Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
4603
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan
Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa di sana.
Lapor Hansip
11-11-2017 05:29

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Past Hot Thread
"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
ini kisah tentang anak jaman dahulu yang hidup di era
Kerajaan Majapahit.
Jelas ini bukan kisah nyata, ini 100% fiksi!
meski begitu, yang merasa tahu, kenal akan tokoh yang diceritakan. Mohon dengan amat sangat tidak membocorkannya, agar tidak merusak alur cerita.

Bila ada kesamaan kisah hidupnya dengan salah satu tokoh di cerita ini, saya mohon maaf, tidak ada maksud untuk membuka kisah lama Anda.
Saya hanya iseng nulis cerita.

Jadi.. Selamat membaca!

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 107 lainnya memberi reputasi
102
Tampilkan isi Thread
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 175 dari 219
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
26-07-2019 19:48
menunggu update..
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
26-07-2019 21:15
selamat malam paman curah
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
26-07-2019 21:32

Semangat ki

Salut buat ki curah
toplah pokoke
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
26-07-2019 23:38
RASA BERSALAH

Kini kaki dan tangan Senopati tidak bisa digerakkan. keempat sendinya remuk. Senopati hanya bisa mengerang kesakitan.
Pemuda itu menyeringai. Lalu mengamit salah satu tangan Senopati. Diseretnya Senopati itu keluar dari kediamannya seperti menyeret pelepah kelapa.
Ditempat gelap, pemuda itu melucuti pakaian dan perhiasan Senopati Branjangan. Hanya disisakan cawat saja.

Pemuda itu terus berjalan keluar menuju alun alun, melewati para penjaga yang masih pulas tidur.

Erangan kesakitan dari Senopati Branjangan terdengar mengerikan di sepanjang jalan. Jarak kediaman Senopati Branjangan dengan Alun alun sekitar seribu depa. Para prajurit Majapahit yang berjaga langsung mendatangi sumber suara. Sebagian membawa obor untuk menerangi.
Yang dipagari kekuatan gaib hanya komplek kediaman Senopati Branjangan. Sehingga hanya yang berada di dalam komplek kediaman Senopati Branjangan saja yang terkena kekuatan gaib itu. Sementara suasana diluar biasa saja. Jadi saat ada teriakan kesakitan seseorang yang diseret dijalanan oleh seorang pemuda gila. Para prajurit yang sedang berjaga berusaha menghentikan. Namun yang diseret sudah keburu pingsan oleh sakit yang tak terkirakan.
"Hey, lepaskan orang itu, kasihan," Bentak Prajurit menghalangi langkah Pemuda itu.
Pemuda itu hanya nyengir. Kepalanya menggeleng geleng menolak.
"Ini maling, aku baru tangkap," kata Pemuda itu seperti mengigau.
"Lepaskan dik, kasihan," salah satu prajurit memohon, kasihan melihat orang pingsan diseret seperti bangkai.
"Tidak, Ia telah membunuh Pamanku, Aku harus balas."
Para prajurit itu mengamati orang yang diseret. Mereka tidak mengenalnya, wajah dan tubuhnya penuh darah kental bercampur tanah.
"Akan kamu bawa kemana orang itu?"
"Akan aku gantung di alun alun,"
Para prajurit itu sibuk berdiskusi sambil mengiringi jalan Pemuda itu. Mereka menghitung untung ruginya, apakah akan menghentikan aksi pemuda gila itu atau membiarkannya menyeret sampai alun alun. Memang tradisi di masyarakat, bila terjadi perselisihan di warga. Sudah menjadi hak yang berselisih mengeksekusi sendiri lawannya. Hukum di masyarakat sangat sederhana sekali. Bila tidak bisa didamaikan, mereka akan carok sampai mati untuk menyelesaikan. Masalahnya bisa bermacam macam, mulai perebutan garapan, sumber air, istri, pencurian, sampai tersinggung gara gara dipegang kepalanya.
"Bagaimana ini, kita cegah atau bagaimana?"
"Kalau kita cegah, nanti pemuda itu mengamuk, dilihat dari kekuatannya mengalahkan orang itu dan mudahnya menyeret korbannya, Ia bukan orang yang lemah. Jadi sebaiknya dibiarkan saja. Kita kawal saja sampai alun alun."
"Tapi kasihan dengan orang itu, lihat, kaki tangannya tertekuk patah. Miris melihatnya."
"Jangan melawan tradisi masyarakat. Nanti tambah banyak masalah,"
"Apa kita laporkan Ki Lurah?"
"Jangan, urusan begini tak perlu merepotkan Ki Lurah, bisa bisa kita dimarahi karena tidak menyelesaikan sendiri."
"Kita arahkan ke tempat lain saja,"
Para Prajurit itu sepakat menghalangi Pemuda itu membawa korbannya ke alun alun.
"Dik, sebaiknya dibawa pulang ke kampungmu. Alun alun ditutup."
Pemuda itu memandang tidak suka. Ia terus berjalan meski dihalangi. Hampir saja terjadi bentrok, untungnya pimpinan prajurit itu lebih memilih membiarkan Pemuda itu berjalan menuju alun alun. Toh Alun alun sudah dekat. Biar urusan cepat selesai. Mereka memilih mengawal pemuda itu.
Prajurit prajurit jaga ditempat lain datang menanyakan ada apa. Yang kemudian dijawab apa adanya oleh para prajurit yang mengiringi. Beberapa prajurit yang baru tahu mengecek orang yang diseret, mungkin mengenalnya.
"Kamu kenal?"
"Tidak, sepertinya maling kampung." Lantas membiarkan rombongan itu menuju alun alun dengan Pemuda itu berada di depan.

Sampai di di tiang gantungan di alun alun, Pemuda itu menjerat leher Senopati Branjangan lalu dikerek naik keatas. Semua dilakukan sendiri diterangi cahaya obor dari para prajurit yang menyaksikan. Para prajurit itu penasaran dengan yang dilakukan Pemuda itu. Sambil menutup hidung mereka menontong dari jauh dikarenakan tidak kuat dengan bau busuk dari mayat mayat yang bergelantungan disana. Mereka kagum dengan pemuda itu yang tidak terpengaruh bau itu sama sekali.

Setelah menggantung Senopati Branjangan. Pemuda itu menengok ke sekitar. Mengambil gerobak tarik, gerobak yang biasa untuk mengangkut mayat. Gerobak itu ditarik mendekat ke tiang gantungan. Tanpa canggung pemuda itu lantas menurunkan mayat mayat yang membusuk itu dari tiang gantungan. Diletakkan di gerobak. Belatung berloncatan keluar dari perut buncit mayat mayat itu, memenuhi gerobak sambil mengeluarkan gas dari perut itu. Bau bangkai semakin menyebar memenuhi udara malam. Beberapa prajurit sampai muntah saking tidak kuatnya menghirup bau bangkai.
"Hei! Dia mau apa? Siapa yang menyuruh menurunkan mayat mayat itu?" Pimpinan Prajurit yang berjaga di Alun alun protes dengan tindakan Pemuda itu.
Rekan rekannya menahannya.
"Sttt, biarkan. Daripada kita yang disuruh menurunkan dan membuang mayat mayat itu. Mending dia yang mengerjakan," kata rekannya mengingatkan.
"Bahaya kalau pimpinan kita tahu."
"Bukankah kita sudah diperintah membuang mayat mayat itu karena sudah mulai rusak. Bilang saja kita yang menyuruh pemuda itu membuangnya." Memang hari ini waktunya menurunkan mayat mayat itu. Karena bila dibiarkan, badannya akan lepas sendiri dari kepalanya oleh beban dan pembusukan.
Pimpinan prajurit itu akhirnya mengalah oleh desakan anak buahnya.
"Pokoknya kalau ada apa apa kita tanggung bersama,"
"Siap Ki Lurah!"
Pembicaraan para prajurit itu didengar seluruhnya oleh Pemuda itu. Sejenak Ia tersenyum sedih. Kepalanya di geleng gelengkan menandakan dalam dadanya sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Kemudian Ia menunduk meraup debu alun alun. Sekali hentak debu itu bertebaran ke sekitar terbawa angin bercampur bau bangkai.
Akibatnya membuat suara suara para Prajurit seketika berhenti. Mereka seperti terkesima memandang aktifitas pemuda di depannya.

Tanpa banyak kendala, Pemuda itu menurunkan semua mayat yang digantung. Beberapa saat digerakkan, belum di turunkan sudah jatuh sendiri dengan kepala lepas menggelinding. Cepat Ia mengusung satu persatu kedalam gerobak. Sampai akhirnya Ia mengambil kepala Ki Andaka dan dibungkus kain yang dibawanya. Setelah semua terangkut. Pemuda itu menyeret gerobak mayat sambil berlari, meninggalkan para prajurit yang diam linglung.

Kokok Ayam jago pertanda pagi, menyadarkan para prajurit yang bergerombol mengelilingi tiang gantungan di alun alun. Mereka seperti tertidur sekejap, saat melihat sekitar, pemuda itu dan mayat mayat yang membusuk sudah tidak ada. Hanya ada orang yang digantung pemuda itu.
"Mana pemuda itu?"
"Iya, kemana?"
Tanpa perintah, mereka langsung berlari mengikuti jejak roda gerobak. Banyak belatung berceceran di jalan. Sehingga mudah mengikuti jejaknya.
Ada sekitar lima belas prajurit mengikuti jejak kereta mayat. Arahnya menuju ke Barat. Belum jauh mengejar, di depan sudah ada keributan. Ada segerombol Prajurit pengawal Senopati bersenjata lengkap berlarian dari arah berlawanan.
"Sedang apa kalian berlarian?" Tanya Ki Widipa, Bekel Pasukan Pengawal Senopati Branjangan kepada para prajurit yang mengejar gerobak mayat.
"Kami sedang mengejar pemuda membawa gerobak mayat," jawab Prajurit dari alun alun.
"Pergi kemana?"
"Ke arah sana!" Tunjuk salah satu prajurit. Gerobak itu berbelok menuju gerbang utara.
"Apa yang dilakukannya sehingga kalian mengejarnya?"
"Ia membawa semua mayat di alun alun dan mengantung seseorang disana."
Mendapat informasi itu, Ki Bekel Widipa langsung membagi dua pasukannya. Separuh menuju alun alun memeriksa dipimpin wakilnya dan separuh lagi dibawah pimpinannya mengejar pemuda yang membawa gerobak mayat.
"Bunyikan kentongan pendadakan!" Perintahnya. Tadi saking bingungnya Ia berangkat buru buru mengejar sehingga belum sempat membunyikan kentongan tanda ada serangan mendadak.
Seketika suasana menjadi hiruk pikuk. Para prajurit yang di barak langsung berhamburan menyiapkan diri bertempur. Sementara petugas penghubung hilir mudik menyampaikan informasi antar pasukan. Namun karena informasi masih minim dan simpang siur, cukup membingungkan para lurah pasukan. Mereka memutuskan tetap bersiaga di lapangan barak menunggu perintah.

Satuan pengawal Senopati yang bergerak ke alun alun langsung syok melihat siapa yang digantung di tiang gantungan alun alun. Dalam cahaya remang remang pagi. Mereka mengenali siapa yang digantung berlumuran darah dengan telinga lepas satu. Ia adalah Senopati Branjangan.

Sementara para prajurit yang sejak semalam melihat kejadian penggantungan itu seolah tak percaya dengan penglihatannya. Bagaimana mungkin yang digantung itu Senopati Branjangan. Padahal semalam mereka sudah memeriksa bolak balik, wajahnya tidak mirip dengan Senopati. Wajahnya wajah orang kasar dan kotor dari dusun pegunungan. Lalu mengapa sekarang bisa berubah?

Kembali kentongan dipukul, kali ini kentongan titir Rajapati, alias kematian. Serentak kembali bersahutan suara kentongan mengulang titir Rajapati. Wakil Pengawal Senopati langsung memapah tubuh telanjang Senopati yang tergantung. Ia memerintahkan yang lain memutus tampar gantungannya. Ia lantas melepas kain selempangnya lalu diurai menutup tubuh Senopati.
"Bawa ke bale sana. Carikan pakaian yang pantas sebelum dilihat banyak orang!"
"Siap!"

Tak beberapa lama datang para prajurit penghubung dan Ki Braja, Bekel Pasukan berkuda mencari informasi, mengapa ada kentongan Rajapati.
"Lapor Ki Bekel, Senopati Branjangan telah gugur. Mayatnya kami temukan di tiang gantungan," kata Wakil bekel pengawal itu dengan suara gemetar.
KI Bekel Braja terkejut, langsung memeriksa mayat Senopati Branjangan. Wajahnya langsung memerah menahan marah setelah memastikan benar mayat itu adalah Senopati Branjangan.
"Siapa yang melakukannya?!"
"Kami belum tahu,"
"Bukankah kalian yang berjaga semalam! Bagaimana bisa tidak tahu?" Tanya Ki Bekel Braja penuh selidik. Bagaimana terjadi pembunuhan tanpa diketahui para pengawalnya.
"Kami benar benar tidak tahu, semalam kami terkena ilmu sirep."
"Lalu mana Ki Saga dan Ki Parwa?" Ki Bekel Braja menanyakan dua pendekar pengawal Senopati Branjangan.
"Mereka juga terbunuh Ki, jasadnya ada di taman tengah kediaman Senopati."
"Mana Bekel kalian?"
"Sedang mengejar tersangkanya kearah gerbang utara."
"Apa ciri cirinya?"
Salah seorang prajurit yang berjaga di alun alun maju menceritakan secara detail ciri ciri pemuda gila yang menggantung Senopati.
Ki Bekel Braja menempeleng prajurit yang baru usai memberi laporan. Prajurit itu terjengkang kebelakang dengan bibir pecah.
"Tangkap orang orang ini!" Teriak Ki Bekel Braja memerintahkan pasukan pengawalnya menangkap para prajurit yang berjaga di alun alun dan prajurit pengawal Senopati.
"Kalian ditangkap karena lalai membiarkan orang asing seenaknya keluar masuk!"
Para prajurit itu menyadari kesalahannya. Mereka hanya tertunduk lesu tidak melawan saat dilucuti dan diikat untuk diperiksa.

Ki Bekel Braja langsung mengambil inisiatif memberi komando.
"Kabarkan ke seluruh kesatuan, Senopati Branjangan gugur. Musuh sedang bergerak keluar membawa gerobak mayat. tutup semua gerbang. Perkuat penjagaan keluar. Kerjakan!"
"Siap!"
Sementara Pasukan Ki Bekel Braja langsung bergerak mengejar ke arah gerbang utara. Jaraknya sekitar seribu limaratus depa dari alun alun. Sampai disana, suasana sudah ramai. Terlihat gerbang hancur. Sementara para prajurit yang berjaga bergelimpangan pingsan. Ki Bekel dan pasukannya tidak turun memeriksa, Ia langsung memacu kudanya mengikuti jejak yang ditinggalkan roda gerobak dan pasukan Ki Bekel Widipa yang mengejarnya.

Tak beberapa lama pasukan khusus dan para pendekar antek Dutamandala berduyun duyun menyusul. Derap kuda dan teriakan teriakan perintah memenuhi jalanan. Ternyata jejak yang ditinggalkan Pemuda itu memutar. Setelah keluar gerbang utara. Lalu bergerak kebarat dan terus naik kearah hutan lereng Gunung Raung. Dan berakhir di tanah lapang. Bekas pertempuran puputan beberapa pekan lalu.

Yang pertama sampai adalah Ki Bekel Widipa dan pasukannya. Ditambah para prajurit penjaga yang bertemu dengan pemuda itu.
"Ya benar, itu orangnya!" Seru salah satu prajurit yang mengenali pemuda itu. Pemuda itu sedang menurunkan mayat mayat dari gerobak lalu dikubur kedalam makam yang sudah disiapkan. Sementara ada satu pemuda lagi yang lebih lemah mental sibuk menutup kubur dengan tanah. Mereka seperti tidak peduli dengan kedatangan para prajurit itu. Hanya pemuda yang lemah mental bolak balik melihat ke arah para prajurit dengan tatapan ketakutan. Kedua pemuda lemah mental itu adalah Jingga yang sedang menyamar dan Ranu. Mereka sedang sibuk mengubur para ksatria Blambangan yang dihinakan di alun alun Kuta Lateng.

Jingga melihat kearah orang orang yang datang dengan wajah beringas, lalu melihat wajah Ranu yang ketakutan. Lama lama Jingga kasihan melihat Ranu yang gemetar melihat prajurit itu semakin mendekat dengan pedang terhunus. Saking takutnya, celananya sampai basah. Air kekuningan mengalir turun membasahi tanah yang diinjak Ranu.
Jingga sejenak memejamkan mata, berkomat kamit sebentar. Tiba tiba Ranu yang gemetaran menghilang dari tanah kuburan. Para Prajurit yang mengepung terkesiap melihat pemandangan aneh. Bagaimana mungkin bisa menghilang secepat itu. Apakah Ia masuk ke dalam tanah? Atau orang orang ini demit penunggu hutan ini?
Reflek Mereka meloncat mundur. Mereka mulai menyadari menghadapi lawan berbahaya.
"Tangkap orang itu!" Teriak Ki Bekel Widipa memberi perintah.
Serentak pasukan pengawal Senopati Branjangan membentuk formasi mengepung dari segala penjuru. Mereka bergerak melingkar berputar kekiri. Semakin lama lingkaran semakin keci. Sementara satuan Prajurit yang lain bergerak mendukung di belakangnya. Senjata semua terhunus, tinggal menunggu komando.

Jingga melirik sejenak, menarik nafas panjang sambil menggeleng gelengkan kepala. Ia mempercepat menutup tanah sebelum para prajurit Majapahit semakin rapat mengepungnya. Karena terburu buru, tanahnya masih belum rata seluruhnya.
Jingga lantas berdiri tegak, memandangi semua prajurit yang mengepungnya.
"Sebaiknya kalian pulang, jangan menyerangku, nanti kalian mati," pinta Jingga. Ia tidak ingin terjadi pertumpahan darah lagi.
Kontan permintaan tulus Jingga itu dianggap pelecehan kepada mereka. Bagaimana mungkin, mereka adalah pasukan Majapahit yang terkenal kehebatannya seantero negeri, seenaknya disuruh pulang oleh pemuda gila ini.
"Orang gila!, Apa yang kau lakukan semalam?!" Tanya Ki Bekel Widipa geram.
"Aku hanya menggantung pembunuh Pamanku, lalu mengubur Paman dan saudara saudaraku yang kalian bunuh," jawab Jingga dingin. Amarahnya tiba tiba bangkit mengingat Paman Andaka dan para pembesar Blambangan yang mati di tiang gantungan.
"Siapa yang kau gantung?"
"Senopati kalian," jawab Jingga enteng.
Seperti petir di pagi hari. Para prajurit terkejut mendengar pengakuan Jingga. Tapi kemudian mereka tidak percaya, ucapan Jingga dianggap bualan saja.
"Dasar orang gila, omongannya tidak bisa dipercaya."
Prajurit yang menyaksikan dari dekat semalam, menyangsikan bahwa yang diseret itu adalah Senopati mereka.
"Jangan membual, semalam saya melihat sendiri wajahnya. Tidak ada kemiripan sedikitpun dengan Senopati."
"Lalu untuk apa kalian mengejar saya kesini? Mau membantu menguburkan?"
Ki Bekel Widipa tertegun. Untuk apa Ia mengejar pemuda ini, sedang mereka sendiri menyangsikan pemuda ini sebagai tersangka pembunuhan dan penculikan di Kediaman Senopati. Bisa saja pemuda ini sebagai pengalih perhatian. Sementara pembunuh sebenarnya lepas dari kejaran.
"Siapa yang memerintahkanmu mengubur mayat mayat ini?"
"Tidak ada, saya hanya membantu menguburkan, karena aku dengar kemarin kalian diperintah membuang hari ini."
Jawaban Jingga benar adanya, kemarin Prajurit yang menjaga alun alun diperintahkan membuang mayat mayat yang mulai membusuk itu hari ini. Makanya, saat Jingga membawa pergi mayat mayat itu, mereka setuju setuju saja. Daripada mereka sendiri yang membuangnya.

Kini para prajurit itu kebingungan, Mereka curiga namun tidak yakin pemuda ini pelakunya. Terutama para prajurit yang berjaga semalam. Mereka melihat perubahan sikap Jingga. Semalam Jingga terlihat seperti orang kurang waras. Namun kali ini dari kalimat jawabannya, terkesan bahwa pemuda gila itu cerdas. Jadi semalam Ia pura pura kurang waras?

Disaat dilanda kebimbangan. Dari arah timur terdengar derap kaki kaki kuda semakin lama semakin mendekat. Mereka adalah rombongan Ki Bekel Braja. Dibelakangnya datang lagi rombongan orang orang berkuda. Dalam sekejap saja, tanah pekuburan dadakan itu penuh dengan prajurit Majapahit.
"Bunuh pemuda itu!" Perintah Ki Bekel Braja. Dengan tangannya, Ia memerintahkan pasukan membentuk formasi pusaran air. Menyesuaikan dengan formasi Ki Bekel Widipa.
Serentak para prajurit yang baru datang bergerak mengepung merapatkan kurungan yang dibuat sebelumnya.
"Dia yang membunuh Senopati!" Tambahnya, menjawab wajah wajah yang masih sangsi mengapa harus mengepung seorang pemuda kurang waras dengan pasukan sebanyak ini. Ada duaratusan prajurit, ditambah duapuluh pendekar pemburu hadiah. Sebuah perbandingan yang tidak seimbang, bahkan tak masuk akal.

"Hey dengar!" Tiba tiba Jingga berteriak dengan suara kekuatan batin. Sehingga bisa menggetarkan jantung mereka yang mendengarnya.
"Kalian telah membuat malapetaka di tanah Blambangan. Disini kalian telah membantai saudara saudaraku. Hentikan peperangan ini. Kembalilah kalian ke keluarga kalian. Jangan mati sia sia disini."
Setelah mendengar perkataan Jingga yang membuat mereka berdebar debar, Para Prajurit itu baru sadar menghadapi pemuda digjaya. Hanya dengan ucapannya membuat mereka gemetar lemas.
"Hey anak edan! Jangan main main!" Teriak Ki Bekel Braja. Ia balik menyerang dengan ajian auman harimau. Menunjukkan itu hanya mainan saja. Tak perlu membuat pasukannya gentar.
"Jangan membual. Aku ingin lihat kamu bisa berbuat apa?" Ki Bekel Braja langsung memerintahkan pasukan pemanah berkuda menyerang. Ia benar benar tidak mau berlama lama. Duapuluh pemanah langsung menghamburkan anak panahnya dari segala penjuru dengan arah menukik kearah Jingga. Sebuah serangan mematikan. Selama ini tidak ada yang mampu lolos dari serangan ini. Duapuluh anak panah menyerang dari segala penjuru bersamaan.

Jingga memusatkan konsentrasi membaca situasi sekitar. Ia terus mengeleng sedih. Saat anak panah tinggal tiga depa. Jingga tiba tiba melenting tinggi. Sehingga keduapuluh anak panah itu menancap deras ke tanah, tak satupun yang mengenai tubuh Jingga.

Melihat serangan pertamanya mudah dielakkan, Ki Bekel Braja memerintahkan pasukan berkudanya bergerak maju melewati pasukan Ki Bekel Widipa. Menggunakan senjata tombak dan pedang mereka mengitari Jingga sambil menusuk serentak dengan tombak dan tebasan pedang. Gerakan pasukan itu begitu teratur dan cepat. Jingga yang berada di tengah harus berloncatan dan bergerak kesana kemari dalam lingkaran tombak dan pedang. Sekilas pandang orang yang melihat akan mengira sedang ada pentas tari. Karena gerakannya begitu rancak.
Melihat serangan pasukan berkuda bisa dielakkan Jingga. Pasukan Ki Bekel Widipa ikut bergerak menyerang. Mereka adalah pasukan elit Senopati Branjangan. Kemampuan mereka diatas rata rata prajurit.
Dengan bergabungnya pasukan Ki Bekel Widipa. Jingga semakin kerepotan menahan serangan. Ia masih tidak ingin ada korban lagi dari pihak manapun. Cukup penanggung jawab pasukan Majapahit di Blambangan yang harus menanggungnya. Dengan sikap itu semakin membuat Jingga terdesak. Dalam kondisi seperti ini. Ia bukan mengkhawatirkan dirinya, Ia malah mengkhawatirkan keselamatan orang orang ini. Setiap senjata hampir mengenai dirinya, Ia merasa ada kekuatan gaib bergolak berusaha mengambil peran.

(Sambungan di bawah)
Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
SoulThan dan 32 lainnya memberi reputasi
32 1
31
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
26-07-2019 23:40
RASA BERSALAH

SAMBUNGAN


Tiba tiba dari atas pohon terdengar tepuk tangan. "Seru! Seru!"
Para Prajurit yang belum ikut menyerang Jingga menoleh mencari sumber suara. Ternyata diatas pohon besar itu Ranu sedang menonton gembira. Ia lupa dengan ketakutannya tadi. Malah sekarang gembira melihat Jingga berloncatan kesana kemari. Ranu pikir mereka sedang bermain.
Saat Ranu ketakutan melihat banyaknya orang berwajah garang mengepung dengan senjata terhunus. Jingga meminta kepada pengawal gaibnya untuk menyembunyikan Ranu agar tidak menjadi korban. Dalam sekejap, Ranu dibawa pergi dari tanah pekuburan. Dipindahkan ke atas pohon besar di pinggir tanah lapang itu. Awalnya Ranu kebingungan, namun setelah sadar dirinya berada jauh dari orang orang garang itu. Ranu perlahan menjadi tenang. Ia lalu larut menonton kejadian di pekuburan. Tanpa disadari Ia berseru gembira. Lupa kalau yang dilihatnya bukan main main.

"Hey! Itu pemuda yang menghilang tadi," seru salah sorang prajurit.

Para pendekar pemburu hadiah lebih bertindak cepat. Mereka langsung mengejar Ranu yang berada diatas pohon. Pikir mereka, pasti orang ini termasuk komplotan pembunuh Senopati. Mereka langsung menyerang berebut lebih dulu membunuhnya menggunakan senjata andalan masing masing. Para pendekar pemburu hadiah itu selain ahli beladiri, mereka membekali dengan aji aji yang aneh aneh dari dunia gelap. Mereka tidak peduli benar salah, yang penting tujuannya tercapai. Jadi bisa dibayangkan betapa berbahaya dan kejinya serangan mereka.

Ranu yang polos, tidak punya bekal apa apa tiba tiba diserang berbagai senjata dan aji aji secara bersamaan. Langsung terkena serangan tanpa bisa menghindar. Bahkan pengawal gaib yang ditugaskan menjaga tidak bisa menahan serangan yang bersamaan itu. Tubuh Ranu terpental jatuh. Serangan tidak sampai disitu. Saat melayang Ranu sudah dihajar berbagai senjata yang berebut lebih dulu mencabut nyawanya. Akibatnya tubuh Ranu bagai kain yang dilempar lempar ditengah kerumunan orang. Saat jatuh ke tanah tubuhnya sudah tak berbentuk. Ranu tewas sebelum menyentuh tanah.
Para pendekar pemburu hadiah itu benar benar tidak waras. Mereka berebut mayat Ranu seperti kawanan anjing hutan berebut mangsa.

Kejadian itu begitu singkat dan cepat. Jingga yang sekilas melihat tak bisa berbuat apa apa untuk menolong Ranu. Kekuatan gaib yang membantu menyembunyikan Ranu sepertinya kalah dengan kekuatan Pendekar keroyokan itu.

Melihat Ranu tewas secara mengenaskan tanpa bisa menolong. Membuat Jingga meradang. Kemarahannya meledak tanpa bisa dikendalikan.
Tiba tiba Jingga berteriak keras, suaranya sangat parau dan berat. Wajahnya yang sedih berubah menjadi beringas. Orang orang ketakutan melihat Jingga yang lusuh berubah menjadi Raksasa mengerikan.

Kini Jingga tidak mengelak lagi. Ia membiarkan berbagai jenis senjata menghajarnya dari segala penjuru. Tangan dan kakinya bergerak serampangan menghantam senjata yang berseliweran disekitarnya. Seketika barisan pengepungnya berantakan. Diobrak abrik Jingga seperti menebas ilalang kering.
Korban mulai berjatuhan. Tanah pekuburan memerah penuh dengan darah Prajurit Majapahit.
Pertempuran menjadi sangat brutal.
Jingga mengambil apa saja digunakan senjata. Bahkan mayat prajurit yang tewas Ia gunakan untuk bertempur. Potongan tangan, kaki, kepala, berserakan kesana kemari. Semula Jingga yang dikepung dan diburu. Kini situasi berbalik. Jingga bergerak kesana kemari membabat habis Prajurit yang berada di tanah pekuburan bekas perang puputan. Ki Bekel Braja tewas dengan kepala remuk dihantam kepala prajurit yang dikibaskan Jingga.
Beberapa prajurit yang ketakutan berusaha lari. Namun mereka seperti kebingungan mencari jalan. Mereka hanya berlari mengitari area pertempuran sambil berteriak histeris.

Ditengah Jingga bergerak kesana kemari. Kali ini sasarannya pasukan Ki Bekel Widipa. Ki Bekel Widipa berusaha mencari selamat dengan membentuk gelar cakra dengan dirinya berada di tengah tengah. Jingga hanya menyeringai lalu menusuk kedalam gelar itu. Kembali pembantaian terjadi. Pasukan pengawal Ki Bekel Widipa porak poranda. Jingga menubruk Ki Bekel Widipa, membuat Ki Bekel itu terjengkang. Belum puas menubruk Jingga mengejar lalu menginjak dadanya. Seketika remuk tubuh Ki Bekel Widipa. Darah segar keluar dari mulutnya.

Setelah itu Jingga mengejar para pendekar pemburu hadiah yang menghabisi Ranu. Satu persatu dihabisi seperti jagal ayam di kandang. Tak ada yang terlewatkan.

Kehilangan dua pimpinan dalam sekejap. Sisa sisa prajurit semakin kacau balau. Semangat bertempurnya sudah hilang. Hendak lari tidak tahu jalan. Mereka bagai laron yang berputar putar mengelilingi ublik. Satu persatu terbakar dan mati. Teriakan yang semula penuh serapah dan pembangkit semangat. Berganti teriakan ketakutan minta tolong.

Namun yang diminta tolong sudah berubah menjadi raksasa haus darah. Satu persatu prajurit itu dibabat, dibanting, diinjak tanpa belas kasihan.

Tengah hari, teriakan teriakan itu akhirnya hilang, berganti sepi. Kicauan burung di tengah keheningan seperti air dingin yang menyadarkan Jingga dari amarahnya.
Seketika Jingga terbelalak melihat kengerian di sekitarnya. Ia seperti baru tersadar dari mimpi. Mimpi yang nyata. Ia memandangi kedua tangan dan sekujur tubuhnya penuh dengan darah anyir.
Jingga lantas menarik narik rambutnya yang juga lengket penuh darah.
Ya ampun, sekarang aku jadi pembunuh orang sebanyak ini. Lalu apa bedanya aku dengan mereka.
Jingga terjatuh duduk oleh beban bersalahnya. Ia kemudian tersadar mencari Ranu. Bolak balik Ia mencari diantara mayat Pasukan Majapahit.
"Ranu... Maafkan aku. Aku yang celaka pembawa bencana. Ya ampun..." Jingga membungkus sisa sisa tubuh Ranu sambil menangis. Ia akan menguburkan dengan layak. Meski tidak bisa menebus kesalahannya.
Belum selesai membungkus jasad Ranu. Terdengar dari arah bawah rombongan prajurit besar datang. Jingga segera berkemas pergi. Ia takut kejadian tadi terulang kembali.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Chikungg dan 33 lainnya memberi reputasi
34 0
34
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
26-07-2019 23:44
suwun ki,dah update.dobel lagi josss...... emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh kamandaka494
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
26-07-2019 23:49
duh makasi updatenya ki, tapi ngegantung nih hehe
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 00:00
para prajurit semua mati tak tersisa, pasukan yang datang pasti kebingungan melihat rekan2nya mati tanpa ada nya saksi yang hidup
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 00:08
Ahkhirnya pemilik blambangan dari jaman sebelumnya membalas sakitnya prajurit dan rakyat blambangan
Akankah pembalasan ini sampai ke wilwatikta.

Hanya bisa menunggu pencerahan dr ki @curahtangis
Diubah oleh Arikempling78
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 00:15
Pembalasan lebih kejam!
emoticon-Takut


Peperangan hanya membawa bencana, yg bermusuhan siapa, yg mati siapa.
Kedamaian seperti oase di padang tandus.
emoticon-Marah emoticon-Marah
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 00:30
Makin update makin penasaran..he.he...
Pembalasan sudah di laksanakan,semoga dengan kejadian ini pasukan Majapahit di tarik pulang kembali dari tanah Blambangan...
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 00:30
Matursuwun kang
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 01:17
mantul ki lanjut kan ki emoticon-I Love Indonesia
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 03:09
Rasanya pengen ikut bantu jingga 🥺
Suwun ki updatenya 🙏🙏
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 03:43
Seperti ada kepuasan tersendiri membaca update-an terakhir.

Next, Dutamandala, face to face? Biar gak banyak jatuh korban.

Trims ki🙏🏾
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 05:28
Semakin menarik ceritanya ki....semakin membingungkan untuk menebak arah cerita ki curah
Apapun ending jingga, semangat ki.....terimakasih kasih
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 05:41
Mantab ki, double update emoticon-2 Jempol

Orang2 hebatnya Dutamandala d Blambangan udah dihabisin, pasti bingung tuh Dutamandala. Cuma Kidang Anom yg berhasil menduduki Blambangan dg "sukses". Apa mungkin Kidang Anom diturunkan lagi buat lawan Jingga???? emoticon-Bingung emoticon-Bingung
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 05:53
mantab luar biasa ki
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 06:13
suwun kincurah
0 0
0
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
27-07-2019 06:14
Ciamis ki... Suwun update nya....
0 0
0
Halaman 175 dari 219
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pengantin-berdarah
Stories from the Heart
dendam-arwah-dari-masa-lalu
Stories from the Heart
perahu-tanpa-layar
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
istri-dari-neraka
Stories from the Heart
kumpulan-pengalaman-horor-brina
Stories from the Heart
klinik-aborsi
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia