambil terus tertawa.

Syukurlah, jaraknya cukup jauh dan pemuda bernama Jin-Woo itu sepertinya tidak mendengar ucapan mereka.

Namun begitu, tentu saja, mereka keliru karena “aku bisa mendengar semuanya, dasar tua – tua bangka" ketus Jin-Woo.

Senyum pahit tampak terlihat pada raut wajah Jin-Woo, namun begitu sang pemuda berusaha keras untuk mengabaikan mereka.

Pada saat-saat seperti hari ini, dia tidak bisa tidak menyalahkan indera pendengarannya yang luar biasa akut.

Tampaknya dia datang terlalu dini karena proses penggerebekan gerbang kelas D belum dimulai.

"Apakah saya datang terlalu awal?" Jin-Woo melihat ke sekeliling untuk sementara waktu menunggu.

Sang pemuda kemudian melihat karyawan Asosiasi tampak sedang membagikan kopi hangat.

Melihat hal ini Jin-Woo mulai kembali berjalan untuk mendekati karyawan tersebut lalu berkata: "Bisakah aku mendapatkan secangkir kopi juga?"

"Oh. Seong Jin-Woo... aku benar-benar minta maaf, tapi kita kehabisan kopi barusan."

"......" Angin Musim Dingin menyapu ujung hidungnya.

Jin-Woo diam-diam menyeka hidungnya dengan jari telunjuknya.

Betapa hari ini tampak begitu menyedihkan, karena entah mengapa kopi yang ingin ia cicipi tiba – tiba habis begitu saja.

#Beberapa jam kemudian didalam gerbang kelas D

Ilustrasi


"Mengapa Anda bertahan menjadi seorang Pemburu, Tuan Seong Jin-Woo?" Ucap seorang gadis cantik yang memiliki profesi sebagai penyembuh “Healer”.

"Maafkan saya." Jin-Woo menunduk dan meminta maaf.

Gadis muda dan cantik dihadapan Jin-Woo adalah seorang penyembuhan dengan nama Yi Ju-Hui.

Sang gadis tampak menunjukkan raut wajah yang cukup sedih berbalut dengan ekspresi cemberut. "Aku tidak berusaha membuatmu untuk meminta maaf kepada ku tahu?”

“Aku hanya mengkhawatirkanmu. Jika kamu terus bertempur seperti ini, cepat atau lambat kamu akan dihadapkan pada situasi yang benar-benar berbahaya."

Jin-Woo melirik kearah Yi Ju-Hui lalu melihat para Pemburu lainnya yang masih berkelahi di sana.

Ketika seseorang masuk melalui Gerbang, seseorang akan tiba di tempat yang disebut 'lorong bawah tanah'.

Pangkat lorong bawah tanah khusus ini seharusnya berada di sekitar kelas D.

Selusin-plus Pemburu tampak sedang melawan para mahluk ganas di dalam lorong bawah tanah ini.

Mereka semua tampak banyak mengeluarkan keringat.

Sayangnya, untuk peringkat E seperti Jin-Woo prestasi untuk bertarung melawan mahluk – mahluk diperingkat D hampir mustahil.

Biasanya, pekerjaan untuk menyembuhkan Pemburu yang terluka jatuh pada seorang “Healer”.

Karena dia selalu terluka saat penggerebekan, Jin-Woo agak terkenal di kalangan Penyembuh.

Yi Ju-Hui dengan hati-hati bertanya padanya. "Mungkin, apakah ada alasan mengapa kamu tidak bisa menyerah menjadi Pemburu?" Tanya sang gadis.

Jin-Woo dengan tegas menggelengkan kepalanya.

Dia tidak ingin mengungkapkan sesuatu yang bersifat pribadi kepada orang lain.

"Aku hanya melakukan ini sebagai hobi. Jika aku tidak melakukan ini, aku mungkin akan mati karena bosan," Yi Ju-Hui cemberut lagi mendapatkan respons yang tidak masuk akal dari Jin-Woo.

"Jika kamu melanjutkan hobimu ini, kamu akan mati tahu?" Jin-Woo akhirnya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ju-Hui.

"Ah, ahh !! Jangan tertawa! Jangan! Luka-lukamu mungkin bertambah parah !!" Jin-Woo terkikik sebelum bertanya padanya. "Di mana kamu bahkan belajar mengatakan hal seperti itu?" "Apa maksudmu, di mana? Itu dari Tuan Kim sebelah sana." "Aigoo, ahjussi itu benar-benar pergi dan melakukannya, kan ..." Ketika mereka mengobrol dan tertawa, tidak terasa perawatan luka yang terjadi ditubuh Jin-Woo hampir berakhir. Yang tampaknya juga mengakhiri penyerbuan hari itu.

Ekspresi Jin-Woo tampak serius "Aku hanya membunuh satu mahluk ganas hari ini."

Makhluk peringkat E, tidak kurang.

Seong Jin-Woo mulai bermain-main dengan kristal ajaib peringkat E yang ada di tangannya.

Kristal ajaib ini ditangannya adalah kristal tingkat rendah yang berasal dari mahluk ganas peringkat E.

Kristal ini memiliki nilai kurang dari seratus ribu won.

Untuk sesuatu yang dia pertaruhkan untuk diperoleh, itu adalah jumlah yang sangat kecil.

'Kristal ajaib dari monster peringkat C bisa menjual lebih dari sepuluh juta won, Sayang sekali, peringkat pemburu dikelas E seperti dirinya tidak bisa membunuh mahluk ganas dengan pangkat setinggi C.

Tiba-tiba saja terdengar suara orang berteriak. "Eh? Hei, ada pintu masuk lain di sini."

Para Pemburu terkejut lalu mulai bergegas ke sana.

"Hah, itu benar." "Benar-benar ada jalan lain?" Seperti ada pintu masuk yang tersembunyi di dalam lorong bawah tanah ini.

"Sebuah Lorong ganda, Lorong didalam Lorong? Apakah hal ini benar – benar dimungkinkan?" Tuan Song, yang memiliki pengalaman lebih dari sepuluh tahun sebagai pemburu, melihat pintu masuk yang tersembunyi didalam Lorong ini membuat dirinya terkejut bukan main.

Bagian dalam lorong yang tersembunyi tampak gelap dan tidak ada yang bisa dilihat.

Tuan Song mengaktifkan spesialisasinya, sihir api, lalu melemparkan api tersebut masuk lebih jauh ke dalam lorong.

Api yang menyala maju mulai menerangi siisi lorong.

Jalan setapak yang ada dihadapan mereka cukup panjang dan dalam.

Tak lama kemudian, api yang terlempar tampak kehilangan momentum lalu jatuh tersungkur ke tanah dan hancur.

Jalan itu diselimuti kegelapan sekali lagi.

"Hmm ..... Semuanya, berkumpullah. Ayo kita rapat." Tuan Song sebagai orang yang memimpin penyerangan ini meminta para Pemburu lainnya untuk berkumpul.

Jin-Woo sudah sedikit sembuh dari lukanya, menyebabkan dirinya bersama dengan Yi Ju-Hui bisa bergabung dalam rapat.

Song berbicara sambil menyapu pandangannya ke para Pemburu yang berkumpul. "Seperti yang kamu ketahui, saat ini, Gerbang tidak akan menutup kecuali bos dari lorong bawah tanah ini terbunuh”

“Gerbang itu sendiri akan tetap utuh dan tidak akan pernah tertutup walaupun kita membantai semua mahluk ganas tapi tidak membunuh bosnya”

Song menunjuk ke arah pintu masuk yang tersembunyi.

Pemburu saling bertukar pandangan yang berarti lalu mengangguk.

Tidak ada yang bisa tidak setuju dengan gagasan itu.

"Kita seharusnya menyampaikan informasi ini kembali ke Asosiasi dan menunggu keputusan mereka, tapi ... Tapi, jika kita melakukan itu, kita mungkin akan kehilangan kesempatan untuk membunuh bos yang ada didalam lorong ini kepada Pemburu lain, dan hasil jerih payah serangan hari ini akan tidak menguntungkan buat kita. " Ekspresi para Pemburu tampak kecewa.

Wajah Tuan Park lebih kecewa lagi daripada siapa pun karena dia membutuhkan banyak uang untuk kehamilan istrinya.


"Perawatan pasca operasi memakan banyak uang saat ini, kau tahu ..."

“Kalau terus begini, tidak ada artinya kita mundur sekarang”

“Itu sebabnya aku lebih suka jika kita bantai dulu bos yang ada dalam Lorong ini sebelum meninggalkan ruang bawah tanah ini ... Jadi, bagaimana menurut kalian semua?"

Para pemburu kemudian jatuh ke dalam perenungan yang mendalam.

"...."

"...."

Kenyataannya adalah, tidak ada seorang pun di sini yang bisa mengetahui situasi saat ini ataupun menjamin keamanan mereka.

Namun begitu, dimata mereka, kesulitan gerbang yang ada dihadapan mereka ini terbukti sangat rendah.

Logikanya jika suatu gerbang memiliki peringkat yang rendah maka otomatis lorong didalam Lorong yang ada didalam ruang bawah tanah tidak mungkin sulit.

"Hmm, hmm." Song terbatuk untuk menarik perhatian semua orang yang ada disekitarnya "Karena kita memiliki tujuh belas orang di sini, mari kita ambil suara terbanyak ya? Begitu keputusan telah dibuat, tidak ada yang mengeluh. Jadi? Bagaimana?"

Yang lain menganggukkan kepala mereka setelah mendengar saran dari Song.

Tidak ada yang tidak setuju dengannya.

"Aku memilih untuk maju." Song mengangkat tangannya.

Kemudian, Pemburu lainnya mulai mengangkat tangan mereka satu per satu. "Saya juga."

"Hitung juga aku."

Park adalah orang pertama yang mengangkat tangannya, diikuti oleh Kim dan beberapa Pemburu lainnya.

Tentu saja, mereka yang tidak setuju juga banyak.

"Ayo kembali."

"Aku merasa lebih baik menunggu keputusan Asosiasi."

Dua kubu yang berseberangan saling berhimpitan dan akhirnya, hanya tinggal menyisakan dua suara penentu dan penentu tersebut jatuh ke tangan Jin-Woo dan Yi Ju-Hui.

"Maafkan aku ...." Yi Ju-Hui membungkuk ke Song dan menambahkan suaranya untuk 'mundur'.

Jadi, penghitungan suara untuk 'maju' dan 'mundur' adalah pada 8: 8.

Jalan buntu.

Song bertanya pada Seong Jin-Woo yang ragu-ragu selanjutnya.

"Dan Anda, Tuan Seong?"
Diubah oleh 8caseofdeath
0 0
0
Hanya Saya Yang Naik Level
18-10-2019 09:27

Bab 2 Lorong didalam Lorong ("Dual Dungeon")

Semuanya sekarang tergantung pada keputusan seorang pemburu bernama Seong Jin-Woo.

Pemuda dengan julukan “Yang Terlemah” adalah pria yang akan menentukan apakah ekspedisi hari ini terus dilanjutkan atau tidak.

Jin-Woo gugup, Jari-jari sang pemuda tampak mengepal erat sebuah kristal ajaib peringkat E di tangannya.

Jin-Woo kemudian melirik kearah gadis yang ada disebelahnya.

Yi Ju-Hui tampak menggeleng - gelengkan kepala sang gadis sebagai tanda kekhawatiran dengan keadaan saat ini.

Sepertinya sang gadis benar - benar khawatir.

Kalau boleh jujur, Jin-Woo juga merasa khawatir dan tidak tenang.

Sang pemuda tidak akan pernah mencoba mengambil risiko yang tidak perlu.

Bukan karena sang pemuda minim kemampuan untuk melakukannya, tetapi dia juga tidak cukup berani untuk bertarung demi sesuatu yang tidak jelas atau berbahaya.

Namun begitu, pada akhirnya, Wajah adik Jin-Woo tiba – tiba saja terlintas bagai bayang – bayang dalam benaknya.

Jin-Woo memiliki seorang adik perempuan yang akan menjadi mahasiswi beberapa bulan mendatang.

Adiknya membutuhkan dana segar untuk masuk kedalam sebuah universitas terkemuka.

'Saya tidak punya uang atau tabungan'

Saat ini, Jin-Woo berusia dua puluh empat tahun.

Seharusnya, Jin-Woo berada pada usia di mana sang pemuda harus berkonsentrasi pada studi akademisnya.

Namun begitu, sang pemuda tidak melanjutkan program studi akademisnya.

Ia lebih memilih untuk menyerahkan mimpi akademisnya itu karena dirinya memiliki cukup uang untuk sekolah.

Atas hal tersebut, dia benar-benar tidak ingin adik perempuannya ikut mengalami tragedi yang sama dengan dirinya.

Dimata Jin-Woo, Saat ini, setiap sen sangat berharga baginya.

Pada akhirnya, bukan hanya Tuan Park yang membutuhkan uang hari ini tapi juga Jin-Woo.

Jin-Woo mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Aku memilih untuk maju."

Ketika Jin-Woo memutuskan untuk ikut maju seketika itu pula Yi Ju-Hui mengembuskan nafas yang rasanya begitu berat.

Lorong yang begitu dalam tampak begitu panjang dihadapan mereka.

Tuan Song dan Pemburu kuat lainnya tampak berjalan pada barisan depan untuk memimpin ekspedisi ini.

Tuang Song telah menciptakan sebuah sihir api yang menyala kecil di atas telapak tangannya.

Api kecil tersebut berfungsi untuk menerangi jalan yang akan mereka lewati di depan.

Tuan Kim kemudian tiba – tiba saja bertanya kepada Tuan Song.

"Bukankah kita sudah berjalan sangat jauh?”


“Seharusnya kita perlu mempertimbangkan waktu yang kita butuhkan untuk melarikan diri dari sini ?"

"Sudah berapa lama kita berjalan?"

Tuan Kim kemudian mulai memandang arlojinya.

"Sekitar .... empat puluh menit."

"Gerbang akan otomatis tertutup satu jam setelah bos dalam gerbang terbunuh, jadi kita punya waktu sekitar dua puluh menit lagi."

"Jika kita tidak bisa melihat bos dalam dua puluh menit ke depan, saya sarankan untuk menyerah dan kembali pulang saja."

"Saya rasa begitu."

Song menganggukkan kepalanya beberapa saat, sebelum menunjuk dengan ibu jarinya.

"Tuan Kim? Hati – hati, pencahayaan sangat minim dan gelap di depan, jadi kenapa kau tidak memposisikan dirimu berada di belakangku?"

Kim memandangi Tuan Song selama satu atau dua detik, sebelum akhirnya mengeluarkan smartphone-nya.



Lorong yangg sebelumnya gelap mulai menjadi terang setelah cahaya smartphone Tuan Kim menyala.

"..."


Song mengalihkan pandangannya antara api dan smartphone, sebelum ia juga tanpa kata-kata mulai mencari teleponnya sendiri dan mulai menyalakan lampu pada smartphonenya.

Bagian paling belakang dari kelompok ekspedisi ini diisi oleh Seong Jin Woo dan Ju-Hui.

Bagian paling belakang adalah tempat yang disediakan untuk Seong JinWoo karena saat ini sang pemuda terluka cukup parah belum lama ini.

Bagian paling belakang juga ditempati oleh Yi Ju-Hui karena gadis tersebut tidak memiliki keterampilan tempur apa pun.

Jin-Woo menggaruk bagian belakang lehernya.

"Maafkan aku, aku ... aku benar-benar minta maaf."

"Tentang apa?" Tanya Yi Ju-Hui bingung.

"Tentang, kamu tahu lah, masalah yang menyeretmu ke sini tentu melawan keinginanmu."

Ucap Jin-Woo menjelaskan bahwa ia meminta maaf karena pada akhirnya keputusan terakhir yang datang dari dirinya menyebabkan ekspedisi perburuan terus berlanjut walaupun berbahaya.

"Aku baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu memikirkanku." Balas sang gadis.

Jin-Woo dengan hati-hati mempelajari ekspresi Ju-Hui.

Dia jelas tidak terlihat baik sama sekali.

Jin-Woo memiringkan kepalanya sambil mencoba membaca suasana hati sang gadis dengan lebih baik lagi.

Sebelum akhirnya sang pria bertanya lagi kepada sang gadis "Apakah kamu ... benar-benar baik-baik saja?"

"Tentu saja tidak” Ketus sang gadis.

“Apakah kamu waras?!”

“Lihat luka – lukamu! Apakah kamu gila?”

“Kenapa kamu memutuskan untuk melanjutkan ekspedisi dengan kondisi seperti ini?”

“Jika kamu ditusuk beberapa inci lebih tinggi, kamu akan mati dengan lubang di dadamu sekarang!”

“Coba kau lihat luka-luka yang ada di lengan dan kakimu?”

“Aku sudah bekerja sangat keras untuk menyembuhkanmu namun, namun, entah bagaimana, justru kamu ingin melemparkan dirimu kedalam kematian!!!”

“Mengapa kau memutuskan untuk melanjutkan ekspedisi ini lebih lanjut?”

“Apakah kamu tahu, risiko bahaya yang akan kita hadapi saat ini!"

Sang gadis berbicara begitu cepat kepada Jin-Woo yang menyebabkan pemuda itu kemudian berpikir.

Walaupun emosional, pernyataan sang gadis tidak salah.

Jika bukan karena kehadiran sang gadis dari kalangan Penyembuh diperingkat B, Jin-Woo tidak akan mampu melanjutkan ekspedisi ini apalagi bekerja sebagai pemburu.

Tidak heran mengapa Penyembuh itu dihargai sangat tinggi oleh Asosiasi.

"Tunggu, sekarang setelah kupikirkan lagi, aku berutang banyak pada Nona Ju-Hui, bukan?" Ju-Hui adalah pemburu tipe Penyembuh, yang paling langka.

Tidak hanya itu, sang gadis juga sangat jenius berada di peringkat 'B'.

Asosiasi selalu memintanya untuk menyembuhkan Pemburu yang terluka setiap kali Gerbang muncul.

Dan setiap kali Jin-Woo berpartisipasi dalam serangan, sang pemuda hampir selalu berakhir di sebelahnya.

Sang pemuda kemudian mulai “flashback” kemasa – masa ekspedisi perburuan gerbang terdahulu bersama sang gadis.

"Apakah kamu kesakitan?” Tanya Ju-Hui.

“Tunggu sebentar."

"Bukankah aku sering melihatmu sebelumnya ...?

“Kebetulan sekali, apakah kamu orang yang sama kala itu?"

"Kamu terluka lagi?"

"Sepertinya, kita sering bertemu satu sama lain saat ini, bukan?"

"Kamu mengatakan bahwa namamu adalah Tuan Jin-Woo? Nah, itu ... Apakah kamu akan baik-baik saja?"

"Mungkin, uhm, kehidupan sebagai pemburu ini tidak cocok untukmu ...."

".... Kamu di sini lagi."

"Tunjukkan padaku lenganmu”

“Tidak, bukan yang itu”

“Gunakan perban di lengan itu. Maksudku yang satunya lagi, yang patah tulang."

Pada saat ini, Jin-Woo merasa bersyukur atas semua yang telah sang gadis lakukan.

Karena sang gadis selalu menolongnya setiap kali dirinya terluka.

Oleh sebab itu Jin-Woo sering mengucapkan permohonan maaf kepada Ju-Hui karena merasa telah merepotkan sang gadis setiap kali ekspedisi perburuan berlansung.

"..."

Ketika Jin-Woo tampak putus asa, Ju-Hui juga mulai merasa bersalah karena kerap memarahi Jin-Woo hingga akhirnya sikap sang gadis mulai melunak.

"Kamu benar-benar minta maaf?" Tanya Ju-Hui kepada Jin-Woo.

"Ya, benar." Balas Jin-Woo.

Ju-Hui jatuh ke dalam sebuah perenungan yang dalam untuk sesaat, sebelum dia mulai menatap sang pemuda dengan sudut mata dan bibirnya.

"Jika kamu benar-benar minta maaf, lalu ... bagaimana kalau kamu membelikanku makan malam kapan-kapan?" Celetuk Ju-Hui.

Nah, ucapan sang gadis adalah hal yang benar-benar tidak terduga.

Jin-Woo menatapnya dengan ekspresi cukup terkejut kemudian menemukan senyum sang gadis yang begitu menggoda tampak terukir di wajah sang gadis remaja.

'Seorang gadis remaja, ya .....'

Ju-Hui adalah seorang gadis muda yang baru saja memasuki usia dua puluhan.

Bukankah sang gadis sempat mengatakan bahwa dirinya akan berusia dua puluh satu tahun?

Jika rambutnya yang panjang diganti dengan sesuatu yang lebih pendek, kemudian pakaiannya saat ini juga diganti dengan seragam sekolah, maka gadis dihadapannya benar-benar terlihat seperti siswi SMA.

Pikiran Jin-Woo mulai berkeliaran membayangkan Ju-Hui dalam seragam sekolah dan seketika itu pula wajahnya agak memerah.

Ketika Jin-Woo ragu-ragu dengan jawabannya, pipi Ju-Hui mulai mengembang seperti balon. "Apa ... Kamu tidak mau membelikanku makan malam?"

Namun begitu, sebelum Jin-Woo sempat menjawab ajakan Ju-Hui seketika itu pula suara seorang pemburu berteriak

"Kami menemukannya!!"

"Ini ruangan bos!"

Tatapan Jin-Woo dan Ju-Hui secara otomatis bergeser ke depan kemudian melihat sebuah pintu dengan batu yang sangat besar tampak menghalangi jalan.

Para Pemburu kemudian bergegas mengitari pintu tersebut.

"Apa ini? Kenapa ada pintu di ujung gua?"

"Pernahkah kita menemukan ruang bos dengan pintu sebelumnya?"

"Ini pasti pertama kalinya, aku yakin itu."

"Ini ... Bukankah ini terasa sangat berbahaya?"

Para pemburu mulai mengungkapkan keraguan dan ketakutan mereka satu per satu.

Mereka mulai dihadapi dengan rasa takut karena kehidupan mereka sendiri dipertaruhkan di sini oleh sebab itu mereka harus lebih berhati-hati dan teliti.


Namun begitu pepatah mengatakan bahwa, jika seseorang menjadi terlalu berhati-hati maka pada akhirnya akan gagal menangkap peluang ada dihadapannya.

Tuan Song memperkirakan kondisi saat ini adalah salah satu kondisi kasus yang masuk dalam kategori tersebut.

"Apakah kalian semua berencana untuk kembali dengan tangan kosong setelah sampai sejauh ini?" Song meletakkan tangannya di pintu.

"Jika itu yang kalian inginkan, putuskan sekarang. Namun aku akan tetap melangkah maju ke depan, bahkan jika perlu, aku akan pergi sendiri." Song adalah pemburu kelas C dengan sepuluh tahun pengalaman.

Jika bukan karena usianya, yang lebih dari enam puluh tahun, dia bisa bergabung dengan “Guild” besar berkat keahliannya yang sangat baik.

Ketika seorang Pemburu berkelas seperti Tuan Song mulai menyuarakan pendapatnya dengan penuh keyakinan, sudah pasti yang lain akan mulai merasa percaya diri.

"Tunggu sebentar."

Beberapa pemburu mulai teringat dengan desas-desus fenomena lorong didalam lorong.

"Aku dengar ada harta karun yang luar biasa tersembunyi di dalam sebuah Lorong seperti ini"

"Ya, aku juga pernah mendengar hal itu dari sebuah “Guild” kecil hingga menengah tertentu yang pernah menemukan ruang bawah tanah ganda dan tumbuh menjadi “Guild” besar hampir dalam semalam."

"Mahluk ganas yang ada di dalam ruang bawah tanah selalu memiliki peringkat yang sama di mana pun mereka berada, jadi perburuan itu sendiri seharusnya tidak terlalu sulit ..."

Bagaimana jika ada harta yang luar biasa tersembunyi seperti yang dikatakan rumor?

Mahluk ganas yang ada di luar pintu ini kira-kira sama kesulitannya dengan makhluk peringkat D atau E yang mereka lawan sampai sekarang?

"Aku tidak bisa membiarkan orang tua itu memonopoli semua harta karun yang mungkin bisa didapatkan dalam ekspedisi ini"

"Tidak mungkin."

"Perawatan pasca kelahiran, biaya sekolah untuk anak yang lahir, dan jangan lupa, sewa bulan ini juga hampir jatuh tempo ..." Pendapat para Pemburu sekarang ada di halaman yang sama.

Jin-Woo juga menguatkan diri.

'Aku tidak bisa kembali ke rumah hanya dengan kristal ajaib kelas E ini saja. Setidaknya, aku harus membantai mahluk ganas di peringkat D, dan peringkat E !! ‘

'Bahkan tidak harus mahluk ganas yang aku bantai.’

'Jika itu harta karun'

Harta karun atau jarahan langka yang bisa ditemukan di bawah sini biasanya akan dibagi sama rata di antara semua peserta dalam ekspedisi ini.

"Jika kita mendapat rampasan yang besar hari ini, maka keadaan keuangan dirumah akan membaik untuk sementara waktu."

Jin-Woo dengan gugup menelan ludahnya.

Ju-Hui melihat ekspresi tekad sang pemuda dan bertanya padanya Jin-Woo "Begitukah ekspresi dari seseorang yang hobinya sebagai pemburu?"

Jin-Woo mengangkat bahu. " jelas." "..... Eh?"

Song mendorong pintu ruang bawah tanah lalu berderit terbuka.

Pasti ada semacam mekanisme yang membuat pintu dihadapannya tampak berat.

Sekarang pintu itu terbuka lebar, kondisi ruangan yang luas dan besar mulai tampak dihadapan mereka.

Para Pemburu kemudian buru-buru masuk.

"Ayo masuk."

Jin-Woo takut jika dirinya akan tertinggal, jadi sang pemuda menggenggam tangan Ju-Hui lalu berlari masuk.

"Ah ....."

Wajah Ju-Hui sedikit memerah melihat perilaku Jin-Woo namun tetap mengikuti sang pemuda.

Setelah para pemburu berada di dalam, banyak obor yang berjejer rapi di atas dinding mulai menyala pada saat bersamaan.

Berkat terangnya nyala api, kondisi ruangan yang baru saja mereka masuki tampak terlihat begitu jelas.

"Apa-apaan ini? Api menyala sendiri?"

"Aku baru, pertama kali melihat hal seperti ini."

"Ada yang ... berbeda dengan tempat ini."

Pemburu dengan hati-hati mempelajari lingkungan yang ada disekitar mereka saat ini.

Suasana keseluruhan tempat yang mereka duduki saat ini mirip dengan sebuah kuil kuno.

Bukan hanya kuno tapi tua dan agak menyeramkan.

Mungkin ada sesuatu yang dikubur dan disembunyikan di bawah ruangan ini.

Lumut dan gulma dapat terlihat secara sporadis di lantai, dinding, dan langit-langit.

Beberapa Pemburu mulai berkumpul ke belakang.

"Agak menyeramkan di sini, bukankah begitu?"

"Ada yang seperti mengawasi kita? "

"Cih! Jangan katakan sesuatu yang bisa membawa sial ya!"

"Mari kita akhiri ini dengan cepat dan pulang.”

"Ruangan ini sangat besar berbentuk kubah yang besar dan megah”

Ruangan ini sama besarnya dengan beberapa stadion Olimpiade, yang ditemukan di Seoul bahkan jika disatukan mungkin bahkan lebih besar dari itu.

"Itu .... benda di sana itu ..."

"Ti-tidak mungkin, masa itu bos?"

Di bagian terdalam dari kubah tersebut terdapat sebuah patung batu raksasa yang sedang duduk di atas singgasana.

Itu adalah patung batu dewa besar!

"Oh, tuhan ...." "Wow."

Para pemburu tersikap kaget.

Bayangan pertama yang muncul di kepala Jin-Woo adalah Patung “Liberty” di “New York”.

Jika patung itu duduk di kursi, bukankah akan sebesar patung dewa yang ada dihadapannya saat ini?

"Sepertinya, itu bukan bos melainkan sebuah karya seni belaka, bukan begitu?"

Benda-benda yang dipegang oleh masing-masing patung batu itu bervariasi.

Ada yang memegang senjata, ada yang membawa buku, ada yang membawa alat musik, namun ada juga yang membawa sebuah obor.

"Seolah-olah ...."

"Mereka seperti patung-patung kuil suci atau semacamnya."

Song menyelesaikan apa yang ingin dikatakan Kim.

"Mm?"

Kemudian, Song menemukan sesuatu di bawah kakinya.

"Ini ... Bukankah ini formasi sihir?"

Dia menemukan formasi sihir yang belum pernah dia lihat sebelumnya terletak di tengah-tengah kuil ini.

Itu dulu.

"Permisi, Tuan Song? Ahjussi, ada yang ditulis di sini. Bisakah Anda datang ke sini dan melihatnya?"

Salah satu Pemburu menemukan sebuah patung yang berbeda dari yang lain lalu memanggil Song.

Song kemudian berhenti mempelajari formasi sihir yang tertulis diatas lantai.

Semua Pemburu lain ikut berkumpul di sekitar patung yang dituju Song.

Hanya patung ini yang menampilkan sepasang sayap sambil membawa batu tulis.

Yang menjadi fokus saat ini adalah tulisan yang diukir di atas batu tulis tersebut.

Song memandangi batu tulis itu dan bergumam.

"Ini alfabet Rune."

Rune 'alfabet'.

Kata-kata yang cukup aneh, dan hal ini hanya bisa ditemukan di dalam ruang bawah tanah;

Hanya para Pemburu terkait sihir yang bisa menguraikan kalimat yang tertulis.

"Hukum-hukum kuil Karutenon."

Song membaca ayat pertama.

Dengan wajah yang sangat gugup, Jin-Woo mendengarkan isi dari kata – kata yang tertera pada batu tulis tersebut sebagaimana dibacakan oleh Tuan Song.

Namun, seorang pemburu tiba-tiba saja menarik lengannya.

Ketika dia melihat ke belakang, dia melihat raut wajah Ju-Hui mulai menunjukan wajah yang pucat pasi.
0 0
0
Hanya Saya Yang Naik Level
18-10-2019 16:09

Bab 3 Tiga Hukum

Raut wajah Ju-Hui tampak begitu pucat; Entah apa yang menyebabkan wajah sang gadis begitu ketakutan.

Begitu juga dengan Seong Jin-Woo yang ikut – ikutan terkejut dengan pemandangan dihadapannya.

“Mengapa Ju-Hui begitu ketakutan?” Gumam Jin-Woo.

"Ada apa?” Tanya Jin-Woo.

“Apakah kamu sedang pusing atau sakit?" Jin-Woo kembali bertanya.

"Coba lihat di sana. Di sana." Balas Ju-Hui terbata – bata.

Mata Jin-Woo mengikuti jari telunjuk Ju-Hui yang saat ini gemetar.

Jari telunjuk Ju-Hui tampak sedang menunjuk ke arah patung dewa raksasa.

Tepatnya kearah wajah patung dewa itu.

Jin-Woo kemudian melirik kearah wajah patung raksasa dihadapanya dengan ekspresi datar dan bingung.

Ekspresi wajah patung raksasa yang saat ini sedang Jin-Woo perhatikan terlihat hampir sama seperti sebelumnya.

"....?"

Ju-Hui kemudian mengucapkan beberapa patah kata.

"Mata ... Mata patung raksasa itu sempat bergerak ke arah kita."

"Maaf? Apa kau tidak salah lihat?" Jin-Woo melihat lagi wajah patung raksasa dihadapannya berulang – ulang kali.

Hingga beberapa kali, Jin-Woo menatap wajah patung raksasa yang ditunjuk oleh Ju-Hui namun untuk kesekian kalinya pula sang pemuda tidak menemukan adanya perubahan.

"Eii ... kamu salah lihat kali?." Ucap Jin-Woo kepada Ju-Hui.

Namun, sepertinya Ju-Hui tidak peduli karena dia sangat yakin dengan apa yang dia lihat bukanlah halusinasi;

kepalanya tetap menunduk, kemudian mulai memegangi lengan Jin-Woo, seluruh tubuh sang gadis tampak bergetar dengan dahsyat. "Tunggu sebentar di sini."

Bahkan Jin-Woo mulai merasa ada yang aneh karena entah mengapa tiba – tiba saja suasana didalam kuil tua ini menjadi sangat – sangat sepi dan rasanya terlalu aneh.

"Mengapa suasana kuil ini tiba – tiba saa begitu hening ....?"

Bahkan suara nyala api yang membakar obor tidak bisa terdengar lagi.

"Hukum pertama."

Sementara itu, Song mulai melanjutkan bacaan yang ia tertulis dalam batu tulis dihadapannya.

"Menyembah dewa.”

“Hukum kedua.”

“Tinggikan dewa.”

“Hukum ketiga.”

“Buktikan kesalehanmu.”

“Mereka yang tidak mematuhi hukum ini tidak akan bisa pergi hidup-hidup dari tempat ini."

Hingga pada akhirnya suara pintu terbanting!.

“Slam!!”

Semua orang tersentak kaget dengan suara bantingan yang terjadi.

"Apa, apa itu tadi ?!"

"Dari mana suara tiba-tiba itu datang ?!"

Orang pertama yang memperhatikan perubahan situasi saat ini adalah Jin-Woo.

Semua panca indranya sudah berjalan dengan maksimal, dia bisa tahu dari mana suara itu berasal.

"Pintunya !! Pintunya tertutup !!" Begitu Jin-Woo berteriak, semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk.

Pintu yang sempat mereka buka sebelumnya sekarang sudah tertutup rapat.

"Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya sedang terjadi!"

Seorang pemburu yang sempat menentang gagasan untuk menjalankan ekspedisi mulai gelisah lalu mulai mengambil langkah seribu menuju pintu yang sudah tertutup.

"Cukup!!! Aku mau pulang!!!” Ucap pemburu yang baru saja melesat lari mendekati pintu.

“Kalian semua silahkan bersenang-senang. Aku tidak peduli lagi” Lanjut pemburu pertama sambil melotot kearah Song dengan ekspresi ketidakpuasannya.

Namun begitu, sebelum dia memutarkan kepalanya untuk meraih pegangan pintu, tiba – tiba saja sebuah benda yang berada diatas pintu jatuh menerpa kepala sang pemburu yang berusaha kabur terlebih dahulu.

"Tidak!!"

“Awas!!!!”

Area di atas kepala pemburu tiba-tiba saja lenyap.

Tubuh Pemburu pertama yang sempat kabur sudah hilang tanpa kepala lalu jatuh ke tanah.

"Kkkkkyaaachk ?!"

"Uwaa ?! Uwaak !!"

Para pemburu mulai menjerit-jerit.

Patung batu yang menghancurkan kepala manusia dengan palu baja kembali ke tempat asalnya di sebelah pintu.

Patung itu kembali dengan ekspresi datar, seolah-olah pembunuhan yang baru saja terjadi tidak penting.

Tubuh patung itu sudah kembali keposisi awal walaupun saat ini tubuhnya penuh dengan darah segar.

"Itu, benda itu bisa bergerak ?!"

"Apa-apaan ini??”

“Apakah itu berarti setiap patung di sini juga bisa bergerak ?!"

"Kita harus melawan patung – patung ini?"

"Aku bahkan sempat tidak melihat patung itu mengayunkan tongkatnya begitu cepat, jadi bagaimana kita bisa melawan mereka ?!"

Tidak seperti orang lain, Jin-Woo merasa kalau semua yang terjadi pada ekspedisi ini baru saja dimulai.

Bukankah Ju-Hui sempat mengatakannya sebelumnya kalau mata salah satu patung dewa bergerak ke arah kita?

“Jika apa yang dia katakan itu benar ...."

Keringat dingin mulai mengalir deras di punggung Jin-Woo yang kemudian memaksa lehernya untuk berbalik sehingga dia bisa melihat ke belakang.

".... Oh, Anjing!." Patung batu dewa sedang menatap wajah Jin-Woo!!!

Dua mata hitam patung dewa berubah menjadi merah.

Apakah ini naluri seorang Pemburu?

Tidak, bukan, ini adalah naluri makhluk hidup mengirimkan sinyal peringatan yang mendesak mereka untuk berhati – hati.

Sesuatu telah datang.

Sesuatu yang tidak bisa dilawan oleh mereka!

Jin-Woo berbalik ke arah Pemburu lainnya dan berteriak sekeras mungkin.

"Tundukan kepala kalian!!"

Hampir pada saat yang sama, sinar cahaya merah tiba – tiba saja ditembakkan dari mata patung dewa.

Jin-Woo memeluk Ju-Hui dan melemparkan tubuh mereka ke lantai.

“BUZZZ !!”

Sinar yang ditembakan oleh patung raksasa tepat melewati mengenai tempat Jin-Woo berdiri.

Sepersepuluh detik.

Tidak, lebih tepatnya seperseratus detik.

Jika ia terlambat mengantisipasi maka nyawa Jin-Woo dan Ju_Hui akan melayang.

Sayangnya, tidak semua orang seberuntung Jin-Woo.

"Uwaaahk ?!"

"Euh-ahahack !!"

Beberapa pemburu ada yang tidak sempat mengelak.

Pemburu yang tidak sempat menghindar itu hilang bagaikan asap.

Jeritan yang datang bukan dari para Pemburu yang mati, tetapi mereka yang menyaksikan detik – detik kematian mereka sebelum akhirnya hilang bagaikan debu.

"Apa-apaan itu ?!"

"Euh, euh-euh ..."

"Bagaimana, bagaimana hal seperti itu terjadi? bahkan ..."

Pemburu yang tersisa mulai panik.

Dari tujuh belas Pemburu, hanya sebelas yang selamat.

Tak satu pun dari mereka pernah mengalami serangan sekuat ini sebelumnya dalam hidup mereka.

"Aku nyaris tidak berhasil menghindar!!!”

“Untungnya Seong memperingati kita tadi!!!”

'Kalau bukan karena teriakan Tuan Seong ....'

Para pemburu menatap Jin-Woo sambil menelan air liur mereka.

Jin-Woo ternyata telah menjadi juru selamat untuk kesekian kalinya.

Tanpa peringatannya, mereka bisa saja mati ditempat saat itu juga.

"....."

Jin-Woo dan para pemburu lainnya tampak masih berbaring sujud di tanah.

Jin-Woo kemudian mulai menatap mata patung dewa.

Mata patung dewa tersebut tampak masih menyala merah, tetapi tidak menyerang lagi.

"Apakah serangannya ... berakhir?" Jin-Woo melihat ke bawah.

Yi Ju-Hui yang saat ini tampak ketakutan masih terkejut dan gemetar dengan kejadian sebelumnya.

Ini adalah alasan mengapa dia bekerja untuk Asosiasi dan bukan untuk “Guild”, dan berpartisipasi dalam penggerebekan sederhana seperti ini, meskipun dia secara nominal adalah pemburu yang sangat baik dengan peringkat setinggi 'B'.

Napas Ju-Hui semakin terpenggal - penggal pada saat ini.

Jin-Woo tidak bisa lagi bertahan seperti ini.

Dia harus melakukan sesuatu.

Jin-Woo hendak mengangkat tubuhnya, berpikir bahwa dia harus melakukan sesuatu, tapi kemudian, seorang pemburu meraih bahunya dan mendorongnya ke bawah dengan keras.

"Jangan bangun." Ucap Mister Song, entah bagaimana dia bisa ada disebelah Jin-Woo.

Jin-Woo ingin marah, tapi tetap melakukan apa yang diperintahkan.

Song kemudian berteriak pada Pemburu lainnya.

"Jangan ada yang bergerak!”

“Tetap di tempat kalian!" Song kemudian melihat sekeliling ruangan sebelum akhirnya kembali fokus pada Jin-Woo.

"Hanya mereka yang pindah dan akan mati terbunuh.”

“Mereka yang mendengarkanku akan selamat."

"Jadi jangan ada yang berdiri”

Song sedikit memiringkan kepalanya.

"Kupikir kau sudah memperingatkan kami karena kau menemukan sesuatu?" Tanya Jin-Woo kepada Song.

"Tidak, aku memang baru saja merasakan sesuatu yang berbahaya datang, jadi ...."

Sebuah cahaya menyapu mata Song saat itu.

“Nalurinya cukup bagus, dengan kata lain. Walaupun pemburu dengan kelas E ? Kalau saja kemampuannya sedikit lebih tinggi ....”

'Sama seperti Song menatap Jin-Woo dengan ekspresi sedih.

Mata Jin-Woo tiba – tiba saja melotot setelah menemukan fakta yang sangat mengerikan.

"A-ahjussi, kamu, kamu ... lenganmu hilang ?!"

"Ini bukan apa-apa. Aku masih bisa bertahan." Balas Song.

"Tapi, tapi, masih ...." Jin-Woo menelan ludahnya.

Lengan Song tampak sudah hilang dari bahunya.

"..."

Song mempelajari kondisi Ju-Hui sebentar, sebelum dia mengambil kaos yang dia kenakan.

Meskipun tidak menunjukkan rasa sakit yang luar biasa, Song mulai membungkus apa yang tersisa dari lengan kirinya.

"Tolong, ikat, karena aku sulit melakukannya dengan satu tangan.”

Jin-Woo hanya bisa menganggukkan kepalanya saat itu.

Mereka entah bagaimana bisa menghentikan pendarahan untuk saat ini.

Alih-alih menjerit atau mengerang kesakitan, Song menghela nafas panjang.

Itu adalah desahan yang mengandung makna luar biasa sulit.

"Fuu ....." Sekarang setelah pertolongan pertama selesai, tatapan Song menjadi lebih tajam.

Tuan Song mulai mempelajari situasi yang ada disekelilingnya.

Meskipun patung dewa sudah berhenti menyerang mereka, situasi mereka tidak membaik sedikit pun.

Dan seperti nya waktu terus berjalan, detik demi detik terus berdetak.

"Hiks, hiks ...."

"Kenapa kita harus menderita seperti ini, ini ....."

Beberapa pemburu yang masih hidup mulai meneteskan air mata sekarang.

"Kita tidak bisa tetap seperti ini selamanya !!"

Kesabaran para Pemburu lainnya juga sudah habis.

Namun Jin-Woo setuju dengan sentimen itu.

"Benar, kita tidak bisa tinggal di sini selamanya."

Tapi, apa yang bisa dia lakukan di sini?

Jika kecurigaan Song benar, maka pada saat mereka bergerak, mereka akan diserang.

Bahkan jika mereka beruntung dan berhasil menghindari serangan lalu mencapai pintu apakah sudah menjamin keamanan mereka?

Ingat ada dua patung batu yang menjaga pintu untuk untuk keluar.

Mereka sedang dalam masalah besar.

Pergerakan penjaga pintu bahkan bergerak dengan sangat cepat menyebabkan banyak pemburu tidak bisa melihat pergerakan yang terjadi.

Bisakah dia atau orang lain membuka pintu dan melarikan diri sebelum patung-patung itu menyerang mereka?

Kedengarannya sangat mustahil.

Semua hal ini membuktikan bawa kematian mereka hanyalah masalah waktu.

'Tunggu ..... Soal waktu?'

Ketika pikiran “soal waktu” terlintas, rasa ketidakharmonisan yang kuat mengisi dirinya.

Suatu peristiwa yang tidak mungkin terjadi, tetapi itu tetap terjadi.

Tapi sepertinya belum ada orang yang memahaminya.

"Sesuatu ... Kami melewatkan sesuatu di sini."

Tanpa ragu, jawaban atas keselamatan mereka bersembunyi di 'sesuatu' itu.

Itu dulu. "Jangan bergerak!" Song berteriak pada Tuan Joo, yang berada di ujung.

"Diam! Siapa yang tahu kapan benda itu akan mulai menyerang kita lagi !!”

“Tapi kau ingin aku tinggal di sini dan menunggu ?!" Mister Joo adalah tipe pemburu petarung.

Pemburu jenis ini memiliki kemampuan fisik jauh lebih unggul daripada manusia biasa.

Di atas semua hal tersebut, Joo sudah berencana untuk mendaftarkan diri masuk kedalam “Guild” besar setelah kemampuannya diakui oleh mereka belum lama ini juga.

"Aku tidak akan mati di sini”

“Aku tidak akan mati hari ini."

Sambil tetap merangkak rendah ke tanah, Joo menaruh semua kekuatannya pada tumpuan kaki.

Tujuannya adalah bergerak hingga di ambang pintu.

Otot-otot di kakinya tampak pegal dengan cepat.

"Sial...." Song hanya bisa bergumam sendiri.

Saat ini, Joo menangkak rendah diatas tanah, bergerak maju kedepan.

Sementara itu, Jin-Woo buru-buru menoleh kearah patung dewa.

Seperti yang dia duga, mata patung itu terpaku di belakang Tuan Joo yang saat ini sedang bergerak.

Tiba – tiba saja sinar merah kembali melintas keluar dari mata sang patung.

“BUZZ!!”

Sinar itu menghantam punggung Tuan Joo.

"Kkyaaahck !!"

Pemburu perempuan mulai berteriak tidak karuan.

Ekspresi para Pemburu yang masih hidup tampak mematung.

"Ya Tuhan ...."

Mister Joo tidak berada tempatnya.

Yang tertinggal hanya sepasang pergelangan kaki tanpa pemilik yang bisa dilihat sekarang.


Salah satu pria tampak mual ketika melihat kejadian yang menimpa Tuan Joo.

"B-blergh !!".

Ekspresi Jin-Woo juga kusut.

Seperti Jin-Woo prediksi sebelumnya kalau patung dewa bisa dengan mudah menghabisi siapapun jika melihat ada pelanggaran.

Ini adalah pola perilaku yang sangat berbeda dibandingkan dengan serangan seekor mahluk ganas.

Patung-patung ini hanya bergerak jika kondisi tertentu terpenuhi.

Penjaga pintu hanya akan menyerang jika seseorang mendekati pintu.

Mata patung dewa akan kemudian menembakkan sinar merah jika melihat seseorang bergerak.

Itu semua seperti sebuah permainan dengan peraturan yang ditetapkan.

"Tunggu ... Mungkinkah ada semacam aturan di ruangan ini?"

Di sinilah sepotong puzzle mulai ditemukan oleh Jin-Woo.

Dia mulai mengingat isi dari batu tulis yang dibacakan Song belum lama ini, itu sebabnya.

"Hukum-hukum ... Kuil Karutenon, kan?"

'Regulasi' adalah 'aturan', dan 'aturan' bisa menjadi 'hukum' juga.

Kunci untuk menyelamatkan diri mereka dari penderitaan ini harus dikubur dalam peringatan yang ditemukan didalam batu tulis.

“Hukum pertama”

"... Menyembah dewa."

Itu adalah hukum pertama.

"Mm? Apakah kamu baru saja mengatakan sesuatu?" Song mengalihkan pandangannya kembali ke Jin-Woo.

Alih-alih menjawab, Jin-Woo hanya menempatkan jari telunjuknya di bibirnya.

Ia memberikan tanda kalau dirinya menemukan sesuatu dan sedang berpikir.

'Jika pikiranku benar ...'

Jin-Woo perlahan bangkit.

Song buru-buru mencoba menghentikan pemuda itu, tetapi Jin-Woo menggelengkan kepalanya sambil membawa ekspresi meyakinkan bahwa ia menemukan petunjuk.

'.... Tidak terlihat seperti dia menyerah untuk hidup.'

Song mengangguk.

Jin-Woo menjaga matanya untuk tetap tetap mengawasi patung dewa dan berdiri dengan hati-hati.

Mata patung itu terpaku pada Jin-Woo.

BUZZZ !!

Dan seperti yang Jin-Woo duga, sinar merah itu menyala ke arahnya.

Jika dia bergerak lebih lambat, maka tubuhnya akan habis meleleh!

Berbaring telungkup di tanah, Jin-Woo menghembuskan nafas panjang lebar.

"Heok, heok, heok, heok."

Dia hampir mati saat itu.

Saat mata patung itu bertemu dengannya, dia pikir dia akan mati.

Namun entah bagaimana sang pemuda mampu sadar dan kembali menunduk.

Kaki Jin-Woo tidak berhenti gemetaran karena rasa takut.

'Tetap ....'

Tetap saja, dia baru belajar sesuatu yang penting.

"Patung itu tidak akan menyerang seseorang yang bergerak."

Selama dia berjongkok rendah ke tanah, dia bisa pergi ke mana pun dia mau dan mata patung itu akan tetap diam.

Namun, jika seseorang berdiri, maka sinar merah akan menyala tanpa ragu-ragu.

'Patung itu hanya akan menyerang jika kita menembus ketinggian tertentu.'

Itulah sebabnya Jin-Woo mempertaruhkan nyawanya untuk membuktikan teori ini sekarang.

Dan sekarang, dia yakin akan hal itu. Arti di balik hukum pertama, itu!
profile-picture
ariefdias memberi reputasi
1 0
1
Hanya Saya Yang Naik Level
20-10-2019 00:30
gak lanjut lg nech
0 0
0
Hanya Saya Yang Naik Level
20-10-2019 14:34

Bab 4 Kunci Hukum Kedua

Jin-Woo kemudian berteriak ke arah para Pemburu lainnya.

"Hei Semua, dengarkan baik - baik perkataanku!"

Perhatian para pemburu lainnya tampak masih dalam kondisi ketakutan namun begitu langsung bergeser menatap pemuda bernama Jin-Woo.

Jin-Woo kemudian berbicara dengan raut wajah yang begitu serius ketika para pemburu lainnya mulai menatap sang pemuda.

"Kalian harus berjalan dengan cara merangkak dalam ketinggian tertentu agar tidak diserang oleh patung dewa!"

Pemburu lainnya terkejut ketika saran yang diterikan Jin-Woo mulai menggema ditelinga mereka.

Mereka kemudian memiringkan kepala mereka lalu berpikir dengan sangat serius.

"Merangkak kata mu...?" ucap salah satu pemburu.

"Kamu ingin kami berjalan secara merangkak dihadapan patung itu?" ucap pemburu yang masih hidup.

Para pemburu mulai saling bertukar pandangan mereka antara satu dengan lainnya, sebelum pada akhirnya mengumpat kearah Jin-Woo.

"Bangs*t!! Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?"

"Untuk apa kita merangkak? apakah kau ingin kita mati?"

"Apa kau tidak paham? kalau kita bergerak atau berdiri maka patung dewa itu akan menembak kita dengan sinar merah dari matanya"

"Apakah kau sudah gila, Seong Jin-Woo ?!"

Wajah Kim tampak emosional ketika mengumpat.

Raut muka pria itu tampak merah bagaikan seekor banteng yang sedang mendengus.

"Saya benar - benar kesal dengan mu tuan Seong, seandainya saja aku bisa bergerak saat ini maka aku akan langsung menghantam wajahmu sampai bonyok."

Mendengar umpatan para pemburu, Jin-Woo terkejut kemudian mulai menggigit - gigit bibir bawahnya.

Enam kawan satu profesi mereka baru saja terbunuh oleh patung dewa.

Apa yang dikatakan oleh Jin-Woo membuat para pemburu yang masih hidup tampak kesal lalu mulai mempertanyakan ucapannya yang dianggap tak masuk akal.

Bagaimana mungkin saran Jin-Woo bisa dianggap masuk akal?

Mereka diminta untuk berjalan secara merangkak?

Untuk apa?

Untuk mati?

Mereka sulit memahami apa yang disarankan Jin-Woo.

"Dan, yang paling aneh adalah ...."

Mereka merasa apa yang dikatakan Jin-Woo tidak memiliki bukti logis untuk mendukung pernyataannya.

Jin-Woo memang tidak punya bukti logis untuk mendukung teorinya. Namun begitu sang pemuda hanya memilik firasat.

Sebuah tebakan.

Petunjuk.

Naluri.

Berbeda dengan pemburu lainnya yang tampak kesal dengan pernyataan Jin-Woo. Tuan Song justru mengangap Saran Jin-Woo layak untuk didengarkan.

Dimata Tuan Song, Jin-Woo bukanlah pemburu lemah biasa saja karena sang pemuda sudah beberapa kali menyelamatkan nyawa pemburu lain didalam kuil ini.

"Aku akan melakukan apa yang kamu katakan."

"Tidak ada salahnya mencoba" Suara itu datang dari belakang Jin-Woo.

Mata semua orang langsung bergeser kearah tuan Song.

Suara yang begitu lantang keluar dari pemimpin kelompok ekspedisi ini.

"Tuan Song ahjussi?"

"Kamu yakin akan merangkak?"

"Bukankan saran Jin-Woo tampak bodoh dan tidak masuk akal?"

Berbeda dengan Pemburu lainnya yang mulai panik, Song justru menatap Jin-Woo dengan sedikit keyakinan.

"Anak muda. Aku yakin kau telah menemukan petunjuk, Kamu telah menemukan sesuatu, bukan begitu?"

Jin-Woo dengan tegas menganggukkan kepalanya.

"Sebuah naluri mu lagi?" Tanya Tuan Song.

"..... Ya. Untuk saat ini. tampaknya aku melihat petunjuk tertentu" Balas Jin-Woo.

"Baiklah kalau begitu" Balas Tuan Song.

Sebelas orang pemburu selamat berkat naluri Jin-Woo namun malang, nasib Tuan Joo yang kemudian mati mengenaskan karena tidak mau mendengar naluri Jin-Woo menggenapkan angka pemburu yang selamat menjadi sepuluh orang.

Tuan Song percaya kalau naluri Jin-Woo itu layak untuk dipertimbangkan.

Ya, paling tidak sekali lagi.

Itulah yang dipikirkan Song.

Ketika Song kemudian mulai berlutut, ia kemudian mulai berjalan dengan cara merangkak.

Menjaga postur tubuhnya pada ketinggian tertentu.

Ia berjalan sambil kemudian bersujud ke arah patung dewa.

Hening.

Semua tampak diam.

Melihat bagaimana Tuan Song merangkak secara hati - hati.

Mereka tampak was - was dengan kejadian yang mungkin akan terjadi selanjutnya.

Suasana hati mereka menjadi serius dan diam.

".... Dia benar-benar melakukannya."

Melihat bagaimana Tuan Song melakukan apa yang dirinya sarankan, seketika itu pula, Jin-Woo Memanfaatkan kesempatan ini untuk berteriak sekali lagi.

"Semuanya, aku mohon! Tolong berlutut di hadapan dewa patung ini. Dengan begitu Kita mungkin bisa keluar dari sini hidup-hidup! "

Mungkin hidup?

Mungkin bisa keluar hidup-hidup.

Dampak yang dibawa kata-kata sederhana itu cukup eksplosif.

"Kita mungkin hidup?"

"Kita bisa keluar dari sini?"

"Hanya dengan merangkak kemudian bersujud dihadapan sang patung?!"

Para Pemburu yang sebelumnya ragu-ragu mulai menjatuhkan diri ke tanah, merangkak kehadapan sang patung lalu bersujud.

Satu persatu para pemburu lainnya ikut merangkak dan bersujud.

Jumlah mereka yang melakukan tindakan ini secara bertahap meningkat.

Pada akhirnya, bahkan Kim yang sebelumnya mengeluh dan mengumpat mulai membungkuk menuju patung itu.

Namun, tidak ada perubahan yang terlihat pada patung dewa.

Memang, benar, sinar merah itu masih bersinar dari mata patung tersebut namun tidak ditembakan.

Jin-Woo merasa hatinya berdegup kencang.

Tatapannya dingin, was - was apakah nalurinya sekali lagi benar.

"Mungkin kah naluri ku kali ini salah?"

Pandangan mata Jin-Woo kemudian beralih kearah Ju-Hui yang ada di sebelahnya.

Tidak peduli seberapa murah harga diri seseorang untuk menggambarkan postur merangkak sambil merendahkan kepala yang akan dilakukan oleh Ju- Hui diatas di tanah.

'Bagaimana jika....'

Jin-Woo dengan hati-hati menggenggam pergelangan tangan Ju-Hui.

Ju-Hui kemudian mengangkat kepalanya seperti kucing yang tampak ketakutan.

Ju-Hui kemudian melihat Jin-Woo. Sang gadis mulai merangkak secara perlahan-lahan.

Tanpa banyak berkata-kata, Jin-Woo kemudian mengangguk kepalanya.

'Selesai.'

Hanya tinggal satu orang yang tersisa sekarang.

Dan orang tersebut adalah Jin-Woo yang kemudian merangkak sambil berlutut ke arah patung dewa.

Sang pemuda kemudian meletakkan tangannya ditanah lalu perlahan-lahan menundukkan kepalanya.

Akhirnya, apa yang diperkirakan oleh Jin-Woo benar.

Nalurinya betul.

"Hah? Uh, uhh ?!"

Para pemburu tampak mulai percaya kalau patung dewa yang ada dihadapan mereka sama sekali tidak menembakan sinar merah seperti yang pernah patung itu lakukan sebelumnya.

"Patung dewa !! Lihat patungnya !!"

"Lihat matanya!"

Cahaya merah yang bersinar disekitar mata patung dewa itu mulai meredup secara berangsur-angsur.

"Apa-apaan ini? Apakah naluri Jin-Woo ternyata benar ??"

Akhirnya, sinar merah yang sebelumnya menyala terang disekitar mata dewa kemudiam benar-benar lenyap.


"Oh !! Ohhh !!"

Para pemburu tampak mulai bersuka cita dengan kejadian kali ini.

"Sinar merah yang sebelumnya menyala terang sekarang telah hilang !!"


"Kita berhasil!!"

Para Pemburu yang bersemangat mulai berdiri satu per satu aat itu.

Bahkan kemudian, patung itu tidak lagi menembakkan sinar merah seperti biasanya.

Jin-Woo mengangkat kepalanya lalu menghela nafas lega.

"Wah...."

Seperti yang dia duga sebelumnya prediksi kalau kuil ini beroperasi secara ketat di dalam suatu set peraturan.

'Jika itu masalahnya ....'

Permainan ini belum selesai karena mereka baru saja menyelesaikan hukum pertama dari tiga hukum yang tertulis didalam batu nisan.

Ini masih jauh dari selesai karena masih ada dua 'hukum' lagi.

Hukum kedua, meninggikan dewa.

Dan hukum ketiga, buktikan kesalehan seorang hamba.

Namun begitu secara tiba - tiba muncul GEMURUH!! yang disertai dengan suara yang, bergetar.

Ekspresi Jin-Woo tampak cemas.

"Seperti yang kuduga....'

Kecurigaannya terbukti benar sekali lagi.

Segalanya baru dimulai.

Patung dewa raksasa itu secara perlahan-lahan bangkit dari singasananya.

"Hah ?! Huhhh ???"

Para pemburu yang sebelumnya bersuka cita langsung panik.

"Apa .... apa-apaan ini !!"

"Belum berakhir ternyata ?!"

"Ini, ini tidak mungkin !!"

Tak satu pun dari mereka bisa mengutarakan apa yang mereka rasakan saat ini.

Rasa kenestapaan dan putus asa dengan cepat mewarnai ekspresi mereka.

"Ah ..... Ah, ah ..."

Patung dewa benar-benar berdiri dari singasananya.

'Makhluk' itu kemudian menyapu pandangannya sekali, dan mulai berjalan
menuju para Pemburu.


GEDEBUK!!

Setiap kali patung dewa menginjak tanah, seketika itu pula seluruh ruangan juga ikut-ikutan bergetar.

GEDEBUK!!

Sang Patung begitu tinggi bahkan kepalanya hampir bersentuhan dengan langit-langit atap ruangan ini.

GEDEBUK!!

Bahkan ketika para Pemburu mulai terkejut dengan ukuran patung yang ternyata semakin besar ketika patung tersebut berdiri tegak, tiba-tiba saja Para pemburu berteriak.

"Tuan Seong !! Tuan Seong Jin-Woo !!" Apa yang harus kita lakukan sekarang? "

Pemburu yang sebelumnya memaki-maki Jin-Woo mulai berkerumun kearah sang pemuda secara terburu-buru.

"Apakah ada jalan keluar dari masalah kali ini?"

"Tolong katakan sesuatu!!"

Semua orang tampak mulai membentuk ekspresi panik seolah-olah mereka akan menangis tersedu-sedu sambil meratapi nasib mereka selanjutnya.

Saat ini, Jin-Woo adalah satu-satunya harapan mereka.

Jin-Woo membantu Ju-Hui yang kaku untuk berdiri dan mulai berbicara tentang hukum kedua.

"Tinggikan dewa. Itu kuncinya."

"Tunggu, bukankah itu ...?!"

Tiba-tiba Kim mendapatkan petunjuk seolah-olah dia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

"Bukankah itu yang tertulis di batu tulis?"

"Benar. Menyembah dewa. Tinggikan dewa. Dan akhirnya, buktikan kesalehanmu Kita harus memenuhi ketiga hukum tersebut. "

Jin-Woo mulai berbicara lebih cepat.

Mengapa? karena Patung dewa sudah sangat dekat dengan posisi merek berada.

GEDEBUK!!

Raut wajah semua orang memucat saat bayangan raksasa yang menjulang begitu tinggi semakin mendekati posisi mereka berada.

"Biarkan aku mencoba sesuatu."

Seorang pemburu muda yang biasanya diam tiba-tiba saja maju.

"Apa ?! Apa yang kamu coba lakukan?" Tanya Pemburu lain.

"Aku sudah berada di paduan suara tempat ibadahku. Aku yakin hukum kedua adalah aksi untuk 'meninggikan' tuhan dengan cara memujanya sambil bernyanyi."

Pemburu muda itu kemudian secara perlahan mulai melangkah maju ke arah patung raksasa itu berada.

Dia mulai mengatur napasnya sambil menatap patung dewa yang da dihadapannya.

"Aku datang kepadamu, Tuhan ...."

Suaranya yang jernih mulai bergema di dalam ruangan.

".... Perbarui imanku sekali lagi ... Berkatilah aku dengan rahmatmu, Tuhan..."

Patung itu menghentikan langkahnya ketika sang pemburu mulai bernyanyi.

"Oh !! Ohhh !!"

Para pemburu mulai bersorak sorai lagi.

Patung dewa itu ternyata tidak bergerak dari tempatnya, seolah-oleh terkesima dengan suara nyanyian sang pemburu.

Semua suara lain mulai hening.

Hanya suara anak muda yang sedang bernyanyi tampak terdengar didalam ruangan tersebut.

Melihat sang patung diam saja, sang pemburu muda terdorong untuk terus melanjutkan nyanyiannya.

"Semua kelemahan yang ada dalam diriku ... Melalui cintamu, aku akan melakukannya, aku akan mengatasinya..."

Di antara para Pemburu, hanya Jin-Woo yang bergidik dari sensasi yang muncul karena dimata Jin-Woo apa yang pemuda itu lakukn sepertinya salah.

"Ini ... ini salah."

Jin-Woo menelan ludahnya beberapa kali.

Ruangan ini menampilkan seperangkat aturan sendiri bukan spesifik untuk agama tertentu.

Apa yang dilakukan oleh si Pemburu muda adalah cara umat agama tertentu 'meninggikan' tuhannya dan Jin-Woo yakin ruangan ini tidak terikat dengan agama tersebut.

Namun begitu, Syukurlah, patung itu tidak bergerak, tetapi, apakah bisa suatu himne agama tertentu memenuhi syarat yang diatur oleh ruangan ini?

Jin-Woo menggelengkan kepalanya.

Satu-satunya alasan mengapa dia tidak mengatakan apa-apa adalah semata-mata karena dia tidak bisa memikirkan cara yang lebih baik untuk menghentikan patung dewa dihadapannya.

GEDEBUK!!

Suara dentuman gempa kemudian kembali bergema di seluruh ruangan
.
"K, kkkkyyyyaaahhhk !!"

Pemburu perempuan mulai kembali berteriak.

Ketika patung batu mengangkat kakinya, kekacauan dalam ruangan kuil ini mulai terjadi lagi karena pemuda yang sebelumnya bernyanyi sudah terinjak remuk dan gepeng.

Pemburu lainnya mulai berteriak panik dan terkaget-kaget ketika pemburu yang sebelumnya sedang bernyayi sudah tidak bersuara lagi.

"Ahhhhh ?!"

"Uwa, uwaaaahk !!"

Wajah patung itu, mulai emosi sampai akhirnya mulai mengamuk secara sporadis.

"Dia marah !!"

“Lari, lari !!”

Para Pemburu lansung mulai berpencaran pergi menjauhi patung yang tampaknya sedang mengamuk.

Sayangnya untuk pemburu wanita, dia kehilangan alasan untuk berdiri dari tempatnya.

Pemburu wanita tersebut terkejut sambil berteriak setelah menyaksikan secara pribadi kematian pemburu laki-laki muda dihadapan matanya.

"K, kyaaachk !!"

'Sial .....'

Jin-Woo melarikan diri sambil menarik Ju-Hui.

Setelah itu, Jin-Woo berbalik kearah pemburu wanita yang saat ini panik berteriak-teriak.

Tapi kemudian, Song menghentikan Jin-Woo.

"Tapi, ahjussi ...?" Jin-Woo terkejut ketika tangannya ditahan oleh Song.

"Sudah terlambat."

Patung dewa itu membanting telapak tangannya ke arah pemburu perempuan yang sudah berada dekat dengan patung tersebut.

GEDEBUK!!

"Keuk ..."

Jin-Woo mengalihkan pandangannya karena sang pemuda baru saja menyaksikan pemandangan yang cukup mengerikan.

Pemburu wanita itu mati dalam keadaan hancur dan gepeng.

"Tidak ada waktu untuk kita sia-siakan, Jin-Woo! Apakah kamu berencana untuk membiarkan kita semua mati? "

GEDEBUK!!

"Uwaahk !!" THUD!

GEDEBUK!!!

"Tolong aku!!"

Patung itu tidak berjalan lagi melainkan mulai berlari - lari sambil menginjak manusia yang ada didekatnya seperti semut.

Setiap kali patung itu menginjak tanah, seketika itu juga tanah mulai bergetar, keras.

GEDEBUK!! GEDEBUK!!

Jin-Woo mengertakkan giginya dan mulai berlari lagi.

Ju-Hui mengusap-usap matanya yanh terpejam lalu berpegangan tangan dengan Jin-Woo untuk tetap bisa bertahan hidup.

"Ayo berpisah!"

"Iya!"

Jin-Woo Berpikir bahwa, bergerak secara bersama itu berbahaya, Jin-Woo dan sang gadis kemudian berlari ke arah yang berbeda.

Jin-Woo memastikan diri untuk berlari ke sudut terjauh dari hiruk pikuk patung dewa raksasa.

Namun, maih ada pemburu lain yang juga berlari.

Pemburu Itu adalah Tuan Park.

Park berlari dengan semua yang dimilikinya.

Air mata tampak mulai terbentuk di ujung matanya ketika dia mengingat keluarganya.

"Menangis..."

Ia ingin segera Kembali ke rumah.

Seorang putra yang sangat mirip dengannya dan seorang istri yang sedang hamil anak kedua sedang menunggu untuk kembali.

Dia tidak bisa mati di sini, tidak seperti ini.

Mungkin karena dia berlari dengan semua yang dia miliki, dia bisa berlari begitu jauh dari patung yang berada dekat dari semua orang di sini.

"Terengah-engah ...."

Ketika Park mencoba mengendalikan napasnya yang berat di sudut paling ujung seketika itu pula temannya Kim berteriak kepadanya.

"Tuan Parak awas!!"

Park mengangkat kepalanya setelah mendengar suara teriakan.

"Ya?"

Kim menunjuk tempat di belakang Park dan berteriak.

"Punggungmu !! Lihat ke belakangmu !!"

Saat itu, sesuatu yang tajam berkilauan dingin tampak melesat kearah punggung Tuan Park.

"Eh ...?"

"Slash!!!"

Patung dewa lain yang saat ini berdiri disebelah Tuan Parl bergerak secara tiba - tiba lalu mengiris Tuan Park menjadi dua.

Park diiris menjadi dua dari atas kepalanya sampai paha.

Terbelah menjadi dua bagian yang dipotong rapi lalu jatuh ke tanah

"PARK!!"

Patung batu yang membunuh Park dengan pedang besarnya itu mulai kembali ke
posisi semula begitu tenang.

Patung itu kemudian diam, seolah-olah pembunuhan yang dilakukan sang patung bukanlah hal yang serius terjadi, persis seperti bagaimana patung penjaga pintu lakukan sebelumnya.

Kim mulai menangis setelah menyaksikan kejadian sadis dihadapannya.

"Awas ... !!"

GEDEBUK!!

THUD !!

Di belakang patung dewa besar terdapat patung - patung raksasa lainnya yang tidak pernah mereka sangka akan bergerak ketika ada pemburu yang mendekati sang patung.

"U, uwaaaah !!"

"Lenganku !! Tanganku!!"

Bagian dalam kuil ini dengan cepat jatuh ke dalam kekacauan.

"Heok, heok ...."

Keringat dingin menetes dari dahi Jin-Woo.

Kakinya semakin berat.

Napasnya semakin terpenggal-penggal.

Namun begitu kepalanya masih dipenuhi dengan pemikiran untuk memecahkan teka-teki hukum kedua.

'Tinggikan dewa. Meninggikan dewa. Tinggikan dewa .... '

Kata-kata hukum kedua beredar di otaknya tanpa henti.

Karena kunci untuk mengungkap misteri ini pasti berada didalam ruangan ini juga.

Pasti ada hal yang bisa mereka gunakan untuk menghentikan hukum kedua.

'Tidak, satu-satunya hal yang bisa bergerak adalah patung-patung batu itu. '

Sebuah pemikiran kemudian melesat melewati otak Jin-Woo saat itu.

“Hanya benda-benda yang bergerak adalah patung-patung itu?”

Mata Jin-Woo melebar.

"Kenapa aku tidak kepikiran ya!!! Naluri ini, jika benar....baiklah aku akan coba"

Jika satu-satunya hal yang bisa bergerak adalah patung-patung batu tersebuy maka patung-patung itu adalahnsatu-satunya benda yang bisa ia gunakan untuk mengentikan hukum kedua.

Patung-patung ini aktif ketika manusia mendekati mereka, artinya dia bharus mengambil keuntungan dari aturan ini.

'Bagaimana jika....!'

Meskipun dia kehabisan napas, Jin-Woo berusaha cukup keras untuk tetap tenang lalu berkata "Kalin semua dengarikan baik - baik!!!, Lari ke arah patung-patung yang memegang alat musik !!"
Diubah oleh 8caseofdeath
0 0
0
Hanya Saya Yang Naik Level
21-10-2019 08:23

Bab 5 Pengorbanan

Semua Pemburu yang masih hidup hingga detik ini tiba – tiba saja mendengar suara teriakan Jin-Woo.

“!!”

"Alat musik? Instrumen?"

Sebuah harapan untuk tetap bertahan hidup tampak muncul masuk ke dalam benak para Pemburu.

Walapun saran yang diucapkan oleh Jin-Woo tampak sangat berbeda dengan hukum pertama, semua orang langsung bergerak dengan sangat cepat untuk memperagakan perintah Jin-Woo.

Walaupun saran yang terlontar dari mulut Jin-Woo hanyalah sebuah naluri, mereka tetap akan mengerjakannya.

Jika memang naluri Jin-Woo pada akhirnya salah, mereka bisa saja akan kembali terbunuh oleh patung-patung batu yang saat ini memegang alat musik ditangan mereka.

Mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengerjakan apa yang naluri Jin-Woo katakan, walaupun bisa saja, naluri Jin-Woo tentang hal ini salah.

Namun begitu, tidak ada seorang pun membantah atau mempertanyakan kata-kata Jin-Woo.

Song adalah orang yang pertama tiba di depan sebuah patung instrumen.

"...."

Song mengendalikan napasnya yang berat lalu mulai mengangkat kepalanya untuk melihat fenomena apa yang akan muncul.

Ketika Song berada didekat patung harpa detik itu pula jari jemari sang patung mulai bergerak memetik alunan musik.

Song terkejut namun tetap bersikap hati – hati.

Melodi yang Indah kemudian mengalir dari patung harpa tersebut.

"Berhasil!!"

"Apa yang disarankan Jin-Woo soal hukum kedua bekerja dengan baik!!!”

“Cepatlah!!! Cepat!!!, Cepat pergi kemasing – masing patung yang saat ini memegang alat musik atau instrumen !!"


Para pemburu tampak bahagia ketika mendengar teriakan Song.

Para pemburu kemudian berlari menuju patung-patung instrumen besar yang paling dekat dengan posisi mereka berada dengan langkah terburu-buru.

Ketika satu orang pemburu mulai berada didekat Patung dengan trompet seketika itu pula sang patung mulai meniupkan terompet yang ada ditangannya.


Begitu juga dengan patung seruling yang kemudian mulai berdendang ketika satu pemburu lainnya berada didekat patung ini.

Hal yang sama terjadi pada patung kecapi, patung tersebut mulai ikut – ikutan memetik senarnya.

"Heok, heok, heok ...."

Kim entah bagaimana tiba di depan patung yang memegang buzuka lalu menjatuhkan dirinya ke atas tanah karena lelah dan panik.

Patung yang ada diekat Kim mulai ikut – ikutan memainkan instrumen hingga akhirnya patung dewa yang sebelumnya berlari mengejar – ngejar Kim mulai berhenti.

Tuan Kim tampak menitikan air mata ketika pada akhirnya patung dewa yang sebelumnya emosi mulai diam tidak bergerak.

"Huhuhu…. Huhuhuhu…."

Namun, diamnya patung dewa bersifat sementara, sang patung dewa kemudian berbalik.

Sang patung tampak mulai mencari mangsa baru, pemburu yang belum mendekati patung instrumen.

Patung dewa itu kemudian menemukan mangsa barunya.

Jin-Woo.

"Ya Tuhan."

Jin-Woo terkejut bukan main saat tatapan patung tersebut mulai bertemu dengan tatapan patung dewa.

Melihat hal ini, Jin-Woo dan Ju-Hui kemudian mulai berlari terbirit - birit dengan panik.

Punggung sang pemuda sudah basah oleh keringat ketika Jin-Woo dan Ju-Hui berhasil mendekati diri mereka dengan sebuah patung.

'Mengapa?! Mengapa tidak berhasil ?! ’

Tatapan marah Jin-Woo mendarat pada patung batu di depannya.

Patung yang saat ini memegang drum tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan.

‘Mengapa drum patung ini tidak dipukul?’

GEDEBUK!!

GEDEBUK!!

GEDEBUK!!

Patung dewa yang berada jauh disana mulai mendekat dengan kecepatan yang sungguh menakutkan.

Walaupun Jin-Woo sudah menjauhi patung dewa yang praktis berada di sisi lain ruangan tersebut, namun begitu jarak antara keduanya semakin dekat ketika sang patung dewa kembali lari mengejar Jin-Woo.

Jin-Woo menelan ludahnya.

Lalu menatap Ju-Hui yang ada disebelahnya.

‘Mungkinkah patung ini tidak akan bergerak karena ada dua orang di sini? Aku dan Nona Ju-Hui? "

Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain alasan tadi.

Patung-patung lain sedang melantunkan alunan musik dengan merdu ketika satu orang pemburu berada dihadapan para patung namun tidak untuk patung yang berada didekat Jin-Woo karena saat ini patung drum yang ada disebelahnya telah dihinggapi oleh lebih dari satu orang.

"Tidak ada waktu untuk berpikir lagi."

Jin-Woo melepaskan genggaman Ju-Hui dan bersiap untuk lari ke tempat lain.

"Tuan Jin-Woo ... .."

Ju-Hui tampak masih ketakutan, sang gadis enggan melepas lengan Jin-Woo.

Jin-Woo dengan tenang berbisik di telinganya.

"Kita berdua akan mati jika kita tetap bersama."

Air mata sang gadis mulai terbentuk di mata Ju-Hui.

Jari-jarinya gemetar saat Ju-Hui mulai melepas genggamannya.

Sayangnya, tidak ada waktu untuk menjelaskan kepada sang gadis secara rinci.

Jin-Woo dengan hati-hati menarik tangannya dan mulai berlari ke arah yang berlawanan sekuat yang dia bisa.

Boom, boom, boom ....

Jin-Woo lari menjauhi Ju-Hui.

Ketika sang pemuda mulai lari menjauhi Ju-Hui detik itu pula sang patung drum memukul alat musik yang ada ditangannya.

Jin-Woo kemudian melirik ke belakang, patung di belakang Ju-Hui mulai memukul drumnya dengan ritme yang pelan tapi mantap.

‘Sigh'

Hanya ada satu hal yang harus Jin-Woo kerjakan sekarang, ia harus segera lari ke patung lain tanpa terbunuh!

Hanya Jin-Woo yang belum mendapatkan tempat untuk berlindung dari patung dewa.

Saat ini, kemarahan patung dewa semata-mata ditujukan kepada Jin-Woo.

Jin-Woo melirik kekanan dan kekiri, sambil berlari secara panik, sang pemuda berusaha menghindari kejaran patung dewa, disisi yang lain, Jin-Woo berusaha mencari patung dengan alat instrumen yang belum diduduki oleh pemburu lain dengan begitu tergesa – gesa.

GEDEBUK!

GEDEBUK!!

Jin-Woo berlari sekuat tenaga bahkan kerap jatuh berguling-guling tetapi entah bagaimana, sejauh ini dia masih berhasil menghindari serangan patung dewa.

"Heok, heok."

Walaupun Jin-Woo adalah pemburu ditangkat E, tipe pemburu yang dikuasai sang pemuda adalah tipikal pemburu jarak dekat yang fisiknya begitu berguna dalam situasi seperti ini.

‘Hanya sedikit lebih jauh !! Sedikit lagi!'

Jin-Woo mengawasi gerakan patung dewa dan berlari begitu cepat.

Kecepatannya meningkat.



Hingga akhirnya jarak yang membatasi Jin-Woo dengan patung dewa semakin dekat.

"Tidak, itu salah !!"

.... Tuan Song berteriak kepadanya.

Jin-Woo kemudian tertegun oleh teriakan Song lalu buru-buru menoleh untuk melihat patung dihadapannya.

"Ahh !!"

Itu bukan patung dengan instrumen?

Dia terlambat menyadari bahwa benda yang tampak seperti alat musik dari kejauhan bukanlah instrument melainkan sebuah perisai.

Dan benar saja, patung yang ada dihadapan Jin-Woo tiba – tiba saja, tanpa ampun menusukan perisainya.

"Heok!"

Jin-Woo buru-buru melemparkan dirinya ke samping.

"Kkyahhk !!"

Ju-Hui menjerit.

Jin-Woo berguling-guling di tanah dan ketika dia berhenti, dia mengangkat kepalanya untuk melihat patung dewa yang ternyata sudah berdiri tepat di depan hidungnya.

"!!”

Dahi sang pemuda agak terkoyak berguling-guling di tanah.

Darah kemudian mengalir turun dan mengaburkan penglihatan sang pemuda.

Pandangannya mulai tidak jelas dan tidak bisa melihat terlalu jauh.

Jin-Woo dengan cepat mencari patung lain yang ada di sekelilingnya.

'Sebuah instrumen…. sebuah instrumen….'

Namun, apes, sang pemuda tidak menemukan patung lain sejauh ini, seberapa keras dia memandang, dia tidak bisa melihat satu patung pun memegang instrumen di dekatnya.

Sementara itu, patung dewa mengangkat kakinya di atas posisi Jin-Woo.

"Heok!"

GEDEBUK!!

Jin-Woo melemparkan dirinya lagi dan entah bagaimana berhasil menghindar.

Manusia ada batasnya.

Rasa pusing yang kuat menyerang sang pemuda hingga akhirnya sulit untuk menyeimbangkan badan.

'Pasrah….'

Jin-Woo tampak pasrah, lalu berdoa.

Saat itulah, Jin-Woo tiba – tiba saja melihat sebuah patung batu yang tidak memiliki senjata ataupun alat musik.

'Apa itu…?'

Jin-Woo memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya pada patung itu.

Dia merangkak di tanah dan tiba di depan patung yang bersangkutan.

Dia kemudian berhasil membalikkan tubuhnya lalu berbaring di tanah sambil melihat patung dewa yang ada dihadapannya.

Dia tidak lagi punya energi untuk bergerak.

"Terengah-engah ...."

Jin-Woo menatap patung dewa yang saat ini mulai mendekati dirinya.

Ekspresi patung dewa tampak jauh lebih emosional dibandingkan raut wajah sang patung sebelumnya.

Namun begitu, entah bagaimana, Patung dewa yang sedang berjalan mendekati Jin-Woo tiba – tiba saja berhenti dihadapan sang pemuda.


Melihat 'makhluk' sebesar gedung tinggi tampak menghalangi seluruh pandangannya, Jin-Woo terasa sulit untuk bernapas dengan baik.

Jin-Woo bagaikan seekor tikus yang sedang terpojok, Patung dewa itu hanya menatap sang pemuda, namun tidak melakukan hal lain.

'Berhasil?….'

Jin-Woo merasa malaikat pencabut nyawa berada dihadapannya.

Namun…

Wu-wu-wu ....

Patung yang ia pikir tidak memegang alat instrument justru bersuara.

Jin-Woo menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Wu-wu, wu-wu-wu ....

Bibir patung batu yang memegang sebuah buku bergerak, sebuah lagu ilahi mengalir keluar dari mulut sang patung.

Wu-wu-wu, wu ....

Ekspresi patung dewa yang kusut perlahan kembali normal.

Ketika lagu dari patung batu itu berakhir, patung dewa itu berbalik kembali ke singgasananya untuk duduk.

Senyum tipis terbentuk di bibir Jin-Woo.

Sementara itu, Ju-Hui mulai berlari dari posisinya.

"Tuan Jin-Woo !!"

Dia berlari dengan sekuat tenaga dan jatuh lemas di sebelah sang pemuda sambil menitikan air mata.

Sang gadis tampak terkejut dengan kondisi kaki Jin-Woo.

"Apa yang dapat saya…. Apa yang seharusnya saya .... "

Sang gadis kemudian mulai memanggil semua energi magisnya.

Ia mulai mengaktifkan sihir penyembuhan kepada Jin-Woo.

Pemburu yang tersebar berkumpul di sekitar Jin-Woo satu per satu.

Setiap orang dari mereka mengeluarkan ekspresi geger.

"Tuan Jin-Woo ...."

Hanya Ju-Hui yang menangis dalam kesedihan.

Kenapa semua orang tampak kaget dan bersedih?

Bibir Jin-Woo melonjak naik dan turun.

Dia ingin bertanya apa yang sedang terjadi.

"...?"

Jin-Woo mulai sadar.

Kemudian mulai melihat genangan darah yang ada di sekitar kakinya.

Baru saat itulah dia sadar soal perubahan pada tubuhnya.

"Ah….."

Kaki kanan Jin-Woo telah putus menghilang.

Mata Jin-Woo secara refleks bergeser ke arah patung batu yang memegang perisai.

Dia kemudian melihat jejak darah yang tertinggal jelas di ujung perisai bersamaan dengan sisa kaki kanannya yang tepat berada dibawah perisai.

“Tik, tik…..”

Tetesan darah mulai jatuh dari hidung Ju-Hui.

Itu adalah tanda dia mencapai batas stamina fisiknya untuk mengeluarkan sihir.

Sihir penyembuhan dari Penyembuh peringkat B tidak dapat memulihkan anggota tubuh yang hilang.

Staminanya dengan cepat turun pada akhirnya.

"Tidak apa-apa, ... Nona Ju-Hui. Anda bisa berhenti .... "

"Aku akan menyembuhkanmu !! Saya akan memperbaiki kakimu"

Para pemburu lainnya mulai menatap dengan sendu.

Dari tujuh belas pemburu yang awalnya hidup, sekarang hanya enam yang tersisa.

Dan dari kelompok enam orang ini, dua di antara mereka menderita luka yang mengerikan.

Song kehilangan lengannya, sementara Jin-Woo kehilangan kakinya.

Mereka mungkin selamat, tetapi tidak ada yang merasa lega.

Saat itu, suara aneh lain mulai kembali mengguncang ruangan.

GEMURUH….!!

Bagian tengah kuil.


Letak dimana formasi sihir aneh berada tiba-tiba bangkit dari atas tanah.

Jin-Woo kemudian berpikir dalam benaknya bahwa hukum ketiga telah dimulai.

"Buktikan kesalehanmu...."

Jin-Woo sudah punya naluri kasar tentang apa arti kata-kata itu.

Formasi sihir yang bentuknya melingkar di tengah kuil mulai naik secara perlahan – lahan.

"Sebuah altar ..."

Pemburu lainnya tampak menampilkan reaksi waspada setelah Jin-Woo bergumam.

"Sebuah altar ....?"

‘Dia baru saja mengatakan itu altar .... '

Orang yang telah menyelamatkan mereka dari dua krisis sebelumnya bukanlah pemburu peringkat tinggi, tetapi peringkat E yang dulu sering menjadi sasaran lelucon.

"Jika itu bukan karena Tuan Seong, kita semua pasti ...."

Para pemburu memikirkan pemikiran yang sama persis.

Dalam keadaan saat ini, kata-kata Jin-Woo bagaikan sebuah ayat penyelamat.

Dan sekarang, Jin-Woo telah menggumamkan kata 'altar'.

Kim selalu cepat menyimpulkan kata – kata Jin-Woo.

Dia menangkap artinya terlebih dahulu sebelum orang lain memiliki kesempatan untuk melakukannya.

"Aku mengerti sekarang."

Kim kemudian menghunus pedang yang tergantung di pinggulnya.

Awalnya, senjata ini akan digunakan untuk menebas berbagai mahluk ganas.

Tetapi untuk saat ini, senjata tersebut harus digunakan untuk tujuan yang berbeda sama sekali.

"Aku bisa kurang lebih mengerti apa yang kamu maksud."

Para pemburu dengan gugup menelan air liur mereka sambil memandangi mata pedang yang tampak tajam dan dingin.

“Oii, Tuan Kim. Kenapa kau mencabut pedangmu seperti itu? ”

"Kenapa kita tidak membicarakan ini dulu? Ayo bicara dulu. "

Anggota peringkat tertinggi di antara kelompok itu adalah Tuang Song yang saat ini terluka parah.

Jika Kim mencabut pedangnya untuk melakukan sesuatu, maka tidak ada seorang pun di sini yang berpotensi untuk menghentikan Kim.


Kim menunjuk ke arah altar dengan pedangnya.

“Hukum terakhir, buktikan kesalehanmu. Dan ada altar yang muncul di tengah-tengah tempat ini. "

Tatapan Kim kemudian beralih ke Jin-Woo.

"Jadi, bukankah kita memberikan pengorbanan? Tuan Seong? "

Jin-Woo perlahan mengangguk.

Itulah yang dipikirkan oleh Jin-Woo.

Salah satu dari enam yang masih hidup harus mau dikorbankan.

"Itulah yang mungkin dimaksud oleh hukum terakhir ...."

Jin-Woo sampai pada kesimpulan ini.

Keringat panjang meluncur dari dahi Jin-Woo.

"Ahjussi”

"Kamu, anak muda, jangan katakan apapun dan diamlah !!"

Kim dengan marah berteriak dan mengarahkan pedangnya pada Tuan Song, yang saat ini jongkok di sebelah Jin-Woo.

“Siapa yang menyeret kita ke tempat ini? Bukankah kau orangnya? Ya, itu kamu Tuan Song! Jadi, menurut saya, harusnya dia yang dijadikan pengorbanan? "

"Ahjussi!"

Jin-Woo berusaha untuk bangkit dengan kemarahan, tetapi kemudian, tangan Song menghentikan pemuda itu.

Jin-Woo memandang Song tak percaya.

"...."

Song tanpa kata-kata menggelengkan kepalanya.

Matanya seolah – olah memohon pada Jin-Woo, meminta pemuda itu untuk tidak mengatakan apa pun.

Tentu saja, Jin-Woo memiliki banyak hal untuk dikatakan, tetapi dia menahannya.

Song perlahan mengangkat tubuhnya.

"Apa yang dikatakan Tuan Kim benar. Saya adalah orang yang paling bertanggungjawab atas kejadian hari ini. "

"Hei, orang tua, kurasa kita sekarang akhirnya berada pada kesimpulan yang sama."

Kim menggunakan ujung pedangnya untuk menunjuk ke arah altar.

"Jika kamu mau bertanggung jawab maka mari kita mulai ritualnya karena sudah lebih dari sepuluh orang mati di sini karena kamu, orang tua.”
Diubah oleh 8caseofdeath
0 0
0
Hanya Saya Yang Naik Level
30-10-2019 00:39
jejak👣
0 0
0
Hanya Saya Yang Naik Level
30-10-2019 07:13

Bab 6 Kunci Hukum Ketiga

Salah satu pemburu dari sekian banyak pemburu yang telah mati hari ini adalah Tuan Park.

Tuan Park adalah seorang teman yang baik bagi Tuan Kim.

Keputusan untuk menelusuri ekspedisi gerbang dengan Lorong ganda diputuskan secara bersama – sama.

Keputusan tersebut diambil bukan berdasarkan keputusan Tuan Song sendiri melainkan berdasarkan suara terbanyak.

Kim tampaknya lupa kalau dia juga ikut andil untuk ikut melanjutkan ekspedisi.

Namun begitu, entah bagaiman, dengan berbagai macam alasan, semua kesalahan yang terjadi saat ini langsung dikambing hitamkan kepada Tuan Song.

Tuan Song tidak berusaha untuk lari dari tanggung jawab yang memang harus dia lakukan namun begitu, Tuan Song merasa risih dengan ancaman pedang yang diarahkan Kim kepada dirinya.

"Aku sudah katakan tadi barusan”

“Aku siap mempertanggunjawabkan apa yang telah aku perbuat”

“Jadi tolong, bisakah kau tidak mengancamku dengan pedang itu?"

Mendengar ucapan Tuan Song, tentu saja, Kim langsung menolak.

"Hei orang tua bagaimana aku bisa mempercayai mu?”

“Berhentilah membuang waktu dan mulailah bergerak maju keatas altar” Balas Kim ketus.

Song menghela nafas panjang lalu maju berjalan menuju altar.

Kim terus mengarahkan pedangnya ke arah punggung Tuan Song dan terus mengikuti Song tepat dibelakang pria tersebut.

Jin-Woo mulai kesal dengan perlakukan Tuan Kim yang saat ini sedang berjalan pergi mendekati altar.

"Ini bukan kesalahan Tuan Song."

Ucap beberapa pemburu yang lain.

Lebih dari setengah kelompok setuju kalau Tuan Song tidak bisa diajadikan kambing hitam atas kejadian hari ini.

Hanya karena segala sesuatunya tidak berjalan dengan lancar bukan berarti kemudian Tuan Song adalah pihak yang harus mengambil tanggung jawab penuh atas masalah hari ini.

Sayangnya Jin-Woo tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghentikan Kim hari ini.

Siapa Jin-Woo?

Lalu siapa Tuan Kim?

Kim adalah salah satu pemburu yang dianggap terbaik di antara pemburu peringkat D lain yang ada didalam rombongan mereka saat ini.

Sedangkan Seong Jin-Woo adalah pemburu peringkat E yang dianggap paling lemah diantara mereka semua.

Perbedaan kekuatan sudah sangat jelas terlihat kalau Jin-Woo tidak akan bisa melakukan apa – apa kepada Tuan Kim.

Jin-Woo bukan hanya masuk dalam kategori pemburu terlemah namun juga telah kehilangan satu kakinya.

Jika dia menantang Kim dalam keadaan sekarang ini, sudah pasti sang pemuda akan kalah dengan begitu telak.

"Sial."

Jin-Woo benar – benar kesal dengan kejadian yang terjadi dihadapannya.

Dia betul - betul benci dengan keadaannya yang tidak berdaya saat ini.

Dia merasa begitu lemah.

Sementara itu, Song telah berada di atas altar yang tiba – tiba saja muncul ditengah ruangan.

Ketika Tuan Song berhasil naik diatas altar, seketika itu pula, secara tiba-tiba, api merah kemudian menyala disekitar perimeter luar altar.

Semua orang dengan gugup menelan air liur yang ada didalam mulut mereka masing – masing lalu kemudian mulai kembali mengamati situasi yang akan terjadi selanjutnya dengan hati-hati.

Setelah sekian lama menunggu, namun begitu, hanya satu api yang berhasil menyala, setelah itu tidak terjadi apa – apa lagi.

"...?"

Mereka menunggu dan terus menunggu dengan sabar.

Mereka benar – benar penasaran dengan fenomena yang akan terjadi selanjutnya.

Namun begitu, fenomena yang selama ini mereka tunggu – tunggu selanjutnya tidak pernah muncul dihadapan mereka.

Jin-Woo sedikit bingung.

Kim juga begitu.

Semua orang tampak kebingungan dengan situasi ini.

Kim cepat-cepat menoleh sambil kemudian berkata kepada Jin-Woo.

"Kau lihat itu Tuan Seong? Kenapa tidak terjadi apa - apa? "

Jin-Woo kemudian mulai menggelengkan kepalanya.

Kim sempat berpikir bahwa siapapun yang menjadi tumbal diatas altar akan otomatis menyelesaikan hukum ketiga.

Jin-Woo juga berpikir demikian.

Kalau seandainya seorang tumbal berdiri diatas altar maka hukum ketiga dalam ruangan ini akan selesai.

"Ini bukan tentang mempersembahkan tumbal, lalu apa lagi maksudnya?"

Jika demikian, maka bisa jadi, hukum ketika bukan soal tumbal.

Jika hukum ketiga bukan tentang pengorbanan, maka Tuan Song masih bisa diselamatkan.

Ekspresi Jin-Woo agak gembira.

Jin-Woo kemudian berusaha berdiri dengan susah payah.

Tubuhnya tampak sulit berdiri namun kemudian dibantu oleh dua Pemburu lain yang ada di dekatnya untuk berdiri.

"Tolong bawa aku lebih dekat ke altar supaya aku bisa mempelajarinya."

"Tapi Tuan Jin-Woo, luka-luka Anda bagaimana ...."

Ju-Hui juga kemudian bangkit dari tempatnya lalu mulai membantu Jin-Woo.

Kulit wajah sang gadis agak pucat setelah menghabiskan terlalu banyak energi sihir untuk menyembuhkan Jin-Woo.

Kerja keras Ju-Hui berbuah manis walaupun tidak bisa mengembalikan kaki Jin-Woo yang hilang, dang gadis berhasil menghentikan pendarahan yang terjadi pada Jin-Woo.

"Aku harus cepat."

Melihat situasi yang mulai tidak kondusif, Jin-Woo merasa tidak punya banyak waktu lagi untuk meleraikan.

Ia harus segera memecahkan teka – teki hukum ketiga.

Jin-Woo akhirnya tiba di altar dengan bantuan Pemburu lainnya.

"Mari kita naik ke atas altar."

Kedua Pemburu langsung tersentak kaget dengan pernyataan Jin-Woo.

Namun begitu, para pemburu tidak akan membantah perintah Jin-Woo karena kepada siapa lagi mereka harus bertumpu kalau bukan kepada Jin-Woo?

Ketika Jin-Woo dan dua pemburu lainnya ikut naik keatas altar, seketika itu pula tiga api merah tambahan kemudian menyala terang.

Ketika empat api mulai menyala terang seketika itu pula batin Jin-Woo sumringah bukan main.

"Lihat itu, lihat jumlah api yang menyala telah bertambah”

“Api yang baru saja menyala memiliki jumlah yang sama dengan jumlah orang yang berdiri diatas altar”

Tuan Song dan Jin-Woo, ditambah dua orang lain telah membuat empat api menyala terang.

Tampaknya semua orang yang tersisa harus naik semua keatas altar agar hukum ketiga dapat diselesaikan.

Jin-Woo kemudian menoleh untuk bertanya pada Song.

"Jika kita menunggu di sini, walaupun hukum ketiga tidak kita selesai, apakah menurutmu Pemburu lain dari Asosiasi akan datang untuk menyelamatkan kita?"

Song menggelengkan kepalanya.

“Hari ini belum hari ketujuh sejak Gerbang muncul.”

“Aku tidak yakin pemburu lain akan segera menolong kita”

"Gerbang peringkat D yang kita masuki hari ini adalah salah satu gerbang yang belum dimasuki oleh pemburu lain”

"Yah, begitulah Asosiasi beroperasi, mereka tidak akan datang sebelum suatu gerbang terbuka lebih dari tujuh hari”

“Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan datang untuk melakukan investigasi sebelum ada laporan tertentu"

Gerbang akan terbuka penuh setelah hari ketujuh apabila gerbang tersebut tidak diserbu.

Munculnya suatu gerbang biasanya dibarengi dengan pembantaian mahluk ganas yang ada didalamnya.

Para pemburu harus segera membunuh bos dalam gerbang tersebut agar gerbang bisa menutup.

Selama bos didalam gerbang belum dibunuh maka gerbang akan terus terbuka selama – lamanya.

Asosiasi tidak ingin terlalu lama membiarkan suatu gerbang terbuka terlalu lama karena mahluk ganas yang ada didalam gerbang bisa saja keluar masuk kedalam kota kemudian memangsa manusia lainnya diluar gerbang yang ada didunia luar.

Jin-Woo melihat ke belakangnya.

Patung dewa raksasa itu masih memandangi mereka dengan ekspresi yang sombong dari singgasananya.

"Jika patung itu berdiri lagi, maka ...."

Kekacauan yang terjadi selanjutnya tidak dapat dibayangkan.

Tentu saja, sebelum itu terjadi, para Pemburu yang masih bisa hidup harus segera memutuskan cara untuk selamat dari ancaman patung dewa.

Jin-Woo yakin bahwa saat ini mereka tidak bisa berdiam diri untuk selama - lamanya.

Jin-Woo memanggil Ju-Hui dan Kim.

"Kalian berdua, ayo cepat segera naik keatas altar."

Tanpa banyak basa – basi, Ju-Hui melangkahkan kakinya naik keatas altar.

Kim yang masih tampak ragu-ragu juga mulai mengikuti perintah Jin-Woo.

Dua api kemudian menyala lagi.

Para pemburu was-was dengan apa yang terjadi selanjutnya.

"Apa yang terjadi?!"

"Apa yang terjadi di sini?"

Seperti yang diduga oleh Jin-Woo, terjadi suatu pergerakan.

"Ada yang bergerak!”

Dari ujung altar, api biru kecil mulai terbang melayang ke atas.

Tampaknya ada tiga puluh api biru yang kemudian melayang kearah para pemburu.

’34. 35. 36 .... ’

Jin-Woo dengan cepat menghitung semua api biru yang melayang dengan jumlah total 36 buah api biru.

‘Enam api merah yang menyala menggambarkan jumlah orang yang berdiri diatas altar’

‘Namun begitu apa makna dari 36 api biru yang muncul saat ini?’

DENTANG!

Pintu yang sebelumnya tertutup rapat tiba-tiba saja terbuka lebar.

Para Pemburu secara refleks tersentak.

"Euk ...!"

Mereka semua begitu ingin lari kearah pintu yang baru saja terbuka namun memutuskan untuk tidak melakukannya.

Mereka merasa sulit untuk mengambil langkah pertama karena siapa yang akan tahu apa dengan kejadian selanjutnya jika seorang pemburu kemudian lari menuju pintu yang terbuka itu?

Lagi – lagi, para pemburu mulai menatap Jin-Woo untuk mencari jawaban.

Namun begitu, bibir Jin-Woo masih tetap tertutup rapat.

"..."

Jin-Woo tidak bisa menemukan petunjuk untuk teka-teki hukum ketiga ini.

Dia tidak tahu apakah pintu yang terbuka itu adalah jebakan, atau sebuah jalan keluar bagi mereka.

Ketika para pemburu menunggu jawaban dari Jin-Woo, tiba – tiba saja suara mengerikan terdengar menggema.

Berderak….

Creeeaaaak ....

Kepala keenam Pemburu dengan cepat menoleh kearah datangnya suara.

"Apa itu tadi?!"

"Lihat itu, lihat, mereka semakin mendekat !!"

"Benda-benda itu semuanya bergerak sekarang !!"

Napas para pemburu tiba – tiba saja bertambah cepat.

Patung-patung batu yang sebelumnya diam mulai bergerak secara bersamaan mendekati para pemburu yang berdiri diatas altar.

Jin-Woo melirik kearah patung – patung yang bergerak dan berkata.

‘Tidak, patung-patung itu tidak bergerak”

“Lihat lantai ruangan ini”

“Lantai ruangan ini yang bergeser”

“Oleh sebab itu patung – patung itu seolah – olah bergerak mendekati kita”

Pekikan yang muncul secara tiba – tiba berasal dari tanah yang menempel di lantai.

"... Mereka tidak bergerak lagi?"

Ketika semua orang mulai menatap patung-patung itu dengan seksama, Jin-Woo justru fokus dengan nyala api biru.

Creaaakkkk ...

Mendengar pekikan suara kembali berbunyi, para pemburu terkejut lagi lalu berteriak.

"A-apa itu tadi ?!”

“Dari mana asalnya? ”

Jin-Woo dengan cepat mengangkat kepalanya.

Suara itu datang dari arah lain.

Patung-patung batu yang menghadap Jin-Woo telah bergerak sedikit lebih dekat.

"Mengapa hanya patung yang menghadap diriku yang bergerak?”

Patung itu bergerak? apakah karena Jin-Woo sempat memalingkan pandangannya dari patung tersebut?

Untuk mengkonfirmasi hal tersebut, Jin-Woo menutup matanya.

Suara itu terdengar lagi.

Creaaaakkk ...

Begitu dia membuka matanya, suara itu berhenti.

"Apa yang terjadi di sini ?!"

"Apa, apa yang harus kita lakukan?!"

Ketika para pemburu mulai panik, seketika itu pula Jin-Woo dengan cepat berteriak pada yang lain.

"Jangan mengalihkan pandangan kalian dari patung – patung yang ada dihadapan kalian masing - masing!"

Jin-Woo mulai paham dengan cara kerja patung – patung dihadapannya.

Patung-patung itu tidak akan mulai bergerak mendekati mereka ketika para pemburu masih memandang patung – patung tersebut.

"Mereka akan bergerak mendekati kita ketika kita mulai tidak memperhatikan."

Pada saat yang bersamaan, sebuah api biru kemudian tiba – tiba saja menghilang.


'Loh mengapa salah satu api biru tiba – tiba saja menghilang?’

‘Mungkinkah…?'

Naluri Jin-Woo mulai bergolak.

Tidak lama kemudian, sang pemuda mulai melirik kearah arloji yang ada ditangannya.

“Apa mungkin yang seperti aku pikirkan?”

Pada interval satu menit, nyala api biru yang ada dihadapan mereka akan padam.

"Api biru adalah pengatur waktu."

“Jika begitu”

Salah satu kunci hukum ketiga pada ruangan ini adalah soal waktu.

Para pemburu harus tetap berada diatas altar sampai semua api biru padam.


Dengan kata lain, Para pemburu harus tetap berada diatas altar sambil mengawasi patung-patung itu agar tidak bergerak hingga akhirnya semua api padam.

Ketika mereka dapat melakukan hal ini maka ada kemungkinan mereka akan aman.

Jika demikian maka para pemburu tidak ada yang harus mati lagi.

Jin-Woo merasa nalurinya yang baru saja muncul dapat menyelamatkan semua orang dari ruangan ini.

Sang pemuda kemudian mulai menceritakan masalah jumlah api biru dan hubungannya dengan hukum ketiga ketika kepada semua pemburu yang ada diatas altar.

"Ada tiga puluh yang tersisa ...."

Mereka hanya perlu bertahan tiga puluh menit lagi!

Ketika Jin-Woo mulai menjelaskan masalah waktu dan hubungannya dengan api biru, seketika itu juga patung yang menghadap Jin-Woo bergerak.

Jin-Woo lupa, pada saat dirinya mulai bercerita, matanya mengembara, tidak memperhatikan patung yang ada dihadapannya untuk sesaat.

Akibat hal ini lah kemudian, patung yang ada dihadapan Jin-Woo mulai bergerak merayap.
Creeeakkkk ....

"Euuuh, uwaaaahhh !!"

Pria yang berdiri di seberang Jin-Woo mulai berteriak panik kemudian lari menuju pintu yang sudah terbuka secara refleks.

Begitu pemburu tersebut meninggalkan altar, seketika itu pula, salah satu api merah menghilang.

"Tidak, Stop, Jangan!!"

Jin-Woo kemudian berteriak.

Namun pemburu laki – laki yang baru saja lari dengan penuh kepanikan acuh dengan teriakan Jin-Woo.

"Apa, apa-apaan ini ?!”

“Tuan Seong! Apa yang sedang terjadi?”

“Mengapa Orang itu berhasil keluar hidup-hidup! ”

Kim berteriak, bingung.

Jin-Woo berdiri dengan punggung menghadap ke pintu sehingga dia tidak bisa benar-benar tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.

"Apakah ada yang berubah?"

"Pintu…. Pintunya sedikit tertutup. ”

"Pintunya tertutup?"

"Tidak tidak. Setelah pria itu pergi, pintu itu memang sedikit bergerak, tetapi kemudian berhenti.”

Jin-Woo kemudian mulai ingat dengan salah satu api merah yang tiba – tiba saja menghilang ketika pria itu meninggalkan altar.

"Ya Tuhan !!"

Salah satu petunjuk yang tidak dia pikirkan sampai sekarang akhirnya terjawab.

Bagaimana mungkin kesalehan seseorang dapat dibuktikan hanya dengan berdiri diatas altar?

Walaupun Jin-Woo pada akhirnya paham apa yang dimakud dengan hukum ketiga, bukan berarti petunjuk itu kemudian akan memberikan jalan keluar yang Indah.

Jin-Woo tidak bisa berlari menuju pintu karena salah satu kakinya sudah putus.

Ia tentu akan membutuhkan bantuan orang lain untuk menjaga keseimbangan sang pemuda untuk berjalan keluar pintu.

Walaupun tidak yakin, sang pemuda menganggap pintu yang 'terbuka' itu bukanlah pintu untuk keluar dari ruangan ini.

Pintu itu adalah sebuah jebakan.

Mungkin.

Harapan palsu untuk menipu para hamba – hambanya yang tidak setia atau saleh.

Jika mereka melihat pintu dihadapan mereka terbuka lalu memutuskan untuk turun dari altar maka pada saat yang bersamaan, api merah yang selama ini mempresentasikan seseorang akan padam.

Ketika hal ini terjadi, pemburu yang lari menuju pintu akan dijamu dengan hujan darah dan jeritan.

Sangat – sangat mungkin walapun hanya sebuah hipotesa.

Di sisi lain, 'altar' adalah tanah yang dijanjikan.

Jika masing-masing orang melakukan apa yang harus mereka lakukan di posisi mereka sampai jangka waktu tertentu, maka kelangsungan hidup mereka akan dijamin.

Hukum ketiga adalah ujian untuk melihat apakah seseorang dapat sabar untuk setia dalam kenestapaan tanpa jatuh ke dalam godaan yang fana.

Pada awalnya, kelompok orang yang tersisa hendak berlari langsung menuju pintu yang terbuka.

Namun begitu, rencana mereka urung dilakukan untuk mendengarkan apa yang Jin-Woo katakan.

Sialnya, tidak semua orang mau mendengarkan nasihat Jin-Woo kali ini karena manusia akan bereaksi untuk menyelamatkan dirinya sendiri ketika ada harapan untuk bertahan hidup tepat di depan mata mereka.

Pria yang membantu Jin-Woo langsung meninggalkan sang pemuda lalu kemudian ikut berlari juga.

Song buru-buru mengulurkan tangan untuk menopang Jin-Woo.

Puf.

Ketika satu pemburu tambahan meninggalkan altar, seketika itu pula api merah lainnya padam.


Seperti yang Jin-Woo duga, pintu mulai kembali menutup sedikit.

Creeeaaakkk…

"Hah?! Uh !!"

Kim tampak kebingungan lalu menunjuk pemburu kedua yang berhasil lari dan keluar dari pintu.

Jin-Woo ikut – ikutan bingung, orang pertama dan kedua selamat! Namun pintu yang terbuka semakin tertutup.

Jin-Woo mengkonfirmasi jumlah api merah yang tersisa dan berteriak.

“Kita tidak boleh bergerak! Jika kita terus melarikan diri maka pintu akan benar – benar tertutup! "
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jangan-panggil-aku-ibu
Stories from the Heart
istri-tua-vs-istri-muda
Stories from the Heart
cinta-dalam-penyesalan
Stories from the Heart
madu-yang-beracun
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.