News
Batal
KATEGORI
link has been copied
72
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d882c6c349d0f50571ad9f8/kecewa-ditunda-prof-muladi-apa-kita-lebih-suka-kuhp-penjajah
Prof Muladi mengaku sangat kecewa andai pengesahan revisi KUHP ditunda seperti permintaan presiden Jokowi. Ia menilai mereka yang mempermasalahkan pasal-pasal tertentu dalam draf revisi tak membaca utuh versi mutakhirnya.
Lapor Hansip
23-09-2019 09:22

Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?

Past Hot Thread


Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?

Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?

Blak blakan Ketua Tim Perumus Revisi KUHP


Sebagai orang yang terlibat selama 35 tahun dalam pengkajian revisi KUHP Prof Muladi mengaku sangat kecewa andai pengesahan revisi KUHP benar-benar ditunda seperti permintaan presiden Jokowi. Ketua Tim Perumus Revisi KUHP itu menilai mereka yang mempermasalahkan pasal-pasal tertentu dalam draf revisi tak membaca utuh versi mutakhirnya.

Muladi mengklaim dirinya saat ini boleh jadi satu-satunya pemegang warisan dari para profesor yang terlibat dalam pengkajian revisi sejak awal, seperti Prof Soedarto, Prof Roeslan Saleh, Prof Moeljanto, Prof Oemar Seno Adjie. Tokoh-tokoh masa lalu itu yang meminta agar dia menyelesaikan revisi KUHP.

"Mereka semua sudah meninggal. Jadi memang saya all out mengerjakan ini. Seminggu tiga kali selama empat tahun terakhir ini kami berdebat dengan DPR untuk membahas revisi ini. Tapi akhirnya kok begini," kata Muladi kepada Tim Blak-blakan detik.com.

Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?

Ia berharap penundaan ini tidak berakhir dengan kegagalan. Sebab revisi ini lebih merupakan rekodifikasi yang sangat besar atas produk kolonial. "Atau kita memang lebih suka menggunakan KUHP penjajah yang sudah seratusan tahun itu?," ujar Muladi masygul.

Bila itu yang terjadi, ia melanjutkan, para dosen seperti dirinya berarti akan terus mengajarkan produk hukum penjajah. Begitu juga dengan para penegak hukum menjalankan hukum penjajah yang korbannya sudah jutaan manusia.

Semula Komisi III DPR dan Pemerintah sepakat untuk mengesahkan revisi KUHP pada 24 September 2019. Tapi pada Jum'at (20/9), Presiden Jokowi meminta agar DPR menunda pengesahan revisi KUHP tersebut. Dia mengaku mendengarkan masukan berbagai kalangan yang berkeberatan dengan sejumlah substansi RKUHP. Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly diminta untuk menyampaikan sikap pemerintah kepada DPR.

Muladi yang juga Guru Besar Ilmu Hukum Pidana Universitas Diponegoro itu menilai kritik yang muncul dari sejumlah elemen masyarakat dan pers bersifat sporadis ad hoc, karena tidak membaca keseluruhan materi revisi. Hal itu tak lepas dari kurangnya komunikasi dari Panja DPR dan Kementerian Hukum dan HAM.

Andai pembahasan kembali dilanjutkan, dia berharap pihak-pihak yang mengkiritik, baik kalangan LSM maupun pers diundang untuk melihat bagaimana proses perdebatan berlangsung.

Muladi menepis anggapan pasal-pasal dalam hasil revisi lebih kolonial dari kolonial. Soal penghinaan kepada Presiden, misalnya, dalam revisi masuk delik aduan. "Jadi enggak ada itu menghidupkan zombie yang sudah dimatikan MK. Sudah diubah menjadi delik aduan kok," tegas Menteri Kehakiman di era Soeharto dan Menteri Sekretaris Negara di masa BJ Habibie itu.

Bila kasus penghinaan melibatkan pers, penegak hukum pun tidak serta merta dapat mengadili si media atau wartawan. "Harus ada rekomendasi dari Dewan Pers. Jadi pers gak usah takut," ujar lelaki kelahiran Surakarta, 26 Mei 1943 itu.

Begitu pun soal anggapan ada pasal-pasal yang mengkriminalisasi perempuan, bila dibaca dengan utuh justru dimaksudkan untuk lebih melindungi perempuan. Bukan cuma tubuhnya tapi harkat dan martabatnya dilindungi.

Dalam KUHP hasil revisi, juga diatur soal kejahatan pidana yang melibatkan kroporasi. Juga memperhatikan kondisi penjara di seluruh tanah air yang sudah penuh sesak. Karena itu untuk hukuman di bawah lima tahun, kata Muladi, hakim dapat menawarkan kepada terpidana apakah akan menjalani penjara, kerja sosial, atau membayar denda.
sumber

☆☆☆☆☆☆☆

Sekarang ini, seorang Nabi dan Rasul saja kalah oleh suara netizen, tentunya netizen koplak kalau tidak bisa dibilang dongo.

Ibarat buku, bagi mereka, cukup dengan melihat covernya, maka sebuah buku dianggap telah dia lahap semua isinya, tanpa perlu dibaca lagi. Jadi jangan heran kalau sebuah buku dicap sebagai buku porno, buku komunis, buku liberal, buku syiah, atau semua yang dianggap mengganggu.

Begitu pula dengan netizen-netizen ini. Tak perlu belajar tinggi-tinggi, tak perlu gelar, tak perlu mempelajari jurusan ilmu, begitu dia terhubung ke internet, maka jadi auto cerdas! Bahkan seorang Profesorpun akan bertekuk lutut dihadapannya. Bukan karena kecerdasannya, tapi karena masifnya dia berbicara melalui tulisan. Bahasa lainnya, siapa yang paling gede bacotnya, dia yang menang.

Bagi mereka, dengan mendengar dari orang lain secara sepihak, itu adalah sebuah kebenaran. Jika hal ini ditambah dengan kebencian, maka ini sudah jadi senjata mematikan.Tidak percaya? Tak usah jauh-jauh, Kaskus salah satu contohnya. Disini, asal bisa menyerang dengan masif, tak gentar untuk membalas posting, oot sekalipun, maka orang akan menjadi malas untuk membalas. Tetapi bagi yang menyerang, itu adalah kemenangan. Tak membalas posting bagi dia adalah sebuah kekalahan! Jadi untuk dianggap sebagai pemenang, maka dia akan rela online 24jam dan terus membalas. Gip contohnya.

Salahnya pemerintah, RKUHP tidak disosialisasikan secara bertahap. Ditambah lagi, nama Dewan sudah dianggap sebagai lembaga yang tak berfaedah. Dibumbui lagi oleh mereka yang selama ini mendapat panggung, klop!

Nampaknya memang kita ditakdirkan menjadi bangsa yang munafik, bahkan teramat munafik.
Teriak asing aseng asong, tapi apa-apa yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari adalah produk asing aseng asong. Teriak anti asing, tapi hukum pidana buatan asing, penjajah lagi. Giliran diperbaiki, dilokalkan dengan budaya kita, ditolak. Dibaca? Belum. Dipahami? Belum juga.

Ya sudah. Nikmati saja.
Diubah oleh i.am.legend.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
knoopy dan 13 lainnya memberi reputasi
12
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 4 dari 4
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
23-09-2019 22:21
Quote:Original Posted By giacartone
O iya ente bener juga ya prof
Selepas merdeka kita jadi bangsa yg kental akan budaya gotong royong ya
Saking gotong royongnya sampe selangkangan aja jadi urusan negara emoticon-Leh Uga


Semoga selangkangan nggak digotong royong juga gan emoticon-Leh Uga
0 0
0
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
Lapor Hansip
23-09-2019 23:43
Balasan post elvisharcher
Quote:Original Posted By elvisharcher
Lho di negara asalnya Belanda, sekarang mereka kekurangan napi, 20 penjara sudah ditutup karena kosong tidak ada napi.

Bukti keberhasilan produk hukumnya.

Jangan sampai karena sentimen "penjajah", malah keliru langkah.
Ikuti saja yang sudah TERBUKTI berhasil. Jangan yang masih awang-awang, apalagi fantasi.

Justru saya lebih setuju kalau mau kopi habis2an dari negara itu.

Setuju bingits, gan.

Gak ada yang baru di dunia ini. Semuanya juga hasil copas dari yang ada sebelumnya.
Masalah terbesarnya adalah soal kepentingan.
Diubah oleh Storm Shadow
profile-picture
aloha.duarr memberi reputasi
1 0
1
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
Lapor Hansip
24-09-2019 00:25
Balasan post Storm Shadow
Quote:Original Posted By Storm Shadow

Setuju bingits, gan.

Gak ada yang baru di dunia ini. Semuanya juga hasil copas dari yang ada sebelumnya.
Masalah terbesarnya adalah soal kepentingan.


Betul gan.. emoticon-No Hope emoticon-No Hope
heran bener deh ama generasi bau tanah emoticon-Nohope emoticon-Ngacir Tubrukan
profile-picture
aloha.duarr memberi reputasi
1 0
1
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
24-09-2019 03:14
Wwkwkwkk RuuKUHP isinya kemunduran kok.. Dikiranya bisa ngibulin semua rakyat


Kadal gurun anjenk!!!
DPRKontoI!!!
profile-picture
dndrnasya memberi reputasi
1 0
1
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
Lapor Hansip
24-09-2019 03:18
Balasan post Storm Shadow
Quote:Original Posted By Storm Shadow

Setuju bingits, gan.

Gak ada yang baru di dunia ini. Semuanya juga hasil copas dari yang ada sebelumnya.
Masalah terbesarnya adalah soal kepentingan.


Dikiranya karna dia profesor.. Segala yg keluar dari congornye surga, dan sesalah2nya, salah semua + pake konotasi negatif "penjajah"...

Ini profesor bagshat, ngerti banget pasaranya golongan masyarakat norak 1 itu.. emoticon-Ngakak
0 0
0
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
24-09-2019 04:57
beberapa poin ane setuju, beberapa ngga emoticon-Cool
0 0
0
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
24-09-2019 05:08
Agan TS sewooot !!!

Sudahlah gan....emang sudah budaya indonesia..marah dulu ..! Mikir ngaku bener 10th kemudian..

Gak jauh2..istri ane juga gitu..ha..ha..ha..
0 0
0
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
24-09-2019 07:45
segala urusan ngeue individu, kumpul kebo, pengguguran korban perkosaan lah diurusin.

blm pasal ternak yg keliaran di tanah orang bs kena denda.

ya mending kuhp penjajah. atau revisi aja kuhp penjajah dng nambahin hukuman dan dendanya. ga perlu bikin ruu kuhp baru yg isinya sampah.
profile-picture
dndrnasya memberi reputasi
1 0
1
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
24-09-2019 07:51
sebernye mh silahkan aj mau KUHP baru,, tpi kalo KUHP baru nya lebih baik, tpi kn yg jdi masalaha banyak yg dianggal bermasalah pasal2 nya,, ya jdinya DPR jgn bikin undang2 yg lebih buruk dari undang dari kolinial, baru rakyat bakal angkat jempol,,
profile-picture
dndrnasya memberi reputasi
1 0
1
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
24-09-2019 08:06
apa hukum islam yg sudah berumur 1 1/2 abad bukan dibuat oleh penjajah ?
0 0
0
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
24-09-2019 08:57
KUHPnya lebih banyak yang miss. Gimana orang gak ngambek.

Selama KUHP dalam penulisannya masih karet dan bisa serba ditafsirkan ya gak bakal berguna. Bisa bisa malah seperti pasal penistaan saat ini. Makin sembarang digunakan. Pasal aborsi juga. Bukan melindungi korban tapi malah menginjak martabat sang korban.

Makannya mau buat KUHP buat yang bagus. Bukan yang SAMPAH.
profile-picture
dndrnasya memberi reputasi
1 0
1
Kecewa Ditunda, Prof Muladi: Apa Kita Lebih Suka KUHP Penjajah?
25-09-2019 08:52
gak semua peninggalan penjajah itu jelek.. klopun mau di rubah juga kudu nyesuain update jaman sekarang biar gak terlalu banyak kontra, meskipun sebenernya maksudnya baik.. jadi coba melihat dari banyak sisi aja biar pandangan ga tersempitkan hehe..
0 0
0
Halaman 4 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia