alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
121
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d7db802c0cad75a0074d080/kota-kota-dilanda-kabut-asap-mata-perih-dada-sesak-muntah-muntah
suara ribut slang-slang hidrolis saat pilot menurunkan roda yang menandakan pesawat akan mendarat. Daratan di bawah hampir tidak kelihatan. Putih semua. Karena grogi, saya sempat menghubungi salah seorang pilot senior anggota Dewan Kehormatan Ikatan Pilot Indonesia, kapten Yusni Marian.
Lapor Hansip
15-09-2019 11:03

Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah

Past Hot Thread
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah

CUMA suara ribut slang-slang hidrolis saat pilot menurunkan roda yang menandakan pesawat akan mendarat. Daratan di bawah hampir tidak kelihatan. Putih semua.

Karena grogi, saya sempat menghubungi salah seorang pilot senior anggota Dewan Kehormatan Ikatan Pilot Indonesia, kapten Yusni Marian. ”Tenang saja, untuk ukuran negara tropis, ILS (instrument landing system) bandara-bandara Indonesia sudah bagus kok. Termasuk yang di Kalimantan dan Sumatera,” paparnya.

Benar saja, tahu-tahu badan pesawat sudah bergetar dan menggelinding di landasan pacu Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau. Pada Kamis lalu (12/9) itu semua lampu landasan menyala terang meski baru pukul 15.00 WIB.

Lega, tentu saja. Tapi, berada di Pekanbaru hari-hari ini, kelegaan adalah barang mahal dan langka.

Inilah kota yang hari-hari ini memiliki kualitas udara membahayakan gara-gara jerubu (kabut asap) yang berhulu dari kebakaran hutan dan lahan. Senasib dengan ibu kota Riau itu adalah Kabupaten Siak di sebelah timur.

Dua kawasan tersebut mencatat rekor indeks standar pencemar udara (ISPU) terburuk dengan skala 500 hingga 800 PSI (pollutant standards index). Padahal, ISPU lebih dari 300 saja sudah dinyatakan hitam alias berbahaya bagi kesehatan siapa saja. Tak kenal usia atau jenis kelamin.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup, 49.266 hektare hutan dan lahan terbakar di Riau pada periode Januari sampai Agustus tahun ini. Ada enam provinsi lain yang ribuan hektare hutan dan lahannya mengalami petaka serupa. Tapi, Riau yang terparah.

Di jalanan dari bandara menuju hotel cekikan jerubu itu terasa benar. Jika menatap pada sebuah deretan bangunan, bangunan pertama dan kedua tampak jelas warnanya.

Bangunan yang lebih jauh, ketiga, keempat, dan seterusnya, sudah berkurang jauh saturasi warnanya. Bangunan kelima dan seterusnya cuma samar-samar saja di antara kabut.

Sehabis magrib, laporan harian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan data yang mencengangkan. Indeks PM (partikel mikron/semakin banyak partikel ini, semakin buruk kualitas udara) 2.5 udara Pekanbaru menyentuh angka dramatis: 331 alias berbahaya.

Jadi, sudah berapa ribu mikronkah partikel beracun yang saya hirup selama perjalanan dari bandara ke hotel tadi? Tapi, saya baru beberapa jam saja di sini. Bagaimana dengan warga setempat yang telah berhari-hari, bahkan berpekan-pekan, menyesapnya?

Mengutip Riau Pos, mulai awal tahun ini tercatat 281.626 orang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Khusus September saja, sampai pekan kedua, jumlahnya menembus 4.306 orang.

Keesokan paginya (13/9) saya membuktikan apa yang dikatakan Tasirman, sopir taksi yang membawa saya dari bandara ke hotel sehari sebelumnya. Benar belaka.

Jam terpekat di Pekanbaru adalah pagi hari, pukul 06.00 WIB. Gelap. Pendar cahaya lampu jalan, neon box, videotron-videotron di mal masih terlihat kuat. Seolah-olah mata kita dipasangi diffuser.

Saat mulai terang, yang terlihat hanya putih sepanjang mata memandang. Cuma bangunan-bangunan terdekat yang terlihat jelas. Juga, kendaraan-kendaraan bermotor yang jauhnya kurang dari setengah kilometer.

Pada Jumat pagi lalu itu di jalanan Pekanbaru hampir tidak terlihat orang-orang berlalu-lalang memakai pakaian dinas maupun seragam sekolah. Tak terkecuali di sekitar Masjid An Nur yang merupakan pusat aktivitas warga.

Namun, Pasar Perempatan Alengka masih berdenyut. Kendatipun para pedagang dan pembeli harus buka tutup masker saat bertransaksi.

Tera Piliang yang saya temui setelah berbelanja bercerita, dirinya adalah satu di antara sedikit anggota keluarganya yang masih beraktivitas di luar ruangan saat musim-musim asap seperti ini. Dari pasar dia hendak menuju tempat kerjanya di sebuah kedai kopi menaiki angkot. ”Kalau anak-anak sudah saya kurung di dalam ruangan,” tuturnya.

Sejak Selasa (10/9) Pemprov Riau dan pemerintah kota/kabupaten di sana memang meliburkan secara bertahap seluruh aktivitas pendidikan. Niat awalnya memang agar para pelajar dan mahasiswa tidak terlalu banyak terpapar udara yang tercemar jerubu di luar ruangan.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak waktu bagi mereka untuk bermain di luar. Contohnya saya saksikan Jumat pagi lalu itu di sekitar Jalan Nanas di Kecamatan Sukajati, Kota Pekanbaru. Sekelompok anak-anak bermain riang di halaman deretan ruko.

Satu di antara mereka adalah Afriani. Empat hari sebelumnya dia muntah-muntah di sekolahnya, SDN 153 Pekanbaru.

Pada masa-masa pagebluk jerubu seperti sekarang ini, kesehatan anak-anak memang paling rentan anjlok. Afriani menuturkan, Senin lalu (9/9), saat terakhir dia sekolah, ada tiga kakak kelasnya yang juga muntah-muntah.

”Dibawa ke UKS (unit kesehatan sekolah),” cerita dia di samping sang ibu Wasni, saat saya berkunjung ke rumah mereka.

Afriani lantas diantarkan pulang oleh salah seorang guru ke rumah. Wasni kemudian membawa sang buah hati ke RS Santa Maria untuk diasapi. Sampai Jumat (13/9), Afriani sudah lebih dari sepuluh kali diasapi.

Tapi, kabut asap terbukti tidak hanya melemahkan anak-anak. Kuni Masrohanti, salah seorang wartawati Riau Pos yang menghabiskan hari-harinya berkeliling Pekanbaru dengan sepeda motor, pun merasakan jahatnya asap.

”Rasanya perut seperti penuh gitu. Kala sudah mau muntah, saya menepi, langsung muntah saja,” tuturnya.

Sejak asap semakin pekat, beberapa organisasi memang membuka posko kesehatan untuk melayani masyarakat yang mulai mengalami gangguan pernapasan. Sejak asap semakin pekat pada Kamis (12/9), Gubernur Syamsuar mengirimkan surat edaran ke semua pemerintah kota/kabupaten agar menyiagakan puskesmas masing-masing untuk menampung warga.

Menjelang magrib, di Jumat yang sama, saya sudah tiba di Siak Sri Indrapura, ibu kota Kabupaten Siak, yang terpisah jarak hampir 100 kilometer dari Pekanbaru. Kabut asap tampak menggantung tebal.

Dengan jarak pandang tak lebih dari 1 kilometer. Lampu harus terus dihidupkan. Keindahan dermaga Sungai Siak yang terletak di samping kompleks masjid dan makam Sultan Syarif Kasim II juga sudah tak lagi dapat dinikmati.

Tidak ada lagi anak-anak muda yang berjalan di tepian sungai dan taman-taman yang indah itu. Apa yang mau difoto?

Sisi sebelah utara sungai sudah tidak terlihat. Buram saja semua. Bahkan, Jembatan Tengku Agung Sultana Latifah yang terkenal indah dipandang dari kejauhan juga nyaris tak tampak.

Di Kecamatan Bunga Raya, 27 kilometer sebelah utara Siak Sri Indrapura, kabut asap pekat membuat Ucu Sukapto, ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Tuah Indrapura, sesekali terbatuk. Dia baru saja tiba dari balai desa untuk menghadiri panggilan rapat dari kepala desa yang juga menderita batuk.

Namun, menurut Ucu, secara umum aktivitas warga tidak terganggu. Tiap pagi tetap saja melenggang menuju kebun masing-masing untuk menggarap tanah. ”Tapi ya itu, naik sepeda motor dari sini ke kantor camat saja, mata sudah perih, dada juga sesak,” tuturnya.

Yang jelas, desa-desa seperti Tuah sangat dekat dengan lahan-lahan gambut dan perkebunan sawit. Kampung Tapsel di Desa Buantan Besar di utara Tuah dikepung lahan sawit konsesi tiga perusahaan.

Pertengahan Agustus lalu lahan sawit milik PT Teguh Karsa Wana Lestari (TKWL) terbakar hebat. Itu membuat warga yang hanya dibatasi kanal selebar 5 meter semburat dan mengungsi ke desa-desa sekitar. ”Kalau sekarang tinggal asap. Ya batuk-batuk saja,” kata Amei Duha, warga Tuah yang bersama sang istri, Rumiyati Laiya, juga sempat mengungsi ke rumah tetangga di Dam 3.

sumber

Liburkan sekolah selama jerebu masih tebal..!
Diubah oleh bukan.salman
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ariwanas dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 7
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 09:57
ane di banjarmasin...parah juga nih asapnya....berangkat kerja pake masker ga ngefek apa apa....
profile-picture
saya.kira memberi reputasi
1 0
1
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 09:57
gilaaaa itu titik Panas udah kaya hotspot Wi-Fi emoticon-Cape d...
Indonesia....Indonesia......emoticon-Turut Berduka
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 09:58
Itu sebab kebakaran apa
0 0
0
Lihat 1 balasan
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 09:58
penyakit yg selalu muncul tiap tahun
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
Lapor Hansip
16-09-2019 09:59
Balasan post pornwoow
tolol berkelanjutan..kasihan ni orang..emoticon-Wkwkwk

itu kerjaan developer perumahan PUNUK ONTA

buat buka lahan...biar jadi proyek mereka emoticon-Cape d...
Diubah oleh KaptenNeptunus
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:00
Quote:Original Posted By j1a107202
ane di banjarmasin...parah juga nih asapnya....berangkat kerja pake masker ga ngefek apa apa....


Terus ngapain pake maser?
Pake masker Respirator bang.
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
profile-picture
j1a107202 memberi reputasi
1 0
1
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:04
Ini mah pasti ulah makelar tanah atau perusahaan sawit.
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:06
Tanaman ajaib kita2 kebakar dong ah emoticon-Berduka (S)
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
Lapor Hansip
16-09-2019 10:07
Balasan post khafidz99
Quote:Original Posted By khafidz99

Yang ngebakar penduduk di situ sendiri, ya nikmati sendiri lah

Kenapa mau ngebakar? Karena duit... Apakah duitnya setimpal dengan kesehatan ente dan anak istri ente? emoticon-Big Grin

Kalau memang ngga mau sesak nafas ya semua kompak jangan bakar lahan
Tapi ya mental penduduk di sana mana nyampe mikir sampe ke situ
Gubernurnya aja ngga mau ngurus lagi saking bebalnya penduduk di sana

emoticon-Ngacir


Yang ngebakar karyawan makelar tanah ama perusahaan sawit karyawannya itu kebanyakan dari luar kalimantan mayoritas jawa, kemarin diberita ada yang ketangkap dari karyawan perusahaan sawit malaysia
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:08
Ini karena hutan kebakaran atau hutan dibakar,,,
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:09
Dari dulu hutan indonesia dibakar terus untuk sawit emoticon-Traveller
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:12
Kalimantan banyak banget titik panasnya emoticon-Frown, itu yang kemarin ditemukan ular gede yang kebakar itu kan?Sedih banget liatnya. Di Riau juga udah membahayakan banget udaranya. Mereka semua terkepung, kalau tidaj ditangani segera, bagaimana kesehatan mereka nanti. Cuma bisa berdoa semoga terbantu datangya hujan, semoga semua segera teratasi emoticon-Nyepi
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:14
Indonesia paling banyak nih emoticon-Berduka (S)
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:21
sepertinya kebakaran yang disengaja... setiap tahun terjadi, tapi tidak ada penanggulangan.
emoticon-Entahlah
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:21
ketika musim panas tiba, lahan dan kebun yang luasnya ribuan hektar butuh diperbaharui. butuh biaya berapa jika dikelola secara baik dan benar ? bayar tenaga kerja , peralatan pertanian dan lain-lain. akhirnya dipilih cara konvensional tradisional ala jaman baheula.. BAKAR!!! murah meriah, mau asap, mau polusi, mau apalah...

*cerita dongeng dari negeri antah berantah
emoticon-Cape d...
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:24
aduh ane bersyukur dah kaya raya dan tinggal di daerah yg aman dr Asap ...amin....
emoticon-Coolemoticon-Ngakak
Semoga sodara² kita yg terkena dampak asap segera teratasi...emoticon-2 Jempol
Diubah oleh ppuurr
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:26
Uda bosan gan ane, di sini Riau parah kabutnya. Gk tuntas2 selama uda lebih 20th. emoticon-Marah
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
Lapor Hansip
16-09-2019 10:27
Balasan post rykenpb
Keserakahan manusia gan...emoticon-Smilie
profile-picture
rykenpb memberi reputasi
1 0
1
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
Lapor Hansip
16-09-2019 10:29
Balasan post ushirota
Ya gan anda beruntung gk seperti ane..emoticon-Wakaka
0 0
0
Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah
16-09-2019 10:33
kalau gak salah dulu pernah kebakaran hutan, gaka lama setelah hutan habis tiba-tiba muncul bibit sawit. harusnya kalau kayak gitu udah jelas siapa pelakunya emoticon-Blue Guy Bata (L)
0 0
0
Halaman 3 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.