alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
135
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aee7a68d44f9f322d8b4569/jatmiko-the-series
Dito mengangguk sembari membuka jendela, seketika kegelapan terlihat di depan mata. Pemuda berambut ikal sebahu itu segera mengorek saku kemejanya. Dikeluarkan satu batang rokok, disulut dengan pemantik lalu diselipkan di sela –sela bibir. Tidak lama kemudian asap tipis menghambur dari rongga mulut dan terbang terbawa angin malam.
Lapor Hansip
06-05-2018 10:45

JATMIKO THE SERIES

Past Hot Thread
Diubah oleh breaking182
profile-picture
profile-picture
simsol... dan tyassiwi memberi reputasi
5
Tampilkan isi Thread
Halaman 7 dari 7
JATMIKO THE SERIES
08-09-2019 09:12
Apdet dong oooom
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
11-09-2019 08:30
Quote:Original Posted By fatbass
JATMIKO THE SERIES


Quote:Original Posted By angintimur9
Apdet dong oooom


Sabar mas Gan....pasti dilanjutin masih sibuk di dunia nyata ngurus kerjaan
profile-picture
nichi07 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
JATMIKO THE SERIES
11-09-2019 08:41
Quote:Original Posted By breaking182
Sabar mas Gan....pasti dilanjutin masih sibuk di dunia nyata ngurus kerjaan


utamakan RL bg parlin.. emoticon-Cendol (S)
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
Lapor Hansip
11-09-2019 11:18
Balasan post breaking182
Smoga kesibukan dunia nyatanya lancar n apdetnya lancar jg.
Trims atas karya2nya ya om
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
02-10-2019 22:14
kapan update lagi nech..
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
08-10-2019 01:39

PART 14


Quote:Siang hari itu setelah beberes dan mandi Mia masih termenung di depan cermin rias. Pikirannya masih kacau balau, hatinya masih belum yakin bahwa apa yang dialaminya semalam itu hanya mimpi belaka. Meski Dito pun sudah meyakinkan hatinya. Akan tetapi, Mia masih belum bisa percaya. Entah sudah berapa lama Mia termangu –mangu. Tiba –tiba memandang tanpa berkedip pantulan bayangannya di cermin. Lalu ia meraba telinga kanannya dimana di sana mengantung sebuah anting berbentuk ular yang sedang melingkar. Lalu ia raba telinga kirinya. Dirabanya sekali lagi tidak terasa ada anting yang menggantung. Disibakkan rambutnya yang masih agak basah itu. Di telinga kirinya kosong.

Buru –buru Mia bergegas meninggalkan kamar. Tanpa ia sadari Mia telah duduk di batu lebar berbentuk altar yang terletak di bibir lembah. Heran, pikirnya. Mengapa ia reflek untuk mengunjungi tempat ini lagi. Ia tercenung. Membisu bagai seonggok bebatuan. Sesekali kaki kanannya bergerak untuk menghindari seekor binatang melata kecil yang disebut kaki seribu. Tepat pada saat yang sama ia lihat sesuatu yang lain. Terselip di celah dua buah batu yang menjorok ke rerumputan. Sesuatu yang bekilauan tertimpa cahaya matahari dan ketika ia pertajam matanya. Benda itu ia pungut dengan tangan gemetar. Sebuah anting berbentuk ular melingkar.

Mia mengamat - amati anting yang ada dalam genggaman tangan kanannya dengan jantung berdebar. Sesaat Mia mencoba mengabaikan temuannya itu. Akan tetapi, warna bentuk dan besarnya sama benar dengan anting miliknya yang telah raib. Tentulah anting itu itu terjatuh dari telinga kiri Mia, tetapi mengapa jatuhnya di tempat ini? Pertanyaan besar itu berkecamuk dalam batin Mia. Jangan –jangan memang benar malam tadi ia tidak bermimpi. Melainkan suatu kenyataan. Mendadak perasaan tidak enak menyelinap di sanubarinya. Ia teringat mimpi buruknya tadi malam. Seolah - olah tubuhnya melayang –layang dan tatkala membuka mata ia sudah terbaring di atas batu berbentuk altar yang kini ia duduki. Apakah semua itu bukan sekedar mimpi...Atau.....

Pundaknya terasa dingin seketika. Nalurinya membisikkan bahwa saat itu ia tengah diawasi seseorang. Reflek. Lehernya berputar dengan sepasang mata memandang ke sekitar tempat itu. Tak ada siapa-siapa yang kelihatan. kecuali rumah - rumah yang berdiri megah. Diam membatu seolah tidak berpenghuni. Suasana di sekitarnya sepi tanpa ada tanda – tanda kehidupan.

Takut takut, ia menoleh ke belakang. Memandang tonjolan batu yang paling tinggi paling curam dari batu - batu lainnya. Ia mengharapkan dengan cemas, di atas sana tegak sesosok tubuh kehitam – hitaman, tinggi dan tanpa kepala. Namun selain langit yang biru jernih serta sekelompok awan putih perak ia tidak melihat apa - apa lagi.
“Pasti! Pasti ada yang mengawasiku" desahnya gemetar.

Lantas ia menghambur turun dari batu dan lari secepat mungkin ke rumah. Untunglah akal sehatnya segera muncul. Mungkin hanya perasaannya saja yang mengatakan ia diawasi. Kalaupun ada orang jahil yang mengintipnya dari tempat tersembunyi. ia tak perlu takut. Ia harus menunjukkan bahwa ia seorang perempuan yang berhati tegar. Ia lantas melangkah dengan tenang dan sabar. Makin dekat ke rumah. Perasaan diawasi itu pun makin hilang pula .


Quote:Sebuah mobil tua muncul dengan suara mesin menggerung gerung di jalan mendaki, lalu setelah lebih dulu terbatuk batuk berhenti di depan rumah bersamaan waktunya ketika Mia tiba di tempat yang sama. Lewat jendela mobil Dito melempar seulas senyum manis seraya melambaikan tangan. Mia berlari lari mendekat dan membukakan pintu mobil.

Dito turun, tertawa kecil kemudian sesekali bersin, seraya menyeka kening dengan sehelai sapu tangan. “ Kau baik - baik saja Mia?"

Mia berjalan mengiringi Dito masuk ke dalam rumah. Begitu mereka di pintu. Dito bersin lagi .

"Flu?" tanya Mia.

"He-eh...."

"Aneh!"

“ Apa anehnya orang kena flu?" rungut Dito setengah tersinggung, seraya membiarkan tas ranselnya diambil Mia yang kemudian membawanya masuk ke dalam dan meletakkan di atas meja.

"Aku tadi ikut Pak Parman dalam penggerebekan seorang bandar narkotik di kawasaan Pantai Wedi Ombo. Hujan sedang turun. Derasnya bukan main”

“Eh, apakah di sini tidak hujan? "

Sebagai jawaban Mia justru balas bertanya: “ Kau keluar malam ya?"

"Kapan?" tanya Dito bingung.

"Tadi malam."

"Apa maksudmu Mia ?"

“Bukankah sepanjang malam tadi ku tidur di...."

“ Ah, aku hanya ingin tahu ", Mia memotong dengan cepat.

Mia angkat bahu. Lantas sambil bergegas ke belakang. Lalu ia berhenti. Ia mengawasi Dito yang juga tengah melakukan hal yang sama terhadapnya.

Lantas bertanya dengan penuh selidik : "Oh ya, ketika aku sedang mengeringkan rambutku di depan cermin. Tiba –tiba aku baru sadar, anting ku yang sebelah telah lenyap.Kau tahu dimana aku menemukannya?"

Dito membasahi bibir.

Berpikir sebentar. lalu: "Soal anting mu yang hilang, aku sama sekali tidak tahu menahu. Mengapa soal sepele itu harus kau tanyakan kepadaku Mia?"

Belum lagi Mia menjawab, pintu penghubung ke rumah induk diketuk dari dalam. Dito membukanya dan induk semang mereka berdiri di sana. Menghadiahkan seulas senyum keibuan untuk muda mudi yang tengah bersitegang itu. Perempuan berusia lanjut itu memandang mereka silih berganti. Lantas mendengus dengan nada menyesal: "Oh...Rupanya aku telah memilih waktu yang tidak cocok!"

“ Barusan kami memang lagi asyik...!" Dito menyeringai sumbang.

Sementara Mia diam - diam menyelinap masuk dapur.

"Ada apa Bu Endah?"

"Pak Parlin menanyakanmu tadi. Katanya kalian berdua sudah ada janji...."

"Janji?!"

“ Aku...." protes yang keluar dari mulut Dito terhenti ketika matanya beradu dengan sorot mata bu Endah yang berkilau tajam.

Bersin sebentar. Dito kemudian merubah nada suaranya menjadi serius.

"Astagaaaa!”, ia berseru lantang.

"Memang aku berjanji untuk menemui Pak Parlin dua hari yang lalu untuk menyelesaikan surat- surat pindah kami yang belum beres. Wah, wah. Dia marah tentunya... “
“ Tidak" , Bu Endah memotong cepat.
“ Oh, syukurlah. Kapan aku harus datang menemuinya Bu Endah?"
"Katanya sekarang juga kalau kau ada waktu...."
Di dapur, Mia yang mendengar percakapan itu dengan pikiran melantur tidak menentu. Selaksa pertanyaan bersemanyam di hatinya. Tanpa satupun yang ia tahu jawabannya.


Quote:Dito menghempaskan tubuhnya di sofa merah ruang tengah. Di seberangnya Mia tampak asyik menonton acara di layar televisi yang menyala. Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan Dito yang tampak gelisah di tempat duduknya. Sesekali pemuda berambut ikal itu mendeham seperti sengaja untuk memancing Mia agar tidak mengabaikan kehadirannya. Akan tetapi, upayanya itu sia –sia belaka. Mia masih tetap tidak bergeming. Hingga pada akhirnya Dito menyerah juga.

"Maaf...Aku pergi agak lama," Dito setengah berbisik.

"Pak Parlin sedikit rewel. Sehingga pembicaraan jadi bertele tele. Tetapi semua sudah beres sekarang "

"Hem!"

“ Masih marah?'' Dito beringsut beranjak dari sofanya kemudian duduk di samping Mia.

"Aku mengabaikan maksud dan tujuan kita di tempat ini. Dan aku berjanji mulai besok akan fokus membantu membuka dan menyelidiki kasus yang tengah kau hadapi “

" Aku bisa mengatasi permasalahanku sendiri “, desah Mia berpura - pura.

"Tetapi kau harus berterus terang. Mia. Aku harus minta maaf karena tadi malam aku memang keluar”

“ Aku mendengar suara mencurigakan yang mengitari rumah ini, langkah –langkah kaki lebih dari sepasang. Mungkin belasan, atau puluhan pasang kaki. Bahkan sesekali langkah –langkah itu berhenti tepat di balik tembok kamar kita “

"Aku... aku tak mendengar apa -apa"

"Tentu saja Mia. Kau terlalu banyak menelan obat. Kau benar - benar tidur seperti orang mati "

Mia teringat mimpi buruknya.

“ Dito, aku melihat dengan jelas orang - orang itu. Wajah mereka dicoreng-moreng. Bukan, mereka memakai sejenis topeng yang aneh. Berkelakuan aneh, bernyanyi sebuah lirik yang tidak jelas. Itu bukan bernyanyi tetapi seperti sedang melakukan ritual pemujaan. Dan ..........."

" Itu hanya perasaanmu Mia" ,Dito mendengus setelah tubuhnya tegang sesaat.

“ Lalu apa yang kau temui setelah kau keluar rumah tengah malam buta itu? “, Mia bertanya sembari mematikan televisi menggunakan remote yang sedari tadi ada di genggaman tangannya.

Hening sesaat.

"Aku kehilangan jejak, langkah –langkah kaki mereka tiba –tiba raib. Hilang tidak berbekas. Bekas –bekas tapak kakinya pun satupun tidak aku temui. Tanaman bunga masih tetap rapi tidak ada tanda terinjak ataupun tersibak sedikitpun “

Mia menggigit bibirnya sendiri. Apakah benar yang dikatakan oleh Dito?

“ Lalu aku kembali masuk ke rumah. Duduk sendirian di ruangan tengah ini sampai pagi menjelang. Dini hari telpon berbunyi Pak Parman mengajakku untuk meliput penggerebekan gembong narkotik yang bersembunyi di kawasan Wedi Ombo"

Mia menarik nafas panjang, “ Maafkan aku Dito. Aku telah berprasangka buruk padamu. Mulai sekarang kita harus bahu membahu mengungkap kasus usang ini “

Aku setuju, memang dari awal kedatangan kita kesini untuk tujuan itu”, ujar Dito dengan bersemangat.
Lalu keduanya tertawa gembira, ganjalan batu di dada Mia tiba –tiba langsung mencair dan menguap entah kemana.

"Mia, aku lapar."

“ Makanlah. Semua sudah terhidang di meja makan!"

Tanpa menunggu Dito, Mia beranjak ke ruang makan yang hanya bersebelahan dengan ruang tengah. Tidak berapa lama Dito telah muncul di tempat itu. Terlihat di permukaan meja makan terhidang santapan sore yang terlihat menggugah selera dan memacu nafsu makan untuk lebih lari dengan cepat.

“ Sini ku ambilkan, “ Mia mengambil piring yang sudah terlungkup di atas meja makan. Tangannya dengan cekatan mengambil nasi dan lauk yang telah berada di atas permukaan meja makan.

“ Sudah cukup Mia, jangan terlalu banyak. Perutku tentu tidak akan muat dijejali dengan makanan sebanyak itu “
Tangan Dito terulur meraih piring yang diangsurkan oleh Mia. Tanpa sengaja kemeja lengan panjang di bagian pergelangan tangan kanan sedikit tersingkap. Terlihat lingkaran sebesar cincin berwarna merah kehitam hitaman. Seperti tattoo.

Mia memperhatikannya terheran –heran karena lingkaran sebesar cincin yang aneh itu sepertinya tidak ada sebelumnya. Atau karena Dito sering memakai kemeja atau kaos berlengan panjang ?Ia mau bertanya. Namun, Dito sudah asik dengan makanan yang berada di permukaan piringnya. Seketika Mia melupakan tattoo ganjil di pergelangan tangan kanan itu. Mia pun tidak perduli.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
JATMIKO THE SERIES
08-10-2019 01:47

PART 15


Quote:Hari sudah larut malam. Kegelapan menyelimuti pemukiman di puncak bukit. Sesekali angin bertiup kencang membawa hawa dingin yang mencucuk sampai ke tulang. Pepohonan pinus di sekitarnya terayun-ayun begitu hebat, sampai menimbulkan bunyi berderak-derak mendebarkan.

Bu Endah masih terjaga. Ia mengambil keranjangnya duduk di kursi malas lalu mulai merajut. Pak Barda sang suami bertanya hati – hati dengan setengah berbisik.

“ Apakah ia tadi meminum obatnya sampai habis ?"

Tanpa menoleh sang isteri menyahut: "Tanpa sebutir pun yang tertinggal “

"Anak yang penurut dia itu "

"Penurut benar tidak juga. Ia sempat memprotes. Mengatakan bahwa setelah meminum obat itu badannya menjadi lemas, mengantuk lalu tertidur lelap sampai pagi menjelang. Aku bahkan hampir tidak mampu membujuknya. Kalau Usman tidak segera datang menolong. Ia tidak akan pernah menghabiskan obat itu”

Pak Barda bersungut – sungut, " Jika saja anak itu tidak bisa ditundukkan maka bayi yang sudah lama sama –sama kita harapkan tidak akan pernah jadi kenyataan"

"Jangan tergesa-gesa kata Usman pak. Nanti anak itu curiga"

Perempuan tua yang telah asyik merajut itu, mendadak menggoyang - goyangkan kepala. Lantas bersungut-sungut pada suaminya : “ Jangan berdiri mematung saja pak. Tolong garukkan belakang telingaku. Gatal sekali rasanya seperti dijalari ulat bulu...."

Pak Barda mendekati isterinya. Melalui bantuan cahaya lampu ia menemukan yang ia cari di belakang telinga bu Endah. Itupun setelah lebih dulu menyibakkan sebagian rambut perempuan tua itu. sehingga bagian yang gatal itu dapat terlihat dengan jelas. Sebuah lingkaran merah kehitam hitaman. Sebesar cincin.

Sambil menggaruk lingkaran yang ganjil itu pak Barda berbisik :
"Kau dengar apa yang tadi diucapkan pak Parlin tempo hari?"

"Kudengar pak."

"Akan terjadi perubahan besar di muka bumi jika bayi itu benar –benar lahir....”

"Benar. Akan terjadi perubahan besar di muka bumi ", isterinya mengiyakan.


Quote:Sementara di dalam kamar Mia, Dito tampak serius mencermati dan membaca satu persatu sebuah bendel kertas dokumen yang terhampar di atas meja baca itu. Kerutan di keningnya tampak jelas sesekali mana kala ia mencoret – coret sebaris kalimat yang tengah di bacanya,Mia berdesah lirih di atas ranjang.

"Apakah kau merasa dingin Dito?"

"Hangat", jawab Dito pendek tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan matanya dari kertas – kertas yang masih ia cermati satu persatu.

“ Rasanya badan ku membeku."

“ Kau letih Mia. Mungkin juga karena cuaca. Ketika tadi aku menutup pintu langit dipenuhi mendung pekat. Tampaknya hujan akan turun?"

“ Aneh. Padahal tadi siang bahkan sampai sore begitu cerah”, Mia bergumam resah.

“ Apakah ini pertanda buruk Dito"

"Untuk petani yang sudah lama ditimpa kemarau penanda baik”

“ Aku tiba –tiba berubah pikiran dan menaruh kecurigaan Dito. Para penduduk disini. Sepertinya mereka saling berkaitan dan ada sesuatu misteri yang lebih besar dibandingkan dengan kasus yang tengah kita ungkap"

“ Mengapa?"

" Kau perhatikan Pak Barda dan bu Endah. Memang orang - orang tua yang ramah dan baik hati. Memperhatikan kita seperti memperhatikan anak-anak mereka sendiri. Tetapi suasana di sekitar rumah ini, Dito. Kadang - kadang membuatku takut dan serasa berada di alam lain yang sangat asing. Lebih-lebih tumpukan batu di bibir bukit itu....”

"Apakah kau pernah disakiti mereka. Apakah mereka mulai curiga dengan kehadiran kita?" tukas Dito dengan cepat. Ia tidak ingin membicarakan mengenai batu - batu besar yang salah satu berbentuk altar itu. Membayangkan tempat itu, ia sama takutnya dengan Mia.

"Tidak. Mereka semua orang baik "

"Jadi"

"Agak misterius itu saja. Jarang berkumpul satu sama lain. Lebih jarang lagi bergaul dengan pemukiman tetangga di bawah bukit. Tidak ada anak - anak kecil. Tidak ada suasana hiruk pikuk orang berkeluarga. Dan lebih tidak mengenakan lagi. Omongan mereka kalau kebetulan kami bertemu satu sama lain.... Dunia yang sudah rusak. Kiamat yang sudah menunjukkan pertanda segala macam. Pokoknya. Pembicaraan yang itu itu saja. Dengan harapan yang itu itu juga: suatu hari, akan ada perubahan," Mia bernafas tersengal-sengal.


Quote:Dito terdiam, tumpukan kertas yang sedari tadi ditekuninya didiamkan menumpuk tidak beraturan di atas permukaan meja. Di luar rumah guntur menggelegar tiba – tiba. Mia bergidik. Dengan mata nyalang ia memandang jendela kamar tidur. Tertutup tirai. Namun ventilasinya memperlihatkan cuaca yang hitam kelam, dan sesekali mendadak putih menyilaukan manakala petir sambar menyambar. Lewat tengah malam. hujanpun turun deras membadai. Topan seakan menggoncangkan rumah itu.

“Sudahlah. Mari kita tidur Mia. Aku harus menemui pimpinan redaksi pagi-pagi benar. Sehingga aku bisa pulang lebih awal. Bukannya kau ingin kita mulai penyelidikan ini?"

Tanpa menunggu persetujuan Mia, pemuda itu segera beranjak setelah sebelumnya merapikan lembaran kertas yang berceceran di atas meja. Tidak lama kemudian ia sudah meringkuk dan terdengar dengkurnya yang seperti bersaing dengan suara deru hujan di luar rumah.

Mata Mia tak mau terpicing. Mia gemetar ketika mendengar curah hujan yang bagai air bah menyapu atap rumah. Kaca jendela seakan mau pecah oleh hempasan angin topan. Kemudian...Guntur menggelegar lagi. Keras luar biasa. Sampai ranjang yang ia tiduri seolah terangkat dari lantai.

"Gempa!" Mia setengah berteriak. terduduk di ranjang.

Dito tetap saja terlelap.

Pelan - pelan ia bangkit dari tempat tidur. Guntur sudah berhenti. Hanya kilat yang sesekali masih menyambar disertai tiupan angin topan dan hujan badai yang seolah tidak akan mau berhenti. Malah semakin keras saja. Tirai jendela ia singkapkan. Namun hanya kegelapan yang ada di luar. Lalu bayangan samar - samar rumah tangga. Kalau tak salah rumah pak Jumadi. Menurut cerita bu Endah, dulunya bekas petani dan kini melonjak jadi penasihat di salah satu departemen pemerintah.

Banyak memiliki bintang jasa dan untuk itu terpaksa sering meninggalkan rumah dan isterinya yang sudah tua renta. Kemudian, isterinya pindah ke rumah salah seorang anak mereka di kota. Namun rumah itu tetap mereka tempati pada waktu-waktu tertentu. Sering kosong. Seperti malam ini. Tak ada cahaya apa - apa di dalam rumah tetangga itu. Tak ada kehidupan.

Mia beranjak ke ruang depan. Lantai tidak bergeming sedikitpun. Ah.... memang tidak ada gempa. Mungkin karena terlalu kesepian seorang diri. Ia merasa hujan kecil sebagai hujan badai. Tahu-tahu saja Mia telah menyingkap tirai jendela depan pavilyun. Kegelapan yang sama, butir - butir hujan yang sama. Dengan suara angin bersiut - siut sayup - sayup sampai ke telinga. Pepohonan di depan rumah tampak bergoyang - goyang di bagian daunnya yang rimbun. Tetapi batang - batangnya tetap utuh, tak tergoyangkan. Tak ada apa-apa lagi selain bayangan pepohonan itu.

Mia baru saja akan menutupkan tirai jendela dan bermaksud untuk tidur saja. Ketika petir menyambar di tengah kepekatan malam yang gelap gulita. Mia terkejut bukan main. Ia pegangi tirai kuat-kuat. Sehingga kaca jendela tetap telanjang di depan matanya. Sambaran kilat yang kedua kali. Tidak mengejutkan. Hanya menajubkan.
Kilat itu bersinar cukup lama. Cukup pula bagi Mia untuk melihat segala – galanya dengan cukup jelas. Tanaman bunga yang setengah rebah di pekarangan, pepohonan yang tegak dengan tangguh dan kokoh, lapangan rumput. Jalan setapak yang mendaki. Lalu tumpukan batu-batu besar di bibir bukit. Altar tampak menyala. Ah...bukan menyala. Melainkan terang benderang dalam jiatan lidah petir.

Dan di belakang altar di tonjolan batu yang paling tinggi, sosok tubuh yang sudah pernah ia lihat, muncul sekilas. Tinggi kekar dan hitam, dengan lehernya yang kutung tampak masih meneteskan darah segar. Di tangan kanan mahkluk itu tampak mengempit sebuah kepala. Mia melihat sepasang mata besar yang merah menyala –nyala yang kemudian lenyap, bersama hilangnya petir. Lalu, perlahan-lahan, hujanpun turut mereda.

Tergetar Mia karena perubahan suasana yang mendadak itu. Suara riuh rendah di luar rumah lenyap begitu saja. Tinggal sepi yang menganga seperti ada roh - roh jahat tertegun dalam kegelapan. Ingin rasanya Mia lari dari jendela. Bersembunyi di balik selimut di kamar tidur.

Betapapun Mia mencoba. Kakinya tetap saja terpaku di lantai. Bahkan tangannya yang menyingkap tirai jendela tak mampu ia gerakkan sama sekali. Nafasnya berdesah –desah mengeluarkan uap putih yang segera mengendap dipermukaan kaca jendela. Namun matanya yang terpentang lebar masih dapat melihat perkembangan yang terjadi di pekarangan.

Kemudian di sepanjang perbukitan. Meskipun pucat, cahaya rembulan yang kembali muncul cukup lantang memancarkan cahayanya. Kabut tipis seperti sutera putih merayap di atas rerumputan, merangkak malas sejauh mata memandang. Tiba di bibir bukit yang tinggi kabut itu tampak dengan susah payah merangkul tumpukan batu – batu hitam. Terutama batu yang paling menonjol kuat dan menjulang ke langit biru.

Berkedip mata Mia seketika. Ada sesuatu disana, agak ke sebelah kanan tumpukan batu misterius itu. Sesuatu itu bergerak lambat memanjat sebuah batu besar dan lebar. Mulut Mia terbuka lebar. Ingin menjerit karena kaget manakala sesuatu itu berdiri tegak memandang kian kemari dan berhenti tepat kearah rumah yang didiami Mia.
Ketika sesuatu itu bergerak turun. Mia terengah. Komat- kamit mulutnya membaca apa saja yang teringat untuk mengusir ketakutan yang kembali mendera. Sesuatu itu, makhluk berwujud manusia. Berjalan tersaruk -saruk dengan kaki - kaki tenggelam dalam pelukan kabut. Suram dan hitam.

Menjurus langsung ke tempat Mia mengintip. Di balik jendela.

Tidak jangaaan...." tahu – tahu saja mulut Mia dapat bersuara. Setelah kelu sejenak tadi.

"Jangan dekati aku...jangan kesini. Oh jangan...!"

Nalurinya untuk menyelamatkan diri mengerakkan otot - otot Mia yang tegang kaku. Syaraf – syaraf mulai pula bekerja. Demikian pula pembuluh darah serta denyut jantungnya. Tanpa sadar tirai yang ia cengkeram terlepas dan ia bertindak mundur. Selangkah, dua langkah, tiga, empat sambil berbisik mohon perlindungan.

Dito!" Dito!"

Kemudian disusul dengan putaran tubuh. Gerakan kaki yang semakin cepat. Berlari masuk ke dalam kamar tidur seraya berteriak histeris:

Ditooooo!"

Dito terbangun bukan oleh teriakan Mia. Melainkan oleh terkaman tubuh Mia yang terbang ke atas sofa, tempatnya meringkuk tertidur pulas. Lalu Mia memeluk Dito dengan sekujur tubuh bergetar hebat. Setelah mengucek - ucek mata sebentar, Dito menggapai tombol lampu.

Klik....!

Kamar tidur terang benderang menyilaukan. Dito terkesiap melihat wajah Mia yang pucat seperti kertas itu. Basah bersimbah peluh dingin.

“Ada apa Mia?"

“Didddi.. aaa menuju kkeee kemariii...”, Mia menceracau gugup.

“Dia!"

“Siapa?"

“Haaa -hantuuu .."

“Hantu? Astaga, Mia”

Dito perlahan - lahan dapat menguasai dirinya.

"Kau membuatku kaget saja. Hantu, hem..... Sejak kapan kau percaya pada hal - hal gaib yang menggelikan itu?”

“ Tak ada hantu, Mia. Tak ...."

"Ada. Diluar pintu!"

"Apa", Dito hampir saja tertawa terbhak -bahak. Namun iba kasihan melihat Mia yang sangat ketakutan itu menekan keinginan konyol itu. Ia menarik nafas panjang, kemudian bangkit dari tempat tidur.

"Baiklah." ia berkata lembut.

"Akan kulihat sebentar."

"Jangan!" Mia ketakutan.

"Alaaa, paling juga bayanganmu saja. Kalaupun pencuri, kukira ia itu tertalu nekad menyatroni rumah dimana aku menetap "

Dito tersenyum, dan berjalan keluar kamar tidur. Diam-diam Mia menguntit di belakangnya. Bukan karena ingin ikut. Melainkan semata- mata karena tidak mau ditinggal sendirian di kamar tidur.


profile-picture
profile-picture
chisaa dan MontanaRivera memberi reputasi
2 0
2
JATMIKO THE SERIES
08-10-2019 01:59
PART 16


Quote:Ketika Dito menjangkau pegangan pintu. Mia menyambar lengan pemuda itu. Dito sampai kaget sendiri, hampir marah, namun naluri ingin melindungi menekan kemarahannya itu jauh ke sanubari.

"Berdirilah diam di belakangku," ia berbisik.

Lalu jari jemarinya menyentuh anak kunci, sementara tangannya yang lain mengintip lewat celah celah tirai jendela yang sedikit tersingkap. Kegelapan diluar telah diterangi bulan yang masih memancarkan cahayanya yang pucat, lampu beranda depan ikut pula menerobos kabut pekatnya kabut. Ia melihat sesosok tubuh kehitam – hitaman mendekat dari arah perbukitan. Berjalan sejajar dengan pagar pekarangan pavilyun. Dito bergerak cepat dan cekatan.

Kunci pintu disentak berderak, daun pintu direnggut terbuka. Dengan satu kali lompatan ia telah berdiri di beranda seraya berseru lantang.

"Berhenti, siapapun kau adanya!"

Terdengar seruan kaget, lantas sosok tubuh ke hitam hitaman itu berhenti, hanya selangkah dari pintu pagar. Di belakang Dito, Mia bergidik. Selama beberapa detik ia pejamkan mata dan berdo'a semoga makhluk itu tidak menghambur menyerang ia dan Dito.

"Siapa kau sebenarnya?", Dito bertanya dengan tegang.

Sepi menyentak sejenak, dan Mia masih berdiri gemetaran di ambang pintu.

Lalu: "Saya, Tuan muda...." terdengar jawaban parau.

"Saya siapa?"

"Manto..."

Seketika itu juga Mia membuka kedua belah matanya. Berjalan ke halaman lalu berdiri tegak di samping Dito. Bersama- sama menatap sosok tubuh kehitaman yang tampak tegak dengan gelisah di luar pagar. Karena belum yakin, Dito mendengus: "Mendekatlah. Supaya aku dapat melihatmu"


Quote:Sosok tubuh itu bergerak ragu - ragu ke pintu pagar membukanya dengan suara berderit kemudian melangkah memasuki pekarangan. Dalam sekejap ia telah berdiri dihadapan kedua muda –mudi itu. Gelisah dan ketakutan tergambar di wajahnya yang kehitam hitaman. Lampu beranda menerangi sekujur tubuhnya yang tampak gemuk dan pendek. Ia tidak saja berkulit kehitam-hitaman, tetapi juga berpakaian warna gelap. Pantaslah penampilannya menakutkan ketika muncul dari balik kabut.

Namun, meski telah mangenali laki – laki gemuk pendek itu sebagai pelayan sekaligus sopir pribadi Parlin si ketua RT di perkampungan itu.

Mia belum puas yang menuntut untuk membuka mulut dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di luar ?"

"Saya baru pulang mengantar Tuan Parlin menengok pabriknya," jawab orang itu.

"Mengapa larut malam begini kau masih berkeliaran di luar?"

"Oh... itu. Saya pulang sore tuan muda. Lantas Tuan Parlin menyuruh saya untuk service mobil. Tapi mendadak hujan turun begitu saja. Derasnya bukan main “, kata Manto sembari dan merapatkan sarung pelekat yang terbelit di lehernya.

“ Dan sialnya lagi mobil tiba –tiba mogok di tengah jalan. Sudah coba saya perbaiki agar bisa jalan lagi ternyata upaya saya sia –sia. Mobil itu tetap saja tidak mau berjalan “

“ Lantas saya berteduh di tengah jalan. Ada ceruk yang lebar dan hangat, hampir-hampir saya ketiduran. Kemudian hujan berhenti, lalu saya berjalan pulang jalan kaki. Mobil saya tinggalkan saja di bawah sana dekat dengan belokan yang ada batu besarnya. Biarlah besok pagi diambil oleh tukang bengkel...."

"Kau datang dari arah sana. Mengapa?" tanya Mia seraya menunjuk ke bibir bukit, di mana terletak tumpukan batu-batu hitam misterius yang kini seolah berkumpul diam -diam. Mengintai pembicaraan mereka dari kejauhan.

“ Saya suka memilih lewat dari situ . Ada jalan setapak. Meski curam dan berbahaya. Akan tetapi, lebih singkat dan cepat untuk sampai di tempat tujuan “

Dito diam –diem merasa puas telah membuktikan pada Mia bahwa tidak ada hantudi tempat ini. Mia tidak perlu takut lagi yang mereka hadapi bukan setan, atau pencuri, melainkan pelayan laki-laki Parlin! Tidak perlu dicurigai sama sekali.

"Boleh saya pergi Tuan Muda?"

“ Saya letih dan ingin tidur"

Dito mempersilahkan.

Laki – laki gemuk dan pendek itu membungkuk sopan. Kemudian berlalu Ketika ia menutup pintu pagar, orang itu membungkuk lagi. Baru setelahnya ia bergegas pergi, sosok tubuhnya lenyap di balik rerimbunan pohon dan semak belukar.

Dito mengawasi Mia.

"Puas ?", ia tersenyum.

Mia geleng kepala.

"Apa lagi Mia?"

"Aku masih curiga padanya."

"Baiklah.... Tetapi marilah kita ke dalam dulu. Dingin sekali di luar sini... “

Dito menarik lengan Mia ke dalam rumah isterinya ke dalam yang menurut saja bagai kerbau dicucuk hidung, dengan wajah tetap kelihatan tidak puas dan mata kosong mengambang menerawang entah kemana.
Dito memaksanya supaya tidur saja, tetapi Mia menolak.

"Ia muncul tidak lama setelah aku melihat makhluk itu." gumamnya, serius.

"Makhluk apa?"

"Makhluk hitam tanpa kepala. Sepotong kepalanya yang ditenteng dengan mata merah bernyala-nyala!"

"Hai, itu lagi. Apakah Manto tidak berkepala?"

"Tidak?"

"Matanya merah?"

Tidak."

"Jadi?"

"Tak ayal lagi. Ada sesuatu di sekitar tempat ini Dito. Telah lama aku memikirkannya. Tetapi kau terlalu menganggap sepele, menganggap remeh. Masalahnya bukan terletak pada Parlin sendiri. Akan tetapi, semua warga perumahan ini berkaitan. Malah kukira kau menganggap aku sudah berotak miring. Aku tidak menyukai tempat ini. Kita harus menyelidiki masalah ini secepatnya dan segera pergi jauh dari sini ! Atau mungkin kita batalkan saja memecahkan kasus ini"

Dito ternganga.

Tak bersuara.

"Apa jawabmu?" Mia mendesak, tak sabar.

"Kau letih. Mia. Kurang tidur. Itu sebabnya kau suka berpikir yang bukan bukan. Dan............"

"Itu lagi!" Mia menghentakkan kaki ke lantai.

Kesal.

"Lantas apa maumu?"

"Berhenti sampai disini?!"

"Tempat ini enak. Kita juga sudah terlanjur berjanji kepada Pak Parman untuk mengungkap kasus ini. Aku juga telah berlelah –lelah untuk menyelidiki tempat ini jauh –jauh hari sebelum kau datang ke Wonosari. Dan satu lagi, kehadiran kita sudah sangat diterima di tempat ini. Hal itu memudahkan kita untuk bergerak dengan leluasa"

"Tempat ini tiba –tiba membuatku takut “

"Takut pada apa? Aku dengar dari Pak Parman kau seorang wanita yang pemberani dan tidak percaya pada hal –hal mistis. Mengapa kau tiba –tiba berubah pikiran?"

"Makhluk itu "

"Alaaah....Mia ?"

"Kau percaya si Manto ya"

Mia menukas. "Ia selama ini tidak banyak bicara. Bahkan jarang terlihat"

"Itu karena ia tahu diri. Dan soal jarang terlihat karena ia memang berada di tempat Pak Parlin menjadi orang kepercayaannya “

"Aku tidak yakin. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya "

"Apa pula itu?"

“Entahlah... Pokoknya sesuatu yang semata-mata ditujukan padaku. Apa aku tidak tahu. Namun aku begitu takut. Jangan jangan... memang ia sendiri makhluk tanpa kepala dan bermata merah bernyala bagai api neraka itu. Aku tak percaya hantu. benar! Oleh karena itu , apa yang kulihat muncul mengerikan ditonjolkan batu yang paling tinggi itu bukan jelmaan roh jahat. Melainkan buatan Manto sendiri. Entah bagimana caranya. Yang jelas ia punya maksud - maksud jahat...!"

"Mia, Mia. Kau terlalu menaruh curiga dan...." Dito berpikir sebentar.

"Kukira, pendapatmu masuk akal secara Manto satu –satunya orang kepercayaan Pak Parlin", ujar Dito berubah pikiran dengan tiba-tiba saja.

Mia yang sedang terguncang perasaan, tidak menyadari perubahan yang terjadi begitu cepat itu. Dengan serius dan sama bernafsu. Dito mendesah: "Aku akan menyelidiki orang itu. Tetapi Mia, selagi kecurigaanmu belum terbukti kumohon janganlah berpikir untuk menghentikan kasus ini"

Mia menghela nafas panjang, kemudian berlalu ke kamar tidur tanpa menjawab sepatahpun juga. Dito kebingungan beberapa saat, kemudian menyusul. Di kamar tidur, ia berusaha membujuk Mia. Tetapi Mia tidak mau dibujuk. Dito kesal sendiri. Lalu dengan cepat pemuda berambut ikal sebahu itu lantas keluar dari kamar dan membanting tubuhnya di atas sofa di kamar tengah.


Diubah oleh breaking182
profile-picture
profile-picture
MontanaRivera dan chisaa memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
JATMIKO THE SERIES
Lapor Hansip
08-10-2019 07:18
Balasan post breaking182
Asiiiiik bakal ditamatin cepet, sy tunggu ya om
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
08-10-2019 07:26
Quote:Original Posted By angintimur9
Asiiiiik bakal ditamatin cepet, sy tunggu ya om


Ya g cepet2 lah, maksimal 1 bulan ini...😆😆😆
0 0
0
Lihat 1 balasan
JATMIKO THE SERIES
Lapor Hansip
09-10-2019 19:09
Balasan post breaking182
Siap om
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
18-10-2019 13:52
uodate lah om..penasaran nech
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
19-10-2019 14:29
Quote:Di kamar tidur, ia berusaha membujuk Mia. Tetapi Mia tidak mau dibujuk. Dito kesal sendiri.


Kesal sendiri karena gagal buat dapatin semvak firaun
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
30-10-2019 12:11

PART 17


Quote:"Beberapa hari ini kalian tampak tegang" , bu Endah berkata hati -hati ketika ia dan Mia tinggal berdua di rumah besar itu.

Dan sang induk semang yang baik hati itu dengan sengaja mengundang anak semangnya yang sedang gelisah untuk duduk minum bersama di rumah induk, sekalian mengisi kesepian ditinggal pergi suami masing masing. Dito yang berpura –pura menjadi suami Mia pergi menemui Parman, dan pak Barda ditemani Manto turun ke kota. Mengambil uang pensiun di bank.

"Bukannya aku mau ikut campur, nak Mia," desah bu Endah, lembut dan setengah menyalahkan dirinya sendiri.

"Namun aku dan bapakmu tak enak makan, melihat kalian berdua berlaku seperti kucing dan anjing," ia tersenyum.

"Jangan lupa kalian sudah kami anggap sebagai anak sendiri."

Mia mengucapkan terimakasih. Ragu - ragu sebentar. Apakah ia harus membukakan rahasia bahwa sebenarnya ia dan Dito bukan sepasang suami istri kepada perempuan tua yang baik hati itu.

Sambil mengawasi jari-jemari bu Endah yang dengan terampil menggerakkan jarum pada kaos kaki yang ia rajut, ia kemudian bergumam:

"Hanya soal sepele saja bu”

"Boleh aku tahu?"

"Ah...."

"Tak usahlah, kalau kau enggan!" bu Endah tersenyum.

"Hanya..... yaa, tadinya kukira aku dapat membantu "

Sepi sejenak.

Lalu tiba tiba keheningan sesaat itu dipecah oleh pertanyaan yang terlontar dari mulut Mia : "Ibu percaya hantu?"
"Apa?" bu Endah kaget.

Hampir saja jarum menusuk ibu jarinya. Sekejap kemudian, wajahnya sudah nampak biasa kembali.

“Pertanyaanmu aneh nak Mia"

. "Ibu percaya?" desak Mia.

"Tentu saja percaya"

"Mengapa, bu Endah?"

"Karena selain makhluk nyata dunia ini juga dipenuhi oleh hal-hal gaib dan tidak masuk di akal nalar kita sebagai manusia. Bukankah itu tertera dalam kitab suci umat beragama?"

"Yang disebut gaib bisa saja dan aku yakin bu Endah, pasti ditujukan pada ciptaan Tuhan semata...."

"Apakah makhluk gaib bukan ciptaan Tuhan nak Mia?"

"Itu aku tak.... tahu pasti. Tetapi makhluk gaib itu seperti apakah rupa dan wujudnya bu Endah?"

"Tergantung dari sudut apa kita merasakan dan melihatnya..." perempuan tua itu menatap Mia dengan sorot mata tajam.

"Kau melihat makhluk gaib? Itukah yang kau maksudkan Mia?"

"Ya bu?"

"Astaga. Dimana?"

Mira menyebutkan tempatnya. Kemudian menceritakan suasana serta bagaimana rupa makhluk yang pernah ia lihat. Bu Endah mendengarkan dengan takut dengan sesekali mengucap sesuatu samar-samar Sesekali geleng kepala dan pernah sampai mengatakan, "Setan itu dia. Sang Penguasa"

Ia mengucapkannya begitu samar, sehingga Mia tidak mendengar, hanya bercuriga ketika melihat wajah bu Endah berubah kemerah-merahan serta matanya kelihatan berkilat – kilat penuh semangat.

" Ibu merasakan sesuatu ?", desah Mia ingin tahu.

"Oh.... Hanya kegembiraan"

"Mengenai?"

"Ceritamu. Ceritamu itu membuktikan kebenaran yang telah disebut dalam kitab suci. Tentang adanya penguasa di muka bumi. Ah. jangan bertanya apa-apa dulu. Aku juga sama bodohnya seperti kau dalam soal -soal begituan. Namun aku percaya sesuatu akan lahir di dekat kita dan sesuatu itu diberi pertanda lewat apa yang kau lihat"

"Makhluk jahat itu?" Mia terkejut.

"Siapa mengatakan yang kau lihat itu makhluk jahat anakku?"

"Tidak .......aku...."

"Pernah kau diganggunya?"

"Tidak."

"Jadi ia baik. Selama ia tidak mengganggu, ia tidak jahat...", bu Endah berkata khidmat.

Melihat perempuan muda usia itu kebingungan. Ia mengalihkan percakapan pada hal lain:

“ Oh ya.... sambil lalu aku ingin tanya padamu nak Mia. Apakah kau mencurigai si Manto?"

“Bu aku..." ,Mia terpojok.

"Tak usah cemas. Ia hanya pelayan setia Pak Parlin. Hanya saja belakangan ini Pak Parlin jarang turun untuk mengontrol pabrik kayu lapisnya di kota sehingga Manto di perbantukan di sini. Terkadang juga membantu tetangga –tetangga lain yang membutuhkan pertolongan. Misalnya, membuat kandang ayam, memperbaiki genteng yang bocor, mengecat tembok dan hal –hal yang lain “

“ Memang belakangan ini Manto jarang sekali terlihat di pemukiman ini. Kukira ia memperoleh seorang majikan baru secara diam – diam. Akan tetapi, tidak memberitahu. Ia memang suka berlaku aneh aneh. Tetapi tanpa kepala dan menenteng kepalanya sendiri dengan mata merah bernyala, kedengarannya menggelikan "

"Apa saja yang aneh aneh dari kelakuannya bu ?", Mia memotong cerita Bu Endah dengan cepat.

"Ah... itu juga tidak jelas benar. Didekatku atau perilakunya dnegan tetangga lain, ia biasa - biasa saja. Hanya kalau ia sudah jauh dari rumah ini dan sering berkumpul dengan orang-orang kampung tak jauh dari lembah. Kudengar ia sering berbuat aneh. Aneh macam apa. Aku sendiri tidak jelas. Tetapi setelah mendengar kisahmu yang menakutkan itu. Aku kira aku dan bapakmu harus lebih waspada "

Kaos kaki itu selesai Bu Endah rajut. Lalu diletakkan di keranjang. Dimana hasil rajutan nya yang lain telah bertumpuk - tumpuk. Sengaja ia arahkan perhatian Mia pada keranjang itu. Sekedar untuk mengalihkan bahan pembicaraan dengan halus.
“ Delapan setel kaos kaki dan kaos tangan. Cukuplah nak Mia"

“Untuk apa bu?", Mia bertanya penuh keheranan. Setahu dia di pemukiman itu tidak ada satupun tetangga yang memiliki bayi ataupun anak kecil.

“Astaga, sebentar lagi kau akan mengandung dan ini aku buatkan sebagai kado untuk calon cucu ku itu “, bu Endah pura - pura tersinggung

“Untuk anakku ? Aku akan mengandung?" Mia terkejut hampir saja ia terlonjak dari kursi yang diduduki.

Telah lama ia perhatikan kesibukan induk semangnya merajut. Namun tak pernah ia duga hasil rajutan itu untuk anaknya, anak yang tidak mungkin terlahir karena ia dan Dito sebenarnya hanya sekedar bersandiwara. Lantas dengan cepat Mia menutupi keterkejutannya.

"Aduh bu.... Aku sangat berterimakasih “, ia memegang tangan perempuan itu dengan perasaan terharu.

Mia tiba –tiba melepaskan pegangan tangannya.

“ Bu Endah....Bau apa ini? Sepertinya dari dapur. Biar kulihat bu “, Mia bangkit dan bergegas pergi ke dapur.

"Ah.... rupanya bu Endah menjerang air dan lupa mematikan kompor”


Quote:Air di ceret telah habis kering dan dasar ceret hangus mengering, tinggal warna kehitam hitaman yang mengepulkan asap berbau sangit. Menggunakan sehelai lap. Mia mengangkat ceret dan meletakkannya di atas meja perabotan yang permukaannya terbuat dari porselen.

Waktu memadamkan kompor perhatiannya tertuju pada bahan -bahan masak didekatnya. Ada setengah periuk susu, rempah-rempah, kemudian setumpuk gumpalan darah ayam di atas sebuah piring. Rempah - rempah itu baunya bukan main menyengat hidung sehingga kepala Mia agak pening, ditambah sebagian gumpalan darah itu belum kering benar sehingga tampak masih kental meleleh di tengah - tengah piring.

Gumpalan darah merah kehitaman itu membuat perutnya seperti di aduk –aduk. Ia lari ke kamar mandi. Dan di sana isi perutnya bagai di peras –peras, keluarlah semua muntahannya. Keluar dari kamar mandi perasaan Mia lebih enak. Ia berpaling ke arah lain sewaktu melewati dapur. Matanya menangkap sesuatu yang aneh lewat sebuah pintu gudang yang agak terbuka. Sekejap ia terkejut dan menduga ada banyak wajah-wajah mengerikan mengintai dari dalam kegelapan gudang. Ia tertegun tak dapat bergerak. Sepasang matanya melotot.

Mia terpaku di tempatnya berdiri menunggu dengan jantung berdebar –debar. Jika saja wajah- wajah mengerikan itu muncul dan menyerangnya. Namun, saat demi saat berlalu tanpa terjadi apa -apa. Tidak ada suara apapun dari gudang. Tidak ada gerakan. Dan ketika mata Mia terbiasa dengan kegelapan yang temaram di bagian dalam gudang lewat pintu dari tempatnya berdiri. Ia melihat apa yang di sangkanya wajah - wajah mengerikan. Ternyata hanya topeng-topeng belaka, dengan cat warna warni yang simpang siur sehingga tampak terlihat mengerikan. Topeng -topeng itu banyak sekali jumlahnya bergantungan pada paku di tembok gudang.

" Ceret ku... Ceret ku, pasti hang.... Eh apa yang kau kerjakan disitu nak Mia?"

Tiba –tiba saja bu Endah telah berdiri di pintu masuk ruang tengah. memperhatikan Mia. Mata perempuan itu berkilat ganjil sekejap. Lalu ia berjalan mendekati Mia.

"Hem..... Kau tentu terkejut melihat benda - benda busuk itu" , ia berkata lunak seraya menutupkan pintu gudang cepat.

Mia menarik nafas.Lalu mengurut dada. Sehingga paru -parunya terasa lapang kembali .

“ Mengapa banyak sekali topeng – topeng mengerikan itu bu? Untuk apa topeng sebanyak itu? " tanya Mia setengah berbisik.

"Mana aku tahu ?", runggut bu Endah gusar. Itu pekerjaan si Manto beberapa waktu yang lalu, sengaja di titipkan di gudang ini. Katanya untuk dijual kalau turun ke kota. Tetapi nyatanya ditumpuk saja mengotori gudang" ,bu Endah kelihatan sangat gusar.

"Kalau besok ia tidak memindahkannya akan kubakar semua topeng-topeng busuk itu!"

Seolah tidak menyukai persoalan ini ia menoleh ke arah dapur.

Katanya lagi: "Jadi ceret ku yang rusak tambah satu lagi ya?"

Bu Endah angkat bahu. Lalu menarik Mia kembali ke tengah rumah induk seraya berkata tak acuh.

“Biarlah. Masih banyak yang lain "

Namun percakapan mereka tidak menyenangkan lagi. Pemandangan di dapur kemudian di gudang telah membuat perasaan Mia tidak menentu. Terutama topeng -topeng itu. Mengingatkannya pada sesuatu. Apakah ia pernah melihat topeng-topeng sejenis? Di pasar? Di toko? Atau disekitar tempat ini ?Topeng yang bergerak-gerak. Tetapi dimana? Kapan? Bagaimana? Mia mengingat ingat setengah mati, namun sia - sia. Ingatannya seperti tertutupi kabut tebal.

Akhirnya Mia minta diri untuk masuk ke paviliun. Bu Endah tak dapat menahannya. Perempuan tua itu melepas ia pergi lewat pintu penghubung. Begitu Mia tidak tampak lagi bu Endah bersungut sungut sendirian.

"Celaka! Celaka! Apa yang harus kuperbuat?"

Dan ia merajut dengan gugup. Akibatnya, jari telunjuknya tertusuk jarum. Ia tidak kaget atau kesakitan. Ia biarkan bekas tusukan jarum mengeluarkan butir - butir darah. Setelah darah itu hampir menetes, ia bergumam dengan suara yang serak dan ganjil: “ Parlin.... Parlin.... Parlin “

Lalu menjilati darah itu. Bekas tusukan tidak tampak sama sekali. Lenyap tidak berbekas begitu saja. Sambil menatap jari jemarinya, ia mengeluh.

"Topeng...", lalu wajahnya berubah cerah.

"Ya... Topeng. Mengapa tidak. Manto dan topeng... Sungguh cocok "

Lalu ia bangkit. Berjalan keluar rumah. Seraya bergumam puas.

“Aku harus beritahu dia. Dan minta persetujuannya?"

Tak lama kemudian dia menghilang di balik pintu salah satu rumah yang terdapat di daerah pemukiman terpencil di atas perbukitan itu.

Diubah oleh breaking182
profile-picture
profile-picture
itkgid dan MontanaRivera memberi reputasi
2 0
2
JATMIKO THE SERIES
30-10-2019 12:17
PART 18


Quote:Dito pulang menjelang malam. Ia makan ditemani Mia. Tak seorangpun mereka yang berbicara. Mia masih terpengaruh oleh apa yang ia lihat siang harinya. Dan yang jelas ia masih marah pada Dito yang begitu menyepelekan pendapatnya selama ini. Padahal bu Endah yang tentunya sudah berpengalaman menyetujui dugaan Mia. Bahwa ada makhluk gaib yang bisa saja akan berbuat jahat di sekitar mereka dan....

"Mia?" Dito bergumam tiba-tiba.

"Nggg.....?" Mia tidak mengangkat muka.

“Aku sudah menghubungi... Hm.... maksudku. Tanpa persetujuanmu aku telah menghubungi Pak Parman dan beberapa orang teman teman dekatnya. Dan ada yang paling istimewa, sersan Jatmiko aku undang serta. Seorang sersan polisi yang sedang naik daun karena kasus –kasus yang ditanganinya selalu berhasil. Kebetulan beliau sudah pulang dari cutinya di Jogja. Ya...siapa tahu kau akan cocok dengan sersan muda itu"

"Untuk....?" barulah Mia angkat muka, memandang Dito bingung.

"Kukira kau kesepian dan kasus yang akan kita tangani ini sampai saat ini sering tersendat dan belum juga menemui titik terang"

"Kapan?", Mia berbisik pelan oleh luapan kegembiraan yang tidak mampu untuk disembunyikan lagi.

"Sabtu malam.... Minggu depan"

"Oh... ", Mia hampir telonjak dari kursinya.

" Mengapa kau tiba-tiba begitu baik padaku, Dito"

"Karena aku merasa bersalah," Dito tersenyum gembira.

“ Aku lupa kita masih terlalu sebentar untuk mengenal satu sama lain. Dan aku sudah terlalu banyak merepotkan dan membuatmu tidak nyaman. Seharusnya aku tidak keras kepala dan yah .. mengapa pula kita pertengkarkan soal - soal sepele seperti itu belakangan ini?"

"Mia?"

"Ya Dito?"

"Sekarang aku akan berjaga - jaga supaya kau dapat tidur nyenyak. Maafkan, selama ini aku terlalu menurutkan nafsu tidurku sendiri dan terlalu larut dalam kesibukan ku. Sehingga mengabaikan apa yang telah kita sepakati sebelumnya. Jadi, Mia, mulai malam ini aku akan tahu diri. Sehingga kalau makhluk yang kau ceritakan itu muncul aku akan dengan mudah meringkusnya...."


Quote:Dan makhluk itu baru muncul malam berikutnya. Manakala Mia baru saja terlelap ketika Dito membangunkannya dan berbisik dengan suara gugup:

"Aku melihatnya!"

Mia segera bangun. Di luar, hujan memang turun. Tetapi tidak begitu deras. Suara anginpun tidak terdengar membadai. Namun ada kilat menyambar sesekali, dan guntur yang mengguruh samar – samar di kejauhan. Mia dengan gemetar menempel di belakang Dito. Pemuda itu mengajaknya berjingkat -jingkat ke jendela lalu dengan hati hati menyingkapkan tirai.

Gelap sekali di luar.

Tetapi tidak demikian halnya ketika petir menyambar. Dalam perubahan cuaca yang sekilas itu, kelihatan tumpukan batu-batu hitam di bibir bukit. Selebihnya tak ada apa -apa lagi.

"Aku tak melihat...."

“ Ssst....!" Dito meletakkan jari telunjuk di bibir.

"Sabar.... Sabar", Dito masih berusaha menakan volume suaranya.

Sekali lagi kilat menyambar lagi di luar rumah dan Mia melihat sesuatu di permukaan tonjolan batu yang paling tinggi. Ia juga tidak setakut sebelumnya. Dengan mata nyalang ia melihat makhluk itu. Berdiri lurus di atas batu. Hitam pekat. Posisinya langsung menghadap ke jendela tempat mereka mengintai. Dua kali petir menyambar. Dua kali Mia melihat sesosok tubuh berdiri membeku, tanpa kepala. Sementara tangan kanannya tampak menenteng benda bulat dengan dua sorot merah kemerahan laksana bara api neraka.

"Mau apa kau?", Mia tersentak ketika Dito berjalan ke pintu.

"Menangkapnya !”

" Siapa?", barulah Mia ketakutan

"Hantumu yang terkutuk itu!"

Sebelum Mia sempat mencerna arti ucapan Dito, pemuda berambut ikal sebahu itu telah membuka pintu dan dengan kecepatan yang tidak terduga. Ia menghambur keluar rumah, berlari di bawah siraman hujan menuju tumpukan batu-batu hitam di tempat ketinggian itu. Guntur menggelegar di langit kelam. Dan lantai tempat Mia berpijak seakan tergoncang tiba-tiba.


Quote:PADA malam yang sama, dalam kamar sempit yang terletak tak jauh di belakang rumah yang sangat besar. Sumanto gelisah setengah mati. Lelaki pendek gemuk itu begitu masuk ke kamarnya. Ia telah dapat merasakan ada sesuatu yang tengah menunggunya di luar. Sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan malam yang dingin berkabut. Sekali ia buka pintu atau jendela. Ia pasti langsung diterkam. Dicekik. Dicabik-cabik. Dan kalau itu terjadi, ia tahu pula bahwa ia tidak akan mampu melakukan perlawanan. Dan tubuhnya akan terkapar meregang nyawa.

Sore tadi perasaan itu belum timbul. Ia sengaja menemui majikannya. Mengutarakan niat, minta berhenti. Baik sebagai pelayan, maupun sopir pribadi. Tentu saja Parlin kaget bukan kepalang. Lama lelaki dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi itu terdiam. Wajahnya terlihat tambah dingin dan mengelam.

Sebelum akhirnya Parlin membuka mulut:
“Begitu mendadak. Apakah aku telah mengecewakan kau selama ini Manto? Atau apakah kebaikan ku selama ini kurang..masalah gaji mungkin?!"

"Saya cukup puas Tuan...."

“Lantas...?"

"Saya eh... saya bemaksud untuk pulang ke Situbondo, ke tempat dimana saya lahir. Dan sebelum itu saya juga igin menikah “ ,Manto berbicara sembari menundukkan wajahnya dalam -dalam.

Ia harapkan pengakuannya itu dapat menggembirakan hati Parlin majikan yang telah lama ia ikuti. Nyatanya tidak. Parlin tertegun dan terdiam.

"Hem.....”, Parlin menarik nafas panjang.

“Jadi kau ada kemajuan dan sudah mampu untuk mandiri tidak bergantung lagi kepadaku. Satu hal yang perlu kau ingat Manto. Kau bisa hidup, menghirup nafas sampai hari ini karena aku. Nyawamu itu milikku. Aku bisa saja memintanya kapan aku mau. Akan tetapi, mengingat semua yang telah kau lakukan kepadaku selama ini. Aku tidak akan melakukan itu “

Mendengar hal itu Sumanto mukanya berubah menjadi pias pucat pasi. Bulu kuduknya meremang, jantungnya beroacu dengan lebih cepat.

“ Dan baguslah! Aku sangat senang mendengar akhirnya kau memilih untuk menikah dan membangun rumah tangga mu"

Namun tekanan suaranya sama sekali tidak menampakkan rasa senang.

"Lantas... mengapa harus pindah ke Situbondo? Ajak saja isterimu tinggal bersama kita, bersama aku disini "

"Ia tidak mau Tuan.. Sudah saya paksa – paksa "

Terbata –bata Sumanto menjawab pertanyaan Parlin.

"Mengapa?"

"Anu eh.,,, begini. Ia sudah janda. Punya anak empat. Katanya, ia tidak ingin menyusahkan, lagipula ia sudah punya rumah sendiri di Situbondo. Tak mau meninggalkan rumahnya “

"Kapan kau bermaksud pindah ?”, mendadak Parlin bertanya.

Sumanto menarik nafas lega mendengar pertanyaan itu karena dilihatnya majikannya itu suaranya sudah sangat melunak dibandingkan tadi. Sesudah membasahi bibir yang sempat kering. Sumanto menjawab.

"Sore ini juga!"

Mendengar hal itu Parlin terdiam tanpa memperlihatkan rasa kaget sedikitpun. Tetapi tidak lama Parlin menatap Sumanto dengan wajah muram.

Katanya: "Sebenarnya kami merasa berat melepaskanmu. Tetapi karena tampaknya pendirianmu cukup teguh. apa boleh buat, aku tidak akan menghalangi mu lagi “

“ Baiklah...aku akan memberimu pesangon. Anggaplah sebagai tanda terimaksih ku selama ini. Aku juga akan memberimu sesuatu sebuah tanda mata atau bisa dikatakan kenang -kenangan...."

Parlin tertatih-tatih pergi ke dalam rumah. Ketika kembali. Ia memegang sesuatu yang terbungkus kertas dan satu kantong berukuran kecil. Mana kala diletakkan di atas meja menimbulkan suara bergemerincing. Seperti suara logam beradu.

“ Di kantong kecil itu ada beberapa logam emas, tidak banyak tapi mampulah untuk memulai usaha mu. Dan yang terbungkus kertas ini..terimalah...”

Parlin segera menyodorkan ke tangan Sumanto yang menerimanya dengan kepala dipenuhi tanda tanya.

Parlin menerangkan: "Hanya sebuah topeng. Tetapi dibuat dari bahan karet yang kuat dan dirias sangat menarik. Ini yang terbaik dari semua topeng yang ada dalam persediaan kita. Eh, mengapa kau gelisah? Wajahmu pun tampak pucat. Sakit?"

"Tidak... -eh. Hanya sedikit pusing Tuan "

"Perlu kuantar ke rumah dokter Usman?"

"Tidak, terima kasih... Saya akan sembuh segera"

Sumanto kemudian pamit dan berjalan meninggalkan rumah besar kuno yang cerobong asapnya selalu mengeluarkan asap beraroma ganjil itu. Langkah kakinya terasa goyah dan tangan seakan terbakar selama memegang tanda kenang-kenangan itu.

”Topeng karet......” ,pikirnya dengan cemas.

Topeng yang berbau kematian! Topeng berbau maksiat! Topeng yang dipergunakan manusia manusia pemuja setan durjana yang telah melupakan Tuhan! Sumanto sudah tahu persis. Bahkan bukan sekali dua kali ia telah melihat bagaimana topeng-topeng aneh menari - nari di bawah jilatan rembulan, di antara suara-suara nyanyian yang bergaung menakutkan di tengah malam buta. Melengkapi upacara - upacara ganjil yang selalu mengalirkan darah para wanita hamil akibat hubungan di luar nikah.

Sambil tersuruk suruk menuju kamar pondoknya. SuManto menatap kegelapan malam yang dingin berkabut. Tiba-tiba ia merasa takut. Dan topeng di tangannya seperti bergerak -gerak. Karena tidak tahan lagi, ia buang topeng yang dibungkus kertas itu jauh - jauh. Entah kemana ia tidak perduli. Kemudian dia pun setangah berlari memasuki kamar pondokkannya.

Ia hampir menjerit karena panik dan takut. Manakala pintu pondok itu tiba –tiba susah sekali terbuka.
Sambil terus berusaha mendorong, mengangkat , menekan dan menarik pegangan pintu supaya kunci pas masuk di lobangnya, mata Sumanto liar jelalatan kian kemari. Takut kalau-kalau ada sesuatu yang menguntitnya diam - diam. Akhirnya pintu terbuka juga, Ia menerobos masuk seketika. Dan membanting pintu sampai tertutup lalu menguncinya rapat-rapat.

Terbaring di permukaan tempat tidurnya. Tidak juga mendatangkan perasaan aman. Ia biarkan lampu menyala terang benderang. Dan mencoba tidur. Tidak ada sesuatu yang perlu ia takutkan di kamarnya. Semua yang ia kuatirkan justru berada di luar rumah. Entah mengapa. Ia merasa sangat yakin sesuatu telah mengintai diam-diam. Begitu topeng tadi ia lemparkan. Sesuatu itu bahkan berusaha mengejarnya. Menanti kelengahan untuk kemudian mendusta selembar nyawanya.


Diubah oleh breaking182
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sevtian.abustin dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
JATMIKO THE SERIES
31-10-2019 00:58
lanjuetkeun gan..
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
07-11-2019 12:56
TS ini keren, ceritanya gak abis-abis
0 0
0
JATMIKO THE SERIES
Hari ini 08:41
mantap ceritanya, serasa ikt dalam alur ceritanya di tunggu updatenya gan...
0 0
0
Halaman 7 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
warna-luka
Stories from the Heart
rasa-yang-tak-pernah-ada
Stories from the Heart
jumiati-itu-adalah-aku
Stories from the Heart
the-marionette
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.