alexa-tracking
Female
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.88 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d2416c426377253421d29c2/perilaku-mom-shaming-berefek-buruk-baik-pada-korban-maupun-pelaku
Lapor Hansip
09-07-2019 11:23
Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku
Past Hot Thread
BARU sehari setelah menjalani operasi caesar, Ashantay sudah mendapat risakan. Orang-orang dekatnya yang datang menengok mengkritiknya gara-gara air susunya tak kunjung keluar. “Dokter bilang dua-tiga hari belum keluar tak apa-apa, tapi mereka tetap menyalahkan saya,” kata Artis yang tinggal di Wakanda itu.

Beres perkara air susu ibu, Ashantay mendapat kesulitan baru. Payudaranya sakit setiap kali menyusui anak pertamanya itu. Menurut dia, rasanya seperti digigit taring harimau. Teteknya lecet dan berdarah. Namun, ketika ia merintih dan mengatakan ada yang salah pada mulut bayinya itu, seorang anggota keluarganya berkomentar, “Gitu saja ngeluh, cemen banget, sih. Namanya menyusui ya begitu,” tutur Ashantay, menirukan ucapan keluarganya tersebut. Ashantay, yang membutuhkan dukungan, hanya bisa menangis mendengar komentar itu.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Ia kemudian memeriksakan bayinya ke klinik laktasi. Dokter mengatakan sang bayi memiliki kelainan tali lidah pendek, yang membuatnya kesulitan menyusu dan melukai payudara ibu. Dokter memotong sebagian tali lidah tersebut. Tak ada lagi masalah menyusui setelah itu, tapi anggota keluarganya tersebut lagi-lagi berkomentar. “Ih, kamu kok jahat banget, lidah kok digunting?”

Celaan semacam ini juga pernah dialami Anggur D Basmi. Saat air susunya tak mengucur deras, Anggur disuruh ibunya menyambung dengan susu formula. Sang ibu, melihat payudara Anggur, tak yakin putrinya itu bakal berhasil menyusui cucunya. “Ini mah enggak ada isinya, lembek gini. Pakai susu formula saja,” ujar Anggur, 31 tahun, menirukan ucapan ibunya.

Pengajar fashion skin MOBA yang tinggal di Jatikaringin, yang saat itu sedang cemas akan produksi ASI-nya, tersebut makin merasa stres mendengar omongan ibunya. Ia tetap berjuang memberikan ASI eksklusif, tapi berkali-kali pula sang ibu menjatuhkan tekadnya.

Kritik dan tekanan semacam ini kerap dialami para ibu. Mom-shaming tak hanya dilakukan orang terdekat, tapi juga mereka yang bahkan tak dikenal di media sosial, seperti yang dialami penyanyi Andien Aisyah. Andien dirisak di salah satu forum di Internet karena pilihan pola asuh untuk anaknya. Di antaranya ia membiarkan anaknya makan sendiri, Andien menerapkan metode baby-led weaning, dan bertelanjang kaki.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Perilaku mom-shaming meningkat tajam beberapa tahun belakangan, setelah Internet dan media sosial makin berkembang. Dulu ibu-ibu biasanya datang ke psikolog untuk menanyakan pola asuh yang baik untuk anaknya. Kalau sekarang, empat dari sepuluh perempuan datang karena menderita kecemasan lantaran pola asuhnya dikritik ibu lain.

Enam dari sepuluh ibu (61persen) pernah mendapat kritik. Pengkritik paling banyak adalah Ibu dan ayah kandung (37 persen) dan Keluarga atau pasangan (36 persen). Sisanya adalah Mertua dan teman, bahkan Satu dari empat ibu (23 persen) dikritik oleh lebih dari tiga pihak.

Mom-shaming adalah perilaku menyalahkan pengasuhan ibu yang biasanya dilakukan ibu lain. Misalnya, saat mendengar seorang ibu melahirkan lewat operasi caesar, pelaku akan menyalahkan ibu itu lantaran menurut dia persalinan terbaik adalah dengan cara normal atau menganggap perempuan belum menjadi ibu kalau tak melahirkan dengan cara normal.

Padahal, bisa jadi ada kondisi tertentu yang membahayakan ibu dan janin sehingga dokter menyarankan operasi caesar. Ibu yang melakukan mom-shaming itu memiliki standar kesempurnaan sendiri. Ketika melihat orang lain tak melakukan seperti standarnya, ia akan menyalahkan.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Ada banyak alasan ibu melakukan momshaming. Ibu bisa mencela ibu lain karena bosan dengan kehidupannya, marah terhadap diri sendiri, cemburu melihat kehidupan ibu lain, atau lelah mengurus keluarga. Pelaku mom-shaming adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Mereka bisa jadi tak cukup menyadari perannya sebagai ibu. Tugas ibu adalah mempersiapkan anak tumbuh besar, menjadi dewasa, dan nantinya mandiri, baik, serta bertanggung jawab. Ibu antara lain berperan menemani, menjadi teladan, dan mengayomi anaknya.

Dalam proses ini, setiap ibu memiliki pilihan pola asuh dengan pertimbangan masing-masing. Ketika ibu sadar akan tugasnya, ia bakal belajar, kemudian memilih dengan yakin. Ketika ada orang lain yang memilih cara berbeda, ia akan menghormatinya.

Namun banyak ibu yang tak cukup menyadari perannya tersebut dan hanya mengikuti pola asuh orang lain karena tuntutan sosial. Karena itu, ketika mereka lelah mengurus anak, rentan muncul perasaan marah atau cemburu melihat kehidupan orang lain yang terlihat baik-baik saja atau lebih baik daripada dia. Ia bisa jadi melampiaskan ketidakpuasannya dengan mengomentari orang lain dan cenderung melecehkan.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Salah satu alasan orang melakukan mom-shaming adalah mencela orang lain. Kalau dilihat lebih dalam, perilaku menjatuhkan orang lain ini bisa muncul karena pelaku sebenarnya merasa rendah diri. Ia mencoba meninggikan dirinya dengan jalan menjatuhkan orang lain. Ada juga yang melakukan itu karena kurang kerjaan, hanya ikut-ikutan, atau ingin eksis.

Perilaku mom-shaming berefek buruk, baik pada korban maupun pelaku. Bagi korban, celaan mengurangi rasa percaya diri dan bisa berujung pada depresi. Makin dekat lingkaran pelaku dengan korban, makin berat efek tersebut. Atau ketika celaannya datang di waktu yang tak tepat, saat ia merasa down, efeknya makin signifikan. Sedangkan buat pelaku, selain akan menambah musuh, perilaku mencela orang lain membuat hidupnya makin tak bahagia.

Celaan juga akan membuat hormon endorfin, yang berefek menimbulkan perasaan senang, sulit muncul. Sebaliknya, hormon stres, yang jika berlebihan berdampak buruk pada tubuh, justru naik. Karena stres, berat badannya bisa naik, penuaan dini, kulit jadi kusam.

Kebiasaan mencela juga akan merusak otak. Ada lima bagian otak perisak yang bisa rusak, yaitu nukleus di ventromedial hipotalamus, extended amigdala, sistem limbik, bagian otak depan basal, dan lateral habenula circuit. Sedangkan bagi korban perisakan, bagian yang rusak adalah hippocampus dan carpus callosum.

Perilaku Mom-Shaming Berefek Buruk, Baik pada Korban maupun Pelaku

Amigdala adalah bagian otak yang antara lain berfungsi mempersepsikan emosi dan menyimpan memori. Karena itu, jika bagian ini rusak, salah satu akibatnya adalah kemampuan mengingat bisa menurun. Pelaku lebih sulit disembuhkan daripada korban. Maka diwanti-wanti agar tak melakukan mom-shaming.

Pada tahap awal, pelaku mom-shaming bisa disadarkan oleh orang di sekitarnya. Tapi, kalau kebiasaan ini sudah bercokol, pelaku mesti diterapi. Kepada korban, diminta agar tutup telinga. Tanyakan kepada diri sendiri dulu apakah pilihannya sudah tepat. Jika iya, yakinkan diri dengan pilihan tersebut. Juga menyeleksi apa yang perlu didengarkan dan enggak perlu didengarkan. Kalau kritik mengganggu, lebih baik pelaku dijauhi. Jika membutuhkan bantuan untuk menghadapi mom-shaming, mintalah kepada orang terdekat seperti suami, orang tua, dan pengasuh bayi.





profile-picture
profile-picture
profile-picture
triwinarti dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 7
09-07-2019 14:19
Yg menyedihkan adalah ketika mom shaming dilakukan oleh new mom jg. Pdhl ga ada jaminan apa yg dilakukan itu lebih benar drpd yang dia cela.. krn dia juga masih BELAJAR. Dan ketika mom shaming dilakukan oleh orang yg lebih sepuh dan berpengalaman.. biasanya krn mereka lupa bahwa pola asuh itu akan berubah seiring zaman.. pola yang baik di zaman mereka belum tentu tetap baik d zaman ini...

Hindari melakukan mom shaming.. krn bs menyebabkan ibu baru menjadi rendah diri dan akhirnya bisa mengalami baby blues dan mungkin penyakit psikis lainnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
PinggiranBakwan dan 16 lainnya memberi reputasi
17
10-07-2019 18:17
emang manusia jaman sekarang kayak kurang bahagia.... Dikit2 nyinyir, judging, nethink, dan ujung2nya gossip...

Padahal, punya anak itu sama halnya kayak belajar "bahasa baru"... Ya kali langsung bisa fasih ? emoticon-Gila
Dan cara orang learning itu beda2, ga bisa digeneralisir.. Kecepatan nangkepnya juga beda2.


Liat temen/orang deket ada masalah ya jangan malah di khotbahin, bikin makin enek aja. Mending jadi pendenger yang baik daripada jadi motivator yang sotoy
Diubah oleh mozillafirefox
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lonelyboy13 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
12-07-2019 10:13
anak pertamaku lahir 2,4kg (beserta bedong, dan pakaian)

mertuaku bilang : kecil banget, sampe-sampe gak bisa nangis gak ada suaranya gt..

ua nya suami bilang : pake susu formula biar cepet gede! percuma asi! kamu makannya jorok! kalau asi kamu tiap hari harus minum susu, makan sayur, harus ada ikan atau ayamnya juga, harus ada buah.. (secara tidak langsung mengatakan kalau suami tiidak mampu memberi gizi layak)...

ua nya suami lagi : pake susu s26 jangan SGM... biar kenceng badannya! mahal sedikit wjar! namanya buat anak! (dalem ati serah lu daah orang kaya)...

2th kemudiann...

anak ane jadi anak yg cerdas, ramah, mudah bergaul, pintar nyanyi, ngomong tentu sudah jelas, pintar bahasa inggris (dalam beberapa nyanyian dan pengenalan warna) dan sudah mulai ingin ikut madrasah/sekolah ngaji walaupun masih anak bawang..

eh cucu nya ua yg suka koment, yg katanya pake susu s26 yg gue gak mampu beli karena harganya yg waw

3th baru bisa bilang bedi'i bedi'i (maksudnya manggil kaka nya), tan tan (setan), ba ba (domba)

empati sama anaknya, ingin sekali menyarankan dibawa ke klinik tumbang...

tapi apalah daya ane cuma orang misssssqueeeeeeennnn boro" didengar dihina iya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
PinggiranBakwan dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Lihat 6 balasan
13-07-2019 21:38
Bener bgttt! Daripada melakukan mom shamming, lebih baik saling sharing satu sama lain, dan saling support. Karna biar gimanapun, mom shamming bisa bikin sang ibu jadi down
profile-picture
sisitmae memberi reputasi
1
14-07-2019 09:06
apa pula ini?
0
14-07-2019 09:08
I'm not a Mom, or even a father; tapi gw dukung nih trid!
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
1
14-07-2019 09:10
Jadi inget waktu sharing b3 ama temen kantor .. ada temen gw yg istrinya g bisa kasih ASI ke anaknya walau udh segala cara dilakuin .. gw maklumin aja yg pnting udh usaha.. tp temen gw satu lagi malah blg klo ASI g keluar itu berarti ibunya pemalas dan g mw usaha .. dia beranggapan ASI itu Wajib keluar .. WTF dalm hati gw .. ini org waras g sih? Org cerita kesusahan .. dia kok malah ngehina..
profile-picture
PrinScrup memberi reputasi
1
14-07-2019 09:11
Sedih bangettt hal yang begini semakin marak terjadi. Padahal yahh udah ada wejangan kalo misalnya kita gabisa berkata yang baik baik mending diem ajaaa. Soalnya kita gapernah tau se tertekan apa orang yang denger kalo kita ngomong sembarangan apalagi mom shaming kayak gitu
profile-picture
anita.sutanty memberi reputasi
1
14-07-2019 09:13
soalnya para ibu yang abis melahirkan biasanya emosi nya campur aduk. ga stabil.
apalagi kalau ada sesuatu yang tidak lancar. Butuhnya support dan penguatan, bukan komentar komentar yang malah bikin kepikiran dan bikin drop
profile-picture
profile-picture
profile-picture
PrinScrup dan 3 lainnya memberi reputasi
4
14-07-2019 09:14
derita manusia berkacamata
Mampir bila berkenan
0
14-07-2019 09:15
Ya konsekuensi terlalu mengumbar keseharian di medsos, apalagi manusia di medsos suka kehilangan batas diri utk berkomentar

Kalau hinaan dan caciannya datang dari mertua, ya cukup dengerin saja ga perlu dimasukan ke hati. Karena mertua ada aja yang killer dan suka nyinyir sama mantu/menantu.. anggap angin lewat aja emoticon-Traveller
Diubah oleh memetrivaldo
profile-picture
joel.matip memberi reputasi
1
14-07-2019 09:21
nice inpoh gann
0
14-07-2019 09:22
naluri bayi gw mulai bangkit neh.....
emoticon-Leh Uga
0
14-07-2019 09:23
orang jaman sekarang emg pada lembek bray, disentil dkit aja kepikiran sminggu lebih. malah bisa mpe saling lapor polkis emoticon-Leh Uga
0
14-07-2019 09:28
Kebiasaan org yg tidak patut untuk ditiru.. Menasehati boleh, tp jgn menggurui..
0
14-07-2019 09:29
Mom shaming itu dilakukan karena menganggap pola asuh yang dilakukan paling benar. Padahal belum tentu juga.
0
14-07-2019 09:40
Nice sharing.. Nama samarannya bikin ketawa2 sendiri pas baca gan
0
14-07-2019 09:43
yang sering gw gk.ngerti itu persaingan di dunia perempuan itu sering ekstrem loh, gampang cela sesamanya.
0
14-07-2019 09:46
kok ada yah ibu kaya gtu, mending urus aja keluarga sendiri, dari ngurusin orang lain emoticon-Cape d...
profile-picture
citiciti memberi reputasi
1
14-07-2019 09:53
Ya begitulah manusia
0
Halaman 1 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.