alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d737b37c820844e0149b49f/cinta-dua-generasi-novel-bukan-picisan
Lapor Hansip
07-09-2019 16:41
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Past Hot Thread
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Credit : pandaibesi666


Rasanya akan mengurangi keseruan cerita ini, jika kuberitahu cerita apa ini, maka lebih baik langsung saja ku ceritakan, dan silahkan membaca.

1. Prolog
Bima, biasa orang memanggilku. Ralat, setelah kutimbang, orang biasa lebih memilih untuk memanggilku si gondrong, itupun sangat jarang sekali mereka memanggilku. Hanya bunda, Koh Hendra pemilik toko kelontong tempatku bekerja, dan beberapa orang lainnya memanggil aku Bima. Ya, aku bukan orang yang mudah bergaul, dan juga kurasa tidak ada yang mau berteman denganku. Ini adalah hari ketujuh aku bersekolah di sekolah terbaik di Jakarta, atau mungkin tidak berlebihan jika kukatakan sekolah terbaik sekaligus termahal di Negri ini, Indonesia. Hanya anak dari pejabat-pejabat atau pengusaha kaya raya, yang mampu membiayai anaknya untuk sekolah disini, sekolah penghasil lulusan calon sukses, atau lebih dikenal dengan nama B.I.S. (Barata International School). Barata nama pemilik sekolah ini, seorang pengusaha kaya dan cerdas, setidaknya begitu yang kudengar dari bunda, Koh Hendra, dan siswa-siswa yang sedang bercengkrama satu sama lainnya di kantin. Sedangkan aku, duduk sendirian di pojok kanan kantin, tanpa ada satu orangpun yang sudi duduk denganku, barangkali karena tak ada yang tahu siapa itu Tabara pikirku, dan memang kenyataannya akupun tak tahu siapa itu Tabara,yang kutahu hanya itu adalah nama belakangku, dan bunda tidak pernah bercerita sedikitpun tentang ayahku. Lalu kembali aku memikirkan kejadian 7 hari yang lalu. Hari pertama aku bersekolah disini untuk melanjutkan pendidikanku setelat tamat dari smp."Halo, perkenalkan aku Bima Tabara." Ucapku ketika giliranku tiba, ya walikelas meminta kami untuk berdiri dan memperkenalkan nama masing-masing."Apa bidang pekerjaan ayahmu?" Tanya  siswa yang duduk di belakangku."Aku tak punya ayah" jawabku sedikit gemetar, entah sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan ini, tetapi tetap saja aku bergetar ketika ditanya tentang ayah. Bunda tidak pernah bercerita apapun tentang ayah. Pernah sekali aku bertanya padanya, hanya kemarahan dan amukan yang kudapat darinya. Tak pernah sekalipun aku melihat seperti apa bentuk wajah ayahku.
"Lantas, bagaimana dengan ibumu?"Tanyanya lagi. "ibuku adalah seorang tukang cuci di rumah tetangga." kurang dari setedik setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba saja seisi sekelas yang tenang berubah menjadi ricuh.
"bagaimana bisa dia bisa sekolah disini?" Dan masih banyak suara-suara lain yang sangking banyaknya, tidak dapat kutangkap semuanya.
"sudah-sudah, silahkan duduk, dan lanjutkan siswa sebelahnya"ujar sang guru, yang walaupun tidak membuat suasana kelas menjadi tenang seperti sebelumnya, tapi membantu mengurangi keributan didalam kelas yang terjadi karena aku.Terpikirla aku akan perkataan bunda.

"Apa benar tidak bisa bersekolah di tempat lain saja?" Tanya bunda, berbanding terbalik dengan ekspetasiku saat akan memberitahukan berita bahagia ini, bahwa aku mendapatkan  beasiswa di B.I.S., bukan beasiswa berupa potongan spp, tetapi benar-benar beasiswa penuh, dengan kata lain aku bisa belajar di sekolah terbaik di Negri ini, tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.
"Hanya sekolah ini bun yang bisa memberikanku beasiswa, lagipula kita tidak punya uang untuk membayar biaya sekolah sendiri, aku juga mungkin bisa melanjutkan studi  ke luar negri gratis dan memperbaiki keadaan kita bun."ucapku berseri-seri, bahkan Koh Hendra pun menyelamati aku ketika aku memberitahunya tentang berita ini. "Belajarla sungguh-sungguh, kelak ketika kamu sukses, jangan lupa dengan kokoh ya." pesannya.
"Bila memang itu maumu, yasudah..."

tteett....tteett....

Lonceng pertanda waktu istirahat habis membuyarkan kenanganku. Mungkin bunda tahu bahwa orang tak punya sepertiku mungkin akan kesulitan untuk bergaul di sekolah ini, sekolah para siswa yang katanya berpendidikan tinggi, dan kaya raya ini. Berdirila aku dan kutenteng roti yang tadi kubeli dan belum sempat kuhabiskan, dan berjalan menuju kelasku, X MIPA 3. Sesampainya di kelas aku langsung berjalan ke meja belakang pojok belakang kanan, entah kebetulan atau emang orang tanpa teman sepertiku diharuskan duduk di tempat yang tidak terlihat. Tetapi begitulah, berdasarkan denah tempat duduk yang sudah dibuat oleh walikelas, tempat dudukku adalah di paling belakang, sebelah kanan, sendirian.

1 minggu kemudian.....

Seperti biasa, walikelas masuk untuk memberikan briefing (sudah tradisi setiap pagi walikelas datang ke kelasnya masing-masing untuk memberikan informasi, ataupun wejangan-wejangan terhadap muridnya) walau lebih sering dilakukannya adalah memberikan nasihat nasihat picisan, seperti jagalah kebersihan sekolah, belajarlah sungguh-sungguh, dan masih banyak lagi.
"Hari ini, ada kedatangan siswi, direkomendasikan langsung oleh Herman Barata." Lantas bagaikan Dejavu dihari perkenalan aku 2 minggu yang lalu, terulang lagi kejadiannya. Suasa kelas menjadi ramai, dan akhirnya kudapatkan lah informasi. Singkatnya, sudah ada banyak isu-isu bahwa pacar dari Robert Barata, anak dari pemilik sekolah ini akan belajar disekolah ini. Kurasa hanya aku, yang tidak tahu siapa itu Robert Barata, sampai sekarang, baru aku tahu bahwa Heman Barata memiliki anak yang  memiliki prestasi luar biasa, dan sedang bersekolah juga disini, beda angkatan tapi. Ya, dia kelas 11. Tiba-tiba saja suasana kelas menjadi tenang, kuperhatikan wajah siswa-siswi di kelasku. Tak ada satupun yang berkedip, memandang ke depan, ke arah papan tulis. Bingung, akupun menoleh ke depan untuk melihat siapa gerangan yang bisa menenangkan kelas ini.

Memang bukan main cantiknya, hidungnya mancung, rambutnya panjang terurai lurus. Matanya tajam, siap menusuk siapapun yang menatap matanya yang bewarna cokelat itu. Badannya tidak kurus, juga tidak gembrot. Mukanya mulus, putih, seperti tidak pernah keluar rumah, dan pasti banyak uang dihabiskannya untuk perawatan pikirku. Benar-benar seperti Apsara (baca:bidadari) yang biasa kubaca di buku novel.
"Halo, perkenalkan namaku, Vienna."
Astaga, bahkan suaranya pun bisa menghiphotis siapapun yang mendegarnya, lembut dan halus. Berbanding terbalik dengan yang aku alami, tak ada satupun orang yang bertanya pekerjaan orangtuanya, nama belakangnya-pun tak ada yang berani tanya. Mungkin karena kecantikannya, murid menjadi tidak peduli dengan latar belakangnya, mungkin juga karena dia adalah pacar Robert, sehingga tak ada yang meragukan latar belakangnya.


buat yang mau baca via wattpad

Chapter I
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Chapter II
10.
11.
12.
Diubah oleh notararename
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 6
12-09-2019 19:16
Quote:Original Posted By yoshinagaku
TERNYATA satu bangku, satu perusahaan, hanya beda pabrik aja..
lanjut suhu..


Maksudnya?😂
profile-picture
michaaaaa memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
12-09-2019 20:12
Balasan post notararename
Salam kenal,gan/sis?
Salah satu recommended thread nih. Gaya penulisannya kayak novel2 terjemahan luar negeri.
Ane harap bisa mengikutinya sampai selesai.
emoticon-Menang
0
13-09-2019 11:10
Numpang neduh gannemoticon-Toast
0
13-09-2019 21:26
Quote:Original Posted By jiyanq
Salam kenal,gan/sis?
Salah satu recommended thread nih. Gaya penulisannya kayak novel2 terjemahan luar negeri.
Ane harap bisa mengikutinya sampai selesai.
emoticon-Menang


Gan, sebenernya mau dbkin kayak ala-ala novel klasik gitu.emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
michaaaaa dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
13-09-2019 21:51
Balasan post notararename
Maksudnya mungkin gini gan... Si Vie sama Tabara itu adik kakak.. tapi beda ibu..
Maaf kalo salah namanya juga tebak tebak buah manggis...
emoticon-Cendol Gan emoticon-Ngacir emoticon-Ngacir
0
14-09-2019 10:36
Quote:Original Posted By ngaburr
Maksudnya mungkin gini gan... Si Vie sama Tabara itu adik kakak.. tapi beda ibu..
Maaf kalo salah namanya juga tebak tebak buah manggis...
emoticon-Cendol Gan emoticon-Ngacir emoticon-Ngacir


Ahsyappemoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 2 lainnya memberi reputasi
3
14-09-2019 13:01
Lanjut Gannemoticon-Blue Guy Peace
0
Lapor Hansip
14-09-2019 13:33
Balasan post notararename
Hayu lah...Lanjut..emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan
0
14-09-2019 14:31
7. Setelah kejadian malam itu, bunda bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, maka akupun mencoba bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa juga.
"Hati-hati Bim" Pesan bunda, setelah aku pamit untuk pergi ke sekolah.
Akun pun lalu menggowes sepeda menuju ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku memakirkan sepedaku di parkiran motor yang sepi, karena kebanyakan murid berangkat ke sekolah diantar sopir, ataupun dengan menggunakan mobil sendiri. Seperti biasa para murid menyambut aku dengan pandang mata. Meski sudah hampir setahun aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, sepertinya mereka masih saja menganggap orang yang berangkat ke sekolah dengan sepeda sebagai sesuatu yang aneh.

Baru beberapa langkah aku berjalan untuk menuju ke kelas, kudengar Vienna memanggil namaku, aku menoleh ke belakang, dan kulihat dia melambaikan tangannya kepadaku dari gerbang sekolah, dibelakangnya kulihat mobil yang sama yang menjemputnya semalam berlalu pergi.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Emang harus ada apa-apa baru boleh menyapa seorang teman?"Jawabnya. Aku hanya menjawab dengan senyuman.
Saat ini, aku dan Vienna sedang berjalan bersebelahan menuju ke kelas. Jujur saja aku merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, karena aku merasakan banyak pandang mata dan bisikan-bisikan dari murid yang kutemui.
"Jangan hiraukan mereka Bim."Ucap Vienna, menyadari bahwa saat ini kami sedang menjadi pusat perhatian para murid.
"Tentu saja." Bohongku.



-----



Makin hari, makin dekat hubunganku dengan Vienna. tak terasa, Ujian Akhir Semester baru saja selesai, kulihat semua murid dalam kelasku tertawa gembira karena mereka akan terbebas dari belajar dan berlibur selama satu bulan. Kecuali aku, dan gadis yang sedang duduk di sebelahku, yang tidak tertawa gembira seperti murid yang lain.

Sejujurnya, aku merasa sedikit kecewa karena rasanya baru sebentar aku memulai pertemanan dengan Vienna, tapi sudah harus berpisah. Dan untuk vienna, aku menerka mungkin dia tidak tertawa karena sebentar lagi dia akan berpisah dengan kekasihnya. Walaupun, jujur, sedikit aku berharap dia kecewa karena akan berpisah denganku, tapi aku tahu itu merupakan hal yang tidak mungkin, siapa aku dibandingkan Robert Barata.
"Tidak terasa bulan depan kita sudah naik kelas sebelas" Ucapku.
"Iya, semoga saja kita bisa berada di kelas yang sama lagi."
"Iya, semoga. Kalau begitu aku pulang dulu Vie, sampai ketemu bulan depan."
"Tunggu, tadi pagi Robert bilang ingin berbicara denganmu Bim"
"Robert kekasihmu?"
"Iya."
"Dimana?"
"Katanya dia akan datang ke kelas setelah ujian, mungkin sebentar lagi dia akan datang Bim."
"Kenapa dia ingin bicara denganku?" tanyaku lagi. Belum sempat Vienna menjawab, suasana kelas yang tadi sedikit ricuh karena para murid yang sedang memamerkan rencana liburannya satu sama lain, berpamitan satu sama lain, atau membahas ujian yang baru saja selesai, menjadi diam. Aku dan Vienna pun ikut diam, dan menoleh untuk mencari tahu penyebab murid kelas menjadi sunyi. Ternyata, Robert diikuti oleh 5 orang temannya memasuki kelasku, dan menuju ke arah mejaku. Aku dan Vienna berdiri dari tempat duduk, untuk menyambut Robert.
"Robert." Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
"Bima." Ucapku lalu menjabat tangannya.
"Kata murid-murid, kau adalah pacar barunya Vienna, benar begitu?" Katanya, disusul dengan bisikan-bisikan dari murid kelasku.
"Robert!!" Geram Vienna.
"Tentu saja tidak, aku dan Vienna hanyalah teman, tidak lebih. Jangan percaya dengan gosip murahan yang dibuat oleh murid-murid sekolah." Jawabku. Robertpun tertawa.
"hahaha, aku hanya bercanda Bim, tidak mungkin aku percaya akan gosip-gosip murahan seperti itu. Aku percaya dengan Vienna." ucapnya lalu menggenggam tangan Vienna. Melanjutkan,
"Semenjak pertama kali aku kenal dengan Vienna, aku tidak pernah melihatnya berteman dengan siapapun, ini adalah pertama kalinya aku melihat Vienna berteman dengan seseorang" Perkataannya, membuatku terbelalak. Tidak pernah aku sangka, kalau Vienna ternyata kurang lebih sama sepertiku, tidak mudah bergaul dan barangkali tidak suka bergaul. Lantas, mengapa ia ingin berteman denganku?....
"Robert!!" Geram Vienna lagi. Robert melanjutkan, menghiraukan Vienna,
"Maka, aku ingin mengundangmu untuk datang ke acara perpisahan kecil-kecilan yang kubuat dalam rangka kepergianku ke Amerika sebentar lagi. Aku harap kau bisa datang Bim, besok pukul tujuh malam di rumahku. Aku ingin lebih mengenal teman dari kekasihku." Pintanya.
"Akan aku usahakan." Tolakku sopan, tentu saja aku tidak akan datang, selain aku tidak suka keramaian, aku juga sadar aku hanya akan jadi bahan omongan murid lain jika aku datang,
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengirimkan sopir untuk menjemputmu, memastikan agar kau datang. Bisa kau ketikkan alamatmu?" Ucapnya, sambil menyodorkan ponselnya.
Ragu, aku melihat Vienna menganggu mengangguk kepadaku. Maka, aku ambil ponselnya dan aku ketikkan alamatku.
"Baiklah, aku akan menyuruh sopir untuk menjemputmu sekitar jam 6. Kalau begitu kami pulang dulu Bim." Pamitnya, lalu merangkul Vienna dan berjalan keluar kelas, disusul teman-temannya dan bisikan murid kelasku yang kaget akan undangan Robert kepadaku.


"Menurutku, yang dikatakan oleh murid-murid bukanlah gosip, tapi fakta yang tertunda." Ketus Meisha. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengajari Meisha berubah menjadi waktu bercerita. Setelah aku menceritakan sedikit peristiwa yang terjadi di sekolah, Meisha malah mendesakku untuk menceritakan se-lengkap mungkin bagaimana aku bisa menjadi dekat Vienna. Mulai dari kejadian saat Vienna diganggu preman jalanan, Vienna memintaku mengajarinya beberapa materi ujian, hingga akhirnya Robert mengundangku ke acara perpisahannya.
"Aku memang berharap begitu, hahaha" ucapku bercanda, atau mungkin memang berharap.
"Sudah pukul lima lebih. Sebaiknya kau pulang kalau begitu kalau tidak mungkin harapanmu tidak akan terwujud." Kata Meisha dengan nada marah yang begitu terasa, lalu dia berdiri dan berlari menujur kamarnya. Kususul, kuketok pintunya.
"Pulanglah!" Teriaknya.
"Aku hanya bercanda Mei, lagipula kenapa kau marah?"
"Aku tidak marah, aku hanya sedang lelah Bim, pulanglah dan bersiap-siap." Ucapnya kini bukan teriakkan, suaranya lirih hampir seperti menangis.
"Baiklah kalau begitu, Beristirahatlah Mei, aku pulang dulu." Kutunggu sebentar menunggu jawaban, tetapi ia tidak menjawab. Tidak ingin mengganggu Mei, aku memilih untuk pulang dan bersiap-siap.


Kulihat diriku di depan kaca, kulihat seorang pria hampir dewasa, becelana jeans murah, dan kemeja yang sudah sedikit kekecilan. seorang pria berkulit putih, dengan hidung maju kedepan dan mungkin kalau boleh jujur, bisa dikatakan rupawan. Rambutnya panjang sebahu, terakhir kali dia memiliki rambut pendek adalah saat dia berumur enam tahun. Setelah itu, bunda selalu melarangnya memiliki rambut pendek entah untuk alasan apa.
Inilah perawakanku, Bima Tabara.


Pukul 6.30 tepat, Vienna mengirimkan pesan, mengabari kalau sopir yang menjemputku telah tiba, dan sedang menunggu ditempat yang sama saat menjemput Vienna dulu. Aku lalu berpamitan dengan bunda, memang awalnya bunda kaget sekaligus senang ketika aku mengatakan kalau aku akan pergi ke acara perpisahan seorang teman, karena biasanya aku tidak pernah pergi, atau lebih tepatnya tidak pernah diundang ke acara apapun. Bunda hanya berpesan untuk berhati-hati dan tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah. Lalu, aku berjalan keluar lorong ke jalan raya, kulihat mobil yang menjemputku ternyata mobil yang sama yang menjemput Vienna. Aku buka pintu depan, dan duduk. Kulihat ternyata sopirnya juga sopir yang sama, kini aku bisa melihat wajahnya dari dekat, aku tambah yakin kalau aku pernah melihat sopir ini. Entah kapan dan dimana, aku sangat merasa familiar dengan wajahnya dan rambut botaknya. Suaranya membuyarkan pikiranku.

"Duduk dibelakang saja, tuan." Ucapnya sopan, sambil tersenyum gugup.
"Tidak apa-apa aku lebih nyaman duduk di depan, panggil saja aku Bima. Pak...?"
"Ahmad." Jawabnya.
"Baiklah, Pak Ahmad."
Mobilpun berjalan, dan disepanjang perjalanan, aku menangkap beberapa kali Pak Ahmad diam-diam melirikku melalu kaca spion. Mungkin dia bingung siapa aku sampai-sampai harus dijemputnya. Tidak ingin ambil pusing, aku abaikan lirikannya dan memilih untuk melihat jalanan. Lima belas menit berlalu, jalan raya yang ramai, berubah menjadi jalanan yang sepi. Gedung - gedung tinggi, berubah menjadi pohon-pohon tinggi yang rimbun. Sedikit aku berprasangka, jangan-jangan ia hendak membunuhku karena aku dekat dengan Vienna. Segera aku tepis prasangka buruk itu, karena sekalipun ia mencoba membunuhku, aku yakin aku bisa mengalahkan Pak Ahmad, umurnya mungkin sekitar enam puluh. Beberapa menit berlalu, aku lihat dibalik pohon-pohon tinggi nan rimbun, sebuah rumah, ralat sebuah istana berwarna putih. Dari kejauhan orang sudah bisa melihat istana milik Herman Barata, aku sungguh takjub melihat tempat tinggalnya yang sangat besar.
Mobilpun memasuki gerbang besar yang terbuka untuk para tamu, lalu memutari air mancur di tengah lapangan yang melingkar. Mobil berhenti tepat di depan istana megah.
"Sudah sampai tuan." Aku mengerutkan dahiku.
"Sudah sampai Bima." Ucapnya gugup, menyadari kesalahannya.
"Baiklah, terimakasih Pak." Akupun turun dari mobil mewah ini, dan sekali lagi aku takjub akan kemegahan istana ini. Dari dekat semakin terlihat jelas betapa besarnya tempat ini. Banyak mobil mewah terpakir di halaman, entah itu mobil milik teman Robert yang hadir di acara ini, ataupun mobil milik Herman Barata sendiri. Beberapa orang becengkrama satu sama lain, yang pria menggunakan jas, yang wanita menggunakan dress, beberapa bergandengan tangan masuk ke dalam. Kurasakan beberapa mata menatapku, mungkin karena aku adalah satu-satunya yang tidak menggunakan pakaian mewah seperti mereka. Kucoba untuk mengabaikan perasaan tidak nyaman ini, dan melangkah masuk ke dalam.
Semakin takjub, aku melihat keindahan isi rumah ini. Memang aku tidak mengerti tentang keramik, tapi aku yakin bahkan keramik yang digunakan di tempat ini merupakan keramik dengan kualitas yang terbaik. Beberapa chandelier terpasang di langit-langit, menambah kesan mewah. Di tengah terdapat tangga bewarna emas. Tapi tidak ada yang menaiki maupun menuruni tangga tersebut, sepertinya itu adalah tempat tinggal keluarga Herman Barata.
Aku melihat, beberapa orang sedang mengambil makanan, ada yang memilih duduk dan bercengkrama satu sama lain, beberapa pelayan menawarkan minuman ataupun makanan kepada para tamu, bahkan pelayan disini pun menggunakan jas. Sedikit malu, Aku memilih untuk duduk di salah satu sofa kosong yang berada di ujung. Bahkan walaupun duduk di pojokpun, aku masih merasakan banyak mata menatapku, seakan aku tidak cocok berada di tempat seperti ini, bahkan pelayanpun seakan enggan untuk sekedar menyapa atau menawarkan minuman atau makanan. Beberapa menit berlalu, aku masih tidak melihat tanda-tanda kehadiran Robert maupun Vienna. Bosan, aku memilih untuk berdiri dan berjalan-jalan. Aku ingin melihat keindahan tempat ini lebih jauh. Di kanan, terdapat pintu kaca menuju ke sebuah kolam berenang. Aku melihat beberapa orang sedang barbeque-an. Entah mengapa, aku merasa sangat familiar di rumah ini. Tanpa sadar tubuhku bergerak ke arah kiri, dimana terdapat koridor panjang. Aku berjalan, terus berjalan sendiri. Entah mengapa aku bergerak ke sini, padahal tidak ada seorangpun disini.
Di ujung koridor, terdapat dua pintu kayu. Tanpa sadar, aku membuka pintu di sebelah kanan. Ternyata, sebuah koridor lagi, tetapi di kiri kanan terdapat berbagai pintu, dengan sebuah angka di atas masing-masing pintu. Lagi-lagi seakan sudah biasa aku lakukan, aku berjalan ke sebuah pintu dengan angka 07 diatasnya, lagi-lagi aku merasa dejavu, pintu ini, angka ini seakan ini bukanlah pertama kalinya aku kesini. Baru saja ingin kubuka, terdengar suara yang tidak asing bagiku.
"Aku harap kau bisa melupakanku." Suara lembut itu, aku yakin itu adalah suara Vienna.
"Apa maksudmu? Apakah setelah sekian lama kau masih belum bisa memaafkanku?" Suara itu, aku yakin adalah suara Robert.
"Jangan bahas itu Rob! jika kau memang mencintaiku tidak seharusnya kau melakukannya saat itu. Dan sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu! kau biadab Rob." teriak suara Vienna, hampir menangis.
"Aku melakukannya karena aku begitu mencintaimu Vie, dan saat itu kita memang berpacaran. Waktu itu kau bilang kau sudah memaafkanku. Mengapa tiba-tiba kau menjadi begini Vie? Jangan memintaku melupakanmu Vie, aku mohon. Aku sangat mencintaimu, aku berharap setelah tamat sma kau akan menyusulku ke Amerika, dan kita bisa menikah disana." Suara Robert kini melembut. Kata-kata menikah dan menyusul ke Amerika, membuat hatiku sedikit panas.
"Sebenarnya, aku tidak pernah mencintaimu, aku juga tidak pernah memaafkan kejadian saat itu. Pergilah ke Amerika, dan lupakan aku." Teriak Vienna.
"Jangan bilang kau tidak mencintaiku, aku tahu kau mencintaiku Vie!"
"Tidak Rob, aku tidak pernah mencintaimu, bahkan sebelum kejadian itu aku tidak mencintaimu, dan setelah kejadian itu, aku menjadi membencimu!"
"Tidak Vie, Tidak! kau hanya boleh mencintaiku" Bentak Robert. Terdengar suara barang jatuh dan suara tangisan wanita. Segera aku membuka pintu, tidak ingin sesuatu terjadi kepada Vienna.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Lihat 2 balasan
Lapor Hansip
14-09-2019 16:20
Balasan post notararename
Kentangnya jatuh...
0
14-09-2019 20:30
updateee👍👍
0
15-09-2019 10:25
ahhh post nya setengah" ga seru gan
0
Lapor Hansip
15-09-2019 11:57
Balasan post jiyanq
Quote:Original Posted By jiyanq
Kentangnya jatuh...


iya nih, kentang kentang
0
15-09-2019 12:29
8. Emosiku memuncak, saat melihat Robert sedang mencium paksa Vienna yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk menolak sambil menangis. Langsung saja, aku menarik tubuh Robert dan memukul wajahnya. Aku lihat Vienna rambutnya berantakan, makeupnya berantakan karena air matanya. Melihat air mata Vienna, membuatku kembali bersemangat memukul Robert. Kembali aku lihat Robert yang sedang berusaha berdiri dari lantai.
"Apa yang kau lakukan disini?" Teriaknya.
"Apa yang kau lakukan terhadap Vienna?" Teriakku balik kepadanya.
"Bukan urusanmu." Robert, melihat kearah Vienna, berkata :
"Apakah Bima yang membuatmu tidak mencintaiku lagi? dasar murahan tidak tahu diri, sudah banyak yang aku berikan untuk kau. Tapi kau malah...." Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, aku yang melihat tangisan Vienna makin deras, langsung memukul wajahnya lagi, tapi tanpa kuduga ternyata ia menangkis pukulanku dan memukul perutku. Pukulannya lumayan keras, membuatku tersungkur ke lantai. Dia langsung mengambil kerahku dan memukulku. Kutendang perutnya, kini ia tersungkur. Aku langsung bediri, kuambil kerahnya dan memukulnya membabi buta, sampai teriakkan sebuah suara wanita yang lagi-lagi tidak asing terdengar.
"Hentikan!" Masih belum puas, aku melanjutkan memukul Robert.
"Sudah, hentikan Bim" Suara lirih Vienna, membuatku seakan terhipnotis, dan menghentikan pemukulan ini. Lalu kulihat seorang wanita paruh baya, yang tadi menyuruhku berhenti langsung menghampiri Robert dan mengangkatnya. Sebelum pergi Robert menatapku tajam, seakan mengancam.
Vienna masih duduk bersandar di dinding. Nafasnya masih tidak teratur, meski air matanya sudah berhenti mengalir, badannya gemetar seperti dimalam dia diganggu preman jalanan. Aku langsung duduk disebelahnya, kupeluk dirinya. Kutepuk-tepuk punggungnya, mencoba menenangkan. Disenderkan wajahnya di bahuku, kini ia mulai menangis lagi. Setelah puas menangis, dan membasahi bajuku ia mengangkat kepalanya, dan berkata :
"Terimakasih Bim."
"Tentu saja, apa yang baru saja terjadi Vie?" Vienna terdiam, dan berkata
"Maaf Bim, tapi aku belum siap untuk menceritakan." Ucapnya sambil menunduk.
"Tidak apa-apa Vie, kapanpun kamu merasa siap untuk menceritakan penderitaanmu, aku akan mendengarkan Vie." Vienna mengangguk pelan, masih menunduk.
Pintu terbuka, kini aku melihat wanita yang tadi membantu Robert datang menghampiri kami. Raut mukanya marah, mengerikan, seakan siap menerkam siapapun.
"Siapa kau? datang-datang langsung membuat onar! Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? memukul anak dari Pak Herman. Dan juga bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Akupun berdiri dan menjawab.
"Maaf, tapi tidak akan kubiarkan siapapun menyakiti Vienna, siapapun itu! Termasuk Robert Barata!" Geramku.
"Kau kira kau itu pahlawan? Dengan memukul Robert, terlebih dengan alasan melindungi Vienna, kau malah akan membuat Vienna menderita! Apa kau tahu apa yang sudah kami lalui untuk dapat bertahan? Lalu tiba-tiba kau datang dan menghancurkan segalanya!"
Vienna berdiri di sebelahku, dan berteriak.
"Ma! Vienna sudah lelah dengan permainan mama. Mama seolah-olah melindungi Vienna, tapi sebenarnya mama hanya tidak ingin hidup menderitakan!" Ucapan Vienna membuatku kaget, ternyata wanita ini adalah orang yang sudah melahirkan Vienna.
"Omong kosong macam apa itu Vie? Kamu hanya perlu bertahan dua minggu lagi, tapi temanmu ini malah menghancurkan segalanya!"
"Apa mama tahu? kalau Bima tidak ada disini, kejadian satu tahun yang lalu hampir terulang lagi." Suara Vienna bergetar saat mengatakan kejadian satu tahun yang lalu.
Mama Vienna terdiam, mukanya sekarang menjadi lebih menyeramkan dari yang sebelumnya setelah mendegar perkataan Vienna. Tangannya mengepal keras, sedangkan aku terdiam bingung, berusaha mencerna apa yang telah terjadi, dan apa kejadian yang telah terjadi kepada Vienna.
"Maafkan mama Vie." Ucap wanita itu lalu memeluk Vienna. Mereka berdua menangis deras, meluapkan emosi yang sudah lama mereka pendam.

Kini, aku, Vienna, dan Mama Vienna, yang ternyata bernama Ningsih itu sedang duduk di ruangtamu di dalam kamar ini. Ya, ini adalah kamar untuk pelayan. Dan baru aku sadari, kamar ini sedikit lebih besar dan jauh lebih nyaman dibandingkan tempat tinggalku.
Setelah sekitar tiga puluh menit berbicara. Aku sangat kaget dengan informasi yang aku dapatkan. Ternyata, Ningsih adalah kepala pelayan di rumah ini, dan selama ini Vienna tinggal disini dengannya. Vienna, menceritakan tentang diriku dari awal pertemuan kami, sampai kejadian hari ini.
"Lalu, bagaimana kau bisa sampai ke ruangan ini?" tanya Ningsih, kini nada suaranya lebih ramah dari sebelumnya.
"Entahlah, hanya saja aku merasa tidak asing dengan tempat ini, seakan aku sudah pernah kesini sebelumnya."ucapku ragu.
Mama Vienna lalu menatap wajahku dalam-dalam, mengobservasi wajahku. Lalu ia bertanya.
"Apa nama lengkap ibumu adalah Wulan Lestari?"
"Bagaimana tante bisa tahu nama lengkap bunda?" tanyaku kaget, sekaligus membenarkan pernyataannya. Kulihat Mama Vienna, dan Vienna membelalak seakan tidak percaya.
"Ada apa?kalian mengenal bundaku?"
"Tentu saja, bundamu adalah sahabatku." Terdiam sesaat, Ningsih melanjutkan.
"Pantas saja, aku merasa tidak asing dengan wajahmu. Perpaduan antara wanita cantik dan pria tampan." Matanya menatapku takjub.
"Apa tante tahu siapa ayahku?" tanyaku semangat. Ningsih terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Maaf, tante tidak tahu siapa ayahmu."
"Lalu, bagaimana tante tahu ayahku adalah seorang yang tampan."
"Bundamu yang bilang, tante tidak pernah tahu siapa ayahmu." Ningsih mengalihkan topik pembicaraan.
"Dulu, Wulan adalah kepala pelayan. Tetapi ia berhenti dan meninggalkan tempat ini saat kau berumur enam tahun."
"Mengapa?" Tanyaku penasaran. Aku lihat, Ningsih lagi-lagi ragu untuk menjawab.
"Aku kurang tahu tentang alasannya." Jawabnya, lalu diapun buru-buru pergi dengan alasan pekerjaan.
Aku lihat Vienna, matanya berseri-seri senang.
"Kau tidak ingat?"tanyanya semangat. Vienna menjelaskan.
"Kita adalah sahabat, selalu bersama-sama semenjak lahir. Aku sudah menganggap mamamu sebagai mamaku sendiri. Mama Wulan sangat baik kepadaku, itulah sebabnya malam itu aku ada disana. Tanpa sengaja aku mendegar percakapan Pak Ahmad dengan Pak Herman tentang seseorang yang bernama Wulan tinggal di daerah B, tempatmu tinggal. Maka aku memutuskan untuk pergi kesana, dengan harapan dapat bertemu denganmu dan Mama Wulan. Aku tidak tahu pasti mengapa Pak Herman membicarakan kepala pelayan yang sudah berhenti kurang sepuluh tahun yang lalu. Jadi, aku memutuskan untuk menyelidiki sendiri, itulah mengapa aku pergi sendirian malam itu. Tapi, sayangnya saat itu bundamu sedang tidak di rumah." Vienna menjelaskan dengan penuh semangat.
"Lalu, mengapa kau tidak mengenali namaku?"
"Dari dulu, semua orang memanggilmu Bara. Aku tidak tahu kalau nama lengkapmu ternyata Bima Tabara."
Memori-memori masa lalu kini berlalu-lalang di dalam kepalaku. Perlahan-lahan aku mulai mengingat potongan-potongan memori masa kecilku. Aku ingat rumah ini, semuanya masih sama seperti terakhir kali aku disini. Hanya saja, kini tidak ada lagi foto Maya Barata, istri dari Herman Barata bertebaran di dinding rumah ini.
"Lalu, lukisan yang selalu kau bawa itu siapa? Seingatku, rambutku dulu pendek tidak panjang."
"Sepertinya sudah banyak yang kau lupakan Bim. Setahun setelah kau pergi, kau diam-diam pergi kesini untuk menemuiku. Saat itu rambutmu sudah panjang, aku hampir tidak mengenalimu."
Kini, semakin jelas memori masa kecilku. Aku ingat, saat aku berjalan kaki jauh-jauh hanya untuk menemui seorang sahabat. Aku ingat, saat aku diam-diam menyelinap masuk ke kamar Vienna hanya untuk bermain dengannya. Aku ingat hari terakhir aku bertemu Vienna, ketika aku kembali ke sini sendirian saat berumur tujuh tahun. Vienna mengatakan ingin melukis diriku, sebagai pengingat tentang diriku, seandainya kami tidak akan bertemu lagi. Aku juga ingat, Pak Ahmad, ya tidak salah lagi dialah yang membawaku pergi dari rumah ini dan membawaku kembali ke bunda. Aku jugat ingat pesannya, jangan pernah kembali ke tempat ini, setidaknya sampai dia datang menjemput. Aku menunggu janjinya, setiap hari sampai-sampai aku lupa janjinya untuk menjemputku.
"Aku ingat Vie, aku ingat sekarang Vieeeeee" Ucapku lalu memeluknya erat-erat. Vienna membalas pelukanku, dan kamipun tertawa bersama.
Sekarang ini, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada bunda, Pak Ahmad, Ningsih, Vienna, tetapi mungkin akan aku simpan pertanyaan itu untuk lain waktu.


-Seperti bayangan selalu menemukan pemiliknya saat matahari beranjak pergi. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya.
Diubah oleh notararename
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
15-09-2019 13:12
Balasan post notararename
Tebakan ane ibunya Vienna tahu siapa ayahnya Bima,dan tebakan ane juga ada hubungan sama Robert deh..
Sorry,gan...
Keep up date ya..emoticon-Cendol Gan
profile-picture
notararename memberi reputasi
1
15-09-2019 14:30
Tulisannya enak dibaca gan, ceritanya mantab bikin penasaran, lanjut gan emoticon-Sundul Gan (S) emoticon-Sundul Gan (S) emoticon-Sundul Gan (S)
profile-picture
notararename memberi reputasi
1
15-09-2019 14:54
Mantul gannemoticon-Toast
profile-picture
notararename memberi reputasi
1
15-09-2019 15:28
Semakin menarik aja nih ceritanya...
emoticon-Jempol
profile-picture
notararename memberi reputasi
1
15-09-2019 15:31
Hmm update gan, keren ceritanya. emoticon-Cendol (S) emoticon-Cendol (S)
profile-picture
notararename memberi reputasi
1
15-09-2019 15:32
Quote:Original Posted By michaaaaa
Tulisannya enak dibaca gan, ceritanya mantab bikin penasaran, lanjut gan emoticon-Sundul Gan (S) emoticon-Sundul Gan (S) emoticon-Sundul Gan (S)


Quote:Original Posted By nurcahya7
Mantul gannemoticon-Toast


Quote:Original Posted By kingd4ddy
Semakin menarik aja nih ceritanya...
emoticon-Jempol


Quote:Original Posted By soleh1177
Hmm update gan, keren ceritanya. emoticon-Cendol (S) emoticon-Cendol (S)


makasih agan-agan sekalianemoticon-Wowcantik

emoticon-Wowcantik
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Halaman 3 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
dua
Stories from the Heart
dibatasi-jendela-kamar
Stories from the Heart
let-me-tell-you-a-story
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.