alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
266
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d11ef0caf7e9371d628b665/bos-aneh-dan-nyebelin
Kode Minta Dipuji Hai, hai, apa kabar. Kali ini Lori bawa cerita baru lagi nih. Mohon maaf cerita horor pending dulu. Baru nggak mau berurusan dengan hantu dan kawan-kawan dulu ya. Mohon pengertiannya. Semoga kaskuser nggak punya bos yang nyebelin seperti cerita di bawah ini. Selamat membaca, jangan lupa subscribe dan share bila suka dengan cerita ini. Terima kasih ... Sumber : pixabay.com Isti me
Lapor Hansip
25-06-2019 16:53

Bos Aneh dan Nyebelin

Past Hot Thread
Kode Minta Dipuji

Hai, hai, apa kabar. Kali ini Lori bawa cerita baru lagi nih. Mohon maaf cerita horor pending dulu. Baru nggak mau berurusan dengan hantu dan kawan-kawan dulu ya. Mohon pengertiannya.

Semoga kaskuser nggak punya bos yang nyebelin seperti cerita di bawah ini.

Selamat membaca, jangan lupa subscribe dan share bila suka dengan cerita ini. Terima kasih


...

Bos Aneh dan Nyebelin
Sumber : pixabay.com


Isti membuka pintu, hawa dingin menyergap membuat bulu kuduk berdiri. Ruangan laboratorium memang selalu full AC hingga membuat karyawan merasa seperti di dalam kulkas. Dia bergegas duduk di kursi plastik warna merah yang tersedia di tengah-tengah ruangan.

Terlihat Vela sedang mematut wajah dan merapikan rambut. Bos serius membaca buku laporan dan tidak memperhatikan anak buah yang mulai duduk diam di sekelilingnya.

"Bos, sudah ngantuk nih. Ayo cepat!" pinta Feny sambil menutup mulut. Sudah tiga kali menguap tapi bos masih belum juga memimpin ritual pergantian dinas.

Wito mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Isti. Bibir melengkungkan senyum membuat cewek yang duduk tepat di depannya menjadi salah tingkah.

"Wah, rambutnya Mbak Isti bagus ya," puji Wito.

Raut muka Isti berubah keruh. "Bos, muji atau nyindir nih? Rambut keriting megar kaya singa gini dibilang bagus! Bilang aja kalau nggak rapi, suruh kucir. Bentar lagi ya, Bos. Biar kering dulu, habis keramas nih."

Wito mengangguk-angguk. "Tapi itu rambutnya beneran bagus lho. Setiap hari berubah modelnya."

Perkataan itu makin membuat Isti cemberut. "Si Bos ini maksudnya apa sih? Ya, sudah ta rapikan saja."

Isti merogoh saku untuk mengeluarkan karet gelang dan mengikat rambut tanpa menyisirnya terlebih dahulu. Melakukannya dengan setengah hati karena tahu kalau rambut separuh kering akan tampak lebih lepek nantinya.

"Bos," rengek Feny.

"Ya, sudah. Mari kita berdoa." Wito menutup mata, mengatupkan kedua tangan lalu mulai memimpin doa.

Setelah mendengarkan serah terima dari Feny, mereka berdiri dan menuju posisi masing-masing.

"Mbak Vela matanya bagus ya. Berbinar-binar." Kali ini Vela yang tampak bingung karena mendengar pujian dari si Bos yang tidak sewajarnya.

"Mataku bagus? Nggak salah Bos? Is, si Bos habis minum obat apa sih? Kok gini amat?" tanya Vela pada Isti yang bersandar pada pintu masuk.

Isti menahan senyum sambil mengangkat bahu. "Entahlah."

Beberapa jam berlalu dengan cepat karena banyak pasien yang periksa laboratorium hari itu.

"Mbak, tau nggak..." tanya Wito tiba-tiba.

Isti terdiam, menyimak dan menunggu kelanjutan pertanyaan itu tapi si Bos tidak meneruskan malah berjalan melewatinya dengan wajah polos tanpa dosa menuju ke alat kimia.

Pandangan Isti mengikuti gerak-gerik si Bos tapi tidak ada tanda-tanda akan meneruskan pembicaraan.

Isti menghembuskan napas panjang. Kembali fokus pada pekerjaan menerima pasien yang mau periksa.

Cewek itu mengenakan masker dan juga sarung tangan sebelum membuka pintu untuk mengambil sampel.

Setelah menyelesaikan pengambilan darah, dia masuk ke laboratorium dan langsung melihat si Bos sudah duduk di depan meja administrasi.

"Mbak, tau nggak..."

"Nggak," jawab Isti dengan cepat dan keras hingga Wito terlonjak karena kaget.

"Galak banget sih, Mbak. Kan aku cuma mau tanya."

"Habisnya nanya nggak lengkap sih," semprot Isti.

"Mbak, tau nggak? Siapa yang punya mata paling indah?" Wito kembali bertanya, kali ini sudah lengkap.

"Nggak tau, emangnya siapa?" Suara Isti sudah kembali lembut, tidak keras seperti tadi.

Wito tersenyum lalu berjalan melewati Isti dan masuk ke dalam kantornya.

Isti hanya bisa menepuk dahi melihat kelakuan si Bos.

"Bos! Dicari Cinta." Vela berteriak sekuat tenaga dari ruang persiapan sampel yang terletak di belakang.

Senyum Wito semakin lebar membuat Isti curiga. Wito dan Cinta berbincang-bincang di pintu belakang. Beberapa saat kemudian terlihat pembicaraan sudah berakhir.

"Sudah dulu ya, Mbak Vela, Mbak Isti," pamit Cinta.

Apa yang dilakukan oleh Cinta berikutnya membuat Isti terkesiap. Cinta mencium tangan Wito sebelum pergi.

"Owh, punya pacar baru toh," sindir Isti sambil bersedekap.

"Sekarang aku tahu siapa pemilik mata yang paling indah, pasti si Cinta kan?" lanjut Isti, jari telunjuk diarahkan ke Wito.

"Kok tahu?" Senyum Wito tidak hilang-hilang.

Vela ikut menggoda Bos yang sedang kasmaran. "Cinta to? Cie, cie si Bos."

"Aku tahu juga siapa yang rambutnya bagus dan berubah-ubah modelnya. Pasti Cinta juga kan? Tadi pagi itu ceritanya mau ngode kalau sudah punya pacar yang cantik ya?" Isti mengibaskan rambut. Dia memang memiliki rambut keriting yang mirip dengan Cinta.

"Seharusnya bilang saja terus terang Bos. Jangan bikin kita jadi takut dengan pujian aneh-aneh itu," saran Vela.

Isti dan Vela kompak geleng-geleng kepala melihat Bos yang sedang berbunga-bunga. "Dasar si Bos," kata mereka bersamaan dengan kompak.


Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
afifa26 dan 47 lainnya memberi reputasi
48
Tampilkan isi Thread
Halaman 13 dari 14
Bos Aneh dan Nyebelin
11-10-2019 15:39
Keren, mantap, lanjutkanemoticon-2 Jempol
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
11-10-2019 17:05
Mbak Lori ku sayaaang...
Lama aku tak mampir. Udah jauh aja nih. Dan udah semakin menyebalkan juga ya ini si obos. Wkwkwkwk
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
11-10-2019 17:07
Quote:Original Posted By mbakendut
Keren, mantap, lanjutkanemoticon-2 Jempol

Hai, hallo. Dirimu juga keren

Quote:Original Posted By Rapunzel.icious
Mbak Lori ku sayaaang...
Lama aku tak mampir. Udah jauh aja nih. Dan udah semakin menyebalkan juga ya ini si obos. Wkwkwkwk

Emang menyebalkan kok emoticon-Cape d...
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
11-10-2019 17:22
Harus diperhitungkan ...
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
11-10-2019 17:46
bos mah bebas.

kan ada pasalnya tuh.

bos tidak pernah salah😄
profile-picture
profile-picture
hossetiyawan dan IztaLorie memberi reputasi
2 0
2
Bos Aneh dan Nyebelin
11-10-2019 17:57
Quote:Original Posted By akhmadfauzi844
Harus diperhitungkan ...

Mari kita buat perhitungan

Quote:Original Posted By nofivinovie
bos mah bebas.

kan ada pasalnya tuh.

bos tidak pernah salah😄

Anak buah yang jadi tumbal
profile-picture
hossetiyawan memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
12-10-2019 00:17

Bos Aneh Dan Nyebelin

Ingin Mengakui Rasa Ini

Bos Aneh dan Nyebelin
Sumber : pixabay.com




...

Meski pun sudah mendapatkan doping roti bakar semalam, Isti tak merasakan doping itu berguna pagi harinya.

Pagi ini dia sudah meletakkan kepala di posisi yang sama seperti kemarin. Bos juga tidak tampak peduli dengan keadaannya sekarang.

Cewek itu menegakkan tubuh dengan terpaksa ketika mendapatkan sikutan di lengan. Dia tidak berani memprotes perbuatan itu karena Elang yang melakukannya.

Cowok berwajah serius yang sedingin es itu merupakan salah satu kelemahan Isti. Jelas-jelas hal bodoh kalau mau melawan si jenius Elang. Tatapannya saja sudah bikin nyali ciut.

Semasa kuliah, cowok ini selalu bisa memimpin dalam segala hal. Isti sering merasa kasihan dengan partner daruratnya saat itu.

Elok pasti sering terintimidasi ketika tiba-tiba dipasangkan dengan Elang semester akhir.

Kembali ke waktu sekarang, cowok itu memandang tajam Bintang yang memainkan pulpen untuk menyalurkan kegelisahan.

"Berapa suhu ruangan saat ini? Kamu tidak mengubah suhu kan?" Elang mengulurkan tangan, meminta remot AC yang berada di belakang Bintang.

Dia merasa ruangan tidak sedingin biasanya. Tidak perlu melihat termometer ruangan untuk mengetahui suhu ruangan tidak semestinya.

Bintang buru-buru mengubah suhu Ac ke angka delapan belas. Tatapan menghakimi terlihat di wajah Elang.

Elang tahu kalau permasalahan suhu ini akan mengacaukan hasil kontrol. Meski pun analisnya kedinginan seperti di dalam kulkas, tidak diperkenankan mengubah suku.

Ketika menoleh ke kiri, dia mendapati masalah baru menghampiri lewat tatapan memohon dari Isti.

"Tukar posisi ya. Aku udah nggak sanggup berada di sampling." Isti bergidik membayangkan kemungkinan dikepung oleh pasien seperti biasanya. Entah apa yang membuat dia selalu mendapatkan banyak pasien ketika bertugas. Keberuntungan atau masalah, entahlah.

"Tukar aku saja." Ana menawarkan, tapi dengan cepat ditolak oleh Isti. Ini namanya lepas dari mulut harimau, masuk mulut buaya. Sekali saja dia beranjak ke posisi P4 maka sampel urine, faeces, dan dahak lah yang akan berkerumun memenuhi meja kerja.

Posisi terbaik hanya di P3 dimana dia bisa beristirahat tanpa harus berdiri lama atau jalan-jalan ke penjuru rumah sakit. Itu sebabnya banyak yang suka ada di posisi ini.

Elang bangkit, menggunakan apd untuk menuju posnya. Hilang sudah kesempatan Isti untuk sekedar beristirahat.

Dia melangkah lambat dan lemas tanpa semangat menuju pos abadinya. Memasang senyum terbaik untuk menyambut pasien.

Isti bekerja tanpa istirahat selama tiga jam karena penumpukan pasien yang tiba-tiba muncul ketika dia menyambut pasien pertama.

Satu pasien lagi dan Isti memutuskan untuk berhenti sejenak, tubuh sudah tidak bisa dipaksa lebih keras lagi. Isti tahu benar harus segera berhenti ketika tubuh memberi tanda rasa dingin merambat dari ujung kaki menuju kepala dengan cepat.

Celakanya, keadaan ini terjadi ketika jarum sudah masuk dalam tubuh pasien. Isti bersandar ke meja kecil tempat meletakkan perlengkapan. Berusaha sebaik mungkin menyelesaikan tugas.

Masuk ke ruangan laboratorium dengan terburu-buru, melepaskan seluruh atribut apd. Menghempaskan diri ke sofa dekat bos.

"Tolong gantikan sebentar ya, Bos. Aku mau ke pantry buat minum."

Wito hendak membantah, namun mengurungkan niat ketika melihat wajah Isti seputih jas laboratorium.

Cewek itu berjalan terhuyung menuju ruang pantry yang berada di belakang kantor Wito. Merebahkan diri ke sofa panjang, lengan kanan menutup wajah.

"Ya, ampun, Isti. Kamu sakit? Minum teh hangat dulu! Apa kamu mau aku buatin surat istirahat biar bisa pulang?" Kevin bergegas masuk ke pantry melalui pintu satunya yang mengarah ke koridor. Menyodorkan cup teh hangat yang dia beli khusus untuk Isti.

Cewek itu berusaha menyedot teh agar rona wajahnya kembali. Beruntung Kevin datang di saat yang tepat.

Wito yang hendak masuk ke pantry mengurungkan niat ketika melihat Kevin memandangi wajah Isti dengan kecemasan tingkat tinggi. Kalau saja dia mengikuti Isti lebih cepat pasti saat ini posisi itu akan ditempati olehnya.

Suara bersin Isti membuat Wito melangkah sejauh satu langkah, tetapi ditahannya. Dia bukan siapa-siapa bagi cewek itu, bukan haknya untuk terus berada di situ.

Dia memutuskan kembali lagi ke kantor dan tenggelam dalam pekerjaan. Mempersilakan Isti untuk pulang lebih awal setelah mendapatkan surat izin istirahat dari dokter Kevin.

Wito menghela napas panjang. Ini kesalahannya karena memaksa cewek itu bekerja begitu keras. Rupanya Isti sudah benar-benar diambang batas. Seharusnya dia lebih peka melihat kondisi ini.

Sore harinya Wito memutuskan untuk mengunjungi Isti di kos. Esy membuka pintu, mengizinkan cowok itu untuk masuk, tapi Wito tahu kalau sahabat dekat Isti ini menyalahkannya.

Wito memang pantas disalahkan. Permintaan maaf harus segera disampaikan. Esy mengantar cowok itu ke kamar Isti.

Seharusnya memang tidak boleh membawa cowok masuk, tapi apa boleh buat. Kondisi tidak memungkinkan untuk Isti keluar menemui tamu. Lagipula Wito sudah meminta izin pada ibu kos.

Esy menoleh ketika salah satu teman kos memanggil. Rupanya ada teman yang berkunjung. Meski pun enggan tapi dia terpaksa harus meninggalkan Wito berduaan dengan Isti di kamarnya. Esy membuka pintu lebar-lebar sebelum meninggalkan Wito.

Wito melangkah dengan ragu, ini pertama kalinya memasuki kamar cewek. Kamar dengan cat secerah matahari ini terlihat sederhana karena tidak ditata dengan berlebihan. Tak pula dipenuhi oleh foto-foto sang pemilik.

Wito memindahkan kursi plastik di samping ranjang Isti. Mengamati betapa damai wajah cewek yang sedang tertidur itu.

Pandangan Wito tertuju pada bibir yang terlihat lembut dan menggiurkan seperti buah dari pohon terlarang.

Dia menelan ludah, memangkas jarak diantara mereka. Menyapukan bibirnya pada kening Isti dengan lembut, tak terasa gerakan melawan dari cewek yang tampaknya tertidur pulas karena pengaruh obat.

Dia memejam untuk menikmati sensasi kulit wajah yang begitu lembut dan hangat. Dibutuhkan pengendalian diri penuh untuk tidak mencium bibir mungil itu.

"Berengsek!"

Wito terlambat menyadari kalau tingkahnya dilihat oleh seseorang. Orang yang akhirnya menarik kaus dari belakang membuatnya jatuh terlentang. Menyarangkan pukulan di pipinya yang diterima dengan ikhlas karena dia memang berhak mendapatkannya.
...



Daftar indeks cerita bisa klik di sini.
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Bos Aneh dan Nyebelin
12-10-2019 05:10
Quote:Original Posted By Rapunzel.icious
Semoga si bos gak baca. Dan kalau gak sengaja baca, semoga dia ngaca #eh emoticon-Ngakak


Bakal ke a tampol kwkwk
Bos rasa sultan. Bebas lepas tanpa batas
Hiya hiya hiya
Diubah oleh hossetiyawan
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
12-10-2019 07:00
Quote:Original Posted By hossetiyawan
Bakal ke a tampol kwkwk
Bos rasa sultan. Bebas lepas tanpa batas
Hiya hiya hiya


Tu, sudah ada yang wakilin nampol
profile-picture
hossetiyawan memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
12-10-2019 07:13
Quote:Original Posted By IztaLorie
Tu, sudah ada yang wakilin nampol


Iya sih sbenernya
Huft
emoticon-Cape deeehh
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
Lapor Hansip
12-10-2019 12:58
Balasan post IztaLorie
Si bos lepas kontrol juga...efek galau karena putus cinta atau memang udah ada rasa?
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
12-10-2019 14:02
Quote:Original Posted By hossetiyawan
Iya sih sbenernya
Huft
emoticon-Cape deeehh


Quote:Original Posted By jiyanq
Si bos lepas kontrol juga...efek galau karena putus cinta atau memang udah ada rasa?


Apa ya? Kira-kira masih belum ketebak ya?
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Bos Aneh dan Nyebelin
Lapor Hansip
12-10-2019 14:36
Balasan post IztaLorie
Ada sih..tapi lebih enak ngikutin update aja...biar ikut merasa sensasinya..hehehe..
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
12-10-2019 14:38
Quote:Original Posted By jiyanq
Ada sih..tapi lebih enak ngikutin update aja...biar ikut merasa sensasinya..hehehe..


Mantap jiwa emoticon-Jempol
0 0
0
Bos Aneh dan Nyebelin
25-10-2019 22:56
Sis, lama nih gak update... Ane kangen
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
01-11-2019 09:10

Bos Aneh Dan Nyebelin

Kejujuran



...

Isti mencoba membuka mata, tapi hanya bisa memincing karena efek kepala yang terasa dihantam palu Thor.

"Ramai-ramainya diluar napa?" Isti menggerakkan tubuh bagian atas agar bisa duduk bersandar pada dinding kamar, yang terjadi malah kembali terhempas di atas tempat tidur.

Kevin melepaskan Wito dengan tidak rela untuk menghampiri cewek yang bibirnya mulai memerah seperti strawberry. Punggung tangan ditempelkan ke dahi.

"Is, kita ke rumah sakit sekarang." Cowok itu bahkan tidak meminta persetujuan ketika membopong Isti dengan tergesa-gesa.

Dia tidak dalam kondisi bisa mengeluhkan hal itu karena pandangan buram dan rasa sakit yang terus menusuk kepala. Isti bahkan merasa yakin kalau kondisi kepalanya seperti bangunan yang dirobohkan dengan paksa. Dipukul, dicukil, dan bahkan ditusuk agar rata dengan tanah.

Wito mengikuti Esy yang keluar kamar dengan tergesa-gesa. Hatinya terasa pedih melihat kondisi Isti.

Mereka diterima oleh perawat IGD yang dengan cekatan membantu Kevin membaringkan Isti di brankar.

Wito menahan diri untuk berteriak ketika jarum infus menusuk kulit mulus Isti. Meski pun belum pernah merasakan diinfus, tapi rasa panas sekaligus nyeri muncul di pergelangan tangannya.

Rasa yang Wito yakin bakal Isti rasakan kalau cewek itu dalam kondisi sadar ketika diinfus.

Napas Wito tertahan ketika melihat jarum itu tidak berada di tempat yang tepat. Dia menggeser tubuh perawat dengan tidak sabar. Mengenakan sarung tangan lalu mengambil alih pekerjaannya. Berharap cewek itu tidak lagi merasa sakit karena gagal diinfus.

"Isti dehidrasi, itu sebabnya sangat sulit menginfusnya. Venanya kolaps. Terima kasih sudah dibantu," ujar perawat yang merasa luar biasa lega karena keberhasilan Wito mencari pembuluh darah. Dia segera mengambil alih prosedur selanjutnya.

Tangan Wito gatal ingin mengusap rambut Isti untuk memastikan cewek itu merasa lebih baik atau lebih tepatnya untuk memastikan dirinya bakal baik-baik saja melihat betapa rapuh keadaan orang yang disayanginya.

Sekali lagi Wito menahan diri ketika Kevin mengurus segala sesuatu agar Isti bisa segera pindah ke kamar rawat inap.

Sebuah sentuhan lembut di lengan tidak membuat Wito mengalihkan pandangan dari wajah pucat Isti.

Wito bahkan tidak mendengar perkataan Esy yang memintanya untuk mundur agar perawat bisa mendorong brankar itu keluar dari IGD.

...

Isti terbangun karena kondisi tak nyaman yang mengharuskannya untuk segera ke kamar mandi. Dia bukan seorang yang mudah menahan kencing, terlebih lagi dengan banyaknya cairan yang harus masuk memenuhi tubuh.

"Kev, bantuin dong. Aku mau ke kamar mandi." Dia beringsut bangun dan duduk di tepi ranjang. Kakinya menggantung hampir menyentuh lantai sedingin es.

Isti menunduk karena merasakan sengatan tajam di kepala. Jantungnya berdesir halus ketika tubuhnya terangkat.

"Kev, nggak usah dibopong. Aku hanya perlu dipapah untuk sampai kesana." Isti menepuk punggung Kevin. Berharap cowok itu ingat pembicaraan pagi ini ketika menggantikan Esy untuk menjaganya dan segera menurunkannya.

Tadi pagi Isti sudah melayangkan protes tentang bagaimana cowok itu harus bersikap terhadapnya.

Kesadaran baru menerpa ketika aroma mint memenuhi hidung. Ini jelas bukan aroma tubuh Kevin yang berbau citrus. Bulu kuduk Isti berdiri dengan cepat.

Dia memejamkan mata erat-erat lalu menoleh perlahan-lahan. Mengintip dengan mata kanan untuk mendapati kenyataan yang begitu mengejutkan.

Rona merah dengan segera menjalar di wajah, membuat panas tubuh yang dingin. "Bos, turunin dong. Nggak enak dilihat orang."

Wito pelan-pelan menurunkan Isti, bukan karena permintaan lirih namun karena mereka sudah sampai di depan pintu kamar mandi.

Wajah Wito mengeras, tidak menyukai situasi dimana dia tidak bisa memastikan keselamatan cewek itu. Bisa saja Isti terpeleset karena masih belum kuat berjalan. Buktinya adalah permintaan untuk membantu menuju ke kamar mandi.

Dia melihat Isti terkesiap ketika membuka pintu dan mendapati dirinya berdiri tepat di depan pintu.

Isti mencengkeram tangan Wito, menahan dari tindakan heroik seperti membopong yang tadi dilakukannya. Tertatih-tatih menuju tempat tidur. Menyadari betapa kencang lengan Wito.

Isti menarik selimut hingga bawah dagu ketika sudah terbaring lagi di ranjang. Berpikir dengan keras, kenapa cowok itu mau menjaganya.

Dia melirik Wito yang berbaring di sofa sambil melihat tayangan televisi dengan santai seakan-akan berada di kamar kosnya sendiri.

Wito merasakan tatapan penuh tanda tanya dari arah ranjang. "Butuh bantuan?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatian. Dia tahu kalau memandang mata sewarna madu milik Isti pasti akan membuat pertahannya kembali roboh.

"Aku mau tidur saja." Isti berbaring menyamping membelakangi Wito.

Kali ini gantian Wito yang memandang punggung Isti dengan penuh damba. Berbagai rasa menyeruak ingin dikeluarkan.

"Mbak, mau diambil darahnya dulu ya." Nena masuk sambil membawa perlengkapan. Berhenti tepat di dekat ranjang.

"Eh, ada Pak Wito. Gimana kalau njenengan aja yang ambil darah. Waktu di IGD kan njenengan juga yang nginfus sampai dorong-dorong Pino biar jauh-jauh dari mbak Isti. Perlengkapan saya tinggal di sini ya." Nena mengedip genit lalu melenggang keluar dari ruang rawat inap.

Wito berdehem tidak nyaman, dengan canggung bangkit dari sofa, medekati Isti dengan harap-harap cemas. Semoga Isti tidak mendengar perkataan Nena.

"Kenapa?" Isti berbaring telentang. Mata menghujam Wito yang saat ini menghentikan langkahnya yang sudah separuh jalan.

"Kenapa? Aku juga ingin tahu kenapa?"

Wito mengumpat perlahan demi melihat Kevin yang sudah bersandar di dinding kamar mandi dengan bersedekap. Sejak kapan dia ada di sana, Wito tidak memerlukan tambahan orang yang memojokan.

"Ataukah aku yang harus menjawab untukmu? Dasar pengecut!" Kevin terus mendesak.

"Kevin!" tegur Isti.

Wito menelan ludah dengan susah payah, dia berputar ke kanan hingga menghadap Isti. Mencengkeram erat sisi ranjang.

Isti buru-buru bangun hingga dalam posisi duduk. Tak menghiraukan rasa pusing dan pandangan yang kabur. Semua itu terjadi karena melihat sudut bibir kiri Wito yang sobek membiru.

"Apa yang terjadi?" Isti meringis menahan nyeri seolah-olah dirinya yang terluka.

"Kamu atau aku yang akan menjawabnya?" Kevin sudah hilang kesabaran melihat bungkamnya Wito.

"Bisa kamu tinggalkan kami berdua?" pinta Wito dengan lirih. Tidak sanggup berkata jujur pada saingannya yang merupakan pacar Isti.

"Sebaiknya kamu tidak lagi bersikap pengecut sehingga kita dapat bersaing secara adil untuk memperebutkan hati Isti," ujar Kevin sebelum meninggalkan ruangan dan menutup pintu yang tadinya terbuka.

Isti terus menerus memandang wajah Wito, membuat cowok itu semakin gugup. Dia berdehem sekali, memindahkan bobot tubuh ke kaki kanan.

"Kejadiannya dimulai dari kemarin malam ketika berada di kamarmu. Kevin memergoki aku sedang mencium keningmu. Dia marah, tentu saja itu haknya. Siapa cowok yang tidak akan marah kalau melihat pacarnya diperlakukan seperti itu oleh cowok lain."

"Kevin bukan pacarku." Isti mengulas senyum samar. Menanti kelanjutan cerita, berharap akan berkembang sesuai dugaan.

"Tentu saja dia bukan," ujar Wito masih belum menyadari apa yang didengar.

"Apa? Kevin apa tadi?" Mata Wito terbelalak ketika kesadaran menyusup dengan cepat.

"Dia bukan pacarku, kami teman." Isti kembali mengulang pernyataan itu.

"Lalu, apa yang terjadi dengan Pino?"

"Aku bahkan tidak menyadari kalau mendorong Pino dengan keras. Aku cuma nggak mau kamu semakin tersakiti karena dia tidak becus mencari pembuluh darah." Wito mencengkeram rangka ranjang semakin erat hingga telapak tangan memerah.

"Apa artinya semua ini?"

Wito berjalan ke sisi ranjang. Menggenggam tangan kanan Isti dengan lembut. "Aku melakukan semua hal yang diluar kebiasaan itu karena menyukaimu. Semua akal sehat menghilang karena melihatmu menderita."

"Tapi kamu tidak bereaksi yang aneh-aneh ketika aku selalu mengeluhkan tentang kerja lembur dan juga pos yang membuatku tidak nyaman." Isti menunduk sedih, perlahan-lahan mengangkat kepala dan mandang Wito dengan sayu.

Mata Isti melebar ketika melihat telinga Wito yang memerah. Apakah cowok itu juga bisa merona? Ini sungguh tidak bisa dipercaya.

"Itu karena keegoisanku, ingin selalu menjagamu tetap didekatku dan bisa selalu memandangmu." Wito memaksakan senyum tapi malah terlihat aneh.

"Kalau Kevin bukan pacarmu, apa kamu mau jadi pacarku?"

Pertanyaan itu sukses membuat mulut Isti terbuka lebar. Serius ini?

Part Selanjutnya

...

Daftar indeks cerita bisa di klik di sini
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Bos Aneh dan Nyebelin
01-11-2019 09:11
Quote:Original Posted By jiyanq
Sis, lama nih gak update... Ane kangen


Sudah update ya. Maaf lama. Hp nggak bisa diajak kerja sama buat update. Nulisnya nyicil dikit-dikit.
0 0
0
Bos Aneh dan Nyebelin
Lapor Hansip
01-11-2019 13:25
Balasan post IztaLorie
Welcome back,sis.
Nah,gitu dong,bos. Gerak cepat sebelum bidadarimu disamber yg lain..
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Bos Aneh dan Nyebelin
02-11-2019 02:02
Quote:Original Posted By jiyanq
Welcome back,sis.
Nah,gitu dong,bos. Gerak cepat sebelum bidadarimu disamber yg lain..


Wah, ada team Wito nih. Ga ada gitu yang team Kevin 😂😂😂
0 0
0
Bos Aneh dan Nyebelin
06-11-2019 21:22

Bos Aneh Dan Nyebelin

Saingan

Bos Aneh dan Nyebelin
Sumber : pixabay.com

Part Sebelumnya

...

"Woah, nggak bisa dipercaya. Selain pengecut ternyata juga penikung." Kevin bertepuk tangan lambat-lambat untuk mengejek.

"Aku memberi kesempatan buat mengaku dosa atas perbuatanmu kemarin malam. Ternyata malah nembak Isti."

Wito membuang muka, tangan terkepal erat. Namun seulas senyum perlahan-lahan terbit, emosi sudah terurai. Akal sehat harus digunakan untuk menghadapi saingan.

"Bukannya kesempatan harus dipergunakan sebaik mungkin." Wito menyeringai licik.

Kevin menghampiri Wito, sengaja menyenggol bahunya sebelum menghadap Isti yang bermuka masam.

Kevin tahu kalau kondisi Isti sedang tidak sehat dan tidak mau mendengar keributan. Namun hal ini diperlukan agar cewek itu tidak jatuh ke tangan Wito.

"Kamu harus memilih antara aku dan Wito, karena aku juga mau kamu jadi pacarku. Tapi jangan dijawab sekarang, beri kami waktu dua minggu untuk membuatmu menyadari siapa yang benar-benar mencintaimu."

"Cukup adil, aku yakin Isti tetap akan memilihku," ujar Wito sambil menyungingkan senyum basa-basinya yang khas.

Mereka berdua bertatapan mata, beradu pandang seolah-olah laser dapat keluar dari mata dan membinasakan musuh.

Isti hanya bisa menutup wajah dengan tangan kanan. Kenapa mereka berdua begitu kekanak-kanakan padahal umur sudah mulai mendekati kepala tiga.

Dering telepon memutuskan kontak mata diantara mereka. Kevin dengan berat hati berpamitan pada Isti karena sudah dicari oleh perawat IGD.

"Ingat, jangan memutuskan sekarang. Jangan terpengaruh olehnya."

Isti sudah membuka mulut hendak berbicara dengan Wito, tapi cowok itu malah mengangkat tangan kanan untuk menghentikannya.

"Kevin benar, saat ini kamu tidak bisa berpikir dengan benar. Renungkan betul-betul, siapa yang berhak menjadi pacarmu. Beri kami kesempatan untuk membuktikan rasa cinta kami." Wito kembali duduk di sofa, menonton televisi dengan khidmat tanpa memperhatikan Isti.

Isti benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran cowok berpotongan plontos itu. Katanya mau membuktikan cinta tapi kok malah cuek gini.

Apa ini cuma taktik agar Isti yang memperhatikannya. Masa bodoh, cewek itu kembali berbaring menyamping hingga membelakangi Wito.

Isti merasakan tubuhnya digoyang dengan keras. "Kenapa sih, Bos. Masih ngantuk nih."

"Yailah, Bos mulu yang diperhatikan. Ini Esy."

Mata Isti terbuka sempurna dan benar-benar melihat sahabatnya ada di samping ranjang.

"Makan dulu." Esy membantu Isti duduk dan menyiapkan meja serta mendekatkan piring agar Isti dapat makan sendiri.

"Apa ada sesuatu?" Esy menarik kursi, tatapannya mengunci Isti. Membuat cewek itu kesulitan menelan makanan.

Esy menyerahkan gawai yang sedari tadi berbunyi. Isti membuka kunci lalu meluncur ke whatsapp. Tanpa sadar dia menghembuskan napas keras-keras. Membuat dahi Esy berkerut.

"Ada masalah?" Esy tentu saja dapat menyimpulkan karena melihat bahu Isti yang berubah turun ketika membuka pesan.

Isti menunjukkan layar gawai. Pesan dari Kevin menumpuk sampai seratus. Semua berisi hal yang tidak penting. Bukan jenis pesan yang disukai oleh Isti.

Sudah makan belum, sudah mandi belum, jangan lupa minum obat, dan cepat sembuh. Belum-belum sudah bersikap seperti seorang pacar. Isti kembali mendesah.

Dia mencari pesan dari Wito, tapi tak menemukan satu pun. Tipikal Wito banget nih. Cuek, bahkan ketika berkata ingin lebih perhatian.

Isti melirik Esy yang tersenyum ketika membuka pesan. Dia bahkan langsung beranjak pergi tanpa repot-repot pamit padanya.

Isti kembali melanjutkan makan dengan tidak semangat. Semua makanan didorong masuk dengan lambat.

Esy masuk ke kamar dengan membawa plastik hitam. Langsung membukanya di depan Isti. Tiga buah novel Harlequin dan dua buah novel Hisrom langsung terlihat, membuat mata Isti berbinar.

"Aku pinjam ya, bosen banget nih." Isti memegang tangan Esy.

Cewek itu tersenyum geli. "Ini punyamu."

Isti menunjuk diri sendiri, mengangguk untuk bertanya. Esy langsung mengangguk-angguk dengan semangat untuk menjawabnya.

Isti melepaskan tangan Esy. "Kok bisa punyaku? Seingatku belum beli novel lagi."

Esy menunjuk gawai Isti yang berbunyi karena ada pesan masuk.

Pesan singkat yang membuat Isti tersenyum bahagia. Dia mengambil alih novel dari tangan Esy dan mendekapnya erat.

Esy dengan cepat merebut kembali novel itu, mendorong piring maju lebih dekat pada Isti. "Pesan Wito, kamu harus makan dulu sampai habis baru boleh baca."

Isti cemberut, tangannya sudah terulur ingin mengambil novel, tapi sebuah pesan masuk menghentikannya.

Isti menyendok nasi dan sayur setelah selesai membaca pesan. Esy tertawa terbahak-bahak lalu berpindah ke sofa sambil mengamankan novel-nivel yang dilirik Isti dengan penuh minat.

"Sepertinya Wito tahu banget tentang kamu. Itu pasti dia yang kirim pesan, memgingatkan tentang makan dulu," tebak Esy.

Isti memgangguk dengan mulut mengerucut. Namun dalam hati merasa bahagia karena Wito mengetahui kesukaannya akan membaca.

Kegembiraan Isti karena mendapat bacaan tak berlangsung lama karena setelah Esy pamit keluar untuk makan, dia mendapatkan kunjungan tak terduga.

Cinta melenggang masuk tanpa mengetuk pintu. Bersedekap dengan pandangan meremehkan.

"Ternyata doyan barang lepehan juga ya. Dengar-dengar kamu mulai berani mendekati Wito?"

"Pak Wito atau nggak Mas Wito. Nggak sopan banget manggil yang lebih tua dengan nama saja," protes Isti disela-sela ucapan Cinta.

"Halah, sama saja. Asal kamu tahu saja. Aku akan memastikan kalian nggak bisa bersama. Jangan kira aku tidak tahu gimana perasaanmu padanya." Cinta menopang tubuh dengan kedua tangan di ranjang, badan condong ke depan.

Isti pun mencondongkan badan oe depan hingga mereka berhadap-hadapan. Ini seperti dejavu, suasananya persis seperti Kevin vs Wito tadi.

"Wito bukan lagi urusanmu. Kamu yang sudah memutuskan untuk melepasnya. Sebaliknya urusi saja selingkuhanmu dan segera pergi dari sini!" bisik Isti dengan nada tegas.

Cinta tersenyum sinis. "Lihat saja nanti!"

...



Daftar indeks cerita bisa di klik di sini
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Halaman 13 dari 14
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
warna-luka
Stories from the Heart
rasa-yang-tak-pernah-ada
Stories from the Heart
jumiati-itu-adalah-aku
Stories from the Heart
the-marionette
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.