alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4aa4e4a727684917225b16/kotak-waktu
Lapor Hansip
07-08-2019 17:16
Kotak Waktu
Past Hot Thread
Kotak Waktu

PRAKATA

Di era digital sekarang, menjaga hubungan pertemanan terasa lebih mudah untuk dilakukan. Orang-orang bisa tetap saling terhubung seberapa pun jauhnya jarak di antara mereka. Namun pernahkah kita berpikir bagaimana rasanya jadi generasi yang tumbuh di era sebelum internet merajalela seperti sekarang? Tanpa media sosial, tanpa aplikasi perpesanan, dan tanpa kemudahan-kemudahan yang ada di zaman ini, bagaimana mereka akan tetap terhubung?

Sebagai bagian dari generasi yang merasakan peralihan dari era tradisional ke era modern, saya tahu betul bagaimana rasanya ‘kehilangan’ teman-teman dekat. Kalau generasi sekarang bisa dengan mudah memantau aktivitas teman melalui media sosial, kami di masa itu hanya mengandalkan surat untuk berkirim kabar. Atau sesekali menelepon, kalau ada uang lebih. Sebuah kabar dari teman lama yang berpindah kota atau negara, sungguh terasa mahal. Dan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kami akan saling dikejutkan dengan betapa banyaknya perubahan yang dialami, atau betapa banyaknya cerita hidup yang terlewatkan. Itu pun kalau sempat bertemu kembali.

Menulis buku ini menghadirkan banyak nostalgia di hati saya. Seperti petualangan menjelajah waktu, saya mengirim diri saya sendiri menuju hari-hari yang sudah lama berlalu, namun rasanya seperti baru kemarin. Ada kehangatan dan kerinduan yang terasa sangat dekat meskipun kenyataannya sungguh jauh.

Buku ini adalah pesan rindu dari saya untuk sahabat-sahabat lama yang kini entah di mana berada. Sahabat yang dulu sama-sama berjuang menggapai mimpi. Sahabat yang dulu selalu mengisi hari-hari dengan celotehan, nyanyian, atau bahkan makian. Sungguh cepat waktu berlalu. Saya percaya kita kini sedang belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita.

Akhir kata, saya berharap buku ini bisa menjadi ‘sahabat’ yang baik untuk kalian, para pembaca. Atau setidaknya, mengingatkan kita semua bahwa di antara banyaknya hal-hal yang tumbuh dan luruh di dunia ini, hanya cinta dan persahabatan yang sanggup bertahan. Selamanya.

Tertanda,
Pudjangga Lama
Diubah oleh pujangga.lama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 40 lainnya memberi reputasi
41
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 14
12-08-2019 15:04
LANJUTKAN...!!! TS mantapp
0
12-08-2019 15:16
saya pudjangga telah kembali...emoticon-Big Grin
welcome back...emoticon-coffee
0
12-08-2019 15:20
baca nya kalo pulang berlayar aja, semoga 2021 nanti jadi top layaknya SK2H
0
12-08-2019 15:44
weeeeeiittsss wajib naro sendal ini... latarnya kota bandung.. alur waktu nya seangkatan pulak wkwkwk
0
12-08-2019 16:20
TS nya legend SFTH nih, ijin nenda ya emoticon-Big Grin
0
12-08-2019 16:58
Wah, rame banget. Enggak ada yg mau mutualan?
0
12-08-2019 18:16
Quote:Original Posted By pujangga.lama
Wah, rame banget. Enggak ada yg mau mutualan?


Dahh add fren om... Lanjut trus yakk...
Karya mu emang mantapp om...
Masi ingat tante meva emoticon-Mewek
profile-picture
pujangga.lama memberi reputasi
1
12-08-2019 18:18
legend is back!!! emoticon-Matabelo
0
12-08-2019 20:32
komeng dulu ahhh

gila sang lengend comeback

selamat datang kembali om di 'rumah'
semoga updet lancar jaya emoticon-Leh Uga
0
12-08-2019 20:34
tandain dulu bang
0
13-08-2019 00:03
ijin pasang tenda dari kaskuser yang masi penasaran dgn wujud nyata sesosok 'Mevally' dan penggemar karya seorang #pudjanggalama.......
emoticon-Blue Guy Peace
profile-picture
pujangga.lama memberi reputasi
1
13-08-2019 01:30
Quote:Original Posted By pujangga.lama


PRAKATA



Menulis buku ini menghadirkan banyak nostalgia di hati saya. Seperti petualangan menjelajah waktu, saya mengirim diri saya sendiri menuju hari-hari yang sudah lama berlalu, namun rasanya seperti baru kemarin. Ada kehangatan dan kerinduan yang terasa sangat dekat meskipun kenyataannya sungguh jauh.


Tertanda,
Pudjangga Lama


Seperti kata salah satu sastrawan wanita yang terkenal di Indonesia :

"Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarangnya tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi." Helvy Tiana Rosa
Diubah oleh panjang.kaki
profile-picture
profile-picture
teri.panca dan pujangga.lama memberi reputasi
2
13-08-2019 08:30
jejak dulu Om Arii
0
13-08-2019 09:51
Nitip sendal mas, mau beli sepatu. emoticon-Paw
Diubah oleh sabna.tamara
0
13-08-2019 10:36
😍😍😍😍😍
0
13-08-2019 12:07
BAB 7
Saat itu jam pelajaran kosong di kelas I-2.

“Ka, cabut yuk?” Gugun yang baru kembali dari WC berbisik pada Taka.

“Cabut ke mana? Baru aja mau merem. Males, ah.”

“Anak-anak pada ngumpul di belakang.”

Taka menoleh ke belakang kelas.

“Bukan belakang kelas, tapi di belakang WC. Tempat biasa kita nongkrong.”

“Oh. Gue lagi enggak mood ngerokok.”

“Lu bakalan nyesel kalau enggak ikut. Gue dengar si Boim bawa cerutu.”

“Cerutu? Serius lu?” Kantuk di kedua mata Taka mendadak lenyap.

“Serius. Mantap, kan? Gue tahu lu penasaran mau nyobain cerutu. Makanya, hayu ke sana.”

Tanpa berdebat langsung saja Taka mengekor di belakang Gugun.

“Mau ke mana kalian?” Suara Dewi dari belakang menghentikan langkah mereka.

“Perpustakaan,” jawab Gugun singkat.

Dewi kernyitkan dahi. “Perpustakaan? Tumben kalian ke sana? Mencurigakan.”

“Daripada mencurigakan, mending mencuri-uang.”

“Ha-ha-ha. Lucu.” Dewi tertawa sinis.

Gugun memberi kode pada Taka supaya buru-buru pergi.

“Eh, tunggu. Kalian mau ke mana sebenarnya?” Dengan langkah lebar Dewi menyusul mereka. Taka dan Gugun kembali berhenti. “Pak Tarya kan ninggalin tugas buat kita? Kalian malah kabur.”

“Kami enggak kabur, Wi.” Gugun berusaha meyakinkan Dewi. “Justru gue sama Taka ke perpustakaan mau nyari buku referensi buat ngerjain tugas pelajaran Ekonomi.”

“Ah, bohong. Kalian pasti mau ngerokok di belakang. Iya, kan?”

Taka dan Gugun saling lirik. Keduanya kompak menggelengkan kepala.

“Udah, kalian buruan balik ke meja lalu kerjain tugas. Tetap di kelas sampai jam pelajaran berikutnya.”

“Nanti ya, gue sama Taka mau ke perpustakaan dulu.”

“Enggak. Kalian masuk ke kelas,” Dewi berkacak pinggang. “Kalau Pak Tarya sampai tahu kalian enggak ngerjain tugas, bisa dimarahi kalian.”

“Ya udah, sih. Yang dimarahi gue sama Taka, kan? Yuk, Ka, kita cabut.”

Taka mengikuti Gugun. Mereka meninggalkan Dewi yang hanya diam berdiri di depan pintu kelas.

“Si Dewi bawel banget,” Gugun mengomel. “Padahal apa urusannya dia sama kita?”

“Tapi, lu enggak khawatir? Dia kayaknya tahu kita mau ke belakang.”

“Enggak usah dihiraukan. Dia enggak akan macam-macam.”

Sesampainya di belakang WC—tempat tongkrongan mereka—ternyata sudah ada beberapa siswa di sana, termasuk Boim siswa kelas II yang katanya membawa cerutu. Taka dan Gugun langsung disambut dan disodorkan sebatang cerutu.

“Nih, kalian baru lihat, kan? Ini asli ekspor dari Amerika,” kata Boim.

“Sotoy lu, Im. Kalau beli dari luar negeri, itu namanya impor, bukan ekspor.” Gugun mengoreksi.

Boim diam sejenak. “Tapi kalau dari pihak Amerika, mereka mengekspor, kan? Lu yang sotoy, Gun.” Boim ngotot.

“Udah, ah. Ngapain jadi ngebahas soal ekspor impor, sih?” Taka menengahi. “Kalau mau bahas itu, nanti aja di kelas.”

Mereka lalu setuju menyudahi debat nirfaedah tersebut. Baru saja Taka dan Gugun mencicipi cerutu dari Boim ketika Dewi mendadak muncul dan menangkap basah keduanya.

“Nah, ketahuan, kan! Kalian bilangnya mau ke perpustakaan tapi malah di sini.” Dewi melangkah lebar ke tempat mereka. Dari ekspresi wajahnya terlihat dia sedang marah. Boim dan yang lain sempat kebingungan, lalu mereka bergegas pergi.

“Hei, mau pada ke mana kalian? Kenapa takut?” Gugun setengah kecewa.

“Kalian memang seharusnya takut,” Dewi membalas. “Aku bisa aduin soal ini ke guru BK.”

“Temen lu enggak asyik,” kata Boim sebelum pergi.

Tinggallah Taka, Gugun, dan Dewi di sana.

“Kalian ini keterlaluan,” Dewi merebut cerutu di tangan Gugun, menjatuhkannya ke tanah, lalu menginjaknya berkali-kali sampai nyaris hancur. “Siswa nakal macam kalian ini yang bikin jelek nama sekolah. Pakai seragam sekolah kok ngerokok? Kalian seharusnya malu, tahu?”

Taka dan Gugun hanya diam.

“Kalian mikirin kesehatan kalian enggak, sih? Merokok itu berbahaya. Bisa kena macam-macam penyakit. Apa yang terkandung di rokok itu semuanya racun.” Dewi masih mengomel. “Harusnya kalian di kelas, ngerjain tugas. Bukan di sini, ngerokok kayak anak berandalan!”

“Lu tahu apa soal rokok dan bahayanya?” Gugun terlihat jengkel diceramahi Dewi. “Kalau memang rokok berbahaya, lu ingetin juga bokap lu. Dia perokok berat tuh. O ya, dan bukan cuma rokok, bokap lu juga minum bir, arak, dan semua jenis minuman keras. Bahaya mana sama gue yang cuma ngerokok sesekali? Kenapa? Kaget ternyata gue tahu soal ini? Lu seharusnya malu, punya bokap kayak gitu tapi malah sok-sokan ngingetin orang lain. Ingetin dulu bokap lu sana. Satu lagi, kalau mau lapor ke guru BK soal gue ngerokok di sini, silakan. Gue enggak takut.”

Kali ini Dewi benar-benar terdiam. Wajahnya terlihat memucat. Bagaimanapun, Taka baru mendengar soal ayah Dewi dari ucapan Gugun hari itu. Taka mengerti maksud Dewi menegur mereka. Dia pikir tidak seharusnya Gugun menyerang balik seperti itu.

“Yuk, Ka. Balik ke kelas.” Gugun mendahului di depan.

Taka sempat bingung apakah harus bicara sesuatu pada Dewi atau ikut Gugun kembali ke kelas. Pada akhirnya dia kembali ke kelas tanpa bicara sepatah kata pun. Taka sempat menoleh ke belakang dan melihat kedua bahu Dewi bergetar seperti ketika seseorang sedang menangis. Namun Taka melangkahkan kaki tanpa berani bicara apa-apa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
13-08-2019 12:09
BAB 8
Kejadian di belakang WC hari itu membuat Dewi berhenti bicara pada Taka dan Gugun. Mendadak saja Dewi menjadi tidak kenal dengan mereka berdua. Gugun bilang Taka tidak perlu khawatir karena Dewi memang kerap seperti itu, tetapi tidak lama kemudian akan baikan lagi. Elsa dan Keela yang tidak tahu-menahu soal perubahan sikap Dewi memaksa Taka untuk berbicara. Setelah mendengar duduk permasalahannya, kedua perempuan itu jadi ikut marah pada Taka dan Gugun.

“Biarin aja, deh. Cewek memang suka bikin ribet hal yang sepele,” kata Gugun menyikapi friksi yang terjadi di antara mereka.

Jadilah mereka berlima saling kikuk dan serba-sungkan. Sampai kemudian sebuah kejadian tidak diduga terjadi. Saat itu sore hari, menjelang magrib. Taka dan Gugun baru saja selesai mandi dan berganti pakaian setelah mengikuti jadwal ekstrakurikuler futsal. Pintu kamar mandi dibuka secara kasar oleh Bagas.

“Gun! Ka! Dewi!” serunya terengah-engah.

“Apaan, sih, Gas? Sebutin aja semuanya.” Gugun menjawab santai.

“Dewi! Di lapangan!”

“Kenapa sama Dewi?”

“Berantem sama Nunik!”

“Hah? Serius, nih?” Taka terkejut.

“Serius. Enggak ada yang berani misahin.”

Langsung saja Taka dan Gugun berlari menuju lapangan upacara. Benar saja, di sana terlihat kerumunan siswa, yang kebanyakan perempuan. Beberapa terlihat memegangi Dewi, sementara sebagian yang lain berusaha keras menghalau Nunik, siswa kelas II yang dikenal sebagai ketua Dance Club. Dewi berhasil meloloskan diri. Dia langsung menyerbu Nunik tanpa ampun. Perkelahian pun tak terelakkan. Para siswa yang tadinya berusaha menghalau, terpaksa menghindar agar tidak kena pukul.

Gugun dan Taka sampai ke tempat kejadian, berbarengan dengan segerombolan kakak kelas lain yang datang. Mereka siswa laki-laki.

“Apa-apaan ini?” Tteriak salah satu dari mereka.
Situasi mulai terkendali. Dewi berhasil ditarik sementara Nunik masih berusaha menyerang.

“Belagu banget, anak kelas satu berani nyerang kakak kelas,” salah satu kakak kelas mendekati Dewi. Tanpa basa-basi dia menampar pipi kiri Dewi.

Melihat kejadian itu—tanpa bicara sepatah kata pun—Gugun langsung balas menghajar si kakak kelas. Perkelahian kembali pecah. Kali ini antara Gugun dan para kakak kelas. Mau tidak mau Taka akhirnya ikut membantu Gugun.

“Taka! Gugun! Kok malah kalian yang berantem!” Terdengar suara Bagas mendekat. “Hei, jangan beraninya keroyokan! Sini maju!”

Taka tidak dapat melihat dengan jelas. Terlalu banyak orang yang bergerak di sekelilingnya. Pokoknya dia melepas pukulan pada orang selain Gugun dan Bagas. Situasi bertambah kacau. Sebuah pukulan mendarat di telinga kanan, membuatnya berdengung keras. Taka jatuh terduduk, tetapi segera bangkit dan mulai berkelahi lagi.

Dari kejauhan terdengar suara orang-orang mendekat. Beberapa dari mereka berteriak meminta perkelahian disudahi. Dari pakaian yang dikenakannya, Taka tahu mereka adalah para guru. Satu per satu siswa yang berkelahi dijatuhkan ke lantai. Begitu pun Taka, dia tersungkur di rumput.

“Memalukan! Benar-benar memalukan!” Salah satu guru berteriak marah. “Mau pada jadi jagoan? Iya? Semuanya, ikut saya ke ruang konseling!”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
13-08-2019 12:10
BAB 9
Taka, Gugun, Bagas, Dewi, dan Elsa baru keluar dari ruang konseling ketika hari sudah malam. Mereka diperintahkan menuju ruang kesehatan untuk mengobati luka. Ada petugas PMR yang sudah menunggu di sana.

Mereka berjalan dalam diam. Sesekali terdengar rintihan kesakitan, tetapi tidak satu pun yang bicara. Sampai di ruang kesehatan, mereka disambut oleh Keela.

“Ya ampun, gimana ceritanya sampai bisa pada bonyok begini?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan tersebut. Elsa bergegas memeluk Keela dan mulai menangis.

“Kalian masuklah dulu,” kata Keela. “Diobati dulu lukanya.”

Di dalam ruangan, beberapa anggota PMR dengan sigap melakukan pengobatan. Setengah jam kemudian Taka, Gugun, Dewi, Elsa, dan Keela sudah duduk-duduk di taman sekolah sementara Bagas lebih dulu pamit pulang.

“Jadi, ada yang mau cerita enggak gimana kronologinya sampai kalian ikut tawuran?” Keela bertanya. Sejak tadi memang tidak ada yang berbicara.

Taka merasakan situasi yang tidak nyaman. Bagaimanapun, keadaan masih belum berubah sejak mereka berkonflik dengan Dewi. Belum ada ‘gencatan senjata’ di antara mereka. Tapi entah kenapa Gugun malah tertawa. Melihat si Keling tertawa begitu lepas, Taka pun ikut tertawa. Dewi dan Keela saling melempar tatapan bingung. Hanya Elsa yang tampak murung.

“Dasar, kelakuan. Udah pada gede juga masih doyan berantem,” Keela mengomel.

“Ini semua gara-gara saya,” kata Elsa.

Dewi menggelengkan kepala. “Kamu enggak salah, El. Yang salah itu si Nunik. Cewek sombong dan kurang ajar kayak dia memang pantas dihajar!” Dewi berapi-api mengatakannya.

Elsa mulai menangis. “Maafin saya, Wi. Semuanya, maafin saya. Ini gara-gara saya maksa ikut Dance Club. Kalau aja saya dengar saran kalian waktu itu, enggak akan kayak begini jadinya.”

“Aku beneran enggak paham. Coba, kamu ceritain gimana masalahnya,” Keela masih menuntut kejelasan.

“Jadi, gini,” Dewi bercerita sambil pegangi pelipisnya yang memerah. “Awalnya aku dengar dari obrolan cewek-cewek di toilet, mereka ngomongin soal Elsa di Dance Club. Katanya, Elsa enggak dapat peran apa-apa. Dia di sana cuma dimanfaatkan buat jadi babu. Karena penasaran, jadi sore ini aku sengaja enggak pulang buat memata-matai kegiatan Dance Club. Ternyata benar, kulihat Elsa enggak ikut latihan nari. Dia cuma disuruh bawa barang, ambil handuk, atau beli es buat kakak kelas. Pokoknya, kelihatan enggak dihargai, deh!

“Akhirnya aku konfrontasi si Nunik sebagai ketuanya. Aku marahin dia. Eh, teman-temannya enggak terima! Ya udah, jadinya berantem. Tapi aku enggak tahu gimana ceritanya sampai Taka, Gugun, dan Bagas juga terlibat.”

Taka dan Gugun tertawa.

“Bagas yang ngasih tahu aku dan Gugun,” sambung Taka. “Begitu lihat keributan di lapangan, awalnya kami berusaha melerai. Begitu salah satu kakak kelas cowok nampar Dewi, mulai dari situlah aku dan Gugun terlibat. Bagas yang paling akhir.”

“Terus, kalian diomeli apa aja di ruang konseling?”

“Banyak. Disuruh berdamai juga. Pada salaman tapi kerasa banget sama-sama terpaksa.”

“Katanya kalau sekali lagi ribut kayak gini bakal dikeluarin dari sekolah.”

Taka dan Gugun kembali tertawa.

“Kalian berdua! Diancam dikeluarin dari sekolah, kok, malah ketawa?” Keela mendengus kasar.

“Maaf ya, semuanya. Saya benar-benar menyesal. Kalian jadi harus tanda tangan surat perjanjian, dan orang tua kalian juga dipanggil ke sekolah.”

“Udahlah, El. Kita semua ngelakuin ini buat melindungi kamu,” Dewi merangkul Elsa yang kemudian menangis lagi. “Meskipun tindakan kita enggak bisa dibilang benar, tapi hari ini kamu lihat seberapa besar rasa peduli kami terhadap kamu. O ya, Gun, makasih ya tadi udah belain aku.”

Gugun tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain, tapi dari tarikan di bibirnya, dia terlihat menahan senyum. Taka tidak mengerti senyum apa yang berusaha ditahan Gugun.

Melihat memar di wajah, tangan, dan kaki Dewi, juga luka di siku Gugun dan di beberapa tempat lainnya, Taka setuju dengan ucapan Dewi. Mereka melakukan ini karena tidak terima sahabatnya diperlakukan dengan tidak adil. Sahabat yang baik tentu akan melakukan apa pun demi membela sahabatnya.

Walau Taka merasakan sakit pada tubuhnya, dia tetap bisa tersenyum. Dan setelah kejadian malam itu, mereka berlima kembali akur dengan sendirinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 6 lainnya memberi reputasi
7
13-08-2019 13:46
numpang lapak gan ari. ditunggu kelanjutannya lgi
0
13-08-2019 18:17
Quote:Original Posted By Jimbo_chan
ijin pasang tenda dari kaskuser yang masi penasaran dgn wujud nyata sesosok 'Mevally' dan penggemar karya seorang #pudjanggalama.......
emoticon-Blue Guy Peace


Saya hafal, nih.
Yang pakai avatar begini pasti sepuh.
Sungkem dulu.
emoticon-Salaman

Quote:Original Posted By panjang.kaki
Seperti kata salah satu sastrawan wanita yang terkenal di Indonesia :

"Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarangnya tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi." Helvy Tiana Rosa


Kata Pak Pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian. emoticon-heart and emoticon-coffee
0
Halaman 4 dari 14
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
di-atas-pena-tuhan
Stories from the Heart
jampe-popotongan-kisah-nyata
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.