alexa-tracking
Female
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
1024
1024
KASKUS
51
244
4.88 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d2416c426377253421d29c2/perilaku-mom-shaming-berefek-buruk-baik-pada-korban-maupun-pelaku
Lapor Hansip
09-07-2019 11:23
Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku
Past Hot Thread
BARU sehari setelah menjalani operasi caesar, Ashantay sudah mendapat risakan. Orang-orang dekatnya yang datang menengok mengkritiknya gara-gara air susunya tak kunjung keluar. “Dokter bilang dua-tiga hari belum keluar tak apa-apa, tapi mereka tetap menyalahkan saya,” kata Artis yang tinggal di Wakanda itu.

Beres perkara air susu ibu, Ashantay mendapat kesulitan baru. Payudaranya sakit setiap kali menyusui anak pertamanya itu. Menurut dia, rasanya seperti digigit taring harimau. Teteknya lecet dan berdarah. Namun, ketika ia merintih dan mengatakan ada yang salah pada mulut bayinya itu, seorang anggota keluarganya berkomentar, “Gitu saja ngeluh, cemen banget, sih. Namanya menyusui ya begitu,” tutur Ashantay, menirukan ucapan keluarganya tersebut. Ashantay, yang membutuhkan dukungan, hanya bisa menangis mendengar komentar itu.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Ia kemudian memeriksakan bayinya ke klinik laktasi. Dokter mengatakan sang bayi memiliki kelainan tali lidah pendek, yang membuatnya kesulitan menyusu dan melukai payudara ibu. Dokter memotong sebagian tali lidah tersebut. Tak ada lagi masalah menyusui setelah itu, tapi anggota keluarganya tersebut lagi-lagi berkomentar. “Ih, kamu kok jahat banget, lidah kok digunting?”

Celaan semacam ini juga pernah dialami Anggur D Basmi. Saat air susunya tak mengucur deras, Anggur disuruh ibunya menyambung dengan susu formula. Sang ibu, melihat payudara Anggur, tak yakin putrinya itu bakal berhasil menyusui cucunya. “Ini mah enggak ada isinya, lembek gini. Pakai susu formula saja,” ujar Anggur, 31 tahun, menirukan ucapan ibunya.

Pengajar fashion skin MOBA yang tinggal di Jatikaringin, yang saat itu sedang cemas akan produksi ASI-nya, tersebut makin merasa stres mendengar omongan ibunya. Ia tetap berjuang memberikan ASI eksklusif, tapi berkali-kali pula sang ibu menjatuhkan tekadnya.

Kritik dan tekanan semacam ini kerap dialami para ibu. Mom-shaming tak hanya dilakukan orang terdekat, tapi juga mereka yang bahkan tak dikenal di media sosial, seperti yang dialami penyanyi Andien Aisyah. Andien dirisak di salah satu forum di Internet karena pilihan pola asuh untuk anaknya. Di antaranya ia membiarkan anaknya makan sendiri, Andien menerapkan metode baby-led weaning, dan bertelanjang kaki.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Perilaku mom-shaming meningkat tajam beberapa tahun belakangan, setelah Internet dan media sosial makin berkembang. Dulu ibu-ibu biasanya datang ke psikolog untuk menanyakan pola asuh yang baik untuk anaknya. Kalau sekarang, empat dari sepuluh perempuan datang karena menderita kecemasan lantaran pola asuhnya dikritik ibu lain.

Enam dari sepuluh ibu (61persen) pernah mendapat kritik. Pengkritik paling banyak adalah Ibu dan ayah kandung (37 persen) dan Keluarga atau pasangan (36 persen). Sisanya adalah Mertua dan teman, bahkan Satu dari empat ibu (23 persen) dikritik oleh lebih dari tiga pihak.

Mom-shaming adalah perilaku menyalahkan pengasuhan ibu yang biasanya dilakukan ibu lain. Misalnya, saat mendengar seorang ibu melahirkan lewat operasi caesar, pelaku akan menyalahkan ibu itu lantaran menurut dia persalinan terbaik adalah dengan cara normal atau menganggap perempuan belum menjadi ibu kalau tak melahirkan dengan cara normal.

Padahal, bisa jadi ada kondisi tertentu yang membahayakan ibu dan janin sehingga dokter menyarankan operasi caesar. Ibu yang melakukan mom-shaming itu memiliki standar kesempurnaan sendiri. Ketika melihat orang lain tak melakukan seperti standarnya, ia akan menyalahkan.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Ada banyak alasan ibu melakukan momshaming. Ibu bisa mencela ibu lain karena bosan dengan kehidupannya, marah terhadap diri sendiri, cemburu melihat kehidupan ibu lain, atau lelah mengurus keluarga. Pelaku mom-shaming adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Mereka bisa jadi tak cukup menyadari perannya sebagai ibu. Tugas ibu adalah mempersiapkan anak tumbuh besar, menjadi dewasa, dan nantinya mandiri, baik, serta bertanggung jawab. Ibu antara lain berperan menemani, menjadi teladan, dan mengayomi anaknya.

Dalam proses ini, setiap ibu memiliki pilihan pola asuh dengan pertimbangan masing-masing. Ketika ibu sadar akan tugasnya, ia bakal belajar, kemudian memilih dengan yakin. Ketika ada orang lain yang memilih cara berbeda, ia akan menghormatinya.

Namun banyak ibu yang tak cukup menyadari perannya tersebut dan hanya mengikuti pola asuh orang lain karena tuntutan sosial. Karena itu, ketika mereka lelah mengurus anak, rentan muncul perasaan marah atau cemburu melihat kehidupan orang lain yang terlihat baik-baik saja atau lebih baik daripada dia. Ia bisa jadi melampiaskan ketidakpuasannya dengan mengomentari orang lain dan cenderung melecehkan.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Salah satu alasan orang melakukan mom-shaming adalah mencela orang lain. Kalau dilihat lebih dalam, perilaku menjatuhkan orang lain ini bisa muncul karena pelaku sebenarnya merasa rendah diri. Ia mencoba meninggikan dirinya dengan jalan menjatuhkan orang lain. Ada juga yang melakukan itu karena kurang kerjaan, hanya ikut-ikutan, atau ingin eksis.

Perilaku mom-shaming berefek buruk, baik pada korban maupun pelaku. Bagi korban, celaan mengurangi rasa percaya diri dan bisa berujung pada depresi. Makin dekat lingkaran pelaku dengan korban, makin berat efek tersebut. Atau ketika celaannya datang di waktu yang tak tepat, saat ia merasa down, efeknya makin signifikan. Sedangkan buat pelaku, selain akan menambah musuh, perilaku mencela orang lain membuat hidupnya makin tak bahagia.

Celaan juga akan membuat hormon endorfin, yang berefek menimbulkan perasaan senang, sulit muncul. Sebaliknya, hormon stres, yang jika berlebihan berdampak buruk pada tubuh, justru naik. Karena stres, berat badannya bisa naik, penuaan dini, kulit jadi kusam.

Kebiasaan mencela juga akan merusak otak. Ada lima bagian otak perisak yang bisa rusak, yaitu nukleus di ventromedial hipotalamus, extended amigdala, sistem limbik, bagian otak depan basal, dan lateral habenula circuit. Sedangkan bagi korban perisakan, bagian yang rusak adalah hippocampus dan carpus callosum.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Amigdala adalah bagian otak yang antara lain berfungsi mempersepsikan emosi dan menyimpan memori. Karena itu, jika bagian ini rusak, salah satu akibatnya adalah kemampuan mengingat bisa menurun. Pelaku lebih sulit disembuhkan daripada korban. Maka diwanti-wanti agar tak melakukan mom-shaming.

Pada tahap awal, pelaku mom-shaming bisa disadarkan oleh orang di sekitarnya. Tapi, kalau kebiasaan ini sudah bercokol, pelaku mesti diterapi. Kepada korban, diminta agar tutup telinga. Tanyakan kepada diri sendiri dulu apakah pilihannya sudah tepat. Jika iya, yakinkan diri dengan pilihan tersebut. Juga menyeleksi apa yang perlu didengarkan dan enggak perlu didengarkan. Kalau kritik mengganggu, lebih baik pelaku dijauhi. Jika membutuhkan bantuan untuk menghadapi mom-shaming, mintalah kepada orang terdekat seperti suami, orang tua, dan pengasuh bayi.





profile-picture
profile-picture
profile-picture
triwinarti dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 7
14-07-2019 09:53
gw gak suka tipe ibu2 kayak gitu, ngerasa dirinya paling bener aja
profile-picture
reid2 memberi reputasi
1
14-07-2019 09:54
Quote:Original Posted By april1611
anak pertamaku lahir 2,4kg (beserta bedong, dan pakaian)

mertuaku bilang : kecil banget, sampe-sampe gak bisa nangis gak ada suaranya gt..

ua nya suami bilang : pake susu formula biar cepet gede! percuma asi! kamu makannya jorok! kalau asi kamu tiap hari harus minum susu, makan sayur, harus ada ikan atau ayamnya juga, harus ada buah.. (secara tidak langsung mengatakan kalau suami tiidak mampu memberi gizi layak)...

ua nya suami lagi : pake susu s26 jangan SGM... biar kenceng badannya! mahal sedikit wjar! namanya buat anak! (dalem ati serah lu daah orang kaya)...

2th kemudiann...

anak ane jadi anak yg cerdas, ramah, mudah bergaul, pintar nyanyi, ngomong tentu sudah jelas, pintar bahasa inggris (dalam beberapa nyanyian dan pengenalan warna) dan sudah mulai ingin ikut madrasah/sekolah ngaji walaupun masih anak bawang..

eh cucu nya ua yg suka koment, yg katanya pake susu s26 yg gue gak mampu beli karena harganya yg waw

3th baru bisa bilang bedi'i bedi'i (maksudnya manggil kaka nya), tan tan (setan), ba ba (domba)

empati sama anaknya, ingin sekali menyarankan dibawa ke klinik tumbang...

tapi apalah daya ane cuma orang misssssqueeeeeeennnn boro" didengar dihina iya...


Ane bacanya ikut emosi yak emoticon-Ngakak sabar amat ente..
0
Lihat 1 balasan
14-07-2019 09:55
pada dasarnya kebiasaan nyinyir emang udah jadi budaya di indoemoticon-Hammer
profile-picture
anita.sutanty memberi reputasi
1
14-07-2019 09:55
Quote:Original Posted By alssheza
Bener bgttt! Daripada melakukan mom shamming, lebih baik saling sharing satu sama lain, dan saling support. Karna biar gimanapun, mom shamming bisa bikin sang ibu jadi down


Parahnya ini sesama perempuan emoticon-Leh Uga
0
14-07-2019 09:59
tapi kalau Andien bahaya sih. dia menerapkan BLW nya aja dengan cara yabg salah dan tidur mulut diplester, disebar pula.

ibu yang share apalagi public figure juga harus hati2 dan bijak lah, jangan asal share. sekarang baru jadi ibu 2 minggu aja udah kaya paling knowledgeable sedunia, share2 di IG pake merk apa (sekalian sombong) metode apa, ngajarin orang lain, seenaknya ngatain orang lain salah.

pokoknya ane mah sumber terbaik adalah dokter dan ahliny.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anita.sutanty dan 2 lainnya memberi reputasi
3
14-07-2019 10:01
ga shaming ini
ga shaming itu

selamat datang di rimba maya

emoticon-Wakaka
profile-picture
reid2 memberi reputasi
1
14-07-2019 10:02
Quote:Original Posted By prestige
yang sering gw gk.ngerti itu persaingan di dunia perempuan itu sering ekstrem loh, gampang cela sesamanya.


Karena perempuan emang biasa diadu sesama perempuan blain, harus paling cantik biar dapet suami paling tajir, harus paling sopan biar dapet suami paling tinggi kedudukannya, harus masak paling enak biar suami enggak lirik cewe lain, harus paling baik biar cowo2 ga menghindar dan begitu seterusnya

Beda kalau cowok, cowok bersaing itu di ranah publik, enggak dibawa ke area pribadi. Kaya Wowo ama Wiwi saingan di pilpres padahal di dalemnya mah mungkin mereka masih makan bareng
0
14-07-2019 10:05
Stop mom shamming emoticon-No Sara Pleaseemoticon-Shakehand2
0
Lapor Hansip
14-07-2019 10:06
Balasan post april1611
sampe setengah paragraf gue suka sm kalimat2 lo. tp ketika lo udah mulai membandingkan sama anak lain yg 3thn tersebut, udah males gue bacanya.

karna sejatinya tiap manusia dari baru lahir sampe udah kakek nenek pun ga bisa dibandingin satu sm lain. semua punya kelebihan kekurangan.
profile-picture
kikirmadid memberi reputasi
1
14-07-2019 10:08
Quote:Original Posted By babygani86
BARU sehari setelah menjalani operasi caesar, Ashantay sudah mendapat risakan. Orang-orang dekatnya yang datang menengok mengkritiknya gara-gara air susunya tak kunjung keluar. “Dokter bilang dua-tiga hari belum keluar tak apa-apa, tapi mereka tetap menyalahkan saya,” kata Artis yang tinggal di Wakanda itu.

Beres perkara air susu ibu, Ashantay mendapat kesulitan baru. Payudaranya sakit setiap kali menyusui anak pertamanya itu. Menurut dia, rasanya seperti digigit taring harimau. Teteknya lecet dan berdarah. Namun, ketika ia merintih dan mengatakan ada yang salah pada mulut bayinya itu, seorang anggota keluarganya berkomentar, “Gitu saja ngeluh, cemen banget, sih. Namanya menyusui ya begitu,” tutur Ashantay, menirukan ucapan keluarganya tersebut. Ashantay, yang membutuhkan dukungan, hanya bisa menangis mendengar komentar itu.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Ia kemudian memeriksakan bayinya ke klinik laktasi. Dokter mengatakan sang bayi memiliki kelainan tali lidah pendek, yang membuatnya kesulitan menyusu dan melukai payudara ibu. Dokter memotong sebagian tali lidah tersebut. Tak ada lagi masalah menyusui setelah itu, tapi anggota keluarganya tersebut lagi-lagi berkomentar. “Ih, kamu kok jahat banget, lidah kok digunting?”

Celaan semacam ini juga pernah dialami Anggur D Basmi. Saat air susunya tak mengucur deras, Anggur disuruh ibunya menyambung dengan susu formula. Sang ibu, melihat payudara Anggur, tak yakin putrinya itu bakal berhasil menyusui cucunya. “Ini mah enggak ada isinya, lembek gini. Pakai susu formula saja,” ujar Anggur, 31 tahun, menirukan ucapan ibunya.

Pengajar fashion skin MOBA yang tinggal di Jatikaringin, yang saat itu sedang cemas akan produksi ASI-nya, tersebut makin merasa stres mendengar omongan ibunya. Ia tetap berjuang memberikan ASI eksklusif, tapi berkali-kali pula sang ibu menjatuhkan tekadnya.

Kritik dan tekanan semacam ini kerap dialami para ibu. Mom-shaming tak hanya dilakukan orang terdekat, tapi juga mereka yang bahkan tak dikenal di media sosial, seperti yang dialami penyanyi Andien Aisyah. Andien dirisak di salah satu forum di Internet karena pilihan pola asuh untuk anaknya. Di antaranya ia membiarkan anaknya makan sendiri, Andien menerapkan metode baby-led weaning, dan bertelanjang kaki.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Perilaku mom-shaming meningkat tajam beberapa tahun belakangan, setelah Internet dan media sosial makin berkembang. Dulu ibu-ibu biasanya datang ke psikolog untuk menanyakan pola asuh yang baik untuk anaknya. Kalau sekarang, empat dari sepuluh perempuan datang karena menderita kecemasan lantaran pola asuhnya dikritik ibu lain.

Enam dari sepuluh ibu (61persen) pernah mendapat kritik. Pengkritik paling banyak adalah Ibu dan ayah kandung (37 persen) dan Keluarga atau pasangan (36 persen). Sisanya adalah Mertua dan teman, bahkan Satu dari empat ibu (23 persen) dikritik oleh lebih dari tiga pihak.

Mom-shaming adalah perilaku menyalahkan pengasuhan ibu yang biasanya dilakukan ibu lain. Misalnya, saat mendengar seorang ibu melahirkan lewat operasi caesar, pelaku akan menyalahkan ibu itu lantaran menurut dia persalinan terbaik adalah dengan cara normal atau menganggap perempuan belum menjadi ibu kalau tak melahirkan dengan cara normal.

Padahal, bisa jadi ada kondisi tertentu yang membahayakan ibu dan janin sehingga dokter menyarankan operasi caesar. Ibu yang melakukan mom-shaming itu memiliki standar kesempurnaan sendiri. Ketika melihat orang lain tak melakukan seperti standarnya, ia akan menyalahkan.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Ada banyak alasan ibu melakukan momshaming. Ibu bisa mencela ibu lain karena bosan dengan kehidupannya, marah terhadap diri sendiri, cemburu melihat kehidupan ibu lain, atau lelah mengurus keluarga. Pelaku mom-shaming adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Mereka bisa jadi tak cukup menyadari perannya sebagai ibu. Tugas ibu adalah mempersiapkan anak tumbuh besar, menjadi dewasa, dan nantinya mandiri, baik, serta bertanggung jawab. Ibu antara lain berperan menemani, menjadi teladan, dan mengayomi anaknya.

Dalam proses ini, setiap ibu memiliki pilihan pola asuh dengan pertimbangan masing-masing. Ketika ibu sadar akan tugasnya, ia bakal belajar, kemudian memilih dengan yakin. Ketika ada orang lain yang memilih cara berbeda, ia akan menghormatinya.

Namun banyak ibu yang tak cukup menyadari perannya tersebut dan hanya mengikuti pola asuh orang lain karena tuntutan sosial. Karena itu, ketika mereka lelah mengurus anak, rentan muncul perasaan marah atau cemburu melihat kehidupan orang lain yang terlihat baik-baik saja atau lebih baik daripada dia. Ia bisa jadi melampiaskan ketidakpuasannya dengan mengomentari orang lain dan cenderung melecehkan.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Salah satu alasan orang melakukan mom-shaming adalah mencela orang lain. Kalau dilihat lebih dalam, perilaku menjatuhkan orang lain ini bisa muncul karena pelaku sebenarnya merasa rendah diri. Ia mencoba meninggikan dirinya dengan jalan menjatuhkan orang lain. Ada juga yang melakukan itu karena kurang kerjaan, hanya ikut-ikutan, atau ingin eksis.

Perilaku mom-shaming berefek buruk, baik pada korban maupun pelaku. Bagi korban, celaan mengurangi rasa percaya diri dan bisa berujung pada depresi. Makin dekat lingkaran pelaku dengan korban, makin berat efek tersebut. Atau ketika celaannya datang di waktu yang tak tepat, saat ia merasa down, efeknya makin signifikan. Sedangkan buat pelaku, selain akan menambah musuh, perilaku mencela orang lain membuat hidupnya makin tak bahagia.

Celaan juga akan membuat hormon endorfin, yang berefek menimbulkan perasaan senang, sulit muncul. Sebaliknya, hormon stres, yang jika berlebihan berdampak buruk pada tubuh, justru naik. Karena stres, berat badannya bisa naik, penuaan dini, kulit jadi kusam.

Kebiasaan mencela juga akan merusak otak. Ada lima bagian otak perisak yang bisa rusak, yaitu nukleus di ventromedial hipotalamus, extended amigdala, sistem limbik, bagian otak depan basal, dan lateral habenula circuit. Sedangkan bagi korban perisakan, bagian yang rusak adalah hippocampus dan carpus callosum.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Amigdala adalah bagian otak yang antara lain berfungsi mempersepsikan emosi dan menyimpan memori. Karena itu, jika bagian ini rusak, salah satu akibatnya adalah kemampuan mengingat bisa menurun. Pelaku lebih sulit disembuhkan daripada korban. Maka diwanti-wanti agar tak melakukan mom-shaming.

Pada tahap awal, pelaku mom-shaming bisa disadarkan oleh orang di sekitarnya. Tapi, kalau kebiasaan ini sudah bercokol, pelaku mesti diterapi. Kepada korban, diminta agar tutup telinga. Tanyakan kepada diri sendiri dulu apakah pilihannya sudah tepat. Jika iya, yakinkan diri dengan pilihan tersebut. Juga menyeleksi apa yang perlu didengarkan dan enggak perlu didengarkan. Kalau kritik mengganggu, lebih baik pelaku dijauhi. Jika membutuhkan bantuan untuk menghadapi mom-shaming, mintalah kepada orang terdekat seperti suami, orang tua, dan pengasuh bayi.







Semuanya akan baik2 saja jika seandainya sang ibu berhenti medsos

Kalo ada apa2 curhatnya sama suami saja.
Diubah oleh karyanakbangs4
0
14-07-2019 10:08
MulutnyA bau jigong ya keg gitu
0
14-07-2019 10:23
Setuju banget! Jangan sampe budayain mom shaming deh. Budaya disini tuh kayak semua orang berasa paling bener dalam hal mengasuh anak, padahal pola asuh masing2 ibu juga beda, kita juga nggak pernah tau apa yang pernah masing2 ibu laluin. Suka kasian kalo ada korban mom shaming. Semoga makin banyak yang teredukasi untuk nggak mom shaming yaa.
0
14-07-2019 10:26
Quote:Original Posted By april1611
anak pertamaku lahir 2,4kg (beserta bedong, dan pakaian)

mertuaku bilang : kecil banget, sampe-sampe gak bisa nangis gak ada suaranya gt..

ua nya suami bilang : pake susu formula biar cepet gede! percuma asi! kamu makannya jorok! kalau asi kamu tiap hari harus minum susu, makan sayur, harus ada ikan atau ayamnya juga, harus ada buah.. (secara tidak langsung mengatakan kalau suami tiidak mampu memberi gizi layak)...

ua nya suami lagi : pake susu s26 jangan SGM... biar kenceng badannya! mahal sedikit wjar! namanya buat anak! (dalem ati serah lu daah orang kaya)...

2th kemudiann...

anak ane jadi anak yg cerdas, ramah, mudah bergaul, pintar nyanyi, ngomong tentu sudah jelas, pintar bahasa inggris (dalam beberapa nyanyian dan pengenalan warna) dan sudah mulai ingin ikut madrasah/sekolah ngaji walaupun masih anak bawang..

eh cucu nya ua yg suka koment, yg katanya pake susu s26 yg gue gak mampu beli karena harganya yg waw

3th baru bisa bilang bedi'i bedi'i (maksudnya manggil kaka nya), tan tan (setan), ba ba (domba)

empati sama anaknya, ingin sekali menyarankan dibawa ke klinik tumbang...

tapi apalah daya ane cuma orang misssssqueeeeeeennnn boro" didengar dihina iya...


karma pasti berlaku sist emoticon-Marah
0
Lihat 1 balasan
14-07-2019 10:35
Lebih rendah dari hewan.
Hewan aja fokus ngurus anaknya sendiri, nggak nyinyirin anak tetangga emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
anita.sutanty memberi reputasi
1
14-07-2019 10:37
nyari cewe bener ntuh sulit breh
0
14-07-2019 10:46
Cebong kampret masih ribut gan, saling mencela mereka di sosmedemoticon-Leh Uga
0
14-07-2019 10:46
emang tolol apalahi netijing gw sumpahin mulutnya pada berbusa. (tapi gw termasuk mencela)
0
14-07-2019 10:49
konsekuensi sosmed.

sosmed itu cuma alat amplifikasi persepsi terhadap kehidupan sekitarnya.

nah masalahnya persepsi manusia itu sangat terbatas, manusia bukan yang maha tahu.



tapi yang balik lagi aja, tinggal filter input2 itu. nanti kalau gak ada yang ngasih feedback dibilang enggak peduli. tapi giliran dikasih feedback dengan harapan bisa jadi lebih baik, malah dibilang sotoy. serba salah dan goblok emang namanya manusia itu.
0
Lapor Hansip
14-07-2019 10:50
Balasan post april1611
Anaknya hebat ya sis, karma berlaku bagi yg menghina, selamat sis bayinya sehat dan pintaremoticon-Cendol Gan
Diubah oleh ushirota
0
14-07-2019 11:09
Quote:Original Posted By bononx
Karena perempuan emang biasa diadu sesama perempuan blain, harus paling cantik biar dapet suami paling tajir, harus paling sopan biar dapet suami paling tinggi kedudukannya, harus masak paling enak biar suami enggak lirik cewe lain, harus paling baik biar cowo2 ga menghindar dan begitu seterusnya

Beda kalau cowok, cowok bersaing itu di ranah publik, enggak dibawa ke area pribadi. Kaya Wowo ama Wiwi saingan di pilpres padahal di dalemnya mah mungkin mereka masih makan bareng


baru punya anak pamerin merk susu sama kalo kontrol di dokter mana

rayain ultah dimana n bingkisan buat anak lainnya

dah sekolah pamerin biaya sekolah atau sekolah favorit mana

tau deh ya generasi pamer ini 20 tahun lagi bakal spt apa.
profile-picture
anita.sutanty memberi reputasi
1
Halaman 2 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.