alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
18
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d3f10b4facb9572507c3ec6/sfth-cerpen-dia
Karena semua cinta memiliki kisah tersendiri. Bahkan jika dua hati telah terambat pada jalur masing-masing, mereka akan menemukan cara untuk kembali. Seperti cerita ini.
Lapor Hansip
29-07-2019 22:28

[SFTH] Cerpen: Dia

Past Hot Thread
[SFTH] Cerpen: Dia
Dia

By: Reza Agustin


Karena semua cinta memiliki kisah tersendiri. Bahkan jika dua hati telah terambat pada jalur masing-masing, mereka akan menemukan cara untuk kembali.


Ada binar kehidupan yang terpancar dari Kakek yang layu. Ketika Nenek tak ada, ia akan menceritakan kisah cinta masa mudanya dengan lantang padaku. Tentang seorang dara muda yang pernah merenggut hati Kakek dan tak mengembalikannya lagi. Ah, ia tak pernah membiarkan Nenek ikut menguping. Kakek sendiri amat mafhum kalau Nenek tak sudi mendengar puja puji yang ditujukan untuk kompetitornya. Kompetitor cinta yang menjadi lawan tandingnya memperebutkan cinta Kakek.

Orang-orang akan menyebut bahwa Nenek adalah jawaranya. Seorang juwita yang telah berhasil menjadi istri Kakek. Pernikahan memang akhir dari perebutan takhta. Kala Nenek menyombongkan diri berhasil menjadi istri Kakek, aku menahan diri. Aku tak ingin tertawa terbahak di depan mukanya. Dungu sekali, bukan? Ya, mereka begitu tumpul, berotak pendek. Nenek bukan apa-apanya. Meskipun sudah melahirkan delapan anak dan menghasilkan enam cucu bagi Kakek, nyatanya hati Kakek masih tertambat padanya. Seseorang yang selalu Kakek gambarkan sebagai perempuan berbadan mungil tetapi dianugerahi bibir luar biasa. Kendati tubuhnya kecil, suaranya nyaring bak pengeras suara. Bibir mungilnya tak pernah berhenti mengomel.

"Kakek selalu suka dengan caranya mengomeli Kakek yang suka bolos sekolah. Ya, dia, anak orang berada dan berpendidikan tinggi, makanya dia paling tak suka dengan orang-orang macam Kakek. Sering bolos," ujar kakek bersemangat, lalu disisipi kekehan kecil.

"Dia cantik, ya? Dara penasaran dia kayak apa," balasku sembari mengelus jemarinya yang kurus. Nyaris seperti kulit yang membalut tulang.

"Pokoknya dia paling cantik sedunia! Dia punya mata bulat, warna matanya beda sama yang lain. Kalau orang lain matanya cokelat, 'kan? Nah, kalau matanya warnanya nyaris hitam. Unik dan tidak Kakek temukan pada perempuan lain. Bahkan Nenek yang jelek itu!" Susah payah, dagumu menunjuk seberang pintu. Tempat di mana asap selalu mengebul, dapur tempat Nenek biasanya menghabiskan hari. Barangkali menyesali empat puluh lima tahun hidupnya bersama Kakek. Apa yang bisa ia sombongkan sebenarnya? Hidup bersama nyaris separuh abad, tetapi hati Kakek tetap kokoh mempertahankan sebaris nama pujaan hatinya.

Aku akan terpingkal tiap kali membayangkan wajah cemberut Nenek yang menghitam di depan tungku. Entah ia dongkol pada Kakek atau memang asap dari pembakaran kayu. Toh, aku pun tak terlalu acuh. Aku memang kurang bersahabat dengan Nenek. Pun juga Nenek terhadapku. Wajahku memang lebih cantik darimu, Nek. Kau sudah dimakan waktu, kulit-kulitmu mengendur. Ke mana jejak tubuh sintal yang sering kausebut menarik mata pria-pria haus cinta dulu? Cih! Nyatanya semua kebanggaanmu tak ada yang tersisa jika dihadapkan dengan waktu. Jika tatapanmu semakin mengeras saat melihatku, semakin manis pula Kakek padaku.

"Kamu mirip sama dia, cantik. Mata kamu bulat dan warnanya pekat. Badan kamu juga mungil, hanya saja kamu memang agak tinggi dibandingkan dia. Makanya Kakek selalu merasa dekat sama dia walau orangnya tidak ada di sini," ujar Kakek seraya membalas genggaman tanganku lemah.

"Emang sekarang dia ke mana, Kek?" tanyaku menimpali.

"Jauh, mungkin ikut suaminya. Kakek tidak tahu pasti. Mungkin Semarang, Palembang, atau malah Merauke." Ia terkekeh, tetapi gurat sesal masih tersisa di wajahnya. Kendati ada senyuman yang tercetak di wajah, nyatanya Kakek nestapa. Terbayang masa muda yang tak sepenuhnya membawa kenangan indah untuk diingat. Terutama tentang pujaan hatinya.

"Kamu tahu? Dulu Kakek ketemu sama dia di sawah. Dia anak pindahan dari kota, ke mana-mana naik mobil. Kalau tidak naik mobil, dia akan naik delman kalau di desa. Sedangkan Kakek berkubang lumpur di sawah, berjalan mundur menanam padi. Saat itulah Kakek melihatnya pertama kali dan dia cantik. Sangat cantik," ujar Kakek dengan mata yang berbinar lagi.

"Lebih cantik dari Nenek?"

"Jauh! Kalau dia itu manis dan polos, kalau Nenek terkenal sebagai perempuan murahan di zamannya. Kalau ada laki-laki kaya sedikit, langsung dipepet. Kalau ada tetangga yang punya saudara laki-laki kaya di kota, dia bersikap baik seolah-olah mereka raja. Padahal kalau sama buruh tani atau nelayan miskin, beuh orangnya dingin. Mungkin kalau kata anak zaman sekarang, enggak level!" Ia melafalkan level dengan logat daerah yang kental. Membuatku nyaris tergelak. Setidaknya ia menemukan hal yang menyenangkan jika menyangkut Nenek; mengumbar aibnya.

"Kalau dia gimana orangnya, Kek? Suka deketin siapa aja?" Kembali kualihkan fokus Kakek agar tak mengumpat Nenek. Setelah mengungkap aib Nenek tadi, ia sempat bergumam lama. Selebihnya tak dapat kumengerti, tetapi Kakek jelas sedang mengumpat Nenek dengan bahasa daerah. Sebuah kata yang kukenali sebagai padanan kata dari jalang.

"Aduh, dia pokoknya paling baik. Sama siapa aja mau berteman. Dari tukang batu, buruh tani, juru tulis kelurahan, sampai orang gila aja dia mau berteman. Emang dia orangnya ramah, bahkan sama Kakek yang cuma buruh tani ini."

Kakek termenung sejenak. Mungkin menggali ingatan lamanya. Mataku memutari kamar Kakek. Tak ada yang istimewa. Kamar dengan dinding kayu khas perdesaan. Hanya ada sebuah ranjang reyot yang ditempati Kakek. Di bawah ranjangnya ada ember dan beberapa gombal berbau pesing. Berarti ember dan gombal-gombal itu adalah satu kesatuan yang menggantikan fungsi toilet bagi Kakek. Ia tak mampu berdiri sejak beberapa minggu silam katanya. Tepat ketika panggilan yang mengabarkan kondisi Kakek memburuk dan tak mampu lagi ditangani secara medis. Ada sebuah foto lama berpigura mengilat di atas meja samping ranjang.

"Itu satu-satunya foto Kakek dengan dia," ujar Kakek menarik kembali atensiku.

"Tapi di situ ada banyak orang," sanggahku.

"Kami dulu miskin. Satu-satunya orang yang punya kamera saat itu cuma keluarganya dia. Jadi, pas dia menawari Kakek foto bersama, orang satu rumah ikut foto semua. Itu Kakek yang di tengah sama dia. Kakek yang pakai baju koko kebesaran, itu pun hasil pinjam punya kakaknya. Nah, dia yang cantik pakai gaun putih itu, yang rambutnya dikucir pakai pita."

Kakek mungkin masih berusia delapan atau sembilan tahun pada saat itu. Ia tersenyum lebar ke kamera sembari mengalungkan lengannya pada sang gadis pujaan. Walau aku tahu, tatapan mendelik pria tua—yang kusimpulkan sebagai ayah Kakek—menegaskan bahwa tindakan Kakek kurang pantas di zamannya. Jika ditotal, semua orang dalam foto itu berjumlah selusin.

"Kakek suka sama dia itu nekat. Dia anak tentara, Kakek buruh tani. Kamu pasti udah bisa tebak gimana kelanjutannya," Kakek menatapku dengan senyuman miring, "Kakek jelas tidak dapat restu."

"Tapi Kakek tetap berusaha deketin, 'kan?"

"Oh, jelas! Kakek selalu memaksa jadi kusir delmannya. Supaya bisa antar dia ke mana-mana. Di situlah cinta kami bersemi, di atas delman." Ia melengkapi kalimatnya dengan kekehan ringan.

"Romantis, Kek. Kakek gombalin dia juga enggak?" tanyaku sambil menggenggam tangannya lagi. Merasakan betapa kurusnya tubuh renta itu.

"Zaman itu mana ada yang berani menggombal. Nanti malah dikira serius mau melamar. Kakek nyalinya masih ciut, makanya mendekati dia dengan dalih mau ajak jalan-jalan atau mau tanya caranya mengerjakan peer. Bisa ditembak bapaknya, dong kalau Kakek nekat."

Aku tergelak, aku pun pernah mendengar perkataan yang intinya sama dengan cerita Kakek. Kendati aku mendengarnya dari bibir orang lain. Namun, setidaknya aku tahu bahwa Kakek tak mengada-ada dengan kisah-kisah asmara masa mudanya. Kupikir, panggilan yang menyuruhku datang menjenguk Kakek karena rindu dengan dia hanyalah main-main saja. Mengingat dia juga sedang tak bisa menemui Kakek, maka aku yang harus datang.

Soalnya kamu mirip banget sama dia. Malah kayak kembarannya pas muda.

Hanya karena aku mirip dia.

"Kamu mau tahu kapan Kakek benar-benar nekat?" Kakek kembali menarik atensiku.

"Nekat dalam artian apa, nih?"

"Kakek serius mau melamar dia."

Perutku seakan dicubit. Senyum Kakek yang terkembang lebar membuatku justru tak kuasa mendengar kelanjutannya. Seperti yang Kakek sebutkan tadi. Aku pun sudah tahu pasti ke mana akhir cerita ini berlabuh.

"Di zaman Kakek waktu itu, tidak lulus SD bukan masalah. Lulus SD sudah bagus, tingkat pendidikan yang lebih tinggi bisa jadi hal paling mewah. Buat keluarga Kakek, menyekolahkan sampai SD saja sudah syukur. Apalagi lanjut. Kamu tahu? Kakek pilih lanjut sekolah, dengan usaha Kakek sendiri. Menabung sedikit demi sedikit imbalan pas jadi kusir delman. Semua keluarga Kakek menentang, tapi Kakek tetap berpegang teguh pada cita-cita Kakek. Biar bisa melamar dia. Yaitu Kakek harus pintar dan berpendidikan tinggi. Nanti baru Kakek bisa dapat pekerjaan yang layak buat lamar dia." Mata Kakek mengembun saat bercerita.

Aku tahu betul usaha Kakek belajar mati-matian sambil mengumpulkan uang. Itu adalah dongeng yang sering diceritakan padaku kala bocah. Ketika aku malas belajar dan dapat peringkat buncit di kelas. Dongeng tentang seorang buruh tani dan kusir delman yang menyambi sekolah rupanya berhasil memotivasi daripada cubitan Mama atau sabetan gesper Papa. Anak laki-laki bersahaja dalam dongeng itu akhirnya berhasil sekolah tinggi. Lebih tinggi daripada yang kedua orang tuanya bisa bayangkan. Namun, tidak dengan cita-citanya melamar sang gadis pujaan hati.

"Kakek terlalu lama belajar, tahu-tahu ketika pulang dari perguruan tinggi dia sudah menikah. Dengan anak tentara lain pula. Sekarang entah bagaimana kabarnya, sudah puluhan tahun Kakek tidak melihatnya. Setelah menikah, ia diboyong suaminya pergi. Tidak pernah kembali," pungkas Kakek lantas mengusap air matanya susah payah. Tangannya bergetar, bahkan air matanya tak sepenuhnya tersapu.

"Pasti sedih, ya, Kek."

"Mana bisa Kakek sedih kalau punya cucu secantik kamu. Kamu mirip dia."

Aku tersenyum kecut, ada kebenaran yang tertahan di ujung lidah. Urung kuucapkan. Menatap wajah damainya membuatku enggan berkata jujur. Justru tangannya kugenggam kian erat.

***

"Terima kasih Mbak Juwita sudah bersedia datang ke sini. Kalau Mbak Juwita enggak ke sini, pasti Bapak saya sudah enggak mau dibawa pulang ke rumah." Pria yang mengenakan songkok dan sarung itu menyeruput kopi instan miliknya. Beliau yang menghubungiku beberapa minggu yang lalu.

"Iya, Pak tak apa-apa. Saya justru senang bisa sempat ke sini. Tempat Oma saya menghabiskan masa remajanya," balasku sambil tersenyum.

"Kalau bukan karena saya mengenali wajah Mbak Juwita mirip sama teman Bapak, mungkin Bapak akan menghabiskan waktunya lebih lama di rumah sakit. Menanti sampai beliau dijenguk teman Bapak itu," imbuhnya.

Pria itu adalah anak tertua Kakek. Kami sempat bertemu di Perpusnas kala itu. Ketika itu beliau menjadi wakil desa yang beruntung bertemu dengan Presiden di Perpusnas dalam rangka perayaan ulang tahun Perpusnas. Aku ada di sana sebagai panitia. Dari sanalah ia mengenali wajahku yang terlampau mirip dengan dia, Omaku.

"Mungkin ini terdengar sedikit tak sopan buat Bapak, tapi saya senang karena setidaknya ada seorang pria yang mencintai Oma saya dengan tulus. Tidak seperti Opa saya yang menikahi Nenek demi kenaikan jabatan dan akhirnya meninggalkan Oma setelah mendapat apa yang ia mau," ujarku lagi. Cangkir teh di genggamanku bergoyang perlahan. Tubuhku agak bergetar membayangkan Oma. Tangis kecil itu pun lolos.

"Lho, ada apa Mbak Juwita?" tanya putra Kakek panik.

"Oma saya pun sekarang dalam kondisi yang tak jauh berbeda dengan Kakek. Minggu ini kami sekeluarga sepakat melepas alat-alat medis yang menopang tubuh Oma selama ini," ungkapku nanar. Ingatan tentang tubuh kurus Oma di atas ranjang rumah sakit terlihat tiba-tiba.

"Saya turut berduka cita, Mbak."

Hari itu, aku memutuskan pulang. Tak lupa membawa kabar baik bahwa kondisi Kakek membaik. Syukur kupanjatkan. Keluarga Kakek menganggapku sebagai pengganti obat mujarab—terkecuali Nenek yang merupakan istri Kakek, wajahnya menampakkan cemburu—. Ah, seandainya Oma yang datang, mungkin Kakek akan melompat dari ranjang dan memeluknya erat. Seandainya. Biarkan saja harapan itu membumbung tinggi. Namun jatuh karena kubiarkan harapan tumbuh setinggi langit. Sore itu panggilan itu datang lagi.

"Mbak Juwita, Bapak baru saja meninggal."

Aku tak kunjung menjawab. Bibirku pun bungkam, jika terbuka hanya akan membiarkan isak tangis kembali mewarnai penghujung hari. Di bangku rumah sakit. Di depan kamar inap Oma. Tepat setelah Dokter menyatakan beliau tiada.

END

Pic Source: [Klik sini gansis]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tuffinks dan 6 lainnya memberi reputasi
7
[SFTH] Cerpen: Dia
30-07-2019 05:51
Next, Kak...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[SFTH] Cerpen: Dia
30-07-2019 08:18
Quote:Original Posted By ilafit
Next, Kak...


Sudah tamat, Kak. Bingung lanjutinnya gimana
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan bekticahyopurno memberi reputasi
2 0
2
[SFTH] Cerpen: Dia
03-08-2019 07:59
bagus ceritanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rezaagustin dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[SFTH] Cerpen: Dia
03-08-2019 13:05
kumpulin cerpennya di sini yak, jangan lama2 di tinggal, dari pada entar di gembok mimim
profile-picture
profile-picture
rezaagustin dan iissuwandi memberi reputasi
2 0
2
[SFTH] Cerpen: Dia
03-08-2019 19:52
lanjuuuuuuttt🤩
profile-picture
profile-picture
Bay.Outsiders dan rezaagustin memberi reputasi
2 0
2
[SFTH] Cerpen: Dia
04-08-2019 05:33
Reserved
0 0
0
[SFTH] Cerpen: Dia
04-08-2019 20:47
Quote:Original Posted By syafetri
bagus ceritanya.


Terima kasih, Kak
profile-picture
syafetri memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
04-08-2019 20:47
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
kumpulin cerpennya di sini yak, jangan lama2 di tinggal, dari pada entar di gembok mimim


Siap, Kak
0 0
0
[SFTH] Cerpen: Dia
04-08-2019 20:48
Quote:Original Posted By iissuwandi
lanjuuuuuuttt🤩


Ini akan jadi kumpulan cerpen, Kak. Cerpen series tepatnya, jadi akan berisi beberapa cerita dengan tokoh yang saling berkaitan nantinya
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
04-08-2019 22:56
Quote:Original Posted By rezaagustin
Ini akan jadi kumpulan cerpen, Kak. Cerpen series tepatnya, jadi akan berisi beberapa cerita dengan tokoh yang saling berkaitan nantinya


Keereen🤩
profile-picture
rezaagustin memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
23-08-2019 19:02
Pulang ?


By: Reza Agustin


"Oh, ini akan jadi lebaran keenam di negeri orang? Tak ada niatan untukmu pulang, Dian?" Kate menatap Dian lamat-lamat, segelas cokelat hangat di pangkuan terlupa. Sepasang mata cokelat Dian yang lebih cerah daripada minuman hangat itu lebih menarik untuk diselami.

"Ya, tak ada juga alasan untuk pulang. Mereka pasti juga tak mengharapkan kepulanganku. Karena pergi adalah keputusanku dan Bapak juga yang bilang. Aku bisa apa?" Dian tersenyum kecut. Rambut panjangnya yang ditiup angin, jaket berbulunya yang hangat, dan gaun tidur yang tipis. Sejak dulu, ia ingin bebas mengenakannya. Tanpa mendapat penilaian miring dari Bapak yang seorang guru agama.

"Kamu mau membiarkan rambutmu yang panjang itu dilihat banyak orang? Gaun-gaun pendek itu juga buat apa? Kamu mau Bapak malu karena anak seorang guru agama berperilaku enggak pantas seperti ini? Lebih baik kamu pergi! Bapak enggak mau punya anak kayak kamu!"

Nyatanya, pergi adalah sebuah keputusan yang tepat. Dian bisa mengenakan apapun yang ia kehendaki tanpa berhadapan dengan tatapan bengis Bapak dan sabetan rotannya. Sungguh, betisnya telah berulang kali terkena sabetan rotan yang menyebalkan itu. Padahal Dian hanya mengenakan celana sebatas lutut dan kemeja berwarna merah muda yang longgar. Tidak membuat lekuk tubuhnya tercetak jelas. Juga bukan bikini yang menjadikannya nyaris telanjang.

Kini, lemari pakaian Dian penuh sesak. Busana yang sesuai dengan empat musim di Amerika dan beberapa pasang sepatu hak tinggi rancangan desainer ternama. Koleksi tas yang beragam, mulai dari yang bermerek, hingga tiruan. Ia bebas mengenakan apa pun. Hidup seperti yang ia kehendaki. Menjalin hubungan dengan pria-pria yang menyukainya tanpa perlu terhalang restu dari Bapak. Seharusnya sesuai dengan impiannya. Namun, tidak. Hampa. Dunianya seakan tak lagi berwarna.

"Namun, kau sepertinya rindu rumah. Tidakkah kau menyadarinya, Dian?" celetuk Kate yang kini teralih oleh minuman cokelatnya. Bibirnya yang dipulas dengan lip gloss berwarna merah muda meninggalkan kilau pada pinggiran gelas. Dian selalu suka kilaunya. Atau bibir Kate? Oh, tidak.

"Aku tak merindukannya. Aku tak ingin pulang ke rumah. Tidak dengan Bapak yang tak mau menerima keputusan dan impianku."

Semilir angin kembali menemani obrolan mereka. Duduk di atas kursi santai balkon sembari menatap langit berbintang. Kapan lagi Kate dan Dian bisa sejenak kabur dari rutinitas butik yang padat? Peluncuran koleksi busana musim panas yang akan datang tak mengizinkan dua desainer itu beristirahat. Terlebih lagi Kate, karena dialah pemilik butik.

Dian bisa dibilang cukup beruntung karena Kate datang padanya meminta bantuan. Pertemuan mereka masih di tahun pertama Dian meninggalkan Indonesia menuju Amerika. Ia mungkin orang paling nekat. Datang ke Amerika tanpa persiapan, mengambil kerja tanpa banyak perhitungan, lantas berakhir di sebuah rumah mode yang nyaris gulung tikar. Ia bahkan seperti gelandangan di tahun pertama itu.

Namun Kate datang seperti seorang malaikat. Menawarkan pekerjaan sebagai asisten desainer di butiknya baru saja buka. Nama Dian masih baru, tetapi ia unik. Memasukkan unsur Indonesia pada setiap desain buatannya. Entah mengapa menarik minat Kate yang pernah menetap di Bali selama satu tahun. Kate yang belum dapat melupakan pesona Tanah Dewata.

Singkat kata, mereka berdua menjadi pasangan yang tepat. Kate memang sangat tertarik dengan kebudayaan Indonesia. Setiap karyanya selalu disisipi sentuhan Indonesia. Pun dengan bantuan Dian semakin menyempurnakan nilai-nilai Indonesia itu. Beberapa kali karya mereka melenggang di atas catwalk pameran fesyen ternama. Namun, ketika pameran itu diadakan di Indonesia, Dian memilih absen.

"Dian, aku tahu kau pasti merindukan rumahmu. Tempat di mana Bapak dan adik-adikmu tinggal. Tak pernahkah sekalipun kau merindu? Makanannya, suasananya, apapun yang berhubungan dengannya," ujar Kate lagi. Mata pirusnya menelusuri gurat-gurat yang tercipta di wajah Dian, mencoba menemukan jawaban. Karena Dian tak akan pernah menjawab jujur.

"Tidak."

Hanya itu.

Kate mendesah, punggungnya kembali ia rebahkan pada sandaran kursi. Sementara kakinya tersilang dan minuman cokelatnya diletakkan di antara paha. Dian agak meringis, bagaimana jika bagian paling intim Kate tersiram minuman panas itu? Sedangkan Dian justru tak menyentuh lagi minumannya.

"Kau sedang melihat apa? Kau menginginkannya juga?" tanya Kate dengan tatapan jahil.

"Apa maksudmu? Dasar ambigu. Aku tahu kau panseksual, tapi setidaknya jangan menatapku seolah aku hendak menerkam kemaluanmu!" ujar Dian salah tingkat. Benar-benar, Kate adalah orang yang berbahaya.

Tawa wanita dua puluh tujuh tahun itu menggelegar. Dan benar saja. Minuman cokelat itu tumpah mengenai paha dan daerah intim Kate yang masih dilapisi celana santai. Dian orang yang paling khawatir. Ia bahkan kelimpungan mencari tisu dan mengambil es batu untuk mengompres paha Kate.

"Ah, mungkin ini karma karena aku sudah mengganggu hari liburmu. Aku pinjam toilet dan celanamu, ya," pamit Kate lantas menunjuk kamar mandi.

"Jangan geledah lemariku seperti minggu lalu. Aku susah membereskan kekacauanmu," balas Dian agak berteriak karena Kate keburu masuk ke kamar mandi.

"Tenang saja! Aku tak akan menggeledah punyamu lagi! Aku hanya mencari pembalut, tapi aku sadar kau tak punya itu!" balas Kate sembari berseru dari kamar mandi.

"Dasar Kate menyebalkan!"

Tawa kemenangan Kate kembali terdengar. Dian memberengut. Punya rekan kerja yang menyebalkan terkadang membuatnya ingin berhenti saja. Namun, rekan kerjanya itulah yang membuatnya bisa bertahan hidup selama ini. Seseorang yang entah mengapa selalu menjadi tempatnya bersandar. Tempat untuk pulang, seperti rumah.

***

"Kamu tak salat, Dian?" tanya Ameera, resepsionis yang baru saja bekerja di butik. Ia memiliki darah Lebanon dari ayahnya dan seorang muslim yang taat.

Dian menegang mendengar pertanyaan itu. Salat. Sudah berapa tahun ia melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim? Enam tahun atau bahkan lebih dari itu. Setiap kali ia selesai berwudu, ia hanya menatap sajadah dan mukena tanpa melakukan apa-apa. Pada akhirnya, ia tak melakukannya. Ada banyak keraguan di hatinya semenjak meninggalkan Bapak dan kampung halamannya.

Dian menggeleng, dengan dalih ia akan melakukannya di apartemen saja nanti. Sebuah kebohongan yang menyebalkan. Ia bahkan tak lagi menyentuh sajadah dan mukenanya, apalagi alquran. Banyak keraguan yang membuatnya tak berani bersentuhan dengan alat-alat yang menjadi penghubungnya dengan Sang Pencipta.

Ameera berlalu setelah mengucapkan 'o' dengan mimik wajah lucu. Sedangkan Kate hanya menghela napas. Sudah berkali-kali ia menyaksikan Dian berdusta tentang urusan ibadah. Mau sebanyak apa lagi ia menimbun dosa?

"Dian, untuk lebaran kali ini kamu harus pulang. Aku akan memberikan izin khusus supaya kamu bisa menemui keluargamu. Mereka juga ingin kamu pulang," ujar Kate seraya merebut buku sketsa yang tengah Dian geluti.

"Aku ini aib bagi Bapak. Tak ada gunanya aku pulang. Dia mungkin kena serangan jantung jika aku pulang mengenakan gaun pendek dan sepatu hak tinggi seperti penyanyi dangdut." Dian merebut kembali bukunya lantas menghindari Kate. Namun, wanita itu enggan menyudahi pembicaraan dengan Dian.

"Dian, dengarkan aku sekali ini saja. Aku memang lebih muda darimu. Namun aku tahu bahwa hal yang tepat untukmu adalah pulang. Ini momentum tepat, sebentar lagi lebaran. Sudah saatnya kamu memperbaiki hubungan dengan Bapakmu, juga menziarahi pusara Ibumu. Aku akan temani kamu jika kamu tak berani pulang sendiri."

Raut wajah Dian menggelar. Buku sketsa dibanting agak kasar ke meja. Ia menatap Kate dengan pandangan terluka. Tatapan itu sedikit banyak melukai hati Kate pula.

"Kate, bagaimana bisa aku melihat pusara Ibu? Saat ia meninggal karena serangan jantung. Keputusanku menjadi perempuan dan desainer handal telah merenggut nyawanya. Bapak pun tak akan memberi ampun padaku. Kamu harus tahu itu."

"Kalau begitu mintalah ampunan dari Tuhanmu! Dialah tempatmu seharusnya bersandar, rumah yang sesungguhnya jika kau tak mau pulang ke Indonesia!" Kate nyaris berteriak. Ia benar-benar ingin menyudahi pembicaraan dengan Dian. Saat tubuh Kate melewati sang rekan kerja, ia dapat melihat Dian benar-benar menegang di tempatnya.

Namun, Kate terhadang di pintu oleh Ameera. Wanita berkulit gelap itu menatap Kate dan Dian bergantian dengan berat hati. Apa yang ia katakan selanjutnya membuat Dian lemas, nyaris terjatuh ke lantai.

"Ada telepon untuk Dian. Penelepon bilang bahwa Bapak tengah sekarat dan dia ingin Dian pulang. Pulang seperti dulu, seperti Dian yang dulu Bapak didik dengan sabetan rotannya."

***

Pada akhirnya, Dian kembali. Menginjakkan kakinya di tanah kelahiran dengan tubuh yang bergetar. Apalagi ketika ia berada di depan pintu kamar Bapak. Adik-adiknya dengan tatapan bercampur aduk menyambut kedatangan Dian. Dian yang mereka rindukan. Dian Putro Prakoso.

Dian yang sering kena sabetan rotan di betis oleh Bapak karena sering berpenampilan kemayu. Dian yang ingin menjadi desainer pakaian wanita ternama. Dian yang lebih mendamba sentuhan sesama daripada lawan jenisnya. Pengecualian untuk Kate yang entah mengapa telah mengaduk-aduk dadanya dengan debaran yang tak menentu.

Kate menyaksikan bagaimana Dian menangis di atas sajadah setelah memangkas rambutnya. Wanita itu menyaksikan pula bagaimana Dian menangis di atas tubuh Bapak yang telah dingin. Segala maaf dan sesal telah ia ungkapkan di depan Bapak sebelum Sang Ilahi memanggilnya pulang. Pria itu mengusap kepala Dian lembut, memberikan maaf pada tarikan napas akhir.

"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Dian. Kembali pada keluarga dan kodratmu sebagai laki-laki, itu sudah benar."

Di atas pusara Bapak, Dian masih enggan pergi. Tidak setelah banyak luka yang pernah ia torehkan pada pria tersebut. Juga kepada Ibu yang pusaranya berdampingan dengan Bapak.

"Setelah semua yang aku lakukan pada mereka. Bapak dan Ibu, aku tak tahu bagaimana mereka mempertanggung jawabkan semua dosaku di hadapan Sang Ilahi. Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah menjadi anak yang saleh, dengan begitu aku bisa bertemu dengan mereka lagi di kehidupan yang abadi."

"Ya, aku akan mendukungmu. Apapun keputusanmu." Kate meremas jemari Dian lembut. Sebagian kepalanya ditutupi dengan selembar pasmina berwarna salem. Serta sebuah gamis longgar yang menyembunyikan lekuk tubuhnya. Sebuah senyum menyempurnakan kecantikan wanita tersebut. Membuat Dian menyadari sebuah rasa, yang ditegaskan dengan jantungnya yang bergemuruh.

"Terima kasih, Kate."

END
Diubah oleh rezaagustin
profile-picture
profile-picture
qoni77 dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
[SFTH] Cerpen: Dia
09-09-2019 07:15
sedih akutuh baca yang atas😁

yang sabar ya Mba Juwita
profile-picture
rezaagustin memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
09-09-2019 08:06
owh.....so sad
profile-picture
rezaagustin memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
09-09-2019 08:30
Innalillahi. Yang sabar ya Juwita.

Oh iya, bagus kalo threadnya d buat kumpulan cerpen yg saling berkaitan. Jangan lupa nanti buat index nya agar terlihat lebih indah
profile-picture
rezaagustin memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
09-09-2019 11:12
ini dia

[SFTH] Cerpen: Dia
profile-picture
rezaagustin memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
08-10-2019 03:12
HT Sist. Mampir lagi nieh
profile-picture
rezaagustin memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Cerpen: Dia
08-10-2019 05:27
Quote:Original Posted By nofivinovie
sedih akutuh baca yang atas😁

yang sabar ya Mba Juwita


Quote:Original Posted By surya563
owh.....so sad


Quote:Original Posted By tuffinks
Innalillahi. Yang sabar ya Juwita.

Oh iya, bagus kalo threadnya d buat kumpulan cerpen yg saling berkaitan. Jangan lupa nanti buat index nya agar terlihat lebih indah


Quote:Original Posted By Surobledhek746
ini dia

[SFTH] Cerpen: Dia


Quote:Original Posted By qoni77
HT Sist. Mampir lagi nieh


Terima kasih buat semua yang sudah baca dan kasih cendol🙏
0 0
0
[SFTH] Cerpen: Dia
10-11-2019 07:52
Anak Tetangga

By: Reza Agustin


Kepindahan kami dua bulan lalu masih membuat bendera perang dingin itu berkibar. Dan, Lea---putri kami---yang mengawali perang dingin itu. Ia enggan menghabiskan makan, sering menyendiri, dan tentu saja tak sudi berbicara pada kami. Awalnya kami memang tak acuh, tetapi pada akhirnya kami resah. Di usia lima tahun, Lea harusnya mulai masuk TK. Namun rencana mendaftarkan Lea ke TK juga menemui kendala.

Ia menolak masuk TK karena dipisahkan dengan teman-teman PAUD-nya yang lama. Ia selalu memasang wajah sangar, lengkap dengan bibir yang mengerucut. Tak lupa dengan hentakan kaki kesal dan mendengkus seperti orang dewasa. Suamiku sendiri juga sedikit-sedikit memahami 'dendam' Lea pada kami, sehingga ia juga tak melakukan tindakan apa pun.

Selama satu setengah bulan, Lea menunjukkan sikap pembangkang dan liar. Namun, beberapa minggu ini ia agak luluh. Kendati malu-malu bercampur dengan ekspresi bersalah, ia akan tersenyum padaku. Setelah itu meminta diambilkan kukis yang selalu kusimpan di stoples. Ia akan mengambil dua keping dan membawanya ke halaman belakang. Dari dinding bata yang berlubang itu, ia akan berbicara ceria. Seolah ada teman yang sedang ia ajak mengobrol. Lea akan mengakhiri obrolan hari itu dengan menyerahkan sekeping kukisnya lalu berlari kembali ke rumah.

Mungkinkah itu anak tetangga? Seingatku ada sepasang suami istri dan tiga anaknya yang menempati rumah sebelah. Lea pun mengiyakan ketika aku bertanya.

"Iya, namanya Aulia. Dia anak Om Andri di rumah sebelah. Orangnya cantik, baik juga, Ma. Makanya Lea suka ngobrol sama dia."

Oh, ternyata anak tetangga yang baik. Bergaul dengan Aulia membawa perubahan positif pada Lea. Anak baik sepertinya harus mendapat sedikit imbalan. Mungkin dengan itu, juga bisa membuat perilaku dingin Bu Irma padaku bisa terobati lewat anaknya. Istri kedua Pak Andri itu tak pernah ramah kepadaku selama dua bulan ini padahal rumah kami hanya terhalang tembok.

Maka hari ini aku akan menghadiahkan sepiring kukis cokelat itu pada Aulia. Masih mengenakan celemek dan bau dapur, sepiring kukis hangat kubawa ke rumahnya. Namun, Bu Irma dan Pak Andri sedang pergi ke luar negeri. Hanya pembantunya yang menyambut kedatanganku dengan wajah semrigah.

"Ini saya mau titip kukis ini buat Aulia, Bi," ujarku lembut yang justru dihiadiahi pelototan wanita paruh baya itu.

"Dari mana Ibu tahu Aulia?" tanya wanita itu balik, penuh selidik.

"Dari anak saya, Bi. Tiap hari dia ajak anak saya ngobrol lewat lubang di tembok belakang."

Wanita itu menatapku tajam, "Bu, Aulia itu sudah meninggal lama. Lima belas tahun yang lalu sejak kedatangan Nyonya Irma ke sini. Tembok belakang itu enggak terhubung sama rumah. Itu gudang penyimpanan buat boneka-boneka porselen Bu Irma."

Jantungku seakan berhenti berdetak saat itu juga. Aku segera berlari pulang, mendapati Lea terkikik geli di depan tembok berlubang itu.

"Lea, Aulia itu enggak ada! Selama ini kamu bicara sama siapa?"

"Sama Aulia, Ma. Dia selama ini ada di sini, kok. Cuma, tubuhnya itu dilebur buat dijadiin boneka cantik. Di sana juga enggak cuma Aulia doang, kok. Ada Rachel, Martin, Lia, Indira, banyak lagi. Ini aku lagi kenalan sama mereka."

Tawa melengking anak-anak yang samar itu membuatku ingin segera pindah lagi.

END
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
the-marionette
Stories from the Heart
my-fucking-romance
Stories from the Heart
hi-dee
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.