alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.6 stars - based on 20 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb9c4c5f0bdb26a375c8110/tikus-munafik
Lapor Hansip
19-04-2019 19:53
Tikus Munafik
Past Hot Thread
Kumpulan Cerpen Bikin Baper


Tikus Munafik



Ilustrasi: Pinterest



*

Suatu hari, seorang wartawan datang ke rumah jubir KPT (Komisi Pemberantasan Tikus). Dia ingin mendengar langsung pendapat sang jubir mengenai jenis-jenis tikus yang berbahaya dan pantas mendapat hukuman.

"Menurut Anda, tikus apa sih yang harus dihukum selain tikus-tikus yang doyan makan uang?"

Sambil tersenyum takzim, si jubir menjawab, "Tikus munafik."

"Apa itu tikus munafik?" tanya si wartawan heran.

"Saya membagi tikus munafik ini menjadi tiga jenis, yakni tikus pengkhianat, tikus pembohong, dan tikus lapar."

Si wartawan itu menunjukkan wajah antusias. "Wow, terdengar menarik istilahnya. Mungkin bisa dijelaskan satu per satu."

"Pertama, tikus pengkhianat. Ini salah satu jenis tikus yang sering ada di sekitar kita. Jadi, saya sarankan jangan percaya pada jenis tikus satu ini. Jangan pernah menaruh harapan padanya. Nanti kamu sakit hati sendiri."

"Kenapa, Anda pernah mengalaminya?"

"Teman saya. Beliau pernah merasakan pahitnya dikhianati, oleh orang terdekat sendiri. Dia percaya pada si pengkhianat karena wajah orang itu sangat manis dan bermulut manis juga."

"Wah, memang ada banyak orang seperti itu. Terlihat baik, tapi nusuk di belakang, " tanggap si wartawan.

Si jubir tersenyum. "Masuk jenis kedua, tikus pembohong. Nah, ini dia tikus pencari kesempatan yang baik. Dia memanfaatkan kebaikan dan kemurahan hati orang untuk mengambil hatinya. Dia kadang datang padamu untuk meminta sesuatu dan memuja prestasimu, tapi sebenarnya itu hanya akal bulus untuk keuntungan dirinya sendiri. Tikus jenis ini juga mudah terpengaruh alias tidak bisa setia."

Si wartawan manggut-manggut sambil mencatat di-note hal-hal yang penting.

"Sisa satu jenis, saya penasaran dengan jenis terakhir ini. Tikus lapar, gimana tuh?"

Si jubir tertawa kecil, merasa lucu dengan istilah yang diciptakannya sendiri.

"Jadi, tikus lapar ini sebenarnya istilah yang saya ciptakan karena teringat dengan orang yang sering ke rumah saya dulu. Dia kalau datang ke rumah itu nggak pernah tidak lapar. Setiap saya dan ibu menyediakan makanan di meja, pasti dia habiskan. Sebenarnya, kami itu ikhlas. Cuma, gini loh. Bukannya tidak tahu diri namanya kalau dia sering diberi makan, tapi ujung-ujungnya berlagak sok seakan kami nggak pernah berbuat baik pada dia, parahnya minta nambah lagi. Itu kan tikus kelaparan namanya. Mirip sama tikus-tikus kantor itu lah."

Si wartawan manggut-manggut. "Jadi, menurut Anda, ketika jenis tikus ini wajib dijauhi, dihukum, dibenci atau gimana?"

Si jubir menggeleng. "Tidak perlu."

Wartawan mengernyit bingung. "Loh kenapa? Bukannya mereka ini penyakit dan harus dihukum?"

"Tikus munafik ini ada tempat hukumnya sendiri, dan bukan hak manusia menghukumnya. Tahu Jahanam?"

Wartawan mengangguk refleks.

"Nah, itulah tempat hukuman terbaik untuk tikus munafik ini."


-Tamat-


Indeks Link Cerpen Lainnya
Diubah oleh mbakendut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aroelsfc dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 19 dari 24
15-07-2019 06:50
Quote:Original Posted By Richy211
tikus ngik ngok 😂😂😂


Fokus sama tikusnya doang nih😆
0
17-07-2019 08:03
Rasa yang Tersimpan ( Fanfiction)
Kumpulan Cerpen Bikin Baper


-oOo-

“Hey, (Nam). Udah lama nunggu, ya?” tegur Iqbaal ketika baru saja sampai di kafe tempat janjiannya dengan (Namakamu).

“Gak kok!” balas (Namakamu) agak kikuk.

“Lo kenapa? Tumben ngajak ketemuan?” tanya Iqbaal menatap sahabatnya dengan mimik serius.

(Namakamu) menghela napas. “Gue boring di rumah.” Tukasnya cemberut. Iqbaal tersenyum seakan sudah tahu kebiasaan sahabatnya itu.

“Lo brantem sama Vanesha lagi?”

“Gue gak tahu kapan tuh anak berubah. Perasaan, gue udah baek banget sama dia.”

“Yah, mungkin aja, dia juga masih marah sama lo. Belum percaya kalo kita tuh sahabatan, gak lebih.”

“Tapi, harus sampai kapan gue yakinin dia, gue udah capek diteror, dipermaluin di depan temen-temen kalo gue tuh cewek perebut.”

“Gue juga heran, dia kok gak respect banget ma persahabatan kita. padahal dia tuh adek lo. Gue gak habis pikir.”

“Iya, makanya lo ngomong ke cewek lo itu. Gak usah cemburu. Ntar dia kurus gara-gara marah terus ke gue.” Iqbaal tertawa mendengar penuturan (Namakamu).

**

Pulang dari Kafe, begitu masuk rumah, (Namakamu) kembali puyeng karena dicegat oleh Vanesha.

“Kakak dari mana?” tegurnya agak sinis.

“Dari luar.” jawab (Namakamu) berusaha sesantai mungkin.

“Abis ketemu Iqbaal ya? Udah berapa kali sih aku bilang sama kakak, jauhin Iqbaal. Dia pacar aku. Kakak tau diri dong.” Sentak Vanesha.

Dengan suara lantang, sebelum membalas, (Namakamu) merem sesaat, mengumpulkan sisa oksigennya yang menipis karena bentakan Vanesha.

“Kapan sih kamu bisa ngadepin kakak dengan wajah manis, hah? Kamu kira kakak cewek murahan yang gak punya hati trus rebut Iqbaal yang jelas-jelas pacar adik sendiri. Percuma kamu cantik kalo gak punya otak. Gak tau bedain mana yang bener, bisanya cuman nuduh.” Selesai mengeluarkan unek-uneknya, (Namakamu) berlalu dari hadapan Vanesha. Gadis itu diam lalu berjalan pelan menuju kursi tamu dengan wajah yang masam, sepertinya dia belum yakin kalo antara kakaknya dan Iqbaal tidak ada hubungan apa-apa.

‘Kakak bohong, kakak bohong, pokoknya kakak bohong,’ teriaknya dalam hati, kemudian menangis.

**

“Gimana dengan Nesha? Dia udah percaya?” tanya Iqbaal begitu ia dan (Namakamu) sarapan di kantin sekolah mereka.

(Namakamu) menggeleng. “Gue ngerasa bersalah sama adik gue sendiri, Baal. Kayaknya gue udah ngecewain dia. Meskipun dia selalu marah dan gak mau berdamai sama gue, tetap aja gue kasian sama dia.”

“Trus kita mesti gimana?”

“Hh, gue gak tahu. Gue juga bingung,” ucap (Namakamu) disertai helaan napas berat.

Baru saja mereka ngobrol, tanpa mereka sadari, Vanesha sudah berada di tengah-tengah mereka dengan wajah memerah, marah. “Begini yang namanya sahabat, mengambil kesempatan berdua-duaan?” Baik Iqbaal maupun (Namakamu) tercekat.

“Vanesha!” seru Iqbaal.

Gadis itu menangis. “Kenapa? Kenapa kakak harus berbohong? Kenapa kakak khianatin adik kakak sendiri?”

“Ini gak seperti yang kamu bayangin, Sha.” (Namakamu) berusaha meyakinkan.

“KALIAN JAHAT!” teriak Vanesha lalu berlari keluar kantin.

“Vanesha, tunggu!”

(Namakamu) mengejar adiknya sedangkan Iqbaal terbengong-bengong di kursi kantin.

“Nesha, berhenti!”

Vanesha tidak mau juga menghentikan larinya, begitupun (Namakamu) yang terus mengejarnya hingga beberapa pasang mata sempat memperhatikan.

“Sha, lo gak boleh terus-terusan kayak gini. Ini salah paham. Kenapa sih lo gak pernah percaya kalo gue dan Iqbaal sahabatan doang.” Sambil berlari, (Namakamu) mencoba meyakinkan. Vanesha pun berhenti berlari. Tubuhnya bergetar tanda ia masih menangis.

“Sha, gue kakak kandung lo. Gak mungkin gue nyakitin adik gue sendiri. Coba lo kasih sedikit kepercayaan lo sama gue. Gue juga punya perasaan, gue juga mikir gimana perasaan gue kalo misalnya gue di posisi lo, gue juga terpuruk, Sha. Kapan sih lo ngasih gue kebebasan buat yakinin ke lo kalo apa yang lo duga itu gak bener. Selama ini gue berusaha buat jadi kakak yang baik. Kakak yang bisa jadi teladan buat adiknya. Kalo lo bisa gak bisa ngehargai gue sebagai kakak lo, gimana gue juga bisa buktiin kalo gue bisa ngehargai lo.” Vanesha masih juga menangis. (Namakamu) akhirnya mendekat dan menggapai pundak adiknya itu.

“Setidaknya lo bisa berusaha percaya sama gue, kalo gue sama Iqbaal sebatas sahabat. Gue ngerti perasaan lo, Sha. Gue ngerti,” ujar (Namakamu) lagi, tersenyum tulis pada Vanesha. Akhirnya, gadis itu luluh dan memeluk (Namakamu). Giliran ia yang menangis haru.

“Iya, Sha. Gue gak akan berpaling karena gue tahu lo butuh gue sebagai cowok yang bisa ngelindungin lo.”

Vanesha melepaskan pelukannya begitu melihat Iqbaal sudah berada di belakangnya. Gadis itu pun langsung memeluknya.

“Iqbaal!”

Iqbaal tersenyum, mengusap-ngusap rambut kekasihnya itu. “Maafin gue, Baal. Gak seharusnya gue raguin cinta lo selama ini. Sekarang, gue yakin lo cowok yang pantas gue sayang,” ungkap Vanesha. (Namakamu) masih menangis lalu berlari menjauh dari mereka.

‘Andai lo tau, Baal. Cinta yang gue miliki sama besarnya dengan cinta Nesha buat lo. Emang selama ini lo ngeliat gue sebagai sahabat tapi sebenarnya, lo berarti banget buat gue. Gue sabar dan menahan rasa ini karena gue sayang sama Nesha. Gue gak mau dia bilang gue cewek yang bisanya ngerebut apa yang dia punya. Tak bisa gue pungkiri, apa yang diduganya selama ini gak pantas gue ingkari. Walau sebenarnya gue salah karena mencintai orang yang sama. Gue telah bohongi perasaan gue sendiri kalo gue juga butuh lo. Nilai lo sebagai cowok yang terbaik buat gue. Maafin kenaifan gue, Baal.’

Sambil berlari, batin (Namakamu) menjerit. Dia saat ini telah merasakan pahit. Walaupun dia tergolong cewek yang gak suka menyimpan rahasia, namun dia mampu bertahan dengan perasaannya itu demi melihat adiknya bahagia.

‘Ya, biarlah rasa ini tersimpan hingga tiba waktunya lo tau. Maka saat itu, lo akan ngerasain gimana cinta itu datang sela persahabatan kita. Sekarang gue harap lo bahagiain adik gue. Karena dia masih sangat muda dan dia belum bisa tegar kayak gue sekarang,’ ucapnya lagi, dalam hati, mencoba memberi ketenangan di hatinya.

-oOo-

-Tamat-


Quote:Original Story by Kakak TS



Indeks link Di sini
Diubah oleh mbakendut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sriwijayapuisis dan 2 lainnya memberi reputasi
3
17-07-2019 12:12
udah tamat lagi, sis. mantap, ebe jelaskan di group ye
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
1
17-07-2019 12:17
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
udah tamat lagi, sis. mantap, ebe jelaskan di group ye


Ok, Kak. Terima Kasih☺
0
18-07-2019 09:23
Kakak yang baik😊
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
1
18-07-2019 09:25
Quote:Original Posted By TaraAnggara
Kakak yang baik😊


Patut dicontoh ya🙂
profile-picture
TaraAnggara memberi reputasi
1
18-07-2019 09:28
iki opo vanesha angel sama iqbal ramadhan 😂😂😂
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
1
18-07-2019 09:43
Quote:Original Posted By Richy211
iki opo vanesha angel sama iqbal ramadhan 😂😂😂


Bukan Vanesha Angel, Sis. Tapi Vanesha Pricillaemoticon-Ngakak
0
18-07-2019 10:05
Quote:Original Posted By mbakendut
Patut dicontoh ya🙂


Yups, bener. Tapi nyesek oi🤣
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
1
18-07-2019 10:13
Quote:Original Posted By TaraAnggara
Yups, bener. Tapi nyesek oi🤣


Nyesek, tapi jika ane ada di posisi dia, ane bakal lakuin hal yang sama
profile-picture
TaraAnggara memberi reputasi
1
18-07-2019 10:28
hadir nih hehehe
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
1
19-07-2019 05:30
nama ceweknya namakamu asli?
profile-picture
mbakendut memberi reputasi
1
19-07-2019 19:14
Quote:Original Posted By sriwijayapuisis
hadir nih hehehe


Makasih🤗
profile-picture
sriwijayapuisis memberi reputasi
1
19-07-2019 19:16
Quote:Original Posted By ilafit
nama ceweknya namakamu asli?


Kebiasaan penulis fanfict, tokoh utama cewek diberi nama (Namakamu) supaya pembaca merasa dia yang jadi tokoh di dalam cerita🙂
0
19-07-2019 19:46
Quote:Original Posted By ilafit
nama ceweknya namakamu asli?


Kebiasaan penulis fanfict, tokoh utama cewek diberi nama (Namakamu) supaya pembaca merasa dia yang jadi tokoh di dalam cerita🙂
0
20-07-2019 12:30
Mantan Gesrek (Special POV Gilang)
Kumpulan Cerpen Bikin Baper



Quote:Dia nge-cap gue brengsek di saat gue belum dikasih waktu buat ngejelasin semuanya. Siapa yang salah? Nggak tau. Semua terasa kacau ketika papa mengeluarkan maklumatnya sebagai orang yang paling berkuasa di muka bumi. Dia ngatur hidup saat gue sudah menemukan kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Saat … gue udah bisa tersenyum setelah kepergian mama.


***

“Kuping lo taruh di mana sih? Gue ‘kan udah bilang jangan makan gorengan terus!” Gadis manis yang baru seminggu jadi pacar gue nyerocos tanpa henti. Baru beberapa menit dia datang, gue ngerasa kalo kuping  gue udah sakit. Huff, untung sayang.

“Gue sakit perut bukan karena gorengan kali.” Gue berkilah, meski pada kenyataannya kayak gitu sih.

“Ngaco, lo beli gorengan di mana?”

“Di warung pinggir jalan.”

Bukk!!

Gue merasa saat ini udah jadi korban KDRT dari pacar gue yang tersayang. Gue yang mulanya tiduran di sofa beranjak dan meraih tangannya. “Gue laper, trus nggak bisa masak selain mie sama telur. Makanya gue beli gorengan.”

“Kenapa nggak manggil gue buat masakin lo?”

Gue tersenyum. “Ntar, kalo lo udah jadi istri gue.”

Bukk!!

Lagi, gue digebuk di perut untuk kedua kalinya. Padahal, dia tahu kalau gue lagi sakit perut. Aneh memang. Tapi, gue seneng karena bisa melihat semburat merah di pipinya yang penuh itu. Demi Baco sekeluarga, gue yakin kalo dia malu karena pernyataan gue barusan. Fix, dia bakal jadi Nyonya Gilang secepatnya.

“Nggak usah gembel!”

“Dih, siapa yang ngegembel sih? Hayoo, pipi gemuk lo mau meletus tuh.” Dengan jahil, gue menusuk-nusuk kedua pipinya yang emang ngegemesin.

Dia mencoba menahan geli, tapi pada akhirnya ia tertawa lepas juga.

Mendadak, gue ngerasa kalau sakit perut gue hilang  … karena ada dia di sini.

*

Quote:Sore itu adalah terakhir kalinya gue bertemu dengan Yuna. Setelah itu, orang yang paling berkuasa di keluarga gue mengeluarkan Captain Marvel--menurutnya untuk gue.

Namun, caranya salah besar. Karena dia bikin satu-satunya penyebab gue bahagia pergi, dan mungkin takkan pernah kembali.


**

Gue nggak pernah ngasih tau password apartement gue, selain Yuna. Namun, malam itu entah kenapa cewek yang paling gue hindarin datang dengan senyuman malaikat.

Andai tuh cewek datang dengan penampilan sopan, gue nggak terlalu masalah. Dia ... seolah sengaja bikin naluri kelaki-lakian gue naik.

"Lo kenapa bisa ada di apart gue?" Gue bertanya dingin.

"Om Surya nyuruh aku ke sini, katanya kamu sakit, Beb," katanya dengan senyum manis. Bukan itu jawaban yang gue inginkan. Gue mau tahu kenapa ia bisa tau-tau sudah ada di dalam sini.

Ini sudah malam, dan pertahanan diri seorang cowok sangat dipertaruhkan. Terlebih, gue rasa tuh tua bangka udah hilang akal buat nyuruh gue suka sama ini cewek.

Big hell no, itu nggak bakal pernah terjadi.

"Nggak baik cewek malem-malem nyamperin cowok. Gue nggak mau denger gosip tetangga, mending lo pulang." Gue berusaha mengusir baik-baik cewek ini tanpa melihat wajahnya, meski gue rasa suara gue nggak ada lembut-lembutnya sama sekali.

"Aku mau nginap di sini malam ini. Kamu lupa kita udah dijodohin, Lang?"

Deg!!

Gue yang awalnya muak melihat wajah tuh cewek langsung terusik. Dapat gue liat seringai puas tercetak di bibirnya yang merah merekah. Kedua tangannya terlipat di depan dada seolah menantang gue buat menerima kenyataan. Ia mempersempit jarak kami hingga tinggal hitungan jengkal saja.

"Jangan coba main-main sama gue, Angel!" Tatapan tajam gue menghunus tepat ke netra Angel yang disambut dengan cewek itu tanpa rasa takut, justru ia makin berani dengan maju selangkah hingga wajahnya benar-benar ada di hadapan gue, dalam jarak tak kurang dari sejengkal.

Tersenyum sangat manis, ia mendekatkan wajahnya. "Aku kangen sama kamu, Beb."

Cupp!!

Napas gue nyaris berhenti begitu sebuah kecupan basah mendarat di pipi gue. Begitu tiba-tiba, gue shock di tempat. Angel malah nyengir-nyengir senang tak menjauhkan wajahnya.

Sebenarnya, bukan cuma kecupan itu yang bikin gue syok, tapi kedatangan seseorang secara tiba-tiba. Orang itu membekap mulutnya dengan tubuh bergetar.

Tak sempat memberi penjelasan, orang itu--Yuna keburu berlari keluar.

*

Quote:Gue cowok brengsek tapi lemah, itu mungkin bener. Yuna mengirimkan pesan perpisahan malam itu tanpa gue ngejelasin apa-apa karena gadis itu buru-buru mem-blokir nomor gue dari daftar kontaknya.

Stress, gue nggak tau mau ngelakuin apa. Malam itu, gue biarin Angel nginap dan paginya mengusir gadis itu tanpa ampun, tentunya sebelum bodyguard papa bangun dari mimpi indah.

Hari itu juga, gue mutusin nggak bakal mengusik hidup Yuna. Gue membiarkan rasa rindu ini tertahan sementara untuk satu tujuan di masa depan.

Negosiasi, mungkin.


**

"Saya sudah bilang jangan ikut campur hidup saya. Sudah cukup Mama menderita di bawah kuasa Papa yang diktator!" Nada bicara gue tegas, tanpa rasa gentar sedikitpun. Ini adalah kali pertama gue menginjakkan kaki di rumah masa kecil, sejak gue tinggal di apartemen Kak Rangga setahun yang lalu.

Satu tujuan, menemui pria titisan Hitler yang tetap memasang wajah kaku. Ia menatap gue sekilas dengan mata berkilat-kilat, setelah itu terdengar tarikan napasnya.

"Papa melakukan itu untuk kebaikan kamu, tapi saya dengar kamu malah mengusir Angel," ujarnya dengan nada tenang.

"Saya sudah bilang tidak tertarik pada Angel. Kenapa Gilang bisa tunangan waktu itu karena terpaksa!"

Papa memegang gagang cangkir kebesarannya dengan kuat, kebiasaannya jika mendengar sesuatu yang menurutnya tidak masuk nalar.

"Beranjak dewasa attitude-mu jadi minus, Nak."

Gue mendengus, ingin membalas dengan kasar, tapi langsung teringat dengan tujuan utama gue menyambangi dia di sini.

"Gilang tidak ingin buang-buang energi untuk berdebat sama Papa," ucapku setelah terdiam beberapa saat. "Bentar lagi Gilang lulus SMA, dan ... ingin lanjut kuliah di Yogya, bareng Kak Rangga. Bukan di Singapura atau kampus pilihan Papa."

Gue menunggu reaksi papa. Ia tampak terkejut dan raut wajahnya berubah garang. "Apa maksudmu?"

"Bukannya Yogya bagus? Di sana juga ada Nenek."

"Papa pengen kamu kuliah di Singapura, bukan di Yogyakarta atau kampus manapun di Indo!" tandasnya.

Gue tak langsung merespons, melainkan bangkit dari duduk karena merasa negosiasi dengan Papa bakal berjalan alot. Diktator macam dia tidak bakal menerima saran atau bantahan.

"Gilang, mau ke mana kamu?" Papa ikut bangkit dari duduknya. Wajahnya memerah kali ini menandakan jika emosinya mulai naik.

Gue menarik napas panjang, merasakan jika kepala gue berdenyut sakit.

"Gilang juga bakal pindah sekolah besok, dan jangan suruh bodyguard Papa untuk menghalangi saya"

*

Papa mengizinkan? Tentu saja tidak, mungkin. Gue nyelonong pergi aja waktu gue ngucapin kalau gue mau pindah. Ia mungkin telah mengutuk gue sebagai anak durhaka. Jujur gue merasa tak enak, tapi sikapnya pada mama yang keterlaluan dulu bikin gue muak.

Mama--orang satu-satunya yang gue sayang pergi, maka gue nggak akan biarin orang yang gue sayang setelahnya pergi juga.

Dan... di sinilah gue sekarang. Memakai seragam berbeda dan rambut yang sengaja gue cat putih dari warna sebelumnya--merah.

Meski harus jadi pusat perhatian cewek-cewek yang terpesona sama ketampanan ini, gue rela. Sebab, gadis yang jadi alasan gue ke sini lebih penting. Ya, Yuna. Gadis gue ini benar-benar menggemaskan, meski ia ngatain gue sinting sekalipun.

"Apa cuma gue yang ngerasa kalo lo berubah? Makin ganteng, tapi agak geser," ujar Yuna sarkas yang diiringi gerakan bola mata menyiratkan rasa jengkel.

Bukannya kesal karena di-cap sinting, gue malah gemas. "Gue emang ganteng, kan? Lo suka sama gue karena  tampang gue yang ganteng ini."

"Lo mesti ke rumah sakit jiwa setelah ini, Lang. Gue nggak bisa ngadepin orang sinting kayak lo."

Gue memasang senyum semanis mungkin, seraya menopang dagu. "Gue emang sinting kok, karena lo."

Yuna memuntahkan baksonya.

***
Quote:Akhir cerita di post reply selanjutnya😃



Indeks link Di sini
Diubah oleh mbakendut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pzwildaas dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Lihat 5 balasan
20-07-2019 12:35
Kayak pernah baca quote atas sendiri sebelumnya😅
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan mbakendut memberi reputasi
2
20-07-2019 14:53
Quote:Original Posted By mbakendut
Kumpulan Cerpen Bikin Baper





***

“Kuping lo taruh di mana sih? Gue ‘kan udah bilang jangan makan gorengan terus!” Gadis manis yang baru seminggu jadi pacar gue nyerocos tanpa henti. Baru beberapa menit dia datang, gue ngerasa kalo kuping  gue udah sakit. Huff, untung sayang.

“Gue sakit perut bukan karena gorengan kali.” Gue berkilah, meski pada kenyataannya kayak gitu sih.

“Ngaco, lo beli gorengan di mana?”

“Di warung pinggir jalan.”

Bukk!!

Gue merasa saat ini udah jadi korban KDRT dari pacar gue yang tersayang. Gue yang mulanya tiduran di sofa beranjak dan meraih tangannya. “Gue laper, trus nggak bisa masak selain mie sama telur. Makanya gue beli gorengan.”

“Kenapa nggak manggil gue buat masakin lo?”

Gue tersenyum. “Ntar, kalo lo udah jadi istri gue.”

Bukk!!

Lagi, gue digebuk di perut untuk kedua kalinya. Padahal, dia tahu kalau gue lagi sakit perut. Aneh memang. Tapi, gue seneng karena bisa melihat semburat merah di pipinya yang penuh itu. Demi Baco sekeluarga, gue yakin kalo dia malu karena pernyataan gue barusan. Fix, dia bakal jadi Nyonya Gilang secepatnya.

“Nggak usah gembel!”

“Dih, siapa yang ngegembel sih? Hayoo, pipi gemuk lo mau meletus tuh.” Dengan jahil, gue menusuk-nusuk kedua pipinya yang emang ngegemesin.

Dia mencoba menahan geli, tapi pada akhirnya ia tertawa lepas juga.

Mendadak, gue ngerasa kalau sakit perut gue hilang  … karena ada dia di sini.

*



**

Gue nggak pernah ngasih tau password apartement gue, selain Yuna. Namun, malam itu entah kenapa cewek yang paling gue hindarin datang dengan senyuman malaikat.

Andai tuh cewek datang dengan penampilan sopan, gue nggak terlalu masalah. Dia ... seolah sengaja bikin naluri kelaki-lakian gue naik.

"Lo kenapa bisa ada di apart gue?" Gue bertanya dingin.

"Om Surya nyuruh aku ke sini, katanya kamu sakit, Beb," katanya dengan senyum manis. Bukan itu jawaban yang gue inginkan. Gue mau tahu kenapa ia bisa tau-tau sudah ada di dalam sini.

Ini sudah malam, dan pertahanan diri seorang cowok sangat dipertaruhkan. Terlebih, gue rasa tuh tua bangka udah hilang akal buat nyuruh gue suka sama ini cewek.

Big hell no, itu nggak bakal pernah terjadi.

"Nggak baik cewek malem-malem nyamperin cowok. Gue nggak mau denger gosip tetangga, mending lo pulang." Gue berusaha mengusir baik-baik cewek ini tanpa melihat wajahnya, meski gue rasa suara gue nggak ada lembut-lembutnya sama sekali.

"Aku mau nginap di sini malam ini. Kamu lupa kita udah dijodohin, Lang?"

Deg!!

Gue yang awalnya muak melihat wajah tuh cewek langsung terusik. Dapat gue liat seringai puas tercetak di bibirnya yang merah merekah. Kedua tangannya terlipat di depan dada seolah menantang gue buat menerima kenyataan. Ia mempersempit jarak kami hingga tinggal hitungan jengkal saja.

"Jangan coba main-main sama gue, Angel!" Tatapan tajam gue menghunus tepat ke netra Angel yang disambut dengan cewek itu tanpa rasa takut, justru ia makin berani dengan maju selangkah hingga wajahnya benar-benar ada di hadapan gue, dalam jarak tak kurang dari sejengkal.

Tersenyum sangat manis, ia mendekatkan wajahnya. "Aku kangen sama kamu, Beb."

Cupp!!

Napas gue nyaris berhenti begitu sebuah kecupan basah mendarat di pipi gue. Begitu tiba-tiba, gue shock di tempat. Angel malah nyengir-nyengir senang tak menjauhkan wajahnya.

Sebenarnya, bukan cuma kecupan itu yang bikin gue syok, tapi kedatangan seseorang secara tiba-tiba. Orang itu membekap mulutnya dengan tubuh bergetar.

Tak sempat memberi penjelasan, orang itu--Yuna keburu berlari keluar.

*



**

"Saya sudah bilang jangan ikut campur hidup saya. Sudah cukup Mama menderita di bawah kuasa Papa yang diktator!" Nada bicara gue tegas, tanpa rasa gentar sedikitpun. Ini adalah kali pertama gue menginjakkan kaki di rumah masa kecil, sejak gue tinggal di apartemen Kak Rangga setahun yang lalu.

Satu tujuan, menemui pria titisan Hitler yang tetap memasang wajah kaku. Ia menatap gue sekilas dengan mata berkilat-kilat, setelah itu terdengar tarikan napasnya.

"Papa melakukan itu untuk kebaikan kamu, tapi saya dengar kamu malah mengusir Angel," ujarnya dengan nada tenang.

"Saya sudah bilang tidak tertarik pada Angel. Kenapa Gilang bisa tunangan waktu itu karena terpaksa!"

Papa memegang gagang cangkir kebesarannya dengan kuat, kebiasaannya jika mendengar sesuatu yang menurutnya tidak masuk nalar.

"Beranjak dewasa attitude-mu jadi minus, Nak."

Gue mendengus, ingin membalas dengan kasar, tapi langsung teringat dengan tujuan utama gue menyambangi dia di sini.

"Gilang tidak ingin buang-buang energi untuk berdebat sama Papa," ucapku setelah terdiam beberapa saat. "Bentar lagi Gilang lulus SMA, dan ... ingin lanjut kuliah di Yogya, bareng Kak Rangga. Bukan di Singapura atau kampus pilihan Papa."

Gue menunggu reaksi papa. Ia tampak terkejut dan raut wajahnya berubah garang. "Apa maksudmu?"

"Bukannya Yogya bagus? Di sana juga ada Nenek."

"Papa pengen kamu kuliah di Singapura, bukan di Yogyakarta atau kampus manapun di Indo!" tandasnya.

Gue tak langsung merespons, melainkan bangkit dari duduk karena merasa negosiasi dengan Papa bakal berjalan alot. Diktator macam dia tidak bakal menerima saran atau bantahan.

"Gilang, mau ke mana kamu?" Papa ikut bangkit dari duduknya. Wajahnya memerah kali ini menandakan jika emosinya mulai naik.

Gue menarik napas panjang, merasakan jika kepala gue berdenyut sakit.

"Gilang juga bakal pindah sekolah besok, dan jangan suruh bodyguard Papa untuk menghalangi saya"

*

Papa mengizinkan? Tentu saja tidak, mungkin. Gue nyelonong pergi aja waktu gue ngucapin kalau gue mau pindah. Ia mungkin telah mengutuk gue sebagai anak durhaka. Jujur gue merasa tak enak, tapi sikapnya pada mama yang keterlaluan dulu bikin gue muak.

Mama--orang satu-satunya yang gue sayang pergi, maka gue nggak akan biarin orang yang gue sayang setelahnya pergi juga.

Dan... di sinilah gue sekarang. Memakai seragam berbeda dan rambut yang sengaja gue cat putih dari warna sebelumnya--merah.

Meski harus jadi pusat perhatian cewek-cewek yang terpesona sama ketampanan ini, gue rela. Sebab, gadis yang jadi alasan gue ke sini lebih penting. Ya, Yuna. Gadis gue ini benar-benar menggemaskan, meski ia ngatain gue sinting sekalipun.

"Apa cuma gue yang ngerasa kalo lo berubah? Makin ganteng, tapi agak geser," ujar Yuna sarkas yang diiringi gerakan bola mata menyiratkan rasa jengkel.

Bukannya kesal karena di-cap sinting, gue malah gemas. "Gue emang ganteng, kan? Lo suka sama gue karena  tampang gue yang ganteng ini."

"Lo mesti ke rumah sakit jiwa setelah ini, Lang. Gue nggak bisa ngadepin orang sinting kayak lo."

Gue memasang senyum semanis mungkin, seraya menopang dagu. "Gue emang sinting kok, karena lo."

Yuna memuntahkan baksonya.

***


Elaaah keren beud🤭
profile-picture
profile-picture
Rapunzel.icious dan mbakendut memberi reputasi
2
20-07-2019 14:55
Quote:Original Posted By masnukho
Kayak pernah baca quote atas sendiri sebelumnya😅


Ya, Kak. Ane share quotesnya di lapak sebelah loh🤣
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan masnukho memberi reputasi
2
20-07-2019 15:00
Quote:Original Posted By ceuhetty
Elaaah keren beud🤭


Makasih sudah bilang "keren" 😭
profile-picture
ceuhetty memberi reputasi
1
Halaman 19 dari 24
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sebenarnya-cinta
Stories from the Heart
prekuel-sebelum-karma
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.