Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
316
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd416f0337f936916304401/prekuel-sebelum-karma
Pada suatu waktu, gue pernah bertanya pada diri gue sendiri; Bagaimana kelak keadaan disekitar gue ketika gue pergi? Ketika gue gak lagi bisa mengusahakan untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin udah terlanjur terjadi. Ketika kesalahan gue adalah satu-satunya kenangan yang sempat gue tinggalkan. Ketika gue gak lagi bisa membuka pintu yang telah gue tutup dengan membantingnya berulan
Lapor Hansip
09-05-2019 19:02

[Prekuel] Sebelum Karma

Past Hot Thread
[Prekuel] Sebelum Karma


Quote:
Prolog


Pada suatu waktu, gue pernah bertanya pada diri gue sendiri; Bagaimana kelak keadaan disekitar gue ketika gue pergi? Ketika gue gak lagi bisa mengusahakan untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin udah terlanjur terjadi. Ketika kesalahan gue adalah satu-satunya kenangan yang sempat gue tinggalkan. Ketika gue gak lagi bisa membuka pintu yang telah gue tutup dengan membantingnya berulang kali.

Gue selalu percaya, bahwa apapun yang terjadi dalam dunia yang kita tempati saat ini adalah sejalan dengan apa yang telah Dia tuliskan dalam buku 'skenario' -Nya.Tapi, sebagian kecil dalam hati gue berusaha mempertanyakan; Apakah segala kesalahan yang Lo, Gue dan Kita lakukan juga masih bagian dalam 'skenario' itu? Gue rasa gue bukan orang yang punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang mungkin akan menyulut sebuah perdebatan; bukan dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri. Soal layak atau tidaknya  Gue memperjuangkan kembali jalan yang telah jauh gue lalui. Soal sanggup atau tidaknya gue untuk terus melangkah dengan kepala tegap meski sesal yang berbalut benci masih tertanam di dasar hati.

Karna pada akhirnya, setiap langkah yang gue ambil selalu membawa gue pada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Pada cerita-cerita yang mungkin bisa saja terjadi, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Pada kejadian-kejadian yang kelak menjadi gumpalan kenangan, atau malah menjadi penyesalan yang sama sekali gak berarti. Atau pada kenyataan yang akhirnya harus gue hadapi –mungkin dengan meratapi, atau justru malah mensyukuri.

Dan gue tau, sebelum gue berada di titik dimana gue sangat amat bersyukur dengan segala yang gue terima dan miliki saat ini, Gue pernah terkapar di suatu malam meratapi apa yang telah gue lewatkan. Gue pernah menyesal sejadinya atas kesalahan yang telah gue lakukan. Gue pernah memaki dan mengutuk kebodohan yang dengan mudahnya gue lakukan untuk menangisinya kemudian. Hingga bagi gue, gak ada satu rangkai kata pun dapat gue tulis tanpa mengecap manis dan pahitnya jalan yang pernah gue tapaki langkah demi langkah, untuk menjadi seorang Bagus Mahendra seperti saat ini.


*****


“Itu lagu siapa deh? Kayanya gue pernah denger.” Tanya  dia setelah gue menyelesaikan lagu yang baru saja gue nyanyikan.

Gue meletakkan gitar bersandar di pinggiran tembok balkon yang tengah gue duduki, dan hanya menjawabnya dengan senyuman. Sengaja membuat dia penasaran. Karna anak ini kalo udah penasaran bakal setengah mati berusaha untuk mencari tahu.

“iish. Lagu siapa Gus?! Jangan resek aah. Gue beneran lupa. Liriknya juga tadi agak kurang jelas gue dengernya. Tapi gueyakin gue kenal nadanya.” Ucapnya dengan gemas sambil bangun dari kasurnya dan menghampiri gue.

Dia lalu menaiki tembok balkon depan kamarnya dan duduk disamping gue, kemudian menarik-narik rambut gue dengan sedikit kesal. Gue hanya tertawa meladeninya. Hingga akhirnya tarikannya terasa semakin sakit karna dia mulai beneran kesel.

“Iyaa.. Iyaa. Ampun. Lepas dulu.” Ucap gue menyerah karna dia semakin benar-benar keras menarik rambut gue.

“The second you sleep –nya Saybia.” Sambung gue cepat sambil mengusap-usap kepala yang kini beneran berasa sakit di kulitnya.

Dia yang gak merasa bersalah setelah menyiksa gue kemudian kembali berjalan kedalam kamarnya dan setengah melompat ke atas kasur lalu mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu yang gue duga dia lagi nyari lirik lagu yang tadi guesebut judulnya.

You close your eyes, and leave me naked by your side. You close the door so I can’t see, the love you keep inside, the love you keep for me..” Gue mengambil dan memetik gitar dengan perlahan sambil menyenandungkan lirik awal lagu yang tadi udah gue nyanyikan.

Dia mengangkat wajahnya yang tadi sempat menunduk memperhatikan handphone ditangannya. Kedua bola matanya menatap tepat ke dalam mata gue. Bola mata yang dulu selalu gue puja warna dan keindahannya. Bola mata yang kemudian sempat gue benci setiap kali terbayang dengan mudahnya didalam kepala gue.

I stay to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. It gives me time to stay, to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. I wish by god you`d stay..”

Dia bersenandung pelan dengan irama yang sedikit berantakan. Meski sama sekali gak mengurangi keindahan senandungnya. Sebuah senandung yang entah bagaimana caranya membuat gue gak mampu mengalihkan pandangan dari wajahnya. Membuat gue mungkin harus berulang kali mengeja namanya untuk dapat sejenak menepikan nama wanita yang saat ini telah berhasil mengobati rasa kecewa saat gue dulu merasa di sia-siakan. Meski membutuhkan waktu cukup lama sejak dia memutuskan untuk mengikuti emosi sesaatnya kala itu.

Gue melihat jelas genangan air disudut matanya yang tengah ia pertahankan untuk gak menetes kepipinya.

I wish by god you`ll stay..”

Ia mengucapkannya sekali lagi dengan suara yang kini bergetar. Dan tetesan air yang akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Yang kemudian menyelimuti gue dalam sesaknya rasa sesal yang sempat mengucapkan bahwa gue gak akan pernah menetap disana. Di dalam hatinya yang juga basah meski tak terkena tumpahan air mata.





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panjang.kaki dan 22 lainnya memberi reputasi
-15
Tampilkan isi Thread
Halaman 13 dari 17
[Prekuel] Sebelum Karma
05-07-2019 04:36
mantap ucul, lanjut kan culemoticon-Ngakak
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
06-07-2019 09:20
ngajaknya penuh dengan kode2 yang gampang ditebak, emoticon-Wakaka
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
06-07-2019 12:25
Quote:Original Posted By ucln
oi om, itu setiap updetan gw jangan di cendolin. yang ada ntar proyek kos-kosan gw ga selesai2 emoticon-Hammer

btw jangan lupa rate 5 yak...!!!


Sabar, anggap aja ujian om emoticon-Ngakak (S)
Emg kudu sabar jadi pengepul bata, mana bata limited lagi, enggak kayak cendol yg unlimited.emoticon-Turut Berduka
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
06-07-2019 13:12

Part #22




“Ni. Lo inget ga, waktu itu lo pernah bilang 'apa sih yang ga bisa aku lakuin buat kamu’ ke gue?” Tanya gue ke Nia, yang dia jawab dengan anggukan pelan.

Gue menatap wajah Nia yang entah kenapa jadi penuh dengan keraguan. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, serta ada sesuatu yang menyesakkan napasnya hingga membuat pundaknya terlihat naik-turun dengan agak cepat. Gue menghampiri Nia, dan memegang pundaknya dengan tangan kiri gue. Sedangkan Nia entah kenapa malah menundukkan wajahnya.

Gue mengecup kepala Nia. Tepat di bagian atas kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak gue bersama Nia, inilah jarak terdekat antara gue dan Nia berdiri.

“Walaupun udah terlambat, gue mau ngucapin selamat ulang tahun lagi buat Lo, Ni. Dan ini, ini bukan kado sebenernya, gue emang sekedar mau ngasih lo ini.” Ucap Gue sambil memberikan gitar yang tadi dia pilih sendiri.

Nia kini menatap gue dengan wajah bingung. Dia harus sedikit mendongakkan kepala saat melihat ke wajah gue jika dengan jarak sedekat ini, karna memang gue lebih tinggi darinya.

“Gitar ini? Buat aku?” Tanya Nia seolah mempertegas. Gue menjawab dengan anggukan.

“Gus, harganya mahal. Aku ga bisa nerima. Lagipula, aku ga bisa main gitar. Lebih cocok gitar ini ada di kamu karna akan bisa kamu mainin terus.” Lanjut Nia.

Ah, ucapan Nia barusan, diiringi dengan wajah yang terlihat memelas manja membuat gue benar-benar gemas untuk ingin mencium pipinya.

“Justru itu. Kan lo pernah bilang bisa lakuin apa aja buat gue. Dengan gitar ini, gue pengen lo bisa belajar main gitar. Suatu hari nanti, saat lo udah bisa, gue pengen kita main gitar berdua sambil nyanyi-nyanyi ga jelas bareng.”

Nia tertawa kecil sambil memukul lengan gue. Dan dengan tiba-tiba ia memeluk gue yang memang sudah berada begitu dengan dengan posisi ia berdiri. Tepat ketika ia sandarkan wajahnya ke dada gue, gue merasakan sebuah ketenangan yang begitu berbeda.

“Makasih ya Gus, buat semuanya. Terutama buat rasa sayang yang kamu kasih ke aku, meski ga pernah kamu ucapin.” Ucap Nia masih dengan posisi memeluk gue.

Gue melepaskan pelukan Nia dan mengangkat dagu nya.

“Gue emang ga pernah bilang gue sayang sama lo. Tapi lebih dari kata-kata, gue selalu berusaha buat nunjukinnya ke Lo. Jadi, gue harap lo mau terima gitar ini, dan terima permintaan gue buat belajar main gitar.”

“Tapi kamu yang ajarin kan?” Tanya Nia

“Ya enggak lah. Lo belajar sendiri. Cari tau sendiri gimana cara mainin gitar ini.”

“Ya ga bisa lah. Mana ada orang belajar tanpa…”

“Katanya lo bisa lakuin apa aja buat gue?”

“Ya, tapi..” Nia menangguhkan ucapannya, dan masih menatap gue.

“Kamu serius dari kemaren ngungkit-ungkit omongan aku itu, Cuma buat minta aku belajar main gitar sendiri?” Tanya Nia dengan senyum yang berbeda kali ini. Senyum yang lebih mengarah pada sesuatu yang 'nakal'.

“Serius lah.”

“Yakin?” Tanya Nia lagi, kali ini senyumnya makin menantang.

“Ni, maksud lo apaan? Jangan mancing-mancing gue.” Ucap gue sambil mencubit hidung kecilnya.

Nia pun kini tertawa dan tentu saja gue turut tertawa mendengar tawanya. Sepertinya dia seolah sangat puas telah berusaha memancing gue.

“Gitarnya gue taro sini aja?” Tanya gue sambil meletakkan gitar itu pada sebuah sandaran gitar kosong yang ada di dalam studio.

“Jangan. Enak aja. Aku taro dikamar lah. Biar bisa aku peluk sambil tidur.” Jawabnya meledek.

“Ngapain meluk gitar, mending meluk orangnya langsung.“ Gue meledek balik.

Nia yang hendak berjalan menuju arah pintu keluar studio band ini kemudian kembali membalik badannya dan membuka kedua tangannya, seperti ingin memeluk gue. Dan gue pun langsung menyodorkan gitar itu yang akhirmya masuk kedalam pelukan Nia, yang disambut dengan wajah cemberut yang ia buat-buat. Gue hanya menertawakannya dan kemudian bergegas keluar dari pintu ruang studio.

Baru saja gue membuka pintu ruangan studio milik abangnya Nia. Gue terkejut karna beberapa langkah di depan pintu telah berdiri seorang perempuan muda dengan rambut pendek seperti seorang cowok, yang gue tebak masih berusia setara anak SMP. Ia berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Lah udah pulang, Re? Mama mana?” Tanya Nia saat melihat perempuan muda itu.

“Ini adek aku Gus. Namanya Reani.”

“Halo, Re.” Ucap Gue menyapanya.

Namun Reani ga menanggapi sapaan gue dan berjalan menjauh meninggalkan ruang studio band. Tapi dari ekspresi wajah dan gestur tubuhnya tadi, gue merasa ada yang salah. Mungkin dia berpikir Gue dan Nia habis melakukan sesuatu yang aneh-aneh dan dia merasa berhasil memergoki kami.

Gue dan Nia kembali ke ruang tamu rumahnya. Baru saja gue mau duduk, Nia langsung mengajak gue menemui Nyokapnya yang menurutnya ada di ruang keluarga di lantai dua. Gue pun mengikuti keinginannya.

Sampai di ruang keluarga, Nia menghampiri Nyokapnya dan mencium pipinya sementara gue menyalami Nyokapnya seperti biasa, ga ikut-ikutan nyium pipinya juga. (#sikap)

“Tadi kok Mama ga liat kalian dibawah?” Tanya Nyokapnya Nia pada kami.

“Iya, tadi aku kasih liat studionya Raihan ke Bagus. Eh Mah, aku dikasih ini dong sama Bagus.” Ucap Nia sambil mengangkat gitarnya.

“Apa itu? Gitar? Emang kamu bisa maininnya?”

“Ya nanti aku belajar. Yang penting kan punya dulu.”

Nyokapnya hanya meledek dengan gestur tubuhnya ke Nia namun mengucapkan terima kasih ke gue yang hanya gue jawab dengan anggukan. Gue sebenernya sungkan untuk duduk disini bersama dengan Nia dan Nyokapnya di ruang keluarga rumahnya. Gue sempat berbisik pada Nia untuk pamit duduk di ruang tamu namun Nia menahan dan meminta gue untuk disini saja.

Ga lama, sebuah tayangan adzan maghrib muncul di televisi. Gue bertanya sama Nia dimana gue bisa pakai ruangan untuk sholat. Sebenernya cuman sebagai alasan agar gue bisa segera angkat kaki dari ruang keluarga ini. Namun Nia malah meminta gue untuk sholat bareng dan mengajak gue ke sebuah ruangan kecil disebelah ruang keluarga yang sepertinya digunakan sebagai mushola dirumah ini. Nyokap dan Adiknya Nia pun malah turut ikut yang akhirnya membuat gue dengan terpaksa menjadi imam dalam sholat berjamaah bersama keluarganya.

Gue sempat melihat Nia cengengesan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang membuatnya seolah sedang berdoa seusai sholat bersama. Gue menyalami kembali Nyokapnya Nia dan kemudian pamit untuk kembali ke ruang tamu dibawah. Setelah dipersilahkan, gue bergegas menuruni tangga sedangkan Nia bilang dia akan menyusul.

Beberapa menit kemudian, Nia yang telah berganti pakaian bersama adiknya terlihat menuruni tangga. Gue melihat adiknya yang entah kenapa masih menatap gue dengan wajah ketidaksukaan yang terlihat begitu jelas. Gue memilih untuk ga mengambil pusing dan tetap menyapanya dengan senyuman.

“Gus, ikut yuk. Aku sama Mama sama Reani mau ke Mall XYZ.” Ucap Nia sambil duduk disamping gue.

“Ah, ga deh Ni. Gue minjem motor abang gue, ga enak kalo baliknya kemaleman.”

“Yaudah, nanti aku minta Bang Salim aja anterin motornya ke rumah kamu. Kasih tau alamatnya aja.”

“Ya kali, Ni. Kagak usah lah. Gue sekalian pamit balik aja. Nyokap mana?”

“Yaah, kok gitu sih.” Protes Nia dengan kembali memasang wajah manyun yang dibuat-buat.

Ga lama kemudian Nyokapnya Nia terlihat menuruni tangga. Gue langsung berdiri dan menghampiri sambil menyatakan pamit untuk pulang. Nyokapnya Nia sempat kembali menawarkan agar gue ikut bersama mereka namun gue tetap menolak dengan sopan. Setelah diizinkan pamit, gue diantar Nia menuju ke motor yang gue parkirkan di halaman depan rumahnya.

“Gus, makasih ya buat gitarnya.” Ucap Nia saat gue sedang memutar posisi motor gue untuk mengarah ke luar.

“Iya. Jangan lupa dipelajarin ya cara mainnya. Gue yakin lo bisa kok. Paling lama 3 bulan lah lo pasti udah jago.”

“Apaan. Ga lah. Mana ada bisa belajar main gitar cepet tanpa ada yang ngajarin.”

Gue tertawa mendengar keluhan Nia. Namun gue percaya, dia akan tetap berusaha melalukannya karna gue selalu mengungkit kembali kata-katanya yang akan melakukan apapun buat gue.

“Gue balik dulu ya Ni. Salam buat Nyokap sama Reani.”

“Iya, kamu hati-hati ya. Sejam lagi aku telpon kerumah kamu gapapa kan?”

“Ngapain?”

“Ya mastiin kamu udah sampe rumah.”

“Buset. Lo ga percaya sama gue?”

“Bukan ga percaya. Apaan sih kamu langsung ngotot aja.” Ucap Nia sambil mencubit perut gue.

“Kalo tau kamu udah sampe rumah kan aku ga khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan.”

“Oh, yaudah terserah. Lo juga hati-hati ya dijalan nanti.” Ucap Gue.

Nia menganggukkan kepala dan memberikan senyuman untuk melepas gue pulang.

“Gus..” Ucap Nia lagi sesaat sebelum gue menarik gas motor.

“Aku sempet mikir macem-macem lho tadi pas di studio. Apalagi kamu pake negasin ulang omongan aku itu.” Ucap Nia kini demgan wajah memerah.

“Yailah, ga usah mikir macem-macem atau mikir gue akan lakuin sesuatu yang aneh-aneh ke lo Ni. Gue ga bakal sampe seberengsek itu.”

“Yakin?”

“Yakin lah. Gue keliatannya doang kaya anak nakal, padahal mah gue mana berani nyentuh cewek.” Ucap gue sambil tertawa yang juga disambut dengan tawa Nia.
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
06-07-2019 13:13
ini draft trakhir yg gw punya.

emoticon-Hammer
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
06-07-2019 21:46
ane kok gak yakin ya kalau sibagus orangnya lurus2 aja
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
06-07-2019 22:55
Quote:Original Posted By rakyatyangmana
ane kok gak yakin ya kalau sibagus orangnya lurus2 aja


Bilang aja bagus itu pencitraan doang
profile-picture
rakyatyangmana memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
07-07-2019 15:56
Quote:Original Posted By devarendra
Bilang aja bagus itu pencitraan doang


Nah ini.....





Bukan ane yang bilang loh emoticon-Leh Uga
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
08-07-2019 07:29
Quote:Original Posted By rakyatyangmana
ane kok gak yakin ya kalau sibagus orangnya lurus2 aja


Quote:Original Posted By devarendra


Bilang aja bagus itu pencitraan doang



gini, gini, mumpung masih part2 awal gue coba jelasin deh biar ga disangka pencitraan.
kayanya gue pernah nulis di part brp gue lupa, gue itu anak yg apa kata2 org tua pasti gue percaya, misal kaya nyokap gue yg selalu larang gue maen band alesannya takut gue kek mereka2 yg tattoo-an, mabok2an, dsb, dan beliau selalu bilang gue ga bakal berhasil klo jalan di musik. omongan kek gitu selalu masuk ke kepala dan hati gue. sekalipun satu dunia bilang gue mampu, kalo org tua gue bilang gue ga mampu maka gue percaya gue ga akan mampu.

nah terkait gue yg 'lurus2' aja. gue kagak lurus2 aja kok bor. ntr lu baca sendiri kedepannya bakal kek apa.
cuman, kalo soal cewek, ini balik lg ke hal 'apapun yg org tua gue bilang, gue pasti percaya.'

nah bokap gue itu bokap yg paling ga pernah ngelarang gue, kecuali 2 hal:
pertama soal pacaran, dia pernah bilang bisa aja larang gue pacaran, tp dia tau gue kalo dilarang malah makinan. makanya dia 'cuma' larang gue soal zinah. wakakaka

nah soal itu, dia bilang, kalo gue sampe ngelakuin itu, idup gue bakal susah, rejeki susah, rencana2 kayanya berasa gagal mulu, dst dst. jadi dr semua kenakalan, mungkin itu yg selalu berusaha gue jauhin.
larangan kedua saat gue mutusin mau pindah kota setelah nikah, itu dia ngelarang krn dia bilang gue bakal idup susah kalo jauh dr org tua. antara ngelarang atau nyumpahin yak? wakakaka

jd, kalo ada hal2 yg gue tulis dan terkesan baik dimata kalian, bukan gue bermaksud pencitraan. jujur deh gue jg pengen nya ga nulisin begitu tp gue tetep tulis krn ada kaitannya sama part2 di depan.

gue bukan kesel dibilang pencitraan ya, gue cuman mau ngelurusin aja. toh di cerita sebelumnya banyak pembaca maki2 sifat atau sikap gue tetep aja gue nanggepin santai. gitu jg saat ada yg sok muji, gue tetep ga ngerasa baik.
gue mah dipuji ga terbang, dihina ga tumbang! wakakaka

satu lg, sorry blm sempet nulis lanjutan part nya, lagi ada aja yg bikin mood kacau buat nulis. besok2 gue segera kirim ke om ucln part2 selanjutnya biar bs segera di update.
Diubah oleh angchimo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medi.guevera dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
[Prekuel] Sebelum Karma
08-07-2019 09:37
Quote:Original Posted By angchimo
.

satu lg, sorry blm sempet nulis lanjutan part nya, lagi ada aja yg bikin mood kacau buat nulis. besok2 gue segera kirim ke om ucln part2 selanjutnya biar bs segera di update.



Liburan dulu om biar seger. Hempaskan si perusak mood hehe
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
08-07-2019 09:48
Quote:Original Posted By angchimo





gini, gini, mumpung masih part2 awal gue coba jelasin deh biar ga disangka pencitraan.
kayanya gue pernah nulis di part brp gue lupa, gue itu anak yg apa kata2 org tua pasti gue percaya, misal kaya nyokap gue yg selalu larang gue maen band alesannya takut gue kek mereka2 yg tattoo-an, mabok2an, dsb, dan beliau selalu bilang gue ga bakal berhasil klo jalan di musik. omongan kek gitu selalu masuk ke kepala dan hati gue. sekalipun satu dunia bilang gue mampu, kalo org tua gue bilang gue ga mampu maka gue percaya gue ga akan mampu.

nah terkait gue yg 'lurus2' aja. gue kagak lurus2 aja kok bor. ntr lu baca sendiri kedepannya bakal kek apa.
cuman, kalo soal cewek, ini balik lg ke hal 'apapun yg org tua gue bilang, gue pasti percaya.'

nah bokap gue itu bokap yg paling ga pernah ngelarang gue, kecuali 2 hal:
pertama soal pacaran, dia pernah bilang bisa aja larang gue pacaran, tp dia tau gue kalo dilarang malah makinan. makanya dia 'cuma' larang gue soal zinah. wakakaka

nah soal itu, dia bilang, kalo gue sampe ngelakuin itu, idup gue bakal susah, rejeki susah, rencana2 kayanya berasa gagal mulu, dst dst. jadi dr semua kenakalan, mungkin itu yg selalu berusaha gue jauhin.
larangan kedua saat gue mutusin mau pindah kota setelah nikah, itu dia ngelarang krn dia bilang gue bakal idup susah kalo jauh dr org tua. antara ngelarang atau nyumpahin yak? wakakaka

jd, kalo ada hal2 yg gue tulis dan terkesan baik dimata kalian, bukan gue bermaksud pencitraan. jujur deh gue jg pengen nya ga nulisin begitu tp gue tetep tulis krn ada kaitannya sama part2 di depan.

gue bukan kesel dibilang pencitraan ya, gue cuman mau ngelurusin aja. toh di cerita sebelumnya banyak pembaca maki2 sifat atau sikap gue tetep aja gue nanggepin santai. gitu jg saat ada yg sok muji, gue tetep ga ngerasa baik.
gue mah dipuji ga terbang, dihina ga tumbang! wakakaka

satu lg, sorry blm sempet nulis lanjutan part nya, lagi ada aja yg bikin mood kacau buat nulis. besok2 gue segera kirim ke om ucln part2 selanjutnya biar bs segera di update.


klo ane percaya bags...#biar cepet setor apdetan emoticon-Ngacir2 emoticon-Ngacir2
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
09-07-2019 19:22

SOCIAL EXPERIMENT

profile-picture
profile-picture
profile-picture
idh17 dan 3 lainnya memberi reputasi
0 4
-4
[Prekuel] Sebelum Karma
11-07-2019 10:06
Quote:Original Posted By ucln
ini draft trakhir yg gw punya.

emoticon-Hammer


Mau nambah gak bor?
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
11-07-2019 18:00
Quote:Original Posted By panjang.kaki
Mau nambah gak bor?

Yg udah tamat tapi

emoticon-sudahkuduga
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
11-07-2019 18:09
Quote:Original Posted By ucln
Yg udah tamat tapi

emoticon-sudahkuduga


Oke ane siapin dulu.
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
11-07-2019 19:20
Quote:Original Posted By panjang.kaki
Oke ane siapin dulu.


Wa aja ntar yak. Biar pake id satu lagi buat prolognya emoticon-Big Grin
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
12-07-2019 14:02

Part #23



Hari ini adalah hari pengambilan raport untuk seluruh sekolah tingkat SMA. Gue udah berangkat dari rumah sejak pagi. Tapi ga langsung ke sekolah, melainkan ke rumah Ryan dulu. Sedangkan Nyokap gue sudah berangkat ke sekolahnya Adam terlebih dahulu, baru kemudian akan ke sekolah gue dengan diantar oleh Adam.

Dari rumah Ryan, gue dan Ryan berangkat naik motornya Ryan ke rumah Maul. Gue juga sebenernya ga paham kenapa kita harus main samper-samperan kaya gini. Saat gue bertanya ke Ryan, dia malah menyalahkan ke gue yang dianggap memulainya duluan dengan nyamperin dia ke rumahnya. Padahal gue kerumah Ryan karna merasa masih terlalu pagi buat langsung dateng ke sekolah.

Sampe dirumah Maul, Ryan menitipkan motornya disana dan kami bertiga dengan bodohnya memutuskan untuk berjalan kaki menuju sekolah. Bukannya naik angkot.

“Ah, kagak! Lo bedua aja sana jalan kaki. Gue mending naek angkot.” Protes gue saat Maul dengan santainya mengajukan ajakan untuk berjalan kaki.

“Ayolah, jalan kaki masih pagi gini sehat men.” Jawab Maul.

“Lagian kan kita jalan santai aja, sambil ngobrol aja. Kagak berasa tau-tau sampe dah.” Lanjutnya.

“Au Lo Gus, lagian biasanya tiap pagi kita lari keliling lapangan sepuluh kali. Dibandingin sama jalan kaki ke sekolah dari sini mah lebih berat lari sepuluh keliling kali.” Ryan menimpali dengan memberi dukungan ke Maul.

Entah setan mana yang merasuki mereka berdua hingga merasa cukup nyaman berjalan kaki dengan jarak yang menurut gue lumayan jauh ini. Namun karna kami bertiga selalu sepakat untuk mengikuti suara terbanyak jika ada perbedaan pendapat, maka mau ga mau gue harus ikut berjalan kaki dengan mereka.

Perjalanan dari rumah Maul ke sekolah memakan waktu sekitar 45 menit dengan berjalan kaki. Itupun dengan gue banyak mengeluh dan meminta istirahat terus. Gue bener-bener merasa keberatan dengan perjalanan ini, sedangkan Maul dan Ryan terlihat sangat menikmatinya. Mereka ga meledek atau mengomentari setiap kali gue meminta duduk istirahat sejenak. Bahkan mereka tetap berdiri sambil bercanda saling keplak kepala saat menunggu gue beristirahat. Gatau karna stamina gue yang pas-pasan atau emang mereka yang terlalu kuat staminanya.

“Lo jalan kaki sambil ngerokok, dongo. Ya wajar aja paru-paru lo kempes.” Jawab Ryan kesal saat gue mempertanyakan kenapa mereka tidak terlihat kelelahan.

“Lah tadi itu Maul juga ngerokok.” Gue coba membela diri.

“Apaan, gue ngerokok tadi doang pas awal jalan. Lah Lo dikit-dikit bakar rokok.” Maul juga berusaha membela diri.

“Lagian lo ngapa jadi aktif banget ngerokok dah Gus? Kayanya awal-awal dulu lo ngerokok sekali doang seharian.”

Gue menghembuskan hisapan terakhir rokok gue dan menjentikkan puntungnya tanpa bisa menjawab pertanyaan Ryan barusan. Karna memang ada benarnya juga ucapan Ryan. Gue biasanya kalo ngerokok paling Cuma sebatang sehari. Atau sebanyak-banyaknya, kalo lagi iseng, gue beli rokok sebungkus dan gue simpen untuk gue hisap selama seminggu. Namun beberapa hari ini, gue emang ga beli rokok langsung sebungkus, tapi kalo dihitung-hitung, sekitar sebungkus gue habiskan dalam satu hari. Dan ini udah mulai kelewatan menurut gue.

“Si Nia ngelarang Lo ngerokok ga Gus? Eh tapi lo balik lagi kan ya sama Nia?” Tanya Maul.

“Yaelah, ga usah dibahas. Ayok lanjut jalan.” Ucap gue sambil bangkit dari duduk.

“Yeeh, enak aja ga usah dibahas. Tarohan kita gimana urusannya? Kalo lo balik sama Nia kan berarti lo udah kalah. Lo neraktir kita berdua lah.”

“Ya emang lo berdua udah punya cewek? Oke gue kalah, terus lo berdua? Menang? Dapet cewek aja kagak, maen minta teraktir aja.” Jawab gue sambil mulai berjalan meninggalkan Maul dan Ryan.

“Nah, ini gue demen nih. Liat aja ntar dua minggu lagi waktunya abis, gue tagih teraktiran dari Lo.” Ucap Maul pelan yang terdengar sekilas oleh gue.

Sampai di sekolah, Gue, Maul, dan Ryan langsung menuju ke kelas kami. Disana banyak orang tua murid sedang menunggu giliran nama anak mereka dipanggil. Ada Bokapnya Maul di dalam kelas kami yang hanya gue sapa dengan senyum dan anggukan kepala dari depan pintu kelas. Pak Umar sedang melayani orang tua murid yang sedang menjalani gilirannya untuk mengambil raport anaknya.

“Nyokap lo udah dateng belom men?” Tanya Maul

“Siapa? Gue apa Ryan?”

“Ya lo bedua.”

“Kagak tau, Nyokap gue sih ke sekolahnya Adam dulu tadi.”

“Nyokap gue beloman harusnya. Paling ntar agak siangan.” Jawab Ryan.

Kami pun berjalan ke seberang kelas kami yang disana ada tempat duduk tepat di depan ruang UKS. Kami sengaja duduk disini agar saat Nyokap gue dateng gue bisa dengan segera menghampirinya.

Ga lama kemudian, Nyokapnya Ryan yang justru lebih dulu datang. Ryan segera menghampiri Nyokapnya dan menunjukkan ke kelas mana beliau harus masuk dan menunggu. Dan sekitar sepuluh menit berikutnya, Bokapnya Maul keluar dari ruang kelas, bertepatan dengan Adam yang masuk dari arah pagar sekolah bersama dengan Nyokap gue. Maul berjalan kearah kelas menghampiri Bokapnya sedangkan gue menghampiri ke Nyokap gue.

“Lo ntar langsung cabut ga men?” Tanya Maul saat gue mau melangkah menghampiri Nyokap gue.

“Kagak. Gue ketempat lo dulu lah nemenin Ryan ambil motornya, abis itu gue mau kerumah Nia.”

Gue menyalami Nyokap gue dan segera mengajak beliau ke arah kelas gue. Adam menanyakan Ryan dan Maul yang gue jawab dengan menunjukkan posisi mereka. Adam langsung menghampiri Maul dan Ryan.

Dari dalam kelas, Pak Umar mengangkat tangan kanannya kearah gue tanda memanggil. Gue segera menghampiri dan mendekatkan telinga gue saat dia mengisyaratkan ingin membisikkan sesuatu.

“Mama kamu yang mana?” Bisik Pak Umar ke gue

“Itu pak, yang pake kerudung pink.” Jawab gue sambil menunjuk kearah Nyokap gue yang duduk di kursi deretan ketiga dari depan, duduk bersama Nyokapnya Ryan.

“Bu, sini silahkan maju.” Panggil Pak Umar ke Nyokap gue.

Nyokap gue terlihat agak kebingungan karna baru saja datang tapi malah dipanggil duluan. Namun beliau tetap berdiri dan segera maju ke kursi di depan meja Pak Umar. Gue langsung berniat keluar kelas saat Nyokap gue sudah duduk di hadapan Pak Umar, namun di tahan oleh Pak Umar dan dia meminta gue ikut duduk bersama Nyokap gue.

“Gini Bu, sengaja nih anaknya saya suruh duduk disini biar sekalian dia dengar gimana hasil belajarnya disekolah selama setahun ini.” Ucap Pak Umar memulai basa basi nya ke Nyokap gue. Nyokap hanya mendengarkan sambil memasang senyum.

“Kalo boleh tau sebelumya, si Bagus ini kalo bangun pagi sering kesiangan ya Bu?” Tanya Pak Umar.

“Enggak kok pak, tapi emang dibanguninnya susah jadi kadang dia berangkat kesiangan. Emang kenapa?”

Wah, mampus gue. Kayanya Pak Umar mau bahas kelakuan gue yang sering datang terlambat nih. Batin gue.

“Ini dia paling sering dateng terlambat lho Bu, bareng dua orang temennya itu si Ryan dan Maulana. Hampir setiap hari.”

“Masa sih Pak? Dari rumah sering berangkat normal kok. Kamu kemana dulu emang Dek?” Tanya Nyokap ke Gue dengan masih sambil tersenyum.

Namun senyuman Nyokap benar-benar terasa berbeda. Nyokap punya senyum yang sebenernya terlihat menyenangkan. Namun dalam situasi-situasi yang kaya gini, senyuman Nyokap bisa menyimpan banyak makna. Terutama saat ini, senyumnya lebih seperti ‘Abis nanti kamu dirumah.’

“Kagak kemana-mana lah. Ga tiap hari juga kok Pak saya terlambat.” Gue coba membela diri dan memasang wajah memelas ke Pak Umar

“Oh ya? Ini kalo saya liat…”

“Ya paling sesekali aja kan Pak.” Gue menyela omongan Pak Umar.

Pak Umar yang tengah melihat lembaran kertas di mejanya kemudian melirik kearah gue, dan mengangkat kacamatanya. Dia melirik sejenak ke Nyokap gue lalu kembali melihat kearah gue. Kemudian memasang senyum liciknya seperti biasa.

“Gini, Gus. Walaupun Cuma sesekali, sebulan sekali sih di catatan saya. Tapi itu kan tetap mempengaruhi nilai kehadiran kamu. Tapi nanti di kelas XI saya harap kamu ga pernah datang terlambat lagi ya.”

Gue menghela napas pelan sambil menahan tawa. Sebulan sekali katanya. Padahal dalam satu minggu mungkin Cuma 1 kali gue ga datang terlambat. Sepertinya Pak Umar berusaha membela gue dan gue paham betul makna senyum liciknya tadi.

“Iya Pak, kalo sebulan ada sekali terlambat emang bener saya akuin si Bagus ini berangkat dari rumah kesiangan. Nanti kedepannya saya coba tertibkan lagi dirumah.” Ucap Nyokap Gue.

Setelah itu Pak Umar lebih banyak berbasa basi membicarakan kelakuan-kelakuan gue di sekolah. Pak Umar bahkan bilang ke Nyokap gue bahwa gue baru saja memenangkan penghargaan Band terbaik di sekolah untuk tahun ini. Namun tentu saja hal itu ga membuat Nyokap Gue bangga meski Pak Umar menceritakannya dengan begitu semangat.

Sesekali gue melihat Pak Umar melirik ke sebuah tas jinjing kertas berisi bungkusan kado yang Nyokap gue pegang di pelukannya. Gue memang sempat menyampaikan ke Nyokap gue soal permintaan Pak Umar untuk dibelikan kemeja dan sepatu dan waktu itu Nyokap gue hanya tertawa saat gue menyampaikannya. Namun ternyata Nyokap gue beneran membelikan permintaan Pak Umar dan membungkusnya dengan bungkusan kado tadi malam.

“Ini hasil Raport penilaian anak Ibu, silahkan dilihat dulu.” Ucap Pak Umar sambil menyerahkan sebuah buku dengan sampul plastik abu-abu ke Nyokap gue.

Gue berniat melihat Nilai gue di raport namun dihalangi oleh Nyokap gue yang ingin melihatnya lebih dulu.

“Gimana Bu hasilnya?” Tanya Pak Umar ke Nyokap gue yang wajahnya terlihat bingung.

“Yaa lumayan Pak hasilnya. Makasih sudah dibantu anak saya belajar disekolah.” Ucap Nyokap Gue sambil menutup buku raport tersebut.

“Terus untuk di kelas XI nanti anaknya mau masuk IPA atau IPS, Bu?” Tanya Pak Umar sambil mengeluarkan selembar kertas formulir dan memberikannya ke Nyokap gue.
“Ini Ibu isi saja, tapi saran saya anaknya masukkin ke IPA aja karna nilainya juga cukup bagus dan bisa belajar lebih maksimal lagi di mata pelajaran IPA.”

“Ga usah Pak. IPS aja dia. Nanti malah pusing sendiri dia kalo masuk IPA.” Jawab Nyokap gue sambil mengisi formulir tersebut.

“Lho, sayang dong Bu, nilainya cukup bagus buat masuk IPA.”

“Gapapa Pak, dia IPS aja. Ga bakal sanggup dia belajar IPA.”

Gue Cuma kebingungan mendengar percakapan antara Pak Umar dan Nyokap gue. Sebenernya nilai gue gimana sih? Kok Pak Umar bisa menyarankan gue masuk IPA? Sementara Nyokap gue keknya malah gamau gue masuk IPA dan menganggap gue ga mampu di kelas IPA.

Setelah selesai, Nyokap gue memberikan bungukusan kado ke Pak Umar yang awalnya ditolak basa basi oleh Pak Umar. Kenapa gue bilang basa basi, karna di bawah meja ada beberapa bingkisan kado yang diletakkan dan gue yakin juga berasal dari beberapa orang tua murid lainnya. Lalu Nyokap gue pamit dan segera mundur kembali ke bangku yang tadi beliau duduki bersebelahan dengan Nyokapnya Ryan. Gue pun pamit dari hadapan Pak Umar yang tersenyum penuh kemenangan.

“Naik kelas ga lo Gus?” Tanya Adam saat gue telah kembali ke luar kelas bersama Adam, Maul, dan Ryan.

“Naek lah. Tapi gatau dah nilainya gimana, ga dikasih liat sama Mama.”

“Berarti jelek nilai lo. Siap-siap kalah tarohan dan lo.”

“Ebuset. Tarohan apaan lo Gus? Ke semua orang kayanya lo ajakin tarohan ya?” Selah Maul.

“Emang tarohan apaan dia sama lo?” Tanya Adam.

“Kalo kita bertiga tarohan siapa yang bisa dapet cewek selama sebulan ini. Cuman dia udah pasti kalah karna dia balik ke mantannya.” Jawab Maul.

“Lah kalo gue cari cewek lain juga dan dapet, gimana?” Gue berusaha membela diri.

“Kentut, kek berani selingkuh aje lo, Stockholm syndrome.” Ucap Ryan sambil menoyor kepala gue yang disusul tawa dari Adam dan Maul.
0 0
0
[Prekuel] Sebelum Karma
12-07-2019 14:41
whahaha akhirnya dibahas juga ini masalah taruhannya & keknya bagus indikasi mau madu 2 ini emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
telahmemblok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
[Prekuel] Sebelum Karma
12-07-2019 17:24
ane lebih penasaran sama nilai dan ranking di raport si bags. Sukses apa enggak terkait lobi2 ranking 3 nya dulu.emoticon-Leh Uga
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
[Prekuel] Sebelum Karma
12-07-2019 20:53
gue bukan kesel dibilang pencitraan ya, gue cuman mau ngelurusin aja. toh di cerita sebelumnya banyak pembaca maki2 sifat atau sikap gue tetep aja gue nanggepin santai. gitu jg saat ada yg sok muji, gue tetep ga ngerasa baik.
gue mah dipuji ga terbang, dihina ga tumbang! wakakaka.[/quote]

Jgn baper ya gan, ane percaya kok.
"Ngapunten engkang kathah menawi wonten lepat"
profile-picture
ucln memberi reputasi
1 0
1
Halaman 13 dari 17
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pertarungan-melawan-tulisan
Stories from the Heart
the-light-emanates-for-you
Stories from the Heart
hypnophobia--kisah-cintaku
Stories from the Heart
tarian-kata-cinta-2
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia