alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.17 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d0f40b79a972e5b0e34a98d/betapa-susah-orang-pribumi-masuk-sekolah-elite-zaman-kolonial
Lapor Hansip
23-06-2019 16:04
Betapa Susah Orang Pribumi Masuk Sekolah Elite Zaman Kolonial
Past Hot Thread
Penulis: Petrik Matanasi
22 Juni 2019

Quote:Betapa Susah Orang Pribumi Masuk Sekolah Elite Zaman Kolonial


Masuk sekolah elite macam ELS tentu hal yang prestisius di zaman kolonial. Beberapa wali murid berjuang matian-matian agar anaknya diterima.


Quote:tirto.id - Pemuda pribumi ideal zaman kolonial adalah Agoes Salim. Dia berijazah Hogere Burger School (HBS). Sebelum di HBS, Agoes Salim bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ini sekolah tergolong elite. ELS adalah sekolah dasar prestisius yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa. Anak-anak bumiputra juga ada, tapi dari golongan pembesar. Selain dua golongan itu, anak-anak indo atau blasteran Eropa-pribumi juga diterima di sekolah itu.

Sukarno jauh lebih muda dari Agoes Salim. Setelah Sukarno kecil bertahun-tahun belajar di sekolah untuk pribumi, Inlandsche School, ayahnya, Raden Soekemi, ingin si anak masuk sekolah tinggi. Maka Sukarno pun hendak dimasukkannya ke ELS. Sukarno ikut tes. Tapi kepala sekolah ELS menyampaikan sesuatu yang setengah pahit.

“Anak Bapak Pintar, tetapi bahasa Belandanya belum cukup baik untuk kelas enam ELS. Kami terpaksa menempatkannya satu kelas lebih rendah,” kata si kepala sekolah, seperti diakui Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (2011: 35).

Raden Soekemi tetap berkeras anaknya menyambung ke ELS, meski harus di kelas lima dan memperlancar lagi bahasa Belandanya.

Masuk ELS yang sejatinya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda itu bukan cuma masalah prestise di mata masyarakat. Dengan masuk ELS, seorang anak punya peluang masuk sekolah menengah macam HBS. Jika lulus HBS, maka bisa masuk universitas lebih cepat dibanding anak HIS yang masuk MULO lalu masuk AMS dahulu. ELS menentukan masa depan seorang anak. Dengan ijazah ELS, bahkan berijazah sekolah dasar macam HIS saja, seseorang berpeluang untuk jadi sersan KNIL yang gajinya lebih tinggi dari guru swasta.

Diaku Anak hingga Mengancam Pemerintah

Bukan cuma Raden Soekemi yang ingin anaknya masuk sekolah macam ELS. Seorang seniman musik sekaligus anggota militer berdarah Indo-Belanda bernama Willem van Eldik juga ingin adik iparnya—yang berwajah pribumi tulen—agar bisa belajar di ELS. Dengan mengaku-aku Supratman, adik iparnya itu, sebagai anaknya dan diberi nama tambahan Rudolf.

“Wage Rudolf Supratman diterima di kelas tiga ELS Makassar. Akan tetapi baru beberapa bulan ia mengenyam Pendidikan di sekolah Belanda itu, ia sudah dikeluarkan. Bukan karena ia bodoh atau berkelakuan buruk, tetapi semata-mata hanya karena ia diketahui bukan anak kandung Sersan Willem van Eldik,” tulis Bambang Sularto dalam biografi Wage Rudolf Supratman (2012: 27).

Meski van Eldik berusaha keras agar adik iparnya itu diterima dengan menjadikannya berstatus hukum sama dengan orang Belanda lewat Gelijkgested, Supratman memilih tidak berkeras masuk sekolah itu. Belakangan Wage Rudolf Supratman (1903-1938), yang disiksa dengan diskriminasi kolonial itu, jadi musuh pemerintah kolonial. Dialah pencipta lagu "Indonesia Raya".

Seorang kakek yang pernah jadi Kapiten Arab di Pasuruan juga berjuang agar cucunya belajar di ELS. Nama bocah itu Hamid Algadri. “Saya ditolak masuk ELS karena sekolah itu khusus untuk anak Belanda. Kakek Alim sangat marah. Dia menemui Residen Pasuruan. Ia ceritakan, bahasa Belanda saya cukup baik menurut guru Frobel School (TK),” aku Hamid Algadri dalam memoarnya di majalah Tempo, yang dibukukan dalam M.E.M.O.A.R Senarai Kiprah Sejarah (1993: 158).

Di hadapan pejabat Belanda itu, orang Arab berpengaruh di Pasuruan ini tak lupa memberi ancaman demi masa depan cucunya. Bukan kepada si tuan residen, tapi juga kepada pemerintah.

"Kalau cucu saya ditolak masuk sekolah itu, bintang-bintang penghargaan yang Tuan berikan akan saya kembalikan," kata si kakek, seperti diingat Hamid dan dicatat dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984: 50).

Dalam memoarnya, Hamid mengaku, “akhirnya, keluar surat keputusan yang menyatakan semua anak cucu Kapten Algadri boleh masuk ELS.”

Maka bersekolahlah Hamid Algadri (1912-1998) di ELS. Setelah belajar di MULO lalu AMS, Hamid kemudian sempat belajar di sekolah hukum, Rechts Hoogeschool (RHS), di Jakarta. Belakangan dia jadi tokoh pergerakan nasional dari golongan orang-orang Arab, dengan masuk Partai Arab Indoneisa (PAI), bersama Abdul Rahman Baswedan.

Betapa Susah Orang Pribumi Masuk Sekolah Elite Zaman Kolonial

Dikeluarkan Karena Bandel

Dokter Soetomo pendiri Boedi Oetomo pun pernah punya pengalaman ditolak masuk ELS. Seperti dicatat buku Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 1-2 (1983: 279), Soetomo semula bernama Soebroto. Suatu hari pamannya, Harjodipuro, hendak memasukkan Soebroto dan anaknya sendiri yang bernama Sahit ke ELS.

Sahit diterima, tapi Soebroto tidak. Pamannya tidak mau menyerah. Esoknya Soebroto dibawa lagi. Kali ini tidak pakai nama Soebroto, melainkan Soetomo. Dengan nama itu Soebroto pun diterima, setelahnya nama Soetomo terus dipakainya hingga menjadi dokter pergerakan nasional.

Seorang guru senior bernama Sayid Yudoyuwono juga berjuang agar anak sulungnya masuk ELS. Kisah sohor anak Sayid bukan karena tidak diterima. Anak Sayid diterima dan menikmati bangku sekolah elite ELS di Banyumas. Namun ini bocah harus dikeluarkan lantaran menghajar anak pejabat Belanda. Karenanya bocah yang duduk di kelas 4 ELS ini kemudian dikeluarkan dan terpaksa belajar di HIS.

Bocah bermental serdadu ini lalu masuk KNIL dan meraih pangkat sersan. Setelah Indonesia merdeka, dia masuk TNI dan jadi jenderal. Nama bocah ini Gatot Subroto.

(Tirto.id - pet/ivn)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan


Quote:Sukarno diturunkan satu tingkat di ELS karena bahasa Belandanya tak cukup baik.


Komen TS
Sekolah favorit tokoh pergerakanemoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nielzone dan 10 lainnya memberi reputasi
9
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 5
14-07-2019 19:34
Masa Depan : Betapa susahnya murid berprestasi masuk sekolah favorit terhalang zonasi
0
14-07-2019 19:37
jaman belanda mau sekolah aja susah karena kalo pribumi. Wajar sih emang lagi masa penjajahan. Meskipun sekarang kita udah merdeka tapi masih ada yg susah mau sekolah karena biaya. masalahnya ganti tapi intinya sama🤔
Emang kita jangan cuma menyalahkan pemerintah, jadi harus ikut bantu juga
0
Lihat 1 balasan
14-07-2019 22:23
dulu mau sekolah juga mgkn udah mantep bgt kali ya..
0
14-07-2019 23:14
Sekarang juga sama sih tidak gampang masuk sekolah favorite, selain pintar juga harus kaya (samalah dgn jaman dulu yg bisa sekolah elite rata rata kaum bangsawan (kaya dan berkuasa)).

Untuk masuk sekolah negeri, jaman sekarang lebih susah lagi (keponakan kembar kesayangan menteri pendidikan saja ditolak masuk sekolah negeri, untunglah kondisi ekonomi mereka pasti memungkinkan utk masuk sekolah swasta yg berkualitas).
Pasti banyak yg putus sekolah atau terpaksa masuk sekolah swasta yg ga jelas mutu pendidikannya karena tinggal di lokasi yg jauh dari sekolah negeri dan ditambah kondisi ekonomi yg tidak memungkinkan masuk sekolah swasta bermutu.

0
14-07-2019 23:21
Quote:Original Posted By nadaramadhan20
Penulis: Petrik Matanasi
22 Juni 2019



Masuk sekolah elite macam ELS tentu hal yang prestisius di zaman kolonial. Beberapa wali murid berjuang matian-matian agar anaknya diterima.






Komen TS
Sekolah favorit tokoh pergerakanemoticon-Jempol


wow... bisa diturunkan kelasnya ya... dan Bung Karno pernah diturunkan... brrti ketat banget kan sekolahnya
emoticon-Bingung1thumbup
0
14-07-2019 23:21
Quote:Original Posted By hainserr
kakek buyut gw pernah cerita dulu. doi saat sekolah disana bener2 merasa nyaman dengan pendidikan belanda.


brrti pendidikan belanda dulu berhasil ye gan... bkn cuma buat org belanda, tp jg buat pribumi
emoticon-Jempol
profile-picture
kaiserwalzer memberi reputasi
1
14-07-2019 23:22
Quote:Original Posted By bhayangkara25
dari dulu memang sudah tertanam dalam benak masyarakat Indonesia prestisenya sekolah unggulan ya


bener nih gann.. sudah mengakar yg namanya sekolah unggulan.. makanya kebawa sampe skrg ye
emoticon-Ngakak
0
14-07-2019 23:23
Quote:Original Posted By leonosphire
semoga engga terulang di jaman milenial


iyaa.. makanya skrg pake sistem zonasi tuh.. tp ya mudah2an berhasil dan tepat sasarann.. ga ada yg nyeleweng2
emoticon-Jempol
0
14-07-2019 23:24
Quote:Original Posted By cewekn4rsis
sekarang malah memprihatinkan ya gan...anak remaja bisa sekolah malah jadi begal atau genk motor..beluman lagi yang udah lulus sarjana, pada hobi nipu di youtube atau telegram saking sulitnya cari kerja emoticon-Ngakak (S)


sedih ye gann sist.. kalo gitu.. tp itu mah lepas ke pribadii msg2 dan banyak faktor.. bkn cuma pendidikan..
emoticon-Betty
profile-picture
cewekn4rsis memberi reputasi
1
15-07-2019 01:45
Tetep masih susahan lulus tes SBMPTN gan
0
15-07-2019 04:00
nice thread gan ane demen nih ama sejarah" macem gini . ane baru tau tentang WR Supratman gan
0
15-07-2019 10:05
Lucunya, orang pribumi bisa sekolah di sekolah berbahasa mandarin (jika ada bangku kelas yg kosong). Dan begit bangganya orang pribumi ini yg setelah sekolah disitu dapat berbahasa mandarin. Betapa baiknya orang tionghoa. Menurut cerita orangtua.
0
15-07-2019 11:00
nice info ni
0
15-07-2019 23:37
Sampe sekarang juga seperti ini, susah untuk masyrakat dapet sekolah berkualitas, apalagi dihambat dgn biaya yg mahal
0
17-07-2019 02:53
Quote:Original Posted By memetrivaldo
thread bagus niihh, ane baru tau emoticon-Big Grin

agan nadaramadhan ini yang paling sering buat thread di SF Sejarah saat ini emoticon-Ngacir2
Quote:Original Posted By bomxyz
Wah, sama donk sama jaman now
Ditambah parah sama kebijakan zonasi yang bikin ide "ngapain cape2 belajar kalo tinggal deket sekolah favorit"

Bener gan emoticon-shakehand
Quote:Original Posted By mozzelle
alhamdulillah oma opa gw zaman itu bisa ke jenjang tinggi

emank cuma kalangan ningrat doank yg boleh skul

emoticon-Matabelo agan darahnya biru nih


Quote:Mau baca blog ane?emoticon-Traveller
Proposisi Euklides I.47, Segitiga Freemasonry yang Sebenarnya (Dijamin bukan Cocoklogi!!!)
Bapak Geometri Euklides yang Misterius & Karyanya yang Berpengaruh Euclid’s Elements
Pembuktian Matematika & Q.E.D. Apa itu Q.E.D?
Pi (π) dan Angka 216. Apa hubungannya?
Rene Descartes, Pencipta Sistem Koordinat Kartesius, Matematikawan Berpedang
Taman Rusa UNDIP, Hayy bin Yaqdzon, dan Filsafat Illuminasonis

0
18-07-2019 08:36
sok membela pribumi tp anti PKI ini sih pro lgbt namanya emoticon-Ngakak
0
18-07-2019 11:46
sepertinya bisa dibuat film epic...
terutama tentang Jend. Gatot Subroto..
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Lapor Hansip
17-08-2019 12:50
Balasan post richardus96
Quote:Original Posted By richardus96
jaman belanda mau sekolah aja susah karena kalo pribumi. Wajar sih emang lagi masa penjajahan. Meskipun sekarang kita udah merdeka tapi masih ada yg susah mau sekolah karena biaya. masalahnya ganti tapi intinya sama🤔
Emang kita jangan cuma menyalahkan pemerintah, jadi harus ikut bantu juga


Salah, justru kalo dipikir-pikir setelah Merdeka ya enak, lu mau golongan apapun bisa sekolah, bandingkan ama jaman Kolonial yang mau sekolah aja harus dilihat darahnya merah apa biru, belom lagi permasalahan di lingkungan sekolah saat lu menjadi minoritas dan kebijakan yang sangat gak fair terhadap pribumi di masa itu.

Makin kesini justru jauh membaik dibandingkan jaman Kolonial, meskipun kekurangan itu pasti ada.
0
18-08-2019 01:39
nenek aku besar saat jepang menguasai indonesia, dia ngga sekolah tapi bisa bahasa jepang
0
Halaman 4 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.