Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
342
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da13fd3b840881300553239/tumbal
Sebuah senyuman misterius muncul di wajah cantiknya, membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Meniupkan perasaan takut di hatiku. Malam sudah tiba ketika aku mencoba menghindar dari pandangan tajam pemilik wajah cantik itu.Senyum penuh misteri itu masih bertengger, menghias bibir ranumnya. Entah apa yang membawa perempuan berdarah indo itu ke tempat tinggal kami.
Lapor Hansip
12-10-2019 09:52

Tumbal

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Tumbal

Sebuah senyuman misterius muncul di
wajah cantiknya, membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Meniupkan perasaan takut di hati. Malam sudah tiba ketika aku mencoba menghindar dari pandangan tajam pemilik wajah cantik itu.

Senyum penuh misteri itu masih bertengger, menghias bibir ranumnya. Entah apa yang membawa perempuan berdarah indo itu ke tempat tinggal kami.

Tubuh semampai, kulit putih, hidung mancung dengan rambut setengah ikal, membuat ia menjadi primadona di kampung kami. Dipuja dan dikejar-kejar banyak pemuda. Bukan hanya yang berasal dari sekitar tempat tinggal kami saja. Tapi, juga berasal dari tempat lain.

Bulu romaku semakin merinding, tidak tahan melawan hawa dingin yang mengalir dari raganya. Meski cahaya lampu tepat berada di atas kepala, hawa dingin itu masih tetap memancar dari tubuhnya.

"Ris, boleh aku masuk?"

Walau rasa takut itu masih ada, aku berusaha menepisnya. Tidak enak dengan Mbak Lastri, nama wanita misterius itu. Aku pun mengangguk
dan mempersilahkan dia untuk masuk.

"Sendirian?"

Seketika aku terkesiap mendengar pertanyaannya. Ada debaran aneh mengganggu irama jantungku. Cukup lama, aku memandangi wajah cantiknya, mencoba menerka apa arti senyuman di balik pertanyaannya tadi.

"Ada Mas Endro, lagi di belakang."

Senyumannya seketika menghilang saat aku mengucapkan nama Mas Endro. Aneh. Wajah Mbak Lastri pun tidak terlihat secantik tadi. Ada apa ini? Berkali-kali aku mengucap istighfar dalam hati.

Wajah Mbak Lastri juga berubah semakin pias. Tangannya gemetaran, tidak mampu menjangkau perutku yang sedang membuncit. Aku sedang mengandung anak pertama. Sepertinya ia bermaksud mengusap perutku.

"Ada apa, Mbak?"

Dia menggeleng. Ada kecemasan terpancar dari sorot matanya. Buru-buru Mbak Lastri pamit. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ketakutan. Aku bisa melihat keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya yang mulus.

Tanpa berbasa-basi dia meninggalkanku sendiri. Bingung akan tindak-tindaknya yang aneh. Tidak seperti biasanya, ujarku lirih.

Meski diliputi misteri, aku membiarkan saja Mbak Lastri pergi. Usai kepergian dia, udara tidak lagi sedingin tadi. Suasana pun tidak begitu mencekam lagi. Semua kembali seperti biasa.

Aku lantas menggeleng, tidak mengerti fenomena apa yang terjadi. Sementara bayangan Mbak Lastri telah menghilang.

Tepukan Mas Endro di pundak, membuatku tersadar dari lamunan. Entah sudah berlama aku berdiri sambil menatap ke arah jalan.

"Ada apa, Ris? Tidak baik malam-malam termenung. Nanti bisa kesambat lho," tegur Mas Endro. Aku mengangguk saja. Tertunduk-tidak berani mengatakan yang sebenarnya.

"Ayo, tutup pintunya. Kamu harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Banyak hal-hal misterius yang terjadi akhir-akhir ini." Kembali Mas Endro menasehatiku.

Memang benar kata Mas Endro tadi. Beberapa hari lalu, Surti tetangga di ujung kampung, tiba-tiba ditemukan dalam keadaan meninggal. Bayi dalam kandungannya pun raib.

Entah apa penyebabnya. Tidak ada yang berani mereka-reka. Apalagi, menuding siapa pelakunya. Beberapa tetangga terdengar kasak-kusuk, menceritakan peristiwa ganjil itu.

Bukan hanya sekali itu saja. Warga kampung sebelah pun ada yang mengalami hal yang serupa. Menurut sesepuh kampung, ada orang yang sedang menuntut ilmu. Jadi membutuhkan banyak tumbal untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dipelajarinya itu.

Bulu kudukku terus merinding, teringat perkataan mereka. Siapa yang tega menjadikan nyawa manusia sebagai tumbal atas ilmu-ilmu tersebut?

Aku menarik napas panjang. Menahannya sebentar dan mengeluarkannya perlahan dari mulut. Di kejauhan, terlihat Mbak Lastri mondar-mondar di salah satu tetanggaku yang juga sedang hamil tua.
Untuk apa ya Mbak Lastri mondar-mondir di sana? Kan Mbak Lastri tidak terlalu mengenal mereka. Jangan-jangan ada sesuatu dengan Mbak Lastri?

Kecurigaan sontak kuarahkan kepada perempuan cantik itu. Tidak biasanya dia berada di sana. Aku terus saja memperhatikan tingkah Mbak Lastri. Khawatir terjadi sesuatu pada penghuni rumah yang tengah dikunjungi secara diam-diam.

Rasa penasaranku pun membuncah. Membuat tidak ingin beranjak, meski sudah lumayan lama memperhatikan ia. Tapi, entah mengapa tiba-tiba saja diserang kantuk yang luar biasa. Aku sendiri bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba ingin merebahkan diri.

Akhirnya aku tertidur di atas sofa. Tidak sanggup lagi mengawasi gerak-gerik Mbak Lastri. Tidak mampu lagi memperhatikan setiap tingkahnya yang mencurigakan.

Suara adzan ashar membangunkanku dari tidur. Astagfrullah ...! Ternyata lumayan lama juga tertidur tadi. Beruntung Mas Endro belum pulang dari bengkel. Kalau tidak, pasti tidak enak rasanya.

Sesaat, aku memandang ke arah rumah tetangga tadi. Mbak Lastri sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Pasti dia sudah minggat dari tempat itu.

Suara adzan telah usai, aku segera berjalan menuju kamar mandi. Mandi, mengambil air wudhu dan bersiap menunaikan sholat ashar.

Belum lama menyelesaikan rakaat terakhir, suara jeritan terdengar dari arah sana. Isak tangis bercampur kemarahan terdengar jelas. Suara makian pun terdengar dari salah satu mulut mereka.

Rumah yang memiliki jarak kurang lebih 100 meter itu kini mulai ramai dikunjungi tetangga lain. Ibu-ibu, bapak-bapak, tua , muda berlomba menuju ke situ.

Semua penasaran ingin menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi. Aku juga ingin pergi ke sana. Tapi , berkali-kali Mas Endro sudah wanti-wanti untuk tidak sembarangan keluar rumah. Bau tubuhmu sekarang sedang wangi-wangina di penciuman mereka, Ris. Itu kata Mas Endro kemarin.

Antara percaya dan tidak, aku menanggapi perkataan Mas Endro kemarin. Namun, kejadian barusan mau tidak mau membuatku percaya pada akhirnya. Bahwa memang ada orang yang bersekutu dengan makhluk penghuni alam kegelapan.

Suara ketukan terdengar bertubi-tubi. Mas Endro yang melakukannya. Mukanya terlihat pucat saat menatapku. Dia benar-benar sangat cemas. Aku diperhatikan dari ujung ramput sampai ujung kaki, memeriksa apakah aku baik- baik saja atau tidak.


'Aku ndak apa-apa, Mas. Jangan terlalu cemas!'

Mas Endro sepertinya benar-benar khawatir dengan teror yang menimpa perempuan hamil di kampung kami. Wajahnya terlihat memucat, memendam kegelisahan. Segera kugenggam sepasang tangan kekar Mas Endro. Sekedar mengurangi kegelisahan yang terpendam.

"Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati ya,Ris. Jangan terlalu percaya dengan orang asing!"

"Iya, Mas," ujarku lemah.

"Oh ya, Mas. Tadi siang aku melihat Mbak Lastri berdiri cukup lama di rumah tetangga kita itu. Entah apa yang dilakukan Mbak Lastri? Padahal dia kan tidak terlalu mengenal mereka."

Mas Endro terbelalak mendengar perkataanku barusan. Keningnya terlihat berkerut dengan alis terangkat. Apa sebenarnya yang dilakukan perempuan itu? Terdengar olehku desisan lirih Mas Endro.

Cukup lama dia terlihat seperti orang yang berpikir keras, jemari tangannya sesekali ditekuk dan ditautkan satu demi satu.


'Dari sekarang, jangan dekati Mbak Lastri lagi,Ris. Kalau tidak ada Mas, jangan pernah mau membuka pintu buat siapa pun.'

Aku tidak ingin terlalu banyak berkomentar dan mengiyakan saja perkataan mas Endro.Mungkin memang ada baiknya kalau lebih berhati-hati.

Tidak terasa waktu berlalu, sudah menginjak 2 minggu sejak peristiwa. mengerikan itu. Berkali-kali Mbak Lastri mencoba mendekatiku. Namun, aku selalu menemukan alasan untuk menghindarinya.

Di setiap sudut rumah pun, Mas Endro menempel rajah berisi beberapa ayat suci Al-Quran seperti ayat kursi, untuk melidungi dari sesuatu yang berasal dari alam gaib.

Aku menjadi lebih tenang saat ditinggal Mas Endro bekerja di bengkel. Memang jarak antara tempat tinggal kami dengan bengkel tidak terlalu jauh. Paling hanya sekitar 500 meter saja.

Hampir setiap saat , Mas Endro meluangkan waktu memeriksa keadaanku. Untuk berjaga-jaga saja, karena usia kandunganku sudah melebihi 9 bulan. Beberapa hari lagi, saat kelahiran bayi kami akan tiba.

Pagi ini, Mas Endro juga tidak ingin berangkat kerja. Kurang enak badan, katanya. Bisa saja, karena terkadang Mas Endro harus lembur menyelesaikan pekerjaan dari beberapa pelanggan yang minta agar kendaraan mereka segera bisa dipakai.

'Mas, udara pagi ini, dingin sekali, ya?'

Mas Endro tersenyum kecil menanggapi ucapanku. Laki-laki sederhana, berpenampilan apa adanya itu memberikan segelas air putih yang telah didoakan olehnya usai sholat subuh tadi.

"Minumlah, Ris! Semoga Gusti Allah melindungimu dari godaan makhlus astral," ucapnya seraya menyodorkan segelas air putih.

Aku pun segera menyeruput air putih itu. Rasa segar segera merasuk ke seluruh tubuhku. Pikiran pun kembali jernih, tidak lagi dikejar-kejar ketakutan.

"Apa sebaiknya Mas istirahat di rumah dulu hari ini."

"Sepertinya begitu, Ris. Badan Mas pegal-pegal semua."

Aku mengangguk-bahagia karena hari ini ada Mas Endro di rumah. Bisa mengurangi sedikit ketakutan akibat teror yag melanda akhir-akhir ini.


Sebuah seruan, menghentikanku yang sedang asyik mendengar beberapa potong ayat suci Al-Quran dari ponsel milik Mas Endro. Suara yang tidak asing lagi-Mbak Lastri yang mencoba untuk terus memanggil.

"Jangan hiraukan,Ris! Terus saja fokus pada Murotal itu." Suara Mas Endro, mengalahkan suara Mbak Lastri yang terus menggoda.

Aku menguatkan diri untuk tidak membalas panggilan perempuan cantik itu. Sementara langkah Mas Endro sudah tiba di depan pintu. Dari balik tirai jendela aku mengintip percakapan antara mereka berdua.

Mbak Lastri menatap Mas Endro dengan geram. Ada kemarahan terpancar dari netranya. Lututku tiba-tiba gemetar, melihat pemandangan di luar. Aku bisa merasakan ada juga kekesalan dari raut wajah Mas Endro.

Setelah menemui Mbak Lastri, Mas Endro bergegas masuk rumah. Sementara perempuan itu memandang nyalang ke dalam rumah, seolah tahu aku sedang bersembunyi di balik jendela.

"Ris, sepertinya benar dugaan Mas, kalau ada sesuatu yang janggal dengan sikap Mbak Lastri akhir-akhir ini."

Ucapan Mas Endro membuat lututku semakin gemetaran. Perasaan takut pun kian kuat menghantui. Kutelan air ludah yang terasa seperti menelan jamu pahit.

"Tidak apa-apa. Tidak usah ketakutan seperti itu. Nanti kita cari solusi secepatnyanya." Perkataan Mas Endro barusan membuatku dapat bernapas lega. Semoga saja kami bisa melewati teror dari Mbak Lastri ini.

Hari persalinan tinggal dua hari lagi. Mbak Lastri semakin sering saja lalu-lalang di depan rumah. Beberapa kali aku mendengar teguran dari tetangga sebelah dari dalam rumah, tapi Mbak Lastri begitu lihai berkilah. Berbagai macam alasan bisa ia utarakan.

Malam hari pun, entah mengapa aku menjadi sering mengigau. Mbak Lastri benar-benar bagai mimpi buruk buatku. Entah apa yang dilakukannya hingga tega meneror warga yang sedang hamil tua. Anehnya, kenapa warga sekitar tidak ada yang curiga. Apa karena wajahnya yang cantik dengan tutur bahasa lemah lembut. Sehingga tidak ada seorang pun yang percaya, kalau Mbak Lastrilah penyebab banyak kematian wanita hamil di tempat ini.

Seperti yang aku alami malam ini. Mas Endro sudah lama tertidur, saat sebuah lemparan cukup keras menghantam pintu. Membuat Jantungku berdetak sangat kencang. Untuk sepersekian detik aku hanya bisa mematung, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Perlahan sekali, aku mengguncang-guncang tubuh Mas Endro agar ia segera bangun. Suamiku itu kaget dengan guncangan yang ternyata cukup keras itu.

"Ada apa sih, Ris! Ini masih jam 2 malam, lho. Mas, masih mengantuk."

"Tadi ada yang melempar pintu, Mas. Keras sekali!"

Sambil mengucek mata, Mas Endro turun dari tempat tidur. Sepertinya hendak memeriksa pintu depan. Aku beringsut membuntuti seraya memegang ujung kaos Mas Endro,


"Mas, hati-hati!" aku mengingatkan suamiku.

Dia hanya tersenyum sambil terus berjalan menuju jendela. Lampu di ruang tamu masih tetap mati. Sengaja tidak dihidupkan agar tidak terlihat dari luar.

Di depan jendela, kami berusaha mengintip siapa yang iseng malam-malam mengedor pintu rumah kami. Kakiku seketika gemetar saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan pagar. Mbak Lastri! Tapi penampilannya benar-benar berubah. Rambut berantakan, wajahnya pun penuh bopeng, tidak cantik seperti yang kukenal.

"Mas ...," desisku lirih. Takut kedengaran perempuan itu.

"Tidak apa-apa. Tidak usah takut. Dia tidak akan berani masuk!"

Penjelasan Mas Endro sedikit mengurangi rasa takutku. Bagaimana pun, ini pengalaman yang mengerikan bagiku.

Aku tidak pernah menyangka, perempuan seperti Mbak Lastri bisa berpenampilan mengerikan seperti itu.

"Mas, apa yang terjadi dengan Mbak Lastri?" tanyaku ingin tahu.

"Sepertinya dia sedang menuntut ilmu hitam, yang membuatnya untuk tetap cantik dan muda."

Aku tertegun mendengar penuturan Mas Endro. Benarkah itu? Tidak pernah terbayang olehku.

"Apa Mbak Lastri bukan penduduk asli kampung kita, Mas?"tanyaku lagi. Benar-benar penasaran.

Mas Endro terdiam sejenak. Kemudian ia menceritakan seluruh kisah hidup Mbak Lastri. Di mana dulu dia dan keluarganya disingkirkan warga karena dianggap keluarga dukun yang berbahaya. Bisa menyantet dan menyebabkan banyak orang celaka.

Beruntung akhirnya Mbak Lastri bisa selamat dari amukan warga, meski kondisi tubuhnya dalam keadaan luka parah. Dia ditampung di salah satu warga yang merasa kasihan. Setelah beberapa waktu, Mbak Lastri ikut warga itu ke kota dan baru kembali kurang lebih 2 atau 3 tahun yang lalu.

Saat pulang kondisi fisiknya sudah berubah menjadi lebih cantik. Penampilannya pun tidak mencerminkan kalau dia adalah anak seorang dukun yang pernah diamuk massa.

Warga juga sudah melupakan peristiwa itu dan menerima kedatangan Mbak Lastri kembali. Tapi anehnya, setelah kepulangan Mbak Lastri, banyak perempuan hamil di sekitar kampung tewas dengan keadaan mengenaskan. Bayi yang dikandung pun ikut raib.

Aku tidak mampu bergerak, usai mendengar penjelasan Mas Endro. Sementara di luar Mbak Lastri seperti menggila, bolak-balik. Wajahnya menjadi semakin beringas. Tangannya mencoba pintu pagar. Tapi segera ditarik kembali.

Keputusasaan melanda dirinya kini. Kulit wajah mulus itu kini semakin menjijikkan. Penuh bekas luka. Membuat perutku tiba-tiba terasa mual.

Mas Endro memejamkan mata, seperti membaca sesuatu. Mataku tak berkedip memandang kejadian di luar. Tampak Mbak Lastri kian gencar membuka pintu pagar. Matanya semakin memerah, seperti biji saga. Kuku tajam mulai tersembul, membuat ia tampak seperti makhluk yang bersekutu dengan iblis.

Dadaku berdegup kencang. Ternyata ilmu Mbak Lastri lumayan tinggi. Dia berhasil melewati pintu pagar. Beruntung bunyi lantunan ayat suci Al-Quran dari musholla segera menghentikan langkahnya.

Tidak terasa subuh sudah menjelang. Hampir 2 jam lamanya Mbak Lastri bergumul, mencoba masuk. Sambil berteriak histeris, perempuan itu berlari menerjam rinai yang baru turun.

Perempuan yang dilanda dendam kesumat, menjadikan dirinya alat pemuas iblis. Memanfaatkan rasa sakit hatinya, sehingga rela mencari tumbal untuk sebuah keserakahan. Itu yang kudengar dari Mas Endro.

Aku semakin tercenung, menyaksikan peristiwa itu. Sementara semakin banyak warga mulai lewat menuju musholla. Sebentar lagi waktu subuh akan tiba, aku dan Mas Endro juga bersiap-siap melaksanakan sholat.

Pagi harinya banyak tetangga tidak menyadari drama yang terjadi tengah malam tadi. Semua seperti tersihir, terlelap dalam tidur. Bahkan teriakan histeris Mbak Lastri pun tidak terdengar. Mereka hanya sibuk kasak-kusuk mempertanyakan kebenaran cerita pada Mas Endro. Sementara keberadaan Mbak Lastri tidak ada yang tahu. Ia seperti lenyap di telan bumi.


Beberapa hari kemudian dari beberapa kerabat jauhnya diperoleh informasi kalau Mbak Lastri telah ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Tubuhnya penuh luka cabikan, seperti terkena goresan benda-benda tajam. Akhirnya ia menjadi tumbal atas persekutuannya dengan iblis, akibat tidak bisa menyediakan tumbal berupa perempuan hamil.

Penuh rasa syukur, aku memandang langit yang mulai terang. Matahari telah lama berada di singgasananya. Panas teriknya telah menyusup ke seluruh penjuru, bersama ketenangan yang kini mengalir.

Aku tidak lagi diteror peristiwa misterius itu. Bahkan proses persalinan pun berjalan lancar. Satu hal yang membuatku bertambah yakin adalah bahwa Allah akan menjaga seluruh hamba-hamba-Nya yang tetap percaya dan berlindung pada-Nya.

Udara pagi menerpa lembut kulit tubuhku. Membuat buah cinta kami tergolek pulas. Kelahiran yang telah lama ditunggu akhirnya tiba jua. Meski pernah dilanda teror menakutkan. Aku bisa melewatinya dan berhasil lolos dari tumbal Mbak Lastri.


Curup, 12 Oktober 2019

Sumber foto: pixabay.com
https://pixabay.com/id/photos/fantas...gurun-2925212/
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abahekhubytsany dan 88 lainnya memberi reputasi
89
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 14
Tumbal
12-10-2019 09:55
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rens09 dan 23 lainnya memberi reputasi
24 0
24
Lihat 6 balasan
Memuat data ..
Tumbal
12-10-2019 14:23
siap ... makasih dah mampir
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Tumbal
12-10-2019 14:41
enak bacanya. cerpen begini walau hanya cerita di tengah saja, sudah memuaskan pembaca. ngga ribet dan kesan horornya dapet.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Tumbal
12-10-2019 15:23
makasih gan atas ulasannya, semoga bisa bikin yang lebih menarik lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tumbal
12-10-2019 17:37
enak baca yg ginian gak pake bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Tumbal
12-10-2019 17:57
syukur deh.. kalo bisa membuat gan sist menikmati cerita ini ...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Tumbal
17-10-2019 15:03

Jeritan di Tengah Malam

Oleh : Sri Uliyati


Tumbal
Sumber: pixabay.com

Hujan baru saja usai. Udara malam mulai terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Banyak warga yang kelihatannya sudah mulai terlelap. Maklum saja, jarum jam sudah menunjukkan angka 12 . Memang waktu yang paling tepat untuk tidur pulas.

Aku tidak tahu, kenapa terus saja membolak-balikkan badan di atas ranjang yang kasurnya sudah tidak empuk lagi. Sementara di luar sana lolongan anjing membuat malam sekmakin senyap. Malam ini Mas Bayu tidak tidur rumah. Mendadak dia harus pulang ke kampung. Ada kerabat yang meninggal dunia.

Gelisah, aku mencoba meredamnya dengan membaca istighfar dan beberapa potong ayat suci lainnya. Gonggongan anjing semakin menggila. Sepertinya begitu banyak anjing yang tiba-tiba bermunculan di kompleks perumahan kami.

Biasanya sangat jarang anjing bisa berkeliaran di dalam kompleks. Di samping warga yang enggan memelihara anjing, satpam juga selalu berjaga, menghalau anjing liar yang mencoba masuk. Sambil menahan kantuk , aku melangkah ke dapur bermaksud mengambil segelas air. Rasa haus tiba-tiba menyerang, mengakibatkan tenggorokanku terasa seret.

Belum lagi menginjak dapur, terdengar nada dering dari gawai yang berada di atas meja rias. Spontan aku menghentikan langkah dan kembali ke kamar. Ternyata Mas Bayu yang menelphone. Ada hal apa yang membuat dia harus menelphone selarut ini.

"Assalammualaikum …."

"Waalaikumsalam …."

Setelah mengucapkan salam, Mas Bayu baru menceritakan peristiwa aneh yang menimpa rumah kerabatnya itu di kampung.

“Aya belum tidur kan?” Barusan di sini semua pada gempar. Ada jeritan tiba-tiba terdengar. Ketika didatangi, jeritan itu tiba-tiba hilang.”

Aku mendengar seksama cerita Mas Bayu. Penasaran tapi ada rasa takutnya juga.

“Terus, bagaiman selanjutnya, Mas?”

Mas Bayu tidak segera menjawab. Malahan berhenti beberapa saat.

“Terjadinya berkali-kali, Aya. Bukan hanya sekali. Tapi, anehnya, jeritan itu segera menghilang ketika didatangi. Kami jadi kebingungan.”

“Aneh juga ya, Mas,” sahutku menimpali.

“Begitulah, Aya. Sebaiknya kamu juga berhati-hati di rumah. Apalagi tidak ada yang menemani, selain Mbok Darmi.”

“Iya, Mas. Jangan khawatir. InshaAllah, Aya tidak kenapa-kenapa. Kita serahkan semua pada Allah. Ya sudah, Aya tutup dulu ya, mau ke dapur. Haus nih.”

Mas Bayu pun mematikan ponsel seketika. Dan aku kembali melanjutkan rencana, mengambil segelas air. Entah kenapa tiba-tiba saja aku merinding. Mungkin masih terbayang pembicaraan dengan Mas Bayu tadi.

Baru saja, segelas air minum berada di genggaman, sebuah jeritan terdengar menyanyat . Kaget! Benar-benar kaget. Gelas yang berada dalam genggaman pun terjauh. Degup jantungku pun tidak beraturan kini.

Jeritan itu begitu keras, walau hanya sepersekian detik. Celingukan, kulihat di sekitar. Kalau-kalau ada seseorang atau penampakan yang tiba-tiba hadir. Beruntung, tidak ada siapa-siapa.

Suara langkah tergesa terdengar mendekati. Ternyata Mbok Darmi yang berlari, setelah mendengar bunyi gelas jatuh.

“Ada apa, Bu?” tanyanya cemas.

“Nggak apa-apa, Mbok. Kaget saja mendengar suara jeritan tadi,” jawabku menjelaskan.

“Suara jeritan siapa ya, Bu. Kok seram sekali.”

Aku terperanjat mendengar ucapan perempuan setengah baya itu. Ternyata Mbok Darmi juga ikut mendengarkan jeritan itu.

“Entahlah, Mbok. Sekarang , tolong bersihkan saja pecahan gelas ini!” Aku pun meninggalkan mbok Darmi sendiri mengurusi pecahan gelas, sembari memikirkan peristiwa yang baru saja kudengar. ‘Kira-kira itu jeritan siapa?’ bathinku. 'Apa hanya aku dan Mbok Darmi yang mendengar suara jeritan itu?’

Aku menggeleng-bingung dengan kejadian barusan. Mungkin saja besok Mas Bayu bisa membantu memberikan jawaban. Akhirnya aku menuju ranjang, merebahkan tubuh dan segera tidur. Hari sudah sangat larut.

_________

Mas Bayu ternyata tidak bisa pulang terlalu pagi. Ada beberapa hal yang masih harus mereka lakukan sebelum pulang. Seperti membereskan surat-surat penting berkaitan kematian kerabat Mas Bayu. Kebetulan dia hidup sebatang kara. Isterinya pun sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Sedang kan mereka tidak memiliki keturunan. Sehingga tinggal kerabat saja yang mengurus semua peninggalannya.

“Bagaimana urusannya, Mas? Apa sudah selesai?”

Mas Bayu hanya tersenyum. Disodorkannya sebuah bungkusan berisi oleh-oleh berupa makanan dan buah-buahan.

“Sabar toh, Aya. Mas baru sampai, tolong ambilin segelas air. Mas haus sekali.”

Aku tersenyum kecut mendengar ucapan Mas Bayu. Segera menuju dapur, mengambil segelas air putih dari lemari pendingin. Saat cuaca panas begini, biasanya Mas Bayu lebih menyukai minum segelas air es.

“Ini, Mas!” ujarku sambil menyodorkan segelas air putih itu, yang langsung dihabiskan dalam beberapa teguk. Terlihat Mas Bayu memang sangat haus.

“Terima kasih, Aya. Alhamdulilah …, hilang sudah haus Mas.” Ia memberikan sebuah senyuman, membuat pipiku merona kemerahan.

“Bagaimana cerita selanjutnya, Mas?” Lelaki itu kian tersenyum lebar.

“Kok, nggak sabaran amat!” Mas Bayu terus menggodaku. Mendengar godaan Mas Bayu aku semakin gemas. Aku segera meninggalkan sebuah bekas cubitan di lengan kanannya. Mas Bayu tertawa renyah menghadapi perlakuanku.

Setelah puas membuatku jengkel, Mas Bayu pun mulai menceritakan kejadian aneh itu. Ternyata kerabat Mas Bayu itu pernah memiliki ilmu hitam. Ketika meninggal, ilmu itu belum sempat dihilangkan, sehingga menghambat kepulangannya.

“Ngeri ya, Mas? Apa nggak ada cara untuk bisa mencabut ilmu itu sekarang?”

Mas Bayu hanya mengangkat pundaknya. Ah, pasti Mas Bayu tidak memiliki jawaban yang akurat untuk menjawabnya. Aku pun tidak lagi menjejali Mas Bayu dengan pertanyaan. Mungkin dengan menyibukkan diri di dapur bisa membuatku lupa dengan cerita Mas Bayu tadi.


---------------

Sudah dua hari sejak kepulangan Mas Bayu, jeritan itu tidak terdengar lagi. Namun memasuki hari ketiga, ketika menjelang dini hari suara jeritan itu terdengar lagi. Bahkan terasa dekat sekali. Aku memeluk Mas Bayu-ketakutan.

Wajah Mas Bayu juga berubah pucat. Mana suara itu seperti berada di depan rumah. Bukan hanya teriakan saja, malah kini disertai gedoran keras di pintu.

“Mas ….” Aku memanggil Mas Bayu pelan.

Mas Bayu menaruh jari telunjuknya di bibir-isyarat agar aku segera diam. Aku juga tidak lagi bersuara. Menunggu apa yang akan dilakukan Mas Bayu.

Meski pelan, Mas Bayu mulai membaca beberapa potong ayat dari Surat Al-Baqarah untuk mengusir suara-suara itu. Juga beberapa ayat lain. Cukup lama juga kami diteror oleh jeritan dan gedoran di pintu itu. Berurtung malam iini pemilik jeritan itu tidak muncul di hadapan kami. Aku tidak bisa membayangkan kalau wujudnya benar-benar ada di hadapanku. Bisa pingsan nanti.

“Mas, kenapa jeritan itu datang lagi?”

Mas Bayu menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu. Mas Bayu berjanji, besok dia akan mencari keterangan mengenai teror yang menimpa kami. Aku hanya bisa mengurut dada, merasa aneh dengan semua kejadian ini.

Benar saja, esok harinya Mas Bayu pamit mau ke rumah salah seorang kerabat yang kenal baik dengan almarhum . Meski, agak keberatan akhirnya aku mengizinkan Ms Bayu pergi. Dengan syarat tidak menginap. Aku masih ketakutan dengan suara-suara mengerikan itu.

Sepeninggal Mas Bayu, aku berusaha menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan rumah. Mbok Darmi menemaniku melakukan semua hal itu. Perempuan berusia separuh abad itu dengan telaten melayani semua keperluan. Mbok Darmi memang telah mengasuhku sejak dari orok.

Sepanjang mengerjakan pekerjaan di rumah, beberapa kali tengkukku bergidik-merinding oleh sesuatu yang tidak aku mengerti. Mbok Darmi juga mengalami hal yang sama. Bahkan ada beberapa benda yang sudah kami bersihkan, kembali kotor dan berdebu.

Mbok Darmi berkali-kali mengucap istighar, begitu pula aku. Kenapa suasananya bisa berubah seperti ini. Aku juga tidak bisa menjawabnya. Seperti ada yang sengaja melakukannya, tapi siapa orangnya? Sedangkan di rumah hanya aku dan Mbok Darmi saja. Bingung, akhirnya aku menuju kamar mandi, mengambil wudhu. Azan zuhur sudah berkumandang.

Setelah salat, rasa kantuk tiba-tiba menyerang-memaksaku untuk segera tidur. Aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu saja, sambil ditemani Mbok Darmi. Aku masih trauma dengan kejadian-kejadian aneh yang terus kami alami.

Antara sadar dan tidak, tiba-tiba aku melihat bayangan seorang perempuan dan laki-laki. Yang perempuan berambut panjang, cantik, tapi sayang ada taring terselip di antara barisan giginya yang berjejer rapi. Sedangkan yang laki-laki berperawakan besar tinggi dengan muka sedikit hancur. Membuat aku berkali-kali harus membaca istighfar dalam dada.

Siapa gerangan mereka? Bathinku. Meski perasaan takut masih menjalar di seluruh tubuh, tidak kuperdulikan lagi. Apa lagi ternyata makhluk-makhluk itu sepertinya tidak bertujuan jahat. Mereka hanya ingin menampakkan wujud mereka saja.

Pasti ada sesuatu yang mereka inginkan. Kalau tidak, mama mungkin mereka berani muncul di hadapanku, meski hanya di alam bawah sadar.

Makhluk berwujud perempuan itu kemudian memperlihatkan sebuah benda menyerupai lembaran kuno berwarna buram. Di dalamnya terdapat banyak gambar dan tulisan. Dia terus saja menyodorkan benda itu, meski aku menolaknya.

Wajah mereka tiba-tiba berubah menjadi seram dan beringas. Membuat jantungku seperti melompat. Kemarahan jelas terpancar dari mata mereka. Sekuat tenaga aku berusaha lari dan menghindar. Tidak lupa aku terus membaca istigfar dan ayatul kursi.

Alhamdulillah, aku bisa segera terbangun. Mbok Darmi menatapku dengan heran, apalagi melihat napasku yang tersengal-sengal. Segera, belliau mengambil air mineral gelasan yang berada di atas meja.

“Minum dulu, non. Jangan lupa baca Bismillah !”

Aku mengikuti saran Mbok Darmi, meminum seteguk demi seteguk air mineral tersebut. Perasaan lega segera mengalir ke seluruh tubuh. Membuang perasaan cemas yang tadi sempat hadir. Mudah-mudahan tadi hanya sekedar mimpi saja.

Menjelang salat magrib, Mas Bayu pulang bersama seorang laki-laki yang belum pernah kujumpai selama ini. Kemudian Mas Bayu memperkenalkan ia sebagai salah satu pengasuh pondok pesantren di kota kami, dan juga salah satu keturunan dari kakek Mas Bayu.

Aku menggamit tangan Mas Bayu, usai mempersilahkan tamu tersebut duduk. Seulas senyum diberikannya sebagai ucapan terima kasih. Mas Bayu akhirnya mengikutiku hingga ke dapur.

Sesampainya di sana, aku lantas menceritakan seluruh kejadian yang kami alami, juga mimpi aneh sewaktu tidur siang tadi. Mas Bayu menepuk halus pundakku, mencoba member ketenangan. Dia berkata akan mencari penjelasan untuk semua hal yang berkaitan dengan teror yang kami alami beberapa hari ini.

Hanya beberapa saat saja kami berada di dapur, dan menjumpai kembali Paman yang berada di ruang tamu. Aku tiba-tiba saja merinding saat memasuki ruang tamu. Wajah Paman pun seperti menyimpan sesuatu yang aneh, saat menatapku.

“Adek berdua sudah lama tinggal di sini?”

“Hampir satu tahun, Paman,” jawab Mas Bayu.

Kemudian kami diberi penjelasan oleh beliau bahwa memang ada beberapa makhluk yang sudah lama tinggal di rumah ini. Tapi mereka biasanya tidak mengganggu. Hanya saja sejak kematian kerabat Mas Bayu kemarin, makhluk yang selama ini mengikuti kerabatnya itu mengikuti Mas Bayu pulang. Kemudian memicu makhluk-makhluk yang biasanya diam berubah menjadi jahil dan mengganggu. Terbukti dengan bunyi jeritan dan kehadiran mereka yang mulai nyata.

“Apa makhluk yang tadi hadir sewaktu tidur siang tadi merupakan salah satu dari mereka, Paman?” aku pun bertanya-penasaran saja.

Paman pun mengangguk. Beliau mengatakan bahwa aku adalah sasaran empuk mereka. Mungkin karena aku dianggap memiliki indera keenam, dan bisa dijadikan tuan mereka selanjutnya. Itu bisa dijelaskan dengan mereka mencoba memberikan ilmu mereka melalui lembaran kuno yang kutolak tadi.

Tentu saja penolakan itu membuat mereka marah, dan menimbulkan pengaruh yang mengerikan. Di antaranya, adalah teror yang semakin menjadi dan bisa berujung pada kematian. Itu yang kemudian dikatakan Paman.

Aku dan Mas Bayu terperangah mendengar penjelasan panjang lebar dari paman. Tidak pernah terpikir oleh Mas Bayu kalau makhluk-makhluk itu akan mengikuti sampai ke rumah. Benar-benar tidak masuk di akal.

Kemudian, kami sepakat untuk mengusir semua makhluk astral tersebut dari rumah. Supaya tidak menggaggu lagi, ucap Kyai itu, aku dan Mas Bayu hanya menurut saja,. Bahkan ketika disuruh mempersiapkan diri dengan salat dan zikir terlebih dahulu pun kami menurut saja.

Malam ini, cuaca tidak seperti malam-malam sebelumnya. Meski udara begitu panas, hawa yang berada dalam rumah dingin dan mencekam. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Saat makhluk-makhluk itu muncul dan mengeluarkan jeritan yang menyeramkan.

Lolongan anjing sudah terdengar bersahutan. Membuat debaran jantung tidak beraturan. Sementara kami bertiga masih duduk di ruang tamu sambil berzikir. Paman juga terlihat mulai bersiap-siap.

Setelah cukup lama berzikir, suara jeritan itu kembali datang. Tapi, kali ini disertai penampakan makhluk-makhluk mengerikan tersebut. Wanita cantik bertaring panjang dan laki-laki berperawakan besar , bermuka hancur itu pun ada di antara mereka.

Rat-rata wujud makhluk itu adalah sejenis kuntilanak dan gendoruwo. Walaupun ada yang berbentuk pocong. Semua memperlihatkan wajah garang dan tidak bersahabat. Apalagi terhadap paman. Ternyata pemimpinnya adalah kuntilanak bertaring panjang dan genderuwo berwajah hancur itu.

Mereka menuding ke arah kami dengan mata memerah dan tawa mengikik. Paman di serangnya berkali-kali. Bahkan ada sekali dua Paman terpental terkena pukulan makhluk itu. Namun, Paman cepat bangkit kembali sembari membaca beberapa ajian dan ayat-ayat Al-quran.

“Jangan lancang kau, manusia! Ini adalah tempat kami.” Genderuwo itu mulai membuka komunikasi dan mengumbar kemarahan . Beberapa benda-benda di ruang tamu mulai berantakan, bahkan ada yang mulai pecah. Aku menggiigl ketakutan melihat kejadian ini.

Mas Bayu berusaha melindungiku dari kuntilanak yang berusaha menjangkauku. Mulut kami tidak henti-hentinya berzikir, membuat kuntilanak itu terpental. Melihat temannya terlempar, beberapa makhluk yang tadi hanya diam saja mulai beringas sekarang.

Mereka segera mengerubungi kami. Aku hanya pasrah, dan memejamkan mata. Aku bisa merasakan tanganku seperti ada yang menarik dengan kasar. Wajah makhluk-makhluk itu bertambah mengerikan. Tawa dan jerit mereka kian nyaring.

Aku tidak tahu lagi apa yang selanjutnya yang menimpaku. Aku tidak sadarkan diri beberapa saat. Dari cerita Mas Bayu, aku baru tahu kalau Paman berjuang mati-matian, untuk mengusir mereka. Termasuk kuntilanak dan genderuwo tadi.

Paman berhasil mengusir semua makhluk tersebut, dengan penuh perjuangan. Yang membuat aku kaget setelah siuman, ruang tamu berantakan seperti habis diamuk belasan orang. Kaca meja pecah, juga vas bunga kesayanganku. Buku-buku semua berjatuhan, belum lagi barang-barang lain.

Tapi, aku bersyukur teror makhluk itu telah lenyap. Paman memastikan kalau semua makhluk itu telah diusir. Aku dan Mas Bayu saling bertatapan. Terharu, bisa selamat dari peristiwa gaib ini. Semoga saja tidak ada lagi makhluk astral yang akan mengganggu ketenteraman kami lagi.

Curup, 17 Oktober 2019
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rainydwi dan 27 lainnya memberi reputasi
28 0
28
Lihat 15 balasan
Memuat data ..
Tumbal
17-10-2019 18:29
silahkan buat mampir baca cerpennya, semoga berkenan buat semua gansistemoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
qoni77 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Tumbal
17-10-2019 20:12
Ntap gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Tumbal
17-10-2019 20:58
Quote:Original Posted By angintimur9
Ntap gan


Makasih ...emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Tumbal
24-10-2019 17:09
mantap sist, di tunggu cerita selanjutnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Tumbal
24-10-2019 17:42
siap ... makasih udah meyempatkan diri untuk membaca trit ini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tumbal
24-10-2019 17:49
Keren gan, ane suka cerita horor, lanjutkan...

Btw, sekedar saran. Kalau memang ada beberapa cerpen, dibuat link index nya sekalian, jadi para pembaca tau beberapa judul cerita diawal, dan bisa pilih mau baca yg mana..

Mantap tulisannya emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Tumbal
24-10-2019 17:50
makasih sarannya ...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Tumbal
24-10-2019 17:51
Quote:Original Posted By uliyatis
makasih sarannya ...
Sama2 lur... Cemunguuttt emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Tumbal
24-10-2019 20:19
Quote:Beberapa hari kemudian dari beberapa kerabat jauhnya diperoleh informasi kalau Mbak Lastri telah ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Tubuhnya penuh luka cabikan, seperti terkena goresan benda-benda tajam. Akhirnya ia menjadi tumbal atas persekutuannya dengan iblis, akibat tidak bisa menyediakan tumbal berupa perempuan hamil


menarik namun ada yang terlupa,
berapa rentang waktu yang dibutuhkan seorang pemuja iblis untuk menyediakan tumbal yang satu dengan dengan yang lain, semisal 1 bulan sekali atau setiap malam purnama, secara mbak lastri sudah mendapatkan tumbal di beberapa hari sebelumnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Tumbal
24-10-2019 20:56
bisa untuk perbaikan selanjutnya, makasih krisarnyaemoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tumbal
24-10-2019 22:06

Memutus Perjanjian dengan Penghuni Bukit Terlarang

Tumbal


Bulan purnama hampir berbentuk bulat sempurna malam ini. Suara lolongan anjing liar terdengar panjang-memilukan. Seolah meneriakkan dan menyambut datangnya penghuni alam kegelapan.

Sayup-sayup terdengar suara erangan dari rumah Mbah Siem. Rintihan kesakitan, yang tidak tahu apa penyebabnya. Aku menajamkan pendengaran, hendak menyimak bunyi erangan itu. Kebetulan rumah perempuan tua itu, bersebelahan dinding denganku. Mbah Siem, ibu dari almarhum ayah.

Bunyi ringkikan kuda, tiba-tiba saja terdengar dari luar. Hei, di daerah sini tidak ada yang memelihara kuda, bagaimana bisa ada seekor kuda malam-maalam, ucapku tidak mengerti. Cuaca yang dari tadi biasa saja, seketika dilanda angin yang sangat kencang. Kemudian suara seperti benda jatuh mengakhiri tiupan putting beliung itu.

Perlahan, aku membuka sedikit saja tirai jendela, mencoba mengintip apa yang terjadi di depan rumah Mbah Siem. Alangkah terkejutnya, ketika aku melihat sesosok laki-laki tanpa kepala, duduk di atas seekor kuda putih, menghadap rumah Mbah Siem, sambil menenteng kepalanya.

Bibirku langsung terasa kelu, tidak mampu berkata sepatah kata pun. Untung, aku tidak lupa untuk mengucapkan istighar dalam hati. Sehingga tidak membuatku pingsan.

Entah mengapa malam ini aku bisa melihat pemandangan menyeramkan ini, hanya Allah yang tahu. Apa mungkin karena ada indera keenam yang tersembunyi dalam diriku? Aku sendiri juga tidak mengerti.

Sementara di luar, penumpang berkuda itu sudah lenyap, menghilang bersamaan dengan lenyapnya suara erangan Mbah Siem. Seketika naluri ingin tahu segera muncul untuk menyelidiki kasus ini. Semoga saja, Mbah Siem mau jujur bercerita mengenai peristiwa apa yang menimpanya.

Keesokan harinya, aku sengaja bertamu ke rumah Mbah Siem untuk mencari tahu apa yang terjadi malam tadi. Rumah Mbah siem masih terlihat sepi, saat aku berada di depan pintu. Ada perasaan bimbang merasuk agar membatalkan kunjungnaku ini. Aroma negati terasa sangat menusuk.

Aku mengetuk pintu rumah Mbah Siem perlahan. Setelah mengetuk beberapa lama, akhirnya Mbah Siem muncul juga. Wajahnya memucat-dengan tatapan kosong. Dia tidak menjawab salam yang kuucapkan. Malah, menatapku dengan gelisah.

“Ada apa,Siah? Pagi-pagi kok sudah ada di rumah si Mbah?” tanya perempuan berusia lanjut itu.

“Siah boleh masuk, Mbah?” Aku tidak menggubris pertanyaannya, malah meminta izin agar diperbolehkan masuk.

Mbah Siem, memang cukup dekatku, apalagi sejak berpulangnya Ayah setahun yang lalu. Ibu selalu menitipkanku pada si Mbah, bila berangkat bekerja ke kota sebelah.

“Apa kamu ndak sekolah hari ini, Siah?” tanya si Mbah lagi-berusaha menyelidik.

“Hari ini libur, Mbah. Ada rapat guru-guru di sekolah,” jawabku pendek.

Mbah Siem pun lalu mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Suasana rumah Mbah Siem tampak lengang. Memang Mbah Siem tinggal sendiri, sejak kematian suami dan anak-anaknya. Kematian yang tidak wajar menurutku, tapi tidak pernah ditanggapi oleh ibu ketika aku mengungkitnya.

“Mbah, hari ini ndak jualan ke pasar?”

Mbah Siem menggeleng. Aku bisa melihat tubuhnya begitu letih-tidak ada gairah hidup. Padahal,Mbah Siem setiap pagi selalu bersemangat berangkat ke pasar.

“Mbah,sakit?” tanyaku semakin penasaran.

“Sedikit,Siah. Mbah pusing. Kebun kelapa dan palawija Mbah, dirusak orang.” Mbah Siem menceritakan perihal yang mengganjal dalam hatinya.

“Ya,udah . Mbah istirahat saja,” tuturku kemudian.

Mbah Siem hanya mengangguk,sementara bibirnya seperti mengucapkan sesuatu dalam hati. Aneh , tidak biasanya si Mbah bersikap seperti ini. Mbah, orangnya periang-tidak mudah mengeluh walaupun banyak masalah yang menimpa.

“Mbah …,” panggilku perlahan. Rasa ingin tahu tentang kejadian semalam, membuatku terpaksa bertanya.

“Ada apa, Nduk?” Beliau menarik napas sangat panjang.Terlihat ada beban berat yang menggantungi pikirannya.

“Mbah sakit apa malam tadi? Kok erangan si Mbah,sampai ke rumah?”

Mbah Siem memandangku sambil tersenyum kecut. Hanya sakit kepala biasa saja, ujar Mbah Siem menjelaskan. Tampaknya memang ada yang disembunyikan oleh Mbah Siem. Namun, aku tidak tahu lagi bagaimana mengorek keterangan lebih lanjut dari si Mbah.

“Mbah, Siah numpang ke kamar mandi dulu ya?” Entah mengapa, seperti ada yang membisikiku untuk menuju kamar mandi.

Mbah Siem tidak berkata apa-apa selain mengangguk, mengizinkan aku pergi ke sana. Benar saja,saat aku baru saja hendak menginjak lantai kamar mandi,seperti ada bayangan yang tiba-tiba melintas. Wajahku segera pias-terkejut melihat penampakan itu.

Seorang perempuan berambut panjang, cantik dan berwajah pucat. Seperti mirip seseorang, tapi aku lupa di mana pernah bertemu. Perempuan itu menatapku dengan pancaran kesedihan. Aku bisa melihat jelas, dia memang sengaja ingin memperlihatkan wujudnya di hadapanku.

“Kamu siapa ?” Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya aku berani bertanya.

“Aku, salah satu putri Mbah Siem, Siah? Kau bisa melihatnya di salah satu foto yang dipasang di dinding,” ujarnya menjelaskan.

Aku ternganga-takjub bisa bertemu dengan anak perempuan Mbah Siem yang meninggal kurang lebih 5 tahun yang lalu.

“Bulek … Bulek kan sudah meninggal?” tanyaku lagi terbata-bata.

Dia hanya tersenyum miris. Kemudian, dia menyuruhku untuk pergi ke kuburan dekat kebun Mbah Siem, nanti malam selepas magrib. Sebenarnya, aku ingin menolak tapi rasa penasaran ingin segera mengungkap peristiwa misterius ini,membuatku mengiyakan saja permintaan Bulek Kiem.

Akhirnya aku pun menyanggpi permintaan anak perempuan Mbah Siem. Setelah itu, wujudnya pun menghilang. Aku mengucapkan istifghar dalam hati. Benar-benar misteris, bisikku.

Setelah berbasi-basi sebentar dengan Mbah Siem, aku pun pamitan pulang. Aku harus lebih mempersiapkan mental dan fisik untuk menemui Bulek Kiem, putri Mbah Siem malam nanti. Aku masih dapat melihat dari ekor mata, Mbah Siem seperti memberi sinyal agar aku pasrah saja.

----------


Pekerjaanku hari ini benar-benar kacau. Perjumpaan dengan Bulek kIem tadi bermain di benak, membuatku lebih banyak termenung. Peristiwa yang mungkin selama ini menjadi tanda tanya besar bagiku, apakah bisa terkuak? Ah, entahlah. Biarlah Allah saja yang membimbingku untuk mengetahui hal ini.

Azan magrib baru selesai berkumandang, saat aku melangkah ke kamar mandi-mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban di ujung petang ini. Aku benar-benar menyerahkan seluruh tubuh dan pikiran-memohon petunjuk dan kekuatan menghadapi persoalan ini. Sementara langit sudah mulai diselimuti kegelapan. Beruntung, cuaca malam ini tidak mendung.

Perlahan aku ke luar rumah, menyusuri jalan kecil menuju kuburan keluarga yang terletak di ujung desa. Jaraknya hanya memakan waktui setengah jam saja dari rumah. Kebun kelapa yang berusia puluhan tahun itu terlihat sepi. Adanya sebuah pondok penjaga di tengah kebun, membuat aku sedikit tenang.

Aku sengaja bersembunyi di belakang sebuah pohon kelapa yang terletak tidak jauh dari kuburan Bulek Kiem. Menanti, kejadian apa selanjutnya yang harus kulihat.

Belum terlalu lama menunggu, sebuah bayangan berkelebat menghampiri tempatku berdiri. Benar saja bayangan itu milik Bulek Kiem. Dia memandangku dengan sebuah senyuman di wajah pucatnya. Heran, aku tidak merasa takut sedikit pun. Meski harus berhadapan dengan makhluk halus seperti Bulek Kiem.

Aroma bunga melati yang barasal dari arwah Bulek Kiem, menyengat penciumanku. Wajar saja, aku sedang berhadapan dengannya, jadi tidak mencium bau amis.

“Siah, maaf, Bulek harus melibatkanmu kali ini!” Ucapan bulek membuatku terkejut. Aku semakin bingung. Ada apa sebenarnya? Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan.

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Bulek pun melanjutkan lagi perkataannya. Jiwamu sedang terancam, Siah. SI Mbah memberikanmu sebagai tumbal karena terikat perjanjian dengan penghuni bukit larangan.

“Apa …?” Wajahku sepertinya telah memucat kini. Tidak menduga sama sekali bakal menjadi calon korban persembahan makhluk-makhluk itu.

“Seharusnya, perjanjian itu sudah harus dihentikan, tapi tidak ada yang bisa menghentikannya. Apalagi makhluk itu terlalu kuat dan kejam. Sudah terlalu banyak jatuh korban.”

Aku tidak konsentrasi lagi mendengar perkataan Bulek Kiem. Lututku sudah terasa sangat lemas. Bagaimana kalau aku tidak bisa lolos dari incaran makhluk kegelapan itu? Apa yang akan terjadi pada kami? Sudah 5 nyawa yang hilang untuk dijadikan tumbal oleh Mbah Siem. Suami Mbah Siem, Bulek Kiem, Bude Parti, Siti anak Bude Parti, dan terakhir Ayah.

Siapa mereka sebenarnya, Bulek?” tanyaku pada akhirnya.

Mereka adalah makhluk-makhluk penunggu bukit di ujung kampung. Dulu, si Mbah meminta pesugihan pada mereka karena tidak kuat diejek sebagai orang miskin. Berhari-hari, Mbah bermeditasi memohon petunjuk, sehingga akhirnya berhasil menemukan pesugihan itu.

Setiap tahun, pada saat purnama ke sepuluh, Mbah harus membawa seorang tumbal untuk dipersembahkan di altar batu, di kaki bukit. Korban persembahan harus berasal dari keturunan Mbah dan tidak boleh orang lain, sebelum keturunan langsung benar-benar sudah habis ditumbalkan.

Aku bergidik mendengar penjelasan Bulek Kiem. Ketakutan membayang di pelupuk mata. Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Bisikku pasrah. Tidak sadar aku mengucapkan ayat Kursi dan surat Alfatihah.

“Stop, Siah. Hentikan dulu bacaan itu. Panas!” Aku terkejut mendengar jeritan Bulek Kiem. Ternyata, bacaan itu berefek pada makhluk astral seperti Bulek.

Aku segera menghentikan bacaan itu karena melihat arwah Bulek Kiem berteriak kepanasan. Kemudian, dia melanjutkan cerita mengenai makhluk yang berasal dari kegelapan itu. Sebenarnya, Mbah tidak tega untuk mengorbankan aku, itulah mengapa si Mbah menjerit malam tadi. Hanya saja, Mbah tidak bisa berkutik saat berhadapan dengan makhluk tanpa kepala dari bukit terlarang.

“Apa Siah bisa memutus perjanjian ini, Bulek?” tanyaku lirih. Aku tetap percaya, kalau Allah pasti akan mau menolongku keluar dari kemelut ini. Keyakinan yang selama ini dilupakan dan ditinggalkan Mbah Siem.

“Siah harus bergegas melakukan berbagai persyaratan, untuk bisa terbebas dari perjanjian ini. Waktunya tidak lama lagi,” jawab Bulek Kiem masgul.Tampak kesedihan terpampang di matanya.

“Apa yang harus Siah lakukan, Bulek?”

Arwah itu pun lalu menjelaskan hal-hal yang harus kulakukan. Pertama, aku harus berpuasa selama tujuh hari ini, karena waktu persembahan tumbal tinggal tujuh hari lagi. Selama tujuh hari itu, aku tidak boleh makan barang-barang bernyawa seperti ikan atau daging. Aku juga dilarang memakai pakaian berwarna, harus memakai pakaian berwarna putih atau hitam saja.

Aku mengangguk saja mendengar persyaratan yang harus kujalani. Ditambah satu persyaratan lagi, ketika hari ke tujuh saat dilakukannya upacara pemenuhan perjanjian itu, aku tidak boleh menoleh ke belakang, meski dipanggil oleh si Mbah sekali pun.

Langit sudah semakin kelam, saat Bulek Kiem akhirnya kembali ke alam asalnya. Aku memandang kepergiannya dengan ucapan penuh terima kasih. Dia harus rela gentayangan agar tidak ada lagi keturunan kami yang menjadi korban pesugihan.

Sedikit bernapas lega, aku melangkah pulang. Baru aku sadari, mungkin itulah sebabnya, mengapa ibu lebih suka bekerja di luar kota dari pada harus menunggu nasib sebagai tumbal.

________

Selama tujuh hari menjelang waktu pemberian tumbal itu, aku melaksanakan semua persyaratan yang diutarakan Bulek Kiem kemarin. Memang sangat tidak mudah untuk melaksanakannya, godaan begitu banyak. Si Mbah seperti sengaja memberikan lauk daging dan ikan hampir setiap hari, belum lagi aneka pakaian baru berwarna-warni selalu disodorkan si Mbah saat pulang dari pasar.

Ada saja saat aku benar-benar tergoda dengan sajian enak-enak yang selalu diberikan si Mbah, tapi Alhamdulillah, Allah tetap menolongku, sehingga aku bisa menepis godaan itu. Apalagi, bayangan Bulek Kiem juga ikut mengawasi, sehingga akhirnya aku bisa melewati semua godaan itu.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sehingga tibalah saat aku memasuki penghujung hari ke tujuh. Di mana aku harus siap untuk dikorbankan si Mbah sebagai tumbal. Setelah salat Magrib, tiba-tiba gawaiku berdering, ternyata Ibu yang menelphon.

Suara tangis Ibu terdengar jelas dari seberang telephon. Aku berusaha menenangkan ibu yang terus menangis. Ibu hanya mengatakan kalau dia sangat menyanyangiku dan bersedia melakukan apa saia. Namun, si Mbah melarang karena memang ini adalah waktuku.

Aku berusaha membesarkan hati Ibu, kalau apa yang dilakukan beliau sudah cukup untukku. Ibu tidak bisa menjadi tumbal, karena bukan keturunan langsung si Mbah. Ayah yang ternyata menjadi korban pesugihan si Mbah. Itu menurut keterangan Bulek Kiem kemarin.

Sampai gawai kututup, isak ibu masih terus terdengar. Aku hanya bisa menghela napas panjanng sambil tetap berusaha membaca istifhar dan mengulang-ulang terus bacaan Alfatihah dan ayat Kursi. Pun dengan ayat-ayat yang lain.

Menjelang tengah malam, saat semua orang sudah mulai terlelap, di depan rumah terdengar suara ringkikan kuda. Pintu rumah tiba-tiba terbuka, pria tanpa kepala itu kembali muncul di hadapanku. Ingin pingsan rasanya, tapi bayangan Bulek Kiem seakan memberi kekuatan untuk mencegahku melakukannya.

Pria itu lalu menunjuk ke arahku dan mencoba membuat aku seperti tertidur. Namun itu hanya dalam pandangannya saja, sebenarnya aku masih melek. Tidak terpengaruh sihirnya. Itu karena aku telah menyelesaikan persyaratan itu.

Tubuhku pun diangkat ke atas kuda dan di bawa melayang melewati rumah-rumah sampai ke ujung bukit. Di sana telah terlihat si Mbah bersama beberapa makhluk penghuni bukit larangan itu. Bentuk makhluk itu tidak ada yang sempurna. Rata-rata mereka tanpa kepala.

Sebuah altar terbuat dari batu berada di tengah-tengah kerumunan mereka. Kain berwarna merah telah disiapkan untuk menutupi tubuhku. Mereka seperti mendendangkan nyanyian yang ingin membiusku untuk segera tertidur.

Aku harus bersyukur, masih bisa meminta pertolongan Allah untuk melewati permasalahan ini. Dari beberapa cerita yang pernah kudengar, memang tidak mudah untuk melepaskan diri dari pengaruh makhluk-makhluk kegelapan ini.

Saat waktu telah menunjukkan jam dua belas malam, cuaca bertambah semakin dingin. Nyanyian mereka pun semakin beraroma mistis. Terkadang terdengar seperti orang orang menangis, di lain waktu seperti orang menjerit. Aku masih bisa sadar berkat puasa selama tujuh hari ini.

“Ini sudah saatnya ,Siem!” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, membuat nyayian itu berhenti. Aku yang telah diletakkan di atas altar, ditutupi kain merah kemudian. Tapi, entah mengapa, tiba-tiba saja tubuhku bergerak. Sebuah suara menyuruhku untuk segera berlari dan tidak boleh menoleh sedikitpun.

Aku menutup mata sembari membaca ayat apa saja yang bisa kubaca, sambil berlari kencang meninggalkan bukit terlarang. Tidak kuperdulikan kakiku yang lecet, menginjak kerikil atau pun rumput-rumput liar di sepanjang perjalanan.

Aku terus saja berlari. Beberapa tangan kekar-mencengkeram pergelangan kaki, mencoba menghentikan lajuku. Namun, seperti ada kekuatan lain yang melepaskan cengkeraman tangan mereka. Kekuatan yang semakin memicu kemarahan makhluk-makhluk astral itu.

Jeritan kemarahan dan sumpah serapah pun kian terdengar jelas di telinga. Mereka menyumpah akan mengambil nyawa Mbah Siem sebagai pengganti diriku, juga akan memutus perjanjian yang telah terjalin selama ini. Serta akan mengambil seluruh harta benda yang telah diberikan karena pesugihan itu.

Air mata menetes begitu saja saat mendengar erangan kesakitan dari Mbah, membuat aku ingin segera menghentikan lari. Namun lagi-lagi bayangan Bulek Kiem seperti menutup indera pendengaran dan segera menggeret tubuhku untuk menjauh.

Sehingga akhirnya tiba di suatu tempat di mana bayangan Bulek Kiem menghentikan lariku dan menyuruh agar segera membuka mata .Betapa terkejutnya, ternyata aku berada dekat kuburan ayah, yang letaknya tidak jauh dari kuburan Mbak Kiem. Suara-suara makhluk tanpa kepala itu tidak terdengar lagi.

“Apakah aku sudah selamat, Bulek?” tanyaku dengan napas yang masih memburu. Aku bisa merasakan detak jantung begitu kencang.

“Iya,Siah. Kamu sudah selamat sekarang. Tugas Bulek sudah selesai. Terima kasih sudah mendoakan Bulek selama ini.”

Aku hanya mampu tersenyum lirih. Ada sebuah dilema yang mengganggu pikirankku.Bagaimana dengan nasib,Mbah? Aku benar-benar tidak tahu.

Bulek KIem juga tidak mau berbicara lagi tentang hal itu. Dia hanya tersenyum sebelum menghilang dari pandanganku.

Pagi telah menjelang, saat arwah Bulek Kiem sirna. Sinar surya juga mulai menerangi semesta. Aku mengusap nisan Ayah dan Bulek Kiem, menghadiahkan mereka surat Alatihah dan Yasin ,untuk melapangkan jalan mereka di alam sana.

Setelah itu, aku berjalan dengan lunglai menuju rumah. Di otakku kembali berkecamuk-ingin mengetahui keadaan si Mbah. Dan khabar yang kudapatkan setelah tiba di rumah,adalah keberadaan Mbah yang tidak tahu di mana. Semua harta peninggalan si Mbah, termasuk kebun kelapa dan kebun palawija, ludes terbakar. Termasuk rumah si Mbah.

Aku hanya bisa menatap puing-puing rumah Mbah Siem dengan nanar. Tetesan air mata kembali menggenang di pipi, sementara tetangga berulang kali memelukku, bersyukur akhirnya aku bisa lolos dari peristiwa mengerikan ini.

Sejak peristiwa itu, akhirnya aku meninggalkan kampung di mana selama ini aku dilahirkan dan dibesarkan. Di kediaman Ibu, sesekali aku masih melihat seorang penunggang tanpa kepala berkuda putih, berdiri di depan rumah. Dia hanya berdiri saja di sana, dengan suara isak sesekali terdengar dari arahnya. Suara yang mirip suara si Mbah.

Apakah itu memang Mbah yang harus menjadi penggantiku, menjadi salah satu penghuni bukit terlarang itu? Aku juga tidak tahu. Semua sudah terjadi, dan Mbah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena telah bersekutu dengan iblis.

Sumber foto : pixabay.com
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Tumbal
24-10-2019 23:36
muantabbbbb...lanjut ya..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Halaman 1 dari 14
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pengantin-berdarah
Stories from the Heart
dendam-arwah-dari-masa-lalu
Stories from the Heart
perahu-tanpa-layar
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
kumpulan-pengalaman-horor-brina
Stories from the Heart
istri-dari-neraka
Stories from the Heart
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia