alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.5 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d03b794018e0d556a65e082/sfth-cemburu
Lapor Hansip
14-06-2019 22:04
(SFTH) Cemburu
Cerbung Cemburu
Part 1

(SFTH) Cemburu


"Cemburu itu katanya tandanya cinta, Cemburu itu katanya tandanya sayang, tapi hati terasa sesak, aku tidak ingin cemburu, bagaimana bisa, kalau ternyata orang-orang disekitarku juga merasakan yang namanya cemburu"

Pekalongan 14 Juni 2019, di tengah gerimis yang diam-diam


Bila ada perempuan paling beruntung di dunia ini, mungkin itu adalah aku. Disaat di luar sana banyak menantu yang menjelekkan mertuanya, menganggap mertua bagaikan musuh bebuyutan. Hampir setiap hari cekcok dengan mertua atau sebaliknya, mertua yang menganggap menantu, saingan terberatnya, menguasai anak laki-lakinya, dan persoalan mertua dan menantu yang tiada habisnya.

Aku harus lebih bersyukur, dua belas purnama mengarungi bahtera rumah tangga dengan Mas Gifar, selama hidup dengan mama dan papa mertua, tak pernah sekalipun mereka menyakitiku, mereka begitu cinta dan sayang pada diri ini setulusnya.

Bahkan aku yang sering dibela sama mama ketika berantem kecil dengan Mas Gifar. Karena apa? Karena mama tidak punya anak perempuan. Anak Mama dua yang pertama adalah Mas Hanif, seorang lelaki pendiam yang telah menikah dengan Mbak Hanum, selama hampir tujuh tahun menikah, tak ada tanda-tanda istri Mas Hanif itu mengandung. Mbak Hanum juga pendiam, seorang dokter gigi yang bersahaja.

Kami tinggal dalam satu rumah yang besar, dengan halaman luas, ada banyak kamar, di tengah rumah terdapat kolam ikan dan taman, mama melarang Mas Hanif untuk pindah rumah, dan laki-laki itu mematuhinya.

Mengapa mama begitu mencintaiku? katanya aku ramai dan manja. Begitu menikah dengan Mas Gifar, aku berhenti dari pekerjaan sebagai seorang guru honorer di sekolah SMP swasta, bukan karena honor yang sedikit, cinta dan sayang pada murid-murid mulai tumbuh subur. Namun permintaan Mas Gifar membuat aku mengangguk, karena mama tidak ingin punya menantu yang sibuk bekerja juga.

Cinta mama bertambah banyak, ketika tahu aku mengandung benih Mas Gifar, itu berarti calon keturunan Raden Rangga Wijaya, akan muncul ke bumi. Cucu yang telah lama ditunggu-tunggu.

"Dinda, mulai hari ini, kamu nggak boleh capek. Pokoknya, kamu mesti nurut apa kata Mama, nggak boleh capek!" ultimatum mama, dengan binar mata bahagia.

"Siap, Ma," ucapku sambil tersenyum memeluk mama.

"Kamu mau apa tinggal bilang, jangan sampai cucu Mama, ileran, gara-gara ingin sesuatu nggak kesampaian."

"Mama tenang aja, 'kan Mas Gifar, suami siaga. Siap jagain aku," ucapku mengerling manja pada Mas Gifar.

"Yoi, tentunya."

***

Sembilan bulan sudah kandunganku, dan ini adalah puncaknya. Disaat mana sebagai perempuan nyawaku dipertaruhkan. Sebuah rasa yang entah, antara sakit dan bahagia.

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, kata dokter baru pembukaan satu, mama, papa, ayah dan bunda semuanya menungguiku. Oh iya kalau ayah dan bunda itu orang tua kandungku.

Tak ketinggalan tentunya Mas Gifar, juga Mas Hanif dan Mbak Hanum. Semuanya sibuk menunggui di rumah sakit. Menanti Rangga Wijaya junior.

Mama, Bunda serta Mas Gifar yang menunggu di kamar, selebihnya menunggu di luar. Karena nggak mungkin mereka menunggu di dalam kamar semua, bisa-bisa dokternya marah.

Kurasakan kembali perut yang melilit, keringat mulai membasahi dahi, Mas Gifar mengelap denga tissu.

"Mas, sakit sekali. Mas sih enak nggak ngerasain sakit kaya aku," kataku merajuk.

"Mana ada laki-laki melahirkan, kamu sabar ya?"

"Tapi sakit sekali, Mas. Bunda, Mama. Rasanya semakin sakit."

"Orang mau melahirkan ya sakit, tahan nggak lama, kata dokter sudah pembukaan tiga, mungkin satu jam lagi. Dokter Ratna tadi bilang." Bunda mencoba menenangkan aku, kalau mama malah kelihatan nerves.

"Apa! Satu jam. Aww, sakit."

Tiba-tiba aku menggigit tangan Mas Gifar yang sedang mengusap jemariku.

"Awww, aduh sakit dong," jerit Mas Gifar.

Mama dan Bunda tersenyum melihat Mas Gifar yang meringis kesakitan sambil mengusap tangannya. Matanya sedikit melotot ke arahku, takut kena marah mama kali.

Seorang bidan dengan wajah sedikit judes masuk ke dalam ruangan, mungkin saja dia capek karena sudah membantu dokter melahirkan banyak bayi.
Ketika mendengar aku merintih dan mengadu, juga nyalahin Mas Gifar terus, bidan itu bersuara juga.

"Melahirkan itu ya sakit nyonya, yang nggak sakit itu ena-ena nya."

Bunda dan mama sama-sama tersenyum, Mas Gifar ikutan senyum juga, aku yang meringis sakit. Rasa mulas semakin menjadi, perut seperti diremas-remas, rasanya seperti ingin BAB, semakin kuat kucengkeram tangan Mas Gifar. Buliran bening mulai keluar dari kelopak mata. Mama menelpon dokter Ratna begitu sakitku kian menjadi. Bunda mengalah untuk keluar karena mama memaksa untuk tetap menemaniku.

Dokter Ratna datang, ia langsung memeriksaku, dan mengatakan kalau sudah pembukaan delapan, berarti sebentar lagi bayinya akan lahir.

"Baca Bismillah, istighfar, tarik napas, embuskan pelan." Dokter Ratna memberi kode, mana saat mengejan mana saat beristirahat.

"Sakit, Mas. Ini sakit pakai banget."

"Tahan, sayang. Sebentar lagi."

Mas Gifar membelai rambutku, kemudian mencium kening seraya mulutnya komat-kamit membaca doa. Mama membimbingku untuk tidak berhenti beristighfar.

Tak lama kemudian suara tangisan itu pecah. Mas Gifar mengumandangkan takbir, begitu dengan mama, mengucap syukur berkali-kali, badanku semakin lemah, ternyata aku mengalami pendarahan, sampai tak sadarkan diri.

***

Begitu aku siuman orang yang pertama kulihat adalah Mas Gifar, semalam dia tidak tidur menunggui, istrinya yang telah bertaruh nyawa demi bayi kecil tercinta.

"Sayang, anak kita perempuan. Mama senang sekali."

"Cuma, mama yang senang, Mas Nggak?" tanyaku merengut.

"Ya, nggak gitu. Aku senang, melebihi mama. Terima kasih ya, sayang, dah bersakit-sakit, demi anak kita tercinta."

Berulangkali Mas Gifar mencium keningku. Sebuah kebahagiaan terpancar dari manik coklat yang tak lepas memandangku. Tapi di mana anakku? Kenapa aku belum boleh melihatnya.

"Mas, aku ingin menyusui anak kita, dia harus mendapat asi yang mengandung kolostrum ini."

"Sebentar ya, aku telpon mama, untuk membawa ke mari."

Tak lama kemudian mama dan bunda datang sambil menggendong bayi mungil itu. Seorang bayi mungil yang sangat cantik, kulitnya putih bersih mewarisi kulitku. Hidungnya yang mancung persis seperti papanya, dan rambut sedikit ikal itu milik papanya.

"Sekar, ayo nenen sama mama dulu."

Sekar, mama memanggilnya Sekar. Jadi bayiku telah diberi nama oleh mama dengan nama Sekar? Padahal aku ingin memberinya nama Putri.

Setelah selesai minum asi, mama kembali membawa bayi itu ke ruang bayi. Tiba-tiba mataku memanas, teringat nama itu. Mengapa harus Sekar? Bukankah itu nama tunangan Mas Gifar yang mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu, apa maksud dari semua ini?

To be continued
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Laditachuda dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 6 dari 7
05-07-2019 21:19
Mungkin 😊
0
05-07-2019 21:32
lanjut dong teh.ahhh kok jadi nagih ama ceritanya
0
05-07-2019 21:58
Quote:Original Posted By lianasalam
lanjut dong teh.ahhh kok jadi nagih ama ceritanya


Tunggu ya nih lagi berbalas pantun. Ikutan yuk di pantunku
0
06-07-2019 15:57
di update lagi dong sista, sekarang udah jarang update nih ...
0
06-07-2019 16:03
iya teh.lanjut update dong.suka sama cerita yg berbau rumah tangga.karna kebanyakan cerita pasti jaman sekolah ,kuliah dan pacaran.
0
09-07-2019 04:35
udah update blm ini???
0
09-07-2019 05:00
Quote:Original Posted By Alea2212
di update lagi dong sista, sekarang udah jarang update nih ...


Quote:Original Posted By lianasalam
iya teh.lanjut update dong.suka sama cerita yg berbau rumah tangga.karna kebanyakan cerita pasti jaman sekolah ,kuliah dan pacaran.


Quote:Original Posted By YulianAnggita
udah update blm ini???


Insya Allah segera update.
profile-picture
profile-picture
YulianAnggita dan lianasalam memberi reputasi
2
19-07-2019 21:48
Cemburu
Part 5


"Jangan pura-pura nggak tahu!" Suara Mbak Hanum sedikit keras.

"Aku beneran nggak tahu, Mbak."

Aku berusaha menjawab sejujurnya, tapi kilatan kebencian dari sorot mata penuh emosi itu, benar-benar lebih tajam dari pedang yang baru selesai diasah.

"Kamu 'kan cinta pertama Mas Hanif?"

"Pertanyaan konyol. Kalau Mas Hanif mencintaiku, kenapa dia menolak waktu mama menjodohkannya dengan aku."

Mbak Hanum terdiam sesaat, mungkin saja sedang mencerna kata-kataku. Bisa-bisanya dia cemburu padaku, cemburu yang tak beralasan. Harusnya sebagai seorang yang berpendidikan tinggi, cantik wajahnya nggak perlu lah dia teriak-teriak seperti itu.

"Dinda, sampai kapanpun aku tidak akan rela, sebiji zarah saja Mas Hanif mencintaimu. Aku bisa membuat hidupmu juga keluargamu sengsara. Camkan itu!"

Bulu kudukku tiba-tiba meremang mendengar ancamannya. Bagaimana mungkin kakak ipar yang dulu baik dan lembut bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti itu. Bermula dari berita kehamilanku, sedikit demi sedikit dia mulai menampakkan perubahan terhadapku.

Bergegas aku menuju ke kamar, sedang hati tak menentu. Rasa was-was tiba-tiba saja menyelinap, mengkhawatirkan bayi mungil itu. Mengapa juga aku harus menanggapi ancamannya.

"Kamu kenapa, Din? Kok gelisah gitu."

"Nggak apa-apa, Mas. Di mana Puput, Mas?" tanyaku sambil meremas ujung jilbab ungu ini.

"Puput sedang bersama, Mas Hanif," jawab Mas Ghifar sambil menyisir rambutnya.

"Kok bisa dia bersama Mas Hanif? Aku mau sama Puput sekarang."

"Mas Hanif 'kan Pak Dhe nya, emangnya kenapa?"

"Pokoknya aku mau sama Puput!"

"Din, nggak usah seperti anak kecil gitu dong, Mas Hanif itu sudah lama menikah, belum diberi keturunan juga, kasihanlah, biarkan dia ikut menyayangi Puput keponakannya."

"Mas dengerin aku, kita pindah dari rumah ini."

"Kamu kesambet di mana? Tiba-tiba aneh gitu. Rumah ini terlalu besar buat kita, ngapain kita pindah?"

"Mas!"

***

Setelah masa nifas berakhir, aku ingin ikut KB, tapi Mama tak mengijinkan. Mas Ghifar juga secara tidak langsung seperti menolak permintaanku. Padahal aku ingin Puput punya adik ketika sudah berumur tiga sampai empat tahun.

Aku hanya bisa menangis menerima keputusan itu. Mana sekarang Puput lebih di dominasi mama, setelah memberinya asi, mama langsung mengajak Puput kembali. Hidup terasa hampa.

Sejak masa nifas itu aku selalu menghindar dari Mas Ghifar, ada saja alasanku, yang sering kuutarakan adalah sakit kepala, tidak enak badan, aku tahu aku salah, aku berdosa, tapi rasanya hati ini belun rela dengan keputusannya.

"Maafkan aku, Mas" bisikku dalam hati.

Malam itu Mas Ghifar pulang sampai larut malam, ketika aku tanya katanya dia harus lembur, banyak pekerjaan di kantor. Tapi kenapa dia harus pulang dengan Mbak Hanum? Dan kenapa pula dia harus memapah wanita itu? Ke mana Mas Hanif.

"Mas sudah makan?" tanyaku ketika Mas Ghifar selesai bersih-bersih.

"Sudah."

"Mau aku buatkan teh atau kopi?"

"Nggak usah, aku capek."

"Aku pijitin ya?"

"Sudah kamu tidur saja."

Kutarik selimut, berusaha untuk terpejam tapi tak bisa. Bayangan wajah Mbak Hanum yang tersenyum mengejek tadi tak bisa lepas dari pelupuk mata. Apa yang sebenarnya direncanakan wanita itu?

"Mas, kenapa bisa bareng Mbak Hanum?"

Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir ini, tapi ternyata Mas Ghifar sudah tidak mendengar pertanyaanku. Dengkuran halus terdengar di telingaku. Sepertinya dia lelah sekali.

Ketika terdengar tangis Puput, buru-buru aku menuju ke kamarnya, alangkah terkejutnya aku, disitu sudah ada Mbak Hanum sedang memberikan susu formula pada pada bayi mungil itu. Dan Mama membiarjan begitu saja, tanda kalau dia setuju dengan tindakan menantunya itu.

"Kenapa Puput dikaih susu formula?" tanyaku dengan nada kecewa.

"Kata Hanum, kamu sudah tidur. Jadi Mama yang nyuruh Hanum membuatkan susu buat Sekar."

Pintar sekali Mbak Hanum mengarang cerita, kapan dia mengetuk pintu kamarku? Benar-benar keterlaluan! Langsung saja kugendong Puput, tanpa menghiraukan panggilan mama dan Mbak Hanum, kubawa Puput ke kamarku.

"Tidur bareng Mama ya, sayang. Mulai sekarang Mama akan melindungimu. Mama nggak mau kamu kenapa-kenapa."

Setelah pintu kamar kukunci dari dalam, segera aku merebahkan diri disamping bayi mungil itu. Mas Hanif terjaga mendengar tangis Puput yang belum berhenti. Ternyata dia BAB dan kenapa dia jadi mencret-mencret?

"Puput tidur di sini?"

"Ia, Mas. tadi dia rewel. Ini juga, kok Puput jadi mencret gini."

"Sudah dikasih oba?"

"Belum, aku nggak tahu obat mencret untuk bayi."

"Ya udah kita ke rumah sakit aja."

Jam dinding telah menunjukkan pukul tiga dini hari, aku berjalan mengendap-endap, sambil menggendong bayiku, kini ditambah dengan muntah-muntah. Bajuku basah terkena muntahan Puput. Ketika baru saja melewati pintu tengah kulihat Mbak Hanum tengah duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati secangkir kopi, pandangannya begitu sinis melihat aku yang kocar-kacir ngurusin si bayi.
Bertepatan dengan itu Mas Hanif baru saja pulang dari luar kota.

"Dinda, ada apa dengan Sekar?" tanyanya dengan guratan kecemasan di wajahnya.

"Puput sakit, Mas. Dia mencret-mencret, kemudian muntah."

"Harus segera dibawa ke Dokter. Di mana Ghifar?"

"Masih di kamar, menyiapkan baju ganti buat Puput."

Mbak Hanum berjalan mendekat ke arah Mas Hanif, meminta tas yang dibawa suaminya, kemudian berkata,

"Nggak usah heboh, bayi mencret itu biasa."

Biasa kata Mbak Hanum. Atau jangan-jangan bayiku mencret karena ulah dia? Keterlaluan sekali kalau memang dia berbuat jahat pada Anakku.

"Aku akan ikut ke rumah sakit." kata Mas Hanif kemudian.

"Tapi, kamu capek, Mas, kamu baru saja pulang. Atau jangan-jangan, Mas Hanif hanya ingin menemani Dinda!"

"Jaga bicaramu, Han!" Suara Mas Hanif sedikit meninggi.

Tak kupedulikan sepasang suami istri itu bertengkar. Yang terpenting adalah bagaimana lekas membawa anakku ke rumah sakit.

Mobil melaju dengan sedikit kencang membelah pagi. Puput terus saja menangis. Hatiku tak karuan. Begitu sudah berada di parkiran
rumah sakit, aku sedikit tenang.
Mas Ghifar membopong Bayi mungil itu, mengekor di belakangnya. Tak hentinya mulut ini berdoa untuk keselamatan bayi mungil itu.

Puput segera mendapat penanganan dokter jaga di IGD, tak lama kemudian, seorang perawat menyarankan kami memilih kamar untuk rawat inap bayi itu.

"Untung cepat tertolong, kalian tidak terlambat membawanya ke rumah sakit. Sedikit saja terlambat, tidak tahu apa yang akan terjadi."

"Anak saya kenapa, dok?" tanya Mas Ghifar kemudian.

"Keracunan."

Seperti mendengar petir di siang bolong, begitu dokter mengatakan, kalau penyebab sakit anakku adalah karena keracunan, sebenarnya susu apa yang telah diberikan Mbak Hanum?

To be continued
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 4 lainnya memberi reputasi
5
19-07-2019 21:51
Quote:Original Posted By Alea2212
di update lagi dong sista, sekarang udah jarang update nih ...


Quote:Original Posted By lianasalam
iya teh.lanjut update dong.suka sama cerita yg berbau rumah tangga.karna kebanyakan cerita pasti jaman sekolah ,kuliah dan pacaran.


Quote:Original Posted By YulianAnggita
udah update blm ini???


Cemburu part 5 update kepoin yuk
profile-picture
YulianAnggita memberi reputasi
1
20-07-2019 00:09
mulai deh konfliknya makin rumit...
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
20-07-2019 05:20
ini mbak Hanum kok jahat banget ya.
dia pasti cemburu nih, karena belum juga dikasih momongan... emoticon-Malu
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
20-07-2019 05:24
Quote:Original Posted By YulianAnggita
mulai deh konfliknya makin rumit...

Biar njlimetemoticon-Cape deeehhemoticon-Cape deeehh
Quote:Original Posted By Alea2212
ini mbak Hanum kok jahat banget ya.
dia pasti cemburu nih, karena belum juga dikasih momongan... emoticon-Malu


Bis jadi bisa jadiemoticon-temptedemoticon-temptedemoticon-tempted
0
20-07-2019 11:52
Lupa belum baca part satunya😅
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
20-07-2019 14:12
Quote:Original Posted By mbakendut
Lupa belum baca part satunya😅


Oh ya kahemoticon-Toast
0
22-07-2019 19:19
lanjut dong sis, penasaran sama nasip puput aka sekar kecil... emoticon-Peluk
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
22-07-2019 19:50
Quote:Original Posted By Alea2212
lanjut dong sis, penasaran sama nasip puput aka sekar kecil... emoticon-Peluk


Bentar ya lagi ada proyek antologi cerpen suami2.
profile-picture
berodin memberi reputasi
1
30-07-2019 16:53
Mbak Hanum parah. Ckckckck. Aku sebel emoticon-Mad
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
31-07-2019 06:41
Pasti susunya udah dikasih sesuatu tuh😅
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
31-07-2019 14:36
kakak ipar yang kedjam emoticon-Berduka (S)
0
31-07-2019 21:15
cemburu itu bumbu cinta.☺☺
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
Halaman 6 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sebenarnya-cinta
Stories from the Heart
prekuel-sebelum-karma
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.