alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
546
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3106c00577a9581d06566e/senandung-black-n-blue
Ini bukan tentang pembuktian Bukan juga tentang sebuah sesal Ini tentang aku dan perasaan Hanya satu dan penuh tambal Ini bukan tentang akumulasi kemarahan Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan Hanya aku dan keegoisan Bergeming dalam kesendirian Aku bukan pujangga Aku tak mahir merangkai kata Aku hanya durjana Menunggu mati di ujung cahaya Aku bukan belati Bukan juga melati Aku hanya seorang buda
Lapor Hansip
06-01-2019 02:34

Senandung Black n Blue

Past Hot Thread
Ini bukan tentang pembuktian
Bukan juga tentang sebuah sesal
Ini tentang aku dan perasaan
Hanya satu dan penuh tambal

Ini bukan tentang akumulasi kemarahan
Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan
Hanya aku dan keegoisan
Bergeming dalam kesendirian

Aku bukan pujangga
Aku tak mahir merangkai kata
Aku hanya durjana
Menunggu mati di ujung cahaya

Aku bukan belati
Bukan juga melati
Aku hanya seorang budak hati
Sekarat, termakan nafsu duniawi

Sampai di sini aku berdiri
Memandang sayup mereka pergi
Salah ku biarkan ini
Menjadi luka yang membekas di hati



Senandung Black n Blue


Nama gue Nata, 26 tahun. Seorang yang egois, naif, dan super cuek. Setidaknya itu kata sahabat-sahabat gue. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Mungkin jika gue bertanya pada diri gue sendiri tentang bagaimana gue. Jawabanya cuma satu kata. IDEALIS TITIK. Oke itu udah 2 kata. Mungkin karena itu, hampir semua sahabat gue menilai gue egois, yang pada kenyataanya gue hanya tidak mau melakukan hal apapun. APAPUN. Yang tidak gue sukai. Bahkan dalam pekerjaan, jika menurut gue tidak menyenangkan, gue akan langsung resign.

Menulis buat gue bukanlah sebuah hobi, bukan juga sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi hobi, bukan juga keahlian diri, bukan juga sesuatu bakat terpendam yang akhirnya muncul karena hobi. Apaa sihh !!? Menulis buat gue adalah cara terbaik meluapkan emosi. Di kala telinga orang enggan mendengar, dan lidah sulit untuk berucap tapi terlalu penuh isi kepala. Menulis adalah cara gue menumpahkan segala penat yang ada di kepala, cara gue bermasturbasi, meng-orgasme hati dengan segala minim lirik yang gue miliki.

Kali ini berbeda, gue tidak menuliskan apa yang ingin gue lawan. Tidak juga menuliskan opini gue tentang suatu hal. Ini tentang diri gue seorang. Tidak indah, tidak juga bermakna, hanya kumpulan kata sederhana yang terangkai menjadi sebuah kisah. Angkuh gue berharap, semoga ini bisa menjadi (setidaknya) hikmah untuk setiap jiwa yang mengikuti ejaan huruf tertata.

.


Quote:
Heyoyoyoyoy what's up genk !!
emoticon-Wow

Selamat tahun 2019 genk, semoga di tahun yang baru ini, apa-apa yang kalian inginkan bisa tercapai ... aamiin.
Tahun baru semangat baru, dan yang pasti harus berbeda seperti tahun sebelumnya. Seperti saat ini keberadaan gue di Forum SFTH tercinta ini adalah sesuatu yang baru untuk gue pribadi. Karena biasanya gue seliweran di lounge, tapi kali ini gue mau memulai tahun baru ini dengan sesuatu yang baru. Yaitu sedikit memutar roda waktu, bermain dengan kenangan, dan melukisnya dalam sebuah cerita yang berdasarkan kehidupan nyata. Kehidupan nyata siapa? pantengin ajah yang geng. emoticon-Big Grin

Sebelumnya gue menghimbau untuk mematuhi peraturan yang ada di forum ini.
dianjurkan baca ini terlebih dahulu sebelum lanjut membaca.
SFTH RULES
H2H RULES
GENERAL RULES KASKUS

dan, gue membuat peraturan khusus untuk di thread ini.

1. Don't touch my real life
2. Don't ever ever touch my real life
3. Don't ever ever ever touch everyone character in this story dalam dunia nyata.
4. Jangan kepo.
5. Jangan meminta medsos apalagi nomer telpon siapapun yang ada di cerita ini, kalo nomer sepatu gapapalah, kali ada yang mau ngirimin sepatu emoticon-Big Grin
6. Jangan juga meminta foto karena itu di larang, sekalipun boleh ga akan pernah gue kasih.
7. Gue sadar banyak teman-teman gue entah itu teman sd, smp, sma, kuliah, kerja, atau teman di manapun yang aktif dalam kaskus, gue mohon dengan sangat kebijaksanaanya untuk tidak mengumbar identitas asli gue atau siapapun dalam cerita ini dan tetap menjaga privasi semuanya.
8. Jika gue rasa kedepanya cerita gue ini sudah mengganggu siapapun, tidak menutup kemungkinan gue akan menutup threat ini,selesai ataupun belum.
9. Kalau tidak ada halangan cerita ini pasti tamat, jadi jangan tanya kapan update, pasti gue akan update sampai tamat, jika tidak ada masalah kedepanya.
10. Gue hanya manusia biasa, basicly gue bukan penulis, jadi maafkan tata bahasa gue yang semrawut atau bahkan tidak sesuai dalam penggunaanya.
11. Dan gue juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, ambil segala sesuatu yang baik dalam cerita gue, dan jadikan segala yang buruk untuk pelajaran agar kita tidak melakukan hal-hal yang buruk itu.
12. Last, gue anggap pembaca sudah dewasa dan bisa bersikap selayaknya orang dewasa.


.


Jakarta, 22 Desember 2018.

Senja telah berganti malam saat mobil yang gue kendarai tiba di kawasan kemayoran. Gue masuk ke areal JI Expo Kemayoran. Saat masuk gue melihat banyak banner dan papan iklan yang menunjukan bahwa di area ini sedang dilaksanakan sebuah acara akhir tahun dengan Tag line "pameran cuci gudang dan festival musik akhir tahun". Gue tidak mengerti kenapa sahabat gue mengajak gue bertemu di sini.

Sesampainya di areal parkir, gue memarkirkan mobil. Tidak terlalu sulit mencari tempat kosong, tidak seperti saat diselenggarakan Pekan Raya Jakarta, yang penuh sesak. Sepertinya acara ini tidak terlalu ramai, atau mungkin belum ramai karena gue melihat jam masih pukul 18.35.

"Whatever lah mau rame mau sepi." Ucap gue dalam hati.

Gue memarkirkan mobil, setelahnya gue sedikit merapihkan rambut, berkaca pada kaca spion, lalu memakai hoodie berwarna hitam yang sedari tadi gue letakan di kursi penumpang, kemudian keluar mobil sambil membawa tas selempang berisi laptop.

Perlahan gue berjalan, sesekali melihat ke kiri dan ke kanan, mencari letak loket pembelian tiket berada. Akan lebih mudah sebenarnya jika gue bertanya pada petugas yang berjaga. Tapi biarlah gue mencarinya sendiri.Toh sahabat gue juga sepertinya belum datang.

Di loket, gue melihat banyak orang menggunakan kaos yang bertema sama. Banyak yang memakai kaos bertema OutSIDers, Ladyrose, dan juga Bali Tolak Reklamasi. Gue sedikit memicingkan mata, dalam hati berkata."Sial gue dijebak."

Setelah membeli tiket, gue masuk ke areal acara, melihat banyak stand dari berbagai brand. Penempatan stand-stand menurut gue menarik, benar atau tidak, sepertinya pihak penyelenggara menaruh stand brand-brand besar mengelilingi brand kecil. It's so fair menurut gue. Karena banyak acara semacam ini yang gue lihat justru menaruh brand UKM yang notabenenya belum terlalu di kenal di posisi yang tidak strategis. Dan untuk acara ini gue memberi apresiasi tersendiri untuk tata letak tiap brandnya. Walau sejujurnya butuh konfirmasi langsung oleh pihak penyelenggara tentang kebenaranya.

Gue masuk lebih dalam, mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk gue menunggu sahabat gue yang belum datang. Sesekali berpapasan dengan SPG yang menawarkan barang dagangnya, gue tersenyum tiap kali ada SPG yang menawarkan gue rokok, kopi, dan lainnya. Dalam hati gue teringat tentang bagian hidup gue yang pernah bersinggungan langsung dengan hal semacam ini. Terus melanjutkan langkah, Gue tertarik melihat salah satu stand makanan jepang, lebih tepatnya gue lapar mata. Terlebih gue belum makan. Tapi saat gue ingin menuju ke stand itu, gue melihat ada stand sebuah merek bir lokal asal Bali. Gue mengurungkan niat untuk ke stand makanan jepang itu, dan lebih memilih untuk menunggu sahabat gue di stand bir.

Gue memesan satu paket yang di sediakan, yang isinya terdapat 4 botol bir, ukuran sedang. Gue mengeluarkan laptop gue, kemudian mengirim email kepada sahabat gue. Memang sudah beberapa hari ini gue selalu berhubungan dengan siapapun via email. Karena handphone gue hilang dicopet di stasiun Lempuyangan beberapa hari yang lalu.

"Fuck you Jon ! Gue di stand Albens, depan panggung yak. Jangan bikin gue jadi orang bego diem sendiri di tempat kek gini sendirian. Kecuali lo bajingan laknat yang ga peduli sama sahabat lo." Email gue pada Jono, sahabat gue.

Dari tempat gue duduk, gue dapat melihat panggung utama. Sepertinya dugaan gue tidaklah salah. Kalau guest star malam ini adalah Superman Is dead. Group band punk rock asal Bali. Pantas saja Jono mengajak gue bertemu di sini. Dia memang sangat menyukai musik bergenre punk rock macam green day, blink 182, SID, dan lainya.

Jujur saja, gue sebenarnya pernah menjadi Outsiders sebutan untuk fans superman is dead. Gue pernah menjadi OSD militan, yang selalu datang ke acara yang di dalamnya terdapat Superman Is Dead sebagai bintang tamunya. Tapi itu dulu, lebih dari sedekade lalu. Saat gue masih duduk di bangku SMA.

Dan malam ini, semua ingatan tentang itu semua membuncah. Berpendar hebat dalam bayang imajiner yang membuat mata gue seolah menembus ruang dan putaran waktu. Melihat semua apa yang seharusnya tidak perlu gue lihat, dan mengenang apa yang harusnya tidak perlu gue kenang. Sampai di titik tertentu gue sadar kalau gue sudah dipermainkan.

"JON, I know you so well, please please don't play with a dangerous thing. Comon Jhon I'm done. Gue balik" Gue kembali mengetik email untuk gue kirim pada Jono. Gue sadar gue sudah masuk dalam permainan berbahayanya. Dan gue tidak ingin mengambil resiko lebih.

Namun belum sempat email gue kirim. Gue melihat seorang perempuan berdiri tegak tepat di depan gue. Dan saat itu juga gue sadar gue terjebak dalam permainan konyol sahabat gue yang "luar biasa jahat".

"Haii Nat." Sapa perempuan itu.

"Fuck you Jhon, what do you think. Bitch !!" Gerutu gue dalam hati kesal.

opening sound
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akutidakperawan dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Tampilkan isi Thread
Halaman 19 dari 28
Senandung Black n Blue
05-08-2019 09:28
Ceritanya mantap,susah di tebak.. Lanjutkan gan.
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
08-08-2019 18:57
tumben belum update.....masih sibuk?
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
11-08-2019 22:30
Lebaran ngga ada apdetan bang?
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan masbroo15 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
12-08-2019 02:39

Part 6.1-a

Suara Nata:

Bulan ke Tiga


Siapa orang jenius yang menciptakan teknologi secanggih ini? Rasanya aku sangat ingin mengucapkan terimakasih. Berkatnya, aku tidak habis menjadi jelaga yang terbakar rindu yang kian waktu kian membara. Dirimu di balik layar kaca, gerakmu yang berjeda, suaramu yang terbata-bata seperti hujan yang turun di tengah sabanaku yang terbakar rindu.

Ceritakan harimu sayang! Aku siap mendengarkan itu sepanjang malam. Bagiku kini, hari-hari yang kamu jalani adalah pengganti mimpi dan hari-hari yang aku jalani takan ada. Karena aku akan terpejam di waktu kamu juga memejam. Hariku, hanya tentang di gerbang pagi mendengarkan kamu bercerita hari. Untuk kamu, aku rela menjadi makhluk nokturnal. Dan aku berjanji, jarak ini akan aku penggal.


***


Gue membuka mata lalu duduk di pinggaran kasur berukuran singel. Lalu menuju ke dapur untuk mengambil segelas air. Gue melihat selembar kertas memo yang ditempel di pintu lemari pendingin.

"Aku pulang sore, aku udah siapain makanan, kalau dingin kamu angetin ajah. Jangan ke mana-mana nanti kamu ilang emoticon-Stick Out Tongue
Love you Albhy :*"


Sial betul ini Dita, dia lupa kalau gue sampai di sini tanpa dijemputnya. Gue lalu menghangatkan pasta yang sepertinya dibuat oleh Dita pagi ini. Setelah itu gue duduk dipinggiran kasur, memandangi Jalan Blackstone Ave dari balik jendela sambil menikmati pasta angetan.

Setelah makan gue memandangi lagi keseluruhan apartement tipe studio ini. Apartment yang sudah dihuni Dita hampir satu kuartal ini. Apartement ini sangat sederhana jauh sekali dengan apartement yang di sewa Malik dkk. Di Jakarta. Bahkan jika dibandingkan dengan kosan gue, apartement ini masih tidak ada apa-apanya. Mungkin lebih luas sedikit dari kosan gue, tapi karena ada sekat yang membagi ruang utama dan dapur, apartement ini menjadi terasa sedikit sempit jika dibandingkan dengan kosan gue.

Karena provider kartu selular gue tidak bisa digunakan di sini dan gue tidak mengetahui password wifi apartment ini, gue pun merasa sedikit jenuh berdiam diri tanpa melakukan aktifitas apapun. Lalu gue keluar, menyusuri S Blackstone Ave berbelok ke entah apa nama jalannya lalu sampai di sebuah taman yang bertuliskan Nichols Park.

Gue duduk di bangku kayu yang ada di taman ini. Gue ingin merokok, tapi karena gue tidak melihat satupun ada yang merokok gue jadi takut kalau di daerah ini ada larangan untuk merokok. Lalu gue bertanya pada bapak-bapak yang sedang duduk di bangku yang ada di seberang tempat gue duduk. Gue bertanya apa di sini gue dapat merokok. Bapak tua itu lalu memberi tahu gue, jika sebaiknya gue merokok di kedai-kedai makanan yang ada di sekitar sini, karena jika gue merokok di sini gue akan mendapat masalah dari pemerhati lingkungan yang sering berkeliaran seperti di taman-taman yang ada di districk ini. Gue mengucapkan terimakasih, setelah itu gue berkeliling, lalu memutuskan untuk bersantai di gerai donat yang tidak jauh dari Nichols Park.

"Engga di Indonesia, ga di US, kenapa gue betah bener nongkrong di gerai donat yak". Ucap gue dalam hati terkekeh sendiri.

Sekitar satu setengah jam di gerai donat itu, gue beranjak untuk berjalan kembali. Gue terus melangkah kaki sambil mengingat arah yang sudah gue lalui agar nanti saat kembali gue tidak tersesat. Sambil berjalan, sesekali gue menangkap beberapa moment lewar kamera yang gue bawa. Salah satunya saat gue melintas di Jalan Harper, gue beberapa kali memotret bangunan Harper Theater. Tidak sadar, langkah kaki gue tiba di Burnham Park di tepi Danau Michigan yang terkenal itu.

Gue duduk di tepi Danau Michigan, memandangi pemangan bangunan-banguan tinggi Chicago's Downtown di arah utara tempat gue berada. Sesekali gue memotret ke arah sana, sesekali gue memotret aktifitas orang-orang yang berada di taman ini. Gue semacam photograper yang sedang mencari bahan untuk pamerannya.

"Mas mas".

Gue langsung menoleh ke arah suara tersebut. "Ya… Bangsuuuuuttttt Renal!!! Anjing ini Renal kan!?" Sahut gue terkejut tidak percaya dengan apa yang gue lihat.

Renal menggoyang-goyangkan telunjuknya lalu kami bersalaman dan saling merangkut. "Anak setan… lo ngapain di sini??" Tanya Renal.

Renal adalah teman SMP gue, dari kelas 8 hingga lulus SMP gue sekelas dengannya. Dengan Abdul juga. Namun setelah SMA gue putus kontak dengan Renal karena Renal tidak sekolah SMA di Jakarta. Gue tidak tahu dia SMA di mana, setiap gue tanya di facebook dia selalu tidak menjawab.

"Bangsttt, ada juga gue yang nanya sama lo, ngapain lo di sini, anak kudaa!!!??"

"This my Town, bro". Sahut Renal membentangkan kedua tangannya. "Gue udah di sini dua tahun".

"Ahh taee, seriusan? Kok orang kaya lo bisa kuliah di sini, lo kan sama bebelnya sama gue" Tanya gue tidak percaya.

"Hahahah. Kambing!!…Untungnya gue cabut sih dari Jakarta, kalo gue engga cabut gue ga bakal di sini, pasti ga bener kalo sama lo, hahaha".

"Yeee, bijiii"

"Ahhha… Anjing gue udah lama ga denger itu tuh, anjing anjing kangen gue kangen, hahaha. By the way martel kayanya enak nih?"

"Gue mau di traktir?"

"Yaaa, buat welcome drink ga apalah. Yuk!" Ajak Renal, lalu dia mengajak gue ke apartmentnya.

Berbeda dengan Apartement tempat Dita tinggal, Apartement tempat Renal tinggal lebih besar, interiornya lebih lengkap. Renal memang anak dari seorang pengusaha terkenal di Indonesia, tidak heran jika dia mampu menyewa Apartment seperti ini.

Saat sampai di apartmentnya, Renal langsung menghubungi seseorang, entah siapa. Renal berbicara dengan Bahasa Latin, gue sama sekali tidak mengerti itu. Setelah selesai menelpon, Renal langsung membukakan sebotol Martel yang sepertinya sudah disimpannya sejak lama.

"Dari pas dikasih, gue mau buka ga ada temennya". Ucap Renal sambil memberikan gue gelas loki yang sudah terisi penuh minuman beralkohol itu. Gue mengangkat gelas itu sebelum menenggaknya, Renal pun melakukan hal yang sama; kami bersulang.

"Ahhhhh". Gue merasakan panas mengalir dari tenggorokan hingga ke perut gue. "Mantep… Emang di sini ga ada orang gila apa?" Tanya gue.

"Di kampus, kebanyakan temen-temen gue yah orang-orang Indo, gue dikit akrab sama warga asli. Sekalipun ada selain Indo gue deket, dia Meksikan".

"Yang tadi lo telpon?" Tanya gue. Renal menganggukan kepala tanganya masih memegang gelas.

"Oh iya lo berapa lama di sini? Tinggal di mana?" Tanya Renal menuang kembali Martelnya.

"Buset pelan-pelan ajah Kuda…" Ucap gue.

"Yah elah slow, gue lagi mesen lagi, mangkanya ini cepet abisin, pestalah kita".

"Bangkek, ogah! Gue balik ke tempat cewe gue Nal, dia tau gue mabok abis gue". Sahut gue.

"Karina di sini?" Tanya Renal.

"Kok Karina?? Lo emang ga liat facebook?"

"Kaga, lagian masih ajah facebook".

"Anjing. Di Indo lagi hype njir".

"Masa sih? Kok gue ga tau, trus cewe lo siapa? Kuliah di sini? Di mana?" Tanya Renal lalu gue menjawab pertanyaannya Renal. "Lah keren cewe lo bisa masuk situ, lo kuliah di mana?" Tanya Renal lagi, gue menjawabnya lagi.

"Mantaaap. Orasi mulu dong lo?"

"Engga lah, gue ajah ga pernah ikut kalo lagi demo, sambil gawe gue Nal".

"Haaah? Serius lo? Bokap lo bangkrut sampe lo kuliah sambil kerja?"

"Anjing lo! Kaga lah, gue gantiin Bokapnya Karina, dia udah Almarhum Nal".

"Masa sih? Kok ga ada yang ngabarin gue?"

"Eh lambang switsal!! Lo aje kemane gue kaga tau, gimane mau ngabarin lo, Bambang!!" Sahut gue. Renal tertawa terbahak-bahak.

"Anjing anjing anjing ini nih yang gue kangen dari lo dari Indonesia, cela-an cela-an kaya gini yang bikin gue pengen pulang mulu, hahahahaha".

Lalu gue dan Renal saling bertukar cerita pengalaman kami masing-masing. Menggosip kabar beberapa teman-teman kami. Sampai tidak sadar botol Martel yang awalnya penuh kini sudah habis, kepala gue sudah sedikit terasa berat, pandangan gue sudah sedikit lambat sehingga apa yang gue lihat seperti dalam keadaan slow motion. Gue pun melihat jam digital yang ada di samping TV nya Renal. Sudah pukul 17.38, tapi gue melihat keluar masih sangat terang.

"Ah gue lupa gue bukan di Jakarta". Ucap gue dalam hati, gue pun memutuskan untuk segera pamit. Namun baru saja gue ingin Pamit, seorang perempuan dengan wajah yang mirip pemain telenovela masuk ke dalam apartement ini membawa satu buah papper bag.

Renal menyambutnya dengan Bahasa Indonesia, dan perempuan itu terlihat bingung. Sepertinya Renal sudah sangat mabuk.

"Ahh, Nata kenalin nih cueewee gue. Jane… aaaaa he is my friend from fvcking land, ahahah". Ucap Renal dia benar-benar sudah mabuk. Sementara Jane hanya tersenyum pada gue lalu berbicara bahasa yang tidak gue mengerti dengan Renal. "AaaNaaataa aaaaa… Tadinya… Gue mau bawain lo cewe-cewe latin sini, tapi temen-temennya Jane ga bisa… aaa lo ngew* sama pacar lo dulu ya, besok baru kita party bro…"

"Yah gila, mabok lo Sob".

"Engga! Gue engga mabok! Udeh lo slow, pokoknya kita besok party".

"Gila gila, gokil lo ah, gue balik ahh, mabok lo jelek Sob, ahahah".

"Yaa entar ajah baliknya, masih sebotol lagi nih, apa ini, aaaa ini lo pake deh cewe gue, join join apaaa tuh kalo kita bilangnya di Indo aaaaaaaa salome, ahaha".

Gue hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala sambil membayangkan bagaimana kalau Jane mengerti apa yang sedang gue dan Renal bicarakan. Mungkin Renal akan dilempar keluar. Ah, tapi ini bukan di Indonesia, bisa saja memang seperti ini sudah biasa untuk mereka. Entahlah. Seketika pikiran gue langsung tertuju pada Dita. "Apa selama dia di sini, gaya hidupnya sama seperti Renal?" Tanya gue dalam hati.

"Aah engga mungkin, gue kenal Dita". Gue menjawab sendiri dalam hati.

"Aa sorry, can you speak english?" Tanya Jane.

"Just little bit". Jawab gue. Jane lalu mengatakan kalau Renal sudah sangat mabuk dan menanyakan pada gue apa yang harus dia lakukan. Gue lalu bertanya pada Jane, apa selama ini dia sering mabuk seperti ini. Jane menjawab kalau Renal tidak pernah semabuk ini. Bahkan selama Jane mengenal Renal dia hanya pernah melihat Renal beberapa kali minum minuman beralkohol, dari itu dia sempat bingung saat Renal meminta Jane untuk membelikan satu lagi Martel.

Selama gue berbicara dengan Jane, Renal tidak henti-hentinya mengoceh, hingga mungkin akhirnya dia lelah lalu tertidur begitu saja di lantai. Gue tertawa melihat posisi tidurnya, lalu gue mengambil gambar Renal dengan kamera gue. Sialnya beberapa kali gue memotret, hasilnya selalu buram. Sepertinya gue juga sudah sedikit mabuk.

Kemudian gue bertanya pada Jane arah menuju ke Blackstone Ave, Jane lalu menjelaskan arah yang harus gue lalui. Penjelasan Jane mudah gue mengerti, dia bahkan memberikan juga patokan-patokan yang harus gue ingat. Setelah Jane selesai menjelaskan pada gue, gue lalu meminta Jane untuk tidak meninggalkan Renal sampai dia sadar. Jane menyanggupi dia juga berkata kalau dia akan membersihkan tempat ini yang sudah sangat berantakan. Lalu gue pamit pada Jane setelah gue menulis note di kertas Memo dan memberikannya pada Jane untuk di sampaikan pada Renal saat dia sadar.

"Are you really oke?" Tanya Jane sebelum gue keluar pintu Apartement Renal.

"I look drunk?" Tanya Balik gue.

"I doubt, but…" Jane sedikit tertawa "Your coat". Jane menunjuk jaket yang gue kenakan, terbalik.

Tidak ada orang mabuk yang merasa dirinya mabuk. Orang mabuk biasanya akan merasa dirinya masih kuat, masih sanggup untuk melakukan hal apapun, apapun. Itulah kesalahan dasar pemabuk yang umum dilakukan yang kadang membuatnya melakukan hal-hal yang aneh, lucu, atau bahkan tindakan kriminal sekalipun, tergantung bagaimana suasana hatinya.

Dan gue sedang melakukan kesalahan itu. Gue merasa kalau gue tidak sedang mabuk, yang pada kenyataannya apa yang gue lihat semuanya terasa lambat, bangunan-bangunan gue lihat seperti menari, pepohonan gue lihat meloncat-loncat. Gue berjalan perlahan-lahan, sesekali gue berpegangan pada tembok bangunan, pepohonan, atau mobil yang diparkir di pinggir jalan.

Orang lain yang melihat gue pun gue yakin mengetahui kalau gue sedang dalam pengaruh minuman ber-alkohol. Sialnya, gue lupa jalan ke apartmentnya Dita, gue juga lupa petunjuk yang diberitahukan Jane. Sesekali gue bertanya pada orang yang berpapasan dengan gue, tapi bodohnya gue bertanya menggunakan Bahasa Indonesia. Jelas mereka tidak mengerti apa yang gue bicarakan.

Perlahan langit mulai gelap, akhirnya gue memutuskan untuk duduk sejenak di depan bangunan rumah entah milik siapa, gue duduk di depan pintunya yang jalan masuknya dibuat berubdak. Gue bersandar pada tiang besi, sambil mencoba melawan efek alkohol dalam tubuh gue ini.

"Aaahh bangkekkk ayo dong, masa gini doang gue kobam, come on bitch come on!! Wake up!! Come on" Ucap gue dalam hati sambil perlahan gue memejamkan mata.

***


Gue membuka mata, melihat langit-langit berwarna putih sambil sedikit memijat-mijat kepala. Kemudian gue beranjak ke posisi duduk, melihat deretan ranting pohon yang tidak berdaun. Lalu gue bergeser sedikit, duduk di tepian kasur dan melihat Dita berdiri mematung, tegak bersandar sambil melipat ke dua tangannya di depan dada.

Dita menatap gue tajam, tidak lama dia menggelengkan kepala kemudian berjalan menuju ke lemarinya lalu mengambil tas gue dan Dita melemparnya ke arah gue.

"BALIK SANA KE INDONESIA, BRENGS*K!!"

"LOOK!" Ucap Dita, "Aku senang kemarin, saat kamu tiba-tiba di sini. Wow, it's a big susprise for me, awalnya. Tapi kamu ngasih aku kejutan yang jauh lebih mengagetkan aku!… Mabuk, tidur di pinggir jalan… Tatto… Cih…" Dita menggelengkan kepalanya. "Aku seperti ngeliat gelandang, tiba-tiba aku seperti engga kenal kamu. And you… who are you?"

"Bhy, please denger aku dulu bhy, I'm so sorry kalo kamu liat aku begini, aku juga ga nyangka jadi begini… Dan soal tatto…"

"Aku ga permasalahin tatto kamu, tatto is not a crime. Aku cukup paham soal itu, dan kita pacaran ga sehari dua hari, aku udah bisa duga cepat atau lambat kamu pasti bakal punya tatto… Yang aku permasalahin kita udah pernah sepakat, dan kamu udah pernah janji buat engga minum-minuman keras" Selak Dita.

"So so sorry Bhy". Sahut gue.

"Pertanyaannya, udah berapa kali kamu diem-diem dibelakang aku seperti ini? Albhy?"

Gue diam, gue bingung harus menjawab apa. Dita lalu kembali bersadar di tembok, memalingkan wajahnya tidak menatap gue. Matanya seperti menerawang jauh, menembus tembok entah kemana. "Jawab Bhy jawab!" Ucap Dita lirih kemudian menangis. Gue beranjak menghampiri Dita, gue mencoba untuk meraih tangannya tapi Dita langsung menghempaskan tangan gue.

"Bhy, aku minta maaf Bhy, aku kemaren iseng keliling, terus engga sengaja ketemu temen lama aku. Aku bener-bener ga tau Bhy dia ada di sini, ga nyangka kalau bakal ketemu yang aku kenal selain kamu di sini. Terus aku main ke apartmentnya, dia nyuguhin aku minuman, aku ga enak mau nolak udah lama ga ketemu soalnya. Tapi aku minum dikit doang Bhy dan karena aku udah lama sekali ga minum mangkanya aku minum sedikit langsung begitu Bhy, kalo aku masih sesering dulu. Dua gelas sih ga bakal bikin aku mabok sayang". Ucap gue mencoba menjelaskan dengan sedikit bumbu kebohongan.

"Cih…Temen… Terus kalau kemarin temen kamu nawarin racun, kamu bakal minum racun itu juga? Bhy! Ga ada perempuan yang mau nikah sama pemabuk." Sahut Dita, entah kenapa gue merasa sedikit lucu, karena perkataan Dita mirip sekali ucapan nyokap gue saat memarahi gue jika gue berbuat aneh-ane dan beralasan ga enak sama temen. Lantas karena itu gue sedikit tertawa. "Jangan ketawa! Kamu pikir ini lucu?" Lanjut Dita.

"Maaf maaf Bhy, aku cuma tiba-tiba keinget Mamah aku, dulu waktu aku sama Abdul masih SD aku pernah ke stasiun kota naik kereta. Pulang-pulang aku diomelin, terus aku bilang sama Mamah kalo aku diajak Abdul. Dan Mamah bilang hal yang kurang lebih sama. 'Kalo Abdul ngajak aku ke jurang, aku bakal ngikut!' hahaha…" Gue tertawa hingga menitikan air mata. "Albhy, aku minta maaf banget kalo lagi-lagi aku bikin kamu kecewa. Tapi kamu harus percaya, di belakang kamu, aku tetep aku yang kamu lihat di depan kamu. Aku minta maaf banget tentang ini. Kemarin aku bener-bener ga enak mau nolak temen aku, soalnya aku sama dia udah lama banget ga ketemu. Kamu mau kan maafin aku?" Lanjut gue sambil memegang tangan Dita.

Dita diam dan memalingkan wajahnya, dia seolah tidak mau menatap gue secarang langsung.

"Okeh, aku paham. Maaf udah ngecewain kamu". Ucap gue lalu mengambil tas gue yang tadi dilempar Dita. "Aku ngerti kamu ga bisa maafin aku. Terimakasih udah sayang sama aku". Lanjut gue lalu beranjak ke pintu. "Aku balik ke Indonesia, kabarin aku kalo kamu udah bisa maafin aku. Aku bakal balik lagi nanti". Ucap gue lagi sambil memegang handle pintu.

Dita masih bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia sudah tidak berpaling wajah, Dita terus menatap gue yang hendak meninggalkan apartmentnya. "Bhy aku pulang yah". Ucap gue masih memegang handle pintu.

Dita masih diam.

"Bhy, aku pulang beneran lo ini". Ucap gue lagi.

"Same act not fully success twice!" Sahut Dita. Kini gue yang terdiam. "Seengganya kalo mau pake cara begitu pake dulu baju kamu!" Lanjut Dita lalu gue melihat badan gue sendiri yang hanya memakai celana dalam.

"Asemmm" Ucap gue dalam hati sambil menutup wajah gue dengan telapak tangan.

Dita langsung menerjang gue, dia memeluk gue kemudian memukul gue berkali-kali, menarik rambut gue, menggigiti tangan gue, mencubiti gue, dan segala bentuk penyiksaan lainnya. Badan gue tak bedanya samsak untuk Dita meluapkan emosinya. Gue hanya diam, sesekali tersenyum. Setelah lelah, Dita memeluk gue erat-erat, kini lidahnya yang bekerja meluapkan semua kekhawatirannya. Dan gue, hanya bisa mengusap-usap rambutnya sambil menenangkan; "Khawatirmu takaan pernah jadi nyata". Aku berkata.

Caramu meluapkan darah yang mendidih, salah satu alasan kenapa aku tidak bisa pergi.


Gue mengusap-usap rambut halusnya Dita yang sedang terlelap dalam pelukan. Sesekali dia menggusal seperti anak kucing yang mencari kehangatan dari induknya. Gue melihat jam yang ada, sudah pukul 10.00 a.m waktu Chicago.

"Bhy, kamu engga kuliah?" Tanya gue kini mengusap punggungnya.

"Engga ah". Jawab Dita sambil menggusal dan melingkarkan tanganya di leher gue. "Mau begini terus ajah sampe kamu pulang". Lanjut Dita.

"Mulai deh, manjanya".

"Gapapa dong, aku manja-manjaan sama tunanganku sendiri kok, Albhy kamu sampai kapan di sini?"

"Aku bakal di sini sampe abis lebaran, jadi kita lebaran berdua di sini". Sahut gue. Dita langsung beranjak menduduki tubuh gue, Dita duduk di perut gue lalu menjambak perut gue. "Kamu jangan bercanda, Albhy". Ucap Dita.

"Aku ga bercanda Bhy, aku serius. Emang kamu liat tiket pulang aku? Engga kan? Pokoknya aku di sini sampai waktu yang belum ditentukan, tapi paling cepet aku pulang abis lebaran. Karena aku mau lebaran di sini nemenin kamu".

"Ahhh Albhy…"

Gue senang, cara Dita mencintai gue membuat gue merasa seolah pria yang paling beruntung dan bahagia di dunia. Dita selalu mampu membuat gue yakin kalau hati ini hanya miliknya dan hatinya hanya milik gue seorang. Dita sudah memberikan gue segalanya, sudah sepantasnya juga gue memberiikan yang terbaik untuk Dita. Dan gue bertekad sekeras-kerasnya dan dengan cara apapun gue berjanji. Segera, gue akan memujudkan mimpi kami berdua; menikah.

***


Suara Nata:

Titik balik


Tidak ada yang lebih indah dari pada membobok tabungan yang sudah terisi penuh rindu. Aku dan kamu saling menghitung rindu yang selama ini kita himpun. "Berapa jumlahnya?" Aku bertanya. "Tak terhingga" jawabmu mesra. Lalu aku bertanya, "jika tidak terhingga bagaimana kita bisa selesai menghitungnya? Dan bagaimana kita akan menghabiskannya?"

"Tinggalah di sini selamanya!" Pintamu memanja di pinggir danau berlatar gedung-gedung pencakar langit di seberang sana.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Senandung Black n Blue
12-08-2019 02:45

Part 6.1-b

Di Bumi Hari ini.

Keraguan sempat melanda gue, apakah gue harus menceritakan bagian ini atau langsung melewati saja masa-masa ini. Namun tidak adil rasanya, bila gue sedang menceritakan Bulan, gue hanya menceritakan sisi terangnya tanpa menceritakan kalau bulan mempunyai sisi gelap.

Semoga siapapun bisa mengerti. Kalau di bumi, konsep manusia sempurna hanya ada di film saja. Dalam dunia nyata, manusia tidak ada yang sempurna. Jika pun ada, itu lah yang Beliau yang biasa kita sebut Nabi dan gue bukan Nabi. Gue hanya manusia biasa yang juga mempunyai sisi gelap.

***


Gue menatap nanar pada sebuah gang gelap dengan deretan rumah yang berhimpit, atap-atap yang saling mengait hingga saat gue di dalamnya, gue tidak bisa melihat langit. "Seperti lorong labirin" Pikir gue pada pemukiman padat penduduk ini. Gue terus berjalan mengikuti Malik masuk lebih ke dalam pemukiman padat penduduk yang terlihat (maaf) sangat kumuh.

Gangnya begitu sempit, mungkin hanya cukup untuk melintas satu sepeda motor. Sepanjang gue dan Malik berjalan, gue melihat ada ibu-ibu yang sedang bergerumun, bapak-bapak yang sedang bermain judi, remaja-remaja yang sedang berkumpul yang saling bergantian menyedot minuman yang dibungkus plastik hitam. Rasanya mata gue bisa menerawang apa yang mereka minum bergantian itu, pasti anggur merah murahan.

Ada juga yang saat gue dan Malik lewat, mereka memandangi gue seperti memandangi santapan makan malam mereka. Atau memandangi gue seperti mesin pembaca barcode yang sedang menghitung barang belajaan. Gue yakin, dia sedang menghitung jumlah yang bisa didapatkanya jika merampok dan menelanjangi gue saat ini.

"Tapi coba saja, kalau tidak sayang pada nyawa". Ucap gue dalam hati sambil terus waspada jika terjadi hal-hal yang tidak gue inginkan.

"Ga usah tegak senjata gitu, ga ada yang bakal berani nyolek lo di sini". Ucap Malik seolah tahu apa yang gue pikirkan.

"Who's knows?"

Malik tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Lalu Malik berhenti di sebuah warung untuk membeli rokok. Setelah selesai membeli rokok, tiba-tiba ada dua orang pria seusia kira-kira 30-an tahun dengan badan yang penuh tatto dan piercing-an menghampiri gue dan Malik. Gue langsung memasukan tangan gue ke dalam jaket tempat gue menyembunyikan sebuah pistol FN 57. Malik melihat itu langsung menyuruh gue menurunkan tangan gue, kemudian Malik berbicara pada dua orang tersebut.

Gue sedikit terkejut saat mendengar 2 orang itu berbicara. Mereka berbicara begitu lembut, nada bicaranya tidak kasar, dan bahasanya pun sopan. Tidak seperti ekspetasi gue saat melihat mereka. Bahkan, rasanya mulut gue lebih "comberan" dari pada mereka. Gue diam mendengar Malik dan 2 orang itu bicara, tidak lama Malik mengajak gue jalan kembali dan 2 orang itu tersenyum ramah pada gue.

Hingga Malik mengajak gue masuk ke dalam gang yang lebih sempit lagi yang di ujung gangnya terdapat sebuah pintu berwarna putih yang di sinari cahaya temaram dari lampu yang ada di atasnya. Malik membuka pintu itu, lalu gue berdua masuk ke dalamnya.

Tidak ada interior di dalamnya. Sebuah rumah yang tidak pantas dibilang rumah, karena luasnya hanya sekitar 3x4 meter dan tidak ada ventilasi udara maupun kamar mandi di dalamnya. Hanya ada 1 sofa yang di atasnya terdapat beberapa tas gunung dengan ukuran besar. Malik membukanya satu persatu. Gue terkejut saat melihat isi tas itu.

"Anjing!! Ini duid beneran??" Tanya gue sambil mengambil satu bundle uang pecahan 50rb yang bernilai 5juta.

"Ga usah norak njing. Cepetan lo mau ambil berapa buat ongkos lo ke sana". Sahut Malik lalu gue mengambil 5 bundle uang pecahan 100ribu kemudian gue masukan ke dalam tas kecil yang gue bawa hingga tidak ada ruang lagi dalam tas kecil gue.

Kemudian Malik mengambik satu tas yang penuh uang itu, mengaitkan di pundaknya lalu menyuruh gue bergegas ke luar dari ruangan yang dia sembutnya tempat makan anjing dan meninggalkan perkampungan kumuh ini. Menuju ke sebuah perkampungan padat penduduk lainnya namun kali ini tidak kumuh. Gue dan Malik duduk di atap sebuah rumah yang entah milik siapa, menikmati secangkir kopi dengan turbulensi angin yang cukup tinggi.

"Kenapa akhirnya lo mau ngikut gue? Padahal gue ngarepinnya lo ga pernah masuk ke dunia ini?" Tanya Malik.

"Ahhh kayanya tanpa perlu gue jawab, lo tau alesanya".  Jawab Gue.

"Cihh… gue ragu alesan lo masuk ke sini cuma karena buat ongkos cinta lo".

"Ahahahah, ayolah, ga usah terlalu waspada sama gue. Gue emang bukan Robin Hood atau Merry Men kaya lo, tapi gue juga bukan penikmat daging temen. Gue cuma mau mancing sesuatu yang besar. Dan untuk itu, gue butuh umpan yang juga besar, lo pahamkan, Malik!"

"Ah iya iya, lo emang temen gue yang paling anjing! Hahahaha". Sahut Malik.

"Ahahaha, anterin gue ke Tebet yuk".

"Ngapain?" Tanya Malik.

"Gue udah janjian mau bikin tatto".

"Serius? Ahh gila loh!!" Sahut Malik lalu dia terus melarang gue untuk membuat tatto. Tapi gue terus memaksa, akhirnya Malik mau mengantar gue ke sebuah studio Tatto di daerah Tebet.

Gue membuat Tatto di punggung kanan. Gue tidak menyangka, ternyata membuat tatto begitu menyakitkan. Beberapa kali gue meringis saat jarum menari di atas kulit gue. Saat prosesnya gue merasa, rasanya gue ingin berhenti saja. Tapi entah kenapa, saat gue melihat hasilnya, rasanya gue ingin menambah tatto lagi di bagian lainnya.

Namun sang seniman tatto yang membuatkan gue tatto mengatakan. Jika memang ingin menambah lagi, ada baiknya diberi jeda. Karena biar bagaimanapun, tubuh gue ada batasnya. "Lo rasain ajah dulu, meriang-meriangnya entar". Ucap sang seniman. Gue tidak mengerti awalnya, tapi saat gue kembali ke kosan dan bersiap untuk tidur. Akhirnya gue mengerti, karena memang entah kenapa, badan gue tiba-tiba meriang.


***


"Coba liat tatto lo ngai" Ucap Abdul penasaran dengan tatto gue setelah sebelumnya Malik memberi tahunya kalau gue membuat sebuah tatto.

Gue lalu memperlihatkannya. "Wihh gokil, keren. Lo bikin di mana?" Tanya Abdul lagi.

"Racerkid".

"Ohh, terus kalo bokap nyokap lo tau gimana?" Tanya Abdul.

"Gue engga khawatir sih nyokap bokap gue tau. Yang gue takut kalo Baba tau".

"Hahahaha, iyah, disetrika lo langsung". Sahut Abdul, lalu dia diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ngai…". Panggil Abdul pelan.

"Haahh?"

"Lo kenapa akhirnya milih begini?" Tanya Abdul.

"Begini… Gimana?" Tanya Balik gue.

"Aaahh, tahik! Jangan ngeluarin kebiasaan lo sama gue deh." Sahut Abdul.

"Hahahaha…" Gue tertawa sejenak lalu sedikit menghela nafas. "Gimana yah… Emmn mungkin gini, awalnya gue engga percaya sih 'Robin Hood'…" Gue memetik dua jari tangan gue. "Gue pikir itu cuma alesan orang buat membenarkan perbuatan jahatnya ajah, but… belakangan ini entah kenapa gue ngerasa alasan itu benar dan masuk akal." Ucap gue.

"Maksudnya?" Tanya Abdul terlihat bingung.

"Awalnya mungkin gue ngeliat Malik kaya orang yang emang dendam sama apa yang menimpa orang tuanya di masa lalu. Apa yang dia lakuin selama ini gue pikir yah semata-mata buat dia bales dendam sama bangsa ini. Dia jualan narkoba, dia sering ngebully orang, dan apalah kelaukuannya yang kita tau selama ini".

"Maksudnya apa sih? Asli gue engga ngerti, Ngai?" Abdul makin terlihat bingung.

"Something that you wasn't know, ahh semoga Malik engga ngamuk gue cerita ini sama lo. Kakeknya Malik itu PKI…"

"What!! Bukannya dia anaknya…"

"No no no, nyokapnya Malik itu udah meninggal saat ngelahirin Malik dan yang selama ini kita lihat, dia itu bukan bapaknya. Dia itu anak dari sahabatnya kakeknya Malik. Kita selama ini taunya, Malik itu cucu beliau kan, tapi bukan! Beliau yang selama ini kita anggap kakeknya Malik cuma orang baik yang dengan ikhlas ngerawat Malik dari semenjak Malik baru lahir. Dan bokapnya Malik, entah di mana, sampai sekarang ga pernah ada yang tau".

"Lo tau dari mana Ngai?" Tanya Abdul.

"Gue tau dari Maliknya langsung, dan orang yang selama ini kita taunya dia bokapnya Malik juga cerita semua sama gue".

"Gokil men".

"Emang gokil, tapi yang lebih gokil lagi, Malik ngumpulin tuh anak-anaknya eks PKI yang hidupnya susah cuma karena entah kakenya atau orang tua mereka dulunya orang-orang PKI".

"Anjing! Berarti Malik ga bisa dibiarin dong Ngai? PKI itu kejam ngai". Sahut Abdul.

"Yah memang kita tahunya pada masanya PKI itu kejam, tapikan seorang anak ga bisa milih dari mana dia mau lahir, Ngai? Mungkin kalo mereka bisa milih pasti mereka ga mau dilahirin dari keluarga PKI, anak pembunuh bukan berarti dia pembunuh. Anak ga seharusnya nanggung dosa orang tuanya, kan?"

"…"

"Coba lo bayangin lo ga pernah berbuat apa-apa sama bangsa ini, tapi KTP lo di bedain, dan karena itu lo ga bisa ngapa-ngapain. Kerja ga ada yang mau terima, mau usaha modal ga ada, di masyarakat mereka dianjing-anjingin. Padahal mereka ga ngapa-ngapain. Adil ga sih?"

"Iyasih". Sahut Abdul.

"Mangka dari itu Malik nampung orang-orang yang engga seberuntung dia. Tapi lo ga perlu khawatir, Malik cinta negeri ini kok. Dia bilang kalo emang nyium bau-bau balas dendam dia bakal sikat duluan, dia orang pertama yang bakal cegah kalo ada pergerakan bawah tanah".

"Karena itu Malik jualan narkoba?" Tanya Abdul.

"Butuh uang yang banyak buat hidupin banyak orang, Ngai!!" Jawab gue.

"Karena itu akhirnya lo terjun juga?"

"Yap, bisa dibilang begitu. Robin Hood it's cool, ahahaha".

"Gue engga percaya. Gue kenal lo setengah umur gue Njing, gue tau lo bukan orang yang mau ngelakuin hal yang resikonya gede cuma buat sekedar kata KEREN!".

"Hahahah, lo pada kenapa sih, pada waspada bener sama gue. Relax bro, relax, ahahahah".

***


November 2012

Gerimis tipis menyambut gue kala itu saat gue menjejakan kaki kembali di Jakarta setelah lebih dari setahun gue memutuskan untuk meninggalkan kota ini untuk tinggal di Chicago bersama Dita. Sebenarnya, gue tidak meninggalkan Jakarta, beberapa kali gue kembali untuk mengurus pekerjaan gue, bisnis gelap gue bersama Malik dan rencana-rencana licik gue yang telah gue rencanakan sebelumnya. Dan hari itu, adalah saatnya gue memetik buah semua rencana gue; Gue kembali ke Jakarta untuk mengakuisisi perusahaan yang sebelumnya milik Bokap gue dan Daddy-nya Karina menjadi milik gue.

Gue berjalan santai menuju ke area penjemputan terminal 2 Bandara Soekaeno Hatta. Sedikit menunggu, akhirnya mobil yang gue tunggu berhenti tepat di depan gue dan gue langsung masuk ke dalam mobil itu.

"Aaahh, lamaa". Ucap gue pada Abdul.

"Macet pantat!" Gerutu Abdul lalu melajukan kembali mobilnya. Sepanjang perjalanan gue terus mendengarkan Abdul yang menceritakan kondisi Jakarta selama gue tinggal di Amerika. Abdul juga memberitahukan gosip-gosip terkini mengenai sahabat-sahabat gue yang lain, dan tentunya Abdul juga menceritakan perkembangan bisnis gelap gue. Karena saat itu dia juga sudah ikut masuk ke dalamnya.

Abdul mengantarkan ke tempat tujuan, ke sebuah area komplek gedung perkantoran di pusat Jakarta. Lalu gue menyuruh Abdul untuk tidak menunggu gue, karena gue takut urusan gue akan lama. Abdul menyetujuinya, kemudian kami berjanji berjumpa setelah urusan gue selesai.

"Yaudah, nanti kabarin gue kalo udah kelar dan mau meet up di mana". Ucap Abdul kemudian pergi.

Dari lobby, gue langsung naik ke lantai atas melalui lift. Di dalam lift gue salah satu karyawan perusahaan ini. Dia menyapa gue dengan penuh maksud; dia tau kalau beberapa saat lagi gue yang akan menjadi orang yang harus terus dijilatnya guna kelangsungan karirnya.

Di ruang rapat, bokap gue dan beberapa orang lain sudah menunggu, serta papah-nya Dita dan beberapa rekannya yang gue percaya untuk mendampingi gue sebagai pengacara dan notaris sudah ada di dalamnya. Namun ada satu yang mengejutkan gue, perempuan yang duduk di kursi paling pinggir di sebelah bokap gue, dia adalah Karina. Dalam hati gue bertanya, untuk apa dia ada di ruangan ini. Namun, seperti sadar akan pertanyaan gue, bokap gue langsung menyebutkan nama Mr. Odermatt. Dan gue sadar, kalau Karina adalah ahli waris Mr. Odermatt salah satu pendiri perusahaan yang akan gue akuisisi ini.

Rapat berjalan lancar, hingga akhirnya semua proses selesai dan kami semua berphoto bersama. Gue hanya tinggal menunggu kabar dari Papah-nya Dita dan rekan-rekan notaris menyelesaikan pekerjaannya. Satu persatu orang yang hadir meninggalkan rapat ini, hingga menyisakan gue, bokap gue, dan papah-nya Dita.

"Haah, sepertinya saya dipaksa pensiun sama anak saya ini, Pak, hahaahah, sudahlah, memang sudah waktunya. Sepertinya saya tinggal menunggu kita berbesan saja rasanya". Ucap bokap gue pada Papah-nya Dita sambil bersandar di kursinya.

"Hahahah, Bapak bisa saja. Kalau begitu saya pamit duluan, sepertinya masih ada yang ingin dibicarakan berdua, saya tidak mau mengganggu urusan ayah dan anak, hahahah…" Sahut Papahnya Dita, lalu pamit pada bokap gue. "Nata… mampir ke rumah nanti, Saya mau bicara sebagai Papahnya pacar kamu. Kalau di sini, kurang tepat, hahahah". Lanjut Papahnya Dita kemudian meninggalkan gue berdua dengan bokap gue.

Bokap gue sedikit mengendurkan dasinya, lalu meminum segelas air bening yang sedari tadi belum disentuhnya. Entah kenapa gue seperti melihat ekspresi Ayah gue sama seperti ekspresi saat mengetahui kelakuan nakal gue di sekolah.

"Menggembosi perusahaan ayah dari dalam dan mengirim orang ke Gouda lalu membuat perusahaan baru untuk menjadi pahlawan perusahaan ini. Hebat sekali caramu. Seingat Ayah, Ayah tidak pernah mengajarkan hal-hal licik seperti itu". Ucap Ayah gue tiba-tiba yang membuat gue sangat terkejut karena gue pikir Ayah gue tidak mengetahui kelicikan gue ini.

"Ma… Ma… Maaf, Ayah".

"Jujur ayah kecewa!…"

"…" Gue diam tidak bisa berkata-kata.

"Ayah kecewa pada diri Ayah sendiri dan ayah kecewa kenapa harus kamu yang menghancurkan ini, Ahh… si Ahmad pasti lagi ketawa besar di sana". Ucap Bokap gue lagi, mata Beliau menerawang jauh keluar sana dan mungkin hingga sampai Almahrum Bapak Ahmad atau Mr. Odeematt berada.

"Mungkin selama ini Ayah mengajarkan kamu sebuah prinsip di mana kamu harus menjunjung tinggi kejujuran. Kamu tau, Si Ahmad itu selalu menertawakan Ayah tiap kali Ayah bicara tentang kejujuran. Dia selalu bilang Ayah ini naif. Mungkin iya Ayah naif, ayah tidak yakin. Tapi kamu sekarang menunjukan kalau Ayah ini memang naif". Ucap bokap gue lagi.

"Maaf, Ayah. Bukan maksud Nata begitu".

"Tidak, tidak, jangan meminta maaf seperti itu. Ayah sadar cepat atau lambat memang harus seperti ini. Karena Ayah memang tidak mahir dalam mengelola bisnis, selama ini Ayah berlindung pada Ahmad, kalau bukan karena dia. Mungkin Ayah hanya seorang budak pemerintah. Ayah tau di dalam ini ada musuh dalam selimut. Ahmad pernah mengatakan itu, Ayah menolak percaya. Ayah memang naif menganggap semua orang baik. Yaa…" Bokap gue berdecak "Bisa dikatakan selama ini kalau bukan karena Si Ahmad perusahaan ini sudah jatuh ke tangan orang lain sejak lama. Tapi takdir berkata lain, Tuhan terlalu sayang pada Ahmad sehingga memanggilnya terlalu cepat dan semenjak kepergian Ahmad, jujur Ayah khawatir kalau ayah tidak bisa menjaga perusahaan ini. Ayah sempat meminta bantuan Rikky, tapi dia juga menyerah dan berkata sama seperti Pak Ahmad, 'terlalu banyak musuh dalam selimut'. Dan Ayah pun menyerah. Tapi entah bagaimana kamu melakukannya, hingga Ayah akhirnya Ayah pelajari apa yang kamu lakukan, dan waw…" Bokap gue menganggkat kedua tanganya. "Ternyata dunia telah mengajarkan kamu lebih banyak dari yang Ayah ajarkan pada kamu… maafkan Ayah, sudah melewatkan satu masa tumbuh kembangmu".

"Engga, Ayah. Ayah jangan minta maaf. Nata yang harusnya minta maaf. Nata engga bisa jadi anak yang menjunjung tinggi kejujuran seperti apa yang Ayah ajarin sama Nata. Maafin Nata, Ayah". Ucap gue.  Ayah gue berdiri dan menghampiri gue lalu memegangi pundak gue.

"Kita bicara sebagai orang dewasa oke!"

Gue menganggukan kepala. "Jujur itu perlu, harus! Tapi bukan berarti kamu harus lupa menjadi manusia. Manusia mempunyai akal, sudah seharusnya digunakan. Ayah tidak bangga dengan apa yang kamu lakukan. Biar bagaimana pun yang kamu lakukan itu licik, menyebar virus yang kamu ciptakan, dan menyebuhkannya sendiri bak pahlawan. Cara yang kamu lakukan jelas tidak baik! Tapi harus ayah akui, Ayah kagum di usia mu yang baru seumur jagung ibaratnya, kamu sudah bisa berpikir seperti ini. Yaaaaahh kasarnya perbuatan benar terkadang memang tidak selamanya sesuatu yang dianggap baik". Ucap gue sambil tersenyum, lalu berjalan mendekati dinding kaca dan kembali menatap jauh menembus dinding kaca entah sampai kemana.

"Jadi yang Nata lakukan benar?" Tanya gue.

"Benar dalam artian menyelamatkan perusahaan ini. Tapi mengingat penyakit yang menggerogoti perusahaan ini adalah ciptaanmu sendiri, jelas apa yang kamu lakukan tidak baik, curang namanya!" Jawab bokap gue tegas.

"Maaf, Ayah. Kalau begitu Ayah boleh marah semarah-marahnya sama Nata sekarang". Sahut gue pasrah.

"Untuk apa? Ayah justru berterima kasih, setidaknya perusahaan ini tidak jatuh ke tangan orang lain".

"Fiuhhhh" gue menghebuskan nafas merasa lega, karena sedari sebelum berangkat ke Jakarta gue selalu mengkhawatirkan reaksi bokap gue akan apa yang gue lakukan.

"TAPI AYAH MAU MARAH!" Suara bokap gue menggelegar. "KAMU NIKAH SAJA BELUM SUDAH TINGGAL SATU RUMAH DENGAN DITA!" Lanjut bokap gue, suaranya lantang. Saat seperti ini, gue hanya bisa diam menunduk dan sesekali menelan ludah untuk membasahi tenggorokan gue yang seketika terasa kering.

"KAMU INI PUNYA AGAMA! KAMU INI PUNYA ADAT ISTIADAT! APA PANTAS SEPERTI ITU? APA AGAMAMU MEMBOLEHKAN SEPERTI ITU!?"

"Ma ma maaf, Yah".

Setelahnya gue hanya mendengarkan Ayah gue yang memarahi gue masalah gaya hidup gue, Tatto, dan kuliah gue yang gue tinggalkan. Hampir satu jam bokap gue memarahi gue.

"Ayah, tidak mau tau, saat Dita libur nanti, kalian berdua harus menikah. Kamu sama Dita sudah terlalu jauh melewati batas. Ayah sudah bicarakan itu pada Papah-nya Dita. Beliau setuju dan kami juga sepakat untuk tidak membiarkanmu kembali ke sana sampai Dita libur Januari nanti kalian kami nikahkan". Ucap bokap gue dan tentu gue mengiyakan. Tidak terpaksa mengiyakan tapi gue dengan senang hati mengiyakan. Dita juga pasti senang dengan kabar ini. Lalu gue pamit pada bokap gue untuk beristirahat sejenak karena gue masih merasa sedikit jetlag.

"Oh iya, Nata…" Panggil bokap gue sesaat sebelum gue meninggalkan ruangan ini.

"Iya, Ayah". Sahut gue.

"Satu lagi, ayah mau tanya. Kamu uang dari mana bisa melakukan semua ini?" Tanya bokap gue. Tentu gue sudah mengantisipasi pertanyaan itu. Gue menjawab kalau gue mendapatkan suntikan dana dari Renal dan Malik. Bokap gue percaya, karena memang bokap gue tau siapa Renal dan bokap gue mengetahui sebatas Malik adalah seorang cucu jenderal besar.

Setelah itu gue langsung menuju ke kosan gue, Alodya menyambut gue. "Haloo yankess!" Ucap Alodya menyambut gue.

"Asli, lo gemukan!" Sahut gue merangkulnya.

"Ahh rese!! Udah lama ga ketemu makin nyebelin". Protes Alodya sambil memberikan gue kunci kamar gue.

"Udah lo bersihin belom?" Tanya gue.

"Udah tapi bukan gue yang bersiin, males banget gue bersiin kamar lo. Emang gue babu lo" Sahut Alodya.

Gue lalu membukan pintu kosan gue. Entah kenapa gue seperti melihat bayangan Dita, Nina dan Karina di setiap sudut berbeda di dalam kosan gue. "Haaahhh" Gue menghela nafas.

"Kenapa lo?" Tanya Alodya.

"Gapapa, eh by the way gimana kuliah lo?"

"Lancar kok, makasih yah". Jawab Alodya.

"Jangan makasih sama gue, sama Malik lah. Yang biayain kuliah lo, sama bayar kosan ini semua nya dari Malik. Gue sama sekali ga ngapa-ngapain".

"Yah tetep ajah lo ada andil, Abdul juga".

"Hahaha, yaudah gue istirahat dulu yah. Nanti maleman kita ngobrol lagi".

Di luar dugaan gue terbangun di keesokan paginya. Ternyata gue tidak bisa menahan jetlag gue. Saat gue terbangun gue melihat selembar kertas yang ditempel di tv. Gue membaca kertas itu.

Meet me after lunch
At Jco pasfes
Alone
Alodya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
imjustaman dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Senandung Black n Blue
12-08-2019 02:53

Part 6.1-c

Selesai mandi gue bergegas menuju ke kampusnya Faisal. Masih ada banyak waktu sebelum gue bertemu Alodya nanti, pikir gue. Gue sengaja tidak memberi tahu Faisal karena ingin memberi sedikit kejutan. Sesampainya di sana gue langsung masuk ke dalam gedung fakultasnya, gue bertanya pada beberapa orang; gue bertanya di mana Faisal. Ternyata Faisal sedang ada kelas. Gue sengaja melitas melewati kelasnya dan sedikit membuat kegaduahan di luar kelasnya agar Faisal sadar gue datang mengunjunginya.

Faisal menyadari kedatangan gue, entah apa yang dibicarakan pada dosenya. Faisal lalu keluar menghampiri gue. "Congee gilaaa!!!" Seru Faisal, "Padang kamprettt!!" Seru gue; Kami saling berjabat tangan dan melakukan toss seperti biasanya.

"Sob, lo tunggu kantin dulu gapapa kan, setengah jam lagi gue kelar. Nanggung". Ucap Faisal.

"Siap-siap". Sahut gue.

Lalu gue menunggu Faisal di kantin fakultasnya. Selama menunggu Faisal jujur gue sedikit takut kalau-kalau Karina akan muncul di sini. Dan ternyata ketakutan gue menjadi nyata. Karina muncul, dia hendak memasuki kantin. Namun saat melihat gue, Karina mengurungkan niatnya.

"Fiuhhhh… Syukurlah". Gumam gue dalam hati. Kemudian untuk membunuh bosan, gue mengeluarkan laptop gue untuk melakukan video call bersama Dita setelah sebelumnya gue terlebih dahulu memastikan kalau dia standby di depan laptopnya.

***


"Hallo Mantannn". Seru Faisal yang tiba-tiba merangsek duduk di sebelah gue yang sedikit membuat gue kaget karena gue tidak menyadari kedatangannya.

"Ehh, Hallo juga mantan, eh Tan". Sahut Dita.

"Tan…tan emang gue setan…" Celetuk Faisal.

"Hahaha, emang lo setan, hahaha, eh mau nanya dong. Laki gue ketemu mantanya ga di sana?" Tanya Dita.

"Emmmppp… ga tau yah, mungkin ketemu, gue kan baru dateng, hahah".

"Sialan lo… Albhy awas ajah kalo kamu ketemu mantan kamu!" Sahut Dita.

"Loh, kamu ajah ketemu mantan kamu nih, video call-an malah". Celetuk gue.

"Aku sih beda, kalo kamu kan paling ga bisa ketemu mantan. Gatel! Kalo ketemu mantan suka ngetes-ngetes perasaan akhirnya jadi boomerang sendiri".

"Aku emang begitu yah Bhy?" Tanya gue.

"Ahhahaha. Gue engga ikutan, ahh gue beli makan dulu ahh". Celetuk Faisal, lalu beranjak memesan makanan, gue pun menintip juga.

"Bhy, aku begitu yah emang?" Tanya gue lagi.

"EMANG!! Kamu tuh lemah kalo sama mantan kamu. Kamu tuh sok kuat ngadepin mantan, ujung-ujungnya kejebak nostalgia sendiri". Jawab Dita.

"Eh, aku baru sadar aku begitu. Kamu kenapa ga bilangin itu dari dulu-dulu sih?" Tanya gue lagi.

"Ngapain? KESADARAN AJAH!"

"Trus kenapa sekarang ngomong?" Tanya gue.

"Kita udah mau nikah! Kamu ga sadar-sadar juga, mangkanya aku sadarin!!" Sahut Dita.

"Ehh, kamu kok tau?" Tanya gue.

"Papah ngomong tadi siang". Jawab Dita.

"Oh, iya aku janji mau kerumah kamu, tapi aku ketiduran. Heheheh".

"Dasar pelor! Eh Bhy, aku besok ngajuin cuti, kalo bisa kemungkinan akhir bulan ini aku balik Jakarta, buat persiapan semuanya".

"Eh, kok… Aku kata ga tau apa-apa?"

"Yah lagian kamu janji mau ke rumah papah malah tidur, siapa suruh".

"Heheh, ya maaf".

"Bhy pokoknya aku mau nikahnya …" Dita lalu menyebutkan semua keinginannya, tempat pernikahan, konsep, sampai souvenir yang akan dibagikan pada acara resepsinya nantii. "Luar biasa". Pikir gue. Dita sampai jauh memikirkan detailnya.

Setelah panjang lebar Dita menyebutkan keinginannya gue pun berjanji untuk memenuhi segala keinginannya. Setelah itu gue mengakhir video call karena gue ingin mengobrol dengan Faisal. Dita mengerti, dia juga sepertinya ingin beristirahat setelah lelah dengan aktifitasnya seharian.

"Lo serius Ngai?" Tanya Faisal yang sedari tadi mendengar percakapan gue dengan Dita.

"Apanya? Married? Seriuslah Ngai, gue juga udah pacaran 3 tahun, udah setaun ini juga gue hidup bareng. Apa lagi?"

"Iya sih. Gokil lah emang lo berdua".

"Hahahah, lo ga jealous, kan?" Tanya gue.

"Kampret!! Menurut lo ajah Ngai, hahahah…" Faisal tertawa terbahak-bahak. "Eh Ngai, lo ga pengen lanjutin kuliah lo apa?" Tanya Faisal.

"Mungkin abis nikah gue nyoba daftar kuliah di sana juga kali. Semoga ajah bisa".

"Kalo engga?" Tanya Faisal.

"Yaudah nasib, hahahah… Lagian gue kek ngerasa kuliah ga penting Ngai. Sorry yah, maksud gue gini. Banyak hal yang akhirnya kita belajar dari hidup yang engga pernah kita dapet di sekolah, kuliah atau semacamnya".

"Iya sih yah, setelah gue bantuin bisnis nyokap gue juga gue ngerasa begitu. Keknya capek-capek kuliah juga semua ujungnya mentok jalanin bisnis yang ada…"

"Atau mulai bisnis baru" Suara gue dan Faisal berbarengan lalu gue dan Faisal sama-sama tertawa.

"Dan pada akhirnya apa yang kita lakuin, kuliah ini, sekolah dulu, jadi sia-sia ajah. Karena saat kita udah start terjun ke dunia bisni Ijazah kita ga kepake". Lanjut Faisal.

"Tul". Sahut gue.

"Trus udah tau bakal sia-sia tapi kenapa gue masih lanjutin yah? Hahahaha". Seru Faisal.

"Itulah okenya bodrek, hahahah. Kalo gue sih, ngambil kesimpulannya gini, Sal. Kuliah tetep worth. Sekolah tetep wajib karena mental orang yang sekolah sama ga sekolah jelas beda, jauh!"

"Dan kuliah tetep worth jadinya gimana?" Tanya Faisal.

"Ya mungkin buat gue, lo, atau siapa pun yang nasibnya beruntung punya pilihan banyak dalam hidupnya karena sekalipun kita diem ajah orang tua kita udah bikin sistem yang seengganya kalo kita ikutin, sampe kita mati kita bakal tetep bisa makan…"

"Warisan yah…" Sahut Faisal sambil menerawang-rawang.

"That's right! Orang tua kita udah sedemikian hebat. Dan kita beruntung Tuhan mentakdirkan kita lahir dari mereka. TAPI…"

"Ada orang yang nasibnya kurang beruntung yang engga punya pilihan selain harus fight from zero bahkan mines…" Sambar Faisal. "Berarti Tuhan ga adil dong Ngai?" Lanjut Faisal.

"Gila lo sampe mikir begitu, hahaha. Tuhan itu udah seadil-adilnya nentuin takdir Manusia ngai! Coba lo bayangin kalo semua orang di dunia ini punya harta yang berlimpah! Siapa yang mau kerja kasar Ngai? Hidup emang harus balance, ada yin ada yang ada siang ada malem ada orang kaya ada orang miskin. Tekad yang pada akhirnya bakal ngerubah si miskin jadi kaya, si kaya jadi miskin. Orang miskin yang berusaha keras suatu saat pasti bakal jatohin orang kaya yang leha-leha. Itu udah hukum alam men".

"Ahh tapi kenyataanya yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin ngai?"

"Nahh sekarang itulah pentingnya Kuliah. Sekarang gini Ngai, maap-maap nih jebetulan temen-temen SD gue itu rata-rata dari kelas menemgah kebawah. Lulus SMA rata-rata temen gue, mereka mutusin buat kerja. Alasannya klise, membantu perekonomian keluarga… Emang ga salah, itu mulia. Tapi yang pada akhirnya saat mereka kerja mereka udah keasikan sendiri nerima duid yang padahal kalo diitung ulang gaji yang mereka terima itu paling bersih-bersihnya 10-25% gajinya mereka ajah".

"Maksudnya Ngai?" Tanya Faisal.

"Gini, contohlah gaji sejuta dalam sebulan. Buat makan sehari tarolah abis 30ribu. Trus 30ribu lo kali 30 hari berapa Ngai?"

"900ribu Ngai… Lah abis dong?"

"Bener banget, itu cuma buat makan Ngai, belum ongkos, belom lain-lainnya, terus gimana caranya bantu perekonomian keluarga? Nah coba bandingin kalo semisal dia kuliah, nanti lulus kerja bakal dapet gaji yang lebih baik kan. Yah walaupun kalo pake rumus gue tetep gaji yang lo terima itu bakalan nyisa paling 10-25% ajah".

"Yah kalo gitu ga ada solusi, anjing! Kuliah ga kuliah sama ajah kalo selama ga buka usaha sendiri, yah hidupnya mentok".

"Iya ya ga ada solusi yah, pantes ajah tiap hari buruh selalu rame. Hahahaha".

"Iya, yahh ahahah, au ahh pusing Ngai, keberatan obrolan kite. Hahaha. Ubah topik lah ubah. Ceritain gue ajalah gimana lo di US setahun ini".

Lalu gue menceritakan pada Faisal bagaiman kehidupan gue setahun ini di Negeri Paman Sam, menceritakan bagaimana Kota Chicago, Danau Michigan, Pertandingan NBA, pertandingan sepak bola yang sepi penonton yang tidak seperti di Indonesia yang stadionnya selalu hampir penuh setiap ada pertandingan sepak bola, berharu biru berlebaran di negeri orang bersama orang-orang yang merasa rindu pada tanah air, dan gue juga menceritakan semua apa yang menjadi keresahan gue pada Faisal.

"Gila, bahkan lo udah tinggal se atap berdua, masih ada orang yang usaha deketin Dita saking bebasnya apa di sana?" Ucap Faisal sedikit terkejut.

"No, no, no, lo salah Sal. Orang Amerika justru menghargai banget suatu hubungan, beberapa orang yang gue kenal di sana sih yah begitu. Mereka tau gue udah tunangan sama Dita yah mereka ga mau mencoba masuk ke dunia kami gitu, mereka menghargai betul. Tapi beda sama orang Indo. Entahlah yah mungkin mental orang-orang kita yang emang sering iri sama rumput tetangga itu yang pada akhirnya pengen banget punya apa yang dipunya orang lain". Sahut gue.

"Jadi yang deketin Dita orang Indonesia? Siapa?" Tanya Faisal.

"Ada, temen kampusnya. Namanya Anwar, serumpun sama lo. Orang Padang juga. Doi sih anaknya Alim, rajin solat katanya…"

"Kata siapa?" Sambar Faisal.

"Kata dia sendiri. Gue baca chatting-nya dia sama Dita. Kadang dia suka bilang sama Dita 'mau solat dulu' gitu…"

"Halah pencitraan, eh tapi kok Dita ngeladenin ajah sih?" Sambar Faisal.

"Gue yang suruh. Gue mau tau ajah dia sampe sejauh mana. Sampe saat ini sih masih baru sok-sok ngirim-ngirim hadits atau penggalan ayat-ayat gitu tentang Imam yang baik. Gue tau itu nyindir gue sekaligus brainwashing Dita kalo dia lebih ideal diliat dari kacamata agama. Tapi memang iya sih, gue ngerasa dan gue kesel! mangkanya gue suruh Dita ladenin ajah. Biar sampe kalo dia udah ngelewatin bates yang udah gue garisin jadi kan gue nemu alesan buat nyeburin dia di Michigan, hahahaha".

"Anjing, emang buangsaatthh lo…" Sahut Faisal. "Tapi lo ga takut apa Ditanya malah kecantol?" Tanya Faisal.

"Udo! Logikanya, kalo emang Dita nyari pasangan yang sesuai sama kata ideal dalam agama. Ga mungkin dia mau sama gue dari awal sampe akhirnya gue hidup serumah sama dia, gue sama dia sama-sama breungseknya, Do!"

"Hahahah, bener juga lo, badjingan emang lo berdua, hahahah".

***


Jam makan siang pun tiba, lalu gue menuju ke tempat yang sudah di tentukan untuk bertemu Aldoya. Gue diantar oleh Faisal sampai ke depan Pasar Festival (saat ini namanya Plaza Festival) menunggunakan mobilnya. Saat ini Faisal sudah menanggalkan sepeda motornya dan beraktifitas menggunakan mobil mewahnya.

Di sepanjang perjalanan dari kampusnya Faisal hingga ke Pasar Festival kami berbincang masalah kendaraan. Sepertinya minat Faisal sudah berubah dari setahun yang lalu gue ingat dia berminat sekali memiliki motor besar, kini minatnya sudah bergeser ke kendaraan roda empat. Faisal pun mengajak gue untuk datang ke pameran kendaraan roda empat yang sedang berlangsung hingga akhir pekan ini. Dan gue menyetujui untuk menemaninya datang ke pameran itu di hari terakhir pameran itu; akhir pekan ini.

Sampai di depan Pasar Festival, Faisal langsung pamit kembali ke kampusnya. Karena masih ada mata kuliah yang harus dihadiri. Gue diam sejenak hingga mobil Faisal menjauh, kemudian gue masuk ke dalam gerai donat yang letaknya persis di depan pintu masuk Pasar Festival. Di sana gue sudah melihat Alodya duduk seorang diri sedang sibuk dengan laptopnya; gue berjalan menghampirinya.

"Lama banget sih lo!" Gerutu Alodya saat menyadari kedatangan gue.

"Nah kan lo yang minta abis makan siang, bukan pas makan siang. Yah gue makan dulu". Sahut gue sambil menaruh tas kemudiam berjalan ke meja pemesanan.

Gue sedikit bengong saat melihat karyawan gerai donat ini yang berdiri di depan mesin kasir. Lalu sedikit tertawa melihatnya. Dia sadar dengan tingkah gue lalu bertanya apa ada yang salah. Gue menjawab tidak ada apa-apa dan mengatakan padanya kalau dia mirip seseorang yang gue kenal. Setelah memesan selusin donat dan satu minuman yang nanti akan diantarkan olehnya, gue kembali pada Alodya.

"Katanya udah makan, mesen donat selusin!" Ucap Alodya sambil menggelengkan kepalanya.

"Hahahaha, maklumin ajah gue kan lagi masa pertumbuhan. By the way, kenapa nih ngajak gue ketemu begini dan nyuruh gue dateng sendirian ajah?"

"Bentar, gue ngetik dulu, nanggung". Sahut Alodya. Gue mengiyakan dan sambil menunggunya satu gue mulai memakan donat yang terlihat begitu menggoda.

Satu donat telah habis, kini giliran donat kedua. Gue sedikit tertawa mengingat nama donat yang akan gue lahap ini, Avocado Dicaprio. Belum sempat gue menggigit dicaprio seseorang yang tadi datang membawa pesanan minuman gue. Alodya langsung terdiam melihat dia. Sedangkan gue membaca name tag yang melekat di seragam hitamnya.

"Terimakasih Mbak Nurul". Ucap gue yang lalu disahutnya sama-sama.

"Gilaa…Mirip banget Dita". Seru Alodya.

"Gue juga mikir begitu, ahahahah, tapi emang katanya di dunia ini ada 7 orang yang rupanya mirip sama kita kan. Iyah ga sih?" Tanya gue.

"Au yah, lo kata siapa?"

"Kayanya waktu kecil pernah denger gitu sih". Sahut gue.

"Mungkin" Gumam Alodya. "Bisa jadi iya juga. Sama hal nya seperti lo sama Malik. Entah gimana kok bisa mirip". Lanjut Alodya.

"Mungkin sebenarnya gue sama Malik kembar yang terpisah, hahahah".

Alodya menggelengkan kepalanya. "Ga nyangka di Amerika ada sinetron juga…" Ucap Aldoya sambil menutup laptopnya. "Nata!" Aldoya menatap gue tajam.

"Iyaa".

"Gue boleh minta tolong?"

"Apa Alo?"

"Tolong berenti dari apa yang lo jalanin sama Malik!" Ucap Alodya tegas. Gue memegang keningnya dengan punggung telapak tangan gue.

"Alo, lo sehat kan?" Tanya gue.

"Gue sehat Nata. Gue semalem nonton berita ada pengedar sabu ketangkep, barang buktinya cuma beberapa gram tapi ancamana hukumannya seumur hidup Nata…" Jawab Alodya lalu membungkukan badannya. "Gue langsung kepikiran lo, Malik, Abdul. Gue ngebayain lo ketangkep, gimana kalo lo ketangkep? Bisa kena hukuman mati Nata, gue engga mau". Alodya berbisik.

"Alo…" Gue mendekatkan posisi duduk pada Alodya. "Lo tenang yah…"

"Mana bisa sih!" Sambar Alodya agak keras, gue lalu mengusap-usap pundaknya memberi kode agar tidak bicara terlalu keras. "Mana bisa Nata, gue engga mau kalian kenapa-napa. Please Nata, please". Ucap Alodya suaranya agak pelan.

"Trus kalo gue berenti, Malik berenti, lo mau ngelacur lagi, Hah? Gue yang engga bisa liat lo begitu, Alo! Gue ajah ga bisa apa lagi Malik!"

"Gue mending balik lagi jadi pelacur dari pada harus ngeliat lo semua ditangkep dan dihukum mati nantinya cuma karena gue!" Sahut Alodya.

"Engga! Lo salah Alo! Kalo begitu apa guna gue sebagai sahabat lo? Apa gunanya Malik sebagai orang yang cinta sama lo! Dan ini bukan cuma tentang lo, Alo! Di luar itu. Ada alasan gue sendiri, gue butuh uang banyak! Gue mau nikah dan gue butuh modal buat terus hidupin perusahaan bokap gue dengan cara gue. Karena di sana banyak orang yang nyandarin hidupnya. Gue engga mau bayar mereka murah! Gue mau bayar mereka mahal. Kalo ngandelin dari pendapatan perusahaan, ga ada sisa buat gue. Sedangkan gue butuh juga uang banyak buat hidup gue, buat mimpi gue, buat segala keinginan gue. Sorry, Alo gue engga bisa berhenti buat saat ini. Segimanapun lo bujuk gue atau Malik. Sekalipun Malik akhirnya berenti gue bakal lanjutin ini ada ataupun ga ada dia".

"Nata…" Sahut Alodya menitikan air mata. " Tapi…Nata…"

"Sorry Alo, Sorry banget. Gue harap lo ngerti".

***


Suara Nata:
Di Bumi hari ini


Gue tahu apa yang gue lakukan salah. Apapun alasannya itu hanya sebuah pembenaran saja yang sama sekali tidak bisa di terima dari sudut mana pun juga. Niat baik jika dilaksanakan dengan cara yang tidak baik tentu akan mencemari niat baik itu sendiri. Dan pada akhirnya gue membelenggu diri pada kegelapan hati yang membenarkan semua yang gue lakukan dengan alasan niat baik.

Setiap orang punya khilafnya bukan? Dan saat itu gue hanya berpegang teguh pada kenyataan jika memang uang bukan segalanya. Tapi segalanya butuh uang.

Dan jika kalian tanya apa saat ini gue menyesal? Jawabannya: SANGAT! Jadi jangan sesekali coba apa yang pernah jadi kesalahan gue di masa lalu.

***

COBA LIHAT SIAPA YANG KEMBALI !


Akhir pekan pun tiba, gue menepati janji gue pada Faisal. Kami tiba tempat acara pameran otomotif pukul 15.00 WIB, setelah beberapa jam sebelumnya gue dan Faisal sedikit berkeliling Jakarta. Tidak seperti Faisal yang begitu antusias melihat mobil-mobil keluaran teranyar pabrikan-pabrikan besar; sesekali bertanya apa keunggulan dan harganya. Sepertinya Faisal berniat sekali membawa pulang satu untuk dijadikan koleksi. Sementara gue hanya berlagak tertarik saja mendengar penjelasan dari SPG-SPG yang mempromosikan mobil daganganya.

"Ngai asli keren yah". Ucap Faisal saat melihat satu mobil super car keluaran pabrikan Eropa.

"Keren Ngai, udah sikat!" Sahut gue.

"Sikat-sikat, duidnya mana Njing!"

"Lah trus lo kesini kalo ga mau beli ngapain?" Tanya gue.

"Liat-liat dulu Ngai".

"Ngeliat SPG nya elu sih".

"Hahahaha".

Gue dan Faisal terus mengamati setiap lekuk bentuk bodi super car yang ada di hadapan gue ini. Jujur gue sedikit tertarik karena mobil ini sering gue gunakan kalau gue bermain game Need For Speed. Gue dan Faisal lalu mengitar mobil ini sambil berandai-andai memodifikasi mobil ini seperti saat memodifikasinya di game Need For Speed. Lalu langkah gue dan Faisal terhenti saat seorang SPG mobil ini datang menghampiri.

SPG itu seperti kaget melihat gue dan Faisal, dia menutup mulutnya seolah tidak percaya. Gue pun hanya bisa terdiam dan benar-benar tidak percaya. Sampai seorang pria menghampiri SPG itu kemudian dia terlihat menghela nafas mencoba mengatur nafasnya. Bersama pria tersebut SPG itu menghampiri Faisal dan menjelaskan tentang detail mobil yang ada di hadapan kami.

Tentu gue yakin Faisal juga tidak mendengarkan dengan seksama apa yang pria itu jelaskan. Gue yakin Faisal sama terkejutnya dengan apa yang kami lihat. Sampai akhirnya gue menyelak ucapan pria itu dan menghampiri SPG yang berdiri di sampingnya.

"Pak saya beli ini mobil sekarang juga, asal SPG bapak yang jelasin tentang mobil ini… " Selak gue sambil memberikan kartu nama gue. Pria itu sumringah bukan main, sementara SPG itu hanya diam terlihat wajah panik di ekspresinya.

Gue tidak mendengarkan lagi apa yang pria itu katakan, indera gue lumpuh seketika saat melihat kedua bola mata SPG itu. "Sal, lo telpon Abdul, bilang gue mau beli mobil ini. Suruh dia kesini sekarang juga buat kelarin pembayarannya. Kalo dia tanya-tanya jelasin ajah apa adanya keadaanya. Paham maksud gue kan, Sal?" Ucap gue, Faisal hanya mengangguk tanpa bicara.

"Pak, udah saya bilang saya cuma mau dengerin SPG bapak jelasin. Kalo bapak ngoceh lagi, saya pastiin bapak bakal nyesel. SAYA CUMA MAU DENGER SPG BAPAK YANG JELASIN! sekaligus jelasin kenapa saat itu dia ninggalin saya begitu ajah… Nina!?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ngaburr dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 1 balasan
Senandung Black n Blue
12-08-2019 04:23
Mantan memang candu, mantan kadang nyakitin, tapi ada rasa yg tersisa dan belum usai, mantan seperti memutar kepingan disc dan dinikmati dengan perlahan sesuai memori kenangan.

Mengenai robinhood setahuq dilakukan dengan dengan merampas harta pejabat korup dan membagikan ke orang miskin nat bisalah disebut pahlawan tapi logika masih membenarkan. Tapi pengedar nat demi apapun itu berbuat dosa 2 kali, ambil uang haram dan menjerumuskan nasib pemuda ke masa depan yg suram. Bukan menghakimi tapi setiap manusia hidup dengan takdirnya dan manusia berkewajiban memilih jalan baik dan buruk. Doa gue semoga sdh berhenti bisnis haram. N buat semua pengedar doaq semoga anak cucunya nanti merasakan nikmatnya sakau.
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan masbroo15 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
12-08-2019 09:22
Ah Nina, kangen Gw sama karakter cewek 1 ini,,kebetulan juga udah lama kagak muncul yaa emoticon-Big Grin
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 09:45
yeeahh..
welcome back nina
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 09:55
keren nih mas Nata, beli mobil cuma karena SPGnya Nina. inget Dita, katanya mau nikah. kan mas Nata lemah kalo sama mantan. wkwkwkwk emoticon-Leh Uga
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 15:42
Boooom!!! ..NINA is back !! akankah Nata seperti yg diucapkan Dita tentang mantan??
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
12-08-2019 21:03
akhir nya nina muncul lagi, jadi makin penasaran kelanjutan nyaemoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan dm14 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
12-08-2019 23:20
asekk dek nina muncu lagi
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan dm14 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
13-08-2019 01:22
yg ditunggu tunggu nih
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan dm14 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
13-08-2019 12:13
Bangke gue deg-degan baca part ini.
Jadi bener bini bang nata adalah nina emoticon-Big Grin krn bini bang nata pernah kerja jadi SPG.

"Nata nina natalia"

Dan cewe bertato yg di stadion bola itu adl karina. emoticon-rose
Diubah oleh Wassap.Bro
profile-picture
profile-picture
nyunwie dan dm14 memberi reputasi
2 0
2
Senandung Black n Blue
13-08-2019 21:44
Apakah hati Nata berpaling ke sang mantan?? emoticon-Leh Uga
Klo dari clue istrinya Nata mantan spg, tapi karena kebanyakan plot twistnya gua jadi bingung mao nebak lagi emoticon-Bingung emoticon-Hammer2
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
Lapor Hansip
14-08-2019 09:22
Balasan post nyunwie
Oleh gan ts , kayanya Mangkunegaran terbuka lebar nih siapa gerangan pendamping dirimu...
Sepertinya ada yang CLBKsama orang yang udah berhasil melepas keperjakaan nya gan ts nih..
emoticon-Toastemoticon-Toastemoticon-Toast
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
14-08-2019 16:07
semakin menarik
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
14-08-2019 22:02
hidup setaun di us gak di ceritain juga nat??
profile-picture
nyunwie memberi reputasi
1 0
1
Senandung Black n Blue
15-08-2019 03:24

Part 6.2-a

Aku pernah hampir melakukanya, permintaanmu untuk aku melupakan segala detik-detik yang pernah kita lalui berdua yang kita anggap sedemikian istimewa. Aku hampir melakukannya, jika saja saat aku terbaring lemah kamu tidak menunjukan kamu; melakukan sebaliknya; menunjukan cintamu yang masih saja untuku. Aku sudah melakukannya; melupakanmu dan tidak akan pernah aku pertanyakan alasanmu meninggalkanku.

***


Hati kecil berbisik untuk kembali padanya; seribu kata menggoda, seribu sesal di depan mata.


Gue seperti merasa berada di dimensi yang berbeda; hiruk-pikuk ini tidak terasa ada, hanya ada bunyi-bunyi hening di antara dua pasang bola mata yang saling terkejutkan pada sebuah pertemuan yang tidak terduga. Dan bunyi-bunyi hening itu semakin nyaring yang akhirnya memaksa gue untuk mendorongnya untuk bicara.

"Nina!"

"Nata, please aku lagi kerja". Sahut Nina.

"Aku bayar gaji kamu, kita pergi sekarang…" Sahut gue.

"Nata yang aku kenal dulu tidak pernah seperti ini. Siapa kamu?" Selak Nina.

"Aku seorang yang hampir gila setelah 4 tahun lalu ditinggalkan kamu sebuah tanda tanya besar! Sampai sekarang, dan aku engga pernah tau kenapa… kenapa, Nina? Kenapa?"

"Ga perlu ada yang harus dijelaskan, Nata. Setiap orang berhak mengambil keputusannya sendiri tanpa perlu ditanyakan kenapa".

"Aku ga akan tanya itu kalau kamu engga nempuh jarak Jogja Jakarta cuma buat jenguk aku".

"Nata! Itu udah 2 tahun yang lalu. Tujuh ratus tiga puluh hari bukan waktu yang sebentar buat ngerubah penilaian aku tentang hari itu aku jenguk kamu. Nata, lagian kamu udah bahagia, kan. Sudah mau menikah. Aku pikir…"

"Setau aku kita empat tahun engga ketemu. Semua akses udah kamu blok, sekarang kamu bisa tiba-tiba tau aku mau nikah? Cuma ada satu kemungkinan! Kamu masih melihat ke arah yang sama selama empat tahun ini!" Selak gue.

Nina sedikit bergetar, dia terlihat semakin gelisah. Nina memalingkan wajah, lalu gue mencoba meraih tanganya. "Nina, aku cuma mau tau kenapa. Udah gitu ajah". Ucap gue. Nina lalu kembali menoleh ke arah gue. Setetes air mata terlihat mengalir dan sedikit merobek riasan yang dia kenakan.

"Sebelumnya aku mau tanya, setelah kamu tau, kamu mau apa?" Tanya Nina.

"Aku mau menikah, aku ga mau lagi ada tanda tanya." Jawab gue. Nina terlihat menghela nafasnya. "Oke, jam 7! Jam kerja aku cuma sampai jam 7 temuin aku di pintu barat". Sahut Nina kemudian beranjak pergi.

***


Di tengah kerumunan itu sosokmu tak lagi aku lihat. Tapi bayanganmu berjalan sebaliknya; menembus kerumunan dan mendekapku erat. Aku hanya bisa berharap: Alasan kamu pergi adalah tepat. Hingga tidak ada lagi tanda kalimat tentangmu yang aku catat, selain titik yang akan mengakhiri sebuah cerita yang lama terhenti pada tanda tanya. Dan aku berusaha sekuat tenaga tidak lebih bodoh dari keledai; terus terjatuh pada satu lubang yang sama.

***


Pukul 17.12 saat gue melihat jam yang ada di handphone gue. Sudah hampir dua jam menunggu dan saat ini waktu seperti sedang berjalan sangat lambat bahkan lebih lambat dari seekor siput yang berjalan di atas lem tikus.

Berbatang-batang rokok sudah gue habiskan guna membunuh rasa bosan menunggu. Entah sudah berapa lagu yang gue ganti; semua lagu yang gue dengar rasanya seperti kehilangan rasanya. Entah sudah berapa kali gue keluar masuk mobil Faisal. Entah sudah berapa kali gue bersandar di jok mobil yang gue rabahkan, lalu kembali gue naikan, gue turunkan kembali, naikan lagi berkali dan entah sudah berapa kali gue mendengar Faisal mengoceh dengan apa yang gue lakukan.

Tidak lama Abdul tiba, gue menyuruhnya mengurus segala tetek bengeknya bersama Faisal. Abdul hanya menggumam, bukan uang yang dia permasalahkan. Dia menggumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya. Gue tahu dia pasti berpikir kalau ini akan menjadi masalah untuk hubungan gue dengan Dita.

"Selow Ngai, ini ga bakal jadi masalah kok". Celetuk gue saat Abdul menggumam sendiri.

"Bukan gitu Ngai, gue kenal elu. Gue cuma takut…"

"Takut gue ngulangin kesalahan gue yang dulu-dulu sama Nina? Slow Ngai gue udah mau married, mungkin kalo gue ketemu Ninanya 2 atau setahun yang lalu… Iya ini akan jadi masalah. Tapi tenanglah, gue sekarang lebih cinta Dita…"

"Lebih cinta! Berarti cinta lo sama Nina masih ada, kan? Dan lo lagi ngebandingin mana yang lebih besar. Ini lah lo! Yang pada akhirnya bikin lo selalu ngulangin masalah yang itu-itu ajah. Lo salah nempatin mantan. Mantan tuh harusnya dibuang!"

"NGAI! justru itu gue mau ngebuang Ngai. Gimana gue mau buang kalo gue masih penasaran…"

"Rasa penasaran itu racun Ngai, Belanda penasaran sama cerita Portugis, akhirnya nyari tau dan pada akhirnya ngejajah Indonesia…"

"Newton juga penasaran Dul kenapa apel bisa jatoh pada akhirnya bisa bikin rumus soal gravitasi". Celetuk gue.

"Serah lo lah, Nge pokoknya gue udah bilangin, Yuk lah Sal gue mau liat mobilnye". Ucap Abdul lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam area acara. Abdul menghentikan langkahya dan berbalik badan. "Pokoknya kalo ada apa-apa gue tutup mata, tutup kuping, tutup…"

"Iyehh bawel amat, selow nape!" Celetuk gue.

"Atu lagi". Sahut Abdul.

"Apaan?"

"Mobilnya gue test dulu nanti selama 2 bulan, hahahaha". Ucap Abdul.

"Dih!"

"Iye ape kaga? Kalo kaga gue pastiin nih Dita lagi kuliah nerima email ga enak".

"Ngancem lo jelek, kancut!"

Abdul lalu tertawa kemudian melanjutkan langkahnya bersama Faisal. Sementara gue berdiri diam bersandar pada mobilnya Faisal. Saat gue ingin menyalakan rokok gue baru sadar kalau ternyata rokok gue habis. Gue pun berjalan-jalan mencari penjual rokok. Beruntung ada pedagang asongan di pinggir jalan di depan komplek area gedung expo ini.

Gue membeli sebungkus rokok dan segelas kopi yang dihidangkan dalam gelas plastik. Saat Si Abang pedagang asongan ini sedang menyeduh kopi, mata gue menjelajahi sepanjang area ini dan gue sedikit terkejut melihat Nina yang sedang berdiri di pinggir trotar yang tingkahnya seperti orang yang sedang kabur dari sesuatu.

"Bang bentar". Ucap gue pada pedagang asongan itu lalu berlari ke arah Nina berdiri. Nina sangat terkejut melihat gue, dia ingin berlari namun terlebih dulu gue bisa meraih tangannya.

"Nata lepas atau gue teriak!" Ucap Nina sedikit kasar dan dia menggunakan kata "Gue", tidak seperti sebelumnya dia masih menggunakam kata "aku".

"Nin kenapa Nin?" Tanya gue heran kenapa Nina sebegitu berbedanya.

"Lepas!" Bentak Nina.

"Kenapa Nina? Kenapa? Gue cuma mau lo ngejelasin sama gue!"

"Ga ada yang perlu gue jelasin, lepasin gue atau gue teriak!"

"Teriak Nin teriak!! Teriak sesuka hati kamu. Kalo emang aku harus digebukin masa dulu baru kamu mau jelasin sama aku". Ucap gue. Nina mencoba terus melepaskan tanganya dari cengkraman gue yang membuat gue dan Nina menjadi pusat perhatian orang-orang.

Nina lalu mereda, dia menunduk kemudian menangis "Kamu kenapa harus muncul lagi sih!" Ucap Nina meringis.

"Nina… Udah yah, kita jangan ngomong di sini yah. Ga enak diliatin orang. Udah yah udah… udah ikut aku yuk". Sahut gue lalu gue mengajak Nina ke pedagang asongan itu karena gue belum membayar rokok dan kopi nya. Kemudian setelah itu gue mengajak Nina ke mobilnya Faisal.

Di jejak-jejak waktu yang tidak aku pahami, aku menutur kembali hingga aku mengerti. Tidak ada yang sama dari kita, selain cinta.


Sudah setengah jam lebih gue dan Nina ada di dalam mobilnya Faisalnya. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut gue ataupun Nina. Tidak ada suara apapun selain suara isak tangis Nina yang terdengar di telinga ini.

Sampai akhirnya Abdul dan Faisal kembali Nina menghentikan tangisanya, dia tergesa-gesa menyeka air matanya dan membersihkan bekas-bekasnya sebelum Abdul dan Faisal menyadarinya.

Faisal mengetuk kaca jendela di sebelah Nina, gue membuka kuncinya lalu Faisal membuka pintunya. Faisal sangat terkejut melihat Nina. Abdul juga tidak kalah terkejutnya hingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Hay Sal… Abdul". Nina menyapa mereka, suaranya agak serak.

"Ha hay Nin". Balas Faisal, sementara Abdul hanya memberi senyum pada Nina sambil menganggukan kepalanya.

"Nge bentar yee". Ucap gue pada Faisal dan Abdul.

"Kalo engga gini deh Ngai, gue balik sama Faisal lo pake mobil gue. Ntar kalo lo udah selesai lo langsung ke rumah gue". Ucap Abdul.

"Rumah lo? Tebet? Ah gila lo, ntar Baba ngeliat gue begini mampus gue". Sahut gue menunjukan tangan gue yang sudah bertatto.

"Resiko loh lah, udah cepet gue mau rebaan". Ucap Abdul agak jutek, menyuruh gue keluar dari mobilnya Faisal.

"Yee bangkek lo kenape sih?" Tanya gue.

"Gue cuma lagi nutup mata gue dari yang gue liat". Jawab Abdul, ekspresi wajah Nina langsung berubah seperti terpukul di dalam dada. "Aaaa Nina, sorry! bukannya gue mau ikut campur, cuma gue mau kasih tau doang. Nata udah mau Nikah, jadi gue sebagai sahabatnya Nata cuma ga mau liat sahabat gue lebih beg* dari keledai. Lo pahamkan maksud gue, dan gue yakin sesama cewe bakal ngerti gimana perasaan calon istrinya Nata kalo dia beneran lebih bodoh dari keledai…"

"Ngai lo apaan sih!!" Sambar gue. Lalu gue melihat Nina menangis.

"Engga…" Ucap Nina sedikit terisak. "Gue udah selesai kok". Lanjut Nina lalu beranjak keluar dari mobil. Gue bergegas keluar juga. Abdul menahan gue untuk tidak mengejar Nina.

"baik!" Ucap gue mendorong Abdul hingga hampir terjatuh kalau saja Faisal tidak menahan badan Abdul. Gue lalu mengejar Nina dan menahannya untuk pergi.

"Udah Nata udah. Please udah". Ucap Nina sambil menangis.

Entah apa yang mendorong gue untuk menarik tubuh Nina hingga gue memeluknya. Namun saat gue memeluk Nina tangisnya mereda tapi Nina memukul-mukul dada gue saat tangisnya berhenti.

"Kenapa kamu datang lagi, kenapa!… susah payah aku ngilangin perasaan aku buat kamu, tapi kenapa kamu muncul di saat aku belum selesai ilangin semua itu. Kenapa!" Ucap Nina.

"Kalo emang perasaan kamu masih ada kenapa kamu nyuruh aku ilangin perasaan aku buat kamu, Nina. Kenapa dulu kamu ninggalin aku begitu ajah?" Tanya gue. Nina menggelengkan kepalanya, lalu dia mengeluarkan bandulan kalung yang ada di balik pakaian yang dia kenakan.

"Tuhan memang Satu, kitanya yang berbeda"

***


Entah apa lagi yang menimpa diri ini yang pada akhirnya membuat aku semaput bertanya-tanya; tidak mengerti apa arti sebuah takdir untuk manusia. Kenapa selalu saja ada penghalang untuk seorang manusia mencapai bahagianya.

Kenapa?…

Aku banyak membaca buku tentang ilmu-ilmu dunia yang kesahihannya tidak perlu diragukan. Tapi kenapa tidak ada satupun buku yang menuliskan tentang bagaimana cara kerja Tuhan yang kesahihannya dapat aku pastikan.

Kenapa?…

Jika Tuhan itu Satu, kenapa ada manusia lain yang menyembah selain yang SATU. Aku tidak meragukan apa yang selama ini aku yakini. Aku tidak sampai nyali mempersalahkan apa yang terjadi karena apa yang selama ini aku akui kuyakini. Dan aku juga tidak sampai hati membela apa yang tumbuh dihatiku, kemudian mengkhianati apa yang aku imani.

Tidak!

Aku hanya bertanya kenapa selalu saja takdir berujung pada kesedihan jika dipikirnya saat awal datangnya; aku bertanya sering sekali mengapa selalu takdir hadir tanpa kisi-kisi sebelumnya.


***


Gue bukan seorang Muslim! Gue hanya orang yang percaya dan meyakini Tuhan itu ada. Dan Tuhan yang gue akui satu-satunya adalah Dia yang orang-orang Muslim yakini. Tapi gue bukan seorang Muslim; gue hampir tidak pernah melakukan apa yang orang Muslim kerjakan sehari-hari; gue sering melakukan apa yang dilarang dilakukan oleh seorang Muslim; tidak pantas seorang mengaku Muslim tapi tidak pernah melakukan kewajibannya dan menjauhi apa yang dilarang.

Untuk itu, gue bukan seorang Muslim. Karena gue sudah tau apa-apa saja yang dilarang bagi seorang Muslim tapi gue masih melakukannya; berzina, berjudi, menenggak khomer; miras dan narkoba. Gue tau semua itu perbuatan dosa yang besar, dan entah sudah berapa banyak dosa gue. Mungkin jika dosa terlihat, dosa gue akan lebih besar dari pada satu Bimasakti.

Tapi gue tidak pernah sekalipun Murtad! Dan gue tidak sampai hati untuk melakukan itu; bahkan memikirkan untuk melakukannya gue tidak berani.

***


Gue menggandeng tangan Nina, menuntunnya kembali menghampir Abdul dan Faisal. Gue menyuruhnya untuk tidak memasukan kalung salib itu ke dalam bajunya.

"Lo masih takut, Dul?" Tanya gue pada Abdul. Dia diam melihat Nina yang menunduk diam. "Nina, lo lebih cinta gue apa Tuhan lo?" Tanya gue pada Nina.

"Kalo gue engga cinta sama Tuhan gue, gue engga bakal ninggalin Nata gitu ajah." Jawab Nina.

"Lo denger, Dul?"

Abdul menganggukan kepala. "Ga ada yang harus lo takutin, kan? Gue cuma mau denger ceritanya Nina".

"Oke-oke" Ucap Abdul lalu memberikan kunci mobilnya. "Nina maaf yah, Sorry banget… "

"Iya gapapa, gue paham kok. Lo sahabat yang baik, Nata beruntung punya kalian. Bener kata Nata ga ada yang perlu kalian takutin, yah mungkin gue jujur gue masih cinta sama Nata. Tapi akal gue masih sehat kok, tenang ajah." Sambar Nina.

"Oh iya satu lagi Nge! Lo pikir gue selemah itu apa? Lo pikir pas kemaren gue sampe di Jakarta gue engga ketemu Karina pas meeting sama bokap gue? Gue biasa ajah tuh ketemu dia. Bahkan kemaren gue ketemu itu tanggal di mana 7 tahun lalu gue resmi pacaran sama dia". Sambar gue.

"Biasa ajah tapi masih inget tanggal jadian. Ahhh kurap!" Celetuk Abdul.

***

Kisah


Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu… Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi… Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi… Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu… la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring. Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu… - Sapardi Joko Damono.

***


Dan ceritakanlah tentang pengembaraanmu, tentang kamu yang meninggalkanku karena jalan Tuhanmu. Aku ingin dengar itu, aku ingin dengar cerita itu dari kamu semirip kamu yang sebelumnya. Biar kudengar itu, syahdan kan aku ambil nilai untuk pembelajaran hidupku; takdir yang datang menjumpai kamu, aku dan kita yang hanya bisa kita tahu maknanya setelah kita menempuhnya.

Setelahnya; merenungi jalan langkah yang telah dilalui, bersikap hening dan secara jujur mencerminkanya; Hingga kita mengerti, apa yang terjadi adalah satu langkah untuk mendewasakan diri; Mendekatkan diri pada cinta yang Hakiki.


***


"Aku ga mau ngobrol di kosan kamu!" Ucap Nina saat gue dan dia masuk ke mobil Abdul.

"Kok kamu tau aku masih ngekost? Nina, seberapa dekat jarak kamu selama kamu mutusin ninggalin aku?" Tanya gue. Kemudian gue mulai melajukan mobil ini perlahan, keluar area parkir. Lalu melaju dengan arah yang tidak menentu. Dan gue hanya mengarahkan laju mobil mengikuti jalanan di depan gue saja, tanpa berbelok di persimpangan jalan.

"Lebih dekat dari jarak kita sebelumnya". Jawab Nina lalu mengambil kertas tissue kemudian membersihkan wajahnya dari bekas air matanya.

"Bella?" Tanya gue memastikan.

"Aku udah bilangkan, lebih dekat dari jarak kita sebelumnya". Jawab Nina.

"Tunggu…"

"Iyah, selama ini tanpa sepengetahuan kamu, aku sering ngabisin waktu sama Mamah, Ayah, Bella, Mas Rikky, Biru, Tante Upi, Encang Har…"

"WHAT!! Sampe Encang?" Sahut gue tidak percaya.

"Bukan cuma itu, Aji, Mas Kris…"

"Tunggu, kamu kenal keluarganya Mas Rikky di Jogja?" Tanya gue. Nina menganggukan kepalanya. "Bahkan yang ga kamu kenal, aku kenal!" Sahut Nina.

"Kok bisa?" Tanya gue keheranan sendiri.

"Kamu mau aku kasih tau dari mana?" Tanya Nina tanpa melihat gue.

"Aku mau tau semuanya… Semua!"

"Ini bakal panjang".

"Aku punya waktu yang panjang buat denger itu semua".

"Oke, ga sambil jalam begini. Aku ga mau kita kenapa-napa di jalan". Sahut Nina.

"Yaudah kamu mau cerita ini di mana? Sambil makan gimana? Kamu udah makan?" Tanya gue. Nina menggelengkan kepala. "Yaudah kita makan dulu". Lanjut gue. Kemudian gue fokus berkendara, walau sebenarnya gue hanya fokua melihat jalan tanpa tahu tujuan. Di kepala gue sekarang timbul banyak tanda tanya. Bukan hanya satu tanda tanya yang sudah memudar; gue tahu kenapa Nina meninggalkan gue. Tapi tanda tanya-tanda tanya baru yang makin membuat gue tidak mengerti apa yang sebenarnya gue lewatkan.

"Loh kok ke sini?" Tanya Nina saat gue berhenti di sebuah area parkir yang membuat gue sedikit terkejut karena gue juga tidak mengerti kenapa gue bisa berhenti di sini.

"Aduh, aku bengong. Maaf Nina. Tadinya mau masuk parkiran PI kenapa jadi masuk ke sini". Sahut gue sambil membaca tulisan Area parkir khusus tamu Grand Hyatt.

"Kebiasaan di Amerika yah? Eh kalo di sana sih kamu udah tinggal seatap sama dia yah ga perlu ke hotel-hotel lagi".

"Apa sih… Engga begitu Nina. Aku cuma salah ambil jalan tadi niatnya mau ke PI. Beneran… Nih aku keluar lagi". Ucap gue sambil memasukan perseneling mundur. Nina menahan tangan gue.

"Aku kangen kamu". Ucap Nina.

"…"

"Jangan salah paham. Kamu udah tau kenapa aku ninggalin kamu, tapi aku udah ketangkep basah. Dan usaha aku menghilangkan perasaan aku rusak seketika saat kamu nangkep aku bahkan di saat aku mau mencoba lari, entah gimana kamu bisa mergokin aku. Aku cuma ngerasa ini memang udah takdirnya, kan? Takdir di mana ini memang harus diselesaikan. Aku dan kamu!"

"Iyah, memang harus diselsaikan". Sahut gue sedikit bergetar.

"Tapi sebelum benar-benar diselesaikan. Aku mau egoisin diri. Boleh?"

Gue menganggukan kepala.

"Sini handphone kamu!" Nina menengadahkan tangannya.

"Buat apa?" Tanya gue.

"SINI!" Tegas Nina, lalu gue mengeluarkan handphone gue dari saku celana dan memberikannya pada Nina.

Nina mencabut baterai handphone gue, dia juga melakukan hal yang sama pada handphone-nya. Lalu melempar handphone kami ke kursi belakang. "Aku milik kamu malam ini". Ucap Nina lalu mencium punggung telapak tangan kiri gue.

Azzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Alea2212 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Halaman 19 dari 28
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
catatan-yang-terbuka
Stories from the Heart
cinta-sepekan
Stories from the Heart
kealpaan-hati
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.