alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
108
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b4a0a7bdc06bd1c488b4567/diantara-2-sisi
Sudah sekitar satu bulan, ia menghilang. Benar-benar lenyap. Pertemuanku dengan dia, membuat aku belajar banyak hal. Bahwa kadang, bukan syaitan atau iblis yang menjerumuskan manusia untuk berbuat jahat.
Lapor Hansip
14-07-2018 21:36

Diantara 2 Sisi

Past Hot Thread
Diantara 2 Sisi


Syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dengan berbagai cara syaitan menggoda manusia agar tersesat dari jalan kebenaran. Tujuannya adalah agar mereka dapat bersama-sama dengan manusia kelak di neraka. Oleh karenanya wajib bagi kita umat Islam untuk selalu mewaspadai dan membentengi diri kita dengan iman yang kokoh, agar tidak terbujuk oleh rayuan syaitan yang berujung pada kehinaan


Sudah sekitar satu bulan, ia menghilang. Benar-benar lenyap. Pertemuanku dengan dia, membuat aku belajar banyak hal. Bahwa kadang, bukan syaitan atau iblis yang menjerumuskan manusia untuk berbuat jahat. Seringnya, kita sendiri melupakan ada hak orang lain untuk menerima uluran tangan kita. Ada iman orang lain yang kita bertanggung jawab untuk menguatkannya. Ada yang hatinya baik,tapi kita berkelengahan untuk berbuat maksiat. 


Pada dasarnya, fitrah setiap manusia adalah berbuat kebajikan. Kecuali mereka yang gagal mengendalikan nafsunya. Syaitan menggoda manusia yang pintu hatinya belum tertutup. Mencari celah agar bisa mendapatkan buah dari dosa manusia. 


Manusia itu gudangnya kesombongan. Dipancing sedikit saja, tumbuh subur kesombongan dalam hatinya. Makin sering ibadah, makin mudah mereka merendahkan sesama.

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [Al-Baqarah:169]

Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. [An-Nahl:100]






PROLOG


Pernah tidak kau menginginkan seseorang hadir dalam hidupmu, dan melengkapi semua kekuranganmu? Aku pernah. Pernah. Pernah menyuapi harapan dengan semangkuk imajinasi yang membuatku kenyang bermimpi. Mungkin saja semuanya bisa diwujudkan tuhan untukku. Tapi aku takut. Takut mengecewakan dia yang kudambakan. Bagaimana mungkin aku ingin dia yang taat agama, sedangkan aku masih sibuk dengan gemerlapnya dunia.. Bagaimana bisa aku menginginkan dia yang baik tutur katanya, sedangkan mulutku terkadang keluar dari jalurnya. Aku tak ingin lari memenangkan ego. Biarlah dulu aku memantaskan diri hingga aku benar-benar layak untuknya. Sebab aku percaya, jodoh adalah cerminan dari diri. 


"Lo gapapa?" tanya Damar

"Gapapa Mar" jawabku

"Lo nyerah?" tanyanya lagi

"Udah ditolak mau gimana lagi Mar. Mimpi gue ketinggian kali ya"

"Gapapa mimpi setinggi mungkin, kalau terwujud kan lo bahagia juga" katanya

"Iya sih Mar"

"Udah jangan sedih . . . semangat"

Beberapa hari yang lalu, aku baru saja melamar seseorang yang aku sukai. Namun lamaran itu tak seperti yang aku harapkan. Lamaran yang kuharapkan mendapat senyuman serta penerimaan. Yang kudapat memang sebuah senyuman, namun senyuman itu memudar ketika ia berkata "Maaf"
Diubah oleh nasihiber
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan i4munited memberi reputasi
2
Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 6
Diantara 2 Sisi
29-09-2019 22:22
kelar juga baca ulang dari awal
gak sabar nunggu kelanjutannya
ditunggu ya gan @nasihiber
0 0
0
Diantara 2 Sisi
30-09-2019 06:11
Alhamdulillah di lanjutin lagi
0 0
0
Diantara 2 Sisi
30-09-2019 18:25
Quote:Original Posted By i4munited
kelar juga baca ulang dari awal
gak sabar nunggu kelanjutannya
ditunggu ya gan @nasihiber

niat amat hehe emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By bishamon19
Alhamdulillah di lanjutin lagi

Alhamdulillah hehe
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Diantara 2 Sisi
30-09-2019 20:48

Part 15 - Keluarga

Tiba-tiba seseorang masuk kekamarku. Mereka adalah orang tua Aya dan juga seorang dokter.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar nak” ucap ummi nya Aya
“Gimana keadaan kamu sekarang?” tanya dokter
“Saya udah membaik, hanya masih pusing sedikit saja dok” jawabku
“Adek harus banyak istirahat. Kaki kiri adek patah, untuk sementara nanti kalau berjalan pakai tongkat dulu ya. Kepala adek juga sempat terbentur, tapi tidak ada luka serius dibagian kepala” kata dokter
“Apa dok? Kaki saya patah?” tanyaku sedikit terperanjak
“Iya, adek yang sabar ya, Masih ada keluhan lain?” tanya beliau
“Ga ada” jawabku singkat sambil menggelengkan kepalaku
“Kalau butuh sesuatu, panggil suster saja ya” kata dokter
“Saya mau pulang saja dok”
“Lhoo kok pulang? Kan kamu belum sehat nak” ucap abinya Aya
“Saya ga punya biaya untuk dirawat” ucapku
“Adek ga usah pikirkan biaya, biar saya yang tanggung jawab semuanya” ucap seorang pria tiba-tiba masuk bersama Damar
“Anda siapa?” tanyaku
“Saya yang bawa mobil waktu itu. Sudah jadi tanggung jawab saya, karena saat itu saya mengemudi sambil menelfon, jadi ga konsen” katanya

Setelah selesai memeriksa, dokter meninggalkan aku, seseorang itu, Damar dan keluarga Aya.
“Nama saya Yuda” kata pria asing itu
“Alzam” ucapku
“Maaf, karena saya, pernikahan masnya jadi tertunda” katanya
“Pernikahan?” ucapku terbata
“Tidak apa-apa, antum sehatlah dulu. Kesehatan antum lebih penting” ucap Aya
“Aya” panggilku
“Keajaiban Allah nak” ucap ummi nya Aya

Beberapa hari aku dirawat di rumah sakit. Aku benar-benar merasakan sakit dibagian kaki kiriku. Aku diperbolehkan pulang kerumah. Damar juga sudah memberikan surat sakitku ke kampus. Aku diantar pulang oleh keluarga Aya ke rumahku. Setibanya kami dirumah, kami kembali membicarakan pernikahan.
“Ini tentang pernikahan kalian nak” ucap abinya Aya
“Ada apa abi?” tanya Aya
“Mau ditunda dulu?” tanya beliau
“Aku tak keberatan jika ditunda, Abi. Tapi Aya juga tak keberatan jika dipercepat” ucap Aya
“Tapi kondisiku sedang seperti ini. Mungkin nanti aku akan menyusahkanmu” ucapku
“Jika aku sudah menikah, maka aku akan mengabdikan diriku untuk suami. Tapi itu bukanlah sebuah hal yang merepotkanku. Mengabdi pada suami merupakan ibadah, betulkah abi?” ucap Aya
“Betul. Baik, jika memang kamu mau dipercepat. Tapi, kita beri Alzam kesempatan untuk berbicara” ucap abinya Aya
“Saya tak keberatan, luka ini tak seberapa. Saya sanggup. InsyaAllah” ucapku dengan penuh keyakinan.

Dua hari kemudian, aku mengenakan pakaian yang sudah disiapkan sebelumnya. Pakaian itu masih terlihat rapi, bahkan setelah disimpan beberapa hari. Hari ini aku akan melaksanakan akad nikahku dengan Zahiyah. Sekitar jam sepuluh, aku ditemani Damar dan keluarganya menuju tempat akad akan dilangsungkan.
“Siap Zam?” tanya Damar
“Degdegan gue Mar” ucapku
“Udah, santai aja. Bicara yang jelas” kata Damar
“Makasih banyak, lo udah banyak bantuin gue Mar” ucapku
“Selow aja kali Zam” kata Damar

Tibalah kami ditujuan. Aku memasuki sebuah masjid, dimana beberapa orang sudah menunggu kami. Tapi aku tak melihat Aya disitu. Mungkin ia sedang ada di tempat lain menunggu akad nikah selesai dilaksanakan.

Acara demi acara terlaksana dengan lancar. Sampai pada akhirnya, aku tengah duduk dihadapan pak Haji Rasadi, yang merupakan ayah dari Aya. Dengan mengucap bismillah dalam hati, aku menjabat tangan beliau seketika beliau berkata

“Saya nikahkan kamu dengan anak saya Zahiyah Halimatu Sa’diyah binti Rasadi dengan mahar seperangkat alat shalat dibayar tunai”

“Saya terima nikahnya Zahiyah Halimatu Sa’diyah binti Rasadi dengan maharnya tersebut, tunai”


Hari ini, pada tanggal 14 November 2014, hari Jum’at di usiaku yang masih 18 tahun. , aku telah mengemban tugas baruku sebagai seorang pemimpin keluarga. Dimana perjalanan baru dalam hidupku akan aku mulai bersama seorang wanita yang baru saja duduk disampingku saat ini, Zahiyah Halimatu Sa’diyah. Seorang gadis yang berusia tepat satubulan dibawahku.

Saat aku hendak memakaikannya cincin pernikahan kami, aku lihat tangannya bergemetar. Aku melihat matanya sejenak, ia tertunduk malu, namun hal itu malah membuat kami semua tertawa. Tingkah Aya juga berhasil membuatku sedikit malu dan tertawa. Sampai akhirnya aku memakaikannya cincin itu meski dapat kurasakan tangannya masih gemetar. Begitupun saat Aya memasangkan cincin padaku dan salim padaku.

Setelah shalat jum’at, aku ikut pulang bersama keluarga Aya kerumahku. Damar juga akan menyusul ketika sudah mengantar ibunya pulang. Setibanya kami dirumah, beberapa tetanggaku yang mengetahui pernikahanku hari ini juga memberi ucapan selamat untukku. Aku berjalan masuk kedalam menggunakan tongkat dibantu oleh Aya dan diikuti mertuaku.
“Alhamdulillah, sampai juga” ucap abi
“Iya, alhamdulillah ya bi, acaranya lancar” ucap ummi
“Abi, ummi, terima kasih banyak untuk semuanya” ucap Aya sambil memeluk mereka
“Kemarilah nak” ucap ummi padaku

Kami berempatpun berpelukan. Sebuah momen membahagiakan bagiku. Aku kembali merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua. Dan pelukan ini mengingatkanku pada kedua orangtuaku yang sudah tiada. Pada sore hari, mertuaku berpamitan untuk pulang.
“Nak, kami pamit pulang dulu ya” ucap ummi
“Iya ummi, makasih ya ummi, abi” kata Aya
“Kamu baik-baik sama suamimu” ucap abi
“Iya abi” kata Aya
“Jaga istrimu nak. Jangan lupa kunjungi kami” ucap abi padaku
“Pasti, abi” ucapku sedikit terbata-bata

Merekapun pergi meninggalkan aku dan Aya. Aku dan aya libur selama akhir pekan ini. Kami juga tak memutuskan untuk ke asrama, dan berencana untuk membereskan isi rumah selama akhir pekan ini. Karena rumah inilah yang akan menjadi tempat tinggal kami nantinya.

Tiba-tiba aku teringat dengan Abyadh. Setelah aku sadar saat di rumah sakit, aku tak melihatnya lagi hingga saat ini. Apa ia benar-benar lenyap karena gagal membuatku berbuat dosa? Sungguh aku menyadari bahwa Allah tidak serta merta melepasku begitu saja. Melainkan Ia melindungiku.
“Ada apa Zam? Kok melamun?” tanya Aya
“Gapapa kok. Maaf ya, aku belum bisa berbuat banyak” ucapku
“Kamu sudah tunjukkan keberanianmu dihadapan abiku, dan dihadapan Allah” ucap Aya
“Cie, sekarang manggilnya aku kamu, hehe” godaku
“Iih Zaam” ucapnya malu, sambil menutup wajahnya
“Kenapa kamu mau menerimaku tuk jadi suamimu?” tanyaku
“Karena Allah, Zam. Aku yakin kamu bisa jadi pemimpin keluarga yang baik”
“Tapi ilmuku masih sedikit Ya” ucapku
“Sedikit tapi kalau mau belajar, bagiku tak masalah, Zam” kata Aya
“A..aku...” ucapku masih sedikit canggung
“Mau aku buatkah teh?” tanya Aya
“Boleh, Aya” jawabku.

Benar-benar bahagia diriku memiliki istri seperti Aya. Dan kini aku dapat kembali mendengar suaranya. Takkan kusia-siakan karunia yang telah Allah berikan untukku. Semua akan aku mulai dengan Bismillah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
midim7407 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Diantara 2 Sisi
01-10-2019 12:33
emoticon-Wagelaseh
0 0
0
Diantara 2 Sisi
01-10-2019 12:58
yuhuuuuu numpang lewat
0 0
0
Diantara 2 Sisi
01-10-2019 18:06
Wah, keren ceritanya
0 0
0
Diantara 2 Sisi
01-10-2019 19:24
Quote:Original Posted By fiiliyah
emoticon-Wagelaseh

emoticon-Wow
Quote:Original Posted By putranto1718
yuhuuuuu numpang lewat

silahkan emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By arsennarigea
Wah, keren ceritanya

makasih gan emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
0 0
0
Diantara 2 Sisi
Lapor Hansip
02-10-2019 13:56
Balasan post nasihiber
Cerita tentang orang2 hebat nih..Cakep,gan.
0 0
0
Diantara 2 Sisi
02-10-2019 20:46

Part 16 - Aya dan Nur

Malam hari setelah shalat isya di masjid, aku hendak masuk kedalam rumah. Disitu aku mendengar suara seorang perempuan sedang mengaji. Aku menghentikan langkahku didepan pintu. Suaranya benar-benar membuat hatiku luluh. Perlahan aku masuk kedalam dan berjalan menuju kamarku. Aku lihat Aya sedang duduk sambil membaca Al-Qur’an lengkap dengan mukena yang masih ia kenakan. Aku menyapanya ketika ia selesai mengaji
“Assalamualaikum” jawabku”
“Waalaikumussalam” jawabnya sambil seketika memakai cadar kembali
“Alzam, kamu udah pulang” katanya sambil membelakangiku
“Iya, sudah” jawabku
“Mari kita makan malam sama-sama” katannya
“Kamu ga buka cadar?” tanyaku
“Emm, malu” katanya tersipu
“Tak apa hehe” ucapku mencoba mengertinya
“Engga Zam. Aku akan membukanya. Kamu udah jadi suamiku sekarang” katanya

Perlahan ia membuka tali cadarnya, kemudian ia sedikit menunduk. Mungkin ia masih malu padaku. Aku mencoba membuatnya menatapku dengan memegang kedua pipinya dan membuatnya melihat kearahku. Demi apa tanganku gemetaran saat itu.
“Ayo kita makan sama-sama” ajakku
Kami berjalan menuju meja makan kemudian Aya membantuku mengambilkan piring, nasi dan lauknya.
“Makasih” ucapku

Malam itu, kami makan malam bersama sambil membahas mengenai masa-masa kami saat sekolah dulu. Ternyata dulu ia pernah melihatku saat aku sedang galau memikirkan Ainun yang sudah dilamar oleh orang lain. Tapi ia tak berani menyapaku. Lalu kami juga teringat ketika Aya diganggu oleh Mizi yang mungkin adalah laki-laki yang menyukainya.
“Saat itu, aku memang sudah menaruh perasaanku pada orang lain. Hingga saat ini” kata Aya
“Maaf jika aku bikin kamu keinget lagi” ucapku
“Engga kok. Aku justru senang bahwa aku mengingatnya, dan aku akan selalu ingat untuk menyukainya” kata Aya
“Baiklah” ucapku singkat
“Kamu mau tahu siapa dia?” tanya Aya
“Siapa?”
“Alzam Faiz Artanabil” katanya
“Makasih untuk semuanya Aya” ucapku

Malam itu Aya sedang berada dikamarku sambil duduk didepan meja yang terdapat kaca. Ia masih mengenakan jilbabnya meski sudah memakai piyama. Aku duduk dikasur tepat dibelakangnya. Ia melihatku dari pantulan kaca saat hendak membuka jilbabnya.
“Jangan liat atuh, aku malu” katanya
“Hehe, yaudah deh, aku tidur didepan aja” ucapku sambil berdiri

Ia hanya tetap duduk disana sampai akhirnya aku duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi. Beberapa saat aku merebahkan tubuhku disofa itu. Sedikit demi sedikit kugerakkan kaki agar bisa selonjoran.
“Alzam” panggil Aya
“Iya Aya?” jawabku
“Tidur di kamar aja” katanya
“Apa?” pura-pura ga denger
“Tidur di kamar aja Alzam” ucapnya
“Kalau kamu masih malu, aku gapapa ko disini” ucapku

Aya sekarang sudah tak memakai kerudung lagi.
“Engga. Kamu itu suamiku. Tidak sepantasnya aku biarin kamu tidur di sofa” katanya
“Hmmm”
“Ayo, aku bantu. Jangan lupa matiin TV nya” katanya

Dan akhirnya akupun mengikuti ucapannya. Jangan tanya di kamar ngapain aja.

Keesokan paginya, aku dan Aya mulai membersihkan rumah ini. Walau lebih banyak Aya yang bekerja karena kondisi kakiku sedang kurang baik. Aku merasa malu karena tak bisa berbuat banyak. Pekerjaan berat yang harusnya menjadi tugasku. Sore nantipun aku harus pergi ke toko untuk bekerja. Beberapa saat kami sudah menyelesaikan tugas kami, aku duduk di ruang tengah bersama Aya sambil membawakan minum untuk kami.
“Kamu nanti sore kerja?” tanya Aya
“Iya. Aku kan harus mulai belajar menafkahi” ucapku
“Semangat ya” katanya
“Pasti. Demi keluarga hehe” ucapku
“Kamu tahu kenapa aku terlihat berbeda saat kamu hendak pulang?” tanya Aya
“Entahlah, tapi memang aku lihat kamu berbeda” jawabku
“Karena perasaanku tak enak saat itu. Saat kamu pamit pulang, tiba-tiba ada yang memasuki pikiranku, dan ternyata itu benar. Kamu kecelakaan saat pulang” katanya
“Sudah, itu sudah berlalu” kataku
“Saat itu, aku benar-benar menangis, sampai tiba0tiba aku bisa membuka suaraku saat memanggil namamu”
“Lihatkan? Allah sudah merencanakan sesuatu yang baik untukmu. Sekarang kita sudah menikah, dan aku juga baik-baik saja kan” ucapku
“Iya Zam. Oh iya, karena kita udah nikah, aku gaboleh panggil nama. Ga sopan. Kamu mau aku panggil apa?” tanyanya
“Terserah kamu aja Ya” ucapku
“Yaudah aku panggil mas aja ya” katanya
“Boleh. Terus kamu mau aku panggil apa?” tanyaku
“Terserah mas aja hehe” katanya
“Aku panggil adek aja kali yah hehe” ucapku
“Hehe kaya anak kecil atuh mas” katanya
“Biarin, kan kamu kecil hehe”
“Enak aja huuuh”

Waktu menunjukkan jam satu siang. Selepas kami makan siang, aku mengajak Aya untuk jalan-jalan ke taman. Meski awalnya Aya khawatir aku tak kuat karena berjalan pake tongkat lumayan bikin pegal.
“Aku kuat kok” ucapku
“Itu ada kursi roda.. Kita pake aja gimana?
“Kamu ga malu? Nanti orang liat suaminya cacat gitu” kataku
“Apa sih mas. Engga lah. Yaudah mas duduk aja disitu. Nanti aku yang dorong mas”
“Iya deh” ucapku menurut

Aya mendorongku hingga kami tiba di taman dekat rumah. Taman yang tak terlalu besar. Karena dekat dengan sekolah, terdapat beberapa orang disana. Ada juga yang berjualan. Aya membawaku ke tempat yang agak teduh. Cuaca hari ini memang tak terlalu panas, tapi tetap membuat sedikit haus.
“Mas tunggu disini” kata Aya
“Kamu mau kemana?” tanyaku
“Tunggu aja mas” katanya sambil pergi

Kulihat ia menghampiri salah satu pedagang. Dan tak lama ia kembali datang membawa dua botol air minum.
“Nih buat mas” katanya
“Makasih dek” jawabku
“Mas” panggilnya
“Iya kenapa?”
“Jujur deh, aku ga pernah kepikiran kita bisa sampai jadi seperti sekarang” katanya
“Kenapa?” tanyaku
“Ya, ga kepikiran, kita nikah gituu. Dulu aja aku ga ada pikiran mau langsung nikah” katanya
“Ya, sama akupun. Tapi ya gimana yah, ini soal perasaan. Dan aku gamau rasa suka ini malah jadi dosa buat kita” ucapku
“Ternyata aku ga salah milih mas” ucapnya

Angin berhembus dengan perlahan. Rasanya begitu menenangkan. Tiba-tiba aku teringat dengan Abyadh. Abyadh benar-benar lenyap. Sama sekali hilang. Pertemuan dengan Abyadh membuat aku belajar banyak hal. Bahwa kadang bukan syaitan atau iblis yang menjerumuskan manusia untuk berbuat jahat. Seringnya kita sendiri melupakan ada hak orang lain untuk menerima uluran tangan kita. Ada iman orang lain yang kita bertanggung jawab untuk menguatkannya. Ada yang hatinya baik, tapi kita berkelengahan untuk berbuat maksiat. Dan pertemuanku dengan Zahiyah, membuat aku mengerti tentang arti sebuah perjuangan. Aku menatap gadis yang ada disampingku ini. Ia tersenyum padaku daribalik cadarnya.
“Ada apa mas?” tanyaku
“Gapapa kok dek. Mas merasa beruntung” ucapku
“Beruntung kenapa?” tanyanya
“Ya beruntung bisa mendapat wanita sebaik adek” jawabku
“Mas mah gombal hehe. Adek juga ga luput dari kesalahan kok mas” katanya
“Namanya juga manusia dek, hehe” ucapku
“Kita pulang yuk. Mas kan bentar lagi berangkat kerja” katanya
“Iya, Aya” jawabku menyetujui ajakannya

Sore hari, aku berangkat dijemput oleh Damar. Meninggalkan Aya sendirian dirumah. Setibanya ditempat kerja, aku bertemu dengan atasanku.
“Sudah datang juga hehe” ucap atasanku
“Hehe iya pak” jawabku
“Itu kakinya kenapa?” tanya beliau
“Ga kenapa-kenapa kok pak” jawabku
“Waktu itu kecelakaan pak. Sampe patah kakinya” ucap Damar
“Ya Allah. Hati-hati. Tapi sanggup kerja hari ini?” tanya beliau
“InsyaAllah sanggup pak” jawabku
“Saya suka semangat kamu. Yasudah, kalau gitu saya tinggal ya. Saya serahkan ke kalian” katanya
“Baik pak” jawabku dan Damar

Aku dan Damar bekerja hingga malam. Jujur saja aku sangat nyaman bekerja disini. Bukan karena masalah gaji atau tentang jobdesc nya, tetapi lingkungannya. Toko ini berada di dekat masjid dan tidak terlalu bising oleh kendaraan di jalan raya. Bahkan jika malam, suasana sedikit ramai oleh anak-anak yang mengaji di masjid. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Ini sudah waktunya toko tutup. Setelah membuat laporan, aku pulang dibonceng Damar menggunakan motornya. Sampai setibanya aku dirumah, aku lihat suasana sudah sedikit sepi.
“Assalamualaikum” ucapku seraya mengetuk pintu.
“Waalaikumussalam” ucap Aya sambil membukakkan pintu
“Eh mas, udah pulang” katanya sambil salim padaku
“Iya alhamdulillah” jawabku
“Mas pasti cape yah. Aku bikinin teh hangat ya” katanya
“Makasih dek” jawabku sambil duduk di kursi sofa

Beberapa saat ia kembali dan menyimpan teh itu di meja yang berada tepat didepanku. Lalu ia duduk disampingku. Aku melihat raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu
“Ada apa dek? Kayanya ada yang lain dipikirin” tanyaku
“Aku boleh cerita dikit mas?” tanyanya
“Cerita aja dek” jawabku
“Tadi setelah shalat ashar, aku tertidur. Kemudian aku bermimpi bertemu seorang laki-laki. Dia bilang namanya ‘Nur’. Dan dia berkata sesuatu sama aku” katanya
“Bilang apa?” tanyaku
“Dia bilang ‘Bersiaplah untuk cobaan dimasa yang akan datang’.” Ucap Aya

profile-picture
profile-picture
profile-picture
midim7407 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Diantara 2 Sisi
02-10-2019 21:50
kirain yg namanya nur cwe 😁
0 0
0
Diantara 2 Sisi
02-10-2019 22:54
Quote:Original Posted By bishamon19
kirain yg namanya nur cwe 😁


Ga selalu wkwk. Misal Nur.din
0 0
0
Diantara 2 Sisi
Lapor Hansip
04-10-2019 07:14
Balasan post nasihiber
Cobaan baru, menguji keteguhan iman pasangan muda...
0 0
0
Diantara 2 Sisi
06-10-2019 19:01

Part 17 - Pandangan Kegelapan

Nur? Siapa dia? Ah sudahlah. Itu hanya mimpi. Waktu terus berlalu. Tak terasa aku sudah berada di pertengahan pekan UAS. Aku juga kembali tinggal di asrama dan Ayapun tinggal di asramanya.

Hari itu aku sedang berada di kamar asramaku mengerjakan tugas ujian yang diberikan dosen. Tugas ini harus diserahkan sore ini. Dan aku berencana menyerahkannya sebelum aku berangkat kerja. Tiba-tiba handphoneku berdering menandakan tleefon masuk dari Aya. Dengan antusias aku mengangkat telefon itu.
“Assalamualaikum mas” katanya
“Waalaikumussalam, ada apa dek” jawabku
“Mas lagi apa?” tanyanya
“Lagi ngerjain UAS nih. Ada apa dek” tanyanya
“Ga ada apa-apa kok. Nanti pulang kerja jam berapa mas?” tanyanya
“Jam sembilan malem dek. Kenapa?” ucapku
“Engga kok hehe. Yaudah, selesaiin dulu tugasnya. Semangat, suami” katanya
“Iya hehe insyaAllah. Yaudah nanti mas kabari lagi ya” ucapku
“Iya mas. Adek tutup ya. Assalamualaikum” katanya
“Waalaikumussalam” jawabku

Setelah selesai, aku berjalan menuju ruang dosen untuk memberikan tugasku pada dosen. Selesailah urusanku dikampus. Saat aku keluar dari pintu gedung ini, aku melihat seseorang dari kejauhan sedang duduk membaca sebuah buku. Aku tersenyum dan menghampirinya.
“Assalamualaikum” sapaku
“Waalaikumussalam” jawabnya, kemudian melihat ke arahku
“Lagi sibuk ya” ucapku
“Eh, mas. Engga kok. Tadi aku anter Aulia, tapi katanya dia ada perlu. Aku juga bosen di asrama hehe” jawabnya
“Oh gitu. Kamu udah makan dek?” tanyaku
“Alhamdulillah udah kok mas. Mas mau berangkat kerja?” tanyanya
“Iya dek” jawabku
“Boleh ikut ga? Hehe” tanyanya
“Gimana yah hehe” aku berfikir
“Gapapa kok aku ke asrama aja hhe. Lagipula biar kamu fokus” kata Aya
“Udah gapapa ikut aja. Kamu ada tugas lain?” tanyaku
“Ga ada kok”
“Yaudah ikut aja. Nanti aku yang bilang atasan” ucapku
“Bener nih gapapa?” tanyanya
“Iya. Yuk” ajakku sambil meminta gandengnya

Ia pun menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju gerbang utama kampus. Saat perjalanan menuju gerbang, aku dan Aya bertemu dengan seseorang. Ia adalah Andini.
“Assalamualaikum” ucap Andini
“Waalaikumussalam” jawabku dan Aya
“Wahwaah, ternyata seorang Alzam bisa pacaran juga hehe” kata Andini
“Iya dong hehe. Apalagi pacarannya setelah nikah” jawabku
“Eh? Serius? Kamu udah nikah?” tanya Andini terperanjak
“Iya, serius, tanya aja” ucapku
“Beneran teh?” tanya Andini pada Aya
“Alhamdulillah benar hehe”
“Oalah, selamat yah. Kapan? Kok ga ngasih kabar sih?” tanya Andini
“14 November kemaren Din” jawabku
“Eh iya kenalin, aku Andini. Temen sekelasnya Alzam
“Aku Zahiyah, panggil aja Aya” kata Aya
“Jahat ih, ga ngundang yah” kata Andini
“Kita baru akad aja kok. Resepsinya juga ga besar-besar amat. Cuma pengajian aja” jawabku
“Oooh gitu toh, yaudah, sekali lagi aku ucapin selamat deh, jadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Aku mau ke perpus dulu nih, duluan ya Zam, Aya. Assalamualaikum” kata Andini
“Aamiin. Waalaikumussalam” jawab kami

Kamipun tiba di tujuan. Saat itu kami langsung bertemu dengan atasanku. Tapi aku tak melihat Damar. Mungkin dia belum datang.
“Nah dateng juga Alzam” ucap atasanku
“Hehe” jawabku hanya terkekeh sambil salim pada beliau
“Damar hari ini izin, katanya ada acara keluarga. Kamu bisa sendiri kan hari ini?” tanya beliau
“Oh baik, insyaAllah bisa pak” jawabku
“Ini siapa?” tanya beliau
“Saya istrinya Alzam pak” ucap Aya tiba-tiba
“Oalah, kamu sudah nikah? Kapan?” tanya beliau
“14 November lalu pak hehe. Hanya akad saja kok” ucapku
“Oh begitu. Padahal kalau tahu, saya dateng hehe. Yaudah, saya titip ke kalian ya” kata beliau
“Baik pak, siap” ucapku

Oh iya. Aku belum cerita tentang pekerjaanku. Jadi beliau adalah pak Amir. Beliau yang punya toko ini. Sebenarnya tidak pantas disebut toko, karena ini merupakan kedai makanan kecil. Tapi ya mungkin saja aku sudah sering menyebutnya toko, jadi kubilang toko saja. Saat pagi sampai sore, beliau tak sendiri. Beliau ditemani anaknya yang bernama Fatimah. Tapi aku jarang bertemu dengannya. Terkadang tiap aku datang ia sudah tidak ada.
“Jadi mas kerja disini?” tanya Aya
“Iya dek” jawabku
“Cuma berdua sama Damar?” tanya Aya
“Iya hehe”
“Karena Damar ga ada, hari ini aku yang bantuin yah” kata Aya
“Eh, jangan” ucapku
“Loh kenapa? Kan meringankan beban suami” katanya
“Ini kan kerjaan aku dek”
“Terus karena kerjaan mas, aku ga bisa gitu?” tanya Aya
“Aku ga ngomong gitu. Nanti kulit kamu luntur hehe” ucapku
“Iih lebay mas mah” kata Aya
“Hehe, udah gapapa, mas bisa sendiri kok”
“Pokonya aku bantu hari ini, dan mas ga boleh nolak. Kalau nolak, ga akan aku kasih jatah” kata Aya
“Iishh jatah apa nih? Iya iya deh, ngalah sama istri” ucapku
“Bagus. Gitu dong hehe” katanya sambil mencolek hidungku.

Selama bekerja hari ini, aku dibantu oleh Aya. Pelanggan hari ini cukup rame oleh mahasiswa-mahasiswa kampus sebelah yang memang suka datang dan nongkrong disini. Sepulang kami bekerja, aku mengantar Aya hingga gerbang asramanya.
“Makasih ya buat hari ini” ucapku
“Iya, mas langsung istirahat” katanya
“Iya, kamu juga” ucapku

Setelah mengantar Aya, aku kembali berjalan menuju asramaku. Seketika aku merasakan ada yang mengikutiku. Bahkan aku sempat berbalik beberapa kali dan tak ada siapa-siapa. Aku harus melewati jalan setapak untuk mencapai asrama laki-laki. Namun anehnya, tidak ada siapa-siapa disini. Tidak ada suara kehidupan sama sekali. Hanya suara dedaunan pohon yang saling bergesekkan karena tiupan angin. Aku menghentikan langkahku dan kembali menatap sekitar. Aku berdiri tepat dibawah tiang lampu jalan setapak ini. Saat akukembali menghadap kedepanku, aku terkejut hingga membuatku mundur dan terjatuh. Didepanku berdiri sesosok laki-laki berdiri membungkuk dengan mengenakan pakaian serba hitam. Matanya merah.tajam menatapku.
“Siapa kamu?” tanyaku sedikit gemetar
“.....”
“Siapa kamu????” tanyaku lagi

Tapi ia tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya terdiam dan kemudian hilang. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Telingaku juga rasanya seperti berdengung sehingga membuatku sakit/ Sampai pada pada akhirnya semua menjadi gelap.

Aku tersadar dan aku sedang berada disebuah kamar dengan aroma obat-obatan. Kulihat ada Ridho sedang duduk di kursi yang berada di ujung ruangan. Kepalaku masih terasa pusing. Entah kenapa, aku tak paham.
“Sadar juga lu” katanya
“Gue dimana?” tanyaku
“Lo di klinik kampus. Ada yang liat lo teriak-teriak, terus pingsan, terus hubungi gue” katanya
Teriak? Seingatku aku sedang berjalan pulang dari asrama putri menuju asramaku. Tapi setelah itu aku tak ingat apapun.
“Serius?” tanyaku
“Iya, katanya lo teriak-teriak gitu. Kaya orang lagi emosi. Gue juga ga ngerti kenapa. Kesurupan mungkin” kata Ridho
“Oh gitu” ucapku bingung
“Pikiran lo lagi kosonog?” tanya Ridho
“Engga juga sih. Seinget gue, abis anter ke asrama putri udah gitu pulang. Pas di jalan semua jadi gelap gitu. Dan gue liat ada sosok yang ga jelas, bermata merah” ucapku mencoba menceritakan
“Kayanya sih iya, lo kemasukan deh. Sekarang gimana perasaan lo?” tanya Ridho
“Udah agak mendingan. Yaudah, mending kita balik ke asrama” ujarku

Kamipun berjalan kembali menuju asrama. Selama perjalanan, aku terus memikirkan ucapan-ucapan Ridho tentang kejadianku tadi. Apakah kejadian tadi diketahui Aya? Saat aku cek handphoneku tak ada apa-apa. Mungkin ia tak tahu dan sudah tertidur. Keesokan paginya, aku baru saja selesai membersihkan diri, tiba-tiba ada SMS masuk dari Aya. Ia bilang aku harus temui dia di taman asrama. Aku langsung buru-buru mengganti pakaianku dan berangkat menuju taman asrama. Setibanya disana, kulihat Aya sedang duduk sambil memegang buku kecil dengan satu tangannya.
“Assalamualaikum dek” ucapku
“Waalaikumussalam” jawabnya sambil menolehku

Ia menutup bukunya, kemudian menatapku dengan dalam. Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan. Lalu ia memegang pipiku
“Kenapa de?” tanyaku
“Mas kenapa?” tanyanya
“Aku ga kenapa-kenapa. Ada apa de?” tanyaku lagi
“Aku denger dari orang-orang, semalem ada yang pingsan di sekitar sini. Dan ternyata itu mas” katanya
“Tapi mas gapapa ko. Nih liat” ucapku
“Iya, mas jangan biarin pikiran mas kosong. Mas juga harus jaga kesehatan. Banyak dzikir mas” kata Aya
“Iya, Aya” ucapku
“Mas sekarang kemana?” tanyanya
“Ga kemana-mana. Tugas udah selesai. Kamu ga ada UAS?” tanyaku
“Ada kok. Tapi nanti sore” kata Aya
“Jadi hari ini kegiatan apa?” tanyaku
“Belajar mas hehe” katanya
“Yaudah, kamu belajar yang rajin. Mas juga masih ada perlu sama dosen” ucapku
“Iya mas. Semangat. Yaudah, aku ke asrama dulu. Assalamualaikum” katanya sambil salim padaku.

Akupun kembali berjalan menuju asramaku. Setibanya di kamar, aku membuat pintu dan kulihat ada seseorang sedang menatap keluar jendela. Ia berbalik, dan ia adalah sosok yang sama seperti yang kulihat kemarin malam. Kemudian tiba-tiba ia terbang kearahku dengan sangat cepat dan membuatku sedikit kaget. Lalu, menghilang. Siapa dia sebenarnya? Dan apa yang dia inginkan?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Diantara 2 Sisi
14-10-2019 16:36
si nur kli tuh ya
0 0
0
Diantara 2 Sisi
16-10-2019 21:21

Part 18 - Kebersamaan

Aku kembali mengabaikan sosok tadi. Karena pagi ini aku tak ada kegiatan yang begitu penting, aku menghubungi atasanku dan meminta tukar shift denganku. Dan alhamdulillah beliau mengizinkan, karena beliau juga sedang ada urusan diluar. Jadi untuk pagi ini, aku akan jaga toko bersama Fatimah. Aku tak memberi tahu Aya kalau hari ini aku kerja shift pagi. Aku ingin memberinya kejutan dengan mengajaknya makan malam bersama di sekitaran kampus. Beberapa menit kemudian, aku sudah tiba di toko.
“Akhirnya datang juga” kata pak Amir
“Alhamdulillah dengan selamat hehe” ucapku
“Jadi bener bisa jaga pagi?” tanya beliau
“Bener pak. Soalnya lagi ga ada kegiatan di asrama” ucapku
“Yaudah saya percayakan sama kalian. Nak, ayah pergi dulu. Titip toko” katanya
“Iya ayah” jawab Fatimah

Akupun kebelakang menyimpan jaketku dan bersiap-siap. Pagi ini toko masih belum terlalu ramai pembeli. Mungkin karena masih jam kerja.
“Sepi ya” basa basiku
“Hehe, nanti tunggu jam makan siang, agak lumayan banyak
“Oh ya?”
“Iya hehe. Oh iya, ini pertama kita satu shift kan ya” katanya
“Iya juga hehe. Soalnya jarang liat antum” ucapku
“Hehe. Aku kuliah kalau sore, sampai malam” katanya
“Oh kelas karyawan?” tanyaku
“Iya hehe”
“Semester berapa?” tanyaku lagi
“Baru aja masuk. Sekarang semester dua” jawabnya
“Oalah, sama kalau gitu” ucapku
“Ada pelanggan, ayo mulai. Semangat” katanya

Aku mulaikan pekerjaanku di toko. Adzan dzuhur berkumandang, aku dan Fatimah bergantian untuk shalat agar ada yang menjaga kasir. Pada sore hari, aku tengah bersiap untuk ganti shift dengan Damar dan pak Amir. Saat ituaku sedang menyelesaikan laporan penjualan hari ini.
“Antum langsung pulang?” tanya Fatimah
“Iya, ana sudah ditunggu” jawabku
“Oalah, sama pacarnya ya hehehe” kata Fatimah
“Iyaaaa bisa dibilang gitu hehe. Oh iya, ana mau kasih sesuatu buat dia, tapi bingung apa hehe” ucapku
“Kasih kepastian hehe” katanya
“Alhamdulillah udah itu mah hehe” jawabku
“Eh? Serius? Antum udah..”
“Ana sudah nikah alhamdulillah” ucapku
“Oalah, nikah muda hehe. Selamat ya” katanya
“Hehe makasih”
“Oh iya, perempuan itu suka kejutan. Bawakan dia bunga juga dia seneng” katanya
“Iyakah? Ana terlalu polos ya, sampai hal begini aja ditanyakan hehe” ucapku
“Engga juga sih, namanya juga pengen kasih sesuatu yang sempurna hehe” katanya
“Emm iya deh, syukron ya” ucapku
“Afwan. Kalau gitu ana juga pamit ya, assalamualaikum” jawabnya
“Waalaikumussalam” jawabku

Aku menghubungi Aya dan mengajaknya untuk bertemu di sebuah warung makan kecil didekat kampus. Aku juga mamp;ir ke salah satu toko bunga untuk membeli setangkai bunga mawar. Beberapa saat kemudian, Aya meneleponku
“Assalamualaikum mas. Mas dimana, aku udah sampai” katanya
“Waalaikumussalam, dek, mas bentar lagi sampai” jawabku
“Oh iya mas, hati-hati ya” katanya
“Iya, ini mas lagi jalan kesitu kok” ucapku

Tibalah aku di tempat yang sudah direncanakan. Kulihat ada seorang wanita mengenakan gamis berwarna hitam sedang duduk di ujung sana sambil lagi-lagi membaca sebuah buku kecil ditangannya. Tapi entah kenapa aku begitu damai melihatnya.
“Assalamualaikum dek” ucapku
“Waalaikumussalam. Eh mas udah sampai” jawabnya sambil salim padaku
“Mas bawa ini buat kamu” ucapku sambil memberikan bunga itu
“Maaas” ucapnya malu-malu

Asli ga tuh, ngasih bunga di warung nasi. Tapi aku bodo amat dengan keadaan sekitar. Yang aku inginkan hanya melihat Aya tersenyum bahagia
“Adek kok belum ambil makanannya?” tanyaku
“Aku nunggu mas hehe” katanya
“Yaudah, aku ambil dulu ya. Adek mau aku ambilin apa?” tanyaku
“Aku nanti ambil sendiri aja mas” jawabnya
“Iya deh dek. Mas ambil dulu ya”

Tak lama aku kembali membawa sepiring nasi yang aku ambil. Tapi Aya tetap diam saja sambil melihat kearahku.
“Kamu ga ambil dek?” tanyaku
“Emm, boleh ga makan berdua hehe” tanyanya lugu
“Boleh dek” jawabku

Kami makan satu piring berdua disana. Awalnya orang-orang pada ngeliat kami dengan aneh, tapi lama-lama mereka mulai masa bodo.
“Kamu ga malu dek?” tanyaku
“Malu kenapa mas?”
“Ya, kaya aku ga bisa beliin adek makan, terus mas cuma bisa ajak adek makan ditempat sesederhana ini” ucapku
“Maaas. Aku ga malu kok. Dan emang kenapa kalau makan di tempat seperti ini? Kita syukuri aja masih bisa makan. Lagi pula, Rasul dengan istrinya, Siti Aisyah juga kan pernah makan sepiring berdua dan minum segelas berdua” katanya
“Ya Allah dek, luluh mas dengernya hehe” ucapku
“Hehe, mas mah, jadi malu aku hhe” katanya tertunduk
“Yaudah, makannya habisin, abis itu, mas anter adek pulang ke asrama” ujarku
“Iya mas” jawabnya

Setelah selesai makan, aku berjalan menuju kampus, lebih tepatnya asrama putri. Tapi saat masih dalam perjalanan, kami berpapasan dengan Mizi.
“Mizi?” sapaku
“Oh, ternyata gini ya. Nolak gue, eh pacaran sama dia” katanya
“Jaga bicara lo Zi”
“Lah, emang ini kenyataannya kan?” katanya
“Iya benar, kami memang pacaran, tapi kami sudah menikah” ucap Aya tiba-tiba
“Ja..jadi.. kalian??” ucap Mizi terbata-bata
“Ya, Mizi. Kami sudah menikah. Jadi gue mohon, lo jangan pernah gangguin Aya lagi

Ia nampak terdiam sejenak melihat kami. Ia menatapku dengan tajam. Aku membalas tatapannya, dan aku takkan membiarkannya mengganggu Aya lagi. Ayapun mencoba menenangkanku agar tidak terjadi hal bodoh seperti perkelahian. Tapi kemudian ia berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi
“Udah tenang” ucapku pada Aya
“Maas” panggilnya
“Iya kenapa?” jawabku
“Jangan emosi ya” katanya
“InsyaAllah engga. Yuk jalan lagi” ujarku
“Iya mas” katanya sambil menggandeng tanganku

Tapi saat itu Aya memperlambat jalannya. Angin berhembus ke arah kami. Kami menatap langit yang sudah berwarna oranye itu.
“Kita baru bisa ketemu sebentar ya” katanya
“Hanya sementara dek. Lagipula satu semester lagi kan” ucapku
“Iya hehe, aku kangen rumah mas” katanya
“Sama hhe”
“Mas semangat kuliahnya, biar jadi orang sukses” katanya
“Aamiin. Kamu juga semangat, biar jadi madrasah yang baik buat anak-anak” ucapku
“Aamiin mas” katanya
“Mas ... emm.. mas.. sayang kamu dek” ucapku terbata-bata
“Aku juga sayang sama mas” katanya sambil memelukku

Untuk pertama kalinya wanita selain ibuku memelukku. Jantungku berdebar kencang. Bahkan Ayapun tertawa melihat responku
“Mas kok degdegan sih hehe” katanya
“Iya mas ga pernah dipeluk perempuan selain ibu” ucapku
“Wah, masa hehe” katanya
“Iya hehe”
“Aku bahagia Allah pilihkan mas sebagai suamiku” katanya
“Aku lebih bahagia” ucapku
“Yaudah yuk. Kita jalan ke asrama aja banyak drama hehe” katanya
“Biarin hehe”

Beberapa hari berlalu. Hari ini aku baru saja pulang dari tempat kerjaku. Dan hari inipun aku gajian. Gaji pertama saat aku memiliki istri. Aku tak bisa sembarangan menghabiskan gajiku ini. Aku sudah memiliki tanggungan sekarang. Aku harus menafkahi istriku nanti. Dan aku juga berencana untuk bisnis sendiri. Dan selama aku tinggal di asrama, aku menabung gajiku. Tentunya dengan sepengetahuan Aya.

Mari kita lewati masa-masa di asrama, karena sudah tak banyak yang bisa aku ceritakan selain keseharian dikampus. Aku sedang menunggu Aya di taman asrama. Hari ini aku akan mengajaknya untuk tinggal dirumahku.
“Lo ngapain disini?” tanya Ridho tiba-tiba datang
“Gue nunggu istri gue” ucapku
“Oh. Eh tapi gue belum pernah liat istri lo yang mana” katanya
“Lo mau tau? Tunggu aja” ucapku

Beberapa saat kemudian, Aya menghampiriku sambil membawa tas besar dan lalu salim padaku.
“Maaf ya mas, nunggu lama” katanya
“Gapapa kok. Oh iya, kenalin ini Ridho, temen sekamarku” ucapku
“Aya” katanya sambil sedikit menunduk.
“Gue Ridho. Eh, bener ini istri lo?” tanyanya lagi
“Ya bener lah” ucapku
“Hebat juga, ada yang mau sama lo haha. Bercanda. Yaudah kalau gitu gue balik juga. Harus beres-beres di kosan” katanya

Aku membawa tas Aya sebisaku. Awalnya Aya menolak, tapi aku meyakinkannya bahwa aku bisa. Kami pulang menggunakan taksi, karena barang bawaan kami sedikit banyak. Pasti akan susah kalau pake angkot. Setengah jam kemudian, kami tiba dirumah. Aku juga mengabari mertuaku bahwa kami sudah tiba dirumah dengan selamat.
“Assalamualaikum” ucap kami ketika masuk kerumah
“Akhirnya kita pulang mas” kata Aya
“Alhamdulillah dek” jawabku

Kami langsung menuju kamar untuk membereskan barang-barang kami.
“Oh iya dek, mas mau kasih ini” ucapku sambil mengeluarkan amplop
“Apa itu mas?” tanyanya
“Ini tabungan dari gaji mas selama diasrama. Adek yang simpan ya” ucapku
“Emm, gapapa gitu mas?” tanyanya
“Gapapa, lagipula mas yakin kamu pasti bisa lebih amanah megang uang ini” ucapku
“Emm, insyaAllah. Adek terima ya mas” katanya

profile-picture
profile-picture
profile-picture
midim7407 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Diantara 2 Sisi
16-10-2019 21:32
jadi pengen cepet" nikah emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Diantara 2 Sisi
Lapor Hansip
16-10-2019 23:15
Balasan post nasihiber
Adem kalo keluarga kyk gini nih..
0 0
0
Diantara 2 Sisi
Lapor Hansip
18-10-2019 09:03
Balasan post bishamon19
Ko udah cukup umur dan punya penghasilan sebaiknya emang segera nikah, gan. emoticon-Salam Kenal
0 0
0
Diantara 2 Sisi
18-10-2019 12:03
Quote:Original Posted By jiyanq
Ko udah cukup umur dan punya penghasilan sebaiknya emang segera nikah, gan. emoticon-Salam Kenal


Ah ane masih 17 tahun gan, masih kecil
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Halaman 5 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
second-love
Stories from the Heart
rekan-kerja
Stories from the Heart
true-story-mengejar-marika
Stories from the Heart
stories-re-imagined
Stories from the Heart
jaran-sungsang
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.