alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d8094d3018e0d6cf540004f/biografi-chrisye-keturunan-cina-dan-kisah-buruknya-jadi-minoritas
Lapor Hansip
17-09-2019 15:09
Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas
Cina! Cina!..." "Mereka berseru-seru.


Saya menahan timpukan batu bertubi-tubi. Hanya sekali saya diperlakukan seperti itu. Tapi, ketakutan saya menetap dan bertahan, bahkan hingga saya melewati usia setengah abad." Begitulah kisah yang dialami penyanyi legendaris Chrisye seperti dinukil dari buku berjudul Chrisye, Sebuah Memoar Musikal (2007) terbitan Gramedia, yang ditulis Alberthiene Endah.

Menjadi seorang keturunan Cina tidak sepenuhnya bisa lepas dari kehidupan Chrisye, terutama ketika mengenang kembali pengalamannya di sekolah dasar. Suatu siang, ketika pulang sekolah, ia mendengar celetukan yang cukup menohok di sebuah jalan. "Cina Lo!" teriakan itu datang tanpa diketahui dari mana asalnya. Tak lama berselang, sebuah batu kecil mulai menghantam kepalanya.

Ia kebingungan sembari menoleh ke kiri dan kanan. Kemudian, segerombolan anak datang dan berteriak ke arahnya. "Cina! Cina! Cina!". Teriakan itu terdengar keras. Ia mulai kelabakan saat beberapa anak kembali melemparkan batu kepadanya. Ia berlari menyelamatkan diri sambil memegang kepala yang berdarah.

Sesampai di rumah, cepat-cepat ia bersihkan bekas luka dan memilih tidak menceritakan pengalaman buruk itu kepada ibunya. "Itu peristiwa yang menancap cukup dalam di benak saya," kata Chrisye ketika menceritakan kembali pengalamannya. Peristiwa rasial dan persekusi itu benar-benar menancap di kepalanya. Bahkan, Chrisye tak lagi nyaman melihat diri sendiri di depan cermin, karena merasa terancam saat melihat kulit putih dan mata sipitnya di cermin.

Kekerasan yang dialaminya itu, kenang Chrisye, begitu menancap di alam bawah sadarnya, bahkan semakin kuat ia menepis rasa ketakutan itu, semakin kuat pula ingatan itu muncul pada saat-saat tertentu.

Tidak heran bila Chrisye menolak menjadi ketua kelas dan organisasi saat di sekolah karena tak mau menjadi terkenal. "Saya takut menjadi sorotan dan orang menyadari bahwa saya orang Cina," kenangnya. Untung saja, masalah ini tidak berlarut-larut. Hal itu disebabkan berkat pergaulan dan orang tua membuat dia tenang kembali. Meskipun membutuhkan waktu yang lama untuk menenangkan perasaan.

Justru, Chrisye merindukan rumahnya karena sudah tidak diwarnai dengan hiasan khas Cina seperti teman-teman Tionghoa lainnya. Hal itu kemudian membuatnya senang bila berkumpul di acara keluarga.


Apalagi saat sang paman dari ibunya menyambangi rumahnya, ia senang karena sang paman sering memberi salam dengan membungkuk badan, seperti khas Tionghoa. "Apalagi bila paman bicara dengan logat Tionghoa yang kental dan sedikit cadel. Saya merasa punya cipratan budaya yang menarik," ungkap dia.

Namun, masalah "kecinaan" ini tetap berkembang menjadi sebuah problem, terutama ketika sudah menjadi penyanyi terkenal. Sampai ia berusia setengah abad pun, Chrisye masih dihantui dengan sebuah pertanyaan. "Haruskah saya mengaku Cina?" Seandainya saat itu ada seseorang yang berhasil menenangkan ketakutannya, mungkin saja ia tidak pernah trauma mengaku diri seorang keturunan Cina. "Saya merasa rugi memiliki ketakutan semacam itu.

" Chrisye dilahirkan dengan nama Christian Rahadi pada 16 September 1949 di Jalan Teuku Cik Ditiro, Jakarta. Darah Tionghoa ia peroleh dari sang ayah bernama Laurens Rahadi berdarah Betawi-Cina yang lahir pada tanggal 14 Juli 1918 di Jakarta. Sementara ibunya keturunan Sunda-Cina yang lahir di Bogor pada 26 Agustus tahun 1923.

Ada pepatah yang mengatakan, "semua karya seni hebat berasal dari rasa sakit". Pelukis Van Gogh membuat karya hebatnya, "The Starry Night" saat mengalami siksaan emosional yang dasyat. Dua pentolan The Beatles, John Lennon dan Paul McCartney bertemu saat mereka sama-sama kehilangan ibunya.

Sementara penyanyi besar Nat King Cole dan Billie Holiday terus menerus dihajar rasisme dengan menyebut mereka "negro" sepanjang karier bermusiknya. Mungkin saja pengalaman buruk Chrisye sewaktu kecil inilah membuatnya menjadi penyanyi hebat. Orang-orang seperti ini pintar mengubah kesedihan mereka menjadi sesuatu yang dihargai dunia.


Karier musik Chrisye mulai menemui titik terang setelah menyanyikan lagu "Lilin-Lilin Kecil" karya James F. Sundah, yang diciptakan untuk ajang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977 oleh Radio Prambors. Album LCLR 1977 yang memuat lagu "Lilin-lilin Kecil" di dalamnya, menjadi album paling laris tahun itu.

Kesuksesan ini membuat Chrisye makin yakin bahwa ia berbakat menjadi penyanyi. Kelak, majalah Rolling Stone Indonesia, memasukkan lagu ini di peringkat 13 dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik. Label rekaman Pramaqua Records kemudian menawarkan Chrisye untuk membuat album bernama Jurang Pemisah.

Dengan musisi pengiringnya Yockie Suryoprayogo (keyboard), Ian Antono (gitar), dan Teddy Sujaya (drum). Selain bernyanyi, Chrisye bermain bass dalam album ini. Meski mendapat pujian secara kualitas, tapi album itu dianggal gagal dari sisi penjualan.

Namun, tak berhenti sampai di sana, Eros Djarot kemudian mengajak Yockie dan Chrisye untuk menggarap soundtrack film Badai Pasti Berlalu. Pengisi album ini adalah Chrisye, Berlian Hutauruk (vokal), Fariz R.M (drum), Yockie (kibor), Keenan (drum), dan Debby Nasution (kibor). Album ini meledak di pasaran ketika dirilis pada 1977.

Chrisye juga pertama kali menciptakan lagu "Merepih Alam" dalam album ini "Kritikus musik menyebutkan album itu sebagai dobrakan besar di kancah musik Indonesia. Sebuah terobosan yang mengisyaratkan pembaruan dalam warna musik pop. Bahkan ada yang menyebut album ini sebagai karya monumental yang sangat penting dalam industri musik Indonesia," tutur Chrisye.

Tiga dekade kemudian, majalah Rolling Stone Indonesia membuat senarai 150 Album Indonesia Terbaik. Peringkat satunya adalah Badai Pasti Berlalu. Hebatnya, di peringkat dua adalah album Guruh Gipsy, album yang turut digarap oleh Chrisye.

Namun, pada tahun 2005, kabar buruk datang saat dokter mengumumkan Chrisye mengidap kanker paru stadium 4. Penyanyi legendaris itu menghembuskan nafas terakhirnya tepat di usia 57 tahun pada 30 Maret 2007.

Sepanjang kariernya, ia berkontribusi di 9 album proyek, 4 album soundtrack (termasuk Ali Topan Anak Jalanan), dan menghasilkan 20 album solo. Melihat semua perjalanannya, tak heran bila hari ini Google Doodle ikut merayakan ulang tahun Chrisye. Hari ini, lagu-lagunya kembali menggema di hati penggemarnya.

https://tirto.id/biografi-chrisye-ke...minoritas-eibp

kisah gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ugtraveler dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 3
17-09-2019 20:15
yg suka ngebully chrisye dulu dari kelompok mayoritas kah?
0
17-09-2019 20:44
Quote:Jangan biarkan damai ini pergi,
Jangan biarkan semuanya berlalu.
Hanya padaMu, Tuhan... Tempatku berteduh,
dari semua kepalsuan dunia...


Paling inget lagunya om yang ini.

Moga2 sekarang di jaman ini, tingkat diskriminasi dan rasis di Indonesia ini berkurang ya..
0
17-09-2019 21:03
orang sukses itu umumnya berangkat dari pengalaman hidup yang keras.
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
17-09-2019 21:40
Quote:Original Posted By serafimmale
Wajar aja kok gan. Ga aneh
Dia melakukan itu untuk mendapatkan rasa aman menjadi satu keluarga besar dengan mayoritas dan kalau sudsh begitu kan ga dibully lagi
Ini terjadi juga pas lagi kerusuhan mei 98. Banyak orang chinese ysng untuk amannya masuk muslim, jadi haji. Kalau sudah dapet identitas mayoritas kan jadi lebih aman


siapa bilang, teman gue pribumi muslim murtad setelah kejadian mei tahun 1998, jadi islam ktp balik lagi ke agama asli pribumi baru bisa ganti ktp dari islam ke agama asli pribumi tahun 2018 setelah mahkamah konstitusi mengakui agama asli pribumi . Orang tuanya dia itu korban pemaksaan agama saat kejadian tahun 1965. Di tahun segitu , jika pribumi masih mempertahankan agama asli pribumi maka dituduh pki & dibantai mirip kejadian tahun 1998 lah . Demi keselamatannya banyak yang terpaksa masuk islam ketimbang dituduh pki saat itu

Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas

Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas

Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas

Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas

Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas
profile-picture
kenpachiku memberi reputasi
1
18-09-2019 02:35
" "Cina Lo!" teriakan itu datang tanpa diketahui dari mana asalnya. Tak lama berselang, sebuah batu kecil mulai menghantam kepalanya."

Nah, ini kenape kata "Cina" konotasinya jadi negatif di Indonesia. Identik dgn olokan, hinaan bahkan intimidasi.

Buat ente2 yg masih ngebacot belaga bingung "kenapa org keturunan Tionghoa sensitif kalo dipanggil Cina"

Coba kepala ente ditimpuk batu dulu, mungkin baru bisa ngarti emoticon-Big Grin
profile-picture
jupie_wan memberi reputasi
1
Lapor Hansip
18-09-2019 08:28
Balasan post reid2
Quote:Original Posted By reid2




Susah kalo kebanyakan mindset orang kita itu suka rasis


y emang faktanya gitu
untung temen gua bkn dendaman, pdhl klu doi mau bs laporin ke bokapnya
secara polres sm sekolahnya sebelahan persis emoticon-Ngakak
0
18-09-2019 10:24
Makjleeb...to the point 🤣🤣🤣

Quote:Original Posted By maskerider
" "Cina Lo!" teriakan itu datang tanpa diketahui dari mana asalnya. Tak lama berselang, sebuah batu kecil mulai menghantam kepalanya."

Nah, ini kenape kata "Cina" konotasinya jadi negatif di Indonesia. Identik dgn olokan, hinaan bahkan intimidasi.

Buat ente2 yg masih ngebacot belaga bingung "kenapa org keturunan Tionghoa sensitif kalo dipanggil Cina"

Coba kepala ente ditimpuk batu dulu, mungkin baru bisa ngarti emoticon-Big Grin


0
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
18-09-2019 11:36
ane justru baru ngerti ada semacam kebencian rasial ke warga keturunan pas Kuliah di Pulau seberang

selepas lulus kuliah dan kerja di Ibukota ternyata lebih parah lagi emoticon-Cape d... (S)
Diubah oleh capt.sabaru
0
21-09-2019 09:04
Arimurty sebagai Steering Committee Musyawarah Nasional Kepercayaan di Yogyakarta, 27-30 Desember 1970. Ist/dok

Merujuk sejarah, pada masa awal kemerdekaan, berkat ketokohan seorang penghayat kepercayaan Wongsonegoro, hubungan penghayat kepercayaan dengan negara masih cukup harmonis.

Pada masa itu, Wongsonegoro yang sempat menduduki jabatan Gubernur Jawa Tengah hingga menteri tersebut, berhasil menghimpun penghayat kepercayaan ke dalam Badan Kongres Kebatinan Seluruh Indonesia (BKKI) di Semarang. Tercatat, Presiden Soekarno hadir pada pelaksanaan BKKI yang ketiga pada Juli 1958.

Namun, di kala itu, terdapat aturan yang membatasi kebebasan spiritual masyarakat penghayat kepercayaan. Salah satunya dengan kehadiran Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan (Pakem) yang berdiri pada 1954 di bawah Kejaksaan Agung.

Ditambah lagi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 1 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama yang diketuk palu pada 27 Januari 1965. Bagi para penghayat, beleid ini kerap menjadi dasar pemberlakuan perlakuan diskriminatif yang mereka alami.

Masa terkelam bagi para penghayat kepercayaan adalah pascaperistiwa September 1965. Setelah peristiwa tersebut, kecurigaan pada penghayat kepercayaan meningkat. Aliran Kepercayaan dinilai bisa menodai kemurnian agama yang diakui di Indonesia.

https://www.validnews.id/Arymurthy--...ah-Politik-UmM

#alirankepercayaan #penghayatkepercayaan #sumarah #wongsonegoro #tolakpenjajahanbudaya #gerakannasionalbudayanusantara
0
Halaman 3 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.