alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd416f0337f936916304401/prekuel-sebelum-karma
Lapor Hansip
09-05-2019 19:02
[Prekuel] Sebelum Karma
Past Hot Thread
[Prekuel] Sebelum Karma


Quote:
Prolog


Pada suatu waktu, gue pernah bertanya pada diri gue sendiri; Bagaimana kelak keadaan disekitar gue ketika gue pergi? Ketika gue gak lagi bisa mengusahakan untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin udah terlanjur terjadi. Ketika kesalahan gue adalah satu-satunya kenangan yang sempat gue tinggalkan. Ketika gue gak lagi bisa membuka pintu yang telah gue tutup dengan membantingnya berulang kali.

Gue selalu percaya, bahwa apapun yang terjadi dalam dunia yang kita tempati saat ini adalah sejalan dengan apa yang telah Dia tuliskan dalam buku 'skenario' -Nya.Tapi, sebagian kecil dalam hati gue berusaha mempertanyakan; Apakah segala kesalahan yang Lo, Gue dan Kita lakukan juga masih bagian dalam 'skenario' itu? Gue rasa gue bukan orang yang punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang mungkin akan menyulut sebuah perdebatan; bukan dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri. Soal layak atau tidaknya  Gue memperjuangkan kembali jalan yang telah jauh gue lalui. Soal sanggup atau tidaknya gue untuk terus melangkah dengan kepala tegap meski sesal yang berbalut benci masih tertanam di dasar hati.

Karna pada akhirnya, setiap langkah yang gue ambil selalu membawa gue pada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Pada cerita-cerita yang mungkin bisa saja terjadi, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Pada kejadian-kejadian yang kelak menjadi gumpalan kenangan, atau malah menjadi penyesalan yang sama sekali gak berarti. Atau pada kenyataan yang akhirnya harus gue hadapi –mungkin dengan meratapi, atau justru malah mensyukuri.

Dan gue tau, sebelum gue berada di titik dimana gue sangat amat bersyukur dengan segala yang gue terima dan miliki saat ini, Gue pernah terkapar di suatu malam meratapi apa yang telah gue lewatkan. Gue pernah menyesal sejadinya atas kesalahan yang telah gue lakukan. Gue pernah memaki dan mengutuk kebodohan yang dengan mudahnya gue lakukan untuk menangisinya kemudian. Hingga bagi gue, gak ada satu rangkai kata pun dapat gue tulis tanpa mengecap manis dan pahitnya jalan yang pernah gue tapaki langkah demi langkah, untuk menjadi seorang Bagus Mahendra seperti saat ini.


*****


“Itu lagu siapa deh? Kayanya gue pernah denger.” Tanya  dia setelah gue menyelesaikan lagu yang baru saja gue nyanyikan.

Gue meletakkan gitar bersandar di pinggiran tembok balkon yang tengah gue duduki, dan hanya menjawabnya dengan senyuman. Sengaja membuat dia penasaran. Karna anak ini kalo udah penasaran bakal setengah mati berusaha untuk mencari tahu.

“iish. Lagu siapa Gus?! Jangan resek aah. Gue beneran lupa. Liriknya juga tadi agak kurang jelas gue dengernya. Tapi gueyakin gue kenal nadanya.” Ucapnya dengan gemas sambil bangun dari kasurnya dan menghampiri gue.

Dia lalu menaiki tembok balkon depan kamarnya dan duduk disamping gue, kemudian menarik-narik rambut gue dengan sedikit kesal. Gue hanya tertawa meladeninya. Hingga akhirnya tarikannya terasa semakin sakit karna dia mulai beneran kesel.

“Iyaa.. Iyaa. Ampun. Lepas dulu.” Ucap gue menyerah karna dia semakin benar-benar keras menarik rambut gue.

“The second you sleep –nya Saybia.” Sambung gue cepat sambil mengusap-usap kepala yang kini beneran berasa sakit di kulitnya.

Dia yang gak merasa bersalah setelah menyiksa gue kemudian kembali berjalan kedalam kamarnya dan setengah melompat ke atas kasur lalu mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu yang gue duga dia lagi nyari lirik lagu yang tadi guesebut judulnya.

You close your eyes, and leave me naked by your side. You close the door so I can’t see, the love you keep inside, the love you keep for me..” Gue mengambil dan memetik gitar dengan perlahan sambil menyenandungkan lirik awal lagu yang tadi udah gue nyanyikan.

Dia mengangkat wajahnya yang tadi sempat menunduk memperhatikan handphone ditangannya. Kedua bola matanya menatap tepat ke dalam mata gue. Bola mata yang dulu selalu gue puja warna dan keindahannya. Bola mata yang kemudian sempat gue benci setiap kali terbayang dengan mudahnya didalam kepala gue.

I stay to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. It gives me time to stay, to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. I wish by god you`d stay..”

Dia bersenandung pelan dengan irama yang sedikit berantakan. Meski sama sekali gak mengurangi keindahan senandungnya. Sebuah senandung yang entah bagaimana caranya membuat gue gak mampu mengalihkan pandangan dari wajahnya. Membuat gue mungkin harus berulang kali mengeja namanya untuk dapat sejenak menepikan nama wanita yang saat ini telah berhasil mengobati rasa kecewa saat gue dulu merasa di sia-siakan. Meski membutuhkan waktu cukup lama sejak dia memutuskan untuk mengikuti emosi sesaatnya kala itu.

Gue melihat jelas genangan air disudut matanya yang tengah ia pertahankan untuk gak menetes kepipinya.

I wish by god you`ll stay..”

Ia mengucapkannya sekali lagi dengan suara yang kini bergetar. Dan tetesan air yang akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Yang kemudian menyelimuti gue dalam sesaknya rasa sesal yang sempat mengucapkan bahwa gue gak akan pernah menetap disana. Di dalam hatinya yang juga basah meski tak terkena tumpahan air mata.





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panjang.kaki dan 22 lainnya memberi reputasi
-15
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 15 dari 16
01-08-2019 14:46
ijin neduh..
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
01-08-2019 22:55
Quote:Original Posted By nichi07
waahhh dah panjang aja yeee updetan...

Bor, smangat bor.. bakalan nambah kerjaan lu yee emoticon-Leh Uga


Enggaa. Ga bakalan ada kerjaan tambahan

emoticon-Ngakak
0
01-08-2019 23:02
Quote:Original Posted By ucln
Enggaa. Ga bakalan ada kerjaan tambahan

emoticon-Ngakak


wkwkwk
traktiran nya di tunggu bor. pisang 2 tandan emoticon-Ngakak (S)
0
02-08-2019 08:29
seru nih, pantengin ahemoticon-Shakehand2
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
05-08-2019 20:03
Part #26

Gue mendengar teriakkan Nyokap yang berulang kali memanggil nama gue dengan maksud membangunkan gue yang masih asik tertidur di kamar. Namun gue merasa enggan menjawab dan memutuskan untuk menutup telinga gue dengan bantal dan berniat meneruskan tidur gue. Masa iya disaat liburan sekolah seperti ini gue masih harus tetap bangun pagi juga. Batin gue sambal kembali mencoba sesegera mungkin untuk terlelap.

Nyatanya ga semudah itu. Nyokap masuk ke kamar gue dan menyalakan lampu, lalu mematikan kipas angin yang gue biarkan dalam posisi idle menyorot ke arah gue. Dan karna kamar gue sumpek kebanyakan barang, maka ga butuh waktu satu menit buat gue merasa kegerahan saat kipas angin itu dimatikan oleh Nyokap. Dan usaha Nyokap membangunkan gue dengan cara tersebut pun ternyata berjalan mulus baginya. Hal itu langsung membuat gue bangun dan duduk diatas kasur dengan rasa kesal.

“Cepet bangun, cuci muka. Mama tunggu di depan.” Ucap Nyokap sambil keluar dari kamar gue.

Gue menghela napas sejenak, kemudian menuruti perintah beliau.

Di ruang tamu, Nyokap dan Bokap gue tengah duduk dengan sebuah raport bersampul abu-abu bertuliskan logo sekolah gue tergeletak diatas meja. Adam melirik sejenak kearah gue saat gue hadir dan segera duduk bersama mereka. Gue tau banget maksud Nyokap gue mau sok-sokan ‘menghakimi’ gue seakan nilai raport gue jelek dan ga memuaskan atau ga sesuai hasil kesepakatan kami. Tapi gue tetep sok kalem, karna gue tau dari Astrid dan Nia bahwa gue dapet ranking 3 di kelas, yang mana itu adalah sesuai dengan kesepakatan gue dengan Nyokap.

“Gimana nih, hasilnya ga sesuai tarohan kita. Kamu kalah ya berarti.” Ucap Nyokap membuka omongan.

Gue hanya tertawa kecil mendengar ucapan Nyokap yang sesuai dengan tebakan gue. Lalu gue memutuskan berpura-pura kecewa dan memasang wajah memelas seakan ga siap untuk menerima konsekuensi dari kekalahan gue. Kemudian gue mengambil raport gue yang diletakkan diatas meja, lalu membukanya hingga ke lembaran yang berisi hasil nilai gue secara keseluruhan. Dimana pada bagian bawah tertulis gue mendapatkan peringkat ke 3 dari 40 siswa di kelas.

Baru saja gue tersenyum membaca hasil tersebut, Nyokap langsung memeluk gue dengan sedikit memaksa dan mencium pipi gue berulang kali. Selalu seperti itu lah Nyokap gue memperlakukan gue jika ia merasa senang atas apa yang gue lakukan. Seolah gue ini masih anak kecil yang sama ketika gue berhasil mendapat juara ke 2 lomba hafalan surat-surat pendek Al Quran saat kelas 1 SD dulu. Bokap dan Adam pun hanya tertawa sambil menggelengkan kepala. Sesekali Adam mengacak-acak rambut gue dan Bokap menepuk pundak gue. Sepertinya, begitulah cara mereka mengucapkan selamat atas ‘kemenangan’ gue kali ini. Meski pengetahuan mereka, semua yang gue dapatkan di dalam lembar kertas raport itu adalah hasil negosiasi terbaik yang pernah gue lakukan semasa SMA.

Setelah mendapat ucapan selamat dan pengakuan kemenangan taruhan dari Nyokap, gue bergegas mandi. Karna kali ini Nyokap melarang gue untuk makan sebelum gue mandi. Katanya makan pagi ini spesial untuk merayakan kemenangan gue meski hanya dengan menu seadanya. Selesai mandi dan makan, gue kembali ke kamar. Niatnya mau main PS sama Adam. Namun Nyokap kembali memanggil dan memberikan sebuah bungkusan kotak yang katanya ‘hadiah’ atas kemenangan gue. Sejujurnya gue menebak itu adalah sepatu karna dibungkus dengan kotak yang agak besar sebesar kotak sepatu. Namun saat gue buka, ada kotak yang lebih kecil lagi di dalamnya, yang ternyata adalah sebuah handphone N*kia dengan type 66**. Handphone yang saat itu gue tau belum lama di pasarkan di Indonesia. Handphone yang membuat gue merasa sepertinya ingin gue miliki karna memiliki fitur kamera dan tentu saja pemutar musik lengkap dengan earphone nya.

Gue tentu saja kegirangan menerima hadiah ini. Ah, rasanya uang jajan yang gue korbankan untuk ‘berdamai’ dengan Pak Umar di setiap ulangan dan ujian praktek itu ga ada apa-apanya jika digantikan dengan handphone yang diberikan Nyokap ke gue saat ini. Bokap gue kemudian memberikan sebuah kartu perdana dengan sampul plastik berwarna merah yang menjadi ciri khas operator seluler tersebut. Gue menerimanya dan membaca nomor telephone yang tertera diatas sampul yang artinya itu adalah nomor handphone gue. Adam kemudian dengan senang hati menawarkan bantuan untuk memasangkan kartu perdana tersebut dan mengaktifkannya di handphone gue. Selain karna Adam lebih mengerti caranya karna dia sudah lebih dulu memiliki dan menggunakan handphone, juga karna gue emang lebih suka tinggal pakai daripada harus repot mengutak atik handphone yang gue ga begitu ngerti cara mensetup awalnya itu.

Adam baru memberikan handphone itu ke gue setelah dia selesai melakukan setup yang menurutnya kini gue hanya tinggal memakainya saja. Adam juga sudah memasukkan beberapa lagu kesukaan gue ke dalam handphone gue dan gue tentu jadi semakin kegirangan karna bisa selalu mendengarkan lagu-lagu yang gue suka tanpa harus memutarnya melalui vcd di ruang tamu yang harus melalui perdebatan dulu dengan nyokap.

Setelah memegang penuh dan sedikit memahami cara menggunakan hp ini, Gue kemudian mengirim pesan atau sms ke Maul, berniat menanyakan nomor handphone Nia.

“Dam, sms gue ini tandanya udah masuk kan ya ke Maul? Kok kagak dibales?” tanya gue karna merasa terlalu lama menunggu balasan dari Maul.

“Mana gue tau. Ya tunggu aja sih ntar juga kalo dia baca sms lo pasti dia bales.”

“Ah kelamaan. Gue telpon aja kali ya?”

“Bodo amat.” Ucap Adam sambil mematikan PS dan TV lalu keluar dari kamar gue.

Tuutt..
Tuutt..

“Halo?” Suara Maul terdengar dari ujung sana.

“Ul, nomor Nia berapa kunyuk? Gue sms kagak dibales.”

“Ini siapa?”

“Gue Bagus. Buruan mana nomer Nia.”

“Lah, handphone baru nih kayanya. Kirimin pulsa dulu ntar gue bales sms lo. Lagian ngapa pake simp*ti sih kan mahal kalo gue bales sms lo.”

“Emang ngaruh ya? Handphone lo aja kali jelek jadi kalo sms mahal.” Ledek gue sambil mentertawakan Maul.

“Bags*t. ga ngaruh di handphone lah. Yaudah ntr gue smsin nomer Nia.”

Tuut.. tuut.. tuuutt..

Maul mematikan panggilan gue dan entah kenapa gue merasa kesal. Sialan itu anak, gue yang nelpon kan harusnya gue yang matiin duluan. Ucap gue sambil ngomong sendiri ke handphone.

Ga lama kemudian sebuah sms masuk dan muncul di layar handphone gue. Dengan isi pesan sms yang menggunakan bahasa sms, disingkat-singkat

Maul : nmr na nia g ad, ad na nmr na sisil, 08565xx1xx
Gue : sama aja, bangs*t.

Gue pun segera menyimpan nomor Nia dan mencoba mengirimkan sms iseng padanya.

Gue : Hai cewek, boleh kenalan?

Sebuah sms iseng yang konyol gue kirimkan dan terkirim ke nomor Nia. Namun gue menunggu hingga adzan maghrib tapi ga ada balasan darinya. Sepertinya itu anak masih tidur siang sampe gini hari. Pikir gue. Lalu gue meletakkan handphone di atas kasur dan bergegas menyusul Adam yang sejak tadi mengajak gue sholat bareng di msuhola.

Malamnya, saat gue lagi-lagi sedang kembali sibuk mengutak atik handphone gue, Adam menghampiri ke kamar gue dan mengajak gue nongkrong ke tempat temen-temen gue.

Oh ya, kalo di lingkungan rumah, gue punya 8 orang temen yang gue kenal sejak gue SD dan SMP. Yang sejak SD bernama Dwi. Seinget gue, selama 6 tahun masa SD itu gue selalu sekelas sama Dwi dan hampir selalu berangkat dan pulang sekolah bareng. Di masa SD itu juga, gue mengikuti sebuah kelompok belajar mengaji di luar sekolah, dan disana gue mengenal Anwar. Gue mengenalnya karna dia adalah saingan terberat gue yang memiliki kemampuan menghapal Surat-surat di Al Quran dengan sangat cepat dan tepat. Gue kemudian jadi sering bermain bersamanya karna rumahnya juga ga jauh dari rumah gue, lalu gue mengenalkannya dengan Dwi. Kemudian di masa SMP, gue berteman dengan Adi, Gunawan, dan Yanto. Rumah mereka ternyata ga jauh dari rumah Anwar. Dan bahkan mereka juga mengenal Anwar. Namun gue baru mengenal mereka karna gue satu sekolah dengan mereka bertiga di tingkat SMP. Dan dikemudian hari, dengan mereka bertiga gue awal mula belajar memainkan alat-alat musik lalu membentuk grup band bersama mereka di kelas 2 SMP. Dengan mereka bertiga, gue mendapatkan juara ke 4 band favorit dalam sebuah festival yang diadakan di suatu daerah di Jakarta Selatan saat malam sebelum ujian nasional tingkat SMP, yang kemudian membuat gue gagal dapet nilai bagus untuk masuk SMA negeri. Dalam perjalanan pertemanan kami, tentu saja gue juga mengenalkan Dwi pada mereka bertiga.

Kemudian ada 3 orang temen main Adam yang rumahnya masih di sekitaran rumah gue. Maka kami menggabungkan tongkrongan kami di suatu tempat, yaitu dirumah Yoga, temennya Adam. Disana biasanya tiap malem kami main nongkrong bareng. Kami bersepuluh (8 orang temen tambah gue dan Adam) tumbuh bareng dari SD dan SMP dan bersahabat sampai sekarang di masa SMA. Meski ga semuanya satu sekolah bareng, tapi kami selalu menyempatkan untuk main bersama atau sekedar nongkrong malem meski Cuma ngobrol atau main kartu sambil sok-sokan belajar ngerokok.

Malam itu gue mengikuti Adam main ke tempat sahabat kecil gue. Tentu saja karna gue ga terbiasa main bawa handphone maka gue meninggalkan handphone gue di rumah. Gue ga ngerti gimana caranya, namun kami bersembilan nyaris selalu hadir berbarengan ke rumah Yoga. Hampir tiap malam. Mungkin malah hanya gue yang paling jarang main akhir-akhir ini karna Nyokap selalu ngoceh kalo gue main sama mereka dianggapnya gue pasti mau main band. Dan malam itu, seperti biasa kami hanya ngobrol sambil main kartu dan merokok. Tentu saja ditemani dengan beberapa gelas kopi yang kami minum bergantian bersama.

Kemudian, gue ga inget awalnya gimana, tiba-tiba Dwi mengajak gue dan temen-temen yang lain untuk mengisi liburan sekolah dengan camping di sebuah pulau di deretan Kepulauan Seribu. Gue yang ga pernah camping dan juga ga pernah ke Kepulauan Seriubu tentu saja antusias untuk ikut. Tapi beberapa temen gue malah ga berminat. Selain memang akan memakan biaya yang ‘lumayan’, juga camping menurut mereka hanya menyusahkan diri sendiri. Ngapain ribet-ribet tidur di tenda kalo bisa tidur nyenyak diatas kasur? Begitu pemikiran mereka.

Setelah berdebat singkat. Maka ternyata hanya gue dan Dwi yang berencana untuk berangkat. Temen-temen gue yang lain pun meremehkan keseriusan kami berangkat dan menganggap hanya akan jadi wacana semata. Namun gue dan Dwi tetap serius merencanakan keberangkatan kami.

Menurut Dwi, dia punya kenalan teman di sebuah pulau disana, dari kakak kelasnya di SMA. Kemudian gue dan Dwi memutuskan akan berangkat hari selasa, 3 hari dari malam ini. Dwi bilang akan mengajak 3 orang temen sekolahnya. 1 cowok, 2 cewek. Maka gue pun meyampaikan akan mengajak Nia, yang gue bilang ke Dwi sebagai temen gue. Gatau kenapa waktu itu gue ga kepikiran buat ngajak Ryan dan Maul. Padahal harusnya dengan mereka berdua gue yakin akan seru kalo camping bareng.

Malam hari saat gue pulang ke rumah, Nyokap memberitahu bahwa tadi Nia menelpon gue. Beliau juga bilang tadi sempat ngobrol sama Nia dan sayangnya Nyokap gue memberitahukan ke Nia bahwa gue sekarang punya handphone. Bahkan Beliau sampai memberitahukan nomor handphone gue. Gue langsung bergegas ke kamar dan mengambil handphone gue. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan di kotak masuk.

Nia : Iiish, ini km y Gus? Untung gk langsung ak delete smsnya. Sok2 ngajak kenalan.
Nia : Gus? Km main kmn? Gk bawa hp?
Nia : Gus km gk ada pulsa apa gk bawa hp sih?
Nia : Ak tlp gk diangkat2

Gue tertawa kecil membaca seluruh pesan yang masuk dari Nia. Gue bahkan sempat harus mengeja kata per kata dalam membaca SMS Nia yang diketik singkat-singkat begitu. Baru saja gue berniat membalas smsnya, sebuah sms baru lagi-lagi dari Nia tiba-tiba masuk.

Nia : Gus ud plg blm?

Gue pun segera membalas sms tersebut sambil tertawa. Yang kemudian jadi saling berbalas sms dengannya.

Gue : bentar, gue bingung mau bales sms lo yang mana duluan.
Nia : Iish, gk usah dibls smua jg satu2. Ini km ud drmh?
Gue : drmh itu apaan sih maksudnya?
Nia : DIRUMAH
Gue : oh. Udah. Ini baru sampe rumah. Eh Ni, hari selasa gue sama temen gue mau camping di pulau seribu. Mau ikut ga?

Sms terakhir gue ga ada balasan apapun dari Nia. Gue menunggu lumayan lama sampe akhirnya malah ketiduran. Dan gue kaget sampe kebangun karna handphone gue berdering lumayan kenceng karna nada dering default untuk panggilan masuk nya lupa gue matiin seperti nada sms yang udah gue matiin duluan. Gue melihat ke layar handphone yang agak kekuningan dan mendapatkan sebuah nomor yang ga gue kenal. Tapi sepertinya bukan nomor handphone karna nomornya +622179*****

Gue menjawab panggilan tersebut tanpa mengucapkan apapun.

“Halo? Gus?”

Suara yang terdengar adalah suara Nia. Gue kembali melihat ke layar handphone gue dan merasa bingung. Kok suara Nia? Tapi nomornya ga muncul dengan nama Nia. Perasaan udah gue save nomornya. Di sms pun ada namanya Nia. Pikir gue dengan setengah sadar karna masih ngantuk.

“Ini siapa?” tanya gue.

“Hmm? Kamu tidur ya? Masa suara aku kamu ga ngenalin sih parah banget.”

“Ooh, enggak. Ini soalnya suaranya kecil. Hp nya rusak kali. Lo nelpon dari mana? Kok sms gue ga dibales tadi?”

“Iya, tau-tau pulsa aku abis. Aku kirain kamu yang ga bales lagi sms aku, ternyata sms balesan aku ga kekirim. Ini makanya aku nelpon pake telpon rumah.”

“Ooh kirain lo yang ketiduran. Terus gimana mau ikut ga selasa besok?”

“Mau sih. Tapi aku bilangnya apa ya sama Mama aku?”

“Bilang aja mau camping. Emang kenapa musti bohong?”

“Ya enggak kenapa-kenapa sih. Cuman kalo camping gitu pasti sama Mama aku ga dibolehin. Aku kan mana pernah ikut camping camping gitu Gus.”

“Terus gimana? Perlu gue yang ngomong ke Nyokap lo?”

“Emang kamu mau ngomong ke Mama? Maksudnya berani mintain izin?”

Setelah itu gue membuat janji akan kerumah Nia untuk meminta izin pada Nyokapnya bahwa gue akan mengajak Nia camping. Kemdian gue pamit untuk menghentikan obrolan lewat telepon karna emang udah terlalu malem, hampir jam 2 pagi. Mata gue juga udah berasa pengen minta dimeremin terus. Nia mengiyakan dan mengakhiri panggilan teleponnya.

Besoknya, sekitar jam 1 siang gue udah dirumah Nia. Setelah ngobrol basa basi sama Nyokapnya, gue pun meminta izin pada beliau bahwa gue akan mengajak anaknya camping. Ternyata beliau mengizinkan dan mempersilahkan. Namun berpesan agar gue menjaga Nia karna menurut beliau Nia ga akan kuat untuk tidur di tenda atau bahkan terkena angin malam. Gue mengiyakan tanda menyanggupi. Lalu gue dan Nia kembali turun ke lantai bawah, ke ruang tamu, untuk menuliskan keperluan apa saja yang gue ingin Nia siapkan untuk dibawa selama camping besok.
Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aripindoank dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Lihat 1 balasan
05-08-2019 20:30
mantaap akhirnya yg ditunggu dateng juga emoticon-2 Jempol
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
07-08-2019 09:21
mantap bor..akhirnya update juga...bata dikirim
profile-picture
profile-picture
ingintidur dan ucln memberi reputasi
0
Lapor Hansip
08-08-2019 22:37
Balasan post ucln
Quote:Original Posted By ucln



selamat jd entut om emoticon-Cendol Gan
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
09-08-2019 02:04
Quote:Original Posted By angchimo
selamat jd entut om emoticon-Cendol Gan


kasih hadiah updetan 10 part bags..
wkqkwkwk


congrats bor, semoga panjang umur, murah rezeki dan berguna bagi nusa dan bangasa..

merdeka!
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
12-08-2019 19:37
Part #27


Setelah mendapatkan izin dari Nyokapnya untuk ikut gue camping. Nia pun mulai mempersiapkan apa-apa saja yang sudah gue tuliskan padanya untuk dibawa. Dia sempat bertanya kenapa ga ada Tenda dalam daftar perlengkapan yang harus ia bawa. Lalu dia bingung nanti dia akan tidur dimana. Gue tentu saja menjelaskan sambil mencubit gemas pipinya, bahwa tenda yang akan kita gunakan selama camping disana akan disiapkan oleh Dwi dan temannya. Dwi punya dua tenda berkapasitas 3 orang. Maka gue akan membawa satu miliknya dan ia juga akan membawa satu tenda lagi. Temennya sendiri juga akan bawa tenda lagi. Total kami akan mendirikan tiga tenda dengan jumlah 6 orang.

Satu hari sebelum hari keberangkatan kami. Gue kerumah Dwi untuk mengambil tas besar dan tenda miliknya lalu mengobrol soal rencana besok. Ternyata menurut Dwi, kami harus berangkat pagi-pagi sekali untuk segera tiba di pelabuhan di daerah Jakarta Utara. Dwi memberi saran agar sebaiknya kami semua yang akan berangkat camping untuk berkumpul bersama sejak malam ini. Hal itu dia sarankan agar besok kami ga saling menunggu atau malah nantinya harus ada yang tertinggal karna kesiangan. Atas obrolan dengan Dwi itu, gue pun mengirim sms ke Nia dan memberitahukan apa yang Dwi sampaikan ke gw. Nia hanya membalas sms gue dengan singkat, mengatakan bahwa dia akan menelpon gue sepuluh menit lagi.

Sesuai smsnya, Nia pun menelpon ke handphone gue.

“Gus. Maksudnya gimana tadi sms kamu?” Tanya Nia langsung saat panggilannya gue jawab. Setelah itu gue menjelaskan apa yang tadi Dwi sampaikan ke gue.

“Terus, emang berapa orang sih yang mau berangkat?” Tanya Nia setelah mendengar penjelasan gue.

“Enam orang sih harusnya. Termasuk kita.”

“Kira-kira kita harus sampe ke pelabuhan sana jam berapa?”

“Kata Dwi, baiknya jam 6 pagi.”

“Yaudah, kalo gitu pada kumpul dirumah aku aja gimana? Besok aku minta Bang Salim anter kita pake mobil Mama. Gampang kan?”

“Eh? Enngg...”

“Hmm? Kenapa lagi? Kamu mah banyakan yang dipikirin jadi ribet sendiri. Aku aja santai ga mikirin apa-apa, tinggal berangkat doang.”

“Ga malah jadi ngerepotin kamu emang?”

“Yailah, enggak kok. Yaudah kamu tanyain temen kamu aja mau ga kalo kaya gitu. Nanti jadinya gimana kamu kabarin aku aja ya. Daah.” Ucap Nia sambil mematikan panggilan teleponnya.

Gue kemudian menyampaikan saran Nia ke Dwi yang ternyata langsung di iyakan oleh Dwi. Dia kemudian menyampaikan pada teman-temannya yang lain melalui sms, sedangkan gue mengirim sms ke Nia untuk menyetujui sarannya tadi. Nia membalas singkat sms gue dengan berpesan agar gue mengabari lagi sebelum berangkat dari rumah menuju rumahnya nant malam.

Malamnya, sekitar jam 8 malam Dwi datang kerumah Gue untuk mengajak gue berangkat ke rumah Nia. Gue dan Dwi pamit sama kedua orang tua gue, lalu kemudian berjalan kaki menuju tempat biasa gue menunggu angkot untuk berangkat sekolah. Dwi memberi tahu bahwa tiga orang temannya nanti akan menyusul langsung ke rumah Nia.

Setelah sudah di angkot bersama Dwi, gue baru menyadari bahwa handphone gue ketinggalan. Selain karna emang ga terbiasa bawa handphone kemana-mana, handphone juga ga masuk dalam salah satu barang yang penting untuk gue bawa. Maka sejak bersiap dari tadi sore tadi, gue sama sekali ga inget dimana terakhir kali gue menaruh handphone itu.

Gue dan Dwi sampai di rumah Nia sekitar jam 9 malam lewat. Karna ini pertama kalinya gue kesini malam hari, gue juga baru menyadari bahwa daerah komplek rumah Nia sangat sepi. Gue dan Dwi berdiri di depan pagar sambil berpikir gimana caranya memberitau Nia bahwa kami sudah sampai sedangkan gue ga bawa handphone untuk menghubungi Nia dan Dwi yang bawa handphone juga ga punya nomernya Nia. Maka kemudian Gue dan Dwi hanya duduk di depan pagar rumah Nia sambil Dwi menghubungi teman-temannya yang lain.

Sekitar satu jam Gue dan Dwi menunggu di depan pagar, 3 orang temennya Dwi datang. Dwi mengenalkan ke gue ketiga temannya itu. 2 orang cewek salah satunya agak tinggi dengan rambut panjang tergerai bernama Sarah, dan temannya yang memiliki potongan rambut pendek hampir kaya cowok bernama Mei. Sedangkan seorang cowok temannya Dwi yang lain mengenalkan dirinya untuk dipanggil dengan sebutan Joe.

Setelah kami berlima berkumpul di depan pagar rumah Nia, Joe bertanya siapa lagi yang akan kami tunggu. Gue menjawab bahwa kita akan menunggu si pemilik rumah ini keluar, karna gue lupa bawa handphone untuk memanggilnya keluar. Baru lah setelah Mei menanyakan apakah ga ada Bell di rumah ini gue baru kepikiran buat mencet Bell yang letaknya ada di tembok bagian dalam pagar.

Ga lama kemudian, Bang Salim keluar dan membukakan pagar. Dia mempersilahkan kami masuk dan menunggu di teras depan rumah Nia kemudian dia masuk dan memanggilkan Nia. Beberapa saat kemudian Nia keluar dan menemui kami. Gue mengenalkan Nia pada Dwi dan teman-temannya yang lain. Dwi sampai berulang kali melihat ke arah gue dan memastikan apakah benar bahwa Nia ini hanya sekedar temen gue atau justru pacar gue. Yang tentu saja gak gue jawab pertanyaannya.

Dirumah Nia, kami dipersilahkan menempati sebuah kamar yang lumayan besar yang berada tepat di belakang studio band milik Raihan. Disana kami semua meletakkan tas dan beristirahat. Gue dan Nia kembali keluar dan duduk diruang tamu depan tangga sambil mengobrol sampe sekitar jam 1 pagi dia tertidur di sofa disamping gue.

Paginya, sekitar jam 6 kurang, kami berenam berangkat setelah berpamitan dengan Nyokapnya Nia, dan diantar oleh Bang Salim menuju ke pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Gue belum pernah ke daerah ini jadi gue hanya mengikuti apa yang di instruksikan oleh Dwi dan Joe.

Dalam penantian menunggu Kapal besar yang akan membawa kami ke pulau tujuan kami, sifat manja Nia mulai kembali muncul. Dia merasa kelelahan membawa tas nya yang menurut gue terlalu besar dan kebanyakan barang ga penting yang dia bawa. Tambah lagi, dia membawa gitar yang pernah gue berikan untuknya. Padahal dia sendiri mengakui belum lancar untuk memainkan gitar itu. Jadi menurut gue ga guna banget buat dia bawa gitar. Namun karna rengekannya mulai menyebalkan, maka gue menerima permintaannya untuk bertukar tas bawaan kami. Dia membawa tas kecil gue yang hanya berisi pakaian sedangkan tas besar gue yang berisi perlengkapan dan tenda milik Dwi tetep gue bawa sendiri, ditambah gue harus bawa tasnya Nia, yang membuat gue berasa jadi kuli panggul ketimbang jadi peserta camping hari ini.

Saat kami sudah diatas kapal, sifat manja Nia makin menyebalkan. Karna kapal yang kami naiki bukanlah kapal yang memiliki tempat duduk masing-masing untuk para penumpangnya, dan hanya menyediakan space besar untuk duduk lesehan di bagian dalam kapal, Nia cemberut dan memilih ga mau duduk karna merasa celananya akan kotor. Saking menyebalkannya, saat gue memaksanya untuk duduk, Nia malah meminta sesuatu untuk alas duduknya, bahkan dengan sialannya dia meminta jaket gue untuk menjadi alas duduknya. Dan karna gue malu kalo harus debat di depan Dwi dan temen-temennya, gue pun memilih menyerahkan jaket gue pada Nia yang dia ambil dengan senyum kemenangan lalu menggunakannya sebagai alas duduknya.

Saat Kapal sudah mulai berlayar menuju tujuan kami. Gue keluar dari dalam kapal untuk menikmati udara sambil merokok dan menikmati pemandangan laut yang menghampar. Dwi menyusul beberapa saat kemudian sambil meminjam korek dan duduk bersandarkan tiang kapal lalu menikmati setiap kepulan asap rokoknya. Gue dan Dwi ga saling bicara, masih sibuk menikmati asap rokok kami masing-masing. Sampai akhirnya Joe keluar dan menepuk pundak gue.

“Nyonya Lu noh, kayanya mabok laut.” Ucap Joe dengan wajah cengengesan bermaksud meledek gue.

Gue menjentikkan puntung rokok ke laut lalu bergegas masuk menemui Nia. Nia sedang duduk bersandar ke tas besar gue yang berisi tenda. Wajahnya menunduk dan tertutupi oleh rambutnya yang terlihat acak-acakan. Sementara Sarah disampingnya mengusap pundak Nia.

“Lo kenapa? Mabok?” Tanya gue sambil duduk disamping Nia.

“Lo bawa obat mabuk perjalanan ga Gus? Gue lupa ga bawa soalnya.” Tanya Sarah ke Gue yang gue jawab dengan gelengan kepala.

Gue mengangkat dagu Nia dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Nia melihat gue dengan pandangan lemas dan wajah yang sedikit pucat. Gue hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat ‘kehancuran’ yang tengah Nia rasakan.

“Sini, bangun. Kita keluar aja.” Ucap Gue sambil bangkit dari duduk dan menarik tangan Nia.

Namun Nia menahan badannya agar ga tertarik oleh gue. Dia menggelengkan kepala dengan lemah, seolah bermaksud ga ingin untuk berdiri dan keluar mengikuti ajakan gue.

“Kalo lo duduk terus begini disini. Malah yang ada lo bakal ngerasa mual dan makin kepengen muntah. Mending keluar, hirup udara. Biar agak enakan.” Ucap Gue sambil mencoba mengangkat badan Nia yang akhirnya dia pasrahkan untuk mengikuti saran gue.

Nia harus berjalan agar tertatih sambil gue bantu untuk menuju ke bagian luar kapal. Joe dan Dwi yang masih berada diluar sempat menawarkan bantuan untuk membantu Nia berjalan, namun Nia terlihat mengabaikannya hingga akhirnya ia bisa memegang tiang pembatas kapal dan berdiri dengan kekuatannya sendiri. Ia terlihat mengambil napas cukup dalam, untuk membiarkan udara segar masuk ke dalam pernapasannya. Gue membiarkannya dan memilih duduk diatas pagar pembatas disamping Nia.

Gue, Dwi, dan Joe mengobrol soal rencana-rencana kami saat nanti tiba di tujuan. Sementara Nia menyadarkan kepalanya di paha gue yang duduk diatas pagar. Gue mengobrol sambil mengusap pundak Nia namun entah kenapa Dwi malah cengengesan sambil menlihat kearah gue. Baru kemudian dia menoyor kepala gue sambil berbisik ‘bisa aja kunyuk sambil ngusap-usap segala’ saat dia hendak masuk ke dalam kapal ketika kami sudah mau mencapai tujuan.

Sampai di tujuan, Dwi mengatakan bahwa pulau ini bukanlah pulau tujuan kami. Kami akan harus menunggu sebentar sampai temannya yang tinggal di pulau ini datang dan membawakan perahu untuk mengantar kami ke pulau tujuan kami. Ga butuh waktu lama, temennya yang dimaksud oleh Dwi pun datang. Dwi mengenalkannya ke kami dengan panggilan Tibo. Lalu dia kemudian mengajak kami bergegas naik ke perahunya. Nia sempat melihat kearah gue dengan pandangan lemas sebelum akhirnya terpaksa harus naik perahu lagi.

Gue sempat menebak Nia akan tersiksa karna harus naik perahu lagi dan akan membuatnya mabuk laut lagi. Namun ternyata disepanjang perjalanan tujuan kami, Nia malah tersenyum senang. Sesekali ia mengeluarkan handphone nya yang juga memiliki fitur kamera untuk memfoto apa yang menurutnya terlihat bagus. Dia pun sudah mulai bercanda dan mengobrol bersama Sarah dan Mei. Gue hanya memperhatikannya dari bagian belakang perahu bersama Tibo yang sedang mengendalikan mesin dan arah perahu ini.

Sampai di tujuan. Tibo mengarahkan kami ke sebuah spot yang memang sepertinya disediakan untuk camping. Tidak terlalu jauh dari sebuah kamar mandi umum namun juga cukup dekat ke bibir pantai. Tibo memberitau kami bahwa kalo kami berjalan ke arah barat dari kamar mandi umum itu, akan ada beberapa rumah dan warung untuk membeli keperluan-keperluan kami. Menurutnya, hanya disana ada warung dan rumah warga di pulau ini, sisanya hanya hutan-hutan kecil dan spot-spot untuk camping. Kami mengangguk mengiyakan sambil kemudian bergegas merakit tenda.

Dwi dan Tibo meninggalkan gue dan Joe yang sedang membangung tenda. Mereka mengatakan akan mencari kayu untuk api unggun. Sementara para cewek hanya melihat kami merakit tenda yang sejak tadi belum kelihatan bagaimana rangkanya. Gue dan Joe saling tertawa ketika tenda yang kami rakit berulang kali terjatuh karna salah memasangnya. Gue ga mengerti bagaimana cara memasang tenda, dan Joe pun sepertinya sama dengan gue. Sampai akhirnya Tibo dan Dwi kembali dengan membawa tumpukan kayu namun melihat tenda belum juga terpasang, maka mereka berdua mengusir gue dan Joe lalu menggantikan tugas kami untuk merakit tenda tersebut.

Tibo dan Dwi selesai membangun 3 tenda hanya dalam waktu kurang dari setengah jam. Gue juga sempat mempertanyakan kenapa harus bangun 3 tenda? Kenapa ga Cuma 2 tenda aja untuk memisahkan antara cewek dan cowok. Namun Dwi menjelaskan bahwa 1 tenda memang akan digunakan untuk para cowok dan 1 tenda akan digunakan untuk para cewek, sedangkan sisa 1 tenda untuk tas dan barang-barang kami yang sebaiknya ga digabung bersama tenda untuk kami tidur. Agar tidak terasa sempit. Lagipula, 1 tenda barang itu bisa digunakan untuk ganti pakaian setelah mandi atau setelah kita berenang di laut. Agar tenda untuk tidur kami tidak kotor atau basah. Gue menjawab dengan anggukan kepala karna baru memahami betapa Dwi telah mempersiapkan segalanya dengan baik.

Setelah selesai membangun tenda, Tibo mengajak gue untuk mempersiapkan kayu dan menyusunnya untuk menyalahkan api unggu nanti malam. Gue sempat melihat Nia masuk kedalam tenda untuk berganti pakaian. Dan saat gue dan Tibo sedang menyusun kayu, gue melihat Nia berjalan ke bibir pantai dan langsung nyebur ke laut. Disusul oleh Sarah dan Mei yang berlari dari tenda mengejar Nia yang sudah lebih dulu bermain air.

Setelah selesai menyusun kayu, Tibo menanyakan apakah kami ingin snorkeling ke tengah laut. Yang tentu saja kami sambut dengan antusias. Setelah memanggil salah seorang warga pulau itu yang juga adalah temennya Tibo untuk menitipkan tenda dan barang-barang kami, Tibo langsung bergegas menyalakan perahunya dan mengajak kami segera berangkat keliling pulau dengan perahu.

Sambil berjalan menuju spot yang enak untuk snorkeling, Tibo melemparkan jaring dari perahunya untuk menangkap ikan. Nia dan Sarah meminjam baju pelampung yang ada di perahunya Tibo yang kemudian diizinkan untuk dipakai. Baru saja gue mengatakan pada Nia agar nanti saat sampai di spot snorkeling jangan berenang terlalu jauh dari perahu, tiba-tiba Nia yang sedang duduk dipinggiran badan perahu terpeleset dan tercebur kedalam laut, dengan kondisi perahu yang masih berjalan. Dengan panik, gue segera melompat ke laut dan berusaha berenang menghampiri Nia yang tertinggal cukup jauh dibelakang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kudo.vicious dan 3 lainnya memberi reputasi
4
12-08-2019 20:30
lha, untung gk waktu nyebrang pertama nia nya kecebur.. emoticon-Ngakak (S)
Penampakan sarah gmn bor emoticon-Leh Uga
0
12-08-2019 20:42
hmm semak daun kyknya nih.
0
13-08-2019 07:51
Quote:Original Posted By rizkibimos
mantaap akhirnya yg ditunggu dateng juga emoticon-2 Jempol


Quote:Original Posted By senvi.nurc
mantap bor..akhirnya update juga...bata dikirim


Quote:Original Posted By angchimo
selamat jd entut om emoticon-Cendol Gan


Quote:Original Posted By nichi07
lha, untung gk waktu nyebrang pertama nia nya kecebur.. emoticon-Ngakak (S)
Penampakan sarah gmn bor emoticon-Leh Uga


Quote:Original Posted By tom122
hmm semak daun kyknya nih.


Mo nanya, ada ga obat buat ngilangin atau buat ngurangin kolesterol yg ditumpuk selama 2 hari kemaren

emoticon-Cape deeehh
0
Lihat 1 balasan
13-08-2019 08:06
Quote:Original Posted By ucln
Mo nanya, ada ga obat buat ngilangin atau buat ngurangin kolesterol yg ditumpuk selama 2 hari kemaren

emoticon-Cape deeehh


Minum jeruk nipis, trus perbanyak buah aja. Bisa apel bisa pir atau yg enthu suka aja.
0
13-08-2019 10:09
Quote:Original Posted By ucln
Mo nanya, ada ga obat buat ngilangin atau buat ngurangin kolesterol yg ditumpuk selama 2 hari kemaren

emoticon-Cape deeehh


senam yoga aja bor. atau balet gitu
emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
13-08-2019 10:10
Balasan post ucln
Quote:Original Posted By ucln


Mo nanya, ada ga obat buat ngilangin atau buat ngurangin kolesterol yg ditumpuk selama 2 hari kemaren

emoticon-Cape deeehh


minum jeruk nips hangat tanpa gula bor
Diubah oleh senvi.nurc
0
20-08-2019 20:16
tritnya ht 2 kali ya bor
0
20-08-2019 23:08
Quote:Original Posted By panjang.kaki
tritnya ht 2 kali ya bor


Ga ngaruh sih kalo cuman ht di channel
Diubah oleh ucln
0
20-08-2019 23:21
Quote:Original Posted By ucln
Ga ngaruh sih kalo cuman ht di channel


Enthu ga update nih ? Hehe
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Halaman 15 dari 16
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
the-way-you-are
Stories from the Heart
di-atas-pena-tuhan
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.