alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0d54f64601cf412d39209e/mega-mendung-tanpapelangi
Lapor Hansip
10-12-2018 00:46
Mega Mendung Tanpa Pelangi! (About Mental illness)
Past Hot Thread
Mega Mendung Tanpa Pelangi!



Quote:
Mohon di support yah. Tadinya ini mau dijadiin cerita yang bersambung. mudah-mudahan setelah baca ini. Semuanya jadi tersadar mengenai, mental issue ini. makasih!

Mohon apresiasinya yah..



Do not jeopardize the chaos myth
Karya : Fey Mega


PROLOGUE

 
Suara itu terdengar lagi! Dan lagi! Sekarang, suara itu terus-menerus terdengar. Menggema tanpa henti dan memantul pada dinding pikiranku. Makian-makian yang kutujukan untuk diriku sendiri, ironi yang berkepanjangan.


Aku mengeratkan mata sekuat-kuatnya, menahan perih yang entah timbul dari mana, sakit ini semu — rasanya yang nyata, tak mudah untuk dipahami, bahkan oleh diri sendiri. Keberpihakanku mengarah pada hal-hal berbau kesedihan. Selain itu, masih belum ada konsep perasaan yang dapat diterima, misalnya saja ‘kebahagiaan’. Konsep rasa yang masih terlalu ambigu didalam pikiranku.


Malam ini berlangsung layaknya malam-malam yang kulalui biasanya, tak ada hangat perapian, tak ada dendangan alunan musik dari arah manapun, tak ada cahaya dari celah manapun; tak ada pula aku. Iya, tak ada. Sekarang, sedang kujumpai bentuk lain dari diriku, mencoba untuk berdialog senyap— mengendap-ngendap. Jawabannya penuh dengan kata-kata anagram yang terbilang rumit, aku sedang malas untuk menyusun kata-kata.


Biasanya ‘kata-kata’ dapat memberiku semangat, asalkan bentuknya bukan soal angka-angka saja.

Kecuali, malam sunyi ini. Aku sudah terlalu muak dengan hal apapun itu.
Ada sesuatu yang lebih serius daripada hal-hal tersebut. Sesuatu yang telah kusimpan begitu lama sekali.


Sehingga, ketika aku akan membukanya lagi, banyak sekali sarang laba-laba, berdebu. Bahkan, sudah menghilang judulnya. Sudah lupa sejak kapan sesuatu itu terus mengendap disana, seperti awan hitam yang menjadi pembatas ‘aku’ dengan ‘aku’ yang sengaja aku tampilkan kepada orang-orang disekitarku.
Ini bukanlah sebuah kepribadian ganda, sama sekali bukan.


Aku hanya seseorang yang gemar menabung, menyimpan dalam-dalam diriku yang sebenarnya. Karena, kutahu seberapa ambisius dan terlukanya aku, jikalau sesuatu itu hadir kembali. Aku tak pernah membiarkan siapapun untuk mengenalku lebih jauh, menjaga jarak adalah caraku untuk bertahan dari kehidupan yang serba mengecawakan ini.


Kulitku terasa dingin dan bulu kudukku merinding, menggigil. Aku menatap nanar cermin full body didepanku. Hanya ada sosokku disana. Sosok yang selalu membohongi dirinya, membohongi orang-orang disekelilingnya. Air mata mulai jatuh, satu-persatu kebawah, mendarat dipelipis.


Aku menyekanya tanpa ragu.
Ini memang tak adil. Dan akan selalu begitu.Kemudian, aku tersungkur, tubuhku semakin menggigil. Mungkin, karena aku terlalu banyak meminum obat-obatan penghilang rasa sakit itu. Dosisnya selalu minta tambah, hari pertama kuminum satu pil, lalu hari kedua; dua pil, dan hari-hari berikutnya selalu bertambah, terkadang bertahan, terkadang melemah.

Aku tak pernah menyadari letak salah dalam hidupku, sampai pada suatu waktu…..


Iya, hari itu….
Ketika cuaca sangat cerah, matahari masuk ke dalam lubang di langit-langit rumah reyotku ini. Aku menonton drama korea dikamar, sendirian. Dengan sengaja, kumatikan lampunya. Menambah kesan yang sangat murung.
Premis dari drama Hope yang tayang tahun 2013 itu membuatku putus asa sekali, tapi tetap saja kulanjutkan menonton sampai bagian akhir.


Aku menutup mataku, dari semua bayangan-bayangan yang akan tetap muncul bahkan ketika aku menutupnya. Ini bukan bayangan secara harfiah, ini semata-mata adalah bayangan masalalu. Sekitar 20 tahun kebelakang.
Kulihat diriku sendiri, ‘aku’ yang masih kanak-kanak.
Jauh lebih kecil.
Jauh lebih pendek.
Jauh lebih manis dan menggemaskan.
Jauh lebih lincah dan bahagia.
Jauh lebih naif dan lugu.
Jauh lebih baik.

Ketika aku belum mengenal sisi hitamku, ketika semesta hanya membiarkan kebahagiaanku mengudara tanpa pamrih.
‘aku’ kecil, dia melompat-lompat kegirangan. Tertawa, terbahak-bahak tanpa memikirkan realita. Mungkin, pada saat itu, hanya bermainlah yang ada dalam benakku.


Plak!


Ada sebuah tangan yang mengeplak pundak kecilnya, menyeret pelan dengan paksa, tubuh mungilnya. Rambutnya yang pendek penuh keringat, terkibas oleh udara jalanan.

Tangan itu.

Tangan manusia yang lebih kejam dari setan.

Mengawak tanpa nurani.

‘Aku’ kecil terisak, di bawa ke dalam lorong gelap. Disuruh untuk memahami yang seharusnya tak boleh dipahami dulu oleh anak seusianya.

Lagi-lagi tangan itu.

Sudah terlalu sering, sehingga sistem di otak ‘aku’ kecil lambat laun terkontaminasi.

Sungguh, Biadab.
 


Aku tersadar dari segala mimpi burukku, mencoba untuk menapaki semua yang telah hilang kendali. Semua air mata mulai merembes ke permukaan. Ketika semua mengalir deras, aku memutuskan untuk menghentikannya. Aku merasa lega.

Malam-malamku dipenuhi dengan bayang-bayang mengerikan itu lagi, seperti sebuah rutinitas yang sangat mencekam. Batinku merintih, entah rintihan seperti apa.



Hanya keimanan yang membuatku bertahan. Hanya rasa sayanglah yang membuatku kuat. Hanya harapan yang membuatku ingin merajut kembali asa demi asa.

Bagiku, hidup adalah tentang bertahan. Sekarang, aku sedang melakukannya.
Tak ada benci yang tersisa, aku membalaskan dendamku dengan menjadi lebih baik lagi.

Quote:“Jika hidup adalah sebuah arena tinju, maka akulah juara bertahannya.” Gumamku lirih, entah pada siapa. Gemetar sudah bibirku.


Kemudian aku terlelap, semua ini membuatku lelah.
Membenamkan tubuhku ke kasur, lebih dalam lagi.
Terimakasih, luka.


Polling
9 Suara
lanjut jangan nih? 
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
black.sweater dan diadem01 memberi reputasi
4
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
10-12-2018 01:08
Diubah oleh feymega24
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
1
10-12-2018 18:28
ampar tiket d page wan dlu....

sambil nandain
Diubah oleh aa.babang
1
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
10-12-2018 18:41
Balasan post aa.babang
Quote:Original Posted By aa.babang
ampar tiket d page wan dlu....

sambil nandain


Sebelah lanjutin oii..

Nglapak di pegwan dulu ah...
1
10-12-2018 18:42
Quote:Original Posted By boel19c
Sebelah lanjutin oii..

Nglapak di pegwan dulu ah...


Hahaha sabar om

Lagi nyari angin wkwkw
1
10-12-2018 18:50
Lanjutkan sista ceritanya.. kembangkan lagi.. ku belum nangkep maksud keseluruhan nya gimana... kalo boleh saran sedikit... 'enter' antar paragraf nya ditambah lagi...
1
10-12-2018 22:58
Quote:Original Posted By aa.babang
ampar tiket d page wan dlu....

sambil nandain


Makasih sista sarannya.. maklum newbie. Belum paham emoticon-Betty
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1
10-12-2018 22:59
Quote:Original Posted By boel19c
Sebelah lanjutin oii..

Nglapak di pegwan dulu ah...


Pantengin gan. Nanti update lagi emoticon-Kiss
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1
10-12-2018 23:00
Quote:Original Posted By aa.babang
ampar tiket d page wan dlu....

sambil nandain


Salam kenal gan. Stay terus yas emoticon-Matabelo
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
07-01-2019 15:23
Bacanya lagi ngantuk, liat judul mega mendung tanpa pungli
1
07-01-2019 16:56
Quote:Original Posted By adhiet_6
Bacanya lagi ngantuk, liat judul mega mendung tanpa pungli


Bisaaa ajah gann. Jadi ngakak emoticon-Cendol Gan
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1
08-08-2019 12:01
Part 1


Quote:“Aspirin, Mbak...”


Aku terhenyak mendengar dialog senyap itu, entah dialog atau monolog. Aku tak tahu harus memberikan respon apalagi padanya. Apoteker yang satu ini memang terlalu banyak bicara. Membuat kepalaku semakin pusing, tak kentara.

Aku menyerobot obat yang sudah sengaja dia simpan di etalase. Dengan tangan gemetaran dan gerakan yang cukup sembrono, akhirnya aku berhasil memberikan sejumlah rupiah padanya.

Quote:“150 ribu rupiah, 10 tablet, Mbak.”


Aku menatap matanya tajam, seakan-akan ingin sekali mencabik-cabik bagian mulut lancangnya itu dengan sekali tatap. Kudapati dia sedang menggarukkan tangan pada bagian belakang kepalanya, gugup.

Quote:Aku melemparkan uang dihadapannya— Sambil berlari kecil, meninggalkan apoteker bawel yang sedang menggerutu di belakangku.
“Mbak Mega! Jaga diri baik-baik!”


Aku berhenti di ambang pintu, lalu menoleh sebentar padanya. Menatap sendu mata berbinarnya. Ada iba di sana, terpancar jelas dari sorot mata indahnya itu. Laki-laki bodoh. Sudah kukatakan berulang kali, kalau aku bisa menjaga diriku baik-baik tanpa harus di suruh-suruh seperti itu.

Aku menghela napas, keras-keras. Membalikkan badanku kembali, kemudian mengacungkan jari tengahku padanya, tinggi-tinggi. Memastikan agar bisa terlihat jelas olehnya. Tanpa menoleh padanya lagi, aku terus melenggang keluar sembari menaiki sepeda motor berwarna kuningku.
Datar.

Tak ada rasa sesal, tak ada permintaan maaf. Mungkin, aku dilahirkan menjadi wanita yang arogan dan berjiwa bebas. Membuat jiwaku berkeliaran dengan bahagia.

Quote:“Mbak Mega! Jangan minum obatnya lebih dari dua sekali teguk!”


Bajingan ini!

Quote:“Sekali lagi lo panggil gue Mbak, gue pecahin kepala lo!”


Quote:Dia menyeringai. “Nah, gitu dong, Meg. Gue paling suka kalo lo udah ngomong. Jangan diem ajah! Sayang suara seksi lo kalo gak dipamerin!”


Kurang ajar!

Aku menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara. Satu kata saja terucap, aku akan kalah dalam peperangan ini. Dia memang manusia licik. Sial sekali aku bisa berteman dengannya selama ini.

Aku menyalakan mesin motorku, memencet klakson beberapa kali. Sengaja membuat kegaduhan. Bukankah dia menginginkan suara? Nih, aku kasih lebih tanpa kembalian!

Dengan senyum kemenangan, aku enyah dari tempat tak berguna itu. Sistem kapitalis dari sebuah instansi yang seharusnya dapat menolong orang-orang sepertiku keluar dari masalah. Bukan malah menambahnya.

Kulihat ada semburat kekecewaan dari wajahnya.

Aku tak peduli, dia sudah merusak hariku. Kepeduliannya selama ini membuatku muak. Tak seharusnya dia ada di sisiku, tak seharusnya dia percaya padaku, berbondong kalimat pendek dengan awalan ‘tak seharusnya’ tiba-tiba membanjiri sistem di otakku. Membuatnya beku sesaat, melayang-layang, kemudian tersesat.

Bunyi klakson yang silih berganti membuatku tersadar dari lamunan. Bego. Lagi-lagi aku berlagak bodoh, seperti punya nyawa seribu saja. Aku melamun bahkan ketika lampu di perempatan jalan ini sudah berubah warna menjadi hijau.

Quote:“Kalo mau ngelamun gak usah di jalan, Mbak. Mau mati, hah?!”


Mbak?! Lagi-lagi panggilan itu. Aku benci di panggil demikian. Bisa gak sih mereka memanggilku dengan sebutan yang lain?

Aku terpaksa meminta maaf, sambil berlalu. Tak ingin berurusan dengan berandalan jalan macam mereka. Menekan gas motor matic ini dengan kencang. Membiarkan angin-angin menampar seluruh bagian persendianku yang ngilu.

Aku di sini lagi, dengan keadaan yang sama pilunya. Tak pernah kulewatkan satu malam pun tanpa kegelisahan ini.

Susah payah, aku dapat mencapai kosanku dengan selamat— fisik, tidak pada bagian terdalamnya. Semua organ dalam tubuhku kelu, sistem di dalam sarafku melambat. Gemetaran. Bayangan-bayangan itu muncul lagi, malahan kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya.

Aku membuka pintu dengan kasar, membanting tubuhku ke kasur. Tak ada siapa pun, hanya aku dan kegelisahanku yang hebat ini.
Aku menyempatkan diri untuk menenggak empat buah Aspirin secara langsung, tanpa minum. Hanya mengandalkan air liurku untuk mendorongnya masuk ke dalam.

Gila, memang aku sudah segila ini.

Memijat-mijat kepalaku dengan keras, rasa sakit ini muncul lagi. Pusing yang tak tertahankan. Kali ini aku bahkan tak dapat untuk mencegahnya. Aku hilang kendali, betul-betul hilang kendali.

Aku memukul-mukul kepalaku, menggigit bantal kencang-kencang. Jiwaku seperti terenggut, terhempas ke dalam lubang hitam satu galaxy Bima Sakti. Erangan demi erangan terus mengalir, ombak-ombak kesedihan membanjiri tepian pantai kepiluan.

Sakit macam apa aku ini!?

Tok....Tok....Tok.....

Quote:Sayup-sayup kudengar suara pintu terbuka. “Ya Allah, Mega!”


Itu adalah kalimat terakhir yang kudengar, setelahnya, aku tak sadarkan diri.

Aku kejang-kejang, meronta-ronta, meraung-raung.

Iya, aku. Sakau.

Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
profile-picture
diadem01 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
09-08-2019 18:41
Part 2


Quote:“Udah bangun, cewek kampret...”


Aku mengucek mata dengan kedua tanganku, masih menerka-nerka apa yang terjadi padaku semalam. Beginilah setiap harinya. Dia akan datang sebagai penyelamat di kala aku kesakitan seperti semalam. Mungkin, dia satu-satunya manusia yang tahu penderitaanku. Tak pernah ada yang kuizinkan untuk masuk lebih dalam ke ranah pribadiku, terutama masalah ini. Namun, dia berbeda. Kenyamanan demi kenyamanan telah ia suguhkan dengan manis, lengkap dengan segala perhatian sebagai bonusnya.

Hitung-hitung punya keluarga yang tidak sedarah. Sahabat satu sepenanggungan. Omelan-omelannya memantul di sela-sela gendang telingaku, irama-irama yang keluar dari mulutnya berayun-ayun, bermain di daun telingaku dan enggan masuk. Sehingga aku tak dapat menangkap dengan jelas maksud yang hendak ia utarakan padaku.

Aku hanya bisa termenung. Sambil sesekali memijat pelan kepalaku yang masih terasa pusing ini. Kulihat dia sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Mondar-mandir menghidangkan semuanya di atas meja makan kecil di tengah kosan.

Terlihat seperti bapak-bapak rempong.

Quote:“Mari makan!” Ungkapnya, setelah duduk bersila atau lesehan di depan meja makan kecil, ada beberapa makanan siap saji yang masih mengepul asapnya.


Quote:Aku mengangguk. Merasa bersalah, karena, selalu merepotkannya selama di sini. “Maafin gue, Rul—” Aku menatapnya nanar. “—gue ngerepotin lo terus. Udah gue bilang kan, lebih baik lo pindah dari kawasan ini. Karir lo udah mulai bersinar, lo bisa beli rumah. Gak usah mikirin gue lagi lah.”


Tak ada jawaban darinya.

Quote:“Ruli....”


Quote:“Ngomong apa sih lo, Meg.” Ia mendongak dari makanannya, matanya menyipit. Rambut ala british-nya tersibak angin dari jendela yang terbuka. Seperti adegan-adegan film. Di mana seorang adik bajingan, sedang mengusir paksa kakak tirinya. “Makan gih! Jangan ngomong muluk. Keselek baru tau rasa lo ya!” Ruli ngambek.


Bagaimana bisa aku menebus semua kebaikan yang pernah diberikannya padaku selama ini. Entah, apa yang ada dalam pikirannya. Menyesalkah ia telah mengenalku sejauh ini atau malah bersyukur? Aku yakin ia akan jauh lebih bahagia, setelah pergi menjauh dariku. Sebuah hama memang ditakdirkan untuk dibasmi, cepat atau lambat. Akulah hama itu. Ruli adalah pohon yang hendak mengeluarkan buahnya, jika hama terus merongrong, takkan ada buahnya, yang tersisa hanya lara.

Quote:Aku menghela napas. Dengan enggan melanjutkan makan. “Gue serius kali, Rul. Lo gak pantes di sini. Di Rumah susun ini. Karir lo udah maju. Untuk beli apartemen mah pasti bisa lah.” Lanjutku.

Kulihat air mukanya memerah padam. Dia membantingkan piringnya ke atas meja. Makanannya berhamburan ke segala arah. Ada butir-butir air di ujung matanya. Terlihat jelas, ia sedang berusaha untuk menahan tangisannya tumpah.

Aku pura-pura tak menyadari semuanya.

Quote:“Maksud lo apa sih, Meg? Lo ngusir gue?”


Quote:Aku hanya bisa menggelengkan kepala panik. “Gak gitu, Rul
...”

Quote:“Cukup tau, Meg. Gue udah capek sama kelakuan lo yang kaya gini. Pulang-pulang mabok, pulang-pulang sakau, pulang-pulang tak sadarkan diri. Mau sampai kapan sih? Gue emang bukan keluarga lo. Tapi, percaya sama gue, Meg—” Kata-katanya tertahan. Dia sangat mengerti, konsekuensinya. Dia tertahan sampai disitu. Pada kalimat menggantungnya. Aku tahu betul apa yang hendak ia lontarkan, dan kata apa yang akan keluar secara spontan dari mulutku setelahnya. Maka, keputusan Ruli untuk menghentikan kalimatnya disitu, cukup membuatku bersyukur secara histeris.


Muka Ruli memerah, ia pandai mengendalikan amarahnya. Selalu begitu. Wajahnya yang mempesona, sikap ceria sekaligus tenang dengan senyuman yang kerap kali memperlihatkan deretan gigi yang dibehelnya itu, membuatku selalu terpana. Ia adalah satu-satunya yang aku kasihi untuk saat ini. Apakah dunia akan membiarkan manusia sempurna semacam Ruli dekat-dekat denganku? Tidak mungkin! Semua wanita bahkan melakukan penindasan, baik sacara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Awalnya aku tak menaruh kepedulianku soal mereka, tapi, lambat laun perkataan mereka ada benarnya.

Aku hanya akan menghambat lajur mimpinya yang semakin dekat. Aku berusaha untuk mundur secara terhormat, membiarkan dia membenciku, dan aku akan tetap menyayanginya dari kejauhan.

Quote:“Sampe ketemu di Radio, Rul...”


Aku beranjak pergi. Tak sempat ganti baju atau bahkan mandi. Yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah melarikan diri darinya. Aku tak butuh semua perhatian ini! Aku butuh waktu banyak untuk sendiri.

Meraih tasku cepat-cepat. Rambut panjangku, terikat secara sempurna. Buntut kuda. Aku tumbuh menjadi wanita yang tomboy. Satu-satunya cara untuk membalas dendam pada keadaan adalah dengan menjadikan diriku kuat untuk menerima rasa sakit lagi dan lagi. bahkan, aku bertekad untuk masuk ke ranah, mati rasa.

Tidak untuk teman, tidak untuk keluarga, tidak untuk kekasih, bahkan tidak untuk diriku sendiri.

Aku kehilangan ‘Mega’ yang penuh dengan warna-warni pelangi. Biarkanlah, kali ini ‘Mega’ mengambang dengan kemendungannya, dan akhirnya hujan. Bukankah, semua orang menyukai hujan? Bagiku, itu manis.

Mega mendung tanpa hujan tak akan menjadi pelangi.

Bagaimana kalau hujannya datang pada malam hari? Justru, bagiku Ruli seperti pelangi di malam hari, dan itu sulit sekali dijumpai.
Dapatkah ‘Mega’ memeluk pelanginya?

Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
diadem01 dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2
10-08-2019 08:54
Quote:“Selamat pagi, netizen yang budiman. Kawan Radio Ultra light, apa kabar nih? Mudah-mudahan di pagi hari yang cerah ini semuanya baik-baik aja yah. Buat kalian yang lagi beraktifitas di pagi ini, semoga harinya berjalan dengan baik dan lancar. Bareng lagi sama gue Mega di bursa musik dan info pagi, sebuah acara yang pastinya bakal bikin pagi kalian makin semangat! Yah, seperti biasa. Gue bakalan nemenin Kawan radio Ultra semua selama satu jam ke depan, buat kalian yang mau request lagu bisa langsung kirim sms ke 0821-5521-4467! Gak cuma request lagu doang, di acara ini gue bakalan ngasih berita yang lagi hits di jagat maya saat ini, ditambah beberapa tips-tips bermanfaat ke kalian. Makanya jangan kemana-mana, stay tune terus di Ultra light radio eighty nine poin five FM. Satu lagu buat kalian semua dari GAC – Berlari tanpa kaki!"


Aku menyandarkan tubuhku, sesaat setelah musik bermain. Hari ini siaran sendiri, tak ada partner yang menemani. Hanya ada aku dan beberapa crew. Siaran pagi biasanya kulakukan berdua dengan Ruli. Mungkin, dia masih marah soal kemarin. Sudah dua hari tak datang atau mungkin dia benar-benar pergi...

Apa sih yang bisa ia harapkan dari Radio usang ini? Dewasa ini, semua orang bisa dengan mudah mengakses internet. Lama-kelamaan akan tergusur oleh perkembangan inovasi teknologi dari jaman ke jaman. Manusia dengan mindset kuno sepertiku, akan menderita karena tak mau mengikuti alur yang ada. Terlalu berpegang kepada idealismenya. Nanti, kalau sudah susah cari sesuap nasi, baru mengemis. Realita.

Tak ada telepon, tak ada video call, bahkan chat. Semua sepi. Aku tak bisa bertanya soal kondisi dan keberadaannya pada orang lain.
Mau taruh di mana mukaku nanti, kalau soal Ruli saja aku tak dapat menanganinya. Padahal kita satu kawasan rumah susun, kita sudah saling mengenal sejak lama, Kita berdua saling menemukan satu sama lain, keterpurukan membuat kita bisa senyaman ini. Dia dengan segala masalah keluarganya, aku dengan segala masalahku. Mungkin, hasilnya akan berbeda untuk sekarang. Soalnya, ia masih marah padaku.
Ruli tak pernah datang lagi. Dia pergi sembari membawa sebelas tablet Aspirin yang masih tersisa! Sialan, pria busuk itu. Aku mengutuk lagi dan lagi. Ruli mungkin lupa, kalau aku tak bisa hidup tanpa obat-obatan sialan itu.

Candu.

Ketergantungan ini sudah berlarut-larut. Sudah mengakar, sampai aku tak mampu untuk merubuhkan sesuatu yang sudah tumbuh subur dalam diriku.

Tiga lagu dan beberapa iklan sudah aku sisipkan ke dalam mixer. Rasa pening di kepala membuatku tak fokus untuk membacakan beberapa Ad-libs. Ditengah-tengah siaran aku di panggil oleh manager radio. Habis aku dimarahinya, gajiku bakalan raib di potong kalau kinerjaku selalu begini. Banyak sekali pengeluaran yang harus kukeluarkan. Ditambah hilangnya Aspirin membuatku semakin frustasi.

Siaran berakhir dengan tragis. Aku memutuskan untuk rehat dari radio selama seminggu. Untungnya, atasanku mengerti dan memberikan izin.
Oh, nestapa. Betapa inginnya kau merebut segala kebahagiaanku sehingga aku merasa asing dengan kata-kata itu. Aku terlalu akrab dengan rasa sakit, terkadang jika aku sedang senang. Aku merasa telah melakukan kesalahan, dan kembali bersedih pada akhirnya.

Aku memang tipe manusia yang setia, terutama pada kepedihan masa laluku.

Ah, sudahlah.

Sekarang aku bingung, harus membeli obat-obat itu dimana. Sedangkan, satu-satunya apotek yang rela dengan sadar memberiku obat itu dengan jumlah yang banyak secara rutin hanya tempatnya Sakti. Oh, tidak. Aku harus kembali lagi kesana, pada orang se-menyebalkan dia. Rasa-rasanya aku muak! Dia itu sok deket. Padahal, hubungan kita kan cuma sekadar penjual dan pembeli. Teman biasa. Tidak lebih ataupun kurang.

Sejauh mana aku bisa bertahan tanpa obat-obatan sialan itu, lihat saja!?

Tak sadar, aku sudah menantang diriku sendiri masuk ke dalam lubang hitam yang jauh lebih mengerikan dan dalam daripada sebelumnya.

profile-picture
profile-picture
diadem01 dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2
13-08-2019 09:13
Quote:“Aspirin lagi, Mbak?”


Aku tak menggubrisnya kali ini, hanya mengangguk pelan. Tak berdaya. Kulihat refleksi diriku sendiri di kaca-kaca lemari obat-obatan yang tertutup rapat. Sudah seminggu lamanya aku bertahan dari kecanduanku. Bersemedi sambil meratapi segala nyeri di dalam kamar seorang diri. Aku sendiri heran, bagaimana bisa aku bertahan sampai sejauh ini? Kukira malaikat maut akan singgah, namun, aku salah. Bahkan, malaikat maut pun enggan berkunjung padaku.

Aku benar-benar seorang diri sekarang.

Sekali lagi, aku menatap diriku sendiri di kaca itu. Mengenaskan sekali penampilanku. Rambut panjang yang gimbal; mata panda yang bulatnya sudah seperti lapangan basket; dan kerutan-kerutan di wajahku yang tak terelakan. Oh, mataku tampak lelah sekali, sayu. Aku menyisir beberapa kali rambut acak-acakanku dengan tangan kosong.

Quote:“Begadang lagi, Mbak?”


Aku menatapnya sinis.

Quote:Dia tertawa. “Okay, okay. Mega si penyiar radio kecintaan seluruh negeri.”


Quote:“Bacot lo, mana siniin obatnya.” Aku marah.


Quote:“Iya, iya. Kalem bisa kali? Buru-buru amat. Kan siarannya udah tadi pagi?”


Quote:Aku semakin marah, tak ingin meladeninya. Kulihat dia sedang sibuk mencari kesana kemari obatnya. “Ini dia.” Gumamnya perlahan. “Nih, 15 tablet. Seperti biasa.”


Aku memandang kotak hijau di depanku dengan sangat hati-hati, menimang-nimang dengan penuh perasaan. Seminggu berjuang, karam sudah dengan satu kali keputusan fatal.

Quote:“Ragu?”


Aku menatapnya, kali ini bukan dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Entah, darimana perasaan ini muncul. Mungkin karena aku merasa terlalu kesepian. Disamping pekerjaan, aku sama sekali tak pernah bersosialisasi dengan siapapun. Sudah beruntung sekali Ruli mau menemaniku selama lima tahun terakhir ini. Hmmm. Ruli.... Aku berusaha untuk menekan rasa rindu yang teramat dalam ini padanya, kita memang bukan hanya sekadar sahabat. Hubungan kita jauh lebih dalam daripada itu. Aku merindukan keceriaannya saat menceritakan hobinya dalam fotografi atau dalam berbisnis. Mulutnya menari-nari, aku mendengarnya dengan dada bergetar, dan kurasa dia tak pernah mengetahuinya. Mungkin? Karena, aku memerankan peran dengan cukup baik.

Aku menghembuskan napasku.

Quote:“Eh, kenapa, Meg? Tumben selemah ini.”


Aku hanya menggelengkan kepala lesu.

Quote:“Eh-ehmm. Mau ngopi dulu gak? Lagi santai kan?”


Quote:Aku menaikkan alis. Keheranan. “Boleh.” Jawabku. Sepertinya aku memang sudah terlalu kesepian. Sehingga, tawaran minum kopi dari orang yang tidak terlalu akrab, bahkan sempat aku benci pun menjelma menjadi sebuah tawaran masuk kastil pangeran.


Ironi!

Aku dibawa masuk ke dalam rumah yang tampak bersahaja, rumah kuno dengan beberapa corak yang unik dan begitu menarik. Kata-kata puitis sejagat raya pun tak mampu menggambarkan, betapa ramahnya suasana di rumah ini.

Quote:“Ti, gak nyangka lo punya rumah sebagus ini di belakang apotek.”


Senyumnya merekah, dadanya membusung, nampak bangga akan kepemilikannya. Tanpa sengaja aku membalas senyuman itu. Sakti nampak terkejut, apa aku sepelit itu soal senyum? Dia melebih-lebihkan.

Quote:“Manis.” Celetuknya.


Quote:“Hah?” Tanyaku. Tak lebih heran darinya. Pria sepolos dia mampu memberikan pujian secara terang-terangan pada wanita bengal sepertiku, sebuah kemajuan yang cukup menyenangkan. Aku tertawa geli dalam hati
.

Masuk ke dalam pekarangan yang hijau dan cukup luas, lalu duduk di sebuah pendopo, beralasan tikar. Cahaya temaram menusuk kulitku, membakar ragaku. Menaruh keyakinan-keyakinan yang terbendung cukup lama. Konsep rumah. Aku menemukannya di sini. Ada kedua orang tuanya, menyambut di depan pintu, aku menghampirinya sebentar, berbasa-basi ria. Beberapa menit berlalu dengan penyesalan. Aku tak nyaman dengan perbincangan-perbincangan kecil semacam ini.

Tak lama setelah itu, Sakti berdeham keras. “Ehm. Mah, Pah. Kayanya Sakti sama Mega mau nongkrong di pendopo lagi deh. Gak apa-apa kan? Mau cari angin. Hehe.” Walaupun dengan sedikit kikuk. Ia berhasil mengeluarkanku dari serangan-serangan obrolan yang bakalan membosankan. Baru kali ini, aku melihat ia seperti seorang pahlawan super.

Aku mengangguk perlahan-lahan, takut menyinggung perasaan mereka. Aku memang bengal, tapi, aku masih mengerti caranya bersopan santun.

Langkah-langkah berat kami, berirama. Menyesuaikan ritme satu sama lain, semua logikaku mulai tertutup rapat-rapat. Sepertinya, ide untuk ngopi bareng di rumahnya, tidak sepenuhnya ide yang begitu buruk.

Aku mulai menyukai semua ini.

Oh, tidak. Mungkin aku hanya sedang kesepian. Aku terus mengulangi alasan klise tersebut, meyakinkan diri. Butuh teman untuk mengobrol. Setelah semua pertengkaranku dengan Ruli. Aku benar-benar seorang diri di kota ini. sebagai seorang perantauan. Aku mulai merindukan rumahku.

Quote:Sebuah tangan melambai-lambai di depan mataku. “Eh, ngelamun lo, Meg?”


Aku tak menjawabnya. Hanya bergumam ‘hm’ lalu lanjut melangkahkan kaki lagi, menuju pendopo. Sungguh sebuah perjalanan yang menyenangkan, seperti rumah dalam impianku. Jalan setapak dengan rerumputan hijau yang terawat, jalan menuju pendopo yang tak kalah indahnya. Dari jauh sudah terlihat sebuah air mancur berwarna-warni, tepat di sebelah pendoponya.

Setelah sampai, aku langsung duduk bersandar. Merasa lega dan bahagia.

Eh, tunggu? Aku? Bahagia?

Aku menggelengkan kepala. Menampik semua perasaan ini datang silih berganti. Ingat, Meg. Kamu itu hanya sedang merana dan kesepian. Kamu benar-benar butuh pelampiasan.

Quote:“Meg, lo gak apa-apa kan. Lo gak nyaman kah?” Nadanya dipenuhi dengan kecemasan.


Aku tersenyum lagi, untuk kedua kalinya di hari yang sama, padanya.

Quote:Kali ini dia langsung mencubit pipiku. “Ouch! Sakti, Bego lo! Sakit tau! Cowok sialan.”


Quote:“AH! Ini bukan mimpi ternyata. Untung deh.”


Aku manyun, menyipitkan mataku. Kalau mau membuktikan ini mimpi atau bukan kenapa tidak mencubit pipinya sendiri sih? Dia memang cowok aneh!

Quote:“Ini kopi sama cemilan kalian...”


Entah berasal darimana, tiba-tiba mamahnya Sakti sudah berdiri membawa sebuah nampan tepat di hadapan kita. Menatap curiga, lalu terkekeh pada kita. Habis itu mamahnya hilang lagi. Perlakuan keluarga ini membuatku merasa bergairah kembali dalam hidup.

Memberikan sedikit harapanku yang telah lama raib. Terutama seminggu terakhir. Pekerjaanku satu-satunya pun sudah kacau, ditambah harus kehilangan Ruli.

Malam membabi buta setiap jengkal aliran darahku. Sedingin hati yang dihangatkan oleh segelas kopi yang dibuat oleh kasih-sayang mamahnya Sakti. Pohon-pohon seakan menari-nari tanpa lagu, rumput bersenandung, bahkan lampu-lampu temaram itu pun bersiul-siulan.

Air mancur menunjukan semburat warna-warni nan indah, aku sedang berhalusinasi. Kumohon, janganlah kambuh di saat-saat seperti ini. Tahan!

Aku menenggak kopinya sampai habis. Lalu, terengah-engah.

Quote:“Kenapa?” Tanyanya cemas.
“Gak.”
“Meg... Sampai kapan lo mau beli obat-obatan itu sih?”


Jujur saja, pertanyaan itu menghujam, layaknya peluru yang persis mengenai jantungku. Berdebam suaranya, tak terkendali degupannya. Aku bahkan tak dapat menjawab pertanyaan itu, untuk diriku sendiri.

Bisu.

Quote:“Maaf....” Sambungnya lagi.


Aku mempelajari setiap ekspresinya dengan hati dan pikiran yang kosong. Tak ada inti dari setiap kecanduan-kecanduanku. Aku mengetahuinya dengan jelas sekali. Obat-obatan itu membawaku lari dari kenyataan yang pahit, membuatku merasa lega walau sesaat. Tak ada yang dapat disalahkan, obat itu hanya benda yang bermuara pada keputusan-keputusan keliruku. Aku ingin berhenti, tapi, belum saatnya.

Hening.

Quote:Aku merasakan sebuah pelukan hangatnya, rangkulan yang menentramkan jiwaku. Aku malu, karena kuyakin Sakti dapat merasakan tubuhku yang sedang gemetar menahan rasa sakit. “Bertahanlah, Meg... Aku tahu, banyak yang terenggut darimu. Bahkan, Ruli—“


Quote:Aku memincingkan mata. Menyibakkan tangannya dari pundakku, menjauh. “Ruli? Kau tahu soal dia?”


Quote:Sakti mengangguk. “Aku kan penggemar acara radio kalian. Aku turut prihatin soal kepergian Ruli ke Singapura untuk meneruskan karirnya—.” Dengan ragu, ia meneruskan kalimatnya. “Lo bakal baik-baik aja, Meg. Ada gue...” lengkapnya, menyentuh kepalaku.


Aku diambang tak sadarkan diri. Semua informasi ini membuatku hancur. Jadi, benar. Ruli pergi untuk tidak kembali; untuk kebaikannya dan kebahagiannya; untuk masa depannya. Akhirnya, aku menangis, di pelukan Sakti. Dengan lembut ia mengusap bagian belakang punggungku. Aku adalah seorang pecundang yang tak dapat mengerti keinginannya sendiri.

Beberapa menit telah berlalu. Tak ada kalimat yang tertukar lagi. Kita menikmati kopi dan pemandangan malam kali ini dalam kebisuan. Hujan turun, gerimis. Membuat gempar seisi pekarangan Sakti. Semua tumbuhan bersorak-sorai kegirangan menyambut air keberkahan yang turun dari langit.

Quote:Aku tersenyum getir. “Mega mendung tanpa pelangi...” utasku.


Quote:“Kenapa tanpa pelangi?” Tanyanya. Tanpa melihat kembali wajah serta ekspresinya. Aku ingin menjawabnya dengan jujur, kali ini dengan setulus hatiku.


Quote:“Ada tangan yang sudah dengan tega merenggut pelangiku. Ketika aku berusia lima tahun. Aku ingin menjaganya, menghadiahkannya untuk suamiku kelak. Tapi....” Aku tersedak, tangisan yang tertahan ini tak dapat lagi terbendung. Aku menangis sejadi-jadinya. “Aku hina, Sakti....” Semua adegan ini membuatku spontan mengubah kata ganti ‘aku’ ‘kamu’ terhadapnya. Terdengar menggelikan ditelingaku. Namun, tak ada salahnya. Semua terasa begitu indah malam ini.


Quote:“It’s okay, Mega. Kamu aman disini, aku bakal jagain kamu...”


Kata-kata ajaib yang sungguh klise, dapat membuatku terjatuh ke dalam kenyamanan-kenyamanan yang lainnya.

Malam ini aku banyak bersyukur, karena, ada seseorang yang dapat menghentikanku dari sakau. Satu-satunya orang yang dapat melakukan itu, bahkan, Ruli pun tak bisa.

Dia datang seperti obat ajaib yang sangat mujarab...

Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
1
16-08-2019 13:24
Setahun sudah berlalu...

Aku dan Sakti semakin dekat, walaupun kita tidak dalam sebuah ikatan yang resmi. Namun, kita saling mengerti, kalau romantisme dan kasih sayang tak bisa di elak lagi. Sakti sudah tak menyebalkan seperti dulu. Atau mungkin, dia memang tak pernah menyebalkan, semua hanya soal sudut pandang. Aku melihat sosok yang berbeda darinya. Pelindung.

Kepolosannya, membuatku semakin yakin dan percaya padanya. Dia masih bekerja di apotek, aku pun masih kerja di radio. Kisah kita mungkin bukan kisah romansa yang spektakuler. Tapi, aku menyayanginya dengan kesederhaannya.
Quote:
“Aspirin, Mbak?” Ledeknya.


Quote:“Sakti.....”


Nada mengancamku membuatnya, terkekeh. Kacamata kayunya terpontang-panting kesana-kemari. Kulitnya yang kecoklatan, tubuhnya yang kurus, serta pakaiannya yang norak. Membuatku ikut terkekeh. Aku tak pernah menyangka, akan melabuhkan hati pada seseorang sepertinya. Sangat jauh dari kriteriaku.

Namun, dia mampu memberikanku hidup. Membuatku dapat melawan mental illness-ku, membuatku berhenti mengonsumsi obat-obatan itu. Bersamanya aku bisa menjadi Mega yang lebih baik lagi.

Quote:“Mamah sama Papah kemana, Ti?”


Quote:Dia menaikkan bahunya. “Lagi kencan kali ah, kan sekarang malam minggu. Kalah kamu tuh sama mereka!” Ledeknya lagi, kali ini sembari menjulurkan lidahnya.


Quote:“Ish. Padahal aku bawa brownies buat mereka...” nadaku sedih.


Quote:“Brownies!? Mana-mana?” Sakti berlari ke arahku, memutari etalase. Kita berlari-lari kecil, aku mempertahankan browniesnya, sedangkan dia ingin merebutnya.


Tawa mengawan dimana-mana.

Kali ini aku dapat memeluk pelangi baruku. Tak usah aku menunggu hujan datang, dia selalu menciptakan warna, bahkan ketika aku tak memintanya.

Quote:Sakti menggelitikku. “Sakti! Stop!”


Quote:“Stop? In your dream! Hahaha.”


Ada suara gerungan kendaraan yang memecahkan kebahagiaan kita berdua. Langkah kaki yang berat. Dan aroma yang sangat familiar, menusuk tulang di hidungku.

Quote:“Hai.....”


Suaranya menggema, membuat bulu kudukku merinding. Aku terpaku, menoleh kearah pintu apotek dengan mata yang terbelalak tak percaya.
Ruli?!

Dia tersenyum canggung, menatap tangan Sakti yang sedang memeluk pinggangku. Aku menelan ludah. Menatap Ruli, kemudian Sakti. Wajah mereka memerah. Aku tak dapat menerka apa yang sedang terjadi saat ini.

Quote:“Selamat, Mega. Aku denger banyak kabar soal kalian berdua.”


Kenapa? Setelah menghilang, kamu datang membawa luka lama pada kebahagiaanku yang baru. Pada pelangi yang sengaja kuciptakan untuk menutupi luka-luka yang sudah teramat menempel pada dinding lubuk hatiku.

Quote:Dadaku berdebar kencang. Rangkulan Sakti melemah, ia berjalan mantap ke arah Ruli. Lalu bersalaman dengannya. “Hai, Rul. Terimakasih sudah membiarkan gue jadi pelangi baru buat Mega. Gue bersyukur.” Dia tersenyum cerah.


Hatiku retak, tapi, ada sedikit kebanggaan di dalamnya.

Aku tak bisa mempunyai dua pelangi sekaligus. Dengan penuh ketegasan dan kemantapan hati yang sudah kupungut sejak lama kepingan demi kepingannya.

Aku percaya, Saktilah pelangi terakhirku...

Quote:“Thanks, Rul. Selamat juga buat film lo yang sukses...”


-Tamat-

0
16-08-2019 17:37
Tamat?
Ane masih bingung dengan mental illness-nya
0
16-08-2019 18:39
Quote:Original Posted By Rapunzel.icious
Tamat?
Ane masih bingung dengan mental illness-nya


Sorry, gan. Mental illness-nya ngobat disitu critanya emoticon-Ngakak
0
16-08-2019 20:19
jadi inget sama mantan gegara judul ni cerita emoticon-Mewek
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
catatan-yang-terbuka
Stories from the Heart
cinta-agama--mama
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.