alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
3135
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bf5991e98e31b9e748b4568/sebuah-cerita-dari-gadis-gadis-pramugari-2
Aku mengamati ekspresi wajah Bagas yang sudah semakin mengeras karena mendengar kata-kataku. Tidak mampu lagi menahan kesabarannya, nada suara Bagas tampak meninggi ketika ia merespons ku.
Lapor Hansip
22-11-2018 00:42

Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)

Past Hot Thread
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)


Alert +21


Sebelum Gan n Sis baca kelanjutan kisah hidup Gadis di thread kedua ini. Sebagai TS Anna punya satu permintaan kecil untuk Gan n Sis. Pasti mau kan ya buat dengerin dan subscribe Gadis Pramugari versi Podcast biar lebih mantul lagi cerita Gadis ini.

Terus Gan n Sis juga makin baper denger cerita sedihnya Gadis dan hepinya Gadis di GP Podcast.

Langsung denger aja ya dan jangan lupa subscribe biar ga ketinggalan apdetan-nya di Kaskus Podcast 😘



/episode-1-namaku-gadis



/episode-2--raka-sang-abdi-negara



/di-atas-32000-kaki



/gadis-dan-raka-bertemu-setelah-sekian-lama---ep-4



Bab 1 - First Flight


"Oooohh... Aaaaaahhh... lenguhan itu berasal dari bibirku, disusul dengan erangan kepuasan dari laki-laki yang berhasil membuat aku menjadi miliknya untuk pertama kali.

Raditya... Sebuah awal dari ceritaku.

✈️✈️✈
️

Pukul 5 tepat supir jemputan sudah mengetuk pintu kamar kosku. Setelah berulangkali mematut diri di cermin, akhirnya untuk terakhir kali aku memandang diriku di cermin dan bergumam dalam hati.

"Akhirnya seragam ini kukenakan juga. Aku berharap setelah ini, kehidupanku akan menjadi lebih baik"

Segera kusematkan id card di baju seragam dan menarik koper menuju mobil maskapai yang telah siap mengantarku ke bandara.

Setibanya di crew room aku melihat seorang perempuan cantik berdiri di tengah ruangan dan dengan mimik serius sedang memperhatikan ponselnya. Rambut perempuan itu rapi tergelung dengan tatanan ala french-twist khas pramugari. Aku membaca name tag yang berada di sebelah kiri seragamnya. Di situ tertulis nama RISA. Aku masuk ke dalam ruangan dan memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu.

"Selamat pagi mbak Risa..." Aku tersenyum, menunggu reaksinya. Ia menoleh dan tampak acuh terhadap sapaanku.

"Kenalkan mbak, nama saya Gadis Ginanti, saya junior batch XX. Ini first flight saya mba, mohon bantuannya ya mbak!" Aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mbak Risa, senior yang terkenal suka nyinyir se-company.

Selain hobi nyinyir, ia juga suka menyuruh junior-junior yang bertugas dengannya dengan seenak hati.

Dengan tatapan sinis mba Risa menatapku dan dengan nadanya yang judes, ia memberi sebuah peringatan.

"Gadis... Nanti kalau di atas jangan banyak tanya ya! Lakuin aja seperti waktu kamu training, kalau beneran nggak tahu atau nggak bisa, baru tanya! Oh iya jangan lupa kamu nanti kenalan juga sama pilotnya! Inget ya!"

Tanganku yang lama menggantung di udara perlahan-lahan aku turunkan, karena tampaknya lawan bicaraku ini tidak berminat untuk menyambutnya. Aku mengiyakan perintahnya dengan mengangguk patuh.

"Baik Mbak Risa"

Ketika Mbak Risa hendak membuka mulutnya kembali sebuah sapaan terdengar di depan pintu.

"Selamat Pagi!" Mbak dini masuk ke dalam ruangan.

Mbak Dini... Perempuan berambut pendek, berbadan sedikit berisi dan berkulit sawo matang merupakan awak kabin senior yang akan in-charge di penerbangan perdanaku ini.

"Eh... Din! Selamat Pagi, Ikutan yaa!" Mbak Risa mendekat dan memajukan badannya

"Hai Sa" Mbak Dini langsung membalas salamnya dan mereka saling bercipka-cipiki.

"Nanti kita sekamar ya Din! Gw mau CURHAT sama Lo!"

"Pasti tentang Tito lagi deh! Sampai kapan sih Lo mau jadi kesetnya terus! Diinjek-injek, kotor terus dibuang!"

"Iiiihh jahat banget sih Lo ngomong gitu!""

"Gw ngomong gitu biar Lo sadar Sa, kalau Tito cuma manfaatin Lo doang!" Ya udah nanti aja ceritanya di kamar! Landing Surabaya Lo mesti ikut gw ya, gw baru kenalan sama pengusaha di sana!"

"Ciee cowok baru nih ceritanya, Kenal dimana Din? Penumpang ya?"

"Iya dong... Ganteng, Muda, Keren. Waktu gw jalan di cabin dia senyum sama gw, gw tulis aja nomer gw di kertas terus gw kasih dia! Eh dia telepon deh malamnya"

"Udah punya bini belom?"

"Emangnya gw pikirin! Yang penting royal nggak dia nanti! Kalau pelit gw mah ogah, kita tes aja dia nanti malam!"

"Iya deh gw temenin, daripada di kamar bete juga gw kepikiran Tito!

"Eh btw flight ini kita bawa anak baru ya Sa!"

"Iya tuh anaknya! Pasti nyusahin deh di atas!"

"Udah biar aja, nanti kita suruh dia aja yang kerja di atas, kita ngegosip aja di Galley!"

"Iya pastilah itu mah, tapi kalau dia pinter Din, kalau dia bego! Yang ada kita yang capek Din!"

"Ya udah nanti gw briefing dulu aja dia... oiya dia udah kenalan sama Lo?"

"Udah, dia nungguin kita selesai ngobrol kali baru kenalan sama Lo!"

Mereka membicarakan seolah aku tidak ada bersama mereka di ruangan ini.

"Yah nasib jadi junior, harus terima semua perlakuan senior" timbul pemikiran miris dalam hatiku.

"Lebih baik aku segera kenalan dengan mbak Dini, daripada nanti aku kena omel dia karena bersikap apatis terhadap senior, apalagi dia senior awak kabin in-charge dalam penerbangan ini" Dengan gugup aku menghampiri mereka yang sedang asyik bercakap-cakap.

"Maaf Mbak Dini, kenalkan saya Gadis, junior batch xx, ini First Flight saya mbak. Mohon bimbingannya mbak!" Aku mengulurkan tangan dan mbak Dini langsung menjabat erat tanganku.

"Saya Dini... Gadis ya nama kamu?"

"Iya mbak" aku menjawab pelan.

"Begini ya Dis, Kamu kan sudah dirilis terbang, jadi artinya kamu sudah mampu mengerjakan tugas sesuai job desk kamu ya! Kalau ada yang nggak kami tahu, kamu tanya! Jangan bengong di atas. Ngerti ya GADIS!" Mbak Dini menekankan maksudnya agar aku tidak menjadi obstacle di penerbangannya

"Iya mbak" aku kembali mengangguk patuh.

Melihat aku mengangguk, mbak Dini melanjutkan perintahnya "Ya sudah, kamu duduk di sana aja, kita tunggu Captain, mbak Santi dan mas Farhan untuk briefing"

"Baik Mbak" Aku mengambil tempat duduk agak jauh dari mereka yang kembali asyik bercakap-cakap.

Mereka benar-benar tidak menganggapku dan terus berbincang seolah-olah aku tidak berada dalam satu ruangan bersama mereka. Dan sesekali terdengar suara tawa mereka yang bergaung di ruangan.

Aku tidak boleh merasa kecil hati, tidak semua senior seperti mereka - yang merasa aku sebagai beban di Flight ini.

Aku membesarkan hati untuk tetap bersemangat di penerbangan pertamaku.

"Hallo pagi semuanya... Maaf yaa kita datang agak telat" Mbak Santi yang duluan menyapa semua orang di ruangan, sedangkan mas Farhan hanya melambaikan tangannya kepada kami.

"Mbak Santi dan mas Farhan sudah datang, saya ikutan ya Mbak, Mas" Risa menghampiri dan menyalami keduanya.

"Nggak apa-apa mbak, Captain Joko sama mas Radit juga belum datang" Mbak Dini datang mendekat dan menerima jabatan tangan mereka.

"Sebentar lagi mungkin Din" Mas Farhan yang agak gemulai ikut mengomentari percakapan mereka. Sedangkan aku ragu-ragu untuk memotong percakapan mereka.

Mbak Santi yang pertama menyadari kehadiranku disitu "Anak baru ya?" Semua menoleh kepadaku yang tampak berdiri kikuk di hadapan mereka.

"Iya mbak Santi, mas Farhan kenalkan nama saya Gadis Ginanti ini first flight saya mohon bimbingannya mbak, mas!"

"Ih santai aja lagi Dis, nggak usah tegang gitu, kaya kita-kita ini kanibal aja. Kita ini baik kok, tenang aja first flight kamu ini, bakalan jadi flight yang nggak akan kamu lupain!"

"Kaya iklan aja Lo Han hehehe... tapi bener kata Farhan Dis, nggak usah tegang. kalau Lo tegang nanti kerjanya malah berantakan. Yang penting kerja sesuai S.O.P aja Dis" Mbak Santi dan mas Farhan yang tampaknya lebih senior dari Mbak Dini dan Mbak Risa mencoba menenangkan aku yang terlihat tegang dan gugup.

"Akhirnya ada juga senior yang baik" batinku dalam hati, aku tersenyum spontan.

"Mohon bimbingannya ya Mba Santi dan Mas Farhan" Mbak Santi dan Mas Farhan membalas senyumanku.

Percakapan kami terhenti dengan datangnya Captain Joko bersama seorang pilot trainee.

"Hallo Selamat Pagi" Captain Joko yang terkenal tegas dan berwibawa menyapa kami terlebih dahulu.

Captain Joko merupakan seorang instructor Pilot yang juga menjabat sebagai manager operasi di maskapai kami.

"Selamat pagi Captain, mas" Semua serempak menyambut greeting Captain.

"Loh Raditya belum datang Din?" Captain Joko menanyakan keberadaan mas Raditya yang tidak terlihat di ruangan ini.

"Belum Captain"

"Ya sudah kita tunggu sebentar lagi. Oh iya kenalkan ini Bayu, dia akan saya guiding hari ini"

Semua segera menghampiri dan berkenalan dengan pilot trainee yang sedang berdiri di samping Captain Joko.

Kemudian suara laki-laki memecah perhatian mereka.

"Selamat pagi semuanya...." pemilik suara itu bergegas masuk ke dalam ruangan.

"Maaf Captain, ada kecelakaan di tol jadi saya datang terlambat"

"Maaf ya semuanya" Raditya tersenyum dan meminta maaf kepada Captain dan seluruh crew-nya

"No problem Dit! Ok untuk menjaga on time performance mari kita mulai pre-flight briefing-nya" Captain Joko mengalihkan perhatianku yang masih tertegun menatap mas Raditya yang ternyata juga sedang memandangiku.

✈️✈️✈
️

"Dis, coba kamu cek lavatory lagi, amenities-nya habis nggak? Captain mau ke lavatory katanya"

"Baik Mbak"

Baru saja aku keluar dari lavatory, perintah berikut sudah menanti.

"Dis kamu buatin black coffee buat Mas Raditya ya!"

"Pakai Gula nggak mbak?"

"Kamu nih, masa gitu aja nanya, kalo Black Coffee itu yaa plain nggak pakai sugar masa gitu aja nggak ngerti kamu!"

"Iya maaf mbak, saya hanya ingin memastikan saja"

"Sudah... cepat sana buatin, dia udah minta sama saya dari tadi"

"Baik mbak, saya buatkan dulu"

"Kalau sudah... Langsung kamu anter ya, nanti saya yang minta izin masuk. Sekalian bilang Captain Lavatory-nya sudah kosong"

Belum lama mbak Dini memberikan perintah, pintu flight deck terbuka.

"Saya minum kopinya di sini saja Din, Oya Din kamu dipanggil Captain!" mas Raditya mengambil paper cup yang berisi kopi dari tanganku.

"Ya sudah Dis... Saya saja yang ke dalam, kamu standby di sini ya!" Mbak Dini masuk ke dalam flight deck Dan meninggalkanku dengan mas Raditya.

"Ini first flight ya, Mbak Gadis?" Mas Raditya membuka pembicaraan denganku.

"Iya Mas"

"Hmmm" Mas Raditya mengerenyitkan dahinya "Mbak Gadis, boleh saya minta ditambahkan gula, ternyata kopinya terlalu pahit untuk saya"

Senyum menawan yang menghiasi wajah tampannya membuatku teringat seseorang. Aku menjadi gugup dan jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya.

"Oh iya boleh mas, mau 3 atau 4 gulanya mas?" Kegugupan membuatku menjadi irasional.

"Saya belum mau kena diabet mbak Gadis" Kekehan kecil terlontar dari mulutnya, kemudian ia melanjutkan "Satu saja saya rasa cukup...."

"Oh iya maaf, maaf mas... Sebentar saya ambilkan gulanya"

"Terima kasih" mas Raditya tersenyum.

Sekilas sentuhan dari mas Raditya, ketika mengambil gula dari tanganku membuat detak jantungku kembali tidak beraturan.

"Jangan bodoh Gadis, ini Raditya bukan Raka, hanya sedikit mirip" aku berusaha menenangkan jantungku yang makin lama makin sulit nurut dengan otak warasku.

"Ya sudah mbak Gadis, saya ke Lavatory dulu ya, terima kasih untuk kopinya" Raditya memberikan kopinya untuk dibuang.

"Iya mas" Dengan cepat aku mengambil kopi itu dan berusaha untuk menghindar bersentuhan tangan dengannya.

Setelah mas Raditya masuk ke dalam Lavatory aku memaki dalam hati.

Aduh bodoh sekali aku ini, memalukan sekali! Di depan mas Raditya kenapa aku salah tingkah begitu! Padahal ia hanya meminta gula saja, bukan meminta nomer telepon atau menanyakan kehidupan pribadiku! Dasar norak kamu Gadis, Ndeso!

✈️✈️✈
️

Akhirnya penerbangan perdanaku berakhir juga. Setelah beberapa kali kena marah oleh Mbak Dini dan Mbak Risa, akhirnya siksaan ala senior-junior ini berakhir. Setelah penumpang selesai disembark, kami mengadakan post flight briefing dan segera menuju hotel tempat kami menginap.

Lobby hotel bintang 4 ini tampak megah di mataku, beberapa kali aku melihat sekeliling dan mengucap syukur - akhirnya aku bisa jadi pramugari beneran seperti cerita-cerita Rini sahabatku, tentang kehidupan Pramugari.

"Enak loh Dis jadi Pramugari! aku lihat kakakku tiap hari bisa traveling gratis. Makan pagi di Australia, makan siang di Denpasar dan makan malam di rumah hehehe... Belum lagi setiap uang terbang turun pasti deh belanjaannya berplastik-plastik. Belum lagi hampir semua hotel bintang 4-5 sudah di coba ini Dis"

Ah aku jadi ingat percakapanku dengan Rini. Bagaimana first flight dia ya, apakah sama dengan first flightku? MENYENANGKAN pikirku.

Ini adalah awal dari langkahku sebagai seorang Pramugari, aku akan menikmati setiap detik dari prosesnya, karena ini adalah esensi dari hidup yaitu mensyukuri setiap nikmat yang kita dapatkan.

Setelah lama melamun, lamunanku buyar oleh ajakan Mbak Santi untuk menuju kamar kami. Sesuai dengan prediksiku duo nyinyir itu cepat-cepat menyingkir menuju kamar untuk bersiap menjalankan rencana mereka malam ini. Dan aku mengucapkan syukur karena mendapatkan Mbak Santi sebagai roomie-ku malam ini.

"Dis... Lo mau tidur disisi sebelah mana?"

"Kalau aku terserah mbak Santi saja, di mana saja boleh mbak"

"Bener nih! Ya udah gw tidur di dekat tembok ya! Gw nggak bisa tidur kalau nggak tidur mepet tembok"

"Iya mbak, aku di mana saja mbak, bener nggak apa-apa kok mbak!"

"Ya sudah gw pakai kamar mandi duluan ya Dis, gw nggak bisa tidur kalau nggak mandi, rasanya pliket bagaimana gitu!"

"Iya mbak sama, Gadis mau rapihin koper dulu aja, nggak apa-apa mbak, pakai saja duluan mbak!"

Mbak Santi masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lama terdengar suara pancuran air mengalir.

Aku memandang kamar hotel yang terlihat cukup besar dan nyaman ini "Jadi ini rasanya jadi orang kaya, tidur di kamar yang nyaman, bersih dan wangi" ini adalah kali pertama aku berada di sebuah kamar hotel.

"Coba ibu punya hp, aku mau cerita tentang pengalaman terbang pertamaku" Nanti kalau aku sudah gajian, aku akan membelikan ibu hp" Angan-anganku mulai merinci apa saja yang akan aku belikan untuk ibu ketika gajianku nanti.

Pintu kamar mandi terbuka dan dengan cueknya Mbak Santi keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bra dan celana dalam.

"Dis... Gw sudah selesai pakai kamar mandi, Lo nggak jadi mandi?"

"Iya sebentar lagi mbak, aku mau ambil baju tidur dulu mbak"

"Eh Lo nggak keberatan kan kalau gw tidur cuma pakai bra dan cd aja? Gw nggak betah kalau pakai baju saat tidur, gerah Dis!"

"Kita dinginkan saja suhu ruangannya mbak, nanti aku bisa tidur pakai selimut" setelah lama aku menjadi pramugari baru aku tahu itu bukanlah selimut, tetapi bed cover namanya.

"Nggak Dis bukan gerah karena AC nya nggak dingin, Gw nggak biasa tidur pakai baju"

"...."

Melihatku yang hanya terdiam dan melongo mbak Santi mulai tertawa.

"Hahaha... Aneh ya gw? Udah kebiasaan sejak lama sih, jadi susah dihilangin. Gw aja pernah dilaporin ke Chief sama salah satu FA, katanya risih kalau sekamar sama gw, karena gw suka naked kalau tidur. Gw dituduh lesbi lah, nggak normal lah. Gw sih gak peduli ya. Gw jelasin aja sama Chief kalau gw nggak bisa tidur, terus akhirnya kurang istirahat malahan bisa jadi hazard di flight. Akhirnya Chief nyerah, dia cuma ngasih advice aja. Gw mesti liat-liat roommate dulu, kalau ada yang keberatan, gw disuruh tidur pakai handuk atau kimono hahaha...."

"Nggak kok mbak aku nggak keberatan, aku cuma belum pernah ketemu orang yg tidur nggak pakai baju mbak, maklum mbak, Gadis kan orang kampung mbak"

"Jangankan elo Dis, orang kota aja kaget! Pernah ada teman angkatan gw yang bilang, nggak takut apa nanti disetubuhi jin?"

"Gw jawab aja, asal nggak hamil nggak apa-apa! Hahaha"

Aku hanya tersenyum kikuk menanggapi kecuekan seniorku ini.

"Ya sudah mandi sana Dis, nanti keburu malam"

"Iya mbak, Gadis pakai kamar mandinya dulu ya mbak"

"Memang unik seniorku yang satu ini, meskipun terlihat cuek tetapi hatinya lebih baik daripada kedua seniorku yang terlihat santun tapi ternyata... Yah kalian bisa membuat penilaian sendiri" aku bergegas berpakaian dan keluar dari kamar mandi. Ruangan terlihat temaram hanya satu lampu kamar yang menyala di dekat meja kerja, ternyata mbak Santi sudah lebih dahulu terlelap. Suara dengkur halus samar-samar terdengar, aku berhati-hati melangkah agar tidak membangunkan tidurnya. Aku mencari ponselku di dalam handbag dan mengecek apabila ada pesan atau telepon yang masuk. 3 panggilan tidak terjawab dari sebuah nomer yang tidak aku kenal. Tidak lama nomor itu kembali melakukan panggilan telepon. Karena rasa penasaran aku segera bergegas keluar kamar untuk menjawab panggilan telepon itu.

"Hallo" suaraku menyapa dengan ragu-ragu.

"Dis ini pakde No, ibumu masuk rumah sakit lagi Dis?"

"Masya Allah Pak De, bagaimana keadaan ibu sekarang pakde?"

"Ibu sudah agak baikan, tapi nanti ibumu tinggal di rumah pak de saja dulu, dokter masih larang ibumu untuk kerja berat-berat dulu"

"Iya pakde Gadis sudah larang ibu buat jualan, Gadis pasti kirim gaji Gadis untuk ibu, tapi ibu bilang ibu malah sakit-sakitan kalau tidak berjualan. Boleh Gadis bicara sama ibu Pakde"

"Ibumu sudah tidur, besok saja kamu telepon ke sini Dis"

"Iya pakde, besok Gadis telepon lagi, Gadis minta tolong jaga ibu, maaf merepotkan pakde"

"Iya Dis, kamu hati-hati di sana"

"Iya pakde waalaikum salam" baru saja aku menutup telepon, suara laki-laki mengagetkanku.

"Ibumu sakit?" Suara yang bernada khawatir.

Aku menoleh melihat pemilik suara itu "Eh iya mas Raditya"

"Maaf nggak maksud nguping tapi saya baru keluar kamar mau cari makan. Kamu sudah makan?"

"Oh iya terima kasih mas, saya tidak biasa makan malam"

"Iya sih biasanya FA takut gendut ya kalau makan malam, takut digrounded"

Aku hanya tersenyum menanggapi komentar mas Raditya yang tidak sepenuhnya benar, tidak benar karena aku tidak takut gemuk tetapi karenaΒ  nafsu makanku menghilang ketika mendengar ibu sakit. Dan memang benar kita pramugari dituntut untuk menjaga berat badan ideal agar tidak di grounded kantor.

"Mas Raditya, saya kembali ke kamar dulu ya" aku pamit dan hendak beranjak pergi.

"Dis... Tunggu!"

Lagi-lagi suaranya kembali mengingatkanku pada orang itu. Aku menoleh dan menaikkan alisku "Iya Mas, ada apa?"

"Oh enggak sih, mau nanya aja boleh aku minta nomer kamu? Aku belum izin Captain, jadi kalau ada apa-apa dan Captain cari aku, boleh kamu kabarin aku?"

"Oh iya mas" kami saling bertukar nomer dan kembali aku pamit kepadanya.

"Sekarang saya masuk ya Mas"

"Iya terima kasih Dis" senyumnya terkembang dan aku segera menutup pintu kamar dengan hati-hati.

Berbaring di twin bed-ku yang empuk, mataku tidak kunjung menutup "Ya Allah... Kenapa aku ini, itu hanya senyuman tanda terima kasih saja darinya. Jangan berpikir yang aneh-aneh Gadis! Sudah tidur Dis... besok kamu harus bangun dan mandi lebih awal dari seniormu, itu adalah peraturan tidak tertulis disini"
Otakku berkali-kali mengirimkan peringatan kepadaku.

Aku makin merapatkan mata berusaha untuk tidur dan tidak GR terhadap sikap Raditya.

✈️✈️✈
️

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...508b4567/657/- INDEX
Diubah oleh annastasia81
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Julius.bolobolo dan 158 lainnya memberi reputasi
153
Tampilkan isi Thread
Halaman 151 dari 158
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
12-08-2019 22:49
Tepat pukul 3 aku menunggu kedatangan Bagas, ia datang sendiri dengan pembawaan yang tenang dan percaya diri. Ia berjalan mendekat, mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.

"Bagas"

"Raka" Aku menyambut uluran tangannya dan berjabat erat. Setelah kami duduk Bagas memanggil pelayan.

"Iya mbak saya mau pesan teh panas oh iya minta tolong gulanya pakai gula batu saja ya" Kemudian Bagas mempersilahkanku untuk memesan kepada pelayan.

"Saya sudah pesan, kopi hitam tanpa gula"

Tidak lama aku menjawabnya pesananku datang. Setelah pelayan itu pergi Bagas tersenyum dan berkata.

"Terima kasih sudah datang"

Aku memberikan jeda dengan minum terlebih dahulu kopiku.

"Hmm Kebetulan saya masih di Jogya jadi tidak ada salahnya saya datang"

"Oya sedang ada urusan apa di Yogya? Bekerja? Atau liburan?" Tampak Bagas menaruh perhatian besar terhadap jawabanku selanjutnya.

"Saya di sini untuk bertemu Gadis, dia mengirimi saya sebuah pesan untuk bertemu di sini" aku kembali menyesap kopi dan sekilas menyunggingkan sebuah senyum puas karena telah memberinya sebuah jawaban yang mungkin akan membuatnya sakit hati.

"Oh begitu... memang sih kami di sini sedang mempersiapkan pernikahan. Karena saya asli Yogya, jadi kami memutuskan akan menikah di sini" Tanpa ku duga Bagas menjawab dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Seolah dia menganggap aku bukanlah sebuah ancaman untuk hubungannya dengan Gadis.

Dan ia kembali melanjutkan kata-katanya dengan tulus "Oiya Raka... jika kamu bisa menyempatkan waktu pasti Gadis akan senang jika kamu datang ke perni...."

Terdorong rasa cemburu segera ku potong pembicaraannya tepat sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.

β€œSaya melamar Gadis...."

Bagas terdiam nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, seolah ia tidak mempercayai kata-kata yang baru saja ia dengar dariku.

"Maksud kamu bagaimana? Apa tadi saya tidak salah dengar atau kamu yang sudah tidak waras?" Ujarnya dingin dan menusuk.

"Saya masih waras bahkan saya sesadar-sadarnya telah melamar Gadis" Tidak ingin kalah aku menegaskan dengan keseriusan di raut wajahku.

Terlihat Bagas berusaha keras untuk meredam emosinya ketika menghadapiku.

"Begini Raka saya ingin meluruskan sesuatu, Gadis tunangan saya dan kami akan menikah dalam beberapa bulan lagi! Lebih tepatnya 3 bulan lagi"

"Ya saya dengar, saya tahu dan saya bilang bahwa saya juga sudah melamar Gadis" Sengaja aku menempatkan jeda memberi penekanan bahwa aku juga memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih Gadis sebagai pasangan hidupnya.

"Dulu mungkin saya bodoh dan menyesali semuanya, namun sekarang saya tidak bisa begitu saja merelakan Gadis, apalagi saya tahu dengan pasti bahwa Gadis masih menaruh hati kepada saya. Saya merasa sejauh manapun Gadis pergi, dia tetap berada di hati saya. Tetap menjadi rumah bagi saya dan begitupun sebaliknya"

Aku mengamati ekspresi wajah Bagas yang sudah semakin mengeras karena mendengar kata-kataku. Tidak mampu lagi menahan kesabarannya, nada suara Bagas tampak meninggi ketika ia merespons ku.

"Anda menempatkan Gadis di posisi yang sulit Raka. Dan saya tidak akan memberikan Gadis kepada kamu, seolah dia adalah barang. Gadis bukanlah barang yang bisa diperebutkan atau diberikan"

Ia menghela nafas dalam mencoba menurunkan emosinya dan melanjutkan dengan tegas "Saya mencintai Gadis lebih dari apapun di dunia ini dan saya tidak akan membiarkan dia terluka baik oleh kamu ataupun orang lain"

Tidak mau kalah aku pun beragumen.

"Saya bilang saya mau memperjuangkan, bukan mau menyakiti Gadis! Saya yakin Gadis akan lebih bahagia bersama saya, saya bisa janjikan itu"

Walaupun suara Bagas terdengar tenang, ia memberikan peringatan keras kepadaku.

"Raka mungkin dulu kamu memang pernah ada dihatinya Gadis, tapi itu masa lalu, saya ini masa sekarang dan masa depannya. Jadi tolonglah menyingkir dari hidup kami dan jangan ganggu tunangan saya lagi! Saya tidak suka cari ribut tapi kalau kamu tidak mau mengerti juga, tentu saya juga harus bertindak"

"Kalau begitu kita telepon saja dia, biarkan Gadis yang memilih saya atau kamu Bagas!" Aku menantangnya.

"Silahkan Raka, saya tidak pernah takut" Bagas menjawab dengan tenang meskipun masih terselip ketegasan dalam suaranya. Ia kembali menyerang ku dengan kata-kata.

"Saat ini saya sedang menang angin, Gadis berada disisi saya, nama yang ada di undangan pernikahan adalah nama saya. Walaupun mungkin saja saya kalah posisi. Andai pada saat itu saya yang bertemu lebih dulu dan bukan kamu, maka saat ini saya pasti akan menang posisi"

Ia berhenti berjeda berharap kalimatnya mampu membuatku goyah kemudian ia melanjutkan.

"Saya mengerti semua orang pasti punya masa lalu tapi sekarang sayalah masa depan Gadis" Ia menutup kalimatnya dengan sebuah senyuman satir.

"Tapi angin tidak selamanya berada di posisimu dan akan ku ubah arah angin agar kau kalah dalam pertempuran ini. Dan akan ku mulai dengan meminta Gadis datang menemui kita berdua" Pikiranku menolak untuk kalah.

"Baik saya akan menelepon Gadis dan memanggilnya ke sini" Setengah berbicara kepada diri sendiri aku mengambil ponsel dan meredial nomer Gadis.

Setelah beberapa kali nada panggil, Gadis mengangkat panggilanku.
Dan tanpa basa basi aku menyerukan maksud dan tujuan panggilan telepon ini.

"Hallo Dis... Kamu bisa ke sini? Saat ini saya sedang bersama Bagas, ada yang perlu kita bicarakan bertiga"

Diujung panggilan suara gadis terdengar marah "Apa-apaan kamu Raka, dasar sinting! Jangan ngomong yang macem-macem ya kamu Raka! Kalian di mana?"

Aku menjawab kemarahannya dengan tenang.

"Iya... nanti aku text alamat restonya ke kamu ya"

Dan tidak lama kemudian aku melihat Bagas mengangkat panggilan telepon dari Gadis.

"Iya saya tunggu kamu di sini, jangan terburu-buru ya. Minta Pak Dar anter kamu aja ke sini. Iya... hati-hati ya Beb"

Suara lantangku membuat Bagas kembali menatapku.

"Lihatkan, Gadis adalah belahan jiwa saya, ketika belahan jiwa yang satu memanggil maka yang satu akan datang menghampiri" Aku melihat Bagas melihatku dengan pandangan tidak percaya, ia heran sekaligus takjub dengan percaya diriku yang tinggi.

Dua puluh menit berlalu dan Gadis tiba dengan ekspresi marah yang ditahannya.

"Hallo Beb kamu sudah sampai" Bagas menyapanya dan Gadis hanya diam tajam menatapku.

"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak kembali ke Jakarta?" Gadis melipat kedua tangan di dada. Jelas marah melihatku lancang menemui Bagas tanpa izinnya.

"Dis kami ingin mendengar kamu memilih siapa, aku atau Bagas?"

"Apa-apaan kalian? Pulang kalian! Raka kamu pulang Bagas juga, kamu pulang!" Nada marah suara Gadis terdengar sangat menuntut.

Tidak ada satupun dari kami, aku atau Bagas yang beranjak mengikuti perintahnya.

"Dis sebaiknya kamu duduk dulu di sini" Bagas mencoba membujuk Gadis untuk duduk di sebelahnya.

"Kamu pulang ya! Aku bilang ya Bagas kita tetap menikah apapun yang terjadi, apa-apaan kalian meminta saya untuk memilih. Kamu dengar ya Raka saya akan menikah dengan Bagas dan kamu sebaiknya pulang sekarang!" Mata indah Gadis tampak berkilat marah.

"Aku akan memperjuangkanmu Dis! Suka atau tidak aku akan tetap menunggu kamu! Sedikit saja saya melihat kamu tidak bahagia dengan dia, aku akan membawamu pergi!" Aku menunjuk wajah Bagas dengan sungguh-sungguh.

"Dasar Gila! Sudah saya tidak mau dengar apa-apa lagi! Bagas kamu sebaiknya pulang lebih dulu dan kamu Raka cepat kamu pergi dan jangan pernah menemui saya lagi! Pulang kalian atau saya tidak akan pernah mau melihat kalian berdua lagi dan saya sungguh-sungguh"

Aku melihat Bagas tampak patuh dan beranjak dari tempatnya, berdiri menghampiri Gadis dan mencium pipinya, kemudian berpamitan pergi.

Aku hendak melakukan hal yang sama tapi Gadis memalingkan wajahnya dan ikut pergi bersama Bagas dan meninggalkanku yang kesal sendiri.

Aku beranjak keluar mengikuti mereka dan mendengar pembicaraan mereka.

"Bagas kamu pulang duluan ya dengan Pak Dar, aku ingin jalan-jalan sebentar... menenangkan diri!"

"Biar aku temani kamu ya Beb"

"Nggak apa-apa kok! Aku hanya butuh waktu aja! Lagipula Ibu sudah menunggumu di rumah daritadi" Suara Gadis tampak belum melunak bahkan kepada tunangannya sendiri.

"Kamu aja yang sama pak Dar Dis, biar saya naik taksi" Bagas kembali mengecup pipi Gadis, tersenyum dan mengelus kepalanya "Cepat pulang ya, aku menunggumu di rumah"

Walaupun geram aku menunggu kepergian Bagas hingga tidak terlihat mata. Perlahan-lahan aku menghampiri Gadis dan menyentuh pundaknya lembut.

"Kamu ada waktu?"

Gadis menoleh dan mulai kembali memarahiku.

"Bukankah saya sudah bilang bahwa saya tidak ingin melihatmu lagi!" Nada suara Gadis lebih ketus terdengar dibanding ketika ia berbicara dengan Bagas tadi. Tapi aku tidak mau menyerah.

"Hanya sebentar" Aku meraih tangannya dan setengah menyeret Gadis menuju mobilku. Membuka pintu dan menyuruhnya masuk ke dalam kursi penumpang.

"Masuk Dis, kita bicara di jalan"




Setengah perjalanan Gadis hanya diam membisu dengan menekuk wajahnya tanda tidak senang atas penculikan ini.

"Mau ke mana kita?" Akhirnya Gadis bersuara ketika tujuan kami hampir sampai.

"Jalan-jalan" jawabku kalem.

"Jalan-jalan?" Setengah berteriak Gadis menoleh kepadaku.

"Aku harus pulang Raka, Bagas pasti menungguku" Suaranya tidak terdengar lagi ketus tapi lebih terdengar putus asa.

"Sebentar lagi sampai" Kembali aku menjawabnya kalem.

Aku memarkirkan mobil di jalan yang agak sepi dan mengajak Gadis turun untuk duduk di warung gudeg lesehan.

"Aku tidak lapar" Gadis menolak tawaranku untuk memesan gudeg untuknya. Sebagai gantinya aku memesan dua kopi hitam.

"Yang pakai gula untuk Gadis, yang tidak pakai untuk aku"

"Terima kasih" Walaupun ketus Gadis menerima juga pesananku. Lalu ia menatapku lekat "Jadi kamu mau bicara apa lagi Raka?"

"Aku hanya ingin bersama denganmu lebih lama Dis" Aku tidak peduli walau suaraku terdengar sangat putus asa sehingga Gadis merasa sedikit iba kepadaku.

"Kamu tidak pulang hari ini memangnya tidak ngantor besok?" Gadis mulai melemahkan suaranya.

"Tiket keretaku ke Solo sudah hangus, aku sudah minta dipesankan tiket pesawat untuk besok. Besok jam 6 pagi penerbanganku Dis, jadi biarkan aku menikmati malam ini bersamamu" Aku mengenggam tangannya meski ia melepasnya pelan.

"Aku tidak bisa Raka, Bagas pasti sudah menungguku!"

"Bagas memiliki banyak waktu denganmu Dis, aku? Mungkin ini malam terakhir aku bisa melihatmu, memandangimu bahkan berbicara denganmu, walau mungkin kata-kata menyakitkan yang keluar dari bibirmu"

Aku menghela nafas
"... Tapi aku terima, mungkin ini adalah buah dari kesalahanku dulu meninggalkanmu demi menikah dengan wanita lain. Ini rasanya menjadi kamu, berada di posisi kamu. Tetapi aku tidak setuju dengan pernyataanmu dulu, cinta itu tidak memberatkan dan tidak harus dilepaskan tetapi harus diperjuangkan, sekarang aku mengerti itu" Tanganku kembali mencari tangannya dan mengenggamnya erat menolak untuk dilepaskan.

"Raih kebahagiaanmu Dis, ini masih belum terlambat. Aku adalah kebahagianmu Dis, aku adalah rumahmu. Jika duniaku terlalu kecil untukmu, maka biarkan aku yang menyebrang ke duniamu. Jika mimpimu masih terlalu besar maka biarkan aku mengejarnya bersamamu"

Gadis hendak membantah semua pernyataanku tetapi tanganku dengan cepat menahan bibirnya untuk menjawab.

"Tidak perlu dijawab sekarang, aku akan selalu menunggumu dan hanya satu yang perlu kamu ingat bahwa kita berhak bahagia Dis"

Keheningan sejenak menyergap kami hingga aku mengajukan pertanyaan kepadanya.

"Sebenarnya sejak kapan kamu mulai suka kopi Dis?" Aku bertanya serius dan kemudian tertawa melihat ia mencibir.

"Dasar laki-laki aneh!"

"Loh kok aneh Dis, aku nanya beneran loh!" Kembali tertawa aku menatapnya.

"Ya aneh, habis ngomong panjang lebar tiba-tiba nanya masalah kopi. Apa nggak aneh itu?"

"Ya aneh sih, tapi semua tentang kamu aku suka dan aku ingin tahu tentang kamu yang sekarang, hal-hal yang buat kamu sedih, gembira"

"Kamu Raka... Kamu yang selalu membuatku sedih sekaligus gembira" Aku berharap Gadis menjawabku seperti itu. Tetapi kenyataan berkata lain.

"Raka aku harus pulang, ibunya Bagas mungkin juga mengkhawatirkanku" Ucap Gadis setengah memohon persetujuanku.

"Di sini, kamu tinggal di rumah orangtuanya?" Aku bertanya dan Gadis mengangguk.

"Baik aku akan mengantarmu pulang" Walaupun setengah hati aku menjawabnya.

Aku membayar pesanan kami dan membuka pintu mobil untuk Gadis.
Ketika ia hendak memakai sabuk pengaman aku tidak tahan untuk tidak menciumnya. Tubuhku maju mendekat dan menciumnya. Perempuan yang selalu aku cintai... dulu, sekarang dan kelak nanti.

Setengah terkejut Gadis menerima ciumanku, dadaku berdebar kencang seirama dengannya. Aku menciumnya dengan gairah dan terasa ketika ia menyambutku ia lupa diri dan membalas dengan sama bergairahnya. Tetapi kemudian aku merasa ia sedikit menjauhkan tubuhnya dariku, ia meletakkan kedua tangannya di bahuku. Mendorongku perlahan dan menolakku halus.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ciumannya?" Aku bertanya mengapa dia menjauhkan diri dan menghentikan ciuman kami.

"Tidak, tetapi ciumanmu seperti opium, candu dan memabukkan!" Gadis menjawabku dengan cepat nyaris tidak tertangkap maksudnya olehku, kemudian ia sibuk memasang kembali sabuk pengamannya.

Suara Gadis kembali ketus dan menuntut.

"Ayo Raka antar aku pulang, Bagas sudah menungguku di rumah"

"Di tengah-tengah ciuman kami, ia pasti memikirkan tunangan sialannya itu!"
Terlihat seperti pejuang yang dipukul mundur pasukannya, aku diam dan mulai menjalankan mobil mengantar Gadis pulang ke rumah laki-laki sialan itu.
Diubah oleh annastasia81
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hkm777 dan 26 lainnya memberi reputasi
27 0
27
Lihat 13 balasan
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
12-08-2019 23:24
Quote:Original Posted By annastasia81 β–Ί


Raka sompret..!! Kesel aku.. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Maacih updatenya ya Na, bikin tambah gregetan deh. emoticon-Kiss (S)


#TeamAnna.
profile-picture
annastasia81 memberi reputasi
1 0
1
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
Lapor Hansip
12-08-2019 23:27
Balasan post annastasia81
Asiieeekk!!!!..... setelah lama dinanti, akhirnya ada lanjutannya😍
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan annastasia81 memberi reputasi
2 0
2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
12-08-2019 23:33
Ceritanya gadis pramugari juga sama dgn candunya opium.

Kak anna ini bakal kentang lagi ga?
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan annastasia81 memberi reputasi
2 0
2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
12-08-2019 23:34
Ini si Raka ngapain nyosor ke ayang Gadis sih emoticon-Mad

Makasih mbak Anna udah update emoticon-Mad
Kesel aku sama si Raka emoticon-Mad


edited
Diubah oleh tumengkc
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan annastasia81 memberi reputasi
2 0
2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 06:15
Quote:Original Posted By S.HWijayaputra β–Ί
Raka sompret..!! Kesel aku.. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Maacih updatenya ya Na, bikin tambah gregetan deh. emoticon-Kiss (S)


#TeamAnna.


Sama2 om dedoy, jangan lupa makanya om nanti kurusan loh! Aku tak suka πŸ˜†

Quote:Original Posted By Dauh.Tukad β–Ί
Asiieeekk!!!!..... setelah lama dinanti, akhirnya ada lanjutannya😍


Senangnya masih dinanti bli Tukad 😍

Quote:Original Posted By textboxer β–Ί
Ceritanya gadis pramugari juga sama dgn candunya opium.

Kak anna ini bakal kentang lagi ga?


Mudah-mudahan sih nggak selama kmrn ya kentangnya, tapi bukannya kalau tidak ada kentang diantara kita itu nggak asik hehehe...

Quote:Original Posted By tumengkc β–Ί
Ini si Raka ngapain nyosor ke ayang Gadis sih emoticon-Mad

Makasih mbak Anna udah update emoticon-Mad
Kesel aku sama si Raka emoticon-Mad


edited


Biasa namanya laki kalau nggak kesempatan nggak enak πŸ˜‹
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ipunk3133 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 06:59
Quote:Original Posted By annastasia81 β–Ί

Mudah-mudahan sih nggak selama kmrn ya kentangnya, tapi bukannya kalau tidak ada kentang diantara kita itu nggak asik hehehe...


Tuh kentang mending di potong-potong, terus di goreng, terus kasih saos. Dijamin bakal lebih asik dan enak emoticon-Big Grin

Eh btw ini baru muncul, kemarin kemana aja sis anna?
profile-picture
profile-picture
annastasia81 dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2 0
2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 07:48
biasanya kalo ngilang kama langsung dikasih 5 updetan gitu.. emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
annastasia81 dan tumengkc memberi reputasi
0 2
-2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 07:48
sekalian diwalik gaes, buat versi kasapp emoticon-Big Grin
profile-picture
annastasia81 memberi reputasi
1 0
1
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 08:09
Quote:Original Posted By ucln β–Ί
biasanya kalo ngilang kama langsung dikasih 5 updetan gitu.. emoticon-Ngakak (S)


semacam paksaan yg bersifat halus emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
annastasia81 dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2 0
2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 08:20
Wahahaha Raka koplak main sosor bae emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
annastasia81 memberi reputasi
1 0
1
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 08:41
Lupa udah baca sampe part berapa
emoticon-Mewek
profile-picture
annastasia81 memberi reputasi
1 0
1
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 08:42
Ciuman Raka seperti opium yg memabukkan ya?? mungkin ciuman Bagas hanya seperti Bir yg tidak memabukan..hehehe
Ayo Raka jangan kendor..maju tak gentar membela yg bayar..eh salah..membela yang dicinta emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
annastasia81 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
Lapor Hansip
13-08-2019 08:59
Balasan post annastasia81
setelah 2678 purnama, akhirnya mbak Anna kembali update
diriku jadi terharu mbak menanti kedatangan mbak Anna
semoga sukses selalu sama karyanya....emoticon-Peluk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
annastasia81 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 09:11
Tuh kan.. Raka gila! Udah deh mbak Gadis.. udah bener sama Bagas aja yg waras emoticon-Kiss

Wuaaah apa kabar sis An? Syibuk mulu nampaknya, sehat2 kan? emoticon-Peluk

β€”β€”β€”β€”

Quote:Original Posted By S.HWijayaputra β–Ί
Raka sompret..!! Kesel aku.. emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Maacih updatenya ya Na, bikin tambah gregetan deh. emoticon-Kiss (S)

#TeamAnna.

Jiah si pakde, langsung nyaut aja emoticon-Leh Uga

Quote:Original Posted By ucln β–Ί
biasanya kalo ngilang kama langsung dikasih 5 updetan gitu.. emoticon-Ngakak (S)

Wuogh... udah nempel tag barunya. Sekali lagi selamat Om emoticon-Maaf Aganwati
Diubah oleh fee.fukushi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
annastasia81 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 11:19
update lagi nanti malem kan yah?
profile-picture
profile-picture
annastasia81 dan fee.fukushi memberi reputasi
2 0
2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 14:43
Andai bisa apdate sampai selesai hiks tapi bener lagi rempong bgt anna di RL buat ngedit πŸ˜… tapi diusahakan ya ok ok ✌️

Teman-teman Anna yang paling baik hati sedunia 😘 Anna punya special request nih buat Gansis yang suka mantengin thread Gadis, please ya jangan lupa dengerin Gadis Pramugari versi Kaskus Podcast. Tayangnya mulai besok hari rabu tgl 14 Agustus 2019.

Untuk jamnya mungkin sore ya, jadi sambil ngelembur atau dalam perjalanan pulang di MRT atau busway atau kendaraan pribadi, yg penting as long as safe ngga apa2 ngedengerin sambil dijalan ya, kalau ga safe pls nunggu sampai rumah atau kamar aja ya (yg penting tetep didengerin ya) hehehe 😘

And i would like to say thank you for all the support you've given me, Gansis yang setia membaca, menunggu apdate bahkan ngga ragu2 buat pm, dm atau nulis di thread minta apdate hahaha... Dan buat tim kaskus juga atas kerjasama dan kerja kerasnya selama ini sehingga Gadis Pramugari dapat dinikmati dengan story telling yang berbeda, yaitu melalui Podcast. Pokoknya I love you so much Gansis n Kaskus 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘

*Ini Anna nulisnya sambil kelilipan cabe hiks hiks hiks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tulusfajri dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
Lapor Hansip
13-08-2019 15:00
Balasan post annastasia81
Tetep seru walaupun dibaca berkali2 juga, tetap semangat updatenya anna.
Oya kapan podcast'y meluncur?
profile-picture
annastasia81 memberi reputasi
1 0
1
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
Lapor Hansip
13-08-2019 15:01
Balasan post annastasia81
Mantap semoga seru podcastnya
profile-picture
profile-picture
gonspunk dan annastasia81 memberi reputasi
2 0
2
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
13-08-2019 17:41
Quote:Original Posted By annastasia81 β–Ί
Andai bisa apdate sampai selesai hiks tapi bener lagi rempong bgt anna di RL buat ngedit πŸ˜… tapi diusahakan ya ok ok ✌️

Teman-teman Anna yang paling baik hati sedunia 😘 Anna punya special request nih buat Gansis yang suka mantengin thread Gadis, please ya jangan lupa dengerin Gadis Pramugari versi Kaskus Podcast. Tayangnya mulai besok hari rabu tgl 14 Agustus 2019.

Untuk jamnya mungkin sore ya, jadi sambil ngelembur atau dalam perjalanan pulang di MRT atau busway atau kendaraan pribadi, yg penting as long as safe ngga apa2 ngedengerin sambil dijalan ya, kalau ga safe pls nunggu sampai rumah atau kamar aja ya (yg penting tetep didengerin ya) hehehe 😘

And i would like to say thank you for all the support you've given me, Gansis yang setia membaca, menunggu apdate bahkan ngga ragu2 buat pm, dm atau nulis di thread minta apdate hahaha... Dan buat tim kaskus juga atas kerjasama dan kerja kerasnya selama ini sehingga Gadis Pramugari dapat dinikmati dengan story telling yang berbeda, yaitu melalui Podcast. Pokoknya I love you so much Gansis n Kaskus 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘

*Ini Anna nulisnya sambil kelilipan cabe hiks hiks hiks


Oke deh Sis.... RL tetap yg utama,yg penting update nya jangan kelamaan aja ya pliiis..hehehe
profile-picture
annastasia81 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 151 dari 158
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
hypnophobia--kisah-cintaku
Stories from the Heart
tarian-kata-cinta-2
Stories from the Heart
rembulan-di-ujung-senja
icon-jualbeli
Jual Beli
Rp 15.000.000
Rp 30.000.000
takdir-dan-tanda-tangan
Copyright Β© 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia