Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
83
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d661201349d0f37b11b1ddb/nyawa-pertama-dan-terakhir-penutup-acara-api-unggun
Aku ingin memberitahu mereka atas apa yang terjadi padaku, tetapi tampaknya semua urung. Sepasang mata itu telah hilang menyisakan lubang hitam dan dalam ... gigi itu meringis, entah tertawa atau menahan sakit, aku tak tahu.
Lapor Hansip
28-08-2019 12:32

Nyawa Pertama dan Terakhir Penutup Acara Api Unggun

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Nyawa Pertama dan Terakhir Penutup Acara Api Unggun


Dini hari, sayup-sayup terdengar gurauan dan nyanyian di tengah lapangan. Duduk bersila mengelilingi api unggun, wajah-wajah itu nampak cerah, dengan mulut yang terus terbuka menyanyikan lagu-lagu pramuka. Upacara pasti telah usai sejak sore, akh aku terlambat lagi.

Aku melangkah perlahan dengan takut-takut, berharap mereka memaafkanku lagi kali ini. Sepasang mata telah menemukan keberadaanku, menatap aneh. Saat berikutnya semua kepala menoleh, sepasang kekasih yang semula saling mengobrol mesra kini menghentikan aktifitasnya, wajah kasmaran itu berubah pasi begitu menangkap pandanganku. Rania, sahabatku, duduk paling ujung dan menampakkan ekspresi kesal yang tak bisa dijelaskan.

"Kau selalu datang terlambat, Yunna!"

Tiba-tiba Ubus yang duduk paling dekat dengan posisiku menegur. Ekspresinya dingin dan cuek seperti biasa.

"Maaf ...."

Belum sempat beralibi, Ubus mengisyaratkanku duduk di sebelahnya yang kebetulan kosong. Cowok berambut keriting itu menyeretku dengan cepat, diikuti tatapan tak suka dari beberapa orang.

Saat berikutnya semua kembali seperti semula. Mereka kembali bernyanyi, bercengkrama, bahkan bertepuk tangan, seolah moment kehadiranku barusan adalah angin lalu. Tak ada yang menyapa, pun mengajaku berbicara, seolah aku tak ada di sana. Hanya saja aku bisa melihat di seberang lingkaran, di sela-sela kilatan api dan asap, sepasang mata terus menatapku. Rania, apa yang sedang kaupikirkan?


Nyawa Pertama dan Terakhir Penutup Acara Api Unggun


Ubus meraih gitarnya dan mendendangkan sebuah lagu. Suara itu terdengar merdu dan entah kenapa membuatku tersipu. Semua orang kini bertepuk tangan untuknya. Ingin sekali rasanya ikut bertepuk tangan, tetapi entah kenapa aku tak bisa. Mendadak aku merasa ganjil. Butuh waktu beberapa detik untuk tersadar, begitu aku melihat apa yang terjadi dengan tanganku. Aku menjerit histeris menyadari bahwa lengan kananku telah putus, darah segar menetes-netes dari sana.

Aku ingin memberitahu mereka atas apa yang terjadi padaku, tetapi tampaknya semua urung. Ubus menoleh padaku dengan wajah cueknya ... hanya saja sepasang mata itu telah hilang menyisakan lubang hitam dan dalam ... gigi itu meringis, entah tertawa atau menahan sakit, aku tak tahu.

Syok, aku memejamkan mata ketakutan. Berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang kulihat hanya mimpi. Ayolah, aku mohon siapapun tolong bangunkan aku dari mimpi gila ini!

Namun suara nyanyian pramuka itu tak kunjung menghilang. Hangat api unggun menyapu wajah, membuatku terpaksa membuka mata dan apa yang kulihat di depanku kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Suasana ceria itu menjadi suram dan ganjil. Kuperhatikan satu persatu wajah mereka, sepasang kekasih itu sepertinya berwajah datar, tak ada mata, hidung ataupun mulut, cowok kacamata di sebelahnya ... akh, aku baru saja tersadar bahwa kepalanya nyaris putus. Kini telah terlihat olehku bahwa mereka semua berkulit gelap dengan aroma daging bakar yang menyengat. Dan yang lebih mengerikan dari semua adalah Rania. Yeah, sahabatku itu ... ada yang ganjil dalam dirinya. Jika awalnya dia terus menatapku, kini tampak dia tengah asyik dengan kegiatan barunya ; menggiti jari jemari dari sebuah tangan yang terputus! Mendadak aku merasakan sakit yang luar biasa, memandangi tanganku sendiri.

Aku menjerit, meloloskan segala suara histeris dari dalam tenggorokan. Tolong, jika ini mimpi ... bangunkan aku!

__________


Sabtu pagi, setahun yang lalu. Suasana sekolah begitu sepi, menyisakan Pak Damar tukang kebun yang sibuk menyapu di halaman parkir.

"Permisi, Pak." Sapaku ramah. Wajah itu mendongak heran. "Apakah bus rombongan kemah sudah berangkat? Kok sepi?"


"Loh, loh, Neng Yunna kok baru datang? Bus sudah berangkat setengah jam yang lalu."

Aku menelan kekecewaan. Ini kegiatan Persami pertama di SMU, dan aku terlambat datang hanya karena motor tadi mogok di jalan. Berulang ketelepon Rania tapi tak diangkat. Ah, pasti dia kecewa karena aku tak ikut kemah kali ini.

Dengan malas aku berjalan keluar halaman, menghampiri motorku yang entah kenapa ada yang aneh, tapi tak tahu apa. Belum sempat aku memikirkannya, mendadak Pak Damar berteriak memanggil. Aku berbalik dan melihat beliau tergopoh menghampiri.

"Neng, kabar buruk!" Katanya terburu. "Barusan saya mendapat telepon dan mendengar kabar bahwa bus sekolah kita mengalami kecelakaan. Terbakar katanya!"


__________


Deg! Ingatan itu menghampiriku sekarang. Kecelakaan. Bus Terbakar. Dan dipastikan tak ada yang selamat di antara mereka. Api unggun yang ada di depanku kini serasa menjilat wajahku.

Mereka ... mereka sudah meninggal! Lalu apa yang kulakukan di sini. Kenapa wajah-wajah itu tak ramah dan terkesan membenciku? Dan lenganku ... akh, apa yang terjadi dengan lenganku? Bukankah aku tak ikut dalam kecelakaan itu.

Kau selalu datang terlambat, Yunna. Mendadak kata-kata Ubus terngiang kembali di telinga. Terlambat. Ya, yang bisa kupahami adalah : aku datang, tapi terlambat. Aku datang? Dengan lengan terputus?

Sesaat kemudian ingatan yang lain muncul. Aku seperti melihat adegan film action terputar di depan mata, di mana tubuhku terpelanting dan menghantam aspal, bau anyir darah, dan sebuah truk yang menggilas lengan kananku. Sepuluh meter dari tempatku terkapar, sebuah motor butut ringsek nyaris tak terbentuk lagi. Ah, rupanya itu keanehan yang kulihat saat di sekolah!

Kini aku menyadari akulah yang pertama tewas sebelum mereka. Perjalanan menuju sekolah pagi itu adalah hari terakhirku.
Aku adalah nyawa pertama sekaligus menjadi yang terakhir menyadari kedatanganku sendiri di acara Persami kali ini.

Selesai

Terima 2C(Cendol dan Cinta)emoticon-Wowcantik

Cerita hanyalah fiksi
Penulis : Tikus Kecil, Member of BBB
ilustrasi

Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
profile-picture
someshitness dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 5 dari 5
Nyawa Pertama dan Terakhir Penutup Acara Api Unggun
07-09-2019 06:29
Quote:Original Posted By d.arms.dealer
izin pantau ya ganz...nitip sendal ah

Silakan, gan emoticon-Belum Tidur

Quote:Original Posted By delia.adel
Oh begitu ya kak...pantas saja orang selalu bilang aku hode emoticon-Goyangemoticon-Goyangemoticon-Goyang


Waduh emoticon-Wkwkwk
0 0
0
Nyawa Pertama dan Terakhir Penutup Acara Api Unggun
21-09-2019 18:59
iya ngena bnget
profile-picture
YenieSue0101 memberi reputasi
1 0
1
Nyawa Pertama dan Terakhir Penutup Acara Api Unggun
20-10-2021 20:04
paling kalo ane buat ga kaya gitu si bre emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Halaman 5 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sad-story-ombak-tak-bersuara
Stories from the Heart
sebelum-reda
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Personal
Heart to Heart
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia