alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d458ff2e83c72364b2161a7/mengapa-nato-takut-jika-perjanjian-nuklir-antara-as-dan-rusia-runtuh
Lapor Hansip
03-08-2019 20:45
Mengapa NATO Takut jika Perjanjian Nuklir antara AS dan Rusia Runtuh?
News › Internasional

Mengapa NATO Takut jika Perjanjian Nuklir antara AS dan Rusia Runtuh?


Sabtu, 3 Agustus 2019 | 13:48 WIB

Mengapa NATO Takut jika Perjanjian Nuklir antara AS dan Rusia Runtuh?

BRUSSELS, KOMPAS.com - Organisasi Kerja Sama Atlantik Utara ( NATO) yang mayoritas dihuni negara Eropa khawatir dengan runtuhnya perjanjian nuklir AS dan Rusia.


Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF) yang diteken pada 1987 kolaps setelah AS menuding Rusia menempatkan rudal penjelajah yang dianggap pelanggaran.


Sebabnya sesuai dengan INF, baik AS maupun Rusia dilarang untuk memproduksi rudal balistik, baik nuklir maupun konvensional, yang bisa melaju 500-5.500 km.


Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan pihaknya bakal menanggapi dengan terukur dan bertanggung jawab untuk mencegah risiko dari adanya rudal 9M729 Rusia.


Namun sebagaimana diberitakan BBC Jumat (2/8/2019), Stoltenberg mengaku dia tidak ingin adanya perlombaan senjata baru, atau keputusan menempatkan rudal nuklir di Eropa.


Dalam wawancara Juli lalu, Stoltenberg menjelaskan kekhawatiran jika Rusia sampai mengembangkan senjata baru dengan merujuk kepada rudal 9M729 yang dipermasalahkan.


Dia menuturkan bahwa rudal itu selain bisa dimasukkan hulu ledak nuklir, keberadaannya sulit terdeteksi, dan mampu menjangkau kota utama Eropa dalam hitungan menit.


"Ini sangat serius. INF selama ini menjadi batu penjuru dalam mencegah perlombaan senjata selama bertahun-tahun. Kini perjanjian nuklir itu runtuh," keluhnya.


Selain Stoltenberg, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga memperingatkan bahwa INF yang disebut sebagai "rem berharga dalam mencegah perang nuklir" sudah hilang.


Dia kemudian menyerukan agar AS dan Rusia mencari kesepakatan baru dalam mencari solusi terkait pengendalian senjata.

"(Kolapsnya) INF malah memperkuat, bukan mengurangi, ancaman rudal balistik," katanya.


Analis kemudian membeberkan ketakutan bahwa runtuhnya perjanjian bersejarah itu bisa membawa kepada perlombaan senjata tak hanya AS dan Rusia. Namun juga China.


Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia menginginkan adanya pembaruan dalam kesepakatan INF haruslah mencakup China, dan sempat mengklaim dua negara "tertarik" dengan usulnya.


"Kini setelah perjanjian itu berakhir, kami akan melihat perkembangan dan penempatan senjata baru," kata pakar militer Rusia, Pavel Felgenhauer.


"Jika kondisi itu terjadi, maka Rusia jauh lebih siap," lanjut Felgenhauer kepada AFP.



SUMBER :
https://internasional.kompas.com/rea...n-rusia-runtuh




Komentar :

kekhawatiran yang wajar dan masuk akal mengingat NATO 90% diisi oleh Europe Country yang berhubungan langsung dengan daratan Rusia, jadi wajar kalau mereka ketar ketir.

mereka (Eropa) pasti ingat waktu Insiden Teluk Babi di Kuba dulu dan waktu Amerika menanam bom nuklir di Eropa untuk menghadapi Uni Soviet, jadi kalau seandainya Amerika macem-macem, Rusia tinggal babat habis Eropa.

emoticon-Jempol
Diubah oleh matthysse67
profile-picture
profile-picture
riansantoso4776 dan 54m5u4d183 memberi reputasi
2
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
03-08-2019 21:45
NATO kekhawatirannya lebih ke kecanggihan dari rudal 9M729 itu sendiri, yang mempunyai kemampuan stealth, dll. Dan hal itu diakui sendiri sama Stoltenberg.

Kalau Rusia dibilang melanggar perjanjian INF keknya sih enggak ya, sebab jelajah dari rudal 9M729 itu sendiri kalau ngak keliru 300 km jadi masih dibawah 500 km-5.500 km.

Ya baiknya antara AS maupun Rusia duduk bareng mencari solusi, mencari kesepakatan bareng terkait pengendalian senjata.
0
03-08-2019 21:57
as-rusia main drama aja kontinental panik,,apalagi beneranemoticon-Ngakak
profile-picture
matthysse67 memberi reputasi
1
03-08-2019 22:50
seluruh bumi bisa musnah kalo rusia as maen perang nuklir

belum lagi akibat-akibatnya, bisa gempa perubahan iklim dsb
profile-picture
matthysse67 memberi reputasi
1
04-08-2019 00:47
Wew, Godzilla bisa bangkit beneran dah ini.
profile-picture
matthysse67 memberi reputasi
1
04-08-2019 02:46
Perang dunia ketiga?
Semoga engga, perang dunia kedua aja puluhan juta
profile-picture
matthysse67 memberi reputasi
1
04-08-2019 07:50
WWIII dah di depan mata dengan para hawkish yang gerakannya sulit dibendung...emoticon-Big Grin
Skenarionya EU bubar lalu Eropa balik bersaing mirip jaman sebelum WW1 ditambah ketakutan negara Eropa timur..emoticon-Big Grin
profile-picture
matthysse67 memberi reputasi
1
04-08-2019 09:52
Perang Nuklir
bagi yg gak produksi nuklir nonton aja. nanti kebagian ledakannya saja yahh...
iya... hemm tunggu saja
0
04-08-2019 11:17
kagak ada kaitannya, sekarang dunia lagi nunggu messiah. Red Heifer udah lahir agustus 2018, umur 3th dikorbankan buat bangun third temple di jerussalem. pastinya ngancurin dome of rock, disitulah nuklir berterbangan ato mungkin damai2 aja
0
04-08-2019 19:00
padahal belum 1 bulan ini karena lipsslip nya pejabat NATO eropa sendri, ketahuan USA dah menempatkan 150 hulu ledak Nuklir di perbatasan Ruski, yg akhirnya Ruski mempercepat proyek antibalistik missile yang baru diuji baru2 ini dan sukses....

jangan lupa USA yang keluar dari traktad ICBM tahun 2000an, sekrang dengan yang INF dengan mengatakan Ruski melanggar dulu, padahal Ruski dah mengajak NATO dan USA untuk datang kepabrikannya iskandar missile yang dituduhkan itu...

haizzzzzzzzzzzzzzzzzz
profile-picture
matthysse67 memberi reputasi
1
05-08-2019 14:32
berharap semua baik2 saja, demi keberlangsungan kehidupan anak cucu kita kedepan..
0
05-08-2019 21:11
Apakah ini salah Rusia ?. Ya gak juga, selama ini setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia sudah berusaha jadi Good Boy. Tapi pihak NATO yang masih terbawa suasana Perang Dingin (ya wajar saja sih, bagaimanapun Rusia adalah pemilik nuklir terbesar di dunia, bahkan melebihi nuklir US). Ibaratnya sekarang bukan Rusia yang front garis depannya mendekat ke Brussels (Pusatnya NATO), tapi NATO yang makin dekat ke Moskow. Wajar jika Rusia ngamuk. Bayangkan negara-negara Eropa Timur bekas pakta Warsawa macam Bulgaria dan Rumania, juga negara-negara kecil bekas Uni Soviet di Baltik macam Latvia dan Lithuania, serta negara bekas pecahan Yugoslavia macam Kroasia dan Montenegro, sekarang semuanya jadi anggota NATO. Dan saat itu Rusia tetap diam.

Serbia, sekutu tradisional Rusia dibombardir NATO tahun 1990-an, akibat krisis Bosnia dan Kosovo, Rusia juga tetap diam gak ngapa-ngapain, meskipun sebenarnya itu menyakitkan bagi banyak orang Rusia.

Hingga kemudian berkuasalah Vladimir Putin yang ingin mengembalikan supremasi Rusia. Tapi pada awal kekuasaannya pun Rusia mempertahankan keadaan status quo, gak mau ribut sama NATO. Tapi kemudian NATO dalam hal ini US berusaha menempatkan perisai rudal di Eropa Timur yang sangat dekat dengan Rusia pada era George W Bush tahun 2005-2007, yang tentu saja langsung dikecam Rusia. Pihak NATO beralasan penempatan perisai rudal itu untuk menangkis serangan rudal dari Iran, sesuatu yang gak masuk akal sama sekali. Mengantisipasi rudal para Mullah (Iran) kok ditempatkan di perbatasan Tsardom (Rusia). Sudah jelas sekali perisai rudal itu ditujukan untuk siapa. Ya Rusia.

NATO juga terus bikin gara-gara dengan Rusia, Negara-negara kecil Baltik bekas Uni Soviet adalah garis merah, cukup sampai di situ perbatasan paling timur jangan sampai lagi melintasi garis merah. Tapi perkembangan di Georgia membuat marah Rusia. Presiden Georgia Eduard Shevardnadze, bekas pimpinan komunis Uni Soviet, anggota politbiro Partai Komunis Uni Soviet era 1980-an, yang kemudian jadi Presiden Georgia setelah Uni Soviet bubar, digulingkan melalui Revolusi warna, protes rakyat. Dan tampillah orang gila ekstrim kanan Mikheil Saakashvili, yang sangat anti Rusia. Dia ingin Georgia bergabung dengan NATO, dan bikin masalah sama Rusia (khas orang far Right yang suka cari masalah), Abkhazia dan Ossetia diserang, inilah yang membuat marah Rusia, yang langsung menghajar Georgia habis-habisan dengan kekuatan militer. Lha wong negara kecil macam kutu kayak Georgia kok mau nantang Rusia yang ibaratnya adalah beruang. Ya habislah sudah. Untunglah tentara Rusia tidak menyerbu sampe Tbilisi, kalo nyerbu sampe Tbilisi mungkin Saakashvili sudah digantung. Akhirnya kekuasaan orang gila ini pun kolaps, kalah oleh oposisi, salah satu tokoh pemimpin oposisinya adalah pemain sepakbola AC Milan (tim idola gw ni) Kakha Kaladze. Akhirnya runtuhlah kekuasaan Saakashvili dan partai far right-nya dan dengan pengecutnya dia kabur jadi pelarian ke Ukraina, jadi warga negara Ukraina dan sempat jadi gubernur di Ukraina.

Setelah Georgia kemudian giliran Ukraina. Presiden Viktor Yanukovich yang pro Rusia dan terpilih 2 kali melalui pemilu demokratis, 2 kali pula digulingkan melalui aksi massa, oleh orang-orang Far Right yang menamakan dirinya Euromaidan (Pendukung Eropa), kalo yang ini bukan salah US, tapi Uni Eropa yang memanas-manasi orang Ukraina, dilihat dari namanya saja sudah jelas Euromaidan. Padahal di sini US mau mempertahankan status quo, tidak mau cari masalah sama Rusia. Akhirnya ngamuklah Rusia, Crimea dicaplok dan Ukraina Timur dijadikan arena konflik separatis. Dalam keadaan demikian Eropa yang ketakutan dan US sekali lagi harus turun tangan untuk menghandle Ukraina. Tapi beruntunglah bagi Ukraina, setelah tergulingnya Yanukovich, Presiden yang berkuasa bukan dari golongan ekstrim kanan macam Partai Sektor Kanan pimpinan Dmitri Yarosh atau Partai Svoboda yang sangat anti Rusia, Tapi yang berkuasa bisa dianggap bukan orang kuat nan badass tapi orang-orang semacam Petro Poroshenko si pedagang coklat dan sekarang malah seorang komedian alias pelawak Alexander Zelensky yang jadi Presiden. Meskipun tidak pro Rusia tapi setidaknya tidak membahayakan Rusia, kalo yang menang orang-orang kanan macam Dmitry Yarosh, yakin sudah, Putin bakalan langsung mencaplok dan menyikat seluruh Ukraina saat itu juga.

Akhirnya tibalah saatnya Rusia yang tinggal sabar menghadapi ancaman terhadap keamanan nasionalnya bertindak keras, sekalian nyemplung dalam Perang Dingin Jilid II. Tidak hanya di Eropa tapi juga di Teater Timur Tengah, mengirim pasukan ke Suriah.

Lha sekarang yang paling ketar-ketir ya Eropa, bagaimanapun anggota NATO kebanyakan ya di Eropa. Untuk saat ini jujur saja, tanpa US, front NATO di Eropa akan mudah kolaps jika diserbu Rusia, negara-negara Eropa Timur terlalu lemah untuk berhadapan dengan Rusia secara militer, cukup dibanjiri dengan ribuan tank juga bakalan nyerah. Paling gak Rusia bakalan menusuk sampe Berlin, seperti Perang Dunia II, dan Jerman pun secara militer sekarang juga bakalan kesulitan.

Apalagi front tenggara NATO sekarang itu sudah dapat dikatakan kolaps dengan mendekatnya Turki (Anggota NATO) dengan Rusia bahkan sekarang gontok-gontokan dengan US. Bagaimanapun militer Turki adalah salah satu yang terkuat di barisan NATO dan merupakan front garis depan NATO, dan sekarang front terdepan itu beraliansi dengan Rusia.

Sedangkan untuk Yunani ?. Banyak orang Yunani yang bersimpati pada Rusia (Rusophilia), karena kesamaan agama (sama-sama penganut Kristen Ortodoks Timur), demikian juga orang Bulgaria karena alasan kebangsaan (sama-sama Bangsa Slavia), dan dua negara ini anggota NATO. Di sana juga ada Serbia yang merupakan sekutu tradisional Rusia. Front Tenggara NATO ini yang bakalan kacau balau.

Dan negara-negara Eropa karena sudah beberapa tahun menikmati kedamaian dan kemakmuran, tidak ada lagi perang di Eropa, akhirnya mengabaikan urusan militer dan pertahanan. Sebagai contoh lihatlah Royal Navy atau AL Inggris sekarang, AL yang dahulu menguasai dunia yang tidak mengenal matahari terbenam, sekarang keadaannya memprihatinkan. Atau lihat juga Royal Air Force (RAF) yang sekarang juga memprihatinkan, tidak ada lagi pesawat tempur bikinan lokal mereka, ada Eurofighter tapi itu pesawat tempur gabungan Eropa.

Jerman sama saja juga cukup merana di sektor pertahanan, yang agak mendingan ya Perancis, itu karena mereka sering intervensi di Afrika yang sering dilanda peperangan, sering ikut campur itu Perancis di Afrika. Makanya kondisinya lumayan terjaga lah.

s
profile-picture
profile-picture
profile-picture
riansantoso4776 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Lihat 2 balasan
Lapor Hansip
06-08-2019 05:26
Balasan post markjankulovski
Quote:Original Posted By markjankulovski
Apakah ini salah Rusia ?. Ya gak juga, selama ini setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia sudah berusaha jadi Good Boy. Tapi pihak NATO yang masih terbawa suasana Perang Dingin (ya wajar saja sih, bagaimanapun Rusia adalah pemilik nuklir terbesar di dunia, bahkan melebihi nuklir US). Ibaratnya sekarang bukan Rusia yang front garis depannya mendekat ke Brussels (Pusatnya NATO), tapi NATO yang makin dekat ke Moskow. Wajar jika Rusia ngamuk. Bayangkan negara-negara Eropa Timur bekas pakta Warsawa macam Bulgaria dan Rumania, juga negara-negara kecil bekas Uni Soviet di Baltik macam Latvia dan Lithuania, serta negara bekas pecahan Yugoslavia macam Kroasia dan Montenegro, sekarang semuanya jadi anggota NATO. Dan saat itu Rusia tetap diam.

Serbia, sekutu tradisional Rusia dibombardir NATO tahun 1990-an, akibat krisis Bosnia dan Kosovo, Rusia juga tetap diam gak ngapa-ngapain, meskipun sebenarnya itu menyakitkan bagi banyak orang Rusia.

Hingga kemudian berkuasalah Vladimir Putin yang ingin mengembalikan supremasi Rusia. Tapi pada awal kekuasaannya pun Rusia mempertahankan keadaan status quo, gak mau ribut sama NATO. Tapi kemudian NATO dalam hal ini US berusaha menempatkan perisai rudal di Eropa Timur yang sangat dekat dengan Rusia pada era George W Bush tahun 2005-2007, yang tentu saja langsung dikecam Rusia. Pihak NATO beralasan penempatan perisai rudal itu untuk menangkis serangan rudal dari Iran, sesuatu yang gak masuk akal sama sekali. Mengantisipasi rudal para Mullah (Iran) kok ditempatkan di perbatasan Tsardom (Rusia). Sudah jelas sekali perisai rudal itu ditujukan untuk siapa. Ya Rusia.

NATO juga terus bikin gara-gara dengan Rusia, Negara-negara kecil Baltik bekas Uni Soviet adalah garis merah, cukup sampai di situ perbatasan paling timur jangan sampai lagi melintasi garis merah. Tapi perkembangan di Georgia membuat marah Rusia. Presiden Georgia Eduard Shevardnadze, bekas pimpinan komunis Uni Soviet, anggota politbiro Partai Komunis Uni Soviet era 1980-an, yang kemudian jadi Presiden Georgia setelah Uni Soviet bubar, digulingkan melalui Revolusi warna, protes rakyat. Dan tampillah orang gila ekstrim kanan Mikheil Saakashvili, yang sangat anti Rusia. Dia ingin Georgia bergabung dengan NATO, dan bikin masalah sama Rusia (khas orang far Right yang suka cari masalah), Abkhazia dan Ossetia diserang, inilah yang membuat marah Rusia, yang langsung menghajar Georgia habis-habisan dengan kekuatan militer. Lha wong negara kecil macam kutu kayak Georgia kok mau nantang Rusia yang ibaratnya adalah beruang. Ya habislah sudah. Untunglah tentara Rusia tidak menyerbu sampe Tbilisi, kalo nyerbu sampe Tbilisi mungkin Saakashvili sudah digantung. Akhirnya kekuasaan orang gila ini pun kolaps, kalah oleh oposisi, salah satu tokoh pemimpin oposisinya adalah pemain sepakbola AC Milan (tim idola gw ni) Kakha Kaladze. Akhirnya runtuhlah kekuasaan Saakashvili dan partai far right-nya dan dengan pengecutnya dia kabur jadi pelarian ke Ukraina, jadi warga negara Ukraina dan sempat jadi gubernur di Ukraina.

Setelah Georgia kemudian giliran Ukraina. Presiden Viktor Yanukovich yang pro Rusia dan terpilih 2 kali melalui pemilu demokratis, 2 kali pula digulingkan melalui aksi massa, oleh orang-orang Far Right yang menamakan dirinya Euromaidan (Pendukung Eropa), kalo yang ini bukan salah US, tapi Uni Eropa yang memanas-manasi orang Ukraina, dilihat dari namanya saja sudah jelas Euromaidan. Padahal di sini US mau mempertahankan status quo, tidak mau cari masalah sama Rusia. Akhirnya ngamuklah Rusia, Crimea dicaplok dan Ukraina Timur dijadikan arena konflik separatis. Dalam keadaan demikian Eropa yang ketakutan dan US sekali lagi harus turun tangan untuk menghandle Ukraina. Tapi beruntunglah bagi Ukraina, setelah tergulingnya Yanukovich, Presiden yang berkuasa bukan dari golongan ekstrim kanan macam Partai Sektor Kanan pimpinan Dmitri Yarosh atau Partai Svoboda yang sangat anti Rusia, Tapi yang berkuasa bisa dianggap bukan orang kuat nan badass tapi orang-orang semacam Petro Poroshenko si pedagang coklat dan sekarang malah seorang komedian alias pelawak Alexander Zelensky yang jadi Presiden. Meskipun tidak pro Rusia tapi setidaknya tidak membahayakan Rusia, kalo yang menang orang-orang kanan macam Dmitry Yarosh, yakin sudah, Putin bakalan langsung mencaplok dan menyikat seluruh Ukraina saat itu juga.

Akhirnya tibalah saatnya Rusia yang tinggal sabar menghadapi ancaman terhadap keamanan nasionalnya bertindak keras, sekalian nyemplung dalam Perang Dingin Jilid II. Tidak hanya di Eropa tapi juga di Teater Timur Tengah, mengirim pasukan ke Suriah.

Lha sekarang yang paling ketar-ketir ya Eropa, bagaimanapun anggota NATO kebanyakan ya di Eropa. Untuk saat ini jujur saja, tanpa US, front NATO di Eropa akan mudah kolaps jika diserbu Rusia, negara-negara Eropa Timur terlalu lemah untuk berhadapan dengan Rusia secara militer, cukup dibanjiri dengan ribuan tank juga bakalan nyerah. Paling gak Rusia bakalan menusuk sampe Berlin, seperti Perang Dunia II, dan Jerman pun secara militer sekarang juga bakalan kesulitan.

Apalagi front tenggara NATO sekarang itu sudah dapat dikatakan kolaps dengan mendekatnya Turki (Anggota NATO) dengan Rusia bahkan sekarang gontok-gontokan dengan US. Bagaimanapun militer Turki adalah salah satu yang terkuat di barisan NATO dan merupakan front garis depan NATO, dan sekarang front terdepan itu beraliansi dengan Rusia.

Sedangkan untuk Yunani ?. Banyak orang Yunani yang bersimpati pada Rusia (Rusophilia), karena kesamaan agama (sama-sama penganut Kristen Ortodoks Timur), demikian juga orang Bulgaria karena alasan kebangsaan (sama-sama Bangsa Slavia), dan dua negara ini anggota NATO. Di sana juga ada Serbia yang merupakan sekutu tradisional Rusia. Front Tenggara NATO ini yang bakalan kacau balau.

Dan negara-negara Eropa karena sudah beberapa tahun menikmati kedamaian dan kemakmuran, tidak ada lagi perang di Eropa, akhirnya mengabaikan urusan militer dan pertahanan. Sebagai contoh lihatlah Royal Navy atau AL Inggris sekarang, AL yang dahulu menguasai dunia yang tidak mengenal matahari terbenam, sekarang keadaannya memprihatinkan. Atau lihat juga Royal Air Force (RAF) yang sekarang juga memprihatinkan, tidak ada lagi pesawat tempur bikinan lokal mereka, ada Eurofighter tapi itu pesawat tempur gabungan Eropa.

Jerman sama saja juga cukup merana di sektor pertahanan, yang agak mendingan ya Perancis, itu karena mereka sering intervensi di Afrika yang sering dilanda peperangan, sering ikut campur itu Perancis di Afrika. Makanya kondisinya lumayan terjaga lah.

s


emoticon-Matabelo lebih menjanjikankah blok timur ketimbang barat?
0
Lapor Hansip
06-08-2019 07:47
Balasan post markjankulovski
Quote:Original Posted By markjankulovski
Apakah ini salah Rusia ?. Ya gak juga, selama ini setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia sudah berusaha jadi Good Boy. Tapi pihak NATO yang masih terbawa suasana Perang Dingin (ya wajar saja sih, bagaimanapun Rusia adalah pemilik nuklir terbesar di dunia, bahkan melebihi nuklir US). Ibaratnya sekarang bukan Rusia yang front garis depannya mendekat ke Brussels (Pusatnya NATO), tapi NATO yang makin dekat ke Moskow. Wajar jika Rusia ngamuk. Bayangkan negara-negara Eropa Timur bekas pakta Warsawa macam Bulgaria dan Rumania, juga negara-negara kecil bekas Uni Soviet di Baltik macam Latvia dan Lithuania, serta negara bekas pecahan Yugoslavia macam Kroasia dan Montenegro, sekarang semuanya jadi anggota NATO. Dan saat itu Rusia tetap diam.

Serbia, sekutu tradisional Rusia dibombardir NATO tahun 1990-an, akibat krisis Bosnia dan Kosovo, Rusia juga tetap diam gak ngapa-ngapain, meskipun sebenarnya itu menyakitkan bagi banyak orang Rusia.

Hingga kemudian berkuasalah Vladimir Putin yang ingin mengembalikan supremasi Rusia. Tapi pada awal kekuasaannya pun Rusia mempertahankan keadaan status quo, gak mau ribut sama NATO. Tapi kemudian NATO dalam hal ini US berusaha menempatkan perisai rudal di Eropa Timur yang sangat dekat dengan Rusia pada era George W Bush tahun 2005-2007, yang tentu saja langsung dikecam Rusia. Pihak NATO beralasan penempatan perisai rudal itu untuk menangkis serangan rudal dari Iran, sesuatu yang gak masuk akal sama sekali. Mengantisipasi rudal para Mullah (Iran) kok ditempatkan di perbatasan Tsardom (Rusia). Sudah jelas sekali perisai rudal itu ditujukan untuk siapa. Ya Rusia.

NATO juga terus bikin gara-gara dengan Rusia, Negara-negara kecil Baltik bekas Uni Soviet adalah garis merah, cukup sampai di situ perbatasan paling timur jangan sampai lagi melintasi garis merah. Tapi perkembangan di Georgia membuat marah Rusia. Presiden Georgia Eduard Shevardnadze, bekas pimpinan komunis Uni Soviet, anggota politbiro Partai Komunis Uni Soviet era 1980-an, yang kemudian jadi Presiden Georgia setelah Uni Soviet bubar, digulingkan melalui Revolusi warna, protes rakyat. Dan tampillah orang gila ekstrim kanan Mikheil Saakashvili, yang sangat anti Rusia. Dia ingin Georgia bergabung dengan NATO, dan bikin masalah sama Rusia (khas orang far Right yang suka cari masalah), Abkhazia dan Ossetia diserang, inilah yang membuat marah Rusia, yang langsung menghajar Georgia habis-habisan dengan kekuatan militer. Lha wong negara kecil macam kutu kayak Georgia kok mau nantang Rusia yang ibaratnya adalah beruang. Ya habislah sudah. Untunglah tentara Rusia tidak menyerbu sampe Tbilisi, kalo nyerbu sampe Tbilisi mungkin Saakashvili sudah digantung. Akhirnya kekuasaan orang gila ini pun kolaps, kalah oleh oposisi, salah satu tokoh pemimpin oposisinya adalah pemain sepakbola AC Milan (tim idola gw ni) Kakha Kaladze. Akhirnya runtuhlah kekuasaan Saakashvili dan partai far right-nya dan dengan pengecutnya dia kabur jadi pelarian ke Ukraina, jadi warga negara Ukraina dan sempat jadi gubernur di Ukraina.

Setelah Georgia kemudian giliran Ukraina. Presiden Viktor Yanukovich yang pro Rusia dan terpilih 2 kali melalui pemilu demokratis, 2 kali pula digulingkan melalui aksi massa, oleh orang-orang Far Right yang menamakan dirinya Euromaidan (Pendukung Eropa), kalo yang ini bukan salah US, tapi Uni Eropa yang memanas-manasi orang Ukraina, dilihat dari namanya saja sudah jelas Euromaidan. Padahal di sini US mau mempertahankan status quo, tidak mau cari masalah sama Rusia. Akhirnya ngamuklah Rusia, Crimea dicaplok dan Ukraina Timur dijadikan arena konflik separatis. Dalam keadaan demikian Eropa yang ketakutan dan US sekali lagi harus turun tangan untuk menghandle Ukraina. Tapi beruntunglah bagi Ukraina, setelah tergulingnya Yanukovich, Presiden yang berkuasa bukan dari golongan ekstrim kanan macam Partai Sektor Kanan pimpinan Dmitri Yarosh atau Partai Svoboda yang sangat anti Rusia, Tapi yang berkuasa bisa dianggap bukan orang kuat nan badass tapi orang-orang semacam Petro Poroshenko si pedagang coklat dan sekarang malah seorang komedian alias pelawak Alexander Zelensky yang jadi Presiden. Meskipun tidak pro Rusia tapi setidaknya tidak membahayakan Rusia, kalo yang menang orang-orang kanan macam Dmitry Yarosh, yakin sudah, Putin bakalan langsung mencaplok dan menyikat seluruh Ukraina saat itu juga.

Akhirnya tibalah saatnya Rusia yang tinggal sabar menghadapi ancaman terhadap keamanan nasionalnya bertindak keras, sekalian nyemplung dalam Perang Dingin Jilid II. Tidak hanya di Eropa tapi juga di Teater Timur Tengah, mengirim pasukan ke Suriah.

Lha sekarang yang paling ketar-ketir ya Eropa, bagaimanapun anggota NATO kebanyakan ya di Eropa. Untuk saat ini jujur saja, tanpa US, front NATO di Eropa akan mudah kolaps jika diserbu Rusia, negara-negara Eropa Timur terlalu lemah untuk berhadapan dengan Rusia secara militer, cukup dibanjiri dengan ribuan tank juga bakalan nyerah. Paling gak Rusia bakalan menusuk sampe Berlin, seperti Perang Dunia II, dan Jerman pun secara militer sekarang juga bakalan kesulitan.

Apalagi front tenggara NATO sekarang itu sudah dapat dikatakan kolaps dengan mendekatnya Turki (Anggota NATO) dengan Rusia bahkan sekarang gontok-gontokan dengan US. Bagaimanapun militer Turki adalah salah satu yang terkuat di barisan NATO dan merupakan front garis depan NATO, dan sekarang front terdepan itu beraliansi dengan Rusia.

Sedangkan untuk Yunani ?. Banyak orang Yunani yang bersimpati pada Rusia (Rusophilia), karena kesamaan agama (sama-sama penganut Kristen Ortodoks Timur), demikian juga orang Bulgaria karena alasan kebangsaan (sama-sama Bangsa Slavia), dan dua negara ini anggota NATO. Di sana juga ada Serbia yang merupakan sekutu tradisional Rusia. Front Tenggara NATO ini yang bakalan kacau balau.

Dan negara-negara Eropa karena sudah beberapa tahun menikmati kedamaian dan kemakmuran, tidak ada lagi perang di Eropa, akhirnya mengabaikan urusan militer dan pertahanan. Sebagai contoh lihatlah Royal Navy atau AL Inggris sekarang, AL yang dahulu menguasai dunia yang tidak mengenal matahari terbenam, sekarang keadaannya memprihatinkan. Atau lihat juga Royal Air Force (RAF) yang sekarang juga memprihatinkan, tidak ada lagi pesawat tempur bikinan lokal mereka, ada Eurofighter tapi itu pesawat tempur gabungan Eropa.

Jerman sama saja juga cukup merana di sektor pertahanan, yang agak mendingan ya Perancis, itu karena mereka sering intervensi di Afrika yang sering dilanda peperangan, sering ikut campur itu Perancis di Afrika. Makanya kondisinya lumayan terjaga lah.

s


jangan lupa memanasnnya tentang nukewarhead
0
06-08-2019 15:00
Jelaslah NATO takut karena tanpa INF treaty, jelas security dari negara-negara European menjadi terancam.. Russia bisa menyerang Europe dengan tiba-tiba dengan nuclear weapon nya..

emoticon-Angkat Beer

0
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.