alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
157
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d97afd0349d0f351212598f/psychopaths-heart
Biarlah kutahan rasa sakit ini. Biarlah kucoba menghadapi semua yang akan terjadi. Dendamku harus terbalas. Lelaki durjana itu harus membayar mahal hasil perbuatannya
Lapor Hansip
05-10-2019 03:47

PSYCHOPATH'S HEART

Past Hot Thread
WELCOME TO MY HOTTEST THREAD

WARNING: KOMENLAH LAYAKNYA MANUSIA. JANGAN MENGOTORI LAPAK ANE DENGAN UJARAN KEBENCIAN.

SELAMAT MEMBACA.

DAFTAR ISI

Part. 1. HAMIDAH

Part. 2. Terbakar

Part. 3. WALUYO

Part. 4. ARIF

Part. 5. KUBURAN

Part. 6. RUMAH SAKIT

Part. 7. Benih Dendam

Part. 8. RUMAH TUA

Part. 9. RINTIHAN JIWA

Part. 10. MARTINAH

Part. 11. Rahasia Bik Atun
Diubah oleh triyuki25
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adhiecoolman dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 8
PSYCHOPATH'S HEART
15-10-2019 04:55

6. RUMAH SAKIT

Sebagai kepala kampung, Andro merasa gagal karena kasus pembakaran rumah Hamidah. Menyayangkan tindakan warganya yang di luar batas. Dan lebih ia sesalkan lagi pemicu kerusuhan ini adalah adiknya sendiri, Waluyo.

Bahkan hanya dalam hitungan jam, Tuhan langsung memberikan hukuman atas kejahatan Waluyo. Sanira, istri adiknya itu meninggal setelah berjuang sekuat tenaga melahirkan bayi yang ia kandung di rumah sakit.

Dua hari sudah jasad Sanira tertanam di dalam bumi. Di area pemakaman keluarga yang jauh dari pemukiman dan dekat dengan hutan lebat yang  jarang dimasuki manusia. Sebuah hutan dengan aura mencekam, dingin dan terasa menyeramkan.

Malam ini, Andro merasa gelisah. Sudah pukul sepuluh malam, Waluyo masih belum pulang. Apakah ia masih di kuburan? Rasanya sudah tidak masuk akal kalau Waluyo enggan meninggalkan pusara Sanira. Apalagi di luar rintik hujan mulai berjatuhan. Membuat suasana hati Andro kian ditekan kecemasan.

"Apa tidak sebaiknya, Mas mencari Waluyo. Aku khawatir terjadi apa-apa sama dia. Kondisi jiwanya pasti masih terpukul itu " Susi, istri Andro sambil menimang bayi Waluyo mendekati suaminya itu, yang duduk resah di teras rumah.

Lelaki itu menghela napas sesaat. Menatap jalan setapak menuju rumahnya yang terlihat suram. Berharap Waluyo akan datang sesegera mungkin.

"Aku juga khawatir, Sayang. Kalau sampai jam dua belas dia tidak muncul aku akan cari dia sampai ketemu. Perasaanku tidak tenang sama sekali." Andro berdiri dan mendekati Susi. Melongok sejenak ke arah bayi merah yang tertidur dengan pulas.

"Bayi yang malang. Sampai detik ini Waluyo masih belum mau melihat anaknya. Aku khawatir kalau-kalau Waluyo menyalahkan anaknya sendiri atas kematian Sanira."

Susi mengayunkan dengan pelan anak dalam gendongannya. Dia juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan suaminya.

"Mungkin ini karma bagi Waluyo, Mas. Selama ini dia terlalu suka berbuat seenak hatinya. Sekarang, lihatlah, istri yang ia bangga-banggakan itu pergi untuk selamanya. Akh, kalau kuturutkan hati, malas aku mengurusi anak ini. Aku masih ingat bagaimana tajamnya lidah Sanira, Mas."

Andro segera meletakkan jemarinya di bibir istrinya itu, "sudahlah, jangan diungkit lagi. Dia sudah tidak bersama kita. Sekarang, tugas kita membesarkan anak ini. Mungkin ini cara Tuhan memberi kita anak, setelah puluhan tahun kita tidak diberi keturunan."

Susi tersenyum lalu menciumi lembut pipi bayi tersebut.

"Sampai sekarang dia masih belum bernama, Mas."

"Iya, kita tunggu seminggu. Kalau dalam masa itu Waluyo masih belum memberinya nama, biar kita saja yang mencarikan nama yang bagus untuknya."

"Iya, Mas. Semakin cepat, semakin baik. Sekarang, aku ke kamar dulu, ya, Mas. Aku buatin bayi ini susu dulu. Sudah sejaman dia tidur."

Andro mengangguk pelan seraya mencium kening Susi. Dia kembali tenggelam dalam kesunyian. Hujan  benar-benar tercurah membasahi bumi.

Nun di rumah sakit, satu hari setelah melahirkan, Hamidah akhirnya siuman dari tidur yang terasa begitu panjang. Hal pertama yang ia ingat adalah kebakaran yang menghancurkan rumahnya.

Hamidah berteriak dan menjerit ketakutan. Dua orang perawat segera menenangkannya. Hamidah tidak terkontrol, dia berusaha melepaskan semua peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.

"Ibuuu ... Ibu ... Di mana engkau, Bu? Tolong aku, Bu! Tolong akuuu!" Dia terus meronta-ronta sampai akhirnya salah satu dari perawat itu memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter datang dan langsung menyuntikkan obat penenang ke lengan Hamidah.

Dia kembali tenggelam dalam kefanaan. Menghilang sejenak dari bumi ini. Alam bawah sadarnya terus menjerit-jerit, merapalkan kepanikan dan ketakutan.

Walau lapat-lapat tangisan bayi membuat ketakutan itu perlahan-lahan memudar. Hamidah jatuh lagi ke dalam mimpi.

"Ibu yang malang. Aku tidak bisa bayangkan jika aku ada di posisi dia. Mendengar cerita suaminya, rumahnya terbakar, dan dia melahirkan di rumah tersebut, dikelilingi api yang sangat panas. Sungguh, suatu keajaiban ia bisa selamat."

"Benar. Cuma, aku khawatir sama bayinya."

"Kenapa?"

"Mungkin karena banyak menghirup asap, dia bakalan bermasalah dengan pernapasannya."

"Astaghfirullah. Semoga dedek bayinya bisa selamat dan berumur panjang, ya?"

"Iya, aamiin. Kita hanya bisa mendo'kan."

Dua orang perawat itu memandang Hamidah dengan tatapan prihatin. Memang, mereka akui, Hamidah sangatlah cantik. Dan mereka merasa Arif sangat beruntung mendapatkannya.

Kini, Hamidah sudah dua hari terbaring di ranjang rumah sakit. Dia sudah sedikit tenang dan deg-degan ketika diberi tahu perihal bayinya.

Suster membawa bayi merah itu ke ruangan Hamidah. Perempuan itu merasa haru yang teramat sangat. Bayinya terlihat bernapas dengan cepat, juga sangat imut sekali.

"Sehat, ya, Nak? Jangan tinggalkan ibu." Hamidah mendekatkan bayi mungil itu ke dadanya. Terdengar suara rengekan kecil keluar dari mulut si bayi.

"Ibu bisa menyusuinya?"

Hamidah menatap perawat tersebut lalu mengangguk pelan.

Mungkin keajaiban, bayi Hamidah menyusui tanpa ada kendala berarti. Hamidah memejamkan mata, merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Bayi itu seolah kelaparan, menghisap puting susu Hamidah dengan rakus.

Dada Hamidah dipenuhi bunga-bunga. Terasa lapang dan damai.

Namun, rasa itu hanya sejenak, sesaat kemudian, ketika bayi itu sudah dikembalikan ke ruang bayi, Hamidah kembali meratap kencang. Teringat akan Nurhayati yang malang.

"Ibu ... maafkan aku ... aku tidak bisa menyelamatkanmu, Bu. Maafkan aku, Bu!"

Hamidah menduga-duga. Adakah dari warga kampung itu yang menemukan tengkorak ibunya yang terbakar? Atau dibiarkan saja bersama puing-puing kayu yang sudah berubah menjadi arang.

"Kepada siapa aku akan meminta tolong? Ke mana aku akan pergi setelah ini? Ya Tuhan, berat sekali cobaan yang Engkau berikan." Hamidah terisak-isak. Hatinya sangat gelisah. Ia juga membayangkan bagaimana cara membayar tagihan rumah sakit. Bingung dan cemas bercampur aduk.

Belum berhenti ratapnya, seseorang memegang bahunya. Hamidah menatap orang itu dan terkejut.

"Kau?"

Arif tersenyum.

"Iya, aku. Kamu kaget?"

Hamidah mengusap matanya tidak percaya, "apa kau yang telah membawaku ke rumah sakit ini?"

Arif hanya tersenyum. Dia membelai lembut kepala Hamidah yang langsung ditepis pelan kemudian.

"Kenapa kau menolongku?"

Arif menatap tajam mata Hamidah. Lelaki itu seakan-akan hendak menyelami samudera luas di ruang mata Hamidah.

"Karena aku mencintaimu."

Jawaban Arif membuat Hamidah terbatuk sekaligus melotot. "Jangan bercanda! Aku sedang tidak ingin mendengar segala macam lawakan tidak bermutu!"

Arif tertawa kecil. Ia hendak memegang tangan Hamidah. Namun, Hamidah kembali melotot. Dia benar-benar tidak suka disentuh oleh lelaki asing.

"Aku tahu kau menganggapku wanita murahan. Tapi, tolong hargai aku dengan tidak memegang tubuhku!" Hamidah mendengkus lalu melempar pandang ke arah lain.

"Aku jujur sangat menyukaimu, Hamidah! Apa kau benar lupa dan tidak mengenaliku sama sekali?"

Hamidah kembali melotot. Matanya memindai pria di depannya itu. Berusaha mengingat-ingat wajah Arif.

"Kau yang menyelamatkanku beberapa bulan yang lalu, kan? Yang membawaku kembali ke kampung?"

Arif menarik napas berat. Dia berjalan mendekati jendela.

"Sudahlah. Lupakan saja. Btw, siang ini aku akan pergi ke kampungmu. Memastikan kalau jasad ibumu dikuburkan dengan layak."

Dada Hamidah bergemuruh begitu mendengar ucapan Arif.

"Aku akan kembali besok pagi. Selepas itu, kau akan kubawa pulang ke rumahku."

Hamidah hendak membantah, tapi Arif langsung ke luar.

"Siapa lelaki itu? Wajahnya cukup familiar, tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali?"

Hamidah membaringkan tubuhnya yang terasa teramat letih. Memejamkan mata lalu tidur dengan cepat.

***

Seperti dituturkan sebelumnya, Arif menyeret tubuh Waluyo ke dalam hutan. Dia sangat marah dan kesal ketika sampai di rumah Hamidah, puing-puing kebakaran masih teronggok seperti itu. Dan yang lebih menyedihkan, tengkorak Nurhayati tergeletak memutih bersama arang-arang yang menghitam.

Semua kekesalannya itu ia tumpahkan ke tubuh Waluyo yang mukanya babak belur ia hajar.

Waluyo ia masukkan ke dalam rumah tua dan lapuk di dalam hutan. Rumah yang sudah bertahun-tahun ditinggal pemiliknya.

Di tengah-tengah rumah ada satu tiang besar. Sebesar pohon pinang. Di sanalah Waluyo terikat. Sementara Arif menghidupkan lampu minyak tanah dan menggantungnya di dinding.

"Adik, apa kau sudah siuman?"

Arif menggoreskan ujung pisau di paha Waluyo. Rasa sakit seketika menyergap. Teriakan kesakitan berdendang dari mulut Waluyo.

"Lepaskan aku, Bang! Aku mohon!" Waluyo meratap. Matanya sudah bengkak.

"Tssss! Belum saatnya, Adik. Kita baru saja mulai. Coba beritahu abang, mata kirimu atau mata kananmu yang akan aku tusuk dulu?"

Waluyo menangis, memohon ampun.

"Hentikan tangisanmu, Adik. Bukankah kau juga pernah memainkan permainan ini dulu? Waktu itu, mungkin kau tidak benar-benar sanggup karena masih takut sama ibumu, bukan? Sekarang, aku akan tunjukkan rasa sakit itu kepadamu."

Waluyo menjerit keras ketika tangan Arif berkelebat. Teriakan Waluyo ditindihi oleh kekehan Arif yang terlihat sangat menikmati penyiksaan terhadap adiknya itu.

Di luar, hujan badai kian menggila. Jeritan demi jeritan, seakan berpacu dengan denting sang waktu.

Alam seakan-akan berusaha menghentikan kegilaan Arif. Akankah Waluyo bisa diselamatkan?

***

Hei hei hei hei ....

Cerita ini berhadiah satu novel ajaib berjudul Pelakor di Kolong Ranjang, sebuah cerita yang akan membuat kalian bahagia, sedih, galau dan tentu saja akan sangat menghibur. Sangat berbeda dengan cerita pelakor yang pernah dibuat manusia.

Bagi yang mau memesan, bisa ke nomor WA: 081536786275. Harga Rp.60.000 belum termasuk ongkir.


Bersambung ke part. 7. BENIH DENDAM
Diubah oleh triyuki25
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fabillillah dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
PSYCHOPATH'S HEART
15-10-2019 04:57
Part. 6 sudah diposting, ya. selamat membaca.
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
15-10-2019 05:03
Lanjut breee emoticon-Big Grin
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
15-10-2019 08:52
kisahnya oke niih, semangat gan
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
16-10-2019 07:04
makin seru aja nih jalan ceritanya
d tunggu selalu gan , buat lanjutannya
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 05:23

7. BENIH DENDAM

"Bu, Arif takut." Arif kecil bersembunyi di belakang ibunya ketika Pak Arfan berdiri di depan mereka dengan wajah merah padam.

"Nunik, keputusan ada di tanganmu. Jadi istriku dan semua utang suamimu lunas. Atau kamu bisa bayar sekarang juga. Enam puluh juta, tunai!" Pak Arfan dengan kumis tebalnya berdiri dengan congkak sambil berkacak pinggang. Di belakangnya dua orang lelaki, yang merupakan centengnya berdiri memeluk tangan.

"Tuan, suamiku baru seminggu dikuburkan. Bagaimana mungkin aku harus menikah denganmu. Apa kata orang? Aku hanya ingin menjaga nama baik kita, Tuan."

Pak Arfan tersenyum sinis. "Oh, jadi kamu butuh waktu? Ingat, Nunik! Aku tak masalah dengan apa pun yang orang pikirkan. Kamu 'kan tahu kalau aku sudah begitu lama menyukaimu. Apalagi dengan meninggalnya Jumadi, Arif jadi tidak punya bapak. Aku siap menjadi bapak yang bisa ia andalkan. Kau 'kan juga tahu, aku memiliki dua orang putra yang hampir sebaya dengan anakmu. Aku yakin, kita akan memiliki keluarga yang sempurna."

Di masa itu, Nunik tidak mempunyai pilihan lain. Pak Arfan, juragan kaya di kampung itu. Selain jadi juragan, dia merupakan Kepala Kampung. Semua tunduk pada perintahnya.

Dua minggu berlalu setelah kematian Jumadi, ayahnya Arif, pesta meriah pun digelar. Semua penghuni kampung keluar dari rumah masing-masing. Semua bergembira dan bersuka cita.

Kecuali Arif.

Dia memilih mengurung diri di dalam kamar. Menangis terisak-isak. Ingat ayahnya yang baik hati. Ayah yang menjadi idolanya. Ayah yang menjadikan ia raja di hatinya. Namun, tanpa diduga, ayahnya tiba-tiba saja tewas ketika sedang mandi di sungai. Seekor buaya menggigit dan hampir saja menelannya hidup-hidup. Begitu kabar yang ia dengar.

Orang menemukan Jumadi terkutung-kutung. Badannya hancur dan wajahnya rusak. Tidak bisa dikenali sama sekali.

Arif tidak percaya ayahnya mati dengan cara mengenaskan seperti itu. Tidak percaya juga kalau jasad malang itu adalah Jumadi. Berhari-hari ia berharap, menunggu ayahnya pulang. Namun, waktu berjalan, ayah yang ia sayang tak kunjung datang.

Dan malam itu, ia tenggelam dalam kesedihan, menyaksikan ibunya bersanding dengan laki-laki yang sering menghardik ayahnya. Arif tidak suka sama sekali dengan Pak Arfan. Lelaki itu tidak memiliki hati yang baik. Bagaimana nanti jika Arif tinggal sama Pak Arfan, akankah dia bisa menyayangi lelaki yang terlihat jahat itu?

Apa yang Arif khawatirkan menjadi kenyataan. Di hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah Pak Arfan, lelaki itu menempatkannya di kamar pembantu. Sekamar dengan Bik Atun.

"Kau tidak boleh memanggil ibumu lagi dengan panggilan Ibu. Kau panggil dia sekarang Nyonya. Dan aku Tuan! Kau paham, setan kecil?" Mata merah Pak Arfan mendelik. Arif kecil ketakutan dan mencoba meminta perlindungan sama bunda tercinta. Nunik pun protes, tapi yang ia dapat adalah sebuah tamparan yang cukup keras. Nunik merasakan pipinya panas dan sakit. Arif menangis melihat ibunya ditampar.

"Tuan ... Tuan sudah berjanji untuk menyayangi Arif dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Kenapa sekarang Tuan ingkar? Apa ... maksud semua ini?" Nunik memegang pipinya. Air mata merembes tanpa bisa ia cegah.

"Suka-suka akulah. Aku yang memiliki kuasa di rumah ini. Kau sudah jadi istriku. Jadi wajib tunduk dan patuh pada kehendakku, Nunik!" Pak Arfan melotot ke arah Arif, Nunik dan Bik Atun.

"Bik Atun! Sekarang, Arif adalah anakmu. Rawat dia dan beri apa yang ia mau. Namun, jangan sekali-kali diperbolehkan ia masuk ke rumah besar. Aku tidak mau berdekatan dengan keturunan Jumadi. Membuatku alergi dan meriang. Sekali saja kudapati ia berada di rumah besar, kau tahu resikonya, Bik Atun?" Pak Arfan menyilangkan tangan di leher. Bik Atun buru-buru menjatuhkan badan.

"Siap, Tuan. Saya akan lakukan apa yang Tuan perintahkan."

Pak Arfan tersenyum puas. "Dan kau Nunik, saatnya memuaskan suami barumu ini. Hahaha."

Arif menangis dan hendak menjerit-jerit, tapi tangan Bik Atun langsung membekap mulutnya dan menariknya ke dalam kamar, mengunci pintunya langsung.

"Sabar, Arif. Sabar .... Kamu harus ingat, bukan kamu saja yang ketakutan, Bibik juga. Yang penting, kamu kudu kuat. Dan ikuti semua aturan di rumah ini. Bibik khawatir kalau kamu nakal, ibumu yang jadi pelampiasan Pak Arfan. Kamu tidak mau 'kan ibumu dipukul lagi?"

Arif terisak-isak. Tangisannya begitu menyedihkan hati Bik Atun. Perempuan setengah abad itu memeluk tubuh kecil Arif dan mencoba menenangkannya.

Hari-hari berjalan. Walau ibunya begitu dekat, tapi Arif merasakan mereka berjauhan. Dia benar-benar tidak diizinkan sama sekali oleh Pak Arfan untuk menemui ibunya itu.

Berkali-kali ia mencoba menemui ibunya, tapi berkali-kali juga Bik Atun menggagalkan rencananya tersebut.

"Jangan, Arif. Bibik mohon. Kamu bisa membuat kita berdua terbunuh. Bahkan ibumu pun bisa ia sakiti kalau kita melanggar perintahnya."

"Tapi Arif kangen ibu, Bik. Arif hanya ingin menemui ibu sebentar saja. Arif mohon, Bik. Biarkan Arif pergi menemui ibu."

Namun, Bik Atun tetap memegang tangannya. Mencegahnya dari menemui Nunik. Tarik menarik di antara mereka pun tidak terhindarkan.

"Bik! Ada apa ini?"

Kedua orang itu langsung berhenti tarik-tarikan. Serentak menghadap sumber suara. Seorang remaja lelaki, berusia sekitar 13 tahun menatap mereka heran.

"Oh ... Den Andro. Ini, Den ..., Arif, memaksa untuk masuk ke rumah besar. Ia ingin bertemu ibunya. Nangis-nangis dari kemarin."

Andro memandang Arif dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. "Kau sudah tak berhak terhadap ibumu, Rif. Dia sudah menjadi ibuku dan Waluyo. Terima saja nasibmu sebagai budak di rumah ini."

"Bang ... izinkan Arif ketemu ibu, Bang. Arif kangen, Bang! Arif mau ketemu ibu!"

Bukannya mengabulkan permintaan Arif, Andro langsung menampar wajah Arif keras. Arif kian meraung kesakitan. Andro mengulurkan tangannya dan mencekik leher Arif kuat. Bik Atun ketakutan.

"Den ... sudah! Bahaya, Den!"

"Diam, Bik! Anak kurang ajar seperti ini harus diberi pelajaran!"

Andro menyeret tubuh Arif kembali ke kamar pembantu. Bik Atun mengikuti tergopoh-gopoh.

"Kalau kau ingin selamat, ikuti aturan. Ini masih untung aku yang turun tangan. Kalau bapak, bisa-bisa kau dan ibumu itu ditembaknya. Mau kepalamu diledakkan, Arif?"

Arif menggeleng ketakutan. Sebisa mungkin ia tahan diri untuk tidak menangis. Bahunya berguncang-guncang menahan perasaan. Dia sangat benci anak lelaki di depannya ini, benci sama bapaknya juga. Hanya kebencian demi kebencian yang dirasakan Arif.

"Bagus! Suatu saat kau akan berterima kasih kepadaku, Arif!" Andro mendorong tubuh Arif ke atas kasur. Kemudian berlalu tanpa menoleh lagi.

Arif hanya bisa menangis. Bik Atun yang sudah ada di kamar tersebut berusaha memberikan wejangan dan nasehat.

"Sabarlah, Nak. Kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebaikan. Kamu hanya perlu menahan diri. Walau kamu tidak bisa bertemu, berbicara dan memeluk ibumu, kamu masih bisa melihatnya dari kejauhan 'kan? Ibumu sekarang pasti sangat ingin menemuimu, Rif. Cuma, dia pun pasti diancam. Ibumu pasti juga takut kalau kamu kenapa-kenapa. Bersabar ya, Nak? Hapus air matamu."

Dan memang itu yang dilakukan Arif, bersabar. Membiarkan rasa sakit membatu di dalam hatinya. Bersikap kalau ia baik-baik saja.

Di rumah Pak Arfan ia benar-benar diperlakukan bak budak. Disuruh mengerjakan ini, itu. Siang dan malam tiada henti. Semua itu membuat Pak Arfan bahagia. Bahkan Waluyo, yang saat itu baru berusia empat tahun, sudah diajarkan untuk merundung Arif.

Derita yang paling diingat oleh Arif adalah melihat Nunik yang seperti sudah dicuci otaknya. Dijadikan kelinci percobaan. Dalam seminggu dua kali, Arif akan dipanggil ke dalam sebuah kamar di rumah besar untuk menemui Nunik. Bulan-bulan pertama Nunik masih mengenalnya. Namun, di bulan ke empat, Nunik benar-benar tidak ingat lagi kalau Arif adalah anaknya. Yang ia tahu, Arif adalah anaknya Bik Atun.

Semua itu membuat luka di hati Arif semakin parah. Dia seperti dipaksa untuk membenci ibunya sendiri.

Dan satu hal yang tidak dimengerti oleh Arif, setiap kali Pak Arfan mabuk, ia akan membawa Arif ke dalam suatu kamar lalu mencambuk nya berkali-kali.

Arif yang sudah berusia lima belas tahun, habis dia sabet dengan ikat pinggang. Tidak peduli permohonan ampun yang Arif lontarkan, Pak Arfan terus menganiayanya. Melontarkan kata-kata makian yang menyakitkan hati.

"Anak haram! Anak setan! Kau sama saja dengan ayahmu! Sama saja dengan sundal pelacur laknat itu! Jika kuturutkan hati, ingin aku membunuhmu saat ini juga. Setiap kali melihat wajahmu ini, hanya kebencian yang kurasakan! Inilah pembalasanku atas kejahatannya. Menyiksamu perlahan-lahan dan membuatmu mati membusuk!"

Sungguh Arif tidak mengerti kenapa Pak Arfan begitu membencinya. Apakah ini sebenarnya tujuan dari Pak Arfan menikahi ibunya? Agar dia bisa menyiksa Arif sepanjang waktu?

Selanjutnya Arif akan dirawat luka-lukanya oleh Bik Atun.

Seiring berjalannya waktu, Arif semakin tumbuh besar. Begitu juga dengan Andro dan Waluyo. Sayangnya, kedua saudara tirinya itu memiliki sifat yang sangat berbeda.

Waluyo sangat suka mengintimidasi Arif. Menjadikan Arif bahan lelucon dan bulian bersama teman-temannya.
Semua itu membekas jelas di ingatan Arif.

Dan malam ini, di tengah gelapnya hutan Arif ingin mengoyak-ngoyak tubuh Waluyo dengan pisau tajam di tangannya.

Waluyo yang tadi serasa mau mati, kembali mendapatkan udara, ketika pisau tajam yang hendak ditusukkan Arif ke matanya, menancap kuat di kayu tiang yang mengikat tubuhnya. Terengah-engah dan menatap Arif dengan rasa takut yang teramat sangat.

"Bang ... Aku mohon, Bang! Jangan sakiti aku. Aku janji, aku janji akan melakukan apa saja untuk membuatmu senang, bahagia. Akan kuturuti semua perintahmu, Bang, asal engkau membiarkanku kuhidup. Aku tahu ... sudah begitu banyak ... kesalahan yang telah ... aku lakukan. Aku ... mohon maafmu, Bang! Mohon ampuni aku, Baaang!" Waluyo meratap dengan napas masih megap-megap. Arif yang mendengar tangisan Waluyo mencabut pisau yang tertancap di dinding. Menggoreskan ujungnya ke pipi Waluyo. Lalu, ujung pisau yang ternoda oleh darah, ia jilat tanpa ragu.

Darah kembali merembes. Waluyo menggertakkan rahang menahan sakit.

"Maaf?" Arif mendengkus. Udara yang keluar dari hidungnya, terasa hangat di wajah Waluyo. Waluyo mengangguk dengan cepat.

"Boleh! Aku memberimu maaf, tapi ada syaratnya!"

Mata Waluyo berbinar. Harapan seketika memenuhi hatinya.

"Apa, Bang? Katakan! Aku akan sanggupi apa pun yang kau minta!"

Arif menyeringai. Tanpa menjawab, dengan cepat tangannya memotong sesuatu di tubuh Waluyo.

Jeritan Waluyo setinggi langit akibat rasa sakit yang ia alami. Di depannya, Arif melambai-lambaikan sesuatu di tangannya.

Daun telinga!

"Kau ... kau benar-benar tidak punya rasa kasihan, Bang! Tega-teganya kau memotong telingaku!"

"Tssss!" Arif mendesis sambil menyumpalkan daun telinga tersebut ke mulut Waluyo.

"Kamu tahu kenapa aku memotong telinga kananmu, Dik?"

Waluyo berusaha meludahkan kuping yang ada di dalam mulutnya, tapi Arif menekan rahangnya kuat.

"Agar kau sadar! Telingamu itu dipakai. Berkali-kali aku dahulu meminta dan memohon agar kau tidak menyiksaku! Tapi kau abaikan. Kau acuh dengan jeritan dan kesakitan yang kualami. Bukankah itu artinya telingamu ini tidak berfungsi?"

Waluyo merasakan seluruh persendian di tubuhnya lemas. Apa yang dilakukan Arif betul-betul sangat menyiksa. Rasa sakit di bekas telinganya itu sungguh tidak terperi. Darah masih mengucur membasahi leher dan bahunya.

"Kunyah!"

Arif memerintah sambil terus memegang rahang Waluyo.

"Jika tidak kau kunyah, apa perlu aku potong daun telingamu satu lagi?"

Waluyo menggeleng takut. Dia memejamkan mata. Membiarkan bening-bening kristal membasahi sudut matanya. Dengan perlahan, Waluyo mengunyah daun telinganya sendiri.

Semakin ia kunyah, semakin perutnya bergejolak.

Arif tertawa terkekeh melihat Waluyo yang akhirnya muntah hebat.

Di luar hujan tak kunjung reda. Bahkan badai kian menggila.

"Kau kutinggalkan dulu, ya, Dik? Aku harus menjenguk Hamidah. Oh, ya, kau mungkin tidak percaya kalau pelacur itu masih hidup."

Mata Waluyo melotot. Telinganya menangkap jelas apa yang disampaikan Arif.

"Selain itu, aku juga harus membawa anak Sanira bersamaku. Sayang, kalau dia tinggal bersama keluargamu. Dia bisa menjadi jahat kelak kalau berada di bawah asuhan orang-orang seperti kalian."

Mendengar anaknya disebut, jantung Waluyo merasa tersakiti.

"Jangan, Bang! Jangan usik anakku! Tolong ... aku mohon, hanya ia satu-satunya kenangan yang diberikan Sanira. Aku mohon, Bang!"

Arif tertawa terkekeh-kekeh. "Kau tidak layak lagi diberi kenangan indah, Waluyo! Waktu kematianmu semakin dekat. Aku hanya menundanya sehari dua hari. Yang jelas, selamat tidur, Adikku Sayang."

Pisau di tangan Arif kembali beraksi. Waluyo menjerit hebat untuk ke sekian kalinya. Kuping satunya lagi terbabat putus. Arif kembali menyumpalkan daun telinga tersebut ke mulut Waluyo.

"Aku pulang, ya? Tidak bisa menemanimu lebih lama. Maklum, urusanku masih banyak. Luka di telingamu itu tidak akan membuatmu banyak kehilangan darah. Yah, kalau kau bisa bertahan sampai  esok pagi, itu emang sudah semestinya. Tapi, kalau kau mati, aku hanya bisa mengucapkan turut berduka cita. Apa ada pesan-pesan untuk anakmu, Dik?"

Waluyo menangis dengan kondisi perut bergejolak dan jijik karena memakan kuping.

"Jangan sakiti anakku, Bang! Aku mohon!"

Arif terkikik dan merasa lucu melihat tampilan Waluyo yang tanpa daun telinga. Dia berdiri dan menatap Waluyo sejenak dengan tampang dingin.

"Kalau kau mau mati, dipersilahkan waktu dan tempat, Dik!"

Malam itu, di tengah hujan yang menderu, Arif melawan derasnya, melewati pohon demi pohon. Tujuannya cuma satu, mengambil anak Waluyo.

***
Bersambung ....
***

Btw, yang suka komen next, up, lanjut dan lain-lain, yakin enggak mau dapatin novel kece badai Pelakor di Kolong Ranjang?

Ayo, dong, komenin gitu cerita ini. Biar aku tahu apa yang kalian pikirkan.

Oke?

Ditunggu, like, share, comment dan subscribenya, ya?



Bersambung ke Part. 8. Rumah Tua
Diubah oleh triyuki25
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 05:26
Yang suka cerbung ini,silahkan dibaca part. 7, ya? don't miss it.
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 05:29
wah udah apdet nih om uki emoticon-Matabelo
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
1 0
1
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 05:56
Bacanya jadi auto merindiinggg
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 10:51
cerita tentang pembalasan dendam emang ngeri ngeri sedep dah
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
1 0
1
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 10:55
wow ternyata si arif yg psikopatnya..padahal awal2 ane kira si hamidah atau jabang bayinya yg akan jd psikopat dan nuntut balas.imajinasi ane malah udah ngebayangin klo hamidah akan berubah jd jagoan macam black widow buat nuntut balas
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
1 1
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 15:34
jgn lama updatenya,

btw mampus kau waluyo
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
1 0
1
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 17:41
Quote:Original Posted By ikhwan.abas
wah udah apdet nih om uki emoticon-Matabelo


Makasih gan udah mampir
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 17:42
Quote:Original Posted By brigadexiii
cerita tentang pembalasan dendam emang ngeri ngeri sedep dah


Makasih gan udah berkunjung
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 17:42
Quote:Original Posted By ableh80
wow ternyata si arif yg psikopatnya..padahal awal2 ane kira si hamidah atau jabang bayinya yg akan jd psikopat dan nuntut balas.imajinasi ane malah udah ngebayangin klo hamidah akan berubah jd jagoan macam black widow buat nuntut balas


Dia juga bakalan balas dendam kok. Sabar menanti, gan.
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 17:43
Quote:Original Posted By coklatboy
jgn lama updatenya,

btw mampus kau waluyo


Diusahakan, Gan.
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
17-10-2019 17:48
Quote:Original Posted By triyuki25
Dia juga bakalan balas dendam kok. Sabar menanti, gan.


wah artinya semua punya sisi2 psiko...si andro saat kecil,waluyo dari kecil sampe skrg,ibunya hamidah yg ngutuk warga,dan warga yg dgn sadis waktu bakar rumah hamidah...hehehe gokil 1 kampung psiko semua.termasuk bokap si andro dan nyokap si arif emoticon-Big Grin
profile-picture
triyuki25 memberi reputasi
1 0
1
PSYCHOPATH'S HEART
18-10-2019 04:41
Quote:Original Posted By ableh80
wah artinya semua punya sisi2 psiko...si andro saat kecil,waluyo dari kecil sampe skrg,ibunya hamidah yg ngutuk warga,dan warga yg dgn sadis waktu bakar rumah hamidah...hehehe gokil 1 kampung psiko semua.termasuk bokap si andro dan nyokap si arif emoticon-Big Grin


Dia balas dendam dengan cara yang berbeda. 😂😂😂
profile-picture
ableh80 memberi reputasi
1 0
1
PSYCHOPATH'S HEART
18-10-2019 13:09
Quote:Original Posted By triyuki25
Dia balas dendam dengan cara yang berbeda. 😂😂😂


eh spoiler nih emoticon-Big Grin
0 0
0
PSYCHOPATH'S HEART
18-10-2019 14:38
entah kenapa suka cerita balas dendam tp dengan cara yg sadis emoticon-Big Grin

jadi penasaran sama Bapaknya Arif (Alm. Jumadi), kok Pak Arfan bisa sangat membencinya bahkan ibunya arif bisa di-brainwash
Diubah oleh mazyudyud
0 0
0
Halaman 4 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rekan-kerja
Stories from the Heart
true-story-mengejar-marika
Stories from the Heart
stories-re-imagined
Stories from the Heart
jaran-sungsang
Stories from the Heart
gelora-sma
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.