alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d737b37c820844e0149b49f/cinta-dua-generasi-novel-bukan-picisan
Lapor Hansip
07-09-2019 16:41

Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)

Past Hot Thread
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Credit : pandaibesi666


Rasanya akan mengurangi keseruan cerita ini, jika kuberitahu cerita apa ini, maka lebih baik langsung saja ku ceritakan, dan silahkan membaca.

1. Prolog
Bima, biasa orang memanggilku. Ralat, setelah kutimbang, orang biasa lebih memilih untuk memanggilku si gondrong, itupun sangat jarang sekali mereka memanggilku. Hanya bunda, Koh Hendra pemilik toko kelontong tempatku bekerja, dan beberapa orang lainnya memanggil aku Bima. Ya, aku bukan orang yang mudah bergaul, dan juga kurasa tidak ada yang mau berteman denganku. Ini adalah hari ketujuh aku bersekolah di sekolah terbaik di Jakarta, atau mungkin tidak berlebihan jika kukatakan sekolah terbaik sekaligus termahal di Negri ini, Indonesia. Hanya anak dari pejabat-pejabat atau pengusaha kaya raya, yang mampu membiayai anaknya untuk sekolah disini, sekolah penghasil lulusan calon sukses, atau lebih dikenal dengan nama B.I.S. (Barata International School). Barata nama pemilik sekolah ini, seorang pengusaha kaya dan cerdas, setidaknya begitu yang kudengar dari bunda, Koh Hendra, dan siswa-siswa yang sedang bercengkrama satu sama lainnya di kantin. Sedangkan aku, duduk sendirian di pojok kanan kantin, tanpa ada satu orangpun yang sudi duduk denganku, barangkali karena tak ada yang tahu siapa itu Tabara pikirku, dan memang kenyataannya akupun tak tahu siapa itu Tabara,yang kutahu hanya itu adalah nama belakangku, dan bunda tidak pernah bercerita sedikitpun tentang ayahku. Lalu kembali aku memikirkan kejadian 7 hari yang lalu. Hari pertama aku bersekolah disini untuk melanjutkan pendidikanku setelat tamat dari smp."Halo, perkenalkan aku Bima Tabara." Ucapku ketika giliranku tiba, ya walikelas meminta kami untuk berdiri dan memperkenalkan nama masing-masing."Apa bidang pekerjaan ayahmu?" Tanya  siswa yang duduk di belakangku."Aku tak punya ayah" jawabku sedikit gemetar, entah sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan ini, tetapi tetap saja aku bergetar ketika ditanya tentang ayah. Bunda tidak pernah bercerita apapun tentang ayah. Pernah sekali aku bertanya padanya, hanya kemarahan dan amukan yang kudapat darinya. Tak pernah sekalipun aku melihat seperti apa bentuk wajah ayahku.
"Lantas, bagaimana dengan ibumu?"Tanyanya lagi. "ibuku adalah seorang tukang cuci di rumah tetangga." kurang dari setedik setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba saja seisi sekelas yang tenang berubah menjadi ricuh.
"bagaimana bisa dia bisa sekolah disini?" Dan masih banyak suara-suara lain yang sangking banyaknya, tidak dapat kutangkap semuanya.
"sudah-sudah, silahkan duduk, dan lanjutkan siswa sebelahnya"ujar sang guru, yang walaupun tidak membuat suasana kelas menjadi tenang seperti sebelumnya, tapi membantu mengurangi keributan didalam kelas yang terjadi karena aku.Terpikirla aku akan perkataan bunda.

"Apa benar tidak bisa bersekolah di tempat lain saja?" Tanya bunda, berbanding terbalik dengan ekspetasiku saat akan memberitahukan berita bahagia ini, bahwa aku mendapatkan  beasiswa di B.I.S., bukan beasiswa berupa potongan spp, tetapi benar-benar beasiswa penuh, dengan kata lain aku bisa belajar di sekolah terbaik di Negri ini, tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.
"Hanya sekolah ini bun yang bisa memberikanku beasiswa, lagipula kita tidak punya uang untuk membayar biaya sekolah sendiri, aku juga mungkin bisa melanjutkan studi  ke luar negri gratis dan memperbaiki keadaan kita bun."ucapku berseri-seri, bahkan Koh Hendra pun menyelamati aku ketika aku memberitahunya tentang berita ini. "Belajarla sungguh-sungguh, kelak ketika kamu sukses, jangan lupa dengan kokoh ya." pesannya.
"Bila memang itu maumu, yasudah..."

tteett....tteett....

Lonceng pertanda waktu istirahat habis membuyarkan kenanganku. Mungkin bunda tahu bahwa orang tak punya sepertiku mungkin akan kesulitan untuk bergaul di sekolah ini, sekolah para siswa yang katanya berpendidikan tinggi, dan kaya raya ini. Berdirila aku dan kutenteng roti yang tadi kubeli dan belum sempat kuhabiskan, dan berjalan menuju kelasku, X MIPA 3. Sesampainya di kelas aku langsung berjalan ke meja belakang pojok belakang kanan, entah kebetulan atau emang orang tanpa teman sepertiku diharuskan duduk di tempat yang tidak terlihat. Tetapi begitulah, berdasarkan denah tempat duduk yang sudah dibuat oleh walikelas, tempat dudukku adalah di paling belakang, sebelah kanan, sendirian.

1 minggu kemudian.....

Seperti biasa, walikelas masuk untuk memberikan briefing (sudah tradisi setiap pagi walikelas datang ke kelasnya masing-masing untuk memberikan informasi, ataupun wejangan-wejangan terhadap muridnya) walau lebih sering dilakukannya adalah memberikan nasihat nasihat picisan, seperti jagalah kebersihan sekolah, belajarlah sungguh-sungguh, dan masih banyak lagi.
"Hari ini, ada kedatangan siswi, direkomendasikan langsung oleh Herman Barata." Lantas bagaikan Dejavu dihari perkenalan aku 2 minggu yang lalu, terulang lagi kejadiannya. Suasa kelas menjadi ramai, dan akhirnya kudapatkan lah informasi. Singkatnya, sudah ada banyak isu-isu bahwa pacar dari Robert Barata, anak dari pemilik sekolah ini akan belajar disekolah ini. Kurasa hanya aku, yang tidak tahu siapa itu Robert Barata, sampai sekarang, baru aku tahu bahwa Heman Barata memiliki anak yang  memiliki prestasi luar biasa, dan sedang bersekolah juga disini, beda angkatan tapi. Ya, dia kelas 11. Tiba-tiba saja suasana kelas menjadi tenang, kuperhatikan wajah siswa-siswi di kelasku. Tak ada satupun yang berkedip, memandang ke depan, ke arah papan tulis. Bingung, akupun menoleh ke depan untuk melihat siapa gerangan yang bisa menenangkan kelas ini.

Memang bukan main cantiknya, hidungnya mancung, rambutnya panjang terurai lurus. Matanya tajam, siap menusuk siapapun yang menatap matanya yang bewarna cokelat itu. Badannya tidak kurus, juga tidak gembrot. Mukanya mulus, putih, seperti tidak pernah keluar rumah, dan pasti banyak uang dihabiskannya untuk perawatan pikirku. Benar-benar seperti Apsara (baca:bidadari) yang biasa kubaca di buku novel.
"Halo, perkenalkan namaku, Vienna."
Astaga, bahkan suaranya pun bisa menghiphotis siapapun yang mendegarnya, lembut dan halus. Berbanding terbalik dengan yang aku alami, tak ada satupun orang yang bertanya pekerjaan orangtuanya, nama belakangnya-pun tak ada yang berani tanya. Mungkin karena kecantikannya, murid menjadi tidak peduli dengan latar belakangnya, mungkin juga karena dia adalah pacar Robert, sehingga tak ada yang meragukan latar belakangnya.


buat yang mau baca via wattpad

Chapter I
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Chapter II
10.
11.
12.
Diubah oleh notararename
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 6
15-09-2019 17:16
Quote:Original Posted By notararename
makasih agan-agan sekalianemoticon-Wowcantik

emoticon-Wowcantik


masang perangkap eh jejak dulu dsini emoticon-Big Grin
0 0
0
15-09-2019 18:58
Quote:Original Posted By ableh80
masang perangkap eh jejak dulu dsini emoticon-Big Grin

Silahkan gan :v
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan michaaaaa memberi reputasi
2 0
2
16-09-2019 00:34
gw belum baca nih. krna penulisannya kurang sedap dipandang.
coba di perbaiki penulisannya gan. biar enak bacanya
kalau bisa untuk dialog percakapannya di quote atau dikasih tanda bacanya...

lancrotkan...
emoticon-Cendol (S)
Diubah oleh nichi07
0 0
0
16-09-2019 05:40
apakah Bima adalah anak dari pak Herman?
0 0
0
16-09-2019 21:05
ceritanya menarik gans
ntapss jiewa emoticon-Leh Uga
0 0
0
16-09-2019 21:28
udpate gan
0 0
0
17-09-2019 15:41
lanjutken gannemoticon-Toast
0 0
0
17-09-2019 19:16
Belum update ni gan?emoticon-Lempar Bata
Updatelaemoticon-Cendol Gan
0 0
0
18-09-2019 19:14
9. Tanpa kabar, tiba-tiba saja Vienna datang ke rumah setelah kejadian semalam. Katanya, ingin menemui mama Wulan. Tapi seperti biasa, bundaku sedang bekerja dari pagi sampai sore. Jadi, ia memilih untuk ikut denganku bekerja di toko Koh Hendra. Aku sudah berusaha melarangnya, karena aku merasa tidak enak dengan Koh Hendra kalau harus membuatnya menerima pegawai lagi. Tapi Vienna tetap saja bersikukuh untuk ikut, dia akan membantu sukarela tanpa gaji katanya, dia juga ingin mengenal Meisha, dan ingin menghabiskan waktu denganku di liburannya kali ini. Sekarang, aku sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kedatangan Vienna ke toko ini. Mata Meisha menatapku tajam saat aku datang dengan seorang perempuan, meminta penjelasan.
"Jadi, perkenalkan ini adalah Vienna, Vienna ini adalah Meisha" ucapku berusaha mencairkan suasana, yang ternyata gagal.
"Oh, jadi ini Vienna yang kau sebut-sebut bidadari itu, mengapa kau membawanya kesini?" nada permusuhan terdengar jelas dari nada suaranya. Aku merasa sangat malu, karena secara tidak langsung Meisha baru saja mengatakan kalau aku sering membicarakan Vienna.
"Dia ingin bekerja di toko Mei, di mana Koh Hendra?"
"Maaf Bim, tapi saat ini kami tidak memerlukan pekerja tambahan."
"Aku hanya ingin membantu, tanpa bayaran." Vienna berusaha menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu papa nanti Bim, papa sedang membeli sesuatu." Lalu Meishapun langsung melanjutkan perkerjannya.
"Jadi kau memanggilku bidadari?" godanya
"Lupakan yang diucapkan Mei." ucapku mengelak.
"Mengapa kau memanggilku bidadari Bim?" tanyanya lagi.
"Entahlah, karena kau cantik Vie."Ucapku ragu.
Kulihat pipinya memerah, buru-buru dia pergi.
Kamipun mulai merapikan beberapa barang, dan melayani pelanggan. Saat toko sedang sepi, kami habiskan waktu dengan bernostalgia tentang masa kecil, dan yang terjadi kepada Vienna dan aku saat berpisah selama sepuluh tahun.

Tidak terasa, akhirnya selesai sudah pekerjaan hari ini. Vienna sangat bersemangat di perjalanan pulang ke rumah. Aku lihat ibu sedang menyapu teras rumah.
"Bunda!" Teriakku, sambil melambaikan tangan lalu berjalan mendekat.
"Siapa ini Bim?" Mata bunda menatap wajah Vienna, seperti saat Ningsih menatap wajahku.
"Ma, ini Vienna ma. Anak bu Ningsih." Vienna langsung memeluk bunda, sedangkan bunda terdiam kaget, tidak bereaksi.
Bunda melepaskan pelukkan Vienna, lalu menyentuh wajah Vienna.
"Sekarang kamu sudah tumbuh dewasa Vie, cantik." Mata bunda berkaca-kaca.
"Terimakasih ma, Vie merindukan mama sepuluh tahun ini ma. Seperti mimpi, akhirnya Vie bisa bertempu dengan mama dan juga Bima lagi." ucapnya berkaca-kaca.
Kini merekapun saling berpelukan.
Seperti yang terjadi semalam, sudah tiga puluh menit berlalu kami duduk di ruang tamu, menjelaskan kepada bunda bagaimana kami bertemu, dan masih banyak lagi. Tapi saat kami menceritakan kejadian semalam bunda marah besar.
"Mengapa kau tidak bilang, kalau yang mengundangmu adalah Robert Barata! Kau tidak bertemu Herman Barata kan?"
"Bundakan tidak bertanya, dan tidak mungkin aku bisa bertemu dengan Pak Herman bun."
"Ingat Bim, jangan pernah kau datang ke rumah itu lagi."
"Kenapa bun? dan apa alasan bunda berhenti menjadi kepala pelayan?"
"Bunda akan menjelaskan semuanya Bim, tapi nanti saat bunda siap."
"Sudah malam, Vie pulang dulu ma, Bim."
"Dijemput Pak Ahmad?" tanyaku, tetapi raut wajah bunda mengeras dan kaget saat mendengar nama itu, Ahmad.
"Iya, Bim. Mama kenalkan dengan Pak Ahmad? dia sudah bekerja untuk pak Herman lebih dari tiga puluh tahun."
"Tentu saja mama kenal Vie. Bima antarlah Vienna sampai ke mobil."
"Iya bun."

Kuambil buku diari yang hampir penuh dari bawah kasur. Dan kuambil sebuah buku diari yang masih bersih dari tinta pena. Sudah kuputuskan mulai sekarang, aku beri nama buku diari ini buku 'Vienna', karena di dalam buku ini akan aku tuliskan segala hal tentang Vienna. Aku salin beberapa hal tentang Vienna yang dulu sempat aku catat di buku diari lama, dan aku tulis beberapa hal yang telah terjadi dengan Vienna. Dengan perasaan bahagia aku mengakhiri hari ini dan tertidur pulas.


Tidak terasa, sudah satu bulan berlalu yang berarti liburan telah habis. Setiap hari selama liburan Vienna datang, makin lama hubungan kami makin dekat. Aku semakin mengenal Vienna, begitu juga sebaliknya. Vienna bercerita, dia masih belum bisa menemukan papanya. Ya, sepertiku Vienna tidak pernah bertemu dengan papanya sedari lahir. Menurut mama Ningsih, papa Vienna pergi meninggalkannya sebelum Vienna sempat lahir, padahal mereka tidak memiliki masalah apapun. Vienna juga bercerita bahwa Robert menyukainya sudah lama, akhirnya saat Vienna kelas 9, Robert menyatakan perasaannya. Vienna lalu bercerita kepada mama Ningsih tentang pernyataan cinta dari Robert. Ningsih menyuruhnya menerima cinta Robert, dengan alasan agar Vienna bisa mendapat perlakuan istimewa, hidup bahagia, dan bisa melanjutkan sekolah SMA di B.I.S. Meskipun Vienna tidak mencintai Robert. Dengan terpaksa Viennapun menerimanya, dan memang benar Semenjak itu, Vienna diberikan sopir pribadi, ponsel bagus, segala serba mewah. Akan tetapi Vienna mengaku tidak pernah merasa bahagia, karena dia harus berpura-pura menyukai seseorang yang dia tidak suka. Saat aku menanyakan apa kejadian yang terjadi kepadanya, dia tidak pernah mau menjawab dan mengalihkan pembicaraan. Berdasarkan cerita Vienna juga, katanya semenjak kejadian malam itu Robert tidak pernah berbicara apa-apa kepadanya, dan Robert sudah berangkat ke Amerika dua minggu yang lalu.
Hubungan Vienna dan bundapun semakin dekat, sepulang dari toko Vienna selalu menemui bunda dan menceritakan kehidupannya setelah bunda pergi dari rumah Herman Barata. Bunda juga menitipkan salam untuk Ningsih, sahabat terbaik katanya.
Sebaliknya, hubunganku dengan Meisha makin merenggang. Meisha sudah sangat jarang sekali berbicara denganku, setiap kali aku ataupun Vienna mencoba mengajaknya berbicara Meisha selalu berusaha menyudahi pembicaraan dengan alasan pekerjaan. Dugaanku, Meisha membenci Vienna, entah untuk alasan apa aku masih tidak tahu.
Hari terakhir liburan, Vienna mengucapkan terimakasih karena sudah menemani liburannya, dan dia mengaku ini adalah liburan terbaiknya. Sejujurnya, aku juga merasa seperti itu. Aku merasa sangat bahagia bisa menghabiskan liburan bersama Vienna, dan sebenarnya akulah yang seharusnya berterimakasih kepadanya. Vienna juga memintaku untuk menjaga rahasianya bahwa dia tinggal di rumah Robert, karena jika murid-murid tahu, maka kemungkinan besar akan banyak rumor jelek tentang dirinya. Buku 'Vienna' juga kini sudah dipenuhi tulisan-tulisanku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 1 balasan
18-09-2019 20:07
keren...ditunggu next apdetnya gan.jgn kelamaan biar ngga lupa sama part sblmnya.capek baca ulang...cek kulkas gan,ada ijo2 ane delivered emoticon-Shakehand2
profile-picture
notararename memberi reputasi
1 0
1
18-09-2019 20:48
Akhirnya update, seetelah ditunggu2. Mantab gann lanjoettttkan!emoticon-Wowcantik emoticon-Wowcantik emoticon-thumbsup emoticon-thumbsup
profile-picture
notararename memberi reputasi
1 0
1
Lapor Hansip
18-09-2019 20:49
Balasan post notararename
Akhirnya up date lagi,kerinduanku terobati.
Tapi masih berasa kurang aja nih...emoticon-Wowcantik
profile-picture
notararename memberi reputasi
1 0
1
19-09-2019 08:35
lanjut lagi gan....
0 0
0
19-09-2019 12:11
Mantaff gannemoticon-Menang emoticon-Menang
0 0
0
19-09-2019 19:08
naik kelas ne si bima, mantabb😯
0 0
0
20-09-2019 21:23
Quote:Original Posted By ableh80
keren...ditunggu next apdetnya gan.jgn kelamaan biar ngga lupa sama part sblmnya.capek baca ulang...cek kulkas gan,ada ijo2 ane delivered emoticon-Shakehand2


Quote:Original Posted By michaaaaa
Akhirnya update, seetelah ditunggu2. Mantab gann lanjoettttkan!emoticon-Wowcantik emoticon-Wowcantik emoticon-thumbsup emoticon-thumbsup


Quote:Original Posted By jiyanq
Akhirnya up date lagi,kerinduanku terobati.
Tapi masih berasa kurang aja nih...emoticon-Wowcantik


Quote:Original Posted By Alea2212
lanjut lagi gan....


Quote:Original Posted By nurcahya7
Mantaff gannemoticon-Menang emoticon-Menang

makasih supportnya gan

Quote:Original Posted By soleh1177
naik kelas ne si bima, mantabb😯

iya wkwkwk
profile-picture
profile-picture
w2b.millenial dan michaaaaa memberi reputasi
2 0
2
20-09-2019 22:03
10. Hari ini aku adalah siswa kelas sebelas, begitu pula dengan beberapa murid lainnya. Aku melihat beberapa murid baru dengan seragam sekolah sebelumnya masing-masing memasuki gerbang sekolah malu-malu, beberapa bahagia karena bisa bertemu dengan teman, dan beberapa kecewa karena liburan berakhir. Sedangkan aku, belum menentukan harus bahagia atau kecewa. Aku akan memutuskan itu setelah aku mengetahui apakah aku sekelas dengan Vienna atau tidak. Dengan langkah cepat aku berjalan ke koridor tempat ruangan kelas sebelas berada. Aku baca kertas berisi daftar nama murid yang tertempel di depan pintu tiap-tiap ruang kelas. Kelas pertama tidak terdapat namaku maupun Vienna, kelas kedua tidak, kelas ketiga juga tidak. Sekarang aku sudah memutuskan aku bahagia. Aku menuju ke kelas terakhir XI MIPA-4 dan membaca daftar nama murid yang berada di kelas ini, benar saja aku dan Vienna berada di kelas yang sama. Langsung saja aku masuk ke kelas, yang ternyata masih sepi yang berarti aku bisa bebas memilih tempat duduk. Seperti biasa aku duduk di pojok kanan, sebenarnya aku ingin keluar kelas untuk melihat murid-murid baru. Tetapi, aku ingin menjaga kursi disebelahku agar tidak diduduki oleh orang lain, walaupun aku cukup yakin tidak ada yang ingin duduk denganku. Beberapa menit kemudian, Vienna datang dengan senyum lebar di wajahnya dan langsung menuju ke tempat dudukku.
"Baguslah ternyata kita sekelas Bim."
"Iya, semoga saja walikelas kita yang baru tidak membuat denah tempat duduk. Supaya kita bisa duduk bersebelahan."
"Iya, Bim."
"Jeruptor, belum berhenti dari sekolah" Ucap seseorang disusul dengan tertawaan siswa-siswi kelasku. Aku melihat apa yang sedang terjadi. Seorang lelaki bertubuh jangkung, berambut pendek sedang berdiri di pintu kelas dengan wajah tertunduk. Dia berjalan ke salah satu meja di tengah dan menaruh tasnya di atas meja tersebut, menghiraukan ejekan dari para murid yang lain.
Seorang lelaki yang duduk di depan yang tadi mengejeknya berdiri, berjalan ke tempat duduknya dan melempar tasnya kebelakang. Entah sengaja atau tidak mengenai kepala Vienna, hingga membuatnya hampir jatuh. Aku tidak tahu dia pura-pura tidak melihat, atau memang tidak melihat, ia melanjutkan perundungan yang sedang dilakukannya terhadap seorang lelaki yang dipanggil 'Jeruptor'.
"Uang hasil korupsi tidak seharusnya digunakan untuk sekolah disini, terlebih duduk di antara kami. Tidak sudi!"
Sebenarnya, aku tidak peduli dan tidak ingin mencampuri urusan mereka. Hanya saja tas yang dilempar oleh si tukang rundung tersebut mengenai seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Aku langsung berdiri saat melihat mata Vienna berkaca-kaca.
"Woy, sini kau, minta maaf dengan Vienna!" teriakku sambil menunjuk si tukang rundung yang aku tidak tahu namanya itu. Dia menoleh tajam ke arahku.
"Salah dia sendiri duduk di sana." Jawabnya angkuh. Aku kaget dengan jawabannya, tidak biasanya orang berani dengan Vienna. Mungkin berita Vienna dan Robert putus telah tersebar, atau mungkin karena Robert sudah tidak disini mereka jadi berani dengan Vienna, entahlah.
Dengan emosi yang memuncak aku ambil tas yang tadi dilemparnya, dan aku lemparkan tas itu ke kepalanya dengan keras. Kelas yang tadi ricuh karena perundungan yang terjadi terhadap Jeruptor kini senyap, kaget melihat yang baru saja terjadi.
"baik! Si Gondrong Taik!" ucapnya sambil berjalan ke arahku. Akupun langsung bersiap-siap untuk berkelahi. Lalu, seorang temannya memegang tubuhnya dan menghalanginya mendatangiku. Aku juga merasakan, sebuah tangan lembut sedang memegang tanganku.
"Ingat, sudah berapa kali kau diberikan sanksi Ben." Tersadar akan perkataan temannya, si tukang rundung tersebut menatapku tajam dan mengancam.
"Beruntung, ini jam sekolah. Aku tunggu kau di luar gerbang sekolah setelah jam sekolah selesai!" Ucapnya lalu kembali ke tempat duduknya.
Akupun lalu duduk juga dikursiku, aku usap kepalanya.
"Sakit?"
"Sudah tidak terlalu sakit lagi. Bagaimana sekarang Bim? Aku tidak ingin kamu berkelahi karena aku Bim. "
"Siapa bilang aku berkelahi karena kamu Vie? aku melakukan itu karena dia sudah menyakiti aku Vie."
"Yang terkena tas tadikan aku Bim"
"Ya, kalau kamu tersakiti, aku juga tersakiti Vie. Tidak perlu khawatir Vie, kamu kan tahu bagaimana kemampuanku" ucapku sombong untuk menghiburnya.
Seseorang datang, mengakhiri percakapan kami yang belum selesai ini.
"Terimakasih" Aku menoleh, ternyata Jericho, kini aku bisa melihat jelas wajahnya. Wajahnya lonjong, putih, bisa dibilang seorang yang tampan.
"Tidak perlu berterimakasih kepadaku, aku hanya melakukannya karena dia sudah melempar tas ke arah yang salah"
"Tetap saja, aku sudah pasti akan dirundung kalau bukan karena kau."
Lalu, dia menunjuk meja yang ada di depanku dan berkata :
"Boleh aku duduk disini?"
"Silahkan saja"
"Jericho" ucapnya sambil menjulurkan tangannya, setelah duduk.
"Bima" Ucapku sambil menjabat tangannya.
"Ini Vienna" Ucapku sambil menunjuk Vienna, dan Viennapun tersenyum sopan.
"Tentu saja, semua orang di sekolah ini tahu tentang Vienna."
Bu Anna, guru matematika masuk ke dalam kelas dan menyudahi obrolan kami. Ternyata, Anna akan menjadi wali kelas kami untuk satu tahun kedepan. Seperti biasa, beberapa jam pelajaran di hari pertama digunakan bukan untuk belajar, tapi untuk menyusun perangkat kelas, memberikan informasi tambahan seperti jadwal pelajaran, dan hal lainnya.
Tidak peduli, Aku dan Vienna menghabiskan waktu dengan berbicara dengan Jericho.

Beginilah informasi yang aku dapatkan dari Jericho.
Tinggal bersama seorang pembantu di sebuah rumah yang besar. Jericho, orang memanggil dia Jeruptor karena beberapa minggu setelah dia masuk ke sekolah ini, ayahnya yang merupakan mantan anggota DPR ditangkap KPK karena kasus korupsi. Semenjak saat itu dia selalu dirundung, terlebih oleh lelaki tadi yang bernama Aben. Seorang ketua dari sebuah kelompok penerus kelompok Robert. Tetapi, beruntung setelah beberapa bulan, rundungan mulai berkurang. Sayangnya, beberapa minggu yang lalu KPK baru saja memberitakan bahwa hukuman ayahnya akan diperpanjang, karena KPK menemukan kasus korupsi lainnya yang berhubungan dengan ayahnya. Jericho juga mengatakan, hampir semua murid B.I.S. tahu akan Vienna karena kecantikannya, dan karena Vienna adalah pacar dari Robert. Menurutnya juga, aku tidak pernah dirundung walaupun aku bukan dari golongan orang kaya, karena perawakanku yang dianggap banyak orang menyeramkan. Setelah aku timbang memang aku tidak pernah dirundung, lebih dianggap seperti seorang yang tidak terlihat. Menurutnya lagi, setelah kepergian Robert, Kevin salah satu dari lima sahabat dekat Robert kemungkinan besar akan menggantikannya sebagai ketua dari kelompok mereka.

Beberapa menit setelah Bu Anna selesai mengatur kelas ini, bel istirahatpun berbunyi dan murid-murid berhamburan keluar kelas. Tidak terkecuali aku, yang saat ini ingin menuju ke toilet bersama Jericho. Sedangkan Vienna memilih untuk tidur-tiduran di dalam kelas.
Saat aku menuju ke toilet, aku merasakan banyak tatapan mata memandangku. Mungkin berita tentang kejadian di kelas tadi sudah sampai ke murid-murid sekolah. Berusaha untuk menghiraukannya, aku tetap berjalan ke toilet bersama Jericho yang sepertinya merasa salah tingkah ditatap oleh banyak pandang mata.
Satu langkah keluar dari toilet, sebuah tangan muncul tepat di dadaku, menghalangi jalanku. Muncul si pemilik tangan, yang ternyata adalah salah satu dari lima orang teman Robert yang pernah aku lihat saat Robert mengundangku ke acara perpisahannya. Di belakangnya aku lihat empat orang lainnya berdiri dengan tatapan mata penuh kebencian.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 2 balasan
Lapor Hansip
20-09-2019 22:11
Balasan post notararename
konflik nih, banyakin berantem-berantemnya lah wkkwkwkw
profile-picture
notararename memberi reputasi
1 0
1
Lapor Hansip
20-09-2019 22:59
Balasan post notararename
Gak percuma menyandang nama Bima,berani dan jantan ya!
Tapi pasti bakalan berat kedepannya karena yg dilawan adalah kekuatan uang.
Makasih udah up date.Makin seru ceritanya,gan.
profile-picture
notararename memberi reputasi
1 0
1
21-09-2019 03:55
akan terjadi pertarungan nih untuk Bima
profile-picture
notararename memberi reputasi
1 0
1
Halaman 4 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
petualangan-indigo
Stories from the Heart
broken-heart
Stories from the Heart
petaka-batu-safir-kisah-nyata
Stories from the Heart
love-life-lost
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.