alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d72090f28c99132023d8d63/teror-hantu-cekik-horor-misteri-urban-legend-kisah-nyata
Lapor Hansip
06-09-2019 14:21
Teror Hantu Cekik [Horor Misteri Urban Legend Kisah Nyata]
Past Hot Thread
"Tumben sepi banget. Biasanya banyak orang nongkrong di kampung ini" gumam Pak Ahmad, penjual mie tek-tek keliling yang biasa berjualan di kampung ini setiap malam. Merasa sedikit lelah karena dia berjualan sambil memikul dagangannya, dia pun memutuskan beristirahat sejenak di pos ronda. Baru beberapa menit beristirahat, dia pun merasakan serangan kantuk yang luar biasa. Padahal dia sudah terbiasa berjualan setiap malam hingga dini hari, tanpa merasa ngantuk sedikitpun. Tapi malam ini sungguh berbeda, mungkin karena suasana kampung ini yang sangat sepi tidak seperti biasanya sehingga membuatnya kurang bersemangat untuk berjualan.


Selamat malam para menghuni SFTH baik dari dunia nyata maupun dari dunia gaib. Perkenalkan nama saya Giri (samaran). Sebetulnya saya member lama di Kaskus dan cukup lama juga mengikuti forum SFTH ini, tetapi kali ini saya memakai ID baru, identitas baru supaya tidak banyak kekepoan diantara kita.

Kali ini saya akan mencoba bercerita sekelumit kisah misteri yang pernah terjadi di kampung saya sekitar 20 tahun yang lalu. Sejujurnya saya agak bingung kisah ini mau dikatakan kisah nyata atau tidak. Yang jelas kejadian ini benar-benar pernah terjadi, tetapi mengenai kebenaran atau fakta yang sesungguhnya saya sendiri masih bingung antara percaya atau tidak percaya.

Cerita kali ini saya akan mencoba mengangkat sebuah "urban legend" tentang teror hantu cekik yang dulu pernah terjadi di kampung saya hampir setiap tahun di bulan suro (muharram). Banyak spekulasi mengenai penyebab teror ini, ada yang bilang disebabkan karena ada orang yang sedang mendalami ilmu hitam, ada juga yang mengatakan disebabkan karena berhubungan dengan nyai roro kidul yang sedang punya hajat di bulan suro dan sedang mencari budak/pengikut dan rumornya saat itu di kampung saya ada salah seorang yang menyembah nyai roro kidul tersebut sehingga mencari budak dari jiwa yang dikorbankan dari kampung saya, ada pula yang mengatakan disebabkan karena serangan santet dan lain-lain.

Hingga saat ini, misteri mengenai penyebab sesungguhnya teror tersebut masih belum terpecahkan meskipun sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Kejadian terakhir adalah kejadian yang nantinya akan saya ceritakan, di tahun berikutnya sampai sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Saya akan coba mengulik cerita ini berdasarkan pengalaman saya sendiri dan hasil cerita dari orang-orang di kampung saya.

Saya akan coba bercerita dengan alur pelan supaya mudah dipahami. Untuk update, saya tidak bisa menjanjikan setiap hari karena saya juga sambil mencari narasumber dan kebetulan kejadian ini sudah cukup lama jadi butuh waktu bagi narasumber saya untuk mengingat kejadian ini. Disamping itu juga banyak kesibukan lain di dunia nyata yang harus saya kerjakan.


Kampung ini terletak di pinggiran kota kecil di provinsi Jawa Tengah. Suasananya masih asri dikelilingi persawahan. Masyarakat kampung ini mayoritas berprofesi sebagai petani. Penduduk kampung ini belum terlalu padat. Masih banyak lahan-lahan kosong tidak terurus yang banyak ditumbuhi tanaman bambu dan pisang, juga terdapat empang-empang di lahan kosong tersebut.

Selain asri, sekilas nuansanya juga sedikit horor karena masih banyaknya lahan kosong tanpa penerangan yang memadahi tersebut. Banyak cerita mistis mengenai lahan-lahan kosong itu. Mulai dari genderuwo, pocong, kuntilanak dan lain sebagainya. Banyak cerita dari penduduk kampung ini mengenai pengalaman horor mereka bertemu dengan berbagai jenis penampakan tersebut. Tapi saya tidak akan menceritakan itu karena hal itu bukan hal unik lagi, tapi sudah menjadi kebiasaan.

Satu hal yang sampai sekarang masih menjadi misteri, dulu di kampung ini pernah terjadi teror hantu cekik hampir setiap tahun, dan kejadiannya selalu di bulan suro. Dan kabarnya teror ini baru akan berhenti jika sudah ada orang meninggal dunia yang dipercaya merupakan korban dari teror tersebut atau bulan suro sudah habis meskipun belum ada korban. Jadi perlu diketahui, setiap terjadi teror tidak selalu jatuh korban. Apa dan bagaimana teror ini terjadi dan bagaimana masyarakat mengatasinya? Saya akan memulai ceritanya di part berikutnya.


INDEX

Diubah oleh girisakya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 2
17-09-2019 21:04
wong demak mesti ikiemoticon-Hammer2
Diubah oleh abdirevolusi
0
17-09-2019 22:11
sip
ninggalin jejkak
0
19-09-2019 00:57
ijin gelar tiker
0
19-09-2019 02:22
lanjut gan....dtunggu
0
19-09-2019 21:22
ditunggu lanjutannya gan
0
23-09-2019 16:54
we need tanjirou here 😂
0
23-09-2019 21:24
mohon bersabar.. saya udah nulis 1 part udah dapat sekitar 80%.. malam ini mau ketemu teman kampung dulu sekedar membangkitkan kembali ingatan tentang cerita ini.. insyaAllah besok meluncur lanjutannya
0
25-09-2019 11:55
5. Tetap Waspada
"Kita serahkan benda ini ke Pak Sholihin saja. Biar beliau yang memeriksanya" ucap warga yang lainnya, diikuti anggukan dari yang lainnya sebagai tanda setuju.

"Saya akan memeriksanya. Kalian kembali saja ke tugas kalian masing-masing" ucap Pak Sholihin setelah menerima benda mencurigakan tersebut dan kami pun membubarkan diri.

Malam pun berlalu. Pagi telah menjelang, para warga kembali ke aktifitas sehari-hari mereka. Ketika siang hari, tidak ada hal aneh yang terjadi. Semua aktifitas dan suasana masih normal seperti biasanya. Hanya saja, para warga masih selalu waspada dan mengawasi jika ada orang asing yang masuk ke kampung ini. Mereka curiga teror ini dilakukan oleh orang luar, karena dari seluruh warga, tidak ada satupun yang mencurigakan. Tak terkecuali Mas Wahid yang masih sering kumat ketika malam hari. Warga percaya Mas Wahid bukanlah pelaku teror ini, karena setiap malam dia selalu dijaga oleh keluarganya dan tidak pernah meninggalkan rumahnya. Meskipun apa yang menimpanya masih dicurigai ada hubungannya dengan teror cekik ini, tapi dalam hal ini dianggap Mas Wahid sebagai korban, bukan pelaku.

Siang ini aku sedang berkumpul dengan beberapa pemuda kampung yang statusnya masih pengangguran seperti diriku. Sebagian pemuda kampung ini bekerja di perantauan, sebagian lagi bekerja serabutan yang tidak menentu jam kerja dan penghasilannya. Jadi ketika mereka sedang tidak ada pekerjaan ya paling hanya nongkrong-nongkrong saja di pos ronda atau dimanapun untuk sekedar mengisi waktu kosong.

"Udah ada berita belum tentang benda yang tadi malam?" Ucapku.

"Belum kayaknya. Pak Sholihin belum ngasih tau apa-apa" ucah Hakim.

"Menurut lo, benda yang lo temuin tadi malam isinya apaan, Kim?" Tanyaku pada Hakim

"Entah, Ri. Tapi gw yakin itu ada hubungannya sama teror cekik ini" jawabnya.

"Bisa jadi itu sesajen, atau semacam media buat orang yang ngelakuin teror ini" ucap Khamid.

"Udah mendingan kita tunggu aja kabar dari Pak Sholihin. Ga usah nebak-nebak kayak gitu" ucapku.

Kami pun lanjut ngobrol santai membahas apapun yang perlu dibahas hingga hari menjelang sore.

Seusai sholat maghrib berjamaah, Pak Sholihin mengajak warga berkumpul sebentar di mushola untuk membicarakan mengenai penemuan benda mencurigakan kemarin malam. Berdasarkan keterangan dari Pak Sholihin, benda tersebut semacam persyaratan untuk suatu perjanjian dengan bangsa jin. Secara sederhana bisa dikatakan sebagai sesajen. Tetapi bukan sesajen pada umumnya yang isinya bunga, kemenyan, rokok, makanan dan lain-lain. Melainkan segenggam tanah yang diduga merupakan tanah kuburan yang dibungkus kain putih yang diduga kain kafan, sebuah boneka kain yang dibungkus kain kafan juga menyerupai pocong dan benda lainnya yang semuanya dibungkus menjadi satu dengan kain hitam. Pak Sholihin menduga ada seseorang yang melakukan tindak pesugihan yang sedang mencari tumbal dari salah satu warga kampung ini dengan jalan melakukan teror cekik. Jadi teror hantu cekik ini sebetulnya bukan dilakukan oleh makhkuk gaib sebangsa jin, tetapi dilakukan manusia yang bersekutu dengan jin sehingga dia bisa memiliki kemampuan menyamarkan kehadirannya dan bisa menghilang begitu saja seperti hantu. Sedangkan benda yang diduga sebagai sesajen tadi adalah sebagai media untuk melancarkan aksinya di kampung ini. Jika benda itu hilang, maka orang tersebut tidak akan mampu menggunakan kemampuannya tadi. Oleh karenanya Pak Sholihin membakar benda tadi. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan, orang tersebut akan datang lagi dan menaruh benda yang sama untuk melakukan aksi. Oleh karenanya, semua warga masih harus tetap waspada dan berjaga supaya tidak ada orang yang bisa melakukan aksi tersebut. Sesuai dengan penjelasan Pak Sholihin tadi, Pak Zaeni tetap menginstruksikan kepada semua warga untuk tetap berkumpul dan berjaga seperti malam sebelumnya sampai teror ini benar-benar berakhir.

Malam pun beranjak semakin pekat. Seluruh warga sudah berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Warga yang bertugas berjaga juga sudah menempatkan diri sesuai tugasnya masing-masing, tak terkecuali aku yang ikut berjaga bersama para pemuda lainnya. Beberapa kali kami mendengar suara-suara yang mencurigakan yang berasal dari lahan-lahan kosong kampung ini. Tetapi ketika kami menyisirnya, kami tidak menemukan apapun. Mungkin hanya suara binatang liar yang beraktifitas di malam hari. Hingga malam semakin larut, kami tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada satupun orang asing yang memasuki kampung ini. Wajar, karena isu teror ini sudah santer terdengar di berbagai wilayah di Kotaku. Jadi mungkin orang luar juga mengurungkan niatnya untuk datang meskipun ada kepentingan. Daripada mereka dicurigai melakukan sesuatu, maka lebih baik menghindari. Sebetulnya teror ini tidak hanya menyerang satu kampung dalam satu kelurahan ini saja. Kampung lainnya juga ikut di serang, tetapi tidak separah kampung ini. Mereka pun sudah melakukan penanganan seperti yang dilakukan di kampung ini. Hingga subuh datang, keadaan masih tetap aman tanpa adanya teror. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Pak Sholihin. Pelaku teror ini tidak bisa menggunakan kemampuannya karena benda yang digunakan sebagai media untuk melakukan teror sudah dimusnahkan.

Beberapa hari berlalu, keadaan kampung masih tetap aman tanpa adanya kejadian teror. Tetapi seluruh warga masih tetap waspada dan berjaga. Kami tidak mau lengah, tidak mau kecolongan. Hanya saja dikarenakan keadaan relatif kondusif, suasana kampung kini setiap malam cenderung lebih nyaman, tidak terlalu mencekam seperti sebelumnya. Sudah tidak terlalu kelihatan raut muka takut dari warga yang berkumpul setiap malam. Mereka cenderung santai, ngobrol dan bercanda hingga kantuk menyerang dan satu persatu terlelap. Setiap malam selalu terhidang makanan-makanan sederhana dan kopi tentunya untuk warga yang berjaga supaya stamina mereka tetap terjaga, tetap waspada dan mengusir rasa kantuk. Salah satu hikmah dari kebersamaan dan gotong royong.

Di suatu malam, aku sedang beristirahat di rumah. Malam ini aku memutuskan tidak ikut berjaga karena merasakan badanku sangat keletihan. Keluargaku memang tidak pernah ikut berkumpul bersama warga lainnya setiap malam. Jadi aku sedikit mengoreksi informasi sebelum jika seluruh warga ikut berkumpul setiap malam. Hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Keluargaku setiap malam tetap berada di rumah dan tidak pernah terganggu adanya teror ini. Di tahun-tahun sebelumnya juga sama. Menurut keterangan Pak Sholihin, teror ini hanya menyerang warga yang asli kampung sini. Sedangkan keluargaku adalah pendatang. Jadi kami akan tetap aman. Kembali ke cerita, ketika aku sedang beristirahat di ruang tengah rumahku, di depan tv, dalam kondisi setengah sadar karena saat itu aku sedang hampir terlelap tidur, aku merasakan ada seseorang yang mendatangiku. Dalam seklebatan aku merasakan seperti ada benda atau seseorang yang menindihku. Aku tak mampu menggerakkan sendi-sendi tulangku. Bahkan untuk membuka mata pun aku tak mampu. Aku merasakan hanya gelap dan terbelenggu. Kali ini aku sudah sadar, sepenuhnya sadar. Akan tetapi aku tak mampu melakukan apapun. Berteriak pun juga tak mampu. Mulutku tercekat, suaraku terbungkam. Dalam beberapa saat aku merasa panik. Sempat kuberfikir, apakah aku terkena serangan teror cekik ini? Tapi kurasa bukan, sebab aku masih mampu bernafas dengan normal, meski memburu, dan tak kurasakan sakit pada leherku seperti umumnya orang yang dicekik. Aku hanya tak bisa bergerak, tak bisa melihat dan tak bisa berbicara.

Menyadari keadaanku sekarang, aku mulai berusaha menenangkan diri. Perlahan aku mengatur nafas sambil berkonsentrasi dan berdoa menyerahkan segala kekuatan hanya kepada Allah semata. Setelah beberapa menit aku mulai merasakan sekarang sedikit demi sedikit aku mampu menggerakkan tanganku. Tetapi masih terasa sangat berat. Aku kembali berkonsentrasi, aku menarik nafas panjang dan pelan. Menahannya beberapa detik lantas menghentakkan badanku sambil membuang nafas. Dan seketika itu pula aku mampu bergerak dan membuka mata. Kini aku sudah sepenuhnya sadar dan bebas. Tetapi aku merasakan badanku sangat keletihan. Keringat telah bercucuran membasahi tubuhku dan nafasku memburu. Ketika sedang berusaha memulihkan stamina, sekelebatan aku melihat seperti sesosok manusia berdiri membelakangiku sedang memandang salah satu dinding rumahku yang terdapat hiasan benda-benda yang kutemukan ketika mendaki gunung dan membentuknya menjadi hiasan dinding. Ketika aku sedang berusaha menggerakkan badanku, sosok itu pun seketika menghilang.

Siapa atau lebih tepatnya apa yang tadi menampakkan diri di rumahku? Padahal sejak kejadian di masa kecilku dulu aku tidak pernah bisa melihat penampakan sejelas ini. Dan kenapa dia memandang ke arah dinding itu yang terdapat hiasan tidak penting tadi. Perlahan aku bergerak ke arah sosok tadi berdiri. Aku melihat benda yang ditempel di dinding. Sebatang bambu kuning sepanjang kurang lebih satu meter yang dipotong dari pangkalnya, bulu burung elang jawa, daun pinus kering, buah pinus kering dan pecahan kayu pinus yang kuukir menggunakan pisau dengan motif abstrak. Benda-benda itu ku susun menjadi sebuah hiasan dinding yang menurutku artistik, entah kalau menurut orang lain. Aku mengambil benda itu kemudian memandangnya lekat-lekat. Beberapa saat kemudian aku menyadari sesuatu. Mungkinkah??
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
29-09-2019 08:48
lanjutttttt..nqnggung nech
0
12-10-2019 14:15
Selalu saja cerita bagus tapi kentang
0
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
15-10-2019 13:48
Balasan post Manchunian15
wkwkwkwk
0
15-10-2019 13:48
apalah daya aku yg newbie ini
0
16-10-2019 22:49
wah kentang
0
Kemarin 01:02
jejak dl
0
Kemarin 22:03
Titip sendal gan...
0
Hari ini 01:43
kanjutkan gan
0
Halaman 2 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
senandung-black-n-blue
Stories from the Heart
the-way-you-are
Stories from the Heart
di-atas-pena-tuhan
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.