alexa-tracking
Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.9 stars - based on 10 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d2410e08d9b1754d557cf65/mengapa-sekolah-favorit-dikejar
Lapor Hansip
09-07-2019 10:58
Mengapa Sekolah Favorit Dikejar?
Past Hot Thread
Mengapa Sekolah Favorit Dikejar?

Beberapa hari ke belakang, terdengar ribut-ribut soal zonasi dalam penerimaan siswa di tingkat SMP-SMA. Masalah bersumber pada anak-anak yang berprestasi dan mempunyai nilai bagus, tidak dapat masuk ke sekolah favorit. Kendalanya ada pada jarak rumah yang jauh dari sekolah yang diinginkan. Sejauh yang saya tahu (mohon dikoreksi kalau salah). Penentuan anak diterima di sekolah mana berdasarkan jarak dari sekolah ke rumah. Semakin dekat, semakin berpeluang.

Sistem ini bagus sih, untuk meratakan kualitas tiap sekolah. Sebab, murid pintar tidak terpusat pada satu sekolah. Masalahnya adalah, mindset soal sekolah favorit itu sudah mencengkeram pikiran para siswa dan orang tua. Intinya, kalau sekolah di sekolah favorit itu kualitas guru dan fasilitas yang ada di sekolah itu jempolan, paling bagus dan seterusnya. Faktor inilah yang membuat calon siswa dan orang tua siswa yang kemampuan akademiknya tinggi cenderung ingin masuk ke sekolah favorit.

Mengapa Sekolah Favorit Dikejar?

Sebagai mantan siswa yang pernah bersekolah di sekolah yang dianggap favorit, boleh dong, jika memaparkan ada apa saja sih di sekolah favorit itu. Yah, paling tidak berdasarkan apa yang saya alami dan rasakan selama enam tahun bersekolah (SMP-SMA favorit) itu seperti apa. Kebetulan saya juga sering bergaul dengan anak-anak dari sekolah dengan label biasa saja.

Mengapa Sekolah Favorit Dikejar?

Tingkat Kompetisinya tinggi. Saya rasa inilah yang membedakan antara sekolah favorit dengan sekolah tidak favorit. Tingkat kompetisi tinggi, memaksa anak-anak didik di sekolah favorit belajar dengan ritme yang gila. Tidak cukup hanya belajar serius di sekolah, mereka bahkan menambah belajar lagi dengan ikut les tambahan di luar. Tujuan mereka, ingin menjadi yang paling baik. Mungkin karena inputnya anak-anak pintar ya, jadi kompetisi pun berjalan dengan alami. Sebab tidak ada yang mau menjadi nomor dua.

Nah, belajar di lingkungan seperti ini, membuat anak-anak malas, tidak niat sekolah seperti saya, mau tidak mau harus mengikuti ritme yang sama. Paling tidak, harus mengimbangi lah agar tidak jauh tertinggal. Malu soalnya kalau menjadi paling bloon di kelas. Jadi jangan heran jika output yang dihasilkan oleh sekolah favorit itu bagus-bagus. Karena itu tadi, sudah direbus dengan matang dengan persaingan super ketat di dalam.

Saya pernah masuk di kelas yang jumlahnya 35 siswa, dan semuanya masuk 10 besar. Kenapa? Karena satu peringkat diisi oleh beberapa anak. Hal itu terjadi karena menggunakan sistem nilai pembulatan, ini terjadi saat SMP. Di SMA, nilai ditulis apa adanya, jarak antara ranking satu dengan peringkat akhir hanya berselisih sembilan poin. Kebayang ya, gimana sengitnya persaingan di sana. Bedanya tipis-tipis, nol koma.

Inilah alasan logis mengapa banyak calon siswa dan orang tua siswa yang ingin anaknya masuk ke sekolah favorit. Agar kultur belajar serius mengarah gila-gilaan menular kepada anak mereka. Percayalah, sebodoh apapun anaknya kalau belajar bareng anak pintar, dengan ritme gila lama-lama akan terkatrol juga kemampuannya. Minimal semangat dan kemauannya.

Mengapa Sekolah Favorit Dikejar?

Fasilitas Sekolah. Saya kira inilah yang luput dipikirkan oleh Kemendikbud. Sistem zonasi akan sukses jika antar sekolah memiliki fasilitas yang sama. Fakta di lapangan, fasilitas di sekolah favorit itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan sekolah dengan titel biasa saja. Bisa dilihat dari mulai laboratorium sampai dengan perpustakaan. Kalau sekolah saya dulu, hanya kalah di fasilitas olahraga. Maklum, ada di tengah kota, jadi wajar saja kalau tidak punya lapangan luas untuk bermain bola. Punyanya lapangan basket, volly dan futsal. Hehe..

Diakui atau tidak, semakin lengkap fasilitas belajar, akan berbanding lurus dengan dengan output  yang dihasilkan. Sebagai orang tua, anak yang berprestasi, tentu akan lebih memprioritaskan masuk ke sekolah yang fasilitasnya lengkap dong. Untuk menunjang kegiatan belajarnya kelak. Sesuatu yang jelas tidak akan didapatkan oleh sekolah yang berlabel biasa-biasa saja. Di sinilah PR Kemendikbud untuk membuat standarisasi fasilitas tiap sekolah agar setara satu dengan yang lain.

Mengapa Sekolah Favorit Dikejar?

Terakhir, kualitas pendidik. Dengan segenap kerendahan hati, saya sedang tidak meragukan kompetensi dari Bapak-Ibu guru yang mengajar di sekolah bukan favorit. Ibu saya seorang guru juga, mengajar di SMP biasa-biasa saja, dan beliau sering heran dengan materi yang diberikan kepada saya. Jadi misal minggu ini beliau baru masuk materi A, maka saya sudah masuk materi A, tapi sudah di pengayaan, alias pendalaman dari materi A.

Apa yang ingin saya sampaikan di sini? Guru yang biasa mengajar anak pintar di sekolah favorit akan menuntaskan sebuah materi dengan cepat. Untuk menginjak ke materi selanjutnya, kalau dipaksakan tentu akan melangkahi silabus sampai dengan promes (program semestaer) yang sudah disusun Dinas Pendidikan. Di situlah guru dituntut untuk membuat materi pengayaan atau pendalaman tentang materi A tadi. Dengan kata lain, guru di sekolah favorit itu akan lebih kreatif, kaya materi dalam penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) daripada guru di sekolah yang biasa-biasa saja.

Bayangkan jika setiap tahun guru terus dipaksa kreatif seperti itu, sementara yang lain asal habis materi, kira-kira guru mana yang kompetensinya semakin naik? Dari sini akan ter-maindset lagi, kalau guru di sekolah favorit itu lebih pintar, lebih berkompeten dari sekolah biasa. Wajar, pisau saja asal diasah terus akan menjadi lebih tajam daripada yang jarang diasah. Kira-kira begitulah analogi untuk guru di sekolah favorit.

Well, jika saya ditanya, setujukah saya dengan sistem zonasi? Saya setuju dengan beberapa catatan. Itu tadi, harus ada standarisasi yang jelas tentang fasilitas sekolah. Kedua, bagaimana menghadapi problem, anak yang hanya terkurung dalam satu lingkungan saja. Zona itu kan memaksa anak tidak bisa jauh dari rumah ya. Beda dengan tanpa zona, di mana orang Jepara, Demak, Pati, sampai Rembang, bisa jadi teman sekelas saya di Kudus. Semoga, Kemendikbud segera menemukan formula yang tepat untuk masalah ini. Salam Damai.



Merdeka!

Sumber Gambar : sini, sini, sini, sini, sini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gorgorgoriii dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 8
11-07-2019 00:22
ngejar ngaskus aja gan, ga usa sekolah. emoticon-Big Grin

disamping itu, sekolah itu mahal apalagi yg favorit, tapi blom tentu bikin kamu pintar dalam kehidupan, ingat. emoticon-Smilie

follow your heart, ok.
0
11-07-2019 00:44
kalo zonasi menurut ane sih biar rata kualitas sekolahnya, tp asal besok ganti mentri jangan ganti peraturan lagi, yg saat ini terhalang zonasi genah gelo
Diubah oleh bobzlogic
0
11-07-2019 00:46
Menurut saya zonasi adalah kebijakan yang tergesa-gesa dengan tidak melihat latar belakang yang lebih seksama.
Ibarat orang membangun, bangunan yg sdh bagus dirombak untuk mulai nol lagi. Mestinya biarlah sekolah favorit itu tetap ada. Nah tugas selanjutnya adalah meningkatkan yang blm favorit jadi favorit.
Dengan zonasi nanti malah lingkungan disekolah tersebut kurang kaya latar belakang. Karena murid2nya itu2 saja disekitar lingkungan tsb. Tidak pernah bergaul dg murid lain yg berlatar belakang beda. Untuk tingkat SD okelah krn tentu ortu pasti mempertimbangkan jarak.
Kebijakan zonasi ini seakan-akan memaksa semut2 untuk tidak mendatangi gula2 karena ada pembatasan yg ketat. Mestinya buatlah gula2 di tempat yg lain agar didatangi semut2 tersebut.
Manusia hakekatnya bukan seperti robot yang dipaksa sama. Dengan kompetisilah manusia akan maju.
Saya tetap berkeyakinan orang2 yg mampu secara ekonomi akan menyekolahkan anaknya di sekolah yg bagus. Jika terkendala jarak akan berupaya pindah domisili, numpang KK atau cari swasta yg bagus.
Yg pas2an tentu pasrah. Yg pas2an tetapi punya anak yg pintar msh bisa berpeluang. Ttp yg pas2an dan rata2 serta sekolah jauh sungguh malang nasibnya.
Semoga ada formula yg tepat agar pendidikan di Indonesia makin bagus dan bermutu.
Persaingan di dunia makin ketat.
profile-picture
profile-picture
theotheotheo dan pemburu.kobokan memberi reputasi
2
11-07-2019 00:50
ingat jaman smp sma, sekolah jauh dr kata favorit, jebolannya rata2 kaga beres

emoticon-Wakaka

tapi satu2nya sekolah dgn fasilitas terlengkap di sulawesi.. yaa cuma itu yg bisa dibanggain

emoticon-Wakaka
0
11-07-2019 00:57
banyak cewe cantik nya gan. jujur aja ini alesan ane dulu dan jadi motivasi hehehehehe emoticon-Malu
profile-picture
pemburu.kobokan memberi reputasi
1
11-07-2019 01:00
mau lulusan mana sekolah kuliah ujung2nya kerja faktor luck ama orang dalememoticon-Jempol
profile-picture
giorgio09 memberi reputasi
1
11-07-2019 01:00
Suhu bikin thread.. emoticon-2 Jempol

makasih suhu thrednyaa.. sangat membuka wawasan ane

emoticon-Nyepi emoticon-Nyepi emoticon-Nyepi emoticon-Nyepi
0
11-07-2019 01:01
sekolahan paporit tetep aje maen nye mobil legend
0
11-07-2019 01:01
Kayanya juga kualitas alumni sih gan... Kaya udah turun temurun kualitasnya bagus terus, jadi kaya udah dicap sekolah favorit gitu, yg bikin siswa baru tertarik buat sekolah di sekolah favorit
profile-picture
sitifitimih memberi reputasi
1
11-07-2019 01:23
sistem zonasi merugikan buat senior STM bisa sepi basis skolahnye
0
11-07-2019 01:31
Menurut ane sama aja, dimanapun kita sekolah asal giat rajin dan banyak baca buku dan referensi akan baik
profile-picture
sitifitimih memberi reputasi
1
11-07-2019 01:34
mnurut pengalaman ane pribadi jadi siswa di sma favorit pendidik yang dibidang sama pun punya cara dan kualitas mengajar yang berbeda,
menurut om kira2 kalo pendidiknya dirolling gitu tempatnya mengajar apa bisa buat rata ya?
0
11-07-2019 01:35
Uang di kejar bukan omong kosong gan😧😂
0
11-07-2019 01:35
memang sistem ini masih banyak kontroversi diberbagai daerah, kalau dilihat di lapangan memang banyak sekali yang tidak setuju, apalagi tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai. kebanyakan sekolah yang bercap favorit memang memiliki mutu dan fasilitas yang lebih baik. tapi bukan sebagai patokan juga sih cuma "kebanyakan". yang penting para siswa semangat belajar meraih cita-cita.
profile-picture
pemburu.kobokan memberi reputasi
1
11-07-2019 01:40
Mungkin bagus kalu sarana dan prasarana sudah sama rata di setiap sekolah tapi, zonasi tersebut bisa buat babak belur beberapa sekolah alias bangkrut/tutup karena tidak ada anak-anak di area zonasi. Ini terjadi di beberapa kota.
0
11-07-2019 01:58
zonasi = prestasi kalah sama tembok emoticon-Smilie
0
11-07-2019 02:12
Mengingat kembali masa sekolah ane yang berlalu lebih dari 20 tahun lalu, membuat ane berpikir, 'apa sih yang kita inginkan dari sekolah? apakah ada hal mendasar yang salah dari pendidikan kita?'

Ane baca artikelnya, ane resapi, dan ane simpulkan dengan kata kunci yaitu favorit. favorit berarti dekat dengan terbaik. terbaik berarti yang paling baik. bila ada yang paling baik, berarti ada yang kurang baik, ada yang buruk.

favorit berarti identik dengan persaingan atau kompetisi. kompetisi berarti harus ada menang dan harus ada yang kalah. lalu maksud kita sekolah apakah menjadi juara I di kelas??? jika itu tujuannya, hmmm... jangan salahkan jika di kelas cenderung untuk bekerja sendiri, selfish. karena faktor favorit, faktor kompetisi, maka jauh di dalam hati seseorang yang sedang berkompetisi, tidak mungkin mau berbagi dengan pesaingnya..

konsep inilah yang perlu dikikis. sekolah bukan mengejar kompetisi, bukan mengejar favorit, tapi mendapatkan kompetensi. dengan alasan tersebut, jika ane seorang guru, ane tidak akan pernah membubuhkan ranking di rapor, tidak akan ada pengumuman juara kelas. jika ortu siswa bertanya anaknya juara berapa, ane akan alihkan jawaban menjadi 'anak bapak pintar dalam fisika, pandai dalam biologi, mengerti bahasa indonesia. namun perlu perhatian bapak untuk mata pelajaran ini dan seterusnya..'

lalu yang membuat favorit sebuah sekolah apa sih? siswa-siswa nya? masukan kedalam sistem zonasi. jadi dia bersekolah dekat dengan rumahnya. jika di dekatnya tidak ada sekolah negeri? atau jauh? silakan dinas pendidikan membuat regulasi dengan menimbang berbagai faktor.
guru-gurunya? silakan mutasi reguler dalam kota/dalam kabupaten. bagi yang dianggap kurang berkompetensi, ikutkan pelatihan
fasilitasnya? anggarkan dan sediakan. yang penting dinas pendidikan memiliki standar apa yang harus ada di suatu sekolah..

apalagi??

berarti persaingan antar siswa menghilang? betul, memang harus dihilangkan. yang penting mereka menguasai kompetensi mata pelajaran a,b,c,d ... dan jika ada mata pelajaran yang siswa a kurang mampu, selain dari guru, teman-temannya bisa membantu dalam belajar kelompok tanpa perlu khawatir ranking yang dibantu akan lebih tinggi dari yang membantu. lah ranking sudah dihilangkan kok.

lalu nilai ujian akhir sekolah a ternyata lebih baik dari sekolah b? biarlah itu ada di ranah guru.. tidak perlu sampai ke ranah siswa dan orang tuanya. yang penting kemampuan siswa tercapai sesuai yang diharapkan.

lalu keanekaragaman siswa di kelas berkurang? nah.. ini membuat ane bingung. siswa tersebut sekolah mengikuti lokasi ortunya bekerja. artinya dia masih tinggal dengan orang tuanya. jika anak dari kudus, demak, sekolah di semarang, berarti bapak/ibunya ada di semarang. jika misalnya aturan zonasi juga mengacu ke aturan kependudukam, silakan disinkronkan antar dinas terkait.

lalu bagaimana dengan ortunya yang sampai bela belain mengekoskan anaknya demi sekolah favorit? maaf maaf kata, usia remaja masa yang rentan. usia belasan cenderung ingin mencoba banyak hal. dan jangan terkejut jika efeknya negatif. berarti pengawasan ortu harus tetap ada. ini diluar konteks terpaksa mengekos karena di kecamatannya tidak ada sekolah ya..

jadi simpulannya, sistem zonasi memang perlu perbaikan. namun intinya mengembalikan makna bahwa sekolah itu untuk meningkatkan kompetensi, bukan untuk untuk kompetisi/favorit..
Diubah oleh yudizilisti
0
11-07-2019 02:13
Liat lah sekolah yg dikabupaten, rata2 sekolahnya masih belum mumpuni kaya di kotanya

Jadi sitem zonasi akan serasa seperti diskriminatif
Diubah oleh uzunyzter
profile-picture
pemburu.kobokan memberi reputasi
1
11-07-2019 02:16
Quote:Original Posted By kimmot
mengejar sekolah favorit.. kadang ambisi orangtua yang ngga sadar dengan kemampuan anak sehingga anak dipaksa masuk sekolah favorit dari jalur prestasi.. padahal anak minim prestasi..


Iya lah gan,wong prestasinya Aceh Barat No.1 Lunox emoticon-Ngakak
0
11-07-2019 02:24
Mending lulus SMA biasa, tapi masuk PTS. Karena PTS lebih berguna ilmunya didunia kerja. emoticon-shakehand

0
Halaman 3 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.