alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! KASKUS mau ada event baru! Isi survey ini dan dapat badge!
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d0f35bb68cc954f172a5c64/sejarah-kb-dan-ide-dua-anak-cukup-dari-era-sukarno-sampai-soeharto
Lapor Hansip
23-06-2019 15:18
Sejarah KB dan Ide Dua Anak Cukup dari Era Sukarno sampai Soeharto
Past Hot Thread
Penulis: Petrik Matanasi
22 Juni 2019

Quote:Sejarah KB dan Ide Dua Anak Cukup dari Era Sukarno sampai Soeharto


Di zaman Sukarno pembatasan kelahiran adalah hal yang tabu dibicarakan. Pada era Soeharto KB menjadi sarana pengendalian jumlah penduduk.


Quote:tirto.id - Keluarga Berencana yang didengungkan Presiden Soeharto di masa Orde Baru sebenarnya sudah ada dalam pikiran beberapa dokter Indonesia sejak 1950-an. Di masa lalu, punya anak banyak adalah hal biasa. “Banyak anak banyak rezeki,” begitu terngiang dalam kepala orang tua. Tentu saja kaum perempuan menjadi orang-orang yang paling sengsara. Tidak sedikit ibu yang meninggal dunia ketika melahirkan, bahkan anak yang dilahirkannya pun terkadang meninggal.

Kepada harian Kedaulatan Rakjat (16/08/1952), Kepala Jawatan Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Kementerian Kesehatan di Yogyakarta, Dokter Julie Sulianti Saroso, menyatakan sebaiknya para ibu berani dan mau melakukan pembatasan kelahiran. Kecaman pun datang padanya, tak terkecuali dari Gabungan Organisasi Wanita Yogyakarta (GOWY). Seperti dicatat Suara Karya (6/6/1989), yang terlampir dalam buku Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita Buku XI 1989 (2008: 840-43), GOWY berpendapat pembatasan kelahiran merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, mengakibatkan pembunuhan terhadap bibit bayi, dan bahkan dapat memperluas pelacuran dan merusak moral masyarakat.

Menteri Kesehatan Johannes Leimena dan Presiden Sukarno menegur dan dr. Sulianti pun tidak menyinggungnya lagi. Meski dari sisi kesehatan membatasi kelahiran penting bagi ibu sebenarnya. Istilah pembatasan kelahiran pun tak dipakai.

Sekelompok perempuan yang peduli pada kesehatan ibu akhirnya mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) pada 12 November 1952, dengan diketuai Ny. Marsidah Soewito. YKK mendirikan klinik di Gondolayu. Beberapa dokter ahli di Jakarta seperti Sarwono Prawirohardjo, M. Judono, dan Koen S. Martiono kerap memeriksa kesehatan ibu yang telah melahirkan dalam program Post-Natal Care. Mereka memberi nasihat tentang mengatur kehamilan, terutama kepada mereka yang tergolong dalam kelompok berisiko tinggi bila melahirkan.

Dokter M. Judono kemudian mengirim Dokter Sarwono ke luar negeri untuk belajar soal pembatasan kelahiran. Dokter Hurustiati Subandrio, seorang dokter dan ahli antropologi yang berada di London dari tahun 1948 sampai 1953, juga menaruh perhatian soal pembatasan kelahiran. Setelah kembali ke Indonesia, dia mendirikan klinik bersama beberapa tokoh perempuan. Di beberapa daerah, tokoh-tokoh perempuan juga menggerakkannya. Begitu juga dokter Hanifa Wiknjosastro yang tahun 1953-1954 mengikuti kuliah pascasarjana bidang kebidanan di London.

Bicara pembatasan kelahiran adalah hal haram di tahun 1950-an. Para dokter itu hanya bisa bicara soal pembatasan kelahiran dengan sesama dokter.

“Barang siapa dengan terang-terangan mempertunjukkan ikhtiar untuk mencegah hamil, atau dengan terang-terangan dan tidak diminta menawarkan ikhtiar atau pertolongan untuk mencegah hamil, atau dengan menyiarkan tulisan menyatakan dengan tidak diminta bahwa ikhtiar atau pertolongan itu bisa didapat, dapat dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya dua bulan atau denda sebanyak-banyaknya dua ratus rupiah,” begitu bunyi pasal 534 KUHP.

Pada akhir 1957 para dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berkumpul Jalan Sam Ratulangi, Jakarta, di Gedung Ikatan Dokter. Ada Dokter Raden Suharto, dokter pribadi Sukarno, di sana. Pada pertemuan tanggal 23 Desember 1957 pukul 19.30 itu, seperti dicatat dalam Duapuluh Lima Tahun Gerakan KB di Indonesia (1982: 21), terbentuklah Perkumpulan Keluarga Berencana, yang kemudian berubah menjadi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Dokter R. Suharto adalah ketua pertamanya.

Program Keluarga Berencana itu diam-diam terkait dengan pembatasan kelahiran, sesuatu yang masih tabu dan haram. Di masa ini, setelah Dokter Suharto jadi Ketua Umum IDI, pendekatan soal keluarga berencana masih bersifat sosio-medis dan menerapkan asas kesukarelaan untuk menjarangkan kelahiran dan mengobati kemandulan. Semua masih diam-diam.

Di masa Demokrasi Terpimpin misi rahasia PKBI masih merayap. Menurut catatan Suara Karya (6/6/1989), “tahun 1963 itu ada 11 klinik yang memberikan pelayanan KB. Pemakaian alat kontrasepsi adalah 50 persen foaming tablet, 30 persen kondom, 10 persen diaphragms/jelly/paste, dan 4 persen intra uterine device.”

Ganti presiden, nasib KB agak membaik. Pada 1966, di provinsi dengan penduduk terpadat, DKI Jakarta, yang jadi sasaran urbanisasi, gubernurnya bersikap realistis. “Saya ingat betul, bulan Oktober 1966 Gubernur Ali Sadikin rnengatakan pakailah kota saya sebagai pilot project KB,” cerita dokter Hanifa, seperti dikutip Suara Karya.

Pada 17 Oktober 1968, setelah pengkajian di bawah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Idham Chalid dan atas restu Soeharto, Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang semi-pemerintah pun didirikan.

Pemerintah Orde Baru sangat mendukung. LKBN akhirnya menjadi Lembaga pemerintah non-departemen dengan nama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 1970, berdasarkan Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1970.

Sejarah KB dan Ide Dua Anak Cukup dari Era Sukarno sampai Soeharto

Keluarga Cendana Bukan Keluarga Ideal

Keluarga Berencana (KB) ideal ala Orde Baru adalah keluarga kecil dengan dua anak. Jargon utama KB adalah "Dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja". Beberapa patung peninggalan Orde Baru menggambarkan itu. Tak hanya patung sepasang laki-laki dan perempuan menggandeng dua anak, sering kali salah satu patung mengacungkan dua jari, seperti nomor urut Golkar dalam pemilu-pemilu Orde Baru.

Meski KB digalakkan di masa Orde Baru, keluarga Soeharto—yang kondang disebut Keluarga Cendana—jelas bukan keluarga ideal yang harus dicontoh rakyat Indonesia. Soeharto dan Tien punya 6 anak (3 laki-laki dan 3 perempuan). Jumlah ini tidak layak diikuti rakyatnya karena beban hidup modern semakin mencekik kantong orang Indonesia berpenghasilan rendah. Keluarga kecil bahagia-sejahtera tentu jadi hal realistis bagi sebagian orang. Bagi Soeharto, KB ada kaitannya dengan pengendalian jumlah penduduk Indonesia yang dengan mudah bertambah.

“Pelaksanaan keluarga berencana harus dirasakan sebagai kebutuhan masyarakat sendiri dan dilakukan secara sadar oleh istri maupun suami bersama-sama,” kata Soeharto dalam peresmian pabrik kondom pertama di Indonesia, di Banjaran, Bandung, pada 25 Februari 1987, seperti dirilis Antara (25/2/1987).

Tak lupa presiden mengatakan, “jadikanlah norma keluarga kecil yang sejahtera dan bahagia menjadi norma keluarga-keluarga kita.

Di hari peresmian pabrik kondom itu, Soeharto berharap agar “setahap demi setahap dalam melepaskan ketergantungan luar negeri, sehingga kita dapat berswasembada dalam segala bidang yang dapat kita hasilkan sendiri.”

Dalam hal ini, barangkali juga termasuk swasembada kondom.

(tirto.id - pet/ivn)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan


Quote:Konsep Keluarga Berencana sudah ada dari zaman Sukarno, tapi tak vulgar bicara soal pembatasan kelahiran.


Komen TS
Berkat mbah Harto kita jadi Swasembada Kondomemoticon-Ultah

Quote:Sejarah KB dan Ide Dua Anak Cukup dari Era Sukarno sampai Soeharto
Diubah oleh nadaramadhan20
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alifrian. dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 4 dari 4
13-07-2019 17:23
Zaman sekarang banyak anak ekonomi terpuruk emoticon-Leh Uga
0
13-07-2019 18:16
Yg bwt peraturaj 6 ajk, syg klo komplain psti didor
0
13-07-2019 20:44
Nyimak, belom nikah gansis :v
0
13-07-2019 21:12
ouch baru tau sejarah KB ternyata begini... thanks infonya gan
0
13-07-2019 21:14
Quote:Original Posted By indrainiesta28
Zaman sekarang banyak anak ekonomi terpuruk emoticon-Leh Uga


wakakak ya..ya bener juga si apalagi kalo punya anak tanpa perencanaan & persiapan emoticon-Frown
0
13-07-2019 22:18
mao nya kita aj gan
hehe...
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
14-07-2019 03:41
Dua anak cukup... kadang untuk memenuhi kebutuhan sendiri aja masih berad
0
14-07-2019 12:23
Hahaha nice info gan, ane baru tau asal usul nya KB ternyata kaya gini
0
15-07-2019 11:11
sip infonya
0
15-07-2019 12:29
Quote:Original Posted By masepdi


Iya bener,, bisa dibilang cina penduduknya banyak juga didukung oleh wilayahnya yg luas,, beda dgn India, wilayahnya lebih kecil dr Amerika tapi penduduknya 3 kali lipat dr jumlah penduduk amerika, penduduk yg banyak bisa menimbulkan masalah tersendiri..


nah itu gan, terutama bagi kalangan agamis semestinya menyadari kalau peningkatan jumlah populasi manusia perlu diatur demi kemaslahatan bersama seluruh dunia, coba perhatikan kuota berangkat haji saja dibatasi tiap negara oleh negara arab saudi yang notabene negara sangat agamis itu berarti arab saudi pun memahami jika tanpa pengaturan jumlah penerimaan haji akan berakibat kekacauan seperti hal nya tragedi terowongan mina jaman dulu, artinya disini jumlah manusia mempengaruhi kebijakan yang dibuat, cermati oleh kalangan agamis baik-baik ya jaman sekarang saja yang akan naik haji harus nunggu sekitar sepuluh tahun atau paling cepat lima tahun jika populasi manusia bertambah berlipat-lipat dari sekarang mungkin naik haji harus nunggu seratus tahun sementara umur manusia rata-rata jarang sekali sampai berusia seratus tahun, hal tersebut membuktikan bahwa setiap tempat dimanapun ada batas maksimum menampung populasi manusia disitulah pentingnya pengaturan peningkatan jumlah populasi manusia di dunia secara keselurahan, sekian terima kasih..panjang ya quote nya wkwkwk
profile-picture
masepdi memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
15-07-2019 17:11
Balasan post barulangit
Quote:Original Posted By barulangit


nah itu gan, terutama bagi kalangan agamis semestinya menyadari kalau peningkatan jumlah populasi manusia perlu diatur demi kemaslahatan bersama seluruh dunia, coba perhatikan kuota berangkat haji saja dibatasi tiap negara oleh negara arab saudi yang notabene negara sangat agamis itu berarti arab saudi pun memahami jika tanpa pengaturan jumlah penerimaan haji akan berakibat kekacauan seperti hal nya tragedi terowongan mina jaman dulu, artinya disini jumlah manusia mempengaruhi kebijakan yang dibuat, cermati oleh kalangan agamis baik-baik ya jaman sekarang saja yang akan naik haji harus nunggu sekitar sepuluh tahun atau paling cepat lima tahun jika populasi manusia bertambah berlipat-lipat dari sekarang mungkin naik haji harus nunggu seratus tahun sementara umur manusia rata-rata jarang sekali sampai berusia seratus tahun, hal tersebut membuktikan bahwa setiap tempat dimanapun ada batas maksimum menampung populasi manusia disitulah pentingnya pengaturan peningkatan jumlah populasi manusia di dunia secara keselurahan, sekian terima kasih..panjang ya quote nya wkwkwk


Gubernur Bali I Wayan Koster memutuskan menghentikan kampanye keluarga berencana dua anak cukup, Gubernur Bali beralasan hal ini untuk mempertahankan kearifan lokal. Penghentian kampanye keluarga berencana dua anak cukup dituangkan dalam instruksi Gubernur nomor 15-45 tahun 2019, dalam instruksi itu Gubernur Bali memerintahkan agar dikampanyekan keluarga berencana Krama Bali dengan jumlah anak sebanyak empat orang



https://www.tribunnews.com/nasional/...dua-anak-cukup


di bali program KB malah mau dihentikan ganemoticon-Nohope
profile-picture
ontapesek memberi reputasi
-1
15-07-2019 17:48
Quote:Original Posted By abdoelmaliq


Gubernur Bali I Wayan Koster memutuskan menghentikan kampanye keluarga berencana dua anak cukup, Gubernur Bali beralasan hal ini untuk mempertahankan kearifan lokal. Penghentian kampanye keluarga berencana dua anak cukup dituangkan dalam instruksi Gubernur nomor 15-45 tahun 2019, dalam instruksi itu Gubernur Bali memerintahkan agar dikampanyekan keluarga berencana Krama Bali dengan jumlah anak sebanyak empat orang



https://www.tribunnews.com/nasional/...dua-anak-cukup


di bali program KB malah mau dihentikan ganemoticon-Nohope


kearifan lokal perlu disesuaikan dengan keadaan sekarang, bagi pemuka adat sebaiknya berembuk untuk menyikapi keadaan itu instruksi gubernur memang hak proregatif gubernur tapi tidak sekuat perda yang dihasilkan bersama anggota dprd setempat, adapun instruksi gubernur dapat dianulir atau dibatalkan oleh instruksi dari gubernur berikutnya
Diubah oleh barulangit
0
16-07-2019 05:34
klo 2 cukup

klo 4 sehat

klo 5 sempurna

klo ane sih dukung anak 1 aja tp istri 2, jd anak ttep 2.
0
16-07-2019 09:29
kebetulan ada pengalaman dr temennya bini :

udah kb, ada jg yg udah steril tp kebobolan jg (yg ini gagalnya di mana kok bisa kebobolan jg)
mau program KB yk gmn, kembali se dikasihNYA
0
Lapor Hansip
16-07-2019 13:11
Balasan post patricksby
Lingkaran Biru atau Lingkaran Emas. Ditambah kondom 25. ituyang ane baca waktu sd. Lihat iklan majalah.............emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
0
16-07-2019 20:10
Programnya nggak jalan, karena satu keluarga ada yang sampai memiliki 4 orang anak bahkan lebih. Sebenernya bagus program yang dicanangkan oleh pemerintah, apalagi diera sekarang ini dimana kebutuhan hidup semakin tinggi, sayang kan jika punya banyak anak tapi tidak bisa menghidupinya secara layak.
0
Halaman 4 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.