Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
653
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3106c00577a9581d06566e/senandung-black-n-blue
Ini bukan tentang pembuktian Bukan juga tentang sebuah sesal Ini tentang aku dan perasaan Hanya satu dan penuh tambal Ini bukan tentang akumulasi kemarahan Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan Hanya aku dan keegoisan Bergeming dalam kesendirian Aku bukan pujangga Aku tak mahir merangkai kata Aku hanya durjana Menunggu mati di ujung cahaya Aku bukan belati Bukan juga melati Aku hanya seorang buda
Lapor Hansip
06-01-2019 02:34

Senandung Black n Blue

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Ini bukan tentang pembuktian
Bukan juga tentang sebuah sesal
Ini tentang aku dan perasaan
Hanya satu dan penuh tambal

Ini bukan tentang akumulasi kemarahan
Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan
Hanya aku dan keegoisan
Bergeming dalam kesendirian

Aku bukan pujangga
Aku tak mahir merangkai kata
Aku hanya durjana
Menunggu mati di ujung cahaya

Aku bukan belati
Bukan juga melati
Aku hanya seorang budak hati
Sekarat, termakan nafsu duniawi

Sampai di sini aku berdiri
Memandang sayup mereka pergi
Salah ku biarkan ini
Menjadi luka yang membekas di hati



Senandung Black n Blue


Nama gue Nata, 26 tahun. Seorang yang egois, naif, dan super cuek. Setidaknya itu kata sahabat-sahabat gue. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Mungkin jika gue bertanya pada diri gue sendiri tentang bagaimana gue. Jawabanya cuma satu kata. IDEALIS TITIK. Oke itu udah 2 kata. Mungkin karena itu, hampir semua sahabat gue menilai gue egois, yang pada kenyataanya gue hanya tidak mau melakukan hal apapun. APAPUN. Yang tidak gue sukai. Bahkan dalam pekerjaan, jika menurut gue tidak menyenangkan, gue akan langsung resign.

Menulis buat gue bukanlah sebuah hobi, bukan juga sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi hobi, bukan juga keahlian diri, bukan juga sesuatu bakat terpendam yang akhirnya muncul karena hobi. Apaa sihh !!? Menulis buat gue adalah cara terbaik meluapkan emosi. Di kala telinga orang enggan mendengar, dan lidah sulit untuk berucap tapi terlalu penuh isi kepala. Menulis adalah cara gue menumpahkan segala penat yang ada di kepala, cara gue bermasturbasi, meng-orgasme hati dengan segala minim lirik yang gue miliki.

Kali ini berbeda, gue tidak menuliskan apa yang ingin gue lawan. Tidak juga menuliskan opini gue tentang suatu hal. Ini tentang diri gue seorang. Tidak indah, tidak juga bermakna, hanya kumpulan kata sederhana yang terangkai menjadi sebuah kisah. Angkuh gue berharap, semoga ini bisa menjadi (setidaknya) hikmah untuk setiap jiwa yang mengikuti ejaan huruf tertata.

.


Quote:
Heyoyoyoyoy what's up genk !!
emoticon-Wow

Selamat tahun 2019 genk, semoga di tahun yang baru ini, apa-apa yang kalian inginkan bisa tercapai ... aamiin.
Tahun baru semangat baru, dan yang pasti harus berbeda seperti tahun sebelumnya. Seperti saat ini keberadaan gue di Forum SFTH tercinta ini adalah sesuatu yang baru untuk gue pribadi. Karena biasanya gue seliweran di lounge, tapi kali ini gue mau memulai tahun baru ini dengan sesuatu yang baru. Yaitu sedikit memutar roda waktu, bermain dengan kenangan, dan melukisnya dalam sebuah cerita yang berdasarkan kehidupan nyata. Kehidupan nyata siapa? pantengin ajah yang geng. emoticon-Big Grin

Sebelumnya gue menghimbau untuk mematuhi peraturan yang ada di forum ini.
dianjurkan baca ini terlebih dahulu sebelum lanjut membaca.
SFTH RULES
H2H RULES
GENERAL RULES KASKUS

dan, gue membuat peraturan khusus untuk di thread ini.

1. Don't touch my real life
2. Don't ever ever touch my real life
3. Don't ever ever ever touch everyone character in this story dalam dunia nyata.
4. Jangan kepo.
5. Jangan meminta medsos apalagi nomer telpon siapapun yang ada di cerita ini, kalo nomer sepatu gapapalah, kali ada yang mau ngirimin sepatu emoticon-Big Grin
6. Jangan juga meminta foto karena itu di larang, sekalipun boleh ga akan pernah gue kasih.
7. Gue sadar banyak teman-teman gue entah itu teman sd, smp, sma, kuliah, kerja, atau teman di manapun yang aktif dalam kaskus, gue mohon dengan sangat kebijaksanaanya untuk tidak mengumbar identitas asli gue atau siapapun dalam cerita ini dan tetap menjaga privasi semuanya.
8. Jika gue rasa kedepanya cerita gue ini sudah mengganggu siapapun, tidak menutup kemungkinan gue akan menutup threat ini,selesai ataupun belum.
9. Kalau tidak ada halangan cerita ini pasti tamat, jadi jangan tanya kapan update, pasti gue akan update sampai tamat, jika tidak ada masalah kedepanya.
10. Gue hanya manusia biasa, basicly gue bukan penulis, jadi maafkan tata bahasa gue yang semrawut atau bahkan tidak sesuai dalam penggunaanya.
11. Dan gue juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, ambil segala sesuatu yang baik dalam cerita gue, dan jadikan segala yang buruk untuk pelajaran agar kita tidak melakukan hal-hal yang buruk itu.
12. Last, gue anggap pembaca sudah dewasa dan bisa bersikap selayaknya orang dewasa.


.


Jakarta, 22 Desember 2018.

Senja telah berganti malam saat mobil yang gue kendarai tiba di kawasan kemayoran. Gue masuk ke areal JI Expo Kemayoran. Saat masuk gue melihat banyak banner dan papan iklan yang menunjukan bahwa di area ini sedang dilaksanakan sebuah acara akhir tahun dengan Tag line "pameran cuci gudang dan festival musik akhir tahun". Gue tidak mengerti kenapa sahabat gue mengajak gue bertemu di sini.

Sesampainya di areal parkir, gue memarkirkan mobil. Tidak terlalu sulit mencari tempat kosong, tidak seperti saat diselenggarakan Pekan Raya Jakarta, yang penuh sesak. Sepertinya acara ini tidak terlalu ramai, atau mungkin belum ramai karena gue melihat jam masih pukul 18.35.

"Whatever lah mau rame mau sepi." Ucap gue dalam hati.

Gue memarkirkan mobil, setelahnya gue sedikit merapihkan rambut, berkaca pada kaca spion, lalu memakai hoodie berwarna hitam yang sedari tadi gue letakan di kursi penumpang, kemudian keluar mobil sambil membawa tas selempang berisi laptop.

Perlahan gue berjalan, sesekali melihat ke kiri dan ke kanan, mencari letak loket pembelian tiket berada. Akan lebih mudah sebenarnya jika gue bertanya pada petugas yang berjaga. Tapi biarlah gue mencarinya sendiri.Toh sahabat gue juga sepertinya belum datang.

Di loket, gue melihat banyak orang menggunakan kaos yang bertema sama. Banyak yang memakai kaos bertema OutSIDers, Ladyrose, dan juga Bali Tolak Reklamasi. Gue sedikit memicingkan mata, dalam hati berkata."Sial gue dijebak."

Setelah membeli tiket, gue masuk ke areal acara, melihat banyak stand dari berbagai brand. Penempatan stand-stand menurut gue menarik, benar atau tidak, sepertinya pihak penyelenggara menaruh stand brand-brand besar mengelilingi brand kecil. It's so fair menurut gue. Karena banyak acara semacam ini yang gue lihat justru menaruh brand UKM yang notabenenya belum terlalu di kenal di posisi yang tidak strategis. Dan untuk acara ini gue memberi apresiasi tersendiri untuk tata letak tiap brandnya. Walau sejujurnya butuh konfirmasi langsung oleh pihak penyelenggara tentang kebenaranya.

Gue masuk lebih dalam, mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk gue menunggu sahabat gue yang belum datang. Sesekali berpapasan dengan SPG yang menawarkan barang dagangnya, gue tersenyum tiap kali ada SPG yang menawarkan gue rokok, kopi, dan lainnya. Dalam hati gue teringat tentang bagian hidup gue yang pernah bersinggungan langsung dengan hal semacam ini. Terus melanjutkan langkah, Gue tertarik melihat salah satu stand makanan jepang, lebih tepatnya gue lapar mata. Terlebih gue belum makan. Tapi saat gue ingin menuju ke stand itu, gue melihat ada stand sebuah merek bir lokal asal Bali. Gue mengurungkan niat untuk ke stand makanan jepang itu, dan lebih memilih untuk menunggu sahabat gue di stand bir.

Gue memesan satu paket yang di sediakan, yang isinya terdapat 4 botol bir, ukuran sedang. Gue mengeluarkan laptop gue, kemudian mengirim email kepada sahabat gue. Memang sudah beberapa hari ini gue selalu berhubungan dengan siapapun via email. Karena handphone gue hilang dicopet di stasiun Lempuyangan beberapa hari yang lalu.

"Fuck you Jon ! Gue di stand Albens, depan panggung yak. Jangan bikin gue jadi orang bego diem sendiri di tempat kek gini sendirian. Kecuali lo bajingan laknat yang ga peduli sama sahabat lo." Email gue pada Jono, sahabat gue.

Dari tempat gue duduk, gue dapat melihat panggung utama. Sepertinya dugaan gue tidaklah salah. Kalau guest star malam ini adalah Superman Is dead. Group band punk rock asal Bali. Pantas saja Jono mengajak gue bertemu di sini. Dia memang sangat menyukai musik bergenre punk rock macam green day, blink 182, SID, dan lainya.

Jujur saja, gue sebenarnya pernah menjadi Outsiders sebutan untuk fans superman is dead. Gue pernah menjadi OSD militan, yang selalu datang ke acara yang di dalamnya terdapat Superman Is Dead sebagai bintang tamunya. Tapi itu dulu, lebih dari sedekade lalu. Saat gue masih duduk di bangku SMA.

Dan malam ini, semua ingatan tentang itu semua membuncah. Berpendar hebat dalam bayang imajiner yang membuat mata gue seolah menembus ruang dan putaran waktu. Melihat semua apa yang seharusnya tidak perlu gue lihat, dan mengenang apa yang harusnya tidak perlu gue kenang. Sampai di titik tertentu gue sadar kalau gue sudah dipermainkan.

"JON, I know you so well, please please don't play with a dangerous thing. Comon Jhon I'm done. Gue balik" Gue kembali mengetik email untuk gue kirim pada Jono. Gue sadar gue sudah masuk dalam permainan berbahayanya. Dan gue tidak ingin mengambil resiko lebih.

Namun belum sempat email gue kirim. Gue melihat seorang perempuan berdiri tegak tepat di depan gue. Dan saat itu juga gue sadar gue terjebak dalam permainan konyol sahabat gue yang "luar biasa jahat".

"Haii Nat." Sapa perempuan itu.

"Fuck you Jhon, what do you think. Bitch !!" Gerutu gue dalam hati kesal.

opening sound
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 19 dari 30
Senandung Black n Blue
12-08-2019 09:22
Ah Nina, kangen Gw sama karakter cewek 1 ini,,kebetulan juga udah lama kagak muncul yaa emoticon-Big Grin
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 09:45
yeeahh..
welcome back nina
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 09:55
keren nih mas Nata, beli mobil cuma karena SPGnya Nina. inget Dita, katanya mau nikah. kan mas Nata lemah kalo sama mantan. wkwkwkwk emoticon-Leh Uga
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 15:42
Boooom!!! ..NINA is back !! akankah Nata seperti yg diucapkan Dita tentang mantan??
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 21:03
akhir nya nina muncul lagi, jadi makin penasaran kelanjutan nyaemoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan dm14 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
12-08-2019 23:20
asekk dek nina muncu lagi
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan dm14 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
13-08-2019 01:22
yg ditunggu tunggu nih
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan dm14 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
13-08-2019 12:13
Bangke gue deg-degan baca part ini.
Jadi bener bini bang nata adalah nina emoticon-Big Grin krn bini bang nata pernah kerja jadi SPG.

"Nata nina natalia"

Dan cewe bertato yg di stadion bola itu adl karina. emoticon-rose
Diubah oleh Wassap.Bro
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dodydarman dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Senandung Black n Blue
13-08-2019 21:44
Apakah hati Nata berpaling ke sang mantan?? emoticon-Leh Uga
Klo dari clue istrinya Nata mantan spg, tapi karena kebanyakan plot twistnya gua jadi bingung mao nebak lagi emoticon-Bingung emoticon-Hammer2
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
14-08-2019 16:07
semakin menarik
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
14-08-2019 22:02
hidup setaun di us gak di ceritain juga nat??
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
15-08-2019 03:24

Part 6.2-a

Aku pernah hampir melakukanya, permintaanmu untuk aku melupakan segala detik-detik yang pernah kita lalui berdua yang kita anggap sedemikian istimewa. Aku hampir melakukannya, jika saja saat aku terbaring lemah kamu tidak menunjukan kamu; melakukan sebaliknya; menunjukan cintamu yang masih saja untuku. Aku sudah melakukannya; melupakanmu dan tidak akan pernah aku pertanyakan alasanmu meninggalkanku.

***


Hati kecil berbisik untuk kembali padanya; seribu kata menggoda, seribu sesal di depan mata.


Gue seperti merasa berada di dimensi yang berbeda; hiruk-pikuk ini tidak terasa ada, hanya ada bunyi-bunyi hening di antara dua pasang bola mata yang saling terkejutkan pada sebuah pertemuan yang tidak terduga. Dan bunyi-bunyi hening itu semakin nyaring yang akhirnya memaksa gue untuk mendorongnya untuk bicara.

"Nina!"

"Nata, please aku lagi kerja". Sahut Nina.

"Aku bayar gaji kamu, kita pergi sekarang…" Sahut gue.

"Nata yang aku kenal dulu tidak pernah seperti ini. Siapa kamu?" Selak Nina.

"Aku seorang yang hampir gila setelah 4 tahun lalu ditinggalkan kamu sebuah tanda tanya besar! Sampai sekarang, dan aku engga pernah tau kenapa… kenapa, Nina? Kenapa?"

"Ga perlu ada yang harus dijelaskan, Nata. Setiap orang berhak mengambil keputusannya sendiri tanpa perlu ditanyakan kenapa".

"Aku ga akan tanya itu kalau kamu engga nempuh jarak Jogja Jakarta cuma buat jenguk aku".

"Nata! Itu udah 2 tahun yang lalu. Tujuh ratus tiga puluh hari bukan waktu yang sebentar buat ngerubah penilaian aku tentang hari itu aku jenguk kamu. Nata, lagian kamu udah bahagia, kan. Sudah mau menikah. Aku pikir…"

"Setau aku kita empat tahun engga ketemu. Semua akses udah kamu blok, sekarang kamu bisa tiba-tiba tau aku mau nikah? Cuma ada satu kemungkinan! Kamu masih melihat ke arah yang sama selama empat tahun ini!" Selak gue.

Nina sedikit bergetar, dia terlihat semakin gelisah. Nina memalingkan wajah, lalu gue mencoba meraih tanganya. "Nina, aku cuma mau tau kenapa. Udah gitu ajah". Ucap gue. Nina lalu kembali menoleh ke arah gue. Setetes air mata terlihat mengalir dan sedikit merobek riasan yang dia kenakan.

"Sebelumnya aku mau tanya, setelah kamu tau, kamu mau apa?" Tanya Nina.

"Aku mau menikah, aku ga mau lagi ada tanda tanya." Jawab gue. Nina terlihat menghela nafasnya. "Oke, jam 7! Jam kerja aku cuma sampai jam 7 temuin aku di pintu barat". Sahut Nina kemudian beranjak pergi.

***


Di tengah kerumunan itu sosokmu tak lagi aku lihat. Tapi bayanganmu berjalan sebaliknya; menembus kerumunan dan mendekapku erat. Aku hanya bisa berharap: Alasan kamu pergi adalah tepat. Hingga tidak ada lagi tanda kalimat tentangmu yang aku catat, selain titik yang akan mengakhiri sebuah cerita yang lama terhenti pada tanda tanya. Dan aku berusaha sekuat tenaga tidak lebih bodoh dari keledai; terus terjatuh pada satu lubang yang sama.

***


Pukul 17.12 saat gue melihat jam yang ada di handphone gue. Sudah hampir dua jam menunggu dan saat ini waktu seperti sedang berjalan sangat lambat bahkan lebih lambat dari seekor siput yang berjalan di atas lem tikus.

Berbatang-batang rokok sudah gue habiskan guna membunuh rasa bosan menunggu. Entah sudah berapa lagu yang gue ganti; semua lagu yang gue dengar rasanya seperti kehilangan rasanya. Entah sudah berapa kali gue keluar masuk mobil Faisal. Entah sudah berapa kali gue bersandar di jok mobil yang gue rabahkan, lalu kembali gue naikan, gue turunkan kembali, naikan lagi berkali dan entah sudah berapa kali gue mendengar Faisal mengoceh dengan apa yang gue lakukan.

Tidak lama Abdul tiba, gue menyuruhnya mengurus segala tetek bengeknya bersama Faisal. Abdul hanya menggumam, bukan uang yang dia permasalahkan. Dia menggumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya. Gue tahu dia pasti berpikir kalau ini akan menjadi masalah untuk hubungan gue dengan Dita.

"Selow Ngai, ini ga bakal jadi masalah kok". Celetuk gue saat Abdul menggumam sendiri.

"Bukan gitu Ngai, gue kenal elu. Gue cuma takut…"

"Takut gue ngulangin kesalahan gue yang dulu-dulu sama Nina? Slow Ngai gue udah mau married, mungkin kalo gue ketemu Ninanya 2 atau setahun yang lalu… Iya ini akan jadi masalah. Tapi tenanglah, gue sekarang lebih cinta Dita…"

"Lebih cinta! Berarti cinta lo sama Nina masih ada, kan? Dan lo lagi ngebandingin mana yang lebih besar. Ini lah lo! Yang pada akhirnya bikin lo selalu ngulangin masalah yang itu-itu ajah. Lo salah nempatin mantan. Mantan tuh harusnya dibuang!"

"NGAI! justru itu gue mau ngebuang Ngai. Gimana gue mau buang kalo gue masih penasaran…"

"Rasa penasaran itu racun Ngai, Belanda penasaran sama cerita Portugis, akhirnya nyari tau dan pada akhirnya ngejajah Indonesia…"

"Newton juga penasaran Dul kenapa apel bisa jatoh pada akhirnya bisa bikin rumus soal gravitasi". Celetuk gue.

"Serah lo lah, Nge pokoknya gue udah bilangin, Yuk lah Sal gue mau liat mobilnye". Ucap Abdul lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam area acara. Abdul menghentikan langkahya dan berbalik badan. "Pokoknya kalo ada apa-apa gue tutup mata, tutup kuping, tutup…"

"Iyehh bawel amat, selow nape!" Celetuk gue.

"Atu lagi". Sahut Abdul.

"Apaan?"

"Mobilnya gue test dulu nanti selama 2 bulan, hahahaha". Ucap Abdul.

"Dih!"

"Iye ape kaga? Kalo kaga gue pastiin nih Dita lagi kuliah nerima email ga enak".

"Ngancem lo jelek, kancut!"

Abdul lalu tertawa kemudian melanjutkan langkahnya bersama Faisal. Sementara gue berdiri diam bersandar pada mobilnya Faisal. Saat gue ingin menyalakan rokok gue baru sadar kalau ternyata rokok gue habis. Gue pun berjalan-jalan mencari penjual rokok. Beruntung ada pedagang asongan di pinggir jalan di depan komplek area gedung expo ini.

Gue membeli sebungkus rokok dan segelas kopi yang dihidangkan dalam gelas plastik. Saat Si Abang pedagang asongan ini sedang menyeduh kopi, mata gue menjelajahi sepanjang area ini dan gue sedikit terkejut melihat Nina yang sedang berdiri di pinggir trotar yang tingkahnya seperti orang yang sedang kabur dari sesuatu.

"Bang bentar". Ucap gue pada pedagang asongan itu lalu berlari ke arah Nina berdiri. Nina sangat terkejut melihat gue, dia ingin berlari namun terlebih dulu gue bisa meraih tangannya.

"Nata lepas atau gue teriak!" Ucap Nina sedikit kasar dan dia menggunakan kata "Gue", tidak seperti sebelumnya dia masih menggunakam kata "aku".

"Nin kenapa Nin?" Tanya gue heran kenapa Nina sebegitu berbedanya.

"Lepas!" Bentak Nina.

"Kenapa Nina? Kenapa? Gue cuma mau lo ngejelasin sama gue!"

"Ga ada yang perlu gue jelasin, lepasin gue atau gue teriak!"

"Teriak Nin teriak!! Teriak sesuka hati kamu. Kalo emang aku harus digebukin masa dulu baru kamu mau jelasin sama aku". Ucap gue. Nina mencoba terus melepaskan tanganya dari cengkraman gue yang membuat gue dan Nina menjadi pusat perhatian orang-orang.

Nina lalu mereda, dia menunduk kemudian menangis "Kamu kenapa harus muncul lagi sih!" Ucap Nina meringis.

"Nina… Udah yah, kita jangan ngomong di sini yah. Ga enak diliatin orang. Udah yah udah… udah ikut aku yuk". Sahut gue lalu gue mengajak Nina ke pedagang asongan itu karena gue belum membayar rokok dan kopi nya. Kemudian setelah itu gue mengajak Nina ke mobilnya Faisal.

Di jejak-jejak waktu yang tidak aku pahami, aku menutur kembali hingga aku mengerti. Tidak ada yang sama dari kita, selain cinta.


Sudah setengah jam lebih gue dan Nina ada di dalam mobilnya Faisalnya. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut gue ataupun Nina. Tidak ada suara apapun selain suara isak tangis Nina yang terdengar di telinga ini.

Sampai akhirnya Abdul dan Faisal kembali Nina menghentikan tangisanya, dia tergesa-gesa menyeka air matanya dan membersihkan bekas-bekasnya sebelum Abdul dan Faisal menyadarinya.

Faisal mengetuk kaca jendela di sebelah Nina, gue membuka kuncinya lalu Faisal membuka pintunya. Faisal sangat terkejut melihat Nina. Abdul juga tidak kalah terkejutnya hingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Hay Sal… Abdul". Nina menyapa mereka, suaranya agak serak.

"Ha hay Nin". Balas Faisal, sementara Abdul hanya memberi senyum pada Nina sambil menganggukan kepalanya.

"Nge bentar yee". Ucap gue pada Faisal dan Abdul.

"Kalo engga gini deh Ngai, gue balik sama Faisal lo pake mobil gue. Ntar kalo lo udah selesai lo langsung ke rumah gue". Ucap Abdul.

"Rumah lo? Tebet? Ah gila lo, ntar Baba ngeliat gue begini mampus gue". Sahut gue menunjukan tangan gue yang sudah bertatto.

"Resiko loh lah, udah cepet gue mau rebaan". Ucap Abdul agak jutek, menyuruh gue keluar dari mobilnya Faisal.

"Yee bangkek lo kenape sih?" Tanya gue.

"Gue cuma lagi nutup mata gue dari yang gue liat". Jawab Abdul, ekspresi wajah Nina langsung berubah seperti terpukul di dalam dada. "Aaaa Nina, sorry! bukannya gue mau ikut campur, cuma gue mau kasih tau doang. Nata udah mau Nikah, jadi gue sebagai sahabatnya Nata cuma ga mau liat sahabat gue lebih beg* dari keledai. Lo pahamkan maksud gue, dan gue yakin sesama cewe bakal ngerti gimana perasaan calon istrinya Nata kalo dia beneran lebih bodoh dari keledai…"

"Ngai lo apaan sih!!" Sambar gue. Lalu gue melihat Nina menangis.

"Engga…" Ucap Nina sedikit terisak. "Gue udah selesai kok". Lanjut Nina lalu beranjak keluar dari mobil. Gue bergegas keluar juga. Abdul menahan gue untuk tidak mengejar Nina.

"baik!" Ucap gue mendorong Abdul hingga hampir terjatuh kalau saja Faisal tidak menahan badan Abdul. Gue lalu mengejar Nina dan menahannya untuk pergi.

"Udah Nata udah. Please udah". Ucap Nina sambil menangis.

Entah apa yang mendorong gue untuk menarik tubuh Nina hingga gue memeluknya. Namun saat gue memeluk Nina tangisnya mereda tapi Nina memukul-mukul dada gue saat tangisnya berhenti.

"Kenapa kamu datang lagi, kenapa!… susah payah aku ngilangin perasaan aku buat kamu, tapi kenapa kamu muncul di saat aku belum selesai ilangin semua itu. Kenapa!" Ucap Nina.

"Kalo emang perasaan kamu masih ada kenapa kamu nyuruh aku ilangin perasaan aku buat kamu, Nina. Kenapa dulu kamu ninggalin aku begitu ajah?" Tanya gue. Nina menggelengkan kepalanya, lalu dia mengeluarkan bandulan kalung yang ada di balik pakaian yang dia kenakan.

"Tuhan memang Satu, kitanya yang berbeda"

***


Entah apa lagi yang menimpa diri ini yang pada akhirnya membuat aku semaput bertanya-tanya; tidak mengerti apa arti sebuah takdir untuk manusia. Kenapa selalu saja ada penghalang untuk seorang manusia mencapai bahagianya.

Kenapa?…

Aku banyak membaca buku tentang ilmu-ilmu dunia yang kesahihannya tidak perlu diragukan. Tapi kenapa tidak ada satupun buku yang menuliskan tentang bagaimana cara kerja Tuhan yang kesahihannya dapat aku pastikan.

Kenapa?…

Jika Tuhan itu Satu, kenapa ada manusia lain yang menyembah selain yang SATU. Aku tidak meragukan apa yang selama ini aku yakini. Aku tidak sampai nyali mempersalahkan apa yang terjadi karena apa yang selama ini aku akui kuyakini. Dan aku juga tidak sampai hati membela apa yang tumbuh dihatiku, kemudian mengkhianati apa yang aku imani.

Tidak!

Aku hanya bertanya kenapa selalu saja takdir berujung pada kesedihan jika dipikirnya saat awal datangnya; aku bertanya sering sekali mengapa selalu takdir hadir tanpa kisi-kisi sebelumnya.


***


Gue bukan seorang Muslim! Gue hanya orang yang percaya dan meyakini Tuhan itu ada. Dan Tuhan yang gue akui satu-satunya adalah Dia yang orang-orang Muslim yakini. Tapi gue bukan seorang Muslim; gue hampir tidak pernah melakukan apa yang orang Muslim kerjakan sehari-hari; gue sering melakukan apa yang dilarang dilakukan oleh seorang Muslim; tidak pantas seorang mengaku Muslim tapi tidak pernah melakukan kewajibannya dan menjauhi apa yang dilarang.

Untuk itu, gue bukan seorang Muslim. Karena gue sudah tau apa-apa saja yang dilarang bagi seorang Muslim tapi gue masih melakukannya; berzina, berjudi, menenggak khomer; miras dan narkoba. Gue tau semua itu perbuatan dosa yang besar, dan entah sudah berapa banyak dosa gue. Mungkin jika dosa terlihat, dosa gue akan lebih besar dari pada satu Bimasakti.

Tapi gue tidak pernah sekalipun Murtad! Dan gue tidak sampai hati untuk melakukan itu; bahkan memikirkan untuk melakukannya gue tidak berani.

***


Gue menggandeng tangan Nina, menuntunnya kembali menghampir Abdul dan Faisal. Gue menyuruhnya untuk tidak memasukan kalung salib itu ke dalam bajunya.

"Lo masih takut, Dul?" Tanya gue pada Abdul. Dia diam melihat Nina yang menunduk diam. "Nina, lo lebih cinta gue apa Tuhan lo?" Tanya gue pada Nina.

"Kalo gue engga cinta sama Tuhan gue, gue engga bakal ninggalin Nata gitu ajah." Jawab Nina.

"Lo denger, Dul?"

Abdul menganggukan kepala. "Ga ada yang harus lo takutin, kan? Gue cuma mau denger ceritanya Nina".

"Oke-oke" Ucap Abdul lalu memberikan kunci mobilnya. "Nina maaf yah, Sorry banget… "

"Iya gapapa, gue paham kok. Lo sahabat yang baik, Nata beruntung punya kalian. Bener kata Nata ga ada yang perlu kalian takutin, yah mungkin gue jujur gue masih cinta sama Nata. Tapi akal gue masih sehat kok, tenang ajah." Sambar Nina.

"Oh iya satu lagi Nge! Lo pikir gue selemah itu apa? Lo pikir pas kemaren gue sampe di Jakarta gue engga ketemu Karina pas meeting sama bokap gue? Gue biasa ajah tuh ketemu dia. Bahkan kemaren gue ketemu itu tanggal di mana 7 tahun lalu gue resmi pacaran sama dia". Sambar gue.

"Biasa ajah tapi masih inget tanggal jadian. Ahhh kurap!" Celetuk Abdul.

***

Kisah


Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu… Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi… Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi… Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu… la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring. Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu… - Sapardi Joko Damono.

***


Dan ceritakanlah tentang pengembaraanmu, tentang kamu yang meninggalkanku karena jalan Tuhanmu. Aku ingin dengar itu, aku ingin dengar cerita itu dari kamu semirip kamu yang sebelumnya. Biar kudengar itu, syahdan kan aku ambil nilai untuk pembelajaran hidupku; takdir yang datang menjumpai kamu, aku dan kita yang hanya bisa kita tahu maknanya setelah kita menempuhnya.

Setelahnya; merenungi jalan langkah yang telah dilalui, bersikap hening dan secara jujur mencerminkanya; Hingga kita mengerti, apa yang terjadi adalah satu langkah untuk mendewasakan diri; Mendekatkan diri pada cinta yang Hakiki.


***


"Aku ga mau ngobrol di kosan kamu!" Ucap Nina saat gue dan dia masuk ke mobil Abdul.

"Kok kamu tau aku masih ngekost? Nina, seberapa dekat jarak kamu selama kamu mutusin ninggalin aku?" Tanya gue. Kemudian gue mulai melajukan mobil ini perlahan, keluar area parkir. Lalu melaju dengan arah yang tidak menentu. Dan gue hanya mengarahkan laju mobil mengikuti jalanan di depan gue saja, tanpa berbelok di persimpangan jalan.

"Lebih dekat dari jarak kita sebelumnya". Jawab Nina lalu mengambil kertas tissue kemudian membersihkan wajahnya dari bekas air matanya.

"Bella?" Tanya gue memastikan.

"Aku udah bilangkan, lebih dekat dari jarak kita sebelumnya". Jawab Nina.

"Tunggu…"

"Iyah, selama ini tanpa sepengetahuan kamu, aku sering ngabisin waktu sama Mamah, Ayah, Bella, Mas Rikky, Biru, Tante Upi, Encang Har…"

"WHAT!! Sampe Encang?" Sahut gue tidak percaya.

"Bukan cuma itu, Aji, Mas Kris…"

"Tunggu, kamu kenal keluarganya Mas Rikky di Jogja?" Tanya gue. Nina menganggukan kepalanya. "Bahkan yang ga kamu kenal, aku kenal!" Sahut Nina.

"Kok bisa?" Tanya gue keheranan sendiri.

"Kamu mau aku kasih tau dari mana?" Tanya Nina tanpa melihat gue.

"Aku mau tau semuanya… Semua!"

"Ini bakal panjang".

"Aku punya waktu yang panjang buat denger itu semua".

"Oke, ga sambil jalam begini. Aku ga mau kita kenapa-napa di jalan". Sahut Nina.

"Yaudah kamu mau cerita ini di mana? Sambil makan gimana? Kamu udah makan?" Tanya gue. Nina menggelengkan kepala. "Yaudah kita makan dulu". Lanjut gue. Kemudian gue fokus berkendara, walau sebenarnya gue hanya fokua melihat jalan tanpa tahu tujuan. Di kepala gue sekarang timbul banyak tanda tanya. Bukan hanya satu tanda tanya yang sudah memudar; gue tahu kenapa Nina meninggalkan gue. Tapi tanda tanya-tanda tanya baru yang makin membuat gue tidak mengerti apa yang sebenarnya gue lewatkan.

"Loh kok ke sini?" Tanya Nina saat gue berhenti di sebuah area parkir yang membuat gue sedikit terkejut karena gue juga tidak mengerti kenapa gue bisa berhenti di sini.

"Aduh, aku bengong. Maaf Nina. Tadinya mau masuk parkiran PI kenapa jadi masuk ke sini". Sahut gue sambil membaca tulisan Area parkir khusus tamu Grand Hyatt.

"Kebiasaan di Amerika yah? Eh kalo di sana sih kamu udah tinggal seatap sama dia yah ga perlu ke hotel-hotel lagi".

"Apa sih… Engga begitu Nina. Aku cuma salah ambil jalan tadi niatnya mau ke PI. Beneran… Nih aku keluar lagi". Ucap gue sambil memasukan perseneling mundur. Nina menahan tangan gue.

"Aku kangen kamu". Ucap Nina.

"…"

"Jangan salah paham. Kamu udah tau kenapa aku ninggalin kamu, tapi aku udah ketangkep basah. Dan usaha aku menghilangkan perasaan aku rusak seketika saat kamu nangkep aku bahkan di saat aku mau mencoba lari, entah gimana kamu bisa mergokin aku. Aku cuma ngerasa ini memang udah takdirnya, kan? Takdir di mana ini memang harus diselesaikan. Aku dan kamu!"

"Iyah, memang harus diselsaikan". Sahut gue sedikit bergetar.

"Tapi sebelum benar-benar diselesaikan. Aku mau egoisin diri. Boleh?"

Gue menganggukan kepala.

"Sini handphone kamu!" Nina menengadahkan tangannya.

"Buat apa?" Tanya gue.

"SINI!" Tegas Nina, lalu gue mengeluarkan handphone gue dari saku celana dan memberikannya pada Nina.

Nina mencabut baterai handphone gue, dia juga melakukan hal yang sama pada handphone-nya. Lalu melempar handphone kami ke kursi belakang. "Aku milik kamu malam ini". Ucap Nina lalu mencium punggung telapak tangan kiri gue.

Azzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Senandung Black n Blue
15-08-2019 03:36

Part 6.2-b

Dan kita bersentuhan peluh bersamaan darah yang mencuat hingga ujung-ujung kepala. Mengecap setiap akumulasi lesatan-lesatan yang menerbangkan kita ke atas puncak ekstase jiwa. Hingga tiada lagi kita mampu membedakan; hitam dan putih kita abu-abukan; pelangi kita redupkan; cahaya kita tiadakan.

***


Nina, seorang perempuan yang kemolekannya tidak perlu lagi diragukan. Tingginya semampai, lekuk tubuhnya indah, dan parasnya sempurna. Tidak heran jika ada pria yang rela saling bunuh untuk mendapatkanya. Mungkin gue salah satunya. Dan memang iya. Tidak heran juga banyak laki-laki yang mengaguminya, mengidolakannya, bahkan dari mereka (pengagum Nina) ada yang bermazab garis keras. Dan iya… lagi-lagi gue pun salah satunya.

Tapi siapa sangka, Nina yang begitu sempurna dipuja memiliki sisi kelam juga. Lahir dalam keluarga broken home pada akhirnya membuat Nina mempunyai trauma pada pria. Ayahnya entah pergi kemana meninggalkan ibunya seorang diri dan bersusah payah menghidupi Nina seorang diri. Perjuangan Ibunya dalam menghidupi api kehidupan mereka-lah yang pada akhirnya membuat Nina menganggap semua pria itu seonggok daging yang menjijikan yang tak ayal membuat Nina mencurahkan semua perasaan cintanya pada seorang yang mampu meredam semua amarahnya pada Ayahnya dan orang itu sejenis denganya; sesama perempuan berlatar sama dan akhirnya mereka memutuskan untuk saling mencurahkam cinta mereka; Emma.

Penasaran memang racun! Gue yang sebegitu menggilai Nina dari awal perjumpaan kami semasa MOS SMA begitu ingin tahu dia lebih dalam dengan tujuan memudahkan gue untuk mendekatinya, tapi justru rasa penasaran gue membawa gue pada sisi gelap Nina. Namun setelah mengetahui sisi gelap Nina, entah kenapa perasaan gue berubah padanya. Perasaan yang awalnya hanya sebuah ketertarikan biasa antara seorang lelaki tampan… (kibas rambut, hahaha) pada seorang perempuan yang terlihat sempurna. Berubah menjadi hasrat yang lebih dalam dan salah; setelah gue tahu Nina memilih untuk mencintai sesama jenis entah kenapa gue menjadi makin penasaran; gue ingin tahu apa saja yang dilakukannya bersama pasangannya yang sejenis itu.

Pantaiiii…tolong… gue hanya laki-laki biasa yang pernah nonton video dewasa dengan genre yang seperti itu dan saat menontonya gue membayangkan itu dan saat gue tahu Nina begitu gue ingin ada diantara Nina dan Emma. Ahh hayolahh, itu wajar dalam laki-laki. Ayolah gue sudah jujur, kalian (para lelaki) jujur saja, pernah memendam keinginan itu juga, kan, kan, kan!

Gue berusaha bagaimana pun caranya gue harus bisa mewujudkan hasrat gue. Dan berhasil! Walau tidak terjadi seperti yang gue bayangkan; threesome. Tapi setidaknya gue mendapatkan apa yang gue mau; bercumbu. Gue melakukan itu, di tengah hubungan gue yang masih berlangsung harmonis bersama Karina. Dan gue melakukan itu dengan cara gue harus bertingkah seperti sebagai manusia yang paling bijaksana yang menganggap jalan yang Nina pilih tidaklah salah. Gue berpura-pura mencintai Nina tulus dan gue berpura-pura meresapi setiap derita dan traumanya DAN GUE BERTINGKAH SEPERTI SEORANG CLERIC YANG MEMBAWA SKILL HEAL DI TONGKAT YANG GUE BAWA. Yang pada kenyataanya itu semua gue lakukan cuma agar gue dapat beradu nafsu dengan Nina.

TAPI…

Semua itu menjadi boomerang untuk gue. Tak ayal semua kepalsuan gue itu menjelwa menjadi wujud nyata; gue tidak lagi berpalsu ria dan gue benar-benar jatuh hati bahkan mencintai Nina. Namun permasalahnnya, saat itu gue masih baik-baik saja dengan Karina.

Sampai akhirnya Karina mencium semua gelagat dan hubungan gue dengan Nina terbongkar yang membuat hubungan gue dengan Karina sempat berhenti tiga hari. Ya… hanya tiga hari. Karina memaafkan gue karena gue berlindung di balik topeng penyesalan yang menutupi wajah asli gue yang tidak ingin kehilangan salah satunya.

You must know! Gue mencintai Karina dengan sebenar-benarnya,  gue memproyeksikan dia sebagai pendamping hidup gue di masa depan dan gue tidak sekalipun pernah menodai Karina. Tapi permasalahannya, gue butuh ekstase jiwa. Dan gue mendapatkan itu dari Nina.

Dari itu sebisa mungkin gue mensiasati bagaimana gue agar tidak kehilangan dua-duanya. Cara itu adalah dengan menyembunyikan hubungan gue dengan Nina dari semua manusia, kalau bisa hingga malaikat juga tidak perlu tahu. Cukup kami, Tuhan, Iblis dan pasukannya. Dan Nina sepakat; Dia berpacaran dengan Emma, gue berpacaran dengan Karina, gue dan Nina menjalin hubungan dibelakang semua.

Bahkan jahatnya, gue tahu sepupu gue yang bermazab garis keras itu sedang mendekati Nina dan gue memanfaatkan itu; Jono sering mengantar Nina ke tempat kami akan bertemu tanpa Jono tahu.

Di saat-saat itu gue benar-benar menikmati di mana gue bisa bercocok tanam di dua ladang hati dengan tanaman yang berbeda. Sampai akhirnya satu lahan terbakar hangus; hubungan gue dan Karina kandas. Dan satu lahan lagi di tumbuhi rumput-rumput liar; diam-diam juga Nina berpacaran dengan Jono.

"GUREEETTTT!!!!"

Wajar saja gue bermandikan darah untuk membersihkan kembali lahan hati gue dari rumput-rumput liar itu. Karena gue sudah kehilangan lahan satunya, jika keduanya hilang. Sudahlah pasti gue risau bukan kepalang.

Picik memang! Tapi biar saja, silahkan nilai gue sepicik kalian bisa menilai. Gue hanya akan berlindung pada kalimat yang selalu gue banggakan. "Mana ada sih manusia yang tidak berbuat kesalahan".

Lalu di suatu hari rumput-rumput liar berhasil gue babat habis. Gue tidak lagi menjalani hubungan dengan Nina secara sembunyi-bunyi. Hingga di suatu pagi gue tidak lagi melihatnya. Lahan hati gue entah kemana. Menghilang begitu saja dan menciptakan lubang selebar lahan yang telah hilang di hati gue. Menciptakan ke kosongan yang tidak berujung.

Sampai ketika seseorang baru menimbun sedikit demi sedikit lubang itu dan menutupnya hingga lubang itu tidak ada lagi yang ada hanya sabana luas yang hanya di penuhi bunga-bunga bermekaran, yang selalu saja semilir angin meniupkan kelopak-kelopak bunga terbang mengelilingi sabana itu, yang selalu saja membuat gue tidak ingin lagi mencari keindahan lain selain tempatku kini.

Tapi…

Saat sebelum lahan yang hilang itu benar-benar hilang, gue menemukan sisa-sisa buah yang telah ranum dipohon yang jatuh tak gue sadari; gue menemukan buah itu di tengah-tengah bunga yang bermekaran.

Haruskah gue memakannya habis atau mengambil bijinya dan menanamnya di tengah-tengah sabana bunga ini?

Ahh… yang jelas saat ini gue akan menyimpan dulu bunga ini, untuk gue teliti dan mencari jawaban atas menghilangannya lahan buah yang sebelumnya dari setiap lekuk dan goresan-goresan kerut kulit buah ini.

***


"Aku bertemu Bapak. Bapak aku, pria yang darahnya mengalir di dalam darah aku, dia menjelaskan kenapa dia pergi meninggalkan aku dan ibu. Dan alasannya adalah ini…" Ucap Nina menggenggam kalung Salib nya.

"Okeh, aku engga mau menghujat. Kamu punya alasan kenapa akhirnya kamu berpaling iman. Tapi, maaf. Bukannya kamu benci dia?" Tanya gue.

"Awalnya, Iya. Sebelum aku tahu kenapa alasan bapak ninggalin aku sama ibu. Bapak engga salah, Ibu aku yang selama ini menutupinya dari aku. Dia menutupi salahnya selama ini". Jawab Nina.

"…"

"Dulu, Ibu sama seperti bapak, Katolik. Tapi ibu memilih jadi mualaf saat aku masih dikandungan". Nina berbicara sambil menunduk dan memangku guling. Lalu dia sedikit menghela nafas. "Pasti kamu mikir harusnya bagus, kan… Mualaf". Lanjut Nina.

"As a moslem, yes. But look at me. Apa pantes aku sekarang dibilang muslim begini?" Sahut gue merentangkan tangan gue menunjukan kalau gue sedang bertelanjang dada. Nina menggelengkan kepalanya. "Aku cuma manusia yang percaya, setiap manusia berhak memilih jalan menuju ke Tuhannya masing-masing. Dan aku engga berhak men-judge seseorang karena jalan pilihannya". Lanjut gue.

"…" Nina diam.

"Sekarang, aku mau tanya sama kamu. Apa kamu benci Ibu sekarang? Karena tau Bapak kamu ninggalin kamu dan Ibu karena Ibu mualaf?" Tanya Gue.

Nina menggelengkan kepalanya. "Aku sayang Ibu, Ibu segalanya buat aku. Dan aku murtad…"

"Ssstt kamu milih jalan kamu". Sambar gue mengkoreksi.

"Dan aku memilih ini karena aku sayang sama Ibu. Bapak janji buat membiayai hidup aku sama Ibu asal aku ikut bapak". Ucap Nina.

"Tapi kalau Bapak kamu membiayai hidup kamu sama Ibu, kenapa kamu kerja begitu?" Tanya gue.

"Bapak bangkrut, Nata. Dan terpaksa aku sambilan jadi SPG event begini". Jawab Nina sambil memainkan kukunya.

"Lalu kenapa kamu masih jalan di jalan ini?"

"Aku nyaman Nata. Awalnya memang aku memilih jalan ini karena Ibu, karena aku tidak mau lagi Ibu harus kerja keras terus. Tapi… makin aku masuk ke dalam aku merasakan ketenangan yang engga pernah aku rasain sebelumnya. Aku merasa damai di jalan ini, Nata. Aku seperti manusia yang engga punya masalah apa-apa di sini. Hampir, karena satu-satunya yang masih mengganjal di hati aku yah kamu…" Ucap Nina sambil menekan hidung gue. "Tinggal kamu! Setelah ini aku harap aku bisa jadi manusia yang damai tanpa mikirin kamu lagi. Dan cuma cinta sama yang sejatinya harus aku cintai sepenuh hati. Tuhan Yesus". Lanjut Nina.

"…" Gue diam tidak bisa lagi berkata-kata, lalu Nina terlihat tertawa. Entah kenapa gue merasa tenang sekali saat melihat Nina tertawa. "Kita nih apa sih, ngomongin agama tapi kita lagi telanjang berdua". Ucap Nina lalu menggusal ke badan gue.

"Hehehe. Iya. Dasar!" Sahut gue sambil menarik hidung mancungnya. "Eh pertanyaan aku belum dijawab loh. Kenapa kamu bisa kenal sama Mamah, Ayah, semuanya".

"Mamah dan Ayah kamu sama Bella juga nyamperin aku ke Jogja". Jawab Nina.

"Haaah? Ngapain? Kapan?" Tanya gue tambah heran.

"Engga lama abis kamu jadian sama Dita. Waktu itu Bella ngehubungin aku, katanya mau ketemu sama aku. Aku juga kaget Bella ke rumah aku sama Mamah dan Ayah kamu".

"Ngapain?" Tanya gue.

"Mamah kamu khawatir sama aku. Mamah tau apa yang udah kita lakuin. Mamah kamu takut penyebab aku begini (pindah keyakinan) karena kamu. Karena aku kecewa sama kamu. Padahal aku udah bilang sama Bella, tapi Mamah sama Ayah kamu mau memastikan katanya. Ehh ga tau kenapa abis itu aku makin deket sama Mamah. Hampir tiap libur sekolah waktu itu aku pasti main ke Cilacap. Atau Mamah main ke Jogja sambil ngajak aku ke rumah saudara-saudaranya Mas Rikky. Mamah sama Ayah kamu memang menyenangkan, aku ngerasa di sayang banget sama mereka. Sampe akhirnya aku kuliah di Jakarta. Mamah sama Ayah nganter aku sampe rumah Ibu".

"Tunggu, jadi udah 2 tahun ini kamu udah balik ke rumah kamu?" Tanya gue. Nina menganggukan kepala. "Jangan-jangan, mobil yang berenti di depam rumah Bella pas aku lagi main sama Biru itu…"

"Iyah. Itu aku. Waktu itu aku lagi mau main sama Biru, eh tapi Bella lupa bilang kalo ada kamu di sana". Sambar Nina.

"Jangan-jangan yang di Jogja…"

"Bukan! Yang manggil kamu di Jogja di Restoran Mie godog itu bukan aku. Tapi temen aku. Di surat yang aku kasih kan aku udah bilang, kalo temen aku penasaran banget kan sama sosok kamu. Bahkan kamu punya fans loh di sana…"

"Ga heran sih, hahaha". Sambar gue.

"Kumat!" Sahut Nina sambil menarik sedikit rambut gue.

"Hehehe…Eh bentar. Jangan-jangan nomer misterius yang selalu ngucapin aku ulang tahun, trus yang bikin aku sampe berurusan sama lakinya Ratih, itu kamu?" Tanya gue.

"Aku engga se-psycho itu! Aku juga ga tau siapa. Bella juga curiganya itu aku. Tapi demi apapun aku engga tau itu".

"Yaudah kalo bukan kamu sih".

"Iihhh emang bukan aku. Kamu nih!" Sahut Nina lalu merebahkan kepalanya di dada gue. "Nata…" Panggil Nina.

"Hmmm".

"Aku mau nyanyi buat kamu dong". Ucap Nina.

"Haah? Maksudnya?" Tanya gue heran.

"Iyah, kayanya aku belum nyanyi buat kamu kan? Karina udah, Dita udah, aku ga dikasih waktu nih buat nyanyi untuk kamu?" Jawab Nina.

"Ehh, jangan bilang di hari itu…"

"Iya, aku juga ada di saat kamu pidato" Sambar Nina.

"Haah?"

"Dari reaksi, kamu. Berarti kamu belom liat video yang direkam Kak Bella yah?"

"Emang belum".

"Pantes". Sahut Nina.

"Pantes kenapa?" Tanya gue.

"Pantes kamu kaget banget aku ada di Jakarta. Padahal waktu itu…" Nina terdiam tiba-tiba. Jemarinya mengetuk-ngetuk dada gue pelan. Matanya memandangi kosong ke arah jendela yang gordenya sedikit tersibak. "Aku cinta kamu Nata". Ucap Nina selanjutnya.

Gue menghela nafas, lalu memandangi langit-langit ruang kamar ini. Rasanya seperti berada di atas perahu kecil yang terombang-ambing ombak yang besar. Keteguhan gue mengatakan: ini hanya badai yang perlahan menghilang. Tapi kelembutan gue mengatakan: badai ini terlalu besar untuk tidak tenggelam.

"Hey, bengong". Ucap Nina sambil mengusap pipi gue yang membuat gue sedikit terkejut.

"Eh, hahaha. Maaf". Sahut gue.

"Kenapa minta maaf? Apa yang kamu bengongin?" Tanya Nina.

"Kamu tau". Sahut gue.

"Ucapan aku bukan pertanyaan, Nata. Itu pernyataan. Aku hanya menyatakan. Aku cinta kamu. Aku engga bertanya kamu cinta aku atau engga". Sahut Nina.

"Aku cinta kamu, Nina".

"Seperti apa?" Tanya Nina.

"Maksudnya?" Tanya balik gue.

"Kamu pasti mengerti". Sahut Nina.

"Ahhh… Aku benci saat-saat seperti ini". Sahut gue lalu sedikit menghela nafas. "Aku cinta kamu seperti hujan yang membuat awan tiada". Lanjut gue.

"Hahahaha". Nina tertawa. "Kenapa harus hujan bulan juni sih? Ga ada quotes yang lain apa?" Tanya Nina.

"Karena ga ada yang setabah hujan bulan juni, ahahahah". Sahut gue.

"Hujan bulan juni itu anomali, Nata".

"Hemmm mulai deh…" Sahut gue.

"Hahaha" Nina tertawa. "Nata…"

"Hemmmp".

"Kalau kita engga beda…"

"Tapi sekarang kita beda". Sambar gue.

"Iya, Tapi…"

"Ga ada tapi untuk ketidakmungkinan. Ga boleh ada keraguan untuk Tuhan". Sambar gue.

"Ga ada yang engga mungkin buat Tuhan, Nata". Sahut Nina.

"Iya. Aku paham. Sekarang aku tanya sama kamu! Bagaimana cara? Atau gimana menyebut doanya?" Tanya gue.

"…" Nina menggelengkan kepalanya. "Entahlah… Sesaat lalu entah kenapa aku merasa Tuhan memang mempertemukan kita lagi biar kita bersatu lagi. Tapi iyah bener. Ga ada caranya… Mustahil. Iya… aku lupa dan aku memang selalu lupa apapun kalo lagi sama kamu, panteslah Tuhan engga mempersatukan kita. Karena pasti Tuhan tau, Cinta aku akan lebih besar ke kamu dari pada Tuhan kalau kita memang bersama". Ucap Nina.

"Tuhan bukan pencemburu, Nina. Kamu nih ngomong apa sih!" Sahut gue.

"Entahlah. Tapi rasanya seperti itu".

"Heyyy!! Nina apa sih kamu!"

"Tapi memang… I think Ibrahim diperintah mengorbankan anaknya karena Ibrahim lebih cinta sama anaknya ketimbang Tuhan. Yakub, terlalu cinta sama Yusuf sampai akhirnya Tuhan memisahkan mereka". Sahut Nina.

Gue terdiam, entah kenapa apa yang diucapkan Nina masuk akal. Namun gue langsung menghalau pikiran itu.

***


Tuhan itu bukan akal-akalan. Mengimani Tuhan tidak perlu harus masuk akal, karena iman adalah soal apa yang kamu yakini sekalipun kamu tidak mengerti.


Jakarta, 22 Desember 2018

"Ga ada lagi yang harus dibicarakan!" Ucap gue tegas pada perempuan yang ada di depan gue, sambil menenggak sedikit botol Bir. Kemudian menyulut sebatang rokok. "Apa yang terjadi di antara kita di masa lalu itu semua udah rancangan besar Alloh. Seberapapun usaha kita… Toh, pada akhirnya Takdir selalu punya jalan".

"Tapi… Nasib orang ga akan berubah, kan kalau bukan orang itu sendiri mau merubahnya! Pertanyaanya, kamu memang engga pernah mau merubah diri kamu".

"Okeh… Lalu coba jelaskan, bagaimana caranya… Saat itu? Atau bahkan saat ini?" Tanya gue, menenggak lagi sedikit birnya.

Dia diam, berpangku tangan. Matanya tajam menatap mata gue, bibirnya sedikit tersenyum. Melihatnya sedikit membuat gue bergidik. Gue mencoba memalingkan wajah agar tidak melihat ke matanya, agar tidak masuk lebih dalam ke matanya.

"Kamu memang engga pernah cinta sama aku!" Ucapnya Kemudian.

"Kamu salah! Sekarang kita tidak bersama, bukan berarti aku tidak cinta kamu. Aku mencintai kamu dengan caraku saat ini. Kamu masa lalu aku yang pernah membuat aku hingga seperti ini, sudah sepantasnya aku cinta sama kamu. Tapi… Cinta aku pada istriku, Natalia, lebih besar. Ini memang sudah jalanya, kita tidak bersama. Sudah aku bilang ini TAKDIR!! Tuhan memang mentakdirkan kita tidak bersatu. Coba saja kamu ingat lagi apa yang terjadi. Bagaimana mungkin ini bukan Takdirnya Tuhan?"

"…" Dia diam.

"Dan lagi, jangan pernah katakan aku engga cinta kamu. Lihat sekarang, aku udah pakai kata aku, tadi pas kamu dateng aku pakai kata apa?…Itu satu bukti kalau seberapa besarpun aku berusaha menghindari kamu, alam bawah sadarku berkata sebaliknya. Dan satu lagi. AKU TIDAK LEBIH BODOH DARI KELEDAI…"

"Daddyyyy"

Ucapan gue terhenti karena gue mendengar suara anak kecil yang mirip suara Natalia. Entah kenapa badan gue tiba-tiba kaku. Seperti sedang berada di suhu minus tanpa jaket. "Ahh suara anak kecil semua juga sama". Ucap gue dalam hati mencoba menghalau ketakutan kalau itu suara Natalia.

"Dadddyyyyyyyy…" Gue mendengar suara itu lagi lebih nyaring dan bersamaan gue merasakan ada sesuatu yang menabrak pinggang gue.

"Wuaaaa…" Gue terkejut melihat Natalia.

"Daddy, aku abis beii ini". Ucap Natalia memamerkan papper bag berlogo merek pakaian.

Perempuan di depan gue hanya tertawa melihat gue yang panik dan gelagapan ini. Tidak lama Maminya Natalia menghampiri. Gue makin semaput. Makin bertanya-tanya sebenarnya gue sedang dalam permainan siapa.

"Ada yang bisa jelasin, ini ulah siapa?" Tanya gue pada dua perempuan yang ada di depan gue sambil menggendong Natalia untuk duduk dipangkuan gue.

"Nanti, sebentar lagi dia datang". Jawab Maminya Natalia. "Eh itu dia…" Lanjut Maminya Natalia sambil melambaikan tangan ke seseorang yang ada di belakang gue. Lalu gue berbalik badan dan melihat seorang perempuan berkacamata, rambutnya dikuncir kuda, di tangan kanannya ada sedikit tatto.

"Taliaaaa…" Ucapnya sumringah menghampiri Natalia yang sedang duduk dipangkuan gue.

Spoiler
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masbroo15 dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Senandung Black n Blue
15-08-2019 03:52
Quote:Original Posted By devarendra
Mantan memang candu, mantan kadang nyakitin, tapi ada rasa yg tersisa dan belum usai, mantan seperti memutar kepingan disc dan dinikmati dengan perlahan sesuai memori kenangan.

Mengenai robinhood setahuq dilakukan dengan dengan merampas harta pejabat korup dan membagikan ke orang miskin nat bisalah disebut pahlawan tapi logika masih membenarkan. Tapi pengedar nat demi apapun itu berbuat dosa 2 kali, ambil uang haram dan menjerumuskan nasib pemuda ke masa depan yg suram. Bukan menghakimi tapi setiap manusia hidup dengan takdirnya dan manusia berkewajiban memilih jalan baik dan buruk. Doa gue semoga sdh berhenti bisnis haram. N buat semua pengedar doaq semoga anak cucunya nanti merasakan nikmatnya sakau.


Gue udah berenti kok dari segala bisnis haram. Aaa… Sebenernya mau ngungkapin banyak permasalahan soal gue yang jadi bagian jaringan pengedaran narkoba. Tapi… banyak pertimbangan. Gue cuma bisa bilang dan sedikit ngasih clue di cerpen gue yang judulnya Anomali. "Di negeri ini, pada siapa lagi kita bisa percaya?"

Quote:Original Posted By DanyMartadinata
Ah Nina, kangen Gw sama karakter cewek 1 ini,,kebetulan juga udah lama kagak muncul yaa emoticon-Big Grin


Gue juga kangen… Ehh, hahahaha.

Quote:Original Posted By nantaarka
yeeahh..
welcome back nina


Tim Nina nih ceritanya???

Quote:Original Posted By Alea2212
keren nih mas Nata, beli mobil cuma karena SPGnya Nina. inget Dita, katanya mau nikah. kan mas Nata lemah kalo sama mantan. wkwkwkwk emoticon-Leh Uga


Tenang…tenang… Gue bukan keledai. Eh. Hahahaha.

Quote:Original Posted By dm14
Boooom!!! ..NINA is back !! akankah Nata seperti yg diucapkan Dita tentang mantan??


Emmppppp Akan ga yah? emoticon-Bingung

Quote:Original Posted By yusufchauza
akhir nya nina muncul lagi, jadi makin penasaran kelanjutan nyaemoticon-Big Grin


Sama ane juga penasaran emoticon-Hammer2

Quote:Original Posted By dodyrestgoth
asekk dek nina muncu lagi


Aseloleee josss

Quote:Original Posted By jorzgeorge
yg ditunggu tunggu nih


Aaaaaaahhhhh, aku juga nunggu, hahahaha.

Quote:Original Posted By Wassap.Bro
Bangke gue deg-degan baca part ini.
Jadi bener bini bang nata adalah nina emoticon-Big Grin krn bini bang nata pernah kerja jadi SPG.

"Nata nina natalia"

Dan cewe bertato yg di stadion bola itu adl karina. emoticon-rose


Emmppp emoticon-Leh Uga

Quote:Original Posted By mirzazmee
Apakah hati Nata berpaling ke sang mantan?? emoticon-Leh Uga
Klo dari clue istrinya Nata mantan spg, tapi karena kebanyakan plot twistnya gua jadi bingung mao nebak lagi emoticon-Bingung emoticon-Hammer2


Hayo hayoooooo, wkwkwkw.

Quote:Original Posted By ngaburr
Oleh gan ts , kayanya Mangkunegaran terbuka lebar nih siapa gerangan pendamping dirimu...
Sepertinya ada yang CLBKsama orang yang udah berhasil melepas keperjakaan nya gan ts nih..
emoticon-Toastemoticon-Toastemoticon-Toast


Siapa kira-kira??

Quote:Original Posted By fd35
semakin menarik


emoticon-Blue Guy Cendol (L)

Quote:Original Posted By hayuus
hidup setaun di us gak di ceritain juga nat??


Emmmpp begini. Terlalu frontal kalo gue ceritakan dan terlalu mengumbar identitas siapa Nata, siapa Dita, siapa Karina, Siapa Nina, Siapa si Renal dan Siapa si Malik. Gue mau semunya tetep tersamarkan. Hehehe. Nyuwun sewu. emoticon-Maaf Agan
0 0
0
Senandung Black n Blue
15-08-2019 03:59
Ane beberapa minggu ini pengen jadi silent rider gak betah liat part 2018. Seperti obrolan yang dibalikkan dimasalalu.
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
15-08-2019 04:04
Quote:Original Posted By ariid
Ane beberapa minggu ini pengen jadi silent rider gak betah liat part 2018. Seperti obrolan yang dibalikkan dimasalalu.


Pantes, biasanya ada yang ngasih lagu-lagu buat back sound… kok ga ada-ada yah, beberapa hari ini. Wkekwkwk emoticon-Ngakak
profile-picture
ariid memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
15-08-2019 04:06
Quote:Original Posted By nyunwie
Pantes, biasanya ada yang ngasih lagu-lagu buat back sound… kok ga ada-ada yah, beberapa hari ini. Wkekwkwk emoticon-Ngakak

Huehuehuehue ntar ane isi dipart akhir ya emoticon-Leh Uga
0 0
0
Senandung Black n Blue
15-08-2019 04:08
Quote:Original Posted By ariid
Huehuehuehue ntar ane isi dipart akhir ya emoticon-Leh Uga


Asiiiiiaaaaapppppppp emoticon-Cipok
Hahahaha.
0 0
0
Senandung Black n Blue
15-08-2019 10:12
Tidak sabar menunggu siapa yang jadi istri TS.
Kalau saya sih tetap Karina yang nomor 1, baru alternatifnya Nina aja.
Dan yang terpenting, siapapun jodohnya, semoga tetap langgeng selamanya.
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
15-08-2019 21:39
lagi arisan para mantan Nata nih keknya. wkwkwkwk
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Halaman 19 dari 30
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you-stole-my-heart-true-story
Stories from the Heart
bastard-hotelier
Stories from the Heart
natsu-no-hanami-n2h---fiksi
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia