alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4d9cb1f0bdb23c2651cbef/bagai-mencari-jerami-di-tumpukan-jarum-bb17
Lapor Hansip
09-08-2019 23:17
Bagai Mencari Jerami di Tumpukan Jarum [BB17+]
Past Hot Thread
Quote:
Bagai Mencari Jerami di Tumpukan Jarum [BB17+]


Siang hari di Marina Bay Sands lantai 57, beberapa hari yang lalu.

Aku keluar lift tergesa-gesa menuju lokasi yang telah ia tentukan. Katanya ia sudah menunggu di sana lebih dari satu jam. Sesampainya aku di teras rooftop, tampak ia sedang duduk sendiri menikmati minumannya. Aku bergegas menghampiri jejeran tempat duduk dengan payung merah di atasnya.

“Sorry for coming late,” ucapku seraya menggeser kursi dan mengambil tempat di seberangnya.

“Takpe, lah. Sejam je pun,” jawabnya sambil tersenyum. “Cemane kabar awak (kamu)?”

“Kabar baik. Awak dah pesan makan?” tanyaku sambil mengamati sekitar mencari keberadaan waiter.

“Belum, minum je,” ia mengangkat sedikit minumannya.

“Tomato juice?” tanyaku sembari mengamati minuman berwarna merah miliknya.

“Bloody mary. Awak nak?”

“Tak lah, haram.”

Ia tertawa kepadaku. Tak berapa lama seorang waitress mendatangi kami dan meletakkan dua buku menu di atas meja. Kami membolak-balik halaman sebentar, lalu menentukan pilihan. Ia memesan chicken teriyaki dan seporsi baked cheese shrimp, sementara aku mee Siam dengan ekstra telur dan blue Hawaiian.

“Haram?” tanyanya sambil terbahak-bahak saat kupesan minumanku.

“Rasuah (korupsi) pun haram, tapi ramai jugak orang nak buat. Same je lah,” jawabku asal-asalan.

Semakin terbahak-bahak ia mendengar penjelasanku. Sementara itu, dengan sopan waitress mengulang pesanan kami satu per satu. Terdengar accent yang familiar di telingaku.

“Orang Indo ya?” tanyaku refleks.

Waitress itu tersentak sambil tersenyum, “Ya, Kak. Tadi kukira orang sini atau Malaysia. Soalnya ngomongnya Melayu banget.”

“Hehe bukan. Aku orang Jakarta, kok. Ini lagi main sama teman dari Malaysia.”

“Oh, iya ya,” waitress itu tersenyum malu-malu menatap kami berdua.

Ia mengulang pesanan kami untuk kedua kalinya, lalu izin ke belakang setelah semuanya jelas dan tepat.

“Eh, awak ni mesti laju sangat tadi, kan? Jakarta-Singapore tu dua jam, tambah sikit MRT dari Changi kat sini beberapa minit je. Apa pulak awak tiba lebih awal satu jam, hah? Melaka ke Singapore tu tiga jam tau,” cerocosku geram.

“Macam ni lah Michael Schumacher,” jawabnya seraya mengusap poni dengan gaya sok keren.

“Dah gila rupanye Michael satu ni,” aku terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Tak lah. Tak de jem (macet), gerak awal jugak. So how are you doing? What are you doing now?”

“I’m fine, thanks. Penat sikit. Ofis nak buka cabang kat Surabaya. Sooo ya macam ni lah.”

Kami saling menatap. Ia memasang tampang manis sekali. Kemeja biru laut lengan panjang yang ia kenakan membuatnya terlihat elegan. Ia melipat lengan panjang hingga batas siku yang menambah tingkat kedewasaan lelaki yang dulu pernah menjalin asmara denganku. Rambut classy haircut juga menunjukkan kalau kini ia lebih rajin merawat diri. Tanpa berkata apa-apa dengan senyum irit, matanya terus memburu wajahku. Michael Jiang berhasil membuatku sangat salah tingkah.

“Ape lah awak ni,” kataku memecah keheningan.

“Cantik sangat awak hari ni,” ia memujiku tanpa malu-malu.

“Banyak cucuk (suntik) hormon semalam (kemarin),” jawabku datar.

“Ye ke? Boleh macam tu?” tanyanya risau sembari memajukan badannya sedikit.

“Tak lah, gurau je hahaha.”

Ia kembali bersandar dengan raut kesal. Sesungguhnya apa yang kubilang adalah benar. Beberapa minggu terakhir ini aku memang intensif melakukan terapi hormon lebih dari dosis biasanya demi terlihat menarik di matanya hari ini. Sebagai seorang interseks dengan subspesimen langka, lambat laun tubuhku akan berubah menjadi dominan lelaki jika tidak diberi penanganan khusus. Harus ada sesuatu untuk menghambat dan membuatku tetap sebagai perempuan.

Beberapa menit kemudian waitress bersama seorang temannya mengantar pesanan ke meja kami. Mereka undur diri setelah sebelumnya berpesan agar memanggil mereka jikalau membutuhkan sesuatu. Kami mengucapkan terima kasih, lalu mereka beringsut pergi.

“Mane?” tanyaku sambil menikmati suapan pertama.

“Ape?” ia bertanya balik.

“Wedding invitation letter.”

“Mesti sekarang ke?”

“Awak nak jumpa ngan aku pasal tu, kan?”

“Nanti je lah, macam tak de bahan lain,” katanya sedikit jengkel.

Kami menikmati makan siang dalam diam. Sesekali kulempar pandangan ke seberang gedung mengamati cakrawala yang hampir tertutup hutan beton di area Downtown Core. Merlion di bawah terlihat bak mutiara, mini dan berkilau oleh sinar matahari. Kulihat juga kapal-kapal yang tampak kecil seperti kotak korek api bertebaran di Teluk Singapura.

“Deja vu,” tak sadar sepatah kalimat meluncur dari mulutku.

“Maksud awak?” tanyanya bingung.

“Dah dua kali macam ni, tiga kali ngan awak.”

“Aku tak faham lah.”

“Ex (mantan) nak aku datang wedding. Jumpa baik-baik kata nak bagi invitation letter. Diorang (mereka) bawa aku makan makanan sedap macam ni, lepas tu hantar aku pulang. And then aku sorang je menangis tiada henti kat bilik. Rase nak mati,” aku meracau tanpa melihat ke arahnya.

Ia menggenggam lembut tanganku. “Sorry lah, tak de maksud.”

Aku kaget dan menghindari bersentuhan dengannya. Aku tak ingin rencana move on darinya menjadi lebih sulit. Ia berdiri dengan pandangan mencari sesuatu, lalu memanggil waitress yang tadi melayani kami. Waitress yang memang sedang tidak ada aktivitas lantas berlari-lari kecil ke meja kami.

“Can I help you, Sir?”

“Billing,” pintanya tegas.

Waitress mengiyakan dan bergegas menuju kasir.

“Kenape?” tanyaku bingung.

“Dah cukup aku buat awak menangis, tak payah menangis lagi. Sorry dah buat macam ni, betul-betul tak tahu.”

“Hahaha terlambat pun. Maih (ayo) sambung makan,” aku makan dengan air mata berderai. “Hmm, who made this food? I love it!”

Michael menghambur memelukku. Sambil berdiri ia membiarkan kepalaku terbenam dalam dekapannya. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Sementara itu, orang-orang di sekitar kami mulai tertarik dengan drama kecil yang terjadi.

“Lepas, Mike. I’m okay,” pintaku pelan setelah puas menumpahkan air mata, lalu ia segera melepas pelukannya.

“Are you sure?” tanyanya dengan raut khawatir.

Aku mendongak ke atas, “Ya.”

Ia mengusap rambutku, lalu kembali duduk di tempatnya. Aku merogoh isi tas untuk mengambil tisu dan membersihkan wajahku dari air mata. Setelah itu muncul waitress di hadapan kami membawa laporan nota serta sebuah mesin EDC. Mike membuka laporan nota untuk memeriksanya sebentar, lalu ia menyerahkan credit card kepada waitress untuk melakukan pembayaran. Usai transaksi, waitress hendak pamit. Namun, langsung kucegah.

“Sendiri di sini?” tanyaku kepo.

“Ya, Kak.”

“Dari mana?”

“Tangerang.”

“Kuliah atau bagaimana?” tanyaku lagi.

“Kuliah. Ini nyambi part time ajah.”

“Oh, kuliah di mana?”

“Kampus swasta di dekat Rafles Quay sini,” jawabnya malu-malu.

“Semangat ya kuliahnya.”

“Ya, makasih, Kak,” ucapnya sumringah.

“Oh ya, tolong buangin ini, ya. Malas ke belakang,” kuambil selembar 50 SGD yang tadi kutukar di money changer bandara dan kuselipkan di dalam lipatan tisu. Kemudian kuserahkan kepadanya sembari mengedipkan sebelah mata.

Waitress mengangguk paham dan berlalu pergi sambil tersenyum.

“Banyak betul awak bagi dia tu,” ucap Mike bingung.

“Heleh, macam tengok je,” kulanjutkan sisa makananku.

“Fifty dollar, pheeew,” Mike juga melanjutkan makan.

“Minum kitorang pun lagi mahal daripada wang yang aku bagi kat waitress tu. Teringat masa aku part time waitress kat Selangor dulu.”

Lucunya ia malah tersenyum dan sudah bisa kutebak pasti terkenang saat aku part time menjadi waitress ketika melanjutkan studi ke Malaysia tiga tahun yang lalu. Ia yang sepulang kerja sering mampir ke restoran tempatku mencari uang tambahan, padahal jarak Melaka ke Selangor bisa sampai dua jam perjalanan.

“Hidup ni kelakar (lucu),” ujarku mencari perhatian, tapi ia bergeming. “Aku nak buat ceritaku lah. Mesti gempak (seru).”

“Awak nak buat novel?” akhirnya ia angkat bicara.

“Tak. Buat kat W*ttpad atau St*rial kot (mungkin). Eh, atau Kaskus. Nanti awak singgah ye?”

“Dah lupa pass.”

“Haiyoh, macam awak punya satu ID je?” ujarku menyelidik.

“Sume dah lupa. Seriously dah lame tak tengok Kaskus.”

“Ye lah. Anyway aku nak pasang tajuk: Bagai Mencari Jerami di Tumpukan Jarum. Best tak?”

“Macam tertukar pun?” ia menggaruk kepalanya.

“Sengaja lah. Mencari jerami kat tumpukan jarum lagi sulit daripada mencari jarum kat tumpukan jerami kan?

“Suka-suka awak lah.”

“Hahahahaha, tapi betul lah. Nak cari kawan hidup sehati sejiwa tu susah sangat. Penuh derita."

"Aku nak, awak yang tak nak. Jom lah (ayo) balik Msia, bekahwin."

"Pujuk orang tua pun tak boleh, nak berkahwin pula?" tanyaku sambil tertawa.

"Aku nak pergi jump kat bawah je lah," jawabnya agak mengambek.

"Hahahahaha awak terjun, aku balik Jakarta."

"Hahahahaha."

-oOo-


Hi!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
doctorkelinci dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 5
13-08-2019 00:20
wah coba tongkrongin dulu deh kayanya asik punya nih..
profile-picture
astrophel memberi reputasi
1
13-08-2019 19:54
Quote:Original Posted By astrophel
Ngoahahahaha begimana masalah Uyghur, dah paham, kan?

emoticon-Big Grin


Hayuk lah ikutan.

emoticon-Betty (S)

---

Udeh ah jangan ngejang, takut disentil momod. Kalau komentar agak panjangan ajah.

emoticon-2 Jempol


udahemoticon-Big Grin
lanjut cerita'y seruemoticon-Kaskus Banget
0
14-08-2019 04:57
Quote:Original Posted By yanagi92055
wah coba tongkrongin dulu deh kayanya asik punya nih..

Sip, thanks dah mampir.

emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By jansdottir
udahemoticon-Big Grin
lanjut cerita'y seruemoticon-Kaskus Banget

Wokeh.

emoticon-Cool
0
14-08-2019 04:59
Empat
Quote:Hampir sejam lebih aku berbaring di tempat tidur, namun darah yang keluar dari hidung tak kunjung berhenti. Tisu yang memerah berserakan di kasur dan lantai. Raut wajah Bang Gia terlihat khawatir. Mami sedang keluar, entah mencari apa. Melihat kekhawatiran Bang Gia membuatku tertawa kecil.

“Idih, malah ketawa?” ujar Bang Gia bingung.

“Hehehe.”

“Lu kenapa, sih? Kok berdarah?”

“Nggak tau, tiba-tiba keluar.”

“Udah jangan ngomong dulu deh. Biar berenti darahnya. Ini nih ganti tisunya,” katanya sambil memberikan tisu yang baru.

Perhatian yang Bang Gia berikan membuatku nyaman. Aku ingat saat itu mati listrik. Ketiadaan AC dan kipas angin memaksa ia untuk mengipasiku dengan kipas lipat milik Mami. Ia tak mengeluh capek, terus-menerus. Sampai akhirnya Mami kembali bersama Om Martin. Om Martin adalah bekas anak buah Opa Sinyo yang masih loyal dengan keluargaku.

Akses dari Om Martin memudahkanku untuk mendapat penanganan tanpa antrean di salah satu RS bergengsi di Jakarta Pusat. Dokter hanya memeriksa sebentar karena darah sudah berhenti menetes saat di perjalanan. Proses lama justru konsultasi Mami dengan Dokter sampai-sampai Om Martin, Bang Gia, dan aku kebosanan menunggu.

Mami akhirnya keluar juga. Sebundel berkas di tangannya seolah mengatakan penyakitku sangat berbahaya. Apalah cuma mimisan, pikirku.

“Kita pulang, Mi?” tanyaku datar.

“Nggak, nanti dulu,” kata Mami serius.

Mami mengajak Om Martin menyingkir. Kulihat dua orang dewasa itu mengobrol serius di ujung lorong. Tak berapa lama mereka kembali dan Om Martin pamit pulang.

“Bilang apa Emi?” ucap Mami mengingatkan.

“Makasih ya Om Martin.”

“Ya, sama-sama. Bae-bae ngana ee. Patuh deng Mami, jang bekeng khawatir (Baik-baik kamu ya. Patuh sama Mami, jangan bikin khawatir),” kata Om Martin menasihati.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Ia mencubit pipiku, mengacak-ngacak rambut Bang Gia, dan berlalu pergi. Setelah itu kami bertiga menuju ke sudut RS yang lain. Mami mendorong kursi rodaku, sementara Bang Gia berjalan bersisian denganku.

Sesampainya di depan ruangan dengan papan petunjuk bertuliskan urology, kami berhenti sejenak. Mami mengetuk pintu pelan dan sebuah suara dari dalam menyuruh kami masuk. Mami memutar gagang pintu, kami bertiga masuk ke dalam. Aku dan Bang Gia disuruh menunggu di dekat pintu, sementara Mami duduk berhadap-hadapan dengan dokter. Mereka terlibat pembicaraan yang sangat serius. Sesekali dokter melihat ke arahku, lalu kembali berbincang dengan Mami.

“Lu sakit apa sih?” tanya Bang Gia berbisik.

“Mimisan.” Kubalas berbisik.

“Masa mimisan doang sampe ketemu dua dokter?” tanya Bang Gia lagi, masih berbisik.

“Nggak tau. Mungkin satu dokter hidung, satu lagi dokter darah.”

“Iya kali ya.”

Mami dan dokter kompak menatap kami yang berbisik-bisik. Bang Gia langsung berpura-pura mengecek setelan kunci kursi roda, aku juga ikutan mengecek.

Selepas azan Isya, kami pulang ke rumah. Keluar gerbang RS, Mami menepikan mobil di dekat lapak penjual koran.

“Emi sama Gia mau Bobo?” tanya Mami seraya menoleh ke kursi belakang.

“Mauuuuu!” jawab kami kompak.

“Gia, buka dulu kacanya,” perintah Mami.

Sigap Bang Gia memutar tuas hingga kaca pelan-pelan menurun.

“Bang,” panggil Bang Gia kepada seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di tepi tumpukan koran dan pajangan buku-buku.

“Iya kenapa, Dek?” tanya lelaki paruh baya mendekati mobil kami.

“Majalah Bobo satu,” ucap Bang Gia.

“Ok,”

Lelaki paruh baya beringsut mencari sesuatu yang dimaksud.

“Mami, Mami! Ada komik Doraemon tuh. Abang beli ya?” pinta Bang Gia kepada Mami.

“Nanti nggak belajar kamu?”

“Belajar kok. Beli ya Mami!” rengek Bang Gia.

“Hemmm,” Mami berdehem mengiyakan.

“Yes!” cetus Bang Gia senang. Ia langsung berteriak kepada lelaki paruh baya untuk sekalian mengambil komik Doraemon.

Escudo berwarna kelabu kembali bergerak menuju timur Jakarta. Mami melarang kami membaca majalah dan komik yang baru dibeli karena penerangan di dalam mobil sangat minim dan bisa merusak mata. Aku dan Bang Gia harus bersabar untuk membuka bungkusan plastik yang menyelimuti majalah dan komik yang kami pegang.

Sesampainya di rumah, ternyata listrik sudah menyala. Di ruang keluarga tampak Kak Mer sudah pulang kuliah. Ia sedang makan sambil menonton tv. Mami menyuruh Bang Gia untuk membilas badan dan berganti baju, baru setelah itu aku.

Aku duduk di ujung sofa, ikut menonton tv.

“Kalian habis dari mana?” tanya Kak Mer datar.

“Rumah Sakit,” jawabku pelan.

“Siapa yang sakit?”

“Emi,”

“Sakit apa?”

“Mimisan.”

“Terus?”

“Terus ke Rumah Sakit.”

“Makanya jangan main panas-panasan,” ucap Kak Mer ketus.

“Ya,” jawabku menunduk.

“Di atas kulkas ada dimsum. Berdua sama Gia, ya,” ujar Kak Mer seraya bangkit dari duduk, mematikan tv, dan pergi ke dapur.

“Makasih Kak Mer,” ucapku berterima kasih, namun tak direspon.

Dari ketiga saudaraku, Kak Mer adalah yang paling dingin. Ia tak banyak bicara dan paling benci melihat aku dan Bang Gia bercanda. Aku tak pernah masuk ke kamarnya tanpa izin. Aku juga tak berani memakan coklat miliknya yang senantiasa mendiami kulkas. Ia tidak suka anak bodoh eksakta. Sialnya itu adalah aku. Aku bodoh dalam matematika. Pernah suatu hari Mami menyusul Papi ke Singapura selama tiga hari. Kak Mei yang sibuk dengan pekerjaannya menyerahkan tanggung jawab kepada Kak Mer. Di situ aku merasa rumah umpama neraka.

Kak Mer menerapkan kedisiplinan melebihi Papi dan Mami. Aku sampai menangis karena dimaki-maki. Masalahnya sepele, aku terlambat mandi sore. Jam bermain pun ia kurangi. Bahkan ia mengeluarkan fatwa haram untuk Play Station dan menonton tv. Belajar, belajar, dan belajar. Saat ada PR Matematika, penggaris plastik beberapa kali menghantam betisku.

Sebenarnya ia baik, hanya saja tak pandai menempatkan rasa sayangnya dengan tepat. Sejak kepergian Kak Mei, ia menjadi lebih sinis terhadapku.

-oOo-
Diubah oleh astrophel
0
14-08-2019 18:26
judulnya mainstream. yang sering ane denger Bagai mencari jarum di tumpukan jerami emoticon-Wow
profile-picture
astrophel memberi reputasi
1
14-08-2019 21:04
Hahaha keren2
profile-picture
astrophel memberi reputasi
1
15-08-2019 06:53
menarik emoticon-I Love Kaskus
profile-picture
astrophel memberi reputasi
1
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
16-08-2019 08:31
Jejak dulu sist,ntar ane baca&edit lagi..baru baca 1 part sih,,dan keknya asyik.
0
17-08-2019 03:57
nyimak sis..... emoticon-Shakehand2
profile-picture
astrophel memberi reputasi
1
21-08-2019 06:57
Quote:Original Posted By tuffinks
judulnya mainstream. yang sering ane denger Bagai mencari jarum di tumpukan jerami emoticon-Wow

Quote:Original Posted By fahmyfaqih
Hahaha keren2

Quote:Original Posted By maulanaajsf
menarik emoticon-I Love Kaskus

Quote:Original Posted By kalangkang..
Jejak dulu sist,ntar ane baca&edit lagi..baru baca 1 part sih,,dan keknya asyik.

Quote:Original Posted By Alea2212
nyimak sis..... emoticon-Shakehand2

Thanks dah mampir. emoticon-Big Grin

---

Ini asli gw kagak tau kapan HT-nya, ya?

emoticon-Wakaka

Kalau nggak ada halangan, nanti malam gw update 2 part langsung, ya.

emoticon-Angkat Beer
0
21-08-2019 07:54
Quote:Original Posted By astrophel
Thanks dah mampir. emoticon-Big Grin

---

Ini asli gw kagak tau kapan HT-nya, ya?

emoticon-Wakaka

Kalau nggak ada halangan, nanti malam gw update 2 part langsung, ya.

emoticon-Angkat Beer


Ok deh, di tunggu.
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
1
21-08-2019 08:56
mana apdetan tritnya
emoticon-Marah
0
21-08-2019 09:18
Interseks emoticon-EEK!
Pliss update terus ya, ane penasaran
profile-picture
astrophel memberi reputasi
1
21-08-2019 12:15
Quote:Original Posted By Alea2212
Ok deh, di tunggu.

Sip.

emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By s.i.n.y.o
mana apdetan tritnya
emoticon-Marah

Sabar.

emoticon-Mewek

Quote:Original Posted By progenies
Interseks emoticon-EEK!
Pliss update terus ya, ane penasaran

Ok.

emoticon-Big Grin
0
22-08-2019 20:35
Lima
Quote:Seminggu setelah tragedi mimisan, aku dan Mami kembali lagi ke RS. Namun, kali ini untuk rawat inap. Sejak siang aku sudah berdiam di salah satu kamar. Sungguh membosankan. Setiap kali kutanya Mami kenapa, beliau hanya menjawab nggak ada apa-apa. Katanya hanya ada luka kecil di bagian perutku dan harus diobati. Setiap ke kamar mandi, kuperhatikan seluruh bagian perutku. Memang tidak ada apa-apa.

Sore harinya di luar dugaanku Papi datang bersama Kak Mer dan Bang Gia. Aku senang sekali Papi pulang ke Jakarta!

“Papi kapan pulang?” tanyaku seraya menyaliminya.

“Tadi siang,” jawab Papi sumringah.

“Itu apa?” selidikku dengan tatapan mengarah ke plastik merah yang ditenteng Papi.

“Ini boneka buat Gia,” ucap Papi sambil menyerahkan plastik merah kepada Bang Gia.

“Makasih Papi,” kata Bang Gia sembari mengeluarkan boneka berbentuk buah semangka seukuran bantal kecil, lalu memeluknya dengan imut.

“Aaaaah itu buat Emi, kan?” aku merengek meminta boneka itu.

“Dih, Papi ngasihnya ke gw,” Bang Gia menggangguku.

“Gia!” suara Mami menggelegar tiba-tiba. “Bilang apa tadi?”

“Maksudnya Papi ngasih buat Gia,”

“Jangan gw-lu ke adikmu, ya!” tegas Mami galak.

“Ya,” jawab Bang Gia cemberut.

“Hahahahaha,” aku tertawa puas sekali melihat Bang Gia dimarahi.

“Kasih ke adikmu,” perintah Papi ramah.

“Nih,” Bang Gia melempar boneka semangka itu ke arah wajahku.

“Aduh!”

“Hahahahaha,” giliran Bang Gia yang menertawakanku.

Kuamati boneka semangka dari Papi yang ternyata memiliki mata dan bibir yang menyunggingkan senyum. Lucu. Sementara itu, Papi dan Mami keluar kamar menuju teras taman belakang. Kak Mer duduk di sofa menonton tv, sedangkan Bang Gia duduk di tepi ranjang dekat kakiku.

“Lu sakit apaan, sih?” tanya Bang Gia bisik-bisik.

“Mami bilang ada luka di perut, mau diobatin,” jawabku pelan.

“Eh, tapi tadi di mobil pas mau berangkat ke sini, Papi bilang lu mau operasi?”

“Hah, operasi?” ucapku terkejut.

“Gia, Emi! Bisa nggak kalau ngobrol pelan-pelan?” sela Kak Mer tiba-tiba. Remot di tangannya seolah siap terbang menghantam kepala kami berdua.

“I-iya Kak Mer,” kami menjawab kompak, gugup.

Tak ada obrolan lagi. Bang Gia turun dari ranjang dan menyusul Papi dan Mami ke teras taman belakang. Aku termenung seorang diri. Sakit macam apa yang kuderita? Suara acara tv yang ditonton Kak Mer menggantung di udara. Ingin kutanyakan hal ini kepada Kak Mer, namun aku ragu.

Kutatap kakak keduaku lamat-lamat. Cantik seperti Kak Mei. Bahkan kurasa Kak Mer lebih cantik karena tanpa merias wajah ia sudah terlihat manis. Ia sangat serius menatap layar tv. Namun, seperti ada kontak, tiba-tiba ia menengok ke arahku. Langsung kuberikan senyum terbaik, meskipun tak dihiraukan dan Kak Mer kembali menonton tv.

“Kak Mer,” kucoba memberanikan diri memanggilnya.

Ia menengok, “Apa?”

“Emi sakit apa, Kak?”

Kak Mer mengubah posisi duduknya menghadap ke arahku. “Kamu yang sakit kok tanya ke Kak Mer?”

“Ehm, anu. Nggak apa-apa,” aku tersenyum bodoh.

“Memang kata Mami, kamu sakit apa?”

“Mami bilang ada luka di perut, mau diobatin sama dokter.”

“Ya udah, itu penyakitnya,” jawabnya enteng seraya kembali mengubah posisi duduknya seperti semula, lalu melanjutkan menonton tv.

“Tapi kata Bang Gia mau dioperasi?”

“Ya, diobatinnya harus dioperasi. Udahlah nggak usah dipikirin, kamu nggak papa, kok.”

“Ehm, ok,” jawabku sambil mencubit-cubit pipi boneka semangkaku.

Papi, Mami, dan Bang Gia kembali ke dalam kamar. Gantian giliran Kak Mer yang keluar menuju teras taman belakang. Ia membawa sebuah novel di tangannya. Menggambar adalah caraku menghabiskan waktu. Aku sudah tidak boleh makan dan minum sebab besok pagi harus operasi. Papi dan Mami menonton tv sambil berbincang-bincang, sementara Bang Gia asyik bermain gimbot. Sesekali bergantian denganku yang merengek ingin bermain gimbot juga.

Menjelang azan Isya, Papi, Mami, dan Bang Gia pamit pulang. Aku sungguh terkejut saat mengetahui Kak Mer yang akan menungguku sampai besok pagi.

“Sehat-sehat ya, Nak,” ujar Papi sembari mencium keningku.

“Ya,” jawabku senang.

“Papi ke Jakarta lagi nanti akhir tahun. Besok pagi Papi balik ke Singapura. Jangan nakal, ya. Nurut sama Mami, Kak Mer, dan Bang Gia,” katanya sambil mencubit pipiku.

Sebenarnya aku kecewa karena Papi hanya sebentar di Jakarta, tapi apa dayaku. Aku cuma bisa tersenyum dan berjanji menjadi anak yang baik dan penurut.

“Mami pulang dulu, ya. Malam ini sama Kak Mer. Besok pagi Mami ke sini lagi,” ucap Mami seraya membelai rambutku.

“Pulang dulu, ya,” Bang Gia juga pamit. “Nih, kalau bosan.”

Mataku berbinar melihat Bang Gia meninggalkan gimbotnya untukku. “Makasih, ya.”

Terjadi sedikit obrolan Papi, Mami, dan Kak Mer sebelum akhirnya mereka pulang. Tinggallah kami berdua di dalam ruangan. Kak Mer menonton tv, sedangkan aku bermain gimbot dengan mode tanpa suara. Sengaja begitu, sebelum ditegur berisik oleh Kak Mer.

Sekitar pukul 20.00, seorang laki-laki yang sepertinya teman Kak Mer datang menjengukku. Kutahu itu hanya alasan karena niat sesungguhnya ingin mengantar makanan untuk Kak Mer. Ia memperkenalkan diri sebagai teman satu universitas Kak Mer, namanya Theodor. Kak Mer bilang panggil saja Koh Theo. Mereka berdua sangat akrab, tak seperti berteman. Mungkin pacaran.

Satu nilai plus dariku untuk Kok Theo, ia membawakanku satu sel pensil warna merk Luna. Sepertinya ia bertanya perihal hobiku kepada Kak Mer sebab saat memberikan pensil warna itu, ia menebak kalau aku hobi menggambar. Ya, mustahil sekali kalau ini sebuah kebetulan. Aku semakin yakin kalau mereka berpacaran ketika Koh Theo pamit pulang. Kak Mer sembunyi-sembunyi memberikan sebuah kecupan di pipi Koh Theo.

Malam beranjak lebih cepat. Sebelum tidur, Kak Mer menyuruhku sikat gigi dan buang air kecil agar tak mengompol. Berlebihan sekali karena aku bukan tipe anak-anak yang suka mengompol. Aku naik ke atas ranjang, sementara Kak Mer melanjutkan menonton tv dengan volume yang lebih kecil.

Besok operasi. Aku menatap langit-langit kamar yang putih benderang. Apa itu menyakitkan? Seberapa parah penyakitku? Sebab yang kutahu dari sinetron-sinetron di tv, hanya penyakit parah yang harus dioperasi. Aku jatuh tertidur dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terjawab nanti.

-oOo-
Diubah oleh astrophel
profile-picture
profile-picture
progenies dan Alea2212 memberi reputasi
2
22-08-2019 20:35
Lembur cuy, sorry 1 part dulu.

emoticon-Hammer (S)
0
23-08-2019 00:08
Enam
Quote:Sebelum azan Subuh berkumandang, aku sudah terbangun. Kulihat Kak Mer tidur meringkuk di sofa dengan selimut yang setengah bagiannya terjulur ke lantai. Aku turun dari ranjang untuk membetulkan selimutnya pelan-pelan, lalu ke kamar mandi guna buang air kecil. Setelah membersihkan diri dan sedikit mencuci muka, aku mematut di depan cermin. Sungguh aku kelaparan. Perutku terakhir terisi kemarin siang.

“Kamu lagi apa?”

Dari luar terdengar suara Kak Mer yang membuyarkan lamunanku. Aku memutuskan keluar agar ia tak lagi khawatir.

“Pipis,” jawabku datar seraya kembali naik ke atas ranjang.

Kak Mer duduk di sofa dan mengucek matanya sebentar, “Kok nggak bangunin Kak Mer?”

“Nggak papa, Emi bisa sendiri,” jawabku tersenyum.

“Ok. Kamu mau tidur lagi?”

“Nggak. Emi mau main gimbot,”

“Jam 5 kurang sedikit bisa bangunin Kak Mer?”

“Bisa!” jawabku yakin.

“Ok, Kak Mer lanjut tidur ya.”

Aku mengangguk, lantas Kak Mer kembali membaringkan tubuhnya di sofa. Seperti semalam, aku bermain gimbot dengan mode tanpa suara. Sesekali kulirik jam dinding untuk memastikan aku tetap menjalani tugasku dengan baik.

Sayup-sayup terdengar muazin melantunkan azan Subuh. Sisi relijiusku menari-nari di dalam kepala. Aku ingin salat, tapi tak ada mukena. Lahir dan tumbuh sebagai Muslimah, rasanya seperti simbol semata. Papi dan Mami tak terlalu fokus masalah ini.

Jarum panjang menunjuk angka 11, hampir jam 05.00 pagi. Aku turun dari ranjang untuk membangunkan Kak Mer. Dengan lembut kutepuk pahanya beberapa kali sampai ia bergerak, lalu membuka matanya.

“Sudah jam 5 kurang, Kak Mer,” kataku sopan.

“He’eh,” jawab Kak Mer serak. Mungkin nyawanya baru terkumpul 30%.

Aku kembali ke atas ranjang menyaksikan Kak Mer duduk di sofa, menggosok-gosok mata dengan punggung tangannya, dan menguap panjang sekali. Ia mengulet dan mencoba tidur kembali dengan membiarkan kepalanya terjatuh ke belakang, namun tak berapa lama bangkit berdiri menuju ke kamar mandi.

Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Selang beberapa saat, Kak Mer kembali dengan wajah yang lebih segar.

“Waktu Kak Mer tidur, ada dokter atau suster ke sini?”

“Nggak ada,” aku menggeleng.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam perutku, seperti berteriak kelaparan. Kedua mata Kak Mer membulat kaget, lalu tersenyum simpul. Teduh sekali hatiku melihatnya tersenyum. Suatu momen yang sangat langka untukku.

“Laper, ya?” tanyanya.

Aku mengangguk malu-malu.

“Sabar, ya. Nanti habis operasi baru boleh makan,” kata Kak Mer perhatian.

Pukul 05.10 pagi, dua orang suster masuk ke dalam kamar untuk melakukan pengecekan tensi dan sedikit bercanda kepadaku. Pukul 05.35 barulah Mami datang.

“Tinutuan (bubur Manado), sarapan jo,” kata Mami sembari menyerahkan bungkusan plastik kepada Kak Mer.

Dari kejauhan kulihat mangkuk transparan berisi makanan berwarna kuning pucat. Air liurku terbit tatkala Kak Mer membuka tutupnya, membuat aroma tinutuan merebak tipis di udara.

Kak Mer menatapku sebentar, lalu pergi keluar teras taman belakang. Aaaaargh, aku sungguh lapar! Mami duduk di kursi sebelah ranjang dengan tangan memegang ponsel sebesar batu bata.

“Mami punya kejutan?” katanya sambil menggoyang-goyang ponsel di tangannya.

“Apa?” mataku mengerjap antusias.

“Tunggu sebentar.”

Baru saja Mami berhenti bicara, ponsel sebesar batu bata dengan antena lidi itu berbunyi. Lampu layar berwarna kuning kerlap-kerlip beraturan. Mami sumringah dan mengangkat sambungan telepon. Aku penasaran siapa yang menelepon, mungkinkah Kak Mei? Mami berbicara dalam bahasa Manado yang kental. Tak berapa lama, Mami menyerahkan ponsel kepadaku. Kuletakkan ponsel di telinga dan ragu-ragu mengatakan halo.

“Halo,”

“Emily!” terdengar suara lelaki tua yang sangat akrab di pendengaranku.

“Opa Sinyooooo!” ucapku kegirangan.

“Da ba’apa ngana Emi (apa kabar kamu Emi)?” tanya Opa Sinyo dari seberang sana. Suaranya terdengar sangat jernih seolah bukan datang dari sambungan luar negeri.

“Baik, Opa. Oma Acung mana?” tanyaku.

“Edodo ee (ya ampun), nyanda kangen deng Opa rupanya,” Opa Sinyo terkekeh di sambungan telepon, lalu terdengar suara Oma Acung. “Hai, Emily. Apa kabar? Sehat-sehat kamu di Jakarta, ya.”

“Ya, Oma. Oma nggak nengokin Emi? Emi lagi sakit, nih.”

“Maaf, Emi. Oma deng Opa nyanda bisa menengok. Cuma kase doa untuk Emi supaya sehat-sehat selalu, ya.”

Tak sadar sebulir air mata meluncur di pipiku, “Emi rindu deng Opa-Oma.”

“Sama! Kita di sini juga rindu deng Emi. Nanti kalau Emi sehat, bilang ke Papi deng Mami buat jenguk Opa-Oma di Maastricht. Opa-Oma so nyanda bisa ke Indonesia. Jadi nanti ngoni samua (kalian semua) yang datang ke Belanda, ya.”

“Ya, nanti Emi bilang deng Papi-Mami,” jawabku terisak.

“Eh, manangis ngana ee?” Oma Acung tertawa di ujung telepon. “Anak pintar nimbole (nggak boleh) manangis.”

“Sadiki jo (cuma sedikit doang),” jawabku sambil mengelap air mata dengan punggung tangan.

“Mami mana? Oma mo ngomong deng Mami.”

Kuserahkan ponsel kepada Mami, lalu Mami bangkit berdiri dan berjalan menuju sofa. Sambil menelepon dengan Oma Acung, ia duduk di sofa. Kak Mer yang sudah selesai makan kembali masuk ke dalam. Sadar kalau Mami sedang menelepon Opa-Oma di Belanda, ia langsung mengambil tempat di sebelah Mami untuk ikut ambil bagian berbicara dengan Opa-Oma.

Bahagia sekali bisa mendengar suara Opa Sinyo dan Oma Acung. Hampir setahun sejak peristiwa bakar-bakaran (Krisis 1998) aku sudah tak pernah berinteraksi dengan kakek-nenekku. Opa Sinyo dan Oma Acung pindah ke Maastricht, sementara Opa Bitung dan Popo menyingkir ke pedesaan di perbatasan Sulawesi Utara dan Gorontalo. Tentu sulit untuk meneleponnya.

Saat ponsel jatuh ke tangan Kak Mer, ia juga menangis sepertiku. Hubungan emosional kami memang erat. Dulu kala Opa Sinyo dan Oma Acung masih tinggal di Rawamangun, kami sekeluarga rutin menginap setiap malam Minggu dan baru pulang ke rumah saat Minggu sore.

Sebelum sambungan telepon ditutup, aku berbicara lagi kepada Opa Sinyo dan Oma Acung. Mereka menasihatiku agar menjadi anak yang baik dan penurut. Mereka bilang aku harus ke Belanda untuk menengok mereka. Tidak lupa ia mendoakanku agar penyakitku segera pergi. Aku menangis dan kutebak Opa-Oma juga menangis karena suara mereka bergetar lirih.

Ketika sambungan telepon terputus, kesunyian menyergap kami yang ada di dalam ruangan. Setengah jam sebelum aku operasi, Kak Mer pamit pulang, katanya ada kuliah pagi.

“Sehat, ya. Nanti Kak Mer bawain dimsum kalau sudah sembuh,” ucapnya datar kepadaku.

Dimsum halal adalah makanan kesukaanku. Gara-gara Kak Mer juga yang rajin membelikannya untukku.

“Ya,” aku mengangguk pasti sambil tersenyum.

Mami menyerahkan kunci mobil kepada Kak Mer, “Nggak usah mampir pom lagi, sudah Mami isi. Langsung pulang dan berangkat ke kampus, ya. Nanti sore ke sini lagi sama Gia.”

“Ok, Mer pulang dulu,” Kak Mer menyalimi tangan Mami dan beranjak pergi.

Pukul 06.45, dua orang suster yang tadi pagi memeriksa tensiku datang lagi bersama seorang dokter lelaki. Aku duduk di kursi roda dan langsung dibawa ke bagian RS yang lain. Sadar Mami tak ada, aku merengek untuk turun dari kursi roda dan hendak kembali ke kamar, tapi suster yang menanganiku bilang kalau Mami akan menyusul. Wajahnya yang lemah lembut memaksaku untuk percaya saja.

Ternyata betul Mami datang belakangan bersama dokter lelaki itu. Mereka berjalan bersisian lambat sekali, seperti membicarakan hal serius. Dokter lelaki langsung masuk ke dalam, sementara aku dan Mami menyiapkan keperluan yang harus kubawa ke dalam ruang operasi, seperti kain, sarung, baju ganti, dll.

Aku takut sekali. Rasanya seperti ingin mencapai kematian. Mami yang sadar ketakutanku langsung merendah bertumpu lutut. Tinggi kami sejajar sekarang.

“Emi takut, ya?” tanyanya perhatian.

Aku mengangguk.

“Nggak papa. Dokter cuma mau ngobatin Emi aja, kok. Nggak sakit. Sebentar juga selesai,” ucap Mami dengan wajah meneduhkan.

“Mami nanti ikut, kan?” tanyaku.

“Nggak. Nanti Mami tunggu di luar. Mami nggak ke mana-mana, kok. Mami tunggu Emi sampai kelar di sini,” kata Mami.

“Emi takut,” kataku pelan.

“Jangan takut. Nanti di dalam ada dokter sama suster yang tadi dorong kursi roda Emi. Baik kan susternya?”

Aku mengangguk lagi.

“Kalau takut, nih peluk boneka semangka dari Papi. Anggap boneka semangka ini Papi, Mami, Kak Mer, sama Bang Gia,”

“…sama Kak Mei juga.”

“Ya, sama Kak Mei juga,” jawab Mami seperti terpaksa. “Oh ya, sudah dikasih nama boneka semangkanya?”

“Belum,” aku menggeleng.

“Dikasih nama, dong.”

“Welon,” usulku.

“Apa tuh?”

“Watermelon!” kataku antusias.

“Hahahahaha pinter,” Mami mengusap-usap rambutku.

Dua orang suster tadi muncul dari dalam ruang operasi. Mami mencium pipiku kanan dan kiri, lalu melambaikan tangan mengiringiku masuk ke dalam ruang operasi. Ternyata ruangan yang kumasuki bukan ruangan operasi. Masih ada beberapa ruangan yang harus kulewati sampai akhirnya suster berhenti dan menyuruhku turun dari kursi roda. Kuperhatikan sekeliling, penuh dengan alat-alat yang tak kupahami. Selang, tombol, layar, dan kaca di mana-mana. Seperti ruang kendali markas besar Power Rangers.

Suster dengan sopan menyuruhku naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Ia melepas celanaku, refleks aku menaikkannya kembali. Suster dan dokter tertawa melihat perlawananku dan bilang tidak apa-apa karena mau diobati. Akhirnya aku pasrah, meskipun malu karena kini aku tak mengenakan celana.

Suster menyuruhku duduk sebentar. Tiba-tiba saja seperti ada yang menyetrum pinggang belakangku. Aku diizinkan berbaring kembali. Suster memasang kain yang membentang di atas perutku. Jadi aku tak bisa melihat aktivitas yang terjadi di bagian kakiku. Ia juga memasang selang ke dalam hidungku yang membuat napasku terasa lebih ringan dan sejuk. Pelan-pelan keanehan mulai menyergap. Kakiku seperti mati rasa. Sekuat tenaga aku berusaha menggerakannya, tapi tak bisa.

“Kaki Emi,” cetusku ketakutan, berusaha memberontak.

Salah satu suster beralih kepadaku dan mengajakku mengobrol. Ia bertanya segala hal tentangku. Hobiku, keluargaku, teman-temanku, dan makanan kesukaanku. Aku sampai lupa kalau kakiku tak bisa digerakkan. Sesekali ia bertanya hal yang sebelumnya sudah ditanyakan, sampai akhirnya aku mengantuk dan tertidur.

-oOo-
Diubah oleh astrophel
profile-picture
profile-picture
progenies dan Alea2212 memberi reputasi
2
23-08-2019 05:51
eh, ini Emi operasi apa? kok gak di jelasin?
0
23-08-2019 06:35
Quote:Original Posted By Alea2212
eh, ini Emi operasi apa? kok gak di jelasin?

Kelak juga bakal terjawab seiring bertambahnya part cerita. Gw pake sudut pandang Emi yang real. Berhubung di dalam cerita usia Emi masih 9 jalan 10 tahun, ya begitulah kisah yang terjadi. Nggak ada transparansi dari pihak keluarga.

Emi kecil dibiarkan kebingungan sendirian tanpa penjelasan. Setiap nanya jawabannya ganti-ganti. Entah itu perut sakit, usus buntu, luka dalam, etc. Padahal sebenarnya operasi tahun 1999 (apa 2000 ya? Lupa) itu berhubungan sama kelamin.

Yaaah kejawab kan jadinya.

emoticon-Ngakak (S)

---

Dari gw bikin thread ini dah ada 3 orang nanya dan belum gw jawab. Sekalian gw respon, ya.

Apakah gw interseks? Sorry gw nggak bisa jawab. Toh juga nggak ada pengaruh bagi TS dan reader. Kalau ya kenapa dan kalau nggak kenapa?

Nikmati aja jalan ceritanya. Kalau bagus ya ambil, kalau jelek ya jangan diikutin.

emoticon-Big Grin
0
Halaman 2 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
my-secret-story
Stories from the Heart
gadis-berkerudung-senja
Stories from the Heart
milk--mocha
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.