alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.71 stars - based on 14 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5c9da6e3a2d1950b38248d61/my-sister
Lapor Hansip
29-03-2019 12:02
My Sister Part 1
Past Hot Thread
Cerbung My Sister

My Sister




Namaku Quita, aku lahir lima belas menit setelah saudara kembarku Quina lahir. Kami memang saudara kembar tapi sayangnya dari fisik sampai IQ tidak ada yang kembar antara aku dan Quina. Sungguh sangat menyedihkan.

Quina memiliki kulit yang terang, bersih, hidung mancung mata lentik dan rambut ikal mayang, sedang aku, kulitku gelap, hidungku, pesek sih enggak tapi, kalau di banding Quina jelas beda jauh, tapi kadang aku tidak mempermasalahkan segi fisik, mungkin inilah takdir Allah untukku, sifatku cuek, tidak seperti Quina yang penuh perhatian kepada siapa saja, dan satu yang membuat aku sedih, aku tidak sepandai Quina, aku selalu kalah di dalam segala hal.Tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Quita, aku tidak pernah bisa membahagiakan mama dan papa, sampai kelas satu SMA pun aku tidak pernah sekalipun membuat mereka bangga, bayangkan Quina selalu rangking satu, bahkan selalu dapat beasiswa, sedang aku naik kelas saja sudah untung bagiku.

Aku tahu mama sedih, setiap kali mama mengambil raporku, tapi mama tak pernah marah padaku, bahkan mama selalu menghiburku.

“Siapa bilang anak Mama bodoh, buktinya Quita naik kelas," hibur mama ketika itu.

“Quita nggak bisa ngasih nilai bagus ke Mama, Quita bodoh Ma, tapi mengapa Mama selalu ngebela Quita?”

“Karena Quita juga sayangnya Mama.”

“Tapi mengapa Mama selalu ngebela Quita di hadapan Papa, sebenarnya Papa itu nggak salah Ma, bila Papa menghukum Quita, karena memang Qiuta bodoh, IQ Quita di bawah rata-rata.”

“Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini sayang, kalau kita mau berusaha dan bekerja keras.”


Betapa bijaknya kata-kata mama, tapi semua itu tidak bisa menghapus rasa sedih Quita, setiap kali papa ngasih kado buat Quina karena prestasinya, papa selalu memuji-muji Quina di depan teman-teman papa, betapa bangganya papa pada Quina. Sebenarnya siapa sih yang nggak ingin pandai seperti Quina? Dan satu hal yang membuat sedih adalah ketika Papa selalu mengenalkan Quina pada teman-teman kantor papa, papa selalu memanggil Quina untuk menemani papa, tatkala ada teman-teman papa dan memberi isyarat padaku untuk menyingkir, sedih sekali rasanya.

“Coba kalau kamu belajarnya juga rajin seperti Quina, Papa yakin, kamu juga bisa berprestasi seperti dia.”

“Tapi Quita juga belajar Pa ….”

“Tapi mengapa nilaimu selalu jelek, lihat nilai ulangan Quina dapat 100, kok kamu dapat bebek berenang, padahal kualitas soalnya jelas beda, lebih susah kelasnya Quina, kamu itu sudah ditaruh di kelas anak-anak yang bodoh masih saja tetap bodoh, harus bagaimana lagi Papa ngajarin kamu.”

“Sudahlah Pa, mau belajar sampai mata bengkak juga, Quita itu nggak bakalan bisa kalau pelajaran matematika, otak Quita itu sama saja dengan otak udang, setiap kali Quina ajarin enggak bisa-bisa, capeeek deh," kata Quina tanpa memedulikan perasaanku sebagai saudara kembarnya sedikitpun.

Aku bodoh, aku bodo, aku bodoh! mengapa aku terlahir sebagai anak bodoh, apakah sampai tua aku akan jadi orang yang bodoh? Teriaku dalam kegelapan malam, aku terus saja berjalan menuju taman kota, tanpa memperdulikan kakiku yang lecet-lecet, karena aku tidak memakai alas kaki. Cahaya bulan yang kata orang-orang begitu indah seakan tersenyum mencibirku, tidak ketinggalan bintang yang hanya tampak satu-satu, semua bersorak-sorai atas kebodohanku, bahkan kunang-kunang yang berseliweran di taman juga serempak mentertawakanku. Oh dunia dan seisinya apakah engkau tahu kalau aku orang bodoh seperti kata-kata papa, kalau aku orang bodoh sedunia.

Hanya taman ini sebagai temanku, aku bisa menghirup udara bebas di sini, ditemani bunga-bunga yang harum semerbak, aku duduk di bangku tua yang sedikit lapuk, kuselonjorkan kakiku, sambil sesekali ku pijiti sendiri. Mataku menatap kelangit yang sedikit mendung, tampak bintang-bintang yang berkelap-kelip satu-satu mencoba menyinari wajahku yang tak pernah bersinar, dalam hati aku berbisik, apa aku tidak bisa berprestasi seperti Quina saudara kembarku?

Tapi aku bisa apa? Pernah suatu kali Mama mengikut sertakan aku dalam lomba busana muslim, Quina juara 1 eh aku malah terjatuh di panggung, bajuku terinjak kakiku, dan brug! panggung itu seakan ikut meledekku, semua penonton mentertawakan aku, boro-boro dapat juara, dapat malu segudang sih ia.

Waktu mama ikut sertakan aku di lomba karaoke tingkat kecamatan, ini yang mungkin tak pernah bisa aku lupakan dalam hidupku, waktu itu Quina sepertinya juaranya setiap lomba, lagi-lagi ia juara satu dan disuruh lomba di kabupaten, saudara kembarku itu memang hebat, bertumpuk-tumpuk piala, di ruang tengah, tak ada satupun yang menjadi milikku, sedang aku? Ketika aku naik ke atas panggung, suaraku yang sember membuat penonton sakit telinga, aku ditimpukin botol bekas aqua dan disuruh turun tanpa belas kasihan, mereka tidak tahu kalau aku adalah saudara kembar Quina, semalaman aku menangis, samapai mataku bengkak.

Itu cuma sekelumit, kisah lombaku yang tidak pernah dapat juara, karena aku anak bodoh! Tapi mengapa setiap kali mama nyuruh aku ikut lomba, aku mengangguk saja? Karena jawabannya aku tidak ingin membuat mama sedih. Aku tahu mama sedih melihatku, tapi lagi-lagi semua itu bisa terhapus oleh Quina, saudara kembarku, walau kadang kata-katamya membuat aku sakit, tapi memang dasar akunya saja yang sulit di kasih tahu, siapapun pasti capek juga bila ngajarain anak yang nggak bisa-bisa seperti aku.

Sudah malam, aku harus cepat-cepat pulang, kalau tidak pasti Papa akan marah, aku sih sudah biasa dimarahin papa jadi nggak ngaruh, tapi kalau mama sedih? Aku akan merasa berdosa sekali. Karena mama adalah Pahlawanku, mama akan selalu membelaku, mama adalah semangat hidupku.

“Dari mana, Quita? Dicariin Mama sama Papa tuh," ucap Quina

“Cari angin segar….”

“Emang di rumah anginnya kurang segar?”

“Ya … segar buat kamu, tapi buat aku enggak."

“Maaf ya, tadi aku ngomong nggak enak kekamu, sebenarnya aku nggak bermaksud nyakitin perasaan kamu, aku sayang kok sama kamu, walaupun kamu nggak pinter."

“Udah aku maafkan kok, emang nggak ada yang salah dengan kata-kata kamu, otakku emang otak udang, aku bodoh, nilaiku selalu jelek, tapi aku mesti gimana lagi?"

“Tapi aku yakin Quita, sebenarnya kamu itu punya kelebihan, bukannkah Allah menciptakan manusia itu ada kekurangan dan ada kelebihannya juga?"

“Kamu ngomong gitu karena kamu pinter, coba kalau kamu jadi aku."

“Sayang ya … walaupun kembar kita beda, kalau sama 'kan kita bisa tukar tempat, seperti di sinetron-sinetron itu.”

“Untung di aku, rugi di kamu.”

Quina emang anak yang baik, dia mau minta maaf ke aku, dia tidak jadi sombong karena kelebihannya. Tapi malah aku yang iri karena kecerdasanya. Dia memang saudara kembarku yang paling baik sedunia.

Aku terus saja berfikir, apa kelebihanku, berat badan? Ah enggak! Tubuhku nggak tambun-tambun amat, lantas apa? Kata Quina , aku pasti punya kelebihan, lantas apa kelebihanku.

Oh angin malam, jangan hanya memberikan hawa dinginmu padaku tapi, berikanlah aku sebuah jawaban atas kelebihanku, yang aku sendiri tidak tahu bersembunyi di mana kelebihan itu?

Kalau aku jadi penulis asyik kali ya? Aku bisa menuangkan apa saja dalam tulisan itu, oh ia di antara nilai-nilaiku yang jelek, 'kan nilai mengarangku yang paling bagus, Ah kalau aku jadi penulis terkenal pasti mama sama papa bisa bangga ke aku, ah aku mau jadi penulis ah, tapi apa aku nggak malu kalau tulisanku jelek? Tapi aku akan tetap menulis dan menulis.

Tapi aku mau nulis apa? Aku akan coba buat cerita, ya cerita pendek, tapi mau kukirim kemana? Mengapa mesti bingung majalah kan banyak, aku pantang menyerah. Oke … oke … yes!

Ternyata jadi penulis itu tak semudah yang aku bayangkan, sudah berkali-kali kukirim naskah ke redaksi majalah, tapi hasilnya nihil, kurang inilah, kurang itulah, tapi aku tidak boleh menyerah? Maju terus pantang mundur. Biarpun sampai babak belur, eh yang ini jangan deh. Apa aku buat cerita tentang Valentie Day? Valentine Day yang kelabu milik Quina? Tapi apa aku tidak kelewat jahat, menceritakan aib kembaranku sendiri tentang sepotong coklatnya yang meleleh dilibas Mobil Papa malam itu,? Tentang bagaimana teman-teman Quina merayakan Valentine Day, yang katanya hari kasih sayang itu?Huh! Nggak asyik cerita Valentine Day, kalau mau memberikan kasih sayang bukankah setiap hari, setiap saat kita bisa berkasih sayang? Lantas kalau mau sepotong coklat, dengan pita warna Pink, kok susah-susah amat, mau makan coklat berapa bungkus kalau aku minta sama mama, pasti mama beliin.

“Itu argument kamu, karena nggak ada satu cowokpun yang mau dekat sama gadis bodoh macam kamu,” kata Quina di suatu sore menjelang perayaan Valentine Day.

“Biar bodoh tapi aku masih bisa mikir, untuk apa sepotong coklat dan setangkai bunga, kalau imbalannya minta cium pipi, dan bahkan lebih …."

“Kamu itu kembaranku yang hidup di era modern tapi pikiran kamu nggak jauh jauh dari jaman bahola nek."

“Suka-suka aku dong, nggak ada di dalam undang-undang yang menyatakan kalau seorang remaja harus merayakan Valentin Day.”

“Karena kamu nggak punya pacar, coba kalau kamu punya pacar pasti hari Valentine Day adalah hari yang di tunggu-tunggu, makanya cari pacar nek, jangan sampai jadi jomlo lumutan, alias jomlo kekal sepanjang masa.”

“Emang kamu pernah nimbang untung ruginya pacaran, sono noh pijam timbanga Wak Haji Sulaiman,banyakan mana untung sama ruginya.”

“Ala … belagak sok pinter, kamu ngomong gitu kan buat nutupin kebodohanmu.”

Memang aku bodoh, tapi apakah manusia bodoh ini tak punya uraian tentang Valentine Day?

Dan benar juga malam itu, apa yang kucemaskan terjadi, Quina pulang sambil terisak-isak, membuang sepotong coklat dan setangkai bunga mawar yang diikat pita berwarna pink yang terlihat sangat cantik memesona, dan pada waktu itu pula papa baru pulang dari kantor, hingga tanpa ampun roda mobil yang berwarna hitam legam itu melibas coklat pemberian Briyan untuk pacar tercintanya Quina.

“Aku benci Briyan, kamu tahu nggak aku di bawa kemana?”

“Nggak 'kan aku nggak ikut”

“Aku diajak Briyan ke suatu tempat, yang di sana bertebaran minuman keras."

Quina bercerita sambil menangis, membenarkan apa yang kuucapkan, Briyan telah menjebaknya di hari Valentine yang digembar-gemborkan sebagai hari kasih sayang itu. Kalau benar Briyan menyayangi Quina kenapa dia harus membawa Quina ketempat maksiat seperti itu? Mata dan hati Quina terbuka, untunglah ia
bisa lari dari Briyan.

Setelah berbagai penolakan-penolakan terhadap naskah cerpenku akhirnya dimuat juga karyaku di sebuah majalah remaja terbitan ibukota. Tapi waktu itu aku tidak menggunkan nama asliku nama yang ku pakai adalah Q Tinta. Jadi aku nggak bisa bawa karyaku itu ke papa, dan semua orang rumah. Aku takutnya mereka nganggap kalau aku bohong, mengakui karya orang lain sebagai karyaku.


Dunia tulis menulis menjadi dunia yang paling menyenangkan bagiku, hampir tiga tahun nama Q Tinta banyak bertebaran di majalah-majalah, tapi tak ada yang tahu kalau Q Tinta itu adalah aku yang sering dijuluki si otak udang Mereka selalu menganggapku sianak bodoh itu, biarlah mereka tetap menganggapku bodoh, aku tidak perduli.

“Quita, kamu suka nggak dengan serial Kenanga ini."

“Ya … aku suka ….”

“Bagus ya ceritanya?”

“Emmm ….”

“Bagus kan, aku ngikutin terus lho."

Kamu tidak tahu Quina kalau sebenarnya akulah penulis serial Kenanga itu, kamu begitu antusias menceritakan si Kenanga yang sengaja kutulis hampir mirip dengan kehidupanmu, Kenanga yang cerdas yang selalu juara, Kenanga yang selalu menjadi kebanggaan setiap orang, sebenarnya itu adalah kamu saudara kembarku, yang segalanya tidak mirip denganku, yang membuat aku sering menangis malam-malam karena tidak bisa menyamaimu. Serial Kenanga adalah satu-satunya hiburanku.

“Syukurlah kalau kamu suka."

“Kok jawaban kamu gitu, seperti penulisnya aja."

“Enggak maksudku."

“Aku tahu kamu nggak akan bisa nulis sebagus itu, kan nilai mengarangmu jauh dibawahku," kata Quina sambil berlalu meninggalkanku.

Memang Quina nilai-nilaiku semua jauh di bawahmu, kamu selalu juara, aku nggak ada apa-apanya bila dibandingkan kamu, tapi aku selalu ingat kata-katamu, kalau Allah itu menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Dan aku telah menemukan kelebihan itu ,tanpa setahu orang-orang yang kucintai, aku tidak ingin menjadi sombong karenanya. Biarlah Papa selalu menganggap aku anak bodoh, nggak bisa memberikan kebanggaan terhadap orang tua, biarlah. Hingga sore itu Mama menemukan buku tabunganku.

“Quita! Mama mau kamu jujur pada Mama."

“Emangnya ada ap, Ma?”

“Darimana kamu dapatkan uang-uang ini? Mama tidak pernah memberi uang jajan lebih kekamu, tapi kenapa tabungan ini bisa membengkak jumlahnya.”

“Itu da ... dar … dar....”

“Dari mana Quita, ayo jawab!" Nada suara Mama meninggi, membuat aku bergidik mendengarnya, tapi mulut ini tetap saja bungkam, aku tidak bisa mengucapakan sepatah katapun, aku sudah berjanji dalam hatiku untuk tidak memberitahukan kepada siapapun kalau aku ini adalah seorang penulis, aku ingin mereka megerti dengan sendirinya, aku tidak ingin hanya di katakan omong kosong.

Mama semakin marah, aku tidak mengerti mengapa mama bisa semarah itu padaku.Tapi aku tetap pada pendirianku, untuk tidak megatakan dari mana asal uang tabunganku itu.Tiba-tiba papa datang langsung menghampiriku dan,

"Plak!"

Tamparan itu tiba-tiba mendarat tepat di pipi kananku, tamaparan dari seorang papa yang begitu sangat kukagumi, wajah papa memerah, papa benar-benar sangat marah, seperti gunung meletus suara papa menggelegar seisi ruangan, aku hanya bisa terisak tapi pantang untuk menyerah.

“Ayo, Pa terus tampar sampai Papa puas, sampai kedua pipiku bengkak, aku tetap tidak akan mengakui, dari mana uang itu berasal."

“Sudah bodoh, keras kepala, mau jadi apa kamu, apa benar sore itu kamu naik mobil mewah pergi bersama Laura?"

“Kalau ia memangnya kenapa? Apa salah Laura?”

“Kamu tahu siapa itu Laura?”

“Mengapa tidak? Laura itu teman sekelasku.”

“Laura itu anak nggak bener, dia itu sering jadi mangsa Om-om.”

“Memangnya, Laura ayam kok di mangsa?”

“Memang Laura itu ayam, dia itu ayam sekolahan.”

“Papa, bikin aku bingung, Laura itu manusia, bukan hewan, tega sekali sih Papa ngatain ayam, kalau ayam itu punya bulu, punya sayap bisa terbang Laura itu sama sepertiku, dia itu manusia yang juga makan nasi seperti Quita, papa."

“Mama … kepala Papa bisa-bisa pecah kalau terus ngomong sama Quita, mesti bagaimana lagi Papa menjelaskan sama Quita, tentang temannya yang bernama Laura itu.”

“Mama mohon, Quita. Jauhi Laura."

“Memangnya Laura salah apa sama Quita?”

“Kemarin Quina bilang, kamu satu mobil dengan Laura, tingkah kamu akhir-akhir ini jadi aneh, kamu sering keluar rumah, bahkan kamu sudah berani menginap di rumah temanmu, apalagi di rumah Laura, yang kata Quina, Mamanya adalah seorang wanita panggilan.”

“Memang Mamanya Laura wanita panggilan, Quina tahu juga dari Quita, apa salahnya Ma, kalau wanita panggilan.?'

“Papa! Lama-lama kepala Mama juga ikutan pecah kalau menghadapi Quita, wanita panggilan saja dia tidak tahu, apa jangan-jangan, uang itu juga hasil Quita.

Tiba-tiba mama pingsan, papa langsung mengangkat mama kepayahan masuk kamar, dan menidurkan mama di ranjang.

Setelah beberapa saat mama sadar, Ia langsung menginterogasi aku, aku seperti seorang terdakwa, yang sudah melakukan kesalahan besar, siap untuk menanggung segala hukuman yang akan di jatuhkan oleh hakim, kasihan sekali, sebagai terdakwa, tidak punya pembela, tidak ada seorang pengacarapun yang mau mendampingiku.Tidak juga Quina sebagai saudara kembarku. Oh betapa malang nasibku.

“Quita, apa kamu juga dapat uang ini dari Om-om hidung belang itu?"

“Maksud Papa ini apa sih, Om-Om yang mana yang hidungnya belang, aku nggak kenal sama Om-Om yang hidungnya belang," jawabku ngeles.

“Lihat Quita, pintu itu telah terbuka lebar-lebar, kamu keluar dari pintu itu, dan jangan kembali sebelum otakmu yang error itu bener," kata papa sejurus kemudian telah mengusirku. Aku masih saja tidak mengerti, apa ada yang salah dengan diriku, ketika aku memilih Laura sebagai sahabatku, Laura memnag anak seorang wanita panggilan seperti yang aku ceritakan pada Quina, tapi sebelum aku selesai ngomong Quina sudah keburu tertidur, maksud dari wanita panggilan itu, aku sekedar bercanda, tapi memang benar mama Laura itu wanita panggilan karena ia adalah seorang bidan desa, yang akan selalu dipanggil, tatkala ada orang yang mau melahirkan.Dan Laura sering di bawa Om-om seperti ceritaku, kalau Om yang ku maksud adalah Om Satrio yang baru punya bayi dan Laura sering di ajak Om Satrio kerumahnya untuk menemani Tante Layla, kan tidak ada yang salah.

Dan kini aku harus termakan sendiri oleh omonganku yang ngawur itu pada Quina, belum sempat aku menjelaskan Papa sudah mengusirku. Sungguh malang nian nasibku.Tabunganku di sita Mama, mau kemana aku tak ada tempat yang bisa kutuju.

Tapi dasar nasib lagi mujur, tiba-tiba saja Laura bersama Om Satrio memberikan tumpangan padaku, tanpa berpikir panjang aku langsung saja masuk dalam mobil Xenia warna silver itu.

Aku benar-benar menjadi bagian dari keluarga Laura, senang sekali di rumah ini, aku benar-benar dihargai, malam itu kuceritakan semua apa yang menimpaku pada Mama Laura juga tentang saudaraku, tentang Quina yang selalu menjadi juara, tentang Quina yang selalu mengalahkanku dalam berbagai hal, tapi dengan buliran airmata yang merembes dari dua mataku, aku mencoba untuk jujur ketika Mama Laura bertanya,

“Apa kamu seorang penulis?”

Aku mengangguk pelan, aku tidak bisa mengelak lagi ketika mama Laura memperlihatkan cerpenku yang terbaru yang berjudul Hati yang telah terluka. Sejurus kemudian Mama Laura telah memelukku, kurasakan punggungku basah, ternyata Mama Laura menangis.

“Mengapa,Tante menangis?”

“Tante bisa merasakan bagaimana sedihnya hati kamu Quita, kamu telah berjuang begitu keras, untuk mendapatkan pembuktian, kalau kamu bukanlah sigadis bodoh, Tante yakin Papamu akan bangga padamu juga.”

Selesai Mama Laura berkata begitu, telepon di ruang tengah berbunyi, Mbok Ijah datang tergopoh-gopoh, mengatakan kalau ada gadis yang suaranya hampir mirip denganku menelpon, ingin cepat bicara denganku, aku sudah bisa menebak kalau suara di seberang itu pastilah saudara kembaranku, karena HP yang biasanya setia menemaniku ketinggalan di kamar tidurku sebelum sempat aku mengambilnya Papa sudah keburu mengusirku, telingaku rasanya masih normal ketika mendengar kata-katanya yang begitu jelas,

“Kalau aku menjadi pandai sendirian, tetapi harus kehilangan saudara kembarku, lebih baik aku menjadi bodoh, tetapi kita masih tetap bisa bersama."

Aku menangis tersedu-sedu, ternyata quina sangat menyayangiku."

To be continued
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
DeYudi69 dan 36 lainnya memberi reputasi
37
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 32 dari 34
18-07-2019 14:00
Nah kan jadi berantem,, kayaknya sekarang Andra bener2 marah nih. Ya bener kata Andra sih suami mana yg gak akan marah melihat istrinya dg lelaki lain. Harusnya dari awal Quina bilang dulu.
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
18-07-2019 15:13
Quote:Original Posted By yunie617
Nah kan jadi berantem,, kayaknya sekarang Andra bener2 marah nih. Ya bener kata Andra sih suami mana yg gak akan marah melihat istrinya dg lelaki lain. Harusnya dari awal Quina bilang dulu.


Bukan Quina tapi Quita emoticon-Menangemoticon-Menang
0
18-07-2019 18:14
Quote:Original Posted By trifatoyah


Bukan Quina tapi Quita emoticon-Menangemoticon-Menang


Duhh salah ketik sist..
0
18-07-2019 19:20
Quote:Original Posted By yunie617
Duhh salah ketik sist..


Habis hampir sama yaemoticon-Wakakaemoticon-Wakakaemoticon-Wakaka
0
19-07-2019 00:33
ha..ha.. next deh
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
19-07-2019 05:29
mantap, Kak.. next ya
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
19-07-2019 05:39
Quote:Original Posted By YulianAnggita
ha..ha.. next deh

Insya Allah 😘
Quote:Original Posted By ilafit
mantap, Kak.. next ya


Terima kasih😘
0
19-07-2019 06:33
Quote:Original Posted By trifatoyah
My Sister
Part 23


My Sister


Sementara Quina menyusun rencana untuk misi perjodohan Lina dan Herris, aku memilih meninggalkannya berdua bersama Qiqa. Kalau untuk urusan perjodohan My Sister emang jagonya, buktinya aja dia bisa bermain cantik saat menjodohkan aku dengan Andra. Lucu juga kalau ingat kita pernah dihukum guru BP gara-gara dikira pacaran di WC. Gila! Ngapain juga pacaran di WC kayak nggak ada tempat lain aja.

Kubuka pintu perlahan, Andra tengah asyik dengan ponselnya. Bahkan kehadiranku seakan tak berpengaruh untuknya.

"Asyik bener, lagi chatting ama siapa?"

"Ada deh! Mau tahu aja, atau mau tahu banget?"

Gila! Dia mulai mancing-mancing, jangan bilang kalau dia lagi chattingan sama si Lina, seratus persen nggak bakalan rela tujuh turunan apalagi tanjakan.

"Kok nggak jadi pergi?" tanya Andra sebentar ngelirik dengan ekor matanya, kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. Huh! Menyebalkan.

"Jadi kalau aku pergi kamu seneng gitu? Okey ... aku mau pergi, jalan-jalan, terus pulang sampai malam, puas!"

"Puas! Nggak ngapa-ngapain kok puas, gimana sih?" kata Andra senyum-senyum.

"Keluar deh omesnya!" kataku sambil melempar bantal, tangannya buru-buru menangkap bantal bergambar hati itu.

"Omes dengan istri sendiri emang napa, nggak boleh?"

"Nggak!"

"Ya udah, kalau nggak boleh. Biar ngomesin si ...."

"Si Lina!" teriakku sambil mendelik sempurna.

"Duh sensi amat sih sama tuh cewek. Amat aja nggak sensi kok."

"Abis kamu sih bikin jengkel. Chatingan ama siapa! Jawab?"

"Duh galaknya, nggak usah galak-galak napa?"

"Kamu nyebelin!"

"Udah sini, nggak usah sewot terus, entar cepat tua. Aku tadi cuma ngerjain kamu aja kok, pengen tahu aja reaksi kamu, kalau aku sibuk dengan ponselku, ketika ada kamu. Eh ternyata kepancing juga."

"Jadi?"

"Nah kamu marah ketika aku sibuk dengan ponselku, tapi ketika kamu sendiri berlama-lama ngelus-ngelus tuh ponsel, FB nan, baca-baca cerita, atau apalah sampai suami dianggurin, apa pernah aku marah?"

"Nggak sih ...." jawabku sedikit malu. Ya sedikit aja nggak usah banyak-banyak. Entar dia bisa GR, kan bahaya.

"Nah itu tahu."

"Ya udah, aku minta maaf."

"Beneran kamu minta maaf duluan? Bukankah selama kita menikah, walaupun kamu yang salah, sepertinya aku terus yang minta maaf duluan."

"Karena kamu yang suka minta duluan," ucapku sambil tertawa kecil, buruan membekap mulut dengan sepuluh jari.

Kok bisa kalimat itu meluncur cepat seperti mobil yang melintasi jalan tol. Andra langsung mengacak rambutku, kemudian menggelitiki sekujur tubuhku sampai aku kegelian dan melompat turun dari ranjang, buru-buru berlari ke kamar mandi karena kebelet pipis.

***

Sesuai rencana pagi ini aku dan Quina mulai menjalankan rencana yang sudah dibuat dengan matang, aku akan menemui Herris di Toko Roti Nikita. Quina sudah mengatur pertemuan itu.
Andra baru saja berangkat bekerja.

"Kamu yakin, Na. Rencana kita akan berhasil?"

"Ya, yakinlah! Jadi orang kudu optimis."

"Iya sih optimis, masak aku sendiri yang ketemuan sama Herris yang benar saja."

"Kamu itu nggak sendiri, di sana banyak orang. Entar aku nyusul. Aku mesti nganterin Qiqa dulu ke sekolah."

"Okelah kalau begitu."

Aku langsung menuju garasi mengeluarkan Beat merah sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Motor melaju dengan kecepatan sedang menuju toko roti Nikita. Yang letaknya tidak jauh dari pasar. Toko roti itu adalah milik teman Quina.

Tak berapa lama sampailah aku di toko Roti Nikita. Kulihat mobil Avanza warna silver, milik Herris sudah terparkir di halaman toko roti.

Herris tersenyum dari dalam toko, kubalas senyumnya sekilas, setelah memarkir motor langsung menuju ketempat di mana Herris duduk sambil menikmati secangkir kopi.

"Assalamualaikum," sapaku.

"Waalaikummussalam," jawabnya sambil tersenyum manis.

Duh! Jadi nggak enak gini. Quina kamu apa-apaan sih. Mana orang pada ngeliatin lagi. 'akh nggak Ta, itu cuma perasaan kamu aja'

"Silakan duduk. Bentar aku pesenin roti ...."

"Maaf nggak usah, aku masih kenyang."

"Masih seperti dulu, kalau ditawarin makanan pasti nggak mau. Seperti waktu TK dulu, suka ngeliatin bekalku, giliran tak kasih eh nggak mau."

Masih ingat saja tuh Herris yang dulu giginya gupis. Suka gangguin anak-anak cewek, tangannya usil banget, tapi dia nggak pernah nggangguin aku, katanya dulu dia kasihan sama aku, ketika teman-teman bilang kok Quita nggak pernah diganggu? Dia memang temanku dari TK, sudah lama kami tak berjumpa. Dia juga teman Quina. Akh itu sebatas kenangan masa kecil. Kami sekolah bareng lagi ketika SMP dan SMA, tapi kami jarang bertegur sapa, cuma sebatas kenal aja.

"Kok bengong, Ta? Ada apa?"

"Nggak kok, Quina lama banget ya?" Mataku mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan, tapi bayangannya saja tak tampak. 'Kamu apa-apaan sih Quina? Awas deh!

"Tadi Quina pesan, katanya masih di sekolahnya Qiqa. Eh gimana masih suka nulis? Aku dulu sering baca cerita kamu lho. Kata Quina itu karyamu."

"Karya jelek juga."

"Nggak kok, bagus. Kata siapa jelek."

"Mama titip salam buat kamu. Waktu aku ceritaain ketemu kamu, eh Mama langsung ke inget dua anak kembar Quina dan Quita."

"Masih tajam ternyata ingatan Tante Astuti."

"Masih dong, Mamanya siapa dulu. Herris gitu loh," katanya seperti anak muda saja.

"Nggak nyangka, kalau Nikita bakalan punya toko roti sebesar ini." Herris berkata sambil sesekali menyeruput kopi di depannya.

"Nasib orang emang nggak ada yang tahu," ucapku sedikit gelisah karena Quina nggak muncul-muncul juga.

"Semoga kerjasama di antara kita bisa berjalan lancar."

Kerjasama? Kerjasama apaa? Kok Quina nggak bilang. Apa aku yang salah dengar ya? Pertanyaan-pertanyaan itu tumpang tindih di hati ini. Aku mengangguk mengiyakan.

Nikita datang dengan kue brownies kukus yang menggugah selera. Kue yang manis semanis yang membawanya. Setelah basa-basi sebentar Nikita meninggalkan kami, padahal aku berharap dia bisa di sini menemani kami ngobrol sambil menunggu My Sister.

Baru saja hendak memasukan kue brownies ke dalam mulut, tiba-tiba mataku menangkap sosok yang begitu sangat kukenal, siapa lagi kalau bukan suami tercinta, mata kami bersirobok. Tampak ada keterkejutan di antara kita.
Kok bisa dia juga ke toko roti ini.
Perasaan bersalah muali muncul satu persatu, apalagi ketika dia berjalan mendekat menuju ke meja kami. Herris menyambutnya dengan senyum, begitu juga dengan Andra, mereka bersalaman.
Kok Andra biasa aja. Padahal jantungku sudah mau copot takut dia marah-marah.

"Apa kabar, Ndra?" sapa Herris.

"Alhamdulillah baik. Kok kalian bisa ketemuan di sini?"

"Iya nih ... kemarin ...."

"Berarti kalian dah janjian?"

Duh ... duh ... Quina jahat banget sih kamu nggak datang-datang. Bisa-bisanya kamu berbuat seperti ini padaku.

"Iya kami dah janjian, sama Quina juga. Masih nunggu Quina ngantar anaknya dulu ke sekolah."

"Ooh, ya udah kalian lanjutkan ngobrolnya sambil nunggu Quina. Aku beli roti dulu ya?"

Andra melangkah menuju etalase roti, kenapa jadi aku yang nyesek gini, buru-buru kujejeri langkahnya. Dia masih cool saja, tanpa memedulikan aku.

"Mau beli roti buat siapa?" tanyaku kemudian setelah kami benar-benar dekat.

"Buat Mama."

"Kok kamu nggak bilang mau beli roti buat Mama, gimana kabarnya Mama Indah."

"Mama sakit."

"Mama sakit? Kok nggak bilang juga kalau Mama sakit."

"Nggak bilang? Buka tuh ponsel ada berapa panggilan." suaranya sedikit meninggi.

Duh! Aku lupa bawa HP, tadi baterainya lowbat. Terus aku lupa bawa lagi ngecard. Kiamat-kiamat! Kok tadi dia bisa pasang muka biasa aja ya di depan Herris. Dasar kamu Quita, ceroboh ... ceroboh, ceroboh!

"Aku lupa bawa HP."

Andra diam saja, setelah mengambil beberapa roti, dia langsung menuju ke kasir, tahu apa yang aku lakukan. Ngintilin di belakangnya dengan wajah penuh dosa. Gimana nggak penuh dosa, orang aku janjian sama Herris nggak bilang-bilang. Padahal kalau dia mau ketemu Lina, walaupun ujungnya aku marah-marah, dia selalu pamit.

"Ya, udah lanjutkan saja pertemuan kalian, tuh Quina juga udah datang," kata Andra mempercepat langkah kakinya. Tuh beneran 'kan dia marah.
Dengan cepat aku menghampiri Herris dan Quina, setelah menyerahkan kunci motor pada My Sister, langsung saja aku menuju ke parkiran, di mana Andra tengah masuk dalam mobil dan hampir saja terlambat.

"Bukain pintunya," seruku pada Andra.

"Emang acaranya dah selesai?"

"Belum," jawabku polos.

"Ya udah lanjutkan biar selesai."

"Aku mau nengokin Mama."

"Terus motor kamu? Bukankah Quina juga bawa motor."

"Biar di sini dulu nggak apa, Toko roti ini punya teman Quina."

Akhirnya Andra membuka pintu mobil, dan wajahnya duh sedingin salju. Andra langsung menyalakan mesin dan mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tahu nggak suasananya nggak jauh beda dengan kuburan. Dia diam seribu basa, dalam perjalanan ke rumah mama, setiap kali aku nanya hanya jawaban singkat yang keluar dari bibir tebalnya.

Tak lama kami pun sampai di depan rumah bercat biru muda, warna kesukaan mama, Andra langsung turun sambil membawa roti yang dibelinya. Jangankan membukakan pintu untukku, melihat ke arahku aja enggak. Dan aku hanya bisa mengekor di belakangnya.

Kulihat Mama Indah tengah duduk di sofa ruang tengah, wajahnya sedikit pucat, sesekali terdengar suara batuknya.

Setelah mencium punggung tangan kanan mama dengan takzim, pelan-pelan kupijit kaki mama.

"Mama, kok nggak bilang sih, kalau sakit."

"Cuma batuk dan meriyang aja. Kamu nggak usah khawatir."

"Badan mama panas. Sudah periksa, Ma?"

"Sudah tadi diantar Andra."

"Tiduran di kamar aja, Ma."

"Mama bosan di kamar terus. Lagian udah nggak apa-apa."

Andra meletakkan roti di meja dekat mama, membuka plastiknya dan perlahan menyuapi mama.

"Sudah, Ndra. Mama bisa sendiri. Kamu nggak berangkat kerja?"

"Andra ijin, pengen nemenin Mama."

"Terima kasih, tapi jangan kelamaan ijinnya."

"Iya, Ma."

Melihat Andra begitu baik pada Mama Indah, aku benar-benar merasa bersalah. Apakah aku harus menyalahkan Quina? Bukankah aku bisa saja menolak ketika My Sister menyuruh untuk ketemuan dengan Herris. Apalagi ternyata Quina mau kerjasama buka usaha dengan Herris.

Ke mana Andra? Kok nggak kelihatan. Di kamar juga nggak ada, bener-bener deh dia nggak nganggap kehadiranku di rumah ini.

Rasa haus tiba-tiba begitu menyekat tenggorokan, aku langsung menuju ke dapur untuk mengambil minum. Mbok Min tengah sibuk membersihkan ruang tengah, begitu melihatku dia langsung menawari minum, tapi aku menggeleng dan mengatakan ingin membuat sendiri saja.

Sampai di pintu dapur langkahku terhenti begitu melihat Andra tengah berdiri di dekat kompor sambil tangannya memegang sendok mengaduk-aduk panci? Apa yang sedang dia masak? Pikirku.

"Ternyata di sini, aku cari-cari dari tadi."

"Hemmm."

Hanya itu jawabannya, kutengok apa yang dia masak. Ternyata dia tengah membuat bubur kacang hijau, pasti itu buat mama. Perlahan kupeluk dia dari belakang, persis ketika dia memelukku ketika aku sedang memasak di dapur.

"Sepertinya enak nih."

Tak ada jawaban, dia terus saja mengaduk, sambil menambahkan gula dan sedikit garam. Perlahan dia melepaskan pelukanku, berjalan menuju rak tempat menyimpan mangkuk dan memasukan bubur itu ke dalam mangkuk.

Kuambil air putih satu gelas penuh, kemudian duduk di kursi yang ada di dapur dan dalam beberapa teguk, air itu telah habis tak tersisa. Andra juga melakukan hal yang sama.

"Kamu marah ya?" tanyaku kemudian, persis seperti orang tolol, sudah tahu nanya.

"Suami mana yang nggak berhak marah, ketika istrinya, tanpa pamit ketemu dengan laki-laki lain, dan itu teman kecilnya," kata Andra sambil memandang langit-langit dapur.

"Aku minta maaf, sumpah beneran minta maaf, yang nyuruh ...."

"Kamu mau bilang disuruh Quina, iya 'kan? Harusnya kamu itu punya prinsip, jangan selalu tergantung dengan saudara kembarmu!"

"Iya, aku salah pergi nggak pamit, dimaafkan ya ...," pintaku menahan air yang mau menerobos kelompok mata.

"Quita, coba kalau kamu mergoki aku tengah berdua dengan Lina, mau sampai berapa minggu kamu marahnya?" tanya Andra sinis.

"Tapi aku nggak berdua, di toko itu ada banyak orang, dan tadi juga ada Nikita."

"Halah kamu emang pinter ngeles."

"Ya, udah aku mesti ngapain biar kamu nggak marah. Masak kita marahan di rumah mama Indah, entar mama nggak sembuh-srmbuh lho."

"Dan penyakit Mama akan tambah parah kalau tahu menantunya pergi tanpa ijin dari anak tercintanya."

"Janji deh nggak ngulangin lagi, kecuali ...."

"Kecuali apa?"

"Lupa ..."

To be continued


Kereeeeen, bund
0
19-07-2019 09:37
Quote:Original Posted By RetnoQr3n
Kereeeeen, bund


Terima kasih dah mampir
0
19-07-2019 17:44
Quote:Original Posted By trifatoyah
Part 22 dah update yuk di kepoin


Udah mampir bunda emoticon-Big Kissemoticon-2 Jempol
Next next hehehe
Selamat HT lagi bunda..
Semoga rencana qq berhasil jodohin Lina
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1
19-07-2019 18:26
Quote:Original Posted By mamaproduktif
Udah mampir bunda emoticon-Big Kissemoticon-2 Jempol
Next next hehehe
Selamat HT lagi bunda..
Semoga rencana qq berhasil jodohin Lina


Terima kasih, moga selancar jalan tolemoticon-Wakakaemoticon-Wakakaemoticon-Wakaka
profile-picture
mamaproduktif memberi reputasi
1
19-07-2019 23:13
kirain update lagi..
ternyata ada yg quote 1 chapter
lanjutkan bunda
profile-picture
profile-picture
majapahit275 dan trifatoyah memberi reputasi
2
20-07-2019 04:20
Quote:Original Posted By tomie210586
kirain update lagi..
ternyata ada yg quote 1 chapter
lanjutkan bunda


Okey InsyaAllah segera
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
20-07-2019 12:51
My Sister
Part 24


My Sister


Selama menikah dia jarang banget marah, paling sekali atau dua kali. Nggak lama hanya sebentar. Tapi kali ini benar-benar lain. Aku dicuekin, seperti nggak dianggap keberadaannya, sakit tapi tak berdarah. Semua ini memang salahku, tapi aku sudah minta maaf, kurang apa coba?

Dia sibuk ngurusin mamanya yang lagi sakit, di satu sisi aku bahagia memiliki suami yang begitu perhatian dengan orang yang telah bertaruh nyawa demi melahirkannya, tapi di sisi lain aku merasa hampa. Karena dari tadi siang wajahnya jadi sedingin es. Tak ada senyum barang sedikit saja untukku.

"Mau mandi?" tanyaku ketika dia mengambil handuk terus dikalungkan di lehernya. Coba tebak, jawaban apa yang dilontarkan, hmm, hmm, hmm itu mulu , ketika diajak ngobrol, aku sampai mikir, apa dia mau nyaingi. Nisa Syabian? Duh Andra, marahnya mau sampai kapan?

Langsung saja ngeloyor begitu saja menuju kamar mandi, nawarin mandi kek, mandi berdua kek. Wuidih kok otakku mendadak omes gini? Omes dengan suami sendiri kan nggak apa-apa, kalian nggak boleh ngiri!

Bau shampo menguar dari rambutnya yang basah, dia kelihatan tampan sekali hari ini, tapi sayang wajahnya seperti kulkas berjalan.

"Sudah sore, kita nggak pulang?" tanyaku kemudian.

"Mama nyuruh kita nginap di sini."

"Tapi aku 'kan nggak bawa baju."

"Siapa suruh bajumu nggak disisain di sini."

Iya juga sih, lagi-lagi aku yang ceroboh. Harusnya aku ninggalin baju di rumah Mama Indah. Duh! Quita, kok nggak ada yang bener dari tadi.

"Terus aku pakai baju siapa?" tanyaku sambil rebahan di kasur.
Kulihat Andra sedikit tersenyum, tapi masih tetap cool.

"Ya, terserah kamu."

"Ya udah, aku nggak usah mandi. Pakai baju ini saja sampai pagi."

"Kalau kamu nggak mandi, tidur aja di kamar tamu, aku ogah tidur sama perempuan bau keringat."

"Duh teganya. Oke deh aku tidur di kamar tamu. Entar kalau Mama tanya, aku jawab aja nggak boleh tidur di kamar ini."

"Ngancam, silakan?"

What! Ini beneran? Aku di suruh tidur di kamar tamu? Tega sekali sih dia? Aku hanya bisa gigit jari di pojok kamar sambil meratapi nasib. Karena Andra benar-benar nggak peduli. Duh malangnya nasibku.
Dia malah keluar kamar, pergi begitu saja meninggalkan aku yang tengah merana.

Sepuluh menit kemudian dia kembali lagi ke kamar dengan membawa beberapa daster. Pakaian kebesaran perempuan. Kemudian meletakkan di ranjang.

"Sana mandi, tuh pakai daster Mama."

"Yang benar saja, aku pakai daster Mama, kalau Papa pulang. Terus dia meluk aku dari belakang gimana?"

Ups, akhirnya dia ketawa juga. Kemudian meremas lembut mukaku, dan berkata

"Itu daster belum pernah di pakai, kemarin aku baru saja membelinya buat Mama, jadi Papa nggak tahu kalau itu daster punya Mama."

"Kamu beli daster bagus ini buat Mama, tapi aku nggak dibelikan," rajukku kemudian.

"Lah, untuk apa beliin daster buat istri bandel kaya kamu, udah pergi nggak pamit suami juga."

"Bandel-bandel gini juga ngangenin."

Ternyata dia belikan daster buat mamanya, kok bisa dia milih warna dan corak selembut ini. Apa benar ini dia yang pilih. Atau jangan-jangan Lina yang memilihkan daster ini? Tahan emosi Quita, ingat! Kamu baru saja membuat kesalahan yang fatal di mata Andra.

"Udah gih sana mandi!" suruh Andra sambil memberikan handuk yang baru saja diambilnya.

"Emang daster ini beli di mana?"

Duh? Plester mana plester, kok mulut ini nggak bisa ngerem, kalau hati sedang cembokur, duh lagi-lagi gara-gara si Lina.

"Nggak usah banyak nanya, udah mandi."

Dengan sangat terpaksa, kubawa daster itu ke kamar mandi. Sepertinya sudah dicuci, tercium dari aromanya yang berbeda, aroma downy kesukaan Mama Indah.

***

Mau sampai kapan suasana jadi kaku seperti ini? Ternyata nyaman juga daster ini, pengen juga daster seperti ini. Tega banget sih dia ngebeliin baju mamanya, tapi istrinya nggak dibelikan.

Sepertinya ada tamu, siapa ya? Aku melangkah ke ruang tengah. Mama tidak ada, begitu juga Andra. Bermaksud ingin tahu siapa tamunya, Mbok Min muncul dari dapur dengan beberapa cangkir teh.

"Siapa, Mbok tamunya?"

"Mbak Lina, temenya Mas Andra, katanya nengokin Ibu."

Lina? Dadaku berdesir nyeri ketika mendengar nama itu, apalagi begitu tahu dia ada di rumah ini. Kenapa Andra tidak memberitahuku?

Ketika aku masih berdiri mematung di ruang tengah, Andra masuk ke dalam dan menatapku sambil geleng-geleng kepala. Apa maksudnya coba.

"Ada tamu itu di temui, dihormati," kata Andra kemudian.

"Bukan tamu aku, kan tamunya kamu sama Mama."

"Mau sampai kapan kamu benci sama Lina?"

"Aku nggak benci, cuma nggak suka aja dengan perempuan sok tahu itu," selesai bicara begitu aku lakukan masuk ke dalam kamar lagi.

Begitu sampai kamar, poselku berbunyi dengan cepat Langsung kuambil ponsel itu. Rupanya Quina. Ada apa dia menelpon.

'Hallo, ngapain?'

'Ta, kamu baik-baik saja 'kan? Kok suaramu gitu, seperti lagi nahan marah."

Pertanyaan yang menyebalkan, semua itu juga karena ulahmu Quina, sampy Andra marah-marah.

'Lebih dari baik-baik saja.'

'Yang bener Ta?'

'Kemarin kamu bilang, semuanya akan beres, rencana udah oke! Beres apanya, beres dari Hongkong? Tuh si Lina lagi ngobrol santai dengan Mama Indah.'

'Apa?'

'Nggak usah kaget, perlu kamu tahu Na, gara-gara aku ketemuan sama Herris, Andra marah beneran ke aku. Aku dicuekin.'

'Kamu yang sabar ya?'

'Kalau nggak sabar, udah kabur dari tadi.'

'Udah tenang, semuanya bakalsn beres kok.'

'Terus?'

'Yang nggak beres itu si Qiqa.'

'Kenapa lagi dia?'

'Dia nangis terus, pengen sama kamu.'

'Tolong Quina, kamu handle Qiqa, kamu Mamanya, aku beneran pusing!'

'Tapi, Ta.'

Kututup telepon dari Quina, urusan Qiqa biar di handle mamanya, nggak tahu apa kepala lagi nyut-nyutan. Mana Mbok Min manggil aku di suruh keluar lagi buat nemuin Lina. Dengan terpaksa deh keluar, menemui tamu istimewa buat mereka.

"Apa kabar Quita?" tanya Lina begitu kami bersalaman.

"Alhamdulillah, luar biasa baik."

"Kamu cocok pakai daster itu, daster itu yang milihkan aku dan Ibuku lho. Katanya mau buat Tante Indah, kok dipakai kamu."

"Iya, Quita nggak bawa baju jadi Mama pinjami daster itu."

"Maaf, Ma. Perutku tiba-tiba mules. Aku kebelakang dulu."
Kataku langsung meninggalkan mereka, bersamaan dengan Lina yang juga pamitan pulang.

Sampai dalam kamar, kulepas daster itu, kulempar kesudut ruangan, bergegas tangan ini mengambil kemeja warna marun di lemari Andra dan memakainya.

Aku menangis sesenggukan di sudut kamar, nelangsa sekali. Beberapa menit kemudian Andra masuk kamar dengan membawa segelas susu.

"Aku sudah mengira kamu akan marah, mendengar ucapan Lina tadi. Nih munum dulu susunya biar kamu tenang."

Andra memberikan segelas susu itu tepat dihadapanku. Kutatap dia sekilas, kemudian bangkit meninggalkannya.
Segelas susu buat nyogok aku, biar tak marah, oh No!

Kutepiskan tangannya ketika dia hendak menyentuh pundakku.

"Sepertinya kita perlu, bulan madu ke dua deh, rumah tangga kita udah nggak sehat, bukan seperti ini rumah tangga yang kuinginkan."

Aku hanya diam terpaku, melihatnya menghabiskan segelas susu yang seharusnya untukku.

To be continued
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamaproduktif dan 4 lainnya memberi reputasi
5
20-07-2019 13:59
Ya Alloh... di buatin susu gak mau, giliran di minum jadi mau... dasar cowok!!! ups...
0
20-07-2019 17:54
Quote:Original Posted By yunie617
Nah kan jadi berantem,, kayaknya sekarang Andra bener2 marah nih. Ya bener kata Andra sih suami mana yg gak akan marah melihat istrinya dg lelaki lain. Harusnya dari awal Quina bilang dulu.


Quote:Original Posted By YulianAnggita
ha..ha.. next deh


Quote:Original Posted By ilafit
mantap, Kak.. next ya


Part 24 dah update Hayuk dikepoin 😘
profile-picture
mamaproduktif memberi reputasi
1
20-07-2019 18:44
Quote:Original Posted By RetnoQr3n


Kereeeeen, bund

jangan di quot semui woii.

Quote:Original Posted By trifatoyah



Part 24 dah update Hayuk dikepoin 😘

Yahhh berantem trus,, Quita Quita,, rada keras kepala juga ya.. Kenapa gk mau nurunin ego sedikit aja jangan marah2 dan cemburu trus.
profile-picture
mamaproduktif memberi reputasi
1
20-07-2019 19:49
apes mulu nih Quita. .. emoticon-Cape d...
profile-picture
mamaproduktif memberi reputasi
1
20-07-2019 20:48
Quote:Original Posted By Alea2212
apes mulu nih Quita. .. emoticon-Cape d...


Dari kecil ya 😀😀
profile-picture
mamaproduktif memberi reputasi
1
Halaman 32 dari 34
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rahasia-malam
Stories from the Heart
my-final-journey
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.